Dunia: Manis Dan Hijau

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم (إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خَضِرة، وإنَّ الله مُستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملُون؟ فاتقوا الدُّنيا، واتَّقُوا النِّساء؛ فإنَّ أوَّل فِتنة بني إسرائيل كانت في النِّساء) رواه مسلم

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita.”
(HR. Muslim)

“Dunia itu manis dan hijau.” Artinya, dunia itu manis rasanya, penuh kelezatan dan kenikmatan. Dan hijau adalah bahwa dunia indah dipandang dan bisa menyegarkan mata.

Jika ada sesuatu yang manis rasanya dan hijau berada di depan mata, maka mata akan menangkapnya terlebih dahulu dan setelah itu barulah jiwa yang akan berusaha mencapainya.

https://giphy.com/embed/PetmHKSUaaagtCWgFA

Dan apabila keduanya sudah berpadu, antara kesenangan mata dan jiwa maka dikhawatirkan seseorang akan terjerumus ke dalamnya. Terjerumus dalam tipu daya dan kesibukan dunia.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepada umatnya bahwa Allah subhanallahu wa ta’ala telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi, mendiami bumi sehingga manusia dapat hidup di dalamnya serta merawatnya.

Sebagai khalifah di muka bumi pun manusia harus melakukan ketaatan kepada-Nya, menahan diri dari hawa nafsu serta tidak tertipu oleh dunia ini.

Sebagaimana Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“…maka janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu treperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah”
(QS. Luqman: 33)

Dunia ini memiliki penampilan yang begitu mempesona, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kepada umatnya bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Karena itu, jadikan hidup di dunia ini seolah-olah hanyalah seorang musafir dengan tujuan akhir adalah kehidupan akhirat.

https://giphy.com/embed/9JjX6nVEdrWZ3QNXBE

Bagi seorang muslim, dunia tak lebih dari sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia juga tidak bisa mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasi. 

Jika ia melewati batas itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung penyesalan. 

Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya. Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang melarang. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, dalam sabdanya;

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” 
(HR. Muslim).

Semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan. Tetapi yang terbesar dan terkuat dari semua cobaan adalah fitnah wanita, karena fitnah (cobaan) mereka sangat besar.

https://giphy.com/embed/8fSqFyWakblrWbZBAA

Setidak-tidaknya, wanita mendorong seorang pria untuk mencintai dunia. Di samping itu, sering kali terjadi pelanggaran yang haram, pembunuhan, dan permusuhan disebabkan oleh wanita. 

Jika diamnya saja seorang wanita dapat menggoda kaum lelaki, apalagi gerakannya? Baik dari suara maupun gerak tubuhnya tentu dapat lebih menggoda. Maka seorang muslim patut menundukkan pandangannya ketika berjumpa dengan para wanita. Dan Islam telah mensyari’atkan agar para wanita menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. 

Hal ini sebagaimana ujian pertama yang diujikan Allah subhanallahu wa ta’ala kepada Bani Israil adalah dari seorang wanita. Maka selayaknya umat Islam tidak terjerumus sebagaimana umat terdahulu.

Wallahu a’lam

Penulis: Abu Samudera

summer : https://wadimubarak.com/dunia-manis-dan-hijau/

Penyebab Penyimpangan Remaja, Bag. 2

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas beberapa penyebab penyimpangan remaja dan anak muda, antara lain: banyaknya waktu luang, pengabaian serta merenggangnya jarak antara para remaja dan generasi tua di antara keluarga maupun masyarakat, memiliki akses kontak dengan orang-orang menyimpang serta berkawan dengan mereka, dan membaca bacaan-bacaan berbahaya berupa buku-buku, korespondensi, koran-koran, majalah-majalah, dll. Pada artikel ini kita akan membahas sebab lain penyimpangan anak muda.

Anggapan sebagian anak muda bahwa agama Islam mengekang kebebasan serta memasung bakat dan kemampuan

Akibat memiliki anggapan ini, ia menjauh dari agama Islam dan meyakini bahwa Islam adalah agama terbelakang yang menyeret penganutnya mundur serta menghalangi mereka meraih kemajuan dan peningkatan.

