Dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 5/121)

Ibn Syubrumah rahimahullah berkata,  “Aku heran terhadap orang yang memerhatikan makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam an-Nubala, 6/348)

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah l itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah l itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Hendaknya seseorang itu bertobat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/602)

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Tanda tobat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam an-Nubala, 9/315)

sumber : https://asysyariah.com/dosa/

Dzikir dengan Lirih Lebih Utama

Beberapa ayat menyebutkan tentang keutamaan dzikir disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus Sholihin berikut ini.

Ayat pertama:

وَلذِكْرُ الله أكْبَرُ

“Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Syaikh As-Sa’di menyatakan bahwa dalam shalat itu terdapat dzikir pada Allah dengan hati, lisan dan anggota badan. Allah yang menciptakan manusia untuk beribadah pada-Nya dan sebaik-baik ibadah adalah shalat. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 669)

Ayat kedua:

فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa siapa yang berdzikir pada Allah (mengingat Allah), maka ia mendapatkan maslahat yang besar yaitu Allah akan senantiasa mengingatnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih). (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 253)

Ayat ketiga:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الجَهْرِ مِنَ القَوْلِ بِالغُدُوِّ والآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).

Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyatakan mengenai kalimat ghafilin yaitu janganlah menjadi orang yang lalai dari dzikir. Dalam ayat ini juga ada perintah untuk berdzikir dengan suara lirih karena berdzikir dengan lirih lebih mendekati ikhlas. (Lihat Fath Al-Qadir, 2: 403)

8 Alasan Dzikir dengan Lirih

1- Menunjukkan keimanan yang benar karena yang memanjatkan dzikir tersebut mengimani kalau Allah itu mendengar dzikir yang lirih.

2- Ini lebih menunjukkan adab dan pengagungan. Hal ini dimisalkan seperti rakyat, ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di hadapan raja. Siapa saja yang berbicara di hadapan raja dengan suara keras, tentu akan dibenci. Sedangkan Allah lebih sempurna dari raja. Allah dapat mendengar doa yang lirih. Sudah sepantasnya dalam doa tersebut dengan beradab di hadapan-Nya yaitu dengan suara yang lemah lembut (lirih).

3- Lebih menunjukkan khusyu’.

4- Lebih menandakan ikhlas.

5- Lebih mudah menghimpun hati untuk merendahkan diri, sedangkan dengan suara keras lebih cenderung tidak menyatukan hati.

6- Dzikir yang lemah lembut menunjukkan kedekatan dengan Allah. Itulah pujian Allah pada Zakariya ketika berdoa,

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

“Tatkala Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Disebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” (HR. Ahmad 4: 402. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kedekatan di sini yang dimaksud adalah qurb khosh (kedekatan yang khusus), bukan qurb ‘aam (kedekatan yang umum) pada setiap orang. Allah itu dekat pada hamba-Nya yang berdoa dan berdzikir, Allah dekat dengan setiap hamba-Nya yang beriman dan Allah itu dekat dengan hamba-Nya ketika sujud.

7- Dzikir yang dibaca lirih akan ajeg (kontinu) karena anggota tubuh tidaklah merasa letih (capek) yang cepat, beda halnya jika dzikir tersebut dikeraskan.

8- Dzikir yang lirih lebih selamat dari was-was dibandingkan dengan yang dikeraskan. Dzikir yang dijaherkan akan lebih membangkitkan sifat basyariah (manusiawi) yaitu ingin dipuji atau ingin mendapatkan maksud duniawi.

Perintah dalam dzikir sebagaimana disebut dalam ayat (yang artinya), “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).

Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan bahwa ayat tersebut berisi perintah untuk mengingat Allah dengan hati dengan menundukkan diri dan bersikap tenang tanpa mengeraskan suara dan tanpa berteriak-teriak. Bersikap seperti inilah yang merupakan ruh doa dan dzikir. (Disarikan dari Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 15: 15-20)

Semoga semakin semangat untuk berdzikir.

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  • Fath Al-Qadir. Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani. Penerbit Darul Wafa’ dan Ibnu Hazm.
  • Majmu’ah Al-Fatawa. Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Ibnu Hazm.
  • Tafsir As-Sa’di. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  • Tafsir Az-Zahrawain. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan.

—

Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan

Disusun @ Perpus Darush Sholihin, 25 Syawal 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/16137-dzikir-dengan-lirih-lebih-utama.html

Tidak Ada Yang Lebih Baik Daripada Sabar

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنْ الصَّبْرِ

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Dan tidakklah seseorang diberi sesuatu (oleh Allah –pent) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari, no. 1376 dan Muslim, no. 1745)

Faidah Hadits:

  1. Segala kenikmatan yang dinikmati oleh manusia pada hakikatnya semua adalah pemberian Allah;
  2. Tidak ada nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang lebih baik daripada sabar;
  3. Isyarat untuk bersabar dan ridha dengan anugerah yang Allah berikan kepada kita adalah sikap terbaik dalam menghadapi segala kondisi dan situasi.

Wallahu a’lam.

oleh Ustadz Mahful Safarudin, Lc.

sumber : https://pesantrenalirsyad.org/tidak-ada-yang-lebih-baik-daripada-sabar-seri-40-hadits-tentang-musibah-dan-cobaan-10-40/

Membalas Menghina Tuhan Orang Kafir

Sebagian salah bersikap saat-saat ini ketika bertindak atas orang yang menghina Nabinya yang mulia -‘alaihi sholaatu wa salaam-. Mereka sampai-sampai membakar bendera orang kafir, sampai melakukan bom bunuh diri dan peledakan-peledakan. Yang bertindak salah atas dasar kejahilan adalah sampai mencela Tuhan orang kafir. Ada yang punya ide ingin membuat film yang menghina Tuhannya orang kafir sebagai balasan.

Sebaliknya, ada yang bersikap baik dari saudara kita di bara sana. Mereka yang muslim malah membagi-bagi CD dan buku tentang Islam, malah dengan sikap lembut seperti ini banyak yang tertarik pada Islam. Manakah sikap yang terbaik antara keduanya?

Mengajak pada Islam dengan Lemah Lembut

Ketahuilah bahwa asal berdakwah, mengajak orang lain kepada agama Allah adalah dengan lemah lembut dan dengan memberikan nasehat dengan cara yang baik. Karena demikianlah dakwah bisa berpengaruh dengan cara seperti itu, hati tentu bisa menerima dengan mudah dibanding dengan sikap keras dan anarkis. Begitu pula dalam mengajak orang kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu lepas melainkan ia akan menjelekkannya.” (HR. Ahmad 6: 206, sanad shahih).

Prinsip Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut dengan madh’u (orang yang didakwahi) walau mereka orang kafir.

