Inilah Hakikat Rezeki yang Sebenarnya #shorts
[Panduan] yuk, dibaca panduan HijrahApp..
Mensyukuri Nikmat Pekerjaan
Setiap pagi, jutaan orang di dunia berangkat bekerja. Ada yang mengendarai mobil atau motor ke kantor, ada yang berdesak-desakan di bus maupun KRL, ada yang memikul barang di pasar, dan ada pula yang duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: Apakah kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat pekerjaan yang telah Allah berikan?
Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar alat bertahan hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah bentuk rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala apabila dijalani dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla
Banyak orang mengira pekerjaan datang karena kecerdasan, pendidikan tinggi, koneksi yang luas atau relasi yang banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara yang memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang yang memiliki gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula yang tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki yang cukup.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)
Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki yang Allah jamin. Karena itu, orang yang masih memiliki pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke berbagai tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada yang sudah lama menganggur, ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi, ada pula yang terpaksa menanggung keluarga tanpa penghasilan tetap.
Bayangkan seseorang yang setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, berdoa agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita yang masih memiliki pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk bertahan hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri?
Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezeki
Syukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai usaha untuk menjaganya dengan amal yang baik.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka, bentuk syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang yang bekerja dengan semangat ibadah akan merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.
Bekerja sebagai bentuk ibadah
Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka ia menjadi ibadah yang berpahala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam hadis lain, beliau bersabda,
إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ
“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu yang engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala, bahkan pada suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)
Artinya, setiap keringat yang menetes karena mencari nafkah halal, jika diniatkan karena Allah, maka akan menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, atau bahkan buruh harian, semua bisa menjadi ahli ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat yang tulus dan cara yang halal.
Para Nabi pun bekerja
Salah satu bukti kemuliaan bekerja adalah kenyataan bahwa semua Nabi yang diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beribadah dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui usaha tangan sendiri.
Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.
Nabi Adam عليه السلام bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.
Nabi Nuh عليه السلام bekerja sebagai pembuat kapal, sebagaimana firman Allah,
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)
Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.
Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ
“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)
Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia pernah menggembala kambing.”
Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)
Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun yang berusaha mencari rezeki dengan cara halal, berarti mereka meneladani para Nabi.
Bahaya melupakan nikmat pekerjaan
Sayangnya, di zaman modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan yang mereka miliki. Ada yang merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula yang menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berhenti mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa lelah bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan yang dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang yang hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan yang sudah Allah berikan?!
Mensyukuri pekerjaan di era modern
Di era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, gaji besar, atau prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat dan halal.
Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa kini antara lain:
Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, aku bekerja bukan untuk dunia semata, tapi untuk menafkahi keluarga dan menunaikan amanah-Mu.”
Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)
Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.
Keenam: Amanah dan ihsan, yaitu melakukan pekerjaan sebaik mungkin.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Pekerjaan adalah anugrah yang besar
Saudaraku, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi masih mencari.
Jika hari ini kita masih bisa bekerja, masih mampu menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat yang luar biasa besar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan harta yang halal serta menjauhkan diri kita dari harta yang haram.
***
Jember, 22 Jumadil Ula 1447
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Sumber: https://muslim.or.id/110779-mensyukuri-nikmat-pekerjaan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
Nasihat Terbaik Adalah Kematian #video
Nasihat Indah untukmu yang Masih Merayakan Tahun Baru
Bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun adalah sesuatu yang selayaknya menjadi pelajaran berharga oleh setiap orang yang beriman. Waktu yang terus bergulir seharusnya menjadi renungan untuk senantiasa memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. An-Nur : 44)
Hanya orang-orang yang Allah ‘Azza Wajalla beri taufik dan akal sehat akan senantiasa merenung dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadan berbaring serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami terhadap siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)
Dikutip dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitab Al-Jawabul Kafi, disebutkan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,
الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
“Waktu itu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya (dengan baik), maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”
Dan fenomena yang terjadi pada zaman ini adalah banyak kaum muslimin tersibukkan dengan hal yang sia-sia pada setiap penghujung tahun. Mereka latah ikut-ikutan orang-orang kafir merayakan tahun baru masehi dengan berhura-hura, berfoya-foya, bahkan bermaksiat secara terang-terangan pun mereka lakukan. Perlu diingat, peringatan tahun baru, jangankan tahun baru masehi, tahun baru hijriah pun tidak ada dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat pun tidak pernah merayakan akhir tahun dengan amalan-amalan tertentu, lebih-lebih dengan hal-hal yang sia-sia.
