[Kitabut Tauhid 6] 03 Istighasah kepada Selain Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Seandainya Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dimana Beliau adalah orang yang paling mulia, berdoa kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- akan menjadi bagian dari 0rang-orang yang musyrik dan akan diadzab oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, apalagi selain Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  • Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- saja harus berdoa kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka tentu Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak pantas untuk diminta dan ditujukan doa kepadanya. Begitu juga dengan Nabi ‘Isaa –‘Alaihissalâm- yang bahkan dalam injil- disebutkan juga berdoa, maka tidak pantas orang-orang Nashrani berdoa kepada Beliau –‘Alaihissalâm-.
  • Perbuatan berdoa kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak memberikan manfaat sedikitpun bagi pelakunya, baik untuk urusan dunia dan terlebih untuk urusan akhirat. Bahkan perbuatan tersebut mencelakakan pelakunya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 6] 02 Istighasah kepada Selain Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Doa adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling utama. Karena dengan doanya, seorang hamba mengakui Allâh -‘Azza wa Jalla- sebagai Rabb-nya (dan Rabb nya seluruh alam semesta), kemudian dia menampakkan dan meminta kebutuhannya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan merendahkan dan menghinakan diri di hadapan-Nya.
  • Istighaatsah (meminta pertolongan dalam kondisi genting) adalah bagian dari doa, bahkan bagian khusus dari doa.
  • Karena doa adalah ibadah yang paling utama, maka berdoa secara umum kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan kesyirikan yang paling besar, terlebih jika beristighaatsah kepada selain-Nya, karena istighaatsah bagian paling khusus dari doa.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 6] 01 Istighasah kepada Selain Allah 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Orang yang membolehkan istigaatsah kepada orang yang telah meninggal dunia diantara berdalil dengan QS An-Nisaa’ 46 tentang perintah Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada orang-orang yang telah berbuat zhalim untuk datang kepada Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- agar Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memintakan ampun bagi mereka kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Mereka berdalilkan dengan ayat ini dan berkata bahwa ayat ini umum mencakup saat Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- masih hidup dan setelah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- meninggal dunia. Sehingga disyariatkan datang ke kuburan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan meminta agar Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memohonkan ampunan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- agar mengampuni dosa-dosa kita.

Padahal ayat tersebut terkait dengan kejadian khusus, karena ayat ini berkaitan dengan perilaku suatu kaum yang tidak beradab terhadap Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Sebagaimana pada ayat sebelumnya Allâh -‘Azza wa Jalla- menjelaskan tentang perilaku mereka yang berhukum kepada thaghut padahal Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- ada di tengah-tengah mereka.

Terbukti juga bahwa Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- jika berdosa maka mereka tidakmendatangi Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- lalu meminta agar Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memohonkan ampunan untuk mereka. Melainkan Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhum- akan bertaubat sendiri kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- secara langsung.

dan sekarang kita akan memasuki materi kitabut tauhid bagian ke Enam

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[MATERI] Arsip Materi Kitab Tauhid bag.5

untuk mempermudah pengguna, silahkan unduh materi PDF dari ustadz. dan kami telah merangkum seluruh link video materi belajar tauhid sebagai berikut:

MATERI PDF: 

https://drive.google.com/file/d/1K-B61oX9xL151X2k08JcxgIitinP98rk/view?usp=share_link

