Menangani Tantrum Pada Anak

Karena bisa memalukan dan sulit untuk diabaikan, tantrum merupakan penyebab utama stress bagi para orang tua. Seringkali tantrum terjadi di depan umum, yang berarti anda menghadapi banyak penonton yang mengamati Anda tengah berupaya meredakan amukan serta jeritan si kecil. Tantrum mulai terlihat sekitar usia 18 sampai 24 bulan dan berlanjut hingga masa awal balita. Kegiatan harian seperti berpakaian, pergi ke supermarket, atau bertamu bisa menjadi situasi penuh stres selagi anda mencoba tetap tenang sementara anak Anda menjadi-jadi tantrumnya.

Kabar baiknya adalah tantrum membantu anak anda menghadapi perasaan frustasi. Tantrum membuat anak mampu menunjukkan betapa marahnya dia. Tantrum juga memberi anda kesempatan untuk melatih anak mengatur emosinya dengan cara membicarakan perasaannya setelah tantrum usai. Ketika anda tetap tenang di tengah luapan marah serta frsutasinya, anda mengajarkan si 3 tahun bahwa perasaan-perasaan kuat tersebut tidak perlu ditakuti dan dapat dikendalikan.

Jadi, usahakanlah untuk bersikap tenang dan tetaplah berada didekatnya, agar ia tetap aman. Hindari berunding dengan anak di tengah-tengah ledakan emosinya. Ia tak akan mampu menangkap apapun yang anda katakan selama tantrum berlangsung.

Catatan:

  • Menyerah pada tantrum anak atau mengalihkan perhatian anak dengan bonus camilan manis, merupakan solusi jangka pendek. Untuk jangka panjangnya, ia belajar bahwa tantrumnya berhasil sehingga anda dipastikan akan menghadapi lebih banyak tantrum lagi.
  • Jika anda marah dan bersikap kasar ketika si kecil mengalami tantrum, ia akan belajar bahwa rasanya tidak dapat dikendalikan secara aman dan menjadi bingung terhadap perasaan sendiri.

***

Artikel Muslimah.or.id

Dari buku “Ensiklopedia Perkembangan Anak“, dr. Carol Cooper dkk., penerbit Esensi.

Sumber: https://muslimah.or.id/6661-menangani-tantrum-pada-anak.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka

Islam menganjurkan umat muslim agar punya banyak anak, karena jumlah yang banyak merupakan suatu kenikmatan bagi suatu kaum, terlebih disertai dengan pendidikan agama yang baik, adab mulia dan akhlak yang luhur pada anak-anak. Logika beberapa oknum manusia saat ini tidaklah sepenuhnya benar, mereka berkata “Banyaknya penduduk merupakan beban negara”. Tentu ini tidak benar, jumlah suatu kaum merupakan kenikmatan yang besar dan memiliki banyak keuntungan. Tentunya perlu dibarengi dengan perhatian besar untuk mendidik agama dan perhatian pada akhlak dan adab mereka.

Allah berfirman dalam Alquran yang menjelaskan bahwa jumlah yang banyak merupakan kenikmatan bagi suatu kaum.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراً

“Dan Kami jadikan kelompok yang lebih besar.” (QS. Al-Isra’: 6)

Allah Ta’ala juga memberikan nikmat kepada kaum Nabi Syu’aib akan jumlah kaumnya yang banyak, padahal sebelumnya sedikit.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ

“Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)

Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan umatnya agar memiliki banyak anak.

عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, ‘Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.’ ” (HR .Ibnu Hibban 9/338, Irwa’ no 1784)

Memiliki banyak anak saleh dan salehah merupakan harta terbesar bagi orang tua. Betapa banyak orang tua yang sudah tua renta dan sepuh, dahulunya menyesal hanya punya anak satu atau dua, karena kini mereka kesepian di usia senja mereka. Anak-anak mereka yang hanya sedikit dan sibuk dengan urusan masing-masing atau terpisah di pulau yang jauh. Mereka menyesal dan berangan-angan, sekiranya dahulu punya anak yang banyak sehingga mereka tidak kesepian dan banyak yang perhatian pada mereka di usia senja. Terlebih anak yang saleh berusaha menyenangkan orang tua dan mencari rida kedua orang tuanya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (Shahih al-Adabil Mufrad no. 2)

Banyak anak perlu disertai dengan pendidikan dan perhatian kepada yang anak.

Hal ini cukup penting, karena “sunnah banyak anak” dianggap tidak baik oleh masyarakat, karena sebagian oknum kaum muslimin hanya berpikir bagaimana punya banyak anak saja, tetapi lupa bahkan lalai memberikan perhatian serta mendidik anak mereka.

