Munculnya Nabi Palsu, Fenomena Akhir Zaman

Olleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Di antara keyakinan di dalam agama Islam yang tidak dapat diganggu gugat adalah bahwa nabi Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Qurasyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah kepada seluruh bangsa di dunia, dari kalangan jin dan manusia. Dan bahwa beliau adalah penutup seluruh para nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Maka barangsiapa mengaku sebagai nabi atau rasul, pembawa syari’at baru atau tanpa syari’at baru, setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membenarkan pengakuan seseorang sebagai nabi, sesungguhnya ikatan Islam telah lepas dari dirinya.

Akan tetapi, hikmah Allah telah menetapkan bahwa Dia akan menguji keimanan hamba-hambanya dengan memunculkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagi orang yang memiliki ilmu warisan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka peristiwa itu akan menambah keyakinan dan keimanannya terhadap kebenaran nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama yang beliau bawa. Karena memang fenomena akan munculnya para dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai nabi itu telah diberitahukan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa kehidupannya.

Maka di sini, -insya Allah- kami akan membahas seputar masalah ini, agar kaum muslimin selamat dari kesesatan yang dapat mengeluarkan mereka dari agamanya ini. Mudah-mudahan Allah membimbing kita semua di atas jalan yang lurus. Aamiin.

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam utusan Allah kepada seluruh manusia.
    Allah berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [Al-A’raf/7 : 158]

وَ مَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba/34 :28]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dan semua nabi (sebelumku) diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia. [HSR. Al-Bukhari no: 335; Muslim no: 521; An-Nasai no: 432, dari Jabir bin Abdullah]

  1. Barangsiapa –dari bangsa atau agama apapun juga- telah mendengar dakwah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian tidak beriman kepada agama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia akan menjadi penghuni neraka, kekal di dalamnya, selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari umat ini, baik seorang Yahudi atau Nashrani, yang mendengar tentang aku, kemudian dia mati, dan tidak beriman dengan (agama) yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [HSR. Muslim, no: 240, dari Abu Hurairah]

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, tidak ada lagi nabi setelah beliau.
    Allah berfirman:

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Ahzaab/33 : 40]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang lelaki yang membangun sebuah rumah. Ia mengerjakannya dengan baik dan indah, kecuali sebuah batu bangunan di pojoknya. Manusia-pun lantas mengelilinginya dan mengaguminya, dan mereka berkomentar: “Kenapa tidak diletakkan sebuah batu bangunan di tempat ini?”. Beliau bersabda: “Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para Nabi”. [HSR. Al-Bukhari no: 3535; Muslim no: 2286, dan lainya, dari Abu Hurairah]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

“(Saya memiliki empat nama:) Saya Muhammad (yang terpuji). Saya Ahmad (yang banyak memuji atau dipuji). Saya Al-Mahi (penghapus), dimana dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (Pengumpul), yang mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku. Saya juga bernama Al-‘Aqib (yang belakangan) yaitu yang tak ada Nabi lagi yang datang sesudahku”. [HSR. Al-Bukhari no: 3532; Muslim no: 2354, dan lainya, dari Jubair bin Muth’im. Lafazh ini pada riwayat Muslim, kalimat dalam kurung pada riwayat Bukhari]

Dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, bahwa Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, dan menjadikan Ali sebagai pengganti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (memimpin kota Madinah). Lalu Ali berkata: “Apakah anda menjadikan aku sebagai pengganti(mu) mengurusi anak-anak kecil dan para wanita?”. Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidakkah engkau ridha jika kedudukanmu dariku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, tetapi sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku.” [HR. Bukhari, kitab: Al-Maghazi, no:4416; Muslim, no:2404, lafazhnya bagi imam Bukhari]

Lihatlah betapa indahnya ungkapan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib, hal itu sekaligus menutup keyakinan adanya nabi ummati atau nabi tanpa syari’at setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam[1], sebagaimana nabi Harun adalah nabi yang syari’atnya mengikutri nabi Musa ‘alaihimassalam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi, setiap seorang nabi wafat, dia diganti oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, tetapi akan ada para khalifah, dan jumlah mereka banyak. [HR. Bukhari, kitab: Ahadits al-Ambiya’, no:3455; Muslim, no:44/1842, dari Abu Hurairah]

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata: “Sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan penghulu para rasul”. Beliau juga berkata: “Segala pengakuan Nabi sesudah baliau adalah kesesatan dan (mengikuti) hawa nafsu”.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Ketika terbukti bahwa beliau adalah penutup para Nabi, maka dapat diketahui bahwa siapapun yang mengaku Nabi sesudahnya adalah pendusta”.

  1. Wahyu Telah Terputus.
    Ketika kenabian telah ditutup dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dengan wafatnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu telah terputus dari langit.

Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasysyirat (perkara-perkara yang memberikan berita gembira). Para sahabat bertanya: “Apakah al-mubasysyirat itu?”, beliau menjawab: “Mimpi yang baik”. [R. Bukhari, kitab: Ta’bir, no:6990, dari Abu Hurairah]

Hadits ini dengan nyata menunjukkan bahwa wahyu tidak tersisa lagi setelah beliau wafat, karena adanya kenabian itu dengan wahyu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ قَالَ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ لَكِنِ الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ

Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul dan tidak ada nabi setelah aku. Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat. Lalu beliau bersabda: “Kecuali al-mubasysyirat (perkara-perkara yang memberikan berita gembira). Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah al-mubasysyirat itu?”, beliau menjawab: “Mimpi seorang muslim, hal itu satu bagian dari bagian-bagian kenabian”. [HR. Ahmad III/267; Tirmidzi no: 2272, dan Al-Hakim, dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Irwaul Ghalil no:2473 dan Shahih Al-Jami’ush Shaghir no:1631]

Baca Juga Keseimbangan dan Kemudahan Dalam Islam
Dan hal itu adalah perkara yang telah maklum bagi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana hadits di bawah ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا

Dari Anas, dia berkata: Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar: “Marilah kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya”. Tatkala kami sampai kepadanya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya berkata kepadanya: “Apa yang menjadikanmu menangis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam“. Kemudian Ummu Aiman menjawab: “Aku menangis, bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit”. Maka Ummu Aiman menggerakkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman. [HSR. Muslim, kitab: Fadhail ash-Shahabat]

Yang dimaksud wahyu di sini adalah arti secara istilah agama, bukan arti atau secara bahasa. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari (I/9): “Wahyu secara bahasa artinya memberitahukan secara rahasia/tersembunyi. Juga bisa berarti tulisan; sesuatu yang ditulis; mengutus; ilham; perintah; isyarat; dan menjadikan berbunyi sedikit demi sedikit. Juga dikatakan: asal artinya adalah memahamkan, dan apa saja yang engkau pakai untuk menjelaskan dinamakan wahyu, baik berupa: perkataan, tulisan, surat, atau isyarat. Sedangkan arti wahyu menurut istilah agama adalah: memberi-tahukan dengan agama”.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullh berkata: “Nabi Allah adalah orang yang diberi berita oleh Allah. Maka apa saja yang Allah beritakan itu adalah haq (benar dan bermanfa’at), sidhq (benar, sesuai dengan kenyataan), tidak ada kedustaan, atau kekeliruan, atau sengaja (dusta)”.