Justru, setiap penghujung akhir tahun banyak sekali kemungkaran yang terjadi, kemaksiatan merajalela, banyak sekali muda-mudi yang jatuh dalam perzinaan, dan semisalnya, wal’iyadzu billah. Tulisan ini dibuat sebagai nasihat untukku dan untukmu agar tidak terombang-ambing dengan gemerlapnya perayaan akhir tahun dan lebih memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.
Mengingat kembali prinsip seorang muslim
Sebagai seorang muslim, tujuan hidupnya di dunia adalah beribadah hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Merayakan tahun baru seringkali membuat kita lalai dari beribadah kepada-Nya dan justru mendekatkan kepada kemungkaran dan perbuatan sia-sia. Oleh karena itu, fokuslah pada hal-hal yang mendatangkan rida Allah.
Mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat
Senantiasa mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat, meningkatkan dan menguatkan akidah dengan kembali mengkaji tauhid, membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, dan menyibukkan diri dengan bermajelis ilmu, serta menjauhkan diri dari pemikiran-pemikiran menyimpang yang bisa merusak keyakinan.
Allah ‘Azza Wajalla memperingatkan kita akan pentingnya waktu dalam firman-Nya,
وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Merayakan malam tahun baru dengan hal-hal yang tidak bermanfaat adalah di antara bentuk menyia-nyiakan waktu, yang seharusnya dapat diisi dengan ibadah, introspeksi, ataupun kegiatan yang produktif lainnya.
Menghindari tasyabbuh terhadap orang-orang kafir
Islam sangat melarang tasyabbuh, yaitu menyerupai tradisi atau kebiasaan yang berasal dari agama atau budaya orang-orang kafir. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Kitab Al-Libas, no. 3512. Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih Abu Dawud menyatakan bahwa hadis ini hasan shahih no. 3401.)
Al-Munawi dan Al-Alqami rahimahullah berkata, “Yaitu, orang yang menyerupai mereka dalam hal penampilan, perilaku, cara berpakaian, dan sebagian perbuatan mereka.”
Allah ‘Azza Wajalla mengingatkan,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Condong kepada orang-orang kafir termasuk hal yang berbahaya bagi akidah seorang muslim. Hal ini sebagaimana firman-Nya,
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Perayaan tahun baru masehi adalah tradisi yang tidak dikenal dalam Islam dan ini berasal dari budaya orang-orang kafir sehingga merayakannya dapat melemahkan akidah seorang muslim dan ditakutkan termasuk ke dalam golongan mereka (orang-orang kafir) sebagaimana yang disebutkan pada dalil di atas.
Menjauhi maksiat dan kemungkaran
Perayaan tahun baru dalam praktiknya seringkali melibatkan aktivitas yang dilarang dalam Islam, seperti pesta minuman keras, pergaulan bebas, musik dan hiburan yang melalaikan, pemborosan, dan segala kemungkaran berkumpul di dalamnya. Allah Ta’ala peringatkan hamba-Nya agar menjauhi maksiat dan dosa. Ia berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ
“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)
Kemaksiatan akan mendatangkan kemurkaan Allah terhadap mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِيْ ثُمَّ يَقْدِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا إِلاَّ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ
“Tidaklah suatu kaum, yang diperbuat kemaksiatan-kemaksiatan di antara mereka, kemudian mereka sanggup mengubah hal itu, lantas mereka tidak mengubah hal tersebut, kecuali dikhawatirkan bahwa Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua secara umum.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya. Syekh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Ash-Shahih menyatakan bahwa hadis ini sahih no. 1574.)
Senantiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah
Selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar tetap diteguhkan keimanannya. Misalnya, dengan doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“YA MUQALLIBAL QULUB TSABBIT QALBI ‘ALA DINIK.”
