Hati Yang Ridho Dengan Takdir

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Seorang insan apabila ridho dengan takdir maka ia akan beristirahat dari kesedihan..”

(Syarah Al Arba’in Annawawiyah)

Tidak ridho kepada takdir hanya akan menimbulkan kesedihan..
Hatipun menjadi galau..
Lalu berburuk sangka kepada Allah..
Dan menjauh dari-Nya..

Berbeda saat hati ridho dengan takdir..
Maka ia akan merasa tentram dan tenang..
Ia yakin bahwa itu semua kebaikan untuk dirinya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75298

Jadikan Istirahatmu Bernilai di Sisi Allah

Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ

“Barang siapa duduk di sebuah tempat dan tidak berzikir kepada Allah, dia akan diberikan kekurangan oleh Allah. Dan barang siapa mengambil tempat tidurnya dan tidak berzikir kepada Allah, dia akan mendapatkan dari-Nya kekurangan.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 4805, 5059, dan an-Nasa`i dalam kitab ‘Amal al-Yaum wal Lailah no. 404; dan dinilai hasan asy-Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahihah no. 78 dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4065)

Dalam pembahasan sebelumnya, telah kita simak beberapa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan. Kita yakin, setiap bimbingan ada keutamaannya sendiri; dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

النَّوْمُ عِنْدَ الذِّكْرِ مِنَ الشَّيْطَانِ، إِنْ شِئْتُمْ فَجَرِّبُوا، إِذَا أَخَذَ أَحَدُكُمْ مَضْجَعَهُ وَأَرَادَ أَنْ يَنَامَ فَلْيَذْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidur ketika berzikir adalah dari setan dan jika kalian ingin (mengetahuinya), cobalah. Apabila seseorang dari kalian menuju pembaringannya dan ingin tidur, hendaklah dia berzikir kepada Allah.”[1]

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa mempelajari sifat tidur dan bangun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia akan mendapati bahwa tidur beliau adalah tidur yang paling nyaman dan paling bermanfaat untuk badan dan semua anggotanya, serta paling memberikan kekuatan.

Beliau tidur pada awal malam dan bangun pada akhir pertengahan kedua dari malam. Beliau bangun dan menggosok gigi dengan siwak lalu berwudhu. Beliau kemudian mendirikan shalat yang telah diwajibkan oleh Allah atas beliau. Dengan demikian, badan berikut semua anggotanya, dan tenaga, mengambil manfaat dari tidur dan istirahatnya itu. (Badan) juga (melakukan) olahraga, bersamaan dengan limpahan pahala. Tentu ini merupakan puncak kebagusan hati dan badan, dunia dan akhirat.

Beliau tidak tidur melebihi kebutuhan dan tidak meninggalkannya melebihi yang dibutuhkan badan. Beliau melaksanakannya dengan cara yang sempurna. Beliau tidur di atas lambung sebelah kanan dalam keadaan berzikir kepada Allah hingga mata beliau terpejam.” (Lihat Zadul Ma’ad, 2/142)

Doa-doa ketika Hendak Tidur

Di antara doa-doa yang beliau baca adalah:

  • Membaca Ayat Kursi

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnah taqririyah beliau ketika setan mengajari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang tameng dari sebuah kejahatan, dia berkata,

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Apabila kamu menuju ranjang pembaringanmu, bacalah ayat kursi; niscaya kamu terus bersama penolong dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dia benar meski dia adalah seorang pendusta. Dia adalah setan.” (HR. al-Bukhari)

  • Membaca Dua Surat, yaitu Alif Lam Mim As-Sajadah dan Al-Mulk

Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ {آلم تَنْزِيلٌ} (السجدة) وَ {تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ}

“Rasulullah tidak tidur hingga beliau membaca (surah) Alif Laam Mim Tanzil (as-Sajdah) dan Tabaarakalladzi bi Yadihi al-Mulk (al-Mulk).”[2]

  • Membaca Doa-doa di bawah ini:
  1. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

“Apabila hendak tidur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya di atas pipi beliau, dan berkata,

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Ya Allah, lindungilah aku dari azabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan [no. 5045], at-Tirmidzi dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu [no. 3638] dan al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu [no. 3639], dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [no. 1215])

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak ke tempat pembaringan, beliau berdoa,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِئَ لَهُ وَلاَ مُؤوِيَ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, yang telah mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki (pihak) yang akan mencukupi dan melindunginya.” (HR. Muslim dalam Shahih–nya [no. 2715], at-Tirmidzi [no. 3636], dan Abu Dawud [no. 5053])

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian menuju pembaringannya, hendaklah dia mengambil ujung sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya. Hendaklah dia menyebut nama Allah karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Apabila dia akan berbaring, berbaringlah di atas lambung sebelah kanan dan ucapkanlah,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّ بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

“Mahasuci Engkau ya Allah, wahai Rabbku. Karena-Mu aku meletakkan lambungku dan karena-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku, ampunilah ia. Jika Engkau melepaskannya kembali, peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim no. 2714)

  1. Dari Suhail, dari Abu Shalih, ia mengatakan, “Kami meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” Suhail mengatakan, “Abu Shalih memerintahkan kami, apabila salah seorang dari kami akan tidur, hendaklah dia tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berkata,

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Wahai Rabb kami, pemilik langit dan bumi serta pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkaulah pemegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah yang Awwal dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, Engkau yang akhir dan tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau yang Zhahir tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau yang Batin dan tidak ada sesuatu yang di bawah-Mu. Tunaikanlah utang kami dan cukupilah kami dari kefakiran.” (HR. Muslim)

Masih banyak wirid lain yang dibaca oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak akan cukup dijabarkan dalam pembahasan singkat ini.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Lebih utama bagi seseorang untuk membaca seluruh doa yang disebutkan dalam bab ini. Akan tetapi, apabila tidak memungkinkan, hendaknya dia membaca doa yang terpenting yang dia mampu.” (al-Adzkar hlm. 80, -ed.)

Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh, silakan lihat dalam kitab al-Adzkar karya an-Nawawi beserta tahqiq-nya.

Bila Terjaga di Malam Hari

Apakah ada tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila seseorang terjaga di malam hari?

Tentu ada. Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud (no. 5060) dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa terjaga lalu berdoa ketika bangun,


لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ دَعَا: رَبِّ اغْفِرْ لِي؛ غُفِرَ لَهُ-قَالَ الْوَلِيدُ: أَوْ قَالَ: دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ-فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

“Tidak ada sembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala pujian milik Allah, dan tidak ada sembahan yang benar selain Allah. Allah Mahabesar, dan tidak ada daya dan kekuatan selain milik Allah” lalu dia berdoa, “Wahai Rabbku, ampunilah aku,” niscaya akan diampuni—Walid berkata, Atau beliau mengatakan, “Apabila dia berdoa, niscaya akan dikabulkan.” Apabila dia bangun kemudian berwudhu lalu mengerjakan shalat, akan diterima shalatnya.”

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3478) dan dihukumi sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan Ibnu Majah. Bahkan, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu (-ed.).

Doa Bangun dari Tidur

Apabila bangun tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.” (HR. al-Bukhari no.6314 dan Muslim no. 2711 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Bersiwak Saat Bangun Tidur

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menceritakan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bangun tidur,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau menggosok mulut dengan siwak.” (HR. al-Bukhari no. 889, 1136 dan Muslim no. 255)

Cara Tidur yang Dilarang

Ya’isy bin Thakhfah al-Ghifari berkata, “Bapakku menceritakan kepadaku, ‘Ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada orang yang menggerakkan kakiku dan berkata,

إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ

“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai oleh Allah.”

(Bapakku berkata), “Setelah aku lihat, ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan beliau [no. 5040], Ibnu Majah [no. 3723], at-Tirmidzi [no. 2768], Ibnu Hibban [no. 5549], Ahmad [3/429, 430], dan al-Hakim, 4/271. Hadits ini dinilai sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah [no. 3000] dan al-Misykat [no. 4718])

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah [no. 3724] dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, , diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi [no. 2230] dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Bila Bermimpi

Dalam kitab-kitab yang menghimpun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ahlul hadits membawakan permasalahan mimpi dan takwilnya. Hal ini menunjukkan bahwa ta’bir/takwil mimpi sangat penting untuk diilmui. Kita tidak hendak menjelaskannya secara detail di sini, tetapi hanya menerangkan tentang adab bila bermimpi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya dalam banyak sabda beliau dan telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, antara lain Abu Hurairah, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Anas bin Malik, Abu Qatadah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain mereka. Di antaranya adalah hadits berikut yang artinya,

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ تَكْذِبُ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Apabila zaman telah berdekatan, hampir-hampir (mimpi) orang beriman tidak pernah meleset. Mimpi orang yang beriman merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Macam Mimpi

Disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mimpi ada tiga macam:

  1. Mimpi yang baik; ini merupakan kabar yang baik dari Allah.
  2. Mimpi yang buruk; ini dari setan.
  3. Mimpi tentang apa yang terbetik dalam diri.

Ketiga jenis mimpi ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim [no. 2263] dan selain beliau dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

  1. Adab Bila Bermimpi

Ini termasuk kesempurnaan Islam. Tidak ada sesuatu pun dalam Islam yang lepas dari bimbingan syariat. Maka dari itu, berbahagialah orang yang menerima bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • Adab Bila Bermimpi yang Baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan adab apabila seseorang bermimpi yang baik. Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنَِ اللهِ فَلْيَحْمَدِ اللهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا

“Apabila seseorang bermimpi yang disukainya, sesungguhnya itu datang dari Allah. Hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. al-Bukhari no. 6985 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits di atas ada dua adab yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat seseorang bermimpi baik, yaitu memuji Allah dengan mengatakan, “Alhamdulillah,” dan menceritakannya kepada orang lain.

  • Adab Bila Bermimpi yang Buruk

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam lanjutan hadits di atas,

وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلاَ يَذْكُرْهَا لأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

“Apabila dia bermimpi yang selain itu (yakni yang tidak disukai), itu dari setan. Hendaklah dia berlindung dari (kejahatan) setan dan jangan menceritakannya kepada orang lain karena hal itu tidak akan membahayakannya.”

Di dalam hadits ini ada dua adab yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan tidak menceritakannya kepada orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan adab yang lain bila bermimpi buruk, seperti:

  • Meludah tiga kali ke arah kiri

Hal ini dijelaskan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

وَلْيَتْفِلْ ثَلاَثًا

“Hendaklah dia meludah sedikit[3] tiga kali.”  (HR. al-Bukhari no. 6986 dan Muslim no. 2261 dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu)

  • Mengubah posisi tidur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ

“Hendaklah dia berpindah dari posisi tidur sebelumnya.” (HR. Muslim no. 2261 dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu)

  • Shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

فَلْيَقُمْ إِلَى الصَّلاَةِ

“Hendaklah dia shalat.” (HR. Muslim no. 2263 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Inilah beberapa pembahasan singkat tentang adab bila bermimpi.

Penutup

Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad 2/143) menjelaskan bahwa tidur itu ada dua fungsi dan faidah bagi setiap orang.

