Perlombaan Mengejar Dunia

Ketika anda berlomba mengejar dunia
Anda berada di garis start
Kemudian belari dan pasti ada lelah dan keringat
Terkadang tersandung, terjatuh kemudian tersungkur

Sayangnya perlombaan mengejar dunia
Tidak ada garis finish-nya
Perlombaan mengejar dunia tidak ada ujungnya
Karena sifat manusia tidak akan puas dengan dunia
Barulah penuh setelah mulut terisi tanah (mati)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻻِﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﺍﺩِﻳًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻫَﺐٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺩِﻳَﺎﻥِ ، ﻭَﻟَﻦْ ﻳَﻤْﻸَ ﻓَﺎﻩُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﺘُّﺮَﺍﺏُ ، ﻭَﻳَﺘُﻮﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” ( Muttafaqun ‘alaih)

Semakin ujung jalannya semakin menyempit tak berujung
Apa yang terjadi jika beberapa orang
Berlomba memasuki jalan yang sempit
Mau tidak mau
Pasti saling sikut dan saling menjatuhkan
Agar berada di garis terdepan
Tetapi ia tidak akan pernah juara

Terkadang manusia sudah sampai titik nyaman kehidupan
Gaji sudah cukup besar
Anak-anak sudah sukses
Rumah dan kendaraan sudah ada
Hidup sudah tenang dan nyaman
Tapi karena terus berlomba
Ujung jalan semakin sempit
Hidup terasa susah

Ada saatnya kita berjalan santai saja
Menikmati setelah lelah berlari

Ketauhilah anda bisa juara
Dari perlombaan dunia
Meskipun anda tidak pernah menyalip siapapun
Juara itu dengan qana’ah
Merasa puasa dan ridha dengan karunia Allah

Orang yang diberi qana’ah itulah yang beruntung
Rezeki yang sesungguhnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﻣَﻦْ ﺃَﺳْﻠَﻢَ , ﻭﺭُﺯِﻕَ ﻛَﻔَﺎﻓًﺎ , ﻭَﻗَﻨَّﻌَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap QANA’AH (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya ” (HR. Tirmidzi, Hasan)

Semoga kita semua selalu diberikan rezeki berupa qana’ah

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/perlombaan-mengejar-dunia.html

Kematian yang Tidak Bisa Dihindari

Kematian tak bisa dihindari, tidak mungkin ada yang bisa lari darinya. Namun seribu sayang, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.

Kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Ingatlah …

Tak mungkin seorang pun lari dari kematian …

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

Harus diyakini …

Kematian tak bisa dihindari …

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).

Semua pun tahu …

Tidak ada manusia yang kekal abadi …

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).

Yang pasti …

Allah yang kekal abadi …

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27).

Lalu …

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian …

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163).

Jadilah mukmin yang cerdas …

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 29 Muharram 1435 H (09:48 AM)

Sumber https://rumaysho.com/4773-kematian-yang-tidak-bisa-dihindari.html

Bahaya Mengikuti Syahwat dan Cara Mengendalikannya

Mengapa seseorang sulit meninggalkan maksiat meskipun mengetahui hukumnya? Mengapa pula kenikmatan yang terus dikejar justru sering membuat hati semakin gelisah? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dengan menuruti seluruh keinginan, melainkan dengan ilmu, iman, dan kemampuan mengendalikan syahwat.
Mengenal Syahwat dan Bahayanya
Manusia diciptakan Allah dengan berbagai keinginan. Ada keinginan untuk makan, minum, menikah, memiliki harta, memperoleh kedudukan, dan menikmati kehidupan. Semua itu merupakan bagian dari fitrah manusia.

Namun, masalah muncul ketika keinginan tersebut tidak lagi dikendalikan oleh iman dan ilmu. Seseorang bisa mengetahui bahwa suatu perbuatan dilarang Allah, tetapi tetap melakukannya karena tidak mampu menahan syahwatnya.

Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“(QS. Ali Imran: 14)

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa seluruh keinginan tersebut haram. Justru Islam mengajarkan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui jalan yang halal.

Makan merupakan kebutuhan. Menikah adalah ibadah apabila dilaksanakan sesuai syariat. Memiliki harta juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh pahala.

Yang berbahaya bukanlah keberadaan syahwat, melainkan ketika syahwat menjadi pemimpin dan agama hanya dijadikan pengikut.

Secara bahasa, syahwat (الشَّهْوَةُ) adalah keinginan atau kecenderungan yang kuat terhadap sesuatu yang dianggap menyenangkan.

Dalam pembahasan akhlak dan penyucian jiwa, syahwat yang tercela adalah keinginan yang mendorong seseorang melanggar batasan Allah atau melalaikan kewajibannya.

Syahwat yang Paling Berbahaya: Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan
Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Inilah keadaan yang sangat berbahaya: seseorang mengetahui kebenaran, tetapi lebih memilih keinginan dirinya.

Syahwat yang perlu diwaspadai tidak terbatas pada syahwat seksual. Ada syahwat terhadap harta, jabatan, pujian, popularitas, kekuasaan, dan berbagai kenikmatan dunia.

Di antara bentuk syahwat yang sangat berat fitnahnya adalah ketertarikan seksual yang mengantarkan kepada perbuatan haram.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi kaum laki-laki daripada wanita.”

Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 5096, dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab An-Nikah; dan Muslim, no. 2740, dalam Shahih Muslim, Kitab Ar-Riqaq. Hadis ini sahih dan muttafaq ‘alaih.

Hadis ini secara khusus memperingatkan laki-laki tentang beratnya ujian ketertarikan terhadap perempuan. Bukan berarti perempuan merupakan sumber keburukan, karena laki-laki pun dapat menjadi ujian bagi perempuan.

Karena itu, laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan menjaga pandangan dan kehormatan sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur ayat 30–31.

Dalam kehidupan sekarang, fitnah ini semakin mudah dijumpai melalui layar ponsel. Seseorang tidak perlu keluar rumah untuk melihat sesuatu yang dilarang. Bahkan, ketika sedang sendirian di kamar, berbagai pintu maksiat dapat terbuka melalui media sosial, film, dan tontonan digital.

Pertanyaannya, apakah seseorang akan terus mengikuti keinginannya, atau justru melatih dirinya agar mampu mengendalikan syahwat?

Nasihat Ibnul Qayyim: Orang yang Diperbudak Syahwat Sulit Meraih Ilmu
Dalam Miftah Dar As-Sa’adah, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan salah satu golongan manusia yang terhalang dari tingginya kedudukan ilmu, yaitu mereka yang terlalu sibuk mengejar kenikmatan.

Berikut dua nukilan yang disampaikan secara utuh sesuai teks Arab yang menjadi bahan tulisan ini, disertai terjemahan.

Golongan Ketiga: Pengejar Kenikmatan – Diperbudak Syahwat


الصِّنْفُ الثَّالِثُ: رَجُلٌ نَهْمَتُهُ فِي نَيْلِ لَذَّتِهِ، فَهُوَ مُنْقَادٌ لِدَاعِي الشَّهْوَةِ أَيْنَ كَانَ، وَلَا يَنَالُ دَرَجَةَ وِرَاثَةِ النُّبُوَّةِ مَعَ ذَلِكَ، وَلَا يَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِهَجْرِ اللَّذَّاتِ وَتَطْلِيقِ الرَّاحَةِ.

قَالَ مُسْلِمٌ فِي «صَحِيحِهِ»: «قَالَ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ: لَا يُنَالُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ».

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ: «أَجْمَعَ عُقَلَاءُ كُلِّ أُمَّةٍ أَنَّ النَّعِيمَ لَا يُدْرَكُ بِالنَّعِيمِ، وَمَنْ آثَرَ الرَّاحَةَ فَاتَتْهُ الرَّاحَةُ».

فَمَا لِصَاحِبِ اللَّذَّاتِ وَمَا لِدَرَجَةِ وِرَاثَةِ الْأَنْبِيَاءِ!

فَدَعْ عَنْكَ الْكِتَابَةَ لَسْتَ مِنْهَا … وَلَوْ سَوَّدْتَ وَجْهَكَ بِالْمِدَادِ

فَإِنَّ الْعِلْمَ صِنَاعَةُ الْقَلْبِ وَشُغْلُهُ؛ فَمَا لَمْ يَتَفَرَّغْ لِصِنَاعَتِهِ وَشُغْلِهِ لَمْ يَنَلْهَا، وَلَهُ وِجْهَةٌ وَاحِدَةٌ؛ فَإِذَا وُجِّهَتْ وِجْهَتُهُ إِلَى اللَّذَّاتِ وَالشَّهَوَاتِ انْصَرَفَتْ عَنِ الْعِلْمِ.

