Awal Mula Kasus Perselingkuhan di Kantor

Perselingkuhan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele, namun dibiarkan terus berkembang tanpa batasan. Di lingkungan kerja, interaksi antara laki-laki dan perempuan memang tidak bisa dihindari. Namun, di situlah letak ujian itu. Ketika komunikasi tidak dijaga dan batasan mulai dilonggarkan, maka pintu-pintu fitnah pun mulai terbuka.

Seorang laki-laki hendaknya tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi dengan perempuan, demikian pula sebaliknya. Bersikaplah tegas dan seperlunya. Jika memang terkait urusan pekerjaan, maka cukup sesuai kebutuhan. Tidak perlu bertele-tele, apalagi sampai mengakrabkan diri di luar batas profesional. Karena ketika obrolan sudah melebar dari urusan kerja, di situlah bibit-bibit perselingkuhan mulai muncul.

Perlu disadari, niat untuk berselingkuh pada awalnya sering kali tidak ada. Namun, keadaanlah yang perlahan mengantarkan seseorang ke arah sana. Ada ungkapan yang cukup menggambarkan hal ini: “Perselingkuhan bukan hanya karena niat, tetapi karena adanya kesempatan.”

Banyak kasus bermula dari hal sederhana: duduk bersama rekan kerja, mengobrol santai, atau sekadar saling berkirim pesan melalui WhatsApp. Awalnya hanya membahas pekerjaan, kemudian berlanjut pada keluhan bersama tentang kantor, lalu merembet ke urusan pribadi. Dari sini muncul rasa empati, merasa dipahami, lalu timbul rasa nyaman. Tanpa disadari, rasa nyaman itu berkembang menjadi ketertarikan, hingga akhirnya menyeret pada perselingkuhan.

Inilah cara setan memperdaya manusia: perlahan, bertahap, selangkah demi selangkah, tanpa disadari. Sering kali setan tidak langsung mendorong pada perbuatan keji yang besar, melainkan melalui tahapan yang membuat manusia merasa semuanya biasa saja.

Oleh karena itu, laki-laki harus waspada, karena wanita merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)

Perhatikan pula bahwa Bani Israil mengalami kerusakan, salah satunya disebabkan oleh wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Di sisi lain, seorang perempuan juga perlu menyadari hal ini. Jangan mudah membuka pintu kedekatan dengan laki-laki lain yang bukan mahram. Menjaga diri dari perselingkuhan bukan dimulai ketika godaan sudah besar, tetapi sejak awal dari hal-hal kecil yang sering diremehkan.

Artikel http://www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)

sumber: https://muslimafiyah.com/awal-mula-kasus-perselingkuhan-di-kantor.html

Siapakah Orang yang Paling Cerdas?

Seringkali kita, khususnya kami dan kita semua secara umum, perlu bercermin kepada para pendahulu dari kalangan orang-orang shalih, bagaimana mereka bisa melakukan sesuatu di atas pencapaian manusia normal pada umumnya?

Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, ia rela menahan rasa sakit di dadanya yang diletakkan di atasnya sebuah batu besar di tengah panasnya terik matahari di gurun pasir. Alasan besar apa yang membuatnya bertahan dengan rasa sakit itu?

Asiyah istri Fir’aun radhiyallahu ‘anha, tak gentar ketika harus disiksa karena perintah Fir’aun suaminya sendiri, padahal posisinya saat itu sebagai istri seorang raja dengan segenap kemewahannya. Alasan besar apa yang membuat ia berani mengambil keputusan lebih baik disiksa daripada tetap dalam kemewahan dunia?

‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, rela meninggalkan semua hartanya di Makkah pada saat ingin hijrah ke Madinah dan harus membangun ulang kehidupannya. Padahal ia bisa saja memilih tetap di Makkah untuk menikmati kekayaannya yang diidam-idamkan oleh manusia. Alasan besar apa yang membuatnya melakukan hal itu?

Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu, khalifah kaum muslimin di waktu itu, ia sampai-sampai tidak berani menggunakan lampu fasilitas negara untuk keperluan pribadinya. Alasan besar apa yang membuat ia melakukan hal itu padahal hal tersebut terlihat sangat sepele menurut orang-orang pada umumnya?

Perbuatan besar atau pencapaian yang tinggi pasti memiliki alasan yang juga besar di belakangnya. Siapa yang ingin bersusah payah jika tidak ada suatu hal yang lebih besar yang ingin dia capai yang bisa menggantikan kenikmatan yang padahal dia bisa nikmati waktu itu? Tentu ada alasan yang sangar luar biasa besar di balik itu, alasan tersebut disebutkan pada hadis berikut ini,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Kita fokuskan bahasan kita pada kalimat, “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”

Bilal bin Rabah, Asiyah istri Fir’aun, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz radhiyallahu ‘anhum ajma’in, mereka adalah di antara contoh orang-orang paling cerdas di dunia ini, kenapa?

Karena mereka memikirkan masa depan dengan sangat baik, mungkin beberapa orang di luar sana berkata, “Orang-orang sudah sampai ke bulan, kita di sini masih saja berbicara agama, ketinggalan zaman.”

Seandainya mereka mengetahui yang sebenarnya, mungkin mereka tidak akan berkata seperti itu, karena faktanya orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya, pengetahuan mereka melampaui bulan. Mereka tahu bulan dan matahari dan segala sesuatu di alam semesta ini bersujud dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka mengerti pada waktunya semua ini akan hancur, kecuali yang Allah kehendaki, dan tempat tinggal kita saat itu neraka atau surga, bukan di bulan, bukan Mars, atau planet-planet lainnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hajj ayat ke-18,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?”

Dengan menjadikan masa depan setelah kematian (akhirat) adalah alasan terbesar, ini secara otomatis akan membuahkan pencapaian-pencapaian luar biasa ketika masih di dunia.

Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, setelah melewati siksaan itu, ia menjadi orang yang sangat dimuliakan, status sosialnya naik melesat ke atas.

Asiyah istri Fir’aun radhiyallahu ‘anha, kisahnya diabadikan di dalam Al-Quran, sampai hari kiamat akan dibaca oleh orang-orang yang beriman.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, menjadi salah satu orang terkaya pada zamannya.

‘Umar bin ‘Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu, pada masa kepemimpinannya, rakyatnya benar-benar makmur, sampai-sampai tidak ada yang menerima zakat, karena semuanya sudah tercukupi.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, ibadah akan meningkat.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, semangat dan kualitas kerja akan semakin baik.

Dengan memperbanyak mengingat kematian, masalah kehidupan akan terasa ringan.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang cerdas. Aamiin.

***

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Sumber: https://muslimah.or.id/20924-orang-yang-paling-cerdas.html

Jangan Sombong dan Ujub Wahai Jiwa… Engkau ini Belumlah “Apa-Apa”

Hei kamu.. iya kamu, yang bernama jiwa manusia…
Kamu merasa sudah lama mengaji, banyak ilmu yang dikuasai, berasa otak cerdas sekali…
berduyun-duyun orang bertanya padamu sana-sini…
Lalu kamu ingin memuji diri?

Hei, fiqh perbandingan madzaahib apa sudah semuanya kau kuasai? Atau kau merasa ilmumu sepantaran Imam Al-Bukhari dan An-Nawawi? Hingga kamu merasa pintar sendiri? Kemudian kau membuat orang merasa bodoh dengan sikapmu yang “sok tinggi”.

Janganlah demikian…
Ilmu Allah laksana samudera tak bertepi. Pun di atas langit keilmuan seseorang, masih ada langit di atasnya lagi. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)

قيل إن العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم

“Ada yang berkata bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia menjadi tinggi hati (takabbur). Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa.” (Dinukil dari kitab Hilyah Thalibil ‘Ilmi, buah pena Syaikh Bakr ibn ‘Abdillaah Abu Zaid rahimahullaah).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

تواضع تكن كالنجم لاح لناظر # على صفحات الماء وهو رفيع

ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # على طبقات الجو وهو وضيع

“Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

Kamu, yang mengaku meniti Jalan Salaful ummah…
Coba lihat akhlakmu ini! Mulut kotor penuh hujatan, mencela, dan memaki! Mana sajakah dari akhlak mereka yang kau tepati? Coba kau hitung dengan jari! Pandai mengaku tapi tak jua baik budi!

وكل يدَّعي وصلاً بليلى …. وليلى لا تقر لهم بذاكا

“Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun Laila tak membenarkan pengakuan mereka.”

Janganlah demikian…
Pengakuan itu tidak hanya sekadar di lisan belaka, namun harus dibuktikan dengan amalan yang nyata wahai yang bernama jiwa…

Kamu.. yang sudah berpakaian syar’i..
Kamu melirik sinis ke akhawat baru mulai serius belajar agama, merendahkan mereka dengan gelagatmu yang membuat mereka jengah. Apa engkau mengira dirimu ini sudah shaalihah setengah mati ?!