Beliau juga berkata: “Dan tidaklah setiap yang diberi wahyu yang umum[2] menjadi nabi, karena selain manusiapun terkadang diberi wahyu[3]. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Dan Rabbmu mewahyukan (maksudnya: memerintahkan) kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia“. [An-Nahl/16 : 68]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ

Dan Kami wahyukan (maksudnya: ilhamkan) kepada ibu Musa: “Susuilah dia…” [Al-Qashas/28 : 7]

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu (maksudnya: ilham atau yang semaknanya) [Asy-Syuura/42 : 51]

Perkataan wahyu pada ayat ini mencakup wahyu (kepada) para nabi dan kepada selain nabi, seperti muhaddats, orang yang mendapatkan ilham. Sebagaimana tersebut di dalam Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

قَدْ كَانَ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَرُ مِنْهُمْ

Sesungguhnya pada umat-umat dahulu sebelum kamu ada muhaddatsun (orang-orang yang diberi pembicaraan oleh Allah, padahal mereka bukan nabi), jika ada seseorang di kalangan umatku, maka Umar termasuk mereka.[4]

Ubadah bin Ash-Shamit berkata: “Mimpi seorang mukmin merupakan perkataan Allah yang Dia berkata-kata dengannya (mimpi tersebut) kepada hamba-Nya di dalam tidurnya”.

Maka mereka itu, yaitu muhaddatsun (orang-orang yang diberi pembicaraan oleh Allah), orang-orang yang mendapatkan ilham, orang-orang yang mendapatkan pembicaraan Allah, Allah memberikan wahyu[5] kepada mereka dengan pembicaraan tersebut, yang hal itu merupakan perkataan, dan ilham. Mereka itu bukanlah nabi, mereka tidaklah maksum (terbebas dari kesalahan), dan mereka tidaklah selalu benar di dalam setiap yang mereka dapatkan. Karena sesungguhnya syaithan dapat memberikan bisikan kepada mereka dengan perkara-perkara yang bukan merupakan wahyu Allah, tetapi dari wahyu (bisikan) syaithan. Dan untuk membedakan hal itu hanyalah dengan apa yang dibawa oleh para nabi. Karena sesungguhnya para nabi itu dapat membedakan antara wahyu Allah dengan wahyu (bisikan) syaithan. Karena syaithan merupakan musuh mereka, dan syaithan memberikan wahyu (bisikan) yang berbeda dengan wahyu (Allah) yang diterima para nabi. Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَافَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَايَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka memberikan wahyu (membisikkan) kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. [Asy-Syu’araa/26 : 112]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu memberikan wahyu (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. [Al-An’aam/6 : 121][6]

Ringkasnya bahwa wahyu menurut istilah agama adalah: pemberitahuan secara rahasia (bisikan) dari Allah kepada nabiNya, yang berupa syara’ (agama; peraturan; sesuatu yang harus diyakini beritanya dan ditaati perntahnya serta dijauhi larangannya), yang pasti kebenarannya.

Wahyu ini khusus diberikan oleh Allah kepada nabiNya, dan dengan wafatnya nabi dan rasul terakhir, nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terputuslah berita dari langit tersebut.

  1. Munculnya Nabi-Nabi Palsu.
    Termasuk kesempurnaan agama Islam ini adalah bahwa tidak ada satu kebaikanpun yang dapat mendekatkan ke sorga, dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah diperintahkan atau dianjurkan kepada umat.

Demikian pula tidak ada satu keburukkan-pun yang dapat menjauhkan dari sorga, dan mendekatkan ke neraka, kecuali umat telah dilarang atau diperingatkan darinya.

Dan termasuk keburukan tersebut adalah akan munculnya para pembohong yang mengaku sebagai nabi, hal itu termasuk tanda-tanda kecil hari kiamat, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga dibangkitkan pembohong – pembohong besar yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang, masing – masing mengaku sebagai utusan Allah.” [HSR. Bukhari, Kitab Al-Manaqib, Bab: ‘Alamatan-Nubuwwah; Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyroth As-Sa’ah, dari Abu Hurairah]

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي

“Tidak akan datang kiamat sehingga beberapa qabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan sehingga mereka menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku ini tiga puluh orang pembohong besar yang masing-masing mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sama sekali sesudahku.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no: 7295]

Al-Hafizh Ibnu hajar Al-‘Asqalani rahimahullah mengomentari tentang jumlah tiga puluh nabi palsu tersebut dengan perkataannya: “(Jumlah 30) yang dimaksudkan di dalam hadits tersebut bukanlah untuk semua orang yang mengaku sebagai nabi secara mutlak. Karena jumlah mereka sebenarnya tak terbatas; tetapi yang dimaksud dengan jumlah dalam hadist tersebut ialah untuk orang yang mengaku menjadi nabi dan memiliki kekuasaan, serta menimbulkan syubhat (kesamaran)”[7]

  1. Kenyataan Membuktikan Kebenaran:
    Kemudian sejarah telah mencatat nama-nama pendusta yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, di antara mereka yang telah muncul ialah:[8]