(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Semoga nasihat ini bisa menjadi nasihat yang bermanfaat bagi seorang muslim agar menjauhkan diri dari hal yang sia-sia, seperti ikut serta dalam memeriahkan perayaan tahun baru dan segala kemungkaran yang ada di dalamnya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala jauhkan kita dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya.
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi, A.Md.
Sumber: https://muslim.or.id/102146-nasihat-indah-untukmu-yang-masih-merayakan-tahun-baru.html
Solusi ketika mencinta
Berapa Usia Penghuni Surga?
Usia Penduduk Surga
Tanya:
Manusia mati pada usia yang berbeda-beda, ada yang smp ratuan, puluhan, sblm balig, bayi, bahkan mati d kandungan. Jika mereka dimasukkan k surga, berapa usianya? Apa bayi nanti tumbuh besar d surga?
Trim’s
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Allah menjanjikan surga kepada para kekasih-Nya yang taat dan bersabar dalam meniti syariat-Nya selama di dunia. Allah memberikan balasan berupa keindahan surga. Saking indahnya, sehingga tidak pernah bisa terbayang oleh manusia. Bayangan mereka, tidak bisa menjangkau keindahannya. Allah menggambarkan keindahannya dalam firman-Nya,
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang disembunyikan untuk mereka, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah berfirman,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang sholeh, nikmat surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah dilihat telinga, dan belum pernah terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244, Muslim 2824, dan yang lainnya). Ketika menyampaikan hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di surat as-Sajdah di atas.
Disamping itu, Allah memberikan segala kenikmatan yang diinginkan penghuni surga,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya”. (QS. Az-Zukhruf: 71).
Karena itu, kita mengimani bahwa penduduk surga berada dalam keadaan serba istimewa, memiliki banyak kelebihan dari segala sisi. Karena mereka dipersiapkan untuk menikmati segala keindahan yang Allah sediakan.
Di antara bentuk kesempurnaan itu, Allah jadikan penduduk surga pada usia kesempurnaan. Usia dimana mereka bisa lebih maksimal dalam menikmati segala keindahan surga. Mereka masuk surga di usia 33 tahun.
Dalam hadis dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً
Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan jurdan, murdan, bercelak, di usia 30 atau 33 tahun. (HR. Ahmad 7933, Turmudzi 2545, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf 34006 dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).
Keterangan:
Jurdan, bentuk jamak dari kata ajrad [arab: أجْرَد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di badannya.
Murdan, bentuk jamak dari kata amrad [arab: أمرد ], artinya: orang yang tidak memiliki bulu rambut di dagunya. (keterangan As-Sindi – Tahqiq Musnad Ahmad, 13/316).
Ibnul Qoyim menjelaskan rahasia usia 33 tahun,
إن فيه من الحكمة ما لا يخفى فإنه أبلغ وأكمل في استيفاء اللذات، لأنه أكمل سن القوة عظم الآت اللذة وباجتماع الأمرين يكون كمال اللذة وقوتها
Hikmah diberi usia 33 tahun sangat jelas, karena di usia itu merupakan pucak dan keadaan paling sempurna dalam merasakan kenikmatan. Karena di usia itu adalah usia kekuatan yang paling sempurna, segala organ kenikmatan berkembang. Dengan gabungan dua ini, diperoleh kesempurnaan kenikmatan dan kuat dalam menikmatinya. (Hady al-Arwah, 104).
Apakah Usia Mereka Bertambah
Yang kita yakini, mereka kekal di dalam kenikmatan. Apakah usia mereka bertambah, sehingga usia mereka menjadi 34 atau 35 dst.. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
أَهْلُ الجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ
”Penduduk surga jurdun, murdun, bercelak. Usia mudanya tidak pernah sirna, dan pakaiannya tidak pernah lusuh.” (HR. Turmudzi 2539, ad-Darimi 2863 dan dihasankan al-Albani).