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

..Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Janganlah demikian.. berpakaian syar’i tidak serta merta menjadikan diri kita seutuhnya baik dan suci. Bisa jadi di sisi lain mereka lebih baik darimu, karena ternyata, mungkin dianara yang berjilbab syar’i masih ada yang suka ber-ghibah tentang itu dan ini? Janganlah merasa surga sudah engkau booking sendiri.

Kamu, yang sudah menghafal Al-Qur’an seluruhnya…
Tak usahlah merasa paling hebat sedunia. Apa tajwidnya sudah benar kau terapkan dengan sempurna? Apa hafalanmu mencapai derajat “itqaan” di luar kepala?

Kamu, yang sudah menghafal hadits ribuan banyaknya…
Tidak perlu kau rasa otakmu paling kencling sejagat raya. Baiklah, kamu mungkin sudah berhasil menghafal sekaliber Shahih Bukhari. Tapi apakah kamu sudah menguasai dan menghafal berbagai kitab induk hadits lainnya? Lengkap dengan penjelasannya? Plus menguasai serba-serbi ilmu tentang haditsnya?

Janganlah demikian…
Sesungguhnya hafalanmu bukan untuk sekadar berbangga-bangga belaka. Apa engkau sudah mentadabburi isinya? Kau amalkan yang kau hafal dan baca? Belum tentu semua yang kau hafalkan, dapat benar-benar kau amalkan dalam kehidupan nyata. Berhati-hatilah tercabutnya nikmat hafalan itu semua, kala hatimu lengah mencari ridha manusia.

Kamu, yang pandai menghias bacaan Al-Qur’anmu…
Mungkin suaramu itu seperti Syaikh Musyari dan Syaikh Fahd Al-Kandari. Atau tajwidmu secermat Syaikh Al-Hudzaifi. Lantas kamu jadi pamer dan berbangga hati? Subhaanallah? membaca Al-Qur’an kok hanya ingin dipuji: “Maa Syaa Allaah…suara dan cengkok lagunya indah sekali…“.

Janganlah demikian…
Sesungguhnya memiliki suara indah hanyalah anugrah sekaligus fitnah dari Allah bagi diri. Jika kamu terus berbangga hati, bisa jadi nikmat suara indahmu nanti dicabut oleh Allah, hingga suaramu jadi sumbang, atau malah tak memiliki pita suara sama sekali [wal’iyaadzubillaah]. Syukurilah dan gunakan itu untuk menambah pahala bagi dirimu sendiri.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

… dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemadharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl : 53)

Kamu, si pintar dari universitas ternama…
Apa sih sumbangsihmu bagi negara dan agama? Tak usahlah kau jadi besar kepala! Kalaupun kau sudah menyumbang manfaat bagi sesama, belum tentu itu kan berbuah pahala. Iya, karena tendensimu ternyata tak lebih dari perkara dunia semata, bukan karena ikhlas mencari ridha-Nya.

Kamu, yang bisa baca kitab dan berbahasa arab…
Mengapa hal itu membuatmu begitu tinggi hati? Kesalahan wajar pemula kau caci maki. Bercerminlah terhadap diri, Apakah dahulu engkau tak pernah tersalah dalam belajar sama sekali?

Kamu, yang bergelimang harta…
Memandang orang tak punya dengan sebelah mata. Lagakmu itu bak dunia milik pribadimu saja. Untuk urusan sedekah, Subhaanallaah… begitu pelitnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Kamu, yang (katanya) berjihad di jalan Allah menegakkan agama-Nya…
Klaim mu telah “mengorbankan segalanya“. Belum tentu amalanmu diakui di sisi-Nya. Iya, karena dengan amalanmu, kamu berbuat ‘ujub dan riya! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

Kamu, penulis nasihat yang (katanya) bijak dan disukai…
Apa kau pikir tulisanmu itu paling cemerlang sendiri? Lalu kamu jadi berbangga hati? Merasa sudah jadi penasihat sejati? Amboi, berkacalah diri.. jangan-jangan kamu bak lilin yang membakarmu sendiri. Sudah menasihati tapi tak dijalani.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا شَأْنُكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟
فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, hingga usus perutnya terburai, lalu dia berputar-putar di dalam neraka seperti himar yang berputar-putar pada alat penggilingnya. Lalu para penghuni neraka mengerumuninya seraya bertanya, ‘Wahai Fulan, apa yang telah menimpamu? Bukankah engkau dahulu menyuruh kami kepada yang ma’ruf dan mencegah kami dari yang munkar?’ Dia menjawab, ‘Memang aku dulu menyuruh kalian kepada yang ma’ruf, tapi justru aku TIDAK melakukannya, dan aku mencegah kalian dari yang mungkar, tapi aku justru melakukannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ 

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu MENGATAKAN sesuatu yang kamu TIDAK KERJAKAN? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)

Kamu.. kamu… kamu… jangan sombong wahai jiwa…
Kamu.. kamu… kamu… jangan merasa ‘ujub dan riya duhai manusia…

Dengan segala kelebihan yang kau punya. Sejatinya kelebihanmu itu semua bak pisau bermata dua, yang dapat menghantarkanmu ke surga, atau menjerumuskanmu ke dalam neraka. Ya, karena kelebihanmu itu dapat menjadi karunia yang berbuah pahala, atau bencana yang berujung dosa.

***

Penulis: Fatihdaya Khoirani

Sumber: https://muslimah.or.id/6085-jangan-sombong-dan-ujub-wahai-jiwa-engkau-ini-belumlah-apa-apa.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Anak-anak Rusak karena Kelalaian Orang Tua

Dari sekian penyebab kerusakan pada anak dan generasi muda, penyebab utamanya adalah kelalaian orang tua dalam mendidik anak mereka. Sehingga ketika anak rusak, nakal atau tidak sesuai harapan, janganlah orang tua menyalahkan orang lain baik guru di sekolah atau yang dianggap merusak dan mempengaruhi anaknya. Akan tetapi segera orang tua introspeksi diri mereka.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.”[1]

Orang tua terlalu sibuk atau malas mendidik anak mereka, serta tidak mengawasi dengan siapa anak-anak bergaul yang bisa mempengaruhi anak-anak. Inilah yang menjadi penyebab rusaknya anak-anak dan generasi muda. Padahal anak-anak lahir dengan kepolosan dan di atas fitrah. Tidak ada yang lahir kemudian langsung nakal atau rusak akhlaknya.

Dua Hal Penting yang Harus Menjadi Perhatian:

  1. Orang tua harus mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, adab Islam, dan akhlak mulia.[2]

Jika tidak ada dasar agama, anak bisa jadi sukses dunia tetapi tidak memperhatikan bakti kepada kedua orang tua dan mempunyai adab yang buruk atau menelantarkan orang tua ketika mereka di usia tua.

Sebagaimana perkataan:

ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ, ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil maka aku pun mendurhakaimu di kala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil maka aku terlantarkan engkau di kala tua nanti.”

Anak yang baik agamanya akan berusaha berbakti kepada orang tua mereka.

  1. Orang tua harus memperhatikan baik-baik dengan siapa anak-anak bergaul dan lingkungannya.

Karena sebagian orang tua kaget, anak mereka baik di rumah tetapi menjadi rusak di luar rumah. Karena orang tua tidak melarang atau mengarahkan ketika anak berada di lingkungan atau pertemanan yang buruk. Anak-anak dan manusia secara umum sangat cepat terpengaruh dengan lingkungan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat kalian.”[3]

Sangat penting memperhatikan lingkungan dan pertemanan anak-anak kita. Hendaknya ayah sebagai kepala keluarga benar-benar memperhatikan hal ini. Introspeksi diri dan jauhi maksiat karena maksiat yang dilakukan suami bisa berdampak buruk pada istri dan anak-anaknya.

Sebagian ulama berkata:

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku, anak-anakku serta hewan tungganganku.”

Demikian, semoga bermanfaat.

@Di antara bumi dan langit Allah, Pesawat express Air Yogyakarta–Pontianak

Penyusun: Raehanul Bahraen


Catatan Kaki

[1] Kewajiban orang tua terutama bapak agar menjaga anak mereka dari api neraka yaitu dengan mengajarkannya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim:6). Ar-Razi menjelaskan, mengutip Muqatil: “Seorang muslim mendidik dirinya dan keluarganya, memerintahkan mereka pada kebaikan dan melarang dari keburukan.” – Mafaatihul Ghaib Tafsir Ar-Razi 30/527.

[2] Tuhfatul Maulud, hal. 387.

