Gotong Royong Berumah Tangga

Antara naik bus dan berumah tangga

Penulis yakin bahwa para pembaca sekalian pernah menaiki bus. Dan tentu masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda. Mungkin ada yang pernah menaiki bus yang dikemudikan oleh supir yang ugal-ugalan, targetnya hanya mengejar setoran, tanpa memperhatikan keselamatan. Tentu saat itu Anda dipaksa untuk sport jantung, sembari tidak lupa untuk membasahi lisan dengan kalimat tahlil, sebagai bentuk persiapan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun sebagai penumpang yang baik, tidak cukup hanya itu saja yang dilakukan. Anda perlu menegur sang sopir, supaya Anda-dan juga dia-tidak menjadi korban kecelakaan.

Selain itu tentu ada juga pengalaman indah, saat Anda disopiri oleh pengemudi yang santun dan mahir. Rasanya nikmat sekali perjalanan, hingga penumpang satu bus, termasuk Anda, terkantuk-kantuk. Akibatnya sopirnya pun tertular hawa kantuk. Dalam kondisi nyaman seperti ini pun, jika Anda tidak berperan aktif mengingatkan pak sopir, bisa jadi kenikmatan berkendaraan akan berbalik menjadi malapetaka yang mengerikan.

Begitulah ilustrasi tentang pentingnya kerjasama yang apik antara berbagai pihak yang berkepentingan, untuk meraih sebuah tujuan.

Rumah tangga juga mirip seperti kendaraan. Ada sopirnya; yakni suami, dan ada pula penumpangnya; yakni istri serta anak-anak. Keberhasilan mahligai rumah tangga bukan hanya ditentukan oleh sang nahkoda, namun harus ada peran aktif dari para anggota keluarga. Kesuksesan itu dinilai dari keberhasilan seluruh peserta rumah tangga untuk mencapai tujuan di terminal akhir.

Terminal pemberhentian terakhir tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah peristirahatan di negeri keabadian; surga Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an disebutkan,

“فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ”

Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga; sungguh dia telah meraih kesuksesan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”. QS. Ali Imran (3): 185.

Inilah barometer kesuksesan hakiki; selamat dari siksa neraka dan berhasil masuk surga. Kesuksesan sebenarnya berumah tangga bukan dinilai dari keberhasilan menempati rumah megah, menaiki mobil mewah atau menjadi tuan tanah. Walaupun bukan berarti itu semua haram didapat, terlebih bila dengan jalan yang halal. Namun yang perlu dipahami bahwa kesuksesan hakiki berumah tangga bukanlah dinilai dari itu semua. Tapi dilihat dari keberhasilan seluruh anggota keluarga untuk masuk ke dalam surga kelak!

Gotong royong berumah tangga

Jika tujuan utama keluarga muslim adalah meraih surga bersama, tentu itu bukanlah target yang ringan. Harus ada taufik dari Allah ta’ala dan perlu adanya kerja sama yang baik antara seluruh anggota keluarga; komandan, wakil komandan dan para prajuritnya.

Semuanya harus menjadi team work yang saling bahu membahu. Poin-poin berikut semoga bisa membantu kita untuk mewujudkan tim ideal dambaan tersebut, amien.

1. Saling memahami kelebihan dan kekurangan[1]

Tidak ada manusia biasa yang sempurna di muka bumi ini. Semuanya, selain mempunyai kelebihan, tentu juga memiliki kekurangan.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya-raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah lainnya.

Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.

Itulah impian indah di benak Anda dahulu. Terwujudkah seluruh angan-angan tersebut? Ataukah impian tinggal impian? Kalaupun seluruh kriteria ideal di atas berhasil Anda temukan dalam pasangan Anda, maka bersyukurlah kepada Allah atas kesuksesan Anda berpasangan dengan manusia langka. Namun penulis haqqul yaqin bahwa kebanyakan orang tidaklah menemukan mimpi itu dalam alam nyata.

Jika demikian kenyataannya, tidak ada gunanya kita meratapi nasib tersebut. Karena untuk mencari pengganti lain pun, nantinya Anda akan mendapati ternyata pasangan baru Anda pun juga memiliki kekurangan.

Maka langkah yang bijak untuk menjaga keharmonisan rumah tangga adalah, saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan suami digunakan untuk melengkapi kekurangan istri. Begitu pula sebaliknya, kelebihan istri dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan suami. Sambil masing-masing berusaha untuk memperbaiki kekurangan dirinya.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

“لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَاآخَرَ”

“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah seorang wanita penyayang.

Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.

Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati, karena ternyata sang istri subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang salih dan salihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar kesedihan Anda bila menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.

Demikianlah seterusnya…

Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.

Begitu pula sebaliknya, Anda wahai para istri, harus bersikap sama. Besarkan hatimu, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.

Bila selama ini, Anda ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.

Bila selama ini, Anda kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.

Andai selama ini, Anda kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.

Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.

Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.

Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami, dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.

Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan.

“أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ”

“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para sahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap suami, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepadanya seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal (yang tidak mengenakkan) padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” HR. Bukhari dan Muslim.

Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau lagi!

Perbaiki diri!

Seluruh keterangan di atas tentu bukan dalam rangka untuk membiarkan kekurangan masing-masing, tanpa ada upaya untuk memperbaiki diri.

Namun satu hal yang perlu untuk selalu diingat, bahwa perbaikan itu membutuhkan proses. Menunggu keberhasilan sebuah proses itulah yang membutuhkan kesabaran dan kebesaran jiwa. Juga memerlukan dukungan dan usaha tanpa henti dari kedua belah pihak.

