3 Pilar Keluarga Sakinah dari Surah Al-Ahzab

Surah Al-Ahzab dalam Juz 22 memberikan panduan komprehensif bagi setiap Muslim untuk membangun rumah tangga yang penuh keberkahan. Keteladanan istri-istri Nabi ﷺ menjadi kunci utama dalam memahami bagaimana menjaga kesucian hati dan kehormatan keluarga. Dengan memahami tiga pilar utama dalam surah ini, kita dapat mewujudkan keluarga sakinah yang tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga selamat hingga akhirat.

1. Pilar Visi: Orientasi Akhirat di Atas Materi

Pilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesamaan visi antara suami dan istri. Keluarga sakinah tidak dibangun di atas tumpukan harta semata, melainkan di atas fondasi keridaan Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 28-29:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)

وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)

Pelajaran dari Ayat Takhyir:

Ayat ini dikenal sebagai ayat takhyir (pilihan). Ketika istri-istri Nabi ﷺ diminta memilih antara kemewahan dunia atau Allah dan Rasul-Nya, mereka dengan tegas memilih Allah dan kehidupan akhirat. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan rumah tangga dimulai dari hati yang tidak diperbudak oleh materi.

Aplikasi Praktis:

Rumah tangga akan terasa tenang jika suami dan istri tidak menjadikan standar “kebahagiaan” hanya pada pencapaian materi. Jika visi sudah searah menuju akhirat, maka ujian ekonomi atau kesederhanaan hidup tidak akan menggoyahkan keharmonisan dan rasa syukur di antara keduanya.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku beri kalian mut‘ah (pemberian), lalu aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 28)

Ketika para istri Rasulullah ﷺ berkumpul karena rasa cemburu, mereka meminta tambahan nafkah dan pakaian kepada beliau. Mereka meminta sesuatu yang tidak selalu mampu beliau penuhi setiap saat. Mereka terus menyampaikan permintaan tersebut secara bersama-sama dan bersikap keras dalam keinginan mereka. Hal ini terasa berat bagi Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya beliau bersumpah untuk tidak mendatangi mereka selama satu bulan.

Allah kemudian menghendaki untuk memudahkan urusan Rasul-Nya, sekaligus meninggikan kedudukan para istri beliau dan menjauhkan mereka dari sesuatu yang dapat mengurangi pahala mereka. Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberikan pilihan kepada mereka.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia…”

Maksudnya, jika dunia menjadi tujuan utama kalian—kalian merasa puas ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya—maka aku tidak membutuhkan kebersamaan dengan kalian dalam keadaan seperti itu.

فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ

“Maka kemarilah, akan aku beri kalian suatu pemberian dari apa yang aku miliki di dunia ini.”

وَأُسَرِّحْكُنَّ

“Lalu aku akan melepaskan kalian,” yaitu menceraikan kalian.

سَرَاحًا جَمِيلًا

Dengan cara yang baik,” tanpa kemarahan dan tanpa saling mencela, tetapi dengan kelapangan hati dan ketenangan jiwa, sebelum keadaan berkembang menjadi sesuatu yang tidak pantas terjadi.

Allah Ta’ala berfirman,

Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 29)

Maksudnya, jika yang kalian inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan kehidupan akhirat—dan itu menjadi tujuan serta harapan terbesar kalian—maka apabila kalian telah mendapatkan Allah, Rasul-Nya, dan surga, kalian tidak akan mempermasalahkan apakah dunia itu sempit atau luas, mudah atau sulit. Kalian akan merasa cukup dengan apa yang dapat diberikan Rasulullah ﷺ dan tidak akan menuntut sesuatu yang memberatkan beliau.

Karena itu Allah berfirman,

فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.”

Allah menggantungkan pahala tersebut pada sifat ihsan, karena itulah sebab yang mendatangkan pahala tersebut. Bukan semata-mata karena mereka adalah istri Rasulullah. Kedudukan sebagai istri Nabi saja tidak cukup dan tidak memberi manfaat jika tidak disertai dengan ihsan.

Maka Rasulullah ﷺ memberikan pilihan tersebut kepada mereka. Ternyata seluruhnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Tidak ada satu pun dari mereka yang memilih selain itu. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Dalam pilihan ini terdapat banyak hikmah, di antaranya:

  • Menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya dan kecemburuan-Nya agar beliau tidak berada dalam keadaan yang berat karena banyaknya tuntutan dunia dari para istrinya.
  • Rasulullah ﷺ menjadi terbebas dari beban tuntutan hak-hak duniawi para istri, sehingga beliau tetap memiliki kebebasan dalam dirinya; jika beliau ingin memberi maka beliau memberi, dan jika tidak maka beliau tidak memberi.
  • Menjaga Rasulullah ﷺ dari kemungkinan adanya istri yang lebih mengutamakan dunia daripada Allah, Rasul-Nya, dan akhirat.
  • Menjaga para istri beliau dari dosa dan dari kemungkinan mendapatkan murka Allah dan Rasul-Nya.
  • Dengan pilihan ini Allah memutus sebab yang dapat menimbulkan ketidakpuasan kepada Rasulullah ﷺ—yang dapat menyebabkan kemurkaan beliau dan pada akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah serta hukuman-Nya.
  • Menampakkan kemuliaan dan tingginya derajat para istri Nabi, serta menunjukkan tingginya cita-cita mereka, karena yang mereka inginkan adalah Allah, Rasul-Nya, dan akhirat, bukan dunia dan segala kesenangannya.
  • Pilihan mereka ini menjadi sebab bertambahnya pahala dan dilipatgandakannya balasan bagi mereka, serta menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun.
  • Tampak kesesuaian antara Rasulullah ﷺ dan para istri beliau, karena beliau adalah manusia paling sempurna. Allah menghendaki agar para istrinya juga menjadi wanita-wanita yang baik dan menyempurnakan kebaikan.

Sebagaimana firman Allah:

وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik.” (QS. An-Nur: 26)

  • Pilihan ini mendorong mereka untuk bersikap qana‘ah (merasa cukup). Dengan qana‘ah, hati menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hilanglah sifat tamak serta ketidakpuasan yang dapat membuat hati gelisah, penuh kegundahan, dan kesedihan.
  • Pilihan mereka tersebut juga menjadi sebab bertambahnya pahala mereka dan menjadikan mereka berada pada kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lainnya.

Kisah Istri Nabi Meminta Tambahan Nafkah (Ayat Takhyir)

Ada sebuah kisah masyhur yang melibatkan para istri Nabi ﷺ yang pernah berkumpul untuk meminta tambahan nafkah (fasilitas duniawi) kepada Rasulullah ﷺ. Kisah ini menjadi latar belakang turunnya Ayat Takhyir (Ayat Pilihan) dalam Surah Al-Ahzab.

Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi pasangan suami-istri, terutama di era sekarang, tentang bagaimana menyikapi tuntutan ekonomi dalam rumah tangga.

Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu ia mendapati banyak orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, dan tidak seorang pun diizinkan masuk. Namun Abu Bakar diberi izin, lalu ia pun masuk.

Setelah itu Umar datang dan meminta izin, lalu ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, sementara istri-istri beliau berada di sekelilingnya. Saat itu Rasulullah ﷺ tampak diam dan murung, tidak berbicara.

Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu agar Nabi ﷺ tersenyum.”

Lalu ia berkata,

 يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَ بِنْتَ خَارِجَةَ، سَأَلَتْنِي النَّفَقَةَ، فَقُمْتُ إِلَيْهَا، فَوَجَأْتُ عُنُقَهَا.

