Makan Bersama Setan

Kapan seseorang bisa makan bersama setan? Bisa saja itu terjadi yaitu ketika seseorang tidak membaca bismillah saat makan.

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- طَعَامًا لَمْ نَضَعْ أَيْدِيَنَا حَتَّى يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَيَضَعَ يَدَهُ وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ مَرَّةً طَعَامًا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّهَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِى الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهَا ثُمَّ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ لِيَسْتَحِلَّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ لِيَسْتَحِلَّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ فِى يَدِى مَعَ يَدِهَا ».

“Jika kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau menghadiri jamuan makan, lalu seorang budak wanita datang yang seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya. Kemudian seorang arab badui datang sepertinya ia terdorong hendak meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya. Setan datang bersama budak wanita, dengannya setan ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga datang bersama arab badui ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama tangan mereka berdua.” (HR. Muslim no. 2017)

Hadits di atas mengajarkan beberapa hal:

1- Hendaklah mendahulukan orang yang lebih punya keutamaan dan orang yang lebih tua dalam hal makan dan mencuci tangan.

2- Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaca bismillah saat mulai makan, begitu pula saat akan akan minum. (Syarh Shahih Muslim, 13: 171)

Namun yang lebih tepat, membaca bismillah saat mulai makan adalah wajib sama halnya dengan perintah makan dengan tangan kanan. Lihat pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 9: 522 saat mengkritik pendapat Imam Nawawi yang menyatakan adanya ijma’ (konsensus ulama) bahwa mengucapkan bismillah tersebut sunnah.

3- Jika seeorang lupa membaca bismillah di awal makan karena sengaja, lupa, tidak tahu, dipaksa, atau tidak mampu mengucapkan lalu baru ingat ketika di tengah-tengah makan, maka diperintahkan ia mengucapkan “bismillah awwalahu wa akhirohu” (dengan nama Allah di awal dan di akhir).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaah awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِذَا أَكَلَ أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillaah fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Tirmidzi no. 1858, Abu Daud no. 3767 dan Ibnu Majah no. 3264. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih).

4- Setiap yang makan diperintahkan membaca bismillah baik dalam keadaan junub, haidh dan berhadats lainnya. Lihat perkataan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 13: 171.

5- Setan akan makan bersama dengan orang yang tidak menyebut bismillah saat makan.

Masih dilanjutkan dengan satu hadits lagi tentang makan dan tidur bersama setan. Moga postingan kali ini bermanfaat bagi pembaca Rumaysho.Com sekalian.

Hanya Allah yang memberi hidayah taufik untuk beramal sholeh dan istiqomah menjalankan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diselesaikan di Warak, Girisekar, Panggang, GK, 19 Rabi’ul Awwal 1435 H selepas ‘Isya’.

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/5981-makan-bersama-setan.html

Khutbah Jumat: Jangan Takut Masa Depan, Bertakwalah kepada Allah

Setiap orang pernah khawatir tentang masa depan: pekerjaan, rezeki, jodoh, pendidikan, hingga kehidupan keluarga. Namun, apakah semua kekhawatiran itu benar-benar membantu kita, atau justru menjauhkan hati dari Allah? Islam mengajarkan bahwa masa depan dipersiapkan dengan ikhtiar terbaik, tetapi ditenangkan dengan takwa dan tawakal kepada Allah.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

فَقَالَ تَعَالَى
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Segala puji kepada Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Di antara kegelisahan terbesar manusia hari ini adalah khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran itu hadir di ruang kelas, ruang dosen, ruang kerja, ruang riset, kamar kos, rumah tangga muda, bahkan di balik layar ponsel yang tampak ramai.

Ada mahasiswa yang khawatir, “Nanti setelah lulus saya jadi apa?”

Ada yang takut gagal, takut salah jurusan, takut tidak diterima kerja, takut kalah bersaing.

Ada yang khawatir belum menikah, belum mapan, belum bisa membahagiakan orang tua.

Ada dosen dan pendidik yang memikirkan amanah besar: kualitas generasi, riset, pengabdian, karier akademik, dan masa depan bangsa.

Kampus melahirkan orang-orang cerdas. Namun, kecerdasan saja tidak selalu cukup untuk menenangkan hati. Ilmu membuat seseorang mampu membaca data, tetapi iman membuat seseorang mampu membaca takdir dengan tenang.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan. Islam tidak memusuhi perencanaan. Islam tidak mengajarkan kita hidup asal jalan tanpa target.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan ia usahakan besok.” (QS. Luqman: 34)

Ayat ini bukan mengajarkan kemalasan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan merasa menguasai semua hasil. Kita boleh membuat target, tetapi jangan sombong seakan masa depan berada penuh di tangan kita.

Masa depan adalah wilayah ilmu Allah. Tugas kita bukan menguasai masa depan, tetapi menyiapkan diri dengan iman, ilmu, amal, doa, dan ikhtiar terbaik.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada perbedaan besar antara perencanaan dan kecemasan berlebihan.

Perencanaan membuat kita bergerak.

Kecemasan berlebihan membuat kita lumpuh.

Perencanaan membuat kita belajar, bekerja, menulis, meneliti, memperbaiki diri.

Kecemasan berlebihan membuat kita sulit tidur, sulit fokus, mudah putus asa, dan buruk sangka kepada Allah.

Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bekal pertama menghadapi masa depan adalah takwa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Ayat ini adalah obat bagi hati yang takut masa depan. Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling kuat koneksinya, pasti selamat.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling tinggi IPK-nya, pasti tenang.” Allah tidak mengatakan, “Barang siapa paling banyak pengikutnya, pasti sukses.”

Namun Allah berfirman: barang siapa bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar.

Bukan berarti IPK tidak penting. Bukan berarti kompetensi tidak penting. Bukan berarti jaringan, riset, pengalaman, dan strategi tidak penting. Semua itu bagian dari sebab. Namun, jangan lupa sebab terbesar datangnya jalan keluar adalah takwa kepada Allah.

Takwa di lingkungan kampus berarti jujur saat ujian.

Takwa berarti amanah dalam penelitian.

Takwa berarti tidak memalsukan data.

Takwa berarti tidak menghalalkan segala cara demi jabatan.

Takwa berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga lisan, menjaga shalat, dan menjaga hati.

Masa depan tidak selalu dibuka oleh kecerdasan yang tampak. Sering kali masa depan dibuka oleh takwa yang tersembunyi.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal kedua adalah tawakal.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal bukan berarti mahasiswa tidak belajar.

Tawakal bukan berarti dosen tidak meneliti.

Tawakal bukan berarti pencari kerja tidak menyiapkan kemampuan.

Tawakal bukan berarti pemuda tidak membangun masa depan.

Tawakal adalah bekerja maksimal, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil. Tawakal adalah mengambil sebab, tetapi sadar bahwa sebab tidak memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.

Karena itu, siapa yang meninggalkan sebab dengan alasan tawakal, ia belum memahami tawakal dengan benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertawakal, tetapi beliau tetap memakai strategi, bermusyawarah, mempersiapkan pasukan, mencari perlindungan, dan mengambil sebab.

Maka kalimat ini perlu kita bawa pulang:

Orang beriman bekerja seperti semua menuntut ikhtiar terbaik, tetapi hatinya tenang karena semua hasil berada di tangan Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bekal ketiga adalah imani takdir. 

Orang yang terlalu khawatir dengan masa depan sering terjebak dalam pertanyaan:

“Bagaimana kalau nanti saya gagal?”

“Bagaimana kalau rezeki saya sempit?”

“Bagaimana kalau saya tidak seperti orang lain yang sudah sukses di usia 30?”

Pertanyaan seperti ini, jika hanya sebatas lintasan manusiawi, masih wajar. Namun jika terus didalami, diputar-putar, sampai menjadi waswas, buruk sangka, putus asa, dan menggugat ketentuan Allah, maka inilah yang diperingatkan dalam perkataan Ath-Thahawi rahimahullah.

