Bangga Menjadi Muslim

Dewasa ini, kita sering mendapatkan saudara-saudara kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – yang tidak berbangga dengan agamanya (yaitu tidak merasa gagah karena keutamaan dan keunggulan Islam). Sehingga sebagian pelajar muslim, misalnya, mungkin masih merasa minder ketika memakai celana di atas mata kaki (tidak isbal) di sekolahan mereka. Sebagian pemuda muslim minder dengan hari raya Islam, sehingga menambahkan hari raya-hari raya lainnya dalam Islam. Bahkan, ada diantara mereka yang ikut memperingati hari raya agama lain, Na’uudzubillahi min dzaalik.

Padahal, apabila kita melihat keutamaan Islam, tentu kita akan merasa bangga dengannya. Pada bahasan kali ini, penulis mengangkat tema “Bangga menjadi Muslim”, supaya menambah rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas nikmat Islam ini, tetap istiqomah di atas jalan-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan selainnya.

Diantara Keutamaan-keutamaan Islam

Imam Bukhari dan Muslim membawakan hadits dari Thaariq bin Syihaab, dia berkata bahwasanya seorang yahudi berkata kepada ‘Umar bin Khattab (yang saat itu menjadi khalifah) radhiyallahu ‘anhu, “Wahai amirul mukminin, sebuah ayat dalam al-Quran yang kalian membacanya, seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?,” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (QS. Al-Maidah: 3) ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu, yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at. ” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikianlah, seorang Yahudi mengetahui keutamaan Islam, dimana keutamaan Islam bisa dilihat (melalui ayat QS. Al-Maidah: 3 tersebut) dari beberapa tinjauan, diantaranya:

Ditinjau dari hakikat islam itu sendiri

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah telah mengabarkan kepada nabi-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, bahwasanya Dia telah menyempurnakan islam bagi mereka, sehingga mereka tidak akan membutuhkan tambahan selamanya. Dan Allah telah melengkapkannya, sehingga Dia tidak akan menguranginya selamanya. Dan Allah telah meridhainya, maka Dia tidak akan marah kepadanya selamanya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 14/2)

Ditinjau dari pemeluknya

Hal ini diambil dari firman Allah (artinya), “Dan Aku telah meridhai bagi kalian Islam sebagai agama” yang umum mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima agama apapun — setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — kecuali Islam. Hal ini merupakan keutamaan bagi seluruh pemeluknya.

Ditinjau dari kekekalan / keabadiannya

Agama-agama sebelum islam dikhususkan bagi waktu tertentu (terbatas) dan zaman yang telah Allah tentukan; kemudian Allah mengangkat hukumnya (naskh), dan menggantikannya dengan agama Islam. Sementara itu, agama islam kekal sampai hari kiamat. Bahkan, Nabi Isa ‘alaihissalam ketika turun pada akhir zaman, dia akan berhukum dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat I’laamul Anaam bi Syarhi Kitaab Fadhlil Islaam, hal. 22 — 24).

Demikianlah agama kita tercinta ini. Sangat banyak dan jelas keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, sehingga orang di luar Islampun juga mengakui keutamaan-keutamaannya.

Keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya

Masih tentang keutamaan islam, untuk melengkapi bahasan tentang keutamaan Islam, penulis merasa perlu menambahkan bahasan khusus tentang keutamaan islam ditinjau dari perbandingannya dengan agama-agama selainnya. Keutamaan tersebut juga sangat banyak, diantaranya :

  1. Islam untuk semua umat manusia
    Islam merupakan agama yang Allah syariatkan untuk seluruh umat manusia. Hal tersebut berbeda dengan agama-agama samawi lainnya yang disyariatkan khusus untuk umat tertentu, misalkan Nashrani (baca : syariat Nabi Isa ‘alaihissalam) yang khusus diperuntukkan kepada Bani Israil saja.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku … nabi sebelumku diutus hanya untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Allah Ta’ala berfirman ketika mensifati Nabi Isa ‘alaihissalam (yang artinya), “Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil” (QS. Ali Imran : 49).
  2. Tanda kenabian yang kekal hingga akhir zaman
    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa Dia yang akan menjaga al-Quran. Sementara untuk selain al-Quran, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
    Maka dalam ayat ini, Allah menyerahkan penjagaan kitab tersebut kepada mereka, kemudian mereka mengganti dan merubahnya. (lihat Tafsir al-Qurthubi : 5/10)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menunjukkan kita kepada Islam, satu-satunya agama yang benar, dan memiliki banyak keutamaan.

Beberapa contoh aplikasi nyata dari bangga sebagai muslim

Bangga dengan hari raya islam

Diantara praktek nyata dari kebanggaan sebagai seorang muslim, adalah bangga dengan hari raya yang telah Allah pilihkan untuknya. Anas Radhiallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad dan selainnya).

Berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna rahimahullah: “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat …. ” [Fathur Rabbani, 6/119] (Lihat Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnahil Muthohharoh, hal 13 — 16)

Oleh karena itu, cukup bagi kita hari raya yang telah Allah pilihkan untuk kita, dan meninggalkan hari raya-hari raya selainnya, seperti tahun baru, dan selainnya.

Bangga dengan celana tidak isbal (khusus laki-laki)

Sebagian pelajar muslim mungkin masih merasa minder ketika memakai celana yang tidak isbal (yaitu celana di atas mata kaki) di sekolahan mereka. Sebagian mahasiswa muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kampus mereka. Demikian juga, sebagian karyawan muslim mungin juga minder ketika memakai celana seperti itu di kantor mereka.

Wahai saudaraku sekalian, ketahuilah bahwasanya memakai celana di atas mata kaki merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu, berbanggalah kalian dengan model celana seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits-hadits yang melarang isbal sangat banyak, sehingga mencapai batas hadits mutawatir maknawi, diantaranya adalah hadits di atas. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk ke kitab Hadduts Tsaub wal Uzroh wa Tahriimul Isbaal wa Libaasusy Syuhroh karya Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua istiqomah untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

—

Penulis: Abu Ka’ab Prasetyo, S.Kom.

Artikel Buletin Al Hikmah dipublikasi ulang oleh Muslim.Or.Id
Sumber: https://muslim.or.id/19404-bangga-menjadi-muslim.html

Orang Yang Berakal Sehat

Sahabat yang mulia, Abu ad-Darda’ʾ rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian bagaimana cara mengenali orang yang berakal sehat..?

  • Ia tawadhu (rendah hati) kepada orang yang berada di atasnya, dan tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.
  • Ia berpegang teguh pada keutamaan, bergaul dengan manusia sesuai dengan tabiat/akhlak mereka, dan
  • Ia menjaga keimanan batinnya tetap menjadi rahasia antara dirinya dengan Robb-nya Yang Mahaperkasa lagi Mahagung.

Oleh karena itu, ia menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian..”

(Akhbaar al-Adzkiyaa’ – Ibnul Jauzi)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74985

Hukum Berobat ke Dukun

Berobat ke Dukun

Pertanyaan:

Pembaca dari Riyadh mengirimkan sura kepada kami. Dalam surat itu dia mengatakan, “Ayahku sakit jiwa dan penyakit tersebut sudah berlangsung lama. Selama itu pula berkali-kali datang ke rumah sakit. Tetapi sebagian kerabat mengisyaratkan kepada kami agar pergi kepada seorang wanita. Kata mereka, wanita ini mengetahui penyembuhan untuk penyakit-penyakit demikian. Kata mereka, “Berikan nama saja kepadanya, dan ia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang dideritanya dan memberikan obat untuknya.” Apakah kami boleh pergi kepada wanita ini? Berilah fatwa kepada kami, terima kasih.