2. Saling menunaikan hak dan kewajiban

Inilah kunci kesuksesan berikutnya dalam membina rumah tangga. Bahwa masing-masing pasangan sebagaimana memiliki hak, ia pun memiliki kewajiban. Maka jangan sampai hanya menuntut haknya saja, lalu melupakan kewajibannya.

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.

Allah ta’ala berfirman,

“وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ”

Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya”QS. Al-Baqarah (2): 228.

Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Seperti sandang, pangan, papan, keamanan dan yang semisal.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,

“أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ، أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ”

 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri kalian, sebagaimana istri kalian memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri kalian, mereka tidak diperkenankan untuk berbincang-bincang dengan orang yang tidak kalian sukai dan membiarkan orang lain yang tidak kalian sukai untuk memasuki rumahmu. Adapun hak mereka atas kalian adalah: kalian berbuat baik kepada mereka dalam sandang dan pangan”. HR. Tirmidzy dan dinilai hasan sahih oleh beliau.

Sebaliknya istri memiliki kewajiban untuk mentaati suaminya dalam sesuatu yang baik, melayaninya, menjaga kehormatannya dan lain-lain.

Ketaatan kepada suami adalah merupakan kewajiban istri yang paling utama. Yang akan mengantarkannya ke surga. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Aufdan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.

Jadi seorang istri harus mentaati perintah suaminya, terlebih dalam hal-hal yang sudah menjadi kewajibannya. Seperti melayani suami dalam masalah makan, minum, urusan ‘kasur’ dan yang semisalnya.

Tapi wajib untuk diketahui oleh para istri, bahwa ketaatannya kepada suami hanyalah dalam perkara-perkara yang diizinkan syariat. Maka, apabila sang suami memerintahkannya untuk melakukan hal-hal yang dilarang syariat, sang istri tidak boleh mentaatinya, dengan dalih apapun.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menegaskan,

“لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ”

“Tidak boleh bagi seseorang untuk taat kepada seorang makhluk dalam bermaksiat kepada Allah”. HR. Ahmad dari Ali  bin Abi Thalib dan dinilai sahih oleh al-Albany.

3. Saling bahu membahu

Poin ini tidak kalah penting dibanding poin-poin sebelumnya. Walaupun suami dan istri sudah memiliki kewajiban yang jelas, namun amat elok jika masing-masing membantu pasangannya dalam pekerjaannya, sesuai dengan aturan yang digariskan agama.

Misalnya, secara hukum asal, urusan dapur, kasur, sumur dan tetek bengeknya memang merupakan kewajiban istri. Namun, meskipun demikian, akan sangat indah bila suami ikut membantu istrinya dalam tugas tersebut.

Panutan kita; Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pun ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Ini menunjukkan betapa tingginya kemuliaan akhlak yang beliau miliki. Juga menjelaskan urgensi hal tersebut untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ: “يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟” قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember”. HR. Ibnu Hibban dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.

Begitu pula dalam hal mendidik anak, perlu adanya kekompakan untuk menggapai keberhasilan. Tidak boleh terjadi adanya saling lempar tanggung jawab. Justru masing-masing berusaha berandil dan bersinergi di dalamnya. Ayah biasanya identik dengan kewibawaan dan ketegasannya. Sedangkan ibu identik dengan kasih sayang dan kelemahlembutannya. Alangkah indahnya manakala dua potensi tersebut dipadupadankan!

Selain itu, orang tua juga harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak-anaknya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR. Namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stres. Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik. Akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya.

Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Usahakan di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si kakak, dan si ayah mengatakan,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara-gara…”. Idealnya, si ayah mendukung pernyataan, “Betul kata ibu, dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

4. Saling menasehati

Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya.

Agar mimpi buruk itu tidak terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berpesan,

“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”.

Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri”. HR. Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.

Daripada itu, benih-benih kesalahan yang ada dalam diri pasangan suami-istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera diluruskan. Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang elegan: tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangan.

Istri yang salihah akan senantiasa membantu suami dalam menaati Allah ta’ala, begitu pula sebaliknya, suami yang salih. Keduanya saling bahu membahu dan nasehat-menasehati untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya.

Alangkah indahnya jika hadits nabawi berikut diterapkan dalam rumah tangga kita:

“رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ”.

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk mengerjakan shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Bila si istri enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati pula seorang istri yang bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam, lalu membangunkan suaminya. Bila si suami enggan, ia memercikkan air ke wajah suaminya”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Al-Hakim, Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban menilainya sahih.

Semua berhak menasehati!

Jadi yang berhak menyampaikan nasehat bukan hanya kepala rumah tangga. Namun ‘bawahannya’ pun, yakni istri dan anak-anak, juga berhak untuk memberikan nasehat. Sebab semuanya berpeluang untuk melakukan kesalahan.

Di sinilah dituntut adanya kebesaran jiwa untuk menerima nasehat, terutama dari yang berposisi di atas, yakni sang suami.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat!

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, 12 Ramadhan 1434 / 21 Juli 2013

sumber: http://tunasilmu.com/gotong-royong-berumah-tangga

Tujuh Kiat Agar Suami Tidak Pindah ke Lain Hati

Tulisan kali ini adalah kiat berharga yang moga bisa mencegah perselingkuhan pada rumah tangga muslim.

Tujuh Kiat Agar Suami Tidak Pindah ke Lain Hati

1- Istri serius mendalami agama.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Kalau istri mempelajari agama dengan baik, ia akan menjadi baik, pastinya ia akan mengarahkan suami untuk semakin takut kepada Allah hingga hatinya tidak selingkuh ke lain hati.

