Keadaan Seorang Mukmin Seperti Tangkai Yang Ditiup Angin

Keadaan seorang Mukmin seperti tangkai yang ditiup angin, terkadang lurus terkadang miring. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ المُؤْمِنِ كَمَثَلِ الخامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، مِن حَيْثُ أتَتْها الرِّيحُ كَفَأَتْها، فإذا اعْتَدَلَتْ تَكَفَّأُ بالبَلاءِ، والفاجِرُ كالأرْزَةِ، صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً، حتَّى يَقْصِمَها اللَّهُ إذا شاءَ

“Permisalan seorang Mukmin adalah seperti tangkai tanaman yang baru tumbuh. Ia bergoyang sesuai tiupan angin yang menerpanya. Ketika angin sudah tenang, ia kembali seperti semula. Itulah bala’ (bencana). Sedangkan orang fajir itu seperti tangkai padi yang keras dan lurus, sampai akhirnya Allah patahkan ia sesuai kehendak-Nya” (HR. Al Bukhari no.5644).

Dalam riwayat lain:

ومَثَلُ الكافِرِ كَمَثَلِ الأرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حتَّى يَقْصِمَها اللَّهُ إذا شاءَ

“… sedangkan orang kafir itu seperti tangkai padi yang keras dan lurus, sampai akhirnya Allah patahkan ia sesuai kehendak-Nya” (HR. Al Bukhari no. 7466).

Dalam riwayat Muslim, dari sahabat Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ المُؤْمِنِ كَمَثَلِ الخامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، تُفِيئُها الرِّيحُ، تَصْرَعُها مَرَّةً وتَعْدِلُها أُخْرَى، حتَّى تَهِيجَ، ومَثَلُ الكافِرِ كَمَثَلِ الأرْزَةِ المُجْذِيَةِ علَى أصْلِها، لا يُفِيئُها شيءٌ، حتَّى يَكونَ انْجِعافُها مَرَّةً واحِدَةً

“Permisalan seorang Mukmin adalah seperti tangkai tanaman yang baru tumbuh. Ia bergoyang sesuai tiupan angin yang menerpanya. Terkadang ia miring terkadang ia lurus. Sampai akhirnya ia kering menguning. Sedangkan orang kafir itu seperti tangkai padi kuat di atas akarnya, tidak bergoyang sama sekali, sampai akhirnya ia dicabut sekali saja” (HR. Muslim no.2810).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan hadist-hadits di atas:

قَالَ الْعُلَمَاءُ مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ الْمُؤْمِنَ كَثِيرُ الْآلَامِ فِي بَدَنِهِ أَوْ أَهْلِهِ أَوْ مَالِهِ وَذَلِكَ مُكَفِّرٌ لِسَيِّئَاتِهِ وَرَافِعٌ لِدَرَجَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَقَلِيلُهَا وَإِنْ وَقَعَ بِهِ شَيْءٌ لَمْ يُكَفِّرْ شَيْئًا مِنْ سَيِّئَاتِهِ بَلْ يَأْتِي بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ كاملة

“Para ulama mengatakan, makna hadits ini adalah bahwa seorang Mukmin itu terkadang merasakan banyak musibah pada badannya atau pada keluarganya atau pada hartanya. Namun itu semua adalah penghapus dosa-dosa mereka dan mengangkat derajat mereka.

Adapun orang kafir, sedikit musibah yang menimpa mereka dan musibah itu pun tidak menghapuskan keburukan-keburukan mereka, sehingga mereka akan mempertanggung-jawabkan dosa-dosanya secara penuh di hari Kiamat” (Syarah Shahih Muslim, 17/153).

Wallahu a’lam.

sumber : https://kangaswad.wordpress.com/2021/09/15/keadaan-seorang-mukmin-seperti-tangkai-yang-ditiup-angin/

Ucapan Insya Allah Adalah Janji

Ketika anda mengucapkan “insya Allah”, itu sudah dianggap janji, tidak boleh sengaja mengingkarinya. Dan mengucapkan “insya Allah” disertai dengan niat untuk tidak menepati janji, ini termasuk kemunafikan. Karena berbeda antara hati dan ucapan.