Musailamah Al-Kadzdzab. Dia berasal ldari kota Yamamah, dan mengaku menjadi nabi pada akhir zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuratinya dan menamainya Musailamah Al-Kadzdzab. Orang ini memiliki banyak pengikut, dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap kaum muslimin cukup besar, hingga ia dihabisi riwayatnya oleh para sahabat pada masa pemerintahan Abu-Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dalam perang Yamamah.
Di Yaman muncul pula Al-Aswad Al-‘Ansi yang mengaku sebagai nabi, lalu dibunuh pula oleh para sahabat sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan muncul pula Sajah At-Tamimiyah, seorang wanita yang mengaku sebagai nabi, dan dia dikawini oleh Musailamah. Konon Sajah ini kemudian bertobat.
Demikian pula Thulaihah bin Khuwailid As-Asadi. Dia muncul di zaman khalifah Abu Bakar, namun lalu ia bertobat dan meninggal di dalam agama Islam, di zaman khalifah Umar bin Al-Khaththab, menurut pendapat yang benar.
Lalu muncul pula Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi yang menampakkan cintanya kepada ahlul-bait (keluarga rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), serta menuntut balas atas kematian Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Pengikutnya banyak sekali, bahkan dapat mendominasi kota Kufah pada permulaan pemerintahan Ibnu Zubair. Kemudian ia diperdayakan oleh syaitan, sehingga ia mengaku menjadi nabi dan mengaku malaikat Jibril turun kepadanya. Di dalam Sunan Abu Daud, sesudah meriwayatkan hadits mengenai pembohong-pembohong besar itu, Ibrahim An-Nakha’i bertanya kepada Ubaidah As-Salmani:[9]. “Apakah engkau menganggap Mukhtar ini termasuk mereka (pembohong – pembohong besar itu)?”. Ubaidah menjawab: “Ketahuilah, ia termasuk tokohnya.”[10]
Dan diantaranya lagi adalah Al-Harits Al-Kadzdzab yang muncul pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, lalu dia di bunuh. Dan pada pemerintahan Bani Abbas juga muncul sejumlah pembohong.
Termasuk para pendusta tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani dari India. Dia dilahirkan th 1839 M atau 1840 M di Qadiyan, India. Ia mengaku sebagai nabi, dan sebagai Al-Masih yang ditunggu. Ia juga mengatakan bahwa Isa tidak hidup di langit, serta lain – lain pengakuan dan ajaran batilnya. Para ulama telah membantah pendapatnya dan ajarannya-ajarannya, dan mereka menyatakan bahwa dia termasuk salah seorang pembohong besar. Para pengikut Qadiyaniyah ini (mereka sering menyebut sebagai Ahmadiyah) tersebar di Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan lainnya. Termasuk di Bogor, Semarang dan lainnya di Indonesia.
Baca Juga Shahih Al-Bukhâri Dalam Pandangan Ulama
Pendusta ini memulai pengakuannya dengan sedikit demi sedikit. Mula-mula dia mengaku mendapatkan ilham, lalu mengaku sebagai mujaddid (pembaharu agama), lalu mengaku serupa dengan nabi Isa, lalu mengaku sebagai nabi Isa yang dijanjikan akan turun di akhir zaman, lalu pada th 1901 M mengaku sebagai nabi yang sempurna kenabiannya, lalu pada th 1904 M mengaku sebagai Kresna. Sedangkan Kresna adalah salah satu tuhan yang disembah orang-orang Hindu.

Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql berkata di dalam buku keduanya: “Sebagaimana telah lewat, bahwa Mirza Ghulam Ahmad memulai pengakuannya dengan sedikit demi sedikit. Oleh karena inilah orang-orang Qadiyaniyah sering mengelabui sebagian kaum muslimin dengan perkataan-perkataan lama Mirza Ghulam Ahmad sebelum pengakuannya sebagai nabi, karena barangsiapa mengaku sebagai nabi, dia menjadi kafir. Mereka berusaha menutupi pengakuan-pengakuannya yang baru, yang dia mengaku sebagai nabi, dengan teks-teks yang lama tersebut. Dan sebagian penulis telah tertipu dengan hal ini.”[11]

Akhir riwayat nabi palsu tersebut adalah ketika pada th 1907 M, dia menantang mubahalah[12] salah seorang alim salafi terkenal di India yang bernama Syeikh Tsanaullah Al-Amiritsari, yang membongkar kekafiran pendusta ini. Pada 5 April 1907 Mirza membuat tulisan yang berisi permohonan dan doa kepada Allah, agar mematikan si pendusta di antara keduanya, semasa salah satunya masih hidup, dan agar Allah menimpakan penyakit semacam wabah yang membawa kematiannya. Maka Allahpun menampakkan al-haq dan membongkar kedustaan itu. Setelah 13 bulan dan 10 hari datanglah apa yang dimohon oleh pendusta tersebut, dan dia mampus dengan penyakit wabah pada tgl 26 Mei 1908 M. Adapaun Syeikh Tsanaullah masih hidup 40 th setelah kematian pendusta tersebut. Beliau wafat pada tgl 15 Maret 1948[13]

Pembohong – pembohong itu akan senantiasa muncul satu persatu hingga muncul yang terakhir, yang buta sebelah matanya, Dajjal. Imam Ahmad meriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu pada waktu khutbahnya pada waktu terjadi gerhana matahari yang terjadi pada zamannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنَّهُ وَاللَّهِ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ كَذَّابًا آخِرُهُمُ الْأَعْوَرُ الدَّجَّالُ

Demi Allah, tidak akan datang kiamat sehingga muncul tigapuluh orang pembohong besar, dan yang terakhir dari mereka adalah (dajjal) yang buta sebelah matanya, sang pembohong besar.” [HR. Ahmad, dari Samurah bin Jundub]

Dan di antara pembohong-pembohong besar itu terdapat empat orang wanita. Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda:

فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ وَدَجَّالُونَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Akan muncul dikalangan umatku pembohong-pembohong besar sebanyak duapuluh tujuh orang, empat orang diantaranya adalah wanita. Sedangkan saya adalah penutup para nabi,tidak ada lagi nabi sesudahku.”[14]

  1. Membantah Syubhat:
    Sebagian orang berkata: “Memang sudah tidak ada nabi lagi setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi yang dimaksudkan adalah nabi pembawa syari’at, sedangkan nabi ummati/nabi pengikut maka masih ada”.

Jawab:
Perkataan ini terbantahkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang umum (Lihat pembahasan ke 3: Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, tidak ada lagi nabi setelah beliau, dan ke 4: Wahyu sudah terputus), bahwa tidak ada nabi sesudah beliau, baik nabi pembawa syari’at atau bukan. Karena wahyu dari langit sudah terputus, sedangkan adanya nabi itu jika mendapatkan wahyu dari Allah.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib sebagaimana telah disebutkan di atas memperjelas hal itu.