Ibnul ‘Arobi pernah berbicara tentang ayat berikut ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (QS. Al ‘Ankabut: 46). Ibnul ‘Arobi mengatakan, “Qotadah berkata: ayat ini yang memerintahkan untuk tidak berjidal (berdebat) telah mansukh (terhapus) dengan ayat yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir. Ada pula yang mengatakan bahwa ayat ini tidaklah mansukh (terhapus), akan tetapi dikhususkan (pada keadaan tertentu). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus awalnya dengan menyampaikan hujjah lewat lisan. Lalu setelah itu Allah memerintahkan untuk menyampaikan hujjah dengan pedang dan lisan hingga tegaklah hujjah pada makhluk … Siapa yang mampu untuk menyampaikan hujjah lewat berperang, maka lakukanlah. Yang tidak mampu, maka berdebatlah dengan lisan akan tetapi menyampaikan dalil dengan cara yang baik dan ucapan yang baik pula. Ketika berdebat berusaha menyampaikan apa yang diinginkan dan diikuti dengan cara yang lemah lembut. Dalam penyampaian juga disampaikan dalil yang benar-benar jelas (terang). Jika yang diajak debat tidak memahami, maka ulangilah apa yang ingin disampaikan berulang kali.” Demikian Ibnul ‘Arobi menyebutkan nasehat ini dalam kitabnya Ahkamul Qur’an.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Disakiti

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah disakiti dan dicela oleh orang-orang musyrik. Lalu bagaimanakah sikap beliau? Beliau bersabar. Lihatlah bagaimanakah kisah beliau ketika disakiti oleh penduduk Thoif saat beliau mendakwahi mereka. Beliau kala itu bersabar.

Guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah berkata, “Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyihir, dukun, pendusta” dan perkataan hinaan lainnya. Namun, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.”[1] Baca nasehat beliau selengkapnya di sini.

Membalas dengan Mencela Tuhan Orang Kafir

Seperti kita ketahui bahwa kita tidak boleh mencela tuhan orang kafir karena akan muncul kemungkaran lebih besar yaitu mereka malah mencela Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam I’lamul Muwaaqi’in menjelaskan ayat di atas, “Allah melarang kita mencela tuhan-tuhan orang musyrik dengan pencelaan yang keras atau sampai merendah-rendahkan (secara terang-terangan) karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah. Tentu termasuk maslahat besar bila kita tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak berdampak celaan bagi Allah (sesembahan kita). Jadi hal ini adalah peringatan tegas agar tidak berbuat seperti itu, supaya tidak menimbulkan dampak negatif  yang lebih parah.”

Jadi perlu diperhatikan bahwa kemungkaran tidaklah dibalas dengan kemungkaran yang semisal. Jika Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dicela, bukan berarti kita boleh mencela Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Karena mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kekafiran, demikian pula dengan mencela Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

Semoga Allah senantiasa memberi taufik pada kita pada kebenaran. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 9 Dzulqo’dah 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2827-membalas-menghina-tuhan-orang-kafir.html

Nasehat Bagi Para Pemuda Yang Belum Menikah

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan,

Pemuda yang belum menikah tetap berada dalam kebaikan selama dia menjauhkan dirinya dari wanita, maka sungguh dia mampu untuk bersabar.

Kapan dia menjadi lemah dan jatuh ke dalam keburukan..? Ketika dia mendekati wanita-wanita yang haram untuk dia dekati (bukan mahromnya).

Oleh karena itu .. waspadalah, wahai kumpulan para pemuda, terhadap sarana-sarana komunikasi meskipun dengan dalih persaudaraan karena Allah .. karena sesungguhnya itu adalah jalan kebinasaan, jalan keburukan, dan jalan untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Setan menyeret pemuda tersebut sedikit demi sedikit menuju perkara ini.

Namun jika dia :
– menjauhkan diri dari wanita,
– menundukkan pandangannya,
– menahan lisannya,
– serta tidak berkomunikasi dengan wanita yang bukan mahromnya, maka akan menjadi mudah baginya untuk bersabar.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75533

Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat Di Surga?

Setelah manusia meninggal, mereka dipisahkan dengan keluarga dan teman-temannya dengan waktu yang sangat lama. Di mulai dari perpisahan menunggu di alam kubur, padang mahsyar, proses hisab, melewati shirath, kejadian di qantharah. Perlu diketahui bahwa satu hari akhirat sebagaimana 1000 tahun di dunia. Dengan waktu menunggu yang sangat lama ini, apakah kita masih ingat atau sudah lupa dengan keluarga dan kerabat kita? Apalagi usia manusia di surga dalah 33 tahun, bagaimana jika ada keluarga yang meninggal ketika anak-anak?

Jawabannya: kita tetap bisa mengenal keluarga dan kerabat kita di surga, bahkan kita tetap kenal dengan teman-teman kita selama di dunia yang sudah masuk surga.

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin,

هل المسلم إذا دخل الجنة يتعرف على أقاربه الذين في الجنة؟

Apakah seorang muslim apabila masuk surga, ia dapat mengenal kerabat-kerabatnya yang masuk di dalam surga?

Jawaban:

نعم يتعرف على أقاربه وغيرهم من كل ما يأتيه سرور قلبه؛ لقول الله تعالى: ﴿وفيها ما تشتهيه الأنفس وتلذ الأعين وأنتم فيها خالدون﴾ بل إن الإنسان يجتمع بذريته في منزلةٍ واحدة إذا كانت الذرية دون منزلته كما قال تعالى: ﴿والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم…الآية

Iya, Ia bisa mengenal kerabat- kerabatnya dan selain mereka dari setiap kebahagiaan (keinginan) hati yang datang kepadanya. Karenanya Allah berfirman,

“Dan di dalam surga terdapat apa-apa yang diinginkan oleh jiwa dan yang menyenangkan pandangan kalian, dan kalian di dalamnya kekal selamanya”

Bahkan seseorang akan berkumpul bersama anak keturunannya di dalam satu tingkatan surga. Jika anak keturunannya berada pada tingkatan yang lebih rendah darinya (maka akan disusulkan ke tingkatannya).Sebagaimana firman Allah,

“Dan mereka orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, maka Kami akan pertemukan orang-orang beriman itu dengan anak keturunan mereka.” [Nuur ‘alad Darb. Kaset nomor 195]

Perlu diketahui bahwa seorang muslim yang masuk surga tidak hanya mengenal keluarga dan kerabatnya, tetapi juga mengenal sahabat-sahabatnya selama berada di dunia yang juga masuk surga. Sahabat yang bersama-sama saling menasehati di jalan agama.

Di surga terdapat pasar surga yang merupakan tempat berkumpul manusia. Tentu mereka saling mengenal dengan sahabat-sahabatnya ketika berkumpul di pasar surga tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai pasar surga,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً. فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim no. 7324)

Salah satu kenikmatan manusia di dunia adalah berjumpa dengan saudara dan teman-teman akrab mereka, saling menyapa, menanyakan keadaan, saling bercanda ringan, saling curhat. Ini menimbulkan kebahagiaan dan kenikmatan, apalagi sudah lama sekali tidak bertemu. Demikian juga di surga, disediakan kenikmatan seperti ini. Dijelaskan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

إن سوق الجنة هو مكان اللقاء للمؤمنين بعضهم لبعض؛ لازدياد النعيم بما يجدونه من لذة وسؤدد ، وتحدث بعضهم لبعض؛ وتذاكرهم بما كان في الدار الدنيا وما آلوا إليه في الدار الآخرة؛ ويتجدد هذا اللقاء كل جمعة كما جاء في الحديث؛ لرؤية بعضهم لبعض وأنس بعضهم ببعض

“Pasar di surga adalah tempat bertemunya kaum muslimin satu sama lain supaya bertambah kenikmatan. Merasakan kelezatan saling berbincang-bincang. Dan saling mengenang apa yang terjadi di dunia dan membicarakan apa yang mereka dapatkan di akhirat. Mereka bertemu setiap Jumat sebagaimana pada hadits, agar mereka bisa saling berjumpa satu sama lain.” [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 54/214]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/43848-bisakah-mengenal-keluarga-dan-kerabat-di-surga.html

Sebab lemahnya kaum muslimin

Kaum muslimin, yang semoga dirahmati Allah. Keadaan umat Islam saat ini begitu memprihatinkan. Di hadapan musuh-musuh mereka, umat ini terus mengalami kekalahan, ketertinggalan dan penindasan. Negeri-negeri kaum muslimin dirampas begitu saja oleh musuh-musuh mereka. Dalam tubuh umat islam sendiri, mereka saling berselisih dan berpecah belah. Apa sebab lemahnya kaum muslimin saat ini dan bagaimana pemecahan masalah tersebut?

