Tanda Sayang, Mencium Buah Hati Tercinta

Sudahkah Anda mencium buah hati tercinta?

Dalam kitab Adabul Mufrod (Al Bukhari) dibawakan Bab 50-Mencium Anak Kecil. Di antara hadits yang dibawakan.

Hadits Pertama [67/90]

Dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata,

“Seorang badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata,

أَتُقَبِّلُوْنَ صِبْيَانَكُمْ؟!فَـمَا نُقَبِّلُهُمْ!

‘Apakah kalian mencium anak -anak kalian? Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.’

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أو أملك لك أن نزع الله من قلبك الرحمة؟!”

’Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”

(Shahih) – [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Rahmatul Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 64]

Hadits Kedua [68/91]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Habis At Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata,

إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ اْلوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً!

“Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya dan berkata,

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat Allah.”

(Shahih) Lihat Ghayatul Maram (70-71): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Al Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 65]

Ada pelajaran penting di atas bahwa ternyata mencium si buah hati akan mendatangkan rahmat Allah. Beda halnya jika kita perlakukan mereka dengan kasar. Kita kadang tergoda dengan godaan syaithon yang menyuruh kita bersikap kasar ketika kita melihat tingkah laku anak yang tidak kita sukai, padahal ada cara yang lebih bijak. Mencium dan menyayangi mereka serta mendidik mereka dengan menjauhi cara memukul, itu akan lebih baik karena datangnya rahmat Allah. Lemah lembut itulah sikap pertama, bukanlah dengan kekasaran.

Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Allah Maha PenyantunDia menyukai sifat penyantun (lemah lembut). Allah akan memberikan sesuatu dalam sikap santun yang tidak diberikan pada sikap kasar dan sikap selain itu.” (HR. Muslim no. 2593)

Juga dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Moga Allah memberikan kita anugerah sikap sabar dan lemah lembut terhadap anak-anak kita.

Disusun di GK, 2 Rabiul Awwal 1430 H

sumber: https://rumaysho.com/1606-tanda-sayang-mencium-buah-hati-tercinta-2.html

Semua Kasih Sayang di Dunia Hanya 1% dari Rahmat Allah!

Pernahkah kita berpikir bahwa seluruh kasih sayang di dunia ini hanya berasal dari satu bagian kecil dari rahmat Allah? Betapa besar rahmat yang kita rasakan, padahal itu hanyalah setetes dari lautan rahmat-Nya. Hadits ini membuka pintu harapan yang sangat luas bagi setiap orang beriman untuk meraih rahmat Allah di hari Kiamat.

Rahmat Dunia Hanya Sebagian Kecil

Hadits #420 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلَائِقُ، حَتَّىٰ تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian, dan Dia menurunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan mengenainya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang ternak, dan binatang kecil. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi, saling mengasihi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan rahmat lainnya Allah simpan untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Muslim juga meriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وَتِسْعٌ وَتِسْعُونَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu di antaranya adalah rahmat yang dengannya makhluk saling berkasih sayang di antara mereka, sedangkan sembilan puluh sembilan lainnya disimpan untuk hari Kiamat.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الْأَرْضِ رَحْمَةً، فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَىٰ بَعْضٍ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ»

“Sesungguhnya Allah, pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat. Setiap satu rahmat besarnya memenuhi jarak antara langit dan bumi. Lalu Dia menjadikan satu rahmat itu di bumi. Dengan rahmat itulah seorang ibu menyayangi anaknya, binatang buas dan burung saling menyayangi satu sama lain. Maka ketika hari Kiamat tiba, Allah menyempurnakannya dengan rahmat itu.”

Kosakata hadits

  • حَافِرُهَا: kakinya.
  • طِبَاقٌ: penutup atau lapisan. Maksudnya, satu rahmat itu memenuhi jarak antara langit dan bumi karena sangat besar dan agung.

Faedah hadits

  1. Rahmat yang Allah jadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya adalah bagian dari rahmat-Nya. Kebaikan yang Allah turunkan kepada mereka juga merupakan bagian dari karunia-Nya. Semua itu hanyalah sebagian dari apa yang Allah simpan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat.
  2. Dalam hal ini terdapat harapan yang sangat besar dan kabar gembira bagi orang-orang beriman. Jika mereka mendapatkan satu rahmat yang dengannya tercipta seluruh rasa kasih sayang di dunia ini, maka bagaimana dengan seratus rahmat pada hari Kiamat?

Di zaman sekarang, manusia sering kehilangan rasa kasih sayang, bahkan dalam keluarga sendiri. Padahal, rahmat yang ada di hati kita adalah karunia Allah yang sangat agung. Jagalah hati agar tetap lembut, mudah memaafkan, dan penuh empati kepada sesama. Ingatlah, siapa yang menyayangi, ia akan disayangi oleh Allah.

