Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Para ulama menerangkan, dengan berpatokan pada hadits di atas, bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya yang akan membuatnya tidak bisa lagi menentukan arah/jalan yang akan dituju pada Hari Kiamat; atau bisa juga ia akan menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim, 16/350; Tuhfatul Ahwadzi, “Kitab al-Birr wa Shilah an Rasulillah”, “Bab Ma Ja`a fiz Zhulum”)

Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya: apa yang dimaksud dengan zalim?

Dalam bahasa Arab, zhalim bermakna ‘meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Asal kata zhalim adalah ‘kejahatan, melampaui batas, dan tidak bersikap adil’. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits, “Bab azh-Zha’ ma’a al-Lam”)

Disadari atau tidak, kita sangat sering berbuat zalim, padahal ia bukanlah perkara yang remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya. Dia Yang Mahasuci berfirman dalam hadits qudsi,

يَا عِبَادِيْ، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تَظَالَمُوْا 

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku mengharamkannya pula di antara kalian; maka janganlah kalian saling menzalimi. (HR. Muslim)

Dengan demikian, dalam artikel ini kita akan mencoba membahas seluk-beluk kezaliman. Semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat.

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan tetaplah memberikan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (adz-Dzariyat: 55)

Beberapa Bentuk Kezaliman

Kezaliman memiliki beragam bentuk, di antaranya:

  1. Berbuat zalim kepada diri sendiri

Bentuknya ialah melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan. Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang perbuatan zalim yang semacam ini. Allah berfirman,

فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada (bulan yang empat[1]) itu.” (at-Taubah: 36)

  1. Kezaliman seseorang kepada saudaranya.

Jenis kezaliman ini bisa terjadi dengan tiga hal:

  • melanggar kehormatan saudaranya;
  • menyakiti tubuh saudaranya;
  • merampas harta saudaranya.

Semua ini telah diharamkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian telah diharamkan atas kalian (untuk ditumpahkan, dirampas, dan dilanggar); sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Mengubah syariat Allah

Mengganti (bongkar-pasang) syariat yang telah diturunkan dari atas langit, dengan aturan rendahan yang dibuat oleh manusia, adalah kezaliman yang terbesar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengancam orang-orang yang tidak mau berhukum dengan syariat-Nya,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

Mereka berbuat zalim karena telah menempatkan suatu perkara tidak pada tempat yang semestinya.

  1. Menzalimi hewan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ

“Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Wanita tersebut masuk neraka karenanya. Kucing itu tidak diberinya makanan, tidak diberinya minum, dan tidak pula dilepaskannya hingga ia bisa memakan serangga/hewan yang ada di tanah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Said bin Jubair rahimahullah berkata,

“Suatu ketika, saat aku sedang bersama Ibnu Umar radhiallahu anhuma, kami melewati anak-anak muda atau sekumpulan orang yang menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan anak panah yang dilemparkan.

Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu Umar, mereka bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu Umar radhiallahu anhuma lantas berkata, “Siapa yang melakukan hal ini? Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti ini.” (HR. al-Bukhari)

  1. Membedakan manusia dalam penerapan hukum berdasarkan status sosialnya (nepotisme)

Perbuatan seperti ini sama artinya dengan membuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hal ini akan menumbuhkan kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat yang status sosialnya jelas berbeda-beda. Semua ini hanya akan menyebabkan kebinasaan, sebagaimana keadaan umat terdahulu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ketidakadilan mereka. Apabila ada orang terpandang di kalangan mereka yang mencuri, mereka membiarkannya (tidak dihukum). Namun, jika yang mencuri adalah orang yang lemah, mereka menegakkan hukum had atasnya.” (HR. Ahmad, dinilai sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2344)

Allah Mahasuci dari Berlaku Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zalim dan Dia mensucikan diri-Nya dari sifat tersebut.

وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِيدِ

“Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 182)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍۖ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesazarrah.” (an-Nisa: 40)

Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي

Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku.” (HR. Muslim)

Berbuat Zalim Adalah Tabiat Manusia

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi kufur.” (Ibrahim: 34)

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Akan tetapi, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

Cukuplah dua ayat ini menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat zalim. Karena itu, kita harus berusaha mencari obat dari tabiat tersebut. Bukankah Allah telah memerintah kita untuk membersihkan jiwa dari perkara yang mengotorinya?

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)

Penyucian jiwa dilakukan dengan memaksanya agar mau tunduk dan menerima manhaj/aturan Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Zalim

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh membersihkan jiwa mereka dari perbuatan rendahan, baik berupa kezaliman, sombong, hasad, maupun selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan menunjukkan jalan keselamatan bagi orang yang berbuat demikian (menyucikan jiwa) karena mengharapkan wajah-Nya.

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguhAllah beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-Ankabut: 69)

Berikut ini beberapa perkara yang dapat membantu seseorang agar terhindar dari berbuat zalim:

  1. Bertakwa kepada Allah

Takwa merupakan wasiat Allah subhanahu wa ta’ala kepada seluruh hamba-Nya dari awal sampai yang akhir. Ia juga adalah asas agama ini. Dengan takwa, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, hendaklah setiap jiwa berusaha merealisasikan takwa serta mengetahui keagungan dan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعًا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamatdan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Seseorang yang berbuat zalim, seandainya ia benar-benar mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana mestinya, niscaya ia akan menahan diri dan berhenti berbuat zalim.

  1. Tawadhu (rendah hati)

Dalam sabdanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan penekanan agar seseorang senantiasa bersikap tawadhu.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبغِي أَحَدٌ عَلىَ أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepadaku (untuk menyampaikan) agar kalian bersikap tawadhu; hingga seseorang tidak akan berlaku zalim kepada orang lain dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain.” (HR. Muslim)

Tawadhu adalah obat kezaliman. Adapun kesombongan, ia merupakan pemicu seseorang untuk berbuat zalim. Seseorang bisa memperoleh sifat tawadhu dengan cara terus melatih dan membiasakan jiwanya agar bersikap tawadhu.

  1. Menjauhi sifat hasad

Sebab, hasad sendiri merupakan sebab kezaliman. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari berbuat hasad.

وَلاَ تَحَاسَدُوْا

“Dan janganlah kalian saling hasad. (HR. Muslim)

  1. Menyemangati jiwa untuk meraih janji Allah untuk orang-orang yang berlaku adil

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allahpada hari yang tidak ada satu pun naungan kecuali naungan-Nya…”

Di antara tujuh golongan itu, disebutkan salah satunya,

إِمَامٌ عَادِلٌ

Pemimpin yang adil.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلىَ يَمِيْنِ الرَّحْمنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمْيِنٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang adil akan ditempatkan, di sisi Allah, di atas mimbar-mimbar cahaya di sebelah kanan tangan kanan ar-Rahman; dan kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim)

  1. Berdoa dengan tulus kepada Allah

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa, sebagaimana firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Rabb kalian telah berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian.’” (Ghafir: 60)

Maka dari itu, hendaklah seorang hamba senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, agar dirinya dijauhkan dari perbuatan zalim.

Wallahu ta’ala a’lam bis-shawab.


Catatan Kaki

[1] Bulan-bulan haram ada empat, yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Pada bulan-bulan haram ini, seseorang dilarang melakukan peperangan.