Tulisan di bawah ini akan memberikan penjelasan tentang sebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam saat ini yang disarikan (dengan sedikit tambahan) dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz -seorang ulama besar/mufti di Saudi Arabia- yang berjudul Asbabu Dho’fil Muslimin Amama ’Aduwwihim Wal ’Ilaaju Lidzalik. Semoga Allah merahmati beliau dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat untuk memperbaiki keadaan mereka saat ini.

Penyakit yang Menimpa Umat Islam Saat Ini

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa sebab kelemahan, ketertinggalan, dan kekalahan kaum muslimin saat ini di hadapan musuh mereka, semuanya kembali pada satu sebab yang akan bercabang ke sebab yang lain. Sebab utama tersebut adalah kebodohan yaitu jahil (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya dan berbagai hukum syar’i. Ilmu agama semacam ini telah banyak ditinggalkan oleh umat saat ini. Ilmu ini sangat sedikit dipelajari, sedangkan kebodohan malah semakin merajalela.

Kebodohan merupakan penyakit yang mematikan, dapat mematikan hati dan perasaan, juga melemahkan anggota badan dan kekuatan. Pengidap penyakit ini bagaikan hewan ternak, hanya menyukai syahwat, farji (kemaluan) dan perut. Kebodohan sungguh telah melemahkan hati, perasaan, dan keyakinan kaum muslimin dan akan menjalar ke anggota tubuh mereka yang lain yang membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka (Yahudi dan Nashrani).

Mengapa Penyakit Utama Lemahnya Kaum Muslimin adalah Kebodohan?!

Yang menunjukkan bahwa sebab terbesar adalah jahl (bodoh) terhadap Allah, agama-Nya, dan syari’at-Nya -yang seharusnya seseorang berpegang teguh dan mengilmui tiga hal tersebut- yaitu sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang artinya,”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah akan memahamkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari & Muslim). Maka dari sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ini, menunjukkan bahwa di antara tanda Allah akan memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi individu, bangsa, negara yaitu Allah akan memahamkan mereka ilmu din (agama). Berarti dengan memahami agama ini dengan mengenal Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya, individu maupun bangsa akan diberikan oleh Allah berbagai bentuk kebaikan. Dan bodoh tentang hal ini akan membuat kaum muslimin jauh dari kebaikan, sehingga membuat mereka lemah di hadapan musuh mereka.

Di samping itu Al Qur’an juga mencela kebodohan dan orang-orang yang bodoh dan memerintahkan mewaspadainya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala yang artinya,”Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al An’am: 111). Juga firman Allah yang artinya,”Dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (Al Ma’idah: 103)

Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati

Sebab lain yang menyebabkan kaum muslimin lemah dan tertinggal dari musuh-musuh mereka adalah cinta dunia dan takut mati. Sebab ini muncul karena sebab utama di atas yaitu bodoh terhadap agama Allah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (Shohih, HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam hadits ini terlihat bahwa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) akan menimpa dan berada dalam hati-hati mereka. Mereka tidak mampu untuk menggapai kedudukan yang mulia dan tidak mampu pula untuk berjihad fii sabilillah serta menegakkan kalimat Allah. Hal ini disebabkan kecintaan mereka pada dunia dan kesenangan di dalamnya seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan selainnya. Mereka begitu bersemangat mendapatkan kesenangan seperti ini dan takut kehilangannya, sehingga mereka meninggalkan jihad fii sabilillah.  Begitu juga mereka menjadi bahil (kikir)  sehingga mereka enggan untuk membelanjakan harta mereka kecuali untuk mendapatkan berbagai kesenangan di atas.

Penyakit wahn ini telah merasuk dalam hati kaum muslimin kecuali bagi yang Allah kehendaki dan ini jumlahnya sedikit sekali. Kaum muslimin secara umum telah menjadi lemah di hadapan musuh mereka. Rasa takut telah hilang dari hati musuh mereka sehingga mereka tidak merasa takut dan khawatir terhadap kaum muslim karena mereka telah mengetahui kelemahan kaum muslimin saat ini. Semua hal ini terjadi disebabkan kebodohan yang menyebabkan rasa tamak kaum muslimin pada dunia sehingga kaum kafir (musuh kaum muslimin) menggerogoti mereka dari segala penjuru walaupun jumlah mereka banyak tetapi jumlah ini hanya bagaikan sampah-sampah yang dibawa air hujan yang tidak bernilai apa-apa.

Obat Mujarab untuk Menyembuhkan Penyakit yang Menimpa Kaum Muslimin

Setelah mengetahui berbagai penyakit yang menyebabkan kaum muslimin menjadi lemah di hadapan kaum kafir (Yahudi dan Nashrani) yang disebabkan kebodohan sebagai sebab utama. Maka obat mujarab untuk mengobati penyakit ini, tidak lain dan tidak bukan kecuali menuntut ilmu dan memahami agama ini. Dengan melakukan hal ini mereka akan mendahulukan ridho Allah daripada murka-Nya, bersegera dalam melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya serta segera bertaubat dari dosa yang telah dilakukan pada masa lampau. Dengan hal ini pula mereka akan segera melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi musuh mereka sebagaimana yang Allah perintahkan pada firman-Nya yang artinya,”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (Al Anfaal: 60). Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh sesuai dengan kemampuan kaum muslimin. Allah tidak memeritahkan kaum muslimin untuk mempunyai perlengkapan yang sama kuatnya dengan musuh mereka.

Tolonglah Agama Allah, Niscaya Allah akan Menolongmu

Apabila kaum muslimin menghadapi musuh mereka sesuai dengan kemampuan mereka dalam rangka menolong agama Allah, maka Allah akan menolong mereka dan akan menjadikan mereka unggul di atas musuh mereka (dan bukan ditindas oleh musuh). Allah yang Maha Memenuhi Janjinya telah berfirman yang artinya,”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7). Dan Allah tidaklah lemah untuk menolong hamba-Nya, akan tetapi Allah menguji di antara mereka dengan kejelakan agar diketahui siapa yang jujur atau dusta. Allah Maha Mampu untuk menolong wali-Nya dan untuk menghancurkan musuh-Nya tanpa perang, jihad, atau tanpa menyiapkan persenjataan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Demikianlah apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”. (Muhammad: 4)
Tatkala perang badar kaum muslimin pada saat itu hanya berjumlah  310-an. Persenjataan dan tunggangan pun sedikit (hanya ada 70 unta dan 2 kuda). Sedangkan pasukan kafir (musuh kaum muslimin) berjumlah sekitar seribu pasukan dan memiliki kekuatan yang besar serta persenjataan yang lengkap. Namun, jumlah, senjata dan kekuatan orang kafir ini tidak bermanfaat bagi mereka. Allah mengalahkan musuh yang memiliki kekuatan besar tersebut yang Allah kisahkan dalam firman-Nya yang artinya,”Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 126). Pertolongan tersebut dari sisi Allah, akan tetapi Allah menjadikan pertolongan tersebut dari para malaikat. Persenjataan, harta, dan bala bantuan yang Allah berikan ini merupakan sebab pertolongan, kabar gembira, dan ketenangan yang Allah berikan.