  1. Memberikan rasa nyaman kepada badan dari rasa lelah.
  2. Menghancurkan makanan dan mematangkan segala campuran makanan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman bin Rawiyah

[1] HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1208 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 918.

[2] HR. al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 1207 dan at-Tirmidzi dalam Sunan beliau no. 3066, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab beliau, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2316, Shahih Adabul Mufrad no. 917, ash-Shahihah no. 585, al-Misykat no. 2155 dan ar-Raudh no. 227.

[3] Makna at-tafl adalah meniup disertai sedikit ludah. At-tafl lebih besar daripada an-nafts. (an-Nihayah, -ed.)

sumber :https://asysyariah.com/jadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah/

Hak Suami yang Harus Dipenuhi Isteri

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ketahuilah bahwa seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, bagi isteri, juga bagi anak-anaknya, karena Allah telah menjadikannya sebagai pemimpin. Allah memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada wanita, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah kepada isterinya. Dan Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya” [An-Nisaa’/4 : 34]

Oleh karena itu, suami mempunyai hak atas isterinya yang harus senantiasa dipelihara, ditaati dan ditunaikan oleh isteri dengan baik yang dengan itu ia akan masuk Surga.

Masing-masing dari suami maupun isteri memiliki hak dan kewajiban, namun suami mempunyai kelebihan atas isterinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan mereka (para wanita) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Al-Baqarah/2 : 228]

  1. Ketaatan Isteri Kepada Suaminya
    Setelah wali atau orang tua sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”[1]

Sujud merupakan bentuk ketundukan sehingga hadits tersebut di atas mengandung makna bahwa suami mendapatkan hak terbesar atas ketaatan isteri kepadanya. Sedangkan kata: “Seandainya aku boleh…,” menunjukkan bahwa sujud kepada manusia tidak boleh (dilarang) dan hukumnya haram.

Sang isteri harus taat kepada suaminya dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam agama). Misalnya ketika diajak untuk jima’ (bersetubuh), diperintahkan untuk shalat, berpuasa, shadaqah, mengenakan busana muslimah (jilbab yang syar’i), menghadiri majelis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan Surga bagi dirinya, seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”[2]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga,

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’”[3]


Dikisahkan pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”
Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.”[4]

Hadits ini menggambarkan perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan hak suami yang harus dipenuhi isterinya karena suami adalah Surga dan Neraka bagi isteri. Apabila isteri taat kepada suami, maka ia akan masuk Surga, tetapi jika ia mengabaikan hak suami, tidak taat kepada suami, maka dapat menyebabkan isteri terjatuh ke dalam jurang Neraka. Nasalullaahas salaamah wal ‘aafiyah.

Bahkan, dalam masalah berhubungan suami isteri pun, jika sang isteri menolak ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat oleh Malaikat, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ (فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا) لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.”[5]

Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan: “sehingga ia kembali”. Dan dalam riwayat lain (Ahmad dan Muslim) disebutkan: “sehingga suaminya ridha kepadanya”.

Yang dimaksud “hingga kembali” yaitu hingga ia bertaubat dari perbuatan itu.[6]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّى الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّّهَا حَتَّى تُؤَدِّى حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.”[7]

Dalam ajaran Islam, seorang isteri dilarang berpuasa sunnat kecuali dengan izin suaminya, apabila suami berada di rumahnya (tidak safar). Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنْ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ.

“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.”[8]

Dalam hadits ini ada tiga faedah:

Dilarang puasa sunnat kecuali dengan izin suami.
Tidak boleh mengizinkan orang lain masuk kecuali dengan izin suami.
 Apabila seorang isteri infaq/shadaqah hendaknya dengan izin suami.

Dalam hadits ini seorang isteri dilarang puasa sunnat tanpa izin dari suami. Larangan ini adalah larangan haram, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullaah.

Imam an-Nawawi berkata, “Hal ini karena suami mempunyai hak untuk “bersenang-senang” dengan isterinya setiap hari. Hak suami ini sekaligus merupakan kewajiban seorang isteri untuk melayani suaminya setiap saat. Kewajiban tersebut tidak boleh diabaikan dengan alasan melaksanakan amalan sunnah atau amalan wajib yang dapat ditunda pelaksanaannya.”[9]

Jika isteri berkewajiban mematuhi suaminya dalam melampiaskan syahwatnya, maka lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suaminya dalam urusan yang lebih penting dari itu, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan anak dan kebaikan keluarganya, serta hak-hak dan kewajiban lainnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak suami lebih utama dari amalan sunnah, karena hak suami merupakan kewajiban bagi isteri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah.”[10]

Agama Islam hanya membatasi ketaatan dalam hal-hal ma’ruf yang sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik, yaitu Salafush Shalih. Sedangkan perintah-perintah suami yang bertentangan dengan hal tersebut, tidak ada kewajiban bagi sang isteri untuk memenuhinya, bahkan dia berkewajiban untuk memberikan nasihat kepada suaminya dengan lemah lembut dan kasih sayang.

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]


Footnote
[1] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1159), Ibnu Hibban (no. 1291 – al-Mawaarid) dan al-Baihaqi (VII/291), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini diriwayatkan juga dari beberapa Shahabat. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1998).
[2] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Mawaariduzh Zham’aan (no. 1081).
[3] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287).
[4] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (VI/233, no. 17293), an-Nasa-i dalam ‘Isyratin Nisaa’ (no. 77-83), Ahmad (IV/341), al-Hakim (II/189), al-Baihaqi (VII/291), dari bibinya Husain bin Mihshan radhiyallaahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[5] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3237, 5193, 5194), Muslim (no. 1436), Ahmad (II/255, 348, 386, 439, 468, 480, 519, 538), Abu Dawud (no. 2141) an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 84), ad-Darimi (II/149-150) dan al-Baihaqi (VII/292), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[6] Fat-hul Baari (IX/294-295).
[7] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290- al-Mawaarid) dari ‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 284).
[8] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim.
[9] Syarah Shahiih Muslim (VII/115).
[10] Fat-hul Baari (IX/296).