Ditulis oleh Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

sumber : https://asysyariah.com/kezaliman-adalah-kegelapan-pada-hari-kiamat/

Jangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya

Kadang seseorang berniat baik, tetapi cara menyampaikannya kurang beradab. Kadang seseorang ingin memberi usulan, tetapi tanpa sadar mendahului keputusan syariat. Kisah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam peristiwa Bani Tamim mengajarkan bahwa orang beriman harus mendahulukan wahyu, menjaga adab, dan menahan ego di hadapan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)

Maksud ayat ini adalah janganlah seorang mukmin mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, perbuatan, keputusan, dan sikap. Seorang hamba tidak boleh menetapkan sesuatu dalam agama sebelum mengetahui petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia juga tidak boleh menjadikan pendapat, perasaan, tradisi, atau semangat pribadinya lebih didahulukan daripada wahyu.

Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya, Allah mendengar ucapan kita dan mengetahui perbuatan kita. Maka, adab kepada syariat bukan hanya tampak dalam tindakan lahir, tetapi juga dalam cara bicara, niat, dan sikap hati.

Kisah Al-Aqra’ bin Habis dan Rombongan Bani Tamim

Maksud kisah Al-Aqra’ bin Habis dalam sebab turunnya ayat ini adalah kisah kedatangan rombongan Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar yang diangkat menjadi pemimpin mereka adalah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad. Adapun Umar radhiyallahu ‘anhu mengusulkan Al-Aqra’ bin Habis. Keduanya lalu berdiskusi di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga suara mereka meninggi.

Disebutkan dalam riwayat,

قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَمِّرِ الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدٍ، وَقَالَ عُمَرُ: بَلْ أَمِّرِ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ، فَتَمَارَيَا حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا، فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى انْقَضَتِ الْآيَةُ.

“Datanglah satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar berkata, ‘Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.’ Umar berkata, ‘Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyelisihimu.’ Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat tentang hal itu: ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,’ sampai selesai ayat.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa dua sahabat mulia pun diberi arahan oleh Allah ketika terjadi sesuatu yang kurang tepat dalam adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bukan sedang membangkang, bukan pula ingin menyelisihi wahyu. Namun, syariat mengajarkan bahwa niat baik tetap harus dibingkai dengan adab.

Bab: Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar-kamar kebanyakan mereka tidak mengerti.”

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az-Zubair mengabarkan kepada mereka:

Bahwasanya datang satu rombongan dari Bani Tamim kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad sebagai pemimpin.”

Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis sebagai pemimpin.”

Abu Bakar berkata, “Tidaklah engkau menginginkan kecuali menyelisihiku.”

Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.”

Keduanya pun berdebat hingga suara mereka meninggi.

Maka turunlah ayat tentang peristiwa itu:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya,”

hingga selesai ayat tersebut. (HR. Bukhari, no. 4566)

Al-Aqra’ bin Habis Bukan Tokoh yang Dicela

Perlu dipahami, kisah ini bukan celaan kepada Al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namanya muncul karena beliau menjadi salah satu orang yang diusulkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi pemimpin rombongan Bani Tamim.

Jadi, inti kisah ini bukan pada kesalahan Al-Aqra’ bin Habis. Inti pelajarannya adalah adab Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sama-sama memiliki maksud baik, tetapi Allah mengajarkan kepada kaum beriman agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam ucapan, keputusan, dan sikap.

Jangan Mendahului Wahyu dengan Pendapat

Ayat ini menjadi kaidah besar dalam kehidupan seorang muslim. Pendapat boleh disampaikan, musyawarah boleh dilakukan, dan ijtihad boleh ditempuh oleh ahlinya. Namun, semua itu tidak boleh mendahului wahyu.

Jika telah jelas dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seorang mukmin tidak patut berkata, “Menurut saya lebih baik begini.” Ia harus tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya. Karena iman bukan hanya mengakui kebenaran, tetapi juga menerima, tunduk, dan tidak keberatan terhadap ketetapan syariat.

Pelajaran untuk Individu

Pertama, jangan terburu-buru berbicara sebelum ilmu jelas. Seorang mukmin belajar menahan lisan sebelum memastikan mana yang benar.

Kedua, niat baik tetap perlu adab. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sama-sama ingin kebaikan, tetapi tetap diberi arahan ketika adab di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang sempurna.

Ketiga, orang mulia pun bisa keliru. Kesalahan tidak menjatuhkan kemuliaan seseorang jika ia menerima teguran syariat.

Keempat, perbedaan pendapat jangan berubah menjadi ego pribadi. Awalnya hanya usulan, tetapi bisa terasa seperti saling menyelisihi jika hati tidak dijaga.

Kelima, yang utama bukan menang pendapat, tetapi tunduk pada wahyu. Mukmin tidak mencari kemenangan debat, tetapi mencari ridha Allah.

Pelajaran untuk Keluarga

Pertama, suami-istri jangan mudah meninggikan suara saat berbeda pendapat. Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena nada bicara yang tidak dijaga.

Kedua, musyawarah keluarga harus dibingkai dengan takwa. Keputusan rumah tangga bukan sekadar “menurut saya”, tetapi “mana yang paling diridhai Allah”.

Ketiga, jangan mendahului hukum Allah demi perasaan keluarga. Cinta kepada pasangan, anak, atau orang tua tidak boleh membuat kita menabrak syariat.

Keempat, saat berbeda pendapat, jaga prasangka. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Engkau hanya ingin menyelisihiku.” Ini menjadi pelajaran agar kita tidak cepat membaca niat buruk orang dekat.

Kelima, keluarga yang baik bukan keluarga tanpa beda pendapat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang cepat kembali kepada adab, ilmu, dan ketakwaan.

Pelajaran dalam Bergaul dengan Ulama dan Guru

Pertama, jaga adab bicara di hadapan ulama. Jika kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja para sahabat diajarkan adab, maka kepada pewaris ilmu Nabi pun kita harus menjaga sikap.

Kedua, jangan mendahului guru dalam majelis ilmu. Jangan memotong pembicaraan, jangan tergesa membantah, dan jangan merasa paling tahu.

Ketiga, bertanya boleh, mengusulkan boleh, tetapi dengan tawadhu. Adab tidak mematikan nalar, tetapi mengarahkan nalar agar tetap sopan.

Keempat, jangan menjadikan majelis ilmu sebagai arena debat. Ilmu dicari untuk tunduk kepada Allah, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Kelima, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan adabnya. Ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan, bukan kesombongan.

Pelajaran dalam Menjalani Sunnah Nabi

Pertama, sunnah harus didahulukan atas selera, kebiasaan, dan pendapat pribadi. Jangan berkata, “Menurut saya lebih cocok begini,” jika sudah jelas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, tidak boleh membuat keputusan agama sebelum tahu dalilnya. Inilah makna tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, menghidupkan sunnah perlu ketundukan, bukan sekadar semangat. Semangat tanpa ilmu bisa membuat seseorang melampaui batas.

Keempat, adab adalah bagian dari sunnah. Mengikuti Nabi bukan hanya dalam ibadah lahiriah, tetapi juga dalam cara bicara, bersikap, dan berbeda pendapat.

Kelima, orang yang cinta sunnah harus paling mudah menerima koreksi. Karena ukuran kebenaran bukan dirinya, tetapi wahyu.

Jangan Jadikan Agama Mengikuti Selera

Di zaman ini, banyak orang mudah berkomentar tentang agama sebelum belajar. Ada yang mendahulukan perasaan, ada yang mendahulukan adat, ada pula yang mendahulukan opini tokoh, kelompok, atau pengalaman pribadi. Padahal, sikap seorang mukmin adalah bertanya dahulu, mencari dalil dahulu, lalu tunduk kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Agama bukan mengikuti selera manusia. Agama adalah wahyu yang menuntun manusia. Jika selera kita bertentangan dengan syariat, maka selera itulah yang harus dikoreksi, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan kita.