Sumber utama kerusakan anak-anak dan kenakalan remaja dikarenakan kelalaian orang tua mereka. Pertama, orang tua tidak perhatian dengan pendidikan agama anak-anak. Kedua, orang tua tidak memperhatikan teman dan lingkungan sang anak.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.” (Tuhfatul Maulud hal. 387)

Orang tua juga sering lalai memperhatikan “teman dan pertemanan” serta lingkungan bermain sang anak. Bisa jadi anak dididik di rumah dengan baik, tetapi terpengaruh dengan jeleknya temannya. Kita diperintahkan untuk memperhatikan teman dan pertemanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang akan sesuai dengan kebiasaan/sifat sahabatnya. Oleh karena jtu, perhatikanlah siapa yang akan menjadi sahabat kalian.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Mari kita ingat kembali, kewajiban kita sebagai orang tua (terutama sang ayah) agar menjaga anak dan keluarga kita dari api neraka yaitu dengan mendidik mereka.
Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taahrim: 6)

Ar-Razi menjelaskan ayat ini dengan mengutip perkataan Muqatil,

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣُﻘَﺎﺗِﻞٌ : ﺃَﻥْ ﻳُﺆَﺩِّﺏَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻠَﻪُ، ﻓَﻴَﺄْﻣُﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻫُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﺮِّ

“Seorang muslim hendaknya mendidik dirinya dan keluarganya, memerintahkan mereka kebaikan dan melarang dari keburukan”(Mafaatihul Ghaib Tafsir Ar-Roziy 30/527)

Baca Juga:

  • Orang Tua Tidak Pernah Menafkahi, Wajibkah Anak Tetap Berbakti?
  • Bolehkah Anak-Anak Main Boneka?Baca selengkapnya https://muslim.or.id/page/2?s=mendidik+anak

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/44582-sunnah-banyak-anak-dan-kewajiban-mendidik-mereka.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Doa Orang Tua untuk Anak

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna menjadikan dunia yang fana ini sebagai ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arsy yang mulia.” (al-Mu’minun: 115—116)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apakah kalian, wahai manusia, mengira bahwa Kami menciptakan kalian di dunia yang fana ini dengan sia-sia (tanpa tujuan yang mulia)? Kalian makan, minum, bersenang-senang, dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan dunia lantas Kami biarkan begitu saja tanpa Kami perintah dan Kami larang? Apakah Kami tidak membalas dan menghukum (perbuatan kalian) sehingga kalian menganggap tidak akan kembali kepada Kami (untuk mempertanggungjawabkan amalan kalian)? Jangan sampai anggapan hal seperti ini terlintas pada hati-hati kalian! Sebab, Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari anggapan seperti ini; karena hal ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya.”

Di antara ujian dan cobaan yang dihadapkan kepada para hamba-Nya adalah orang tua diuji dengan anak-anak mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan hal ini dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤ إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)

Tatkala orang tua menghadapi berbagai problem tarbiyah (mendidik dan mengasuh) anak-anak, apa yang harus dilakukan? Siapakah yang berkuasa untuk mengubah berbagai penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada mereka? Berikut ini sebagian prinsip yang harus kita pahami. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah taufik agar kita berjalan di atasnya.

Pemberi Petunjuk Hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam upaya memperbaiki dan membenahi tarbiyah orang tua terhadap anak, hal yang paling mendasar yang harus diyakini oleh para orang tua adalah bahwa pemberi petunjuk (hidayah taufik) itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Dialah satu-satunya Dzat yang berkuasa untuk menjadikan saleh atau tidaknya kita dan anak-anak kita, bahkan muslim atau kafirnya kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٞ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٞۚ

“Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (at-Taghabun: 2)

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Dalam pembukaan khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia berkata,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.”

Masih banyak ayat dan hadits sahih yang semakna dengan ayat dan hadits di atas.

Para nabi ‘alaihim as salam adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia. Akan tetapi, mereka tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada orang yang mereka cintai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya kamu (wahai Rasulullah) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash: 56)

Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam pun tidak mampu memberi petunjuk kepada anak dan istrinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٤٢

قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ ٤٣

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)

Tatkala Allah telah menakdirkan kekafiran anak laki-laki Nabi Nuh ‘alaihissallam, berbagai upaya beliau agar anaknya beriman tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana ucapan beliau ‘alaihissallam, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَا يَنفَعُكُمۡ نُصۡحِيٓ إِنۡ أَرَدتُّ أَنۡ أَنصَحَ لَكُمۡ إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغۡوِيَكُمۡۚ هُوَ رَبُّكُمۡ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٣٤

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Hud: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, kehendak (takdir) Allah subhanahu wa ta’ala yang menang. Apabila Dia subhanahu wa ta’ala berkehendak menyesatkan kalian karena kalian menolak kebenaran—walaupun aku bersemangat mencurahkan seluruh kemampuanku (demi kebaikanmu), menasihatimu dengan nasihat yang paling bagus, (dan beliau ‘alaihissallam sungguh telah menunaikan hal ini)—hal itu tidak bermanfaat bagi kalian sedikit pun. Sebab, Dia subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kalian yang melakukan (menakdirkan) apa saja yang Dia kehendaki pada kalian. Dia pula yang menghukumi segala sesuatu yang terjadi pada kalian dengan apa yang Dia kehendaki. Hanya saja, kalian akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Dia akan membalas kalian sesuai dengan amalan kalian.”

