Ajaklah Anak-Anakmu Mengerjakan Shalat

Khutbah Pertama:

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ سُنَّتَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ:

فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Ayyuhal mukminun,

Ketauhilah! Di antara perintah Allah Ta’ala yang paling besar adalah mengerjakan shalat lima waktu. Karena itu, kerjakan, tegakkan, dan jaga. Karena Allah telah memerintahkannya. Sebagaimana firman-Nya,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [Quran Al-Baqarah: 238].

Kedudukan shalat di sisi Allah sangatlah agung, tinggi, dan mulia. Shalat adalah amal pertama yang akan dihisab. Di hari yang tak lagi bermanfaat harta dan anak keturunan.

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Quran Asy-Syu’ara: 88-89].

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal seorang hamba adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi.” (HR. Tirmidzi no. 413, An-Nasa’i no. 466, shahih).

Waspadalah! Jangan sampai Anda termasuk orang-orang yang menyesal dan rugi.

Ibadallah,

Termasuk juga yang akan dihisab pada hari kiamat adalah bagaimana perhatian kita terhadap shalat istri dan anak kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” [Quran Thaha: 130].

Setelah Allah memerintahkan untuk mengingat-Nya ini, Allah berfirman di ayat berikutnya,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [Quran Thaha: 132].

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita tidak hanya memperhatikan shalat kita. tapi juga memperhatikan shalat istri dan anak-anak kita. Bahkan Allah katakan benar-benarlah bersabar dalam pendidikan shalat ini.

Dalam Surat Maryam, Allah Ta’ala memuji Nabi Ismail ‘alaihissalam,

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا * وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرْضِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” [Quran Maryam: 54-55].

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjadikan Nabi Ismail ‘alaihissalam teladan yang layak untuk diceritakan. Alasannya, karena sifat dan karakternya. Seperti apa sifat tersebut? Allah sebutkan adalah seorang yang menepati janji. Seorang rasul dan nabi. Beliau memerintahkan keluarganya untuk mengerjaka shalat dan zakat. Dengan karakter inilah ia mendapat keridhaan Allah.

Ayyuhal mukminun,

Seperti inilah hendaknya seorang yang bertakwa dan beriman. Mereka memerintahkan anak-anak mereka untuk mengerjakan shalat. Lihatlah juga Lukman al-hakim. Ia berkata pada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ

“Hai anakku, dirikanlah shalat.” [Quran Lukman: 17]

Perintah shalat ini diucapkan oleh Lukman setelah ia memerintahkan anaknya dengan perintah yang paling mulia. Yaitu menauhidkan Allah. Setelah menanamkan pondasi pada dirinya, barulah Lukman berkata pada anaknya,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

“Ajaklah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Quran Lukman: 17]

Ayyuhal mukminun ibadallah,

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk memperhatikan shalat anak kita sejak usia dini. Sebagaimana sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ ) صححه الألباني في صحيح أبي داود .

“Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka saat mereka berusia sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur di antara mereka.” [HR. Abu Daud].

Di sini kita melihat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan tahapan dalam memerintah anak. Saat mereka berusia tujuh tahun, mereka diajak dan dimotivasi untuk mengerjakan shalat. saat mereka berusia sepuluh tahun, baru diberi hukuman kalau tidak memperhatikan. Tidak serius. Bahkan sampai meninggalkan.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشْكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اِشْمِلْنَا بِرَحْمَتِكَ وَاعْفُوْ عَنْ تَقْصِيْرِنَا وَقُصُوْرِنَا, أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدَ الشَاكِرِيْنَ لَهُ الحَمْدُ فِي الأُوْلَى وَالآخِرَةِ، وَلَهُ الحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ سُنَّتَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ:

Ibadallah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala yang Dia larang. Karena dengan itulah seseorang akan sukses dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.

Ibadallah,

Mengajak dan memerintahkan shalat kepada anak dan anggota keluarga adalah sifat para nabi. Seperti kekasih Allah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berdoa kepada Allah:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” [Quran Ibrahim: 40]

Beliau seorang yang dekat kepada Allah, seorang yang shalih, namun beliau masih meminta tolong kepada Allah agar mampu mendidik dan memerintahkan anak keturunannya untuk mengerjakan shalat. Dan termasuk hak anak-anak adalah mengajarkan mereka kebaikan.

Selain mendoakan anak-anak, kita juga perlu memperhatikan ucapan kita. Saat malam hari, banyak orang tua berkata kepada anaknya yang masih kecil, “Tidur, Nak! Jangan malem-malem. Nanti sekolah besok kesiangan.” Jarang sekali ada orang tua yang mengatakan, “Tidur, Nak! Jangan malem-malem. Nanti shalat subuhnya kesiangan.” Akhirnya si anak ini sampai ia besar, terekam di pikirannya, bahwa sekolah lebih penting dari shalat. Dan masuk kantor tepat waktu lebih penting dari shalat tepat waktu. Masuk kantor jangan sampai telat dan kesiangan. Kalau shalat tidak mengapa. Ia lebih takut pada sekolahnya, pada kantornya tempat mencari nafkah, dibanding kepada Allah yang memberinya rezeki.

Ibadallah,

Selain itu, memerintahkan anak shalat juga dapat mendatangkan rezeki. Karena dalam perintah shalat biasanya Allah kaitkan dengan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [Quran Thaha: 132]

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، أعنا على القيام بحقك، أعنا على أمر أنفسنا وأهلينا بكل خير واصرفها عن كل سوء وشر واحفظنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن، اللهم اجعلنا من أوليائك وحزبك وفقنا إلى ما تحب وترضى وأحسن عاقبتنا وخاتمتنا في الأمور كلها، أرنا في أنفسنا وأهلينا وذريتنا وأحبابنا ما نحب يا ذا الجلال والإكرام، أعذنا من كل سوء وشر يا رب العالمين.

اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين، اللهم وفق ولي أمرنا خادم الحرمين الشريفين وولي عهده إلى ما تحب وترضى، خذ بنواصيهم إلى كل بر واصرف عنهم كل شر، سددهم في الأقوال والأعمال، واجعل لهم من لدنك في الحق سلطانًا نصيرًا يا ذا الجلال والإكرام.

اللهم آمنا في أوطاننا وأعذنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن، واصرف عنا كل سوء وشر، ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين، ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلًا للذين آمنوا، واغفر لنا وارحمنا إنك أنت الغفور الرحيم، اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Oleh tim KhotbahJumat.com

sumber: https://khotbahjumat.com/5735-ajaklah-anak-anakmu-mengerjakan-shalat.html

Orang Tua Wajib Bersikap Adil terhadap Semua Anaknya

Yang dimaksud dengan anak dalam pembahasan ini mencakup anak lelaki dan wanita. Hak anak sangatlah banyak. Yang terpenting adalah tarbiyah (memberikan pendidikan), yaitu mengembangkan agama dan akhlak mereka sehingga hal itu menjadi bagian terbesar dalam kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Salah satu hak anak adalah tidak mengistimewakan salah satu di antara mereka dibandingkan saudaranya yang lain, dalam hal pemberian dan hibah. Tidak boleh memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya sedangkan dia tidak memberikan kepada anaknya yang lain. Hal tersebut termasuk perbuatan curang dan zalim, padahal Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Perbuatan semacan itu akan menyebabkan kekecewaan anak yang tidak diberi dan menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan terkadang permusuhan terjadi antara anak yang tidak diberi dengan orang tua mereka.

Di dalam Shahihain (kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), terdapat riwayat dari Nu’man bin Basyir, bahwa bapaknya (yakni Basyir bin Sa’ad) telah memberikan kepadanya seorang budak sahaya. Kemudian ia memberitahukan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Basyir, “Apakah seluruh anakmu engkau berikan sama seperti ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah!”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil kepada anak-anak kalian.”

Dalam lafal lain disebutkan, “Carilah saksi orang lain, karena aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan curang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sikap melebihkan salah satu anak dalam hal pemberian dengan istilah “perbuatan curang”. Perbuatan curang adalah kezaliman dan hukumnya haram.

Bila terjadi kondisi ketika orang tua perlu memberikan suatu barang yang dibutuhkan oleh seorang anak, namun orang tua tersebut tidak memberikan kepada anak yang lain karena anak tersebut tidak membutuhkannya — misalnya salah seorang anak membutuhkan alat tulis, berobat, atau menikah — maka dalam kasus seperti ini hukumnya tidak mengapa mengistimewakan salah seorang anak atas anaknya yang lain, karena hal ini sesuai dengan kebutuhan sehingga hukumnya sama seperti memberi nafkah.

***

Catatan kaki:

Disarikan dari buku “10 Hak dalam Islam” (terjemahan), karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit Pustaka Al-Minhaj.

Sumber: https://muslimah.or.id/7417-orang-tua-wajib-bersikap-adil-terhadap-semua-anaknya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Setiap Anak Punya Masanya: Didiklah Anak Sesuai Usianya

Di antara hal yang perlu diperhatikan ketika mendidik anak adalah memperlakukan seorang anak sesuai dengan umurnya. Ketika kita ingin mendidik anak, tentunya tidak mungkin memperlakukan semua anak sama. Kita juga tidak bisa selalu memperlakukan hal yang sama pada seorang anak secara terus-menerus. Anak pasti berubah seiring dengan bertambahnya umur. Maka dari itu, perlakuan kita pada anak juga selayaknya berubah dan memperlakukan mereka sesuai dengan umur mereka.

Memperlakukan anak sesuai dengan umurnya juga dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda,

مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Lalu, apa saja masa-masa usia anak yang kita perlu perlakukan mereka berbeda antara satu dan lainnya? Dalam kitab Kaifa Turrabbi Abna’aka, di sebutkan bahwa salah satu kaidah utama untuk mendidik anak adalah memperlakukan mereka sesua dengan umur mereka. Bermain bersama mereka selama 7 tahun, ajari adab selama 7 tahun, dan bersahabatlah selama 7 tahun.

Dari kitab tersebut, kita bisa simpulkan secara umum ada 3 masa yang perlu kita ketauhi tentang anak, yaitu:

Pertama, masa bermain dan kasih sayang pada umur 0-7 tahun.

Kedua, masa pedidikan dan pembentukan adab pada umur 7-14 tahun.

Ketiga, masa pendampingan dan bersahabat pada umur 14-21 tahun.

Masa bermain dan kasih sayang (0-7 tahun)

Pada masa awal, yaitu pada umur 0-7 tahun, anak-anak lebih perlu terhadap bermain dan diberi kasih sayang. Hal ini sebagaimana contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis, beliau memerintahkan kita untuk mencium anak kecil,

قَبَّلَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ الحَسَنَ بنَ عَلِيٍّ وعِنْدَهُ الأقْرَعُ بنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الأقْرَعُ: إنَّ لي عَشَرَةً مِنَ الوَلَدِ ما قَبَّلْتُ منهمْ أحَدًا، فَنَظَرَ إلَيْهِ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَن لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihí wa sallam pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sedangkan di sisi beliau ada Al-Aqrabin Habis At-Tamimi. Al-Aqra berkata, “Aku punya sepuluh anak, tetapi belum pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandangnya, lalu bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain memberi kasih sayang, pada usia ini juga anak-anak perlu untuk bermain. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan anak-anak untuk bermain ketika beliau salat di masjid. Dalam sebuah hadis di sebutkan,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami di dalam salah satu salat Isya’, ia membawa Hasan atau Husain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke depan dan meletakkan Hasan dan Husain, beliau bertakbir untuk salat, lalu mengerjakan salat. Saat salat, beliau sujud yang lama, maka ayahku berkata, ‘Lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud.’ Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai salat, orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat salat engkau memperlama sujud, hingga kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang diturunkan kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Bukan karena semua itu, tetapi cucuku menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau membuatnya terburu-buru hingga ia selesai dari bermainnya.”