Beliau berkata:

وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ، لَمْ يُطَلِّعْ عَلَى ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيْعَةُ الخِذْلاَنِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِ، فَالْحَذْرَ كُلَّ الحَذْرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةً

Asal pembahasan takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang dekat dengan Allah yang diberi tahu tentang hakikatnya, dan tidak pula ada nabi yang diutus yang mengetahuinya secara rinci.

Terlalu mendalam membahas dan menyelidiki perkara takdir adalah jalan menuju tidak mendapat taufik, tangga menuju terhalangnya seseorang dari kebaikan, dan tingkatan orang yang melampaui batas.

Karena itu, berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah dari menyelami perkara takdir, baik dalam bentuk kajian yang berlebihan, pemikiran yang terlalu jauh, maupun waswas yang terus-menerus.

Maka masa depan kita termasuk bagian dari rahasia takdir itu. Kita tidak tahu apa yang Allah siapkan besok. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah buka. Kita tidak tahu musibah mana yang Allah tahan. Kita tidak tahu kebaikan mana yang Allah sembunyikan di balik keterlambatan, kegagalan, atau penundaan.

Karena itu, orang beriman tidak menyiksa dirinya dengan membongkar sesuatu yang memang Allah tutup.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara penyakit generasi hari ini adalah membandingkan masa depan.

Dahulu manusia cemas karena kurang informasi. Hari ini manusia cemas karena terlalu banyak melihat pencapaian orang lain. Di media sosial, kita melihat teman sudah lulus, sudah kerja, sudah menikah, sudah lanjut studi, sudah punya rumah, sudah punya bisnis, sudah keliling dunia.

Akhirnya muncul perasaan: “Mengapa saya tertinggal?”

Padahal jamaah sekalian, takdir manusia tidak berjalan dengan jadwal yang sama. Ada yang Allah cepatkan. Ada yang Allah tahan dulu. Ada yang Allah beri jalan lewat pintu yang mudah. Ada yang Allah kuatkan lewat jalan yang panjang.

Jangan ukur hidup kita dengan garis takdir orang lain.

Terlambat menurut manusia belum tentu terlambat menurut Allah.

Belum berhasil hari ini bukan berarti gagal selamanya.

Belum dibuka pintunya bukan berarti Allah tidak sayang.

Kadang Allah menunda sesuatu bukan karena ingin menghukum, tetapi karena ingin mematangkan. Kadang Allah belum memberi, karena jika diberi sekarang, kita justru rusak. Kadang Allah menutup satu pintu, agar kita tidak masuk ke jalan yang membahayakan agama dan akhirat kita.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Khawatir masa depan yang wajar adalah tabiat manusia. Namun, jika kekhawatiran itu sampai membuat kita putus asa, buruk sangka kepada Allah, meninggalkan shalat, malas berusaha, atau kehilangan harapan, maka kita harus segera kembali kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kita berbicara tentang masa depan dunia, jangan lupa bahwa ada masa depan yang lebih pasti: akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah wisuda.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah diterima kerja.

Hari esok terbesar bukan sekadar hari setelah menikah.

Hari esok terbesar adalah hari ketika kita dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Maka jangan sampai kecemasan terhadap masa depan dunia membuat kita lupa menyiapkan masa depan akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada empat bekal ringkas menghadapi masa depan.

Pertama, perbaiki shalat.

Hati yang jauh dari shalat akan mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi sumber kekuatan. Orang yang menjaga shalat sedang menjaga hubungan dengan Dzat yang menggenggam masa depan.

Kedua, bangun kompetensi.

Mahasiswa harus belajar sungguh-sungguh. Dosen harus terus berkarya dan membimbing. Generasi muda harus punya adab, ilmu, keterampilan, dan daya juang. Tawakal tidak membenarkan kemalasan.

Ketiga, jaga lingkungan.

Teman yang baik membuat masa depan terasa lebih ringan. Lingkungan yang buruk membuat kecemasan makin gelap. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan yang terus membuat kita membandingkan diri dan lupa bersyukur.

Keempat, perbanyak doa.

Karena ada pintu-pintu masa depan yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan, tetapi dibuka oleh pertolongan Allah. Ada jalan keluar yang tidak terlihat oleh analisis manusia, tetapi sangat mudah bagi Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat cocok untuk hati yang gelisah, takut masa depan, lemah, malas, terbebani utang, dan merasa kalah oleh tekanan manusia:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allahumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhl, wa ḍala‘id-dain, wa ghalabatir-rijāl.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya utang, dan dari tekanan manusia.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki jalan hidupnya.

Dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, ia berkata:

كَانَ الْعُلَمَاءُ فِيمَا مَضَى يَكْتُبُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ:
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ، أَصْلَحَ اللهُ عَلَانِيَتَهُ،
وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ،
وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ.

“Dahulu para ulama saling menulis nasihat dengan kalimat-kalimat ini:

Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia.

Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.” (Riwayat ini disebutkan bersumber dari Ibn Abi Ad-Dunya dalam Al-Ikhlash wa An-Niyyah).

Sesungguhnya rasa takut yang berlebihan terhadap masa depan dapat melemahkan tawakal kepada Allah. Karena itu, hendaknya engkau mempercayai Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Dalam Nuniyyah karya Al-Qahtani disebutkan:

بِاللَّهِ ثِقْ وَلَهُ أَنِبْ وَبِهِ اسْتَعِنْ
فَإِذَا فَعَلْتَ فَأَنْتَ خَيْرُ مُعَانِ

“Percayalah kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dengan penuh taubat, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya. Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan memperoleh sebaik-baik pertolongan.”

Demikian nasihat pada Khutbah kali ini. Semoga Allah mendatangkan kita kebaikan, menjauhkan kita dari keburukan, dan menjauhkan kita dari sifat HAMM (kecemasan berlebihan) terkait masa depan. Teruslah berusaha dalam kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ..
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

—-

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, 10 Juli 2026, 23 Muharram 1448 H, ditulis di perjalanan dari Bantul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42470-khutbah-jumat-jangan-takut-masa-depan-bertakwalah-kepada-allah.html

Keutamaan Menjadi Penyeru Kebaikan

Oleh
DR. Husain bin Naffa`al-Jâbiri[1]

Dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla termasuk amal ketaatan yang paling agung dan ibadah paling afdhal  yang dilakukan seorang hamba kepada Rabbnya Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allâh , malaikat dan para penghuni langit dan bumi, sampai seekor semut dan ikan di laut mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. [HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani]

Maka, barang siapa menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla , mengajarkan manusia apa yang bermanfaat dalam agama mereka, ia pun berhak masuk dalam doa tersebut. Karena ia memberi mereka petunjuk kebaikan dan menuntun mereka kepadanya, serta menjelaskan kepada mereka jalan hidayah dan jalan yang lurus.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya. [HR. Muslim]

Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa mengajak kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim]

Bila demikian kedudukan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla,  dan pahala yang ditentukan dari menempuh jalan dakwah tersebut, maka seyogyanya seorang Muslim (dan Muslimah) untuk berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi salah seorang penyeru dakwah yang kelak akan tampak pengaruhnya pada diri mereka dan masyarakat sosial mereka.

