Kubur Nabi Daniel yang Disembunyikan agar Mencegah Kesyirikan

Salah satu Nabi yang diutus kepada Bani Israil adalah Nabi Daniel[1]. Jasad Nabi Daniel ditemukan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari ketika berjihad melawan bangsa Tartar di daerah Hurmuzan. Jasad Nabi Daniel ditemukan di Baitul Mal Hurmuzan dan penduduk Hurmuzan menjelaskan bahwa jasad tersebut telah meninggal 300 tahun yang lalu. Akan tetapi, jasadnya masih utuh dan tidak membusuk sedikit pun. Lalu, Abu Musa Al-Asy’ari mengirim surat kepada Umar bin Khattab sebagai khalifah saat itu. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa itu adalah jasad Nabi Daniel dan memerintahkan untuk MENYEMBUNYIKAN KUBURNYA.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari sahabat Anas,

عَنْ أَنَسٍ: أَنَّهُمْ لَمَّا فَتَحُوا تُسْتَرَ قَالَ: ” فَوَجَدَ رَجُلًا أَنْفُهُ ذِرَاعٌ فِي التَّابُوتِ , كَانُوا يَسْتَظْهِرُونَ وَيَسْتَمْطِرُونَ بِهِ , فَكَتَبَ أَبُو مُوسَى إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِذَلِكَ , فَكَتَبَ عُمَرُ: إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ: فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُ

Dari Anas, “Tatkala mereka (Abu Musa Al-Asy’Ari) menaklukan tustur, mereka menemukan jasad seseorang yang hidungnya panjang. Penduduk Hurmuzan ber-isti’anah (minta bantuan) dan meminta hujan dengan perantara jasad tersebut. Abu Musa segera menulis surat kepada Umar bin Khattab. Umar membalas surat, ‘Sesungguhnya ini (jasad tersebut) adalah Nabi di antara para nabi. Api tidak akan membakar jasad para nabi dan bumi tidak akan merusaknya. Hendaklah engkau dan salah seorang sahabatmu menguburkannya di tempat yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali kalian berdua’. Kemudian aku dan Abu Musa pergi untuk menguburkannya.” [2]

Cara menyembunyikan kubur beliau dengan cara pada siang hari para sahabat mengali 13 lubang kubur. Lalu, menguburkannya pada salah satu lubang di malam hari sehingga tidak ada yang mengetahui di mana kubur beliau.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah, “Dari Khalid  bin Dinar dari Abu ‘Aliyah,

قُلْتُ: فَمَا صَنَعْتُمْ بِالرَّجُلِ؟ قَالَ : ” حَفَرْنَا بِالنَّهَارِ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا مُتَفَرِّقَةً، فَلَمَّا كَانَ فِي اللَّيْلِ دَفَنَّاهُ وَسَوَّيْنَا الْقُبُورَ كُلَّهَا، لِنُعَمِّيَهُ عَلَى النَّاسِ لَا يَنْبُشُونَهُ

Aku berkata kepada Abu ‘Aliyah, ‘Apa yang kalian lakukan pada jasad Nabi tersebut?’. Abu ‘Aliyah berkata, ‘Pada siang hari kami menggali di sungai (airnya dibendung sementara) sebanyak 13 lubang kubur yang terpisah-pisah. Pada saat malam hari, kami menguburkannya dan kami ratakan semua kubur tersebut agar manusia tidak mengetahui dan tidak menggalinya kembali.’”[3]

Ahli sejarah Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa jasad tersebut adalah Nabi Daniel karena bisa diperkirakan dari waktu kematiannya dan khabar mengenai kapan masa hidupnya.

وَهُوَ قَرِيبٌ مِنْ وَقْتِ دَانْيَالَ ، إِنْ كَانَ كَوْنُهُ دَانْيَالَ هُوَ الْمُطَابِقَ لِمَا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

Waktunya dekat dengan waktu kehidupan Nabi Daniel. Apabila itu adalah Nabi Daniel, maka ini sesuai dengan perkaranya (lama meninggal dan waktu ditemukan jasadnya).[4]

Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa Umar bin Khattab menulis surat kepada Abu Musa dan Umar berkata,

إذَا كَانَ بِالنَّهَارِ فَاحْفِرْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا، ثُمَّ ادْفِنْهُ بِاللَّيْلِ فِي وَاحِدٍ مِنْهَا، وَعَفِّرْ قَبْرَهُ، لِئَلَّا يَفْتَتِنَ بِهِ النَّاسُ

Pada siang hari, galilah 13 lubang kubur. Kemudian kuburkanlah pada malam hari pada salah satu lubang tersebut. Sembunyikan kuburnya agar tidak menjadi fitnah (disembah-sembah dan dikeramatkan) oleh manusia.”[5]