Referensi:

  1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42047-semua-kasih-sayang-di-dunia-hanya-1-dari-rahmat-allah.html

Allah Maha Baik, Dan Hanya Menerima Yang Baik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

Dari Imam Muslim Radhiyallahu ‘Anhu beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah. Yakni sahabat yang meriwayatkan hadits yang ke-9 juga. Dan beliau meninggal pada tahun 59 Hijriyah dan merupakan sahabat penuntut ilmu dan sahabat dengan riwayat hadits yang paling banyak. Dimana jumlah riwayat beliau melebihi 5000 hadits. Beliau meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana dia telah  emerintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai para Rasul makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih”. Sementara kepada orang-orang yang beriman Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, makanan tambahannya juga haram. Maka bagaimana orang tersebut bisa dikabulkan doanya.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah hadits yang agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik. Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala dan yang lain menjelaskan bahwasanya arti Thoyyib dalam nama Allah yang satu ini artinya adalah terlepas dari berbagai aib dan kekurangan. Dan ini adalah salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-Thoyyib adalah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi termasuk Al-Asmaul Husna. Dan karenanya boleh bagi seorang muslim untuk menghambakan diri kepada nama ini atau memberikan nama kepada anaknya atau yang lain Abdul Thoyyib (hamba dari Allah yang Maha Baik).

Jadi At-Thoyyib adalah salah satu Al-Asmaul Husna, salah satu nama-nama Allah yang indah. Dan karena Allah punya nama ini dan Dia disifati dengan sifat baik dan terlepas dari semua keburukan dan kekurangan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari hamba-hambaNya kecuali yang baik-baik saja.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwasanya hadits ini mencakup semua hal. Hadits ini mencakup amalan kita, mencakup penghasilan dan pekerjaan kita dan juga mencakup sedekah yang kita lakukan. Hadits ini secara lebih umum mencakup seluruh amalan kita. Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari amalan kita kecuali hanya yang baik. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Baik. Allah tidak menerima dari kita amalan kecuali kalau kita mewujudkan taqwa dalam amalan kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Dalam ayat ini ada kata إِنَّمَا (hanya). Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa saja.

Shalat itu taqwa, tapi agar shalat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam salat kita. Menjalankannya dengan ikhlas, menjalankannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khusyu’ dan seterusnya.

Haji itu taqwa, tapi agar haji kita mabrur dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam haji kita. Kita harus ikhlas, tidak boleh mengharap pahala dari haji kita kecuali hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melakukannya agar dipuji oleh orang lain, dilihat oleh orang lain, didengar oleh orang lain tapi semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjalankan ibadah haji tersebut sesuai dengan dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga tidak mencampuri ibadah-ibadah ini dengan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi berdasarkan penafsiran yang luas dan umum ini, hadits yang agung ini bisa menjadi salah satu dalil tentang syarat diterimanya amalan kita.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik.”

Amalan kita harus baik. Dan agar bisa baik amalan kita harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam atau terwujud taqwa dalam ibadah-ibadah dan amalan kita itu.

Demikian juga dalam sedekah kita. Kita tidak boleh bersedekah kecuali dengan yang baik-baik. Harta yang disedekahkan haruslah harta yang halal, harta yang bersih. Tidak boleh kita bersedekah dengan harta yang haram, yang kita dapatkan dengan cara yang tidak halal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat tanpa bersuci (wudhu), dan Allah juga tidak menerima sedekah dari ghulul.”

Apa itu ghulu? Ghulul adalah harta rampasan yang ditilep atau dicuri oleh seorang Mujahid sebelum harta tersebut dibagikan oleh pemimpin umat Islam. Dalam sebuah jihad (membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala), bisa jadi ada pejuang dan Mujahid yang tergoda dengan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan ghanimah untuk umat Islam setelah sebelumnya tidak boleh dinikmati oleh umat-umat sebelum kita. Ini termasuk kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dibandingkan Nabi-nabi sebelum beliau. Namun ghanimah atau harta ramparan perang ini baru boleh dinikmati secara pribadi secara individu setelah pemimpin umat Islam atau pemimpin jihad tersebut membagikannya kepada masing-masing Mujahidin. Sebelum itu maka harta tersebut tidak boleh ditilep atau diambil dinikmati sendiri. Dan kalau ada orang yang menilep atau mencuri harta rampasan perang ini sebelum dibagi maka itu disebut sebagai ghulul. Jadi bisa jadi ada seorang mujahid atau pejuang yang tergoda. Karena manusia lemah di hadapan fitnah dunia ini, diantaranya adalah harta. Dan ketika kemudian dia tersadarkan mungkin dia akan menyesal dan kemudian dia akan bertaubat dan menyedekahkan harta tersebut di jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sedekah dari ghulul/dari harta yang tidak halal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut di atas.

وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari kita sedekah yang berasal dari ghulul, yaitu harta yang dicuri dari harta rampasan perang yang belum dibagikan.”

Demikian juga harta-harta haram yang lain. Harta yang didapatkan dari perdagangan yang tidak halal. Misalnya karena berasal dari perdagangan yang memperjualbelikan barang-barang yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti khamr atau daging babi atau yang semacamnya. Atau dari transaksi riba atau gharar atau kedzaliman kepada orang lain. Harta yang
seperti ini tidak boleh dipakai untuk bersedekah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak boleh dipakai bersedekah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah tidak menerima kecuali dari yang baik-baik saja.