Dari hadis di atas, kita perhatikan bahwa Rasulullah membiarkan cucu-cucu beliau untuk menjadikan beliau sebagai kendaraan ketika beliau sujud dan beliau membiarkan mereka. Hal tersebut karena itu merupakan tabiat mereka yang pada usia kecil butuh bermain.

Masa pendidikan dan pembentukan adab (7-14 tahun)

Masa selanjutnya pada anak-anak adalah masa pendidikan dan pembentukan adab. Pada usia sebelumnya, anak-anak lebih banyak bermain dan diberikan kasih sayang. Akan tetapi, pada usia ini -yaitu pada usia 7 hingga 14 tahun- anak-anak mulai perlu diberikan pendidikannya. Hal tersebut sebagaimana dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ وفرِّقُوا بينِهِم في المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dari hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa pada masa ini, kita perlu mulai mendidik anak-anak kita setelah pada masa sebelumnya mereka lebih banyak bermain. Pada masa ini, kita perlu untuk memberikan pengajaran yang baik pada mereka.

Kesalahan yang sering dijumpai pada orang tua adalah, terkadang mereka hanya memberikan kebutuhan anak-anak berupa pakaian dan makanan, akan tetapi lupa untuk memberikan nutrisi akalnya dengan pendidikan agar berkembang pola pikirnya dan juga untuk membuat baik akhlaknya.

Perlu diketahui, sebagaimana Allah ciptakan anak-anak dengan fisik yang berbeda-beda: ada yang tinggi, pendek, berkulit putih, berkulit agak gelap dan semisalnya; Allah juga ciptakan anak-anak dengan akhlak dan sifat yang berbeda-beda: ada yang lembut, ada yang pemarah, ada yang cerdas, dan ada yang kurang cerdas.

Akan tetapi perlu diketahui, bentuk fisik tidak bisa kita ubah, tapi akhlak bisa kita bentuk agar memiliki akhlak dan sifat yang baik. Pada usia inilah, kita berusaha untuk mendidik dan mengajarkan adab yang baik pada anak-anak kita.

Masa pendampingan (14-21 tahun)

Pada masa ini, anak sudah mulai beranjak dewasa. Ia mulai untuk mencari jati dirinya sendiri. Kedua orang tua pada masa ini sebaiknya bisa mendampingi dan menjadi sahabat mereka. Mereka harus bisa mendengarkan pendapat mereka dan juga menghormati pemikiran dan pendapat mereka. Orang tua juga harus mulai bersabar dengan perubahan sikap mereka dan juga ketika mereka malah berusaha menjauh.

Pada masa ini, orang tua harus bisa mendampingi anak dengan benar dan menjadi sahabat bagi mereka. Jika tidak, mereka bisa memberontak dan juga bisa terpapar pada pergaulan-pergaulan yang tidak baik.

Kunci sukses mendidik anak pada masa ini adalah suksesnya pendidikan anak pada dua masa sebelumnya. Banyak orang tua yang heran, mengapa anaknya pada usia ini berubah menjadi nakal. Ternyata banyak di antara mereka yang tidak memperlakukan anak dengan baik pada dua masa sebelumnya.

Di antara mereka ada yang memperlakukan anaknya terlalu keras dan juga sebaliknya, ada yang terlalu memanjakan anaknya sehingga bisa merusak dan terlalaikan dari pendidikan yang benar dan bermanfaat. Ketika anak tidak dibangun di atas dasar yang benar dan terukur, lalu menghadapi gelombang masa remaja yang penuh dengan gejolak, hawa nafsu, kekaguman diri, dan euforia, ia tidak akan mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya, serta akan sulit untuk dinasihati dan diubah tabiat maupun perilakunya. Maka benarlah perkataan orang yang mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian sejak kecil, niscaya mata kalian akan bahagia karena mereka ketika telah dewasa.”

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Kaifa Turabbi Abna’aka, karya Syekh Ahmad bin Nashir At-Thayyar.

Sumber: https://muslimah.or.id/31470-setiap-anak-punya-masanya-didiklah-anak-sesuai-usianya.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Tidak Memanjakan Anak

Sebelum membahasnya, kita perlu mengetahui perbedaan antara memanjakan dan mencintai anak. Dikhawatirkan akan muncul persepsi bahwa mencintai sama dengan memanjakan, padahal keduanya berbeda.

Mencintai anak adalah fitrah. Setiap orang tua, baik ayah maupun ibu, pasti cinta kepada anaknya. Justru aneh jika ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Selain fitrah, mencintai anak juga merupakan perintah agama. Ketika orang tua menyayangi anak, berarti mereka sedang menjalankan ajaran agama.

Terdapat sebuah hadiTs yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang kejadian di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dituturkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk bersama para sahabat, dan di pangkuan beliau ada salah satu cucunya yaitu Al-Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saat itu, Rasulullah mencium Al-Hasan sebagai tanda kasih sayang. Kebetulan, ada seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis yang melihat hal tersebut. Al-Aqra’ ingin menunjukkan kesan “gentle” atau “jantan” dengan menyatakan bahwa ia tidak pernah mencium sepuluh anaknya, seolah-olah menunjukkan bahwa tindakan tersebut kurang “jantan.”

Mendengar ucapan Al-Aqra’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan baik-baik: “Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” Dalam kasus hadits yang kita bahas, maknanya adalah barang siapa tidak menyayangi anak, maka dia tidak akan disayangi oleh Allah. Jadi, jika ingin disayangi oleh Allah, salah satu caranya adalah menyayangi anak. Termasuk juga dalam hal ini, suami harus menyayangi istri, dan istri harus menyayangi suami, agar mereka disayangi oleh Allah.