Solusi masalah ini: Singkaplah tabir yang menutupi hakikat Islam dari hadapan para remaja yang tidak mengetahuinya, baik akibat buruknya kesan yang mereka dapatkan maupun akibat keterbatasan ilmu mereka atau akibat keduanya sekaligus, sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair:

ومَنْ يَكُ ذَا فَمٍ مُرٍّ، مريضٍ    يَجِدْ مُرّاً بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا

Barangsiapa memiliki mulut yang terasa pahit karena sakit, niscaya kan ia dapati air tawar nan segar terasa pahit.”

Islam tidak mengekang kebebasan, melainkan menata serta memandu dengan baik agar kebebasan pribadi tidak bertabrakan dengan kebebasan orang lain sebagaimana yang akan terjadi bila kebebasan diberikan tanpa batasan sama sekali. Bila seseorang diberikan kebebasan secara mutlak tanpa batas sesuai kehendaknya, pastilah kebebasannya akan mengorbankan kebebasan orang lain, hingga akan terjadi pertentangan antar kebebasan masing-masing dan tersebarlah kekacauan serta kerusakan.

Karena itulah Allah menamakan hukum-hukum agama sebagai al-hudud (batasan-batasan), baik hukum dalam bentuk larangan sebagaimana dalam firman-Nya:?

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

Itulah batasan-batasan (larangan) Allah maka janganlah kamu mendekatinya.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Begitu juga hukum dalam bentuk positif sebagaimana pada firman-Nya:?

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

Itulah batasan-batasan (hukum) Allah maka janganlah Kamu melanggarnya.” (QS. Al-Baqarah: 229).

Tentu berbeda antara pengekangan yang disangka sebagian remaja dengan pengarahan dan bimbingan yang disyariatkan oleh Allah yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui kepada para hamba-Nya.

Itulah mengapa seharusnya hal ini tak perlu dipermasalahkan. Sebab keteraturan adalah suatu hal yang dituntut pada segala bidang di alam raya ini, dan manusia secara tabiat tunduk terhadap keteraturan. Contohnya manusia tunduk pada rasa lapar dan haus yang dapat dihilangkan dengan makan dan minum dengan jumlah, tata cara dan jenis tertentu secara teratur untuk menjaga kesehatan jasmani. Demikian pula manusia tunduk pada peraturan yang berlaku pada masyarakat serta adat istiadat yang berlaku, sehingga ia mengikuti adat istiadat negerinya seperti bentuk tempat tinggal, gaya berbusana, peraturan lalu lintas, dan ia akan dianggap aneh, ganjil dan asing bila tidak mengikuti hal itu.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa kehidupan seluruhnya pasti akan tunduk pada batas-batas tertentu, agar semua dapat berjalan beriringan demi mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila taat pada peraturan yang berlaku di masyarakat merupakan kewajiban setiap individu tanpa terkecuali demi maslahat masyarakat dan mencegah kekacauan, maka tunduk terhadap syariat juga kewajiban setiap individu demi maslahat umat. Bagaimana mungkin sebagian orang merasa tidak puas dengan hukum syariat serta memandangnya sebagai pengekang kebebasan?! Ini adalah kedustaan yang nyata.

Islam juga tidak memasung bakat dan kemampuan manusia, bahkan Islam adalah medan yang luas untuk mencurahkan seluruh kemampuan pemikiran, akal, dan jasmani.

Islam mengajak untuk berpikir dan mengamati, agar manusia dapat mengambil pelajaran serta berkembang akal dan pemikirannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala😕

قُل إِنَّما أَعِظُكُم بِواحِدَةٍ أَن تَقوموا لِلَّهِ مَثنى وَفُرادى ثُمَّ تَتَفَكَّروا

Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu berpikir.” (QS. Saba’: 46).?

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit serta di bumi.” (QS. Yunus: 101).

Bahkan Islam tak sekadar mengajak untuk berpikir dan merenung, Islam mencela orang-orang yang tak berakal dan tak berpikir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:?

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (QS. Al-A’raf: 185).?

أَوَلَم يَتَفَكَّروا في أَنفُسِهِم ما خَلَقَ اللَّهُ السَّماواتِ وَالأَرضَ وَما بَينَهُما إِلّا بِالحَقِّ

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (QS. Ar-Rum: 8).?

وَمَن نُعَمِّرهُ نُنَكِّسهُ فِي الخَلقِ أَفَلا يَعقِلونَ

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal penciptaannya. Maka apakah mereka tidak berpikir?” (QS. Yasin: 68).