[su_spacer]

Dari kisah ini mengandung beberapa faedah:

1. Kuatnya tauhid pada sahabat dan mereka sangat khawatir manusia terjatuh dalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar dan paling dilarang dalam agama.[6]

2. Salah satu sumber kesyirikan adalah ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap nabi dan orang saleh sehingga akhirnya dikultuskan, dikeramatkan bahkan dianggap tuhan.[7]

3. Para sahabat telah paham bahwa sejarah pertama kesyirikan di muka bumi adalah pada zaman Nabi Nuh. Patung berhala mereka adalah patung orang-orang saleh sebelum mereka, lalu disembah.[8]

4. Para sahabat sangat paham bahwa telah banyak kubur Nabi yang disembah dan dikultuskan oleh manusia sehinggga mereka mencegahnya.[9]

5. Kuburan bukan tempat ibadah. Ziarah kubur hukumnya sunnah dengan tujuan mengingat mati dan mendoakan si mayit.

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Banyak mengambil faidah dari: https://islamqa.info/ar/233815

[2] HR. Ibnu Abi Syaibah (4/7) dengan sanad sahih

[3] Al-Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah (1/381)

[4] Al-Bidayah wan Nihayah 2/40

[5] Majmu’ Fatawa 15/154

[6] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/kok-kesyirikan-jadi-larangan-terbesar-dalam-islam.html

[7] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/ghuluwberlebihan-terhadap-orang-shalih.html

[8] silahkan baca: https://muslimafiyah.com/sejarah-kesyirikan-pertama-di-muka-bumi-dan-di-jazirah-arab.html

[9] silahkan baca tulisan kami: https://muslimafiyah.com/kuburan-bukan-tempat-ibadah-masjid-jangan-sampai-sepi-kuburan-malah-ramai.html

Sumber: https://muslim.or.id/41069-kubur-nabi-daniel-yang-disembunyikan-agar-mencegah-kesyirikan.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Kalau Cinta, Cintaaaa Banget; Kalau Benci, Benciiii Banget (Kaidah Mayoritas Wanita….)

Wanita dianugrahi perasaan yang mendalam, karena memang disiapkan menjadi seorang ibu yang harus memiliki kasih sayang dan perhatian yang mendalam juga. Untuk menghadapi anak-anak, maka perlu perhatian dan kasih sayang untuk menemani kesabaran menghadapi dan mendidik anak-anak. Akan tetapi kelebihan ini tentu ada kelemahannya. Kelemahannya adalah terkadang perasaan menutupi akal sehatnya, perasaan membuat pertimbangan mengambil keputusan bisa mengalahkan keputusan akal sehat. Dan ini memang harus dipahami karena wanita memang ingin lebih dimengerti.

Ketika  wanita jika sudah cinta, maka ia sangat cinta sekali dan jika sudah benci maka ia benci sama sekali. Ini adalah mayoritas sifat wanita. Karenanya beberapa ahli psikologi dan beberapa ulama yang ahli mengenai hal ini mengatakan bahwa wanita memang tidak bisa membagi cinta, karena begitulah tipe cinta wanita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka (wanita) sepanjang setahun, kemudian melihat sesuat yang mengecewakan, dia akan berkata,

’Saya tidak pernah melihat kebaikanmu sedikitpun’.[1]
Cinta yang sewajarnya saja

perilaku seperti tidak bagus yaitu terlalu berlebihn menyikapi cinta dan benci. Hal ini sudah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda,

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bis jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi”[2]

Dari Aslam bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata,

لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف

“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menjadikan kehancuran bagimu.

Aku (Aslam) berkata, “Bagaimanakah itu?”

Umar berkata, “Bila engkau mencitainya, maka engkau mencintainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”[3]
Penjelasan hadits dijelaskan dalam Fatwa Al-Islamiyah,

لكن المقصود من الحديث النهي عن المبالغة والإفراط الشديد في الحب،

“Akan tetapi maksud hadits adalah agar tidak berlebihan dan melampui batas dalam hal cinta.”[4]

Demikianlah, kita diperintahkan agar bersikap pertengahan dalam sesuatu hal. Tidak terlalu ekstrim dan tidak terlalu meremehkan juga.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al Baqarah: 143)

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:  dr.  Raehanul Bahraen


[1] HR Bukhari

[2] Diriwayatkan At-Tirmidzi no. 1997 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178

[3] Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani

[4]Sumber:  http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=139943

sumber : https://muslimafiyah.com/kalau-cinta-cintaaaa-banget-kalau-benci-benciiii-banget-kaidah-mayoritas-wanita.html

Banyak Tertawa Mematikan Hati

الإكثار من الضحك يؤدي إلى موت القلب

السؤال

ما حكم الدين في الضحك باستمرار مع عدم السيطرة عليه في معظم الأحيان؟ وما هو العلاج؟ جزاكم الله خيرا.