Dan ingatlah wanita yang baik pasti mendapatkan laki-laki yang baik,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nuur: 26)

2- Taat kepada suami selama dalam kebaikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231 dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Ingatlah, taat pada suami adalah jalan menuju surga. Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad, 1:191 dan Ibnu Hibban, 9:471. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

3- Menuruti ajakan suami untuk urusan ranjang.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 5193 dan Muslim, no. 1436).

4- Suka dandan di hadapan suami tercinta.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُنَّا نِسَاؤُنَا يَخْتَضَبْنَ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ ثُمَّ يَخْتَضَبْنَ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الظُّهْرِ فَتَحْنَهُ فَتَوَضَّأْنَ وَصَلَّيْنَ فَأَحْسَنَّ خِضَابًا وَلاَ يَمْنَعُ مِنَ الصَّلاَةِ

“Istri-istri kami punya kebiasaan memakai pewarna kuku di malam hari. Jika tiba waktu Shubuh, pewarna tersebut dihilangkan, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Setelah shalat Shubuh, mereka memakai pewarna lagi. Ketika tiba waktu Zhuhur, mereka menghilangkan pewarna tersebut, lalu mereka berwudhu dan melaksanakan shalat. Mereka mewarnai kuku dengan bagus, namun tidak menghalangi mereka untuk shalat.” (HR. Ad-Darimi, no. 1093. Syaikh Abu Malik menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Shahih Fiqh As-Sunnah li An-Nisa’, hlm. 419).

5- Ridha pada pemberian suami dan memiliki sifat qana’ah (merasa cukup).

Karena ridha pada pemberian suami akan membuat seorang istri rajin bersyukur, suami pun akhirnya ridha padanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim, no. 2963).

Ingatlah bahwa sebab wanita banyak yang masuk neraka karena kurang bersyukur pada pemberian suami sebagai disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian sepanjang waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907).

6- Perbanyak tinggal di rumah demi keluarga.

Allah Ta’ala memerintahkan wanita agar banyak menetap di rumah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).

Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”

Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah, no. 1685. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

7- Perlu mengingatkan suami ketika salah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Namun ingatlah karena suami yang dinasihati tentu tetap dengan cara yang halus. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim, no. 2594)

Moga Allah memberi taufik dan hidayah.

Disusun di Perpus Rumaysho, 5 Jumadal Ula H, Selasa siang

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/17062-agar-si-dia-tidak-pindah-ke-lain-hati.html

Bersikaplah Wara’

Saudaraku, tahukan apa itu wara’? Kata yang sederhana, namun jika sifat ini dimiliki, maka seseorang akan mendapatkan banyak kebaikan. Wara’ secara sederhana berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat, itu asalnya. Para ulama seringkali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, juga meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya. Mari kita lihat sejenak mengenai sifat wara’ ini. 

Mengenai keutamaan sifat wara’ telah disebutkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع

Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’” (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath, Al Bazzar dengan sanad yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 68 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat berharga pada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sangat sederhana sekali apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim mengenai pengertian wara’, beliau cukup mengartikan dengan dalil dari sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ibnul Qayyim menjelaskan,

وقد جمع النبي الورع كله في كلمة واحدة فقال : من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه فهذا يعم الترك لما لا يعني : من الكلام والنظر والاستماع والبطش والمشي والفكر وسائر الحركات الظاهرة والباطنة فهذه الكلمة كافية شافية في الورع

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghimpun makna wara’ dalam satu kalimat yaitu dalam sabda beliau, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang yaitu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” Hadits ini dimaksudkan untuk meninggalkan hal yang tidak bermanfaat yaitu mencakup perkataan, pandangan, mendengar, bertindak anarkis, berjalan, berpikir, dan aktivitas lainnya baik lahir maupun batin. Hadits tersebut sudah mencukupi untuk memahami arti wara’.” (Madarijus Salikin, 2: 21).

Dinukil dari Madarijus Salikin (di halaman yang sama), Ibrahim bin Adham berkata,

الورع ترك كل شبهة وترك ما لا يعنيك هو ترك الفضلات

“Wara’ adalah meninggalkan setiap perkara syubhat (yang masih samar), termasuk pula meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untukmu, yang dimaksud adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan.”

Sahl At Tursturiy berkatas, “Seseorang tidaklah dapat mencapai hakikat iman hingga ia memiliki empat sifat: (1) menunaikan amalan wajib dengan disempurnakan amalan sunnah, (2) makan makanan halal dengan sifat wara’, (3) menjauhi larangan secara lahir dan batin, (4) sabar dalam hal-hal tadi hingga maut menjemput.”

Sahl juga berkata, “Siapa yang makan makanan haram dalam keadaan ingin atau tidak, baik ia tahu atau tidak, maka bermaksiatlah anggota badannya. Namun jika makanan yang ia konsumsi adalah halal, maka patuhlah anggota badannya dan akan diberi taufik melakukan kebaikan.” (Dinukil dari Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah, 4: 326)

Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Wara’ adalah keluar dari syubhat (perkara yang samar) dan setiap saat selalu mengintrospeksi diri.” (Dinukil dari Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah, 4: 326)

Ibnu Rajab mengutarakan pengertian wara’ dengan mengemukakan hadits,

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

Tinggalkan hal yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu.” (HR. An Nasai dan Tirmidzi, shahih kata Syaikh Al Albani)

Ibnu Rajab berkata bahwa sebagian tabi’in berkata,

تركت الذنوب حياء أربعين سنة ، ثم أدركني الورع

“Aku meninggalkan dosa selama 40 tahun lamanya. Akhrinya, aku mendapati sifat wara’.” (Fathul Bari, Ibnu Rajab, Asy Syamilah, 1: 51).