Mencintai anak adalah perintah dalam agama kita, tetapi—dan ini penting—cinta kepada anak tidak boleh berlebihan. Kenapa? Meskipun anak tersebut adalah anak semata wayang (anak satu-satunya) yang mungkin telah dinanti selama bertahun-tahun. Misalnya, setelah menikah selama 20 tahun tanpa anak, kemudian pada tahun ke-21 lahirlah seorang anak, dan setelah itu tidak ada lagi anak.

Bagaimanapun, kasih sayang manusia, termasuk kepada anak, tidak boleh berlebihan. Contoh berlebihan dalam menyayangi anak adalah terlalu memanjakan. Memanjakan anak dapat membawa dampak buruk yang banyak.

Jangan pernah berpikir bahwa memanjakan anak adalah untuk kebaikannya. Justru, jika orang tua terlalu memanjakan anak, akan muncul dampak buruk, bukan kebaikan. Misalnya, anak akan menjadi susah mandiri karena terbiasa dilayani dalam segala hal.

Contohnya, ada anak yang setiap pagi baju sekolahnya harus disiapkan oleh orang tuanya, padahal anak tersebut sudah kuliah. Kita tidak sedang membicarakan anak bayi, karena tentu saja bayi tidak bisa disuruh mengambil baju sendiri. Dapak buruk lainnya adalah akan gampang menyerah karena terlalu dimanja. Terlalu sering orang tua turun tangan dan tidak membiarkan anak menghadapi masalahnya sendiri. Akibatnya, anak menjadi kurang mandiri. Seorang ahli pendidikan, seorang profesor, pernah menulis tentang dampak memanjakan anak. Setelah menjelaskan fenomena orang tua yang terlalu melindungi anaknya, beliau mengatakan, “Coba lihat anak-anak di pesantren. Mereka belajar mandiri, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka mengurus diri sendiri, membersihkan diri, bahkan di beberapa pondok, mereka memasak sendiri.”

Belajar mandiri ini dimulai sejak tamat SD, di mana anak-anak pesantren belajar jauh dari orang tua. Alhamdulillah, manfaatnya dapat dirasakan hingga sekarang.

Terlalu memanjakan anak memiliki banyak dampak buruk. Salah satunya adalah anak menjadi sulit mengembangkan kemampuannya. Banyak orang tua yang terlalu khawatir ketika anak mencoba sesuatu, padahal hal itu tidak melanggar aturan agama. Segala sesuatu dilarang, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Akibatnya, potensi anak untuk berkembang terhambat. Mereka tidak bisa menjadi lebih kreatif atau lebih cerdas, karena segala hal dibatasi. Kasih sayang yang berlebihan dari orang tua justru dapat membatasi perkembangan anak.

Ciri Orang Tua Memanjakan Anak

Di antara ciri yang menunjukkan bahwa orang tua sudah masuk ke level memanjakan anak, bukan sekadar mencintainya, adalah sebagai berikut:

Orang tua yang memanjakan anak adalah mereka yang menuruti apapun permintaan anak. Jadi, saya mengatakan bahwa ciri memanjakan anak adalah menuruti apapun permintaan anak, bukan hanya menuruti permintaan anak. Apakah ini sama atau beda? Beda. Yang tidak baik adalah menuruti apapun permintaan anak, karena tidak setiap permintaan anak itu baik.

Anak kecil, karena akalnya belum sempurna, sering kali meminta sesuatu hanya karena melihat temannya memiliki barang tersebut. Contoh yang paling mudah adalah anak yang belum sekolah, tapi sudah meminta handphone. Apakah permintaan itu baik? Apakah kita harus menuruti permintaannya? Jawabannya jelas tidak.

Memberikan apapun yang diminta anak hingga pada level di mana permintaan tersebut bisa merusak dirinya bukanlah tindakan yang tepat. Misalnya, hanya karena anak minta sepeda motor, padahal usianya masih sangat muda dan belum pantas untuk mengendarainya. Sayangnya, orang tua kadang tetap menuruti permintaan anak, meski tahu itu tidak baik.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya tidak mampu menuruti permintaan anak, tapi demi kasih sayang, mereka tetap melakukannya. Walaupun harus menjual barang atau berhutang, orang tua tetap memenuhinya. Ini adalah contoh nyata dari memanjakan anak.

Jadi, bagaimana cara menyikapi permintaan anak? Orang tua yang bijaksana adalah yang menyeleksi setiap permintaan anak. Caranya, lihat apakah permintaan itu melanggar ajaran agama atau tidak. Jika melanggar, maka tidak perlu dituruti.

sumber: https://www.radiorodja.com/54453-tidak-memanjakan-anak/

Berbuat Baik Kepada Anak-Anak Sebelum Mereka Dilahirkan

Kok bisa? Bagaimana caranya? Perhatikan percakapan ulama berikut

وقال أبو الأسود الدؤلي لبنيه : قد أحسنت إليكم صغارا وكبارا وقبل أن تولدوا .

قالوا : وكيف أحسنت إلينا قبل أن نولد ؟

قال : اخترت لكم من الأمهات من لا تسبون بها .

Abul Aswad Ad-Duaili berkata kepada anak-anaknya, “Sungguh aku telah berbuat baik kepada kalian sejak kalian masih kecil hingga kalian dewasa bahkan semenjak kalian belum dilahirkan.”

Anak-anaknya bertanya, “Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami terlahir?”

Beliau menjawab, “Aku telah pilihkan untuk kalian ibu yang mana kalian tidak akan pernah kecewa kepadanya.”
(Adabud dunya wad diin hal. 158, Darul maktabah, Syamilah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim: 1467)

wanita shalihah tidak akan silau dengan perhiasan dunia karena merekalah sebaik-baik perhiasan

dan inilah sifat utama dari wanita shalihah. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu [1]istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Al-Jami’ush Shahih 3/57)

Beliau juga bersabda,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَاَلْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَركَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ.

