Agar Ramadhanmu Lebih Bermakna

Saudariku, bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan merupakan momen yang agung. Allah memperbesar pahala serta memperbanyak anugerah di dalamnya. Pintu-pintu kebaikan dibukakan bagi setiap orang yang bersemangat meraihnya. Rasul shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila tiba Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, dikunci rapat-rapatlah pintu-pintu neraka, dan diikatlah berbagai setan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal shalih dan sebagai motivasi untuk orang-orang agar mengerjakan amal shalih, serta dikunci rapat-rapatnya pintu-pintu neraka karena sedikitnya maksiat yang dikerjakan oleh orang-orang yang beriman, dan dibelenggunya setan-setan supaya mereka tidak banyak berulah sebagaimana ulah mereka di luar bulan Ramadhan.

Sampainya bulan Ramadhan adalah suatu nikmat besar bagi semua orang yang menjumpainya serta mengisinya dengan kembali kepada Allah ta’ala, meninggalkan perbuatan maksiat menuju taat, meninggalkan lalai menuju ingat dan meninggalkan jauh dari Allah ta’ala untuk kembali dekat kepada Allah ta’ala. Seseorang yang mendapat pahala dari Allah karena melakukan amal shalih maka sesungguhnya dia diliputi karunia Allah dari tiga sisi,

Pertama, Allah-lah yang mensyari’atkan berbagai amal shalih bagi para hamba-Nya yang menjadi sebab diampuninya dosa-dosa mereka dan ditinggikannya derajat mereka. Hal tersebut merupakan nikmat yang agung, seandainya Allah tidak mensyari’atkan amalan tersebut, maka tentu seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah dengan amalan tersebut karena ibadah itu hanya diambil dari apa yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya.

Kedua, Allah-lah yang memberikan taufiq kepada manusia untuk melakukan amal shalih yang telah ditinggalkan oleh banyak manusia, seandainya bukan karena pertolongan Allah serta taufiq-Nya niscaya manusia tidak akan melakukan amal shalih tersebut.

Ketiga, Allah juga yang memberikan anugerah berupa pahala yang banyak, yaitu Allah melipatgandakan satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat dan masih dilipat gandakan lebih banyak lagi.

Maka betapa besar anugerah yang Allah berikan kepada kita. Sungguh anugerah itu adalah dari Allah, ketika kita bisa beramal itu merupakan anugerah dari Allah, demikian juga ketika kita dapat meraih pahala juga merupakan anugerah dari Allah. Oleh karena itu, wahai saudariku… hendaknya kita bersemangat untuk bangkit dari kelalaian, memohon kepada Allah agar diberi taufiq untuk mencari bekal berupa taqwa, serta memanfaatkan waktu senggang kita untuk mengerjakan berbagai amal shalih.

Tidak berlebihan menyiapkan buka sampai ikhtilat (ngabuburit)

Tahukah engkau wahai saudariku… Allah ta’ala akan membalas amalan puasa dengan pahala yang berkali lipat tak terhingga batasnya. Kenapa demikian? Kata Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, “karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Adapun ganjaran bagi orang yang bersabar terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Selain itu, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam juga mengabarkan adanya dua kebahagiaan yang akan diraih oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Kebahagiaan ketika berbuka jelas dijumpai oleh setiap orang yang berpuasa karena dia mendapati dirinya diperbolehkan lagi untuk menikmati makanan, minuman dan bergaul dengan suami atau istri. Namun bukan berarti dia boleh berlebihan dalam manjalani saat-saat berbuka atau kegiatan dalam malam-malam Ramadhan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Hendaknya kesabaran saat berpuasa terus berlanjut hingga momen-momen menjelang atau selepas berbuka, diantaranya dengan tidak berlebihan dalam menyiapkan hidangan berbuka, tidak menanti waktu berbuka dengan berjalan-jalan di tempat umum atau bercampur-baur dengan lawan jenis, tidak mendengarkan musik dan lain sebagainya. Kesabaran itu meliputi tiga macam, yaitu kesabaran dalam menjalani ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menjauhi perkara yang dilarang Allah, dan kesabaran dalam menghadapi taqdir Allah yang dirasa tidak mengenakkan.