وَمَنْ لَمْ تَغْلِبْ لَذَّةُ إِدْرَاكِهِ لِلْعِلْمِ وَشَهْوَتُهُ عَلَى لَذَّةِ جِسْمِهِ وَشَهْوَةِ نَفْسِهِ لَمْ يَنَلْ دَرَجَةَ الْعِلْمِ أَبَدًا، فَإِذَا صَارَتْ شَهْوَتُهُ فِي الْعِلْمِ وَلَذَّتُهُ فِي إِدْرَاكِهِ رُجِيَ لَهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُمْلَةِ أَهْلِهِ.

Golongan ketiga adalah orang yang seluruh keinginannya tertuju pada memperoleh kenikmatan. Ia selalu mengikuti ajakan syahwat ke mana pun syahwat itu mengarah.

Dengan keadaan demikian, ia tidak akan mencapai derajat sebagai pewaris kenabian. Sebab, ilmu tidak dapat diraih kecuali dengan meninggalkan berbagai kenikmatan dan melepaskan diri dari kebiasaan bersantai.

Imam Muslim menyebutkan dalam kitab Shahih-nya perkataan Yahya bin Abi Katsir,

“Ilmu tidak dapat diraih dengan tubuh yang selalu bersantai.”

Ibrahim Al-Harbi juga berkata,

“Orang-orang berakal dari setiap umat telah sepakat bahwa kenikmatan tidak dapat diperoleh dengan terus-menerus menikmati kesenangan. Siapa yang lebih mengutamakan istirahat, justru akan kehilangan kesempatan memperoleh ketenangan.”

Lantas, bagaimana mungkin orang yang hanya mengejar kenikmatan dapat mencapai kedudukan sebagai pewaris para nabi?

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair,

“Tinggalkanlah kegiatan menulis, karena engkau bukan termasuk ahlinya, meskipun engkau telah menghitamkan wajahmu dengan tinta.”

Sesungguhnya ilmu merupakan pekerjaan dan kesibukan hati. Selama hati tidak menyediakan dirinya untuk pekerjaan tersebut, seseorang tidak akan memperoleh ilmu sebagaimana mestinya.

Hati hanya memiliki satu arah perhatian yang utama. Apabila seluruh perhatiannya diarahkan kepada kenikmatan dan syahwat, perhatiannya akan berpaling dari ilmu.

Siapa yang kenikmatan memahami ilmu dan keinginannya untuk memperoleh ilmu tidak mampu mengalahkan kenikmatan jasmani serta syahwat dirinya, ia tidak akan mencapai derajat ilmu yang tinggi.

Namun, apabila keinginannya telah tertuju kepada ilmu dan kenikmatannya terletak pada memahami ilmu, diharapkan ia termasuk golongan orang yang benar-benar berilmu.

Pelajaran penting:

Ibnul Qayyim tidak sedang mengharamkan seluruh kesenangan. Beliau sedang menjelaskan bahwa untuk memperoleh sesuatu yang mulia, seseorang harus bersedia mengorbankan sebagian kesenangan yang lebih rendah.

Seorang penuntut ilmu tidak mungkin berhasil apabila seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain, menonton, bersantai, dan mengikuti berbagai keinginan.

Nasihat ini sangat relevan bagi generasi muda. Ada yang sanggup menghabiskan berjam-jam untuk melihat video pendek, tetapi merasa berat membaca Al-Qur’an selama beberapa menit. Ada pula yang mampu mengikuti serial film hingga larut malam, tetapi mengantuk ketika mengikuti kajian.

Masalahnya bukan semata-mata kekurangan waktu, melainkan ke mana hati mengarahkan perhatian dan kesenangannya.

Tiga Jenis Kenikmatan Menurut Ibnul Qayyim
Imam Ibnul Qayyim melanjutkan pembahasannya dengan membedakan tiga bentuk kenikmatan, yaitu kenikmatan ruhani, kenikmatan jasmani, dan kenikmatan yang bersifat setani.

وَلَذَّةُ الْعِلْمِ لَذَّةٌ عَقْلِيَّةٌ رُوحَانِيَّةٌ مِنْ جِنْسِ لَذَّةِ الْمَلَائِكَةِ، وَلَذَّةُ شَهَوَاتِ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ وَالنِّكَاحِ لَذَّةٌ حَيَوَانِيَّةٌ يُشَارِكُ الْإِنْسَانَ فِيهَا الْحَيَوَانَ، وَلَذَّةُ الشَّرِّ وَالظُّلْمِ وَالْفَسَادِ وَالْعُلُوِّ فِي الْأَرْضِ شَيْطَانِيَّةٌ يُشَارِكُ صَاحِبَهَا فِيهَا إِبْلِيسُ وَجُنُودُهُ.

وَسَائِرُ اللَّذَّاتِ تَبْطُلُ بِمُفَارَقَةِ الرُّوحِ الْبَدَنَ، إِلَّا لَذَّةُ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، فَإِنَّهَا تَكْمُلُ بَعْدَ الْمُفَارَقَةِ؛ لِأَنَّ الْبَدَنَ وَشَوَاغِلَهُ كَانَ يَنْقُصُهَا وَيُقَلِّلُهَا وَيَحْجُبُهَا، فَإِذَا انْطَوَتِ الرُّوحُ عَنِ الْبَدَنِ التَذَّتْ لَذَّةً كَامِلَةً بِمَا حَصَّلَتْهُ مِنَ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ؛ فَمَنْ طَلَبَ اللَّذَّةَ الْعُظْمَى، وَآثَرَ النَّعِيمَ الْمُقِيمَ، فَهُوَ فِي الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ اللَّذَيْنِ بِهِمَا كَمَالُ سَعَادَةِ الْإِنْسَانِ.

وَأَيْضًا؛ فَإِنَّ تِلْكَ اللَّذَّاتِ سَرِيعَةُ الزَّوَالِ، وَإِذَا انْقَضَتْ أَعْقَبَتْ هَمًّا وَغَمًّا وَأَلَمًا يَحْتَاجُ صَاحِبُهَا أَنْ يُدَاوِيَهُ بِمِثْلِهَا دَفْعًا لِأَلَمِهِ، وَرُبَّمَا كَانَ مُعَاوَدَتُهُ لَهَا مُؤْلِمًا لَهُ كَرِيهًا إِلَيْهِ، لَكِنْ يَحْمِلُهُ عَلَيْهِ مُدَاوَاةُ ذَلِكَ الْغَمِّ وَالْهَمِّ.

فَأَيْنَ هَذَا مِنْ لَذَّةِ الْعِلْمِ، وَلَذَّةِ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ، وَمَحَبَّتِهِ، وَالْإِقْبَالِ عَلَيْهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِذِكْرِهِ؟! فَهَذِهِ هِيَ اللَّذَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ.

Kenikmatan ilmu merupakan kenikmatan akal dan ruhani yang sejenis dengan kenikmatan para malaikat.

Adapun kenikmatan syahwat berupa makan, minum, dan hubungan suami istri merupakan kenikmatan jasmani yang juga dirasakan oleh hewan.

Sementara itu, kenikmatan melakukan kejahatan, kezaliman, kerusakan, dan kesombongan di muka bumi merupakan kenikmatan setani. Orang yang menikmatinya memiliki kesamaan dengan Iblis dan bala tentaranya dalam hal tersebut.

Seluruh kenikmatan lainnya akan terputus ketika ruh berpisah dari badan, kecuali kenikmatan ilmu dan iman. Kenikmatan keduanya justru menjadi sempurna setelah perpisahan tersebut.

Hal itu karena badan beserta berbagai kesibukannya dahulu dapat mengurangi, membatasi, dan menghalangi kenikmatan ilmu dan iman.

Ketika ruh telah berpisah dari badan, ruh akan merasakan kenikmatan yang sempurna berkat ilmu bermanfaat dan amal saleh yang telah diperolehnya.

Oleh karena itu, siapa yang mencari kenikmatan paling agung dan lebih memilih kebahagiaan yang abadi, hendaklah ia mencarinya melalui ilmu dan iman. Dengan keduanya, kebahagiaan manusia mencapai kesempurnaannya.

Selain itu, berbagai kenikmatan tersebut cepat sekali menghilang. Ketika telah berlalu, terkadang kenikmatan itu meninggalkan kegelisahan, kesedihan, dan penderitaan.

