Membiasakan Anak Kecil Melakukan Ketaatan

Dalam mendidik anak itu membutuhkan ‘seni mendidik’ dan strategi tertentu. Harapannya, kita dapat menunaikan tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Tentunya kita pun berharap buahnya ketika mereka sudah dewasa. Bahkan lebih jauh lagi, setelah kita wafat pun mereka dapat menjadi ‘mesin’ pendistribusi pahala yang terus menerus bagi kita.

Di antara strategi, metode ataupun ‘seni’ mendidik anak adalah membiasakan mereka melakukan ketaatan (ibadah) sejak usia dini. Seorang penyair Arab menuturkan,

يَنْشَأُ نَاشِيْءُ الفِتْيَانِ مِنَّا    عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ

Tumbuh berkembang para pemuda kami  di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, adab dan perilaku yang baik. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا ، وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المضَاجِعِ

 “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika usia mereka mencapai tujuh  tahun (hijriyah -pen). Pukullah mereka (tidak dengan pukulan yang membekas –pen) dan pisahkan tempat tidur mereka ketika usia mereka mencapai sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud no. 495. Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan shahih)

Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita untuk membiasakan anak-anak kita melakukan ketaatan, meskipun mereka belum mencapai usia balig (mukallaf). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Yang dimaksud dengan pukulan pada hadits ini adalah pukulan yang dengannya terwujud bentuk pengajaran, bukan pukulan yang membahayakan. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh memukul anaknya dengan pukulan yang menyakitkan. Orang tua juga tidak diperbolehkan memukul anaknya terus menerus tanpa adanya kebutuhan akan hal itu. Namun, pukulan hanya boleh dilakukan jika dibutuhkan saja. Misalnya, anak tersebut tidak mau mengerjakan shalat kecuali jika dipukul. Ketika itu, anak tersebut dipukul namun tidak dengan pukulan yang keras, melainkan pukulan biasa saja. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memerintahkan kita untuk memukul mereka dalam rangka pengajaran dan meluruskan mereka, dan bukan untuk menyakiti mereka.” (Syarh Riyadhush Sholihin, 3: 174)

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah mengatakan, “Hal ini berlaku untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.” (Syarh Sunan Abi Dawud, 3: 317)

Intinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntun kita untuk membiasakan anak-anak kita, baik laki-laki maupun perempuan, untuk melakukan ketaatan ketika mereka belum mencapai usia baligh (mukallaf). Ini merupakan bentuk pembiasaan bagi mereka agar ketika sudah baligh diharapkan mereka sudah terbiasa melakukan berbagai kewajiban syariat atas mereka.

Pada hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita untuk memisahkan tempat tidur anak-anak. Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa anak-anak dipisahkan tempat tidur mereka agar di antara mereka tidak terjadi sesuatu yang buruk, misalnya adanya bisikan setan yang dapat menggerakkan birahi mereka. Dikhawatirkan dengan dekatnya (atau menjadi satu) tempat mereka tidur, maka syahwat boleh jadi tergerak sehingga timbul fitnah (hal-hal yang buruk). Oleh sebab itu, mereka sejak kecil dibiasakan tidak boleh satu tempat tidur, baik antara laki-laki dan perempuan. Yaitu anak laki-laki saja atau anak perempuan saja.” (Diringkas dari Syarh Sunan Abi Dawud, 3: 317)

Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “(Memisahkan tempat tidur ini juga berlaku) walaupun mereka sesama perempuan.” (Faidhul Qodir,  1: 334)

Kesimpulan, jika anak kita laki-laki dan perempuan (berbeda jenis), maka kamar mereka harus dipisah. Jika anak kita laki-laki saja atau perempuan saja, boleh untuk satu kamar namun tempat tidur harus terpisah (tidak boleh digabung dalam satu tempat tidur yang sama).

Hadits ini juga menunjukkan haramnya ikhtilath, yaitu campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat yang sama. Sehingga hadits ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hendaknya anak-anak kita diajarkan bahwa anak laki-laki itu dipisahkan dari anak-anak perempuan agar ketika mereka dewasa mereka mengerti larangan ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Allahu a’lam.

Mengajak mereka beribadah dan mengkondisikan keadaan agar mereka terbiasa beribadah

Diriwayatkan dari shahabiyah Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’. Dia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang utusan menuju sebuah perkampungan kaum Anshar yang berada di sekitar Madinah ketika siang hari pada hari ‘Asyura. Beliau berpesan,

مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ. فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Siapa saja yang telah melewati waktu subuh dalam keadaan berpuasa, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang melewati waktu subuh dan tidak puasa, maka hendaklah dia menahan dirinya sejak pengumunan ini. Setelah itu kami terbiasa berpuasa dan mengajak anak-anak kecil untuk berpuasa, in syaa Allah. Kami membawa mereka ke masjid dan membuatkan mereka mainan yang terbuat dari kapas bulu domba. Jika mereka menangis karena lapar, maka kami berikan makanan kepada mereka setelah waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Para sahabat mengajak anak mereka untuk melaksanakan puasa dan membuatkan mereka mainan agar mereka tidak merasa terbebani dengan rasa lapar ketika berpuasa.

Melarang anak melakukan kesalahan walaupun masih kecil

Di antara bentuk membiasakan mereka dalam ketaatan sejak usia belia adalah melarang mereka ketika mereka melakukan kesalahan yang layak ditegur untuk anak seusia mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

يَا غُلَامُ ! سَمِّ اَللَّهَ , وَكُلْ بِيَمِينِكَ , وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Lihatlah tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat tangan Umar bin Abu Salamah berseliweran ke sana ke mari di nampan ketika makan. Maka beliau memerintahkan dan mengajarkannya untuk makan dengan mengucapkan bismillah, menggunakan tangan kanan dan memakan makanan yang terdekat dengannya. Jika kita perhatikan, perintah ini sebetulnya merupakan bentuk teguran dan larangan atas apa yang dilakukan Umar bin Abu Salamah, yaitu makan dengan tangan yang seliweran ke sana ke mari, namun dalam bentuk tuntunan dan perintah. Metode pendidikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan adab makan kepada anak kecil ini pun berbuah manis. Di akhir hadits dalam riwayat Bukhari, ‘Umar bin Abu Salamah mengatakan,

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِيْ بَعْدُ

“Demikianlah gaya makanku setelah itu.”

Apa yang dilakukan ‘Umar bin Abu Salamah dan para shahabat lainnya inilah yang kita harapkan dengan membiasakan anak-anak kita melakukan berbagai ketaatan semenjak usia kecil.

***

Diselesaikan ba’da zhuhur, Sigambal, 7 Rabi’ul akhir 1439/ 25 Desember 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10059-parenting-islami-bag-40.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Menjaga Kebersihan Anak

Memberikan perhatian terhadap kebersihan anak, baik badan maupun pakaian, merupakan suatu hal yang dianjurkan dalam syariat. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang shalih dan memiliki keutamaan. Terdapat banyak dalil baik dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini.

Petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjaga kebersihan

Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala,

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ . قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah (bersih dan rapi –pen) di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raf [7] : 31-32)

Dalil lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, maka bersihkanlah.” (QS. Al Mudatsir [74] : 4)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan (termasuk kebersihan dan kerapihan –pen).”  (HR. Muslim no. 91)

Di antara bentuk menyia-nyiakan anak adalah membiarkan mereka tidak terurus, pakaian kotor, wajahnya kotor, di rambut banyak kutu (yang tidak berusaha diobati) dan lainnya. Demikian juga membiarkan badannya kotor sehingga kudisan bahkan hingga banyak dihinggapi lalat, mulutnya berdahak dan hidungnya keluar ingus (dan tidak berusaha dibersihkan).