Lihatlah bagaimana sikap Imam Nawawi rahimahullah dalam menyikapi apabila ada keragu-raguan dalam masalah suatu hukum, halal ataukah haram. Beliau berkata,

فَإِذَا تَرَدَّدَ الشَّيْء بَيْن الْحِلّ وَالْحُرْمَة ، وَلَمْ يَكُنْ فِيهِ نَصّ وَلَا إِجْمَاع ، اِجْتَهَدَ فِيهِ الْمُجْتَهِد ، فَأَلْحَقهُ بِأَحَدِهِمَا بِالدَّلِيلِ الشَّرْعِيّ فَإِذَا أَلْحَقَهُ بِهِ صَارَ حَلَالًا ، وَقَدْ يَكُون غَيْر خَال عَنْ الِاحْتِمَال الْبَيِّن ، فَيَكُون الْوَرَع تَرْكه ، وَيَكُون دَاخِلًا فِي قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَمَنْ اِتَّقَى الشُّبُهَات فَقَدْ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضه )

“Jika muncul keragu-raguan akan halal dan haramnya sesuatu, sedangkan tidak ada dalil tegas, tidak ada ijma’ (konsensus  ulama); lalu yang punya kemampuan berijtihad, ia berijtihad dengan menggandengkan hukum pada dalil, lalu jadinya ada yang halal, namun ada yang masih tidak jelas hukumnya, maka sikap wara’ adalah meninggalkan yang masih meragukan tersebut. Sikap wara’ seperti ini termasuk dalam sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang selamat dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (Syarh Muslim, 11: 28).

Demikian sedikit ulasan kami mengenai sifat wara’. Moga Allah mudahkan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang wara’.

Wallahu waliyyut taufiq.

Kosakata:

Wara’ : meninggalkan perkara haram dan syubhat, itu asalnya. Para ulama seringkali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, juga meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya

Syubhat: perkara yang masih samar hukumnya, haram ataukah halal.

@ Sakan 27-Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 21 Muharram 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3016-bersikaplah-wara.html

MERAHASIAKAN AMAL SHOLEH

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal sholeh yang tersembunyikan maka lakukanlah !” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2313)

Coba kita bersikap jujur dan bertanya pada diri sendiri, “Berapakah amal sholeh kita yang tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan istri dan anak-anak?. Ataukah setiap kali kita beramal sholeh hati dan lidah menjadi gatal ingin segera menceritakannya kepada orang lain??”. Sungguh tidaklah mudah menyembunyikan amalan sholeh, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang senang untuk dipuji dan dihormati. Dengan menampakan kebaikan dan amal sholehnya maka orang-orangpun akan menjadi menghormati, menghargai, dan memujinya.

Faedah menyembunyikan amal sholeh :

– Menyembunyikan amal sholeh lebih menjauhkan seseorang dari penyakit riyaa dan sum’ah

– Amal sholeh yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal sholeh yang dinampakan

– Amal sholeh yang tersembunyikan bisa menjadikan seseorang jauh dari penyakit ujub. Karena ia sadar bahwasanya ia telah berusaha menyembunyikan amalan sholehnya sebagaimana ia telah mati-matian berusaha untuk menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan dan keburukannya. Jika orang-orang tidak mengetahui kebaikannya maka sebagaimana mereka tidak mengetahui keburukan-keburukannya

Karenanya Salamah bin Diinaar berkata :

اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu”

– Amal sholeh yang tersembunyikan melatih seseorang terbiasa hanya mencari muka di hadapan Allah dan tidak memperdulikan komentar manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah dan bukan penilaian manusia

– Menyembunyikan amal sholeh menjadikan seseorang bahagia, karena meskipun tidak ada orang yang menghormatinya ia akan merasa bahagia karena Penguasa alam semesta ini mengetahui amal sholehnya

sumber:https://firanda.com/731-merahasiakan-amal-sholeh.html

Mendekatlah Dengan Mereka Yang Bertaqwa

Saudariku yang semoga dirahmati Allah. Setiap manusia akan saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga dari interaksi tersebut muncullah suatu hubungan yang kita sebut ‘persahabatan’, yaitu tingkat kedekatan tertinggi dalam pertemanan. Diantara banyaknya teman yang kita miliki, ada yang sangat dekat dan akrab, sering berkumpul dan berkomunikasi dengannya, saling memberi atau berbagi berbagai hal dengannya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa tatkala seseorang bersahabat, maka ada dua kemungkinan pengaruh yang timbul, ia yang mempengaruhi atau ia yang terpengaruh. Dan sebaik-baik sahabat adalah yang kita bisa mempengaruhinya dengan kebaikan atau kita yang terpengaruh oleh kebaikannya.

Rasulullah shallaallaahu’alahi wa sallam bersabda,

الْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan pengembala onta dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Bergaul dengan hewan yang tidak berakal saja bisa mempengaruhi karakter dan kepribadian seseroang, bagaimana lagi dengan sesama manusia? Oleh karenanya, pantaskan kita menjadi sahabat baik bagi orang lain? Atau sudahkan kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita?

Saat engkau harus memilih

Saudariku, Rasulullah shalallaahu ’alaihiwasallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا

 “Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Hasan).

Nabi shalalallaahu ’alaihiwasallam menjelaskan kepada kita agar hanya bersahabat dengan orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jangan sampai bersahabat dengan orang-orang kafir, fasiq lagi pengikut hawa nafsu sehingga akan berbahaya bagi dunia dan akhirat kita. Hanya bersahabat dengan orang-orang berimanlah persahabatan kita akan langgeng baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67).