Kesimpulan

Kisah ini mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh mendahului wahyu dengan pendapat, ego, perasaan, tradisi, atau semangat pribadi. Dalam hidup pribadi, keluarga, majelis ilmu, dan dakwah sunnah, kunci selamat adalah ilmu, adab, takwa, dan tunduk kepada Allah serta Rasul-Nya.

Orang yang benar-benar beriman akan berhenti ketika dalil telah jelas. Ia tidak menjadikan pendapatnya lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia sadar bahwa keselamatan ada pada mengikuti wahyu, bukan pada memenangkan ego.

Nasihat Terakhir

Hari ini banyak konflik muncul karena manusia ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar tuntunan Allah. Banyak keluarga retak karena suara meninggi, prasangka membesar, dan syariat tidak lagi dijadikan hakim. Banyak majelis ilmu menjadi panas karena debat, bukan karena keikhlasan mencari kebenaran. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab, tunduk kepada wahyu, dan mudah menerima nasihat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa, wahab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

—-

Selesai ditulis di perjalanan menuju Sekar Kedhaton dari Pondok Pesantren Darush Sholihin, 24 Muharram 1448 H, 8 Juli 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42452-jangan-mendahului-allah-dan-rasul-nya.html

Syarhus Sunnah: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan di Alam Kubur

Masih melanjutkan pembahasan Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani rahimahullah. Kali ini tentang pembahasan Alam Kubur.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

ثُمَّ هُمْ بَعْدَ الضَّغْطَةِ فِي القُبُوْرِ مُسَاءَلُوْنَ

“Kemudian mereka setelah dihimpit dalam kubur akan ditanya.”

Kubur yang sempit

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu , padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

“Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695)

Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan,

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

“Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).

‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ

“Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306)

Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ.

Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56)

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata, bahwa Abu Al-Qasim As-Sa’di berkata, “Tidak ada yang selamat dari penyempitan kubur, baik seorang yang saleh atau yang tidak saleh. Cuma perbedaan antara seorang muslim dengan seorang kafir di dalamnya adalah penyempitan yang terus menerus untuk seorang kafir. Adapun orang beriman mendapat keadaan seperti ini ketika pertama-tama turun ke dalam kuburnya, kemudian dikembalikan menjadi lapang untuknya. Dan maksud dari pernyempitan kubur adalah bertemunya dua sisi samping kubur tersebut menyempitkan jasad si mayit.” Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya. Demikian pula penyempitan untuk Sa’ad bin Mu’adz lantaran meremehkan masalah kencing.” Lihat kitab Hasyiyat As-Suyuthi wa As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasa’i, 3:292. Maktabah Syamilah.

Ditanya di kubur

Allah Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ)

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, ia akan berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ ” (HR. Bukhari, no. 4699)

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan,

فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

“Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ.

وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

“Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata, “Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?” Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia, “Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata, “Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu.” Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, dan dikatakan, “Tidurlah.” Dia menjawab, “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku.” Keduanya berkata, “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut.”

Apabila yang meninggal adalah orang munafik, ia menjawab, “Aku mendengar orang mengatakan aku pun mengikutinya dan saya tidak tahu.” Keduanya berkata, “Kami berdua sudah mengetahui bahwa kamu dahulu mengatakan itu.” Dikatakan kepada bumi, “Himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut.” (HR. Tirmidzi, no. 1071. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Orang yang kuat imannya yang bisa menjawab pertanyaan kubur

Bukti di alam kubur, ahli ikhlas dan orang yang kuat imannya akan mudah menjawab pertanyaan kubur adalah riwayat berikut.

Al-Mas’udi berkata, dari ‘Abdullah bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ‘Abdullah, ia berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggal dunia, ia akan didudukkan di kuburnya. Ia akan ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’, ‘Apa agamamu?’, ‘Siapa nabimu?’. Allah akan menguatkan orang beriman itu untuk menjawab. Ia akan menjawab, ‘Rabbku Allah, agamaku Islam, nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lantas ‘Abdullah membacakan firman Allah surat Ibrahim ayat 27.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As-Sunnah, no. 1429; Al-Baihaqi dalam ‘Adzab Al-Qabr, no. 9. Semuanya dari jalur Al-Mas’udi dengan sanad yang hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 612)

Referensi:

  1. Iidhah Syarh As-Sunnah li Al-Muzani.Cetakan Tahun 1439 H. Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Salim Bazmul. Penerbit Darul Mirats An-Nabawiy.
  2. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  3. Tamam AlMinnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net.

Disusun sore hari saat perjalanan Panggang-Jogja, 17 Muharram 1441 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/21707-syarhus-sunnah-kubur-jadi-sempit-dan-pertanyaan-di-alam-kubur.html

Menjadi Ayah Teladan

Menjadi seorang suami atau ayah berarti mengemban tanggung jawab yang besar dan mulia. Sebagai seorang Kepala Rumah Tangga (kami mempersingkat sebutannya dalam artikel ini menjadi ‘Ayah’), peran utamanya sangat berpengaruh pada kebahagiaan atau kesengsaraan keluarga yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Kebahagiaan dan kesengsaraan di sini bukan hanya dari sisi duniawi, tetapi juga dari aspek ukhrawi di mana seorang Ayah dapat membawa rumah tangganya sebagai ladang dakwah untuk dibawa ke surga atau sebaliknya.

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Apabila kita telusuri lebih dalam, pertanggungjawaban seorang Ayah itu merupakan sesuatu yang mutlak untuk ditunaikan. Karena sebagai pemimpin, ia akan mempertanggungjawabkan keluarga yang ia pimpin di hadapan Allah Ta’ala kelak. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Seorang Ayah bukan hanya tentang menjadi pemimpin yang tegas, tetapi juga bagaimana ia mampu menunjukkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Karena, tidak sedikit orang yang di luar rumah terkenal dengan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaannya kepada orang lain, tetapi di rumahnya ia menjadi seseorang yang menakutkan dengan emosi dan amarahnya yang tak mampu ia kendalikan, serta kata-kata kasar yang selalu menyakiti hati istri dan anak-anaknya.

Bagaimana mungkin kita bermimpi menjadi seorang pemimpin teladan di tengah-tengah masyarakat, sementara kepemimpinan dan kebijaksanaan dalam membina rumah tangga saja kita masih belum tuntas.

Kadangkala, banyak Ayah yang enggan untuk terlebih dahulu introspeksi diri tatkala dihadapkan pada sebuah permasalahan rumah tangga. Telunjuk untuk menyalahkan mengarah pada istri ataupun anak yang dianggap tidak memahami dirinya. Padahal, kendali sepenuhnya ada pada seorang Ayah. Bagaimana ia bersikap dan merespon kontak dengan istri ataupun anak-anaknya, maka seperti itu pula pantulan sikap yang ia terima.

Oleh karenanya, siapa pun kita, sebagai seorang Ayah, tak ada kata terlambat untuk memulai dari awal. Menjadi seorang teladan dalam rumah tangga, menjadikan role model Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tolok ukur sikap dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan rumah tangga. Sehingga, ikhtiar kita untuk mempertanggungjawabkan ketakwaan keluarga kita kepada Allah Ta’ala telah maksimal kita tunaikan.

Maka, mari kita mulai dengan menginternalisasikan beberapa sifat dan karakter berikut untuk menjadi seorang Ayah teladan.