Keutamaan memberi makan orang puasa

Wahai saudariku… diantara pahala yang agung dan kebaikan yang melimpah yang dapat kita raih pada bulan Ramadhan adalah dengan memberi makan untuk orang yang berbuka puasa. Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Bersemangat mengajarkan anak-anak untuk berpuasa dan belajar Al-Quran

Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ditanya tentang anak-anak yang sudah mumayyiz, kapankah diperintahkan untuk puasa? Beliau menjawab: “Adapun anak-anak yang belum baligh, apabila sudah mampu berpuasa maka hendaklah ia disuruh berpuasa dan diberi peringatan bila meninggalkannya.” Hal ini untuk melatih mereka beribadah dengan baik. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ra?iyallahu‘anha berkata tentang keadaan bulan Ramadhan: “Kami mengerjakan puasa (bulan Ramadhan) dan kami menyertakan anak-anak kami puasa. Kami memberikan kepada mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami memberikan mainan itu kepadanya hingga waktu berbuka tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, bersemangatlah wahai saudariku dalam memperbanyak membaca Al-Quran yang penuh berkah terutama pada bulan Ramadhan ini yang Al-Quran diturunkan di dalamnya. Sesungguhnya memperbanyak membaca Al-Quran pada bulan ini adalah suatu keistimewaan khusus. Jibril menyimak bacaan Al-Quran Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam ketika Ramadhan setiap tahun sekali khatam, namun ketika tahun dimana nabi shallallahu‘alaihi wa sallam wafat, Jibril menyimaknya dua kali khatam untuk menguatkan dan memantapkan bacaan Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam. Demikian juga orang-orang shalih terdahulu terbiasa memperbanyak tilawah Al-Quran pada bulan Ramadhan baik di waktu shalat maupun di luar shalat.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan ra?iyallahu‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam menjelaskan status sebagai sebaik-baik manusia dapat diraih dengan mengumpulkan dua hal, yaitu mengumpulkan antara proses belajar dan proses mengajar. Maka setelah seseorang belajar dan mampu menguasai bacaan Al-Quran selayaknyalah dia menyebarluaskan dengan mengajarkannya pada orang lain.

Menghadiri majelis ilmu

Diantara adab-adab yang dianjurkan saat puasa adalah memperbanyak tilawah Al-Quran, berdzikir, berdoa, shalat dan sedekah. Adapun tilawah Al-Quran dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah meliputi dua macam, yaitu membaca lafadznya dan mengikuti hukum-hukumnya. Mengikuti hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran ialah dengan membenarkan apa yang diberitakan dalam Al-Quran serta mengamalkan apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang, itulah tujuan terbesar dari diturunkannya Al-Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).

Oleh karena itu, semaraknya majlis ilmu yang mengkaji hukum-hukum Allah yang tekandung dalam Al-Quran dan sunnah pada bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi kita. Jangan kita sia-siakan dan kita lewati begitu saja. Bulan-bulan lain mungkin tidak dapat kita nikmati kesempatan tersebut karena banyaknya aktivitas dan kesibukan.

Dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah ra?iyallahu‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah mereka membaca kitab Allah di sana dan mereka mempelajarinya di antara sesama mereka kecuali akan turun ketenangan pada mereka, kasih sayang melingkupi mereka, dan para malaikat pun mengelilingi mereka, serta Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.”

Adab keluar menuju masjid

Hadits di atas menunjukkan istimewanya belajar Al-Quran dan mempelajari agama secara umum di masjid. Empat keistimewaan akan Allah berikan bagi orang yang duduk di majelis ilmu. Berikut adalah adab-adab yang perlu diperhatikan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid:

  1. Keluar tanpa memakai parfum. Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa saja wanita yang mengenakan parfum lalu keluar menuju masjid niscaya tidak akan diterima shalatnya sampai dia mandi.” (HR. Ibnu Majah)
  2. Mengenakan pakaian yang sesuai syari’at. Kaum wanita pada masa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam apabila keluar menuju masjid mereka tidak mengenakan perhiasan dan tidak berdandan serta mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya.
  3. Tidak bercampur baur dengan kaum pria. Diriwayatkan dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah ra?iyallahu‘anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda saat beliau keluar dari masjid sementara kaum lelaki dan kaum wanita bercampur baur di jalanan: “Mundurlah kalian (kaum wanita)! Kalian tidak boleh berjalan di bagian tengah jalan. Hendaklah kalian memilih bagian tepinya.” Maka kaum wanita merapatkan dirinya ke dinding sampai-sampai pakaian mereka terseret pada dinding karena saking merapatnya.
  4. Tidak berduaan dengan sopir pribadi yang bukan mahram, karena ini adalah perbuatan haram meskipun dalam rangka pergi ke masjid.
  5. Melewat jalan yang aman dan tidak dikhawatirkan menimbulkan bahaya atas dirinya.
  6. Menghindari makan makanan yang baunya menyengat dan menyebabkan orang di sekitarnya terganggu. Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memakan bawang putih atau bawang merah dan lobak maka janganlah ia mendekati masjid kami. Karena para malaikat juga terganggu dengan hal-hal yang mengganggu bani Adam.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasaa’i)