Perintah untuk mengamati dan berpikir tak lain membuka kekuatan pikiran dan akal, maka bagaimana bisa sebagian orang berkata, “Islam memasung bakat dan kemampuan”?

Islam membolehkan penganutnya meraih segala kenikmatan yang tidak mengandung marabahaya bagi tubuh, agama dan akal seseorang.

Islam membolehkan makan dan minum dari segala hal-hal yang baik, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:?

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كُلوا مِن طَيِّباتِ ما رَزَقناكُم وَاشكُروا لِلَّهِ إِن كُنتُم إِيّاهُ تَعبُدونَ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172).?

يا بَني آدَمَ خُذوا زينَتَكُم عِندَ كُلِّ مَسجِدٍ وَكُلوا وَاشرَبوا وَلا تُسرِفوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ المُسرِفينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Islam membolehkan beragam pakaian sesuai hikmah dan fitrah. Allah ta’ala berfirman:?

يا بَني آدَمَ قَد أَنزَلنا عَلَيكُم لِباسًا يُواري سَوآتِكُم وَريشًا وَلِباسُ التَّقوى ذلِكَ خَيرٌ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).?

قُل مَن حَرَّمَ زينَةَ اللَّهِ الَّتي أَخرَجَ لِعِبادِهِ وَالطَّيِّباتِ مِنَ الرِّزقِ قُل هِيَ لِلَّذينَ آمَنوا فِي الحَياةِ الدُّنيا خالِصَةً يَومَ القِيامَةِ

Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.’” (QS. Al-A”raf: 32).

Islam membolehkan bernikmat-nikmat bersama perempuan dengan ikatan pernikahan yang sesuai syariat. Allah ta’ala berfirman:?

وَإِن خِفتُم أَلّا تُقسِطوا فِي اليَتامى فَانكِحوا ما طابَ لَكُم مِنَ النِّساءِ مَثنى وَثُلاثَ وَرُباعَ فَإِن خِفتُم أَلّا تَعدِلوا فَواحِدَةً أَو ما مَلَكَت أَيمانُكُم ذلِكَ أَدنى أَلّا تَعولوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.” (QS. An-Nisa’: 3).

Dari masalah mencari nafkah, Islam tidak mengekang kemampuan penganutnya, bahkan Islam menghalalkan bagi mereka semua usaha yang adil dan muncul dari keridaan, Allah ta’ala berfirman:?

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 285).

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ وَإِلَيهِ النُّشورُ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)?

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Setelah penjelasan ini, tidaklah benar anggapan dan perkataan sebagian orang bahwa Islam membatasi bakat dan kemampuan.

Semoga dengan memahami penyebab-penyebab penyimpangan remaja ini, kita sebagai orangtua dan pendidik dapat mempersiapkan bagi mereka sebab-sebab untuk menahan hawa nafsu, menundukkanya, serta mengontrolnya secara bijaksana hinga mencapai jalan yang lurus serta tumbuh sebagai generasi rabbani.

Wallahu a’lam.

Kembali ke bagian 1: Penyebab Penyimpangan Remaja, bag. 1

Penulis: Sarah Ummu Majza’ah

***
Diterjemahkan dengan penyesuaian dari Min Musykilaatisy Syabab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, cetakan tahun 1429 H, hal. 23-27).

Sumber: https://muslimah.or.id/16224-penyebab-penyimpangan-remaja-bag-2.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

COBA SEKALI-KALI BERJALAN TANPA ALAS KAKI

Termasuk sunnah “Berjalan tanpa memakai alas kaki (sekali-kali)”

Kecuali di tempat jika melepas alas kaki, maka kakinya akan terluka.

Di antara hikmahnya adalah:

– Melatih ketawadhuan dan kezuhudan.

– Menyehatkan dan memberikan kesegaran di kaki.

– Melatih diri ketika dalam keadaan sulit.

– Menjauhkan dari sifat sombong dan bermewah-mewah.