Teladan ketaatan

Menjadi teladan dalam ketaatan kepada Allah ﷻ adalah salah satu peran utama seorang Ayah. Mulai dari teladan dalam ketaatan menjalankan perintah Allah yang fundamental seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah-ibadah nawafil hingga menjadi teladan dalam menjaga keimanan dan kehormatan dari segala bentuk perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Seorang Ayah yang taat dalam menjalankan ibadah, mengajak keluarga untuk salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, dan mengamalkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Keteladanan ini akan membentuk keluarga yang kokoh dalam iman dan takwa dan menjadi bagian dari jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berhias diri

Menjaga penampilan adalah salah satu tanggung jawab penting bagi seorang Ayah. Adalah ironi, ketika kita hendak keluar rumah untuk mencari nafkah misalnya, kita menggunakan pakaian yang bagus, parfum yang wangi, badan yang bersih, dan tutur kata yang indah. Sementara ketika di dalam rumah, kita memaksakan anggota keluarga kita untuk memaklumi bahwa kita memang orang yang tidak pandai berhias diri, jorok, kotor, dan bau. Lantas, kita pun memaksa istri kita untuk menyambut kita dengan perhiasan terbaiknya?

Ingat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk berhias, terutama di hadapan keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim no. 91)

Berhias diri bukan hanya tentang penampilan fisik, tetapi juga menjaga kebersihan dan kerapian. Seorang Ayah yang menjaga kebersihan diri dan berpenampilan rapi akan memberikan kesan baik kepada istri dan anak-anaknya, serta mencerminkan kepeduliannya terhadap keluarga. Bahkan, dalam hal-hal kecil seperti tidak kentut sembarangan di rumah, hal ini menunjukkan rasa hormat dan menjaga keharmonisan keluarga.

Menjaga wibawa

Menjaga wibawa sebagai seorang Ayah sangat penting agar tetap dihormati oleh istri dan anak-anak. Hal ini bisa dicapai dengan tidak hanya bersikap tegas tetapi juga adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Banyak yang salah kaprah bahwa kewibawaan itu ditunjukkan dengan nada suara yang keras dan tinggi atau marah dengan meluap-luap tatkala menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Padahal, kewibawaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mencontohkan kelemahlembutan kepada istri, bahkan dalam situasi yang memancing amarahnya.

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Maka, pahamilah bahwa wibawa seorang Ayah bukan berarti bersikap otoriter, melainkan menunjukkan integritas, ketulusan, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Ingat, tolak ukur kita adalah teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang pemimpin dunia dan manusia mulia yang sangat lembut dengan keluarganya.

Penolong

Seorang Ayah idaman adalah yang siap membantu istri dalam berbagai urusan rumah tangga. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Dalam sebuah hadis, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membantu istrinya dalam perkerjaan rumah tangga, dan jika tiba waktu salat, maka beliau pun pergi salat.” (HR. Bukhari)

Membantu istri dalam pekerjaan rumah tangga bukan hanya menunjukkan rasa cinta dan penghormatan, tetapi juga mendidik anak-anak untuk saling membantu dan menghargai kerja keras satu sama lain.

Sadarilah hal-hal kecil dalam rumah. Seperti saat weekend, misalnya, buatlah list khusus untuk mengerjakan kebersihan rumah, menyapu, mengepel, membersihkan kaca, menjemur, menyetrika pakaian, dan memasak.

Kadangkala, jika ditimbang-timbang, bisa jadi pekerjaan yang dilakukan seorang istri di rumah secara fisik bisa lebih besar dari yang dilakukan oleh suaminya di luar sana. Renungkanlah pekerjaan istri, mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci, hingga mengurus anak-anak. Konon pula, seorang istri yang juga sebagai pekerja. Mengerjakan fungsi ganda, sebagai seorang istri dan sebagai seorang pencari nafkah. Tidak layakkah ia mendapatkan perlakuan terbaik dari kita?

Pendidik

Ayah juga berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan haruslah berdasarkan ajaran syariat yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari pendidikan saat mereka berada dalam kandungan, masa kanak-kanak hingga balig. Peran Ayah sangat berarti dalam pendidikan anak, ia bisa mempengaruhi arah kehidupan dan ketaatan anak-anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jadilah pendidik terbaik! Pendidikan yang baik bukan hanya tentang ilmu dunia, tetapi juga tentang akhlak, adab, dan nilai-nilai Islami. Seorang Ayah harus aktif dalam mengajarkan anak-anak tentang Islam, baik melalui pengajaran langsung maupun dengan memberikan contoh dalam perilaku sehari-hari.

Perhatikan tontonan, bacaan, dan pergaulan lingkungan anak-anak. Lingkungan juga memiliki andil besar dalam pembentukan karakternya. Mohonlah kepada Allah Ta’ala kekuatan untuk menjadi seorang Ayah yang dapat memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita.

Pengasuh

Tugas Ayah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga mengasuh anak-anak dengan penuh kasih sayang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan betapa pentingnya peran seorang ayah dalam pengasuhan anak. Beliau sangat menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya, serta selalu memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengasuhan yang baik dapat diberikan dengan meluangkan waktu yang cukup untuk bermain, berbicara, dan mendengarkan anak-anak. Seorang ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak akan menciptakan ikatan emosional yang kuat dan membantu perkembangan emosional serta mental anak-anaknya. Selain itu, kedekatan Ayah dengan anak-anak akan lebih memudahkannya untuk mengarahkan mereka kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjadikan mereka patuh untuk tidak melanggar batasan-batasan syariat.

Saudaraku, menjadi Ayah Teladan adalah sebuah tugas yang membutuhkan komitmen, kasih sayang, dan keteladanan dalam berbagai aspek kehidupan. Seorang Ayah yang  menjadi teladan ketaatan, mampu berhias diri, menjaga wibawa, membantu istri, mendidik sesuai dengan ketentuan syariat, dan mengasuh dengan penuh kasih sayang akan menciptakan keluarga yang harmonis dan diridai oleh Allah Ta’ala.

Teladanilah sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mudah-mudahan kita dapat menjadi pemimpin keluarga yang dicintai dan dihormati, serta mampu membimbing keluarga menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/95899-menjadi-ayah-teladan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit Nifaq

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang munafik, dimana orang-orang munafik ingin keluar berperang bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka di medan perang. Maka Allah pun jadikan mereka berat hati untuk berangkat ke medan perang. Lalu dikatakan kepada mereka: “duduklah bersama orang-orang yang duduk”. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”” (QS. At Taubah: 46). Tentu ini menjadi sebuah renungan buat kita. Kenapa demikian? Karena ketika seseorang dijadikan hatinya berat untuk melakukan sebuah ketaatan, berarti di dalam hatinya ada kemunafikan. Orang-orang munafik berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan. Seperti yang Allah sebutkan dalam ayat ini, Allah jadikan orang-orang munafik berat untuk melakukan suatu ketaatan yaitu jihad fi sabilillah.

Orang munafik juga berat untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat berjamaah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat isya dan shalat fajar” (HR. Ibnu Majah no.656, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Bahkan orang munafik menganggap bahwa semua shalat berjamaah itu berat, akan tetapi yang paling berat adalah shalat isya dan shalat fajar. Dijadikan hati mereka berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan.