Orang yang mengalaminya kemudian merasa perlu mengobati penderitaan tersebut dengan kembali mencari kenikmatan serupa.

Bahkan, terkadang mengulangi kenikmatan tersebut justru terasa menyakitkan dan tidak disukainya. Namun, ia tetap melakukannya karena ingin menghilangkan kegelisahan dan kesedihan yang dirasakannya.

Lantas, bagaimana mungkin kenikmatan seperti itu dibandingkan dengan kenikmatan ilmu, kenikmatan beriman kepada Allah, mencintai-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan merasakan keindahan berzikir kepada-Nya?

Inilah kenikmatan yang sesungguhnya.

Memahami tiga kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari
Jenis kenikmatan Contoh Penilaian
Ruhani (رُوحَانِيَّةٌ) Ilmu bermanfaat, iman, zikir, cinta kepada Allah Kenikmatan mulia yang mendekatkan kepada Allah
Jasmani (حَيَوَانِيَّةٌ) Makan, minum, hubungan suami istri Pada asalnya boleh, bahkan dapat bernilai ibadah
Setani (شَيْطَانِيَّةٌ) Kezaliman, kesombongan, kerusakan, menikmati kemaksiatan Kenikmatan tercela yang harus dijauhi
Istilah hayawaniyyah dalam perkataan Ibnul Qayyim bukan berarti makan, minum, atau hubungan suami istri merupakan perbuatan hina. Maksudnya, kenikmatan tersebut juga dimiliki makhluk hidup selain manusia.

Seorang muslim bahkan memperoleh pahala dari hubungan intim dengan pasangan yang sah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Pada hubungan intim salah seorang di antara kalian terdapat sedekah.”

Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 1006, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih.

Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan seluruh keinginan jasmaninya. Islam justru mengajarkan agar keinginan tersebut ditempatkan pada jalan yang benar.

Kenikmatan yang rendah dapat menjadi ibadah apabila ditempuh secara halal dengan niat yang benar. Sebaliknya, kenikmatan yang dikejar melalui jalan haram dapat menjadi sebab rusaknya hati.

Syahwat dan Syubhat: Dua Penyakit yang Merusak Hati
Syahwat dan syubhat sama-sama dapat menjerumuskan manusia, tetapi keduanya memiliki cara kerja yang berbeda.

Aspek Syahwat (الشَّهْوَةُ) Syubhat (الشُّبْهَةُ)
Pengertian Keinginan yang mendorong seseorang mengikuti hawa nafsu Kerancuan yang mengaburkan kebenaran
Bagian yang terutama terganggu Kemauan dan pengendalian diri Pemahaman dan keyakinan
Contoh Mengetahui zina haram, tetapi tetap mendekatinya Menganggap zina halal karena penafsiran agama yang keliru
Penyembuhan utama Takwa, sabar, mujahadah, tobat Ilmu yang benar, dalil, dan bimbingan ulama
Perbedaan ini penting karena seseorang dapat mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengamalkannya. Sebaliknya, ada pula orang yang ingin beribadah, tetapi keliru karena tidak memahami tuntunan agama.

Ibnul Qayyim: Hati Diserang Dua Pasukan Kebatilan
Dalam Miftah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim menjelaskan,

وَالْقَلْبُ يَتَوَارَدُهُ جَيْشَانِ مِنَ الْبَاطِلِ: جَيْشُ شَهَوَاتِ الْغَيِّ، وَجَيْشُ شُبُهَاتِ الْبَاطِلِ.

“Hati didatangi dua pasukan kebatilan: pasukan syahwat yang menjerumuskan kepada penyimpangan dan pasukan syubhat yang membawa kebatilan.”

Beliau melanjutkan,

فَأَيُّمَا قَلْبٍ صَغَا إِلَيْهَا، وَرَكَنَ إِلَيْهَا، تَشَرَّبَهَا وَامْتَلَأَ بِهَا.

“Hati mana pun yang condong dan bersandar kepada keduanya akan menyerapnya hingga dipenuhi oleh keduanya.”

Rujukan: Ibnul Qayyim, Miftah Dar As-Sa’adah, jilid 1, sekitar hlm. 140 dalam edisi yang dirujuk IslamQA.

Ini memberikan pelajaran bahwa syahwat dan syubhat sama-sama berbahaya karena keduanya dapat merusak hati dari arah yang berbeda.

Orang yang terkena syahwat bisa berkata, “Saya tahu ini dosa, tetapi sulit sekali meninggalkannya.”

Sementara itu, orang yang terkena syubhat bisa berkata, “Saya yakin perbuatan ini benar,” padahal keyakinannya dibangun di atas pemahaman yang keliru.

Bahkan, keduanya dapat berkumpul pada satu orang. Ia mula-mula mengikuti syahwat, kemudian mencari-cari pembenaran agama untuk mempertahankan perbuatannya.

Hadis tentang fitnah yang menghitamkan hati
Rasulullah ﷺ bersabda,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ.

“Berbagai fitnah akan dihadapkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu. Hati mana pun yang menyerapnya akan diberi satu titik hitam. Adapun hati yang mengingkarinya akan diberi satu titik putih.”

Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 144, dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih. Lafaz di atas merupakan bagian awal hadis yang lebih panjang.

Hadis ini menunjukkan bahwa membiarkan fitnah terus memasuki hati bukanlah perkara ringan.

Semakin sering seseorang menikmati kemaksiatan tanpa bertobat, semakin besar bahaya kerusakan hatinya.

Namun, seseorang yang menolak fitnah dan terus berusaha menjaga ketaatan akan memperoleh kebaikan dengan pertolongan Allah.

Nasihat Ibnul Qayyim: Hati Harus Diobati dari Syahwat dan Syubhat
Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan nasihat yang sangat menyentuh.

الْعَجَبُ مِمَّنْ تَعْرِضُ لَهُ حَاجَةٌ فَيَصْرِفُ رَغْبَتَهُ وَهِمَّتَهُ فِيهَا إِلَى اللَّهِ لِيَقْضِيَهَا لَهُ، وَلَا يَتَصَدَّى لِلسُّؤَالِ لِحَيَاةِ قَلْبِهِ مِنْ مَوْتِ الْجَهْلِ وَالْإِعْرَاضِ، وَشِفَائِهِ مِنْ دَاءِ الشَّهَوَاتِ وَالشُّبُهَاتِ، وَلَكِنْ إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ لَمْ يَشْعُرْ بِمَعْصِيَتِهِ.

“Sungguh mengherankan orang yang ketika memiliki suatu kebutuhan, ia mengarahkan keinginan dan kesungguhannya kepada Allah agar Allah memenuhi kebutuhannya. Namun, ia tidak bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar hatinya dihidupkan dari kematian akibat kebodohan dan berpaling dari kebenaran, serta disembuhkan dari penyakit syahwat dan syubhat. Padahal, apabila hati telah mati, seseorang tidak lagi merasakan buruknya kemaksiatan yang dilakukannya.”

Sumber: Ibnul Qayyim, Al-Fawaid, hlm. 112 menurut edisi yang dikutip IslamQA.

Perkataan ini mengandung pelajaran yang sangat penting.

Betapa sering manusia memohon kepada Allah agar diberikan harta, pekerjaan, pasangan, rumah, atau kesembuhan dari penyakit.

Namun, berapa sering ia secara sungguh-sungguh memohon agar Allah menyembuhkan hatinya dari keinginan melakukan maksiat?

Padahal, sakitnya badan hanya berkaitan dengan kehidupan dunia, sedangkan rusaknya hati dapat membahayakan kehidupan dunia dan akhirat.

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya berdoa agar urusan dunianya dimudahkan, tetapi juga memohon agar Allah membersihkan hatinya dari syahwat yang haram dan syubhat yang menyesatkan.

Dalam kitab Risalah Ibn Al-Qayyim ila Ahad Ikhwanih, beliau mengatakan:

وَجَمَعَ سُبْحَانَهُ بَيْنَ الصَّبْرِ وَالْيَقِينِ؛ إِذْ هُمَا سَعَادَةُ الْعَبْدِ، وَفَقْدُهُمَا يُفْقِدُهُ سَعَادَتَهُ، فَإِنَّ الْقَلْبَ تَطْرُقُهُ طَوَارِقُ الشَّهَوَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِأَمْرِ اللَّهِ، وَطَوَارِقُ الشُّبُهَاتِ الْمُخَالِفَةِ لِخَبَرِهِ، فَبِالصَّبْرِ يَدْفَعُ الشَّهَوَاتِ، وَبِالْيَقِينِ يَدْفَعُ الشُّبُهَاتِ.