Al-‘Allaamah Al-Qori rahimahullah berkata:

[نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا] أَيْ : نَمْشِيَ حُفَاةً؛ تَوَاضُعًا، وَكَسْرًا لِلنَّفْسِ، وَتَمَكُّنًا مِنْهُ عِنْدَ الِاضْطِرَارِ إِلَيْهِ، وَلِذَلِكَ قَيَّدَهُ بِقَوْلِه ِ: [أَحْيَانًا] أَيْ : حِينًا بَعْدَ حِينٍ

“Kita berjalan tanpa alas kaki sesekali waktu. Maksudnya: Berjalan tanpa sepatu atau sandal dalam rangka tawadhu’ dan menundukkan hawa nafsu serta memberikan kenyamanan kaki saat berjalan, ketika hal itu dibutuhkan. Oleh karena itu diberi batasan: ‘Sesekali waktu.’ Maksudnya: Kadang-kadang.” [Mirqatul Mafatih, 7/2827]

Syaikh Ustaimin berkata: 

“Termasuk dari sunnah berjalan dengan alas kaki, dan termasuk sunnah juga berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang.”

Catatan: 

Sngat dianjurkan bagi orang yang memiliki pengaruh atau kedudukan di lingkungannya untuk mengamalkan ini, sehingga orang yang melihatnya tahu, bahwa berjalan tanpa alas kaki (kadang-kadang) itu sunnah, dan tidak menganggap itu bukan amalan yang hina.

Dan perhatikan niat, jika sampai meniatkannya itk syuhrah atau mencari ketenaran, maka ini haram.

Penulis: Ustadz DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, M.A حفظه الله تعالى

Sumber: https://www.facebook.com/SyafiqRizaBasalamahOfficial/photos/a.418092688382605/915979368593932/?type=3&theater

artikel : https://nasihatsahabat.com/coba-sekali-kali-berjalan-tanpa-alas-kaki/

Istri Yang Tidak Bersyukur Dibenci Oleh Allah

Istri yang shalihah, banyak bersyukur kepada Allah kemudian bersyukur kepada suaminya. Seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya sesuai kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Jika suami tidak bisa memberikan nafkah kecuali sedikit saja, disebutkan dalam ayat ini, “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya”. Maka ia tidak dibebani untuk memberikan nafkah dengan nominal tertentu yang terkadang itu di luar kemampuannya. Maka hendaknya ia bersabar atas sempitnya rezeki.

Demikian juga sang istri, hendaknya ia qana’ah (merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan) dan bersyukur kepada Allah ta’ala, serta juga bersyukur kepada suami bagaimana pun keadaan nafkah yang diberikan suaminya. Karena Allah ta’ala, membenci istri yang tidak bersyukur kepada pemberian suaminya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا ينظرُ اللَّهُ إلى امرأةٍ لا تشكُرُ لزوجِها وَهيَ لا تستَغني عنهُ

Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan ia tidak merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya” (HR. An Nasa’i no. 9086, Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra [7/294], dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 1944).

Makna Allah tidak akan melihat mereka maksudnya mereka mendapat murka dari Allah. Ath Thabari menjelaskan:

ولا ينظر إليهم، يقول: ولا يعطف عليهم بخير، مقتًا من الله لهم

“[Allah tidak melihat mereka] maksudnya Allah tidak memberikan kasih sayang berupa kebaikan kepada mereka, dan mereka mendapat murka dari Allah” (Tafsir Ath Thabari, 6/528).

As Sam’ani juga menjelaskan:

{وَلَا ينظر إِلَيْهِم يَوْم الْقِيَامَة} يَعْنِي: لَا ينظر إِلَيْهِم بِالرَّحْمَةِ

“[Allah tidak memandang mereka di hari kiamat] maknanya Allah tidak memandang mereka dengan pandangan rahmah” (Tafsir As Sam’ani, 334).

Dan sifat kurang bersyukur kepada suami, merupakan hal yang banyak terjadi pada diri wanita, sehingga membuat mereka menjadi mayoritas penduduk neraka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللَّهِ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita”. Para wanita bertanya: “apakah karena mereka kufur kepada Allah?”. Nabi menjawab: “Karena mereka kufur kepada suami mereka dan kufur kepada kebaikan suami mereka. Jika engkau para suami, berlaku baik kepada istri kalian sepanjang waktu, kemudian sang istri melihat satu keburukan dari dirimu, maka sang istri akan mengatakan: aku tidak pernah melihat kebaikan dari dirimu” (HR. Bukhari no. 29, Muslim no. 907).