Sebagian orang berkata: “Yang mendapatkan wahyu bukan hanya para nabi, seperti ibu nabi Musa, Maryam binti Imran. Maka setelah nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat bisa jadi ada orang yang mendapatkan wahyu”.

Jawab:
Kesesatan ini muncul karena tidak membedakan arti wahyu menurut bahasa arab dan arti wahyu menurut istilah agama/syara’, lihat penjelasannya di pembahasan di atas. Karena wahyu yang diterima oleh ibu nabi Musa, Maryam binti Imran, dan lainnya, itu adalah ilham, atau wahyu (pemberitahuan secara rahasia) tetapi bukan wahyu syari’at.

Sebagian orang berkata: “Kalau Allah tidak mengutus nabi lagi, berarti Allah kehilangan sifat berbicara”.

Jawab:
Masya Allah, perkataan ini tidak keluar kecuali dari orang yang jahil terhadap sifat berbicara bagi Allah, sebagaimana keyakinan Ahlus Sunnah Wal jama’ah. Karena sesungguhnya sifat berbicara bagi Allah adalah sifat dzitiyyah dilihat dari jenisnya, yaitu sifat yang selalu ada pada Allah, tidak pernah lepas dariNya. Dan sifat itu juga sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya. Maka Allah berbicara kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan makhlukNya, baik malaikat, manusia atau lainnya. Dan dengan cara yang Dia kehendaki. Bukan harus berupa wahyu kepada nabi, karena Dia sudah memberitakan bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup seluruh para nabi, sehingga tidak ada nabi setelah beliau.

  1. Peringatan:
    Maka setelah kita mengetahui hal ini, masihkah kita tertipu dengan dakwaan para pendusta yang mengaku mendapat ilmu/ berita/ wahyu/ wangsit dari Allah. Seperti pengakuan Lia Aminuddin, atau para pendiri aliran kepercayaan, semacam: Sumarah, Subud, Sapto Darmo, Bratakesawa, Pangestu, Pransuh, Adam Makrifat, dan aliran-aliran sesat lainnya yang tersebar di nusantara ini. Wahai Allah tunjukkanlah al-haq kepada kami sebagai al-haq sehingga kami dapat mengikutinya. Dan tunjukkanlah kebatilan kepada kami sebagai kebatilan sehingga kami dapat menjauhinya. Amiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote
[1] Seperti keyakinan golongan Qadiyaniyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad!
[2] Wahyu menurut arti bahasa pent
[3] Wahyu menurut arti bahasa pent
[4] Yang semakna dengan ini pada riwayat Bukhari, kitab Manaqib; dan Muslim, kitab Fadhail ash-Shahabat, lafazh hadits di atas mendekati riwayat Muslim-pent
[5] Yang dimaksud wahyu di sini adalah secara bahasa: pembicaraan
[6] Diringkas tanpa merubah makna dari An-Nubuwwah, hal:271-273, tahqiq: Muhammad Abdurrahman ‘Iwadh, penerbit: Darul Kitab Al-‘Arabi, cet:I, th:1985 M/1405 H
[7] Lihat Fathul-Bari VI: 617
[8] Lihat Fathul-Bari VI: 617
[9] Ubaidah As-Salmani Al-Muradi Al-Kufi adalah seorang ahli fiqih dan mufti. Ia masuk Islam pada waktu Nabi masih hidup, dan ia juga sempat bertemu dengan Ali dan Ibnu Mas’ud
[10] Aunul Ma’bud Syarh Abi Dawud XI: 486
[11] Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal:151
[12] Artinya berdoa untuk mendapatkan kecelakaan. Hal ini masih sering digunakan senjata oleh orang-orang Ahmadiyah
[13] Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal:148
[14] HR. Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 4143. Al-Haitsmani berkata: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, dan diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar sedang para perawi Al-Bazzar ini adalah shahih.” Majma’uz-Aawaid VII: 332

sumber: https://almanhaj.or.id/3020-munculnya-nabi-palsu-fenomena-akhir-zaman.html

BANYAKLAH BERSEDEKAH, WAHAI WANITA MUSLIMAH!

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Wahai saudariku muslimah,sungguh kengerian serta dahsyatnya api neraka yang akan ALLAH timpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiyat kepada-Nya tidak akan bisa kita bayangkan dalam kehidupan di dunia ini.

Disebutkan dibeberapa hadits Rasulullah, bahwa penghuni terbanyak neraka adalah kaum wanita.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat penghuni neraka terbanyak adalah (kaum) kalian’Kemudian diantara mereka ada  seorang wanita berpantat besar bertanya, ‘Kenapa (kaum) kami menghuni sebagian besar neraka?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami.’” (Muslim: 238).

Ada pula hadits khusus yang menyebabkan seorang wanita tidak dapat mencium aroma surga!

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum seperti ekor sapi, dengan cambuk itu mereka memukuli rakyat, wanita-wanita yang berpakian (namun) telanjang berlenggak-lenggok dan miring, rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga tercium dari perjalanan sejauh ini dan itu (Muslim: 2128)

Renungkanlah hadits-hadits tersebut wahai saudariku Muslimah!

Pelajaran yang terbesar yang dapat kita ambil ialah, bahwa bersedekah memiliki keutamaan yang sangat besar bagi diri setiap muslim dan muslimah….terutama untuk dirimu (wahai muslimah), yang demikian ini disebabkan karena beberapa hal:

1. Dirimu selalu banyak melaknat.
Sebagaimana yang dtegaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kalian banyak melaknat”.
Laknat menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya.

2. Dirimu selalu seringnya dirimu mengingkari kebaikan suami. 

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: mengingkari (kebaikan) suami.’”

dalam riwayat yang lain dengan lafadz: 

dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (Bukhari:1052)

Bentuk kedurhakaan semacam ini banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga kaum Muslimin, yang mana seorang istri selalu mengingkari kebaikan suaminya selama sekian waktu yang sangat panjang hanya lantaran disebabkan sikap/perbuatan suami yang tidak berkenan dihati istrinya.

Wahai ukhti Muslimah….
Padahal yang sepatutnya dilakukan oleh seorang istri ialah wajib atasnya bersyukur atas kebaikan yang diberikan oleh suaminya sekecil apapun bentuk kebaikannya.