Bagaimana menggunakan waktu ketika haid

Wanita haid tidak diperbolehkan mengerjakan shalat dan puasa. Adapun amalan-amalan ketaatan lainnya tetap bisa ia kerjakan, seperti memberi makan orang yang berbuka puasa, memperbanyak berderma dan menghidupkan malam-malam lailatul qadar dengan cara membaca Al-Quran tanpa menyentuh mushaf, berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (sub?anallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (al?amdulillah), dan dzikir lainnya, memperbanyak istighfar, memperbanyak doa dan lain sebagainya.

Saudariku, renungkanlah karunia Allah kepada kita… betapa dosa ummat Muhammad shallallahu‘alaihi wa sallam akan Allah ampuni pada malam yang terakhir dari bulan Ramadhan apabila kita telah melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan pada bulan yang mulia ini berupa puasa dan shalat, sebagaimana orang yang bekerja akan mendapat ganjarannya ketika telah menyelesaikan pekerjaannya.

Selain itu, begitu banyak amalan-amalan lain sepanjang hari-hari pada bulan Ramadhan yang terdapat pengampunan dosa, bahkan para malaikat juga memohonkan ampun bagi orang yang berpuasa sampai dia berbuka. Oleh karena itu Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”

Wa shallallahu wa sallamu ‘alaa nabiyyinaa Mu?ammadin wa ‘ala alihi wa ash?abihi wat tabi‘?na lahum bi ihsanin ila yaumiddin.

***

Artikel Buletin Zuhairah
Penulis:  Ummu ‘Ubaidillah
Murajaah: Ustadz Adika Minaoki

Referensi:

  1. Majalisu Syahri Rama?an, Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utsaimin, Darul ‘Aqidah, 1429 H.
  2. Shifatu Shaumi Nab? shallallahu‘alaihi wa sallam f? Rama?an, Salim bin ‘Ied Al-Hilali & ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, Dar Ibnu Hazm, 1417 H.
  3. Panduan Ramadhan, bekal meraih Ramadhan penuh berkah, Muhammad Abduh Tuasikal, Pustaka Muslim, 1433 H.
  4. Wanita Muslimah di Bulan Ramadhan, (terj: Al Mar-ah fii Ramadhan), Muhammad bin Rasyid Al-Ghafiili, Pustaka At-Tibyan.

Sumber: https://muslimah.or.id/3936-agar-ramadhanmu-lebih-bermakna.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Untukmu Wahai Pencari Kebaikan, Inilah Saatnya di Bulan Ramadan

Tidak asing lagi bagi para pencari kebaikan, bahwasanya bulan Ramadan adalah bulan yang sarat akan kebaikan-kebaikan. Bagi para pencari kebaikan, bulan Ramadan bukanlah waktu untuk sebatas menunaikan kewajiban rukun Islam berupa puasa, bukan pula untuk sebatas melepas tanggung jawab saja.

Namun, mereka memandang bulan Ramadan adalah waktu dan momentum yang tepat untuk melakukan ketaatan-ketaatan, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, waktu untuk berjalan di atas ketaatan dan melepaskan segala kemaksiatan. Demikianlah halnya pandangan orang-orang beriman, orang-orang yang mencari kebaikan pada bulan ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menafsirkan ayat di atas dengan berkata,

يَقُوْلُ تَعَالَى مُخَاطِبًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ هَذِهِ الآيَةِ، وَآمِرًا لَهُمْ بِالصِّيَامِ

Pada ayat ini, Allah Ta’ala berfirman secara langsung kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk berpuasa.” [1]

Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang beriman bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk berpuasa di bulan Ramadan. Sehingga, pantaslah mereka menyambut bulan ini dengan penuh suka cita dan riang gembira. Tidak sampai di situ, terdapat hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau memberikan kabar yang membuat gembira para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَك، فَرَضَ اللّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أبْوَابُ السَّمَاء، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh dengan keberkahan. Allah ‘Azza Wajalla telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa. Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu (neraka) jahim, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadan, Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan pada malam itu, maka ia telah merugi.” [2]

Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang dapat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi pencari kebaikan, bagi mereka yang beriman. Bagaimana tidak? Bulan ini adalah bulan yang penuh dengan keberkahan. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan di atas. Keberkahan Ramadan terus mengalir di setiap saat, di setiap waktu demi waktu, dari jam ke jam. Maka, untukmu para pencari kebaikan di bulan ini, ketahuilah!

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah

Di antara yang menunjukkan berkahnya bulan Ramadan adalah dikarenakan:

Pertama: Pada bulan Ramadan, terdapat syariat puasa. Yaitu, dengan menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri.

Kedua: Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu langit.

Ketiga: Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تُفْتَحُ فِيهِ أبْوَابُ الجَنَّةِ

Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga.” [3]

Keempat: Pada bulan Ramadan, ditutup pintu-pintu neraka.

Kelima: Pada bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu.

Keenam: Pada bulan Ramadan, terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Keberkahan ini begitu spesial, karena hanya terdapat pada bulan Ramadan dan tidak ada di bulan-bulan selainnya. Seperti contohnya pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini semua hanya terdapat pada bulan Ramadan dan ini semua merupakan keberkahan yang begitu besar. Keberkahan yang seharusnya dapat mengasah semangat para pencari kebaikan, menyalakan kembali tekad-tekad yang tinggi, dan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala[4]

Wahai pencari kebaikan! Inilah saatnya untuk bersegera kepada ketaatan

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi rahimahullah (wafat th. 279), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Pada malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu neraka yang terbuka. Dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu surga yang tertutup. Serta, seorang penyeru menyeru, ‘Wahai yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat, berhentilah. Allah memiliki hamba-hamba yang diselamatkan dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan.” [5]

Perhatikanlah secara seksama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ

Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai yang mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan).’”

Maka, bersegeralah! Engkau sudah berada pada musim dan kesempatan yang penuh kebaikan dan ketaatan. Bersegeralah dan bersemangatlah! Jangan engkau sia-siakan kesempatan emas ini! Inilah saatnya kita berada pada waktu yang penuh dengan keuntungan berupa kebaikan yang berlimpah.

وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

Wahai yang mengharapkan keburukan atau maksiat, berhentilah.

Maksudnya, amat sangat tidak layak bagi seseorang yang ingin melakukan perbuatan buruk atau terbesit padanya suatu keburukan, untuk memberikan celah bagi dirinya tenggelam pada keburukan itu, hanyut dalam kesesatan itu, dan terus menerus berada pada kesesatan itu di musim yang mulia dan penuh dengan keberkahan ini.

Jika hatimu tidak tergerak, tidak ada ambisi dan semangat sama sekali untuk melakukan ketaatan di bulan Ramadan ini, tidak ada keinginan untuk menyesali perbuatan buruk, untuk bertobat kepada Allah Ta’ala, maka pertanyaannya; “Di bulan mana lagi hatimu akan tergerak untuk melakukan ketaatan?” [6] Maka, inilah momentum yang sangat tepat dan kesempatan terbaik untukmu wahai pencari kebaikan.

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Allah memiliki hamba-hamba yang diselamatkan dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan.”

Allah Ta’ala pada setiap malam di antara malam-malam yang mulia, di bulan Ramadan, membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka jahanam. Seorang muslim hendaknya berusaha untuk memperoleh hal ini, agar dirinya diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari neraka-Nya. Dan ini merupakan kemenangan yang sesungguhnya. [7]