Semua hal tersebut bertentangan dengan kebersihan yang Allah Ta’ala mendorong kita untuk memperhatikannya. Demikian pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengingatkannya.

Teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga kebersihan anak kecil

Berikut ini bukti nyata dan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau membersihkan dahak dan menyingkirkan kotoran dari mulut Usamah bin Zaid.

Diriwayatkan dari Ibunda kaum mukiminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنَحِّيَ مُخَاطَ أُسَامَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَعْنِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِي أَفْعَلُ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّيهِ فَإِنِّي أُحِبُّهُ

“Suatu ketika  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin membersihkan dahak Usamah. Lalu aku (‘Aisyah) pun mengatakan, “Biarkan aku saja yang melakukannya.” Beliau pun mengatakan, “Wahai ‘Aisyah, cintailah Usamah karena sesungguhnya aku mencintainya.” (HR. Tirmidzi no. 3818, dengan sanad yang hasan)

Diriwayatkan juga dari Ibunda kaum mukiminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ عَثَرَ بِأُسْكُفَّةِ أَوْ عَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِي جَبْهَتِهِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنْهُ أَوْ نَحِّي عَنْهُ الْأَذَى قَالَتْ فَتَقَذَّرْتُهُ قَالَتْ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمُصُّهُ ثُمَّ يَمُجُّهُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ أُسَامَةُ جَارِيَةً لَكَسَوْتُهُ وَحَلَّيْتُهُ حَتَّى أُنْفِقَهُ

“Suatu hari Usamah terpeleset di depan pintu dan wajahnya pun berdarah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Bersihkanlah darah (kotoran) darinya.” Namun aku (‘Aisyah) merasa jijik dengan darahnya. Beliau pun menghisap darahnya, lalu membuang dan membersihkannya dari wajah Usamah. Kemudian beliau berkata, “Seandainya Usamah seorang anak perempuan, maka aku rela mengeluarkan uang untuk memberikannya pakaian yang bagus dan perhiasan perempuan.” (HR. Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannaf no. 12356 dan Ahmad no. 25903 dengan sanad yang shahih lighairihi)

Demikian pula praktik putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pemimpin wanita penghuni surga, yaitu Fathimah radhiyallahu ‘anha yang membersihkan dan memandikan anaknya sebelum bermain dengan sang kakek (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لاَ يُكَلِّمُنِي وَلاَ أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفَناءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ: أَثَمَّ لُكَعُ أَثَمَّ لُكَعُ فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تلْبِسُهُ سِخَابًا، أَوْ تُغَسِّلُهُ فَجاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ، وَقَالَ: اللّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّه

“Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di siang hari. Beliau tidak berbicara denganku dan aku pun tidak mengajak beliau bicara. Lalu beliau pun sampai di Pasar Bani Qoinuqo’. Lalu beliau pun duduk di halaman rumah Fathimah. Kemudian beliau mengatakan, “Mana si kecil cucuku (Al-Hasan bin ‘Ali)?” Lalu aku (Fathimah –pen) pun menahannya sebentar. Aku (Abu Hurairah –pen) mengira kalau dia (Fathimah) memakaikannya gelang untuk mewangikan (karena gelang tersebut dapat befungsi sebagai wewangian, pen) atau memandikannya. Lalu Al-Hasan pun berlari hingga beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memeluknya dan menciumnya. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya. Oleh karena itu, cintailah orang-orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari no. 2122 dan Muslim no. 2421)

Membersihkan najis berupa air kencing anak kecil

Cara membersihkan pakaian yang terkena kencing seorang anak laki-laki yang belum memakan makanan untuk mengenyangkan perutnya (makanan utama) selain susu (baik ASI ataupun susu formula) adalah diperciki air saja. Sedangkan jika anak kecil tersebut perempuan, maka harus dicuci (dibasuh) dengan air. Abu As-Samh radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ : وَلِّنِي قَفَاكَ قَالَ : فَأُولِيهِ قَفَايَ ، وَأَنْشُرُ الثَّوْبَ يَعْنِي اسْتُرُهُ ، فَأُتِيَ بِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ فَقَالَ : يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

“Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ingin mandi, beliau pun mengatakan, “Berikan kepadaku tengkukmu (disuruh membelakangi beliau).” Maka aku pun membalikkan tengkukku untuk menutupi beliau. Lalu Hasan atau Husain radhiyallahu ‘anhuma pun datang. Kemudian dia (Hasan atau Husain) mengencingi dada beliau. Maka aku pun datang untuk mencuci (membasuh), namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Tidak perlu). Bayi perempuan dibasuh (dicuci). Namun untuk bayi laki-laki, cukup diperciki.” (HR. Abu Dawud no. 376, Ibnu Majah no. 526 dan lain-lain, shahih li ghairihi)

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.

[Bersambung]

***

Diselesaikan ba’da isya, Sigambal, 2 Shofar 1439/ 21 Oktober 2017

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/9820-parenting-islami-bag-27.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Menegur Anak dengan Kelembutan

Menegur atas sebagian kesalahan, dan memberikan toleransi atas kesalahan yang lain

Anak-anak masih memiliki keterbatasan akal sesuai dengan perkembangan usianya. Oleh karena itu, seorang anak hendaknya tidak selalu disalahkan atas semua yang dia lakukan. Artinya, tidak semua kesalahan harus dipermasalahkan. Akan tetapi, kita perlu memberikan toleransi atau membiarkan atas sebagian tingkah laku yang dilakukan sang anak. Dan menegur sang anak jika memang perbuatan tersebut memang harus diberikan teguran, misalnya jika perbuatan tersebut berbahaya. Menegurnya pun tentunya dengan bahasa yang lembut, karena masih anak-anak.

Allah Ta’ala telah memberikan gambaran bahwa anak-anak itu kurang (tidak sempurna) akalnya, sebagaimana halnya wanita. Hal ini sebagaimana penjelasan jumhur (mayoritas) ulama ahli tafsir ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa’ [4]: 5)

Demikianlah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menegur istri beliau, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan (membiarkan) sebagian yang lain (kepada Hafsah).” (QS. At-Tahrim [66]: 3)

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menegur istrinya. Yaitu, beliau menegur sebagian kesalahan saja, dan memberikan toleransi atas kesalahan yang lain. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan dalam kitab beliau, Fiqh Ta’aamul baina Zaujain (Fiqh interaksi antara suami dan istri), bahwa jika seorang istri memiliki sepuluh kesalahan misalnya, tegurlah lima atau enam kesalahan saja, kurang lebihnya demikian, dan biarkan (tidak menegur) sisa kesalahan yang lainnya.