“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah (istri Umar, Habibah binti Kharijah). Ia meminta nafkah kepadaku, lalu aku berdiri menghampirinya dan menegur keras.”

Mendengar itu Rasulullah ﷺ tertawa, lalu bersabda,

هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ.

“Mereka ini, sebagaimana yang engkau lihat, berada di sekelilingku dan meminta (tambahan) nafkah dariku.”

فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلَاهُمَا يَقُولُ: تَسْأَلْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟!

Mendengar hal itu, Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan menegur keras ia. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan menegur keras ia. Keduanya berkata, “Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki?!”

Maka para istri Nabi ﷺ berkata,

وَاللَّهِ لَا نَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ.

“Demi Allah, kami tidak akan pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang tidak beliau miliki.”

Setelah kejadian itu, Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari para istri beliau selama satu bulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat berikut kepada beliau:

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepada kalian kesenangan dunia dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sungguh Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi siapa pun di antara kalian yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahzab: 28–29)

Rasulullah ﷺ memulai dari Aisyah. Beliau bersabda,

يَا عَائِشَةُ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَعْرِضَ عَلَيْكِ أَمْرًا، أُحِبُّ أَنْ لَا تَعْجَلِي فِيهِ حَتَّى تَسْتَشِيرِي أَبَوَيْكِ.

“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku berharap engkau tidak tergesa-gesa dalam menanggapinya sampai engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”

Aisyah bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”

Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat tersebut kepadanya. Aisyah pun berkata,

أَفِيكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَسْتَشِيرُ أَبَوَيَّ؟ بَلْ أَخْتَارُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ.

وَأَسْأَلُكَ أَنْ لَا تُخْبِرَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِكَ بِالَّذِي قُلْتُ.

“Apakah dalam perkara tentang engkau ini aku harus meminta pendapat kedua orang tuaku, wahai Rasulullah? Bahkan aku memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.”

Kemudian Aisyah berkata, “Aku memohon kepadamu agar engkau tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku sampaikan ini.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا تَسْأَلُنِي امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ إِلَّا أَخْبَرْتُهَا، إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Tidak ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahunya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan atau mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik yang memudahkan.”

(HR. Muslim no. 1478; juga diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Abu Ya’la dengan sedikit perbedaan lafaz. Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu).

Pelajaran dari Kisah Ayat Takhyir

  1. Validasi Perasaan Manusiawi: Protes atau keinginan akan perbaikan ekonomi adalah hal yang manusiawi, bahkan pernah terjadi di rumah tangga termulia. Namun, syariat mengajarkan cara menyikapinya.
  2. Memilih Visi Akhirat: Para istri Nabi akhirnya serempak memilih Allah dan Rasul-Nya meskipun harus hidup sederhana. Ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan.
  3. Keadilan dalam Nafkah: Rasulullah ﷺ tidak marah dengan kekerasan, melainkan memberikan pilihan yang adil secara hukum fikih (menetap dengan qanaah atau berpisah secara baik).
  4. Bahaya Membandingkan Hidup: Konflik tersebut dipicu karena para istri melihat “standar hidup” orang lain yang meningkat. Di era media sosial, ini adalah pengingat keras agar tidak silau dengan lifestyle orang lain sehingga menekan pasangan di luar kemampuannya.

2. Pilar Adab: Menjaga Kesucian Interaksi

Pilar kedua adalah penjagaan kehormatan (iffah). Surah Al-Ahzab sangat menekankan bagaimana interaksi dengan lawan jenis diatur secara ketat demi menjaga kesucian hati suami, istri, maupun orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab pada ayat-ayat berikut ini ,

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Adab Lisan dan Hijab:

Adab Lisan (Ayat 32): Istri-istri Nabi dilarang melembut-lembutkan suara kepada laki-laki asing agar tidak timbul fitnah bagi orang yang memiliki penyakit dalam hatinya.

Adab Hijab (Ayat 53 & 59): Allah memerintahkan adanya batasan (hijab) dan mengenakan jilbab secara sempurna. Allah menegaskan bahwa cara ini “lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Aplikasi Praktis:

Keluarga sakinah akan terjaga jika suami dan istri sama-sama menjaga adab pergaulan di luar rumah, termasuk dalam menjaga lisan dan pandangan di media sosial. Menutup pintu-pintu fitnah adalah kunci utama agar rasa percaya dan kasih sayang tetap murni.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 32 di atas sebagai berikut:

Wahai istri-istri Nabi, kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai istri-istri Nabi,” yaitu seruan yang ditujukan kepada mereka semua.

“Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain, jika kalian bertakwa kepada Allah.” Dengan ketakwaan itu, kedudukan kalian lebih tinggi daripada wanita-wanita lainnya, dan tidak ada wanita yang dapat menyamai kalian. Karena itu sempurnakanlah ketakwaan dengan semua sarana dan tujuannya.

Oleh sebab itu Allah membimbing mereka untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan. Allah berfirman:

“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” yaitu ketika berbicara dengan laki-laki atau ketika mereka dapat mendengar suara kalian. Jangan sampai kalian berbicara dengan nada yang lembut dan halus yang dapat mengundang dan menimbulkan keinginan.

“Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” yaitu penyakit syahwat zina. Orang seperti ini selalu siap terseret oleh hal yang paling kecil sekalipun yang dapat menggerakkan syahwatnya, karena hatinya tidak sehat. Adapun hati yang sehat tidak memiliki keinginan terhadap apa yang Allah haramkan. Sebab-sebab seperti itu hampir tidak mampu menggoyahkannya atau menggerakkannya karena hatinya sehat dan selamat dari penyakit.

Berbeda dengan orang yang hatinya sakit. Ia tidak mampu menahan diri sebagaimana orang yang hatinya sehat, dan tidak mampu bersabar sebagaimana kesabaran orang yang sehat. Ketika ada sebab kecil yang mengajaknya kepada yang haram, ia segera memenuhi dorongan tersebut dan tidak mampu menolaknya.

Ini menunjukkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Melembutkan suara dalam berbicara pada asalnya adalah perkara yang mubah. Namun karena hal itu dapat menjadi sarana menuju yang haram, maka ia dilarang. Karena itu, seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki tidak boleh melembutkan ucapannya.

Ketika Allah melarang mereka melembutkan suara dalam berbicara, mungkin ada yang menyangka bahwa mereka diperintahkan untuk berbicara dengan kasar. Maka Allah menolak anggapan ini dengan firman-Nya:

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik,” yaitu ucapan yang tidak kasar dan tidak kaku, namun juga tidak lembut dan merendahkan diri.

Perhatikan bagaimana Allah berfirman:

“Janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara,” dan tidak mengatakan, “janganlah kalian berbicara dengan lembut.”

Sebab yang dilarang adalah kelembutan ucapan yang mengandung sikap tunduk dan merendahkan diri seorang wanita kepada laki-laki. Orang yang bersikap seperti ini biasanya menimbulkan keinginan pada pihak lain. Berbeda dengan ucapan yang lembut tetapi tidak mengandung ketundukan, bahkan terkadang mengandung wibawa atau ketegasan kepada lawan bicara. Dalam keadaan seperti ini, lawan bicara tidak akan berani berharap sesuatu darinya.