Demikian pula keturunan para nabi dan rasul ‘alaihim as salam, tidak ada jaminan menjadi orang yang saleh. Jika demikian, terlebih lagi golongan hamba Allah yang berada di bawah mereka. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam dengan anaknya di atas. Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang keturunan Nabiyullah Ibrahim dan Ishaq ‘alaihimassalam,

وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ١١٣

“Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (ash-Shaffat: 113)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kami turunkan barakah kepada mereka berdua. Maksudnya adalah tumbuh dan bertambah ilmu, amal, dan keturunan mereka berdua. Allah subhanahu wa ta’ala menumbuhkembangkan keturunan mereka menjadi tiga umat yang besar. Bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihissallam, sedangkan bani Israil dan bangsa Romawi adalah keturunan Nabi Ishaq ‘alaihissallam. Di antara keturunan mereka, ada yang saleh dan ada pula yang tidak saleh; ada yang adil dan ada yang zalim yang sangat jelas kezalimannya dengan kekafiran dan kemusyrikannya.

Boleh jadi, firman Allah subhanahu wa ta’ala ini bertujuan menghilangkan kesalahpahaman terhadap firman-Nya, ‘Dan Kami turunkan barakah kepada Ibrahim dan Ismail.’ Sebab, konsekuensi barakah yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada keturunan mereka ialah keturunan mereka semua bagus. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa keturunan mereka ada yang bagus dan ada yang zalim. Wallahu a’lam.”

Dengan penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah bahwa penentu kebaikan bagi kita dan anak-anak kita adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak boleh bagi kita untuk bersandar kepada keturunan, kemampuan, kesungguhan, fasilitas pendidikan, kurikulum sekolah, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa itu semua hanyalah upaya dan usaha, sedangkan penentunya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

Doa Orang Tua Demi Kebaikan Anak-Anaknya

Kunci kebaikan itu berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah taufik bagi kita dan anak-anak kita selain dengan terus meminta dan berdoa kepada pemiliknya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa memohon hidayah taufik-Nya dalam setiap rakaat kita, demi kebaikan kita pula.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (al-Fatihah: 6—7)

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian adalah orang yang sesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah hidayah kepada-Ku, Aku pasti memberi hidayah kepada kalian.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu no. 2577)

Dalam masalah tarbiyah, orang tua memiliki peran penentu yang sangat besar dan menjadi salah satu sebab keselamatan, kebaikan, dan kebahagiaan bagi anak-anaknya, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan bahwa doa itu mustajabah (akan terkabulkan): doa orang yang dizalimi, doa orang safar, dan doa orang tua atas anaknya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 372)

Terlebih lagi Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta segala hajat mereka, baik urusan dunia maupun agama. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji untuk mengabulkannya. Allah subhanahu wa ta’ala memberi perintah,

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Oleh karena itu, jangan biarkan kesempatan mulia ini berlalu begitu saja!

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara harapan dan angan-angan dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ (hlm. 60), “Termasuk hal yang harus diketahui, siapa saja yang mengharapkan sesuatu, harapan/citacita itu berkonsekuensi tiga hal:

  1. Mencintai hal yang diharapkan itu,
  2. Mengkhawatirkan hal itu akan lepas/hilang,
  3. Berusaha mendapatkan hal itu dengan berbagai cara (yang dihalalkan).

Adapun harapan yang tidak diiringi oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas, berarti itu hanya angan-angan (bukan harapan). Harapan adalah suatu urusan, sedangkan angan-angan adalah urusan yang lain.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu, akan khawatir apabila yang dia harapkan hilang. Misalnya, orang yang berjalan di jalanan, apabila dia takut/khawatir, dia akan mempercepat jalannya karena khawatir harapan/cita-citanya lepas.”

Berpijak dari perkataan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, tatkala orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi saleh dan salehah, maka harapannya menuntut tiga hal yang disebutkan di atas. Ketiga hal di atas menjadi bukti akan harapannya. Jika tidak diiringi dengan usaha, upaya, dan doa secara terus-menerus dengan segenap kemampuannya, ketahuilah bahwa itu hanya angan-angan, bukan harapan.

Di antara upaya dan usaha yang terus bisa dilakukan oleh orang tua adalah doa. Adapun doa orang tua untuk kebaikan anaknya terbagi menjadi dua.

  1. Doa sebelum anak dilahirkan

Contohnya ialah doa Nabiyullah Zakaria ‘alaihissallam. Dengan sebab doa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan Yahya ‘alaihissallam kepada beliau ‘alaihissallam.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩

Di sanalah Zakaria mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab. (Katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran: 38—39)

Contoh lain ialah doa yang diajarkan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat seorang suami hendak menggauli istrinya,

Jika salah seorang di antara kalian ingin menggauli istrinya, berdoalah,

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Apabila dari hubungan mereka berdua ditakdirkan tercipta seorang anak, niscaya setan tidak akan mampu membahayakannya selamanya. (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjelaskan, “Ini adalah suatu hal yang jelas. Pengikut sunnah dalam urusan ini termasuk hal yang agung, karena merupakan realisasi terhadap peribadatan dan memurnikan ittiba’/mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada keraguan bahwa seorang hamba tentu benar-benar bersemangat untuk menjauh dari setan, dan dirinya dia serta anak-anaknya dijauhkan dari berbagai tipu daya setan. Dia memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan dan tipu dayanya. Sampai-sampai dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjauhkan anak yang dikaruniakan kepadanya dari tipu daya setan.