Hendaknya sedekah kita berasal dari harta yang halal yang kita dapatkan dengan cara yang halal. Itulah sedekah yang akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun kalau kita memiliki harta yang sudah masuk dalam rekening kita, sudah ada dalam simpanan kita, sudah masuk dalam kantong kita padahal itu adalah merupakan harta yang haram, maka cara mengeluarkan bukan dengan sedekah, tapi dengan melepas harta itu bukan sebagai sedekah tapi sebagai bentuk taubat kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka kita lepaskan. Sehingga kita tidak mendapatkan pahala sedekah namun kita akan mendapatkan pahala taubat dan melepaskan diri dari harta yang tidak halal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama tidak menyebutnya sebagai sedekah bahkan melarang hal tersebut dipakai untuk bersedekah. Tapi kita boleh takhallus atau melepas diri dari harta tersebut bukan dalam rangka sedekah tapi dalam rangka hanya ingin melepaskan harta haram yang sudah masuk dalam rumah atau kantong kita.

Demikian juga dengan penghasilan dan makanan yang haram, itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk makan dari yang halal, untuk mencari penghasilan yang halal, bekerja pada bidang yang halal. Ini adalah makna ketiga dari dari hadits kita:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja.”

Amalan dan ibadah sudah kita jelaskan, kemudian sedekah juga seperti itu, penghasilan dan makanan yang kita makan juga
seperti itu.

Allah tidak menerima dari hambaNya kecuali penghasilan yang halal, pendapatan yang halal, tidak boleh makan kecuali makanan yang halal. Dan hal ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para Rasul dan sekaligus juga kepada umat Islam semuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih.”

Jadi para Rasul diperintahkan untuk makan dari yang baik-baik saja. Makan dari yang halal saja, tidak boleh makan dari yang haram-haram. Dan mereka juga diperintahkan untuk beramal shalih, melakukan amalan yang shalih. Ini mengisyaratkan bahwasannya hadits di atas juga mencakup dimensi amal dan ibadah. Bukan hanya makan dan minum serta pendapatan saja tapi juga berbicara tentang amal shalih, menguatkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali bahwasanya hadits ini juga umum mencakup amal ibadah kita. Karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang makanan yang halal dan juga berbicara tentang amal shalih. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada umat Islam, kepada orang-orang yang beriman, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 172:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.

Jadi, apa yang diperintahkan kepada orang-orang yang beriman sama dengan apa yang diperintahkan kepada para Nabi dan Rasul. Yang ini menunjukkan pada dasarnya hukum yang berlaku untuk para Nabi dan Rasul adalah hukum yang berlaku juga untuk umat mereka. Hukum asalnya seperti itu, tidak ada perbedaan antara Nabi dengan umatnya dalam hukum. Artinya apa yang diperintahkan kepada para Nabi juga diperintahkan kepada umat mereka. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para Nabi untuk makan dari yang halal, untuk beramal shalih. Demikian juga kepada orang-orang beriman Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk makan dari makanan-makanan yang baik. Meskipun dalam beberapa hal ada hukum khusus yang hanya berlaku untuk para Nabi dan Rasul. Dalam agama Islam misalnya, ada beberapa hukum yang khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diataranya adalah bolehnya beliau menikah lebih dari 4 wanita atau juga bolehnya beliau menikahi wanita yang menghibahkan diri kepada beliau tanpa mahar. Ini adalah hukum yang khusus berlaku untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berlaku untuk umat beliau. Hal seperti ini disebut sebagai kekhususan, kekhasan, keistimewaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan para ulama memiliki banyak literatur dan karya khusus tentang kekhususan dan keistimewaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, perjalanan panjang, safar yang panjang, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit, mengatakan, “Ya Robbi, Ya Robbi” tapi makanan dia haram, minuman dia haram, makanan tambahan dia juga haram, maka bagaimana orang seperti itu bisa dijawab doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bagaimana dia berharap doa dia mustajab?

Jadi setelah menjelaskan apa yang beliau sampaikan di depan, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin menjelaskan bahwasanya ada diantara umat ini yang tidak mentaati aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah perintahkan dia untuk beramal shalih tapi dia tidak beramal shalih. Allah memerintahkan dia untuk makan dari makanan yang halal tapi dia tidak ikuti itu.

Jadi ini menunjukkan bahwasannya ada di antara hamba-hamba Allah yang taat dan ada juga yang tidak mau mendengar, tidak mau mentaati aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Contohnya adalah orang yang disebutkan dalam hadits ini. Seseorang yang melakukan perjalanan panjang, dia melakukan semua faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan, tetapi pada saat yang sama dia makan dari makanan yang haram, minum dari minuman yang haram, pakaiannya adalah pakaian yang haram, kemudian makanan tambahannya juga haram. Tadi mungkin di awal hadits saya lupa menyebutkan:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَبِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

Ini sebagai koreksi. Jadi orang ini makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, makanan tambahan atau suplemennya juga haram. Dan pada saat yang sama dia melakukan empat faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pertama adalah dia melakukan perjalanan panjang. Dan safar adalah salah satu faktor yang membuat doa seseorang terkabulkan. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud Ibnu, Majah dan Tirmidzi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ

“Ada tiga doa yang mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya.”

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Doanya orang yang terdzalimi, doanya orang musafir (sedang melakukan perjalanan jauh), dan yang ketiga adalah doa orang tua untuk anaknya.”

Dan dalam sebuah riwayat Tirmidzi disebutkan:

وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Doa orang tua untuk keburukan anaknya.” ini juga Mustajab, hati-hati para orang tua. Anda punya senjata andalan di hadapan Allah Subhana wa Ta’ala yaitu doa untuk kebaikan anak Anda. Tapi ingat bahwasanya doa untuk keburukan anak Anda juga Mustajab. Maka hindari berdoa buruk untuk anak terutama saat sedang marah, karena doa Anda mustajab.

