Penulis: Abu Adam
MERAHASIAKAN AMAL SHOLEH
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal sholeh yang tersembunyikan maka lakukanlah !” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2313)
Coba kita bersikap jujur dan bertanya pada diri sendiri, “Berapakah amal sholeh kita yang tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan istri dan anak-anak?. Ataukah setiap kali kita beramal sholeh hati dan lidah menjadi gatal ingin segera menceritakannya kepada orang lain??”. Sungguh tidaklah mudah menyembunyikan amalan sholeh, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang senang untuk dipuji dan dihormati. Dengan menampakan kebaikan dan amal sholehnya maka orang-orangpun akan menjadi menghormati, menghargai, dan memujinya.
Faedah menyembunyikan amal sholeh :
– Menyembunyikan amal sholeh lebih menjauhkan seseorang dari penyakit riyaa dan sum’ah
– Amal sholeh yang tersembunyi pahalanya lebih besar daripada amal sholeh yang dinampakan
– Amal sholeh yang tersembunyikan bisa menjadikan seseorang jauh dari penyakit ujub. Karena ia sadar bahwasanya ia telah berusaha menyembunyikan amalan sholehnya sebagaimana ia telah mati-matian berusaha untuk menyembunyikan kemaksiatan-kemaksiatan dan keburukannya. Jika orang-orang tidak mengetahui kebaikannya maka sebagaimana mereka tidak mengetahui keburukan-keburukannya
Karenanya Salamah bin Diinaar berkata :
اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu”
– Amal sholeh yang tersembunyikan melatih seseorang terbiasa hanya mencari muka di hadapan Allah dan tidak memperdulikan komentar manusia, karena yang terpenting adalah penilaian Allah dan bukan penilaian manusia
– Menyembunyikan amal sholeh menjadikan seseorang bahagia, karena meskipun tidak ada orang yang menghormatinya ia akan merasa bahagia karena Penguasa alam semesta ini mengetahui amal sholehnya
sumber:https://firanda.com/731-merahasiakan-amal-sholeh.html
Mendekatlah Dengan Mereka Yang Bertaqwa
Saudariku yang semoga dirahmati Allah. Setiap manusia akan saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga dari interaksi tersebut muncullah suatu hubungan yang kita sebut ‘persahabatan’, yaitu tingkat kedekatan tertinggi dalam pertemanan. Diantara banyaknya teman yang kita miliki, ada yang sangat dekat dan akrab, sering berkumpul dan berkomunikasi dengannya, saling memberi atau berbagi berbagai hal dengannya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa tatkala seseorang bersahabat, maka ada dua kemungkinan pengaruh yang timbul, ia yang mempengaruhi atau ia yang terpengaruh. Dan sebaik-baik sahabat adalah yang kita bisa mempengaruhinya dengan kebaikan atau kita yang terpengaruh oleh kebaikannya.
Rasulullah shallaallaahu’alahi wa sallam bersabda,
الْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ أَهْلِ الْوَبَرِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
“Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan pengembala onta dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Bergaul dengan hewan yang tidak berakal saja bisa mempengaruhi karakter dan kepribadian seseroang, bagaimana lagi dengan sesama manusia? Oleh karenanya, pantaskan kita menjadi sahabat baik bagi orang lain? Atau sudahkan kita memutuskan siapa yang akan menjadi sahabat kita?
Saat engkau harus memilih
Saudariku, Rasulullah shalallaahu ’alaihiwasallam bersabda,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا
“Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Hasan).
Nabi shalalallaahu ’alaihiwasallam menjelaskan kepada kita agar hanya bersahabat dengan orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jangan sampai bersahabat dengan orang-orang kafir, fasiq lagi pengikut hawa nafsu sehingga akan berbahaya bagi dunia dan akhirat kita. Hanya bersahabat dengan orang-orang berimanlah persahabatan kita akan langgeng baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67).