Ini pula yang perlu dilakukan ketika menegur anak-anak kita yang masih kecil. Tidak semua kesalahan harus ditegur. Selain itu, di antara bentuk lemah lembut dalam memberikan teguran kepada sang anak adalah membiarkan sang anak ketika dia baru melakukan kesalahan tersebut sekali itu. Karena siapa tahu, tanpa kita tegur, sang anak bisa kemudian berpikir dan menyadari kesalahannya. Namun jika kesalahan tersebut berulang, apalagi jika ada indikasi sang anak sulit ditegur atau diluruskan, maka hendaknya diberikan teguran yang baik dan terus-menerus, yang tidak menyakiti sang anak.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku “uff” sama sekali. Beliau juga tidak pernah sekalipun mengatakan kepadaku, mengapa Engkau melakukan hal itu? Atau (mengatakan), seharusnya Engkau (Anas) melakukan ini dan itu.” (HR. Bukhari 2768 dan Muslim no. 2309)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak Anas berusia sepuluh hingga dua puluh tahun. Artinya, ketika usia Anas sekitar sepuluh-an tahun, beliau masih anak-anak. Hal ini menunjukkan mulianya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak.

Namun hal ini tidaklah berarti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menegur sama sekali. Kami telah menceritakan hadits tentang teguran Nabi kepada ‘Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhuma ketika makan, sebagaimana yang dapat dilihat di seri ke-40 tulisan ini.

Ayah dan ibu bukanlah manusia yang ma’shum

Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa diri kita bukanlah manusia yang ma’shum, karena tentu saja kita terkadang berbuat salah. Kita terkadang bersikap keras kepada anak, padahal perkaranya membutuhkan kelembutan. Terkadang kita mencaci maki atau mencela sang anak, padahal perkaranya tidaklah membutuhkan cacian dan makian. Jika hal itu yang terjadi, maka segeralah kita memperbaiki keadaan tersebut sebagai orang orang tua dengan melakukan dua hal berikut ini.

Pertama, kita menghibur dan menyenangkan jiwa sang anak atas apa yang telah terjadi. Sehingga hatinya merasa tenang dan tidak diliputi dengan ketakutan.

Kedua, kita meminta maaf kepada sang anak atas apa yang telah kita lakukan, dengan gaya penyampaian yang baik, yang tidak mengurangsi kewibawaan kita sebagai orang tua, namun tetap menjaga hak-hak anak sebagai pihak yang telah kita dzalimi.

Sebagaimana kita mengajarkan kepada anak-anak kita untuk saling memaafkan, misalnya sang adik memaafkan sang kakak jika sang kakak berbuat kesalahan, demikian juga, kita pun mencontohkan dengan tidak segan meminta maaf kepada mereka jika kita sebagai orang tua berbuat kesalahan dan kedzaliman kepada mereka.

***

Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL, 8 Jumadil akhir 1439/ 26 Februari 2018

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10133-parenting-islami-bag-42.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Mengajak Anak Bermusyawarah

Anak terkadang lebih memahami suatu permasalahan dibandingkan dengan orang tuanya. Ketika kondisinya demikian, orang tua wajib meminta saran atau bermusyawarah dengan sang anak atas permasalahan-permasalahan yang dikuasai sang anak. Sehingga anak-anak kita akan merasa bahwa keberadaannya tersebut dihargai oleh orang tua. Demikian pula, hendaklah orang tua tidak membodoh-bodohkan anaknya. Namun sebaliknya, sang anak pun wajib menyampaikan pandangan dan pendapatnya kepada orang tua dengan penuh kesantunan dan kelembutan.

Kondisi ini mungkin dapat tergambar jelas, ketika sang anak sudah mulai menginjak usia remaja, atau usia kuliah. Sementara dunia remaja atau dunia perkuliahan orang tua itu berbeda jauh antara masa orang tua dan masa sang anak. Sehingga hendaklah orang tua mendengarkan pandangan, pendapat dan saran anaknya, agar lebih jelas baginya permasalahan yang dihadapi oleh sang anak. Di samping, itu boleh jadi terkadang pendapat anak lebih tepat dalam beberapa kasus dibandingkan dengan pendapat orang tuanya.

Di antara dalil (kisah) yang menunjukkan bahwa terkadang pendapat dan pandangan anak yang lebih tepat dibandingkan orang tuanya adalah firman Allah Ta’ala,

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (78) فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آَتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). Dan kepada masing-masing mereka, telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (QS. AlAnbiya [21]: 78-79)

Perlu diketahui, Nabi Sulaiman adalah anak dari Nabi Daud ‘alaihimassalam.

Demikian pula disebutkan dalam Shahih Bukhari melalui jalur periwayatan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

كانت امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَاهُمَا ، جَاءَ الذِّئْبُ فَذَهَبَ بابْنِ إحْدَاهُمَا . فَقَالَتْ لِصَاحِبَتِهَا : إنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ ، وقالتِ الأخرَى : إنَّمَا ذَهَبَ بِابْنِكِ ، فَتَحَاكَمَا إلى دَاوُدَ فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى ، فَخَرَجَتَا عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُد فَأَخْبَرَتَاهُ . فَقالَ : ائْتُونِي بِالسِّكِّينِ أشُقُّهُ بَيْنَهُمَا . فَقَالَتِ الصُّغْرَى : لاَ تَفْعَلْ ! رَحِمَكَ اللهُ ، هُوَ ابْنُهَا . فَقَضَى بِهِ للصُّغْرَى

“Dahulu ada dua orang wanita yang bersama keduanya dua orang anak. Seekor serigala datang dan memangsa salah satu dari anak keduanya. Salah seorang wanita ini berkata kepada wanita yang satunya, “Sesungguhnya serigala itu telah memangsa anakmu.” Wanita tersebut pun menjawab, “Bukan, yang dia mangsa adalah anakmu.”

Lalu keduanya pun meminta keputusan hukum kepada Nabi Daud ‘alaihissalam. Nabi Daud pun memberikan keputusan bahwa anak tersebut adalah milik perempuan yang lebih tua umurnya. Kedua perempuan itu pun pergi menemui Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam. Beliau berkata, “Bawakan kepadaku belati, agar aku membelah dua anak itu.” Lalu perempuan yang usianya lebih muda pun berkata, “Jangan Engkau lakukan itu! Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Dia adalah anaknya (perempuan yang usianya lebih tua).” Lalu Nabi Sulaiman pun memutuskan bahwa anak itu adalah milik perempuan yang usianya lebih muda.” (HR. Bukhari no. 6769 dan Muslim no. 1720, redaksi hadits ini milik Bukhari.)

Di antara hikmah lain orang tua meminta pendapat anak dalam suatu permasalahan yang dipahami sang anak adalah mengajarkan bahwa keluarga tidak dibangun atas model komando diktatoris, namun lebih kepada pola argumentatif. Oleh karena itu, hendaknya orang tua tidak selalu merasa bahwa pendapatnya itulah yang paling benar. Akan tetapi, orang tua sebaiknya mau mendengar saran dan pendapat anak-anaknya, apalagi jika didukung dengan alasan dan argumentasi yang jelas, sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang telah didapatkan oleh sang anak. Wallahu a’lam.

***

Sigambal, selepas subuh, 8 Dzulhijjah 1439/ 20 Agustus 2018

PenulisAditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/10506-parenting-islami-bag-48.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Menjaga Anak dari Pengaruh Buruk Pertemanan

Teman memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran, karakter dan kebiasaan anak, baik itu bersifat positif maupun negatif. Seorang anak yang mulanya santun dan penurut bisa berubah berperilaku buruk seperti mengambil uang ibunya demi mentraktir teman sepermainannya. Sebaliknya, dengan izin Allah ta’ala seorang anak yang berakhlak kurang baik bisa berubah drastis ketika bergaul dengan teman-temannya yang shahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Seseorang berada di atas kebiasaan teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang diantara kalian memerhatikan siapa yang menjadi teman karibnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no. 927)

Setiap orangtua tentunya sangat berharap anaknya bergaul dengan teman-teman yang baik dan shalih. Tetapi ketika kita mendapati buah hati qadarullah terpengaruh teman dalam hal-hal yang tidak terpuji, di bawah ini ada beberapa kiat untuk menghadapi badai itu, insyaa Allah.