[3] HR. Abu Dawud no. 4833, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.

sumber: https://muslimafiyah.com/anak-anak-rusak-karena-kelalaian-orang-tua.html

Istikamah hingga Wafat: Disambut Malaikat dan Dijanjikan Surga

Banyak orang mengaku beriman, tetapi tidak semuanya mampu bertahan di atas jalan itu hingga akhir hayat. Padahal, janji besar menanti mereka yang istiqamah: disambut malaikat, dihilangkan rasa takut, dan diberi kabar gembira dengan surga. Lalu, seperti apa hakikat istiqamah yang benar hingga seseorang mendapatkan kemuliaan ini?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ berkata:

وَلَا يَزَالُ الْمَلَكُ يَقْرُبُ مِنَ الْعَبْدِ حَتَّى يَصِيرَ الْحُكْمُ وَالطَّاعَةُ وَالْغَلَبَةُ لَهُ، فَتَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ فِي حَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَعِنْدَ بَعْثِهِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

Malaikat terus-menerus mendekat kepada hamba, hingga pada akhirnya keputusan, ketaatan, dan dominasinya ada di pihak malaikat. Maka malaikat pun mengurusi hamba itu sepanjang hidupnya, saat kematiannya, dan ketika ia dibangkitkan kembali. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ – نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ}

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka: ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih; bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kamilah para wali kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’” (QS. Fushshilat: 30–31)

وَإِذَا تَوَلَّاهُ الْمَلَكُ تَوَلَّاهُ أَنْصَحُ الْخَلْقِ وَأَنْفَعُهُمْ وَأَبَرُّهُمْ، فَثَبَّتَهُ وَعَلَّمَهُ، وَقَوَّى جَنَانَهُ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ تَعَالَى: {إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا} [سُورَةُ الْأَنْفَالِ: ١٢] .

Apabila malaikat telah menjadi wali seorang hamba, maka ia akan berada di bawah pengayoman makhluk yang paling tulus, paling bermanfaat, dan paling baik baginya. Malaikat akan meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta‘ala akan menolongnya dengan firman-Nya:

{إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا}

“(Ingatlah) ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Anfāl: 12)

فَيَقُولُ الْمَلَكُ عِنْدَ الْمَوْتِ: لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ وَأَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، وَيُثَبِّتُهُ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَعِنْدَ الْمَوْتِ، وَفِي الْقَبْرِ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ.

Maka malaikat berkata kepada seorang mukmin ketika menjelang kematiannya:

“Jangan engkau takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan kabar yang membahagiakanmu.”

Ia meneguhkan hamba itu dengan qawl tsābit (ucapan yang teguh dan benar) pada saat yang paling ia butuhkan: saat di dunia, ketika sakratul maut, dan di dalam kubur ketika ditanyai.

فَلَيْسَ أَحَدٌ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ مِنْ صُحْبَةِ الْمَلَكِ لَهُ، وَهُوَ وَلِيُّهُ فِي يَقَظَتِهِ وَمَنَامِهِ، وَحَيَاتِهِ وَعِنْدَ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ، وَمُؤْنِسُهُ فِي وَحْشَتِهِ، وَصَاحِبُهُ فِي خَلْوَتِهِ، وَمُحَدِّثُهُ فِي سِرِّهِ، وَيُحَارِبُ عَنْهُ عَدُوَّهُ، وَيُدَافِعُ عَنْهُ وَيُعِينُهُ عَلَيْهِ، وَيَعِدُهُ بِالْخَيْرِ وَيُبَشِّرُهُ بِهِ، وَيُحِثُّهُ عَلَى التَّصْدِيقِ بِالْحَقِّ،

Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba melebihi kedekatan dan pendampingan malaikat. Dialah wali yang menyertainya ketika terjaga maupun tidur, saat hidup, ketika menghadapi kematian, dan di alam kuburnya. Malaikat adalah penghiburnya dalam kesepian, sahabatnya dalam kesendirian, penuntunnya dalam bisikan hati, pelindung yang memerangi musuhnya, membela dan menolongnya, memberi janji kebaikan dan menyampaikan kabar gembira, serta mendorongnya untuk membenarkan kebenaran.

Perkataan ini dicantumkan dalam buku yang kami susun yang membahas 55 dampak maksiat “Dosa itu Candu” yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho.

Tafsir Ayat: Istikamah sebagai Puncak Keimanan

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.‘” (QS. Fushshilat: 30)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

Allah Ta’ala berfirman tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya:

أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ

mereka yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, dan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah Allah syariatkan.

Istikamah Bukan Sekadar Ucapan

Al-Hafizh Abu Ya’la al-Maushili meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami al-Jarrah, telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah asy-Syu’airi, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Hazm, telah menceritakan kepada kami Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Kemudian beliau bersabda: “Sungguh, banyak orang yang telah mengucapkan kalimat ini, lalu sebagian besar dari mereka murtad. Maka barang siapa yang mengucapkannya hingga ia meninggal dunia, dialah yang benar-benar istikamah di atasnya.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab tafsirnya, al-Bazzar, dan Ibnu Jarir — dari Amr bin Ali al-Fallaas, dari Salm bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim pun meriwayatkannya dari ayahnya, dari al-Fallaas.

Para Sahabat Memaknai Istikamah

Kemudian Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa’d, dari Sa’id bin Nimran, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Maka Abu Bakar berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Kemudian diriwayatkan pula dari hadits al-Aswad bin Hilal, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat: “Apa pendapat kalian tentang ayat ini: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا)?”

Para sahabat menjawab: “(Maksudnya) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu istikamah dari dosa.”

Abu Bakar pun berkata: “Sungguh, kalian telah membawa ayat ini bukan pada tempat yang semestinya. (Maksudnya adalah) mereka mengucapkan ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka tidak menoleh kepada tuhan selain-Nya.”

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Mujahid, Ikrimah, as-Suddi, dan para ulama lainnya.

Ayat Paling Lapang Bagi Manusia

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah azh-Zhahrani, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Umar al-‘Adni, dari al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, ia berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya: “Ayat mana dalam Kitabullah yang paling memberikan keringanan (bagi manusia)?”

Ibnu Abbas menjawab: “Firman Allah: (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah di atas persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah.”

Istikamah Menurut Umar dan Para Ulama

Az-Zuhri berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat ini di atas mimbar, lalu berkata:

اسْتَقَامُوا – وَاللَّهِ – لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ.

“Mereka istikamah — demi Allah — dalam ketaatan kepada Allah, dan mereka tidak berbelok-belok seperti kebiasaan rubah.

Catatan:

Rubah dijadikan perumpamaan karena:

  • Ia tidak berjalan lurus, tapi sering zig-zag dan memutar
  • Gerakannya diam-diam dan penuh tipu daya
  • Tujuannya menghindari bahaya atau mengecoh lawan

Maka makna ucapan Umar bin Khattab: Orang yang istikamah itu lurus dalam ketaatan, tidak seperti rubah yang berkelok-kelok, plin-plan, dan mencari jalan untuk menghindari kebenaran.

Secara maknawi:

  • Tidak “main aman” saat berat menjalankan syariat
  • Tidak mencari-cari alasan untuk menyimpang
  • Tidak taat hanya ketika mudah

Jadi inti perumpamaan ini:

  • Istikamah = lurus, tegas, konsisten
  • Roghan ats-tsa‘ālib (gaya rubah) = licik, berkelok, tidak konsisten

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: (قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — yaitu istikamah dalam menunaikan segala kewajiban. Pendapat yang sama disampaikan oleh Qatadah.

Al-Hasan al-Bashri biasa berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا، فَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ

Allāhumma anta rabbunā, farzuqnā al-istiqāmah.

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istikamah.”

Abu al-‘Aliyah berkata: (ثُمَّ اسْتَقَامُوا) — maksudnya, mereka mengikhlaskan amal dan agama hanya untuk-Nya.

Wasiat Nabi: Cukup Dua Kata, Jaga Lisanmu

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Atha, dari Abdullah bin Sufyan ats-Tsaqafi, dari ayahnya; bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku suatu perkara dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikamahlah.” Aku bertanya: “Lalu apa yang paling aku hindari?” Maka beliau mengisyaratkan ke arah lisannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha.

Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Ma’iz al-Ghamidi, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh dengannya.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah,’ lalu istikalahlah.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?” Maka Rasulullah ﷺ memegang ujung lisannya sendiri, lalu bersabda: “Ini.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits az-Zuhri. At-Tirmidzi berkata: “Hasan sahih.” Muslim dalam Shahih-nya dan an-Nasa’i pun mengeluarkannya dari hadits Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada siapa pun setelahmu.” Beliau bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu istikalahlah.” Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut.

Malaikat Turun Membawa Kabar Gembira

Adapun firman Allah: (تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ), Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam, dan putranya berkata: Maksudnya adalah ketika menjelang kematian, dengan perkataan: (أَلَّا تَخَافُوا).

Mujahid, Ikrimah, dan Zaid bin Aslam berkata: Maksudnya adalah janganlah kalian takut terhadap apa yang akan kalian hadapi dari urusan akhirat. (وَلَا تَحْزَنُوا) — janganlah kalian bersedih atas apa yang kalian tinggalkan dari urusan dunia, berupa anak, keluarga, harta, atau utang, karena kami yang akan mengurus semuanya. (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ) — maka para malaikat membawa kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan datangnya kebaikan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya para malaikat berkata kepada ruh seorang mukmin: ‘Keluarlah, wahai ruh yang baik yang berada dalam jasad yang baik yang selama ini kamu huni. Keluarlah menuju kelapangan, wewangian, dan Tuhan yang tidak murka.’”