Referensi : https://almanhaj.or.id/2080-hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri.html

Manusia Terbaik di Antara Kalian yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan)

بَابُ فَضْلِ قِرَاءَةِ القُرْآنِ

Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Hadits #993

Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]

Faedah hadits

  1. Hadits ini memotivasi untuk mempelajari dan mentadaburi Al-Qur’an, juga mengenal hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, akidah, perilaku umat sebelum Islam, perintah Allah, larangan-Nya. Itulah yang menyebabkan datangnya keberuntungan di dunia dan akhirat.
  2. Sudah sepatutnya bagi seorang yang berilmu menyebarkan ilmu setelah mempelajarinya. Belajar dan mengajarkannya itu sama-sama mendapatkan ganjaran. Dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya pada yang lain datanglah sempurnanya pahala.
  3. Dengan mempelajari Al-Qur’an akan meninggikan derajat seorang muslim.
  4. Orang yang membaca Al-Qur’an tanpa panduan guru tentu tidak akan benar dalam tajwid dan hukum-hukum bacaannya. Oleh karena itu, dituntut bagi seorang muslim untuk mencari seorang guru untuk membenarkan bacaannya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an mencakup:

  1. mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya
  2. mempelajari dan mengajarkan maknanya

Yang kedua ini malah yang lebih utama karena makna itulah yang dimaksud tujuan mempelajari Al-Qur’an. Sedangkan, lafaz hanyalah wasilah (perantara). (Miftah Daar As-Sa’adah, 1:277)

Referensi:

  • Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:205.
  • Miftah Daar As-Sa’aadah wa Mansyur Walaayah Ahli Al-‘Ilmi wa Al-Idarah. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Takhrij: Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabiy Al-Atsariy. Penerbit Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu ‘Affan.

—

Ditulis saat perjalanan Gunungkidul – Jogja, 15 Rabiul Akhir 1444 H, 10 November 2022

@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/35143-manusia-terbaik-di-antara-kalian-yang-belajar-dan-mengajarkan-al-quran.html

Wahai Saudariku, Jauhilah Israf!

Di antara kesukaan kaum wanita adalah memakai pakaian yang indah agar terlihat lebih cantik dan mempesona, ini merupakan tabiat wanita pada umumnya yang sejatinya telah diatur. Islam dengan demikian sempurna agar keindahan wanita dalam berpakaian tak melanggar aturan syari’at. Dan realitanya banyak kaum hawa yang terpedaya sehingga dalam hal berpakaian berlebih-lebihan baik dalam membelinya maupun mengoleksinya. Karena itu semoga dengan nasehat ulama rabbani ini kegemaran dan kecenderungan kurang baik bagi wanita dapat dihindari.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memperingatkan: “Di antara perbuatan yang masuk kategori israf (berlebih-lebihan) adalah mengoleksi pakaian tanpa ada kebutuhan mendesak kebanyakan wanita zaman ini, saat muncul model pakaian baru, maka bergegas berupaya membelinya, sampai rumahnya penuh dengan berbagai jenis pakaian tanpa ada kebutuhan. Bahkan saat model baru keluar lagi walau sebenarnya hanya sedikit berbeda modifikasinya dengan model yang pertama, maka segera wanita itu membelinya pula. Lebih dari itu sebagian dari wanita tersebut -kita memohon hidayah kepada Allah- nekad memanfaatkan suaminya dengan membelinya dan menyia-nyiakan hartanya. Atas dasar ini, wajib bagi para suami memberikan peringatan sebagai penerapan bentuk tanggung jawabnya (sebagai kepala rumah tangga) untuk mencegah istrinya dari sikap israf” (Syarah Riyadus Shalihin VI:550).

Ini sebuah peringatan berharga agar kaum wanita berpakaian secara bersahaja dan tak tergoda berbagai model pakaian yang sedang viral. Berpakaianlah secara wajar dan jauhilah sikap boros dalam membelanjakan agar hidupnya bahagia meskipun sebenarnya dia seorang yang sangat kaya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبّه كَفُوْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya“ (QS. Al-Isra’: 27).

Seorang wanita hendaklah memiliki karakter dan prinsip Islami dalam perkara berpakaian. Tak berlebih-lebihan dan kikir sehingga keadaannya mengenaskan padahal ia diberi kenikmatan materi dari Alah ‘Azza wa Jalla:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqon: 67).

Demikian mulianya akhlak seorang muslimah yang seharusnya hidup bersahaja sebagaimana kaum mukminah para shahabiyah yang sangat sederhana dalam urusan dunia. Dengan demikian mereka tetap istimewa dalam puncak ketakwaan kepada Allah ’Azza wa Jalla. Hiasan iman dan amal sholihah yang membuat para mukminah terlihat lebih mempesona. Karakter indah inilah yang seharusnya diikuti para wanita zaman ini. Bukan wanita yang mudah terpengaruh gaya hidup wanita-wanita non muslim yang begitu menomorsatukan penampilan dan glamor dalam berpakaian.

