[Kitabut Tauhid 4] 30 Mencari keberkahan 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Standar tasyabbuh (menyerupai orang-orang kafir yang terlarang dalam Syariat) adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas dari yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang Muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka.
  • Adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan Kaum Muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai yang terlarang dalam Syariat), sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut, kecuali jika hal itu haram bila dilihat dari sisi yang lainnya.
  • Adapun meniru-niru mereka pada hal-hal yang bermanfaat maka hal ini diperbolehkan. Karena, segala kebaikan pada asalnya disediakan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- untuk orang-orang yang beriman.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 29 Mencari keberkahan 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Ada larangan untuk menyerupai prilaku kaum Jahiliyyah. ­Dan semua yang yang dicela oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- pada Yahudi dan Nashrani adalah sesuatu yang tercela juga bagi Kita.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- benar-benar telah memuliakan Kaum Muslimin dengan Islam dan hanya dengan Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul-Mukminin ‘Umar Ibnul-Khaththâb -Radhiyallâhu ‘Anhu-  :

Ketahuilah, Kita (dahulu) adalah kaum yang paling hina, lalu Allâh -‘Azza wa Jalla- memuliakan Kami dengan Islam. Karena itu jika Kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka pasti Dia -‘Azza wa Jalla- akan menghinakan Kita. _____ HR Al-Haakim : 1/61-62.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 28 Mencari keberkahan 20

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Boleh mengingkari perbuatan syirik kecil dengan dalil-dalil tentang syirik besar. Perbuatan Para Salaf yang mengingkari syirik kecil dengan dalil-dalil tentang syirik besar, salah satu sebabnya adalah karena mereka menganggap seluruh kesyirikan, termasuk syirik kecil sebagai sesautu yang sangat besar.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 27 Mencari keberkahan 19

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Orang yang baru beralih dari satu kebathilan karena kejahilan (kebodohan) yang ia yakini tidak ada jaminan bahwa dia telah bersih seutuhnya dari keyakinan-keyakinan dan prilaku-prilaku jahiliyyah.
  • Betapa buruknya kejahilan (kebodohan) dan betap pentingnya mempelajari ilmu-ilmu agama, terkhusus ilmu aqidah, karena tidaklah orang-orang musyrik itu terjerumus ke dalam kesyirikan kecuali karena kejahilan (kebodohan) mereka terhadap agama Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Bahayanya sering berinteraksi dengan kaum musyrikin sehingga mengakibatkan sebagian pemikiran mereka dan kebiasaan mereka tertanam di hati Kaum Muslimin, dan larangan menyerupai prilaku kaum Jahiliyyah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 26 Mencari keberkahan 18

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Kisah Dzâtu Anwâth menunjukkan bahwa tabarruk (mencari keberkahan) dengan mengusap pohon, menggantungkan senjata, pakaian, atau yang lain pada pohon tersebut adalah haram dan termasuk kesyirikan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa tabarruk dengan pohon, batu, dan yang semisalnya termasuk kebiasaan buruk dari umat-umat terdahulu yang sesat.
  • Zhahirnya bahwasanya kaum musyrikin terjerumus dalam syirik akbar bukan hanya sekedar dengan sebab bertabarruk dengan pohon Dzâtu Anwâth, akan tetapi karena disertai pengagungan terhadap pohon tersebut seakan-akan pohon tersebut ada ruhnya yang bisa mendekatkan mereka kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Musâ –‘Alaihissalâm- dan yang diminta oleh Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, tujuannya adalah untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, karena mereka menduga bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- mencintai perbuatan tersebut.
  • Perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- pada Hadits yang mulia diatas merupakan salah satu tanda kenabian, karena persis seperti apa yang terjadi, dan hal ini jelas merupakan wahyu dari Allâh -‘Azza wa Jalla- yang tidak  diberikan kecuali kepada Para Nabi dan Rasul.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 25 Mencari keberkahan 17

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

Sudah menjadi sunatullaah, bahwa akan ada sebagian orang dari ummat ini yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, termasuk di dalam berbuat kesyirikan, diantaranya dengan bertabarruk dengan para makhluq.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Quiz bulanan 3 – kitabut tauhid bag. 4

Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Rabu pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

[Kitabut Tauhid 4] 24 Mencari keberkahan 16

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Tiga diantara sekian banyak berhala yang biasa dijadikan sasaran untuk bertabarruk (mencari keberkahan) oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyyah disebut oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- pada QS. An-Najm : 19-20, yaitu : [1] Al-Lâta, [2] Al-‘Uzzâ, dan [3] Manâh.
  • Sisi pendalilan penulis dari ayat-ayat ini adalah bahwasanya berhala-berhala tersebut dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk batu, kuburan, dan berupa pohon. Barangsiapa yang mencari-cari keberkahan pada pohon, batu, dan yang semisalnya, sesungguhnya perbuatannya mirip dengan kebiasaan kaum musyrikin yang mencari-cari keberkahan di berhala-berhala tersebut. Padahal semuanya tidak bisa mendatangkan kemanfaatan dan tidak pula mudharat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 23 Mencari keberkahan 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Sudah menjadi tabiat orang-orang musryik dari masa -ke masa, ketika mereka berpaling dari men-tauhid-kan (meng-esa-kan) Allâh -‘Azza wa Jalla- mereka kemudian tidak pernah puas dengan satu atau dua sesembahan saja. Dan ini merupakan salah satu adzab Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada mereka, dimana mereka diperbudak oleh berhala-berhalanya.
  • Tiga diantara sekian banyak berhala yang biasa dijadikan sasaran untuk bertabarruk (mencari keberkahan) oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyyah disebut oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- pada QS. An-Najm : 19-20, yaitu : [1] Al-Lâta, [2] Al-‘Uzzâ, dan [3] Manâh.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 4] 22 Mencari keberkahan 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Jika Kita memang menginginkan barokah dari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat nantinya.
  • Tabarruk kepada makhluq, selain kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- semasa hidupnya, atau atsarnya yang valid sepeninggalannya; termasuk perbuatan kesyirikan. Sebagiannya tergolong syirik besar, dan sebagiannya lagi bi’ad dan syirik kecil.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.