“Allah menggabungkan antara kesabaran dan keyakinan karena keduanya merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba. Kehilangan keduanya berarti kehilangan kebahagiaannya.

Sesungguhnya hati dapat didatangi berbagai godaan syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya.

Dengan kesabaran, seseorang dapat menolak syahwat. Dengan keyakinan, seseorang dapat menolak syubhat.”

Referensi: Ibnul Qayyim, Risalah Ibn Al-Qayyim ila Ahad Ikhwanih, hlm. 18–19, terbitan ‘Atha’at Al-‘Ilm.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Ayat ini menggabungkan dua sifat:

الصَّبْرُ (Ash-Shabr): Kesabaran untuk menjalankan ketaatan dan menahan diri dari syahwat yang haram.

الْيَقِينُ (Al-Yaqin): Keyakinan terhadap kebenaran wahyu sehingga seseorang tidak mudah terpengaruh syubhat.

Ilmu yang benar menjadi landasan untuk mencapai keyakinan tersebut. Namun, sekadar mengetahui hukum belum tentu cukup untuk mengalahkan syahwat. Seseorang juga membutuhkan kesabaran untuk mengamalkan pengetahuannya.

Cara Mengendalikan Syahwat pada Zaman Gadget dan Media Sosial
Menjaga diri dari syahwat merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

Terutama pada zaman ketika berbagai tontonan dapat diakses dengan mudah melalui ponsel pribadi. Seorang muslim perlu memiliki langkah nyata untuk menjaga dirinya.

  1. Menjaga pandangan sebelum syahwat semakin menggelora
    Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Pada ayat berikutnya, Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatannya.

Perhatikan bahwa perintah menjaga pandangan disebutkan sebelum menjaga kemaluan.

Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga pintu-pintu yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram.

Dalam praktik penggunaan gadget, menjaga pandangan dapat dilakukan dengan tidak mengikuti akun yang menampilkan aurat, tidak mencari tontonan yang membangkitkan syahwat, dan segera meninggalkan konten yang tidak pantas.

Seseorang tidak seharusnya terus menguji kekuatan imannya dengan sengaja melihat sesuatu yang dilarang.

  1. Jangan mendekati zina, termasuk pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya
    Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Allah tidak sekadar melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang mendekatinya.

Oleh karena itu, seorang muslim perlu menjauhi berbagai sarana yang secara nyata dapat mengantarkannya kepada zina.

Misalnya, sengaja menikmati pornografi, membangun komunikasi intim yang tidak pantas dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah, atau melakukan pertemuan berduaan yang dilarang syariat.

Bagi generasi muda, komunikasi digital pun harus dijaga. Percakapan yang awalnya biasa dapat berkembang menjadi hubungan yang melanggar batasan agama apabila tidak dikendalikan.

  1. Berpuasa ketika belum mampu menikah
    Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah. Sesungguhnya menikah lebih membantu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa menjadi pengendali syahwat baginya.”

Takhrij hadis: HR. Al-Bukhari, no. 5066, dan Muslim, no. 1400, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih, muttafaq ‘alaih.

Hadis ini memberikan dua solusi penting, yaitu menikah bagi yang telah mampu dan berpuasa bagi yang belum mampu.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga melatih seseorang untuk mengendalikan keinginan dirinya.

  1. Membatasi penggunaan gadget dan memilih tontonan
    Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh muslimah maupun Gen-Z.

Menghapus atau berhenti mengikuti akun yang sering menampilkan konten tidak pantas.

Mengaktifkan penyaringan konten dan pembatasan aplikasi.

Menghindari kebiasaan menggunakan ponsel sendirian hingga larut malam untuk menonton konten yang menggoda.

Mengganti waktu menonton yang berlebihan dengan membaca, belajar, berolahraga, dan kegiatan bermanfaat.

Memilih lingkungan pertemanan yang membantu menjaga agama dan kehormatan.

Langkah-langkah ini merupakan penerapan praktis dari perintah menjaga pandangan dan menjauhi jalan menuju maksiat, bukan aturan khusus yang masing-masing disebutkan secara langsung dalam hadis.

Yang perlu dipahami, mengendalikan syahwat tidak cukup hanya dengan menahan keinginan ketika godaan sudah memuncak. Seseorang juga harus mengurangi sebab-sebab yang membangkitkan keinginan tersebut.

  1. Mengisi hati dengan ilmu dan iman
    Dalam pembahasan sebelumnya, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ilmu merupakan pekerjaan hati.

Apabila perhatian hati terus diarahkan kepada syahwat dan kenikmatan, seseorang akan semakin sulit memberikan perhatian kepada ilmu.

Karena itu, salah satu cara memperbaiki diri adalah membangun kesenangan baru yang lebih bermanfaat.

Biasakan membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, menghafal hadis, mempelajari agama, dan bergaul dengan orang-orang saleh.

Tujuannya bukan sekadar membuat jadwal menjadi padat, melainkan mengarahkan hati agar semakin mencintai kebaikan.

  1. Memperbanyak doa agar hati dijaga Allah
    Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa seorang pemuda pernah datang kepada Rasulullah ﷺ meminta izin untuk berzina.

Nabi ﷺ tidak membenarkan keinginannya. Beliau memberikan nasihat yang menyentuh akalnya, kemudian mendoakannya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ.

“Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Takhrij hadis: HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh para peneliti Musnad Ahmad dan Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah. Lihat pembahasan IslamQA no. 302793.

Doa ini sangat baik diamalkan ketika seseorang ingin menjaga kesucian hatinya.

Hadis tersebut juga mengajarkan bahwa orang yang sedang bergumul dengan syahwat membutuhkan nasihat, pendidikan, dan doa, bukan sekadar celaan.

Bagaimana Muslimah Menjaga Diri dari Syahwat?
Muslimah menghadapi berbagai ujian yang terkadang berbeda bentuknya dengan ujian laki-laki.

Ada ujian dalam menjaga pandangan, hubungan dengan lawan jenis, keinginan mendapatkan perhatian, kecenderungan membandingkan kehidupan dengan orang lain, serta godaan menampilkan sesuatu yang seharusnya dijaga.

Tidak setiap keinginan untuk tampil cantik, dicintai, atau diperhatikan merupakan perbuatan tercela. Namun, keinginan tersebut harus dikendalikan agar tidak membawa kepada perkara yang dilarang.

Di antara bentuk penjagaan diri adalah menjaga aurat, membatasi interaksi yang tidak diperlukan dengan lawan jenis, tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan hidup, dan tidak menggantungkan harga diri pada pujian manusia.

Bagi muslimah yang belum menikah, menjaga kehormatan merupakan bagian dari ibadah. Bagi yang sudah menikah, menjaga kehormatan juga mencakup memelihara kesetiaan dan batasan hubungan dengan selain pasangan.

Semua itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, bukan sekadar upaya menjaga penilaian manusia.

Kenikmatan Syahwat Itu Sementara, Kenikmatan Iman Lebih Mulia
Rasulullah ﷺ bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ.

“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.”

Takhrij hadis: HR. Muslim, no. 2822, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih. Hadis semakna juga diriwayatkan Al-Bukhari, no. 6487, dengan lafaz yang berbeda.

Hadis ini mengingatkan bahwa tidak semua hal yang menyenangkan akan membawa kebaikan.

Ada kesenangan yang harus ditinggalkan karena mengantarkan kepada neraka. Ada pula amalan yang terasa berat, tetapi menjadi jalan menuju surga.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ayat ini memberikan harapan besar bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan syahwat.

Seseorang mungkin merasa berat meninggalkan kebiasaan buruk. Ia mungkin harus berulang kali melatih dirinya agar tidak kembali kepada perbuatan yang dilarang.

Namun, kesungguhan menahan diri karena takut kepada Allah merupakan bagian dari jalan menuju surga.

Dari Menahan Syahwat di Dunia Menuju Kebahagiaan di Akhirat
Pembahasan ini memiliki hubungan yang indah dengan firman Allah dalam Surah Al-Insan.

Allah menggambarkan orang-orang beriman yang takut kepada hari kiamat.