Apakah usia mereka bertambah selama dalam rentang ‘usia muda’?, Kami tidak mendapatkan informasi tentang itu. Yang jelas, mereka dalam keadaan sangat sempurna di usia muda yang tidak akan pernah sirna.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara kekasih-Nya, hingga bisa menikmati keindahan surga-Nya. Amiin
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
SEPERTI HIJRAH KE RASULULLAH ﷺ #shorts
Hukum Mengistimewakan Hari Lahir dengan Perayaan Ulang Tahun
Sebagai akibat semakin jauhnya umat Islam ini dari ajaran agama, maka banyak perkara yang mereka anggap sebagai masalah yang remeh dan ringan. Seolah-olah perkara tersebut sebagai hal yang biasa saja dan tidak membahayakan agama mereka. Di antaranya adalah perayaan ulang tahun yang diselenggarakan setiap tahunnya. Tidak hanya di kantor atau sekolah, perayaan ulang tahun juga banyak diselenggarakan di kampung-kampung. Dan lebih menyedihkan lagi, sebagiannya dibalut dengan acara keagamaan semacam pengajian, syukuran, doa bersama, dan sebagainya.
Sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaklah kita menjadikan petunjuk beliau sebagai sebaik-baik petunjuk yang berusaha kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berkaitan dengan perayaan ulang tahun, perayaan tersebut tidak terlepas dari dua kemungkinan berikut ini, yang apa pun bentuknya, sama-sama terlarang bagi kita untuk melakukannya.
Kondisi pertama: Menganggap perayaan ulang tahun sebagai bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala
Kondisi (kemungkinan) pertama adalah merayakan ulang tahun dengan melakukan ibadah secara khusus, misalnya dengan bersedekah mengundang anak yatim, mentraktir makan, berdoa secara khusus di hari ulang tahun dengan mengundang orang yang dianggap saleh, berzikir, memohon ampun (istigfar), atau bentuk-bentuk ibadah lainnya yang secara khusus lebih semangat dikerjakan di hari ulang tahun, dibandingkan hari-hari biasa lainnya.
Jika demikian kondisinya, perayaan semacam ini termasuk dalam kategori bid’ah, karena berarti mengada-adakan ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan untuk mengkhusukan ibadah apa pun dalam rangka memuliakan, memperingati dan mengagungkan hari lahir.
Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syekh hafidzahullahu Ta’ala berkata,
“Sesungguhnya hal itu (perayaan ulang tahun, tahun baru, dan sebagainya) adalah bid’ah yang tidak disyariatkan. Perayaan-perayaan itu hanyalah dibuat oleh manusia menurut hawa nafsu mereka. Berbagai macam perayaan (‘id) dan apa yang terdapat di dalamnya berupa rasa senang dan gembira, termasuk dalam bab ibadah. Maka tidak boleh mengada-adakan sesuatu apa pun di dalam ibadah, tidak (boleh) pula menetapkan dan meridainya (tanpa ada dalil dari syariat, pen.).” (Al-Minzhaar, hal. 19)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan amal (ibadah) yang bukan berasal dari (ajaran) kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami, yang tidak ada asal usulnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Berbuat kebid’ahan bukanlah perkara yang remeh dan ringan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam pelakunya dengan neraka, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i no. 1578, shahih)
Selain itu, syariat Islam telah menetapkan hari-hari tertentu sebagai hari ‘id, yaitu hari ‘Arafah (9 Zulhijah), hari raya Idul Adha (10 Zulhijah), hari tasyrik (11, 12 dan 13 Zulhijah), hari raya ‘Idul Fitri (1 Syawal), dan hari Jum’at (untuk setiap pekan). Hari ‘id adalah hari tertentu yang dirayakan secara berulang dengan menampakkan kegembiraan dan sejenisnya.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Sesungguhnya hari ‘Arafah, hari Nahr (hari raya Idul Adha, 10 Zulhijah), dan hari tasyriq adalah hari ‘id kita, umat Islam, yaitu hari makan dan minum.” (HR. Abu Dawud no. 2419, Tirmidzi no. 773 dan An-Nasa’i no. 3004, hadis sahih)
Dalam hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu,
يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari ‘id, dan inilah ‘id kita (yaitu umat Islam, pen.).” (HR. Bukhari no. 952 dan Muslim no. 892)
Berkaitan dengan hadis di atas, Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syekh hafidzahullahu Ta’ala berkata,
“Disandarkannya ‘id (dengan Islam) adalah dalil tentang dikhususkannya ‘id sebagai bagian dari agama (Islam).” (Al-Minzhaar, hal. 19)
Artinya, perayaan selainnya yang tidak ditetapkan oleh syariat Islam, tidak termasuk dari Islam.