Sekali lagi ini menjadi renungan buat kita, apakah selama ini kita dijadikan berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Apakah kita ini dijadikan malas untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Inilah tentunya yang kita khawatirkan wahai saudaraku…

Kita tentu tidak ingin kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan Allah untuk berbuat kebaikan, lalu Allah jadikan hati kita berat untuk mengamalkan kebaikan, akhirnya kita pun menjadi orang-orang yang terhempas oleh penyakit kemunafikan. Subhaanallah

Oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali kita terus berusaha menjadikan hati kita bersemangat untuk melakukan ketaatan. Bagaimana caranya?

Pertama, kita berdoa kepada Allah agar memberikan kepada kita semangat dalam keataatan. Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam : /allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal mungkaroot wa hubbal masaakin wa an taghfiro lii wa tarhama nii wa tatuuba ‘alaiyya/ (Ya Allah aku minta kepada engkau, agar aku bisa melakukan kebaikan, dan agar aku bisa meninggalkan kemaksiatan, dan berikan aku rasa cinta kepada orang-orang miskin, dan semoga Engkau mengampuni aku, merahmati aku dan menerima taubatku). (HR. At Tirmidzi no. 3235, ia berkata: “hasan shahih”).

Seorang mukmin dia tidak ingin mendapati dirinya malas melakukan ketaatan. Maka ia pun minta kepada Allah agar ditolong dalam melakukan ketaatan.

Kedua, kemudian seorang mukmin juga berusaha mengambil sebab-sebab yang membuatnya bersemangat dalam ketaatan. Misalnya dengan membaca mengenai keutamaan amalan-amalan, yaitu bagaimana Allah akan memberikan pahala yang besar yang berupa kebahagiaan di akhirat, bagaimana Allah menyediakan pahala yang besar berupa surga, sehingga ketika membaca hal itu seorang mukmin menjadi bersemangat untuk beramal shalih.

Ketiga, seorang mukmin juga berusaha agar ia tetap bersemangat ketika sedang melaksanakan ketaatan tersebut. Ia berusaha untuk berteman dengan orang-orang shalih. Ia berusaha untuk senantiasa menjadi orang yang kuat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan bertemankan orang-orang shalih. Ketika ia melihat teman-teman shalihnya tersebut berlomba-lomba dalam kebaikan, maka akan ada dorongan dalam hati kita untuk juga ikut berlomba-lomba bersama mereka dalam kebaikan. Itulah teman yang shalih, teman yang shalih memberikan kita kekuatan dalam Islam wahai akhol Islaam.

Allah menjadikan hati seseorang berat melakukan ketaatan bisa dikarena maksiat yang ada di dalam hatinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menyebutkan beberapa akibat buruk dari dosa beliau menyebutkan di antaranya adalah dosa menjadikan hamba berat melakukan ketaatan. Sehingga dosa itu menjadikan dia malas beramal shalih, menjadikan hatinya hitam kelam, akhirnya cahaya iman yang memberikan semangat berbuat ketaatan akan redup sedikit-demi-sedikit.

Demikian pula orang munafik, akibat dosa-dosa yang ada dalam hati mereka, berupa keraguan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhirnya Allah jadikan mereka berat melakukan ketaatan demi ketaatan. Allah jadikan mereka berat hatinya untuk mengamalkan kebaikan. Karena itu wahai saudaraku, mari kita tinggalkan maksiat, segera kita tinggalkan maksiat. Karena maksiat menjadikan hati kita berat untuk mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, seringkali membuat ia tidak mampu untuk shalat tahajud, berat hatinya untuk bangun di waktu malam. Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, lisannya kelu untuk berdzikir kepada Allah. Bahkan hatinya tak merasakan lagi kenikmatan di saat ia mengucapkan “Subhaanallah, walhamdulillah, laailaaha illallah, allahu akbar”. Hatinya tak bergetar ketika disebutkan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal ciri seorang mukmin disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al Anfal: 2). Tapi akibat maksiat, ketika kita menyebut nama Allah, hati kita tidak merasakan takut kepada Allah. Akibat maksiat, ketika mendengar ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan kita. Bahkan terkadang kita merasa gersang ketika mendengarkan ayat-ayatnya. Kita khawatir termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan.

Wallahi ayat ini membuat kita merinding dan takut sekali. Maka jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan. Padahal diantara tanda bahwa seseorang itu diinginkan oleh Allah kebaikan padanya adalah dijadikan ia semangat berbuat ketaatan. Ia pun semangat untuk menuntut ilmu Allah sebagai sumber dari amalan shalih. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah jadikan ia faqih dalam agama” (HR. Bukhari – Muslim). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, berarti orang yang tidak diinginkan kebaikan oleh Allah dalam agama tandanya adalah ia malas untuk menuntut ilmu agama, dijadikan hatinya berat. Sehingga untuk berjalan kaki menuju ke majelis-majelis ilmu, ia merasa berat hatinya.

Maka akhol Islam, kita mohon kepada Allah agar Allah memberikan kita kekuatan untuk senantiasa berbuat ketaatan, kita memohon kepada Allah agar termasuk orang-orang yang semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

***

Ust. Badrusalam Lc. dari ceramah berjudul “Bagaimanakah Ketaatan Kita Kepada Allah?” di Yufid.tv

Sumber: https://muslim.or.id/27774-malas-melakukan-ketaatan-tanda-penyakit-nifaq.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Banyak yang Tidak Lulus dengan Ujian Kekayaan

Sebagaimana kita ketahui bahwa ujian itu bisa berupa kebaikan dan keburukan, bisa berupa kekayaan dan kemiskinan. Sebagaimana firman Allah,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian/ftinah.” (Al-Anbiyaa: 35)

Ternyata banyak yang tidak lulus dengan ujian yang diberikan berupa kekayaan. Buktinya adalah MAYORITAS PENDUDUK SURGA ADALAH ORANG MISKIN. Berarti banyak orang kaya yang tidak lulus ujian kekayaan dan orang miskin banyak yang lulus. Orang kaya juga banyak yang tertahan (lama hisabnya) untuk masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوْسُوْنَ، غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ، وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ.

“Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka.”[1]

Mengapa demikian? Karena orang kaya merasa cukup dengan hartanya sehingga kurang merasa butuh Allah apalagi ditambah dengan kesombongan akan hartanya. Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan hadits ini,

والغني يرى أنه مستغن بماله ، فهو أقل تعبداً من الفقير

“Orang kaya merasa dirinya sudah cukup dengan hartanya sehinga mereka sedikit beribadah dibandingkan orang miskin.”[2]

Inilah maksud Ayat bahwa manusia akan melampui batas ketika merasa berkecukupan dengan hartanya.

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Al ‘Alaq: 6-8).

Apakah tidak boleh Kaya? Tentu boleh, bahkan jika memang ia bisa menjadi kaya, maka jadilah orang kaya dan tidak lupa gunakan kekayaan itu untuk membantu agama Allah dan menolong sesama manusia. Yang perlu diingat:

“Semakin kaya semakin dermawan, bukan semakin meningkatkan gaya hidup”

Kami tutup dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa bukan kefakiran yang beliau khwatirkan atas umatnya, tetapi ketika sudah dibukakan dunia dan kekayaan sehingga membuat manusia lalai dari agama. Mereka hancur sebagaimana umat terdahulu yang kaya lagi kuat kemudian hancur.


مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.”[3]

@Yogyakarta Tercinta, dalam keheningan jaga malam
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan Kaki:
[1] HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim
[2] Syarh Riyadhus Shalihin syaikh Al-‘Utsaimin
[3] Muttafaqun ‘alaih

sumber : https://muslimafiyah.com/banyak-yang-tidak-lulus-dengan-ujian-kekayaan.html

Adakah Toleransi Bagi Yang Tidak Tahu?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi

Soal:

Apa benar dalam al ‘udzru bil jahl (memberi toleransi pada orang yang jahil) itu dibedakan antara perkara yang jelas dengan yang samar? Sebenarnya bagaimana kaidahnya? Dan dengan apa menegakkan hujjah pada seorang?