Perhatikanlah bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini. Sudah selayaknya seorang hamba mengikuti sunnah sampai pun dalam hal seperti ini. Mengikuti sunnah adalah kebaikan.” (Huququl Aulad, hlm. 19)

  1. Doa kebaikan bagi anak setelah dilahirkan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ

“Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu.” (al-Ahqaf: 15)

Doa kebaikan bagi anak kita adalah sebaik-baik sedekah yang bisa kita berikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1009)

Demikian pula, itu adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لَِأخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 13)

Peringatan: Orang tua tidak boleh mendoakan kejelekan bagi anak-anaknya dalam kondisi apa pun, baik senang maupun susah, taat maupun maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Jangan kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 3014)

Dikisahkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah. Dia mengeluhkan kelakuan sebagian anak-anaknya kepada beliau. Beliau rahimahullah balik bertanya, “Apakah kamu pernah mendoakan kejelekan atasnya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Beliau rahimahullah berkata, “Engkau telah merusaknya (dengan doamu).”

Adab Berdoa dan Sebab Terkabulnya Doa

Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan empat adab berdoa dan sebab terkabulnya doa.

  1. Bepergian jauh (safar)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tatkala menempuh safar, hal itu akan lebih mendekatkan terkabulnya doa. Sebab, keadaan yang seperti itu akan menjadikan jiwa dan hati seseorang hancur karena jauh dari kampung halamannya. Dia menanggung berbagai kesusahan dalam safarnya. Remuknya hati merupakan sebab yang paling besar akan terkabulnya doa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/269)

  1. Penampilan dan pakaian yang lusuh, kusut, serta berdebu

Hal ini diterangkan oleh hadits,

رُبَّ أَشْعَثَ أَغَبْرَ مَدْفُوعٍ بِالَأبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأبَرَّهُ

“Boleh jadi, orang yang kusut rambutnya, berdebu (pakaiannya), ditolak di pintu-pintu, seandainya dia bersumpah atas nama Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

  1. Menengadahkan kedua tangan ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Salman radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

            “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahamalu dan Mahamulia. Dia subhanahu wa ta’ala malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya dan meminta kepada-Nya, lalu dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong lagi kecewa (tidak dikabulkan).” (HR. AhmadAbu Dawudat-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

  1. Mengulang-ulangi doa dengan menyebut Rabbnya

Hal ini menunjukkan seorang hamba sangat berharap terkabulkan doa-doanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

“Apabila berdoa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Apabila meminta, beliau mengulangi permintaannya tiga kali.” (HR. Muslim)

Peringatan: Sungguh, makanan, minuman, dan pakaian yang haram bisa menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’d radhiallahu ‘anhu“Perbaguslah makananmu (dengan makanan yang halal), niscaya doamu terkabulkan.”

Oleh karena itu, hendaknya para orang tua tidak merasa bosan dan putus asa untuk mengharapkan kebaikan dan perbaikan bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengabulkan doa-doa kita demi kebaikan kita dan mereka. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

sumber: https://asysyariah.com/doa-orang-tua-untuk-anak/

Menyemai Benih Keimanan Anak Sejak Dini

Dalam panggung sejarah, setiap kemenangan dan kemuliaan yang didapat oleh kaum muslimin bukan berasal dari perlengkapan yang hanya bersifat materi. Namun lebih dari itu, kemenangan dan kemuliaan mereka diperoleh dari keimanan yang mengakar kuat dalam hati sehingga menumbuhkan amaliah ibadah yang bagus dan akhlak yang terpuji.

Karena itu tak heran Khalifah Umar bin Khaththab tatkala melihat kehancuran Romawi beliau mengatakan kepada Abu Ubaidah al-Jarrah, “Kita dahulu benar-benar kaum yang sangat hina hingga Allah memuliakan kita dengan Islam. Apabila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Oleh sebab itu, sangat penting menanamkan dan menyemai akidah serta keimanan yang kuat dalam diri anak jika kita menginginkan mereka akan menjadi generasi yang kuat dan mulia.

WASPADAI PENGARUH BURUK MEDIA DAN LINGKUNGAN

Kegagalan musuh Islam dalam berbagai perang terbuka menggunakan senjata dan kekuatan membuahkan pemikiran untuk merusak generasi muslim dengan cara yang lebih halus. Di antaranya ialah dengan menyusupkan keyakinan dan akhlak yang tak baik ke dalam tontonan yang dapat mereka nikmati setiap hari.

Karena kita hidup di zaman yang serba bebas, maka tayangan-tayangan di dalam berbagai media yang kebanyakannya tidak mendidik dapat dinikmati oleh anak-anak jika kita tak pandai mengawasi dan memilah. Kemasan yang mengemas akhlak atau keyakinan yang tak baik itu sering terlihat sangat rapi sehingga banyak yang tidak menyadari.