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban , Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

Bukan rumah mewah atau mobil bagus patokan yang dimiliki, tetapi istri yang shalihah

Suatu ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, Shahih Ibnu Majah no. 1505)

Dan dari semuanya memang hanya keshalihan wanita yang menjadi tolak ukur pertama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأََرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Jangan terperdaya dengan kecantikan wanita, tetap lihatlah keshalihannya…

Banyak juga laki-laki yang sudah paham agama tetapi masih memilih cantik sebagai patokan utama

@RS Mitra Sehat, Wates,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/category/remaja-islam/page/6

Memotivasi Anak untuk Melakukan Kebaikan

Memotivasi, mendorong anak untuk tampil ke depan melakukan berbagai kebaikan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kebaikan, kemuliaan hati, dan menambah percaya diri (pede) sang anak. Harapannya, bila mereka termotivasi melakukan berbagai kebaikan maka kelak akan lahir dan muncul di antara mereka para pemimpin yang dapat dijadikan sebagai teladan dan arahannya dapat diikuti.

Boleh jadi motivasi dan dorongan ini berupa memberikan pujian, mengucapkan kata sanjungan atau hadiah (reward) kepada mereka. Terkait dengan hal ini, terdapat banyak contoh ucapan yang baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Di antaranya adalah pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Sa’ad telah menukil kisahnya di dalam Kitab Thabaqat–nya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan,

كُنْتُ غُلَامًا يَافِعًا أُرَعِى غَنَمًا لِعُقْبَةَ بْنَ أَبِيْ مُعِيْطٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَقَدْ فَرَّا مِنْ المُشْرِكِيْنَ فَقَالَا يَا غُلَامٌ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ لَبَنٍ تُسْقِيْنَا ؟ فَقُلْتُ إِنِّيْ مُؤْتَمِنٌ وَلَسْتُ سَاقِيْكُمَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ هَلْ عِنْدَكَ مِنْ جَذْعَةٍ لَمْ يَنْزِ عَلَيْهَا الفَحْلُ ؟ قُلْتُ نَعَمْ فَأَتَيْتُهُمَا بِهَا فَاعْتَقَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَمَسَحَ الضَرْعَ وَدَعَا فَحَفَلَ الضَرْعَ ثُمَّ أَتَاهُ أَبُوْ بَكْرٍ بِصُخْرَةٍ مُتَقَعَرَّةٍ فَاحْتَلَبَ فِيْهَا فَشَرِبَ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ شَرِبْتُ ثُمَّ قَالَ لِلضَّرْعِ اقْلِصْ فَقَلَصَ قَالَ فَأَتَيْتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَقُلْتُ عَلِّمْنِيْ مِنْ هَذَا القَوْلِ. قَالَ إِنَّكَ غُلَامٌ مُعَلَّمٌ. فَأَخَذْتُ مِنْ فَيْهِ سَبْعِيْنَ سُوْرَة لَا يُنَازِعَنِيْ فِيْهَا أَحَدٌ

“Ketika aku (Ibnu Mas’ud) di usia anak-anak yang hampir balig, aku sedang menggembalakan kambing milik ‘Uqbah bin Abu Muhith. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr lewat ketika sedang dalam pelarian dari kejaran orang-orang musyrik. Keduanya berkata, “Wahai Ananda, apakah engkau punya susu yang dapat kami minum?”

Lalu aku menjawab, “Sesungguhnya aku hanya orang yang diberikan amanah (untuk menggembala –pen) sehingga aku tidak dapat memberikan susu yang dapat kalian jadikan sebagai minuman.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah di antara kambing gembalaanmu ada anak kambing betina yang belum dikawini pejantannya?”

Aku menjawab, “Iya, ada.” Aku pun membawakannya kepada mereka berdua. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan dan mengusap embing susunya. Lalu mengalir deraslah susu dari embing susu anak kambing betina tersebut. Kemudian Abu Bakar membawa wadah cembung dari batu. Embing susu itu pun diperah. Aku dan Abu Bakar pun meminum susunya.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada embing susu itu, “Menyusutlah.” Maka seketika itu embing susu pun menyusut. Setelah itu, aku (Ibnu Mas’ud) pun datang menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ajarkanlah kepadaku perkataan yang Engkau bawa (Al-Qur’an -pen).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Engkau adalah anak yang terpelajar.” Maka aku (Ibnu Mas’ud) pun mempelajari 70 surat langsung dari beliau dan tidak seorang pun yang mengalahkanku.”

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa sekedar keinginan anak untuk belajar tanpa diminta atau dipaksa merupakan prestasi tersendiri bagi anak yang layak mendapatkan apresiasi berupa pujian, sanjungan, doa kebaikan ataupun hadiah (reward). Oleh karena itu, sekecil apapun sikap anak dalam kebaikan, sangat layak untuk dihargai oleh orang tua, walaupun dengan sesuatu yang mungkin sepele bagi orang dewasa. Harapannya, dengan adanya apresiasi atas apa yang dilakukannya, sang anak tersebut akan termotivasi untuk terus melakukan kebaikan di masa mendatang.

Hadits ini juga menjadi bukti nyata pujian atau doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Mas’ud -yang ketika itu belum masuk Islam- dapat memberikan dampak positif yang nyata. Terbukti setelah itu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajukan keislamannya dan meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkannya Islam dan Al-Qur’an.