Imam Al Auza’i rahimahullah mengatakan :

الوعد بقول: إن شاء الله، مع اضمار عدم الفعل نفاق

“Berjanji dengan mengucapkan insyaAllah, sambil meniatkan dalam hati untuk tidak melakukannya, ini adalah kemunafikan” (Jami’ Al Ulum wal Hikam, 2/482).

Maka mengingkari janji adalah bentuk nifaq (kemunafikan) walaupun disamarkan dengan perkataan insyaAllah.

Yang beliau maksudkan adalah nifaq ‘amali yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Namun tetap saja ini perbuatan yang sangat tercela karena disebut sebagai kemunafikan.

Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

في المنافقِ ثلاثٌ ، إذا حدَّث كذبَ ، و إذا وعد أخلفَ ، وإذا ائتُمِنَ خانَ

“Ada 3 sifat orang munafik: [1] jika ia bicara, ia berdusta, [2] jika ia berjanji, ia ingkar janji, [3] jika ia diberi amanah, ia berkhianat” (HR. Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir [8/386], Ibnu Hibban no. 256, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 1998).

Jika berjanji, walaupun dengan ucapan insyaAllah, maka wajib ditepati. Jika tidak sanggup maka jangan berjanji, dan hendaknya ucapkan “tidak” sejak awal.

Syaikh Dr. Shalih Sindi hafizhahullah mengatakan:

المنع بعد الوعد سلوك مرذول فجانبه
قالوا أقبح الكلام “لا” بعد “نعم”

“Membatalkan (janji ketika sudah menyanggupi) adalah akhlak yang rendahan, maka hendaknya jauhilah
Para ulama mengatakan: seburuk-buruk perkataan adalah ucapan ‘tidak’ setelah sebelumnya sudah berkata: ya”
 (Al Adab ‘Unwanus Sa’adah, hal. 33, karya Syaikh Dr. Shalih Sindi).

Maka hendaknya berpikir dulu dengan bijak sebelum mengiyakan sesuatu, dan beranilah mengucapkan “tidak” jika memang tidak yakin bisa menyanggupi.

Wallahu a’lam.

sumber : https://kangaswad.wordpress.com/2020/09/03/ucapan-insya-allah-adalah-janji/

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Menjadikan Shalat Untuk Mengadu Kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ {45} الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya. [al Baqarah/2 : 45-46].

Ibnu Katsir rahimahullah , dalam Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim (1/89) menerangkan ayat di atas dengan bertutur : “Allah memerintahkan hambaNya untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai pijakan bantuan dalam meraih apa yang mereka harapkan dari kebaikan dunia dan akhirat”.

Dari sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

Bila kedatangan masalah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat. [1]

Itulah shalat yang sebenarnya, yang berperan sebagai piranti bagi seorang muslim dalam meminta perlindungan dan mengadu kepada Allah Ta’ala dari berbagai macam kesulitan dan kesedihan, permasalahan dan kepenatan. Dia tidak akan merasa sendirian, tetapi mendapatkan dukungan dari Allah, Pemilik langit dan bumi.

Maka, tidak disangsikan lagi potensi yang tersimpan pada shalat. Sebab kondisi seorang hamba sangat dekat dengan Allah dalam shalat. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa (di dalamnya). [HR Muslim no. 482, dari Abu Hurairah]


Oleh karena itu, semestinya seorang muslim memperbanyak doa saat bersujud, bertadharru’ (tunduk) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , supaya Dia menyingkirkan berbagai permasalahan dan kesulitan, serta memberi kita anugerah kebaikan dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan faidah shalat: “Shalat termasuk faktor dominan dalam mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, dan menyingkirkan keburukan dunia dan akhirat. Ia menghalangi dari dosa, menolak penyakit hati, mengusir keluhan fisik, menerangi kalbu, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota tubuh dan jiwa, memelihara kenikmatan, menepis siksa, menurunkan rahmat dan menyibak tabir permasalahan’.[2]

Shalat itu sendiri akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dan seorang muslim, ia akan menggapai ketenangan jika dekat dengan Allah Ta’ala. Disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ إِنَّ اللهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ {27} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepadaNya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. [ar Ra’du/13 : 27-28].