Pertanyaan: 

Apa hukum dalam Agama tentang sering tertawa terbahak-bahak secara terus menerus? Dan apa obatnya? Jazakumullahu khairan.

الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فقد حذر النبي صلى الله عليه وسلم من كثرة الضحك بقوله صلى الله عليه وسلم: إياك وكثرة الضحك، فإنه يميت القلب ويذهب بنور الوجه. رواه أحمد وغيره، وصححه الألباني.

والضحك المذموم الإكثار منه ما كان مصحوبًا بصوت ويسمى القهقهة، وذلك لما يترتب عليه من آثار سيئة، كموت القلب وذهاب الهيبة وضياع الوقت.

قال الإمام الماوردي في كتابه “أدب الدنيا والدين”: وأما الضحك فإن اعتياده شاغل عن النظر في الأمور المهمة، مذهل عن الفكر في النوائب الملمَّة وليس لمن أكثر منه هيبة ولا وقار، ولا لمن وصم به خطر ولا مقدار، روى أبو إدريس الخولاني عن أبي ذر الغفاري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إياك وكثرة الضحك، فإنه يميت القلب ويذهب بنور الوجه. ورُوي عن ابن عباس في قوله تعالى: مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا [الكهف: 49]. إن الصغيرة الضحك. وقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته. وقال علي بن أبي طالب كرم الله وجهه: إذا ضحك العالم ضحكة مجَّ من العلم مجة. انتهى.

وللمزيد من التفصيل في هذا الموضوع، تراجع الفتوى رقم: 30423.

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba’du:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan terhadap tertawa berlebihan, melalui sabda beliau:

إِيَّاكَ وَكَثْرَةُ الضَّحِكِ، فَإِنَّهُ يُمِيْتُ الْقَلْبَ وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ

“Janganlah kamu banyak tertawa, karena ia dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya di wajah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya; dan disahihkan oleh al-Albani).

Tertawa yang tercela dan berlebihan adalah yang disertai dengan suara, atau yang disebut juga dengan terbahak-bahak. Hal ini karena dapat mendatangkan pengaruh-pengaruh buruk, seperti matinya hati, hilangnya kewibawaan, dan waktu yang terbuang sia-sia.

Imam al-Mawardi berkata dalam kitabnya Adab ad-Dunya wa ad-Din

“Adapun tertawa, terbiasa melakukannya dapat menyibukkan diri dari memikirkan perkara-perkara penting, melalaikan pikiran dari musibah-musibah, dan orang yang terlalu banyak melakukannya tidak memiliki kewibawaan dan kesantunan, serta orang yang menjatuhkan harga dirinya dengan hal itu tidak lagi mempunyai kehormatan dan martabat. 

Abu Idris al-Khaulani meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kamu banyak tertawa, karena ia dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya di wajah.’ 

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang makna firman Allah Ta’ala, 

مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا [الكهف: 49]

Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.’ (QS. Al-Kahfi: 49). 

Bahwa yang dimaksud dengan yang kecil adalah tertawa. 

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Barang siapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya.’ 

Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Apabila orang yang berilmu tertawa satu kali, maka dia telah memuntahkan satu ilmunya.’”

Untuk pembahasan yang lebih terperinci dalam tema ini, dapat merujuk fatwa no. 30423 (https://www.islamweb.net/ar/fatwa/30423/الضحك-مباح-في-الأصل)

وعليه، فعليك بمجاهدة النفس للتخلي عن هذا الأمر حسب استطاعتك، وما كان منه خارجا عن إرادتك، فأنت مغلوب ولا إثم عليك إن شاء الله تعالى. قال تعالى: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ [التغابن: 16]، وقال تعالى: لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا [البقرة: 286].

ومما يعين على تركه ما يلي:

1- التأمل في ثماره ونتائجه السيئة، فأي ضرر أشد على الإنسان من موت قلبه الذي هو المضغة التي إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله.

2- البعد عن كل ما يكون سببا في إثارته كمجالسة البطالين الذين لا هم لهم إلا إضاعة الأوقات في الهذر والهزل.

والله أعلم.

Dengan demikian, hendaklah kamu berusaha untuk meninggalkan perkara ini sekuat tenaga; sedangkan tertawa yang terlepas dari kehendakmu, maka itu di luar kuasamu, sehingga kamu tidak berdosa atas itu, InsyaAllah. 

Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16).