Demikian pula dengan lingkungan yang buruk. Termasuk teman-teman sepergaulan, hendaknya orang tua dan pendidik selalu memperhatikan dengan siapa anaknya bergaul, karena agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya.

Maka dari itu sebagai orang tua dan pendidik seharusnya kita selalu mewaspadai dan pandai memilah, mana yang baik dan mana yang tak baik untuk kelangsungan pendidikan anak-anak kita.

TANAM DAN RAWAT BENIH IMAN ANAK-ANAK KITA[2]

Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk menanamkan benih iman yang kokoh kepada anak di antaranya dengan:

  1. Mengenalkannya dengan fondasi-fondasi iman, memahamkannya tentang rukun-rukun Islam dan mengajarinya dasar-dasar Islam yang mulia.

Maksud dari fondasi-fondasi iman yang harus dikenalkan ialah kabar-kabar yang benar yang menerangkan tentang hakikat keimanan serta berita mengenai hal-hal yang gaib, semisal iman kepada Allah, Malaikat dan para Rasul serta hari akhir dan pembalasan. Demikian pula dengan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, adzab kubur dan yang lainnya.

Adapun rukun-rukun Islam yang harus dipahamkan ialah setiap ibadah badan dan harta, semisal; shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Mengenai dasar-dasar Islam yang harus diajarkan, ialah setiap hal yang berhubungan dengan metode pendidikan yang menyangkut ajaran Islam semisal akidah, akhlak, hukum-hukum, peraturan Islam.

Maka setiap pendidik hendaknya selalu mengingat hal ini, supaya menanamkan pendidikan keimanan semenjak dini. Sehingga dengan hal itu anak-anak tidak akan mengenal lagi kecuali Islam sebagai agama, al-Qur’an sebagai panutan dan Rasulullah sebagai teladan yang harus diikuti.

Poin-poin di atas bukan hanya terambil dari teori yang tak berdasar. Bahkan hal itu semua berakar pada ajaran dan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sebagai berikut:

  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengajari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang masih kecil dengan kalimat tauhid dan akidah yang benar. Yaitu perintah untuk hanya meminta dan berdoa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana tertera dalam hadits yang masyhur. (HR. at-Tirmidzi: 2516, dishahihkan oleh al-Albani)
  • Mengenalkan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini berdasarkan atsar yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Beramallah dengan ketaatan kepada Allah dan jauhi maksiat kepada-Nya. Dan perintahkan anak-anakmu untuk selalu menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, karena hal itu sebagai penjagaan bagi mereka dan diri kalian dari api neraka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir) Dengan pembiasaan seperti ini semenjak kecil, niscaya anak akan tumbuh dan tidak akan mengenal syariat dan jalan hidup kecuali yang digariskan oleh Islam.
  • Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam agar membiasakan shalat semenjak umur mereka tujuh tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Perintahkan shalat kepada anakmu saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau) pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)
  • Perintah untuk selalu mencintai Rasulullah dan mempelajari al-Qur’an. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan, “Tidak beriman salah satu di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan dari manusia semuanya.” (HR. al-Bukhari: 15) Demikian pula tentang keutamaan mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari: 5027)
  1. Mengisahkan pengorbanan orang-orang yang shalih demi keimanan mereka.

Mengapa harus dengan kisah? Karena kisah merupakan sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah, ia pun lebih mudah dipahami oleh semua orang.

Akidah dan keimanan akan menjadi semakin tinggi dengan pengorbanan. Demikian pula semakin luas cakupan pengorbanan yang dilakukan demi keimanan dan keyakinan yang dipegang, maka keyakinan itu akan semakin mengakar kuat di dalam jiwa. Dengan itu pula kejujuran akan nampak serta menguat, dan itulah yang dinamakan sebagai istiqamah.

Anak-anak zaman sekarang tengah menghadapi berbagai tantangan dari musuh Islam untuk memalingkan mereka dari agama Allah dan keyakinan yang benar. Untuk menghadapi itu maka anak-anak harus dikenalkan pelajaran tentang pengorbanan demi akidah dan keimanan. Sehingga dengan itu mereka akan dapat merasakan manisnya iman dan kelezatannya.

Dan untuk membantu mengenalkan tentang pelajaran tersebut, hendaknya anak-anak diajarkan tentang sejarah hidup Rasulullah serta para sahabatnya saat membela keimanan dan akidah yang benar. Demikian pula dengan pengorbanan orang-orang shalih yang telah dikabarkan di dalam al-Qur’an dan dalam hadits yang shahih. Dengan mengetahui hal itu maka tatkala ujian datang, mereka akan mengorbankan apa pun demi keimanan mereka agar tetap terjaga, sebagaimana yang telah mereka pelajari dari sejarah hidup orang-orang shalih yang terdahulu.

Banyak sekali kisah yang menggambarkan pengorbanan demi keimanan yang tetap terjaga, semisal kisah Ashabul Ukhdud di dalam QS. al-Buruj, kisah Asiyah istri Fir’aun, kisah anak-anak sahabat Rasulullah saat mereka berebut untuk ikut berjihad di jalan Allah. Semisal ketika dua anak kecil yang bertanya kepada Abdurrahman bin Auf tentang letak Abu Jahal saat perang Badar karena mereka ingin membunuhnya, atau kisah Umair bin Abi Waqqash, saudara Sa’d bin Abi Waqqash menangis tatkala ditolak oleh Rasulullah saat pendaftaran peserta di pertempuran Badar, dan kisah-kisah pengorbanan yang lainnya.

