[Kitabut Tauhid 7] 33 Larangan Pengagungan Terhadap Kuburan 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Sikap berlebihan terhadap kuburan orang-orang shalih akan menjadi sebab kuburan-kuburan tersebut dijadikan sebagai berhala yang disembah.
  2. Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah berupaya maksimal dalam menjaga kemurnian Tauhid dan menutup semua jalan yang bisa menghantarkan kepada kesyirikan, diantaranya dengan melarang beribadah di sisi kuburan dan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Quiz bulanan 4 – kitabut tauhid bag. 7

catatan: materi quis bulanan berasal dari 8 materi terakhir Belajar Tauhid yang telah dipelajari sebelumnya.


Dear pengguna, sudah murajaah kan.?

baiklah, kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

link utama

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: insyaallah, hasil pemeringkatan akan kami umumkan Hari Rabu pukul 19.00WIB di beranda HijrahApp

catatan3: Materi yang diujikan ada di beranda HA, buka kategori belajar tauhid, pelajari 8 materi terakhir

[Kitabut Tauhid 7] 32 Larangan Pengagungan Terhadap Kuburan 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Terlarangan hukumnya beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- di sisi kuburan orang shalih, terlebih jika orang shalih itu sendiri yang diibadahi. Justru, larangan beribadah kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- di sisi kuburan orang shalih tujuannya adalah untuk menutup jalan bagi penyembahan terhadap orang-orang shalih.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 31 Larangan Pengagungan Terhadap Kuburan 01

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Faktor yang menyebabkan terjadinya kesyirikan adalah tercampur-aduknya antara kebenaran dengan kebathilan. Adapun yang pertama (kebenaran) adalah : rasa cinta kepada orang-orang shalih. Sedang yang kedua (kebathilan) adalah : tindakan yang dilakukan oleh orang-orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.
  2. Asalnya bid’ah itu ditolak syari’at dan fitrah manusia, dan yang menyebabkan bid’ah diterima adalah karena mirip dengan kebenaran dan baiknya niat atau tujuan orang yang mengamalkannya. Syaithan mengetahui dampak yang diakibatkan oleh bid’ah, walaupun pelakunya tidak menghendaki kecuali kebaikan. Dan Para Ulama Salaf telang mengingatkan bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran.
  3. Yang menyebabkan manuia berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih tidak lain karena mengharapkan syafaat mereka. Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu (dari generasi sebelum mereka) yang membuat patung (orang-orang shalih yang telah meninggal dunia) itu bermaksud demikian (patung tersebut untuk disembah agar memberikan syafaat di sisi Allâh -‘Azza wa Jalla-).
  4. Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya Para Ulama.
  5. Diantara watak dasar manusia adalah bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 30 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Terlarang hukumnya membuat rupaka-rupaka makhluk bernyawa dan menjadikan kuhuran orang-orang shalih sebagai tempat ibadah, karena perbuatan tersebut yang telah menyeret orang-orang musyrik generasi pertama (kemudian diikuti generasi-generasi setelahnya sepanjang zaman) ke dalam perbuatan kekufuran dan kesyirikan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 29 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Penyembahan terhadap Para Malaikat, Para Nabi, dan orang-orang shalih juga termasuk kesyirikan. Tidak seperti yang diduga oleh para penyembah kubur dizaman sekarang ini yang mengatakan bahwa orang yang menyembah Malaikat, Para Nabi dan orang shalih tidaklah kafir. Mereka mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung dengan para wali atau orang shalih. Argumen mereka ini dibantah dengan dua sisi

  1. Allâh -‘Azza wa Jalla- di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan kepada selain-Nya tanpa mengecualikan siapapun, termasuk Malaikat, Para Nabi dan orang shalih.
  • Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- memerangi semua pelaku kesyirikan tanpa membeda-bedakan mereka dengan sebab perbedaan sesembahan mereka.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 28 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 12

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Prilaku Ahlul Kitab yang ghuluw (berlebih-lebihan, melampaui batasan) dalam agama mereka yang kemudian menyeret mereka dalam kesyririkan dan kekufuran, bermula dari prilaku ithraa’ atau berlebihan dalam menyanjung dan memposisikan orang-orang shalih.

  • Uzair dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai anak Allâh -‘Azza wa Jalla-  sebagaimana Nabi ‘Isâ Putra Maryam -‘Alaihissalâm- dijadikan oleh orang-orang Nashrani sebagai anak Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan ini tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi pada umat-ummat sebelum merea. Al-Latta yang disebut Allâh -‘Azza wa Jalla-  dalam QS. An-Najm : 19 yang disembah oleh orang-orang musyrik Quraisy dahulunya adalah orang shalih, dermawan, dan ditokohkan. Demikian juga dengan Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nashr yang disembah oleh kaumnya Nabi Nuh -‘Alaihissalâm- dahulunya mereka adalah orang-orang shalih yang dihormati kaumnya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 27 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 11

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Setiap pujian terhadap Ahlul Kitab dalam Al-Qur’an, ayat-ayat tersebut jika ditilik kembali konteksnya selalu bermuara pada dua hal : [1] mereka adalah orang yang beriman pada ajaran asli Nabi mereka sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, atau [2] mereka yang kemudian beriman kepada risalah Nabi Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- setelah kedatangannya. Selebihnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang Ahlu Kitab, seluruhnya atau hampir seluruhnya berisi celaan terhadap mereka terkait kerusakan agama dan moral mereka.
  2. Ahlul Kitab memiliki kedudukan tersendiri dalam hukum Islam yang membedakan mereka dengan orang-orang kafir (musyrik) lainnya, yaitu : [1] mereka wajib membayar jizyah; [2] boleh bagi seorang Muslim menikahi wanita Ahlu Kitab yang baik, jika memang dia mampu membentengi keimananannya; [3] halal bagi Kaum Muslimin sembelihan Ahlu Kitab jika tidak ada bukti yang nyata  bahwa sembelihan tersebut disembelih dengan selain nama Allâh -‘Azza wa Jalla- juga tidak ada bukti bahwa sembelihan tersebut ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan di luar hal tersebut, seluruh hukum yang berkenaan dengan mereka dalam Islam sama persis dengan hukum yang berkenaan dengan orang-orang kafir yang lainnya.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 26 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 10

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Kafirnya Ahlu Kitab merupakan ijma’ (konsensus, kesepakatan) yang disepakati di dalam Islam. Kesepakatan ini tidak boleh diingkari oleh seorang pun dari Kaum Muslimin. Siapa saja yang mengingkari kesepakatan ini, maka dia keluar dari Islam dan tidak lagi menjadi bagian dari Kaum Muslimin.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

[Kitabut Tauhid 7] 25 Bahaya ghuluw terhadap orang shalih 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

  1. Dimasukkannya Ahlul Kitab sebagai objek Dakwah Tauhid menunjukkan bahwa mereka telah menyimpang dari Dakwah Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi mereka. Bahkan Allâh -‘Azza wa Jalla- telah membatalkan agama mereka dan mengharuskan mereka mengikuti dakwah Nabi Kita Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Nama Ahlul Kitab adalah julukan di dalam Al-Quran yang ditujukan untuk Yahudi dan Nashrani, karena yang dimaksud dengan kitab disana adalah Taurat dan injil. Allâh -‘Azza wa Jalla- dan Rasul-Nya menyebut mereka sebagai Ahlul Kitab bersamaan dengan kerusakan agama mereka dan kekafiran mereka.

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.