Dan pelajaran berharga lainnya yang dapat dijadikan ibrah dari nasehat Syaikh Ibnu Al-Utsaimin bahwa wanita harus memiliki kepekaan kepada saudarinya. Seperti memperhatikan kebutuhannya dalam berpakaian sehingga ia membantunya ketika mereka benar-benar membutuhkan penutup auratnya. Sungguh mengesankan nasehat Rasulullah yang menyuruh wanita di zamannya untuk meminjamkan kerudung atau pakaiannya untuk menghadiri shalat Ied.

Selain itu israf juga bertentangan dengan akhlak Islam yang memerintahkan untuk zuhud dan memandang orang yang dibawahnya dalam level keduniaan agar hati bisa tawadhu’ dan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya muslimah lebih fokus dalam beramal untuk akhirat dan mengambil dunia sesuai kadar kebutuhan untuk menegakkan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :
1. One Heart, Rumah Tangga Satu Langkah, Zaenal Abidin bin Syamsudin, Pustaka Imam Bonjol, Jakarta 2013.
2. Surat Terbuka Untuk Para Istri, Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, Darul Ilmi, Bogor 2013

© 2023 muslimah.or.id
Sumber: https://muslimah.or.id/14351-wahai-saudariku-jauhilah-israf.html

Orang Yang Menghargai Waktu

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Aku menyaksikan banyak orang yang tidak mengenal makna kehidupan.
– Ada orang yang kebanyakan waktunya duduk di pinggir jalan melihat orang berlalu lalang.
– Diantara mereka ada yang sibuk bermain catur.
– Ada juga yang habis waktunya membicarakan penguasa dan harga barang yang mahal.

Maka aku sadar bahwa orang yang menghargai waktu hanya orang yang diberi oleh Allah taufik dan ilham..”

(Shoidul Khothir hal 24)

Ada yang habis waktunya untuk main game..
Ada yang habis waktunya untuk menonton film..
Ada yang habis waktunya untuk traveling..
Ada yang habis waktunya untuk hobi..
Seakan tujuan hidup di dunia untuk itu semua..

Sungguh bahagia orang menghabiskan waktunya dalam ketaatan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75277

Karakter Yang Buruk

Sufyan bin ‘Uyainah rohimahullah berkata,

“Diantara manusia ada orang yang apabila mendengar darimu 50 faedah, ia tidak ingat satu pun darinya. Namun, jika engkau melakukan satu kesalahan, ia akan mengingatnya dan menyebutkannya di majelis majelis..”

(Al ‘Uzlah – Al Khathabi)

Demikianlah karakter kaum yang buruk..
Hanya mengingat kesalahan walaupun sedikit dan membesar besarkannya..
Dan mengubur banyak kebaikan dan melupakannya..

Bagaikan wanita yang suaminya banyak berbuat baik kepadanya..
Namun hanya karena melihat sebuah kesalahan ia berkata, “Aku tak pernah melihatmu berbuat baik..”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75242

Iman Tanda Cinta Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya nikmat yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah nikmat hidayah yang Allah berikan kepadanya. Karena sesungguhnya nikmat hidayah itulah yang akan kita bawa sampai ke kuburan. Sesungguhnya nikmat hidayah itulah yang akan bermanfaat nanti di hari akhirat kelak. Adapun nikmat materi, nikmat harta, itu tidak akan kita bawa kepada kuburan ataupun dalam kehidupan akhirat kelak. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Allah memberikan dunia kepada mukmin dan kepada kafir. Dan Allah tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang-orang yang beriman saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan orang-orang yang beriman dengan hidayah dan menginginkan untuk orang-orang yang beriman yang terbaik untuk mereka. Allah tidak ingin menjadikan surganya orang yang beriman di dunia, karena kenikmatan dunia tidaklah kekal. Allah ingin jadikan surganya orang-orang yang beriman itu nanti di akhirat kelak. Di sana mereka akan hidup kekal abadi, tak akan ada lagi kesakitan, tidak akan ada kesedihan, tidak pula akan ada kesusahan. Di sana hanya ada kesenangan dan terus kesenangan, tidak akan ada lagi kematian.

Berbeda dengan orang-orang kafir. Allah jadikan surga mereka di dunia ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu adalah penjara untuk orang yang beriman dan surga bagi orang-orang yang kafir.” (HR. Muslim)

Seorang mukmin dipenjara oleh Allah dengan perintah dan larangan-laranganNya. Banyak sekali larangan-larangan yang Allah larang kepada kita. Allah melarang kita makan riba, Allah larang kita berzina, Allah larang kita dengan banyak sekali larangan-larangan. Orang yang kurang beriman akan berkata: “Mengapa agama ini banyak larangannya?” Tapi orang yang beriman berkata: “Sami’na wa Atha’na” Sesungguhnya itu semua adalah sudah perintah Allah, kami menginginkan yang terbaik dari itu semua, yaitu surga Allah Jalla wa ‘Ala.