Berdasarkan urgensi tinggi ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudaraku, orang-orang yang menyeru manusia kepada Allâh Azza wa Jalla yang saya berharap mereka mendapatkan manfaat darinya:

Saling bekerja sama dalam dakwah dan saling mendukung di antara mereka serta berusaha dengan serius untuk menyatukan kaum Muslimin dan mempersatukan mereka di atas Kitabullah dan Sunnah Shahihah dengan dasar pemahaman generasi terdahulu umat Islam, dalam mengamalkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai [Ali Imran/3:103]

dan Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu [Al Hujurât/49:10]

Sesungguhnya keadaan manusia tidak teratur dan tidak menjadi lurus kecuali dengan bersatu dan saling menjalin keakraban di antara mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendeskripsikan makna ini dalam potret yang amat menarik:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mencintai, menyayangi dan saling peduli bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh darinya mengeluhkan sesuatu (penderitaan), maka seluruh tubuh akan mengundang untuk demam dan begadang  karenanya. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]


Kewajiban mereka untuk mewaspadai hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan silang-pendapat, seperti sifat hasad, zhalim dan prasangka buruk, atau berkompetisi untuk meraih jabatan, popularitas dan lain-lain yang dapat memalingkan dari ikhlas dan menjauhkan dirinya dari taufik Allâh. Akibatnya, seorang dai berjalan dengan penuh kebanggaan diri, lupa diri  dan merasa tinggi di atas yang lainnya, dengan menyangka dirinya termasuk orang-orang yang ikhlas, padahal ia amat jauh dari ikhlas. Semoga Allâh  memaafkan dan menyelamatkan kita darinya.

Bersabar menghadapi segala respon negatif dari orang lain dalam jalan dakwah, seperti ejekan, olokan, dan tuduhan yang batil, atau kekuatan yang minim, musuh  yang berkuasa, orang-orang dengki, kezhaliman, dakwah tidak diterima, diusir dari kampung halaman dan lain-lain yang kadang dihadapi oleh para penyeru kebenaran dan orang-orang yang tergerak untuk memperbaiki keadaan saat menyebarkan dakwah mereka.

Sungguh, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengalami gangguan dan rintangan, dipukul, dicekik, dan dilemparkan jeroan onta ke punggung Beliau. Beliau juga dituduh sebagai orang gila, pendusta, tukang sihir, penyair atau dukun. Beliau pun diusir dari negeri sendiri, dilempari bebatuan hingga darah mengucur dari dua tumit Beliau yang mulia.  Beliau diembargo di lembah Bani Hasyim sehingga sempat Beliau dan para Sahabat terpaksa memakan dedaunan. Paman Beliau, Hamzah terbunuh, begitu juga para Sahabat juga terbunuh di depan mata Beliau.

Lalu Beliau pun harus menghadapi fitnah dari kaum Munafiqin yang menuduh istri Beliau  yang tercinta dengan perbuatan serong. Masih banyak ujian, gangguan dan rintangan yang tidak akan mampu diemban gunung-gunung kokoh yang menjulang tinggi, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan selalu mengharap pahala dari Rabbnya.

Maka, pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ada keteladanan yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah  ada pada (diri) Rasûlullâh  itu ada suri teladan yang bagi kalian (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allâh  dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut  Allâh  [Al-Ahzab/33:21]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh , dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allâh  menyukai orang-orang yang sabar. [Ali Imran/3:146]

Allâh  Azza wa Jalla berfirman untuk mengabarkan wasiat Luqman kepada putranya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh ) [Luqman/31:17]


Ia berpesan untuk bersabar setelah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran mesti akan menghadapi gangguan atau hal-hal lain yang tidak mengenakkan. Maka, ia perlu melatih diri untuk menahan diri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan.

Membekali diri dengan ilmu syar’i, terutama yang berhubungan dengan ilmu tentang aqidah yang benar yang berlandaskan Al-Qur`an dan Hadits, serta manhaj Salafus Shalih rahimahumullah dan mencoba mencari tahu syubhat-syubhat yang ada dan menganalisa bagaimana cara mematahkan dan menjawabnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh  dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allâh  dan aku tiada termasuk orang-orang yang musryik”. [Yûsuf/12:108])

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. [HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih]

Orang yang jahil tidak mungkin memahami agamanya dan kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, atau membelanya dan mematahkan  takwil-takwil orang-orang bodoh, syubhat-syubhat pembawa kebatilan dan orang-orang yang punya kepentingan-kepentingan tertentu.

Maka, sudah menjadi kewajiban untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid, islamic center, dan kumpulan orang-orang banyak dan di setiap tempat.

Sebagaimana menjadi kewajiban para pemuda untuk dekat dengan para Ulama yang terpercaya yang dikenal memiliki ilmu yang melimpah, ketakwaan dan sifat wara’, lalu mereka mengambil petunjuk dari para Ulama tersebut, menjalankan apa yang mereka arahkan, sehingga amal perbuatan mereka (para pemuda itu) sesuai dengan syariat Allâh Azza wa Jalla , bukan asal sejalan dengan keinginan dan semangat mereka.

Akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa agama ini agama yang akan selalu terjaga dengan pemeliharaan dari Allâh Azza wa Jalla . Dengan kekokohannya, pemikiran-pemikiran para penyimpang berguguran sepanjang masa.

Agama ini merupakan ruh bagi kehidupan dan kehidupan bagi ruh kita, cahaya bagi jalan kita dan jalan yang bercahaya. Kewajibanmu tiada lain, engkau berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri dan memperbaiki orang-orang yang ada di sekitarmu, dan menyampaikan agama Allâh  sebagaimana yang dikehendaki Allâh , berkomitmen dengan ajaran-ajaran-Nya, berpedoman dengan hidayah-Nya dan menjauhi maksiat dengan seluruh jenisnya .

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang disibukkan dengan amal ketaatan kepada-Nya, membela agama-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya dan membela sunnah Beliau di seluruh kesempatan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1]  Dosen di Universitas Islam Madinah.
Referensi : https://almanhaj.or.id/72194-keutamaan-menjadi-penyeru-kebaikan.html

Hukum Mengambil Dan Menguasai Hak Orang Lain Secara Zalim

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini pembahasan tentang ghasb atau merampas, mudah-mudahan risalah ini Allah jadikan ikhlas karena-Nya dan bermanfaat.

Ta’rif (definisi) ghasb

Kata Ghasb disebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

“Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.” (Al Kahfi: 79)

Ghasb secara bahasa artinya mengambil sesuatu secara zalim. Sedangkan menurut istilah fuqaha adalah mengambil dan atau menguasai hak orang lain secara zalim dan aniaya dengan tanpa hak[1].

Ghasb adalah haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil……...” (QS. An Nisaa’: 29)

Di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662)

Ketika khutbah wadaa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu terpelihara  antara sesama kamu sebagaimana terpeliharanya hari ini, bulan ini dan negerimu ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَنْتَهِبُ نُهْبَةً، يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

As Saa’ib bin Yazid meriwayatkan dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ لَاعِبًا أَوْ جَادًّا، فَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْه

“Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil tongkat saudaranya baik main-main maupun serius. Jika salah seorang di antara kamu mengambil tongkat saudaranya, maka kembalikankah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan ia menghasankannya. Hadits ini dihasankan pula oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih At Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Umamah secara marfu’ disebutkan:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Barangsiapa yang mengambil harta saudaranya dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan masuk surga. Lalu ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun hanya sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu untuk siwak).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tujuh bumi kepadanya.”

Oleh karena itu orang yang melakukan ghasb harus bertobat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan mengembalikan barang ghasb kepada pemiliknya serta meminta maaf kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ » .

Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Jika barang ghasb masih ada, maka dikembalikan seperti sedia kala. Namun jika sudah binasa, maka dengan mengembalikan gantinya.

Menanam tanaman atau pohon atau membuat bangunan di atas sebuah tanah ghashb (rampasan)

Barangsiapa yang menanam di tanah rampasan, maka tanaman itu milik yang punya tanah, dan bagi perampas memperoleh nafkah. Hal ini, jika tanaman belum dipetik, adapun jika sudah dipetik, maka pemilik tanah tidak berhak selain upah.