Karena itu Allah memuji Rasul-Nya dengan kelembutan, sebagaimana firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)

Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Firman Allah: “Sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi berkeinginan,” bersama dengan perintah untuk menjaga kemaluan, pujian kepada orang-orang yang menjaga kemaluannya, serta larangan mendekati zina, menunjukkan bahwa seorang hamba jika melihat pada dirinya keadaan seperti ini—yaitu hatinya mudah tergoda melakukan yang haram ketika melihat atau mendengar ucapan dari orang yang ia sukai, dan ia merasakan dorongan untuk melakukan yang haram—maka hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah penyakit.

Karena itu hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk melemahkan penyakit tersebut, memutus lintasan pikiran yang buruk, dan berjuang melawan dirinya agar hatinya selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Ia juga hendaknya memohon kepada Allah agar diberi penjagaan dan taufik. Hal itu termasuk bagian dari menjaga kemaluan yang diperintahkan oleh Allah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 53 di atas sebagai berikut:

Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar beradab kepada Rasulullah ﷺ ketika memasuki rumah beliau. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian diizinkan untuk makan.”

Maksudnya, janganlah kalian memasuki rumah beliau tanpa izin untuk masuk ke dalamnya karena suatu undangan makan. Kalian juga tidak boleh menunggu-nunggu masaknya makanan, yaitu duduk menunggu hingga makanan matang atau menunggu dengan berlama-lama setelah selesai makan.

Maknanya, kalian tidak boleh memasuki rumah Nabi kecuali dengan dua syarat:

  • pertama, kalian mendapatkan izin untuk masuk;
  • kedua, kalian duduk hanya sekadar sesuai kebutuhan.

Karena itu Allah berfirman:

وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ

“Akan tetapi jika kalian diundang maka masuklah. Setelah kalian selesai makan maka bertebaranlah, dan jangan berlama-lama untuk berbincang-bincang.”

Maksudnya, jangan berlama-lama sebelum makan ataupun setelahnya.

Kemudian Allah menjelaskan hikmah dan manfaat dari larangan tersebut. Allah berfirman:

إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ

“Sesungguhnya hal itu menyakiti Nabi.”

Artinya, menunggu terlalu lama tanpa kebutuhan membuat Nabi merasa terbebani dan merasa berat karena kalian menahan beliau dari urusan rumah tangganya serta kesibukan beliau di dalamnya.

فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ

“Dan beliau merasa malu kepada kalian.”

Beliau merasa malu untuk mengatakan kepada kalian, “Keluarlah.” Sebab biasanya manusia—terutama orang yang dermawan—merasa malu untuk mengusir orang dari rumah mereka.

Namun Allah berfirman:

وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

“Dan Allah tidak malu menyampaikan kebenaran.”

Perintah syariat, meskipun kadang disangka bahwa meninggalkannya lebih menunjukkan adab atau rasa malu, tetap harus dijalankan. Sikap yang paling benar adalah mengikuti perintah syariat. Hendaknya diyakini bahwa apa pun yang menyelisihinya bukanlah adab yang benar. Allah tidak malu memerintahkan sesuatu yang membawa kebaikan bagi kalian dan memberikan kemudahan bagi Rasul-Nya.

Ini adalah adab mereka ketika memasuki rumah Nabi. Adapun adab ketika berbicara dengan istri-istri beliau, maka terkadang ada kebutuhan untuk berbicara dengan mereka dan terkadang tidak.

Jika tidak ada kebutuhan, maka tidak perlu berbicara dengan mereka, dan adab yang baik adalah meninggalkannya. Namun jika ada kebutuhan, misalnya meminta suatu barang atau peralatan rumah tangga dan sejenisnya, maka hendaklah mereka meminta:

مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

“Dari balik tabir.”

Artinya, ada penghalang antara kalian dan mereka yang menutupi pandangan, karena tidak ada kebutuhan untuk saling melihat.

Dengan demikian, memandang mereka dilarang dalam segala keadaan. Adapun berbicara dengan mereka ada perinciannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah.

Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya dengan firman-Nya:

ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”

Sebab hal itu lebih jauh dari kecurigaan dan sebab-sebab yang mengarah kepada keburukan. Semakin seseorang menjauh dari sebab-sebab yang mengajak kepada kejahatan, maka itu lebih selamat baginya dan lebih membersihkan hatinya.

Karena itu termasuk aturan syariat yang dijelaskan Allah secara rinci adalah bahwa semua sarana, sebab, dan jalan menuju keburukan dilarang. Syariat juga menganjurkan untuk menjauhinya dengan berbagai cara.

Kemudian Allah menyampaikan satu kaidah yang bersifat umum:

وَمَا كَانَ لَكُمْ

“Dan tidak pantas bagi kalian,” wahai kaum mukminin, yaitu sesuatu yang tidak layak dan tidak baik bagi kalian, bahkan termasuk perbuatan yang sangat buruk,

أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ

“Untuk menyakiti Rasulullah,” baik dengan ucapan maupun perbuatan, dalam segala hal yang berkaitan dengan beliau.

وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا

“Dan tidak pula menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat selamanya.”

Hal itu termasuk perbuatan yang menyakiti beliau. Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang agung, tinggi, dan mulia. Menikahi istri-istrinya setelah beliau wafat akan merusak kehormatan kedudukan tersebut.

Selain itu, mereka adalah istri-istri beliau di dunia dan di akhirat. Hubungan pernikahan tersebut tetap ada setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu tidak halal bagi siapa pun dari umat ini untuk menikahi istri-istri beliau setelah beliau wafat.

Allah berfirman:

إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

“Sesungguhnya hal itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

Umat ini telah menaati perintah tersebut dan menjauhi apa yang Allah larang dalam hal ini. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 59 di atas sebagai berikut:

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan para wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat ini dikenal sebagai ayat hijab. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh para wanita secara umum untuk berhijab, dan dimulai dari istri-istri beliau serta anak-anak perempuan beliau, karena mereka lebih ditekankan daripada yang lainnya. Selain itu, seseorang yang memerintahkan orang lain seharusnya memulai dari keluarganya terlebih dahulu sebelum orang lain.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian biasa, seperti selendang besar, kerudung, atau kain penutup dan sejenisnya. Maksudnya, mereka menutupi wajah dan dada mereka dengan jilbab tersebut.

Kemudian Allah menjelaskan hikmahnya:

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ

“Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa gangguan bisa terjadi jika mereka tidak menutup diri. Sebab jika mereka tidak berhijab, bisa saja orang mengira bahwa mereka bukan wanita yang menjaga kehormatan. Orang yang di dalam hatinya ada penyakit bisa saja mengganggu mereka. Bahkan mungkin mereka diremehkan dan disangka sebagai budak perempuan sehingga orang yang berniat buruk akan meremehkan mereka.

Karena itu berhijab dapat memutus harapan orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap mereka.

Allah kemudian berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Artinya, Allah mengampuni kesalahan yang telah lalu dan merahmati kalian dengan menjelaskan hukum-hukum kepada kalian serta menerangkan mana yang halal dan mana yang haram. Ini merupakan penutupan pintu keburukan dari sisi para wanita.

3. Pilar Aktivitas: Menghidupkan Ilmu dan Ibadah di Rumah

Pilar ketiga adalah menjadikan rumah sebagai madrasah, bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat atau mencari hiburan kosong.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 33-34:

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)

Amal Saleh dan Dakwah di Rumah:

Amal Saleh (Ayat 33): Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat disampaikan langsung dalam konteks kehidupan rumah tangga, menunjukkan bahwa ibadah adalah rutinitas utama penghuni rumah.

Dakwah & Ilmu (Ayat 34): Istri Nabi diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta hikmah (Sunnah) yang dibacakan di rumah mereka.