Al-akhilla (tingkatan pertemanan yang paling tinggi) pada hari itu akan menjadi musuh bagi sahabatnya di dunia, para sahabat akan saling menjauh dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa. Untuk apa membangun persahabatan hanya untuk perpecahan dikemudian hari? Untuk apa menghabiskan waktu banyak dengannya apabila akhirnya akan saling membenci? Kita semua sepakat bahwa tidak ada yang ingin pecah dan bermusuhan dengan sahabatnya. Lantas untuk apa kita bangun hubungan dengan orang-orang yang tidak takut kepada Allah, bermaksiat kepada Allah, melakukan kesyirikan, kalau pada akhirnya hubungan persahabatan itu akan berakhir dengan permusuhan di hari akhir nanti. Kalau tidak berpecah di dunia, maka perpecahan di akhirat lebih menyakitkan. Lalu bagaimanakah kriteria teman yang hendaknya kita bersahabat dengannya?
- Beraqidah lurus
- Taat beribadah dan menjauhi maksiat
- Berakhlaq terpuji dan bertutur kata yang baik
- Suka menasehati dalam kebaikan
- Zuhud terhadap dunia dan tidak berambisi mendapat kedudukan
- Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya
- Berpakaian sesuai syariat
- Menjaga kewibawaan dan kehormatan diri dari hal-hal yang dianggap kurang pantas di masyarakat
- Tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat
Saudariku, mencari sahabat yang beriman dan bertaqwa bukan berarti tidak bergaul dengan orang-orang sekitar yang dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut. Kita diperintahkan untuk bersabar dengan keburukan akhlaq maupun sifat manusia di sekitar kita dan tetap bergaul bersama mereka sesuai dengan porsinya, yaitu memberikan hak-hak mereka sebagai sesama muslim, sebagai tetangga atau sebagai relasi yang mengharuskan kita berinteraksi dengannya. Proporsionallah dalam bergaul dengan tetap mempertimbangkan mashlahat dan mudharatnya.
Keutamaan bersahabat dengan mereka yang bertaqwa
Betapa banyak umat Islam di zaman ini tidak selektif dalam memilih sahabat karib, tidak melihat dengan siapa ia bersahabat dan bergaul. Kenapa bisa demikian? Salah satu alasannya yaitu kita belum mengetahui keutamaan bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sehingga seakan-akan bersahabat dengan siapapun sama saja, padahal kita sepakat akan besarnya pengaruh seorang teman, lebih-lebih seorang sahabat. Saudariku, sangat banyak keutamaan yang kita dapatkan saat kita menjadikan orang-orang yang bertaqwa sebagai sahabat karib.
- Langgeng di dunia dan di akhirat
Para sahabat pada hari kiamat akan saling mencela dan membenci kecuali orang-orang yang bertaqwa (berdasarkan QS. Az-Zukhruf: 67). Perpecahan mereka tinggal menunggu waktu saja, apakah di dunia atau permusuhan yang menyakitkan di akhirat. Adapun persahabatan atas dasar ketakwaan akan kekal.
- Berinteraksi dengan kita melalui sunnah Rasulullah
Bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa sejatinya kita sedang bersahabat dengan orang-orang yang berusaha memenuhi setiap hak kita. Jika sahabat kita orang-orang yang bertaqwa maka ia akan berinteraksi dengan kita melalui sunnah Nabi shalallaahu’alaihiwasallam. Saat ia bermuamalah dengan kita, maka yang dia ingat sabda Rasulullah untuk menyebarkan salam, memberi senyuman, mengucapkan perkataan yang baik terbaik, menjenguk saat sakit, memuliakan tamu, senantiasa mendoakan kita dengan doa yang diajarkan Rasulullah, memberi pujian yang menyenangkan hati kita namun tetap berusaha agar kita tidak ujub, memasukkan kegembiraan dalam hati kita, dia tidak akan mengolok atau mempermalukan kita, saat kita melakukan kesalahan maka ia memberi udzur kepada kita, mudah memaafkan, membantu kita saat lapang maupun sempit dan tidak mudah emosi.