Maka orang-orang kafir, mereka tidak mau diatur oleh Allah, mereka lebi senang diatur oleh hawa nafsunya, mereka mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya. Oleh karena itu dunia menjadi kesenangan dan surga bagi mereka. Mereka hidup di dunia sebebas-bebasnya bagaikan binatang ternak, mereka hidup di dunia bersenang-senang, berfoya-foya, kemudian mereka berbuat maksiat kepada Allah Jalla wa ‘Ala, dan terkadang Allah berikan kepada mereka kenikmatan agar bertambahlah dosa-dosa mereka sehingga semakin beratlah siksa mereka dalam kehidupan akhirat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila kamu melihat Allah terus-menerus memberikan kepada seorang hamba apa yang dia mau dari kehidupan duni sementara ia terus-menerus berbuat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ia adalah istidraj (Diulur oleh Allah agar tambah sesat, agar tambah keras siksanya pada hari kiamat).” (HR. Ahmad)

Orang yang beriman, terkadang Allah jadikan dia susah dalam kehidupan dunia ini. Untuk apa? Yaitu agar ia tidak tertipu dengan kehidupan dunia, supaya ia terhindar dari fitnah dunia, supaya ia terhindar dari berbagai macam hal-hal yang bisa merusak keimanannya. Allah berikan kepada dia berbagai macam ujian agar ia selamat di dunia dan agar terpelihara keimanannya. Sehingga kemudian dengan itulah dia pun Allah masukkan ke dalam surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Orang yang beriman lebih memilih sabar di dunia daripada sabar dalam api neraka. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman, mereka tidak sabar untuk menaati Rabbnya, mereka tidak sabar dengan ujian-ujian yang Allah berikan di dunia. Sehingga akhirnya mereka lebih memilih sabar dalam api neraka. Sementara mereka sendiri tidak beriman akan adanya api neraka.

Maka saudaraku, bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan kepada kita nikmat yang sangat besar ini.  Hidayatul Iman, itulah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang-orang yang Ia cintai, karena orang-orang yang dicintai itu adalah dikhususkan dan diistimewakan oleh Allah dengan keimanan.

Dizaman yang penuh dengan fitnah ini, fitnah syahwat, fitnah syubhat, ternyata kita masih diberikan oleh Allah kekuatan untuk menaati Allah, kekuatan untuk menjauhi maksiat-maksiat, kekuatan untuk terus menuntut ilmu Allah. Demi Allah, itu adalah merupakan kenikmatan yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba.

Maka saudaraku, ketika kita diberikan oleh Allah kemampuan terus demikian, bersyukurlah kepada Allah. Karena sesungguhnya ternyata kita termasuk orang-orang yang Allah berikan kebaikan. Kewajiban kita terus untuk mempertahankan hidayah ini sampai akhir hayat.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah kedua – Khutbah Jumat Singkat Tentang Iman Tanda Cinta Allah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Di masa pandemi ini, Allah ingin mengambil sedikit kenikmatan yang pernah Allah berikan dahulu. Dahulu kita banyak berbuat maksiat mungkin, dengan adanya pandemi Allah ingin menggugurkan dosa-dosa kita, juga dengan kita berusaha menghadapi kesulitan demi kesulitan yang kita hadapi.

Adapun orang-orang yang beriman, dia sadar bahwasanya dunia itu sesuatu yang fana, dia tidak akan hidup lama di dunia, ia akan menghadapi kehidupan akhirat nanti, ia pasti akan meninggal dunia. Maka ia tidak jadikan dunia di hatinya. Yang ia jadikan adalah akhirat di hatinya, saudaraku. Sedangkan para pecinta dunia itu menganggap bahwasanya kasih sayang Allah itu dengan kekayaan dan kenikmatan. Allah mengatakan tentang para pecinta dunia itu:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴿١٥﴾ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴿١٦﴾ كَلَّا…

“Adapun manusia, apabila Allah berikan kepada dia kenikmatan dan rezeki, Allah luaskan rezekinya, dia berkata: ‘Allah sayang kepadaku, Allah memuliakan diriku.’ Adapun ketika Allah sempitkan rezekinya, dia berkata: ‘Allah tidak sayang kepadaku, Allah menghinakan diriku.’ Allah mengatakan: ‘Sekali-kali tidak…’” (QS. Al-Fajr[89]: 17)

Bukan itu tanda kasih sayang Allah kepada seorang hamba. Kasih sayang Allah kepada hamba hakikatnya dijadikan dia istiqamah di atas hidayah, dijadikan ia sabar menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan, dijadikan ia mau tunduk dan patuh terhadap perintah, demikian pula menjauhi larangan.

Itulah, saudaraku.. Hakikat seorang hamba yang Allah inginkan kebaikan.

Maka saudaraku, inilah hidayah yang Allah masih memberikan kepada kita. Jangan sia-siakan! Ingat, Allah mampu untuk mencabut kembali hidayah itu dari kita bila kita tidak menjaganya dengan baik, bila kita sia-siakan hidayah itu, kemudian kita malah memilih jalan kebatilan setelah kita mengetahui kebenaran. Nas’alullah as salamah wal ‘afiah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

  اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

اللهم تقبل أعمالنا يا رب العالمين، اللهم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم، اللهم اصلح ولاة أمورنا يا رب العالمين، واجعلنا من التوابين واجعلنا من المتطهرين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

sumber: https://www.radiorodja.com/49151-khutbah-jumat-singkat-tentang-iman-tanda-cinta-allah/

UJIAN YANG MEMBUAT MANUSIA TIDAK SABAR

‘Abdurrohman bin ‘Auf rodhiyallahu ‘anhu berkata,

ابتُلِينَا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم بالضَّرَّاءِ فصَبَرْنا، ثم ابتُلِينا بعدَه بالسَّرَّاءِ فلم نَصْبِرْ

“Dahulu kami bersama Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam diuji dengan kesusahan tapi kami bersabar.. Kemudian setelah beliau wafat, kami diuji dengan kesenangan, ternyata kami tidak bersabar..” (Riwayat At-Tirmidzi)

Kesenangan membuat kita lalai..
Membuat kita ujub dan sombong dengan harta dan tahta..
Membuat kesabaran kita pendek karena terbiasa dengan kenikmatan..
Membuat ibadah menjadi berat karena terbiasa dengan syahwat..