Jawaban:

Tidak boleh bertanya kepada wanita ini dan orang-orang sepertinya, karena ia termasuk golongan peramal dan dukun yang mengklaim mengetahui perkara gaib serta meminta bantuan kepada jin dalam pengobatan mereka dan berita-berita yang mereka sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim dalam Shahihnya).

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Hadis-hadis yang semakna dengan ini cukup banyak.

Kewajiban kita ialah mencegah mereka dan siapa yang datang kepada mereka, tidak bertanya kepada mereka dan mempercayai mereka, serta melaporkan mereka kepada pejabat yang berwenang sehingga mereka dihukum dengan hukuman yang setimpal. Karena membiarkan mereka dan tidak melaporkan mereka akan membahayakan semua orang, serta membantu keterpedayaan orang-orang bodoh kepada mereka, bertanya kepada mereka, dan mempercayai mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka rubahlah ia dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, dalam Shahihnya).

Tidak diragukan lagi bahwa melaporkan mereka kepada penguasa, seperti Amir Negeri, Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Pengadilan, termasuk dalam kategori mengingkari mereka dengan lisan dan termasuk tolong menolong atas dasar pada kemaslahatan mereka dan mereka selamat dari segala keburukan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Fatawa al-Ilaj bi Al-Qur’an wa as-Sunnah – ar-Ruqa wama yata’allaqu biha, hal. 46-47

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Darul Haq Cetakan IV

Referensi: https://konsultasisyariah.com/15608-hukum-berobat-ke-dukun.html

Hidup Terasing: Tetap Teguh Saat Ketaatan Dianggap Aneh

Tidak semua keterasingan adalah kesepian; terkadang seseorang justru menjadi asing karena memilih tetap taat ketika banyak manusia meninggalkan ketaatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh ketika Islam kembali terasa asing. Lalu bagaimana agar hati tetap kuat ketika menjalankan syariat terasa seperti menggenggam bara api, terutama bagi muslimah yang berusaha menjaga hijab dan kehormatannya?
Mencintai kesendirian bersama Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: حُبُّ الْوَحْدَةِ، وَالْأُنْسُ بِالْخَلْوَةِ، وَالتَّفَرُّدُ عَنِ النَّاسِ، وَكَأَنَّ الْمَحَبَّةَ قَدْ ثَبَتَتْ عَلَى ذَلِكَ، فَلَا شَيْءَ أَحْلَى لِلْمُحِبِّ الصَّادِقِ مِنْ خَلْوَتِهِ، وَتَفَرُّدِهِ، فَإِنَّهُ إِنْ ظَفِرَ بِمَحْبُوبِهِ أَحَبَّ خَلْوَتَهُ بِهِ، وَكَرِهَ مَنْ يَدْخُلُ بَيْنَهُمَا غَايَةَ الْكَرَاهَةِ.

“Di antara tanda cinta adalah mencintai kesendirian, merasa nyaman dalam kesunyian, dan menikmati saat menjauh sejenak dari manusia. Seolah-olah cinta itu sendiri membuat hatinya demikian. Tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi seorang pecinta sejati daripada saat ia menyendiri bersama yang dicintainya. Jika ia dapat bersama kekasihnya, ia mencintai kesempatan berdua tersebut dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengganggu kebersamaan itu.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan,

وَلِهَذَا السِّرِّ ـ وَاللَّهُ أَعْلَمُ ـ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَدِّ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي حَتَّى أَمَرَ بِقِتَالِهِ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَوْ يَدْرِي مَا عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ؛ لَكَانَ وُقُوفُهُ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ مُرُورِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ.

“Karena rahasia inilah—dan Allah lebih mengetahui—Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang yang hendak melintas di depan orang yang sedang shalat dicegah. Beliau juga mengabarkan bahwa seandainya orang yang melintas mengetahui besarnya dosa perbuatannya, berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di hadapan orang yang sedang shalat.”

Kemudian beliau berkata,

وَلَا يَجِدُ أَلَمَ الْمُرُورِ وَشِدَّتَهُ إِلَّا قَلْبٌ حَاضِرٌ بَيْنَ يَدَيْ مَحْبُوبِهِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِ، قَدِ ارْتَفَعَتِ الْأَغْيَارُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، فَمُرُورُ الْمَارِّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ بِمَنْزِلَةِ دُخُولِ الْبَغِيضِ بَيْنَ الْمُحِبِّ وَمَحْبُوبِهِ.

“Hanya hati yang benar-benar hadir di hadapan Allah, menghadap kepada-Nya, dan tidak tersibukkan oleh selain-Nya yang dapat merasakan beratnya gangguan tersebut. Orang yang melintas di antara dirinya dan Rabbnya bagaikan seseorang yang tidak disukai masuk mengganggu antara seorang pecinta dan yang dicintainya.”

Ibnul Qayyim kemudian mengatakan,

وَأَيْضًا فَإِنَّ الْمُحِبَّ يَسْتَأْنِسُ بِذِكْرِ مَحْبُوبِهِ، وَكَوْنِهِ فِي قَلْبِهِ لَا يُفَارِقُهُ، فَهُوَ أَنِيسُهُ، وَجَلِيسُهُ، لَا يَسْتَأْنِسُ بِسِوَاهُ، فَهُوَ مُسْتَوْحِشٌ مِمَّنْ يَشْغَلُهُ عَنْهُ.

“Seorang pecinta merasakan ketenteraman ketika mengingat yang dicintainya. Ingatan itu selalu hadir di hatinya. Ia menjadi teman dekatnya. Karena itu, ia merasa tidak nyaman terhadap segala sesuatu yang membuat hatinya teralihkan dari yang dicintainya.” (Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394).

Kesendirian yang dimaksud bukanlah membenci manusia atau meninggalkan kewajiban bermasyarakat. Seorang mukmin tetap menghadiri shalat berjamaah, menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, mendidik keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Namun, hati juga membutuhkan saat ketika ia lepas dari kebisingan dunia dan benar-benar menghadap Allah.

Ada saatnya kita bersama manusia untuk memberi manfaat. Ada saatnya kita menyendiri untuk memperbaiki hati.

Ibnu Taimiyyah menikmati waktu menyendiri

Ibnul Qayyim menceritakan dari Taqiyuddin bin Syuqair bahwa suatu hari ia mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketika beliau telah sampai ke tempat terbuka dan jauh dari manusia, terdengar beliau melantunkan syair,

وَأَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الْبُيُوتِ لَعَلَّنِي
أُحَدِّثُ عَنْكَ الْقَلْبَ بِالسِّرِّ خَالِيًا

“Aku keluar meninggalkan rumah-rumah, dengan harapan aku dapat berbicara tentang-Mu kepada hatiku dalam kesendirian.”

Kemudian Ibnul Qayyim berkata,

فَخَلْوَةُ الْمُحِبِّ بِمَحْبُوبِهِ هِيَ غَايَةُ أُمْنِيَّتِهِ، فَإِنْ ظَفِرَ بِهَا؛ وَإِلَّا خَلَا بِهِ فِي سِرِّهِ.