Al-akhilla (tingkatan pertemanan yang paling tinggi) pada hari itu akan menjadi musuh bagi sahabatnya di dunia, para sahabat akan saling menjauh dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa. Untuk apa membangun persahabatan hanya untuk perpecahan dikemudian hari? Untuk apa menghabiskan waktu banyak dengannya apabila akhirnya akan saling membenci? Kita semua sepakat bahwa tidak ada yang ingin pecah dan bermusuhan dengan sahabatnya. Lantas untuk apa kita bangun hubungan dengan orang-orang yang tidak takut kepada Allah, bermaksiat kepada Allah, melakukan kesyirikan, kalau pada akhirnya hubungan persahabatan itu akan berakhir dengan permusuhan di hari akhir nanti. Kalau tidak berpecah di dunia, maka perpecahan di akhirat lebih menyakitkan. Lalu bagaimanakah kriteria teman yang hendaknya kita bersahabat dengannya?

  1. Beraqidah lurus
  2. Taat beribadah dan menjauhi maksiat
  3. Berakhlaq terpuji dan bertutur kata yang baik
  4. Suka menasehati dalam kebaikan
  5. Zuhud terhadap dunia dan tidak berambisi mendapat kedudukan
  6. Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya
  7. Berpakaian sesuai syariat
  8. Menjaga kewibawaan dan kehormatan diri dari hal-hal yang dianggap kurang pantas di masyarakat
  9. Tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat

Saudariku, mencari sahabat yang beriman dan bertaqwa bukan berarti tidak bergaul dengan orang-orang sekitar yang dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut. Kita diperintahkan untuk bersabar dengan keburukan akhlaq maupun sifat manusia di sekitar kita dan tetap bergaul bersama mereka sesuai dengan porsinya, yaitu memberikan hak-hak mereka sebagai sesama muslim, sebagai tetangga atau sebagai relasi yang mengharuskan kita berinteraksi dengannya. Proporsionallah dalam bergaul dengan tetap  mempertimbangkan mashlahat dan mudharatnya.

Keutamaan bersahabat dengan mereka yang bertaqwa

Betapa banyak umat Islam di zaman ini tidak selektif dalam memilih sahabat karib, tidak melihat dengan siapa ia bersahabat dan bergaul. Kenapa bisa demikian? Salah satu alasannya yaitu kita belum mengetahui keutamaan bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sehingga seakan-akan bersahabat dengan siapapun sama saja, padahal kita sepakat akan besarnya pengaruh seorang teman, lebih-lebih seorang sahabat. Saudariku, sangat banyak keutamaan yang kita dapatkan saat kita menjadikan orang-orang yang bertaqwa sebagai sahabat karib.

  1. Langgeng di dunia dan di akhirat

Para sahabat pada hari kiamat akan saling mencela dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa (berdasarkan QS. Az-Zukhruf: 67). Perpecahan mereka tinggal menunggu waktu saja, apakah di dunia atau permusuhan yang menyakitkan di akhirat. Adapun persahabatan atas dasar ketakwaan akan kekal.

  1. Berinteraksi dengan kita melalui sunnah Rasulullah

Bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sejatinya kita sedang bersahabat dengan orang-orang yang berusaha memenuhi setiap hak kita. Jika sahabat kita orang-orang yang bertaqwa maka ia akan berinteraksi dengan kita melalui sunnah Nabi shalallaahu’alaihiwasallam. Saat ia bermuamalah dengan kita, maka yang dia ingat sabda Rasulullah untuk menyebarkan salam, memberi senyuman, mengucapkan perkataan yang baik terbaik, menjenguk saat sakit, memuliakan tamu, senantiasa mendoakan kita dengan doa yang diajarkan Rasulullah, memberi pujian yang menyenangkan hati kita namun tetap berusaha agar kita tidak ujub, memasukkan kegembiraan dalam hati kita, dia tidak akan mengolok atau mempermalukan kita, saat kita melakukan kesalahan maka ia memberi udzur kepada kita, mudah memaafkan, membantu kita saat lapang maupun sempit dan tidak mudah emosi.

Kenapa demikian? Karena ia bermuamalah dengan kita atas dasar dalil, bukan hawa nafsunya.

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Lebih baik punya musuh yang bertaqwa daripada teman yang fasiq”. Walaupun bermusuhan, orang yang bertaqwa tidak akan mendzalimi atau menghalalkan segala cara. Namun, jangan terlalu banyak berharap dengan teman yang fasiq wahai saudariku, karena Rabb-nya saja yang telah memberikan banyak nikmat kepadanya ia maksiati, Pencipta-nya saja yang memberikan rezeki ia khianati, lantas bagaimana lagi dengan kita yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya. Dia mengedepankan hawa nafsunya untuk melanggar perintah Allah lantas kita berharap ia menanggalkan hawa nafusnya untuk mendengarkan nasihat kita?

  1. Memberi pengaruh positif pada keimanan dan ketaqwaan kita

Tidak dipungkiri lagi bahwa taatnya sahabat yang bertaqwa akan menarik kita pada ketaatan yang sama. Nilai kebaikan yang ia sebarkan akan memotivasi kita untuk menyebarkan kebaikan pula. Termasuk nasihat-nasihat mereka akan menjadi pengingat saat kita lalai dari mengingat Allah.

  1. Jalan menuju istiqomah

Allah Ta’ala berfirman  dalam QS. Ali Imran : 101,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 “Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Ayat ini berisi pernyataan pengingkaran atas para sahabat, dimana keistiqamahan dan teguhnya keimanan para sahabat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ayat-ayat Allah senantiasa dibacakan di hadapan mereka dan bersama mereka ada sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam sebagai uswatun hasanah. Dua hal tersebuh sekaligus menunjukkan bahwa diantara penyebab istiqamahnya seseorang adalah lingkungan dan sahabat yang baik.