Jadi, salah satu faktor yang membuat doa seorang terkabul adalah berdoa dalam posisi safar. Apalagi dalam hadits ini disebutkan orang tersebut sedang melakukan perjalanan jauh, safarnya panjang. Maka itu lebih bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian yang kedua adalah dia dalam keadaan kusut masai berdebu. Setelah perjalanan panjang ini dia memiliki pakaian yang kusut, badannya berdebu, pakaiannya berdebu, dan ini juga adalah salah satu faktor yang menambah peluang terkabulnya doa oleh seseorang. Karena dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رُبَّ أَشعَثَ أَغبَرَ مَدفوعٌ بالأَبوابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبرَّهُ

“Betapa banyak orang yang memiliki pakaian yang kusut masai berdebu yang ditolak di pintu-pintu karena dia adalah orang yang jelata bukan tokoh, bukan pejabat. Tapi kalau dia bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah akan jawab doanya. Allah akan kabulkan doanya. Allah akan kabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim)

Juga dalam hadits shahih tentang orang-orang yang berdoa pada hari Arafah. Disebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala berfirman, ini hadits qudsi, “Lihatlah para hamba-hambaKu yang berdoa kepadaku. Mereka datang dalam keadaan kusut masai. Maka Aku persaksikan kalian bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.”

Ini menunjukkan bahwasanya kondisi kusut masai berdebu juga merupakan salah satu faktor yang mendukung terkabulnya doa seorang hamba.

Kemudian yang ketiga dia mengangkat tangannya ke langit. Dan mengangkat tangan adalah salah satu adab dalam berdoa, salah satu faktor yang membuat doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwasanya Allah berada di atas, Allah berada di atas langit, Allah berada di ketinggian. Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak bisa ditolak oleh fitrah kita. Bahkan orang-orang yang berusaha untuk menjelaskan hal lain yang bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini secara tidak sadar ia juga mengangkat tangannya ke langit.

Ada seorang yang berasal dari Hamadzan yang bertanya kepada Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala, ketika beliau berusaha menjelaskan aqidah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Orang ini mengatakan, ”Wahai Abul Ma’ali, tinggalkan semua dalil yang kau sebutkan itu tapi jelaskan kepada saya kenapa setiap saya berdoa, setiap orang berdoa mereka otomatis mengangkat tangannya ke langit?” Maka Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Pria Hamdzan ini telah membuat saya bingung, telah membuat saya ragu dengan apa yang telah saya sampaikan.”

Orang yang mengharapkan dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat tangannya ke langit dan itu pula yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Dan Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan ada beberapa bentuk mengangkat tangan dalam berdoa yang di ajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau menyebutkan lima sifat. Yang pertama adalah mengangkat tangan dengan mengisyaratkan seperti isyarat tauhid dengan telunjuk jari. Hal seperti ini biasa lakukan saat beliau saat sedang berada di atas mimbar atau di atas kendaraan. Maka sunnah bagi seorang Khatib untuk berdoa di atas mimbar dengan posisi seperti ini, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang kedua adalah menghadapkan kedua tangan kita ke arah kiblat dengan bagian luar telapak tangan di depan seperti ini, menghadap ke arah kiblat sementara bagian dalam telapak tangan kita menghadap ke arah badan kita. Ini kata para ulama adalah doa tadharru. Ini juga shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian yang ketiga adalah sebaliknya, menghadapkan kedua tangan ke arah kiblat dengan posisi seperti ini. Ini kata para ulama adalah istijaroh dan isti’adzah, berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian yang ketiga adalah posisi menengadahkan tangan ke langit. Jadi kedua telapak tangan kita menghadap ke langit sambil kita mengangkat tangan kita. Ini adalah bentuk permintaan, permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang kelima adalah mirip seperti yang keempat ini tapi sebaliknya jadi posisinya dibuat seperti ini seperti orang yang sedang iltizam di depan pintu Ka’bah ketika di Multazam. Posisinya seperti ini dan ini kata para ulama artinya adalah ibtihal. Dan lima sifat ini semuanya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, intinya bahwasanya mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu sebab terkabulnya doa kita sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemalu dan Maha Pemurah.”

يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala malu kalau ada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, kalau dia membalasnya dengan tangan kosong dan kecewa.”

Kita menetapkan sifat malu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini. Sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah punya sifat malu dan Allah malu kalau ada seorang hambaNya yang mengangkat tangan kepadaNya kemudian dia pulang dengan tangan kosong, itu akan membuat Allah malu. Maka Allah akan jawab doa-doa kita.

Yang keempat adalah faktor mengucapkan “Yaa Robbi Yaa Robbi (Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku). Ini juga adab doa. Ini adalah cara berdoanya para Nabi dan Rasul. “Yaa Robbi” atau “Robbi” atau “Robbana” seperti disebutkan dalam banyak ayat dan dalam banyak hadits. Jadi diantara salah satu adab doa adalah memulai doa kita dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui bahwasanya kita adalah hambaNya dan Dia adalah Tuhan kita, dia adalah Rabb kita.

sumber: https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/

Utang Mayit Harus Dilunasi Dulu Sebelum Warisan Dibagi

Pernahkah Anda sadar bahwa utang tidak berhenti saat seseorang meninggal dunia? Bahkan seorang syahid pun masih memiliki tanggungan utang yang belum lunas. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa menunda pelunasan utang bukan sekadar urusan dunia, tetapi bisa berdampak sampai alam kubur.