PINTASAN MATERI VIDEO

1. https://youtu.be/_pWt50GgDkQ

2. https://youtu.be/wPQ-7dToHig

3. https://youtu.be/if4eEiDzbE8

4. https://youtu.be/tzYMryRumVE

5. https://youtu.be/bhcPG09tOf8

6. https://youtu.be/AyvodhFhNZI

7. https://youtu.be/xHILJtXISCE

8. https://youtu.be/g4BNDPm22GI

9. https://youtu.be/wtEkl_3kLU8

10. https://youtu.be/kmzm7_d5E0I

11. https://youtu.be/nPYz0HWWjFY

12. https://youtu.be/av0g88IrsPY

13. https://youtu.be/AiWWNhivSg4

14. https://youtu.be/39Y0vt0v_vQ

15. https://youtu.be/BjkrGhTNgdY

16. https://youtu.be/fdruRf1aqQE

17. https://youtu.be/94QFQLbjXrE

18. https://youtu.be/Mdy8_JhiR0s

19. https://youtu.be/owOdbMPFnk4

20. https://youtu.be/JhHz2edtKOo

21. https://youtu.be/aF7U6w09PN8

22. https://youtu.be/YLZBLe1tbJs

23. https://youtu.be/qXBVxQWbY9A

24. https://youtu.be/PHkhTH8hiM4

25. https://youtu.be/yqtwATaJHnI

26. https://youtu.be/8VczB-07r9E

27. https://youtu.be/rjTIQARSA1M

28. https://youtu.be/sASzpt_jVzk

29. https://youtu.be/os93IB177ME

30. https://youtu.be/IqoyZ-4Mukg

31. https://youtu.be/U3J2G2T7Ekw

32. https://youtu.be/ht5VrxnFfg0

33. https://youtu.be/UnFHmsK-x4A

34. https://youtu.be/5YdU1Abmmhs

35. https://youtu.be/gPdcwtfzBdU

36. https://youtu.be/_tZ_hCK5HGI

37. https://youtu.be/8H7OaSAcOjo

38. https://youtu.be/h65fYtD-TJk

39. https://youtu.be/3Gwd8Af2AgQ

40. https://youtu.be/x-JIc18eG2A

41. https://youtu.be/L7_te0Yw1V4

42. https://youtu.be/AFf24GIQmmc

43. https://youtu.be/OXcKu7ZDDso

44. https://youtu.be/KOV1q2QqnX4

45. https://youtu.be/QHpPZ5VSOfg

46. https://youtu.be/eE9ri75MpLQ

47. https://youtu.be/J_78T8LGWbU

48. https://youtu.be/r77OKiBgP9c

[Kitabut Tauhid 5] 48 Istighasah kepada Selain Allah 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Ada dalil yang menyatakan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- menetapkan kehidupan bagi orang yang mati syahid, dan ada dalil yang mengisyaratkan bahwa Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah meninggal, maka seakan-akan terdapat kontradiksi diantara dua sisi pendalilan tersebut. Ada kehidupan yang dinafikan namun ada pula yang ditetapkan. Namun sebagaimana diketahui bahwa ayat-ayat di dalam Al-Quran tidak akan mungkin kontradiksi satu dengan yang lainnya.
  • Sehingga komprominya adalah kehidupan yang ditetapkan pada dalil yang menetapkan kehidupan berbeda dengan kehidupan yang dinafikan pada dalil-dalil akan kematian Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Oleh karena itu, para ulama mengatakan : Kehidupan yang ditetapkan dalam dalil-dalil tidak sama dengan kehidupan yang dinafikan oleh dalil-dalil.
  • Adapun kehidupan yang ditetapkan di dalam dalil-dalil disebut dengan  al-hayaah al-barzakhiyyah (kehidupan alam barzakh), sedangkan kehidupan yang dinafikan disebut dengan al-hayah ad-dunyaawiyyah yaitu kehidupan di alam dunia.

2. Dalil-dalil yang datang tentang kehidupan barzakhiyah hanya datang tentang dua jenis manusia yaitu syuhada’ dan Para Nabi. Adapun para syuhada berdasarkan QS Al-Baqarah : 154 dan QS Ali Imran : 169. Sedangkan kehidupan barzakhiyah bagi Para Nabi berdasarkan sabda Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.

Adapun kehidupan barzakhiyah bagi orang-orang shalih dan para wali Allâh -‘Azza wa Jalla- (selain Para Nabi dan para syuhada’) maka tidak ada dalilnya secara khusus.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 47 Istighasah kepada Selain Allah 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Suatu istigaatsah termasuk syirik akbar jika permintaan tolong tersebut ditujukan pada makhluk pada sesuatu yang hanya bisa dipenuhi oleh Allâh -‘Azza wa Jalla-, tidak oleh yang lainnya.
  2. Diantara syubhat yang dilontarkan oleh mereka adalah keyakinan bahwa meskipun Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah meninggal dunia akan tetapi hakikatnya Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-  masih hidup, sehingga boleh-boleh saja datang ke kuburan Nabi -Shallallâhu ‘Aaihi Wassalam- lalu meminta agar Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- mendoakan mereka.
  • Syubhat tersebut bisa dibantah dari dua sisi : [1] tidak ada Shahabat atau Para Salaf yang memahami dalilnya seperti itu, [2] tidak  ada Shahabat atau Para Salaf yang melakukan amalan seperti itu. Yang benar adalah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak pernah keluar dari kuburannya kecuali pada hari kiamat kelak, karena kematian Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah sesuatu yang nyata.
  • Syubhat mereka ini juga disebabkan kesalahan mereka dalam memahami ayat-ayat yang menyatakan bahwa para syuhada itu tetap hidup dan tidak mati. Ini keliru, tidak pernah ada dari kalangan Shahabat yang datang ke pemakaman para syuhada perang Uhud lalu meminta kepada mereka. Justru sebalikya Para Shahabat -Radhiyallâhu ‘Anhu- datang ke pemakaman tersebut dalam rangka untuk mendoakan para syuhada tersebut, dan bukan sebaliknya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 46 Istighasah kepada Selain Allah 05

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Istighatsah kepada orang yang sudah meninggal dunia dan mengarahkan hati kepada mereka adalah asal kesyirikan di alam ini. Mayat telah terputus amalnya, tidak bisa memberikan manfaat dan kemudharatan kepada dirinya sendiri, apalagi kepada orang yang memohon kepadanya dan meminta dipenuhi hajatnya, atau meminta agar syafaat untuknya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Bahkan mayat membutuhkan orang lain (yang masih hidup) untuk mendoakannya, memohon rahmat untuknya, memohon ampunan baginya.