Oleh karena itu, mengkhususkan hari ulang tahun sebagai ‘id (perayaan yang berulang setiap tahunnya) jelas-jelas bukan termasuk dalam bagian agama Islam, alias bid’ah dalam bentuk semacam ini.
Betapa ruginya kita, ketika kita habiskan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit untuk merayakan ulang tahun, namun tidak ada faedahnya sedikit pun, dan justru membahayakan agama kita sendiri.
Kondisi kedua: Menganggap perayaan ulang tahun sebagai bentuk adat kebiasaan semata, hanya sebagai sarana untuk senang-senang dan tidak dalam rangka ibadah
Bentuk (kemungkinan) ke dua, yaitu menjadikan perayaan ulang tahun hanya sebagai bentuk senang-senang semata, dan tidak menyandarkannya sebagai bagian dari agama atau tidak menjadikannya sebagai ibadah.
Sebagian orang menyangka bahwa ulang tahun dalam islam jika tidak dimaksudkan untuk ibadah, maka diperbolehkan. Ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Karena meskipun perayaan ulang tahun tidak dimaksudkan untuk ibadah, perayaan tersebut tetap terlarang. Hal ini berdasarkan riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, dimana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda, “Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang, Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha.” (HR. Abu Dawud no. 1134 dan An-Nasa’i no. 1556)
Berdasarkan hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penduduk Madinah untuk menjadikan dua hari khusus setiap tahunnya untuk sekedar bergembira dan bersenang-senang. Dan kebiasaan penduduk Jahiliyyah tersebut sama persis dengan kebiasaan orang-orang sekarang yang mengkhususkan hari lahir di setiap tahunnya untuk bersenang-senang dengan membuat kue ulang tahun, pesta, makan-makan di restoran, dan bentuk bersenang-senang yang lainnya.
Para ulama menjelaskan bahwa sebab adanya larangan untuk menjadikan hari tertentu sebagai ‘id adalah,
قصد تعظيم زمن معين
“Bermasksud untuk mengagungkan (memuliakan dan mengistimewakan) suatu hari tertentu.”
Artinya, tidak boleh bagi kita untuk mengistimewakan, mengagungkan dan memuliakan hari tertentu, baik dengan menampakkan kegembiraan (senang-senang) atau melakukan ritual ibadah khusus, kecuali ada dalil penetapannya dari syariat.
Ketika menjelaskan kesalahan sebagian orang yang mengkhususkan hari tertentu untuk beribadah padahal tidak ada asal-usulnya sama sekali dari syariat, semacam hari Kamis pertama setiap bulan Rajab, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata
والصواب الذي عليه المحققون من أهل العلم: النهي عن إفراد هذا اليوم بالصوم، وعن هذه الصلاة المحدثة، وعن كل ما فيه تعظيم لهذا اليوم ن صنعة الأطعمة، وإظهار الزينة، ونحو ذلك حتى يكون هذا اليوم بمنزلة غيره من الأيام، وحتى لا يكون له مزية أصلًا
“Pendapat yang benar sebagaimana yang dipegang oleh para ulama peneliti, adanya larang mengkhususkan hari tersebut dengan berpuasa, dengan shalat yang diada-adakan (yaitu shalat yang disebut dengan shalat raghaib, pen.), dan segala bentuk pengagungan terhadap hari tersebut, baik berupa membuat makanan, menampakkan perhiasan (pakaian istimewa yang tidak biasa dipakai di hari lainnya, pen.), dan semacamnya, sampai hari tersebut memiliki kedudukan yang sama dengan hari-hari lainnya, dan sampai hari tersebut tidak memiliki keistimewaan tertentu bagi dirinya sama sekali.” (Al-Iqtidha’, 2: 121-122)
Dalam perayaan ulang tahun, terkandung unsur menyerupai orang kafir
Alasan lain terlarangnya perayaan ulang tahun dalam islam adalah bahwa di dalam perayaan ulang tahun terdapat unsur menyerupai orang-orang kafir dalam hal yang menjadi ciri khas mereka, yaitu membuat-buat berbagai macam ‘id yang tidak pernah disyariatkan. Sedangkan syariat kita yang mulia, telah melarang untuk menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4031, hadits shahih).