  1. Menguatkan dalam kebaikan

Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau” (QS. Thaha : 25-34). Bahkan seorang Nabipun membutuhkan sahabat untuk membantu menguatkan mereka dalam kebaikan bagaimana lagi dengan kita?

  1. Berkumpul dengan mereka pada hari kiamat

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah?” Beliau shallaahu’alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa, dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallaahu’alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari Anas mengatakan, “Kami tidak pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami mendengar sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam: Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Karena mereka juga manusia

Memiliki sahabat yang bertaqwa bukan berarti kita tidak akan pernah kecewa dengannya. Bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa bukan berarti engkau tidak akan pernah melihatnya bermaksiat. Tidak ada sahabat yang sempurna, karena mereka juga manusia, memiliki sifat salah sebagaimana manusia yang lainnya. Jangankan kita, sahabat Rasulullah pun pernah melakukan kesalahan. Sebagaimana kesalahan para sahabat saat perang Uhud yang menjadi salah satu kekalahan terbesar umat Islam, namun Allah memerintahkan Rasulullah untuk memaafkan mereka.

Saudariku.. Marilah kita bersahabat dengan mereka yang bertaqwa, hingga tumbuhlah kecintaan di atas ketaatan kepada Allah. Engkau tentu berharap kebahagiaan bersahabat di dunia dan dipertemukan kembali di jannah-Nya kelak.

Wallaahu a’lam.

Penulis : Ummu ‘Abdirrahman

Referensi

  1. Abu Ahmad Said Yai. 2013. https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html. Teman Bergaul Ceriman Diri Anda.
  2. Muhammad Abduh Tuasikal. 2011. http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.co.id/2011/04/bagaimana-jika-artis-dan-pemain-bola.html. Siapa Idolamu?
  3. Muhammad Nuzul. Rekaman kajian. Sahabat, Siapakah Teman-Temanmu?

sumber: https://muslimah.or.id/9786-mendekatlah-dengan-mereka-yang-bertaqwa.html

Menangis Hingga Dosa ini Terkikis

Bismillaahirrahmaanirrahiim… 

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan segala nikmat kepada setiap makhlukNya. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah kepada seluruh umat agar dapat mengelola setiap nikmat yang telah Allah beri.

***

Salah satu nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia dibanding dengan hewan maupun tumbuhan adalah kemampuan manusia untuk merasa dan mengungkapkan perasaan. Manusia begitu bebas berekspresi dalam menggambarkan suasana hati yang tengah mereka rasakan.

Misalnya saja, seorang anak yang melompat-lompat kegirangan karena mendapatkan hadiah dari kedua orangtuanya, seorang bayi yang sedang rewel karena kehausan, seseorang yang tertawa karena suatu hal yang lucu, seorang pedagang keliling yang kecewa karena hingga larut malam dagangannya belum juga habis, dan masih banyak lagi yang lain.

Tak sedikit pula yang mengungkapkan suatu perasaan dengan menangis. Menangis adalah respon fisiologis yang terkait dengan emosi. Seseorang dapat menangis ketika ia sedang sedih, bahagia, atau bahkan untuk sekedar tangisan pura-pura.

Menangis bukanlah sebuah aktivitas yang tidak boleh dilakukan, karena tak dapat dipungkiri bahwa menangis adalah fitrah setiap manusia.

وَأَنَّهُ هُوَأَضْحَكَ وَأَبْكَى

“dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”. (QS. An Najm: 43)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Al Qurthubi berkata,

“Yaitu Allah menetapkan sebab-sebab tertawa dan menangis. Berkata Atha’ bin Abi Muslim, “Allah membuat gembira dan membuat sedih, karena kebahagiaan bisa membuat tertawa dan kesedihan bisa membuat menangis.”

***

Ada begitu banyak alasan yang mendasari tangisan seseorang. Tangisan itu bermacam-macam. Ibnul Qayyim sendiri membagi tangisan menjadi 10 macam dalam bukunya, Za’adul Ma’ad. Tangisan seseorang menyimpan berjuta makna, dan diantara tangisan itu ada tangisan yang mengantarkan seseorang menuju surga.

لاَيَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَلاَيَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيل ِاللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu dapat kembali kepada kambingnya (kantong kelenjar susu binatang ternak), dan tidak akan berkumpul antara debu medan jihad fii sabiilillaah dengan asap Neraka Jahannam.” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Mata orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah akan dijauhkan dari api neraka.

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena siaga (saat berjihad) di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Air mata yang membasahi pipi seorang hamba karena takut kepada penciptaNya merupakan air mata yang mulia. Ia bermakna tinggi dihadapan Allah, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah.

لَيْسَ شَىْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِى خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. وَأَمَّا الأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِى فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yaitu, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir (saat jihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)

Jadi, tangisan yang mengantarkan seseorang kepada surga dan menjauhkan seseorang dari api neraka adalah tangisan karena takut kepada Allah. Air mata tersebut merupakan lambang ketakutan karena takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat, atau takut membayangkan kehidupan akhirat, takut karena kerasnya hati, dsb.

Air mata itu merupakan tameng bagi dirinya dari api neraka. Karena dengannya, ia akan sadar atas hakikat kehidupan. Pemilik air mata itu akan selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

***

Begitu juga dengan teladan-teladan kita pada zaman dahulu. Hati mereka begitu lembut hingga mudah menumpahkan air mata karena ketakutan-ketakutan atas azab Allah. Ketundukan dan ketakutan yang dalam kepada Allah menjadikan mereka tak enggan bercucuran air mata. Yang mereka tangisi bukanlah tendensi dunia dan materi, melainkan tangisan yang lebih hanya terfokus pada kehidupan setelah kematian.