3. Tabarruj 

Dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “wanita-wanita yang berpakian (namun) telanjang berlenggak-lenggok dan miring,”

Tabarruj: ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib bagi mereka untuk ditutupi dari hal-hal yang akan menimbulkan syahwat bagi laki-laki. 

Wahai ukhti Muslimah, hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (QS. Al-Ahzaab: 33)

Inilah beberapa sebab para wanita ditekankan untuk banyak bersedekah. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari azab-Nya di dunia dan akhirat. Amiin.

Bersedekahlah wahai para wanita…

Perhatikanlah kesungguhan para shahabiyat dalam bersedekah pada masa Nabi yang mulia Shallalllahu alaihi wasallam

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Nabi shalat pada hari Idul Fithri dua rakaat dan tidak shalat sebelum maupun sesudahnya. Kemudian (setelah menyampaikan khutbah kepada hadirin) beliau mendatangi tempat para wanita sementara Bilal menyertai beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka mulailah mereka melemparkan perhiasan mereka (ke kain yang dibentangkan Bilal untuk menampung sedekah), ada wanita yang melemparkan anting-anting dan kalungnya.” (Bukhari no. 964)

Asma` bintu Abi Bakr berkata:

Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki harta kecuali apa yang dimasukkan Az-Zubair kepadaku. Apakah boleh aku menyedekahkannya?’ Beliau bersabda: ‘Bersedekahlah. Jangan engkau kumpul-kumpulkan hartamu dalam wadah dan enggan memberikan infak, niscaya Allah akan menyempitkan rizkimu’. (Bukhari no. 2590)

Semoga bermanfaat!
Akhukum Ahmad Ferry Nasution

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/5993

KEUTAMAAN MEMBANTU JANDA, ORANG-ORANG MISKIN Dan ANAK-ANAK YATIM…

Ustadz Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah dia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Orang yang berusaha keras untuk membantu para janda dan orang-orang miskin adalah seperti MUJAHID dijalan ALLAH- atau beliau bersabda: seperti orang yang sholat malam yang terus menerus, dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.

(Riwayat bukhory : 5353, Muslim 2982)

Dalam riwayat yang lain yang dikeluarkan oleh imam muslim no : 2983 .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang menjamin/mengurus/ mengasuh anak yatim yang masih ada hubungan kekeluargaan atau tidak, kedudukan aku bersama (bersama org yg mengurus anak yatim tersebut) disyurga sangat dekat.

Imam Malik mengisyaratkan jari telunjuk dengan jari tengahnya ( menunjukkan kedekatan orang tersebut dengan Rasulullah di Syurga) ..Riwayat muslim no 2983.

Ikhwanii….

Kedua hadits tersebut memberikan kabar gembira kepada kita semua tentang ganjaran yang sangat besar bagi kaum muslimin yang mau membantu para janda, orang-orang miskin dan anak-anak yatim.

Dan apabila kita ada kemampuan lagi, kita bisa berikan kepada mereka bimbingan tentang islam dan sunnah yang mulia ini, agar mereka hidup didunia dengan penuh kebahagian, ketenangan dan penuh ketaatan dengan beribadah kepada ALLAH.

Semoga ALLAH memudahkan kita untuk mengamalkannya, dan menjadikan amal kita ikhlas karena-Nya.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/12638

Jangan Biarkan Kemungkaran Merajalela

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ». رواه الترمذي، وَقَالَ: «حديث حسن». [الترمذي (2169)، وحسنه الألباني في صحيح سنن الترمذي (2169)].

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:  

_”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Jika tidak, maka hampir saja Allah menurunkan azab dari sisi-Nya kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun doa kalian tidak dikabulkan.”_ HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: “Hadits hasan”. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam _Shahih Sunan At-Tirmidzi_ (2169).

Pelajaran penting dari hadits ini

1. Bolehnya bersumpah tanpa diminta terlebih dahulu

Ini menunjukkan betapa pentingnya perkara yang disampaikan.

2. Menegaskan wajibnya amar ma’ruf nahi munkar

Kewajiban ini dikuatkan dengan sumpah, huruf lam, dan nun taukid yang menunjukkan penekanan yang sangat kuat.

3. Peringatan dan ancaman jika meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar

Meninggalkan kewajiban ini adalah salah satu sebab turunnya azab. Bentuk azabnya bisa berupa kezhaliman penguasa, dikuasainya kaum muslimin oleh musuh, atau bentuk azab lainnya. 

Keadaan ini seperti penyakit dan wabah yang menyebar luas, sampai para dokter pun kewalahan mengobatinya. Akibatnya bisa terjadi banyak kematian, dan doa-doa mereka tidak dikabulkan untuk menolak bala tersebut.

4. Menyebarnya kemungkaran dan tidak adanya pengingkaran adalah penghalang terkabulnya doa

[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid. Hal 174]

 Wallohu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho hafidzhohulloh

sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-193-jangan-biarkan-mungkar-merajalela/

Amalan yang Menghilangkan Bencana

AMALAN YANG MENGHILANGKAN BENCANA

Perlu kita ketahui, bahwa musibah yang menimpa kita, sejatinya itu adalah karena dosa-dosa kita. Sungguh, telah banyak kita saksikan berbagai bencana dan musibah. Baik di daratan maupun di lautan. Badai dahsyat yang melanda, banjir yang menenggelamkan ; tanah longsor, meruginya niaga, tertahannya berkah Allâh, dan lain sebagainya, itu semua kita saksikan dan kita dengar. Namun banyak dari kita tidak mau mengambil pelajaran dan ibrah. Kita tidak mau mencari apa penyebab hakiki dari berbagai bencana tersebut. Bahkan ada di antara kita dan di tengah-tengah kita yang mengatakan, bahwa bencana tersebut tidak ada kaitannya dengan dosa. Itu semua bukan karena dosa dan maksiat ; akan tetapi itu adalah bencana alamiah. Bukankah ini sama saja dengan mendustakan firman Allâh Azza wa Jalla :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Rum/ 30:41]

Juga firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syura/ 42:30]

Hal seperti ini, menandakan kerasnya hati. Justru ketika bencana menimpa, musibah melanda, kita harus banyak introspeksi dan kembali kepada Allâh.