Kenapa demikian? Karena ia bermuamalah dengan kita atas dasar dalil, bukan hawa nafsunya.
Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Lebih baik punya musuh yang bertaqwa daripada teman yang fasiq”. Walaupun bermusuhan, orang yang bertaqwa tidak akan mendzalimi atau menghalalkan segala cara. Namun, jangan terlalu banyak berharap dengan teman yang fasiq wahai saudariku, karena Rabb-nya saja yang telah memberikan banyak nikmat kepadanya ia maksiati, Pencipta-nya saja yang memberikan rezeki ia khianati, lantas bagaimana lagi dengan kita yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya. Dia mengedepankan hawa nafsunya untuk melanggar perintah Allah lantas kita berharap ia menanggalkan hawa nafusnya untuk mendengarkan nasihat kita?
- Memberi pengaruh positif pada keimanan dan ketaqwaan kita
Tidak dipungkiri lagi bahwa taatnya sahabat yang bertaqwa akan menarik kita pada ketaatan yang sama. Nilai kebaikan yang ia sebarkan akan memotivasi kita untuk menyebarkan kebaikan pula. Termasuk nasihat-nasihat mereka akan menjadi pengingat saat kita lalai dari mengingat Allah.
- Jalan menuju istiqomah
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Ali Imran : 101,
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
Ayat ini berisi pernyataan pengingkaran atas para sahabat, dimana keistiqamahan dan teguhnya keimanan para sahabat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ayat-ayat Allah senantiasa dibacakan di hadapan mereka dan bersama mereka ada sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam sebagai uswatun hasanah. Dua hal tersebuh sekaligus menunjukkan bahwa diantara penyebab istiqamahnya seseorang adalah lingkungan dan sahabat yang baik.
- Menguatkan dalam kebaikan
Allah Ta’ala berfirman tentang perkataan Nabi Musa ‘Alaihissalam, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau” (QS. Thaha : 25-34). Bahkan seorang Nabipun membutuhkan sahabat untuk membantu menguatkan mereka dalam kebaikan bagaimana lagi dengan kita?
- Berkumpul dengan mereka pada hari kiamat
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat wahai Rasulullah?” Beliau shallaahu’alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa, dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallaahu’alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari Anas mengatakan, “Kami tidak pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami mendengar sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam: Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai. Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Karena mereka juga manusia
Memiliki sahabat yang bertaqwa bukan berarti kita tidak akan pernah kecewa dengannya. Bersahabat dengan orang-orang yang bertaqwa bukan berarti engkau tidak akan pernah melihatnya bermaksiat. Tidak ada sahabat yang sempurna, karena mereka juga manusia, memiliki sifat salah sebagaimana manusia yang lainnya. Jangankan kita, sahabat Rasulullah pun pernah melakukan kesalahan. Sebagaimana kesalahan para sahabat saat perang Uhud yang menjadi salah satu kekalahan terbesar umat Islam, namun Allah memerintahkan Rasulullah untuk memaafkan mereka.
Saudariku.. Marilah kita bersahabat dengan mereka yang bertaqwa, hingga tumbuhlah kecintaan di atas ketaatan kepada Allah. Engkau tentu berharap kebahagiaan bersahabat di dunia dan dipertemukan kembali di jannah-Nya kelak.
Wallaahu a’lam.
Penulis : Ummu ‘Abdirrahman
Referensi
- Abu Ahmad Said Yai. 2013. https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html. Teman Bergaul Ceriman Diri Anda.
- Muhammad Abduh Tuasikal. 2011. http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.co.id/2011/04/bagaimana-jika-artis-dan-pemain-bola.html. Siapa Idolamu?
- Muhammad Nuzul. Rekaman kajian. Sahabat, Siapakah Teman-Temanmu?
sumber: https://muslimah.or.id/9786-mendekatlah-dengan-mereka-yang-bertaqwa.html
Menangis Hingga Dosa ini Terkikis
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan segala nikmat kepada setiap makhlukNya. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah kepada seluruh umat agar dapat mengelola setiap nikmat yang telah Allah beri.