Kabar Gembira di Tiga Momen Agung

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat turun kepada mereka pada hari mereka keluar dari kubur. Hal ini dikutip oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas dan as-Suddi.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Muththahhar, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman: Aku mendengar Tsabit membacakan surah Hâ Mîm as-Sajdah hingga sampai pada ayat:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Lalu ia berhenti dan berkata: “Telah sampai kepada kami bahwa seorang hamba yang beriman, ketika Allah membangkitkannya dari kuburnya, ia disambut oleh dua malaikat yang selama ini menemaninya di dunia. Keduanya berkata kepadanya: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, (وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ).’ Maka Allah menghilangkan rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matanya. Tidaklah ada perkara besar yang ditakuti manusia pada hari kiamat, melainkan hal itu justru menjadi penyejuk mata bagi orang mukmin — berkat hidayah yang Allah berikan kepadanya dan berkat amal yang selalu ia kerjakan di dunia.”

Zaid bin Aslam berkata: “Para malaikat memberi kabar gembira kepadanya ketika ia meninggal dunia, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Pendapat inilah yang menghimpun seluruh pendapat yang ada, dan ini adalah pendapat yang sangat bagus — dan itulah yang memang terjadi.

Malaikat Mendampingi Mukmin dari Dunia hingga Surga

Allah Ta’ala berfirman,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian, dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta.” (QS. Fushshilat: 31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

Firman Allah, “Kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan juga di akhirat,”

تَقُولُ الْمَلَائِكَةُ لِلْمُؤْمِنِينَ عِنْدَ الِاحْتِضَارِ: نَحْنُ كُنَّا أَوْلِيَاءَكُمْ، أَيْ: قُرَنَاءَكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، نُسَدِّدُكُمْ وَنُوَفِّقُكُمْ، وَنَحْفَظُكُمْ بِأَمْرِ اللَّهِ، وَكَذَلِكَ نَكُونُ مَعَكُمْ فِي الْآخِرَةِ، نُؤْنِسُ مِنْكُمُ الْوَحْشَةَ فِي الْقُبُورِ، وَعِنْدَ النَّفْخَةِ فِي الصُّورِ، وَنُؤَمِّنُكُمْ يَوْمَ الْبَعْثِ وَالنُّشُورِ، وَنُجَاوِزُ بِكُمُ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، وَنُوصِلُكُمْ إِلَىٰ جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Para malaikat berkata kepada orang-orang beriman saat menjelang kematian, “Kami dulu adalah pelindung kalian, yaitu teman yang selalu menyertai kalian di kehidupan dunia. Kami membimbing kalian, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah.

Begitu juga di akhirat, kami akan tetap bersama kalian.

  • Kami akan menghilangkan rasa sepi kalian di dalam kubur,
  • mendampingi kalian saat tiupan sangkakala,
  • memberi rasa aman pada hari kebangkitan,
  • membantu kalian melewati jembatan shirath, dan
  • mengantarkan kalian sampai ke surga yang penuh kenikmatan.”

Firman-Nya, “Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang diinginkan oleh jiwa kalian,” maksudnya di surga kalian akan mendapatkan segala sesuatu yang kalian pilih, yang diinginkan oleh jiwa, dan yang menyejukkan pandangan mata.

Firman-Nya, “Dan di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian minta,” maksudnya apa pun yang kalian minta, semuanya akan kalian dapati dan dihadirkan di hadapan kalian sesuai yang kalian inginkan.

Amalkan doa ini,

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

ALLĀHUMMA LAKA ASLAMTU WA BIKA ĀMANTU WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU WA BIKA KHĀṢAMTU. ALLĀHUMMA INNĪ A’ŪDZU BI ‘IZZATIKA LĀ ILĀHA ILLĀ ANTA AN TUḌILLANĪ. ANTAL ḤAYYU ALLAŻĪ LĀ YAMŪTU, WAL JINNU WAL INSU YAMŪTŪN.

Artinya: “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertobat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu—tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau—dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Mahahidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.”[1]

[1] HR. Muslim, no. 2717, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

(Doa ini diambil dari kumpulan buku “50 Doa Mengatasi Problem Hidup” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 3 dan buku “50 Doa Penolong Saat Sulit” karya Muhammad Abduh Tuasikal, doa nomor 24)

Silakan dipesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang disebutkan di atas di Rumaysho Store pada WA: 0821-2000-0454 atau 0821-3626-7701

—-

Selesai disusun di Sekar Kedhaton, 27  Syawal 1447 H, 15 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/41998-istikamah-hingga-wafat-disambut-malaikat-dan-dijanjikan-surga.html

Larangan Mencabut Uban (Syariat dan Medis)

Kami teringat perkataan orang terdahulu mengenai filosofi uban:

“Jangan dicabut nak, itu peringatan agar kalian mulai meninggalkan dunia hitam baik banyak maupun sedikit”

Ternyata  dalam syariat ada larangan mencabut uban dan dari sisi medis dianjurkan agara mencabut uban jangan menjadi kebiasaan karena berpengaruh terhadap kesehatan.

Telah disebutkan juga dalam Al-Quran bahwa uban adalah fase kehidupan yang akan dilewati oleh manusia. Dan bisa jadi uban adalah salah satu bentuk peringatan bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sebentar lagi akan menghadap Allah, agar segera berbenah menyiapkan bekal akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Larangan Mencabut Uban dalam Islam

Hal ini berlaku baik orang tua maupun yang masih muda karena keumuman berbagai dalil.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan larangan mencabut uban. Baik sudah tua maupun masih muda. Di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat. Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam (dia muslim), maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ نُورًا لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنَّ رِجَالًا يَنْتِفُونَ الشَّيْبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَنْتِفْ نُورَهُ

Barangsiapa memiliki sehelai uban di jalan Allah (dia muslim), maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang mau, silahkan dia hilangkan cahayanya (baginya di hari kiamat).”[2]

Anjuran Medis Agar Tidak Mencabut Uban

Secara medisuban tidak bisa diobati, karena banyak yang mengambil jalan pintas agar mencabutnya. Kebiasaan mencabut uban bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Yaitu bisa membuat kerusakan pada folikel rambut dan saraf sekitar rambut, dapat juga menyebabkan infeksi pada bekas cabutan. Apalagi uban yang dicabut dalam jumlah yang cukup banyak dan sering.

Selain itu serignnya mencabut uban akan menggangu pertumbuhan rambut. Dari jumlah rambut akan berkurang sedikit demi sedikit. Kebiasaan mencabut juga akan mengganggu sinyal saraf yang
memproduksi warna rambut sehingga pertumbuhan dan warna rambut akanterganggu. Karena jumlah rambut terus berkurang dan uban bisa jadi tetap jumlahnya.

Hukum Mencabut Uban

Hukum mencabut uban di rambut adalah makruh sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi rahimahullah,

” يُكْرَهُ نَتْفُ الشَّيْبِ ، لِحَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ ، فَإِنَّهُ نُورُ الْمُسْلِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُمْ بِأَسَانِيدَ

Dimakruhkan mencabut uban, sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat.”[3]

Akan tetapi perlu dirinci hukumnya, karena uban yang dilarang dicabut yaitu uban yang ada di wajah juga meliputi jenggot, jambang dan kumis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعن الله الربا و آكله و موكله و كاتبه و شاهده و هم يعلمون و الواصلة و المستوصلة و الواشمة و المستوشمة و النامصة و المتنمصة

Allah melaknat riba, pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkannya (nasabah), orang yang mencatatnya (sekretaris) dan yang menjadi saksi dalam keadaan mereka mengetahui (bahwa itu riba). Allah juga melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambut, orang yang mentato dan yang meminta ditato, begitu pula orang yang mencabut rambut pada wajah dan yang meminta dicabut.”[4]

Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس

“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”[5]

Haram Mencabut Uban pada Jenggot

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya:

: ما حكم نتف الشيب من الرأس واللحية ؟

Apa Hukum mencabut uban pada rambut kepala dan jenggot?

Beliau menjawab:

فأجاب: أما من اللحية أو شعر الوجه فإنه حرام؛ لأن هذا من النمص، فإن النمص نتف شعر الوجه واللحية منه ، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه لعن النامصة والمتنمصة…أما إذا كان النتف من شعر الرأس فلا يصل إلى درجة التحريم لأنه ليس من النمص” انتهى

“Adapun pada jenggot atau rambut pada wajah, maka hukumnya haram karena termasuk dalam “Namsh” (mencabut yang dilarang). Karena terdapat hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan meminta dicabutkan.