Pohon yang ditanam juga wajib dicabut, demikian juga bangunan yang dibuat juga harus dirobohkan. Dalam hadits Raafi’ bin Khudaij disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ زَرَعَ فِي أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ، فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَيْءٌ وَلَهُ نَفَقَتُه

“Barangsiapa yang menanam di sebuah tanah milik sebuah kaum tanpa izin mereka, maka ia tidak berhak memperoleh dari tanaman itu sedikit pun, dan untuknya (perampas) nafkah yang dikeluarkannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan Ahmad, ia berkata: “Sesungguhnya saya berpegang kepada hukum tersebut atas dasar istihsan; dengan menyelisihi qiyas.”)

Abu Dawud dan Daruquthni juga meriwayatkan dari hadits Urwah bin Az Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْيَا أَرْضًا فَهِيَ لَهُ وَلَيْسَ لِعِرْقِ ظَالِمٍ حَقٌّ

Barangsiapa yang menghidupkan tanah, maka tanah itu menjadi mililknya, dan untuk keringat orang yang zhalim tidak memiliki hak.”

Urwah berkata, “Telah memberitakan kepadaku orang yang menceritakan hadits ini kepadaku bahwa ada dua orang yang bertengkar lalu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang satu menanam pohon kurma di tanah milik yang lain. Maka Beliau menetapkan (tanaman tersebut) untuk pemilih tanah karena tanahnya dan memerintahkan kepada pemilik pohon kurma untuk mengeluarkan pohon itu darinya. Ia berkata, “Sungguh, saya melihatnya ketika pohon kurma itu dipotong akarnya dengan kapak, padahal pohon itu adalah pohon kurma yang tinggi.”

Syaikh Shalih Al Fauzan dalam al-Malkhash Fiqhiy berkata, “Jika orang yang melakukan ghasb telah membuat bangunan di tanah rampasannya atau menanam di atasnya tanaman, maka ia harus melepas bangunan itu atau mencabut tanaman itu, jika pemiliknya meminta demikian. Jika tindakannya itu sampai membekas ke tanah yang dirampasnya, maka ia wajib mengganti rugi kekurangannya, di samping ia juga harus menghilangkan sisa-sisa tanaman dan bangunan sehingga ia menyerahkan tanah kepada pemiliknya dalam keadaan baik. Ia pun wajib membayar upah standar dari sejak merampas sampai menyerahkannya, karena ia mencegah pemiliknya untuk memanfaatkan di masa itu dengan tanpa hak. Jika ia merampas sesuatu dan menahannya hingga menjadi murah harganya, maka harus menanggung kekurangannya menurut pendapat sahih.”

Jia barang yang dirampas bercampur dengan barang lainnya yang bisa dibedakan seperti gandum dengan sya’ir, maka perampas wajib membersihkannya dan mengembalikannya. Namun jika bercampur dengan barang yang sulit dibedakan, seperti gandum dengan gandum,  perampas wajib mengembalikan barang itu; ada berapa takar atau timbangan ketika diambilnya sebelum dicampur?

Jika dicampur dengan dengan barang yang di bawahnya atau lebih baik darinya atau tidak sejenis, namun sulit dibedakan, maka campuran itu dijual, lalu diberikan seukuran harganya masing-masing. Dan jika barang rampasan berkurang nilainya jika secara terpisah, maka perampas menanggung kekurangannya. Disebutkan oleh para fuqaha,

الْأَيْدِي الْمُتَرَتِّبَةُ عَلَى يَدِ الْغَاصِبِ كُلِّهَا أَيْدِيْ ضَمَانٍ

“Tangan-tangan yang muncul di atas tangan perampas semuanya adalah tangan tanggungan.”

Maksudnya Tangan-tangan di mana barang rampasan berpindah kepadanya melalui jalan perampas semuanya menanggung jika binasa.

Dengan demikian, jika orang kedua mengetahui hakikat sebenarnya dan bahwa orang yang memberikan barang kepadanya adalah perampas, maka ia harus menanggungnya karena ia berbuat zhalim dengan kesengajaan (diketahuinya) tanpa izin pemiliknya. Namun jika orang kedua tidak mengetahui keadaan sebenarnya, maka yang menanggung adalah perampas (orang pertama).

Jika barang rampasan adalah yang biasa disewa, maka perampas wajib mengganti upah semisalnya (standar) selama barang itu berada di tangannya. Karena manfaat adalah harta yang jelas nilainya, maka wajib ditanggung seperti menanggung barang.

Semua tindakan ghaasib (perampas) adalah batal, karena tidak ada izin pemiliknya.

Jika seseorang merampas sesuatu dan ia tidak mengetahui di mana pemiliknya serta tidak mampu mengembalikannya, maka ia bisa serahkan kepada hakim yang akan menaruhnya di tempat yang benar atau ia sedekahkan memakai nama pemiliknya. Sehingga jika disedekahkan, maka pahalanya untuk pemilik barang dan si perampas sudah lepas tanggungan.

Bersambung…

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.

Oleh: Ustadz Marwan bin Musa

Maraji’: Fiqh Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Al Mulakhash Al Fiqhiy (Shalih Al Fauzan), Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At Tirmidzi dll.

Sumber: Yufidia.com


[1] Jika mengambil harta orang lain secara rahasia dari tempat yang terjaga, maka hal itu disebut pencurian. Jika mengambilnya secara kekerasan, maka hal itu adalah muhaarabah dan jika mengambilnya karena menguasai, maka hal itu adalah ikhtilas (jambret) dan jika mengambilnya saat ia diamanahi, maka hal ini disebut khianat.

Read more https://pengusahamuslim.com/3232-hukum-mengambil-dan-1720.html

Hukuman Bagi Kaum LGBT

HUKUMAN BAGI KAUM LGBT ADALAH DIBUNUH DENGAN PENGHINAAN

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, apa yang harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga jika salah satu anggota keluarganya terkena penyakit LGBT?

Dari keluarga yang tidak harmonis di mana anak tersebut tumbuh dalam suasana KDRT yang dilakukan oleh ayahnya serta poligami yang tidak jujur dan tidak adil dari segi ekonomi, perilaku kasih sayang, dsb.
Situasi sekarang ini, anak tersebut menjadi tulang punggung orang tuanya.

Mohon penjelasannya secara syar’i apa yang harus dilakukan?

Jazakumulloh khoiron katsiro.

( Dari Sahabat BiAS )

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Semoga kita semua, anda dan saya, diberikan ketabahan serta kekuatan untuk terus mendakwahkan kebaikan pada keluarga, dan menghindarkannya dari siksa api neraka.

1. Pertama yang harus kita pahami adalah besarnya dosa penyimpangan seksual atau LGBT.

Jika zina yang dilakukan dengan lawan jenis saja hukumannya rajam sampai mati, atau minimal cambuk. Suatu konsekuensi hukum yang telah kita ketahui bersama. Maka lelaki LGBT -dalam hal ini gay atau homo- lebih parah dari itu, yakni laknat dan kematian yang hina .
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

“Alloh melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth, Alloh melaknat manusia yang melakukan perbuatan homo seperti kaum Luth, diulang 3 kali”.
[HR Ahmad 2915]

Adapun hukuman di dunia bagi pelaku LGBT, ada silang pendapat di kalangan para ‘ulama, namun yang jelas semuanya adalah kehinaan atau merujuk pada apa yang Alloh timpakan kepada kaum Luth.

Para sahabat telah sepakat atas hukuman mati pelaku homo, hanya berbeda pendapat tentang bagaimana cara membunuhnya:
– Ada yang mengatakan dibakar sampai mati (ini pendapat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Tholib
rodhiallohu ‘anhuma).
– Ada yang mengatakan dilemparkan dari tempat yang tinggi, dan setelah terkapar jatuh tetap di rajam sebagai
bentuk kehinaan (ini pendapat dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu).

» Pendapat kedua inilah yang paling mendekati adzab atau hukuman dunia kaum Luth.