Menolong Agama Allah adalah dengan Melakukan Amal Sholih

Menolong agama Allah adalah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi laranga-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”(Al Hajj: 40-41). Dari ayat ini terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini.

Dari tulisan ini jelaslah sebab lemahnya kaum muslimin yaitu keengganan untuk mempelajari agama ini dan keengganan untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika memang penguasa kaum muslimin dan para ulama betul-betul jujur dalam berdakwah, hendaklah mereka mengajak umat untuk melakukan berbagai bentuk amal sholih yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan hendaklah mereka mengajak umat Islam untuk mempelajari dan memahami agama agar mereka dapat mengenal Allah, Nabi-Nya, dan syari’at agama yang mulia ini.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin saat ini dan memperbaiki ulil amri (penguasa dan ulama). Semoga Allah memberikan kaum muslimin bashiroh (ilmu dan keyakinan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/78-sebab-lemahnya-kaum-muslimin.html

Nikmat Sehat dan Waktu Luang yang Membuat Manusia Tertipu

Nikmat sehat dan waktu luang, dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Ibnul Jauzi juga mengatakan nasehat yang sudah semestinya menjadi renungan kita, “Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”[1]

‘Umar bin Khottob mengatakan,

إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .

“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”

Ibnu Mas’ud mengatakan,

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”[2]

Semoga Allah selalu memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan dua nikmat ini dalam ketaatan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tertipu dan terperdaya.

Faedah ilmu di sore hari, 17 Dzulqo’dah 1430 H

Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, 18/219, Mawqi’ Al Islam

[2] Dua perkataan sahabat ini terdapat dalam Al Adabusy Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 4/303, Mawqi’ Al Islam

Sumber https://rumaysho.com/634-nikmat-sehat-dan-waktu-luang-yang-membuat-manusia-tertipu.html

Mengapa Orang yang Berbuat Dosa Disebut Bodoh Walaupun Berilmu?

Seseorang bisa mengetahui bahwa suatu perbuatan itu haram, bahkan hafal dalilnya, tetapi tetap melakukannya. Mengapa Al-Qur’an menyebut orang yang melakukan dosa sebagai orang yang bodoh, padahal ia sudah mengetahui hukumnya? Penjelasan para ulama tafsir menunjukkan bahwa kebodohan bukan hanya karena kurangnya ilmu, melainkan juga karena mengikuti hawa nafsu, mengabaikan akibat dosa, dan tidak mengamalkan ilmu yang dimiliki.

Setiap orang yang melakukan dosa disebut berbuat dalam keadaan bodoh
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 17)

Ayat ini menjelaskan dua hal penting. Pertama, orang yang melakukan dosa disebut berbuat dalam keadaan jahālah atau kebodohan. Kedua, Allah menjanjikan penerimaan tobat bagi mereka yang bertobat dengan benar sebelum terlambat.

Lalu, apa yang dimaksud dengan kebodohan dalam ayat ini?

Penjelasan Imam Ath-Thabari tentang makna jahālah
Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa perbuatan maksiat itu sendiri merupakan bentuk kebodohan, baik dilakukan dengan sengaja maupun karena tidak mengetahui akibat buruknya.

Beliau mengatakan,

وَأَوْلَى هَذِهِ الْأَقْوَالِ بِتَأْوِيلِ الْآيَةِ، قَوْلُ مَنْ قَالَ: تَأْوِيلُهَا: إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ، وَعَمَلُهُمُ السُّوءَ هُوَ الْجَهَالَةُ الَّتِي جَهِلُوهَا، عَامِدِينَ كَانُوا لِلْإِثْمِ، أَوْ جَاهِلِينَ بِمَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا.

“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkan ayat ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa tobat yang diterima Allah adalah tobat orang-orang yang melakukan keburukan. Perbuatan buruk mereka itulah kebodohan yang mereka lakukan, baik mereka sengaja melakukan dosa maupun tidak mengetahui apa yang Allah persiapkan bagi pelakunya.”

Ath-Thabari kemudian menjelaskan bahwa orang yang mengetahui suatu perbuatan itu haram tetap dapat disebut melakukan kebodohan karena perbuatannya menyerupai tindakan orang yang tidak memahami besarnya hukuman Allah.

Dengan kata lain, ia tidak selalu bodoh karena tidak mengetahui hukumnya, tetapi karena bertindak seperti orang yang tidak memahami akibat perbuatannya. (Lihat Jāmi’ al-Bayān, tafsir QS. An-Nisa: 17).

Perkataan para sahabat dan ulama salaf tentang pelaku dosa
Imam Ath-Thabari membawakan sejumlah riwayat yang menjelaskan makna kebodohan tersebut.

Pertama: Riwayat dari para sahabat Nabi ﷺ.

Melalui Qatadah, dari Abu Al-‘Aliyah, disebutkan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ mengatakan,

كُلُّ ذَنْبٍ أَصَابَهُ عَبْدٌ فَهُوَ بِجَهَالَةٍ.

“Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba merupakan perbuatan yang dilakukan dalam keadaan bodoh.” (Riwayat Ath-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān, no. 8832).

Dalam riwayat lain, Qatadah mengatakan,

اجْتَمَعَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَوْا أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ عُصِيَ بِهِ فَهُوَ جَهَالَةٌ، عَمْدًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ.

“Para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul dan berpandangan bahwa segala perbuatan yang digunakan untuk bermaksiat kepada Allah merupakan kebodohan, baik dilakukan dengan sengaja maupun tidak.” (Riwayat Ath-Thabari, no. 8833).

Kedua riwayat ini dibawakan Ath-Thabari melalui jalur periwayatan yang berbeda. Keduanya merupakan atsar yang dinukil dari generasi salaf, bukan hadis yang langsung disabdakan Nabi ﷺ.

Kedua: Perkataan Mujahid rahimahullah.

كُلُّ مَنْ عَصَى رَبَّهُ فَهُوَ جَاهِلٌ حَتَّى يَنْزِعَ عَنْ مَعْصِيَتِهِ.

“Setiap orang yang bermaksiat kepada Rabbnya adalah orang yang bodoh sampai ia meninggalkan kemaksiatannya.” (Riwayat Ath-Thabari, no. 8834, dengan redaksi yang senada).

Ketiga: Perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

مَنْ عَمِلَ السُّوءَ فَهُوَ جَاهِلٌ، مِنْ جَهَالَتِهِ عَمِلَ السُّوءَ.

“Siapa saja yang melakukan keburukan, ia adalah orang yang bodoh. Karena kebodohannya itulah ia melakukan keburukan.” (Riwayat Ath-Thabari, no. 8837).

Keempat: Perkataan As-Suddi rahimahullah.

مَا دَامَ يَعْصِي اللَّهَ فَهُوَ جَاهِلٌ.