Bersikap bijak dan tenang

Ini langkah agar emosi tak meledak-ledak hingga memperburuk situasi. Ajaklah anak berdialog sesuai kemampuan berpikir anak dengan bahasa santun yang dilandasi kasih sayang dan cinta. Ini akan membuat anak nyaman sehingga mereka tidak merasa di investigasi. Ajaklah dia merenung bahwa anda tetap memperhatikannya dan mencintainya dan jangan memojokkannya namun carilah solusi bijak sehingga anak akan bersikap jujur dan mau curhat dengan anda.

Dengan kedekatan emosi dan psikis dengan anak niscaya anak akan lebih bersikap terbuka sehingga ketika ada masalah ia akan berterus-terang. Namun ketika kesalahan anak telah melanggar syariat Islam seperti mencuri yang berlebihan, melukai orang lain, meninggalkan shalat tanpa uzur dan sejenisnya, maka orang tua perlu bersikap tegas dalam menasehatinya. Dan terkadang perlu diberi konsekuensi seperti tak diberi uang saku atau diminta membereskan rumah. Namun demikian, prinsipnya bersikap lembut lebih diprioritaskan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Dia menyukai kelemah lembutan dalam segala urusan.” (HR. Muslim no. 6767)

Bekali dengan nilai agama

Ketika nilai-nilai agama ditanamkan sejak dini, niscaya anak akan memiliki pertahanan diri yang kuat, ini akan meminimalisir pengaruh buruk teman. Disinilah pentingnyaa figur orang tua yang shalih sehingga anak tetap menjadikan keduanya sebagai idola dalam hal kebaikan dan keshalihan. Dan orang tua hendaklah mampu menjadi sumber informasi bagi anak sehingga terjalin keakraban. Dan tanamkan akidah yang kokoh sehingga anak merasa selalu diawasi Allah Ta’ala. Ini akan menguatkan imun internal dan membangun dinding penghalang agar terhindar dari dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada.” (HR. At-Tirmidzi [1987], Musnad Ahmad [2/354]. Dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir [1/81]).

Kenali teman-teman mereka

Orang tua hendaknya memilihkan anak-anaknya teman yang shalih dan berasal dari keluarga baik-baik, kalau memungkinkan adakan pertemuan bersama teman agar benar-benar teman itu membawa manfaat dunia-akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” (Ma’alimut Tanzil, 4: 268)

Orangtua perlu memberi dukungan pada anak agar ia bisa membawa diri ditengah teman-temannya. Begitu pun dengan teman-temannya, sesekali buatlah acara bersama, permainan atau olahraga dan sejenisnya agar anda memahami apa dan bagaimana karakter teman sepermainan anak.

Berilah motivasi dan nasihat ringkas agar anak anda dan teman-temannya senantiasa dalam kebaikan.

Cari lingkungan yang kondusif

Ketika pengaruh buruk telah sampai pada taraf membahayakan dari sisi akhlak dan agama, maka solusi praktisnya, cari lingkungan yang kondusif bisa pindah sekolah, dimasukkan ke pondok pesantren sehingga dengan izin Allah ta’ala dia berubah santun, mulia akhlaknya dan shalih. Berilah perhatian ekstra dalam hal perhatian, nasehat dan perbanyak do’a agar berubah jadi anak yang shalih.

Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Seorang anak meskipun dibiarkan di awal pertumbuhannya, namun tak jarang ia akan berubah menjadi anak yang berakhlak jelek, pendusta, pendengki, pencuri, pengadu domba, peminta-minta, suka curiga, banyak tertawa, suka menipu dan gila. Sesungguhnya ia akan terpelihara dari semua sifat tersebut dengan didikan yang baik.” (Ihya ulumuddin, 3: 72)

Sampaikan manfaat teman baik

Orang tua harus berikhtiar memberikan yang terbaik untuk anaknya, berilah pemahaman bahwa hanya teman yang shalih yang mengajak pada Surga. Dengan bahasa yang mudah dicerna, pahamkan bahaya teman yang buruk agama dan akhlaknya yang hanya membuat kerusakan dan mendekatkan pada neraka. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata tentang mendidik anak adalah jihad, “Ini adalah jihad fi sabilillah, ini adalah seutama-utamanya jihad, yaitu engkau berusaha untuk mendidik anakmu di atas ketaatan kepada Allah.

Tanamkan di hati anak, bahwa teman yang buruk akan membawa celaka di dunia dan akhirat. Teman yang suka berkata kasar dan kotor, suka membantah orangtua, mem-bully, malas menegakkan shalat, suka musik, gemar berbohong, mengambil barang orang lain adalah kawan yang harus dijauhi. Kokohkan pemahaman anak dengan senantiasa menasihati agar anak selalu teringat serta terbiasa ada perasaan tidak suka dan benci dengan melakukan amal shalih dan ceritakan selalu betapa bahagianya memiliki sahabat-sahabat yang baik.

Metode ini perlu diulang-ulang agar tertanam di alam bawah sadarnya sehingga menjadi karakternya untuk selalu memilih dan menyukai kebaikan untuk dirinya dan temannya.

Demikian sekilas kiat agar anak-anak tetap dalam keadaan mulia iman, ibadah, dan akhlaknya dengan bersanding dengan kawan-kawan yang shalih. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Cara Mendidik Salah, Anak Bermasalah (Terjemah), Abdirrahman Dhahi, PQS Sumber Ilmu Sukoharjo, 2020.

Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Ilmu Asy-Syafi, Jakarta, 2015.

Sumber: https://muslimah.or.id/13907-menjaga-anak-dari-pengaruh-buruk-pertemanan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Jangan Remehkan Kesalahan Anak Kecil

Sulaiman bin Harb berkata, “Aku bersama ayahku, lalu aku mengambil sebatang jerami di salah satu kebun, ayah berkata kepadaku, “Kenapa engkau mengambilnya?” Aku menjawab, “Toh cuma sebatang jerami.” Ayah berkata, “Apa yang terjadi kalau setiap orang mengambil jerami satu demi satu? Apakah masih tersisa satu batang jerami di kebun?” (Al-Wara‘, hal. 14; oleh Imam Ahmad)

Kadang orang menganggap sepele perkara yang menurutnya kecil dan biasa saja. Padahal masalah tersebut dalam pandangan orang-orang shalih dianggap perkara besar. Mereka dahulu sangat wara‘ atau berhati-hati khawatir terjerumus pada dosa.

Tipu daya setan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan terus putus asa untuk di sembah di negeri kalian ini, akan tetapi dia ridha terhadap kalian karena dosa-dosa yang kalian remehkan.” (HR. Ahmad 2: 368, no. 8796 dengan sanad yang shahih sesuai persyaratan Al-Bukhari dan Muslim)

Begitu besarnya makar setan dalam menyesatkan anak Adam agar memandang kecil sebuah dosa. Bahkan setan dengan bujukan manisnya terus menghias-hiasi kesalahan, seperti dengan dalih bisa diiringi istighfar dan taubat atau berbagai alasan yang sepertinya masuk akal. Padahal sejatinya setan telah menggiringnya menuju kebinasaan secara perlahan-lahan.