Dan yang paling banyak menangis adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiallahu ’anha“Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (Nabi) berkata, 

ياعائشة ذريني أتعبد الليلة لربي

‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’

Kata Aisyah,” Aku sampaikan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang. ’Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat. ’Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’.

Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.

Lalu Nabi pun menjawab,

أفلا أكون عبدا شكورا لقد نزلت علي الليلة آية ويل لمن قرأها ولم يتفكرفيها { إن في خلق السموات والأرض }

‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albani).

 

Dalam Al Quran, Allah juga mengisahkan kondisi orang-orang shalih yang menangis karenaNya.

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُ رِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Yakub), dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.” (QS Maryam 19:58)

Begitu pula dengan Abu Hurairah radhiallahu anhu yang tiba-tiba saja menangis pada saat sakitnya menjelang sakaratul maut. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau, “Apa yang membuatmu menangis?”. Beliau pun menjawab, “Aku bukan menangis karena dunia yang akan aku tinggalkan ini. Tapi aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan kemana kah digiring diriku nanti?”.

 

***

Bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang? Bagaimana dengan kita, wahai saudariku? Menangis memang bukanlah suatu kewajiban, tetapi menangis karena takut kepada Allah menjadi tolok ukur kelembutan hati seorang hamba. Menjadi indikator penyeselan seorang hamba atas dosa-dosa yang telah ia perbuat.

Begitu keraskah hati kita hingga tidak dapat menyesali perbuatan dosa yang telah kita lakukan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menyadari bahwa azab Allah sangat mengerikan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menghadirkan secuil saja rasa takut karena Allah di dalamnya?

Saudariku, sungguh hendaknya kita selalu memohon ampun kepada Allah. Mintalah pertolongan Allah dimanapun dan kapanpun, termasuk pertolongan agar dijauhkan dari kerasnya hati.

Menangislah…. Menangislah, saudariku…

Menangislah dengan syahdu.

Tangisi segala noktah-noktah hitam yang telah kita torehkan dalam dada ini. Tangisi begitu besar dosa yang telah kita timbun sementara kantung pahala kita belumlah terisi. Tangisi akan kehidupan akhirat kita yang telah menanti, keselamatan ataukah kejerumusan yang akan menghampiri.

Menangislah karena takut kepada Allah…

***

Jangan pernah sekalipun membiarkan mata ini berhenti menangis. Sesungguhnya dalam jasad ini terdapat banyak dosa. Dan anggota tubuh ini berhak untuk mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah ia lakukan.

Maka teruslah menangis…

Hingga diri ini sadar bahwa tak pantas bagi seorang muslim untuk menggores setitik dosa dalam buku amalnya.

— Viara Aisyah

————————————-

Referensi: : Majalah ElFata, Edisi 08, Tahun 2012, “Ada Cinta di Balik Tangis”.

Penulis   : Ovi Aswara

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

sumber: https://muslimah.or.id/8519-menangis-hingga-dosa-ini-terkikis.html

Seorang Mukmin Takut Amalnya Batal Dalam Keadaan Ia Tidak Menyadarinya

Kita sebagai seorang mukmin harus punya rasa khawatir/rasa takut bila amal kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena saat kita melakukan pembatal-pembatal amal, menyebabkan akhirnya amal yang banyak kita lakukan itu ternyata sia-sia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak sekali perbuatan-perbuatan yang menyebabkan amal kita menjadi ditolak. Diantaranya:

1. SYIRIK

Syirik baik yang besar maupun yang kecil. Adapun syirik besar maka ini membatalkan seluruh amal. Sedangkan syirik kecil membatalkan amal yang terkena saja. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 65:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Apabila kamu berbuat syirik, maka amalmu pasti akan batal.” (HR. Az-Zumar[39]: 65)

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mempersekutukan Aku dalam amal, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

2. BID’AH

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini, apa-apa yang tidak berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

3. MENDUSTAKAN TAKDIR

Sebagaimana Abdullah bin Umar berkata dalam riwayat Muslim. Kata beliau:

وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Demi Dzat yang aku bersumpah dengannya, kalaulah salah seorang dari mereka menginfakkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerima sampai mereka beriman kepada takdir.”

4. TIDAK MENJAGA SHALAT

Shalat yang tidak kita jaga sungguh-sungguh yang mengakibatkan shalat kita rusak. Karena rusaknya shalat itu bisa merusak amalan yang lain. Sebagaimana dalam hadits riwayat An-Nasa’i dan Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab nanti pada hari kiamat yaitu shalat. Apabila shalatnya benar, maka ia telah sukses dan beruntung. Dan siapa yang shalatnya rusak, sungguh ia telah merugi.”

5. MENINGGALKAN SHALAT ASHAR

Sebagaimana dalam riwayat Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه

“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka sungguh batal amalnya.”

Apa maksud batalnya amal bagi orang yang meninggalkan shalat Ashar?

Ada dua makna. Makna yang pertama apabila ia meninggalkan shalat ashar karena mengingkari kewajiban shalat, maka yang seperti ini batal seluruh amalannya. Tapi kalau misalnya ia meninggalkan shalat Ashar karena malas, maka ini ikhtilaf para ulama, apakah batal amalannya seluruhnya alias kafir -ini adalah pendapat imam Ahmad- atau dia tidak kafir.  Maka batal yang dimaksud di sini yaitu batal amalan di hari itu. Ini ikhtilaf para ulama.

6.  MENDATANGI DUKUN DAN TUKANG RAMAL

Hal ini sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi dukun, lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima 40 hari.”