Ibnul Qoyim menukilkan pendapat Ibnu Abbas ini dalam Al-Jawabu Al-Kaafi Liman Sa-ala ‘an Ad-Dawaa-I Asy-Syaafi,

وقال عبد الله بن عباس ان ينظر أعلا ما في القرية فيرمى اللوطى منها منكسا ثم يتبع بالحجارة وأخذ ابن عباس هذا الحد من عقوبة الله للوطية قوم لوط

Ibnu Abbas mengatakan, “Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dilemparkan dalam kondisi terjungkir (kepala di bawah). Lalu disusul dengan lemparan batu.”

Ibnu Abbas berpendapat demikian, karena inilah hukuman yang Allah berikan untuk pelaku homo dari kaumnya Luth.  (Al-Jawabu Al-Kafi, hlm 120)

Hukuman mati ini berlaku bagi kedua belah pihak LGBT, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu,

ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barang siapa mendapati orang melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subjek dan objek nya”.
[HR Tirmidzi 1456, Abu Dawud 4462, Ibnu Majah 2561]

Bahkan para ‘ulama sepakat mengatakan bahwa keburukan homo atau perilaku liwath lebih parah dibandingkan keburukan suatu pembunuhan, sebab syariat mengatur hukum qishos bagi pembunuh di atas kehendak wali (keluarga yang terbunuh). Jika dilanjutkan, maka di qishos jika dimaafkan maka dibebaskan.

Tidak demikian dalam penetapan hukuman mati bagi pelaku homo atau liwath, tak ada ampun atau belas kasih, karena begitulah yang ditetapkan  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan diamalkan oleh para sahabat serta Khulafaur Rosyidin rodhiallohu’anhum.

Dengan parahnya hukuman pelaku LGBT sebagaimana dijelaskan di atas, masihkah kita menghindar dari parahnya perbuatan LGBT?
Masihkah kita menggampangkan penyimpangan seksual LGBT di tengah keluarga?
Tidakkah kita takut dengan timpaan adzab serta laknat Alloh pada keluarga kita?

2. Kedua, perlunya kita membuat skala prioritas dalam menerapkan syariat pada kehidupan keluarga kita, kewajiban dilaksanakan, dan dosa besar ditinggalkan.

» Dalam kasus ini jelas prioritasnya adalah mengembalikan anggota keluarga tersebut ke jalan yang benar, minta
dan ajak untuk bertaubat dengan taubatan nasuha . Sampaikan padanya bahwa bukti cinta pada keluarga
bukan hanya dengan memberikan nafkah, tapi juga menyelamatkan dari apa neraka dan adzab.

» Pihak keluarga pun harus kompak dalam menyadarkan kesalahannya, dan itulah bukti cinta keluarga
kepadanya. Tidak inginkah dapat berkumpul bersama keluarga hingga di akhirat kelak?
»Tidak perlu khawatir urusan rezeki, sungguh hidup pas-pasan di dunia jauh lebih nikmat dibanding tertimpa
adzab serta laknat.
» Perbesar rasa tawakkal, maksimalkan ikhtiar, dan pertebal husnudzon pada Alloh.

Bisa jadi ada hikmah besar di balik ini semua, mungkin yang sebelumnya belum maksimal dalam ikhtiar, menjadi maksimal karena tulang punggung keluarga harus menjalani masa rehabilitasi. Mungkin yang sebelumnya sang ayah acuh pada keluarganya, menjadi terketuk hatinya karena darah dagingnya bermasalah. Bahkan bisa jadi rezeki dan keharmonisan keluarga yang sebelumnya terhambat menjadi lancar karena pertaubatan anggota keluarga.

» Yang jelas, yakinlah bahwa pertolongan Alloh itu dekat kepada orang-orang yang bertaqwa.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (QS Ath-Tholaq 2)

Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa bertaqwa dan ditolong oleh Alloh dalam segala urusan.

Wallahu ‘Alam.
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam~ Ikhwan
Ahad, 1 Jumadal Akhir 1439 H/ 18 Februari 2018M

sumber : https://bimbinganislam.com/hukuman-bagi-kaum-lgbt/

Menjadi Muslimah Tangguh di Era Disrupsi

Era disrupsi adalah periode perubahan masif di mana inovasi teknologi digital masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan, menciptakan efek disrupsi kuat yang menggantikan sistem, struktur, dan tatanan lama dengan cara-cara baru yang lebih efisien.

Kita melihat bagaimana teknologi berkembang begitu pesat dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya kecerdasan buatan (AI) yang begitu canggih, internet yang mempengaruhi dan mengubah hampir setiap aspek kehidupan; menimbulkan perubahan yang begitu cepat dan menuntut kita beradaptasi dengan sigap.

Kendati demikian, beradaptasi bukanlah berarti menanggalkan prinsip hidup sebagai seorang muslim. Karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak dan absolut tanpa negosiasi.

Lantas, bagaimana kiat agar tetap kokoh dan tangguh pada prinsip-prinsip keislaman di zaman modern ini?

Bersemangat menuntut ilmu

Di era digital saat ini, informasi dan ilmu pengetahuan membanjir dan dapat diakses dengan begitu mudah. Sayangnya, tidak semua informasi dan ilmu yang beredar itu benar, bahkan banyak yang berisi pemahaman keliru dan bertentangan dengan fakta. Di sinilah pentingnya kurasi dan verifikasi. Dan keduanya tidak dapat terealisasi jika kita tidak memiliki ilmu yang memadai.

Dengan kemajuan yang diselimuti oleh berbagai kekeliruan dan keburukan, wajib bagi seorang muslim yang menginginkan kebaikan untuk dirinya agar membentengi diri sendiri dan keluarga dengan benteng ilmu yang kuat, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman salafus shalih. Karena merekalah yang mendapatkan jaminan keimanan yang benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا

“Jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Dan tidaklah ilmu didapat kecuali dengan semangat dan perjuangan yang maksimal, sebagaimana para ulama mengatakan,

‎العلم إذا أعطيته كلك أعطاك بعضه، وإذا أعطيته بعضك لم يعطك شيئاً

“Ilmu itu: Jika engkau memberikannya seluruh upayamu sepanjang hidup, dia akan memberimu sebagiannya. Dan jika engkau hanya memberikan sebagian, ia tidak akan memberimu sedikit pun.”

Dalam mempelajari ilmu agama, hendaklah seseorang memulai dengan perkara yang paling penting dalam merealisasikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala. Dikatakan dalam sebuah sya’ir,

ما حوى العلم جميعاً أحد لا ولو مارسه ألف سنة 

“Tidaklah seseorang mampu menjangkau seluruh ilmu, walaupun ia tekun seribu tahun lamanya.”

إنما العلمُ كبحرٍ زاخرٍ فاتخذ من كل شيءٍ أحسنه

“Ilmu itu seperti lautan luas tak bertepi, maka ambillah yang paling penting dari setiap cabangnya.”

Guru kami, Syekhah Dr. Barakah binti Mudhaif Ath-Thalhi hafizhahallah berpesan untuk senantiasa memperkuat pondasi keilmuan. Dimulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, kemudian mempelajari kitab-kitab akidah seperti Tsalatsah Al-Ushul, Qawa’id Al-Arba’Al-Ushul As-SittahKitab At-Tauhid, dan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah. Lalu mempelajari kitab-kitab tafsir seperti At-Tafsir Al-MuyassarTafsir As-Sa’di, dan Tafsir Ibnu Katsir. Juga mempelajari kitab-kitab hadis seperti Al-Arba’in An-NawawiyyahRiyadush ShalihinUmdatul AhkamAl-Lu’lu wal Marjan, dan Kutub As-Sittah. Selain itu juga mempelajari kitab-kitab fikih seperti Umdatul Ahkam dan Al-Mulakhash Al-Fiqhi karya Syekh Shalih Fauzan. Adapun kitab-kitab raqaiq (kitab-kitab nasihat dan tazkiyatun nufus) sungguh sangat banyak. Yang terpenting adalah kitab-kitab yang telah disebutkan di atas.