Maka bagi para istri hendaknya bersyukur dengan apa yang diberikan suami dan tidak banyak menuntut serta merasa cukup dengan rezeki Allah yang diberikan melalui suaminya.

Semoga Allah memberi taufiq.

**

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/11448-istri-yang-tidak-bersyukur-dibenci-oleh-allah.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Ayah Aku Merindukanmu

Sosok suami ideal adalah lelaki yang seperti ayahku, demikian impian gadis belia yang tengah menanti pinangan lelaki salih.

Dan ternyata ayahnya adalah lelaki yang perhatian, super lembut, sabar mendengar curahan hatinya.

Lain cerita dengan gadis yang menginjak 10 tahun, di hari Jumat menjelang maghrib dia berdoa: “Ya Allah, berilah aku abi…”

Kerinduan mendalam tentang figur ayah yang sangat dicintainya terekam kuat dalam memori hatinya, ia merasa kehilangan cintanya ketika qadarullah ayahnya tiada.

Sementara seorang anak kecil usia PAUD lari tergopoh-gopoh menuju mobil yang melintas di hadapannya kemudian berteriak-teriak “abi…abi….” Sungguh pilu hatinya menanti sosok ayah yang akan mengajaknya jalan-jalan sebagaimana ayahnya dulu yang selalu membahagiakannya meski hanya sesaat.

Demikian gambaran kenangan indah sosok ayah yang sangat dicintai anak. Ayah yang penyayang serta setia membimbingnya untuk menjadi anak salih, ayah yang menggandeng tangannya ke surga. Semua kenangan indah akan senantiasa membuat anak ingin selalu merasakan cinta yang tulus dari ayahnya. Karena ayahnya mampu menjadi idola dalam kebaikan. Dan ini hanya dimiliki ayah yang paham agama dan selalu menjaga keluarganya dari siksa neraka.

Allah ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka pada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Ajarkanlah dirimu sendiri beserta keluargamu nilai-nilai kebaikan” (Hadits riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak (II/494), dia menshahihkan serta disetujui oleh Adz Dzahabi).

Menjadi ayah istimewa adalah impian mulia lelaki yang telah menikah agar anak-anaknya dekat secara hati dengan ayahnya. Anak akan mentransfer karakter positif sang ayah, sehingga ia memiliki rasa percaya diri dan bermental pejuang yang semakin kokoh imannya lantaran tempaan badai kehidupan. Ayah yang salih tentunya tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk memberikan segala yang terbaik untuk buah hatinya.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang raqub, “Siapa diantara kalian yang dianggap raqub?” Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak memiliki anak.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengoreksi jawaban dengan wahyu, “Orang seperti itu bukan raqub, akan tetapi raqub adalah seseorang yang tidak mempersembahkan sesuatu kepada anaknya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya (I/382) Muslim dalam kitab shahihnya, Kitabul Birri Wa Shilah, bab: Orang yang Biasa Menguasai Dirinya Ketika Marah, hadist no.2608).

Dan terkadang seorang anak diuji Allah ta’ala dengan adanya ayah yang tidak dekat dan kurang mencintai anak-anaknya, bahkan sosok ayah yang buruk akhlaknya dan tidak mencerminkan pribadi teladan sebagai ayah yang bisa membawa bahtera rumah tangganya dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “Ummi, cerai saja dengan abi…”, curahan kesedihan hati karena ia merasa tidak mendapat limpahan kasih sayang karena ayahnya sibuk bekerja dan bisa jadi diperkuat dengan praktik poligaminya yang kurang adil.

Dan seorang istri yang seringkali mengelus dada dan merasa bersalah dengan dua anak lelakinya yang qadarullah sering mencontoh karakter buruk suaminya yang temperamental, kasar dan tidak mencerminkan akhlak agung sosok ayah yang bisa diteladani anaknya. Ingin rasanya ada kedekatan emosional antara anak dengan ayahnya, namun kesabaran sang ibu senantiasa diuji dengan watak dan sifat suaminya yang tak bisa akrab dan kaku dengan anak-anaknya.