Bahaya meremehkan dosa

Bilal bin Sa’ad berkata, ”Janganlah engkau melihat kepada kecilnya kesalahan, tapi lihatlah kepada siapa engkau berbuat kedurhakaan.” (Az-Zuhd, no. 2275 karya Imam Ahmad)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kemaksiatan yang kecil, sebagaimana rumput yang lemah dapat dianyam menjadi tali yang dapat menarik kapal-kapal.” (Badaa’i al-Fawaid, 3: 338)

Al-Qahthani rahimahullah berkata, “Janganlah sekali-kali meremehkan dosa-dosa kecil yang dapat menyebabkan banjir.” (Nuuniyah Al-Qahthani, hal. 39)

Seorang penyair berkata, “Janganlah sekali-kali meremehkan dosa kecil yang kamu candui… Karena garis itu menjadi satu susunan disebabkan titik-titiknya…” (Al-‘Ithr al-Wardi Syarh La Amiyyah Ibni Al-Wardi, hal. 25)

Ibnul Mu’taz berkata, “Tinggalkanlah dosa, baik yang kecil maupun yang besar karena itulah arti taqwa dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri. Sehingga ia berhati-hati tehadap apa yang ia lihat. Janganlah kamu meremehkan dosa kecil karena gunung itu berasal dari tumpukan kerikil kecil.” (Jami’ul Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab, 1: 402)

Demikianlah betapa berbahayanya membiarkan berbagai dosa karena seiring berjalannya waktu, dosa itu akan kian menumpuk bahkan menjadi sebuah kebiasaan bakhkan pelakunya tak merasa berdosa.

Betapa agungnya nasehat Fudhail bin Iyadh rahimahullah kepada anak-anak, “Setiap kali engkau menganggap kecil satu dosa maka ia akan menjadi besar di sisi Allah. Sebaliknya, setiap kali engkau menganggap besar suatu dosa, maka ia menjadi kecil di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Dzammul Hawa oleh Ibnul Jauzy, hal. 184)

Semoga Allah selalu menerangi hati kita untuk selalu berhati-hati dalam menjalani hidup, serta menganugrahkan hati yang bening sehingga kita tidak tertipu dengan tipu muslihat setan yang menjerumuskan manusia pada dosa-dosa yang kadang kurang kita sadari.

Wallahu Ta’ala a’lam.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Jangan Takut Setan (terjemah), Abdul Hadi bin Hasan Wahbi, Darul Ilmi, Bogor, 2013.

Memesan kursi Tertinggi di Surga (terjemah), Dr. Muhammad bin Ibrohim An-Nu’aim, WIP (Wacana Ilmiah Press, Surakarta, 2011)

100 Kiat bagi orang tua agar anak-Insya Allah jadi Shalih dan shalihah, Najmi bin Umar Bakkar, Perisai Qur’an, Jakarta, 2011.

Sumber: https://muslimah.or.id/12167-jangan-remehkan-kesalahan-anak-kecil.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Figur Ayah Bagi Anak Perempuan

“Ayahku selalu memberikan aku dan saudara-saudaraku support.” Demikian Mona berbicara tentang ayahnya. Menurutnya, walaupun pendidikan ayahnya hanya sampai sekolah menengah saja, tapi dia bersedia untuk duduk dan mendengar apa yang ditulisnya. ”Aku sangat mencintainya dan aku melihatnya sebagai teladan sebagai ayah yang baik dan penuh pengertian.” (Dikutip dari buku “Puber Tanpa Gejolak”, Dr. Akram Ridho, hlm. 64)

Seorang anak perempuan berumur 15 tahun menulis curahan hatinya.

“Ayahku tercinta ….

Wahai orang yang termahal dalam hidupku, betapa aku mencintamu dan betapa aku berharap engkau juga ikut merasakan cinta ini, tapi bagaimana aku bisa bersikap, sementara akut tidak melihat engkau, kecuali beberapa menit saja. Itupun hanya jatah waktuku dengan engkau selama engkau berada di rumah. Tidaklah engkau ketahui wahai ayah, betapa aku harus akan satu waktu untuk menemuimu di saat engkau pulang dari pekerjaanmu, supaya aku dapat merasakan bahwa kasih sayangmu dan supaya aku dapat bercengkerama denganmu dan menimba pengalaman-pengalaman dan hikmah darimu. Dari anakmu yang mencintamu.” (ibid, hlm. 55-56)

Demikianlah, betapa penting dan besar harapan seorang gadis yang tengah menginjak masa remaja terhadap sosok ayah yang penuh perhatian dan cinta. Sering terjadi seorang remaja putri yang tidak  mendapatkan limpahan kasih sayang seorang ayah, ia akan mencari cinta dan kasih sayang teman prianya atau orang lain yang bisa memberinya support, motivasi, dan mendengarkan curhatnya. Hal ini sangat rawan dan bisa membuatnya terjerumus pada pergaulan dan bisa membuatnya terjerumus pada pergaulan yang menyimpang ketika dia tak memiliki sandaran iman dan kepribadian yang kuat dan karena masa remaja adalah masa yang labil transisi sehingga ia mudah terpengaruh berbagai hal yang sepertinya menjanjikan kebahagiaan.

Di sinilah perlu kedekatan spiritual, emosi, dan juga fisik dengan seorang ayah. Bukankah ayah idealnya selalu dekat dengan anak sehingga anak merasa aman, nyaman, dan bisa berinteraksi serta terjalin komunikasi timbal balik yang harmonis. Seorang gadis akan terarah kehidupan akhirat dan dunianya ketika ayahnya selalu dekat hatinya. Ayah adalah figur teladan anak dan keluarga  sehingga dengan kondisi ini, pendidikan Islam akan berjalan sinergis dan mampu memberdayakan anak sehingga meminimalisir berbagai problematika remaja.

Lantas, apa tanggapan sebagian ayah berkenaan dengan hal apa yang harus diaktualisasikan dengan anak gadisnya?

Ayah perlu menenun jaring cinta agar hubungannya mesra dengan anaknya, seperti membangun dialog positif dengan anak, memberi kepercayaan, cinta, kebebasan yang bertanggung jawab. Memiliki anak perempuan merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang harus disyukuri. Kewajiban orang tua adalah mendidik dan membimbingnya agar ia menjadi hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, emosinya terkendali, kepribadiannya kuat dan Islami, berakhlak mulia, dan mampu menyelesaikan problematika hidupnya.

Menciptakan sarana dialog yang kontinu dengan anak gadisnya, akan banyak bermanfaat bagi hubungan anak dan orang tuanya maka bagi anak gadis sangat ragu-ragu meminta jawaban atau mengemukakan semua problemnya langsung kepada ayahnya. Dengan demikian, ayah dapat menjawab atau mendiskusikan sebab, motif, dan solusi bagi segala macam masalah. Pada akhirnya, mereka akan saling sepakat terhadap solusi-solusi yang dapat diterima kedua belah pihak.” (ibid, hlm. 64-65)

Ayah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk corak dan warna anak di masa depan. Anak gadis yang terbiasa dekat dan akrab dengan ayahnya, insyaa Allah ia akan mudah diarahkan ayahnya, memiliki rasa percaya dan kepribadian positif, tidak mudah stres/frustrasi, memandang diri dan kehidupannya dengan baik, bertanggung jawab dan optimis. Sebaliknya, ketika dia tak memiliki figur ayah yang baik atau keluarganya broken home maka ia mudah galau lagi putus asa, kepribadiannya labil, emosinya kurang terkendali, serta cenderung mencari kesenangan/perhatian orang lain atau sebaliknya dia menjadi introvert, cuek, dan tak memiliki sensitivitas pada orang lain.