Utang kepada Allah Lebih Berhak Dilunasi

Melunasi Utang dan Kewajiban Si Mayit

Kita masih membahas tentang hak-hak orang yang telah meninggal. Di antara hak-haknya adalah melunasi segala utang yang menjadi tanggungannya.

Di antara hak si mayit pula adalah zakat yang belum sempat ia tunaikan — maka ahli warisnya mengeluarkannya dari harta peninggalannya. Demikian pula jika ia meninggal sementara ia masih menanggung nazar puasa, maka ahli warisnya berpuasa menggantikannya. Pendapat yang lebih kuat juga menyatakan hal yang sama berlaku untuk puasa Ramadan yang ia tinggalkan padahal ia mampu menggantinya.

Pernah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ dan berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ دَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى»

“Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia masih menanggung puasa sebulan penuh, apakah aku boleh menggantinya?” Beliau menjawab: “Ya, utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. Al-Bukhāri no. 1953 dan Muslim no. 1148)

‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ»

“Barang siapa meninggal dunia sementara ia masih menanggung puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.” (HR. Al-Bukhāri no. 1952 dan Muslim no. 1147)

Haji atas Nama Si Mayit

Demikian pula, siapa yang meninggal dunia dan belum menunaikan haji, maka para walinya berhaji menggantikannya. Sebagaimana sabda beliau ﷺ kepada seorang laki-laki yang datang dan berkata bahwa ayahnya meninggal dan belum berhaji, lalu bertanya apakah ia boleh berhaji menggantikannya:

«أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟» قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ»

“Bagaimana pendapatmu, seandainya ayahmu menanggung utang, apakah kamu akan melunasinya?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. An-Nasā’i no. 2639)

Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟» قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ: «اقْضُوا اللهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ»

“Ibuku bernazar untuk berhaji, namun ia meninggal sebelum sempat berhaji. Apakah aku boleh berhaji menggantikannya?” Beliau menjawab: “Ya, berhajilah menggantikannya. Bagaimana pendapatmu, seandainya ibumu menanggung utang, apakah kamu akan melunasinya?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau pun bersabda: “Tunaikanlah kewajiban kepada Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dipenuhi.” (HR. Bukhāri, no. 1852)

Di antara kemuliaan dan kemurahan Allah adalah bahwa Dia menjadikan haji ahli waris atas nama si mayit seperti hajinya sendiri. Tidak mengapa mereka juga berhaji sunnah atau berumrah sunnah atas namanya, setelah mereka terlebih dahulu berhaji dan berumrah atas nama mereka sendiri.

Siapa yang meninggal sementara ia masih menanggung nazar, atau kafarat sumpah, atau kafarat-kafarat semisalnya, maka termasuk bentuk kebaikan kepada si mayit apabila para ahli warisnya menunaikan hal-hal tersebut.

Peringatan Keras: Jangan Tunda Pelunasan Utang Orang yang Telah Wafat

Segeralah melunasi utang orang-orang yang telah meninggal di antara kalian! Jangan tunda pelunasannya. Sebab seorang syahid — meski ia syahid — diampuni segala dosanya kecuali utang. Dan si mayit tergadai oleh utangnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

«نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ»

Jiwa seorang mukmin terkatung-katung oleh utangnya hingga utang itu dilunasi atas namanya.” (HR. Ahmad, At-Tirmiżī, Ibnu Mājah, dan Ibnu Hibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya)

Diriwayatkan dari Anas radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ pernah didatangi sebuah jenazah untuk dishalatkan, lalu beliau bertanya:

«هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟» قَالُوا: نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ جِبْرِيلَ نَهَانِي أَنْ أُصَلِّيَ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ، فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَ الدَّيْنِ مُرْتَهَنٌ فِي قَبْرِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ»

“Apakah ia menanggung utang?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Jibril melarangku menyalati orang yang menanggung utang, dan ia berkata: ‘Sesungguhnya orang yang berutang itu tergadai di dalam kuburnya hingga utangnya dilunasi atas namanya.’”

Dalam riwayat lain disebutkan:

«فَمَا يَنْفَعُكُمْ أَنْ أُصَلِّيَ عَلَى رَجُلٍ رُوحُهُ مُرْتَهَنَةٌ فِي قَبْرِهِ لَا تَصْعَدُ رُوحُهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَلَوْ ضَمِنَ رَجُلٌ دَيْنَهُ قُمْتُ فَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ فَإِنَّ صَلَاتِي تَنْفَعُهُ»

“Apa manfaatnya bagi kalian bila aku menyalati seseorang yang ruhnya tergadai di dalam kuburnya dan tidak bisa naik ke langit? Seandainya ada seseorang yang mau menanggung utangnya, aku akan berdiri dan menyalatkannya, sebab salatku akan memberi manfaat baginya.” (HR. Abu Ya’lā dan Aṭ-Ṭabrānī)

Kisah Jābir dan Utang Ayahnya

Jābir radhiyallāhu ‘anhu berkata: Ayahku wafat dan ia menanggung utang. Aku meminta bantuan Nabi ﷺ untuk menghadapi para penagih utangnya — yaitu para krediturnya dari kalangan Yahudi — agar mereka mau mengurangi sebagian utangnya. Nabi ﷺ memohon kepada mereka, namun mereka menolak. Maka Nabi ﷺ berkata kepadaku:

«اذْهَبْ فَصَنِّفْ تَمْرَكَ أَصْنَافًا ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَيَّ»

“Pergilah, pilah-pilahlah kurmamu menurut jenisnya, lalu beritahuku.”