Jawab:

Ya benar, dibedakan antara perkara yang jelas dengan yang samar. Seseorang orang yang hidup di tengah kaum Muslimin tidak ada uzdur (toleransi) baginya pada perkara yang sudah jelas hukumnya. Seandainya ada orang Muslim yang minum khamr dan berkata: “saya tidak tahu bahwa khamr itu haram“, atau orang Muslim yang bertransaksi riba lalu berkata: “saya tidak tahu riba itu haram“, atau orang Muslim yang memakan harta anak yatim lalu berkata: “saya tidak tahu memakan harta anak yatim itu haram“, maka yang demikian ini tidak bisa diterima. Karena perkara-perkara tersebut sudah jelas hukumnya.

Adapun pada perkara-perkara yang lebih daqiiq*), maka ada toleransi di dalamnya.

Dan orang yang hidup di tengah kaum Muslimin, lalu ia berbuat kemungkaran yang hukumnya sudah jelas secara gamblang dalam agama, misalnya mengingkari orang yang tidak shalat dengan alasan tidak tahu shalat itu wajib, tidak ada udzur baginya.

*) yaitu perkara-perkara yang hukumnya belum diketahui luas oleh kaum Muslimin, kecuali oleh orang-orang yang belajar agama.

(Fatawa Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi, 2/15, Asy Syamilah)

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/6317-adakah-toleransi-bagi-yang-tidak-tahu.html

Jangan Berharap Mati

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Kematian merupakan kepastian, tak satu pun makhluk benyawa yang luput darinya, karena Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan,

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Kematian pun telah ditentukan waktunya atas setiap jiwa, masing-masingnya memiliki ajal.

“Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian Dia menetapkan dan menentukan ajal (waktu tertentu untuk kematian)….” (al-An’am: 2)

Tak kan ada satu jiwa yang dapat berlari dari ajalnya ketika waktunya sudah tiba. Mati merupakan keniscayaan, diinginkan atau tidak, dia pasti datang. Diharapkan atau dihindari; kalau sudah waktunya, maka pasti tidak terelakkan.

Namun kematian tidak boleh diangan-angankan, bagaimana pun keadaan atau kondisi seseorang. Rasul yang amat mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits agung beliau yang tersampaikan lewat sahabat yang mulia, Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Anas menyatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْاللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengangankan kematian karena suatu kemudaratan yang menimpanya. Kalaupun dia terpaksa menginginkan mati, maka hendaknya dia berdoa, ‘Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Memang, biasanya saat seseorang ditimpa musibah atau kesulitan dan merasa tidak sanggup memikulnya, dia berangan-angan untuk mati. “Lebih baik aku mati saja,” demikian kalimat yang terucap dari lisannya. Bisa jadi, dia berseru, “Ya Rabb, cabutlah nyawaku daripada menderita seperti ini!”

Bolehkah berucap demikian?

Ternyata syariat melarangnya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas. Mengapa? Bisa jadi, musibah, mudarat, ataupun kesulitan itu justru baik bagi si hamba. Seharusnya dalam keadaan seperti itu, bukan mati yang diangankan, namun hendaknya dia berdoa, misalnya, “Ya Allah, tolonglah hamba untuk dapat bersabar menghadapi kesulitan ini.”

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada hamba kesabaran yang indah untuk dapat melewati ujian ini. Duhai beratnya wahai Rabbku, andai Engkau tidak menolong hamba niscaya hamba akan binasa.”

Terus-menerus lisan dan kalbunya memohon demikian, hingga Allah ‘azza wa jalla mendatangkan pertolongan-Nya. Musibah pun dapat dilalui dengan kesabaran. Hal ini tentu lebih baik baginya.

Apabila saat susah dia berangan-angan untuk mati, bisa jadi kematian justru buruk baginya. Dia tidak bisa beristirahat dengan kematian tersebut, karena memang tidak semua kematian itu adalah rahah (istirahat), sebagaimana kata penyair,

Tidaklah orang yang mati itu beristirahat dengan kematiannya

Hanyalah orang mati itu mati dari orang-orang yang hidup

Bisa jadi, kematian membawa seseorang menuju hukuman dan azab kubur. Padahal kalau dia masih hidup, dia berkesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Allah ‘azza wa jalla. Dengan demikian, tetap hidup justru lebih baik baginya.

Apabila berangan-angan untuk mati saja tidak boleh, bagaimana halnya dengan orang yang mengakhiri hidupnya (bunuh diri) ketika mendapatkan kesulitan?

Seperti orang-orang dungu yang saat ditimpa kesusahan, meminum racun, gantung diri, dan semacamnya untuk “menyegerakan ajal” mereka.

Mereka yang berbuat seperti ini berpindah dari satu azab kepada azab yang lebih pedih. Mereka tidaklah beristirahat dengan kematian tersebut. Sebab, orang yang bunuh diri diazab dengan apa yang digunakannya untuk mengakhiri hidupnya di neraka Jahannam kelak dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya sebagaimana kabar yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari sesuatu, termasuk kebiasaan beliau yang mulia, beliau memberikan ganti dengan hal yang mubah. Ada contoh dari Rabb beliau dalam hal penggantian ini. Bacalah firman Allah ‘azza wa jalla berikut ini,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan “Ra’ina”, namun katakanlah, “Unzhurna”… (al-Baqarah: 104)

Ketika Allah ‘azza wa jalla melarang dari kalimat “ra’ina”, Dia memberi ganti dengan kalimat “unzhurna”.[1]

Saat didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kurma yang bagus, beliau terheran dan bertanya, “Apakah semua kurma Khaibar sebagus ini?”

Para sahabat menjawab, “ Tidak, tetapi kami biasa membeli satu sha’ kurma bagus ini dengan ganti dua sha’ kurma biasa; dua sha’ kurma ini dengan tiga sha’ kurma biasa. “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan lagi kamu melakukan hal tersebut. Seharusnya kamu jual kurma (yang jelek) dengan harga beberapa dirham, kemudian dengan uang tersebut bisa kamu belikan kurma yang bagus.”

Ini contoh lain dari pelarangan sesuatu kemudian diganti dengan hal lain yang mubah.

Demikian pula dalam hadits yang sedang menjadi pembicaraan kita. Setelah melarang dari mengangankan mati, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi, ‘bagaimana kalau seseorang benar-benar terpaksa menginginkan mati?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan seuntai doa,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيًْرا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيًْرا لِي

“Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membukakan untukmu satu pintu yang selamat, tidak terlarang, karena sekadar ingin mati menunjukkan keputusasaan dan ketidaksabaran terhadap ketetapan Allah ‘azza wa jalla. Berbeda halnya dengan doa ini, terkandung di dalamnya penyerahan urusan hamba kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, manusia tidak mengetahui urusan yang gaib, dia pun menyerahkannya kepada Zat Yang Maha Mengetahui yang gaib.

Berangan-angan mati adalah sikap isti’jal atau tergesa-gesa dari seseorang sehingga ingin hidupnya segera berakhir. Padahal, bisa jadi, dengan itu dia terhalang dari memeroleh kebaikan yang besar. Bisa jadi, hal itu menghalanginya dari tobat dan menambah amal saleh.