Kontinu dalam berbuat kebaikan

Membiasakan diri untuk berbuat baik dapat mendatangkan kebaikan yang banyak dan mencegah terjadinya kemungkaran. Oleh sebab itu, Allah berfirman mengenai salat,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Awalnya, mungkin akan terasa berat; menjaga salat wajib yang lima untuk dilakukan di awal waktu, merutinkan ibadah-ibadah sunah walaupun sedikit, serta bersabar dan berbuat baik dalam muamalah sehari-hari.

Namun yakinlah, sesuatu yang sukar akan menjadi ringan untuk dilakukan jika dibiasakan. Dan Allah akan memudahkan niat-niat baik hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya ilmu hanya didapatkan dengan mempelajarinya dan sikap bijak didapatkan dengan terbiasa melakukannya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kebaikan, maka dia akan diberikan kebaikan tersebut. Dan barang siapa yang berusaha untuk menjauhi keburukan, maka ia akan dilindungi dari keburukan tersebut.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 2663)

Ketahuilah bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah ibadah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Berteman dengan orang-orang saleh

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara naluriah tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan interaksi kepada sesama untuk bertahan dalam kehidupan. Hanya saja, selektif dalam memilih orang-orang terdekat patut untuk dilakukan. Hal ini karena tabiat manusia adalah bagaikan sekawanan burung merpati yang cenderung saling mengikuti satu sama lain.

Oleh karena itu, pilah pilihlah dalam berteman. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang dapat membantumu lebih dekat dengan Rabb-mu, yang mendorongmu untuk meraih hal-hal yang mulia dan menjauhkanmu dari kehinaan. Karena sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎الرجلُ على دينِ خليلِه

“Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833)

Demikian beberapa kiat yang dapat penulis sampaikan. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya hingga datang ketetapan-Nya (ajal). Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Webinar Membangun Kekuatan Mental Anak di Era Disrupsi, dr. Aisah Dahlan, CCHt., CM. NLP., CI.
  • Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2024. Syarah Hilyah Thalibil ‘Ilmi. (Mohammad Faris, S.S., edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu.
  • Al-Wadi’iyyah, Ummu ‘Abdillah. 2005. Nashihati Lin Nisa’. Shan’a: Darul Atsar.

Sumber: https://muslimah.or.id/34043-menjadi-muslimah-tangguh-di-era-disrupsi.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Mati-Matian Mencari Yang Tidak Bisa Dibawa Mati (Kebahagiaan Semu)

Jika ditanya, apa tujuan hidup anda? Tentu semuanya menjawab mencari kebahagiaan dan kesenangan hidup. Mulai dari seorang Ibu yang bahagia dengan kesuksesan mendidik anak, sang bapak yang sukses dengan karir dan jabatan, seorang caleg yang bahagia dengan terpilih, bahkan seorang Wariapun bahagia dengan sekedar nongkrong-nongkrong “eksis”. Akan tetapi apakah yang dirasakan benar-benar kebahagiaan? Apakah kebahagiaan semu saja? Kalau memang bahagia, apakah Kebahagiaan didunia saja? Tidak diakhirat yang kekal.

Kita ambil contoh, misalnya bagaimana seorang artis misalnya artis korea, yang terlihat bahagia dan semua puncak kebahagiaan dunia ditangannya. Terkenal, dihormati, kaya, makanan enak, rumah besar dan fasiltas lengkap, wajah yang rupawan dan pasangan hidup yang menarik. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa artis korea atau artis secara umum hidupnya sebenarnya di bahwa tekanan. Harus selalu tampil menarik untuk mencari pujian dan ridha manusia, kehidupan selalu diekspos, kejar tayang, mengejar pekerjaan dan persaingan tidak sehat dan berat di dunia artis. Jadilah pelarian mereka ke narkoba, kawin-cerai dan berbagai skandal kehidupan. Atau yang lebih parah kebahagiaan semu para waria, yang sudah jelas bagi orang yang di hatinya masih ada sedikit nurani, maka mereka tidak setuju dengan mencari kebahagiaan dengan menjadi waria.

Dan perlu kita ingat bahwa Kebahagiaan dunia semu itu menipu dan sering kali melalaikan dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” [Luqmaan: 33]

Allah Ta’ala juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadid: 20]

Istidraj: Kebahagiaan yang lebih semu lagi

Ternyata ada yang harus kita waspadai lagi. Yaitu ia merasa bahagia di dunia padahal itu adalah hukuman baginya dari Allah Ta’ala, karena ia bahagia tidak diatas landasan Agama Islam yang benar. Allah biarkan ia bahagia sementara di dunia, Allah biarkan ia merasa akan selamat dari ancaman Allah di akhirat kelak, Allah tidak peduli kepadanya. Itulah istidraj sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”[1]

Mengenai ayat,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” [Al-A’raf: 99]

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”[2]

Kita ambil contoh komentar seorang ibu,

“saya sudah bahagia sekarang, anak-anak saya semuanya sudah jadi, sudah berhasil semua, saya bangga, anak pertama wakil direktur di bank, anak kedua saya jadi koordinatur umum di urusan pajak beacukai, anak ketiga saya menjadi hakim agung di kabupaten”

Bisa jadi ini adalah istidraj, jika kebahagiaanya hanya bersandar sesuai dengan komentar diatas tanpa landasan agama, walaupun jika kita tanya kepada kebanyakan manusia, maka mereka kebanyakan sepakat bahwa ibu ini memang bahagia sekarang. Akan tetapi, Jika mengikuti kebanyakan hawa nafsu manusia di muka bumi, maka kita akan kita akan tersesat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Al-An’am: 116]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan,

يقول تعالى، لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم، محذرا عن طاعة أكثر الناس فإن أكثرهم قد انحرفوا في أديانهم وأعمالهم، وعلومهم. فأديانهم فاسدة، وأعمالهم تبع لأهوائهم، وعلومهم ليس فيها تحقيق، ولا إيصال لسواء الطريق.

“Allah berfirman kepada nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi peringatan dari menaati/mengikuti mayoritas manusia, karena kebanyakan mereka telah berpaling dari agama, amal dan ilmu mereka. agama mereka rusak, amal mereka mengikuti hawa nafsu dan ilmu mereka tidak diterapkan dan tidak bisa mencapai jalan yang benar.”[3]

Sering-sering muhasabah antara nikmat dan istidraj

Dan sudah sepatutnya kita berilmu, yaitu bagaimana membedakan antara nikmat dan istidraj dengan sering-sering bermuhasabah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وأما تمييز النعمة من الفتنة: فليفرق بين النعمة التي يرى بها الإحسان واللطف، ويعان بها على تحصيل سعادته الأبدية، وبين النعمة التي يرى بها الاستدراج، فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه!

“Adapun (kemampuan) membedakan antara nikmat dan fitnah, yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya -berupa kebaikan-Nya dan kasih-sayang-Nya, yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan abadi- dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah. Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah, Pen), sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah.”[4]

Standar bahagia di dunia seperti orang kafir?

Jika ada komentar,

“saya hidup bahagia sekarang, punya istri yang cantik, anak yang lucu dan pintar, punya rumah yang cukup besar karir saya di kantor terus naik dan bisnis lancar terus”

Maka, orang kafir juga bahagianya dengan komentar di atas, oleh karena itu tidak sepantasnya seorang muslim bahagia HANYA dengan patokan kebahagiaan seperti komentar di atas.

Mengenai ayat,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” [Ali Imran: 196-197]

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

لا تنظروا إلى ما هؤلاء الكفار مترفون فيه، من النعمة والغبطة والسرور، فعما قليل يزول هذا كله عنهم، ويصبحون مرتهنين بأعمالهم السيئة، فإنما نمد لهم فيما هم فيه استدراجا، وجميع ما هم فيه {متاع قليل ثم مأواهم جهنم وبئس المهاد}

“Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian dan kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua yang mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.[5]

Dan jika kita seperti orang kafir hanya ingin bahagia di dunia saja, maka terkadang Allah Ta’ala memberikannya sekedar kehendak Allah, Allah Ta’ala berfirman,

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاء لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُوماً مَّدْحُوراً

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu sesuai dengan apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” [Al-Isra’: 17]

Apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya?