***
Salah satu nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia dibanding dengan hewan maupun tumbuhan adalah kemampuan manusia untuk merasa dan mengungkapkan perasaan. Manusia begitu bebas berekspresi dalam menggambarkan suasana hati yang tengah mereka rasakan.
Misalnya saja, seorang anak yang melompat-lompat kegirangan karena mendapatkan hadiah dari kedua orangtuanya, seorang bayi yang sedang rewel karena kehausan, seseorang yang tertawa karena suatu hal yang lucu, seorang pedagang keliling yang kecewa karena hingga larut malam dagangannya belum juga habis, dan masih banyak lagi yang lain.
Tak sedikit pula yang mengungkapkan suatu perasaan dengan menangis. Menangis adalah respon fisiologis yang terkait dengan emosi. Seseorang dapat menangis ketika ia sedang sedih, bahagia, atau bahkan untuk sekedar tangisan pura-pura.
Menangis bukanlah sebuah aktivitas yang tidak boleh dilakukan, karena tak dapat dipungkiri bahwa menangis adalah fitrah setiap manusia.
وَأَنَّهُ هُوَأَضْحَكَ وَأَبْكَى
“dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”. (QS. An Najm: 43)
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Al Qurthubi berkata,
“Yaitu Allah menetapkan sebab-sebab tertawa dan menangis. Berkata Atha’ bin Abi Muslim, “Allah membuat gembira dan membuat sedih, karena kebahagiaan bisa membuat tertawa dan kesedihan bisa membuat menangis.”
***
Ada begitu banyak alasan yang mendasari tangisan seseorang. Tangisan itu bermacam-macam. Ibnul Qayyim sendiri membagi tangisan menjadi 10 macam dalam bukunya, Za’adul Ma’ad. Tangisan seseorang menyimpan berjuta makna, dan diantara tangisan itu ada tangisan yang mengantarkan seseorang menuju surga.
لاَيَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَلاَيَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيل ِاللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ
“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu dapat kembali kepada kambingnya (kantong kelenjar susu binatang ternak), dan tidak akan berkumpul antara debu medan jihad fii sabiilillaah dengan asap Neraka Jahannam.” (HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)
Mata orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah akan dijauhkan dari api neraka.
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
“Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena siaga (saat berjihad) di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)
Air mata yang membasahi pipi seorang hamba karena takut kepada penciptaNya merupakan air mata yang mulia. Ia bermakna tinggi dihadapan Allah, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah.
لَيْسَ شَىْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِى خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. وَأَمَّا الأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِى فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain dua tetesan dan dua bekas. Yaitu, tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir (saat jihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani)
Jadi, tangisan yang mengantarkan seseorang kepada surga dan menjauhkan seseorang dari api neraka adalah tangisan karena takut kepada Allah. Air mata tersebut merupakan lambang ketakutan karena takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat, atau takut membayangkan kehidupan akhirat, takut karena kerasnya hati, dsb.
Air mata itu merupakan tameng bagi dirinya dari api neraka. Karena dengannya, ia akan sadar atas hakikat kehidupan. Pemilik air mata itu akan selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.
***
Begitu juga dengan teladan-teladan kita pada zaman dahulu. Hati mereka begitu lembut hingga mudah menumpahkan air mata karena ketakutan-ketakutan atas azab Allah. Ketundukan dan ketakutan yang dalam kepada Allah menjadikan mereka tak enggan bercucuran air mata. Yang mereka tangisi bukanlah tendensi dunia dan materi, melainkan tangisan yang lebih hanya terfokus pada kehidupan setelah kematian.
Dan yang paling banyak menangis adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiallahu ’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (Nabi) berkata,
ياعائشة ذريني أتعبد الليلة لربي
‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’
Kata Aisyah,” Aku sampaikan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang. ’Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat. ’Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’.
Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.