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

“Sesungguhnya kami takut akan azab Tuhan kami pada suatu hari yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan: 10)

Kemudian Allah berfirman,

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

“Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (QS. Al-Insan: 11)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وَلَقَّاهُمْ أَيْ: أَكْرَمَهُمْ وَأَعْطَاهُمْ نَضْرَةً فِي وُجُوهِهِمْ وَسُرُورًا فِي قُلُوبِهِمْ، فَجَمَعَ لَهُمْ بَيْنَ نَعِيمِ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ.

“Allah memuliakan mereka dan memberikan keceriaan pada wajah mereka serta kegembiraan dalam hati mereka. Dengan demikian, Allah mengumpulkan bagi mereka kenikmatan lahir dan batin.”

Sumber: Tafsir As-Sa’di, QS. Al-Insan: 11.

Kemudian Allah menyebutkan balasan atas kesabaran mereka,

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia memberikan balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutra.” (QS. Al-Insan: 12)

Rangkaian ayat ini memberikan pelajaran bahwa kesabaran dalam menaati Allah, menjauhi maksiat, dan menghadapi ujian memiliki balasan yang sangat agung.

Di dunia, seseorang mungkin harus menahan pandangannya dari sesuatu yang menarik. Ia mungkin harus meninggalkan hubungan yang dilarang, menjauhi tontonan yang membangkitkan syahwat, atau mengorbankan sebagian waktu istirahat untuk menuntut ilmu.

Namun, semua pengorbanan tersebut tidaklah sia-sia apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Allah.

Inilah yang sejalan dengan penjelasan Ibnul Qayyim bahwa kenikmatan ilmu, iman, cinta kepada Allah, dan mengingat-Nya jauh lebih mulia daripada kenikmatan syahwat yang sementara.

Penutup: Jangan Menukar Kenikmatan Abadi dengan Kesenangan Sesaat
Syahwat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak memerintahkan kita menghilangkan seluruh keinginan, tetapi mengajarkan agar keinginan itu dikendalikan dengan iman dan ilmu.

Seseorang yang berhasil mengendalikan syahwatnya bukan berarti tidak pernah tergoda. Ia tetap manusia yang memiliki keinginan, tetapi berusaha mendahulukan keridaan Allah daripada kesenangan sesaat.

Nasihat Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ilmu dan iman memberikan kenikmatan yang jauh lebih mulia daripada sekadar kesenangan jasmani.

Karena itu, jangan sampai waktu, pikiran, dan hati kita dihabiskan hanya untuk mengejar sesuatu yang segera berlalu.

Jangan biarkan syahwat menentukan arah hidup kita. Jadikan ilmu sebagai penerang, iman sebagai kekuatan, dan keridaan Allah sebagai tujuan.

Semoga Allah menjaga hati kita dari syahwat yang menyesatkan dan syubhat yang merusak keyakinan.

Wallahu a’lam.

—

Ditulis pada Senin pagi, 7 Jumadal Ula 1448 H, 19 Oktober 2026, di perjalanan menuju Masjid RS JIH (Khadijah Community) dari Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42924-bahaya-mengikuti-syahwat-dan-cara-mengendalikannya.html

Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin

Barangsiapa yang mendapatkan taufik Allah saat mendapatkan musibah,dengan cara merealisasikan empat pedoman hidup di atas ,sembari memuji Allah, maka musibah yang menimpanya menjadi kebaikan dan keberkahan baginya, dan sesungguhnya dalam kamus hidup seorang Mukmin, semua urusannya adalah kebaikan baginya.

Bagi seorang Mukmin, tertimpa musibah dan mendapatkan kesenangan adalah sama-sama baik akibatnya, karena keduanya merupakan ujian. Sebagaimana suatu musibah, jika dihadapi dengan sabar, itu adalah kebaikan dan sebab pahala. Maka demikian pula kesenangan, jika dihadapi dengan syukur, itu juga kebaikan yang diiringi pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim, shahih).

✒️ Ustadz Sa’id Abu Ukasyah, hafizhahullah⁠

sumber: https://radiomuslim.com/sungguh-menakjubkan-urusan-seorang-mukmin/

Nikmat Surga bagi Orang Bertakwa: Gambaran Keindahan Surga dalam Islam

(Tadabbur QS an Naba: 31-36)

Para pembaca yang dimuliakan Allah, dalam Al Qur’an Allah ta’ala banyak menyebutkan tentang surga dan menjelaskan dengan detail kenikmatan di dalamnya. Di antara hikmahnya, agar seorang mukmin termotivasi melakukan berbagai macam amal shalih untuk mendapatkan surga dan kenikmatannya.

Seperti yang Allah sebutkan di akhir-akhir surat an Naba. Allah ta’ala berfirman:

{ إِنَّ لِلۡمُتَّقِینَ مَفَازًا (31) حَدَاۤىِٕقَ وَأَعۡنَـٰبࣰا (32) وَكَوَاعِبَ أَتۡرَابࣰا (33) وَكَأۡسࣰا دِهَاا (34) لَّا یَسۡمَعُونَ فِیهَا لَغۡوࣰا وَلَا كِذَّ ٰ⁠بࣰا (35) جَزَاۤءࣰ مِّن رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابࣰا (36) }

“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montok yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun (perkataan dusta). Sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu”. [QS An-Nabaʾ: 31-36]

Dalam rangkaian ayat ini, Allah sebutkan nikmat surga dengan bermacam bentuknya. Masing-masing nikmat tersebut mewakili kenikmatan yang luar biasa. Insya Allah kita akan membahasnya dalam artikel ini.

BALASAN BAGI YANG BERTAKWA

Allah berfirman

{ إِنَّ لِلۡمُتَّقِینَ مَفَازًا

“Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan,” (QS an Naba: 31)

Allah menyebutkan di ayat ini bahwa orang-orang yang bertaqwa akan mendapatkan balasan berupa tempat yang layak untuk orang-orang yang sukses, yaitu surga.

Aa Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

أي: الذين اتقوا سخط ربهم، بالتمسك بطاعته، والانكفاف عما يكرهه فلهم مفاز ومنجي، وبعد عن النار.

“Yaitu orang-orang yang takut kemurkaan Rabb mereka dengan senantiasa taat padaNya dan menjaga diri dari apa-apa yang Dia benci, maka akan mendapat tempat kesuksesan dan keberhasilan dan jauh dari neraka” (Tafsir as Sa’di)

Dalam tafsir Al Mukhtasar dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah surga:

إن للمتقين ربهم بامتثال أوامره واجتناب نواهيه، مكانَ فوزٍ يفوزون فيه بمطلوبهم وهو الجنة.

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, tersedia tempat kemenangan, yang di dalamnya mereka memperoleh apa yang mereka inginkan, yaitu surga.” (Tafsir Al Mukhtasar)

Ayat ini juga menunjukkan bahwa surga itu tidak didapat dengan santai-santai, namun didapatkan dengan perjuangan berupa ketakwaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من خافَ أدلَجَ ، ومن أدلَجَ بلغَ المنزلَ ، ألا إنَّ سلعةَ اللَّهِ غاليةٌ ، ألا إنَّ سلعةَ اللَّهِ الجنَّةُ

“Barangsiapa yang takut, ia akan berangkat di awal malam. Dan barangsiapa yang berangkat di awal malam, ia akan sampai ke tempat tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.” (HR at Tirmidzi, dishahihkan Al Albani)

SUASANA & MAKANAN SURGA

Allah ta’ala berfirman:

حَدَاۤىِٕقَ وَأَعۡنَـٰبࣰا

“(yaitu) kebun-kebun dan buah anggur” (QS an Naba: 32)

Al Baghawi rahimahullah berkata: يُرِيدُ أَشْجَارَ الْجَنَّةِ وَثِمَارَهَا.

“Maksudnya pohon-pohon surga adalah taman dan buahnya adalah anggur” (Tafsir Al Baghawi)

Ibnu Asyur rahimahullah menjelaskan lebih detail:

والحَدائِقُ: جَمْعُ حَدِيقَةٍ وهي الجَنَّةُ مِنَ النَّخِيلِ والأشْجارِ ذَواتِ السّاقِ المَحُوطَةِ بِحائِطٍ أوْ جِدارٍ أوْ حَضائِرَ. والأعْنابُ: جَمْعُ عِنَبٍ وهو اسْمٌ يُطْلَقُ عَلى شَجَرَةِ الكَرْمِ ويُطْلَقُ عَلى ثَمَرِها.

“Al-hadaa’iq (الحدائق) adalah bentuk jamak dari hadīqah (حديقة), yaitu kebun yang ditanami pohon-pohon kurma dan pepohonan yang memiliki batang, yang dikelilingi oleh pagar, tembok, atau pembatas.