“Selama seseorang bermaksiat kepada Allah, ia adalah orang yang bodoh.” (Riwayat Ath-Thabari, no. 8836).

Seluruh riwayat ini disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari ketika menjelaskan QS. An-Nisa ayat 17. Penyebutan riwayat oleh Ath-Thabari tidak otomatis berarti seluruh jalurnya dinilai sahih; di sini riwayat-riwayat tersebut disampaikan sebagai keterangan tafsir salaf.

Dari berbagai perkataan tersebut, dapat dipahami bahwa maksiat menunjukkan adanya kebodohan dalam sikap seseorang. Ia mungkin mengetahui hukum suatu perbuatan, tetapi pengetahuannya tidak mampu menahannya dari melakukan dosa.

Penjelasan Ibnu Katsir: Maksiat yang disengaja pun termasuk kebodohan
Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga membawakan perkataan Mujahid dan sejumlah ulama:

كُلُّ مَنْ عَصَى اللَّهَ خَطَأً أَوْ عَمْدًا فَهُوَ جَاهِلٌ حَتَّى يَنْزِعَ عَنِ الذَّنْبِ.

“Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, baik karena kesalahan maupun dengan sengaja, adalah orang yang bodoh sampai ia meninggalkan dosa tersebut.”

Ibnu Katsir kemudian menyebutkan perkataan Qatadah, Abu Al-‘Aliyah, Ibnu Abbas, dan ulama salaf lainnya untuk menguatkan penafsiran tersebut. (Lihat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. An-Nisa: 17).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa melakukan dosa secara sengaja tidak mengeluarkan seseorang dari makna jahālah dalam ayat.

Misalnya, seseorang mengetahui bahwa riba diharamkan. Ia bahkan memahami dalil-dalil pengharamannya. Namun, karena tergiur keuntungan dunia, ia tetap melakukan transaksi riba.

Orang tersebut bukan berarti tidak mengetahui hukum riba. Akan tetapi, ia telah melakukan tindakan yang menunjukkan kebodohan karena mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah.

Demikian pula seseorang yang mengetahui bahwa zina, dusta, ghibah, dan kezaliman merupakan perbuatan haram, tetapi tetap melakukannya. Ia telah bertindak dalam kebodohan meskipun memiliki pengetahuan agama.

Penjelasan As-Sa’di: Orang yang bermaksiat mengabaikan tiga hal
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang bermaksiat disebut bodoh karena tiga hal.

Pertama, ia mengabaikan akibat buruk dari dosanya.

Ia tidak mempertimbangkan bahwa perbuatan tersebut mendatangkan kemurkaan dan hukuman Allah.

Kedua, ia mengabaikan pengawasan Allah.

Ia melakukan dosa seolah-olah Allah tidak melihat dan mengawasinya.

Ketiga, ia mengabaikan dampak dosa terhadap keimanannya.

Ia tidak mempertimbangkan bahwa maksiat dapat mengurangi keimanan, bahkan dalam dosa tertentu dapat menyebabkan hilangnya iman.

Setelah menjelaskan ketiga hal tersebut, As-Sa’di mengatakan,

فَكُلُّ عَاصٍ لِلَّهِ، فَهُوَ جَاهِلٌ بِهَذَا الِاعْتِبَارِ وَإِنْ كَانَ عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ.

“Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah adalah orang yang bodoh dari sisi ini, meskipun ia mengetahui bahwa perbuatannya diharamkan.”

Beliau melanjutkan,

بَلِ الْعِلْمُ بِالتَّحْرِيمِ شَرْطٌ لِكَوْنِهَا مَعْصِيَةً مُعَاقَبًا عَلَيْهَا.

“Bahkan, mengetahui keharamannya merupakan syarat agar perbuatan tersebut menjadi maksiat yang pelakunya dikenai hukuman.” (Lihat Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. An-Nisa: 17).

Perkataan terakhir ini perlu diperhatikan karena menunjukkan adanya perbedaan antara dua jenis kebodohan.

Orang yang tidak mengetahui suatu hukum memiliki pembahasan tersendiri dalam fikih, terutama mengenai uzur karena kebodohan (al-‘udzr bil-jahl). Adapun orang yang sudah mengetahui hukumnya, tetapi tetap melakukan dosa, disebut bodoh dari sisi tindakan dan sikapnya.

Oleh sebab itu, makna kebodohan dalam ayat tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang yang tidak mengetahui hukum pasti berdosa, atau sebaliknya bahwa semua orang yang sengaja bermaksiat pasti mendapatkan uzur.

Segera bertobat sebelum datang kematian
Masih dalam QS. An-Nisa ayat 17, Allah berfirman,

ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ

“Kemudian mereka segera bertobat.”

Apa yang dimaksud dengan segera bertobat?

Imam Ath-Thabari menyebutkan beberapa penafsiran ulama salaf.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan bahwa waktu yang dekat tersebut adalah selama seseorang masih hidup, sebelum menyaksikan malaikat maut.

Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa kesempatan bertobat berlangsung sebelum seseorang mengalami ghargharah, yaitu keadaan menjelang keluarnya roh.

Sementara itu, Ikrimah mengatakan,

الدُّنْيَا كُلُّهَا قَرِيبٌ.

“Seluruh kehidupan dunia adalah waktu yang dekat.”

Maksudnya, selama seseorang belum memasuki keadaan kematian yang menutup kesempatan bertobat, ia masih memiliki peluang untuk kembali kepada Allah. (Lihat Tafsir Ath-Thabari, riwayat no. 8846–8852; Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nisa: 17).

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama ia belum mengalami ghargharah (keadaan menjelang keluarnya roh).” (HR. Tirmidzi, no. 3537; Ibnu Majah, no. 4253. At-Tirmidzi menilainya hasan gharib).

As-Sa’di menyebutkan dua kemungkinan makna dari ungkapan min qarīb. Pertama, bertobat sebelum menyaksikan datangnya kematian. Kedua, bersegera bertobat setelah melakukan dosa, tanpa terus-menerus mempertahankan kemaksiatan.

Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang yang terus melakukan dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan akan semakin sulit mewujudkan tobat yang sempurna. Meskipun demikian, Allah tetap dapat memberikan taufik kepada pelaku dosa yang telah lama terjerumus agar ia benar-benar bertobat.

Dengan demikian, jangan menjadikan luasnya rahmat Allah sebagai alasan menunda tobat. Tidak seorang pun mengetahui kapan kematian akan datang.

Tobat tidak diterima ketika kematian sudah tiba
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Tobat itu tidaklah diterima dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertobat sekarang.’ Tidak pula diterima tobat dari orang-orang yang meninggal dalam keadaan kafir. Bagi mereka telah Kami sediakan azab yang pedih.” (QS. An-Nisa: 18)

As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa tobat ketika seseorang telah menyaksikan datangnya kematian merupakan tobat karena terpaksa, bukan tobat yang dilakukan atas pilihan dan kesadaran ketika kesempatan masih terbuka.

Karena itu, seorang muslim hendaknya segera bertobat setiap kali melakukan kesalahan, bukan menunggu hingga usia tua atau ketika sakit keras.

Allah memberikan ampunan bagi orang yang berdosa lalu memperbaiki diri
Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, katakanlah, ‘Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu).’ Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, yaitu siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 54)

Ayat ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Meskipun seseorang pernah melakukan dosa, pintu ampunan tetap terbuka apabila ia bersungguh-sungguh bertobat dan memperbaiki diri.