Kebahagiaan adalah bahagia jika melaksanakan perintah Allah dan merasa sedih jika melakukan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Jadi jika kita berat melaksanakan shalat, puasa, atau bahkan berat melaksanakan amalan-amalan sunnah, maka itu adalah tanda tidak bahagia. Kemudian jika kita melakukan maksiat tetapi kita tenang-tenang saja, atau yang lebih parah tidak tahu bahwa hal yang kita lakukakan adalah maksiat dan dilarang oleh agama. Bandingkan dengan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”[6]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan mengenai ciri kebahagiaan,

إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

“jika diberi [kenikmatan] maka ia bersyukur, jika diuji [dengan ditimpa musibah] ia bersabar dan jika melakukan dosa ia beristigfar [bertaubat]. Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.”[7]

Dan mengenai bahagia yang sesungguhnya jelas letaknya adalah di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”[8]

Oleh karena itu carilah kebahagiaan hakiki tersebut, sebagaimana kita mencari kesembuhan jika badan kita sakit, jika badan kita sakit maka kita akan menempuh berbagai penjuru dunia untuk mencari kesembuan. Jawabannya adalah ilmu, doa dan bersungguh-sungguh. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” [Al-Ankabut: 69]

Contoh kebahagiaan dunia-akhirat

Inilah contoh kebahagiaan para ulama salaf, mereka berkata,

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ

“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[9]

Contoh ulama yang mencerminkan kebahagiaan dunia-akhirat adalah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Muridnya yaitu Ibnul Qayyim menceritakan kebahagiaan gurunya,

وعلم الله ما رأيت أحداً أطيب عيشاً منه قط، مع ما كان فيه من ضيق العيش وخلاف الرفاهية والنعيم بل ضدها، ومع ما كان فيه من الحبس والتهديد والإرهاق، وهو مع ذلك من أطيب الناس عيشاً، وأشرحهم صدراً، وأقواهم قلباً، وأسرهم نفساً، تلوح نضرة النعيم على وجهه.وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[10]

Bahkan ketika beliau di penjara beliau Ibnu Taimiyah berkata,

لو بذلت ملء هذه القاعة ذهباً ما عدل عندي شكر هذه النعمة.

“Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”[11]

Beliau juga berkata,

المحبوس من حبس قلبه عن ربه تعالى.

“Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya dibelenggu dari Rabb-nya Ta’ala”

Beliau juga berkata,

ما يصنع أعدائي بي؟ أنا جنتي وبستاني في صدري، إن رحت فهي معي لا تفارقني، إن حبسي خلوة، وقتلي شهادة، وإخراجي من بلدي سياحة.

“Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamannya ada di hatiku, jika, ke mana aku pergi ia selalu bersamaku, jika mereka memenjarakanku maka penjara adalah khalwat bagiku, jika mereka membunuhku maka kematianku adalah syahid, jika mereka mengusirku maka kepergianku adalah rekreasi.”[12]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@RS Mitra Sehat, Wates, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan follow twitter

[1] HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561

[2] Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi, cet.II, 1417 H

[3] Taisir Karimir Rahmah hal. 248, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. I, 1424 H

[4] Madarijus salikin 1/189, Darul Kutub Al-‘Arabi, beirut, cet. III, 1416 H, Syamilah

[5] Tafsir Ibnu Katsir 2/192, Dar Thayyibah, cet. II, 1420H, Syamilah

[6] HR. Bukhari no. 6308

[7] Matan Qowa’idul Arba’

[8] HR. Bukhari dan Muslim

[9] Rawai’ut Tafsir Ibnu Rajab 2/134, Darul ‘Ashimah, cet.I, 1422 H, Syamilah

[10] Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah

[11] Idem

[12] Idem

sumber : https://muslimafiyah.com/mati-matian-mencari-yang-tidak-bisa-dibawa-mati-kebahagiaan-semu.html

ANTARA RINDU DAN MABUK KEPAYANG

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَسُئِلَ بعض الْعلمَاء عَن عشق الصُّور فَقَالَ قُلُوب غَفَلَتْ عَن ذكر الله فابتلاها الله بعبودية غَيره

“Seorang ulama ditanya tentang mabuk kepayang terhadap keelokan rupa, maka ia menjawab : “Itu adalah hati yang lalai dari mengingat Allah maka Allahpun menghukumnya dengan tunduk kepada selain Allah” (Miftaah Daaris Sa’aadah 1/112)

Kerinduan terhadap keindahan rupa wajah yang mempesona adalah kewajaran, akan tetapi jika sampai pada derajat ‘isyq (mabuk kepayang) yang menjadikannya lalai dan tidak teringat dibenaknya dan hatinya kecuali keelokan rupa tersebut, maka itu menunjukan hatinya telah lalai dari mengingat Allah, sehingga terisilah hatinya dengan ketundukan kepada rupa yang jelita tersebut. Wallahu A’lam

sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/author/admin2/page/416

Ketika Mendengar Petir Dan Melihat Kilat

Musim hujan telah tiba, hampir setiap hari kita mendapat rezeki dari langit, terkadang hujan sangat lebat disertai gerumuh petir dan kilat. Maka Islam menganjurkan beberapa amalan ketika terjadi hal ini.

Berdoa ketika mendengar petir

Perlu diketahui bahwa tidak ada doa yang marfu’ (bersumber langsung sanadnya) dari  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ada adalah atsar dari sahabat, dalam fatwa Al-lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

من عمل بهذا اقتداءً بهذا الصحابي فلا بأس بذلك، ولا نعلم شيئاً ثابتاً فيه مرفوعاً إلى النبي صلى الله عليه وسلم.

“barangsiapa yang mengamalkan dengan mencontoh para Sahabat, maka tidak mengapa. Kami tidak mengetahui sedikitpun hadits yang marfu’ (sampai sanadnya) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[1]

Beberapa doa tersebut sebagai berikut:

Apabila Abdullah bin Az-Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ.

Subhaanalladzi yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi

“Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya.” [2]

Doa yang lain,

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ

Subhanalladzi sabbahat lahu’

“ Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya”

Lalu beliau mengatakan,

قال إن الرعد ملك ينعق بالغيث كما ينعق الراعي بغنمه

”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.”[3]

Catatan:

Ada juga hadits yang beberapa ulama menganggapnya marfu’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi sebagian besar ulama mendhaifkannya. Haditsnya yaitu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏كَانَ إِذَا سَمِعَ صَوْتَ الرَّعْدِ وَالصَّوَاعِقِ قَالَ ‏: ‏اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكْبِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ

Dishahihkan oleh syaikh Ahmad syakir, adapun ulama yang mendhaifkan At-Tirmidzi, Ibnu Hajar dan syaikh Al-Albani.

Ketika melihat kilat

Ketika melihat kilat maka, tidak ada amalan khusus baik dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  maupun para sahabat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

فأما البرق فهذا فلا أذكر شيئاً في هذا لا أذكر شيئاً يقال عند رؤية البرق لا أعلم شيئاً من السنة في هذا.

“Adapun melihat kilat maka saya tidak mengetahui sama sekali (amalan) dalam hal ini. Saya tidak mengetahui sapa yang harus diucap ketika melihat kilat. Saya tidak mengetahui sama sekali dalam sunnah mengenai hal ini.”[4]

Syaikh Isa bin Hasan Adz-Dziyab berkata,

لم يثبت عن النبي  صلى الله عليه وسلم  في ذلك شيء .

لكن لو ذكر الله على عظمة الله وبديع خلقه (إن شاء الله ليس فيها بأس).