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya …” (QS. Al-Baqarah: 286)

Di antara perkara yang dapat membantu untuk meninggalkan tertawa berlebihan adalah sebagai berikut:

  1. Mencermati hasil dan akibatnya yang buruk. Adakah mudarat yang lebih besar bagi manusia daripada kematian hatinya yang merupakan segumpal daging yang jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya; dan jika ia buruk, maka buruk pula seluruh jasadnya?!
  2. Menjauhi segala hal yang dapat mengundang tawa, seperti duduk dengan para pengangguran yang tidak memiliki kepentingan kecuali menghabiskan waktu dalam senda gurau.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/41154/الإكثار-من-الضحك-يؤدي-إلى-موت-القلب

Apa yang Engkau Risaukan?

Setiap manusia tak lepas dari takdir yang ditetapkan bagi dirinya, baik itu takdir yang baik maupun buruk. Sering kali manusia risau apabila takdir buruk menimpanya. Tak jarang pula manusia risau karena khawatir tak bisa mendapatkan dunia yang selalu ia kejar.

Beriman kepada Takdir

Iman kepada takdir yang baik maupun yang buruk adalah salah satu dari keenam rukun iman yang perlu diyakini oleh seorang mukmin. Perbuatan Allah dalam menetapkan takdir seorang hamba semuanya baik. Namun, takdir yang ditetapkan bisa baik, bisa juga buruk.

Allah mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi sebelum terjadinya sesuatu tersebut. Sebab, Allah memiliki sifat Al-‘Alim yang sempurna, tidak diawali dengan tidak tahu, tidak ada akhirnya, serta tidak diiringi lupa. Dengan kesempurnaan ilmu Allah tersebut, hendaknya seorang mukmin meyakini bahwa Allah telah mengetahui hal yang terbaik bagi hamba-Nya. Dia-lah yang telah menciptakan hamba-Nya, sehingga Dia yang paling mengerti tentang hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)

Ketenangan Hati

Kunci bagi ketenangan hati ketika menerima takdir yang baik ataupun buruk adalah bertawakal kepada Allah. Seorang mukmin akan tenang ketika menerima takdir yang baik. Ia akan meyakini bahwa hal baik yang ia peroleh semata-mata nikmat dari Allah, bukan karena kehebatan dirinya, sehingga terhindar dari ujub dan sombong. Seorang mukmin akan tenang ketika menerima takdir yang buruk. Ia akan meyakini bahwa hal buruk yang ia peroleh mengandung hikmah di dalamnya, sehingga akan terlepas dari kesedihan, kegundahan, dan kesulitan.

Bertawakal, yakni menyandarkan hati kepada Allah semata. Bertawakal dalam masalah dunia bukan berarti berdiam diri dan tidak melaksanakan apapun untuk mencari rezeki. Ibaratnya, seseorang yang lapar tidaklah akan kenyang jika ia hanya berdiam diri dan tidak melakukan aktivitas makan. Begitu pula dengan rezeki, manusia tetap harus bergerak untuk mencarinya. Namun, seberapa banyak yang akan ia dapatkan, hendaknya diserahkan kepada Allah semata.

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad (1/30), at-Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402)

Allah telah menjamin rezeki setiap manusia. Maka, tak perlu risau dengan rezeki, tak perlu mengejar dunia hingga melupakan akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiran Anda untuk bisa mengerjakan segala yang diperintahkan kepada Anda, jangan sibukkan ia dengan urusan rezeki dan ajal; karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah pasti akan menyertai hidup Anda. Selama Anda masih hidup, rezeki pasti datang menyapa. Apabila Allah, dengan hikmah-Nya, menutup satu pintu rezeki niscaya Dia akan membukakan bagi Anda, dengan rahmat-Nya, pintu rezeki lain yang lebih bermanfaat dari pintu sebelumnya.”

Ketika takdir buruk menimpa, hendaknya seorang mukmin meyakini bahwa takdir yang menimpanya sudah ditetapkan. Dalam takdir buruk tersebut, pasti terdapat hikmah.

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {22} لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ …{23}

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Tetaplah Berusaha

Manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan tidak bermalas-malasan, bukan pasrah kepada takdir sepenuhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi, hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan ‘law’ (seandainya) dapat membuka pintu setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Ketika telah berusaha namun tidak mendapatkan apa yang diharapkan, hendaknya tidak risau karena yakin bahwa hal itu merupakan ketetapan Allah.

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Qaulus Sadid, “(Wajib) diketahui bahwa suatu sebab, meskipun besar dan kuat (pengaruhnya), maka sesungguhnya tetap terikat dengan takdir Allah, tidak bisa terlepas darinya”.