Aku pun melakukannya, lalu memberi tahu Nabi ﷺ. Beliau datang dan duduk di atas tumpukan kurma yang paling atas, lalu bersabda: “Takar dan bayarkan kepada mereka.” Maka aku pun menakar dan membayarkan kepada mereka hingga seluruh utang terlunasi, dan kurmaku tersisa seolah-olah tidak berkurang sedikit pun. (HR. Bukhāri, no. 2127)

Teladan Az-Zubair dan Putranya: Diingatkan Mengenai Utang

Di antara contoh nyata perhatian terhadap pelunasan utang adalah kisah sahabat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu ‘anhu.

Beliau pernah berwasiat kepada putranya, Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, agar memperhatikan urusan utangnya. Abdullah pun sangat serius menjaga wasiat tersebut.

Ketika Az-Zubair berdiri pada hari terjadinya Perang Jamal, ia memanggil anaknya. Abdullah berkata, “Aku pun berdiri di sampingnya.” Lalu ayahnya berkata,

“Wahai anakku, hari ini tidak ada yang terbunuh kecuali orang yang zalim atau yang dizalimi. Aku merasa bahwa aku akan terbunuh hari ini dalam keadaan dizalimi. Dan sungguh, yang paling aku khawatirkan adalah utangku. Menurutmu, apakah harta kita cukup untuk melunasi utangku?”

Kemudian beliau berkata, “Wahai anakku, juallah harta kita dan lunasilah utangku.”

Beliau juga berwasiat agar sepertiga hartanya disedekahkan.

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa saat itu beliau memiliki sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan. Abdullah berkata,

“Ayahku terus berpesan kepadaku tentang utangnya. Ia berkata, ‘Wahai anakku, jika engkau kesulitan dalam melunasinya, maka mintalah pertolongan kepada maulaku.’”

Abdullah berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud sampai aku bertanya, ‘Wahai ayahku, siapa maulamu?’”

Beliau menjawab, “Allah.”

Setelah itu Az-Zubair pun terbunuh. Abdullah berkata, “Demi Allah, setiap kali aku menghadapi kesulitan dalam melunasi utangnya, aku selalu berdoa: ‘Wahai Tuhan Az-Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah benar-benar melunasinya.”

Ketika Abdullah telah selesai melunasi seluruh utang ayahnya, para ahli waris—yang berjumlah delapan belas orang termasuk para istri—berkata, “Bagilah warisan di antara kami.”

Namun Abdullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan membaginya sampai aku mengumumkan pada musim haji selama empat tahun: ‘Siapa saja yang memiliki piutang kepada Az-Zubair, hendaklah datang kepada kami, maka kami akan melunasinya.’”

Ia pun melakukan pengumuman itu setiap musim haji. Setelah berlalu empat tahun, barulah ia membagi warisan tersebut. (HR. Sahih Bukhari no. 3129)

Faedah penting dari kisah ini:

  • Utang adalah perkara besar, bahkan lebih dikhawatirkan oleh para sahabat dibandingkan kematian itu sendiri.
  • Orang saleh sangat berhati-hati agar tidak membawa utang ke alam akhirat.
  • Tawakal kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi benar-benar diamalkan—bahkan dalam urusan utang.
  • Wajib mendahulukan pelunasan utang sebelum pembagian warisan.
  • Sikap kehati-hatian Abdullah menunjukkan betapa seriusnya amanah dalam harta.

Kisah ini sejalan dengan peringatan bahwa utang bisa berdampak hingga alam kubur, sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya

Urutan Hak dalam Harta Peninggalan

  • Hak yang terkait dengan harta (utang, zakat, dll)
  • Biaya pengurusan jenazah
  • Pelunasan utang
  • Wasiat (maksimal sepertiga)
  • Pembagian warisan

Mendahulukan Utang dan Wasiat atas Warisan

Allah Ta’ala mengulang ini sebanyak empat kali dalam dua ayat dalam surah An-Nisaa’ yang menunjukkan bahwa warisan hendaknya diurus setelah utang dan wasiat.

1- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[11: النساء].

2- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

3- (مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

4- (مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ..)[12: النساء].

“sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya.”

Utang Wajib Diselesaikan Terlebih Dahulu

Mendahulukan pelunasan utang daripada pelaksanaan wasiat dalam praktik adalah perkara yang telah disepakati para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh banyak ahli fikih. Seseorang tidak akan terbebas tanggungannya kecuali setelah utangnya dilunasi.

Ibnu Al-Arabi rahimahullah berkata, “Adapun mendahulukan utang, karena tanggungan seseorang itu terikat dengan utangnya. Kewajiban membayar utang lebih utama daripada melakukan kebaikan (seperti wasiat) yang sifatnya mendekatkan diri kepada Allah.”

Dalil dari Sunnah Nabi ﷺ

Inilah pula yang telah diputuskan oleh Rasulullah ﷺ, di mana beliau mendahulukan utang atas wasiat.

Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:

Kami pernah duduk bersama Nabi ﷺ, lalu didatangkan sebuah jenazah. Mereka berkata, “Shalatkanlah dia.”
Beliau bertanya,

«هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ؟»

“Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya lagi,

«هَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟»

“Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Maka beliau pun menyalatkannya.

Kemudian didatangkan jenazah lain. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Dijawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Maka beliau pun menyalatkannya.

Lalu didatangkan jenazah yang ketiga. Mereka berkata, “Shalatkanlah dia.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Maka beliau bersabda,

«صَلُّوا عَلَىٰ صَاحِبِكُمْ»

“Shalatkanlah teman kalian itu.”

Lalu Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalatkanlah dia, wahai Rasulullah. Aku yang akan menanggung utangnya.” Maka Nabi ﷺ pun menyalatkannya. (HR. Bukhari)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah tidak memberikan bagian kepada seorang pun dari ahli waris atau penerima wasiat kecuali setelah utang dilunasi dari seluruh harta peninggalan, meskipun utang itu menghabiskan seluruh harta tersebut.”

Betapa lembut dan penuh rahmatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya, baik ketika hidup maupun setelah meninggal. Kematian bisa datang tiba-tiba, sementara seseorang belum sempat melunasi utangnya. Maka urusan itu dialihkan kepada para ahli warisnya, agar ia terbebas dari beban dan merasa tenang, bahkan ketika berada di dalam kubur. Sebab, jika hak-hak manusia menumpuk pada seseorang, hampir saja hal itu membinasakannya—kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Selain itu, mendahulukan pelunasan utang sebelum yang lain juga menjaga hak-hak manusia, menenangkan hati mereka, serta menjaga semangat saling membantu di tengah masyarakat. Seandainya utang dianggap gugur dengan kematian, tentu orang-orang enggan memberi pinjaman dan semangat tolong-menolong akan hilang.

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah merangkum masalah ini dengan sangat indah, “Ketahuilah, utang itu secara lafaz disebut belakangan, tetapi secara makna ia didahulukan. Karena utang adalah hak yang wajib ditunaikan oleh si mayit, sedangkan wasiat adalah haknya (yang ia berikan kepada orang lain). Keduanya didahulukan atas hak ahli waris, selama wasiat itu tidak lebih dari sepertiga harta. Kata ‘atau’ dalam ayat tidak menunjukkan urutan, tetapi menunjukkan bahwa jika salah satu ada, maka warisan dibagikan setelahnya, dan jika keduanya ada, maka keduanya didahulukan.”

Penutup

Jangan meremehkan utang, karena ia bisa menjadi beban hingga setelah kematian. Jika Anda memiliki utang, segeralah berniat kuat untuk melunasinya dan jangan menunda-nunda. Jika Anda adalah ahli waris, dahulukan pelunasan utang sebelum membagi warisan. Ingat, menolong melunasi utang mayit adalah bentuk kasih sayang terbesar kepada mereka.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42051-utang-mayit-harus-dilunasi-dulu-sebelum-warisan-dibagi.html

Hakikat Tawakal yang Sesungguhnya

Dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Tirmidzi berkata, “Hasan sahih.”)

Hadis ini merupakan pokok dalam masalah tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tawakal yang benar harus disertai dengan mengambil sebab yang disyariatkan. Mengambil suatu sebab bukan berarti menafikan (meniadakan) tawakal. Rasulullah yang merupakan imamnya orang yang bertawakal. Ketika beliau memasuki kota Mekah pada saat peristiwa Fathul Mekah, beliau tetap menggunakan pelindung kepala. Ini menunjukkan bahwa beliau mengambil sebab untuk melindungi diri beliau. Beliau juga telah memberi petunjuk untuk menggabungkan antara mengambil sebab dan bersandar kepada Allah melalui sabda beliau,

 احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Semangatlah kalian terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi kalian dan mohonlah pertolongan kepada Allah.“ (HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadis ’Umar di atas, terdapat penggabungan antara usaha mengambil sebab dengan bertawakal kepada Allah. Mengambil sebab dalam hadis tersebut disebutkan dengan perbuatan burung, yang pergi dalam keadaan lapar (perutnya dalam kedaan kosong, kemudian pergi untuk mencari rezeki), dan kembali dalam keadaan kenyang (perutnya dalam keadaan terisi). Namun, ketika seseorang mengambil sebab, dia tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut, akan tetapi harus tetap harus bersandar hanya kepada Allah. Demikian juga seseorang tidak boleh menelantarkan mengambil sebab (hanya diam saja tidak berbuat apa-apa) kemudian menyangka dirinya telah bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menetapkan sebab dan Allah pula yang menetapkan hasil dari sebab tersebut.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata dalam Jaami’ul ’Uluum wal Hikam, ”Hadis ini merupakan asas dalam hal tawakal kepada Allah, dan sesungguhnya tawakal merupakan sebab terbesar yang dapat mendatangkan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً ؛ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangaka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan memberikan kecukupan baginya …” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Hakikat tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah ’Azza wa Jalla dalam mengambil suatu kebaikan dan menghilangkan suatu keburukan dari seluruh urusan dunia maupun akhirat, dan beriman dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada yang dapat memberi dan mencegah, serta memberikan keburukan dan manfaat kecuali hanya Allah semata.