Aplikasi Praktis:

Hidupkan suasana rumah dengan tilawah Al-Qur’an, rutin mengadakan kajian ilmu agama bersama pasangan, dan berjamaah dalam melakukan ketaatan. Rumah yang bercahaya dengan ilmu dan dzikir akan melahirkan ketenangan (sakinah) yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 33 di atas sebagai berikut:

Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian,” yaitu menetaplah di dalam rumah, karena hal itu lebih aman dan lebih menjaga diri kalian.

“Dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya orang-orang Jahiliah dahulu,” yaitu jangan sering keluar rumah dalam keadaan berhias atau memakai wewangian seperti kebiasaan masyarakat Jahiliah dahulu yang tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki agama. Semua perintah ini bertujuan untuk menutup jalan menuju keburukan dan sebab-sebabnya.

Ketika Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum, dan juga menyebutkan beberapa bentuk ketakwaan secara khusus—karena kaum wanita sangat membutuhkan penjelasan tersebut—Allah juga memerintahkan mereka untuk taat, terutama dalam menegakkan shalat dan menunaikan zakat.

Kedua ibadah ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Keduanya termasuk ibadah yang paling besar dan ketaatan yang paling agung. Dalam salat terdapat keikhlasan kepada Allah yang disembah, sedangkan dalam zakat terdapat kebaikan kepada sesama manusia.

Kemudian Allah memerintahkan ketaatan secara umum dengan firman-Nya:

وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk semua perintah yang diberikan oleh keduanya, baik yang bersifat wajib maupun yang dianjurkan.

Kemudian Allah berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ

“Sesungguhnya Allah menghendaki,” melalui perintah-perintah yang Dia berikan dan larangan-larangan yang Dia tetapkan kepada kalian,

لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ

“untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran,” yaitu gangguan, keburukan, dan segala yang buruk,

يَا أَهْلَ الْبَيْتِ

“wahai Ahlul Bait,”

وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya,” sehingga kalian menjadi orang-orang yang bersih dan disucikan.

Karena itu hendaklah kalian memuji Rabb kalian dan bersyukur kepada-Nya atas perintah dan larangan ini. Allah telah menjelaskan kepada kalian bahwa semua itu adalah demi kebaikan kalian sendiri. Allah tidak bermaksud menjadikan hal itu sebagai kesulitan atau beban bagi kalian, tetapi agar jiwa kalian menjadi bersih, akhlak kalian menjadi suci, amal kalian menjadi baik, dan pahala kalian menjadi semakin besar.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat 34 di atas sebagai berikut:

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)

Setelah Allah memerintahkan mereka untuk beramal—yang mencakup melakukan perintah dan meninggalkan larangan—Allah juga memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu serta menjelaskan jalan untuk mendapatkannya.

Allah berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.”

Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah Al-Qur’an. Sedangkan hikmah adalah rahasia-rahasianya dan juga Sunnah Rasulullah ﷺ.

Perintah untuk mengingatnya mencakup mengingat lafaznya dengan cara membacanya, mengingat maknanya dengan mentadabburi dan memikirkannya, menggali hukum-hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya, serta mengingat untuk mengamalkan dan menerapkannya.

Kemudian Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”

Allah mengetahui rahasia segala perkara, apa yang tersembunyi di dalam hati, serta segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, termasuk amal-amal yang tampak maupun yang tersembunyi.

Kelembutan dan pengetahuan Allah menuntut agar mereka bersungguh-sungguh dalam berbuat ikhlas dan menyembunyikan amal-amal mereka, karena Allah akan membalas setiap amal tersebut.

Di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Allah menggiring hamba-Nya menuju kebaikan dan menjaganya dari keburukan melalui cara-cara yang halus dan tidak disadari oleh hamba tersebut. Allah juga mengalirkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka, serta memperlihatkan kepadanya berbagai sebab yang kadang tidak disukai oleh jiwa, tetapi justru menjadi jalan baginya untuk mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia.

Kesimpulan

Membangun keluarga sakinah menuntut kerja sama antara suami dan istri untuk menjaga visi akhirat, memelihara adab, dan terus belajar agama. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk meneladani rumah tangga Rasulullah ﷺ.

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic 
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic 

—–

Malam Kamis, 23 Ramadhan 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/41538-3-pilar-keluarga-sakinah-dari-surah-al-ahzab.html

Wahai Perokok, Takutlah Doa Orang yang Terdzalimi

Kepada saudaraku para perokok, Maaf, kami hanya memberikan saran atau kalau bisa dibilang nasehat, karena hidup ini adalah saling menasehati dan terkadang nasehat itu seperti obat:
“Pahit ditelan tapi menyembuhkan”

Tentu kami selalu mendoakan saudaraku kami para perokok agar segera bisa berhenti total merokok untuk kebaikan dirinya, kebaikan istri, anak bayi dan keluarganya. Kami pun sangat yakin hati kecil anda sangat ingin berhenti merokok, semoga Amda dimudahkan

Saudaraku para perokok, kami tidak bisa melarang kalian merokok secara total, tapi perhatikan sekeliling anda sebelum merokok, karena semua orang mengakui bahwa bau asap rokok itu sangat mengganggu bagi orang lain. Coba perhatikan beberapa tempat yang “dilarang merokok” atau “ada ruangan khusus untuk perokok”

Kenapa ada ruang khusus? Ya karena semua sepakat rokok dan asap rokok MENGANGGU dan MENDZALIMI orang lain

Ada di antara mereka yang langsung mual dan pusing hanya karena mencium sedikit baru rokok

Ada juga yang harus menyingkir jauh setelah duduk-duduk enak di sebuah tempat, hanya karena anda dengan santai menyalakan rokok dan menghembuskan sisa dari mulut anda untuk dihirup ke orang lain

Sebagian orang harus membawa jauh anak kecil dan bayinya karena anda tiba-tiba merokok dengan santai di sekitat mereka

Belum lagi yang merokok sambil naik motor di mana abu, api kecil dan asapnya menganggu penggendara yang lainnya

Saudaraku para perokok, tidak kah engkau khawatir mereka yang merasa terganggu dengan asap rokokmu itu tiba-tiba berdoa kejelekan pada-mu, entah itu mereka panjatkan doa jelek itu sengaja atau tidak sangaja karena mungkin jengkel.

Ketahuilah, doa orang yang terdzalimi dikabulkan oleh Allah.

Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.

“Ada tiga doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang doaa ini: (1) doa kedua orang tua terhadap anaknya (2) doa musafir (3) doa orang yang dizhalimi.”[HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 32]

Hendaknya hati-hati, jika hidup anda tenang-tenang saja karena bisa jadi doa jelek itu dikabulkan di kemudian hari, bisa jadi di masa tuamu, atau doa kejelekan itu menimpa keluarga dan hartamu esok atau yang lebih mengerikan, akan menjadi keburukan di hari kiamat. Entah berapa orang yang telah terzalimi yang engkau harus minta diputihkan dengan pahalamu dan bangkrut di kemudiannya.

Sebagaimana pertanyaan pada pada fatwa berikut:

: هل دعوة المظلوم مستجابة في الدنيا أم أنها قد تؤجل في الآخرة؟

“Apalah doa orang yang terdzalimi mustajab di dunia atau mustajab diakhirkan di akhirat kelak?”