Sekuat apapun usaha yang dilakukan seorang hamba, apabila Allah tidak menghendakinya berpengaruh, maka tidak dapat berpengaruh. Usaha yang dilakukan dapat berpengaruh hanya jika Allah menghendakinya.

Sebagai contoh, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak hangus ketika dibakar oleh api yang besar. Api yang besar tidak berpengaruh karena Allah menghendakinya menjadi dingin.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi sebab keselamatanlah bagi Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya`: 69)

Demikianlah, semoga bermanfaat.

Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Bini Arta Utama

Referensi :

  1. Fawaidul Fawaid (Terjemah), Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tahqiq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, cetakan Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta.
  2. Memahami Takdir dengan Benar, al-Ustadz Abu ‘Athifah Adika Mianoki hafizhahullahu Ta’ala, https://muslim.or.id/2156-memahami-takdir-dengan-benar.html.
  3. Hukum Sebab (6), al-Ustadz Sa’id Abu Ukasyah hafizhahullahu Ta’ala, https://muslim.or.id/26682-hukum-sebab-6.html.

Sumber: https://muslimah.or.id/16927-apa-yang-engkau-risaukan.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Harta Kita yang Sebenarnya dan Renungan Bagi Penumpuk Harta karena Tamak

Saudaraku
Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja, selebihnya memang harta kita tetapi hakikatnya bukan harta kita karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja
Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu
1. Makanan yang kita makan

Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati

Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja
2. Pakaian yang kita pakai

Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan
3. Sedekah

Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia
Selebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta:
– Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja
-Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan
-Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja
Inilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tiga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ


“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)

Riwayat yang lain,


ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ


“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)

BUKAN berarti seorang muslim harus miskin dan tidak boleh kaya. Tetapi gunakanlah kekayaan tersebut untuk membela agama dan membuat anda bahagia yang sejati sebagaimana perintah agama [1]

“Bahagia sejati adalah membuat orang lain bahagia”

Sebagaimana ungkapan indah


أسعد الناس من أسعد الناس


“As’adunnaasi man as’adan naasa”

“Manusia paling bahagia adalah yang membuat manusia lainnya bahagia”

Gunakan harta untuk membantu orang lain
“Semakin kaya, semakin dermawan. Bukan semakin meningkatkan gaya hidup”

Tidak lupa harta tersebut kita sisihkan untuk anak-dan cucu kita sebagai warisan yang cukup bagi mereka agar mereka tidak meminta-minta dan hidup layak.[2]

Semakin tua usia kita harusnya kita sadar harta yang kita tumpuk akan kita tinggalkan dengan kematian. Bukannya semakin tamak mengumpulkan harta dan melupakan bekal akhirat

Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam


ﻳَﻬْﺮَﻡُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﺗَﺒْﻘَﻰ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺛْﻨَﺘَﺎﻥِ ﺍﻟْﺤِﺮْﺹُ ﻭَﺍﻷَﻣَﻞُ


“Jika manusia berada di USIA TUA, ada dua hal yang tersisa baginya: sifat TAMAK dan banyak angan angan.” (HR. Ahmad, 3: 115, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Terlalu banyak dalil mengenai fitnah/ujian harta yang membuat manusia lalai dan lupa akn akhirat. Semoga kita dilindungi dari fitnah ini. Amin

@Di antara bumi dan langit Allah, pesawat Lion Air Surabaya-Yogyakarta

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Sesuai hadits,


ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺃَﻥْ ﺗُﺪْﺧِﻞَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺧِﻴْﻚَ ﺍْﻟﻤـُﺆْﻣِﻦِ ﺳُﺮُﻭْﺭًﺍ


“Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang mukmin.” [HR Ibnu Abi ad-Dunya] [2] Sebagaimana hadits


ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻥْ ﺗَﺬَﺭَ ﻭَﺭَﺛَﺘَﻚَ ﺃَﻏْﻨِﻴَﺎﺀَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﺗَﺬَﺭَﻫُﻢْ ﻋَﺎﻟَﺔً ﻳَﺘَﻜَﻔَّﻔُﻮﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ


“Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari)

Salaf dan Berbakti Kepada Ibu

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: ‘Harga pohon kurma di masa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mencapai seribu dirham. Ia berkata: ‘Usamah radhiyallahu ‘anhu[1] mendatangi pohon kurma, lalu menebangnya, mengeluarkan jummar[2]nya dan memberikannya kepada ibunya. Mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang mendorong engkau melakukan hal ini, sedangkan engkau mengetahui harta pohon kurma sudah mencapai seribu dirham.’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya ibuku memintanya kepadaku, dan ia tidak meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu melakukannya kecuali aku memberikannya kepadanya.’[3]