Lalu Nabi pun menjawab,
أفلا أكون عبدا شكورا لقد نزلت علي الليلة آية ويل لمن قرأها ولم يتفكرفيها { إن في خلق السموات والأرض }
‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albani).
Dalam Al Quran, Allah juga mengisahkan kondisi orang-orang shalih yang menangis karenaNya.
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُ رِّيَّةِ آَدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
“Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Yakub), dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis.” (QS Maryam 19:58)
Begitu pula dengan Abu Hurairah radhiallahu anhu yang tiba-tiba saja menangis pada saat sakitnya menjelang sakaratul maut. Kemudian ada yang bertanya kepada beliau, “Apa yang membuatmu menangis?”. Beliau pun menjawab, “Aku bukan menangis karena dunia yang akan aku tinggalkan ini. Tapi aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan kemana kah digiring diriku nanti?”.
***
Bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang? Bagaimana dengan kita, wahai saudariku? Menangis memang bukanlah suatu kewajiban, tetapi menangis karena takut kepada Allah menjadi tolok ukur kelembutan hati seorang hamba. Menjadi indikator penyeselan seorang hamba atas dosa-dosa yang telah ia perbuat.
Begitu keraskah hati kita hingga tidak dapat menyesali perbuatan dosa yang telah kita lakukan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menyadari bahwa azab Allah sangat mengerikan? Begitu keraskah hati kita hingga tak mampu menghadirkan secuil saja rasa takut karena Allah di dalamnya?
Saudariku, sungguh hendaknya kita selalu memohon ampun kepada Allah. Mintalah pertolongan Allah dimanapun dan kapanpun, termasuk pertolongan agar dijauhkan dari kerasnya hati.
Menangislah…. Menangislah, saudariku…
Menangislah dengan syahdu.
Tangisi segala noktah-noktah hitam yang telah kita torehkan dalam dada ini. Tangisi begitu besar dosa yang telah kita timbun sementara kantung pahala kita belumlah terisi. Tangisi akan kehidupan akhirat kita yang telah menanti, keselamatan ataukah kejerumusan yang akan menghampiri.
Menangislah karena takut kepada Allah…
***
Jangan pernah sekalipun membiarkan mata ini berhenti menangis. Sesungguhnya dalam jasad ini terdapat banyak dosa. Dan anggota tubuh ini berhak untuk mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah ia lakukan.
Maka teruslah menangis…
Hingga diri ini sadar bahwa tak pantas bagi seorang muslim untuk menggores setitik dosa dalam buku amalnya.
— Viara Aisyah
————————————-
Referensi: : Majalah ElFata, Edisi 08, Tahun 2012, “Ada Cinta di Balik Tangis”.
Penulis : Ovi Aswara
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
sumber: https://muslimah.or.id/8519-menangis-hingga-dosa-ini-terkikis.html
Jika Semua Sudah Ditakdirkan Untuk Apa Berusaha? #video
Seorang Mukmin Takut Amalnya Batal Dalam Keadaan Ia Tidak Menyadarinya
Kita sebagai seorang mukmin harus punya rasa khawatir/rasa takut bila amal kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena saat kita melakukan pembatal-pembatal amal, menyebabkan akhirnya amal yang banyak kita lakukan itu ternyata sia-sia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak sekali perbuatan-perbuatan yang menyebabkan amal kita menjadi ditolak. Diantaranya:
1. SYIRIK
Syirik baik yang besar maupun yang kecil. Adapun syirik besar maka ini membatalkan seluruh amal. Sedangkan syirik kecil membatalkan amal yang terkena saja. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 65:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Apabila kamu berbuat syirik, maka amalmu pasti akan batal.” (HR. Az-Zumar[39]: 65)
Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mempersekutukan Aku dalam amal, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim)
2. BID’AH
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini, apa-apa yang tidak berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)
3. MENDUSTAKAN TAKDIR
Sebagaimana Abdullah bin Umar berkata dalam riwayat Muslim. Kata beliau:
وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“Demi Dzat yang aku bersumpah dengannya, kalaulah salah seorang dari mereka menginfakkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerima sampai mereka beriman kepada takdir.”