Syekh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syekh hafidzahullahu Ta’ala berkata,
“Sesungguhnya perayaan tersebut (ulang tahun, tahun baru, dan semacamnya) adalah bentuk tasyabbuh dengan orang-orang kafir, yaitu dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan selainnya yang gemar membuat-buat berbagai macam perayaan (‘id) yang tidak disyariatkan. Dan tidak diragukan lagi, bahwa kita diperintahkan untuk meninggalkan tasyabbuh terhadap orang kafir dan memutus berbagai bentuk kaitan tasyabbuh dengan mereka.” (Al-Minzhaar, hal. 19)
Perayaan ulang tahun adalah tradisi orang-orang kafir, dan bukan bagian dari perayaan kaum muslimin sebagaimana hadis-hadis yang telah disebutkan di atas.
Di antara bukti bahwa perbuatan membuat-buat perayaan (‘id) adalah karakter khas orang Yahudi adalah sebuah hadis yang diriwayatkan dari Thariq bin Shihab, beliau berkata, “Seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar,
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ، مَعْشَرَ الْيَهُودِ، لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا
‘Wahai amirul mukminin! Kalian membaca suatu ayat dalam kitab kalian, yang seandainya ayat tersebut turun kepada kami, orang-orang Yahudi, maka kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai ‘id.’”
‘Umar berkata, “Ayat apakah itu?”
Orang Yahudi tersebut mengatakan,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)
Kemudian ‘Umar berkata,
إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ، وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ، نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ
“Aku sungguh mengetahui hari ketika ayat tersebut diturunkan dan tempat diturunkannya ayat tersebut. Ayat tersebut turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Arafah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017)
Lihatlah bagaimana dalam hadis di atas, orang Yahudi tersebut berkeinginan untuk menjadikan suatu hari yang dianggap sebagai hari yang istimewa untuk dijadikan hari perayaan (‘id). Dan inilah ciri khas mereka, yaitu menjadikan momen-momen tertentu untuk dijadikan sebagai bahan perayaan.
Doa agar panjang umur
Dalam acara ulang tahun, juga terdapat berbagai macam doa, yang biasanya berdoa agar dipanjangkan umurnya secara mutlak. Doa semacam ini pun bermasalah, karena panjang umur bisa jadi dihabiskan untuk maksiat dan durhaka kepada Allah Ta’ala, sehingga akhirnya akan memperberat urusan kita di akhirat kelak.
Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang siapakah manusia terbaik, beliau menjawab,
مَنْ طَالَ عُمُرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Siapa saja yang berumur panjang dan baik amalnya.” (HR. Ahmad no. 17698, 17680 dan Tirmidzi no. 2251, hadis sahih)
Atas dasar inilah, sebagian ulama membenci untuk didoakan panjang umur secara mutlak.
Kesimpulan
Perayaan ulang tahun termasuk dalam bid’ah jika dirayakan dalam rangka ibadah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Perayaan ulang tahun juga tetap terlarang meskipun hanya bermaksud untuk bersenang-senang. Karena syariat melarang untuk mengagungkan, memuliakan dan mengistimewakan hari tertentu untuk senang-senang dan ibadah, kecuali ada dalil penetapannya dari syariat yang mulia ini. Selain itu, merayakan ulang tahun akan menjerumuskan seseorang ke dalam tasyabbuh terhadap orang kafir, yaitu perbuatan menyerupai mereka dalam perbuatan dan karakter yang menjadi ciri khas orang kafir. Termasuk ciri khas orang kafir dalam hal ini adalah membuat-buat berbagai macam ‘id yang tidak ada asal usulnya dalam agama mereka.
Semoga pembahasan tentang ulang tahun ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Barakallahu fiikum.
***
@Sint-Jobskade 718 NL, 13 Syawal 1439/ 27 Juni 2018
Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,
Penulis: M. Saifudin Hakim
Sumber: https://muslim.or.id/40915-hukum-mengistimewakan-hari-lahir-dengan-perayaan-ulang-tahun.html
Copyright © 2025 muslim.or.id