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Untukmu wahai pencari kebaikan, berbahagialah dengan hadirnya bulan Ramadan ini. Pancarkanlah sinar-sinar kebahagiaan dalam hatimu, letakkanlah bulan ini di tempat yang tertinggi di dalam hatimu. Pujilah Allah Ta’ala karena telah memberikan kepadamu karunia-Nya untuk sampai kembali kepada bulan ini. Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini. Tentunya di antara bentuk syukur kepada Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah dan ketaatan di bulan ini, dan jangan lupa untuk menunaikan hak-hak Allah pada bulan Ramadan ini.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saaatnya untuk mengesampingkan dan mengerdilkan ego dan emosimu. Selimutilah dirimu dengan kebaikan dan kesabaran.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk meninggalkan segala perkataan dusta, sumpah serapah, perkataan kasar, dan semisalnya. Kembalilah dan katakanlah perkataan yang mulia.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk kembali kepada Al-Qur’an yang mungkin engkau telah melupakannya selama sebelas bulan belakangan ini. Engkau tinggalkan ia dalam keadaan usang dan berdebu. Ambillah Al-Qur’anmu! Bacalah dan tadaburi makna-maknanya! Berusahalah untuk membacanya dengan lancar dan sempurna. Kelak engkau akan mendapatkan syafa’at dan dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk memperbaiki dan berbenah diri. Mungkin di bulan Ramadan sebelumnya engkau tenggelam di dalam kelalaian, tenggelam dalam bujuk rayu setan untuk tetap bermalas-malasan, tidur-tiduran, menggunakan gadget secara berlebihan. Inilah saatnya untuk memperbaiki itu semua.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya.

Wallahul muwaffiq.

***

Depok, 2 Ramadan 1445/ 13 Maret 2024

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1: 364, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

[2] Lihat Shahih Sunan An-Nasa’i, no. 1992 dan Shahih Al-Jami’, no. 55. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[3] Lihat Shahih Sunan An-Nasa’i, no. 1993. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah.

[4] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadhan, hal. 16, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.

[5] Lihat Sunan At-Tirmidzi, no. 286. Hadis disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah.

[6] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadhan, hal. 11, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.

[7] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadan, hal. 11-12, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.

Sumber: https://muslim.or.id/92573-untukmu-wahai-pencari-kebaikan-inilah-saatnya.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Nasihat Jelang Ramadan: Mari Makmurkan Masjid-Masjid di Sekitar Kita

Saudaraku yang dimuliakan Allah Ta’ala, sebelum bulan penuh kemuliaan ini datang menghampiri, hendaknya masing-masing dari kita menumbuhkan kembali kesadaran dan kecintaan kita untuk meramaikan dan memakmurkan masjid-masjid dan rumah Allah Ta’ala.

Masjid adalah tempat paling mulia di muka bumi

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala, sesungguhnya tempat yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah adalah masjid yang kita gunakan untuk salat dan beribadah. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَحَبُّ الْبِلادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671)

Masjid adalah rumah Allah di muka bumi ini. Tempat yang penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Tempat berkumpulnya orang-orang mukmin dan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Allah berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18)

Seorang mukmin berkewajiban menampakkan dan meninggikan (kemuliaan) masjid serta menghidupkannya. Ini berdasarkan firman Allah Azza Wajalla kepada kita semua,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36)

Allah Ta’ala memberikan ancaman yang sangat keras kepada siapa pun yang menghalangi hamba-hamba Allah dari beribadah di masjid. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allâh dalam masjid-masjid-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 114)

Keberadaan masjid adalah kebutuhan paling vital bagi masyarakat muslim

Masjid memiliki kedudukan penting bagi kaum muslimin. Di sanalah kaum muslimin melaksanakan salat lima waktu, beramal, dan menjalin hubungan sosial. Oleh karena itu, amal besar pertama yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah hijrah adalah membangun masjid. Beliau juga memerintahkan umatnya untuk membangun, menghidupkan, dan memakmurkan masjid. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

أمَرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ببناءِ المساجدِ في الدورِ، وأن تُنَظَّفَ وتُطَيَّبَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar masjid dibangun di perkampungan (tempat manusia banyak berkumpul), dibersihkan, dan diberi wewangian.” (HR. Abu Dawud no. 455, At-Tirmidzi no. 594, dan Ibnu Majah no. 754)

Di kesempatan lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan khusus bagi mereka yang membangun rumah Allah Ta’ala,

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لِبَيْضِهَا؛ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka, Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738, Imam Bukhari di dalam kitab At-Tarikh Al-Kabir, 1: 332, dan Ibnu Khuzaimah no. 1292)

Memakmurkan masjid, kewajiban kita bersama

Di negara kita tercinta, alhamdulillah, masjid sudah banyak tersebar di berbagai daerah dan pelosok. Sayangnya, hal tersebut tidak dibarengi dengan kesadaran untuk memakmurkan dan meramaikan masjid dalam rangka beribadah dan melaksanakan salat berjemaah.