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata berkata kepada Bilal :

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا

“Wahai, Bilal. Kumandangkan iqamah shalat. Buatlah kami tenang dengannya“. [Hadits hasan, Shahihu al Jami’ : 7892]
.
Wahai orang yang mencari ketenanganan ketenteraman, dan kesejukan mata, tujulah shalat dengan penuh khusyu dan rasa hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar engkau dapat merengkuh keinginanmu. Kalau tidak, maka janganlah mencela kecuali kepada dirimu sendiri.

(Diangkat dari ash Shalatu wa Atsaruha fi Zayadati al Iman wa Tahdzibi an Nafs, karya Husain al ‘Awaysyah, Dar Ibni Hazm, Beirut, Cet. III, Th. 1418 H).

Baca Juga  Bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menjenguk Orang Sakit
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]


Footnote
[1]. Hadits hasan riwayat Ahmad dalam Musnad (5/388) dan Abu Dawud (2/35). Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1/245).
[2]. Zadu al Ma’ad (4/120).
Referensi : https://almanhaj.or.id/3782-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-menjadikan-shalat-untuk-mengadu-kepada-allah.html

Hidup Itu Saling Memandang

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup Anda? Itulah kehidupan di dunia. Semua orang pernah dan akan mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan di muka bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang yang muslim ataupun yang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Demikian itulah, karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu kenikmatan yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53)

Seseorang tidak akan berubah dari bahagia menjadi sedih, dari rezeki yang lancar menjadi sukar, kalau bukan dirinya sendiri yang mengubahnya, disebabkan dosa dan maksiat yang diperbuat. Selain itu, kebahagiaan dan kenikmatan yang ia miliki, baik berupa jasmani (fisik dan akal yang sempurna, tidak cacat, kesehatan, pasangan, keturunan, kecukupan harta, kendaraan, tempat tinggal, maupun makanan) atau rohani (ketenangan jiwa) bisa berganti menjadi kesedihan dan kekurangan tatkala ia tergoda untuk membanding-bandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain.

Ketika dirinya mulai tertarik melihat media sosial atau film yang di sana ditampilkan wanita cantik dan membuka aurat, mulailah ia membandingkan pasangannya dengan para artis. Kala bisnisnya mulai lancar atau gajinya sudah naik, mulailah ia membandingkan dengan orang lain yang gajinya lebih besar dan jabatannya lebih tinggi. Saat ia melihat temannya sudah memiliki mobil, ia mulai membandingkan kendaraan roda dua yang dimilikinya. Tatkala seseorang mulai membanding-bandingkan apa yang ia miliki dengan orang lain, maka saat itu juga secara bertahap kebahagiaan dan ketenangan yang ia miliki menjadi semakin kecil dan berkurang, bahkan berganti menjadi keresahan dan kesempitan.

Allah Ta’ala telah mengingatkan,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kalian terpesona (silau) kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia (rezeki) Tuhan kamu adalah lebih baik untukmu dan (pahala yang disediakan di akhirat) lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Hidup itu bagaimana cara kita memandang

Hidup itu hanya masalah pandang dan memandang, jangan hanya memandang dari apa yang dipandang. Hidup itu adalah melihat dan dilihat, jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Kita melihat orang lain seakan-akan bahagia, padahal kenyataannya belum tentu demikian. Bahkan, bisa jadi, ia malah melihat kita lebih bahagia. Saat kita melihat orang lain memiliki rumah dan mobil mewah, bisa jadi ia sedang diuji dari sisi lain, seperti belum dikaruniai keturunan atau sakit parah yang mana ia memandang kita lebih bahagia karena memiliki anak dan diberikan kesehatan. Orang yang sering terpukau dengan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain akan timbul perasaan iri, dengki, syukur yang semakin berkurang, bahkan protes terhadap pemberian dari Allah kepada dirinya.

Allah Ta’ala menegaskan,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Apakah mereka yang berhak membagi-bagi rahmat Tuhan kalian? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat saling memberi manfaat sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan kami jadikan sebagian kamu ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan: 20)

Memandang ke bawah agar lebih bersyukur

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu (dalam masalah dunia). Karena dengan begitu, kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiada seorang pun yang tertimpa musibah di dunia ini, kecuali ia akan menemukan orang yang lebih besar lagi musibahnya. Jika ia sedang ditimpa kesusahan, masih banyak orang yang lebih susah dari dirinya. Dengan memandang orang yang berada di bawah, maka kesusahan dan rasa sedih yang ia rasakan akan berkurang dan membuat hatinya terhibur, sehingga membantunya untuk bersabar dan bersyukur karena ternyata masih ada orang yang berada di bawahnya.