***

Penerjemah: Adika Mianoki

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

Dialihbahasakan dari kitab Fathul Qawiy al-Matiin fii Syarhi al-Arba’in wa Tatimmaatu al-Khamsiin, karya Syekh ’Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbad Al-Badr hafidzahullah.

Sumber: https://muslimah.or.id/6720-hakikat-tawakal-yang-sesungguhnya.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Menjawab Kebodohan dengan Kedamaian

Tafsir QS. Al-Furqan Ayat 63

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka berkata: ‘Salāman (perkataan yang damai)’.” — Al-Furqan: 63


Akhlak Hamba yang Dicintai Ar-Rahman

Ayat ini menggambarkan salah satu ciri agung dari ‘ibād ar-Raḥmān — hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Mereka bukan hanya dikenal karena rajin beribadah, tetapi karena kelembutan akhlaknya terhadap sesama.

Ketika orang-orang bodoh memancing emosi dengan ucapan yang menyakitkan, mereka tidak membalas dengan makian, tidak juga terlibat dalam pertikaian. Sebaliknya, mereka memilih diam yang mulia, atau menjawab dengan tutur kata yang baik — penuh ketenangan dan kehormatan diri.


Tafsir Para Ulama Salaf

1. Al-Ṭabarī (w. 310 H)

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, al-Ṭabarī menukil berbagai pendapat salaf:

  • Ibnu Zayd berkata: “Mereka tidak sombong, tidak zalim, dan tidak berbuat kerusakan.”
  • Al-Hasan al-Bashrī berkata: “Mereka penyabar; jika orang lain berbuat bodoh kepada mereka, mereka tidak membalas dengan kebodohan.”
  • Mujāhid menafsirkan: “Salāman” bermakna perkataan yang lurus dan benar (سدادًا من القول).
  • Sebagian ulama lain menafsirkan: “Mereka berjalan di bumi dengan kelembutan dan kesabaran; tidak membalas kebodohan dengan kebodohan.”

2. Al-Qurṭubī (w. 671 H)

Dalam Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, beliau menjelaskan:

“Makna ‘salāman’ adalah ucapan yang lembut, aman dari dosa, dan menenangkan hati. Mereka tidak membalas celaan dengan celaan, tetapi dengan ketenangan dan kehormatan diri.”

Menurut beliau, ini adalah adab orang beriman terhadap kebodohan — mereka menolak kejahatan dengan akhlak mulia.

3. Ibn Katsīr (w. 774 H)

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, beliau menulis:

“Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memaafkan dan berkata dengan kata-kata yang baik.”

Beliau menghubungkannya dengan ayat lain:

“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan menjadi seperti teman yang setia.” (QS. Fuṣṣilat: 34)

4. As-Sa‘dī (w. 1376 H)

Dalam Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menulis:

“Makna ‘Salāman’ ialah ucapan yang aman dari dosa, penuh kelembutan, dan menjaga diri dari perdebatan sia-sia. Mereka tidak menanggapi kebodohan dengan amarah, tetapi memilih keselamatan dan kemuliaan diri.”

5. Tafsir al-Jalālain

“Apabila orang-orang bodoh mengajak bicara dengan hal-hal yang tidak pantas, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik, bukan makian. Ucapan mereka membuat mereka selamat dari dosa dan kehinaan.”


Pelajaran Akhlak yang Dalam

Ayat ini menggambarkan akhlak hamba Allah yang sejati:

  • Tidak terpancing oleh emosi.
  • Menjawab keburukan dengan kebaikan.
  • Menjaga kehormatan diri dengan kesabaran dan tutur kata lembut.
  • Lebih memilih kedamaian daripada perdebatan.

Ayat ini bukan hanya tentang cara berbicara tapi tentang bagaimana menjaga kemuliaan hati.
Membalas kebodohan dengan kebodohan hanya menurunkan derajat kita ke level yang sama. Tapi menanggapinya dengan salām — dengan ketenangan, pengendalian diri, dan tutur kata santun — adalah tanda kematangan iman.

Al-Hasan al-Bashrī menggambarkan mereka dengan indah:

“Mereka orang-orang penyabar. Bila orang lain berbuat bodoh terhadap mereka, mereka tetap bersabar dan tidak berkata kasar. Siang mereka penuh akhlak, malam mereka penuh air mata, menegakkan kaki di hadapan Allah, memohon agar dibebaskan dari siksa-Nya.”


Pesan untuk Kita Hari Ini

Di zaman media sosial yang penuh komentar tajam, ayat ini seakan menjadi cermin bagi kita semua.
Ketika diserang, dihina, atau disalahpahami, kita punya dua pilihan:

  • membalas dengan emosi, atau
  • menjawab dengan kedamaian.

Hamba Ar-Rahman memilih yang kedua, bukan karena lemah, tetapi karena kuat menahan diri dan tahu bahwa kemuliaan bukan terletak pada kata-kata tajam, tetapi pada kesabaran yang tenang.

“Ketika kebodohan datang, mereka menjawab dengan kedamaian, bukan karena kalah, tapi karena hati mereka bersih dan mengedepankan mengikuti petunjuk Quran dan meneladani Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- daripada menuruti emosi dan ego diri.”

Inilah tanda seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya. Ia berjalan di bumi dengan rendah hati, dan menjawab kebodohan dengan salam.


Penulis: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd

sumber: https://remajaislam.com/6257-menjawab-kebodohan-dengan-kedamaian.html