[Kitabut Tauhid 5] 43 Istighasah kepada Selain Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Istigatsah bagian dari doa, dan doa adalah ibadah yang paling agung. Sehingga, ketika doa (termasuk di dalamnya istigatsah) ditujukan kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka ini merupakan puncak kesyirikan.
  • Para ulama membagi doa menjadi dua : doa ibadah dan doa mas-alah. Doa ibadah adalah semua jenis peribadahan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; seperti shalat, puasa, haji, dzikir, dan lainnya. Sedangkan doa mas-alah adalah doa permohonan, sebagaimana yang dikenal oleh Kaum Muslimin secara umum, jika mereka berkata “berdo’a” maka maksud mereka adalah bukanlah ibadah secara umum tapi do’a secara khusus, yaitu memohon atau meminta sesuatu kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Kata-kata doa yang ada dalam Al-Quran dan Hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- terkadang maknanya adalah doa ibadah, dan terkadang maknanya adalah doa mas-alah, dan keduanya-duanya harus ditujukan hanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Dan  ada kaidah yang menyatakan bahwasanya doa mas-alah mengandung doa ibadah, sedangkan doa ibadah mengharuskan adanya doa mas-alah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 42 Istighasah kepada Selain Allah 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Doa yang diajarkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- : A’uudzu bi kalimaatillaahit taammaati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalam Allâh -‘Azza wa Jalla- yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) adalah jaminan dari Allâh -‘Azza wa Jalla- melalui lisan Rasul-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kepada siapa saja yang berlindung dengan kalimat-Nya, bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- akan melindunginya dari kejelekan makhluk-Nya.
  • Perkataan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ (Tidak akan membahayakannya sesuatupun), kata ‘syai-un’ (sesuatu) disini adalah isim nakirah (kata in-definitif) dalam konteks an-nafyu (penafian, peniadaan). Dan kaidahnya : an-nakirah fii siyaaqi an-nafyi yufiidu al-‘umuum (kata in-definitif dalam konteks penafian memberikan konsekuensi umum). Itu artinya, tidak ada apapun dan sesuatupun yang bisa memudharatkannya. Tidak hanya setan dari bangsa jin saja, tetapi seluruh cintaan Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Namun jika kenyataannya pada sebagian kasus yang terjadi berbeda dengan apa yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- sebutkan, maka sebabnya adalah karena adanya faktor penghalang terealisasinya berita dan jaminan tersebut, dan bukan karena ketidakbenaran berita dan jaminan tersebut.

  • Hadits Khaulah Bintu Hâkim -Radhiyallâhu ‘Anhâ- [ tentang doa : A’uudzu bi kalimaatillaahit taammaati min syarri ma khalaq (Aku berlindung dengan kalam Allâh -‘Azza wa Jalla- yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan)] merupakan dalil bahwa kalamullah bukanlah makhluk tetapi sifat Allâh -’Azza wa Jalla-, karena Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak mungkin mengajarkan agar berlindung dengan makhluk-Nya, dimana telah dimaklumi bahwasanya berlindung dengan makhluk adalah kesyirikan.
  • Mungkin saja Allâh -‘Azza wa Jalla- memberikan “manfaat” duniawi kepada seorang hamba dengan sesuatu yang sebenarnya hal tersebut adalah kemaksiatan kepada-Nya, atau bahkan bagian dari kesyirikan. Dan “manfaat” yang di dapatkan tersebut hakikatnya bukanlah nikmat, bahkan istidraaj.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 41 Berlindung kepada selain Allah 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Firman Allâh -‘Azza wa Jalla- : Bahwa ada beberapa orang laki-laki dari bangsa manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari bangsa jin, maka jin-jin tersebut hanya menambah dosa dan kesalahan bagi mereka. [ QS. Al Jin : 6 ]. Ini terkait dengan kebiasaan masyarakat jahiliyyah, dimana mereka apabila bepergian dan singgah di suatu tempat, mereka meminta perlindungan kepada pembesar bangsa jin penghuni tempat tersebut agar terhindar dari kejahatan kaumnya.
  • Yang pertama kali meminta perlindungan kepada jin adalah suatu kaum dari penduduk Yaman, kemudian dari Suku Bani Hanifah, kemudian tersebar di kalangan orang-orang Arab (yang lainnya). Tatkala datang Islam maka mereka berlindung kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dan meninggalkan para jin.
  • Makna “fa-zaadahum rahaqa” (maka jin tersebut menambah rahaqa bagi mereka) adalah bahwa mereka, yakni manusia semakin berdosa dan para jin semakin berani kepada manusia.
  • Yang diajarkan dalam Islam adalah ketika kita mampir di suatu tempat, mintalah perlindungan pada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Seperti yang diriwayatkan Khaulah Bintu Hâkim -Radhiyallâhu ‘Anhâ- dari Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, yaitu dengan membaca :  A’uudzu bi kalimaatillaahit taammaati min syarri ma khalaq  (Aku berlindung dengan kalam Allâh -‘Azza wa Jalla- yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang diciptakan-Nya).

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Quiz bulanan 5 – kitabut tauhid bag. 5

catatan: materi quis bulanan berasal dari 8 materi terakhir Belajar Tauhid yang telah dipelajari sebelumnya.


Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan Hari Rabu pukul 19.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

[Kitabut Tauhid 5] 40 Berlindung kepada selain Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Istighaatsah adalah thalabu al-ghauts : meminta al-ghauts (bantuan, pertolongan), maksudnya adalah adalah meminta dihilangkan kesulitan. Istighaatsah termasuk do’a. Namun do’a sifatnya lebih umum karena do’a mencakup isti’aadzah (meminta perlindungan sebelum datangnya bencana) dan istighaatsah (meminta dihilangkan bencana setelah terjadinya).
  • Meminta keselamatan dari bangsa jin untuk mencelakai orang lain atau untuk menolong orang lain, meminta pertolongan kepadanya untuk menjaga diri dari kejahatan orang lain yang dengki kepadanya, kesemuanya adalah perbuatan syirik.
  • Sebagian orang melakukan perbuatan tersebut, karena dalam dada mereka ada rasa ta’zhim (pengagungan) terhadap jin-jin tersebut, dan rasa takut terhadap kekuasaan mereka. Karena hati yang kosong dari iman yang jernih kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, kosong dari ketawakkalan yang bersih kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, pasti akan cenderung kepada perasaan semacam itu dan meminta keselamatan kepada para makhluk yang untuk diri mereka sendiri saja mereka tidak memiliki manfaat dan mudharrat, apa lagi harus membantu orang lain untuk mendapatkan manfaat dan mudharat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 39 Berlindung kepada selain Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Ada beberapa hal yang padanya seorang Muslim diwajibkan atau dianjurkan untuk ber-isti’aadzah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Diantaranya :

  1. Ketika akan membaca al-Qur’an.
  2. Sebelum membaca Al-Fatihah dalam shalat.
  3. Pada saat marah.
  4. Ketika hendak masuk kamar kecil.
  5. Ketika singgah di suatu tempat.
  6. Saat mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai.
  7. Ketika meruqyah.
  8. Ketika datang was-was setan, baik dalam shalat maupun di luar shalat.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 38 Berlindung kepada selain Allah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Isti’aadzah bisa juga dibagi menjadi dua : [1] isti’aadzah billâh (memohon perlindungan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-), baik dengan menyebut namanya atau dengan salah satu atau beberapa sifat diantara sifat-sifat-Nya, dan merupakan ibadah yang sangat mulia, [2] isti’adzah bi ghairillâh (memohon perlindungan kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-).
  • Isti’adzah bi ghairillâh (memohon perlindungan kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-) hukumnya terbagi menjadi tiga : [1] boleh, yaitu jika pada sesuatu yang mubah (tidak diharamkan, tidak  dalam rangka bermaksiat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-) yang dimampui oleh makhluk, seperti meminta perlindungan kepada polisi dari kejahatan orang yang jahat dan yang semisalnya; [2] haram, yaitu jika pada sesuatu yang diharamkan yang dimampui oleh makhluk, seperti meminta perlindungan kepada orang-orang yang jahat untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, atau dalam rangka bermaksiat kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; dan [3] syirik, yaitu meminta sesuatu yang tidak dimampui oleh makhluk seperti kepada mayat (orang yang telah meninggal dunia), atau meminta perlindungan pada yang ghaib seperti kepada jin atau manusia yang tidak ada disisinya.
  • Siapa saja yang bergantung kepada selain Allâh -’Azza wa Jalla-, niscaya dia akan telantar. Karena hanya Allâh -’Azza wa Jalla- satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan setiap makhluk. Allâh -’Azza wa Jalla- adalah Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari ilmu dan kekuasaan-Nya. Seluruh manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka wajib bagi setiap hambah untuk memurnikan isti’aanah (permintaan tolong) hanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 37 Berlindung kepada selain Allah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Isti’adzah terbagi menjadi 4 macam, yaitu :

  1. Sti’aadzah dengan orang mati atau dengan orang hidup namun tidak hadir dan tidak sanggup memberikan perlindungan, maka ini hukumnya syirik. Termasuk isti’aadzah jenis ini adalah meminta perlindungan keselamatan kepada jin, kuburan orang shahilh, kuburan Nabi, dan bahkan Para Malaikat sekalipun. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.
  2. Yang dimintai perlindungan mampu memberikan perlindungan; [2] yang dimintai perlindungan hidup dan ada di hadapannya, bukan gaib (tidak ada disisnya) dan tidak bisa berkomunikasi dengannya; [3] tidak bergantung padanya dengan ketergantungan yang sangat, disertai sikap perendahan diri kepadanya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 36 Berlindung kepada selain Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Isti’adzah terbagi menjadi 4 macam, yaitu :

  1. Isti’aadzah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Yaitu meminta perlindungan yang disertai rasa butuh yang sangat dan bergantung sepenuhnya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Disertai keyakinan bahwa yang dimintai perlindungan (Allâh -‘Azza wa Jalla-) mampu memenuhi permintaannya dan dapat melindunginya dari segala kejelekan yang besar maupun kecil, di saat itu juga atau di waktu mendatang, baik langsung bisa dirasakan maupun tidak. Isti’aadzah jenis ini sangat diperintahkan karena menunjukkan kebutuhan seorang hamba dalam perlindungan dan penjagaan diri dari segala sesuatu kepada Rabb-nya -‘Azza wa Jalla-.
  2. Isti’aadzah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat Allâh -‘Azza wa Jalla- seperti kalam, keagungan, kemuliaan-Nya, dan seterusnya. Isti’aadzah jenis ini hukumnya sama dengan yang pertama.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 35 Berlindung kepada selain Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Isti’aadzah adalah permohonan perlindungan diri dari sesuatu yang ditakuti atau dibenci kepada yang dianggap mampu memberikan perlindungan.
  • Allâh -‘Azza wa Jalla- memerintahkan untuk berindung kepada-Nya dari kejelekan makhluk-Nya dalam banyak ayat-ayat-Nya, yang semua itu menjadi dalil bahwa  isti’aadzah kepada-Nya adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang sangat mulia. Dan yang namanya ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-. Apabila seseorang beristi’aadzah kepada makhluk pada sesuatu yang tidak dimampuinya atau kepada makhluk yang ghaib (tidak  hadir disinya), maka hal itu merupakan kesyirikan.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.