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allâh) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. [Al-An’âm /6:43]

Mereka telah lupa, atau seolah-olah lupa tentang sunnatullah yang berlaku terhadap umat terdahulu. Bukankah umat terdahulu ditimpa bencana dan siksa tidak lain karena kemaksiatan mereka?. Karena kedurhakaan dan pembangkangan mereka?!. Namun banyak manusia yang tidak mau mengambil pelajaran dan iktibar terhadap kejadian-kejadian yang ada.

Kebanyakan manusia tetap saja bergelimang dalam suka ria mereka ; tanpa tersentuh hatinya untuk mau mengambil pelajaran. Mungkin mereka hanya akan mengatakan ; bahwa bencana yang terjadi tidak jauh beda dengan apa yang menimpa para pendahulu kita; ada kesenangan, ada penderitaan ;  dan itulah siklus alamiah yang pasti akan terjadi di setiap waktu.

Jangan sampai kita tidak peka dengan hal-hal tersebut. Jangan sampai kita lupa dan lalai ; sehingga kita tidak sadar bahwa itu adalah peringatan dari Allâh ; agar kita semua kembali kepada Allâh. Sebab bencana dan musibah dengan berbagai macamnya ; itu semua adalah karena dosa dan maksiat kita. Dengan musibah tersebut ; terkandung pesan bahwa adzab Allâh akan menimpa siapa yang bermaksiat kepada-Nya; dan tentunya siksa-Nya di akhirat lebih dahsyat dari sekedar musibah dunia.

Allâh Maha Penyayang kepada hamba-Nya ; meski mereka telah melanggar perintah-Nya. Karena itulah, Allâh memberi peringatan kepada hamba-Nya, agar mereka introspeksi diri dan mau bersimpuh kepada-Nya. Karena itulah, Allâh pun menjadikan hal-hal untuk menolak bala’ dan bisa menghilangkan musibah kala menimpa.

Di antara sebab-sebab yang bisa menolak musibah tersebut adalah:

1. Kembali Kepada Allâh Azza wa Jalla
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). [Al-A’raf/ 7: 168]

Maka menjadi keharusan atas setiap insan, untuk kembali menuju ketaatan Allâh dan Rasul-Nya. Jauhilah segala tindak maksiat; niscaya Allâh pun akan menolak bala dan bencana.

2. Mengenal Allâh Azza wa Jalla Di Waktu Lapang

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ !  اِحْفَظِ الله تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ

Jagalah Allâh, niscaya Dia akan menjagamu! Jangalah Allâh, niscaya akan engkau dapati Dia di hadapunmu. Kenalilah Allâh di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit. [HR. Ath-Thabrani]

Karena itu sebagian salaf berkata: Barangsiapa yang mengenal Allâh di waktu lapang, maka Allâh pun akan mengenalnya di waktu sulit.

3. Tunduk Dengan Merendahkan Diri Saat Musibah Melanda

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. [Al-A’raf/7:94]

4. Berdoa Kepada Allâh Azza wa Jalla Agar Dihilangkan Kesulitan
Karena Allâh tidaklah menolak orang yang berdoa kepada-Nya. Bahkan Allâh mengancam adzab pedih bagi mereka yang sombong yang tidak mau berdoa kepada-Nya.

5. Bertawakkal Kepada Allâh Azza wa Jalla
Hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala perkara kepada Allâh dengan tetap berikhtiar melakukan sebab-sebab yang disyariatkan. Kita yakin bahwa Allâh Maha kuasa atas segala sesuatu. Maka seorang Muslim haruslah selalu menautkan hatinya kepada Allâh dalam segala hal. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh, Allâh pun akan mencukupinya untuk perkara agamanya dan juga dunianya.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allâh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allâh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Ath-Thalaq/65:3]

Di antara amalan yang dengannya Allah akan menghilangkan musibah dan bala’ adalah:

6. Takwa Kepada Allâh

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. [Ath-Thalaq/ 65: 2-3]

Ibnul Jauzi berkata: “Barangsiapa yang menghendaki selalu dalam keselamatan, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allâh.”

7. Melakukan Kebaikan Kepada Orang Lain
Berbuat kebaikan akan menjaga dari kebinasaan yang buruk ; sebagaimana sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan amarah Allâh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَنَائِعُ المَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ وَالصَّدَقَةُ خَفِيّاً تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ

Berbuat kebaikan akan menjaga dari kebinasaan yang buruk ; dan bersedekah secara sembunyi-sembunyi akan memadamkan murka Ar-Rabb. [HR. Ath-Thabrani]

8. Istighfar
Di antara amalan yang menolak bala dan musibah adalah istighfar. Istighfar adalah hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla ridha ; dan menyelamatkan dari murka-Nya.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allâh sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allâh akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. [Al-Anfal/8:33]

Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan  untuknya jalan kelapangan dari segala duka; dan jalan keluar dari segala kesempitan. Dan Allâh akan memberinya rezeki dari arah yang tidak pernah ia sangka.

9. Taubat
Dan tidak lupa pula, kita harus bertaubat kepada Allâh; karena Allâh mencintai hamba-hamba-Nya yang suka bertaubat dan mensucikan diri.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah suatu bencana ditimpakan, melainkan disebabkan dosa ; dan tidaklah suatu bala’ dihilangkan, melainkan dengan bertaubat.”

Semoga kita semua diberi keselamatan, dan selalu mengambil ibrah dan pelajaran dari apapun yang terjadi. Sehingga kita selalu ingat dan kembali kepada-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/11299-amalan-yang-menghilangkan-bencana.html

Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Dalam kehidupan sosial yang dinamis, konflik adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kemampuan untuk memberi maaf bukan sekadar tindakan sosial, ia adalah mekanisme psikologis dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi maaf adalah kunci utama menuju ketenangan hati.

Islam memberikan panduan komprehensif dalam berinteraksi dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini mengandung tiga pesan krusial:

Pertama, memberi maaf

Memaafkan adalah langkah awal memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati ingin membalas. Kita ingin memberikan perlakuan yang sama. Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.

Tidak semua luka harus dibalas. Tidak semua kesalahan harus dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena ingin suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!

Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling lama tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah tulus meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)

Kita semua adalah manusia yang berharap Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kita.

Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah indah jika kita juga belajar menjadi manusia yang mudah memaafkan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kedua, mengajak kebaikan

Setelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:

“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk melakukan dan mengajak kepada kebaikan.”

Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk mengambil seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.