Terakhir … seorang ayah harus menyadari, ada kabar gembira tentang anak perempuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mempunyai tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dua orang anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka maka baginya surga. “ (HR. At-Tirmidzi, Kitabul Birri Washshilah no. 1839, Abu Dawud, Kitabul Adab no. 4481, dan Ibnu Majah, Kitabul Adab no. 3659, disahihkan Al-Albani dalam Shahih AtTarghib no. 1973)

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

Puber Tanpa Gejolak, Dr. Akram Ridho, Qisthi Press, Jakarta 2005.

Tahapan Mendidik Anak, Jamal Abdur Rahman, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005.

Sumber: https://muslimah.or.id/10402-figur-ayah-bagi-anak-perempuan.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Permainan yang Dilarang bagi Anak-anak

Dunia anak-anak identik dengan bermain. Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فاقدروا قدر الجارية الحديثة السن الريصة على اللهو

Hargailah keinginan gadis kecil yang menyukai permainan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibunda ‘Aisyah, dia telah mengungkapkan kalimat yang singkat tetapi syarat dengan makna. Sesungguhnya anak-anak memiliki kesenangan sendiri, daya pikir, nalar dan perhatian sendiri. Anak-anak berbeda dengan orang dewasa, semua hal ini harus diperhitungkan sehingga mereka tidak selalu ditempatkan dalam kondisi yang serius dalam setiap kesempatan. Mereka tidak boleh dilarang bermain, bergurau dan bersenang-senang karena sudah menjadi hak dan bagian mereka dan sesungguhnya Allah telah menjadikan ukuran bagi segala sesuatu.

Akan tetapi yang seimbang adalah anak kecil tidak dibiarkan bermain selamanya pada setiap kesempatan, juga tidak diajak serius di setiap waktu. Ketika bermuamalah dengan anak kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi mereka hak untuk bermain dan bercanda dengan porsi yang sesuai.

Anak-anak diperbolehkan bermain dengan sesuatu yang mubah, yang tidak mengandung dosa dan keharaman bagi mereka. Dianjurkan agar permainan itu bermanfaat bagi perkembangan badan, akal dan pikiran mereka.

Di antara permainan yang dilarang bagi anak-anak yaitu:

Bermain dengan senjata yang ia tidak bisa mempergunakannya atau dengan senjata yang dikhawatirkan dapat mencelakai orang lain

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا يشير أحدكم على أخيه بالسلاح ، فإنه لا يدري لعل الشيطان ينزع في يده فيقع في حفرة من النار

Janganlah salah seorang di antara kalian menodongkan sebuah senjata kepada saudaranya, karena dia tidak tahu barangkali syaitan mencabut dari tangannya hingga dia mencelakai saudaranya, akibatnya dia tersungkur ke dalam lubang neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا مر أحدكم في مسجدنا أو في سوقنا ومعه نبل فليمسك على نصالها أو قال: فليقبض بكفه أن يصيب أحدا من المسلمين منها بشيء

“’Jika salah seorang dari kalian melewati masjid atau pasar kami dengan membawa panah, maka peganglah mata panah tersebut’ atau beliau berkata, ‘Genggamlah dengan kedua tangannya agar tidak mengenai salah seorang dari kaum muslimin sedikit pun’.”

Bermain dengan alat-alat yang dapat mengagetkan anak-anak

Abu Dawud (no. 5004) meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata,

حدثنا أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أنهم كانوا يسيرون مع النبي صلى الله عليه وسلم فنام رجل منهم فانطلق بعضهم إلى حبل معه، فأخذه ففزع فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا يحل لمسلم أن يروع مسلما

Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kami bahwa mereka melakukan perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu salah seorang di antara mereka tidur dan yang lainnya mendatanginya dan menarik tali yang ada padanya sehingga dia merasa kaget, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak halal seorang muslim mengagetkan muslim yang lainnya’.”

Bermain dengan dadu, domino atau sejenisnya

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه

Siapa saja yang bermain dadu, maka seakan-akan dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.” (HR. Muslim)

Permainan yang menjadi sarana perjudian dan lotre

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 90 dan 91,

يأيها الذين ءامنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون

إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العداوة والبغضاء في الخمر والميسر ويصدكم عن ذكر الله وعن الصلوة صلى فهل أنتم

منتهون

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan minuman keras dan judi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).”

Tidak boleh menggantungkan lonceng di leher anak

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الجرس مزامير الشيطان

Sesungguhnya lonceng adalah serulingnya syaitan.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda di dalam hadits yang lain, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لا تصحب الملائكة رفقة فيها كلب ولا جرس

Para malaikat tidak akan menemani sebuah perkumpulan yang di dalamnya ada anjing dan lonceng.” (HR. Muslim)

Permainan yang dapat menyakiti wajah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya memukul wajah,

إذا قاتل أحدكم أخاه فليجتنب الوجه

Jika salah seorang di antara kalian berkelahi dengan saudaranya, maka jauhilah (dari memukul) wajah.” (HR. Muslim)

Bermain dengan alat musik

Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Akan datang pada umatku kelak suatu kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, khamr dan alat musik.”

Memahat dan menggambar makhluk hidup yang bernyawa

Hal ini agar anak-anak tidak tumbuh di atasnya dan tidak menggandrunginya karena hadits yang melarang perbuatan ini sangat banyak, di antaranya yaitu hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ

Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar.” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no. 2109)

Namun yang terlarang adalah menggambar dan memahat gambar makhluk bernyawa. Adapun memainkan gambar atau mainan makhluk bernyawa yang sudah ada, para ulama memberikan kelonggaran untuk hal ini bagi anak-anak. Mereka berdalil dengan hadits dari Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِى سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ : مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ. قَالَتْ بَنَاتِى. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَى وَسْطَهُنَّ. قَالَتْ فَرَسٌ. قَالَ : وَمَا هَذَا الَّذِى عَلَيْهِ. قَالَتْ جَنَاحَانِ. قَالَ : فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ. قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baru tiba dari perang Tabuk atau Khaibar. Ketika itu, kamar ‘Aisyah ditutup dengan sebuah tirai. Ketika ada angin yang bertiup, tirai itu tersingkap hingga mainan-mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Ini anak-anakku.” Lalu beliau juga melihat di antara mainan tersebut ada yang berbentuk kuda yang mempunyai dua sayap yang ditempelkan dari tambalan kain.

Nabi lalu bertanya, “Lalu apa ini yang aku lihat di tengah-tengah?” ‘Aisyah menjawab, “Ini kuda.” Nabi bertanya lagi, “Lalu apa yang ada di atas kuda tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Ini dua sayapnya.” Nabi bertanya lagi, “Apakah kuda punya dua sayap?” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah lalu berkata, “Nabi lalu tertawa hingga aku dapat melihat gigi gerahamnya.” (HR. Abu Dawud no. 4932, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Takhrij Al-Misykah, 3: 304, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Dalam hadits ini, Aisyah yang ketika itu masih anak-anak memiliki mainan yang berbentuk manusia dan hewan, namun Nabi shallallahu ’alaihi wasallam tidak melarangnya. Menunjukkan adanya kelonggaran untuk anak-anak dalam masalah gambar makhluk bernyawa.

Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (12: 112) disebutkan, “Mayoritas ulama dalam pelarangan gambar makhluk bernyawa mengecualikan gambar dan patung untuk mainan anak-anak wanita. Ini merupakan pendapat madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Dan dinukil dari Al-Qadhi ‘Iyadh bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat jumhur ulama.”

Sebagai orangtua, kita perlu menjaga fitrah bermain pada anak dengan mengarahkannya pada permainan yang mubah dan menjaga serta menjauhkan mereka dari permainan yang Allah larang dan haramkan.

Wallahu a’lam.

***

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Anakku! Sudah Tepatkah Pendidikannya? (Terjemah), Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, cetakan Pustaka Ibnu Katsir, Bogor.

Sumber: https://muslimah.or.id/14240-permainan-yang-dilarang-bagi-anak-anak.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Bohong kepada Anak, Bolehkah?

Bismillaah.

Ibu-ibu adakah yang mengatakan demikian kepada anaknya? “Jangan main HP terus ya, nanti matanya hitam.” “Jangan nangis terus, nanti disuntik dokter.” “Jangan makan permen, nanti digigit semut.” Mungkin masih banyak yang mengatakan demikian, dengan dalih tidak mengapa karena tujuannya baik. Alasan lainnya karena masih kecil, jadi belum paham. Berbohong kepada anak seperti ini, dalam ilmu psikologi disebut parenting by lying. Namun apakah hal ini diperbolehkan?

Perspektif Syariat

Dalam agama kita, kita tidak diperbolehkan berbohong meskipun kepada anak kecil. Walaupun pada anak kecil, kita tidak boleh berbohong dan berdusta. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.” [1]

Kita dilarang berbohong, walaupun hanya bercanda. Orang yang meninggalkan berbohong sekalipun sedang bercanda, mendapat jaminan surga.

Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴْﻢٌ ﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺭﺑﺾ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﻭَﺳَﻂِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻦَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ

Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus.” [2]

Perspektif Psikologi

Dalam ilmu psikologi, dikenal istilah parenting by lying. Parenting by lying adalah praktik di mana orang tua berbohong kepada anak-anaknya untuk mempengaruhi emosi atau perilaku mereka. [3] Contoh parenting by lying yaitu perkataan, “Jika kakak terus menjahili adik, ibu akan menelepon polisi agar bisa dimasukkan ke penjara” atau “Jika adik tidak mengerjakan PR, ayah tidak akan mengajak jalan-jalan.” Perbuatan ini ternyata dilakukan oleh banyak orang tua di dunia. Berdasarkan hasil penelitian, 78% orang tua di Amerika dan 98% orang tua di China melakukan parenting by lying. [4] Namun, apakah efek dari parenting by lying?

Gambar 1. Pengaruh Parenting by Lying [5]

Dapat dilihat pada Gambar 1parenting by lying dapat menyebabkan hubungan orang tua-anak yang menjadi buruk. Anak menjadi lebih banyak berkata bohong kepada orang tuanya. Selain itu, telah ditemukan bukti bahwa parenting by lying secara signifikan menyebabkan anak memiliki psikososial yang lebih buruk, seperti masalah eksternalisasi, masalah internalisasi, psikopati, perilaku berbohong, dan kurangnya prososialitas. [5]

Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?

Lalu apa yang bisa orang tua lalukan? Bagaimana parenting yang sesuai dengan ajaran agama kita? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullaahu Ta’ala pernah ditanya bagaimana cara mendidik anak yang benar, beliau menjawab [6]:

1) Berlaku lemah lembut, tidak meniadakan hukuman ketika dibutuhkan.

2) Orang tua memberikan contoh yang baik

3) Memberikan lingkungan yang baik

4) Orang tua mendoakan anak pada waktu yang mustajab.

Perbanyak berdoa kepada Allah agar memperbaiki anak-anak kita dan menunjukkan ke jalan yang lurus. Karena doa untuk kebaikan anak-anak termasuk sifat hamba Allah yang saleh. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

***

Penulis: Victa Ryza Catartika

Artikel: Muslimah.or.id

Referensi:

[1] HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2: 452). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2942

[2] HR. Abu Dawud, lihat Ash-Shahihah no. 494.

[3] Evans, A. D., & Lee, K. (2022). Lying: The development of our understanding, moral judgements, and behavior. In M. Killen & J. G. Smetana (Eds.), Handbook of moral development (3rd ed., pp. 289–304). Psychology Press

[4] Heyman, G. D., Hsu, A. S., Fu, G., & Lee, K. (2013). Instrumental lying by parents in the US and China. International Journal of Psychology, 48(6), 1176–1184. https://doi.org/10.1080/00207594.2012.746463

[5] Setoh, P., Low, P. H. X., Heyman, G. D., & Lee, K. (2023). Parenting by lying. Current Directions in Psychological Science. https://doi.org/10.1177/09637214231206095

[6] Al-Munajjid, MS. Bagaimana cara mendidik anak-anak kita – Soal jawab tentang Islam. (n.d.). Soal Jawab Tentang Islam. https://islamqa.info/id/answers/215167/bagaimana-cara-mendidik-anak-anak-kita

Sumber: https://muslimah.or.id/18677-bohong-kepada-anak-bolehkah.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Mendidik Anak adalah Pekerjaan yang Tiada Usai

Bukan pekerjaan mudah

Ternyata, menjadi orang tua bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebagian mengira bahwa pekerjaan terberat adalah dokter, polisi, tentara, pebisnis, dan yang lainnya. Tiada yang mengira bahwa pekerjaan yang terberat, tak ada waktu untuk pensiun, tak ada waktu libur ataupun cuti, adalah menjadi orang tua.

Orang tua adalah sebuah gelar yang disematkan kepada seseorang yang sudah mempunyai anak, dan gelar ini tidak ada masa pensiunnya, gelar yang masih akan melekat kepada seseorang hingga akhir hayatnya, bahkan dibawa sampai kubur dan akhiratnya.

Sebagaimana seorang memiliki anak, ia akan merawat, mengasuh, dan mendidiknya. Awalnya, bayi diajarkan untuk membalikkan badan dari tengkurap menjadi terlentang, menegakkan kepala, hingga punggungnya cukup kuat untuk duduk. Selanjutnya, ketika kakinya mulai cukup kuat, ia belajar berdiri dan berjalan. Kemudian, anak tersebut diajarkan berbicara, dikenalkan dengan berbagai kosakata, hingga akhirnya mampu berbicara dengan jelas dan berkomunikasi dengan lancar.

Pekerjaan tersebut tidak pernah usai. Mendidiknya hingga ia bisa mandiri, makan sendiri, minum sendiri, membuang hajatnya sendiri di tempat yang seharusnya. Dan ketika dia sudah mulai bergaul dengan teman sebayanya, orang tua mulai mendidiknya dengan memberikan peringatan, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang wajib dan haram.