Jawabannya bisa jadi dikabulkan di dunia dan bisa juga di akhirat:

واستجابة الدعوة إما أن تكون بتحقق المطلوب، أو أن يدفع عنه من السوء مثلها مما كان مقدرًا عليه، أو يدخر له من الأجر مثلها يوم القيامة؛

“Terkabulnya doa bisa jadi terwujud apa yanh diminta (di dunia) atau dapat mencegah keburukan sesuai kadar doa atau disimpan untuk sebagai pahala di hari kiamat” [Fatwa Al-Lajnah no. 25144]

Saudaraku para perokok, kami telah menulis beberapa hal terkait rokok dan hukumnya. Semoga dengan membacanya anda dimudahkan meninggalkan selamanya

Berikut tulisan tersebut:

1. https://muslimafiyah.com/ramadhan-momen-berhenti-merokok-selamanya.html

2. https://muslimafiyah.com/ancaman-hukuman-bagi-perokok-di-akhirat.html

3. https://kesehatanmuslim.com/sudah-jelas-berbahaya-hukum-rokok-pasti-haram/

4. https://muslimafiyah.com/merokok-membatalkan-puasa-tetapi-inhaler-dan-nebulizer-tidak-membatalkan.html

Demikian semoga bermanfaat

@ Antara Langit dan Bumi Allah, Pesawat Garuda Yogyakarta – Jakarta – Banjarmasin

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

sumber : https://muslimafiyah.com/wahai-perokok-takutlah-doa-orang-yang-terdzalimi.html?

Keutamaan Puasa Asyura

Catatan: puasa tasu’ah 1448H bertepatan dengan hari Rabu, 24 Juni 2026. Adapun puasa Asyura 1448H bertepatan dengan hari Kamis, 25 Agustus 2026.

Apa saja keutamaan puasa Asyura? Puasa Asyura ini dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram dan lebih baik jika ditambahkan pada hari kesembilan.

Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura yang semestinya kita tahu sehingga semangat melakukan puasa tersebut.

1- Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, itu menunjukkan kemuliaan bulan tersebut. Ath Thibiy mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa di syahrullah yaitu puasa Asyura. Sedangkan Al Qori mengatakan bahwa hadits di atas yang dimaksudkan adalah seluruh bulan Muharram. Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 2: 532. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhol untuk berpuasa. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 50.

Hadits di atas menunjukkan keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura.

2- Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil sebagaimana beliau penerangkan masalah pengampunan dosa ini dalam pembahasan wudhu. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 46.

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501

3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah)

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Kata Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14.

Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Majmu’ Al Fatawa, Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim (Ibnu Taimiyah), terbitan Darul Wafa dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Al Hafizh Abu ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Muharram 1435 H menjelang Zhuhur.

Sumber https://rumaysho.com/3750-keutamaan-puasa-asyura.html

Kesuksesan Setan Adalah Berhasil Menceraikan Suami-Istri

Terdapat hadits bahwa Iblis memuji setan yang berhasil menceraikan suami-istri, sedangkan setan lainya telah melakukan sesuatu tetapi Iblis  tidak mengapresiasi hasilnya.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (
untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Jadi perceraian sangat disukai oleh Iblis dan hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” [Faidhul Qadiir II/408]

Kerugian akibat perceraian lainnya:[1] Rumah tangga adalah miniatur masyarakat dan bangasa, jika rumah tangga tidak harmonis maka akan berpengaruh juga ke kehidupan masyarakat[2] Anak-anak akan menjadi korban, sering melihat pertengkaran di rumah tangga, kurang perhatian dan pendidikannya. Bisa jadi anak tersebut menjadi nakal dan inilah tujuan besar setan

Beberapa cara agar rumah tangga harmonis dan semoga dijauhkan sejauh-jauhnya dari perceraian:[1] Sering-sering mengingat kebaikan pasangan dan melupakan serta buang jauh-jauh ingatan kekurangan pasangan, ini lebih baik daripada saling memikirkan kekurangan. Pasangan hidup adalah cerminan kita karena janji Allah yang baik akan mendapat yang baik-baik juga dan sebaliknya.[2] Sama-sama mengenang kembali masa-masa indah di awal pernikahan, mengapa anda memilihnya dan ingat kembali kebaikan-kebaikan pasangan yang telah dijalani. Jika anda memilih bukan karena agama dan akhlaknya, masih ada waktu untuk bertaubat dan segera saling memperbaiki[3] Saling menenangkan jika salah satu ada yang marah duluan, salah satu berusaha bersabar dan menenagkan dahulu karena emosi itu umumnya sesaat saja.

Abu Darda’ berkata kepada istrinya Ummu Darda’.

إذا غضبت أرضيتك وإذا غضبت فارضيني فإنك إن لم تفعلي ذلك فما أسرع ما نفترق ثم قال إبراهيم لبقية يا أخي وكان يؤاخيه هكذا الإخوان إن لم يكونوا كذا ما أسرع ما يفترقون

“Jika kamu sedang marah, maka aku akan membuatmu jadi ridha dan Apabila aku sedang marah, maka buatlah aku ridha dan. Jika tidak maka kita tidak akan menyatu. Kemudian Ibrahim berkata kepada Baqiyah “Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu, maka mereka akan segera berpisah”. (Tarikh Damasyqus 70/151)[4] Bangun komunikasi yang baik, kebanyakan cerai karena tidak ada komunikasi yang baik. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak mengena di hati, ia akan pendam, kemudian ia akan balas perbuatan tersebut pada pasangannya. Pada dasarnya kecintaan suami-istri itu sangat besar sekali, komunikasi yang tidak baik membuatnya terkikis secara perlahan-lahan. sebagaimana firman Allah,

وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan Allah menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang” (Ar-Ruum: 21)[5] Jika memang sulit melakukan komunikasi dan saling berbaikan, maka komunikasi bisa melalui pihak ketiga (misalnya dari keluarga) yang disegani oleh kedua suami-istri sebagai penengah. Inilah petunjuk dalam Al-Quran.

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (An-Nisa: 35)[6] Penekanan khusus bagi suami, anda adalah pemimpin rumah tangga. Laki-laki dikaruniai kelebihan atas wanita yaitu lebih tenang dan lebih bijak menghadapi sesuatu. Suami harus yang lebih tenang dalam menghadapi problematika rumah tangga. Suami lebih sering memaklumi wanita yang “bengkok” dan sering-sering memperbaiki dan menasehati, seringnya wanita hanya emosi sesaat dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti suami, tetapi ketahuilah bahwa wanita itu sangat cinta suaminya, maka pelukan kepada istri sambil terus mendengarkan dan menenangkan adalah solusinya

Perhatikan juga para suami, Jika ada sesuatu yang tidak beres pada istri dan anak-anak bisa jadi akibat maksiat suami, maka intropeksi diri dan perbanyak istigfar

Sebagian ulama berkata,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

Demikian semoga bermanfaat

@Desa Pungka, Sumbawa Besar

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/kesuksesan-setan-adalah-berhasil-menceraikan-suami-istri.html

Keutamaan Menikahi Janda

Adakah keutamaan menikahi janda? Ataukah lebih baik dengan gadis saja?

Keutaman Menolong Para Janda

Dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ

Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.”(HR. Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982)

Termasuk dalam menolong para janda adalah dengan menikahi mereka. Namun janda manakah yang dimaksud?

Disebutkan dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim (18: 93-94), ada ulama yang mengatakan bahwa “armalah” yang disebut dalam hadits adalah wanita yang tidak memiliki suami, baik ia sudah menikah ataukah belum. Ada ulama pula yang menyatakan bahwa armalah adalah wanita yang diceraikan oleh suaminya.