Istighatsah yang disyariatkan terbagi menjadi dua, yaitu : [1] istighatsah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- secara langsung, hukumnya disyaritkan; [2] istighatsah dengan makhluk dalam hal yang mampu mereka lakukan, hukumnya diperbolehkan dengan syarat -syarat berikut  :

  1. Yang meminta istighatsah harus menyakini sepenuhnya bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat atau mudharat melainkan Allâh -‘Azza wa Jalla- semata.
  2. Yang dimintai pertolongan mampu untuk menolong.
  3. Yang dimintai pertolongan hidup.
  4. Yang dimintai pertolongan hadir, bisa diajak berkomunikasi dan mengetahui.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 45 Istighasah kepada Selain Allah 04

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Di dalam QS Fâthir : 22 Allâh -‘Azza wa Jalla- mengatakan bahwa Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tidak mungkin bisa menjadikan orang yang sudah mati bisa mendengar, padahal Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-  adalah manusia paling mulia, apalagi selain Beliau. Artinya, jelas sekali bahwa siapapun yang sudah mati tidak bisa mendengar seruan orang yang masih hidup. Maka percuma saja minta-minta kepada orang yang sudah mati. Kalau ada yang membolehkan meminta doa kepada orang mati, berarti ia meyakini bahwa orang mati bisa mendengar permintaan yang masih hidup. Dan ini sama dengan menentang makna ayat di atas. Dan perbuatan ini bagian dari kesyirikan.

  • Istighatsah itu terbagi menjadi dua :   [1] istighatsah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-, dan [2] istighatsah kepada makhluk.

Istighatsah kepada makhluk terbagi lagi menjadi dua, yaitu pada hal yang tidak mampu melakukannya kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-, istighatsah seperti ini tergolong sebagai syirik akbar. Dan yang kedua istighaatsah pada hal yang secara umum makhluk mampu melakukannya, istighaatsah jenis ini bukanlah kesyikiran.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 44 Istighasah kepada Selain Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Istighaatsah termasuk do’a. Namun do’a sifatnya lebih umum karena do’a mencakup isti’aadzah (meminta perlindungan sebelum datangnya bencana) dan istighaatsah (meminta dihilangkan bencana setelah terjadinya).
  • Pada hakikatnya setiap bencana dan musibah yang menghilangkan hanyalah Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Jika ada sesuatu yang bisa dihilangkan oleh makhluk dalam hal yang ia mampui, maka itu hanyalah sebab saja. Namun hakikatnya Allâh -‘Azza wa Jalla- lah yang menakdirkan semua itu terjadi.
  • Istighatsah kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla- termasuk bagian dari do’a (kepada selain-Nya).  Sedangkan do’a adalah ibadah. Begitu pula istighatsah adalah ibadah. Dan memalingkan ibadah kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla- termasuk kekufuran dan kesyirikan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 5] 43 Istighasah kepada Selain Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  • Istigatsah bagian dari doa, dan doa adalah ibadah yang paling agung. Sehingga, ketika doa (termasuk di dalamnya istigatsah) ditujukan kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka ini merupakan puncak kesyirikan.
  • Para ulama membagi doa menjadi dua : doa ibadah dan doa mas-alah. Doa ibadah adalah semua jenis peribadahan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-; seperti shalat, puasa, haji, dzikir, dan lainnya. Sedangkan doa mas-alah adalah doa permohonan, sebagaimana yang dikenal oleh Kaum Muslimin secara umum, jika mereka berkata “berdo’a” maka maksud mereka adalah bukanlah ibadah secara umum tapi do’a secara khusus, yaitu memohon atau meminta sesuatu kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Kata-kata doa yang ada dalam Al-Quran dan Hadits Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- terkadang maknanya adalah doa ibadah, dan terkadang maknanya adalah doa mas-alah, dan keduanya-duanya harus ditujukan hanya kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- semata. Dan  ada kaidah yang menyatakan bahwasanya doa mas-alah mengandung doa ibadah, sedangkan doa ibadah mengharuskan adanya doa mas-alah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.