Sedangkan al-a‘naab (الأعناب) adalah bentuk jamak dari ‘inab (عنب), yaitu kata yang digunakan untuk menyebut pohon anggur, dan juga digunakan untuk menyebut buah anggur.”

Ini semua menggambarkan bagaimana indahnya suasana surga, berada di taman-taman yang indah dan membuat hati merasa tenang dan nyaman. Dari masa ke masa, manusia menamai tempat-tempat wisata dan healing dengan “taman”, bahkan komplek perumahan pun banyak disebut dengan “taman”, untuk menunjukkan keindahan & kenyamanan tempat tersebut.

Adapun anggur dan pohonnya adalah di antara buah yang disebut di surga. Di dunia, kita tahu buah anggur memiliki berbagai kelebihan. Rasanya segar, mudah dimakan, mudah dipetik dan mengandung banyak vitamin. Adapun anggur di surga, tentu jauh lebih baik daripada anggur dunia.

{ وَبَشِّرِ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُۖ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةࣲ رِّزۡقࣰا قَالُوا۟ هَـٰذَا ٱلَّذِی رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهࣰاۖ وَلَهُمۡ فِیهَاۤ أَزۡوَ ٰ⁠جࣱ مُّطَهَّرَةࣱۖ وَهُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ }

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” [QS Al-Baqarah: 25]

TEMAN HIDUP DI SURGA

Allah ta’ala berfirman:

وَكَوَاعِبَ أَتۡرَابࣰا (33)

“dan gadis-gadis montok yang sebaya” (QS an Naba: 33)

Setelah menyebutkan tentang keindahan dan makanan surga, untuk lebih menyempurnakan kenikmatan, Allah sebutkan pula pendamping di surga berupa gadis-gadis yang menarik dan berumur sebaya.

Ath Thabari rahimahullah berkata menafsirkan ayat ini:

يقول: ونواهد في سنّ واحدة.

“Maknanya: wanita yang besar dadanya dan berumur sebaya.” (Tafsir ath Thabari)

Berapa umur penduduk surga? Dalam satu hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يدخل أهل الجنة الجنة جرداً مرداً مكحلين أبناء ثلاثين أو ثلاث وثلاثين سنة

“Penduduk surga akan masuk ke dalam surga dalam keadaan kulit yang mulus, tidak berbulu, bercelak, dan berusia 30 atau 33 tahun.” (HR Tirmidzi, dishahihkan Al Albani)

SIAPA PASANGAN WANITA PENGHUNI SURGA?

Kalau laki-laki mendapatkan pasangan yang cantik di surga, maka bagaimana dengan wanita penduduk surga, siapa yang menemaninya? Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya bagaimana pasangan para wanita di surga? Beliau rahimahullah menjawab:

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman tentang kenikmatan penghuni surga:

وَلَكُمۡ فِیهَا مَا تَشۡتَهِیۤ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِیهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلࣰا مِّنۡ غَفُورࣲ رَّحِیمࣲ (32) }

“Dan bagi kalian di dalamnya apa saja yang kalian inginkan, dan bagi kalian di dalamnya apa saja yang kalian minta, sebagai hidangan dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 31, 32)

Allah Ta‘ala juga berfirman:

وَفِیهَا مَا تَشۡتَهِیهِ ٱلۡأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلۡأَعۡیُنُۖ وَأَنتُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ }

“Dan di dalamnya terdapat apa saja yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyejukkan pandangan, dan kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)

Sudah diketahui bahwa pernikahan merupakan salah satu kenikmatan yang paling diinginkan oleh manusia. Karena itu, pernikahan juga terdapat di surga bagi para penghuni surga, baik laki-laki maupun perempuan.

Seorang wanita akan dinikahkan oleh Allah ta‘ala di surga dengan suaminya ketika di dunia. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:

{ رَبَّنَا وَأَدۡخِلۡهُمۡ جَنَّـٰتِ عَدۡنٍ ٱلَّتِی وَعَدتَّهُمۡ وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَاۤىِٕهِمۡ وَأَزۡوَ ٰ⁠جِهِمۡ وَذُرِّیَّـٰتِهِمۡۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ }

“Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Mukmin: 8)

Jika seorang wanita memiliki 2 orang suami ketika di dunia, maka pada hari kiamat ia diberi pilihan di antara keduanya untuk menjadi suaminya di surga.

Adapun jika seorang wanita tidak pernah menikah di dunia, maka Allah Ta‘ala akan menikahkannya dengan seseorang yang dengannya ia memperoleh ketentraman dan kesejukan pandangan di surga.

Jadi, kenikmatan di surga tidak hanya untuk laki-laki, tetapi juga untuk laki-laki dan perempuan. Salah satu bentuk kenikmatan tersebut adalah pernikahan.

Namun, mungkin ada yang bertanya: “Allah Ta‘ala menyebutkan hur ‘ain (bidadari) sebagai pasangan bagi laki-laki, tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan pasangan bagi para wanita?”

Maka kita jawab: Allah menyebutkan para pasangan wanita untuk para lelaki karena laki-lakilah yang menjadi pihak yang mencari dan menginginkan wanita. Oleh karena itu, pasangan wanita disebutkan ketika berbicara tentang laki-laki di surga, sementara pasangan laki-laki bagi wanita tidak disebutkan secara khusus.

Namun, bukan berarti para wanita tidak memiliki suami. Mereka juga akan memiliki suami dari kalangan manusia (Bani Adam).

Ditulis oleh Ustadz : Amrullah Akadhinta, S.T.

sumber: https://bimbinganislam.com/nikmat-surga-bagi-orang-bertakwa-gambaran-keindahan-surga-dalam-islam/

Kesyirikan yang Mengancam Akal

Besarnya gelombang informasi membawa berbagai macam pemikiran ke kehidupan kita. Ada yang membersihkan dan memperbaiki, tetapi ada juga yang mengotori bahkan meracuni. Tak jarang dari tren pemikiran itu justru bertentangan dengan Islam bahkan di level asasi.

Islam merupakan syariat yang menjaga lima perkara fundamental, salah satunya adalah akal manusia. Tauhid sebagai pondasi syariat memiliki fungsi penjagaan akal, sedangkan syirik justru menciderai akal pemikiran, meski disenangi oleh banyak orang cerdas.

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, mufti Arab Saudi saat ini, ketika menjelaskan tentang bahaya syirik, beliau mengatakan,

إذاً: هذا خطرٌ عظيم، يجب عليك أن تعرفه قبل أي خطر، لأن الشرك ضلّت فيه أفهام وعقول

“Oleh karena itu, (kesyirikan) ini adalah bahaya yang amat besar. Dan Anda harus mengetahuinya sebelum bahaya lainnya, karena kesyirikan dapat menyesatkan pikiran dan akal budi.” (Syarh Qawaidil Arba’)

Berbuat syirik adalah kebodohan
Memang Allah ﷻ yang mengatakan bahwa orang yang berbuat syirik adalah orang yang bodoh. Allah ﷻ berfirman,

قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kalian menyuruh aku menyembah kepada selain Allah, wahai orang-orang yang jahil (bodoh)?’” (QS. Az-Zumar: 64)

Thahir Ibnu Asyur rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan mengapa mereka dipanggil bodoh,

والجَهْلُ هُنا ضِدُّ العِلْمِ لِأنَّهم جَهِلُوا دَلالَةَ الدَّلائِلِ المُتَقَدِّمَةِ، فَلَمْ تُفِدْ مِنهم شَيْئًا. فَعَمُوا عَنْ دَلائِلِ الوَحْدانِيَّةِ الَّتِي هي بِمَرْأًى مِنهم ومَسْمَعٍ. فَجَهِلُوا دَلالَتَها عَلى الصّانِعِ الواحِدِ

“Kebodohan di sini adalah kebalikan dari ilmu. Karena mereka tidak mengetahui arti penting dari bukti-bukti sebelumnya, sehingga mereka tidak memperoleh apa pun darinya. Mereka buta terhadap bukti-bukti keesaan Allah, yang berada tepat di depan mata dan telinga mereka, dan dengan demikian mereka tidak mengetahui petunjuk tentang Sang Pencipta Yang Esa.”

Sederhananya, menurut Syekh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya, mereka bodoh atas dua hal:

Pertama: Hakikat zat Allah ﷻ dan sifat-Nya yang menjadikan-Nya layak untuk disembah;

Kedua: Konsekuensi dari perbuatan kesyirikan tersebut.

Kebodohan mereka akan dua hal inilah yang membuat mereka disebut orang yang bodoh.