“Tidak  ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengenai hal tersebut (doa melihat kilat) akan tetapi jika ia berdzikir mengingat Allah karena keagungan dan bagusnya ciptaannya –InsyaAllah- tidak mengapa.”[5]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Mataram, 24 Muharram !434 H

Penyusun: Raehanul Bahraen


[1] Sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=22105

[2] Al-Muwaththa’ 2/992. Al-Albani berkata: Hadits di atas mauquf yang shahih sanadnya. Sumber : Kitab Hisnul Muslim Said bin Ali Al Qahthani

[3] Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani

[4] Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/11445

[5] Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/sh/5.htm

sumber: https://muslimafiyah.com/ketika-mendengar-petir-dan-melihat-kilat.html#_ftn2

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan

Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama

Hadits 1/1033

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)

Keterangan lafaz:

  • الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.
  • التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.

Kosakata hadits:

  • النِّدَاء: azan.
  • العَتَمَة: shalat Isya.

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan shaf pertama.
  2. Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.
  3. Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.
  4. Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.
  5. Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.
  6. Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).
  7. Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya.

Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat

Hadits 2/1034

عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.

Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387)

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.
  2. Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.
  3. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi.

Keutamaan Azan dan Anjuran Mengeraskan Suara

Hadits 3/1035

 وعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَبْدِ الرَّحْمن بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ، أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ رضي الله عنه قَالَ لَهُ: «إنِّي أَرَاكَ تُحبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ، فَإذَا كُنْتَ في غَنَمِكَ ــ أَوْ بَادِيَتِكَ ــ فَأَذَّنْتَ للصَّلاةِ، فَارْفَعْ صَوْتَكَ بالنِّدَاءِ، فَإنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَىٰ صَوْتِ المُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إنْسٌ وَلا شَيْءٌ، إلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» قال أبو سعيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ الله. رواه البخاري.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sha‘sha‘ah, bahwa Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,

“Aku melihat engkau menyukai kambing dan kehidupan di pedalaman. Jika engkau sedang berada di tengah kambingmu—atau di pedalamanmu—lalu engkau mengumandangkan azan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru. Sebab, tidaklah jin, manusia, dan segala sesuatu mendengar sejauh jangkauan suara muazin, melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”

Abu Sa‘id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.” (HR. Bukhari, 2:87-88)

Kosakata Hadits

Madā shautil mu’adzdzin artinya sejauh jangkauan suara muazin.

Faedah Hadits

  1. Azan ketika masuk waktu shalat berlaku untuk orang yang shalat sendirian maupun shalat berjemaah.
  2. Siapa saja dari kalangan jin, manusia, atau benda mati yang mendengar suara muazin, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.
  3. Disunnahkan bagi muazin untuk mengeraskan suaranya ketika azan, agar semakin banyak yang menjadi saksi baginya pada hari kiamat.
  4. Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih muazin yang memiliki suara lantang.
  5. Mencintai kambing dan kehidupan di pedalaman termasuk amalan salaf saleh, terutama ketika terjadi fitnah.
  6. Para sahabat Rasulullah ﷺ sangat bersemangat mengajarkan sunnah kepada manusia. Di dalam sunnah terdapat kebaikan, keselamatan, dan penjagaan.

Keutamaan Azan dan Gangguan Setan dalam Shalat

Hadits 4/1036

ــ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إذَا نُودِيَ بالصَّلاةِ أدبَرَ الشَّيطانُ، لَهُ ضُراطٌ حَتَّىٰ لا يَسْمَعَ التَّأذينَ، فإذا قُضيَ النِّداءُ أقبَلَ، حَتَّىٰ إذَا ثُوِّبَ للصَّلاة أدْبَرَ، حَتَّىٰ إذَا قُضيَ التَّثويبُ أقْبَلَ، حَتَّىٰ يخْطرَ بينَ المَرْء ونفسه، يقولُ: اذْكُرْ كَذا، واذْكُرْ كذا، لما لَمْ يَكُنْ يَذْكُرْ من قبلُ، حَتَّىٰ يظَلَّ الرَّجُل مَا يَدْري كَمْ صَلَّىٰ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila azan dikumandangkan untuk shalat, setan akan lari membelakangi sambil mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar azan. Ketika azan selesai, ia kembali datang. Kemudian ketika iqamah dikumandangkan untuk shalat, ia kembali lari. Ketika iqamah selesai, ia kembali datang hingga membisikkan godaan antara seseorang dan dirinya. Ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu,’ tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai seseorang tidak mengetahui lagi berapa rakaat shalat yang telah ia kerjakan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, 2:84-85, dan Muslim)

Faedah Hadits

  1. Shalat berjemaah tidak boleh dikumpulkan dengan cara apa pun selain azan.
  2. Setan merasa terganggu ketika mendengar azan, sehingga ia lari darinya, padahal ia tidak lari dari selain azan.
  3. Pertarungan antara orang beriman dan setan adalah pertarungan yang terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.
  4. Pertarungan antara orang beriman dan pasukan setan pada dasarnya adalah pertarungan akidah. Setan sangat bersemangat merusak akidah hamba agar mereka tersesat dari jalan yang benar.
  5. Suara kebenaran, apabila terdengar lantang, membuat kebatilan tidak mampu bertahan ketika mendengarnya.
  6. Perang antara orang beriman dan setan merupakan peperangan yang terus berlanjut hingga hari Kiamat.
  7. Setan menggunakan berbagai cara dan jalan untuk menggoda anak Adam. Ia mengetahui hal-hal yang dapat menyibukkan mereka dari ibadah.

Rahasia Besar Setelah Azan: Amalan Ringan Pembuka Syafaat Nabi

Hadits 5/1037

 وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رضي الله عنهما أنه سَمعَ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإنَّهُ مَنْ صلَّىٰ عَلَيَّ صلاةً صَلَّىٰ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ في الجَنَّةِ لا تَنْبَغِي إلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ». رواه مسلم.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah agar memberikan wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah hamba tersebut. Siapa yang memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim)

Hadits 6/1038

 عَنْ أبي سعيد الخُدْريّ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إذَا سمعْتُمُ النِّداءَ فقُولُوا كَمَا يقولُ المُؤذِّنُ». متفق عليه.

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muazin.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits 7/1039

 وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللّهم رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ». رواه البخاري.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

ALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA‘WATIT TAAMMAH, WASH-SHALAATIL QAA’IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADHIILAH, WAB‘ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANILLADZII WA‘ADTAH.

‘Artinya: Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan,’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Hadits 8/1040

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبي وَقَّاصٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَع المُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بالله ربّاً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَبالإسْلامِ دِيناً، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ». رواه مسلم.

Dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang ketika mendengar muazin mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAH, WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUH, RADHIITU BILLAAHI RABBAA, WA BIMUHAMMADIN RASUULAA, WA BIL-ISLAAMI DIINAA.

‘Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosanya diampuni.” (HR. Muslim)

Faedah Hadits

1. Hadits-hadits ini memuat sejumlah sunnah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab-adab syariat yang berkaitan dengan azan, yaitu:

2. Menjawab azan, dengan mengulangi apa yang diucapkan oleh muazin, kecuali ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘alash shalaah” dan “Hayya ‘alal falaah.” Ketika itu, kita mengucapkan kalimat memohon pertolongan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Maksudnya, kami bertekad untuk memenuhi panggilan ini dengan memohon pertolongan kepada-Mu, wahai Rabb.

3. Dianjurkan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan selesai secara langsung.

4. Memohonkan wasilah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu derajat tertinggi di surga. Juga mendoakan beliau agar Allah membangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji, yang seluruh makhluk memuji beliau karenanya. Itulah kedudukan syafaat pada hari Kiamat.

5. Menjaga sunnah-sunnah ini menjadi sebab diampuninya dosa dan sebab untuk meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—–

Kamis, 22 Muharram 1448 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42071-keutamaan-azan-dan-jawabannya-amalan-ringan-berpahala-besar.html