Maka orang yang tak tertipu dengan kesenangan dunia..
Hatinya selalu berharap akherat dan takut akan siksa Neraka..
Sungguh luar biasa..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sumber : https://bbg-alilmu.com/archives/59601

Mendidik Anak Perempuan di Era Digital

Era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita mendidik anak-anak. Kemudahan akses informasi, konektivitas tanpa batas, dan beragam platform pendidikan daring hadir sebagai berkah yang tak terbantahkan. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat berbeda dengan dunia orang tua mereka tumbuh dahulu. Gadget, media sosial, dan internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka, termasuk anak perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan layar sentuh dan dunia maya.

Namun di balik segala kemudahan itu, tersimpan ancaman yang tidak kalah besarnya. Anak perempuan, dengan fitrah kelembutan dan kepekaannya, justru menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh negatif dunia digital. Konten-konten yang merusak akhlak, tayangan yang menampilkan aurat, pergaulan bebas di media sosial, hingga ancaman kecanduan gadget dan gangguan psikologis, semuanya mengintai setiap saat. Orang tua tidak bisa lagi bersikap pasif dan membiarkan anak-anaknya larut dalam arus digital tanpa bimbingan dan perlindungan.

Maka, di sinilah peran penting orang tua, terutama ibu, sebagai benteng utama dan madrasah pertama bagi anak perempuannya. Mendidik anak di era digital ini bukan berarti menolak teknologi atau memutus akses anak dari dunia modern. Sebaliknya, itu berarti membekali anak dengan benteng iman, ilmu, dan akhlak yang kokoh, serta keterampilan untuk menyaring informasi dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan. Islam telah memberikan tuntunan yang sempurna dalam mendidik anak, dan di era digital ini, tuntunan tersebut semakin relevan untuk diamalkan dengan kesungguhan dan kebijaksanaan.

Kemudahan di era digital

Era digital membawa banyak kemudahan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan anak perempuan, terutama dalam hal pendidikan dan pengembangan diri. Kini, seorang anak perempuan dapat mengakses ribuan kajian Islam, mendengarkan ceramah para ulama, membaca artikel keislaman, dan bahkan mengikuti program tahfidz Al-Qur’an secara daring dari rumah. Aplikasi-aplikasi belajar seperti pembelajaran bahasa Arab, ilmu tajwid, dan fikih wanita juga tersedia dengan mudah dan terjangkau. Kemudahan ini tentu merupakan nikmat dari Allah Ta’ala yang patut disyukuri, karena membuka pintu ilmu bagi siapa saja yang menginginkannya, tanpa terbatas oleh jarak dan waktu.

Anak perempuan pun terbuka untuk mengembangkan bakat dan keterampilan mereka secara lebih luas. Mereka dapat belajar memasak, merajut, mendesain, menulis, atau bahkan belajar wirausaha melalui platform-platform yang ada. Jika diarahkan dengan benar, maka bakat-bakat ini dapat menjadi bekal bagi mereka di masa depan, baik sebagai bekal untuk berumah tangga maupun untuk berkontribusi pada masyarakat. Dunia digital juga memungkinkan mereka untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara seiman dari berbagai penjuru dunia, memperluas wawasan, dan merasakan semangat persaudaraan Islam yang universal.

Kemudahan akses informasi juga menjadikan anak perempuan lebih mudah untuk belajar dan memahami agama secara mandiri, tentunya dengan bimbingan orang tua. Mereka bisa mengikuti kajian rutin secara online, membaca artikel-artikel dari situs-situs Islam terpercaya, dan mendengarkan rekaman ceramah para ulama. Hal ini sangat membantu dalam proses pembentukan akidah dan pemahaman keislaman mereka sejak dini. Bahkan, tidak sedikit anak-anak muda yang saat ini menjadi penghafal Al-Qur’an dengan memanfaatkan aplikasi dan teknologi yang ada, dan ini adalah prestasi yang sangat membanggakan.

Allah Ta’ala berfirman,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Allah Ta’ala memuliakan ilmu dan alat untuk menuntut ilmu, termasuk di dalamnya media yang digunakan untuk belajar. Era digital dengan segala fasilitasnya adalah salah satu bentuk dari “pena” modern yang bisa digunakan untuk menuntut ilmu. Namun, sebagaimana pena bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan, demikian pula teknologi digital. Maka, orang tua harus memanfaatkan kemudahan ini untuk mengarahkan anak pada kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan.

Ancaman yang mengintai

Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, dunia digital menyimpan berbagai ancaman serius bagi anak perempuan. Salah satu ancaman terbesar adalah paparan konten negatif yang merusak akhlak dan moralitas. Anak-anak dengan mudah dapat menemukan tayangan yang menampilkan aurat, hubungan terlarang, kekerasan, bahkan ajaran-ajaran sesat yang mengancam akidah. Algoritma media sosial sering kali justru merekomendasikan konten-konten semacam ini kepada pengguna muda, sehingga anak perempuan yang belum memiliki benteng iman yang kokoh akan mudah terpengaruh dan meniru apa yang mereka lihat.

Ancaman berikutnya adalah fitnah media sosial, di mana anak perempuan sering kali terjebak dalam budaya pamer (tabarruj), riya’, dan tawadhu’ yang hilang. Banyak dari mereka yang tergoda untuk mengunggah foto-foto diri mereka tanpa hijab, atau dengan pakaian yang ketat dan memperlihatkan perhiasan, sementara Islam memerintahkan wanita untuk menutup aurat dan tidak memamerkan kecantikan mereka di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Kebiasaan ini dapat dengan perlahan melunturkan rasa malu (haya’) yang merupakan bagian penting dari iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 24)

Jika seorang anak perempuan kehilangan rasa malunya akibat sering terpapar konten-konten yang merendahkan nilai-nilai kesopanan, maka imannya pun akan ikut tergerus. Rasa malu yang diajarkan Islam bukanlah sifat negatif, melainkan benteng yang melindungi seorang muslimah dari perbuatan dosa dan maksiat, termasuk di dunia digital.