Adapun mencabut uban pada rambut kepala maka tidak sampai pada derajat haram karena tidak termasuk Namsh.”[6]

Demikian semoga bermanfaat

@Perpustakaan FK UGM,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter[1]HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 2985. Sanad hadis dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth[2] HR. Ahmad 23952, Hadis ini dihasankan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah, 3371[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab 1/344[4] Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih[5] Tuhfatul Ahwadzi 7/238[6] Majmu’ Fatawa 11/123

sumber: https://muslimafiyah.com/larangan-mencabut-uban-syariat-dan-medis.html

Keutamaan Azan dan Jawabannya: Amalan Ringan Berpahala Besar

Banyak orang menganggap azan hanya sebagai rutinitas harian, padahal di dalamnya tersimpan pahala yang luar biasa besar. Bahkan, Nabi ﷺ menggambarkan bahwa manusia akan berebut azan jika benar-benar mengetahui keutamaannya. Tulisan ini akan membuka mata kita bahwa amalan ringan ini bisa menjadi jalan meraih kemuliaan besar di sisi Allah.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi – Bab 186: Keutamaan Azan

Kalau Tahu Pahalanya, Orang Akan Rebutan Azan dan Shaf Pertama

Hadits 1/1033

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ ما في النِّدَاءِ والصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ، ولَوْ يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتبَقُوا إلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لأَتَوهُمَا وَلَو حَبْواً». متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak mendapatkan jalan untuk meraihnya selain dengan undian, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam bersegera datang ke salat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menuju kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan shalat Subuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, 2:96 dan Muslim, no. 437)

Keterangan lafaz:

  • الاِسْتِهَامُ: melakukan undian.
  • التَّهْجِيرُ: datang lebih awal untuk salat.

Kosakata hadits:

  • النِّدَاء: azan.
  • العَتَمَة: shalat Isya.

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan shaf pertama.
  2. Azan memiliki keutamaan yang sangat besar. Azan termasuk amalan terbaik karena manfaatnya bersifat umum: mengagungkan Allah Ta‘ala dengan tauhid dan mengajak manusia kepada ibadah yang paling agung.
  3. Azan lebih utama daripada menjadi imam. Para ulama menjelaskan bahwa azan mengandung tauhid kepada Allah Ta‘ala dan persaksian bahwa Rasulullah adalah utusan-Nya. Ini menunjukkan besarnya kedudukan dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk mengikuti sunnah.
  4. Hadits ini mendorong kaum mukminin agar berlomba-lomba dalam amal saleh dan berbagai bentuk ketaatan. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap kesempatan berbuat baik, di antaranya dengan segera menyambut panggilan azan.
  5. Manusia banyak yang belum memahami hakikat ibadah dan besarnya pahala yang terkandung di dalamnya.
  6. Bolehnya melakukan undian dalam perkara-perkara yang memiliki keutamaan (untuk menentukan siapa yang lebih berhak).
  7. Kewajiban ibadah tidak gugur dari seorang hamba selama ia masih mampu melaksanakannya.

Keutamaan Muazin: Leher Paling Panjang di Hari Kiamat

Hadits 2/1034

عَنْ معاويةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يقولُ: «المؤذِّنُون أطوَلُ النَّاسِ أعناقاً يومَ القيامةِ». رواه مسلم.

Dari Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Para muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim, no. 387)

Faedah Hadits

  1. Keutamaan azan dan besarnya pahala seorang muazin yang ikhlas dan mengharap pahala dari Allah Ta‘ala.
  2. Para muazin akan menjadi orang yang paling panjang lehernya pada hari hisab. Mereka dikenal dengan tanda itu sebagai bentuk penampakan keutamaan dan kemuliaan mereka.
  3. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya. Kepala para muazin ditinggikan pada hari Kiamat karena dahulu mereka meninggikan tauhid Allah Ta‘ala di muka bumi.

Referensi:

  • Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-nazhirin syarh Riyadh ash-shalihin (Jilid 2, Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  • Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—–

Kamis, 16 Dzulqa’dah 1447 H

@ Pondok Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42071-keutamaan-azan-dan-jawabannya-amalan-ringan-berpahala-besar.html

Penghibur Hati Bagi Orang Miskin  

PENGHIBUR HATI BAGI ORANG MISKIN

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Sesungguhnya diantara hikmah yang tersimpan dalam ilmu yang ada disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah menjadikan diantara para hamba -Nya bertingkat status sosialnya, ada yang miskin ada pula yang kaya, dan tentunya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kekayaan bagi siapa yang dikehendaki begitu pula menjadikan orang menjadi miskinpun atas kehendak-Nya. Sebagaimana yang Allah azza wa jalla jelaskan melalui firman -Nya:

نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ [ الزخرف: 32]

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat”. [az-Zukhruf/43: 32].

Demikian pula Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan dalam ayat yang lain:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ [ الأنبياء: 35]

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”. [al-Anbiyaa’/21: 35].

Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, “Maksudnya kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, yakni dengan kesulitan hidup serta kelapangan, sehat dan sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, mendapat petunjuk dan tersesat”. Maka ini merupakan kesempurnaan hikmah serta rahmat yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para makhluk -Nya, kalau seandainya manusia pada satu status, semuanya dijadikan kaya niscaya mereka semua akan berbuat lalim dimuka bumi ini. seperti yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tegaskan dalam firman -Nya:

وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ [ الشورى: 27]

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran”. [asy-Syuura/42: 27].

Fadhilah Orang Miskin

  1. Orang-orang fakir adalah manusia terdepan yang akan memasuki surga.
    Sebagaimana disebutkan hal tersebut dalam sebuah hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr bi al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ. قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً » [أخرجه أحمد]

“Tahukah kalian siapa manusia terdepan yang akan masuk ke dalam surga dari kalangan makhluk? Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul –Nya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Orang terdepan yang akan memasuki surga dari makhluk Allah ialah orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu orang-orang yang terhalangi mulutnya dari makanan (sulit makan), penuh dengan kesulitan hidup, dan orang yang meninggal diantara kalian sedang keinginannya hanya sampai didada tidak sampai terlaksana”. [HR Ahmad 11/131 no: 6570.]

Dan dijelaskan dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ » [أخرجه الترمذي]

“Orang-orang fakir akan memasuki surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan jeda setengah hari yang hitungannya sama dengan lima ratus tahun“. [HR at-Tirmidzi no: 2353. Beliau berkata, “Hadits hasan shahih”].

  1. Penduduk surga terbanyak adalah orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Imran radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Aku menengok ke dalam surga maka aku dapati kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, lalu aku melongok ke dalam nereka maka aku jumpai kebanyakannya adalah para wanita“. [HR Bukhari no: 5198. Muslim no: 2737].

  1. Kebanyakan pengikut para nabi dan rasul adalah orang-orang fakir.
    Seperti diterangkan dalam potongan hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan dalam penggalan hadits tersebut: “Bahwa Heraklius, pembesar Romawi bertanya pada Abu Sufyan tentang siapakah yang paling banyak sebagai pengikut Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apakah yang mengikutinya dari kalangan orang kaya atau justru orang-orang lemahnya? Abu Sufyan menjawab, “Justru yang mengikutinya adalah orang-orang fakir dikalangan mereka”. Heraklius mengatakan, “Demikianlah yang menjadi pengikut kebanyakan para Rasul”. [HR Bukhari no: 7].
  2. Begitu pula Allah ta’ala menyuruh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bergaul bersama orang-orang papa dan lemah, dan menyuruh untuk tinggal bersama mereka. Karena bisa menjadikan dirinya jauh dari gemerlapnya dunia serta fitnahnya.
    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama enam sahabat lainnya. Lalu orang-orang kafir berkata, “Keluarkan mereka dari majelis jangan biarkan mereka mendekati kami! Beliau melanjutkan, “Dan yang bersamaku pada saat itu adalah Ibnu Mas’ud, dan seseorang dari Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi yang aku lupa namanya. Mendengar ucapan tersebut, masuk bisikan dalam hati Rasulalalh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki, yaitu untuk menuruti kemauan mereka. Maka Allah azza wa jalla menegurnya dengan menurunkan ayat:


وَلَا تَطۡرُدِ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥ [ الأنعام: 52]

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan–Nya”. (al-An’aam/6: 52). [HR Muslim no: 2413].

Dan betul Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merealisasikan perintah Rabbnya, dengan dibuktikan dalam bentuk untaian do’anya yang berbunyi:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهمَّ أَحيِني مِسكينًا، وأَمِتْني مِسكينًا، واحشُرني في زُمرةِ المساكينِ يومَ القيامَةِ » [أخرجه الترمذي]

“Ya Allah, wafatkan diriku dalam keadaan miskin, dan hidupkan diriku dalam keadaan miskin, serta bangkitkan diriku bersama kalangan orang-orang miskin kelak pada hari kiamat“. [HR at-Tirmidzi no: 2352. Dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/275 no: 1917].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya diuji dengan kelaparan lantas mereka bersabar hingga akhirnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi kecukupan pada mereka.
    Dikisahkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sungguh diriku pernah menyaksikan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam satu hari kelaparan, karena tidak satu butir kurma pun yang bisa dimakan walaupun yang paling jelek sekalipun”. [HR Muslim no: 2978.]