7. BERBUAT DZALIM KEPADA ORANG LAIN

Karena setiap kedzaliman itu akan kita bayar dengan amal. Sebagaimana dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah menzalimi seseorang hendaknya segera ia minta maaf sebelum nanti di hari kiamat tidak lagi bisa dibayar dengan dinar dan dirham, sebelum akan diambil kebaikan-kebaikan oleh saudaranya yang didzalimi tersebut. Kalau ternyata ia tidak punya kebaikan maka dosa orang yang dizalimi itu akan diberikan kepadanya.” (Muttafaqun alaih)

8. MEMELIHARA ANJING TANPA KEBUTUHAN

Sebagaimana sabda dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth.” (HR. Muslim)

9. BERSUMPAH ATAS NAMA ALLAH BAHWA SESEORANG TIDAK AKAN DIAMPUNI OLEH ALLAH

Ini bisa membatalkan amal juga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim bahwa kata Rasulullah ada dua orang yang satu shalih dan yang satu suka berbuat maksiat. Suatu hari orang shalih tersebut menemukan temannya sedang berbuat maksiat. Lalu kemudian dia menasehati orang yang berbuat maksiat tersebut. Tapi ternyata orang yang berbuat maksiat ini marah dan berkata:

عَلَيْكَ بِنَفْسِكَ

“Urus saja dirimu sendiri.”

Kemudian suatu ketika yang lain orang shalih ini melihat temannya berbuat maksiat lagi, lalu dinasehati lagi. Maka temannya ini marah lagi dan berkata, “Urus saja dirimu sendiri.”

Kemudian yang ketiga kalinya orang shalih ini menemukan temannya berbuat maksiat, dinasehati lagi. Rupaya temannya ini kembali berkata, “Urus saja dirimu sendiri.” Rupanya orang shalih ini marah lalu berkata:

وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu.”

Mendengar itu Allah murka lalu Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Siapa yang berani bersumpah atas namaKu bahwa aku tidak akan mengampuni dosa si Fulan? Maka saksikan, aku telah mengampuni dosanya dan membatalkan amal orang shalih tersebut.” (HR. Muslim)

Maka tidak boleh kita bersumpah atas nama Allah untuk mengatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dia. Karena Allah maha pengampun.

10. BERBUAT DOSA SAAT PUASA

Terus menerus berbuat dosa saat berpuasa bisa menyebabkan amal pahala puasanya hilang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan terus-menerus mengamalkannya, maka Allah tidak butuh kepada puasanya itu.” (HR. Bukhari)

11. MEMINUM ARAK

Disebutkan dalam hadits yang disampaikan Syaikh Al-Bani Rahimahullah, dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i:

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ صَلَاتُهُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Siapa yang minum arak, tidak diterima shalatnya 40 hari, tapi jika ia bertaubat Allah terima taubatnya.”

12. HUTANG

Jika kita tidak membayar hutang di dunia, maka kita akan membayar dengan amal shalih kita.

13. MELANGGAR KEHARAMAN ALLAH DISAAT SENDIRI

Ketika kita sendiri, kita tidak punya rasa takut kepada Allah. Bedakan dengan orang yang saat dia sendiri pun sebetulnya dia menjauhi dosa. Tapi terkadang saat angin maksiat kuat, syahwat juga kuat, ia jatuh kepada dosa tapi dia segera taubat. Ini berbeda dengan orang yang di depan orang kelihatan shalih tapi pas sendirian dia tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang akan Allah batalkan amalannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh aku akan mengetahui beberapa kaum dari umatku yang nanti pada hari kiamat membawa pahala-pahala sebesar gunung-gunung Tihamah, lalu Allah jadikan ia hancur lebur.”

Lalu Tsauban berkata, ‘Wahai Rasulullah tolong jelaskan supaya kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan kami tidak tahu.”

Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka saudara-saudara kalian juga, mereka mengambil malam sebagaimana kalian ambil. Akan tetapi mereka apabila bersendirian dengan keharaman Allah, mereka berani untuk melanggarannya.” (HR. Ibnu Majah)

Artinya takutnya hanya ketika di depan orang saja. Tapi ketika sendiri, dia tidak takut kepada Allah.

14. BERBUAT JAHAT DI KOTA MADINAH

Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا

“Kota Madinah itu haram, batasannya dari gunung ‘Air sampai gunung Tsaur. Maka siapa yang berbuat keburukan atau melindungi orang yang berbuat buruk di situ, maka dia mendapatkan laknat Allah, Malaikat dan seluruh Manusia. Dan Allah tidak akan terima shalat wajib dan shalat sunnahnya.” (HR. Muslim)

15. DURHAKA KEPADA ORANG TUA DAN ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURAHIM

Dalam hadits yang dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahullah:

لَا يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

“Amalan orang yang memutuskan silaturahim itu tidak akan diterima.”

Kata para ulama, kalau memutuskan silaturahim dengan saudara saja menyebabkan amal gak diterima, apalagi sama orang tua.

16. MENGUNGKIT KEBAIKAN

Mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain, apalagi kalau disertai dengan menyakiti hati. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu batalkan sedekah kamu itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti.” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)

Juga disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ  وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah, dan tidak akan disucikan oleh Allah, dan bagi mereka adzab yang pedih.”

Siapa tiga orang itu?

الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ

“Orang yang memakai kain melebihi mata kaki.”

الْمَنَّانُ عَطَاءَهُ

“Orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya.”

الْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta.”

Saudaraku, orang yang mengungkit pemberian itu bukan hanya sebatas Allah tidak lihat, tidak ajak bicara, tidak disucikan oleh Allah, bahkan amalannya pun dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

sumber: https://www.radiorodja.com/47620-seorang-mukmin-takut-amalnya-batal-dalam-keadaan-ia-tidak-menyadarinya/