Penjelasan Imam Ath-Thabari: Jangan membuat pelaku dosa berputus asa
Imam Ath-Thabari membawakan beberapa penjelasan mengenai orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini.

Di antaranya terdapat riwayat dari Mahan bahwa sejumlah orang pernah mendatangi Nabi ﷺ setelah melakukan dosa-dosa besar. Riwayat ini dibawakan Ath-Thabari pada nomor 13291–13293.

Riwayat tersebut merupakan salah satu keterangan yang dinukil dalam pembahasan latar turunnya ayat, bukan riwayat yang otomatis dapat ditetapkan sebagai sebab turun yang sahih tanpa pemeriksaan sanad lebih lanjut.

Ath-Thabari kemudian memilih penafsiran bahwa ayat ini berisi perintah kepada Nabi ﷺ untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang ingin mengetahui apakah dosa-dosa mereka masih bisa diampuni.

Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang telah berdosa hendaknya tidak dibuat berputus asa dari tobat.

Tentang makna bertobat dan memperbaiki diri, Ath-Thabari mengatakan,

وَرَاجَعَ الْعَمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَتَرَكَ الْعَوْدَ إِلَى مِثْلِهِ، مَعَ النَّدَمِ عَلَى مَا فَرَطَ مِنْهُ.

“Ia kembali mengerjakan ketaatan kepada Allah, meninggalkan keinginan untuk mengulangi dosa yang sama, disertai penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukannya.” (Lihat Jāmi’ al-Bayān, tafsir QS. Al-An’am: 54).

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa tobat tidak cukup hanya dengan ucapan istigfar. Tobat harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan memperbaiki amal.

Penjelasan Ibnu Katsir: Semua pelaku maksiat bertindak dalam kebodohan
Ketika menjelaskan firman Allah,

أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ

“Siapa yang berbuat keburukan di antara kalian karena kebodohan.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: كُلُّ مَنْ عَصَى اللَّهَ، فَهُوَ جَاهِلٌ.

“Sebagian ulama salaf mengatakan, ‘Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah adalah orang yang bodoh.’”

Beliau juga membawakan perkataan Ikrimah,

الدُّنْيَا كُلُّهَا جَهَالَةٌ.

“Seluruh kehidupan dunia adalah kebodohan.”

Perkataan Ikrimah tersebut disebutkan dalam konteks penafsiran ayat mengenai perbuatan maksiat, bukan berarti seluruh aktivitas dunia atau semua ilmu dunia merupakan kebodohan.

Ibnu Katsir kemudian menerangkan bahwa orang yang bertobat adalah orang yang meninggalkan kemaksiatan, bertekad tidak mengulanginya, dan memperbaiki amal pada masa mendatang. (Lihat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-An’am: 54).

Penjelasan As-Sa’di: Tobat harus disertai perbaikan lahir dan batin
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

فَلَا بُدَّ مَعَ تَرْكِ الذُّنُوبِ وَالْإِقْلَاعِ، وَالنَّدَمِ عَلَيْهَا، مِنْ إِصْلَاحِ الْعَمَلِ، وَأَدَاءِ مَا أَوْجَبَ اللَّهُ، وَإِصْلَاحِ مَا فَسَدَ مِنَ الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ.

“Selain meninggalkan dosa dan menyesalinya, seseorang harus memperbaiki amal, melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, serta memperbaiki amalan lahir maupun batin yang telah rusak.” (Lihat Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-An’am: 54).

Perhatikan bahwa Allah tidak hanya menyebutkan perintah bertobat, tetapi juga memperbaiki diri.

ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ

“Kemudian bertobat setelah itu dan memperbaiki diri.”

Orang yang dahulu meninggalkan shalat hendaknya memperbaiki hubungannya dengan Allah melalui shalat. Orang yang dahulu gemar berdusta hendaknya membiasakan kejujuran. Orang yang dahulu menzalimi orang lain hendaknya menghentikan kezalimannya dan menyelesaikan hak-hak orang yang dizalimi.

Dengan demikian, tobat yang benar akan terlihat melalui perubahan perilaku, bukan sekadar ucapan.

Orang yang sengaja berdosa pun masih memiliki kesempatan bertobat
Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang-orang yang mengerjakan keburukan karena kebodohan, lalu mereka bertobat setelah itu dan memperbaiki diri. Sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 119)

Ayat ini kembali menunjukkan bahwa kebodohan yang dimaksud mencakup seseorang yang melakukan maksiat, kemudian menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah.

Penjelasan Ath-Thabari: Orang yang berdosa telah bertindak tidak bijaksana
Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini membicarakan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan bertindak bodoh karena melakukan kemaksiatan.

Beliau menyebutkan bahwa mereka kemudian kembali kepada ketaatan, menyesali perbuatannya, memohon ampunan, serta mengerjakan amalan yang dicintai dan diridai Allah.

Inti penjelasan Ath-Thabari adalah bahwa Allah memberikan ampunan kepada orang yang benar-benar meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada ketaatan.

Penjelasan Ibnu Katsir: Ampunan Allah bagi orang beriman yang bertobat
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kemurahan dan karunia Allah kepada orang beriman yang pernah bermaksiat.

Beliau kembali menukil perkataan sebagian ulama salaf,

كُلُّ مَنْ عَصَى اللَّهَ فَهُوَ جَاهِلٌ.

“Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah adalah orang yang bodoh.”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa orang yang bertobat adalah orang yang meninggalkan kemaksiatan dan kembali mengerjakan ketaatan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nahl: 119).

Penjelasan As-Sa’di: Dosa menunjukkan melemahnya pengaruh ilmu dalam hati
Syaikh As-Sa’di memberikan penjelasan yang sangat menarik.

Beliau mengatakan,

وَلَوْ كَانَ مُتَعَمِّدًا لِلذَّنْبِ، فَإِنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَنْقُصَ مَا فِي قَلْبِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَقْتَ مُقَارَفَةِ الذَّنْبِ.

“Meskipun ia sengaja melakukan dosa, pasti terjadi kekurangan pada ilmu yang ada dalam hatinya ketika ia melakukan dosa tersebut.”

Selanjutnya, As-Sa’di menjelaskan bahwa apabila seseorang bertobat, meninggalkan dosa, menyesalinya, dan memperbaiki amalnya, Allah akan mengampuni, merahmati, serta menerima tobatnya. Bahkan, Allah dapat mengembalikannya kepada keadaan sebelumnya atau menjadikannya lebih baik daripada sebelumnya.

(Lihat Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. An-Nahl: 119).

Penjelasan ini mengandung pelajaran besar tentang hubungan antara ilmu dan amal.

Ada orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi ketika hawa nafsunya muncul, ilmunya tidak lagi memberikan pengaruh sebagaimana mestinya.
Ia mengetahui bahwa Allah melihatnya, tetapi tetap bermaksiat. Ia mengetahui ancaman neraka, tetapi tetap mengikuti syahwat. Ia mengetahui dunia hanya sementara, tetapi tetap mengorbankan akhirat demi kesenangan sesaat.
Inilah salah satu bentuk kebodohan yang dimaksud dalam ayat.

Ilmu yang benar-benar bermanfaat seharusnya mendorong pemiliknya untuk semakin takut kepada Allah dan menjauhi maksiat.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat melahirkan rasa takut kepada Allah.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar pula alasan baginya untuk meninggalkan kemaksiatan.