Sahl bin Hunaif mengkisahkan, “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kebiasan beliau ialah senang mengunjungi orang fakir dikalangan para sahabatnya, menengok mereka, serta menjenguk yang sedang sakit, dan menyolati jenazah mereka”. [HR al-Hakim 3/270 no: 2787. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam shahihul jami’ no: 4877].

Dalam sebuah riwayat dijelaskan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Tidaklah keluarga Muhammad pernah merasakan kenyang dari roti dan gandum, selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat Shalallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR Bukhari no: 5374. Muslim no: 2970].

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan tentang firman -Nya Allah tabaraka wa ta’ala:

وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ [ الضحى: 8]

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. [adh-Dhuha/93: 8]

Artinya engkau dahulu dalam keadaan fakir punya banyak keluarga kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla beri kamu kecukupan melebihi yang lain. Maka terkumpul dalam pribadi Rasulallah Shhalallahu ‘alaihi wa sallam dua kemuliaan yakni orang fakir yang bersabar dan orang berkecukupan yang bersyukur”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebuah hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Kami pernah dalam kesulitan hidup dan beban ujian yang sangat berat, sampai kiranya kami mengisap kulit dan biji kurma untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 3159].

Sedang Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, mengkisahkan, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Dirinya, sungguh diriku pernah jatuh tersungkur disebabkan menahan lapar, dan aku pernah mengganjal perutku dengan batu untuk menahan rasa lapar”. [HR Bukhari no: 6452].

Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kami pernah berangkat perang bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika itu tidak ada makanan yang bisa kami makan kecuali dedaunan, sampai kiranya kami bagaikan onta atau kambing (yang memakan dedaunan), tidak ada campuran lainnya”. Para ulama menjelaskan, “Maksudnya kering tidak ada campuran apa-apa”. [HR Bukhari no: 3728. Muslim no: 2966].

  1. Bisa jadi orang fakir rendah dimata lingkungannya namun disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla kedudukannya mulia.
    Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari sahabat Sahl as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا » [أخرجه البخاري]

“Pernah suatu ketika ada seorang yang lewat dihadapan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau berkata pada teman duduk yang berada disisi beliau, “Apa pendapatmu tentang orang yang barusan lewat? Dia menjawab, “Orang kaya dikalangan manusia, ini demi Allah kalau meminang perempuan pasti diterima, kalau diminta bantuan pasti bisa membantunya. Lalu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdiam, kemudian ada lagi orang yang lewat, beliau lalu bertanya, “Kalau orang tadi, apa pendapatmu? Dia menjawab, “Ya Rasulallah, orang tadi adalah orang miskin, dan ini kalau meminang perempuan pasti tidak diterima, jika dimintai tolong pasti tidak mampu, kalau berbicara tidak ada yang mau mendengarnya. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan orang tadi, itu lebih mulia semisal dunia dari pada orang yang pertama”. [HR Bukhari no: 6447].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau rizki dan pertolongan itu tercapai dengan keberadaan orang-orang miskin dan lemah.
    Hal itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dibwakan oleh Imam Ahmad dari sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ » [أخرجه أحمد]

“Kalian mengadukan orang-orang lemah padaku, hanya saja sesungguhnya kalian diberi rizki serta pertolongan dengan sebab keberadaan orang-orang miskin dan lemah“. [HR Ahmad 36/60 no: 21731].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagi orang yang membantu para janda serta fakir bagaikan orang yang berjihad dijalan Allah Shubhanahu wa ta’alla atau seperti orang yang berpuasa dan sholat malam.
    Sebagaimana dijelaskan hal tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « السَّاعِى عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَأَحْسِبُهُ قَالَ – وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Orang yang membantu para janda dan fakir bagaikan seorang mujahid fi sabilillah“. Dan aku juga mengira beliau mengatakan, “Seperti orang yang sholat malam tidak pernah berhenti dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka“. [HR Bukhari no: 6006, Muslim no: 2982].

  1. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa jenis makanan terjelek ialah makanan yang dihidangkan pada saat walimah sedang yang diundang hanya orang kaya dan meninggalkan orang miskin.
    Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ » [أخرجه مسلم]

“Sejelek-jelek makanan adalah hidangan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin“. [HR Muslim no: 1432].

Adapun apa yang telah kami sebutkan diawal dari ayat serta hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terkandung penjelasan keadaan sebagian orang dari kalangan kaum muslimin yang mendapat ujian kefakiran serta kesulitan hidup, lantas mereka bersabar dan ridho serta mengharap pahala dengan janji Allah Shubhanahu wa ta’alla yang diberikan padanya.

Sedangkan masalah masyhur lainnya yaitu mana yang lebih utama antara orang kaya atau miskin? maka dalam hal ini terjadi silang pendapat dikalangan para ulama, adapun pendapat yang kuat dalam hal ini ialah orang kaya yang bersyukur itu lebih utama dari pada fakir yang sabar, dan penjelasan secara rinci masalah ini ada pada pembahasan lain.[2]

Adapun orang fakir yang terbaik adalah yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. Allah ta’ala menyinggung hal tersebut dalam firman -Nya:

لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ [ البقرة: 273]

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”. [al-Baqarah/2: 273].

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِى يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ . قَالُوا: فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِى لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Bukanlah orang miskin itu yang keliling meminta-minta pada orang lain untuk mendapat sesuap atau dua suap nasi, satu biji atau dua biji kurma”. Para sahabat bertanya, “Jika demikian siapakah orang miskin tersebut wahai Rasulallah? Beliau mengatakan, “Yaitu orang yang tidak mendapati kecukupan lalu tidak ada yang memahami keadaannya serta dirinya tidak meminta-minta pada orang lain”. [HR Bukhari no: 1476. Muslim no: 1039].

Faidah
Dikisahkan dari Aun bin Abdillah bin Utbah beliau berkata, “Aku pernah berteman bersama orang kaya lalu aku dapati tidak ada seorangpun diantara mereka yang lebih besar cita-citanya dari pada diriku, lebih baik dari binatang tungganganku, pakaian yang lebih baik dari pada pakaianku, kemudian aku bergaul bersama orang miskin maka disana aku mendapatkan ketentraman”.[3]

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari الفقراء والضعفاء Penulis : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]


Footnote
[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/385.
[2] Lihat pada kitab ‘Idatush Shabirina wa Dzakhiratisy Syakirin karya Ibnu Qoyim.
[3] Sunan at-Tirmidzi hal: 304.

sumber: https://almanhaj.or.id/57144-penghibur-hati-bagi-orang-miskin.html

Semua Kasih Sayang di Dunia Hanya 1% dari Rahmat Allah!

Pernahkah kita berpikir bahwa seluruh kasih sayang di dunia ini hanya berasal dari satu bagian kecil dari rahmat Allah? Betapa besar rahmat yang kita rasakan, padahal itu hanyalah setetes dari lautan rahmat-Nya. Hadits ini membuka pintu harapan yang sangat luas bagi setiap orang beriman untuk meraih rahmat Allah di hari Kiamat.

Rahmat Dunia Hanya Sebagian Kecil

Hadits #420 dari Kitab Riyadhus Sholihin, Kitab Ar-Raja’ (Berharap kepada Allah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلَائِقُ، حَتَّىٰ تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ»

“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian, dan Dia menurunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan mengenainya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dia menurunkan satu rahmat di antara jin, manusia, binatang ternak, dan binatang kecil. Dengan rahmat itulah mereka saling menyayangi, saling mengasihi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan rahmat lainnya Allah simpan untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Muslim juga meriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنْهَا رَحْمَةٌ بِهَا يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ بَيْنَهُمْ، وَتِسْعٌ وَتِسْعُونَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu di antaranya adalah rahmat yang dengannya makhluk saling berkasih sayang di antara mereka, sedangkan sembilan puluh sembilan lainnya disimpan untuk hari Kiamat.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الْأَرْضِ رَحْمَةً، فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَىٰ وَلَدِهَا، وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَىٰ بَعْضٍ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ»

“Sesungguhnya Allah, pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat. Setiap satu rahmat besarnya memenuhi jarak antara langit dan bumi. Lalu Dia menjadikan satu rahmat itu di bumi. Dengan rahmat itulah seorang ibu menyayangi anaknya, binatang buas dan burung saling menyayangi satu sama lain. Maka ketika hari Kiamat tiba, Allah menyempurnakannya dengan rahmat itu.”

Kosakata hadits

  • حَافِرُهَا: kakinya.
  • طِبَاقٌ: penutup atau lapisan. Maksudnya, satu rahmat itu memenuhi jarak antara langit dan bumi karena sangat besar dan agung.