4. TIDAK MENJAGA SHALAT
Shalat yang tidak kita jaga sungguh-sungguh yang mengakibatkan shalat kita rusak. Karena rusaknya shalat itu bisa merusak amalan yang lain. Sebagaimana dalam hadits riwayat An-Nasa’i dan Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab nanti pada hari kiamat yaitu shalat. Apabila shalatnya benar, maka ia telah sukses dan beruntung. Dan siapa yang shalatnya rusak, sungguh ia telah merugi.”
5. MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
Sebagaimana dalam riwayat Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka sungguh batal amalnya.”
Apa maksud batalnya amal bagi orang yang meninggalkan shalat Ashar?
Ada dua makna. Makna yang pertama apabila ia meninggalkan shalat ashar karena mengingkari kewajiban shalat, maka yang seperti ini batal seluruh amalannya. Tapi kalau misalnya ia meninggalkan shalat Ashar karena malas, maka ini ikhtilaf para ulama, apakah batal amalannya seluruhnya alias kafir -ini adalah pendapat imam Ahmad- atau dia tidak kafir. Maka batal yang dimaksud di sini yaitu batal amalan di hari itu. Ini ikhtilaf para ulama.
6. MENDATANGI DUKUN DAN TUKANG RAMAL
Hal ini sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Siapa yang mendatangi dukun, lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima 40 hari.”
7. BERBUAT DZALIM KEPADA ORANG LAIN
Karena setiap kedzaliman itu akan kita bayar dengan amal. Sebagaimana dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
“Siapa yang pernah menzalimi seseorang hendaknya segera ia minta maaf sebelum nanti di hari kiamat tidak lagi bisa dibayar dengan dinar dan dirham, sebelum akan diambil kebaikan-kebaikan oleh saudaranya yang didzalimi tersebut. Kalau ternyata ia tidak punya kebaikan maka dosa orang yang dizalimi itu akan diberikan kepadanya.” (Muttafaqun alaih)
8. MEMELIHARA ANJING TANPA KEBUTUHAN
Sebagaimana sabda dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِى نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qiroth.” (HR. Muslim)
9. BERSUMPAH ATAS NAMA ALLAH BAHWA SESEORANG TIDAK AKAN DIAMPUNI OLEH ALLAH
Ini bisa membatalkan amal juga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim bahwa kata Rasulullah ada dua orang yang satu shalih dan yang satu suka berbuat maksiat. Suatu hari orang shalih tersebut menemukan temannya sedang berbuat maksiat. Lalu kemudian dia menasehati orang yang berbuat maksiat tersebut. Tapi ternyata orang yang berbuat maksiat ini marah dan berkata:
عَلَيْكَ بِنَفْسِكَ
“Urus saja dirimu sendiri.”
Kemudian suatu ketika yang lain orang shalih ini melihat temannya berbuat maksiat lagi, lalu dinasehati lagi. Maka temannya ini marah lagi dan berkata, “Urus saja dirimu sendiri.”
Kemudian yang ketiga kalinya orang shalih ini menemukan temannya berbuat maksiat, dinasehati lagi. Rupaya temannya ini kembali berkata, “Urus saja dirimu sendiri.” Rupanya orang shalih ini marah lalu berkata:
وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ
“Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu.”
Mendengar itu Allah murka lalu Allah berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
“Siapa yang berani bersumpah atas namaKu bahwa aku tidak akan mengampuni dosa si Fulan? Maka saksikan, aku telah mengampuni dosanya dan membatalkan amal orang shalih tersebut.” (HR. Muslim)
Maka tidak boleh kita bersumpah atas nama Allah untuk mengatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dia. Karena Allah maha pengampun.