“Kesendirian seorang pecinta bersama yang dicintainya adalah puncak harapannya. Jika ia mendapat kesempatan tersebut, itulah yang ia inginkan. Jika tidak, ia menyendiri bersamanya di dalam rahasia hatinya.”

Orang yang belajar menikmati kesendirian bersama Allah tidak akan terlalu takut ketika suatu hari harus sendirian bersama kebenaran.

Islam akan kembali terasa asing

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya. Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, no. 145)

Hadis ini sahih. Islamweb menjelaskan bahwa Islam pada awalnya hanya diikuti sejumlah kecil manusia, kemudian tersebar dan kuat. Kelak dapat terjadi suatu keadaan ketika orang yang benar-benar memegang ajarannya kembali menjadi sedikit.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan maknanya,

أَنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ فِي آحَادٍ مِنَ النَّاسِ وَقِلَّةٍ، ثُمَّ انْتَشَرَ وَظَهَرَ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْصُ وَالْإِخْلَالُ، حَتَّى لَا يَبْقَى إِلَّا فِي آحَادٍ وَقِلَّةٍ أَيْضًا كَمَا بَدَأَ.

“Islam pada mulanya berada pada segelintir manusia dan jumlah yang sedikit. Kemudian Islam menyebar dan tampak. Setelah itu akan datang kekurangan dalam pengamalannya hingga kembali hanya dipegang oleh segelintir manusia sebagaimana awal mulanya.”

Yang dimaksud asing bukanlah sengaja membuat diri berbeda agar diperhatikan.

Keterasingan yang terpuji adalah ketika seseorang menjadi berbeda karena berpegang pada kebenaran.

Siapakah orang-orang yang terasing?

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa orang-orang terasing adalah mereka yang tetap baik ketika manusia banyak yang rusak.

Di antara riwayat yang disebutkan,

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.

“Mereka adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِي أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ.

“Mereka adalah orang-orang shalih yang berada di tengah banyaknya manusia yang buruk. Orang yang tidak mengikuti mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.”

Islamweb menyebut hadis ini sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh pada Islam pada masa keterasingan agama.

Karena itu, orang asing bukan sekadar orang yang berbeda.

Ia tetap jujur ketika dusta dianggap biasa.

Ia menjaga shalat ketika kesibukan membuat manusia meremehkannya.

Ia menjaga transaksi halal ketika riba dianggap lumrah.

Ia menjaga pandangan ketika kemaksiatan dapat dilihat hanya melalui layar di tangan.

Ia menjaga aurat ketika mempertontonkan tubuh dianggap kebebasan.

Ia mengikuti Sunnah ketika Sunnah dianggap aneh.

Jangan takut sedikit teman di jalan kebenaran

Ibnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan sebagian salaf,

عَلَيْكَ بِطَرِيقِ الْحَقِّ، وَلَا تَسْتَوْحِشْ لِقِلَّةِ السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطَرِيقَ الْبَاطِلِ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ.

“Tempuhlah jalan kebenaran dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu karena banyaknya orang yang berjalan menuju kebinasaan.”

Kemudian Ibnul Qayyim mengatakan,

وَكُلَّمَا اسْتَوْحَشْتَ فِي تَفَرُّدِكَ فَانْظُرْ إِلَى الرَّفِيقِ السَّابِقِ، وَاحْرِصْ عَلَى اللَّحَاقِ بِهِمْ، وَغُضَّ الطَّرْفَ عَمَّنْ سِوَاهُمْ.

“Setiap kali engkau merasa sepi karena sendirian, lihatlah para pendahulu yang telah menempuh jalan tersebut. Berusahalah menyusul mereka dan jangan sibukkan pandanganmu dengan selain mereka.” (Madarij As-Salikin, 1:46).

Allah Ta‘ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ.

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)

Kebenaran tidak berubah menjadi salah hanya karena sedikit yang mengikutinya. Kebatilan pun tidak berubah menjadi benar hanya karena banyak pendukungnya.

Berpegang pada agama seperti menggenggam bara api

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ.

“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang bersabar mempertahankan agamanya pada masa tersebut seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2260; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Islamweb menjelaskan bahwa keadaan ini terjadi karena semakin banyaknya kerusakan, fitnah, serta berbagai godaan, sementara orang yang membantu seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan semakin sedikit. Karena itulah, memegang agama dan mengikuti Sunnah ketika itu terasa seperti menggenggam bara atau duri.

Mengapa diibaratkan bara?

Karena bara terasa panas.

Tangan secara naluri ingin segera melepaskannya.

Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan penuh fitnah. Ia terus mendapat tekanan agar sedikit demi sedikit melepaskan prinsip agamanya.

Hari ini mungkin diminta melonggarkan hijab.

Besok mulai meremehkan batas pergaulan.

Kemudian mulai meninggalkan shalat karena pekerjaan.

Lalu transaksi haram dianggap tidak masalah karena semua orang melakukannya.

Jangan melepaskan agama hanya karena menggenggamnya terasa berat.

Yang sedang dipertahankan bukan sekadar kebiasaan. Yang dipertahankan adalah keselamatan agama dan akhirat.

Orang yang beramal pada masa penuh fitnah mendapat pahala besar

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari yang membutuhkan kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala lima puluh orang.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari mereka atau lima puluh orang dari kami?”

Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 10394, dan lafaz di atas adalah lafaz beliau. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dalam Al-Bahr Az-Zakhkhar, no. 1776, dengan lafaz yang semakna).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa pada akhir zaman agama akan semakin sedikit dipegang teguh oleh manusia. Beliau juga mengabarkan besarnya pahala bagi orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya pada masa-masa tersebut. Hal ini merupakan dorongan agar kita bersabar sembari mengharapkan pahala dari Allah.

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ

“Sesungguhnya setelah kalian ….”

Maksudnya adalah masa-masa yang akan datang setelah kalian, atau berbagai keadaan berat yang akan terjadi sepeninggal kalian.

Beliau bersabda,

زَمَانَ صَبْرٍ

“Suatu masa yang membutuhkan kesabaran.”

Maksudnya adalah hari-hari ketika tidak ada jalan untuk dapat bertahan kecuali dengan kesabaran. Bisa pula bermakna hari-hari ketika kesabaran sangat terpuji.

Yang dimaksud dengan masa tersebut adalah masa ketika berbagai fitnah merajalela dan kekuatan kaum muslimin melemah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِ

“Bagi orang yang tetap berpegang teguh pada masa tersebut.”

Maksudnya adalah orang yang bersabar dalam memegang teguh agamanya dan tetap berlindung serta berpegang kokoh dengannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

أَجْرُ خَمْسِينَ شَهِيدًا مِنْكُمْ

“Baginya pahala lima puluh orang syahid dari kalian.”

Maksudnya, pahalanya dilipatgandakan hingga seperti pahala lima puluh orang yang mati syahid dari kalangan sahabat.

Besarnya pahala tersebut disebabkan begitu beratnya ujian pada masa itu. Seorang muslim yang tetap teguh memegang agamanya menghadapi keadaan yang begitu sulit hingga diibaratkan seperti orang yang menggenggam bara api.

Besarnya pahala ini menunjukkan besarnya tantangan dalam mempertahankan agama. Namun, ini tidak berarti generasi setelah sahabat lebih utama daripada para sahabat secara mutlak.

Penjelasan hadits di atas dari dorar.net.