Manusia itu lemah, butuh hidayah dan pertolongan

Namun, selain sebagai makhluk yang lemah, manusia juga mempunyai karakter masing-masing. Sehingga mungkin kita pun tidak akan mendapati kesempurnaan sifat dan karakter anak-anak kita sebagaimana yang kita inginkan. Maka, sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa kita pun manusia yang punya banyak kelemahan, yang tak dapat mengatur hal-hal yang kita inginkan. Jika kita adalah manusia yang beriman, seharusnya kita mengetahui siapa satu-satunya yang memberikan hidayah, petunjuk, dan taufik kepada anak kita. Siapa yang satu-satunya bisa membantu, menolong kita dalam pengasuhan dan pendidikan kepada anak kita. Ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, hendaknya kita menghadapkan diri kepada Allah, berdoa memohon kepada-Nya untuk memperbaiki dan memberkahi anak keturunan kita serta menjaga mereka dari berbagai keburukan.

Orang-orang yang disifati sebagai ‘ibadurrahman berdoa,

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين اماما

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami dari istri-istri kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Syekh Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin (2: 338-340) menjelaskan bahwa kata azwaaj (أزواج) merupakan bentuk jamak dari zauj (زوج), yang dalam bahasa Arab fusha dapat merujuk pada suami maupun istri. Namun, menurut para ulama fikih rahimahumullah, mereka menetapkan bahwa kata zauj (زوج) digunakan secara khusus untuk laki-laki, sedangkan zaujah (زوجة) diperuntukkan bagi perempuan, guna membedakan keduanya dalam hukum fikih waris. Sementara itu, dalam bahasa Arab secara umum, kata zauj tetap berlaku bagi suami maupun istri. Oleh karena itu, doa yang terdapat dalam surah Al-Furqan ayat 74 dapat dipahami sebagai doa yang berlaku untuk suami maupun istri.

Begitu pula, tatkala Allah menjadikan keturunan mereka penyejuk hati bagi manusia, mereka akan menaati apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarang, dan menjalani itu semua dengan aturan-Nya, dan inilah yang layak bagi penyejuk hati bagi orang-orang yang bertakwa.

Kemudian, inti dari doa ini adalah pada kalimat, (وجعل للمتقين إماما) “Dan jadikanlah (anak-anak keturunan kami) sebagai imam untuk orang-orang yang bertakwa.” Maksudnya adalah, jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa, yang bisa menjadi teladan dalam perbuatan dan perkataan, dalam apa yang dilakukan dan apa yang ditinggalkan. Karena orang yang beriman, terutama orang yang berilmu, akan dijadikan teladan dengan perkataan dan perbuatan mereka.

Dan “Imam” di sini merujuk kepada pemimpin dalam agama, yang menjadi bagian dari ibadah khusus kepada manusia. Imam juga berperan sebagai pemimpin dalam dakwah, pengajaran, serta dalam memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar serta hal-hal lain yang berkaitan dengan syariat.

Doa yang sangat dalam, yang selayaknya orang beriman sungguh meresapi doa ini ketika berdoa sehingga Allah mengabulkan doa, dan menolong kita dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak kita.

Anak sudah besar, kita tetap menjadi orang tuanya

Meskipun anak kita sudah besar, namun gelar orang tua tidak akan pernah lepas dari diri kita sampai kapanpun. Bahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap mendakwahkan kepada anaknya selama ratusan tahun agar dia masuk Islam. Allah Ta’ala menceritakan kisah ini dalam firman-Nya,

وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِی مَعۡزِلࣲ یَـٰبُنَیَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَـٰفِرِینَ

“Dan Nuh memanggil anaknya ketika beliau berada di tempat terpencil, ‘Wahai Anakku! Naiklah (kapal) bersama kami, dan janganlah Engkau bersama orang-orang kafir!’” (QS. Hud: 42)

Dan juga di dalam hadis yang panjang dalam Shahih Bukhari (no. 3364)Nabi Ibrahim ‘alaihi salam berkunjung ke tempat Nabi Ismail tatkala ia sudah dewasa di Makkah, yang akhirnya Nabi Ibrahim menanyakan kabar Nabi Isma’il melalui istrinya. Sampai akhirnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam membangun pondasi kakbah bersama.

Pertolongan akan datang bersama dengan kesabaran

Mendidik anak membutuhkan hati yang kuat dan nafas yang panjang. Maka bersabarlah duhai ayah dan bunda! Mendidik dan mengasuh anak bukanlah perkara setahun atau dua tahun. Tapi menjadi orang tua adalah selama hidup kita. Bersabarlah atas kesulitan dan pedih terseok-seok atas semua prahara pendidikan. Karena kalau kita tidak mau bersabar, maka hal yang lebih rumit akan terjadi.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam Majmu’ Al-Fatawa (11: 36),

يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ قَوِيًّا مِنْ غَيْرِ عُنْفٍ لَيِّنًا مِنْ غَيْرِ ضَعْفٍ فَبِصَبْرِهِ يَقْوَى وَبِلِينِهِ يَرْحَمُ وَبِالصَّبْرِ يَنْصُرُ الْعَبْدَ فَإِنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ  وَبِالرَّحْمَةِ يَرْحَمُهُ اللَّهُ تَعَالَى

“Selayaknya seseorang kuat namun bukan keras. Lembut tapi bukan lembek. Kesabaran itulah yang menguatkan, dan kelemahlembutan akan memberikan kasih sayang. Dengan kesabaran, Allah akan menolong hamba-Nya. Karena pertolongan bersama dengan kesabaran, dan dengan kasih sayang, Allah akan memberikan kasih sayang-Nya.”

Abu Dawud rahimahullah mengatakan,

إذا جاءك أمر لا كفاء لك به فأصبر وانتظر الفرج من الله

“Ketika ada suatu masalah yang tak sanggup kau selesaikan bagimu, maka bersabarlah, dan tunggulah pertolongan dari Allah. (Kitabuz Zuhd, karya Imam Ahmad, hal. 173)

Kondisi anakmu saat ini, tidak lepas dari kondisimu

Pepatah mengatakan, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Maka hal inilah yang semestinya orang tua perhatikan. Tak ada contoh yang paling banyak dilihat dari seorang anak, melainkan orang tuanya. Maka sebelum mendidik, sebelum mengharapkan ekspektasi yang tinggi terhadap anak kita, hendaklah kita bercermin, mengintrospeksi diri kita, apakah kita sudah layak dijadikan contoh?

Kita menginginkan anak salat tepat waktu, kita menginginkan anak rajin membaca Al-Quran, kita menginginkan anak semangat mengkaji ilmu, namun perhatikanlah, apakah hal tersebut sudah ada di dalam diri kita juga? Menyadari bahwa pendidikan bukanlah hanya teori, bukan hanya memperlakukan anak harus seperti ini dan seperti itu. Namun, inti dari semua teori adalah introspeksi diri kita sebagai orang tua, apakah kita sudah layak? Sebelum itu, kita memohon taufik dari Allah agar Dia memudahkan kita menjadi orang tua yang baik, yang sabar dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kita. Allahu a’lam

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 1424. Syarh Riyadhus Shalihin. Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Ibnu Taimiyyah, Taqiyyuddin Ahmad. 1421. Tuhfatul Iraqiyyah Fii A’malil Qalbiyyah. Maktabah Ar-Rusdy. Saudi Arabia.

Ibnu Taimiyyah, Ahmad. 1425. Majmu’ Al-Fatawa. Disusun oleh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim. Majmu’ Malik Fahd. Saudi Arabia. Al-Maktabah Asy-Syamilah.

Sumber: https://muslimah.or.id/22121-mendidik-anak-adalah-pekerjaan-yang-tiada-usai.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id