10. BERBUAT DOSA SAAT PUASA
Terus menerus berbuat dosa saat berpuasa bisa menyebabkan amal pahala puasanya hilang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan terus-menerus mengamalkannya, maka Allah tidak butuh kepada puasanya itu.” (HR. Bukhari)
11. MEMINUM ARAK
Disebutkan dalam hadits yang disampaikan Syaikh Al-Bani Rahimahullah, dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i:
مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ صَلَاتُهُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Siapa yang minum arak, tidak diterima shalatnya 40 hari, tapi jika ia bertaubat Allah terima taubatnya.”
12. HUTANG
Jika kita tidak membayar hutang di dunia, maka kita akan membayar dengan amal shalih kita.
13. MELANGGAR KEHARAMAN ALLAH DISAAT SENDIRI
Ketika kita sendiri, kita tidak punya rasa takut kepada Allah. Bedakan dengan orang yang saat dia sendiri pun sebetulnya dia menjauhi dosa. Tapi terkadang saat angin maksiat kuat, syahwat juga kuat, ia jatuh kepada dosa tapi dia segera taubat. Ini berbeda dengan orang yang di depan orang kelihatan shalih tapi pas sendirian dia tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang akan Allah batalkan amalannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Sungguh aku akan mengetahui beberapa kaum dari umatku yang nanti pada hari kiamat membawa pahala-pahala sebesar gunung-gunung Tihamah, lalu Allah jadikan ia hancur lebur.”
Lalu Tsauban berkata, ‘Wahai Rasulullah tolong jelaskan supaya kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan kami tidak tahu.”
Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka saudara-saudara kalian juga, mereka mengambil malam sebagaimana kalian ambil. Akan tetapi mereka apabila bersendirian dengan keharaman Allah, mereka berani untuk melanggarannya.” (HR. Ibnu Majah)
Artinya takutnya hanya ketika di depan orang saja. Tapi ketika sendiri, dia tidak takut kepada Allah.
14. BERBUAT JAHAT DI KOTA MADINAH
Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا
“Kota Madinah itu haram, batasannya dari gunung ‘Air sampai gunung Tsaur. Maka siapa yang berbuat keburukan atau melindungi orang yang berbuat buruk di situ, maka dia mendapatkan laknat Allah, Malaikat dan seluruh Manusia. Dan Allah tidak akan terima shalat wajib dan shalat sunnahnya.” (HR. Muslim)
15. DURHAKA KEPADA ORANG TUA DAN ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURAHIM
Dalam hadits yang dihasankan oleh Syaikh Albani Rahimahullah:
لَا يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
“Amalan orang yang memutuskan silaturahim itu tidak akan diterima.”
Kata para ulama, kalau memutuskan silaturahim dengan saudara saja menyebabkan amal gak diterima, apalagi sama orang tua.
16. MENGUNGKIT KEBAIKAN
Mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain, apalagi kalau disertai dengan menyakiti hati. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu batalkan sedekah kamu itu dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti.” (QS. Al-Baqarah[2]: 264)
Juga disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah, dan tidak akan disucikan oleh Allah, dan bagi mereka adzab yang pedih.”
Siapa tiga orang itu?
الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ
“Orang yang memakai kain melebihi mata kaki.”
الْمَنَّانُ عَطَاءَهُ
“Orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya.”
الْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta.”