***

Penulis: Arif Muhammad

Sumber: https://muslim.or.id/90747-hidup-itu-saling-memandang.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Membandingkan Gaji adalah Sumber Ketidakbahagiaan

Ingatlah, membandingkan gaji adalah sumber ketidakbahagiaan.

Iya karena dengan sering membanding-bandingkan, kita akan sulit bersyukur. Coba perhatikan hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963)

Sifat yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah qanaah.

Apa itu Qanaah?

Qanaah berasal dari kata qani’a, yaqna’u, qunuu’an, qana’atan, berarti rida (nerimo), yaitu ar-ridhaa’ bil yasiir minal ‘athoo’, rida dengan pemberian yang sedikit.

As-Suyuthi dalam Mu’jam Maqalid Al-‘Ulum mengatakan, “Qanaah itu rida dengan yang sedikit (kurang dari cukup, tidak bergaya dengan sesuatu yang memang tidak ada, dan merasa cukup dengan yang ada.” (Sumber: https://ar.islamway.net/article/29095/معنى-القناعة-لغة-واصطلاحا)

Ibnus Sunni berkata,

القناعة الرضا بالقسم

 “Qanaah adalah ar-ridhaa bil qismi, rida dengan pembagian.”

Al-Munawi berkata, 

القناعة الإقتصار على الكفاف

“Qanaah adalah al-iqtishaar ‘alal kafaaf, merasa cukup dengan yang sedikit.” (Diambil dari Mawsu’ah Nadhrah An-Na’iim, 8:3167-3168)

Jangan banding-bandingkan gaji kita dengan orang lain. Nantinya, KITA AKAN LUPA UNTUK BERSYUKUR.

Referensi:

  1. Mawsu’ah Nadhrah An-Na’iim fii Makarim Akhlaq Ar-Rasul Al-Karim shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cetakan kesembilan, Tahun 1435 H. Musyrif: Shalih bin ‘Abdillah bin Humaid dan ‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Malluh. Penerbit Darul Wasilah.
  2. https://ar.islamway.net/article/29095/معنى-القناعة-لغة-واصطلاحا

—

Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 23 Februari 2021 (11 Rajab 1442 H)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/27301-membandingkan-gaji-adalah-sumber-ketidakbahagiaan.html

Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Islam

Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran atau amar ma’ruf nahi mungkar adalah puncak tertinggi dalam agama menurut segian ulama, tanpa amar ma’ruf nahi mungkar syariat agama tidak akan berjalan, bahkan seluruh rasul Allah diutus demi untuk mengajak umatnya kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Tanpa adanya amar ma’ruf nahi mungkar maka kemungkaran akan merajalela, kerusakan dimana-mana, kemaksiatan akan terasa biasa sedang ketaatan terasa asing.

1. Diutusnya para Rasul adalah untuk menyeru kepada puncaknya kebaikan yaitu tauhid atau mengesakan Allah dan mencegah dari puncaknya kemungkaran yaitu syirik atau menyekutukan Allah, Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَد بَعَثنَا فِي كُلِّ أُمَّة رَّسُولًا أَنِ ٱعبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ فَمِنهُم مَّن هَدَى ٱللَّهُ وَمِنهُم مَّن حَقَّت عَلَيهِ ٱلضَّلَٰلَةُ فَسِيرُواْ فِي ٱلأَرضِ فَٱنظُرُواْ كَيفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36).

2. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah salah satu sifat Rasulullah ﷺ yang disebutkan pada kitab-kitab terdahulu, seehingga sudah selayaknya kita meneladani beliau.

Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكتُوبًا عِندَهُم فِي ٱلتَّورَىٰةِ وَٱلإِنجِيلِ يَأمُرُهُم بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَىٰهُم عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيهِمُ ٱلخَبَٰئِثَ وَيَضَعُ عَنهُم إِصرَهُم وَٱلأَغلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَت عَلَيهِم فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِي أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma´ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-A’raf: 157).

3. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah sifat dan ciri yang paling menonjol dari orang yang beriman, sifat inilah yang membedakan antara mereka dengan yang lainnya.