***

Diselesaikan ba’da subuh, Sigambal, 14 Jumadil akhir 1439 H/ 2 Maret 2018 M

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10159-parenting-islami-bag-43.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Ketika Anak-Anak Menanyakan Makna Ayat Al-Qur’an

Fatwa Syaikh Abdullah Al-Faqih

Pertanyaan:

Alhamdulillah, saya muslimah yang selalu membacakan Al-Qur’an yang saya hafal kepada anak-anak saya, yaitu surat-surat dalam Juz ‘Amma, sebelum mereka tidur. Dan terkadang mereka menanyakan saya beberapa tafsir ayat dan walhamdulillah saya jawab sebisa saya. Namun jawaban saya itu biasanya saya jawab setelah beberapa waktu kemudian, dan merupakan jawaban yang terbesit sesuai apa yang Allah datangkan pada benak saya.

Bagaimana cara agar jawaban-jawaban saya itu sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, mengingat umur mereka baru enam atau tujuh tahun? Lakum jaziilusy syukri…

Jawaban:

Apa yang anda lakukan dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an Al Karim kepada anak-anak anda, ini adalah perbuatan ketaatan kepada Allah Ta’ala yang besar keutamaannya dan besar pula pahalanya.

Adapun memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka seputar tafsir dan makna-makna ayat Al-Qur’an, ini tidak mengapa selama jawaban tersebut berdasarkan pada penjelasan dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur’an yang terpercaya, atau dari penjelasan para ulama ahli tafsir.

Sedangkan jika anda menafsirkan atau mengartikan makna-makna ayat sesuai dengan opini dan ijtihad anda, maka ini adalah perkara yang berbahaya. Tidak boleh anda mengambil cara yang demikian. Karena ini bisa termasuk dalam perbuatan berkata tentang Allah tanpa ilmu, dan termasuk perbuatan menafsirkan Al-Qur’an dengan sebatas opini tanpa dalil. Silakan merujuk pada fatwa nomor 21250 dan 80948 mengenai hal ini.

Jika anda memiliki jawaban yang shahih atas pertanyaan mereka tentang Allah, kemudian anda menjawab dengan jawaban yang sesuai tingkat pemahaman mereka, maka ini adalah hal yang bagus dan memang dituntut untuk demikian. Telah kami jelaskan rincian masalah ini pada fatwa nomor 52377, 22279, dan 1360.

Dan hendaknya juga, anda mengajarkan mereka dzikir-dzikir sebelum tidur, sehingga mereka bisa mengulang bacaannya sendiri. Mengenai dzikir-dzikir ini sudah kami jelaskan dalam fatwa nomor 4514. Wallahu a’lam.

***

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=96364

Sumber: https://muslimah.or.id/4630-ketika-anak-anak-menanyakan-makna-ayat-al-quran.html

Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.

  • 2 kali saat sholat Subuh
  • 4 kali saat sholat Dzuhur
  • 4 kali saat sholat Ashar
  • 3 kali saat sholat Maghrib
  • 4 kali saat sholat Isya

Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.

Kapan Mengajarkan?

Pada dasarnya, sejak anak belum bisa bicara, kegiatan mengajarkan Al-Qur’an bisa dilakukan.

Hasil atau proses belajar memang akan lebih terasa kalau anak sudah mulai bisa bicara.

Saat anak sudah mulai bisa menangkap kosa kata lebih banyak dan bisa melafalkan beberapa patah kata, maka orang tua dapat lebih intensif membacakan surat Al-Fatihah agar bacaan tersebut terserap.

Awalnya memang mereka masih diam. Namun jika intensif setiap hari mereka mendengar surat Al-Fatihah dibacakan, insya Allah orang tua akan takjub sendiri ketika mereka membacakan ayat-ayat tersebut dalam kegiatan sehari-hari.

Cara Mengajarkan Surat Al-Fatihah di Usia Dini

Ada berbagai cara mengajarkan anak usia dini belajar Al-Qur’an.

Mengeraskan Bacaan dalam Sholat

Saat sholat dengan bacaan yang dikeraskan, seperti sholat Subuh, Maghrib, Isya, ibu yang memang lebih utama melakukan sholat di rumah dapat membaca surat Al-Fatihah di 2 roka’at pertama.

Jika sering mendengar sang ibu membacakan surat ini dalam sholat, insya Allah anak akan menyerap bacaan sekaligus mengetahui bahwa bacaan ini memang akan selalu dibaca dalam sholat.

[Postingan di instagram bisa diakses di sini: Mendidik Al-Fatihah; postingan 21 Oktober 2019, kembar usia 3 tahun]

Meminta Mereka Membaca Al-Fatihah

Biasanya saya meminta mereka membaca Al-Fatihah saat mereka ingin menonton video anak-anak atau menggunakan tablet yang ini memang dibatasi penggunaannya di rumah.

Sebelum diizinkan, minta mereka membaca Al-Fatihah. Pada prakteknya, sebenarnya kita yang membaca lebih dahulu kemudian mereka mengikuti bacaan kita. Awalnya mungkin mereka hanya mendengarkan atau mengikuti bagian-bagian belakangnya. Lama-lama insya Allah mereka bisa mengikuti secara lebih lengkap.

Aktifitas membaca Al-Fatihah ini tidak dilakukan sekali. Minimal biasanya 3 kali. Insya Allah mereka tidak protes karena kita juga ikut membaca bersama mereka.

Biasanya prakteknya seperti ini.

Anak-anak: “Mi, mau starfall.”
Ummi: “Baca Al-Fatihah duluuu…”
Ummi: “A’uudzubillahiminasysyaithoonirrojiiim…dst membaca Al-Fatihah.”

Karena sudah paham bahwa aktifitas ini sebenarnya aktifitas biasa saja yang insya Allah tidak memberatkan dan dilakukan bersama, anak akan tahu bahwa memang mereka perlu melalui tahapan membaca surat Al-Fatihah dulu sebelum mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Cara lain, anak dapat diminta membaca Al-Fatihah (bersama sang ibu) saat mereka ingin makan makanan snack yang sifatnya jarang diberikan.

Membaca Saat di Kendaraan

Momen-momen perjalanan di atas kendaraan juga bisa dijadikan sarana mereka menyimak kita membacakan Al-Fatihah untuk mereka.