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata : Muhammad bin Munkadir berkata: ‘Semalam suntuk Umar (maksudnya saudaranya) shalat dan semalam suntuk ia memijat kaki ibuku, dan aku menginginkan malamku seperti malamnya.’[4]

Dari Ibnu Aun, ia berkata: ‘Seorang laki laki mendatangi Muhammad bin Sirin yang sedang berada di sisi ibunya, ia berkata: ‘Bagaimana kondisi Muhammad, apakah ia menderita sesuatu? Mereka menjawab: ‘Tidak, akan tetapi seperti inilah dia apabila berada di sisi ibunya.’[5]

Dari Hisyam bin Hisan, dari Hafshah bin Sirin, ia berkata: ‘Apabila Muhammad masuk kepada ibunya, ia tidak berbicara kepadanya dengan lisannya, seolah olah ia sangat khusyuk kepadanya.’[6]

Dari Ibnu ‘Aun: Sesungguhnya ibunya memanggilnya lalu ia menjawabnya,  ternyata suaranya lebih tinggi dari suara ibunya, maka ia memerdekakan dua orang budak.’[7]

Dari Hisyam bin Hisan, ia berkata: Hudzail bin Hafshah mengumpulkan kayu bakar di musim panas, lalu ia mengupas kulitnya dan mengambil batangannya, lalu membelahnya. Hafshah (binti Sirin, ibunya) berkata:  ‘Dan aku merasakan dingin, maka bila tiba musim dingin, ia datang membawa tungku, meletakkannya di belakangku, sedang aku berada di tempat shalatku, kemudian ia duduk menyalakan kayu bakar yang sudah dikupas dan batangan yang sudah dibelah sebagai bahan bakar yang asapnya tidak menggangguku dan selalu menghangatkan aku. Hal itu berlangsung cukup lama. Ia berkata : Dan di sisinya ada orang yang bisa menggantikannya bila ia menghendaki hal itu. Ia berkata : Terkadang aku ingin pulang, aku berkata: ‘Wahai anakku, pulanglah kepada keluargamu, kemudian aku menyebutkan apa yang kuinginkan, lalu aku meninggalkannya.’


Hafshah[8] berkata: ‘Tatkala ia wafat, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesabaran kepadanya yang luar biasa, namun aku merasakan sesuatu yang berat yang tidak bisa hilang.’ Ia berkata: Maka tatkala di suatu malam, aku membaca surah an-Nahl, tiba tiba aku sampai pada ayat ini:

وَلاَتَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً إِنَّمَا عِندَ اللهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ )95( مَاعِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَاعِندَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ  [النحل: 95-96] 

Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. * Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an-Nahl/16:95-96]

Ia berkata : lalu aku mengulanginya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan rasa berat yang kurasakan.

Hisyam berkata: Ia (Hudzail) memiliki Unta perahan yang banyak susunya. Hafshah berkata: ‘Ia mengirim kepadaku satu perahan di pagi hari, lalu aku berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya engkau mengetahui bahwa aku tidak meminumnya, aku puasa.’ Ia berkata: ‘Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya sebaik baik susu adalah yang bermalam di tubuh unta, berikanlah minuman ini kepada orang yang engkau kehendaki.’[9]

Abdurrahman bin Ahmad menyebutkan dari bapaknya: Sesungguhnya seorang wanita datang kepada Baqiyy, ia berkata: ‘Sesungguhnya anakku tertawan dan aku tidak berdaya lagi, bisakah engkau menunjukkan kepada orang yang bisa menebusnya, maka sesungguhnya aku kebingungan.’ Ia berkata: ‘Ya, pulanglah sehingga aku melihat perkaranya.’ Kemudian ia menundukkan kepala dan menggerakkan kedua bibirnya. Kemudian setelah beberapa waktu, wanita itu datang bersama anaknya. Ia (sang anak) berkata: ‘Aku berada di bawah kekuasaan seorang raja, ketika aku sedang bekerja, tiba tiba belengguku jatuh. Ia (yang meriwayatkan) berkata: Lalu ia menyebutkan hari dan jam, maka sesuai waktu syaikh tersebut berdoa. Ia berkata: ‘Lalu pengawas kami berteriak, kemudian ia memandang dan kebingungan. Kemudian ia memanggil tukang besi dan mengikatku. Tatkala ia selesai dan aku berjalan, belenggu itu jatuh lagi. Maka mereka kebingungan dan memanggil ulama mereka, mereka berkata: ‘Apakah engkau mempunyai seorang ibu? Aku menjawab : ‘Ya.’ Mereka berkata: ‘Doanya dikabulkan.’