Dalam doa tersebut dinyatakan, “Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”

Memang hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu apa yang akan terjadi dan manusia tidak tahu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65)

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang dia usahakan besok dan tidak ada satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memberitakan.” (Luqman: 34)

Kita semua tidak tahu, bisa jadi kehidupan itu lebih baik bagi kita; dan mana tahu juga apabila ternyata kematian lebih baik bagi kita. Karena itulah, apabila seseorang mendoakan umur panjang bagi orang lain, sepantasnya dia tidak mendoakannya secara mutlak, tetapi dengan pengikat dengan menyatakan, “Semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepada-Nya.”

Dengan doa seperti ini, jadilah umur yang panjang tersebut membawa kebaikan.

Apabila ada yang beralasan dengan perbuatan Maryam bintu Imran ibunda Isa w yang berucap,

“Duhai kiranya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan.” (Maryam: 23)

Lantas mengapa mengangankan mati tidak diperbolehkan?

Ada beberapa jawaban.

  1. Kita harus mengetahui bahwa apabila syariat umat terdahulu diselisihi oleh syariat kita, syariat umat terdahulu tidak bisa dijadikan hujah atau alasan. Sebab, syariat kita menghapus seluruh syariat umat terdahulu sebelum kita.
  2. Maryam tidaklah mengangankan mati saat itu. Yang dia inginkan adalah mati sebelum terjadinya ujian tersebut sehingga dia mati tanpa terkena fitnah. Hal ini sama dengan ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam,

 “Engkau adalah Penolongku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Untaian doa Nabi Yusuf ‘alaihissalam ini tidak bermakna bahwa beliau memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar segera mewafatkannya. Namun, beliau memohon agar Allah ‘azza wa jalla mewafatkannya di atas Islam. Hal ini tentu tidak apa-apa. Seperti halnya Anda berdoa,

“Ya Allah! Wafatkanlah aku di atas Islam dan iman, di atas tauhid dan ikhlas.”

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”

Jadi, bedakan antara seseorang yang menginginkan mati karena kesempitan hidup yang menimpanya dan seseorang yang ingin mati di atas sifat atau keadaan tertentu yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla. Yang pertama dilarang, sedangkan yang kedua diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang pertama karena orang yang ingin mati di saat demikian berarti dia tidak memiliki kesabaran. Sementara itu, sabar menanggung kesempitan hidup adalah kewajiban.

Selain itu, hendaknya seorang hamba berharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla ketika menghadapi musibah. Kesulitan apa pun yang menimpa seseorang, baik berupa kesedihan, gundah gulana, sakit, maupun yang semisalnya, akan menghapuskan kesalahannya. Jika hamba mengharapkan pahala, niscaya akan terangkat derajatnya. Lagi pula, kesulitan yang menimpa seseorang tidaklah kekal selamanya, tetapi akan berakhir.

Apabila musibah telah berakhir dalam keadaan Anda memeroleh kebaikan karena berharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla atas musibah tersebut dan kesalahan Anda diampuni; tentu musibah itu baik bagi Anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُوَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin. Sungguh semua urusannya baik. Jika dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, hal itu baik baginya. Jika dia diberi kelapangan, dia bersyukur, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim dari Abu Yahya Shuhaib ar-Rumi radhiallahu ‘anhu)

Pada seluruh keadaan, seorang mukmin memang berada dalam kebaikan, apakah dalam keadaan susah ataupun senang. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Faedah penjelasan Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsamin rahimahullah pada hadits ke-40 kitab Riyadh ash-Shalihin, 1/138—142)


[1] Keduanya bermakna “perhatikan kami”, tetapi ungkapan yang pertama bisa dipelesetkan kepada makna yang jelek. (-ed.)

sumber : https://asysyariah.com/jangan-berharap-mati/

Perbandingan Antara Dunia Dengan Akhirat

Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

Secara fithrah manusia mencintai dunia, karena memang Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan berbagai kesenangan dunia itu indah di mata manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali-‘Imrân/3:14]

Dunia itu hijau dan manis, maka hendaklah manusia berhati-hati dengan dunia. Jangan sampai kesenangan dunia mnejerumuskan ke dalam kemaksiatan dan melalaikan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. [HR Muslim, no. 2742].

Maksud “dunia itu manis lagi hijau” adalah keindahan dan kenikmatan dunia itu seperti buah-buahan yang berwarna hijau dan manis, karena jiwa manusia berusaha untuk mendapatkannya. Atau maksudnya adalah dunia itu segera sirna, seperti sesuatu yang berwarna hijau dan manis juga akan segera rusak.

Maksud “sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini”, yaitu Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kamu sebagai pengganti generasi-generasi sebelum kamu, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan melihat apakah kamu melakukan ketaatan atau bermaksiat kepada-Nya dan mengikuti syahwat kamu.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita”, yaitu jangan sampai kamu terpedaya dengan dunia dan wanita. Kata wanita dalam hadits ini mencakup semua wanita, termasuk istri dan lainnya. Wanita yang paling banyak menyebabkan fitnah (keburukan) adalah istri, karena fitnahnya terus-menerus dan mayoritas manusia terpedaya dengan para istri.

Oleh karena itu jangan sampai kita terpedaya dengan dunia dan melupakan akhirat. Karena seandainya manusia hidup puluhan tahun di dunia ini, dengan berbagai kenikmatan yang dimiliki, sesungguhnya semua itu kecil dibandingkan kenikmatan akhirat.

Dunia Sangat Sedikit Dibandingkan Akhirat
Banyak orang terpedaya dengan keindahan dunia, sehingga melupakan amal untuk akhirat. Padahal sesungguhnya dunia itu sangat kecil dibandingkan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allâh” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [at-Taubah/9:38]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ 

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87:16-17].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat perbandingan antara dunia dan akhirat. Perbandingan antara keduanya bagaikan seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka dunia bagaikan setetes air yang melekat pada jari-jarinya itu. Al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858]

Dunia Sangat Remeh Di Sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Demikian juga dunia ini sangat remeh di sisi Allâh Azza wa Jalla , maka jangan sampai orang Mukmin memandang besar dan agung terhadap dunia yang remeh dan hina di sisi Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memberikan gambaran tentang remehnya dunia di sisi Allâh Azza wa Jalla , antara lain di dalam hadits berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ».

Dari Jabir bin Abdillâh, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebuah pasar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dari ‘Aliyah (nama tempat, Pen.) dan para sahabat berada di sekelilingnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bangkai seekor kambing yang kecil telinganya, lantas beliau angkat batang telinga bangkai kambing tersebut seraya berkata: “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?” Para sahabat menjawab: “Kami tidak suka sama sekali, apa yang bisa kami perbuat dari seekor bangkai kambing?” Rasûlullâh n bersabda lagi: “Bagaimana jika kambing itu untuk kalian?” Para sahabat menjawab: “Demi Allâh, apabila kambing itu masih hidup kami tetap tidak mau karena dia telah cacat, yaitu telinganya kecil, bagaimana lagi jika sudah menjadi bangkai!” Rasûlullâh akhirnya bersabda: “Demi Allâh, dunia itu lebih hina di sisi Allâh daripada seekor bangkai kambing ini bagi kalian”. [HR Muslim, no. 2957]

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan satu sayap nyamuk, niscaya Allâh tidak akan memberikan minum seteguk air kepada orang kafir”. [HR  Tirmidzi, no. 2320 dan ini lafazhnya; juga Ibnu Majah, no. 4110; Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib wat–Targhib, no. 3240].