Allah berfirman:

وَٱلمُؤمِنُونَ وَٱلمُؤمِنَٰتُ بَعضُهُم أَولِيَاءُ بَعض يَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰئِكَ سَيَرحَمُهُمُ ٱللَّهُ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

4. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebab keberuntungan ummat ini, Allah ﷻ berfirman:

وَلتَكُن مِّنكُم أُمَّة يَدعُونَ إِلَى ٱلخَيرِ وَيَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104).

5. Dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ummat ini akan memperoleh prediket sebagai ‘ummat terbaik’, Allah ﷻ berfirman:

كُنتُم خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَت لِلنَّاسِ تَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَتَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَتُؤمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَو ءَامَنَ أَهلُ ٱلكِتَٰبِ لَكَانَ خَيرا لَّهُم مِّنهُمُ ٱلمُؤمِنُونَ وَأَكثَرُهُمُ ٱلفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran: 110).

6. Dengan adanya amar ma’ruf nahi mungkar -dengan seluruh tingkatannya- maka keamanan akan senantiasa terjaga, kemungkaran dapat diminimalisir dan kihilangkan, dan adzab Allah ﷻ dapat terhindarkan. Tanpa adanya amar ma’ruf nahi mungkar kemungkaran akan merajalela, kehidupan manusia akan semakin rusak, bahkan adzab Allah ﷻ bisa turun sebagaimana yang terjadi kepada Bani Israil dahulu ketika mereka tidak mencegah kemungkaran.

Penyusun: Arinal Haq

sumber : https://www.hisbah.net/pentingnya-amar-maruf-nahi-mungkar-dalam-islam/

Makanan Mempengaruhi Sifat dan Watak Manusia

Islam telah menggariskan bahwa tidak semua makanan boleh masuk ke dalam tubuh kita. Makanan halal boleh untuk dikonsumsi sedangkan makanan haram terlarang untuk dikonsumsi. Di antara akibat mengonsumsi makanan haram adalah membuat doa sulit terkabul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik) dan tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Di samping itu, makanan haram akan memberikan efek negatif tersendiri bagi tubuh kita, karena inilah hikmah mengapa Allah dan Rasul-Nya melarang sesuatu. Sebaliknya, makanan yang halal dan baik akan menumbuhkan darah dan daging yang baik, perilaku dan perbuatannya pun insya Allah cenderung baik.

Menurut keterangan para ahli, makanan yang kita konsumsi bisa mempengaruhi watak dan perilaku kita, khususnya pada makanan-makanan hewani. Sampai-sampai dikenal ungkapan, “You Are What You Eat”. Oleh karena itu, perilaku penduduk suatu negeri cenderung berbeda dengan penduduk negeri lainnya, sebabnya karena perbedaan makanan yang kerap dikonsumsi.

Dikatakan bahwa orang Arab suka makan daging unta sehingga orang Arab punya sifat dasar pencemburu dan keras sebagaimana sifatnya unta. Sebaliknya, orang Barat suka makan daging babi sehingga cenderung sedikit atau bahkan tidak punya sifat cemburu. Orang Turki biasa makan daging kuda sehingga gesit dan cepat bergerak. Orang Habasyah biasa makan daging kera sehingga mereka pandai menari dan sebagainya. Orang-orang Indonesia dikenal manut dan gampang diatur konon katanya karena suka makan ayam dan kerbau.

Watak dan perilaku yang banyak dijumpai pada orang Barat yang mati rasa cemburunya, sekali lagi itu terjadi di antaranya karena daging babi telah membunuh “ghirah” orang yang memakannya. Seorang lelaki membiarkan istrinya bersama lelaki lain, membiarkan anaknya bersama lelaki asing tanpa rasa cemburu dan was-was, atau dia sendiri yang berselingkuh dengan wanita lain. Sebagaimana babi tidak mengenal cemburu, babi itu benar-benar menularkan sifat-sifat buruknya pada orang yang memakannya.