Padahal, wahai saudaraku sekalian, memakmurkan masjid memiliki urgensi lebih untuk kita berikan perhatian dan kita usahakan. Dalam syariat kita, laki-laki berkewajiban untuk melaksanakan salat berjemaah di masjid dan meramaikannya. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,

وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِين

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan ancaman bagi mereka yang tidak berjemaah di masjid, padahal mampu untuk melaksanakannya.

إنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ علَى المُنَافِقِينَ صَلَاةُ العِشَاءِ، وَصَلَاةُ الفَجْرِ، ولو يَعْلَمُونَ ما فِيهِما لأَتَوْهُما ولو حَبْوًا، وَلقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بالصَّلَاةِ، فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فيُصَلِّيَ بالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي برِجَالٍ معهُمْ حُزَمٌ مِن حَطَبٍ إلى قَوْمٍ لا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عليهم بُيُوتَهُمْ بالنَّارِ

“Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Kalau mereka mengetahui keutamaan yang terdapat dalam kedua salat tersebut, mereka akan mendatanginya, walaupun dengan merangkak. Aku sangat ingin memerintahkan salat (dikerjakan), lalu dikumandangkan ikamah dan kuperintahkan seseorang untuk mengimami para jemaah. Sementara itu, aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut salat berjemaah dan membakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Masjid adalah rumah Allah Ta’ala yang harus kita makmurkan dan kita ramaikan, baik itu dengan melaksanakan salat ataupun dengan membaca Al-Qur’an dan belajar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan motivasi kepada kita semua,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُم الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُم اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah–rumah Allah (masjid), membaca kitabullah, saling mengajarkan di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dan dinaungi oleh para malaikat, serta Allah akan menyebut–nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat dalam beramal, sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya.” (HR. Muslim no. 2699)

Amalan-amalan yang mendatangkan kemakmuran masjid

Saudaraku sekalian, banyak sekali amalan-amalan yang dapat kita lakukan di masjid yang akan mendatangkan keutamaan bagi diri kita, baik di kehidupan dunia ini maupun di akhirat nanti. Bertepatan dengan bulan Ramadan yang akan datang menghampiri kita, ada baiknya diri kita kembali membiasakan amalan-amalan yang kita sebutkan berikut ini dan kembali memakmurkan masjid-masjid yang ada. Sehingga, masjid-masjid yang begitu banyak tersebar di penjuru negeri, tidak hanya ramai di bulan Ramadan saja, namun juga ramai di bulan-bulan lainnya.

Pertama, memperbanyak langkah menuju masjid.

Jika lokasi masjid yang dekat dengan tempat tinggal kita masih mudah untuk kita akses dengan berjalan kaki, maka berjalanlah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

مَن تَطَهَّرَ في بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إلى بَيْتٍ مَن بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِن فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إحْدَاهُما تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً.

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu akan menghapus kesalahan dan satunya lagi akan meninggikan derajat.”  (HR. Muslim no. 666)

Kedua, bagi laki-laki, tanamkan di hatimu bahwa salat berjemaah di masjid adalah kewajiban yang akan mendatangkan keutamaan besar kepadamu.

Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلاةُ الرَّجُلِ في جَماعةٍ تُضَعَّفُ عَلى صلاتِهِ فِي بَيْتِهِ وفي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرينَ ضِعفًا، وذلكَ أَنَّهُ إِذا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلى المَسْجِدِ، لا يُخْرِجُه إِلَّا الصَّلاةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوةً إِلَّا رُفِعَتْ لَه بهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّتْ عَنْه بهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذا صَلى لَمْ تَزَلِ المَلائِكَة تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ في مُصَلَّاه، مَا لَمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارحَمْهُ. وَلا يَزَالُ في صَلاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاةَ

Salatnya seorang lelaki dengan berjemaah itu dilipatgandakan pahalanya melebihi salatnya di rumahnya secara sendirian (munfarid) atau di pasarnya dengan dua puluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu dikarenakan apabila seseorang berwudu lalu memperbagusi cara wudunya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu, melainkan karena hendak melaksanakan salat, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sederajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia salat, maka para malaikat akan senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperoleh rahmat dan kasih sayang Allah, selama dirinya masih tetap berada di tempat salatnya dan ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu ialah, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.’ Seorang hamba akan dianggap dan diberikan pahala layaknya berada di dalam salat, selama ia menantikan salat berjemaah.” (HR. Bukhari no. 647 dan Muslim no. 649)

Ada keutamaan yang besar juga bagi mereka yang mau bergegas dan pergi ke masjid di kegelapan malam, baik itu untuk melaksanakan salat Isya ataupun salat Subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بشِّرِ المشَّائينَ في الظُّلَمِ إلى المساجدِ بالنُّورِ التَّامِّ يومَ القيامةَ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid di kegelapan malam bahwa mereka akan mendapat cahaya yang sempurna kelak di hari kiamat” (HR. Abu Dawud no. 561)

Ketiga, jangan tertinggal dari melaksanakan salat Jumat di masjid.

Berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat jumat memiliki keutamaan yang sangat besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa yang menjadikan istrinya mandi, lalu dirinya juga mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khotbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya, dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 345)

Keempat, belajar dan membaca Al-Qur’an di masjid

Sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,

خَرَجَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ وَنَحْنُ في الصُّفَّةِ، فَقالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَومٍ إلى بُطْحَانَ، أَوْ إلى العَقِيقِ، فَيَأْتِيَ منه بنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ في غيرِ إثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يا رَسولَ اللهِ، نُحِبُّ ذلكَ، قالَ: أَفلا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إلى المَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِن كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ له مِن نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ له مِن ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ له مِن أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإبِلِ

“Rasulullah ṣhallallahu ‘alaihi wasallam keluar sementara kami sedang berada di Ṣuffah (tempat berteduhnya para fukara dari kalangan muhajirin), kemudian beliau bertanya, ‘Siapakah di antara kalian yang suka pergi ke Buṭḥan atau ke ‘Aqiq, lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta yang gemuk-gemuk dengan tanpa membawa dosa dan tidak pula memutuskan silaturahim?’ Kami pun menjawab, ‘Kami semua menyukai hal itu, wahai Rasulullah ṣhallallahu ‘alaihi wasallam.’ Beliau melanjutkan sabdanya, ‘Sungguh, tidaklah salah seorang dari kalian pergi ke masjid lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat dari kitabullah ‘Azza Wajalla, (melainkan itu) lebih baik baginya daripada dua unta. Tiga (ayat) lebih baik dari tiga ekor unta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta, dan setiap hitungannya dari unta tersebut.’” (HR. Muslim no. 803)

Itulah wahai saudaraku, beberapa amalan yang apabila kita rutinkan akan membantu diri kita untuk dapat memakmurkan dan meramaikan rumah-rumah Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita kesitikamahan untuk terus datang ke masjid, menjadikan hati kita terikat dengan masjid, dan mempertemukan kita dengan bulan Ramadan yang penuh kemuliaan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/102928-nasihat-jelang-ramadan-mari-makmurkan-masjid-masjid-di-sekitar-kita.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Muslim Harus Bergembira Menyambut Ramadhan

Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud Keimanan

Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?

Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah

Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991))

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ

‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)

ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut Ramadhan

Ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29974-muslim-harus-bergembira-menyambut-ramadhan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Tips Puasa dan Olahraga Bagi Ibu Hamil

Puasa terbilang aman jika dilakukan oleh ibu hamil yang sehat, tetapi bisa menimbulkan risiko bila dilakukan oleh ibu hamil yang mengalami masalah kesehatan tertentu. Ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menjalani puasa.

Ketika ingin berpuasa, ibu hamil harus memperhatikan asupan nutrisi untuk dirinya dan janinnya ketika berbuka dan sahur. Makanan yang dikonsumsi harus bergizi, pilihlah makanan-makanan yang indeks glikemiknya rendah (low glikemic index) agar tidak mudah lapar.

Jika diperlukan, kami sangat menyarankan ibu hamil dan menyusui agar konsultasi gizi dan makanan ke ahlinya, karena keadaan setiap ibu berbeda-beda.