Tahapan Ilmu

  • awalnya diam,
  • kemudian mendengarkan,
  • kemudian mulai mengingat,
  • akhirnya mengamalkan,
  • dan suatu hari nanti insya Allah menyebarkan.

Semoga dengan mengetahui tahapan ini, orang tua tidak menganggap diamnya anak itu berarti tidak belajar. Tapi itu merupakan bagian dari tahapan yang ada dalam sebuah proses belajar.

Semoga dimudahkan untuk mengajarkan anak membaca Al-Fatihah ya.

@cizkah | cizkah.com
Jogja, 27 Oktober 2019 | 28 Safar

sumber : https://cizkah.com/mengajarkan-anak-surat-al-fatihah/

Buah Manis Kesabaran dalam Mendidik Anak

Aplikasi kesabran dalam mendidik anak

Setuju tidak, bahwa merawat dan mendidik anak itu butuh bergunung-gunung kesabaran? Dari pagi sampai malam kita harus menghadapi tingkah polah anak yang tak ada habisnya. Tak mau turun dari gendongan, bertengkar dengan adiknya, sering kebobolan ngompol saat toilet training, mudah menangis, tidak mau makan, merengek tak hentinya minta jajan, dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Padahal kita pun sudah lelah dengan pekerjaan rumah yang tak kunjung ada habisnya.

Ketika itu mungkin emosi kita sudah memuncak hingga ubun-ubun, kepala serasa mau pecah, dada terasa sesak. Saat itu yang kita butuhkan adalah kejernihan pikiran sehingga bukan amarah yang menguasai kita. Disaat seperti itulah mestinya kita mau merenungkan sebuah hadits yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, dia pun bersyukur, dan hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan, dia pun bersabar, dan hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 2999)

Anak adalah ujian bagi orang tuanya. Jika kita mampu bersabar dalam mendidik mereka tentu akan ada balasan pahala dari Allah, dan kelak kita akan menuai buah dari kesabaran yang manis bagaikan madu. Yaitu ketika mereka telah dewasa, kala mereka telah terbiasa dan terdidik dengan kebaikan yang kita ajarkan dan mereka menjadi manusia yang taat pada Rabbnya. Doa-doa yang selalu mereka panjatkan untuk kita adalah harta dan investasi yang tak ternilai harganya. Lalu seperti apa saja aplikasi kesabaran dalam mendidik anak?

Berikut beberapa contohnya aplikasi kesabaran dalam mendidik anak,

Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anak

Salah satu bagian dari kesabaran yang dijelaskan para ulama adalah kesabaran dalam melakukan ketaatan pada Allah. Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anakpun termasuk dalam kategori ini. Mengajarkan kebaikan membutuhkan kesabaran seorang ibu. Mengajarkan doa-doa harian, adab dan akhlak yang baik, menghafal Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Sabar menjawab pertanyaan anak

Dalam masa tumbuh kembangnya, anak akan mengalami fase dimana ia akan selalu bertanya tentang hal-hal di sekelilingnya mulai dari hal yan besar sampai hal-hal yang sepele. Jangan keluhkan hal ini, wahai Ibu! Bersabarlah menjawab setiap pertanyaan anak kita karena dengan anak bertanya pada kita sesungguhnya ia menaruh kepercayaan pada kita sebagai orang tuanya. Jika kita ogah-ogahan atau malah marah-marah dengan pertanyaan yang anak lontarkan maka anak mungkin akan jera bertanya lagi dan ia tak akan menaruh kepercayaan lagi pada kita sehingga akan bertanya pada orang lain. Lalu apa jadinya jika ia bertanya pada orang yang tidak tepat sehingga mendapat jawaban yang berbahaya bagi agamanya?

Sabar menjadi pendengar dan teman yang baik

Termasuk sifat sabar dalam mendidik anak adalah menjadi pendengar yang baik. Jangan pernah mengganggap remeh curhatan anak kita, dengarkan dan komentari dengan bijak serta sisipi dengan nasehat.

Sabar ketika emosi memuncak

Menghadapi kelakuan anak yang terkadang nakal memang menjengkelkan. Saat inilah dibutuhkan kesabaran. Jika amarah itu datang cobalah sementara untuk menjauh dari anak hingga emosi kita mereda. Setelah reda, baru dekati anak lagi dan cobalah menasehatinya. Menasehati anak sambil marah-marah tidak akan ada gunanya dan tidak memberikan kesadaran bagi anak.

Sabar jika ikhtiar kita dalam mendidik anak belum menunjukkan hasil yang maksimal

Bersabarlah jika belum ada hasil yang maksimal dalam mendidik anak kita. Selalulah ingat bahwa Allah akan selalu melihat proses bukan hasil. Setiap ikhtiar kita mendidik anak akan Allah balas meskipun itu hal yang kecil. Selalulah mendoakan anak kita agar mereka menjadi anak yang shalih-shalihah.

Penuh onak dan duri

Mendidik anak itu tidak mudah, akan ada onak dan duri. Memupuk kesabaran juga bukan perkara gampang. Bukankah kita tahu bersama bahwa jalan menuju surganya Allah penuh dengan hal-hal yang tidak kita sukai apalagi wanita memang memiliki sifat suka berkeluh kesah. Jadi bersemangatlah berusaha menjadi ibu yang sabar, semoga tips ini dapat membantu:

1) Berlatihlah untuk sabar, dan ini harus bertahap tidaklah mungkin akan langsung bisa.

2) Berdoa pada Allah agar menyuburkan sifat sabar dalam jiwa kita.

3) Membaca tentang keutamaan sifat sabar dan juga kisah Nabi dan shahabat serta orang-orang shalih ketika mendidik anak-anak mereka.

4) Sabar itu bisa naik dan turun, maka rajinlah mencharge kesabaran kita dengan banyak membaca, menghadiri majelis ilmu, serta berkawan dengan teman yang shalihah agar bisa menasehati kita untuk bersabar.