Mengapa orang berilmu masih bisa terjerumus dalam dosa?
Dari penafsiran Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan As-Sa’di terhadap ayat-ayat di atas, terdapat beberapa pelajaran penting.

  1. Mengetahui hukum belum tentu membuat seseorang mampu menahan hawa nafsunya
    Seseorang bisa mengetahui suatu perbuatan itu haram, tetapi keinginan untuk mendapatkan kenikmatan dunia membuatnya mengabaikan ilmu tersebut.

Karena itu, jangan hanya berusaha mengetahui hukum halal dan haram. Berusahalah pula untuk mengamalkan ilmu dan melatih diri meninggalkan segala sesuatu yang Allah larang.

  1. Orang yang bermaksiat sedang mengabaikan pengawasan Allah
    Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa salah satu bentuk kebodohan pelaku dosa adalah tidak memperhatikan pengawasan Allah terhadap dirinya.

Padahal Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Orang yang benar-benar menyadari pengawasan Allah akan lebih berhati-hati dalam setiap perbuatannya, baik ketika bersama manusia maupun ketika sendirian.

  1. Dosa dapat melemahkan iman seseorang
    Maksiat bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tetapi juga berdampak pada keadaan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ.

“Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang peminum khamar meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari, no. 2475; Muslim, no. 57, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Menurut penjelasan Ahlus Sunnah, hadis ini menunjukkan hilangnya kesempurnaan iman yang wajib ketika seseorang melakukan dosa besar tersebut, bukan berarti setiap pelaku dosa besar otomatis keluar dari Islam.

Hadis ini mengingatkan bahwa kemaksiatan memiliki pengaruh besar terhadap keadaan iman seseorang.

  1. Jangan menjadikan banyaknya dosa sebagai alasan berputus asa
    Meskipun dosa merupakan bentuk kebodohan, Allah tetap memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertobat.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas dengan menzalimi dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. Sebesar apa pun dosa seseorang, ia tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah selama kesempatan bertobat masih terbuka.

  1. Jangan sampai ilmu hanya menjadi pengetahuan tanpa pengamalan
    Salah satu pelajaran terbesar dari pembahasan ini adalah pentingnya mengamalkan ilmu.

Orang yang mengetahui bahaya dosa, tetapi terus melakukannya, berarti belum mengambil manfaat dari ilmunya sebagaimana mestinya.

Karena itu, semakin banyak ilmu yang kita pelajari, seharusnya semakin besar pula rasa takut kita kepada Allah.

Ilmu yang bermanfaat akan mendorong seseorang untuk menjaga shalat, meninggalkan yang haram, memperbaiki akhlak, menunaikan hak orang lain, dan segera bertobat apabila melakukan kesalahan.

Maksiat Merusak Akal
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُفْسِدُ الْعَقْلَ، فَإِنَّ لِلْعَقْلِ نُورًا، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ نُورَ الْعَقْلِ وَلَا بُدَّ، وَإِذَا طُفِئَ نُورُهُ ضَعُفَ وَنَقَصَ. وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مَا عَصَى اللَّهَ أَحَدٌ حَتَّى يَغِيبَ عَقْلُهُ، وَهَذَا ظَاهِرٌ، فَإِنَّهُ لَوْ حَضَرَ عَقْلُهُ لَحَجَزَهُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَهُوَ فِي قَبْضَةِ الرَّبِّ تَعَالَى، أَوْ تَحْتَ قَهْرِهِ، وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ، وَفِي دَارِهِ عَلَى بِسَاطِهِ وَمَلَائِكَتُهُ شُهُودٌ عَلَيْهِ نَاظِرُونَ إِلَيْهِ،

“Di antara dampak buruk maksiat adalah kerusakan pada akal. Akal memiliki cahaya yang akan padam karena maksiat, dan ketika cahayanya padam, kekuatan akal akan melemah dan berkurang.
Sebagian ulama salaf berkata, “Tidak ada seorang pun yang berbuat maksiat kepada Allah kecuali ketika akalnya tidak hadir. Hal ini jelas, karena jika akalnya benar-benar hadir, tentu ia akan mencegahnya dari berbuat maksiat. Sebab ia berada dalam genggaman Tuhannya, di bawah kekuasaan-Nya, dan Allah melihat segala perbuatannya. Dia berada di dalam dunia milik Allah, di atas hamparan-Nya, dan para malaikat menjadi saksi atas perbuatannya, menyaksikan apa yang ia lakukan.

وَوَاعِظُ الْقُرْآنِ يَنْهَاهُ، وَوَاعِظُ الْمَوْتِ يَنْهَاهُ، وَوَاعِظُ النَّارِ يَنْهَاهُ، وَالَّذِي يَفُوتُهُ بِالْمَعْصِيَةِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَضْعَافُ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنَ السُّرُورِ وَاللَّذَّةِ بِهَا، فَهَلْ يُقْدِمُ عَلَى الِاسْتِهَانَةِ بِذَلِكَ كُلِّهِ، وَالِاسْتِخْفَافِ بِهِ ذُو عَقْلٍ سَلِيمٍ؟

Nasihat dari Al-Qur’an mencegahnya, kematian mengingatkannya, ancaman neraka menakutinya, dan kerugian yang ditimbulkan oleh maksiat di dunia dan akhirat jauh lebih besar dibandingkan kesenangan sesaat yang ia rasakan dari perbuatan dosa tersebut. Apakah orang yang berakal sehat akan meremehkan dan mengabaikan semua peringatan ini?” (Lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 92-93)

Kesimpulan dari perkataan Imam Ibnul Qayyim:

  1. Maksiat disebut kebodohan karena pelakunya tidak menggunakan akalnya dengan benar.
  2. Maksiat terjadi ketika seseorang mengabaikan pengawasan Allah dan akibat dosanya.
  3. Orang yang berakal semestinya mempertimbangkan kerugian akhirat, bukan sekadar kenikmatan sesaat.

Nasihat terakhir: Jangan hanya mengetahui dosa, tetapi berusahalah meninggalkannya
Jangan merasa aman dari dosa hanya karena kita sudah mengetahui dalil halal dan haram. Orang yang berilmu pun dapat terjerumus dalam kemaksiatan ketika mengikuti hawa nafsunya. Jika telah melakukan dosa, segeralah bertobat, tinggalkan kemaksiatan, dan perbaiki amal sebelum datang kematian. Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, yang semakin mendekatkan kita kepada ketaatan dan menjauhkan kita dari kemaksiatan.

Kita memohon kepada Allah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah, no. 925, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

“Orang yang bermaksiat belum tentu tidak mengetahui hukum. Namun, ketika ia mendahulukan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Allah, saat itulah ia bertindak dalam kebodohan. Karena akal yang benar bukan hanya mampu mengetahui yang baik dan buruk, tetapi juga membimbing pemiliknya untuk memilih kebaikan.”