Ada pendapat lain dari Ibnu Qutaibah bahwa disebut armalah karena kemiskinan, yaitu tidak ada lagi bekal nafkah yang ia miliki karena ketiadaan suami. Armalah bisa disebut untuk seseorang yang bekalnya tidak ada lagi. Demikian nukilan dari Imam Nawawi.

Pendapat terakhir itulah yang penulis cendrungi.

Dari pendapat terakhir tersebut, janda yang punya keutamaan untuk disantuni adalah janda yang ditinggal mati suami atau janda yang diceraikan dan sulit untuk menanggung nafkah untuk keluarga. Adapun janda kaya, tidak termasuk di dalamnya.

Keutamaan Menikahi Janda yang Ditinggal Mati Suami dan Memiliki Anak Yatim

Kita tahu bersama bahwa anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya. Anak seperti inilah yang dikatakan yatim dan punya keutamaan untuk ditolong karena penanggung nafkahnya -yaitu ayahnya- sudah tiada. Jika ada yang menikahi janda karena ingin menolong anaknya, maka ia akan dapat keutamaan besar menyantuni anak yatim.

Dari Sahl ibnu Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا » . وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.”   [Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, namun beliau regangkan antara keduanya]. (HR. Bukhari no. 5304).

Menikahi Janda ataukah Perawan?

Walau memang menikahi perawan ada keutamaannya. Namun menikahi janda tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan ada pria yang membutuhkan janda dibanding gadis perawan. Semisal seorang pria ingin mencari wanita yang lebih dewasa darinya sehingga bisa mengurus adik-adiknya. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia pernah berkata,

تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَقِيتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا جَابِرُ تَزَوَّجْتَ ». قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ « بِكْرٌ أَمْ ثَيِّبٌ ». قُلْتُ ثَيِّبٌ. قَالَ « فَهَلاَّ بِكْرًا تُلاَعِبُهَا ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى أَخَوَاتٍ فَخَشِيتُ أَنْ تَدْخُلَ بَيْنِى وَبَيْنَهُنَّ. قَالَ « فَذَاكَ إِذًا. إِنَّ الْمَرْأَةَ تُنْكَحُ عَلَى دِينِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »

Aku pernah menikahi seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bertanya, “Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Ia menjawab, “Iya sudah.” “Yang kau nikahi gadis ataukah janda?”, tanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun menjawab, “Janda.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja, bukankah engkau bisa bersenang-senang dengannya?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Aku khawatir jika menikahi perawan malah nanti ia sibuk bermain dengan saudara-saudara perempuanku. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu berarti alasanmu. Ingatlah, wanita itu dinikahi karena seseorang memandang agama, harta, dan kecantikannya. Pilihlah yang baik agamanya, engkau pasti menuai keberuntungan.” (HR. Muslim no. 715)

Namun dengan catatan di sini tetap memandang janda yang punya agama yang baik, bukan sembarang janda.

Semoga bermanfaat.

Ayo para jomblo yang mau menikah, atau para pria yang ingin menambah istri lagi, silakan menimbang para janda sebagai pilihan. Para janda pun selalu menanti pertolongan kalian.

Disusun di pagi hari @ Pesantren Darush Sholihin, 1 Dzulqo’dah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/8582-keutamaan-menikahi-janda.html

Kebiasaan Bakar Sampah Mengganggu Pemukiman & Jalan Padat?

Ada kebiasaan yang mungkin dianggap biasa padahal cukup menganggu terutama dari sisi kesehatan, yaitu kebiasaan, hobi bahkan setiap hari bakar sampah di daerah pemukiman dan jalan padat

Asapnya tentu cukup mengganggu, misalnya ada yang alergi dengan asap, ada yang jemurannya jadi bau, ada yang sedang jalan pagi atau olahraga pagi ingin mnghirup udara segar jadi sesak karena asap

Ada yang punya bayi dan anak kecil, asap ini sangat bahaya bagi kesehatan anak dan bayi apabila terpapar setiap hari karena orang sekitar atau tetangga sebelah rumah bakar sampah tiap hari

Solusi yang pertama, memang butuh kesabaran, karena mengubah kebiasaan yang sudah mengakar ini cukup sulit.

Kedua, perlu komunikasi yg efektif dan melibatkn pak RT dan kepala lingkungan, untuk memfasilitasi hal ini karema kebiasaan membakar sampah di pemukiman dan menganggu orang lain itu tidak boleh dan diatur oleh undang-undang (bisa di-googling)

Kebiasaan bakar sampah ini bisa jadi karena koordinasi pengambilan sampah dan pengumpulan sampah yg kurang terfasilitasi, jadi sampah yang ada umummya dibakar

Perlu ada koordinasi yg baik dgn RT, RW dan kepala lingkungan agar sampah dikelola dgn baik, diambil secara berkala di rumah-rumah dan dikumpulkan, lalu di olah atau kalau dibakar di tempat yg aman serta jauh dari pemukiman. Perly sosisalisasi yang baik bahwa ada undang-undang yg mengatur bakar sampah agar tidak menganggu

Bagi yang sering bakar sampah, perhatikan kondisi sekitar. Ingat juga hadits jangan sampai memberikan gangguan pada tetangga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari 6016 dan Muslim 46).

Ada juga hadits tentang larangan memberikan gangguan di jalan, asap dijalan bisa jadi menganggu pengguna jalan.


Demikian, Semoga bermanfaat.

@ Lombok, pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/kebiasaan-bakar-sampah-mengganggu-pemukan-jalan-padat.html

Riba Bank & Pinjol Sekarang Lebih Kejam dari Riba Jahiliyah

Fenomena pinjol (pinjaman online) semakin hari semakin laku saja di tengah masyarakat. Berkat kemudahan yang ditawarkan, orang-orang yang berniat meminjam uang tanpa ribet tak perlu untuk berpikir panjang. Dua tiga kali klik melalui smartphone kita, maka tidak lama uang yang kita inginkan masuk ke rekening kita. Tak heran jika pelanggan pinjol ini tidak mengenal umur.

Tetapi tak ada yang untung tanpa resiko buntung. Sama halnya dengan bank, kedua-duanya menawarkan fasilitas peminjaman uang dengan bunga tertentu. Artinya, ketika kita meminjam uang melalui bank ataupun pinjol, maka keduanya akan menambahkan dalam daftar tagihan sejumlah tertentu melebihi dari jumlah uang yang kita pinjam.

Pada sisi itulah mengapa meminjam uang melalui bank dan pinjol, menjadi sangat berat dan beresiko buntung. Pada sisi itu pulalah mengapa transaksi tersebut tergolong sebagai perbuatan riba, yaitu ketika ada keuntungan tambahan yang didapat oleh pihak yang meminjamkan melebihi pinjaman uangnya kepada pihak yang meminjam. Berkenaan dengan hutang piutang, para ulama membuat kaidah,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan (keuntungan), maka itu adalah riba.” (Lihat Al Majmu’ Al Fatawa, 29/533)

Semua orang yang terlibat langsung dalam praktik riba, baik pemakan ribanya atau yang memberi makan dengan ribanya, semuanya terkena laknat. Laknat itu artinya jauh dari rahmat Allah. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim, no. 2995)

Asalnya transaksi hutang piutang adalah bentuk tolong menolong, tetapi jika dipersyaratkan adanya tambahan maka di situlah terjadi riba, dan hal ini merupakan tindakan memakan harta orang lain secara batil yang tidak diragukan lagi merupakan kekejaman dan kezhaliman.