Kebutuhan cairan juga harus terpenuhi, setiap fase waktu antara buka puasa hingga sahur lagi usahakan minum segelas air. Ketika berbuka minum segelas, setelah makan minum segelas, sebelum shalat tarawih minum segelas, setelah shalat tarawih minum segelas, sebelum tidur minum segelas, bangun tidur minum segelas, ketika sahur minum segelas, setelah sahur minum segelas.

Demikian pula kebutuhan olahraga, puasa bukan alasan ibu hamil untuk menghentikan aktivitas berolahraga. Di antara olahraga yang tetap bisa dilakukan adalah berenang dan jalan santai. Jalan santai adalah bentuk olahraga yang minim risiko untuk dilakukan selama bulan Ramadhan dan ketika ibu sedang hamil.

Hanya saja pada sebagian ibu hamil yang tidak mampu, dia diizinkan tidak berpuasa. Apalagi jika dia memiliki masalah pada kesehatannya yang dikhawatirkan malah memberikan efek tidak baik pada dirinya atau janinnya jika memaksakan diri berpuasa. Keadaan seperti ini mendapatkan keringanan tidak berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (HR An-Nasa’i, no. 2274)

Ibu hamil yang sakit mual-muntah hebat (morning sickness) juga termasuk sakit yang dibolehkan tidak berpuasa. Allah berfirman,

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah: 185)

sumber : https://muslimafiyah.com/tips-puasa-dan-olahraga-bagi-ibu-hamil.html

Larangan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Ada ilmu yang mesti diperhatikan sebelum melaksanakan puasa Ramadhan. Ada larangan yang berisi perintah untuk tidak berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. Karena ada yang punya tujuan melaksanakan puasa sebelum itu untuk hati-hati atau hanya sekedar melaksanakan puasa sunnah biasa.

Hadits yang membicarakan hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom hadits no. 650 sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punyakebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Dalil ini adalah larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan karena ingin hati-hati dalam penentuan awal Ramadhan atau hanya ingin melaksanakan puasa sunnah biasa (puasa sunnah mutlak).

2- Larangan di sini adalah larangan haram, menurut pendapat lebih kuat karena hukum asal larangan demikian sampai ada dalil yang menyatakan berbeda.

3- Dikecualikan di sini kalau seseorang yang punya kebiasaan puasa tertentu seperti puasa Senin Kamis, atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kalau dilakukan satu atau dua hari sebelum Ramadhan, maka tidaklah mengapa.

4- Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa wajib, seperti puasa nadzar, kafaroh atau qodho’ puasa Ramadhan yang lalu, itu pun masih dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits yang kita kaji.

5- Hikmah larangan ini adalah supaya bisa membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah. Juga supaya kita semakin semangat melaksanakan awal puasa Ramadhan. Di samping itu, hukum puasa berkaitan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan). Maka orang yang mendahului Ramadhan dengan sehari atau dua hari puasa sebelumnya berarti menyelisihi ketentuan ini.

6- Ada hadits yang berbunyi,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

“Jika sudah mencapai separuh dari bulan Sya’ban, janganlah kalian berpuasa.“ (HR. Abu Daud no. 2337). Hadits ini seakan-akan bertentangan dengan hadits yang sedang kita kaji yang menyatakan larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Artinya, puasa sebelum itu masih boleh meskipun setelah pertengahan Sya’ban. Dan sebenarnya, hadits ini pun terdapat perselisihan pendapat mengenai keshahihannya. Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan adalah larangan puasa sunnah mutlak yang dimulai dari pertengahan bulan Sya’ban. Adapun jika seseorang punya kebiasaan puasa seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau ingin menyambung puasa Sya’ban karena separuh pertama melakukannya, begitu pula karena ingin mengqodho’ puasa Ramadhan, maka seperti itu tidaklah masuk dalam larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban.

7- Islam memberikan batasan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan amalan sholih seperti yang dimaksudkan dalam hadits ini untuk puasa Ramadhan.

Semoga sajian singkat di sore ini bermanfaat bagi pengunjung Rumaysho.Com sekalian sebagai persiapan ilmu sebelum Ramadhan. Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 18–27.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 7–8.

@ Puncak, Hotel Parama saat Dauroh Syaikhuna Sa’ad Asy Syatsri, 16 Sya’ban 1434 H

sumber: https://rumaysho.com/3447-larangan-berpuasa-satu-atau-dua-hari-sebelum-ramadhan.html