Faedah hadits

  1. Rahmat yang Allah jadikan di dalam hati hamba-hamba-Nya adalah bagian dari rahmat-Nya. Kebaikan yang Allah turunkan kepada mereka juga merupakan bagian dari karunia-Nya. Semua itu hanyalah sebagian dari apa yang Allah simpan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat.
  2. Dalam hal ini terdapat harapan yang sangat besar dan kabar gembira bagi orang-orang beriman. Jika mereka mendapatkan satu rahmat yang dengannya tercipta seluruh rasa kasih sayang di dunia ini, maka bagaimana dengan seratus rahmat pada hari Kiamat?

Di zaman sekarang, manusia sering kehilangan rasa kasih sayang, bahkan dalam keluarga sendiri. Padahal, rahmat yang ada di hati kita adalah karunia Allah yang sangat agung. Jagalah hati agar tetap lembut, mudah memaafkan, dan penuh empati kepada sesama. Ingatlah, siapa yang menyayangi, ia akan disayangi oleh Allah.

Referensi:

  1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
  2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.

—-

Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin , 4 Zulkaidah 1447 H, 21 April 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42047-semua-kasih-sayang-di-dunia-hanya-1-dari-rahmat-allah.html

Allah Maha Baik, Dan Hanya Menerima Yang Baik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

Dari Imam Muslim Radhiyallahu ‘Anhu beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah. Yakni sahabat yang meriwayatkan hadits yang ke-9 juga. Dan beliau meninggal pada tahun 59 Hijriyah dan merupakan sahabat penuntut ilmu dan sahabat dengan riwayat hadits yang paling banyak. Dimana jumlah riwayat beliau melebihi 5000 hadits. Beliau meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana dia telah  emerintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai para Rasul makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih”. Sementara kepada orang-orang yang beriman Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, makanan tambahannya juga haram. Maka bagaimana orang tersebut bisa dikabulkan doanya.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah hadits yang agung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik. Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala dan yang lain menjelaskan bahwasanya arti Thoyyib dalam nama Allah yang satu ini artinya adalah terlepas dari berbagai aib dan kekurangan. Dan ini adalah salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-Thoyyib adalah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi termasuk Al-Asmaul Husna. Dan karenanya boleh bagi seorang muslim untuk menghambakan diri kepada nama ini atau memberikan nama kepada anaknya atau yang lain Abdul Thoyyib (hamba dari Allah yang Maha Baik).

Jadi At-Thoyyib adalah salah satu Al-Asmaul Husna, salah satu nama-nama Allah yang indah. Dan karena Allah punya nama ini dan Dia disifati dengan sifat baik dan terlepas dari semua keburukan dan kekurangan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari hamba-hambaNya kecuali yang baik-baik saja.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwasanya hadits ini mencakup semua hal. Hadits ini mencakup amalan kita, mencakup penghasilan dan pekerjaan kita dan juga mencakup sedekah yang kita lakukan. Hadits ini secara lebih umum mencakup seluruh amalan kita. Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari amalan kita kecuali hanya yang baik. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Baik. Allah tidak menerima dari kita amalan kecuali kalau kita mewujudkan taqwa dalam amalan kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّـهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Dalam ayat ini ada kata إِنَّمَا (hanya). Sungguh Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa saja.

Shalat itu taqwa, tapi agar shalat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam salat kita. Menjalankannya dengan ikhlas, menjalankannya dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khusyu’ dan seterusnya.

Haji itu taqwa, tapi agar haji kita mabrur dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kita harus bisa mewujudkan taqwa dalam haji kita. Kita harus ikhlas, tidak boleh mengharap pahala dari haji kita kecuali hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak melakukannya agar dipuji oleh orang lain, dilihat oleh orang lain, didengar oleh orang lain tapi semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjalankan ibadah haji tersebut sesuai dengan dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga tidak mencampuri ibadah-ibadah ini dengan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi berdasarkan penafsiran yang luas dan umum ini, hadits yang agung ini bisa menjadi salah satu dalil tentang syarat diterimanya amalan kita.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik.”

Amalan kita harus baik. Dan agar bisa baik amalan kita harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam atau terwujud taqwa dalam ibadah-ibadah dan amalan kita itu.

Demikian juga dalam sedekah kita. Kita tidak boleh bersedekah kecuali dengan yang baik-baik. Harta yang disedekahkan haruslah harta yang halal, harta yang bersih. Tidak boleh kita bersedekah dengan harta yang haram, yang kita dapatkan dengan cara yang tidak halal. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat tanpa bersuci (wudhu), dan Allah juga tidak menerima sedekah dari ghulul.”

Apa itu ghulu? Ghulul adalah harta rampasan yang ditilep atau dicuri oleh seorang Mujahid sebelum harta tersebut dibagikan oleh pemimpin umat Islam. Dalam sebuah jihad (membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala), bisa jadi ada pejuang dan Mujahid yang tergoda dengan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan ghanimah untuk umat Islam setelah sebelumnya tidak boleh dinikmati oleh umat-umat sebelum kita. Ini termasuk kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dibandingkan Nabi-nabi sebelum beliau. Namun ghanimah atau harta ramparan perang ini baru boleh dinikmati secara pribadi secara individu setelah pemimpin umat Islam atau pemimpin jihad tersebut membagikannya kepada masing-masing Mujahidin. Sebelum itu maka harta tersebut tidak boleh ditilep atau diambil dinikmati sendiri. Dan kalau ada orang yang menilep atau mencuri harta rampasan perang ini sebelum dibagi maka itu disebut sebagai ghulul. Jadi bisa jadi ada seorang mujahid atau pejuang yang tergoda. Karena manusia lemah di hadapan fitnah dunia ini, diantaranya adalah harta. Dan ketika kemudian dia tersadarkan mungkin dia akan menyesal dan kemudian dia akan bertaubat dan menyedekahkan harta tersebut di jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sedekah dari ghulul/dari harta yang tidak halal seperti ini tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut di atas.

وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima dari kita sedekah yang berasal dari ghulul, yaitu harta yang dicuri dari harta rampasan perang yang belum dibagikan.”

Demikian juga harta-harta haram yang lain. Harta yang didapatkan dari perdagangan yang tidak halal. Misalnya karena berasal dari perdagangan yang memperjualbelikan barang-barang yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti khamr atau daging babi atau yang semacamnya. Atau dari transaksi riba atau gharar atau kedzaliman kepada orang lain. Harta yang
seperti ini tidak boleh dipakai untuk bersedekah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak boleh dipakai bersedekah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah tidak menerima kecuali dari yang baik-baik saja.

Hendaknya sedekah kita berasal dari harta yang halal yang kita dapatkan dengan cara yang halal. Itulah sedekah yang akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun kalau kita memiliki harta yang sudah masuk dalam rekening kita, sudah ada dalam simpanan kita, sudah masuk dalam kantong kita padahal itu adalah merupakan harta yang haram, maka cara mengeluarkan bukan dengan sedekah, tapi dengan melepas harta itu bukan sebagai sedekah tapi sebagai bentuk taubat kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka kita lepaskan. Sehingga kita tidak mendapatkan pahala sedekah namun kita akan mendapatkan pahala taubat dan melepaskan diri dari harta yang tidak halal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama tidak menyebutnya sebagai sedekah bahkan melarang hal tersebut dipakai untuk bersedekah. Tapi kita boleh takhallus atau melepas diri dari harta tersebut bukan dalam rangka sedekah tapi dalam rangka hanya ingin melepaskan harta haram yang sudah masuk dalam rumah atau kantong kita.

Demikian juga dengan penghasilan dan makanan yang haram, itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk makan dari yang halal, untuk mencari penghasilan yang halal, bekerja pada bidang yang halal. Ini adalah makna ketiga dari dari hadits kita:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja.”

Amalan dan ibadah sudah kita jelaskan, kemudian sedekah juga seperti itu, penghasilan dan makanan yang kita makan juga
seperti itu.

Allah tidak menerima dari hambaNya kecuali penghasilan yang halal, pendapatan yang halal, tidak boleh makan kecuali makanan yang halal. Dan hal ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para Rasul dan sekaligus juga kepada umat Islam semuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

Wahai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih.”

Jadi para Rasul diperintahkan untuk makan dari yang baik-baik saja. Makan dari yang halal saja, tidak boleh makan dari yang haram-haram. Dan mereka juga diperintahkan untuk beramal shalih, melakukan amalan yang shalih. Ini mengisyaratkan bahwasannya hadits di atas juga mencakup dimensi amal dan ibadah. Bukan hanya makan dan minum serta pendapatan saja tapi juga berbicara tentang amal shalih, menguatkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali bahwasanya hadits ini juga umum mencakup amal ibadah kita. Karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang makanan yang halal dan juga berbicara tentang amal shalih. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada umat Islam, kepada orang-orang yang beriman, yakni dalam surat Al-Baqarah ayat 172:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.