Namun ada satu hal yang cukup mencengangkan yaitu riba di zaman jahiliyah ternyata tidak lebih kejam dari pada riba yang banyak dipraktikkan di zaman ini. Pada praktik riba jahiliyah, nominal hutang tidak akan bertambah sedikit pun jika pihak yang berhutang bisa melunasi hutangnya pada saat jatuh tempo. Hutang akan berbunga jika pihak yang berhutang tidak bisa melunasi hutangnya tepat waktu lalu mendapatkan penangguhan waktu pembayaran melebihi tempo pertama. Sedangkan pada riba modern, sejak hutang jatuh tempo pertama sudah diwajikan membayarkan tambahan. Ketika masuk tempo kedua, maka tambahan akan semakin banyak lagi.

Misalnya, pinjam uang 1jt dengan tempo 1 bulan. Pada riba jahiliyah, jika bisa melunasi sebelum melebihi tempo maka tak ada tambahan, pengembalian tetap 1jt. Jika tidak bisa melunasi, maka pada bulan kedua baru hutang bertambah menjadi 1,2jt. Sedangkan pada riba modern, sejak awal meminjam telah ditetapkan 1 bulan pelunasan harus mengembalikan sejumlah 1,2jt.

Inilah yang membuat riba modern yang umumnya diterapkan oleh bank dan pinjol lebih kejam dari riba jahiliyah. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari praktik riba yang terlaknat.

Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber : https://muslimafiyah.com/riba-bank-pinjol-sekarang-lebih-kejam-dari-riba-jahiliyah.html

Temanmu, Cerminan Dirimu

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas seluruh nikmat yang telah Dia berikan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti sunnah-sunnah Nabi hingga akhir zaman.

Saudariku yang dikasihi Allah, manusia adalah makhluk sosial yang sudah fitrahnya membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Setiap manusia tidak akan bisa hidup sendirian tanpa berinteraksi dengan manusia lain disekitar dirinya. Bahkan ketika wafat pun kita tetap membutuhkan orang lain untuk menutup mata kita. Kita butuh keluarga, saudara, dan tetangga. Selain itu, kita juga membutuhkan seorang teman yang bisa saling membantu dan membawa kita menuju arah yang lebih baik.

Dalam islam, faktor memilih teman sangat dititik-beratkan. Kita tentu tidak ingin salah dalam memilih teman karena seorang teman memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita baik di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, sangatlah penting bersikap selektif dalam mencari teman. Allah subhanahu wa ta’alaa telah mengisyaratkan mengenai pengaruh dan peranan teman dalam hidup kita. Allah ta’alaa berfirman:

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS.At Taubah:119).

4 Jenis Teman dalam Kehidupan
Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupannya tentu membutuhkan orang lain, termasuk memiliki seorang teman. Berteman merupakan hal yang lumrah dilakukan manusia selaku makhluk sosial. Ibnul Qoyyim rahimahullah membagi teman dalam 4 jenis yaitu:

1. Teman bergaul bagaikan makanan yang tidak dapat ditinggalkan walaupun sehari Mereka adalah para ulama dan teman-teman yang shalih. Bergaul dengan kelompok seperti ini akan membawa keuntungan yang besar baik di dunia maupun akhirat. Mereka akan mengajarkan tentang hal-hal yang bermanfaat dalam perkara dunia dan agama, memberikan nasihat-nasihat, mengingatkan tentang perkara yang haram dilakukan, senantiasa memotivasi untuk terus giat beribadah kepada Allah, berbakti kepada orangtua dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Tentu saja mereka tidak lupa untuk mendoakan kebaikan-kebaikan atas dirimu. Teman seperti ini lah yang harus dijadikan sebagai seorang teman.

2. Teman bergaul bagaikan obat yang dibutuhkan saat sakit
Maksudnya mereka adalah teman yang kita butuhkan dalam memenuhi keperluan hidup kita dan selalu berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari seperti teman sekolah, teman kampus, rekan kerja, kerabat dan tetangga. Contohnya ketika diperkuliahan tentu kita membutuhkan teman dalam kerja kelompok untuk berdiskusi agar terpecahnya permasalahan dalam tugas yang diberikan.

3. Teman bergaul bagaikan penyakit dengan berbagai tingkatan dan macamnya
Berteman dengan teman seperti ini tentu tidak mendatangkan kebaikan bagi diri kita di dunia, terlebih lagi di akhirat. Mereka akan mengajak kita dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, penuh kebathilan dan berakhlak buruk seperti malas belajar, suka membicarakan keburukan orang lain (ghibah), iri dengki, suka mengadu domba, mengumbar permusuhan dan lain-lain.

4. Teman bergaul bagaikan racun yang membawa kebinasaan
Teman seperti ini yaitu mereka yang membawa kita tergelincir di jalan Allah, orang yang menyeru kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, gemar melakukan perbuatan dosa dan maksiat, tidak takut untuk melakukan dosa besar, menggoda kita untuk lalai menjalankan segala perintah Allah hingga menjerumuskan kita dalam perbuatan buruk dan tercela. Teman seperti inilah yang harus dijauhi agar kita terkena racun yang akan membawa kebinasaan pada diri kita (Bada’iul Fawaid,340-341)

Apa sih beda teman kenal dan teman dekat?
Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita melakukan interaksi dengan orang lain baik itu dengan keluarga, sanak saudara, rekan kerja, teman-teman di sekolah atau kampus, tetangga maupun lingkungan sekitar kita berada. Dari sana kita memiliki relasi pertemanan yang begitu banyak sehingga mereka kenal dan dekat dengan diri kita. Tetapi ketahuilah teman kenal dan teman dekat itu ternyata berbeda, Saudariku. Teman kenal adalah seseorang yang bertemu dan berkenalan dengan kita dalam beberapa waktu sebentar saja atau karena pernah melakukan pekerjaan yang sama dalam suatu urusan tertentu. Misalnya kita mengenal seorang fulanah yang selalu mengajarkan tentang ilmu agama dalam suatu majelis ilmu.

Sedangkan teman dekat adalah teman yang senantiasa bersamamu dalam suka dan duka. Mereka yang mengetahui segala sifatmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam segala kekuranganmu, mereka yang menegur dan menasihatimu dengan lemah lembut ketika bersalah, mereka yang selalu mengingatkanmu tidak hanya tentang perkara dunia tetapi juga akhirat, mereka yang membantumu dalam menghadapi kesulitan dan musibah yang menghampiri dirimu dan mereka yang mendoakan kebaikan untuk dirimu secara diam-diam.

Seorang teman dekat juga bisa menjadi cerminan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Terkadang untuk melihat baik dan buruknya agama seseorang dengan cara melihat temannya, bila temannya baik, maka insyaa Allah baik pula diri kita, begitupun sebaliknya. Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).

Dalam sebuah hadits lain, Rasululah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan seorang teman yang baik dengan penjual minyak kasturi dan teman yang buruk dengan tukang pandai besi. Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan berteman dengan orang-orang yang shalih, pelaku kebaikan, orang-orang yang memiliki wibawa, akhlak yang mulia, sifat wara’, ilmu serta adab. Sekaligus juga terdapat larangan untuk bergaul dengan para pelaku kejelekan dan kebid’ahan serta siapa saja yang suka mengghibah (membicarakan kejelekan orang lain tanpa sepengetahuannya), banyak melakukan keburukan, kebathilan, serta sifat-sifat tercela lainnya” (Syarah Shahih Muslim, 4/227)

Tips Memilih Teman Dekat
Saudariku, ketahuilah bahwa tidak semua orang layak dijadikan sebagai teman dekat. Karena itu orang yang dijadikan teman harus memiliki sifat-sifat yang menunjang pertemanan tersebut. Kita tentu ingin memiliki pertemanan yang tidak hanya berorientasi pada dunia, tetapi juga untuk mencari manfaat untuk kepentingan akhirat kita, sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf, “Perbanyaklah teman, karena setiap orang Mukmin itu mempunyai syafaat”.