Tidak ada orang cerdas yang menggabungkan penyembahan antara Zat Tunggal Yang Maha Kuasa dengan makhluk tiada daya. Tidak ada orang cerdas yang sudah dipenuhi kehidupannya lantas ia berkhianat kepada Sang Pemberi Kehidupan. Setidaknya, ia berada dalam dua pilihan: antara bodoh atau jahat. Oleh karena itu, pantaslah ia masuk neraka, baik karena kebodohannya apalagi sebab perilaku jahatnya yang tidak tahu terima kasih.

Kok ada orang pintar yang tidak bertauhid?
Kita sendiri melihat dampak kesyirikan membuat orang cerdas sekalipun menjadi bodoh. Sebagian orang yang pintar urusan dunia itu justru percaya dengan hal mistis, hasil ramalan tarot, penggandaan uang, atau perkara kesyirikan lainnya. Keyakinan syirik ini akan menutupi akal mereka dari menerima argumentasi rasional. Ayat dari surah Az-Zumar tadi sekaligus menjadi jawaban atas kebingungan kita, “Kok ada orang pintar yang masih percaya hal klenik?”

Andai pun mereka tidak terjatuh kepada hal klenik, tetapi sebagian dari mereka justru jatuh kepada kesalahan bernalar atas adanya Tuhan. Mereka dengan akal cerdasnya melakukan simulasi dengan berbagai asumsi tentang eksistensi Tuhan. Kesimpulan mereka, dunia ada dengan permulaan, tetapi tidak ada yang memulakan. Mereka mengira bahwa seluruh semesta ini ada begitu saja.

Anehnya, argumen mereka ini hanya berlaku kepada paradigma Tuhan mereka saja. Ketika diterapkan pada penemuan titik awal galaksi, makhluk biologi perdana, dan lain sebagainya; mereka semua meyakini bahwa segala sesuatu memiliki permulaan dan ada yang memulakan. Bahkan dengan santai mengatakan, “Ketidaktahuan akan informasi penyebab tersebut bukan berarti menunjukkan ketiadaan sebabnya.” Mereka jadikan ini sebagai acuan paradigmatik dalam proses ilmiah. Namun, lagi-lagi, ketika membahas Tuhan, ini semua dilepaskan.

Orang-orang di kalangan kafir Quraisy juga bukanlah orang sembarangan. Lihatlah asalnya Abu Jahal itu digelari Abul Hakam karena kecerdasannya. Abu Jahal ini mulanya menjadi tempat peraduan manusia menyelesaikan berbagai permasalahan dan pertikaian, karena ia tidak hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Namun, ketika dihadapkan dengan seruan Islam, semua kedahsyatan akal itu sirna.

Apa sebabnya? Sebabnya adalah akal yang tidak tertuntun cahaya, sehingga gelap dan tersesat.

Allah ﷻ berfirman,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedangkan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Fokus kepada ayat, يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ, yang ditafsirkan oleh Ibnu Asyur sebagai berikut,

فالمُرادُ بِالنُّورِ نُورُ البُرْهانِ والحَقِّ، وبِالظُّلُماتِ ظُلُماتُ الشُّبُهاتِ والشَّكّ

“Cahaya yang dimaksud adalah cahaya bukti dan kebenaran, dan kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan kerancuan dan keraguan.” (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir)

Hidayah dan kesesatan adalah perkara yang diusahakan
Jangan mengira bodoh dan cerdas dalam konteks ini hanyalah takdir Allah ﷻ semata yang tidak ada andil usaha kita di dalamnya. Sesungguhnya ia merupakan perkara yang ada di tangan kita. Usaha kita yang mengundang datangnya petunjuk atau justru mengantarkan kesesatan. Thahir Ibnu Asyur rahimahullah berkata dalam tafsirnya,

فاللَّهُ يَزِيدُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى لِأنَّ اتِّباعَهُمُ الإسْلامَ تَيْسِيرٌ لِطُرُقِ اليَقِينِ، فَهم يَزْدادُونَ تَوَغُّلًا فِيها يَوْمًا فَيَوْمًا

“Allah menambah petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk karena ketaatan mereka pada Islam memudahkan jalan menuju kepastian, sehingga mereka semakin mendalami Islam dari hari ke hari.”

Begitupula dengan kesesatan, sesungguhnya kesesatan itu adalah usaha dan pilihan seseorang. Allah ﷻ kemudian semakin menyesatkan orang-orang seperti ini. Perhatikan kata yang digunakan Ibnu Asyur berikut,

وبِعَكْسِهِمُ الَّذِينَ اخْتارُوا الكُفْرَ عَلى الإسْلامِ فَإنَّ اخْتِيارَهم ذَلِكَ دَلَّ عَلى خَتْمٍ ضُرِبَ عَلى عُقُولِهِمْ فَلَمْ يَهْتَدُوا فَهم يَزْدادَونَ في الضَّلالِ يَوْمًا فَيَوْمًا

“Sebaliknya, orang-orang yang memilih kekafiran daripada Islam, pilihan mereka menunjukkan adanya segel yang diletakkan pada pikiran mereka, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk dan semakin tersesat.”

Dari keterangan ini kita dapat belajar bahwa hidayah dan kesesatan itu perkara yang dapat diusahakan. Untuk mendapatkan tambahan hidayah, seseorang harus berusaha, ia tidak bisa hanya ongkang kaki lalu menantang Allah ﷻ untuk mendatangkan hidayah. Justru perbuatan ini akan membuatnya kian terjerumus ke dalam kesesatan. Meskipun demikian, hidayah tetaplah hak prerogatif Allah ﷻ. Kita hanya bisa mengundangnya dengan usaha. Adapun keputusan finalnya, ini semua adalah urusan Allah ﷻ. Tidak ada satupun yang bisa memaksakannya, bahkan Nabi ﷺ sekalipun.

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Dai tauhid memperjuangkan keselamatan akal
Salah satu hikmah dari pelajaran ini adalah seorang penyeru tauhid sangat berkepentingan dengan ilmu dialektika syubhat kesyirikan. Seorang dai tidak hanya berkepentingan mengenali tauhid, tetapi juga mengenali kesyirikan secara detail sebagaimana yaang dikatakan oleh Syekh Shalih Al-Fauzan,

ما دام أنك عرفت التوحيد وهو: إفراد الله بالعبادة، يجب أن تعرف ما هو الشرك، لأن الذي لا يعرف الشيء يقع فيه، فلا بد أنك تعرف أنواع الشرك من أجل أن تتجنبها

“Setelah Anda mengetahui arti tauhid, yaitu: mengesakan Allah ﷻ dalam peribadatan, Anda juga harus mengetahui apa itu kesyirikan. Karena siapapun yang tidak mengetahui sesuatu, maka ia berpotensi jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui jenis-jenis kesyirikan agar dapat menghindarinya.”

Keterangan Syekh Al-Fauzan dalam perkara ini menyiratkan bahwa seorang muslim khususnya para dai harus mendetail dalam mempelajari kesyirikan untuk menghindarinya. Beragam jenis kesyirikan ini tidak terbatas pada penyembahan berhala, tetapi juga keyakinan sesat kontemporer berupa ateisme dan agnotisisme.

Di zaman ini, syubhat terus berkembang, salah satunya dari pintu pemikiran dan isme yang datang dari barat. Maka, wasiat Syekh di sini dapat diartikan untuk mempelajari beragam argumentasi mereka sehingga dapat terhindar dari kerancuan berpikir tersebut. Seorang dai juga dapat memperingatkan umat dari bahayanya pemikiran rusak yang demikian. Dan ini termasuk ke dalam dakwah tauhid.

Sehingga seorang muslim, khususnya para dai, hendaknya bersemangat dalam menyelamatkan akal kaum muslimin agar tidak terjerat dengan jerat kerancuan berpikir. Pemikiran sesat dari barat sangatlah menggoda bagi anak muda. Ia seakan menjadi oase di tengah kegamangan hidup, padahal sejatinya ia hanyalah fatamorgana. Sedangkan ketenangan hidup semuanya sudah terliput dalam Al-Quran dan As-Sunah.

فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku (Al-Quran dan As-Sunnah), niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38)

Maka bersemangatlah untuk mengajak umat meraih kebahagiaan hidup dan akal sehat dengan Al-Quran dan As-Sunah.