Peristiwa ini diceritakan oleh al-Hafizh Hamzah as-Sahmy, dari Abu Fath Nashr bin Ahmad bin Abdul Malik, ia berkata : Aku mendengar Abdurrahman bin Ahmad, ia berkata: Bapakku menceritakan kepadaku…lalu ia menyebutkannya, dan padanya : kemudian mereka berkata: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melepaskan engkau, maka kami tidak bisa mengikat engkau.’ Lalu mereka memberi bekal kepadaku dan mengirim aku.’[10]

[Disalin dari السلف والبر بالأمهات  Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil. Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]


Footnote
[1] Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, orang yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan putra orang yang dicintainya. Ibunya Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha pengasuh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
[2] Jummar nakhlah: yaitu lemaknya yang berada di puncak pohon kurma, ia berwarna putih, bagaikan sepotong punuk unta yang besar, biasanya dimakan dengan madu.
[3] Sifat Shafwah 1/522
[4] Sifat Shafwah 2/143
[5] Sifat Shafwah 3/245
[6] Sifat Shafwah 3/245
[7] Siyar A’lam Nubala’ 6/366
[8] Ia adalah Hafshah binti Sirin, seorang ahli ibadah yang agung, saudari Muhammad bin Sirin, ibu Hudzail.
[9] Sifat Shafwat 4/25
[10] Siyar A’lam Nubala` 13/290.


Referensi : https://almanhaj.or.id/35305-salaf-dan-berbakti-kepada-ibu.html

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8) : Mengingat Mati dan Perjumpaan dengan Allah

Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian) (HR. Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)

Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18)

Kematian itu pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.“ (QS. An-Nisa’ [4]: 78)

Bersamaan dengan itu, kematian itu mendatangi orang yang sedang tidur dengan tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.“ (QS. An-Nahl [16]: 61)

Betapa banyak orang yang keluar dari rumah dengan mengendarai mobil, lalu dia kembali dengan terbungkus kain kafan. Betapa banyak orang yang berkata kepada istri, “Siapkan makanan untukku”, lalu dia meninggal dan belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang memakai pakaian, mengancingkan baju, lalu yang melepas kancing bajunya adalah orang yang memandikan jenazahnya.

Dengan mengingat kematian, terdapat manfaat besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar; hati yang mati menjadi hidup; hamba kembali mau menghadap kepada Allah Ta’ala; serta hilanglah sikap lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,

لو فارق ذكر الموت قلبي، خشيت أن يفسد علي قلبي

“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir hal itu justru akan merusak hatiku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 2210)

Seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat dan tempat kembalinya setelah kematian.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala berkata,

مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ، آكُلُ ثِمَارَهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ، آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا؛ فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسِي، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟، قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا؛ فَأَعْمَلَ صَالِحًا قَالَ: قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَةِ فَاعْمَلِي

“Aku umpamakan diriku sedang berada di surga, memakan buah-buahannya, minum dari sunga-sungainya, dan memeluk bidadari. Kemudian aku umpamakan diriku sedang berada di neraka, aku makan dari buah zaqum, aku minum dari nanah, dan aku berhadapan dengan rantai dan belenggu neraka. Lalu aku berkata kepada diriku, “Wahai jiwaku, mana yang Engkau inginkan?” Jiwaku berkata, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih.” Aku berkata, “Engkau sekarang sedang berada di dunia, maka beramallah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muhaasabatun Nafs hal. 26)

Berkatalah kepada jiwa juga, “Wahai jiwa, jika aku mati, siapakah yang menshalatkanku setelah aku mati, siapakah yang berpuasa untukku, dan siapakah yang memohonkan ampun untukku dari dosa dan kecerobohanku?”

[Bersambung]

***

@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018

Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslim.or.id/44308-sepuluh-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-8.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Ada Oknum Melarang Jilbab di Negara Indonesia Mayoritas Muslim?

Belum juga hilang dari ingatan tentang kasus pelarangan jilbab di tengah para paskibraka, viral lagi isu tentang pelarangan jilbab bagi para dokter di sebuah rumah sakit di negeri kita. Adalah kenyataan ironis bahwa negeri kita adalah negeri dengan mayoritas muslim tetapi seakan-akan minoritas karena sebagian penduduk muslimnya dihalangi menggunakan busana jilbabnya.

Faktanya, perilaku diskriminasi semacam ini tidak hanya terjadi di dua kasus ini saja, tetapi setelah ditelusuri juga terjadi di beberapa perusahaan dan organisasi lainnya. Bahkan kerap kali aturan-aturan itu dikeluarkan ketika para muslimah yang bersangkutan sudah terlanjur bertugas atau bekerja di tempat tersebut, sehingga membuat mereka terjebak dalam keputusan dilematis. Mau keluar tapi tak mudah dapat pekerjaan, mau bertahan tapi melanggar prinsip!?

