[Kitabut Tauhid 4] 39 Mencari keberkahan 31

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Niat yang baik tidak serta merta menjadikan suatu perbuatan menjadi baik. Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum-  tatkala meminta dibuatkan Dzâtu Anwât tujuannya sangat mulia yaitu untuk menjadikan pedang-pedang mereka semakin ampuh agar bisa semakin bermanfaat dalam berjihad. Akan tetapi niat yang baik ini tidaklah cukup untuk mengubah kesyirikan menjadi kebaikan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 38 Mencari keberkahan 30

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Agar suatu amalan diterima oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, selain harus dibangun diatas keimanan, juga harus dibangun diatas keikhlashan dan peneladan terhadap Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Dua fondasi ini (ikhlash dan mutaba’ah) adalah realisasi yang sebenar-benarnya dari penerapan syahadatain (dua kalimat syahadat) yang mana keduanya adalah inti dari agama Islam.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 37 Mencari keberkahan 29

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Apa yang Allâh -‘Azza wa Jalla- syariatkan kepada Nabi-Nya sangat banyak mengandung unsur penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyelisihi mereka dalam semua hal  yang ada pada mereka, sampai-sampai mereka berkomentar : ‘Orang ini (Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-) tidaklah mendapati sesuatu pada kami kecuali berusaha untuk menyelisihinya.”
  • Prilaku tasyabbuh banyak bentuknya, diantaranya :
  1. Menggunakan aturan sosialis, sekuler, demokrasi, dan yang semisalnya dari aturan-aturan tata negara yang dibuat oleh orang-orang kafir. Demikian juga dalam sistem ekonomi seperti sistem riba dan sebagainya.
  2. Menggunakan kalender masehi sebagai kalender utama.
  3. Berbangga diri dengan menggunakan bahasa orang kafir atau menggunakannya tanpa ada kebutuhan.
  4. Mencukur jenggot dan membiarkan kumis memanjang.
  5. Tidak menyukai tersebarnya kebenaran, hasad terhadap ilmu, erta keutamaan yang Allâh -‘Azza wa Jalla- berikan kepada ahlul ilmi, dan berbagai akhlak jelek lainnya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 36 Mencari keberkahan 28

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Sudah menjadi keniscayaan bahwa akan ada sebagian orang dari umat yang akan meniru-niru prilaku Ahlu Kitab secara khusus, dan prilaku-prilaku jahiliyyah secara umum.
  • Islam mengajarkan kepada Kita untuk memberikan bara’(berlepas diri, anti loyalitas) terhadap orang-orang kafir, dan itu termasuk sekuat-kuatnya tali keimanan, salah satu wujudnya adalah dengan tidak tasyabbuh terhadap mereka.
  • Menyelisihi orang-orang kafir mempunyai hikmah yang sangat besar bagi Islam dan Kaum Muslimin sebagaimana tasyabbuh terhadap mereka memiliki bahaya yang sangat besar terhadap Islam dan Kaum Muslimin.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 35 Mencari keberkahan 27

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Tasyabbuh terhadap orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan (kepada mereka) dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah.
  • Orang-orang kafir itu adalah musuh-musuh Allâh -‘Azza wa Jalla-, Para Rasul, dan Kaum Mukminin. Mereka adalah manusia-manusia yang telah menyandang predikat-predikat yang buruk, jelek, dan keji dari Allâh -‘Azza wa Jalla-. Mereka adalah manusia yang berada dalam tataran makhluk yang paling rendah, hina, tercela, terburuk, dan terkutuk, dimana binatang ternak yang tidak berakal lebih baik dari mereka
  • Kerendahan dan kehinaan hidup mereka (kendatipun mereka orang yang paling kaya, paling tinggi kedudukan dan pangkatnya, dan bisa jadi paling kuat) adalah stempel (cap) yang tidak akan mungkin berubah, yang akan terus melekat, tidak akan hilang dan sirna dari mereka.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 34 Mencari keberkahan 26

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Tasyabbuh dengan orang kafir ada dua macam : (1) tasyabbuh yang diharamkan, dan (2) tasyabbuh yang mubah (diperbolehkan).
  • Tasyabbuh yang haram adalah seluruh perbuatan yang menjadi kekhususan (ciri khas) orang kafir dan diambil dari ajaran orang kafir; bukan bagian dari Islam, bahkan Islam berlepas diri dan mensucikan diri darinya. Sedangkan tasyabbuh yang dibolehkan adalah semua perbuatan yang asalnya sebenarnya bukan ke-khas-an dari orang kafir. Akan tetapi orang kafir melakukan sebagaimana yang lainnya.
  • Sesuatu yang musytarak dimana sama-sama dimiliki dan atau dilakukan oleh Kaum Muslimin dan orang-orang kafir), maka ini tidak dinamakan sebagai tasyabbuh. Dan segala sesuatu yang bermanfaat bagi Kaum Muslimin maka dibolehkan untuk diambil dari musuh-musuh mereka.
  • Seluruh kebaikan pada asalnya disediakan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus untuk mereka saja pada kehidupan akhirat nantinya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 33 Mencari keberkahan 25

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Larangan tasyabbuh (menyerupai orang-orang kafir yang terlarang dalam Syariat) merupakan bagian dari sadd adz-dzari’ah (menutup jalan menuju kepada kemungkaran). Karenanya, perbuatan-perbuatan yang dilarang karena tasyabbuh bil kuffâr (menyerupai orang-orang kafir) tetap terlarang walaupun pelakunya tidak beniat untuk tasyabbuh.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Quiz bulanan 3 – kitabut tauhid bag. 4

Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Rabu pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

[Kitabut Tauhid 4] 32 Mencari keberkahan 24

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Tasyabbuh bil kuffâr, atau meniru kekhususan orang kafir, tetap terlarang dalam Syariat walaupun pelakunya tidak berniat untuk tasyabbuh. Karena larangan tasyabbuh tidak melihat niat, namun melihat zhahir perbuatannya. Walaupun pelakunya tidak meniatkan diri untuk menyerupai orang kafir, akan tetapi hasil dari perbuatan yang ia

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 31 Mencari keberkahan 23

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Salah satu bentuk bara’ atau tidak loyal atau tidak setia dan berlepas diri terhadap orang-orang kafir adalah tidak meniru kekhasan atau kekhususan mereka, karena tasyabbuh ini bisa merusak agama seorang Muslim walaupun hanya dengan sebab menyerupai gaya lahiriyah mereka dan tidak ada kesamaan dari sisi batinnya.
  • Dalil-dalil tentang larangan tasyabbuh terkadang dibawa kepada hukum tasyabuh yang bersifat mutlak, yaitu tasyabuh yang menyebabkan seseorang menjadi kafir, dan sebagiannya mengandung hukum haram (dan tidak  mengeluarkan dari ke-Islam-an). Bisa juga dibawa pada makna bahwa dia seperti mereka sebatas apa yang ditirunya saja. Jika yang dia tiru itu dalam hal kekufuran (maka dia menjadi kafir), dan jika maksiat (maka ia telah bermaksiat). Jika dalam hal syiar kekufuran mereka atau syiar kemaksiatan mereka, hukumnya seperti itu (juga).
  • Hukum yang paling ringan (dalammeniru orang kafir) di dalam adalah keharaman, kendatipun lahiriahdalil-dalil yang melarangnya menunjukkan kafirnya orangyang menyerupai mereka.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.