Mungkin inilah di antara hikmah mengapa Allah mengharamkan babi secara tegas di dalam Al-Quran. Allah berfirman,

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah.” (QS Al-Baqarah: 173)

Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim membawakan sebuah faidah dalam bukunya Shahih Fiqh Sunnah,

قال صاحب «تفسير المنار» (٢/ ٩٨) في معرض بيانه لحكمة الشريعة في تحريم الخنزير:«حرم الله لحم الخنزير فإنه قذر، لأن أشهى غذاء الخنزير إليه القاذورات والنجاسات، وهو ضار في جميع الأقاليم، كما ثبت بالتجربة، وأكل لحمه من أسباب الدودة القتالة، ويقال: إن له تأثيرًا سيِّئًا في العفة والغيرة» اهـ.

Penulis Tafsir Al-Manaar ketika menjelaskan hikmah syariat mengharamkan babi (2/98), beliau berkata, “Allah mengharamkan daging babi karena kotor sebab makanan favoritnya adalah kotoran dan najis. Babi sangat berbahaya untuk semua manusia, sebagaimana dibuktikan oleh pengalaman. Memakan dagingnya adalah salah satu penyebab penyakit cacingan yang mematikan. Bahkan ia memiliki pengaruh yang buruk terhadap sifat iffah (menjaga kehormatan) dan ghirah (kecemburuan) bagi orang yang mengonsumsinya.” (Shahih Fiqh Sunnah, 2/339)

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/makanan-mempengaruhi-sifat-dan-watak-manusia.html

Penyebab Selingkuh yang Paling Banyak Terjadi

Salah satu topik pembicaraan yang tak ada henti-hentinya dibicarakan sejak dulu adalah tentang perselingkuhan. Perilaku buruk ini terkadang tidak mengenal tempat, keluarga yang belum lama terjalin hingga keluarga yang sudah terbangun bertahun-tahun tidak luput dari fenomena satu ini. Baik pihak suami maupun pihak istri, terkadang tidak ada bedanya. Ternyata cinta saja tidak cukup untuk menghindarkan hubungan rumah tangga dari perselingkuhan.

Sebenarnya apa alasan sampai pasangan tega melakukan hal tersebut? Berdasarkan banyak penelitian yang dilakukan oleh banyak ahli, ada beberapa kondisi yang menjadi pemicu perselingkuhan bisa terjadi. Namun fakta membuktikan, pemicu paling utama dan paling banyak mengapa seseorang selingkuh adalah karena tidak terpuaskan secara seksual.

Tidak dipungkiri bahwa kebutuhan seksual menjadi kebutuhan primer setiap orang. Jika kebutuhan ini dilalaikan maka bisa berakibat buruk untuk kesehatan fisik dan mental. Agama Islam sendiri sangat perhatian dengan pemenuhan kebutuhan ini. Beberapa hadits menggambarkan akan hal itu, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh.” (HR Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

“Jika seorang lelaki mengajak istrinya untuk memenuhi hasratnya, maka hendaknya dia mendatanginya, walau dia sedang berada di dapur (memasak).” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Namun perlu dipahami bahwa dalam kebutuhan seksual, bukan hanya sekedar terpenuhinya hasrat biologis saja. Lebih dari itu, kepuasan seksual juga meliputi pengantar-pengantar menuju hubungan biologis tersebut, seperti kata-kata romantis, suasana yang dikondisikan dengan baik, pelukan dan seterusnya. Demikian pula setelah hubungan seks tersebut, perlu adanya sesi ngobrol hangat, bercanda, dan seterusnya.

Jika hal-hal tersebut tidak diperhatikan, bisa jadi hubungan seks yang dilakukan tidak akan memberi dampak yang maksimal, sehingga kebutuhan seksual menjadi tidak terpuaskan. Ujungnya, baik laki-laki ataupun wanita mencari pelampiasan pada orang lain dan terjadilah perselingkuhan.

Artikel www.muslimafiyah.com | Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK., Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta

sumber : https://muslimafiyah.com/penyebab-selingkuh-yang-paling-banyak-terjadi.html

Doa Malaikat untuk yang Mencari Nafkah dan Rajin Sedekah

Doa malaikat itu doa yang mustajab. Di antara doanya, makaikat akan mendoakan yang memperhatikan nafkah keluarga dan gemar sedekah agar mendapatkan ganti dan memperoleh keberkahan.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Doa Malaikat

Perlu dipahami bahwa doa malaikat adalah doa yang mustajab, benar-benar mudah diijabahi atau dikabulkan.

Doa tersebut ditujukan pada orang yang memperhatikan nafkah.