Anaknya cenderung membuat jarak dengan sang ayah, karena didominasi dengan rasa takut daripada keinginan untuk bermanja-manja dengannya. Sungguh malang ayah yang tak dirindukan anak dan sungguh menderita batin seorang anak yang memiliki ayah yang cuek, tidak kooperatif dan tidak pandai bergaul dengan anaknya secara lembut. Ini peringatan penting agar ayah menyadari tanggungjawabnya yang besar dalam memimpin dan mendidik istri maupun anaknya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan kelak ia ditanya tentang mereka…” (HR. Al Bukhari dalam shahihnya no.893 dan Muslim no.4828).

Saatnya setiap kepala rumah tangga bisa memposisikan perannya dengan cerdas dalam berinteraksi aktif dengan anak, menjadi ayah yang selalu siap sedia membersamai mereka. Bijak bersikap ketika anak butuh dukungan, mendidiknya untuk menjadi pribadi bertakwa, dan banyak belajar dari petunjuk nabawi serta perikehidupan para salafuna salih dalam membimbing anak-anaknya.

Saatnya seorang ayah memantaskan diri menjadi pribadi salih agar bisa memberikan pendidikan Islam yang terbaik untuk anak. Dan seorang anak yang berbakti pada orang tua tentunya akan berupaya berdoa, dan semangat membersamai orang tua menuju jalan takwa. Dua kerinduan yang bisa saling bertemu untuk meraih surga. Merindukan saat-saat indah ketika ayah dan anak sejalan satu frekuensi menggapai ridha Allah ta’ala. Hingga tak ada sosok anak durhaka dan tak ada figur orang tua yang menyia-nyiakan anak-anaknya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan para orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya, dan juga melembutkan hati anak-anak kita sehingga mereka mencintai dan merindukan kita karena mengharapkan cinta Allah ‘azza wa jalla.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1. Cara Bijak Mendidik Anak (Terjemah) Muhammad bin Abdullah bin Shalih As Suhaimi, Pustaka Dhiya’ul Ilmi, Bekasi, 2019.

2. Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al Atsari, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Jakarta, 2015.

Sumber: https://muslimah.or.id/16070-ayah-aku-merindukanmu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Dunia itu Penjara bagi Orang Mukmin

Dunia itu penjara bagi orang beriman. Apa maksudnya?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan, “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan. Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu. Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.

Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.”

Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”

Jadi bersabarlah dari maksiat dengan menahan diri. Karena dunia ini adalah penjara bagi kita di dunia. Di akhirat kita akan peroleh balasannya.

Tulisan di atas akan membicarakan tentang kisah dari Ibnu Hajar mengenai hadits di atas.

Selesai disusun di Pantai Lamawai, Solor Timur, Flores Timur, NTT, 18 Syawal 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/11513-dunia-itu-penjara-bagi-orang-mukmin.html

Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan

Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim

عَنْ أُمِّ العَلاَءِ قَالَتْ : عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

“Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak“. [1]

Wahai Ukhti Mukminah !
Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah ?

Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. [Asy-Syura/42 : 32-33]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa“. [Al-Baqarah/2 : 177]

Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar“. [Ali Imran/3 : 146]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan“. [An-Nahl/16 : 96]

نَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. [Az-Zumar/ : 10]

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” [Ar-Ra’d/13 : 23-24]

Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. [2]

Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

“Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”.[3]


“Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimi’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab. ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. [4]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. [5]

Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?”

Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. [6]

Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. [7]

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

“Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. [8]


Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engka ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga” [9]

Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

Ukhti Muslimah !
Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan.

Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. [Al-Aqdud-Farid, 2/282]

Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu taqdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai taqdir-Nya”. [Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125]

Perbaharuilah imanmu dengan lafazh La ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi taqdir Allah. Sesungguhnya tidak ada taufik kecuali dari sisi Allah.

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim, Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]


Footnote
[1]. Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092
[2]. Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud
[3]. Isnadnya shahih,ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172
[4]. Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby
[5] Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby
[6]. Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127
[7]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130
[8]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131]
[9]. Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalamAth-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya


Referensi : https://almanhaj.or.id/222-keutamaan-sabar-menghadapi-cobaan.html

Orang Kafir Pasti Kalah – Tafsir Surah Ali Imran 12

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ‎﴿١٢﴾

“Katakanlah (Hai Muhammad) kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Kalian pasti akan kalah dan pasti akan dikumpulkan ke dalam neraka Jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.’” (QS. Ali ‘Imran[3]: 12)

Dari ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM ADALAH HAMBA

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba yang diperintahkan oleh Allah. Karena Allah berfirman pada ayat ini: “Katakanlah…” Maka beliau adalah hamba yang tidak boleh diibadahi, dan beliau adalah Rasul yang tidak boleh didustakan.