Perlu dipahami bahwa muslimah tak ada bedanya dengan yang lain, mereka juga bisa bekerja dan beraktivitas seperti kaum lainnya. Jilbab yang dikenakannya tidak menghalanginya untuk melakukan hal bermanfaat bagi masyarakat dan negara, tentu dalam koridor yang diizinkan oleh syariat. Hal ini perlu dipahami dengan baik oleh para penyelenggara negara, pemilik perusahaan, dan para pemimpin organisasi.

Kami juga berpesan bagi para muslimah agar tetap tegar dan tidak menggadaikan prinsip beragamanya demi tendensi dan keuntungan dunia. Jilbab adalah ciri seorang muslimah dan merupakan prinsip yang tak boleh ditolerir. Perintah berjilbab telah ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Quran dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيم

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

يقول تعالى آمرا رسوله، صلى الله عليه وسلم تسليما، أن يأمر النساء المؤمنات -خاصة أزواجه وبناته لشرفهن -بأن يدنين عليهن من جلابيبهن، ليتميزن عن سمات نساء الجاهلية وسمات الإماء

“Allah Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar menyuruh wanita-wanita mukmin, khususnya istri-istri dan anak-anak perempuan beliau agar mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Sebab cara berpakaian yang demikian membedakan mereka dari kaum wanita jahiliah dan budak-budak perempuan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/482)

Jika ingin jujur, larangan berjilbab ini justru menabrak kebebasan bernegara. Tentu wanita muslimah bebas memakai jilbab mereka, dan tidak dihalangi apalagi sampai dilarang. Semestinya pemerintah menjunjung tinggi spirit ini dan menindak tegas pelaku diskriminasi, belum lagi karena Indonesia sebenarnya negara mayoritas muslim.

Kita khawatir dengan fakta “mayoritas rasa minoritas” akan dimanfaatkan oknum tertentu untuk membuat ketidakdamaian dan ketidakrukunan antar beragama. Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling rukun dan paling menjunjung tinggi nilai toleransi. Semoga Indonesia tetap damai dan rukun sejahtera. Aamiin.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/ada-oknum-melarang-jilbab-di-negara-indonesia-mayoritas-muslim.html

Kisah Wanita Pezina yang Memberi Minum pada Anjing

Ada hadits yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk termasuk pula hewan. Di antara hadits yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum pada anjing dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ « فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Juga dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang dihormati yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadits di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik selama tidak ada yang muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian, maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan termasuk pula anjing akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa taubat karena dia melakukan kebaikan yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena taubatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadits. Tidak mengkafirkanseorang muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat Islam.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Disusun @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 5 Rajab 1435 H di pagi hari

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html

Masih Berat Menutup Aurat?

Saudariku, jika engkau sebagai wanita muslimah masih merasa berat untuk menutup aurat, maka kisah ini hendaklah menjadi bahan renungan bagimu.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Suatu hari ketika kami sedang berada di sisi Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya,

‘Maukah kalian aku beritahukan wanita calon penghuni surga?’

‘Ya, mau.’ jawab kami serentak

Beliau pun mengatakan, ‘Dia adalah wanita berkulit hitam yang datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengadukan masalahnya.

‘Wahai Rasulullah, saya menderita penyakit ayan. Karenanya aurat saya sering terbuka tanpa sadar. Doakan saya agar sembuh!’ keluh wanita tersebut.

Baik, aku bisa saja mendoakanmu. Namun, jika engkau mau bersabar, itu lebih baik bagimu dan engkau akan meraih surga.’ jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Kalau begitu, aku memilih bersabar. Tetapi, masalahnya ketika sedang kambuh, auratku sering tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terlihat!’ pinta si wanita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memohon kepada Allah agar aurat wanita hitam itu tidak terbuka saat penyakitnya kambuh.” (HR. Bukhari no. 5652)

Begitulah potret wanita calon penghuni surga yang sangat menjaga auratnya. Bahkan, saat kondisi sakit pun, ia malu jika auratnya tersingkap. Padahal, Islam telah memberikan keringanan baginya karena auratnya terbuka tanpa disengaja.

Mari kita bandingkan dengan diri kita masing-masing. Sudahkah kita menutup aurat secara sempurna? Apakah kita gelisah saat aurat kita tersingkap?

Semoga Allah merahmati wanita hitam calon penghuni surga yang telah memberikan keteladanan kepada kita mengenai arti penting aurat bagi seorang muslimah.
***

Referensi: Kisah Wanita Teladan, karya Abdullah Haidir, Kantor Dakwah Sulay, cetakan ketiga, hlm. 7-9, tahun 1433 H, Riyadh.

Sumber: https://muslimah.or.id/12302-masih-berat-menutup-aurat.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id