Ibnu Batthol menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan infak yang wajib seperti nafkah untuk keluarga dan nafkah untuk menjalin hubungan kekerabatan (silaturahim).

Doa malaikat itu mudah terkabul –kata Ibnu Batthol- dalilnya adalah berikut ini,

فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang bacaan aminnya itu seiringan dengan amin malaikat, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 6402)

Mengeluarkan Nafkah dan Rajin Sedekah Akan Diganti

Adapun dikatakan dalam hadits bahwa orang yang rajin bersedekah atau berinfak dan yang dimaksudkan adalah seperti kata Ibnu Batthol di atas, maka Allah akan memberi ganti padanya.

Berarti siapa yang beri nafkah pada keluarga, pada kerabat, dan rajin pula mengeluarkan sedekah sunnah, maka malaikat akan mendoakan supaya orang tersebut mendapatkan ganti. Hal ini serupa seperti yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba’: 39). Maksud ayat, siapa saja yang mengeluarkan nafkah dalam ketaatan pada Allah, maka akan diberi ganti.

Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)

Enggan Menunaikan Nafkah dan Enggan Sedekah

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas dalam Syarh Shahih Muslim,

قَالَ الْعُلَمَاء : هَذَا فِي الْإِنْفَاق فِي الطَّاعَات وَمَكَارِم الْأَخْلَاق وَعَلَى الْعِيَال وَالضِّيفَان وَالصَّدَقَات وَنَحْو ذَلِكَ ، بِحَيْثُ لَا يُذَمُّ وَلَا يُسَمَّى سَرَفًا ، وَالْإِمْسَاك الْمَذْمُوم هُوَ الْإِمْسَاك عَنْ هَذَا .

“Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.

Adapun enggan berinfak yaitu enggan mengeluarkan untuk nafkah dan semisal itu.”

Hadits yang kita kaji menunjukkan keutamaan orang yang memperhatikan nafkah pada keluarga dengan baik, juga pujian bagi orang yang rajin sedekah. Sedangkan yang enggan memberikan nafkah kepada keluarga mendapatkan doa jelek dari malaikat, yaitu didoakan kebangkrutan atau kehancuran.

Semoga kita bisa memperhatikan kewajiban dalam hal menunaikan nafkah dan terus gemar sedekah.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

—

Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, 26 Jumadats Tsaniyyah 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/10831-doa-malaikat-untuk-yang-mencari-nafkah-dan-rajin-sedekah.html

Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar: Jalan Menuju Surga

Shalat Shubuh dan Ashar sering kali terasa berat karena berada pada waktu manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan aktivitasnya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi orang yang menjaganya: masuk surga dan selamat dari neraka. Bahkan, orang yang menjaga shalat Shubuh mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Allah Ta’ala.
Bab 188: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Hadits #1047: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Masuk Surga

 عَنْ أبي موسىٰ رضي الله عنه أنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَن صلَّىٰ البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ». متفق عليه.

البردان: الصبح والعصر.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan dua shalat pada waktu dingin, ia akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih)

Al-Bardain (dua waktu dingin) adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar.

Hadits #1048: Menjaga Shubuh dan Ashar Menjadi Sebab Selamat dari Neraka

وعن أبي زهيْرٍ عُمارَةَ بنِ رُؤَيْبةَ رضي الله عنه قالَ: سمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «لَنْ يَلجَ النَّارَ أَحَدٌ صلَّىٰ قَبْلَ طُلوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا» يَعْني الفَجْرَ وَالعَصْرَ. رواه مسلم.

Dari Abu Zuhair ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud adalah shalat Shubuh dan shalat Ashar.

Faedah hadits

Pertama: Menjaga shalat Shubuh dan Ashar merupakan sebab masuk surga dan selamat dari azab neraka. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus karena bacaan Al-Qur’an pada waktu Shubuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)

Ketiga: Shalat Ashar memiliki keutamaan khusus karena disebut secara khusus. Shalat Ashar adalah ash-shalah al-wustha (shalat pertengahan) dalam firman Allah Ta’ala,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ

“Peliharalah semua shalat (fardu) dan shalat Wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Hadits #1049: Orang yang Shalat Shubuh Berada dalam Jaminan Allah

 وعن جُنْدُبِ بن سُفْيَانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ صَلَّىٰ الصُّبْحَ فَهُوَ في ذِمَّةِ الله، فَانْظُرْ يَا ابنَ آدَمَ لا يَطلُبــنَّكَ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ». رواه مسلم.

Dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat Shubuh, ia berada dalam jaminan Allah. Maka perhatikanlah, wahai anak Adam, jangan sampai Allah menuntutmu karena sesuatu yang berkaitan dengan jaminan-Nya.” (HR. Muslim)

Kosakata Hadits

  • ذِمَّةُ اللهِ (dzimmatullah): perlindungan dan jaminan Allah.
  • لَا يَطْلُبَنَّكَ اللهُ (la yathlubannakallah): janganlah kalian berkhianat dan jangan melakukan perbuatan buruk. Termasuk di dalamnya adalah meninggalkan shalat Shubuh berjamaah sehingga Allah menuntut kalian karena kewajiban yang telah Dia bebankan kepada kalian.

Faedah hadits

Pertama: Shalat Shubuh ibarat kunci pembuka bagi shalat-shalat pada siang hari, bahkan menjadi pembuka bagi seluruh aktivitas sepanjang hari.

Kedua: Shalat Shubuh memiliki keutamaan khusus. Siapa yang mengerjakannya akan berada dalam penjagaan dan perhatian Allah Ta’ala.

Hadits #1050: Malaikat Berkumpul pada Waktu Shubuh dan Ashar

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ».
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Para malaikat malam dan malaikat siang datang kepada kalian secara bergantian. Mereka berkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kemudian para malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka—padahal Allah lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya—, ‘Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat, dan ketika kami mendatangi mereka, mereka pun sedang shalat.’” (Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Kosakata Hadits

يَتَعَاقَبُونَ: هَؤُلَاءِ يَنْزِلُونَ وَهَؤُلَاءِ يَصْعَدُونَ.

Ya‘ni: Para malaikat datang secara bergantian; sekelompok malaikat turun, sedangkan kelompok lainnya naik.

Faedah hadits

Pertama: Allah memuliakan orang-orang beriman. Di antara bentuk kemuliaan tersebut, Allah menugaskan para malaikat yang datang silih berganti menemui mereka pada awal dan akhir siang. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan hamba-hamba Allah yang beriman dan taat kepada-Nya.

Kedua: Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Kedua shalat ini memiliki keistimewaan karena menjadi waktu berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang.

Hadits #1051: Melihat Allah di Surga dan Keutamaan Menjaga Shalat Subuh dan Ashar

ــ وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ».

Dari Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat-Nya. Karena itu, jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dalam menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah.’” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau memandang bulan pada malam tanggal empat belas.”

Kosakata Hadits

لَا تُضَامُونَ: لَا يَلْحَقُكُمْ ضَيْمٌ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ وَالتَّعَبُ.

Lā tudhāmmūn: Kalian tidak akan mengalami kesulitan. Maksud dhaim adalah kesulitan dan keletihan.

Faedah hadits

Pertama: Hadits ini menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka secara langsung di surga. Inilah salah satu kenikmatan penghuni surga yang paling mulia dan paling agung.

Kedua: Menjaga pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar termasuk sebab seseorang mendapatkan taufik untuk melihat Allah Ta‘ala di surga.

Ketiga: Seorang mukmin membenarkan berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menolaknya dengan akalnya sendiri dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Ta‘ala?” Sikap menerima dan tunduk seperti inilah yang menjadi karakter seorang mukmin dalam menghadapi seluruh berita yang datang dari syariat.

Hadits #1052: Ancaman Keras bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar

ــ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, sungguh amalnya telah gugur.” (HR. Bukhari).

Kosakata Hadits

حَبِطَ: بَطَلَ أَجْرُهُ.

Habitha: Pahalanya menjadi batal.

Faedah hadits

Pertama: Begitu agung kedudukan shalat Ashar. Shalat Ashar menjadi tolok ukur diterima atau ditolaknya suatu amal.

Kedua: Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka pahalanya telah gugur.

—-

Selesai ditulis di Jogja, Kamis, 6 Rabiul Awal 1448 H, 20 Agustus 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42640-keutamaan-shalat-shubuh-dan-ashar-jalan-menuju-surga.html