Ketiga, mengabaikan kebodohan

Ada orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.

Dalam kondisi seperti ini, berpaling bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.

Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika berhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika ternyata yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.

Hal ini bukan karena kita tidak mampu menjawab atau membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.

Teladan memaafkan dari generasi terbaik

Abdullah bin Zubair berkata terkait ayat 199 surat Al-A’raf,

ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس

“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu akhlak yang mulia dalam Islam.

Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang pria bernama ‘Uyainah masuk ke majelis beliau dan memaki beliau dengan tuduhan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga ingin memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang hadir bernama Al Hurr segera mengingatkan beliau,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”

Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan menahan diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)

Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru terlihat saat ia mampu menahan diri dari kemarahan.

Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk menahan diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

sumber: https://muslim.or.id/116332-seni-memaafkan.html

Malaikat Mengaminkan yang Diucapkan di Dekat Orang yang Sakit

PARA MALAIKAT MENGAMINKAN SEGALA HAL YANG DIUCAPKAN DI DEKAT ORANG YANG SAKIT DAN ORANG YANG TELAH WAFAT

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Para Malaikat Mengaminkan Segala Hal yang Diucapkan di Dekat Orang yang Sakit dan Orang yang Telah Wafat

Di antara yang dido’akan oleh para Malaikat adalah apa-apa yang diucapkan di dekat orang sakit dan di dekat jenazah, dan di antara yang menjadi dalil bagi hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayat-kan oleh para Imam, yaitu Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيْضَ أَوِ الْمَيِّتَ فَقُوْلُوْا خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ.

‘Jika kalian menghadiri (menjenguk) orang yang sakit atau jenazah, maka ucapkanlah kebaikan, karena sesungguhnya para Malaikat mengamin-kan apa-apa yang kalian ucapkan.’”[1]

Al-Mulla ‘Ali al-Qari di dalam menjelaskan hadits (yaitu pada kalimat) “Yang sakit atau jenazah.” Maksudnya adalah jenazah secara hukum, maka makna lafazh “ أَوْ ” (atau) dalam hadits digunakan untuk redaksi yang menunjukkan keraguan[2], dan bisa juga maksudnya adalah jenazah yang sebenarnya, maka lafazh “ أَوْ ” (atau) di dalam hadits digunakan untuk redaksi yang menunjukkan macam.”[3]

Maksud dari: “Maka ucapkanlah kebaikan” yakni kepada orang sakit adalah: “Semoga Allah menyembuhkannya,” sedangkan untuk jenazah: “Semoga Allah mengampuninya,” atau dengan kalimat: “Semoga kalian mendapatkan kebaikan.”

“يُؤَمِّنُوْنَ ” maknanya adalah mengucapkan “aamiin.”

“Apa-apa yang kalian ucapkan,” yaitu terhadap do’a yang kalian ucapkan, baik atau buruknya do’a tersebut.[4]

Al-Imam an-Nawawi mengomentari hadits tersebut dengan ungkapan: “Di dalamnya ada sebuah anjuran untuk berdo’a dengan kebaikan pada waktu itu, yaitu dengan do’a dan permohonan ampun, memohon kasih sayang, keringanan dan semisalnya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa para Malaikat hadir dan mengaminkan mereka.[5]

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do’akan Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Al-Musnad (VI/322 cet. Al-Maktab al-Islami), Shahiih Muslim kitab al-Janaa-iz bab Maa Yuqaalu ‘indal Mariidh wal Mayyit (II/633 no. 919 (6) dengan lafazhnya), Jaami’ at-Tirmidzi bab al-Janaa-iz bab Maa Jaa-a fii Talqiinil Mariidh ‘indal Maut wad Du’aa’ lahu (IV/46 no. 984), as-Sunan al-Kubraa karya al-Baihaqi kitab al-Janaa-iz bab ar-Raghbah fii an Yata’azza bi Maa Amarallaahu bimaa Ta’ala (IV/107 no. 7124).
[2] Untuk menunjukkan keraguan, karena yang dimaksud de-ngan jenazah di sini adalah orang sakit juga. Maka, salah satu di antara perawi merasa ragu antara menggunakan lafazh orang sakit atau jenazah.
[3] Untuk menyatakan macam, maksudnya bahwa yang dimaksud dari perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kebaikan adalah bagi orang yang menjenguk orang sakit atau jenazah.
[4] Mirqaatul Mafaatiih (IV/84) dengan diringkas dan sedikit perubahan.
[5] Syarh an-Nawawi (VI/222).

sumber: https://almanhaj.or.id/4203-malaikat-mengaminkan-yang-diucapkan-di-dekat-orang-yang-sakit.html

Adab Menjawab Salam

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا


“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Maka balaslah salam saudaramu dgn yg lebih baik atau minimal serupa.

Jika saudaramu memberi salam “Assalaamu’alaikum” maka jawaban yg serupa adalah
“Wa’alaikum Assalaam” atau jika disambung “Wa’alaikumussalam”.

Jika jawabannya “Wa’alaikum salam” maka itu belum serupa karena “Assalaam” lebih tinggi daripada “Salam”.

(Faedah dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc حفظه الله)

Sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/753

Suka Berdusta

Al Hasan bin Sahl rohimahullah berkata,

الكذاب لِصّ
‏لأن اللص يسرقُ مالك
‏والكذاب يسرقُ عقلك
‏ولا تأمن مَنْ كذب لك
‏أنْ يَكذِب عليك
‏ومن اغتاب غيرَك عندك
‏فلا تأمَنْ أن يغتابَك عند غيرك

“Tukang dusta itu pencuri.
Pencuri mencuri hartamu, sedangkan tukang dusta mencuri akalmu..

Jangan merasa aman dari orang yang berdusta untuk keuntunganmu, karena ia bisa berdusta untuk merugikanmu..

Dan orang yang meng-ghibahi orang lain di sisimu, jangan merasa aman dari (dia) meng-ghibahi dirimu di hadapan orang lain..”

(Zahrul Adab 1/386)

Tinggalkanlah orang yang suka berdusta..
Jangan jadikan ia sebagai sehabatmu..
Karena ia adalah seburuk buruk teman yang menemanimu..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/category/bbg-kajian/abu-yahya-badru-salam/page/17

Jangan Suka Memprovokasi Sesama Muslim

Di antara perbuatan tercela yang merusak persaudaraan, merusak persatuan, mengganggu stabilitas dan merupakan perbuatan setan, adalah tahrisy atau provokasi sesama Muslim.