Jadi, apa yang diperintahkan kepada orang-orang yang beriman sama dengan apa yang diperintahkan kepada para Nabi dan Rasul. Yang ini menunjukkan pada dasarnya hukum yang berlaku untuk para Nabi dan Rasul adalah hukum yang berlaku juga untuk umat mereka. Hukum asalnya seperti itu, tidak ada perbedaan antara Nabi dengan umatnya dalam hukum. Artinya apa yang diperintahkan kepada para Nabi juga diperintahkan kepada umat mereka. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para Nabi untuk makan dari yang halal, untuk beramal shalih. Demikian juga kepada orang-orang beriman Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk makan dari makanan-makanan yang baik. Meskipun dalam beberapa hal ada hukum khusus yang hanya berlaku untuk para Nabi dan Rasul. Dalam agama Islam misalnya, ada beberapa hukum yang khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diataranya adalah bolehnya beliau menikah lebih dari 4 wanita atau juga bolehnya beliau menikahi wanita yang menghibahkan diri kepada beliau tanpa mahar. Ini adalah hukum yang khusus berlaku untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak berlaku untuk umat beliau. Hal seperti ini disebut sebagai kekhususan, kekhasan, keistimewaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan para ulama memiliki banyak literatur dan karya khusus tentang kekhususan dan keistimewaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, perjalanan panjang, safar yang panjang, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit, mengatakan, “Ya Robbi, Ya Robbi” tapi makanan dia haram, minuman dia haram, makanan tambahan dia juga haram, maka bagaimana orang seperti itu bisa dijawab doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bagaimana dia berharap doa dia mustajab?

Jadi setelah menjelaskan apa yang beliau sampaikan di depan, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin menjelaskan bahwasanya ada diantara umat ini yang tidak mentaati aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah perintahkan dia untuk beramal shalih tapi dia tidak beramal shalih. Allah memerintahkan dia untuk makan dari makanan yang halal tapi dia tidak ikuti itu.

Jadi ini menunjukkan bahwasannya ada di antara hamba-hamba Allah yang taat dan ada juga yang tidak mau mendengar, tidak mau mentaati aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Contohnya adalah orang yang disebutkan dalam hadits ini. Seseorang yang melakukan perjalanan panjang, dia melakukan semua faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan, tetapi pada saat yang sama dia makan dari makanan yang haram, minum dari minuman yang haram, pakaiannya adalah pakaian yang haram, kemudian makanan tambahannya juga haram. Tadi mungkin di awal hadits saya lupa menyebutkan:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَبِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ

Ini sebagai koreksi. Jadi orang ini makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, makanan tambahan atau suplemennya juga haram. Dan pada saat yang sama dia melakukan empat faktor yang bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pertama adalah dia melakukan perjalanan panjang. Dan safar adalah salah satu faktor yang membuat doa seseorang terkabulkan. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud Ibnu, Majah dan Tirmidzi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ

“Ada tiga doa yang mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya.”

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Doanya orang yang terdzalimi, doanya orang musafir (sedang melakukan perjalanan jauh), dan yang ketiga adalah doa orang tua untuk anaknya.”

Dan dalam sebuah riwayat Tirmidzi disebutkan:

وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Doa orang tua untuk keburukan anaknya.” ini juga Mustajab, hati-hati para orang tua. Anda punya senjata andalan di hadapan Allah Subhana wa Ta’ala yaitu doa untuk kebaikan anak Anda. Tapi ingat bahwasanya doa untuk keburukan anak Anda juga Mustajab. Maka hindari berdoa buruk untuk anak terutama saat sedang marah, karena doa Anda mustajab.

Jadi, salah satu faktor yang membuat doa seorang terkabul adalah berdoa dalam posisi safar. Apalagi dalam hadits ini disebutkan orang tersebut sedang melakukan perjalanan jauh, safarnya panjang. Maka itu lebih bisa membuat doanya terkabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian yang kedua adalah dia dalam keadaan kusut masai berdebu. Setelah perjalanan panjang ini dia memiliki pakaian yang kusut, badannya berdebu, pakaiannya berdebu, dan ini juga adalah salah satu faktor yang menambah peluang terkabulnya doa oleh seseorang. Karena dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رُبَّ أَشعَثَ أَغبَرَ مَدفوعٌ بالأَبوابِ لَو أَقسَمَ عَلَى اللهِ لأَبرَّهُ

“Betapa banyak orang yang memiliki pakaian yang kusut masai berdebu yang ditolak di pintu-pintu karena dia adalah orang yang jelata bukan tokoh, bukan pejabat. Tapi kalau dia bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah akan jawab doanya. Allah akan kabulkan doanya. Allah akan kabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim)

Juga dalam hadits shahih tentang orang-orang yang berdoa pada hari Arafah. Disebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala berfirman, ini hadits qudsi, “Lihatlah para hamba-hambaKu yang berdoa kepadaku. Mereka datang dalam keadaan kusut masai. Maka Aku persaksikan kalian bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.”

Ini menunjukkan bahwasanya kondisi kusut masai berdebu juga merupakan salah satu faktor yang mendukung terkabulnya doa seorang hamba.

Kemudian yang ketiga dia mengangkat tangannya ke langit. Dan mengangkat tangan adalah salah satu adab dalam berdoa, salah satu faktor yang membuat doa kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwasanya Allah berada di atas, Allah berada di atas langit, Allah berada di ketinggian. Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak bisa ditolak oleh fitrah kita. Bahkan orang-orang yang berusaha untuk menjelaskan hal lain yang bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini secara tidak sadar ia juga mengangkat tangannya ke langit.

Ada seorang yang berasal dari Hamadzan yang bertanya kepada Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala, ketika beliau berusaha menjelaskan aqidah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Orang ini mengatakan, ”Wahai Abul Ma’ali, tinggalkan semua dalil yang kau sebutkan itu tapi jelaskan kepada saya kenapa setiap saya berdoa, setiap orang berdoa mereka otomatis mengangkat tangannya ke langit?” Maka Abul Ma’ali Al Juwaini Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Pria Hamdzan ini telah membuat saya bingung, telah membuat saya ragu dengan apa yang telah saya sampaikan.”

Orang yang mengharapkan dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat tangannya ke langit dan itu pula yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam. Dan Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan ada beberapa bentuk mengangkat tangan dalam berdoa yang di ajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau menyebutkan lima sifat. Yang pertama adalah mengangkat tangan dengan mengisyaratkan seperti isyarat tauhid dengan telunjuk jari. Hal seperti ini biasa lakukan saat beliau saat sedang berada di atas mimbar atau di atas kendaraan. Maka sunnah bagi seorang Khatib untuk berdoa di atas mimbar dengan posisi seperti ini, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang kedua adalah menghadapkan kedua tangan kita ke arah kiblat dengan bagian luar telapak tangan di depan seperti ini, menghadap ke arah kiblat sementara bagian dalam telapak tangan kita menghadap ke arah badan kita. Ini kata para ulama adalah doa tadharru. Ini juga shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian yang ketiga adalah sebaliknya, menghadapkan kedua tangan ke arah kiblat dengan posisi seperti ini. Ini kata para ulama adalah istijaroh dan isti’adzah, berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian yang ketiga adalah posisi menengadahkan tangan ke langit. Jadi kedua telapak tangan kita menghadap ke langit sambil kita mengangkat tangan kita. Ini adalah bentuk permintaan, permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang kelima adalah mirip seperti yang keempat ini tapi sebaliknya jadi posisinya dibuat seperti ini seperti orang yang sedang iltizam di depan pintu Ka’bah ketika di Multazam. Posisinya seperti ini dan ini kata para ulama artinya adalah ibtihal. Dan lima sifat ini semuanya shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, intinya bahwasanya mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu sebab terkabulnya doa kita sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ

“Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemalu dan Maha Pemurah.”

يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala malu kalau ada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, kalau dia membalasnya dengan tangan kosong dan kecewa.”

Kita menetapkan sifat malu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini. Sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah punya sifat malu dan Allah malu kalau ada seorang hambaNya yang mengangkat tangan kepadaNya kemudian dia pulang dengan tangan kosong, itu akan membuat Allah malu. Maka Allah akan jawab doa-doa kita.

Yang keempat adalah faktor mengucapkan “Yaa Robbi Yaa Robbi (Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku). Ini juga adab doa. Ini adalah cara berdoanya para Nabi dan Rasul. “Yaa Robbi” atau “Robbi” atau “Robbana” seperti disebutkan dalam banyak ayat dan dalam banyak hadits. Jadi diantara salah satu adab doa adalah memulai doa kita dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui bahwasanya kita adalah hambaNya dan Dia adalah Tuhan kita, dia adalah Rabb kita.

sumber: https://www.radiorodja.com/48221-hadits-arbain-ke-10-allah-maha-baik-dan-hanya-menerima-yang-baik/