Keterasingan yang terpuji adalah asing karena Sunnah

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa di antara sifat orang-orang terasing adalah,

وَمِنْ صِفَاتِ هَؤُلَاءِ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ غَبَطَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: التَّمَسُّكُ بِالسُّنَّةِ إِذَا رَغِبَ عَنْهَا النَّاسُ، وَتَرْكُ مَا أَحْدَثُوهُ، وَإِنْ كَانَ هُوَ الْمَعْرُوفَ عِنْدَهُمْ.

“Di antara sifat orang-orang terasing yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap berpegang kepada Sunnah ketika manusia meninggalkannya dan meninggalkan perkara-perkara baru yang mereka ada-adakan, sekalipun perkara tersebut telah dianggap lumrah oleh mereka.”

Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan keadaan orang-orang terasing,

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الْغُرَبَاءُ الْمَمْدُوحُونَ الْمَغْبُوطُونَ.

“Mereka itulah orang-orang terasing yang dipuji dan pantas mendapatkan kabar gembira.”

Beliau menjelaskan bahwa orang Islam dapat terasa asing di tengah manusia, orang beriman terasa asing di tengah kaum muslimin, ahli ilmu terasa asing di tengah kaum beriman, dan orang yang benar-benar menjaga Sunnah dapat semakin terasa asing.

Maka, jangan salah memahami keterasingan.

Tidak setiap orang yang berbeda berarti berada di atas kebenaran.

Ukuran kita tetap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar berbeda dengan kebanyakan manusia.

Muslimah juga dapat merasakan keterasingan

Keterasingan agama sangat mungkin dirasakan seorang muslimah pada zaman sekarang.

Ia ingin memperbaiki hijab, lalu dikatakan terlalu tertutup.

Ia berusaha tidak tabarruj, tetapi lingkungan menganggap penampilan harus selalu menarik perhatian.

Ia menjaga pergaulan dengan lawan jenis, lalu dianggap tidak luwes.

Ia tidak ingin mempertontonkan kecantikannya di media sosial, tetapi justru dianggap kurang percaya diri.

Ia memilih tidak mengikuti tren tertentu karena pertimbangan agama, lalu disebut ketinggalan zaman.

Di sinilah seorang muslimah membutuhkan kekuatan hati.

Hijab bukan sekadar budaya, tetapi ketaatan

Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ.

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Allah Ta‘ala juga berfirman,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ.

“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Karena itu, hijab bukan sekadar identitas sosial.

Hijab adalah ibadah.

Ketika seorang muslimah menanamkan dalam hatinya, “Aku berhijab karena ingin menaati Allah,”

maka komentar manusia akan menjadi lebih ringan.

Sebaliknya, jika hijab hanya dibangun karena lingkungan, ketika lingkungan berubah, mudah sekali seseorang ikut berubah.

Cara teguh di tengah keterasingan

Pertama: Jadikan wahyu sebagai standar, bukan tren

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ.

“Tidak pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan tersebut.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Tren berubah.

Standar manusia berubah.

Apa yang hari ini dianggap indah, beberapa tahun kemudian dapat dianggap usang.

Namun, ketentuan Allah tidak mengikuti tren.

Jangan mengukur syariat dengan tren. Ukurlah tren dengan syariat.

Kedua: Jangan menunggu semua orang mendukung untuk mulai taat

Ketaatan tidak harus dimulai bersama-sama.

Jangan menunggu,

“Nanti kalau teman saya sudah berhijab, saya ikut.”

“Nanti kalau sudah menikah, saya akan memperbaiki pakaian.”

“Nanti kalau lingkungan kerja mendukung, saya akan berubah.”

Boleh jadi salah satu bentuk ujian adalah Allah ingin melihat apakah kita tetap memilih-Nya ketika pilihan tersebut belum mendapatkan tepuk tangan manusia.

Tidak mengapa memulai ketaatan sendirian selama kita berjalan bersama dalil.

Ketiga: Cari teman yang menguatkan agama

Allah Ta‘ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang berada di atas agama sahabat dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat dekat.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Teman shalih tidak memberikan hidayah, tetapi ia dapat menjadi sebab kita lebih mudah menjaga hidayah.

Carilah teman yang tidak hanya memuji penampilan kita, tetapi berani mengingatkan agama kita.

Carilah teman yang bahagia ketika hijab kita semakin baik.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu.

Carilah teman yang ketika kita hampir melemah berkata,

“Jangan menyerah. Kita ingin sampai ke surga bersama.”

Keempat: Jaga juga lingkungan digital

Teman hari ini bukan hanya orang yang duduk di samping kita.

Akun yang setiap hari kita lihat juga dapat membentuk cara berpikir.

Jika setiap hari seseorang melihat konten yang mempertontonkan kecantikan, gaya hidup berlebihan, kebebasan tanpa batas, atau standar tubuh yang tidak realistis, sedikit demi sedikit hatinya dapat berubah.

Ia mulai mempertanyakan hijabnya.

Ia mulai merasa pakaiannya kurang menarik.

Ia mulai membutuhkan validasi dari pandangan manusia.

Karena itu, salah satu bentuk menjaga iman adalah berani menekan tombol unfollow terhadap sesuatu yang terus-menerus melemahkan hati.

Tidak semua yang menarik mata baik untuk hati.

Kelima: Jangan merasa rendah karena menjaga diri

Dunia sering mengajarkan bahwa kecantikan perlu ditampakkan agar mendapatkan pengakuan.

Syariat justru mengajarkan bahwa tidak semua keindahan harus diperlihatkan.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا.

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya.” (QS. An-Nur: 31)

Muslimah tidak kehilangan harga dirinya hanya karena tidak menjadi pusat perhatian.

Nilai seorang perempuan bukan ditentukan oleh banyaknya mata yang memandangnya, tetapi oleh kedudukannya di sisi Allah.

Keenam: Perbanyak ilmu

Orang yang hanya mengikuti aturan tanpa memahami dalilnya lebih mudah goyah ketika ditanya.

Sedangkan orang yang mengetahui mengapa Allah memerintahkan sesuatu akan lebih kokoh.

Karena itu, pelajari tauhid.

Pelajari fikih ibadah.

Pelajari hukum hijab.

Pelajari batas pergaulan.

Pelajari bagaimana para sahabat dan salaf menjaga agama mereka.

Ilmu menjadikan ketaatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi keyakinan.

Ketujuh: Miliki ibadah rahasia

Di antara cara paling kuat menjaga istiqamah adalah memiliki hubungan dengan Allah yang tidak diketahui manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

“Dan seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada orang yang terlihat kuat di hadapan manusia karena ia memiliki tangisan yang tidak pernah manusia lihat.

Ada orang yang sanggup menghadapi berbagai komentar karena pada malam hari ia telah mengadukan semuanya kepada Allah.

Kekuatan di hadapan manusia sering kali dibangun dari sujud yang tidak diketahui manusia.

Bentuk kesendirian bersama Allah

1. Shalat malam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat manusia tidur, seorang mukmin bangun.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada komentar.

Hanya seorang hamba dengan Rabbnya.

2. Membaca Al-Qur’an dalam kesunyian sambil tadabbur

Carilah waktu tanpa gangguan.

Baca ayat Allah perlahan.

Renungkan.

Bukan hanya mengejar berapa halaman yang selesai, tetapi biarkan Al-Qur’an berbicara kepada hati.