Jika kita telisik lebih jauh lagi, kita lihat bahwa ancaman pergaulan online yang tidak sehat juga sangat berbahaya. Anak perempuan bisa dengan mudah berkenalan dengan lawan jenis melalui media sosial, aplikasi chat, atau game online. Percakapan yang awalnya tampak biasa dapat berujung pada hubungan yang mendekati perzinahan, yang sangat dilarang dalam Islam. Allah Ta’ala dengan tegas memerintahkan kaum mukminin untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka, dan ini berlaku juga dalam dunia maya. Allah Ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya’; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 30-31)

Melihat foto-foto lawan jenis yang bukan mahram, membaca pesan-pesan yang menggoda, atau menonton tayangan yang tidak senonoh adalah bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah. Orang tua harus menyadari bahwa ancaman ini nyata dan telah banyak terjadi, sehingga mereka tidak boleh lengah dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak perempuannya.

Peran ibu sebagai benteng utama

Dalam mendidik anak perempuan di era digital, ibu memegang peran yang sangat strategis dan tidak tergantikan. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, tempat mereka belajar nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk bagaimana bersikap terhadap dunia digital. Keteladanan seorang ibu sangat menentukan sikap anak terhadap teknologi. Jika ibu sendiri terbiasa menggunakan gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjaga adab dalam bermedia sosial, maka anak-anak akan meniru kebiasaan tersebut. Sebaliknya, jika ibu sibuk dengan gadget dan mengabaikan anak, maka anak pun akan kehilangan teladan yang baik.

Ibu juga berperan sebagai benteng emosional bagi anak perempuannya. Kedekatan dan komunikasi yang hangat antara ibu dan anak akan membuat anak merasa nyaman untuk bercerita tentang apa yang mereka lihat dan alami di dunia maya. Ibu pun dapat menjadi filter bagi anak, membantu mereka memahami mana konten yang baik dan mana yang buruk, serta memberikan nasihat yang bijaksana tanpa membuat anak merasa dihakimi. Inilah yang disebut dengan pendampingan digital, di mana ibu tidak hanya melarang, tetapi juga membimbing dan mengarahkan.

Selain itu, ibu juga bertanggung jawab untuk mengajarkan anak-anaknya cara memilah informasi (media literacy) dalam bingkai Islam. Anak perlu diajari untuk tidak mudah percaya pada semua informasi yang mereka terima, untuk selalu memeriksa kebenaran dari sumber yang terpercaya, dan untuk tidak menyebarkan informasi tanpa klarifikasi. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang memerintahkan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap berita yang diterima.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Betapa pentingnya tabayyun, dan ini sangat relevan dengan era digital di mana berita palsu (hoaks) dan informasi menyesatkan tersebar dengan sangat cepat. Anak perempuan perlu dibekali dengan keterampilan ini agar mereka tidak menjadi korban atau bahkan pelaku penyebaran informasi yang tidak benar. Dengan bimbingan ibu, mereka dapat belajar untuk menjadi pengguna digital yang cerdas, bertanggung jawab, dan selalu berpegang pada nilai-nilai Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan pentingnya peran orang tua, termasuk ibu, dalam menjaga anak-anak mereka dari api neraka, dan ini mencakup upaya menjauhkan mereka dari segala hal yang dapat merusak iman dan akhlak, termasuk pengaruh negatif dunia digital. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang memimpin rakyat adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka…” (HR. Bukhari no. 5200 dan Muslim no. 1829)

Hadis ini menegaskan bahwa ibu memiliki tanggung jawab kepemimpinan di rumahnya, termasuk dalam mendidik anak-anaknya dan melindungi mereka dari bahaya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Menjadi ibu di era digital memang penuh tantangan; namun dengan ilmu, kesabaran, dan tawakal kepada Allah, seorang ibu dapat menjadi benteng utama yang melindungi putri-putrinya dari segala ancaman yang mengintai.

Era digital membawa dua sisi mata uang, yaitu kemudahan dan ancaman yang beriringan. Bagi anak perempuan, dunia digital bisa menjadi sarana untuk menuntut ilmu, mengembangkan bakat, dan memperluas wawasan, namun juga bisa menjadi sumber fitnah yang merusak akhlak, iman, dan masa depan mereka. Orang tua, terutama ibu, dituntut untuk berperan aktif sebagai benteng utama yang melindungi, membimbing, dan mengarahkan anak-anak mereka dalam menggunakan teknologi secara bijak.

Tidak ada jalan lain selain membekali anak dengan benteng iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, serta keterampilan memilah informasi dalam bingkai Islam. Orang tua juga harus membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, memberikan keteladanan yang baik, dan tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah agar anak-anak mereka senantiasa dalam perlindungan-Nya. Semua usaha ini adalah bentuk jihad di era modern, dan setiap langkah kecil yang diambil akan menjadi amal jariyah yang kelak akan menuai pahala di sisi Allah.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama para orang tua yang sedang berjuang mendidik putri-putrinya di tengah derasnya arus digital. Mari kita jadikan era digital ini sebagai ladang amal dan sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alat yang menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam jurang kebinasaan. Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita semua dalam mendidik generasi muslimah yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslimah.or.id/34748-mendidik-anak-perempuan-di-era-digital.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id