PENTINGNYA KABAR INI

Allah menyuruh nabiNya untuk menyampaikan ini kepada orang kafir. Bahwa orang kafir itu pasti akan kalah dan akan dikumpulkan ke neraka Jahannam.

KEKUATAN UNTUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Ini memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman. Dimana ketika kita mendengar Allah mengatakan, “Kalian, hai orang-orang kafir, pasti akan kalah. Walaupun di awal-awal menang, kalian tetap akan kalah di dunia ini, dan di akhirat pun kalian tidak mungkin mendapatkan akibat yang baik. Sebab di akhirat kalian akan dikumpulkan kedalam neraka.”

Makanya Subhanallah, saudaraku, ini kabar bergembira juga buat kita. Kita melihat orang kafir di zaman ini dengan kehebatan dan kecanggihan mereka, tetap pasti suatu ketika akan kalah.

MENAKUT-NAKUTI ORANG-ORANG KAFIR

Ayat ini dalam rangka menakut-nakuti orang-orang kafir dan mentahdzir mereka. Bahwasanya orang-orang kafir itu pasti akan kalah.

DUA SANKSI UNTUK ORANG KAFIR

Allah mengumpulkan dua sanksi untuk orang kafir; yaitu sanksi di dunia, dan sanksi di akhirat.

Adapun sanksi di dunia itu firman Allah Ta’ala: “Kalian pasti kalah.” Walaupun orang-orang kafir menginfakkan harta yang sangat banyak untuk memerangi kaum muslimin, untuk memadamkan cahaya Allah, tidak akan bisa berhasil. Allah berfirman juga:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan mereka kelak akan menginfakkan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan buat mereka, kemudian mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu di dalam neraka jahanam akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal[8]: 36)

Subhanallah, ini janji Allah yang pasti akan terbukti.

Adapun sanksi di akhirat, ini lebih mengerikan lagi. Allah berfirman: “Dan kalian akan dikumpulkan dalam neraka jahanam.”

Subhanallah.. Berbeda dengan orang yang beriman, orang yang beriman diberikan oleh Allah dua pahala; pahala di dunia dan pahala di akhirat. Pahala di dunia, Allah berikan kepada mereka kemenangan dengan hujjah, kalaupun mereka kalah itu sebagai kaffarah (penggugur dosa-dosa). Kalaupun mereka diberikan musibah, hakikatnya musibah itu hanya sebagai tempaan untuk orang yang beriman, agar mereka lebih kuat imannya, lebih kuat tawakalnya, dan Allah ingin ampuni dosa-dosanya dan angkat derajatnya.

Makanya orang beriman itu ketika diberikan kenikmatan, maka dia bersyukur. Ketika dia diberikan kesulitan, maka dia bersabar. Di akhirat, diberikan oleh Allah kemenangan yang luar biasa, yaitu dimasukkan ke dalam surga.

KABAR GEMBIRA UNTUK KAUM MUSLIMIN

Kabar gembira untuk kita di zaman ini. Bahwa kalau kita jujur dalam keimanan kepada Allah, pasti orang kafir itu kalah. Orang kafir akan kalah kalau orang beriman Islamnya bagus, aqidahnya bagus. Adapun jika orang beriman berbuat maksiat, berbuat syirik, maka orang kafir menang.

Seperti halnya di Perang Uhud. Orang musyrikin menang karena kesalahan kaum mukminin. Dan itu Allah abadikan untuk dijadikan sebagai pelajaran. Di perang Hunain, kaum muslimin di putaran pertama kalah. Kesalahan mereka adalah tertipu dengan jumlah yang banyak sehingga merasa ujub. Ketika mereka taubat kepada Allah, Allah menangkan.

Makanya orang kafir akan berusaha, bagaimana caranya orang Islam itu jauh dari Islam. Karena mereka tahu kalau orang Islam berpegang kepada Islam yang benar, disitulah umat Islam akan menang. Dan yang menang adalah yang Allah firmankan dalam surah Al-Mujadilah ayat 21:

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Allah telah menuliskan: ‘Aku pasti menang, dan demikian pula para RasulKu.’ Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 21)

sumber : https://www.radiorodja.com/53339-orang-kafir-pasti-kalah-tafsir-surah-ali-imran-12/

Keras Terhadap Saudaranya Se-Islam

Saudaraku Se-Islam, kita telah dipersaudarakan dalam keindahan agama Islam. Hendaknya kita saling berkasih-sayang terhadap sesama dan keras terhadap orang kafir yang memerangi Islam (kalau kafir yang tidak memerangi, maka wajib berbuat baik dan adil terhadap mereka).