3. Berdzikir dan beristighfar

Ada dzikir yang dibaca bersama manusia.

Namun, ada pula kenikmatan ketika lidah mengingat Allah sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui.

Inilah salah satu bentuk hubungan rahasia seorang hamba dengan Rabbnya.

4. Berdoa

Kesendirian adalah waktu yang sangat baik untuk mengadukan kelemahan.

Kita boleh terlihat kuat di depan manusia.

Namun, di hadapan Allah kita dapat berkata bahwa kita lemah.

Kita dapat mengadu tentang beratnya menjaga agama.

Tentang komentar manusia.

Tentang hati yang mudah berubah.

Tentang kekhawatiran menghadapi fitnah zaman.

5. I‘tikaf dan mengurangi kesibukan dunia

Islam juga mengenal i‘tikaf, yaitu memberikan waktu khusus untuk beribadah kepada Allah dengan menetap di masjid.

Ini mengajarkan bahwa hati terkadang membutuhkan jarak sementara dari berbagai kesibukan agar dapat kembali fokus kepada Allah.

Namun, kesendirian bukan tujuan mutlak. Islam tetap mendorong seorang mukmin memberikan manfaat kepada manusia.

Kesendirian bukan berarti membenci manusia

Ada dua kesalahan yang perlu dihindari.

Pertama, terlalu tenggelam dalam keramaian sampai tidak memiliki waktu bersama Allah.

Kedua, memakai alasan “ingin dekat dengan Allah” untuk meninggalkan kewajiban kepada keluarga dan masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dekat kepada Allah, tetapi beliau berdakwah, mengajar, menerima tamu, memimpin umat, mengurus keluarga, berjihad, dan berinteraksi dengan manusia.

Maka, keseimbangannya adalah:

Bersama manusia ketika ada maslahat, menyendiri ketika hati membutuhkan perbaikan.

Ketika terasa asing, lihatlah siapa teman seperjalanan kita

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut para pendahulu yang berjalan di atas jalan lurus agar orang beriman tidak merasa benar-benar sendirian.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.

“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Allah menyebut teman-teman perjalanan ini agar orang yang menempuh jalan hidayah tidak terlalu merasakan kesendirian ketika berbeda dengan manusia pada zamannya.

Jika hari ini kita merasa asing karena taat, ingatlah:

Jalan ini pernah ditempuh para nabi.

Jalan ini pernah ditempuh para sahabat.

Jalan ini pernah ditempuh orang-orang shalih.

Kita mungkin sedikit pada suatu tempat dan suatu masa.

Namun, kita tidak sendirian dalam sejarah panjang orang-orang yang berjalan menuju Allah.

Jangan merasa aman dengan hati kita

Istiqamah bukan kemampuan pribadi.

Orang yang hari ini taat bisa berubah.

Orang yang hari ini menjaga hijab bisa melepasnya.

Orang yang hari ini rajin shalat bisa meninggalkannya.

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan hanya mengatakan,

“Alhamdulillah, saya sudah istiqamah.”

Lebih baik katakan,

“Ya Allah, jangan biarkan hati ini berubah setelah Engkau memberi petunjuk.”

Kesimpulan: Beruntunglah orang-orang yang terasing

Tidak semua kesendirian adalah kesepian.

Tidak semua keterasingan adalah kehinaan.

Boleh jadi seseorang sendirian secara fisik, tetapi hatinya dipenuhi kedekatan kepada Allah.

Boleh jadi seseorang dianggap asing oleh manusia karena menjaga hijab, Sunnah, shalat, kehormatan, dan prinsip agamanya, tetapi justru ia sedang berjalan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.

Karena itu, jangan sengaja mencari keterasingan. Namun, jangan pula meninggalkan kebenaran hanya agar diterima oleh manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira,

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Maka, beruntunglah orang-orang yang terasing.”

Nasihat terakhir

Zaman boleh berubah, tetapi jangan biarkan perubahan zaman mengubah prinsip agama kita. Media sosial boleh membuat maksiat tampak normal dan ketaatan terasa asing, tetapi ukuran keselamatan tetaplah wahyu Allah. Muslimah jangan merasa rendah ketika menjaga hijab dan kehormatannya, dan setiap muslim jangan takut dianggap berbeda ketika berusaha mengikuti Sunnah. Jika jalan kebenaran terasa sepi, dekatkanlah diri kepada Allah karena orang yang memiliki Allah sebagai penolong tidak pernah benar-benar sendirian.

Mari memohon,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يَصْلُحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.

Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa a‘innā ‘alā thā‘atik, waj‘alnā minal-ghurabā’ alladzīna yashluhūna ‘inda fasādin-nās, wa tawaffanā wa anta rāḍin ‘annā.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Bantulah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tetap memperbaiki diri dan keadaan ketika manusia banyak yang rusak. Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau meridhai kami.”

Aamiin.

Referensi

  1. Shahih Muslim, hadis no. 145 tentang Islam bermula dalam keadaan asing. Islamweb menegaskan kesahihan hadis dan menjelaskan maknanya.
  2. Islamweb, Al-Ghuraba’ Al-Mamdūhūn Al-Maghbūthūn, tentang ciri dan keutamaan orang-orang terasing.
  3. Islamweb, Ka Al-Qābidh ‘ala Al-Jamr, penjelasan hadis orang yang mempertahankan agama seperti menggenggam bara.
  4. Ibnul Qayyim, Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, hlm. 393–394, tentang mencintai kesendirian bersama Allah.
  5. Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, tentang tidak merasa sepi karena sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran.
  6. Islamweb, pembahasan ghurbah dan keteguhan mengikuti Sunnah ketika sedikit pengikutnya.

—-

@ Jogja, 12 Rabiul Awal 1448 H, 25 Agustus 2026

Muhammad Abduh Tuasikal 

sumber: https://rumaysho.com/42701-hidup-terasing-tetap-teguh-saat-ketaatan-dianggap-aneh.html

Kerinduan Orangtua

Kita -sebagai orang tua-sering rindu kepada anak kita, ingin melihatnya, ingin memeluknya, ingin ngobrol dengannya. Betapa bahagianya kita tatkala melihat tawa anak kita.

Begitu pula ibu dan ayah kita, bisa jadi di masa tua mereka rindu kepada kita, maka janganlah kita baru menjenguk mereka atau menelpon mereka jika kita yang rindu. Kerinduan mereka kepada kita tidak harus menunggu kerinduan kita kepada mereka. Apalagi kita sering sibuk sehingga kerinduan terhadap mereka
terlupakan dan terabaikan.

Terlebih lagi orang tua malu untuk menyatakan kerinduannya kepada kita.

Kapan lagi..? Mumpung mereka masih bisa melihat tawa kita.

Waktu untuk kesibukan kita belum tentu sepanjang umur orang tua kita.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/16683

Berkunjung ke Tempat Ini, Harus Menangis

Wisata ke Daerah yang Pernah Diadzab Allah

Ustad. Mau tanya. Ana pernah dengar kajian bahwa kita tidak di perkenankan wisata ke kota seperti Petra, Jordan, Mada’in Saleh di Arab Saudi dan Pyramid di Egypt karena kota kota tersebut adalah kota kota yang Allah membinasakan kaumnya karena mengingkari dakwah para Nabi di masanya. Apakah ini benar? Adakah dalil dalil dari Al Qur’an dan hadist yang menyatakan demikian dan apa yang harus kita lakukan jika kita ke kota kota tersebut?