MERENUNG SEJENAK

Kejayaan Islam di masa silam tentunya sangat kita rindukan. Namun bukan hanya berandai-andai tanpa adanya usaha, karena Badar tidak dimenangkan kecuali dengan kedalaman iman dan kuatnya keyakinan, Makkah tak bisa ditaklukkan kecuali karena ketaatan dan keimanan akan kebenaran janji Allah, dan yang lebih penting lagi, agama Islam tak akan bisa ada hingga sekarang jika para pendahulu kita tidak melakukan pengorbanan untuk tegaknya agama Allah. Walau harus dengan darah.

Dan pasti Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40)

Bila kita ingin generasi semisal orang-orang yang dapat menaklukkan Persia dan Romawi di masa silam, tentunya kita juga harus meniti jalan mereka saat mendidik dan menyiapkan generasi tersebut menjadi manusia yang hebat. Jika kita hanya berandai-andai tanpa ada usaha nyata, maka ibarat perkataan penyair Arab, Abul ‘Atahiyah,

Kau ingin selamat tapi tak mau menempuh jalannya

                              Sesungguhnya perahu itu tak akan bisa berjalan di atas daratan

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk bisa mendidik keturunan kita menjadi Generasi Rabbani yang dapat memberikan manfaat bagi umat. Amin

[1] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak.

[2] Disarikan dari Tarbiyatul Aulad, Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dan Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah li ath-Thifli, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dan beberapa referensi tambahan.

sumber: https://artikel.alfurqongresik.com/menyemai-benih-keimanan-anak-sejak-dini/

Larangan Berbohong pada Anak Meskipun Terlihat Remeh

Bisa jadi ada orang tua yang menganggap remeh bahwa boleh atau tidak apa-apa berbohong pada anak, karena menganggap masih kecil dan belum paham, semisal:

“Awas jangan nakal ya, nanti digigit setan lho”

“Kalau gak mau makan, nanti disuntik pak Dokter lho, mau disuntik gak?”

“Kalau pijat ayah, nanti ayah ajak jalan-jalan” (padahal gak ada niat, hanya agar dipijat aja)

“Cup cup diam ya, gak usah nangis, nanti ibu belikan maenan besok” (padahal gak ada niat, hanya agar anak diam”

Walaupun pada anak kecil, kita tidak boleh berbohong dan berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.”[1]

Harusnya kita jelaskan dengan jujur dan anak pasti paham, karena anak-anak juga punya kemampuan berpikir bahkan anak-anak terkadang hapalannya kuat dan serta “mesin fotocopy hebat”. Ia akan menagih janji tersebut dan akan sangat kecewa jika tidak jadi, serta akan mengingat kuat “kebohongan” tersebut yang nantinya akan ditiru.

Harusnya dijelaskan dengan jujur:

“Jangan nakal, karena bukan akhlak mulia dan merugikan diri sendiri”

“Ayo makan yang banyak, supaya jadi mukmin kuat dengan makan bergizi” dll

Bagaimanapun juga dusta tetaplah tidak boleh hukum asalnya (kecuali yang ada udzur dari syariat). Berdusta walaupun untuk niat baik, semisal berdusta agar orang lain tertawa dan senang, maka ini saja tidak boleh dan keras ancamannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ , ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ

“Kecelakaan bagi orang yang telah bercerita dengan suatu omongan untuk membuat suatu kaum jadi tertawa, lalu ia dusta. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya”.[2]

Kita usahakan jangan sampai berbohong, karena balasan pahalanya sangat besar yaitu jaminan surga.

Rasululmah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴْﻢٌ ﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺭﺑﺾ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﻭَﺳَﻂِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲْ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴُﻦَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ

“Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus”.[3]

Allah berfirman,

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗِﻴﻦَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar/jujur”. (Qs at-Taubah/9:119)

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:

[1] HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/452). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2942

[2] HR. At-Tirmidziy (no. 235). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih At-Targhib no. 2944

[3] HR. Abu Dawud, Ash-Shahihah no. 494

sumber: https://muslimafiyah.com/larangan-berbohong-pada-anak-meskipun-terlihat-remeh.html

Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain

Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain

Kenikmatan adalah hal yang didambakan setiap orang. Dan setiap kenikmatan juga dapat sekaligus menjadi ujian bagi seseorang. Salah satu kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah bagi sepasang insan adalah hadirnya sang buah hati dalam kehidupan. Ketika telah lahir, maka fisiknya yang lucu mengundang orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya. Dan ketika tumbuh beranjak menjadi sosok kanak-kanak, tetap tingkah lakunya banyak mengundang perhatian orang.

Dengan sebab ini, maka perlulah kita ketahui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon). Perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak. Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.