Definisi tahrisy

Al Baghawi mengatakan:

التحريش : إيقاع الخصومة والخشونة بينهم

“Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104).

Ibnu Atsir mengatakan:

التحريش : الإغراء بين الناس بعضهم ببعض

“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).

Tahrisy adalah perbuatan setan

Provokasi antara sesama Muslim atau tahrisy adalah perbuatan setan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ على الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ منه مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فيقول: ما صَنَعْتَ شيئا، قال ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فيقول: ما تَرَكْتُهُ حتى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قال: فَيُدْنِيهِ منه، وَيَقُولُ: نِعْمَ أنت فَيلتَزمُهُ

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian ia mengutus para tentaranya. Tentara iblis yang paling bawah adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) nya. Salah satu tentara iblis berkata: saya telah melakukan ini dan itu. Maka iblis mengatakan: kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian tentara iblis yang lain datang dan berkata: Aku tidak meninggalkan seseorang kecuali setelah ia berpisah dengan istrinya. Maka tentara iblis ini pun didekatkan kepada iblis. Lalu iblis berkata: kamulah yang terbaik, teruslah lakukan itu” (HR. Muslim no. 2813).

Dalam hadits ini juga setan melakukan tahrisy sehingga suami dan istri saling berpisah.

Tahrisy termasuk namimah

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan:

النميمة على قسمين: تارة تكون على وجه التحريش بين الناس وتفريق قلوب المؤمنين فهذا حرام متفق عليه

“Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371, Asy Syamilah).

Apa itu namimah? Adz Dzahabi mengatakan:

والنمام هو الذي ينقل الحديث بين الناس وبين اثنين بما يؤذي أحدهما أو يوحش قلبه على صاحبه أو صديقه بأن يقول له قال عنك فلان كذا وكذا

“Nammam (pelaku namimah) adalah orang yang menukil perkataan dari satu orang ke orang lain atau antara dua orang untuk menimbulkan gangguan pada salah satunya, atau memprovokasi salah satu dari mereka terhadap yang lain atau terhadap temannya. Yaitu dengan mengatakan: ‘si Fulan mengatakan tentang kamu demikian dan demikian’” (Al Kabair, 217).

Contohnya, si A berkomunikasi dengan B via whatsapp, lalu B menyebutkan sesuatu yang kurang bagus tentang C. A lalu screenshot chat dari B tersebut kemudian di kirim kepada C, ini namimah!! Allahul musta’an.

Dan namimah ini merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,yang banyak mencela, yang kian ke mari menebar namimah” (QS. Al Qalam: 10-11).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga pelaku namimah” (HR. Muslim no. 105).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mendengar rintihan orang yang disiksa dalam kuburnya, beliau bersabda:

فقال يعذبان وما يعذبان في كبير وإنه لكبير كان أحدهما لا يستتر من البول وكان الآخر يمشي بالنميمة

“Dua orang ini sedang diadzab dalam kubur. Dan mereka tidak diadzab karena sesuatu yang mereka anggap besar, namun besar (di sisi Allah). Yang pertama di adzab karena tidak menutupi auratnya ketika buang air kecil, yang kedua diadzab karena melakukan namimah” (HR. Bukhari no. 216, Muslim no. 292).

Beliau juga bersabda:

إنَّ شرارَ عبادِ اللهِ من هذه الأُمَّةِ المشَّاؤونَ بالنميمةِ ، المُفرِّقون بين الأحبَّةِ الباغونَ للبُرآءِ العنتَ

“Seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang suka melakukan namima. Ia memisahkan orang-orang yang saling mencintai, pengkhianat terhadap orang-orang yang baik” (HR. Ahmad, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2849).

Ahlul hikmah mengatakan:

النَّمَّامُ شُؤْمٌ لَا تَنْزِلُ الرَّحمة على قوم هو فيهم

“Tukang namimah (adu domba) adalah racun yang membuat suatu kaum tidak mendapat rahmat Allah selama masih ada mereka”.

Maka hendaknya jauhkan diri kita dari tahrisy dan juga namimah, karena ini perbuatan yang sangat busuk dan tercela.

Dekatkan bukan jauhkan

Maka ketika dua pihak dari kaum Muslimin sedang bertikai, maka wajib mengusahakan perdamaian antara keduanya bukan malah memprovokasi. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

“Dan damaikanlah orang yang berselisih di antara kalian” (QS. Al Anfal: 1).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أُخبِرُكم بأفضلَ من درجةِ الصيامِ والصلاةِ والصدقةِ ؟ قالوا : بلى . قال : صلاحُ ذاتِ البَيْنِ ، فإنَّ فسادَ ذاتِ البَيْنِ هي الحالقةُ

“Maukah kalian aku kabarkan amalan yang menyamai derajat puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat menjawab: tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda: mendamaikan orang-orang yang berseteru. Karena orang semakin merusak keadaan orang-orang yang berseteru, dialah pembuat kebinasaan” (HR. At Tirmidzi no. 2509, ia berkata: “shahih”).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

وظيفة المسلم مع إخوانه، أن يكون هيِّنًا ليِّنًا بالقول وبالفعل؛ لأنَّ هذا مما يُوجب المودَّة والأُلْفَة بين الناس، وهذه الأُلْفَة والمودَّة أمرٌ مطلوبٌ للشَّرع، ولهذا نهى النَّبيُّ عليه الصلاة والسلام عن كل ما يُوجب العداوة والبغضاء

“Tugas setiap muslim terhadap saudaranya adalah hendaknya ia berlapang-lapang dan berlemah lembut dalam perkataan dan perbuatan. Karena inilah yang menimbulkan kecintaan dan keterikatan hati di antara manusia. Dan kecintaan serta keterikatan hati ini adalah perkara yang dituntut dalam syariat. Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melarang semua hal yang bisa menimbulkan permusuhan dan saling membenci” (Syarah Riyadis Shalihin, 2/544).

Maka ketika ada saudara seiman yang berselisih, damaikan bukan provokasi, dekatkan bukan jauhkan. Semoga Allah memberi taufik.

***

Diringkas dari forum ahlalhdeeth.com tulisan Abu Abdillah Hamzah An Naili dengan beberapa tambahan

Penyusun: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/35351-jangan-suka-memprovokasi-sesama-muslim.html