Ibnu Qudamah dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin (halaman 121-122) memberikan sifat orang yang baik kita pilih menjadi teman dekat harus memiliki lima sifat sebagai berikut:

1. Orang yang berakal. Karena akal (kepandaian) merupakan modal yang utama. Maksudnya mereka mengetahui segala sesuatu urusan tertentu sesuai dengan proporsinya sehingga mereka dapat memberikan pemahaman kepada kita atau kita bisa mengambil manfaat dari dirinya. Sedangkan berteman dengan orang yang jahil, tidak ada kebaikan yang diberikan dari dirinya. Bisa jadi ia hendak memberimu manfaat tapi justru memberimu mudharat.

2. Memiliki akhlak yang baik. Memiliki teman yang baik akhlaknya merupakan keharusan. Sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Dawud no. 4682 dan at-Tirmidzi no. 1163, at Tirmidzi mengatakan: “hadits hasan shahih”).

Sebab berapa banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsu, lalu dia tunduk kepada nafsunya, sehingga tidak ada manfaatnya bergaul dengannya.

3. Bukan orang yang fasik. Sebab orang fasik tidak pernah merasa takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah tentu akan melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah sehingga sewaktu-waktu orang lain tidak aman dari tipu dayanya.

4. Bukan ahli bid’ah. Pertemanan yang harus dihindari karena bid’ah yang dilakukannya. Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Hendaklah engkau mencari rekan-rekan yang jujur, niscaya engkau akan hidup aman dalam lindungannya. Mereka merupakan hiasan pada saat gembira dan hiburan pada saat berduka. Letakan urusan saudaramu pada tempat yang paling baik, hingga dia datang kepadamu untuk mengambil apa yang dititipkan kepadamu. Hindarilah musuhmu dan waspadailah temanmu kecuali orang yang bisa dipercaya. Tidak ada orang yang bisa dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah engkau berteman dengan orang keji, karena engkau bisa belajar dari kefasikannya. Jangan engkau bocorkan rahasiamu kepadanya dan mintalah pendapat dalam menghadapi masalahmu kepada orang-orang yang takut kepada Allah”.

5. Zuhud terhadap dunia. Teman yang baik yaitu mereka tidak akan menyibukkan diri dan mengajakmu dengan hal-hal yang bersifat duniawi serta tidak berambisi untuk mengejar kedudukan, pangkat, dan golongan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikap zuhud terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah tidak membutuhkan terhadap apa-apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah no.4102, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 944)

Saudariku yang dirahmati Allah, tentunya nikmat yang harus disyukuri yaitu memiliki teman-teman sholih yang mengingatkanmu akan akhirat di saat engkau lalai akibat hiruk-pikuk dunia. Semoga Allah menganugerahkan kita seorang teman yang tidak hanya mengingatkan tentang perkara dunia tetapi juga akhirat hingga reuni kembali di surga-Nya kelak dan Allah jauhkan kita dari teman yang membawa kita terjerumus dalam lembah hitam yang penuh kemaksiatan dan dosa.

***

Penulis: Ressa Ulimaz Amalia

Referensi:

  • Al Qur’anul Kariim dan terjemahannya
  • Bada’iul Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Dar al-Fikr, Beirut.
  • Mukhtasar Minhajul Qashidin (terjemahan), Ibnu Qudamah Al Maqdisy, Pustaka Al Kautsar, Jakarta.
  • Syarah Shahih Muslim (terjemahan), Imam an-Nawawi, Darus Sunnah, Jakarta.
  • Lihatlah Siapa Temanmu, Latifah Ummu Zaid, 2012, https://muslimah.or.id/2755-lihatlah-siapa-temanmu.html

Sumber: https://muslimah.or.id/10959-temanmu-cerminan-dirimu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

Diantara Cara Berterima Kasih Kepada Kedua Orang tua

Allah Ta’ala berfirman:

﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Barang siapa mendirikan salat lima waktu, maka sungguh ia telah bersyukur kepada Allah Ta’ala. Dan barang siapa mendoakan kedua orang tuanya pada setiap akhir salat, maka sungguh ia telah bersyukur (berterima kasih) kepada keduanya.”

(Tafsir Al-Qurthubi, 14/65)

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/74529

Keutamaan Sedekah Berupa Air Minum

Dalam sebuah hadits dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu’anhu, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ النبي صلى الله عليه وسلم نَعَمْ قُلْتُ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ سَقْيُ الْمَاءِ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu saya telah meninggal. Bolehkah saya bersedekah atas nama beliau?”. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Boleh”. Sa’ad bertanya lagi: “Sedekah apa yang paling utama, wahai Rasulullah?”. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Sedekah berupa air minum” (HR. An Nasa’i no.3666, dihasankan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).

Dalam riwayat lain terdapat tambahan:

قال الحسن: فتلك سِقَايَةُ آلِ سعدٍ بالمدينةِ

“Al Hasan Al Bashri mengatakan: itulah latar belakang adanya pengairan air dari Alu Sa’ad (keluarga Sa’ad bin ‘Ubadah dan keturunannya) di Madinah” (HR. Ahmad no.22459).

Bisa jadi inilah juga latar belakang banyak orang Arab yang suka bersedekah air minum dan juga banyak muhsinin (donatur) yang mewakafkan pembuatan sumur di banyak negara. Karena terdapat keutamaan yang besar dari sedekah berupa air. Dan karena air adalah unsur pokok dalam kehidupan manusia. Sehingga sedekah air memberikan manfaat yang besar bagi manusia. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ibnu Hibban dalam Al Majruhin [2/1], Ath Thabrani dalam Al Ausath [5787]. Dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.3289).

Demikian juga, kisah pezina yang memberi minum anjing yang kehausan juga diambil faedah oleh para ulama sebagai anjuran untuk bersedekah air. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

“Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245).

Istilah al muumisah dalam hadits disebutkan maknanya dalam Lisaanul Arab,

وامرأَةٌ مُومِسٌ ومُومِسَةٌ: فاجرة زانية تميل لمُرِيدِها

“Wanita muumis atau muumisah artinya: wanita ahli maksiat, pezina, yang menggoda orang-orang yang menginginkannya”.

Syaikh Musthafa Al ‘Adawi hafizhahullah menjelaskan,

و من أفضل الصدقات الجارية سقيا الماء. ألا ترى أن أصحاب النار سألوا أهل الجنة فقالوا : أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ. وهذا أيضا في فضل سقيا الماء

“Dan di antara sedekah jariyah yang paling utama adalah memberi sedekah air minum. Tidakkah anda melihat bahwa penghuni neraka meminta minuman kepada penghuni surga. Mereka (penghuni neraka) mengatakan: ‘Berikanlah kami curahan air kepada kami, atau apa saja yang Allah berikan kepada kalian’ (QS. Al A’raf: 50). Dan hadis ini juga menunjukkan keutamaan sedekah air minum [kemudian Syaikh membawakan hadis di atas]” (Fiqhu at Ta’amul ma’al Walidain, hal. 160).

Oleh karena itu hendaknya kita bersemangat untuk bersedekah berupa air. Baik berupa sedekah air minum, pembangunan air sumur, pengairan sawah dan ladang, dan semisalnya. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/13049-keutamaan-sedekah-berupa-air-minum.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id