Bahaya ‘Ain

Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.” Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,

وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)

Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَيْنُ حَقٌّ، ولو كانَ شيءٌ سابَقَ القَدَرَ سَبَقَتْهُ العَيْنُ

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ‘ain telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ‘ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub. Sebagaimana dalam hadits,

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al MuwatthoWallahu a’lam.

Tanda-tanda Terkena ‘Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais,

ما لي أَرَى أَجْسَامَ بَنِي أَخِي ضَارِعَةً تُصِيبُهُمُ الحَاجَةُ؟ قالَتْ: لَا، وَلَكِنِ العَيْنُ تُسْرِعُ إليهِم، قالَ: ارْقِيهِمْ

“Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

Berlindung dari Bahaya ‘Ain

Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.

1. Bagi Seseorang yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain

Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:

مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ

“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”

2. Bagi yang Memungkinkan Terkena ‘Ain

Sesungguhnya ‘ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)

Atau dengan doa,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).

Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:

بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ

“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”

Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ‘ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ‘ain. (lihat Hisnul Muslim oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)

Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan dari Bahaya ‘Ain atau Sejenisnya

Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ‘ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:

  1. Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
  2. Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Update per tanggal 22 Januari 2012, Penulis mendapatkan faedah baru tentang mendoakan keberkahan agar orang lain tidak terkena ‘ain. Silakan baca selengkapnya di sini.

Maraji’:

  1. Majalah Al Furqon edisi 4 Tahun V/Dzulqo’dah 1426.
  2. Doa-Doa dan Ruqyah dari Al Qur’an dan Sunnah. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani. Media Hidayah. 2004.
  3. Tafsir Surah Muawwadzatain. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Akbar. 2002.
  4. Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi. Syaikh Jamal Abdul Rahman. Media Hidayah. 2002.

***

Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/42-menjaga-anak-dari-bahaya-ain.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Keutamaan Anak Yang Sholeh

Ust. Abdullah Taslim, حفظه الله تعالى

بسم الله الرحمن الرحيم

 عن أبي هريرة ، عن النبي  قال: ((إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك)) رواه ابن ماجه وأحمد وغيره بإسناد حسن.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan memiliki anak yang shaleh serta keutamaan menikah untuk tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh. Imam al-Munawi berkata: “Seandainya tidak ada keutamaan menikah kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)”[2].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Keutamaan dalam hadits ini berlaku bagi hamba Allah yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan[3].

– Anak yang shaleh termasuk sebaik-sebaik usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin dalam hidupnya, karena semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya. Inilah makna sabda Rasulullah : “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”[4].

– Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani – semoga Allah merahmatinya – berkata: “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah U berfirman:

{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS an-Najm:39).

Rasulullah bersabda: “Sungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya”[5].

Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya…”[6].

– Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya. Ini berdasarkan keumuman makna firman Allah:

{آباؤكم وأبناؤكم لا تدرون أيهم أقرب لكم نفعاً}

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu” (QS an-Nisaa’:11)[7].

– Hadits ini juga menunjukkan bahwa istigfar (permohonan ampun kepada Allah) dapat menggugurkan dosa-dosa dan meninggikan derajat seorang hamba sampai pada tingkatan yang tidak dicapai dengan amal perbuatannya yang lain, terlebih lagi jika hamba tersebut banyak beramal shaleh dan melakukan istigfar[8].


[1] HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 1598).

[2] Kitab “Faidhul Qadiir” (2/339).

[3] Ibid.

[4] HSR Muslim (no. 1631).

[5] HR Abu Dawud (no. 3528), an-Nasa’i (no. 4451), at-Tirmidzi (2/287) dan Ibnu Majah (no. 2137), dihasankan oleh imam at-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[6] Kitab “Ahakaamul janaaiz” (hal. 216-217).

[7] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/339).

[8] Ibid.

Dikutip dari:

http://manisnyaiman.com/keutamaan-anak-yang-sholeh/

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/7140

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk mengkhianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.

Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pedidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototipe kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

Bahaya lalai Dalam Mendidik Anak
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…[An Nisa’/4 : 58].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. [Al Anfal/8 : 27].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ و رَجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ وَ مَسْؤُوْ لٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertangung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. [HR Al Bukhari].

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَ هُوَ غَاشٍ لِرَعِيَّتِهِ إلاَّ حّرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ

Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin, lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya. [HR Al Bukhari]

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu. Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.


Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

  1. Menumbuhkan Rasa Takut dan Minder Pada Anak.
    Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut; takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain. Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakuti-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak akan semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.
  2. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
    Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya: takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka bohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.
  3. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-Foya, Bermewah-Mewah dan Sombong.
    Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqamah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru’ah (harga diri) dan kebenaran.
  4. Selalu Memenuhi Permintaan Anak.
    Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya: si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.
  5. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak yang Masih Kecil.
    Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.
  6. Terlalu Keras dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
    Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lain. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

  1. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran.
    Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan berbagai cara. Misalnya: dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anak-anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban orang tuanya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Na’udzubillah min dzalik.
  2. Tidak Mengasihi dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih-Sayang Di Luar Rumah Hingga Menemukan yang Dicarinya.
    Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, wa’iyadzubillah. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya, ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.
  3. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
    Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih-sayang. Bila kasih-sayang tidak didapatkan di rumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.
  4. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya.
    Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman-teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa adalah penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin, kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus mencair ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah, serta berakhlak mulia. Wallahu a’lamu bishshawaab. (Ummu Shofia)

Maraji:
At Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al Mazhahir Subulul Wiqayati Wal ‘Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al Hamd.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/2003M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
Referensi : https://almanhaj.or.id/3007-sepuluh-kesalahan-dalam-mendidik-anak.html

Tanda Sayang, Mencium Buah Hati Tercinta

Sudahkah Anda mencium buah hati tercinta?