Akhir Perjalanan Dunia
Dunia yang begitu rendah di sisi Allâh Azza wa Jalla juga segera sirna. Dan yang ada setelahnya adalah akhirat. Di akhirat ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga: siksaan yang pedih atau ampunan dan ridha Allâh. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hakikat ini :

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.  [al-Hadîd/57:20].

Jadikan Akhirat Sebagai Pusat Perhatian
Kalau kita sudah mengetahui hakikat perbandingan dunia dengan akhirat, maka seharusnya kita lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Jangan sampai hanya mengejar kesenangan dunia sehingga mengabaikan bekal untuk akhirat. Jangan sampai dengan alasan sibuk kerja, sibuk urusan keluarga dan anak-anak, kemudian melalaikan shalat berjamaah di masjid, membaca al-Qur`ân, mempelajari ilmu agama, dan ibadah lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan adalah cara yang terbaik dalam meniti jalan hidup ini. Karena Allâh Azza wa Jalla akan memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang berbuat demikian, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini :

عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan baginya”. [HR Tirmidzi, no. 2465. Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib wat–Targhib, no. 3169]

Semoga Allâh selalu memberikan taufiq kepada kita di dalam kebenaran. Al-hamdulillâhi Rabbil– ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Referensi : https://almanhaj.or.id/67534-perbandingan-antara-dunia-dengan-akhirat.html

Rahasia Doa Mustajab: Doakan Saudaramu Diam-Diam, Malaikat Mengaminkan!

Banyak orang sibuk berdoa untuk dirinya sendiri, namun lupa bahwa ada doa yang justru lebih cepat dikabulkan. Doa itu adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Inilah rahasia amal ringan yang penuh keikhlasan, diam-diam didengar oleh malaikat, dan berbuah kebaikan untuk diri sendiri.

Doa untuk Saudara Itu Mustajab

Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

إِنَّ دَعْوَةَ الأَخِ فِي اللَّهِ تُسْتَجَابُ

“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“

(HR. Muslim no. 2732; dinyatakan oleh Az-Zarqani dalam Mukhtashar Al-Maqashid hlm. 458, dengan sedikit perbedaan redaksi)

Malaikat Mengaminkan Doa

Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan–istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’–, beliau mengatakan, “Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.”

Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu doakanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.

Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)

Jangan Egois dalam Doa

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ

“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”

(HR. Ahmad no. 6849, Al-Adab Al-Mufrad no. 626, dan Al-Mu’jam Al-Kabir no. 14465; dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban no. 986)

Faedah Utama dari Hadits-Hadits Ini

1. Keutamaan Doa untuk Orang Lain Tanpa Sepengetahuan Mereka

Doa bi zhahril ghaib (tanpa diketahui orangnya) termasuk doa yang paling dekat dikabulkan. Ini karena:

  • Tidak ada unsur riya’
  • Murni karena keikhlasan dan cinta karena Allah

Ini menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah iman.

2. Bukti Adanya Malaikat yang Mengaminkan Doa

Hadits kedua menegaskan:

  • Ada malaikat khusus yang ditugaskan
  • Setiap doa kebaikan akan diaminkan

Ini menguatkan iman kepada perkara ghaib (iman kepada malaikat), bagian dari akidah Ahlus Sunnah.

3. Doa untuk Orang Lain adalah Jalan Mendapatkan Doa untuk Diri Sendiri

Kaedah penting:

  • “Balasan sesuai dengan jenis amal.”
  • Saat kita mendoakan orang lain:

Malaikat berkata: “Aamiin, dan bagimu semisal itu.”

Ini cara cerdas: Ingin cepat dikabulkan? Perbanyak doa untuk orang lain.

4. Larangan Bersikap Egois dalam Doa

Hadits ketiga memberi pelajaran:

  • Doa hanya untuk diri sendiri → tercela
  • Islam mengajarkan kelapangan hati

Ini menunjukkan:

  • Akhlak seorang mukmin itu luas
  • Tidak sempit dan individualis

5. Disyariatkan “Titip Doa”

Sebagaimana praktik para sahabat:

  • Ummu Ad-Darda’ meminta didoakan
  • Abu Ad-Darda’ menguatkan hadits tersebut

Faedah:

  • Boleh meminta doa kepada orang saleh
  • Terutama saat safar, ibadah, atau kondisi mustajab

6. Tanda Keikhlasan Hati

Orang yang suka mendoakan orang lain tanpa diketahui:

  • Tidak menunggu balasan
  • Tidak ingin dipuji

Ini tanda ikhlas dan bersihnya hati dari hasad

7. Obat Hasad (Iri Hati)

Jika sulit melihat orang lain bahagia:

  • Paksa diri untuk mendoakannya

Karena:

Tidak mungkin hasad dan doa kebaikan berkumpul dalam satu hati

8. Menguatkan Persatuan Umat

Jika setiap muslim: Mendoakan saudaranya

Maka:

  • Hilang kebencian
  • Tumbuh cinta dan empati

Ini solusi konflik sosial dan bahkan konflik keluarga

9. Luasnya Rahmat Islam

Islam tidak hanya mengajarkan: “Doa untuk diri sendiri”

Tapi: Doa untuk orang lain

Bahkan orang yang tidak hadir

Ini menunjukkan rahmat Islam bersifat kolektif, bukan individual

Perkataan Ulama Salaf Mengenai Doa Bi Zhahril Ghaib

Imam An-Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini: “(Bi zhahril ghaib) maksudnya adalah mendoakan dalam keadaan orang yang didoakan tidak hadir dan tanpa sepengetahuannya. Ini lebih kuat dalam hal keikhlasan. Jika seseorang mendoakan sekelompok kaum muslimin, maka ia mendapatkan keutamaan ini. Bahkan jika ia mendoakan seluruh kaum muslimin, maka secara lahir juga diharapkan ia mendapatkan keutamaan tersebut. Dahulu sebagian ulama salaf, jika ingin mendoakan dirinya sendiri, ia justru mendoakan saudaranya terlebih dahulu dengan doa yang sama, karena doa tersebut lebih mudah dikabulkan dan ia pun akan mendapatkan yang semisal.”

Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Harm bin Hayyan pernah mengunjungi tabi’in mulia, Uwais al-Qarni. Maka Harm berkata: “Wahai Uwais, teruslah menjalin hubungan dengan kami melalui kunjungan.”

Uwais menjawab: “Aku telah menjalin hubungan denganmu dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sekadar kunjungan dan pertemuan, yaitu doa tanpa sepengetahuanmu. Karena dalam kunjungan dan pertemuan, terkadang bisa muncul sikap berhias diri dan riya’.”

Ibnu Jauzi juga menyebutkan bahwa Abu Hamdun memiliki catatan berisi tiga ratus nama sahabatnya. Setiap malam, ia mendoakan mereka satu per satu dengan menyebut nama mereka. Suatu malam ia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu dalam mimpinya dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu?” Maka ia pun terbangun dan segera mendoakan mereka.

Referensi: Alukah.Net

Penutup

Di zaman sekarang, banyak orang lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada mendoakannya. Padahal, mendoakan diam-diam jauh lebih bermanfaat bagi hati dan kehidupan. Jika ingin hidup lebih tenang dan penuh keberkahan, perbanyaklah doa untuk saudara kita. Bisa jadi, jalan keluar masalah kita justru datang dari doa yang kita panjatkan untuk orang lain.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 12 Dzulqa’dah 1447 H, 29 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42133-rahasia-doa-mustajab-doakan-saudaramu-diam-diam-malaikat-mengaminkan.html