Syukron. بارك الله فيك

Abu Aryan – Singapore

Jawaban;

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berkunjung ke Daerah ini, Wajib Sambil Menangis?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan perjalanan menuju Tabuk, beliau melewati Hajar, satu daerah yang dulu ditempati kaum tsamud, umatnya Nabi Soleh ‘alaihis salam. Puing-puing rumah mereka masih banyak tersisa. Beliau memerintahkan agar para sahabat mempercepat langkahnya dan berusaha menangis.

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, menceritkan,

لَمَّا مَرَّ بِالْحِجْرِ قَالَ « لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ » . ثُمَّ قَنَّعَ رَأْسَهُ وَأَسْرَعَ السَّيْرَ حَتَّى أَجَازَ الْوَادِىَ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati daerah Hajar, beliau bersabda,

“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang dzalim, kecuali sambil menangis. Karena apa yang menimpa mereka bisa menimpa kalian.”

Lalu beliau menutup kepala beliau dengan kain selendangnya, dan mempercepat perjalanannya, hingga berhasil melewati daerah itu. (HR. Ahmad 5466 dan Bukhari 4419)

Dalam riwayat lain, beliau secara tegas melarang untuk memasuki tempat seperti itu, kecuali sambil menangis.

Beliau bersabda,

لاَ تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلاَءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ ، لاَ يُصِيبُكُمْ مَا أَصَابَهُمْ

Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, jangan memasuki daerah mereka. Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian. (HR. Bukhari 433).

Tentu saja saran beliau itu tidak hanya berlaku untuk sahabat di masa itu. Peringatan ini berlaku untuk semua umat beliau.

Karena itulah, hadis ini menjadi landasan para ulama, tentang larangan berkunjung ke tempat umat-umat masa silam yang diadzab oleh Allah karena kedurhakaannya, hanya karena ingin tahu atau piknik atau sebatas mengambil gambar. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan,

“Jangan sampai adzab yang menimpa mereka, menimpa kalian”.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya,

هل يجوز زيارة مدائن صالح للعظة؟

Bolehkah mendatangi Madain Sholeh untuk mengambil pelajaran dari kejadian itu?

Jawaban beliau,

يجوز بشرط: ألا يدخلها الإنسان إلا وهو يبكي.

لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ( لا تدخلوا على هؤلاء المعذبين إلا وأنتم باكون ) أما أن يذهب إليها لينظر مدى قوة القوم فيما سبق فهذا لا يجوز، والفرق ظاهر، لأن هذا الذي يذهب إليها من أجل أن ينظر قوة هؤلاء ذهابه إليها نزهة وترف ولا كأنه وقع بهم من العذاب ما وقع، أما الذي يذهب إليها وهو يبكي ويخاف فهذا لا حرج فيه.

ولهذا لما مر النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم بهذه الديار في سفره إلى تبوك قنع رأسه وأسرع في السير.

Ya boleh, dengan syarat, seseorang tidak memasuki daerah itu kecuali dalam kondisi menangis.

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memasuki daerah umat yang diadzab itu kecuali sambil menangis.”

Adapun mendatangi tempat-tempat itu hanya melihat betapa kuatnya kaum Tsamud di masa silam, maka ini tidak boleh.

Perbedaannya jelas. Orang ini berangkat untuk mengukur kekuatan kaum Tsamud, tujuannya hanya untuk rekreasi, jalan-jalan. Dan tidak membayangkan bagaimana adzab itu menimpa mereka.

Sedangkan orang yang pergi ke sana sambil menangis dan takut kepada Allah, ini tidak masalah.

Untuk itu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati perkampungan mereka dalam perjalanannya menuju tabuk, beliau menutup kepalanya dan mempercepat langkahnya. (Liqaat Bab al-Maftuh, volume 224, no. 14).

Petra dan Laut Merah

Sabab wurud pada hadis Ibnu Umar di atas terkait tempat yang bernama Hajar. Namun ini dipahami melebar. Sehingga larangan ini juga berlaku untuk semua pemukiman umat masa silam yang dibinasakan Allah karena kedurhakaannya.

Ketika menjelaskan hadis ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

وهذا يتناول مساكن ثمود وغيرهم ممن هو كصفتهم وإن كان السبب ورد فيهم

Hadis ini mencakup tempat tinggal Tsamud dan kaum selain mereka, yang kondisinya seperti Tsamud. Meskipun sebab adanya hadis itu adalah pemukiman Tsamud. (Fathul Bari, 6/380).

Kami tidak tahu, apakah petra dan laut merah termasuk daerah umat yang diadzab ataukah tidak. Hanya saja, ada pernyataan dari sebagian ulama bahwa tepi laut merah di Yordan merupakan tempat umatnya Nabi Luth yang dibinasakan.

Ibnu Asyura mengatakan,

والقوم الذين أُرسل إليهم لوط عليه السّلام هم أهل قرية ” سدوم ” و ” عمُّورة ” ، من أرض كنعان ، وربّما أطلق اسم ” سدوم ” و ” عمُّورة ” على سكّانهما ، وهو أسلاف الفنيقيين ، وكانتا على شاطىء السديم ، وهو ” بحر الملح ” ، كما جاء في التّوراة ، وهو البحر الميّت المدعو ” بحيرة لوط “

Umat yang didatangi kaum Luth adalah penduduk negeri Sodom dan Gomora, di daerah Kan’an. Terkadang nama daerah Sodom dan Gomora digunakan menyebut penduduknya. Mereka nenek moyang bangsa Fenisia. Sodom dan Gomora berada di pesisir pantai Sadim, laut garam, sebagaimana yang disebutkan dalam Taurat. Itulah laut mati, yang dinamakan dengan laut Luth. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 8/230).

Sementara untuk Petra, kami tidak menjumpai keterangan asal muasal tempat itu. Apakah dia termasuk tempat yang penduduknya pernah diadzab oleh Allah atau tidak?

Terdapat keterangan dari Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah,

بالنسبة للبتراء إذا لم يثبت بالدليل الشرعي أنها من ديار المعذبين، فنهي النبي  صلى الله عليه وسلم  إنما ورد عن دخول الأماكن التي عذب فيها الكفار إلا أن يكون المسلم باكيا خاشعا معتبرا بما أصابهم

Terkait daerah Petra, kita tidak memiliki dalil yang mendukung bahwa itu termasuk kampung yang penduduknya disiksa. Sementara larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berlaku untuk memasuki daerah yang dulu orang kafir disiksa di sana, kecuali sambil menangis dengan khusyu, merenungkan adzab yang Allah berikan kepada mereka. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 123400)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/24514-larangan-berkunjung-ke-tempat-yang-pernah-diadzab-allah.html

Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sesukamu

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

TAKHRÎJ HADÎTS
Hadits ini shahîh diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).