Bahasan ini merupakan bagian dari buku Dosa itu Candu.
Referensi
Tafsir Ath-Thabari
Al-Tabari, M. ibn J. (n.d.). Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān: Tafsir Surah An-Nisa ayat 17. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya17.html

Al-Tabari, M. ibn J. (n.d.). Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān: Tafsir Surah An-Nisa ayat 18. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura4-aya18.html

Al-Tabari, M. ibn J. (n.d.). Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān: Tafsir Surah Al-An’am ayat 54. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura6-aya54.html

Al-Tabari, M. ibn J. (n.d.). Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān: Tafsir Surah An-Nahl ayat 119. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura16-aya119.html

Tafsir Ibnu Katsir
Ibn Kathir, I. ibn U. (n.d.). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm: Tafsir Surah An-Nisa ayat 17. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya17.html

Ibn Kathir, I. ibn U. (n.d.). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm: Tafsir Surah An-Nisa ayat 18. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura4-aya18.html

Ibn Kathir, I. ibn U. (n.d.). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm: Tafsir Surah Al-An’am ayat 54. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura6-aya54.html

Ibn Kathir, I. ibn U. (n.d.). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm: Tafsir Surah An-Nahl ayat 119. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura16-aya119.html

Tafsir As-Sa’di
Al-Sa’di, A. ibn N. (n.d.). Taysīr al-karīm al-raḥmān fī tafsīr kalām al-mannān: Tafsir Surah An-Nisa ayat 17. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura4-aya17.html

Al-Sa’di, A. ibn N. (n.d.). Taysīr al-karīm al-raḥmān fī tafsīr kalām al-mannān: Tafsir Surah An-Nisa ayat 18. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura4-aya18.html

Al-Sa’di, A. ibn N. (n.d.). Taysīr al-karīm al-raḥmān fī tafsīr kalām al-mannān: Tafsir Surah Al-An’am ayat 54. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura6-aya54.html

Al-Sa’di, A. ibn N. (n.d.). Taysīr al-karīm al-raḥmān fī tafsīr kalām al-mannān: Tafsir Surah An-Nahl ayat 119. King Saud University. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura16-aya119.html

—

Ditulis saat perjalanan dari Darush Sholihin Panggang Gunungkidul menuju Majelis Taklim Shafiyah Shalehah di Sekar Kedhaton Kotagede

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42909-mengapa-orang-yang-berbuat-dosa-disebut-bodoh-walaupun-berilmu.html

Menjadi Istri yang Menyenangkan Hati Suami

Salah satu karakter wanita shalihah adalah mampu menyenangkan hati suami ketika suami melihatnya, baik karena pakaian, dandanan, atau sebab-sebab yang lainnya. Lebih-lebih karena sang istri tersebut senantiasa menaati suami dan merespon perintah suami dengan penuh ketaatan, tanpa diiringi rasa sombong (congkak) atau merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada suami. 

[lwptoc]

Wanita yang paling baik

Marilah kita renungkan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR. An-Nasa’i no. 3231, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Maksud, “tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya”, misalnya sang suami tidak suka melihat istri memakai baju jenis tertentu, padahal baju tersebut sangat disukai oleh sang istri. Maka seorang istri shalihah akan mendahulukan keinginan suami daripada selera dirinya sendiri. 

Inilah karakter wanita (istri) yang terbaik, yaitu dia berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali dia bersama dengan suami. Demikian pula, perhatian dan fokus utama seorang istri adalah berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. 

Berdandan di luar rumah, acak-acakan di dalam rumah

Di antara perkara yang memprihatinkan adalah banyak dari istri yang tidaklah berdandan dan berhias, kecuali karena hendak keluar rumah. Entah karena hendak berbelanja atau hendak mengikuti acara pertemuan di luar rumah, atau sejenisnya. Adapun jika berkaitan dengan hak suami ketika suami di rumah, dia pun menemui suaminya dengan baju ala kadarnya, bau yang tidak enak, rambut yang kusut dan acak-acakan, dan dalam kondisi-kondisi jelek lainnya. Sehingga sang suami pun akhirnya tidak berselera terhadap sang istri. Namun, begitu sang istri hendak keluar rumah, tiba-tiba dia berdandan dan berhias dengan penampilan terbaiknya. 

Bagaimana hati seorang suami akan dipenuhi kecintaan terhadap istri jika sang istri bersikap demikian? 

Lebih-lebih jika sang istri tidak mau taat kepada sang suami, banyak bermuka masam, sering marah-marah, atau banyak berkeluh kesah di hadapan suami. 

Wahai para istri, perhatikanlah hal ini …

Pelajaran dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ نَهَى رَسُولُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang orang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga (istrinya) pada malam hari.” (HR. Muslim no. 1928)

An-Nawawi rahimahullah dan Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang datang mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada istri. Adapun musafir yang sudah memberitahu sebelumnya, tidak termasuk dalam larangan ini. (Fathul Bari, 9: 252, Syarh Shahih Muslim 13: 73)

Diriwayatkan juga dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ

“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safar di malam hari, janganlah langsung (tiba-tiba)  mendatangi istrinya di waktu malam. (Agar istri) masih bisa mencukur bulu kemaluan dan menyisir rambutnya.“ (HR. Muslim no. 715)

Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan hendaknya para suami yang safar keluar kota, tidak tiba-tiba pulang ke rumah dan menemui istri di malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu (ketika jaman dulu tidak ada alat komunikasi seperti sekarang). Mengapa demikian? Agar para istri memiliki waktu untuk mencukur bulu kemaluan dan juga menyisir rambutnya. Artinya, agar para istri bisa berdandan dan menemui suami dalam kondisi terbaiknya.

Dengan kata lain, kita dapati bagaimanakah kehidupan shahabiyah (sahabat Rasulullah yang perempuan) ketika itu. Yaitu, mereka sangat memperhatikan dan merawat kondisi dirinya ketika sang suami ada di rumah (tidak safar). Sedangkan ketika sang suami safar dalam jangka waktu agak lama, mereka tidak menyisir rambutnya atau tidak merawat dirinya secara umum. Karena mereka tahu, mereka mempercantik dirinya itu hanyalah dalam rangka menyenangkan hati suami, sedangkan saat ini, sang suami sedang tidak di rumah.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah larangan tersebut, yaitu agar para istri mempersiapkan kedatangan suami dengan membersihkan diri, berdandan, mencukur bulu kemaluan, dan juga membersihkan rumah. 

Pelajaran dari hadits ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

Membersihkan dan menata rumah ini bisa kita ambil pelajaran dari hadits yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘amha, beliau berkata, 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari safar dan aku memasang gorden di sisi rumah yang di dalamnya ada gambar makhluk hidup. Ketika melihat gorden tersebut, beliau mencabutnya, seraya bersabda,

يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ

“Wahai ‘Aisyah, orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang membuat sesuatu yang serupa dengan ciptaan Allah.” 

‘Aisyah berkata, 

فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Aku pun memotongnya dan kain itu aku buat satu bantal atau dua bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107)

Mengapa ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memasang korden tersebut? Hal ini karena beliau ingin ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati rumah yang indah karena diberi hiasan. 

Faidah dari hadits-hadits tersebut adalah hendaknya seorang wanita membersihkan, mempersiapkan, dan menghias rumah. Sebagaimana dia juga berusaha merawat, membersihkan dan menghias dirinya sendiri di hadapan suami. Inilah yang kita dapatkan dari syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[Selesai]

***

@Rumah Kasongan, 13 Dzulqa’dah 1441/ 4 Juli 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Shifaat Az-Zaujatish Shaalihaat, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, hal. 23-27.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/57646-menjadi-istri-yang-menyenangkan-hati-suami.html