Dalam kitab Adabul Mufrod (Al Bukhari) dibawakan Bab 50-Mencium Anak Kecil. Di antara hadits yang dibawakan.

Hadits Pertama [67/90]

Dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata,

“Seorang badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata,

أَتُقَبِّلُوْنَ صِبْيَانَكُمْ؟!فَـمَا نُقَبِّلُهُمْ!

‘Apakah kalian mencium anak -anak kalian? Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.’

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أو أملك لك أن نزع الله من قلبك الرحمة؟!”

’Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”

(Shahih) – [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Rahmatul Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 64]

Hadits Kedua [68/91]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Habis At Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata,

إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ اْلوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً!

“Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya dan berkata,

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat Allah.”

(Shahih) Lihat Ghayatul Maram (70-71): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Al Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 65]

Ada pelajaran penting di atas bahwa ternyata mencium si buah hati akan mendatangkan rahmat Allah. Beda halnya jika kita perlakukan mereka dengan kasar. Kita kadang tergoda dengan godaan syaithon yang menyuruh kita bersikap kasar ketika kita melihat tingkah laku anak yang tidak kita sukai, padahal ada cara yang lebih bijak. Mencium dan menyayangi mereka serta mendidik mereka dengan menjauhi cara memukul, itu akan lebih baik karena datangnya rahmat Allah. Lemah lembut itulah sikap pertama, bukanlah dengan kekasaran.

Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Allah Maha PenyantunDia menyukai sifat penyantun (lemah lembut). Allah akan memberikan sesuatu dalam sikap santun yang tidak diberikan pada sikap kasar dan sikap selain itu.” (HR. Muslim no. 2593)

Juga dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)

Moga Allah memberikan kita anugerah sikap sabar dan lemah lembut terhadap anak-anak kita.

Disusun di GK, 2 Rabiul Awwal 1430 H

sumber: https://rumaysho.com/1606-tanda-sayang-mencium-buah-hati-tercinta-2.html

Ayah, Uang Bukan Segalanya untuk Bahagia

Ingatlah ayah! Selama ini banyak yang beranggapan bahwa uang bisa membuat siapa pun bahagia. Hal ini memang terbukti dari bagaimana uang bisa buat anak berhenti menangis setelah diberikan jajanan yang diinginkan. Ada uang pula, istri yang ingin perhiasan mahal bisa membelinya.  Namun, itukah hakikat bahagia sejati? Tidak, yang tadi disebutkan hanyalah kebahagiaan sesaat, bukan abadi. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun, kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, no. 6446 dan Muslim, no. 1051)

Ingatlah ayah! Bahagia itu bukan pada harta yang dikumpulkan. Jika demikian, Firaun harusnya jadi orang yang paling berbahagia.

Ingatlah ayah! Bahagia itu bukan dilihat dari jabatan. Jika demikian, Haman yang menjadi menterinya Firaun harusnya yang paling berbahagia.

Ingat ayah! Hakikat bahagia yang abadi adalah jika kita mau taat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Dalam bait syair dikatakan,

ولست أرى السعادة جمع مال : : : ولكن التقي هو السعيد

“Aku tidak menganggap kebahagiaan dari kumpulan harta. Akan tetapi, bahagia itu ada pada takwa.”

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab utama untuk bahagia adalah:

  1. Beriman dan beramal saleh
  2. Berbuat baik kepada makhluk dengan ucapan dan amalan, serta dengan berbagai perbuatan baik
  3. Menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh
  4. Mencurahkan pikiran untuk serius mengerjakan amalan hari ini, meninggalkan rasa khawatir tentang masa depan, dan menghilangkan kesedihan untuk hal yang telah berlalu
  5. Memperbanyak dzikir kepada Allah
  6. Memandang orang yang di bawah (yang lebih sengsara) dalam hal dunia
  7. Melupakan masa lalu yang jelek
  8. Tak perlu berkhayal yang jelek-jelek sehingga menjadi cemas, susah, sampai-sampai menderita penyakit jantung dan gangguan saraf
  9. Bersandar penuh dan tawakal kepada Allah
  10. Lebih banyak memikirkan nikmat yang banyak diberikan oleh Allah dibandingkan musibah

Semoga para ayah bisa memahami hal ini dan diberi taufik untuk memperbaiki ketakwaan. Hanya Allah yang memberi hidayah untuk meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Disusun di Darush Sholihin Gunungkidul, 10 Jumadil Akhir 1442 H, 21 Januari 2021

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://ruqoyyah.com/1766-ayah-uang-bukan-segalanya-untuk-bahagia.html