PENJELASAN HADÎTS

A. Pengertian Malu

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.[1]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’”[2]

Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.[3]

B. Keutamaan Malu

1. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.” [4]

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

2. Malu Adalah Cabang Keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”[5]

3. Allah Azza Wa Jalla Cinta Kepada Orang-Orang Yang Malu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”[6]

4. Malu Adalah Akhlak Para Malaikat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.

“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.”[7]

5. Malu Adalah Akhlak Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”[8]

6. Malu Sebagai Pencegah Pemiliknya Dari Melakukan Maksiat.

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”[9]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.”[10]

7. Malu Senantiasa Seiring Dengan Iman, Bila Salah Satunya Tercabut Hilanglah Yang Lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”[11]

8. Malu Akan Mengantarkan Seseorang Ke Surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[12]

C. Malu Adalah Warisan Para Nabi Terdahulu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda , “Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalimat kenabian terdahulu…”

Maksudnya, ini sebagai hikmah kenabian yang sangat agung, yang mengajak kepada rasa malu, yang merupakan satu perkara yang diwariskan oleh para Nabi kepada manusia generasi demi generasi hingga kepada generasi awal umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antara perkara yang didakwahkan oleh para Nabi terdahulu kepada hamba Allah Azza wa Jalla adalah berakhlak malu.[13]

Sesungguhnya sifat malu ini senantiasa terpuji, dianggap baik, dan diperintahkan serta tidak dihapus dari syari’at-syari’at para nabi terdahulu.[14]

D. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Adalah Sosok Pribadi Yang Sangat Pemalu
Allah Azza wa Jalla berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. [al-Ahzâb/ 33:53]

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata,


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”[15]

Imam al-Qurthubi rahimahullâh berkata, “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharîzah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi n memiliki dua jenis malu ini, akan tetapi sifat tabiat beliau lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.”[16]

E. Makna Perintah Untuk Malu Dalam Hadits Ini

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.”

Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran dari perintah dalam hadits ini, di antaranya:

1. Perintah Tersebut Mengandung Arti Peringatan Dan Ancaman

Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Seperti firman Allah Azza wa Jalla :

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.[Fushilat/41:40]

2. Perintah Tersebut Mengandung Arti Penjelasan.

Maksudnya, barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :


مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

“Barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[17]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan bahwa barangsiapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.[18]

3. Perintah Tersebut Mengandung Arti Pembolehan.

Imam an-Nawawi rahimahullâh berkata, “Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak, maka tinggalkanlah.”[19]

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat jumhur ulama.[20]

F. Malu Itu Ada Dua Jenis

1. Malu Yang Merupakan Tabiat Dan Watak Bawaan

Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.”[21]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrâh bin ‘Abdullâh al-Hakami berkata, “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).”[22]

2. Malu Yang Timbul Karena Adanya Usaha.

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla .[23]

Dahulu, orang-orang Jahiliyyah –yang berada di atas kebodohannya- sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang buruk karena dicegah oleh rasa malunya, diantara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan ketika bersama Heraklius ketika ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Sufyan berkata,


فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ.

“Demi Allah Azza wa Jalla , kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”[24]

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta.

G. Konsekuensi Malu Menurut Syari’at Islam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.[25]

H. Malu Yang Tercela

Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan, “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”[26] Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan.[27]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.

Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata,


لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.[28]

Ummul Mukminin ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,


نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.

Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.[29]

Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.

Ummu Sulaim radhiyallâhu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak malu terhadap kebenaran, apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mimpi (berjimâ’)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apabila ia melihat air.”[30]

I. Wanita Muslimah Dan Rasa Malu

Wanita Muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Di dalamnya kaum muslimin bekerjasama untuk memakmurkan bumi dan mendidik generasi dengan kesucian fithrah kewanitaan yang selamat. Al-Qur-anul Karim telah mengisyaratkan ketika Allah Ta’ala menceritakan salah satu anak perempuan dari salah seorang bapak dari suku Madyan. Allah Ta’ala berfirman,


فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami)…” [Al-Qashash/28: 25]

Dia datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki; tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, dan tidak merangsang. Namun, walau malu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetail, tidak grogi dan tidak terbata-bata. Semua itu timbul dari fithrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus merasa malu dengan fithrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya, tetapi karena kesuciannya dan keistiqamahannya, dia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia berbicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.

Adapun wanita yang disifati pada zaman dahulu sebagai wanita yang suka keluyuran adalah wanita yang pada zaman sekarang disebut sebagai wanita tomboy, membuka aurat, tabarruj (bersolek), campur baur dengan laki-laki tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan syari’at, maka wanita tersebut adalah wanita yang tidak dididik oleh Al-Qur-an dan adab-adab Islam. Dia mengganti rasa malu dan ketaatan kepada Allah dengan sifat lancang, maksiat, dan durhaka, merasuk ke dalam dirinya apa-apa yang diinginkan musuh-musuh Allah berupa kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat.[31] Nas-alullaah as-salaamah wal ‘aafiyah.

Setiap suami atau kepala rumah tangga wajib berhati-hati dan wajib menjaga istri dan anak-anak perempuannya agar tidak mengikuti pergaulan dan mode-mode yang merusak dan menghilangkan rasa malu seperti terbukanya aurat, bersolek, berjalan dengan laki-laki yang bukan mahram, ngobrol dengan laki-laki yang bukan mahram, pacaran, dan lain-lain. Para suami dan orang tua wajib mendidik anak-anak perempuan mereka di atas rasa malu karena rasa malu adalah perhiasan kaum wanita. Apabila ia melepaskan rasa malu itu, maka semua keutamaan yang ada padanya pun ikut hilang.

J. Buah Dari Rasa Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa’ (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.

Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup.[32]

Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.”

FAWÂÎD HADÎTS

1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.
2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyari’atkan oleh para Nabi terdahulu.
3. Hadits ini menunjukkan bahwa malu itu seluruhnya baik. Barangsiapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barangsiapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa’ (setia).
8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
10. Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
12. Malaikat mempunyai sifat malu.
13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok), ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.

Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan.[34]

14. Para orang tua wajib menanamkan rasa malu kepada anak-anak mereka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] Artikel: manhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Lihat Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ’ (hal. 53)
[2]. Madârijus Sâlikîn (II/270). Lihat juga Fathul Bâri (X/522) tentang definisi malu.
[3]. Lihat al-Haya’ fî Dhau-il Qur-ânil Karîm wal Ahâdîts ash-Shahîhah (hal. 9).
[4]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain.
[5]. Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).
[6]. Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la.
[7]. Shahîh: HR.Muslim (no. 2401).
[8]. Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940).
[9]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abû Dâwud (no. 4795), at-Tirmidzî (no. 2516), an-Nasâ-i (VIII/121), Ibnu Mâjah (no. 58), dan Ibnu Hibbân (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.
[10]. Fathul Bâri (X/522).
[11]. Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).
[12]. Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).
[13]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/497) dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 179-180). Cet. I Dâr Ibni Hazm.
[14]. Lihat Syarh al-Arba’în (hal. 83) karya Ibnu Daqîq al-‘Îed.
[15]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6119).
[16]. Fathul Bâri (X/522).
[17]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 110), Muslim (no. 30), dan selainnya dengan sanad mutawâtir dari banyak para Shahabat.
[18]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/498) dan Qawâ’id wa Faawâid (hal. 180)
[19]. Fathul Bâri (X/523).
[20]. Lihat Madârijus Sâlikîn (II/270).
[21]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37).
[22]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/501).
[23]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 181).
[24]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 7).
[25]. Hasan: HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hâkim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 935).
[26]. Fathul Bâri (X/522).
[27]. Lihat Qawâ’id wa Fawâid (hal. 182).
[28]. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ’ fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).
[29]. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ’ fil ‘Ilmi secara mu’allaq.
[30]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 130) dan Muslim (no. 313).
Maksud hadits ini ialah, wajib bagi laki-laki dan wanita mandi janabat apabila ia mimpi jimâ’ (bersetubuh) lalu keluar mani. Apabila ia mimpi jima’ tetapi tidak keluar mani maka tidak wajib mandi. Adapun jika suami-istri jimâ’ (bersetubuh) keduanya wajib mandi meskipun tidak keluar mani.
[31]. Lihat al-Wâfi fî Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 153).
[32]. Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ’ (hal. 55).
[33]. Ibid (hal. 55).
[34]. Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abû Hurairah Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abû Hurairah .