Memahami kerancuan syirik dari pondasinya
Akan tetapi, memang semua proses belajar itu hendaknya bertahap dari yang paling dasar. Syekh Al-Fauzan mengingatkan untuk mengenali kesyirikan dari pondasi Al-Quran dan As-Sunah,

فالواجب أن نعرف ما هو الشرك من الكتاب والسنة، الله ما حذر من شيء إلا ويبينه، وما أمر بشيء، إلا ويبينه للناس، فهو لم يحرم الشرك ويتركه مجملاً، بل بينه في القرآن العظيم وبينه الرسول –صلى الله عليه وسلم- في السنة، بياناً شافياً

“Oleh karena itu, kita harus memahami apa itu kesyirikan menurut Al-Quran dan As-Sunah. Allah tidaklah memperingatkan sesuatu tanpa menjelaskannya terlebih dahulu, dan Dia tidak memerintahkan sesuatu tanpa menjelaskannya kepada manusia. Dia tidak sekadar melarang kesyirikan dan membiarkannya mengawang begitu saja. Namun, Dia menjelaskannya dalam Al-Quran yang mulia, dan Rasulullah ﷺ menjelaskannya dengan jelas dalam As-Sunah.” (Syarah Qawaidil Arba)

Meskipun kita berusaha memahami syubhat ahli syirik ini, jangan sampai kita justru tenggelam dalam paradigma mereka. Hal ini dapat mengaburkan tema dan pemaknaan syirik itu sendiri dari dalam tubuh Islam. Inilah hikmah yang kita dapatkan dari perkataan Syekh,

فإذا أردنا أن نعرف ما هو الشرك نرجع إلى الكتاب والسنة حتى نعرف الشرك، ولا نرجع إلى قول فلان وفلان

“Jika kita ingin mengetahui apa itu kesyirikaan, kita harus merujuk pada Al-Quran dan As-Sunah untuk memahaminya, bukan dengan merujuk ucapan si fulan A dan B.” (Syarah Qawaidil Arba)

Baca juga: Kebodohan Kita terhadap Bahaya Syirik


Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, karya Thahir Ibnu Asyur, dilansir dari tafsir.app.

Tafsir Taisir Karimir Rahman, karya Al-Allamah As-Sa’dy, cet. Muassasah Ar-Risalah.

Syarah Qawaidil Arba’, karya Syekh Shalih Al-Fauzan, cet. Muassasah Ar-Risalah.

sumber: https://muslim.or.id/116897-kesyirikan-mengancam-akal.html

Tidak Ada Hamba yang Tahu Tempat Kematiannya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٍ تَمُوتُۚ

“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman: 34)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ قَبْضَ رُوْحِ عَبْدٍ جَعَلَ اللهُ لَهُ بِهَا حَاجَةً

“Jika Allah menghendaki untuk mencabut ruh seorang hamba di suatu negeri, Allah akan membuatnya memiliki hajat untuk mendatangi negeri tersebut.” (HR. Ahmad [3/429] dan at-Tirmidzi no. 2146, dari sahabat Abu Azzah radhiallahu anhu)

Imam Qatadah berkata, terkait dengan ayat ini (Luqman: 34),

“Tidak seorang manusia pun yang tahu, di bumi mana ia akan mati; entah itu di laut, di darat, di tanah datar, ataukah di gunung.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/355)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, ketika menjelaskan mafatihul ghaib atau ‘lima kunci ilmu gaib’ yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya adalah “mengetahui tempat kematian (seorang hamba)”.

Beliau berdalil dengan firman Allah,

وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٍ تَمُوتُۚ

“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman: 34)

Tidak ada yang mengetahui, apakah ia akan mati di negerinya sendiri atau di negeri orang lain; di negeri Islam atau negeri kafir; di darat, di laut, atau di udara. Hal ini sungguh telah sangat jelas dan gamblang.

Tidak ada pula seorang pun yang mengetahui kapan ia akan mati. Sebab, sebagaimana dia tidak mengetahui tempat kematiannya padahal dia sudah menetap di suatu tempat, demikian juga ia tidak akan bisa mengetahui waktu kematiannya. (Sumber: Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah, 1/196—197)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh .” (an-Nisa: 78)

Nasalullah as-salamah wal afiyah. Kita memohon keselamatan dan afiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allahumma Rabbana tawaffana muslimin wa alhiqna bish-shalihin. Ya Allah, Rabb kami, wafatkanlah kami dalam keadaan kami beragama Islam dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh.

(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)

sumber : https://asysyariah.com/tidak-ada-yang-mengetahui-tempat-mati/

Bagaimana Cara Menghapus Dosa Dan Kesalahan Masa Lalu..?

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

Berbuat baiklah pada sisa umurmu yang tersisa, maka dosa dosamu yang telah lalu akan diampuni.

Karena sesungguhnya jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dituntut (diperhitungkan) atas perbuatanmu pada masa yang tersisa maupun pada masa yang telah lalu,

Dan ini (berbuat baik di sisa umur) adalah sebuah keuntungan (kesempatan) yang sangat besar.

Andaikan ditakdirkan seseorang telah hidup selama 60 tahun dari usianya dalam keadaan melalaikan dan menyia-nyiakan waktu, kemudian ia :

● bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya (Subhaanahu), serta
● menghadap kepada ketaatan kepada-Nya Yang Maha Tinggi, lalu ia
● membulatkan tekad untuk istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya,

Dan ternyata setelah itu ia tidak hidup melainkan hanya beberapa hari saja .. maka masa 60 tahun itu akan diampuni untuknya. Akan diampuni baginya apa yang telah berlalu.

Akan tetapi, jika ia tetap dalam keadaan melalaikan dan menyia-nyiakan waktu, maka ia akan dituntut atas apa yang tersisa dan juga

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75542

Konsekuensi Kepemimpinan Suami

Setiap rumah tangga membutuhkan seorang pemimpin yang bertanggung jawab mengelola, mengatur, serta memperhatikan kebutuhan keluarganya. Sebagai pemimpin, ia memiliki hak untuk ditaati dalam perkara yang makruf, selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah. Dalam rumah tangga, kepemimpinan tersebut diamanahkan kepada suami. Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)

Namun, kepemimpinan yang Allah amanahkan kepada suami bukanlah sekadar kedudukan semata. Ayat di atas menyebutkan dua sebab yang berkaitan dengan penetapan kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga. Huruf ba pada frasa بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ dan وَبِمَا أَنْفَقُوا merupakan ba sababiyyah yang menunjukkan sebab atau alasan sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut.

Pertama, kelebihan yang Allah berikan kepada laki-laki.

Allah berfirman, بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ, yang artinya, “karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain” yaitu melebihkan kaum lelaki atas para wanita dalam banyak karakter seperti kepemimpinan, kebijaksanaan, ketenangan, dan ketegasan.

Seorang suami hendaknya menyadari amanah tersebut dengan berusaha menjadi pribadi yang bijaksana, tenang dalam menghadapi masalah, tegas ketika diperlukan, serta sabar dalam membimbing keluarganya.

Kedua, kewajiban memberikan nafkah.

Allah berfirman, وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ, yang artinya, “dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” yaitu karena laki-laki telah mencari harta untuk menafkahi keluarganya.

Ayat ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab nafkah dalam kepemimpinan suami. Seorang suami berkewajiban berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sesuai dengan kemampuannya. Semestinya ia tidak bermalas-malasan dalam mencari nafkah atau mengabaikan kebutuhan istri dan anak-anaknya, padahal ia mampu menunaikan kewajiban tersebut.

Dengan dua alasan inilah, Allah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada laki-laki, sehingga seorang suami tidak hanya ingin ditaati sebagai pemimpin, tetapi dia juga harus sadar bahwa di balik jabatannya tersebut ada sebab-sebab yang harus dia tempuh.

Jika seorang suami tidak berusaha membimbing keluarganya dengan baik, tidak bijaksana ketika menghadapi masalah, atau mengabaikan kewajiban nafkahnya, maka ia telah lalai dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinannya.

Oleh karena itu, seorang suami hendaknya menjalankan kepemimpinan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Sebab, kepemimpinan tersebut bukan hanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan istri dan anak-anaknya, melainkan juga di hadapan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/konsekuensi-kepemimpinan-suami.html

Dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 5/121)

Ibn Syubrumah rahimahullah berkata,  “Aku heran terhadap orang yang memerhatikan makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam an-Nubala, 6/348)

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah l itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah l itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Hendaknya seseorang itu bertobat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/602)

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Tanda tobat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam an-Nubala, 9/315)

sumber : https://asysyariah.com/dosa/