5) Saling mengingatkan dengan partner kita dalam mendidik anak, yaitu suami kita.

Bukalah mata kita, banyak orang tua yang belum dikaruniai anak atau dikaruniai anak namun memiliki ‘keterbatasan’ yang menjadikan anak sukar dididik. Ingatlah hal itu sehingga dengan itu kita akan banyak bersyukur dan berusaha keras memupuk kesabaran dalam mendidik anak-anak kita. Selalulah ingat bahwa anak adalah invetasi kita di akhirat kelak. Ibarat bercocok tanam, tanamlah benih unggul dan sabarlah merawatnya, maka kelak kita akan menyemai buah yang ranum.

***

Penulis: Nugrahaeni Ummu Nafisah

Sumber: https://muslimah.or.id/6640-buah-manis-kesabaran-dalam-mendidik-anak.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Mengucapkan Salam Ketika Bertemu Anak Kecil

Sebagai orang tua, hendaklah kita tidak merasa segan untuk memulai mengucapkan salam kepada anak kecil, baik anak kandung kita sendiri ataupun bukan. Selain berpahala, mengucapkan salam akan  menebarkan rasa cinta dan kasih sayang kepada kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian satu perbuatan yang jika kalian melakukannya, niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di tengah-tengah kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Mengucapkan salam kepada anak-anak kecil berarti meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengucapkan salam kepada anak-anak kecil berarti menebarkan dan memasyarakatkan akhlak Islami yang mulia dan luhur.

Mengucapkan salam kepada anak-anak kecil akan menimbulkan pengaruh yang baik dan kuat dalam diri anak-anak tersebut, mengajarkan dan membentuk akhlak luhur mereka, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membiasakannya.

Seorang ayah hendaknya mengucapkan salam kepada anak-anak dan istrinya ketika masuk rumah (misalnya, pulang dari bekerja), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nuur [24]: 61)

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Sesungguhnya Anas bin Malik berjalan melewati anak kecil, kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka.” Anas berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu biasa melakukannya.” (HR. Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Setelah memberikan contoh kepada mereka, kita pun bisa mengajarkan kepada anak-anak kecil tersebut bahwa dalam adab Islami, anak-anak kecil-lah yang hendaknya memulai mengucapkan salam kepada yang lebih tua. Kita pun mengajarkan kepada mereka bagaimanakah teks (kalimat) ucapan salam dalam Islam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ، وَالمَارُّ عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ

“Anak kecil mengucapkan salam kepada orang tua, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang sedang duduk, dan sekelompok orang (rombongan) yang lebih sedikit jumlahnya mengucapkan salam kepada rombongan yang jumlahnya lebih banyak.” (HR. Bukhari no. 6231, 6234)

Kita ajarkan pula, bagaimanakah menjawab salam yang ditujukan kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 86)

Dalam ucapan salam (sapaan) Islami terdapat penghormatan dan penghargaan kepada orang lain. Juga terdapat doa yang baik yang tidak terdapat dalam sapaan-sapaan yang lain semacam ucapan, “Permisi”, “Mari, pak” dan sejenisnya.

Dari ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan ketika kita mendapatkan penghormatan, yaitu ucapan salam, hendaknya kita membalas dengan salam yang lebih baik. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنَ المَلاَئِكَةِ، فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ، تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَقَالُوا: السَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ، فَزَادُوهُ: وَرَحْمَةُ اللَّهِ

“Allah Ta’ala menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada mereka para malaikat. Kemudian dengarkanlah salam mereka kepadamu, itulah salam untukmu dan salam untuk anak keturunanmu.” Maka Adam pun mengucapkan, “Assalamu’alaikum.” Malaikat menjawab, “Assalaamu’alaika wa rahmatullah.” Para malaikat menambahkan “wa rahmatullah.” (HR. Bukhari no. 3326 dan Muslim no. 2841)

Inilah ucapan salam atau sapaan kaum muslimin, yaitu “Assalamu’alaikum.” Adapun sapaan “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat malam” atau “bye bye” dan sejenisnya, bukanlah berasal dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan ucapan salam semacam itu diambil dari orang-orang kafir. Ucapan-ucapan salam tersebut pada asalnya tidaklah terlarang, kecuali jika ucapan-ucapan tersebut menggantikan ucapan salam yang diajarkan dalam Islam (Assalamu’alaikum). Kalau ditambahkan pada ucapan salam, misalnya sapaan “Assalamua’alaikum, selamat pagi”, maka hal ini tidak mengapa.

Ucapan salam yang paling baik adalah “Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh”. Diriwayatkan dari sahabat ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَشْرٌ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: عِشْرُونَ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: ثَلَاثُونَ

“Ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengucapkan, “Assalamu’alaikum.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam tersebut, orang tersebut duduk, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sepuluh.” Kemudian datang orang ke dua mengucapkan, “Assalamu’alaikum wa rahmatullah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam tersebut, orang tersebut duduk, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dua puluh.” Kemudian datang orang ke tiga mengucapkan, “Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam tersebut, orang tersebut duduk, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tiga puluh.” (HR. Abu Dawud no. 5195 dan Tirmidzi no. 2689, hadits shahih)

Berdasarkan hadits di atas, ucapan salam “Assalamu’alaikum” itu bernilai sepuluh kebaikan; “Assalamu’alaikum wa rahmatullah” itu bernilai dua puluh kebaikan; dan ucapan salam “Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh” itu bernilai tiga puluh kebaikan.

Dalam hadits di atas juga terdapat pelajaran tentang adab para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, para sahabat menunggu jawaban salam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru kemudian mereka duduk.

***

@Sint-Jobskade 718 NL, 21 Dzulqa’dah 1439/ 5 Agustus 2018

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Sumber: https://muslimah.or.id/10450-parenting-islami-bag-45.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id