Bukannya TERBALIK:
“Lembut dengan orang kafir, tapi keras dengan sesama muslim”
Perhatikan firman Allah,


ﺃَﺷِﺪَّﺁﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺂﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ


“Mereka adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath :29)

Semoga kita sadar, terkadang sesama kaum muslimin mereka keras, nyinyir, tampang seram jika betemu, padahal mereka adalah bersaudara
Allah berfirman,


 ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺇِﺧْﻮَﺓٌ ﻓَﺄَﺻْﻠِﺤُﻮﺍ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺧَﻮَﻳْﻜُﻢْ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮﻥَ


“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10)
JANGAN sampai:
-Sesama muslim muka sangar  sedangkan dengan non-muslim lebih ramah
-Sesama muslim jika berselisih main fisik, dengan non-muslim bermusyawarah hangat mencari penengah dan solusi
-Sesama muslim su’udzan, nyinyir dan menyindir, dengan non-muslim bicara lembut, memperbaiki dan husnudzan
-Sesama muslim tidak toleransi jika ada perbedaan fikh yang sama-sama kuat pendapatnya, dengan non-muslim toleransi kebablasan dengan ikut serta dalam acara keagamaan mereka
– dll
Note penting: 
Terhadap kafir kita harus adil dan berbuat baik, akan tetapi jika kita ramah dengan non-muslim tentu dengan sesama muslim harus lebih ramah lagi. Jika berbuat baik pada non-muslim, tentu pada saudara se-Islam lebih baik lagi
Jika dalam keadaan berselisih saja kita harus tetap bersaudara se-Islam apalagi tidak dalam kedaaan berselisih?
Perhatikan perkataan imam Syafi’i berikut:

Beliau berkata kepada Abu Musa,


يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ


“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).
Demikian semoga bermanfaat
@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen

summer : https://muslimafiyah.com/keras-terhadap-saudaranya-se-islam.html

Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Waktunya diisi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Sedangkan tanda orang yang tidak baik islamnya adalah sebaliknya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Tanda Baiknya Islam Seorang Muslim

Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 288)

Tanda baiknya seorang muslim adalah dengan ia melakukan setiap kewajiban. Juga di antara tandanya adalah meninggalkan yang haram sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh, begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim.  Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah secara bebas (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).

Menjaga Lisan, Tanda Baiknya Islam Seseorang

Kata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 290).

Tentang keutamaan menjaga lisan ini diterangkan dalam ayat berikut yang menjelaskan adanya pengawasan malaikat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh lisan ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Dalam hadits Al Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).

Abu Ishaq Al Khowwash berkata,

إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم

“Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48).

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291). Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.

Ibnu Rajab berkata, “Jika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, kemudian menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, maka tanda baik Islamnya telah sempurna” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 295).

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Termasuk yang Bermanfaat

Mungkin ada sebagian yang menganggap bahwa meninggalkan hal yang tidak bermanfaat berarti meninggalkan pula amar ma’ruf nahi mungkar.

Jawabnya, tidaklah demikian. Bahkan mengajak pada kebaikan dan melarang dari suatu yang mungkar termasuk hal yang bermanfaat. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104) (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, 182). Sehingga dari sini menunjukkan bahwa nasehat kepada kaum muslimin di mimbar-mimbar dan menulis risalah untuk disebar ke tengah-tengah kaum muslimin termasuk dalam hal yang bermanfaat, bahkan berbuah pahala jika didasari dengan niat yang ikhlas.

Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk mengisi hari-hari kami dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat.

Wa billahit taufiq.

Referensi:

Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrahim Yajus, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan kesepuluh, tahun 1432 H.

Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ats Tsaroya, cetakan ketiga, tahun 1425 H.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Tahqiq: Musthofa Sayyid Muhammad, dkk, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 24 Rabi’uts Tsani 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2322-meninggalkan-hal-yang-tidak-bermanfaat.html