sumber: https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/hadits/837-jika-engkau-tidak-malu,-berbuatlah-sesukamu.html

Baiknya Kalau Mengantuk Berat, Tidak Shalat Malam

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

212. Bab Keutamaan Qiyamul Lail

Hadits #1185

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا نَعَسَ أحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ ، فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ ، لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk di dalam shalatnya, hendaklah ia tidur sampai hilang kantuknya. Karena apabila salah seorang di antara kalian shalat dalam keadaan mengantuk, mungkin saja ia hendak meminta ampun, tetapi ternyata ia sedang mencela dirinya sendiri (mendoakan jelek dirinya sendiri).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 212 dan Muslim, no. 786]

Hadits #1186

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( إِذَا قَامَ أحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَاسْتَعْجَمَ القُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ ، فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُولُ ، فَلْيَضْطَجِع )) رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun pada waktu malam, kemudian lisannya berat membaca Alquran (karena sangat mengantuk), dan ia tidak sadar apa yang ia katakan, maka hendaklah ia berbaring (tidur).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 787]

Faedah Hadits

  1. Imam Nawawi membawakan hadits no. 1185 sama dengan hadits no. 147 pada judul bab “Al-Iqtishad fi Ath-Tha’ah (bersikap pertengahan dalam ketaatan)”. Hal ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan bersikap pertengahan dan tidak berlebihan dalam ibadah.
  2. Hadits ini mengajarkan agar kita tidak memaksakan diri dalam ibadah.
  3. Hadits ini juga mengajarkan agar kita bersikap hati-hati, karena dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebab baiknya tidak shalat malam adalah karena dikhawatirkan mengantuk.
  4. Ada kaedah yang bisa disimpulkan dari hadits ini:

دَرْأُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ

“Menghilangkan bahaya lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.”

  1. Wajib khusyuk dalam shalat dan menghadirkan hati dalam ibadah, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan kekhusyukan.
  2. Dimakruhkan shalat malam ketika seseorang dalam keadaan mengantuk berat karena tubuh kita butuh istirahat. Berikan masing-masing kewajiban itu jatahnya.
  3. Dalam shalat malam itu dituntut mengingat, merenungkan, dan berpikir. Jika dalam shalat malam tidak bisa menghadirkan demikian, maka berbaringlah.
  4. Hendaklah membaca Alquran dalam keadaan tadabbur (merenungkan) dan memahami.

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/23765-baiknya-kalau-mengantuk-berat-tidak-shalat-malam.html

Hanya Di Surga

Hanya di surga cinta tanpa perpisahan..

Adapun di dunia, betapapun kuat tali cinta tersebut, maka pasti akan berpisah..

Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ

“Cintailah siapa yang engkau kehendaki, sungguh engkau akan berpisah dengannya..” (Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 831)

Tidak ada kebahagiaan dan cinta yang sempurna kecuali hanya di surga..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/50805

Punya Banyak Gelar Dunia, Namun Buta Agama

Ada yang punya rentetan gelar begitu banyak, punya jabatan yang tinggi, namun sayangnya ibadahnya tidak beres. Ilmu agamanya masih sangat minim. Ditambah lagi tak punya keinginan untuk menambah ilmu akhirat, beda dengan ilmu dunianya yang terus ia kejar.

Pahamilah …

Ilmu yang mendapatkan pujian dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah ilmu syar’i atau ilmu agama. Ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaaha: 114)

Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Firman Allah Ta’ala (yang artinya), ’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang muslim yang terbebani syari’at mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.”  (Fath Al-Bari, 1: 141)

Adapun tambahan ilmu yang dimaksud ada tiga pendapat ulama dalam hal ini.

  1. Tambahkanlah ilmu tentang Al-Qur’an.
  2. Tambahkanlah kepahaman.
  3. Tambahkanlah hafalan.

Pendapat pertama di atas dari Maqatil. Sedangkan pendapat kedua dari Ats-Tsa’labiy. Demikian disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi rahimahullah.

Celaan bagi yang Bergelar Ilmu Dunia Tinggi, Namun Buta Ilmu Agama

Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan celaan bagi orang yang hanya pandai dalam ilmu duniawi, namun lalai terhadap urusan akhirat (ilmu syar’i). Inilah kondisi mayoritas kaum muslimin saat ini ketika ilmu syar’i sudah benar-benar terlupakan dari perhatian mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)

Maksudnya, sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

وَاللهِ لَبَلَغَ مِنْ أَحَدِهِمْ بِدُنْيَاهُ أَنْ يُقَلِّبَ الدِّرْهَمَ عَلَى ظُفْرِهِ فَيُخْبِرُكَ بِوَزْنِهِ وَمَا يُحْسِنُ أَنْ يُصَلِّيَ

”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 84. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsur menisbatkan perkataan ini pada Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh mengherankan ada yang begitu brilian dalam ilmu atom, listrik, bahkan mereka ialah ahli dalam bidang tranportasi darat, laut dan udara, kebrilianannya begitu mencolok. Mereka terlihat sangat pandai dalam ilmu keduniaan tadi. Mereka pandang dengan takdir Allah yang lain tak secerdas mereka. Akhirnya mereka menganggap diri mereka hebat dan pintar, hingga memandang yang lain sebelah mata. Namun sangat disayangkan, mereka malah ‘buta’ dalam hal agama. Mereka malah jadi orang yang benar-benar lalai dari akhirat. Mereka tak memandang bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya. Mereka benar-benar berada dalam kepandiran. Mereka lupa pada Alah, maka pantas saja mereka dilupakan oleh diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik[1].” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 637)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِي جَوَّاظٍ سَخَابٍ فِي الأَسْوَاقِ جَيْفَةٌ بِاللَّيْلِ حِمَارٌ بِالنَّهَارِ عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ

“Allah sangat membenci orang ja’dzari (orang sombong), Jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 72 – Al-Ihsan. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini dha’if, lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 2304. Adapun Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Shahih Ibnu Hibban menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih  sesuai syarat Muslim)

[1] Fasik secara bahasa berarti keluar dari ketaatan, keluar dari agama, dan jauh dari keistiqamahan. Sedangkan secara istilah, fasik adalah keluar dari ketaatan dan melampaui batas dengan bermaksiat.

Kefasikan bisa jadi adalah dosa karena berbuat syirik, bisa jadi pula karena berbuat dosa besar walau sedikit, juga bisa karena berbuat dosa lainnya. Atau pengertian gampangnya seperti pernah dikemukakan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Fasik adalah orang yang melakukan dosa besar atau orang yang terus menerus melakukan dosa kecil.”(Fathu Dzi Al-Jalali wa Al Ikram, 4: 472)

* Diambil dari buku “Mahasantri” karya M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim, yang sebentar lagi akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim.

—

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyah 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13104-punya-banyak-gelar-dunia-namun-buta-agama.html