Saudaraku, orang yang mengungkit pemberian itu bukan hanya sebatas Allah tidak lihat, tidak ajak bicara, tidak disucikan oleh Allah, bahkan amalannya pun dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kecanduan Game itu Memusnahkan Waktu dan Keberkahan Hidup
Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan memusnahkan waktu mereka. Semua orang sudah tahu bahwa bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan kecanduan game. Berikut beberapa efek negatif kecanduan game, misalnya:
- Lama-kelamaan akan menyebabkan kecanduan sehingga akan melalaikan dari tugas dan kewajibannya
- Melakukan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat
- Menghabiskan waktu di depan permainan game
- Menjadi tertutup dan terbatas komunikasi dengan dunia nyata karena terlalu fokus dengan game
- Ada beberapa madharat game pada umumnya semisal memperlihatkan aurat, lagu dan musik serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik
Kecanduan game itu benar-benar melakukan hal yang sia-sia
Kita dianjurkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, apabila tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan hal yang negatif.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)
Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan dalam islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi )
Kecanduan game berarti tidak menghargai waktu yang sangat berharga
Allah Ta’ala bersumpah dalam Al-Quran dengan menggunakan waktu beberapa kali dan beberapa surat Al-Quran. Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail” (demi waktu malam) dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ini sangat penting dan kita harus menyadari betul hal ini, sedangkan manusia secara umum lalai akan hal ini. Perhatikan hadits berikut,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)
Pepatah Arab yang menggambarkan pentingnya waktu,
اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”
Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ
“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.” (Lihat Miftahul Afkar)
Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkat,
أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ
“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka” (Al-‘Umru was Syaib no. 85)
Hendaknya kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tugas kita sangat banyak sedangkan waktu ini sangat sedikit, tidak layak bagi seorang muslim menghabiskan waktu yang sangat berharga dengan bermain game yang tidak bermanfaat.
Demikian semoga bermanfaat
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/45161-kecanduan-game-itu-memusnahkan-waktu-dan-keberkahan-hidup.html
Kontrasnya dunia.. apalagi di akhirat
Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?
Puasa punya keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Maka tentu saja untuk memasuki bulan yang mulia ini dan ingin menjalani kewajiban puasa, hendaklah kita punya persiapan yang matang. Persiapan yang utama yang mesti ada adalah persiapan ilmu. Karena orang yang beribadah pada Allah tanpa didasari ilmu, maka tentu ibadahnya bisa jadi sia-sia. Sebagaimana ketika ada yang mau bersafar ke Jakarta lalu tak tahu arah yang mesti ditempuh, tentu ia bisa ‘nyasar’ dan tersesat. Ujuk-ujuk sampai di tujuan, bisa jadi malah ia menghilang tak tahu ke mana. Demikian pula dalam beramal, seorang muslim mestilah mempersiapkan ilmu terlebih dahulu sebelum bertindak.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
العامل بلا علم كالسائر بلا دليل ومعلوم ان عطب مثل هذا اقرب من سلامته وان قدر سلامته اتفاقا نادرا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء
“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”
Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,
من فارق الدليل ضل السبيل ولا دليل إلا بما جاء به الرسول
“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuatan lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 282)
Juga amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini perlu didasari dengan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)
Ulama hadits terkemuka, yakni Imam Bukhari membuat bab dalam kitab shahihnya “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Ta’ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan. Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1: 108)
Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal? Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib, dan Jabir. Lihat catatan kaki Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69)
Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum puasa? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, juga setelahnya. Semoga dengan mempelajarinya, bulan Ramadhan kita menjadi lebih berkah.
Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu sebelum memasuki Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik.
—
@ Pesantren Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Malam Sabtu, 20 Sya’ban 1434 H
Sumber https://rumaysho.com/3452-sudahkan-anda-mempersiapkan-ilmu-sebelum-ramadhan.html
Nasehat Ketika Terjadi Kenaikan Harga Barang
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Mudah mengeluh ketika sedang sulit merupakan salah satu karakter manusia.
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan memiliki sifat halu’, apabila dia sedang mengalami kesulitan, dia mudah berkeluh kesah,dan jika sedang mendapatkan kenikmatan, dia bersikap pelit. (QS. Al-Ma’arij: 19 – 21)
Karena yang dipikirkan manusia, bagaimana bisa hidup enak dan enak. Sehingga ketika mendapatkan kondisi yang tidak nyaman, mereka merasa sangat sedih, bahkan sampai stres.
Ada beberapa keterangan yang bisa kita petik sebagai ketika terjadi kenaikan harga barang,
Pertama, bahwa kenaikan harga barang merupakan ketetapan Allah
Fenomena kenaikan harga barang bahkan pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan,
يا رسول الله غلا السعر فسعر لنا
“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.”
Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
إن الله هو المسعر القابض الباسط الرازق وإني لآرجو أن ألقى الله وليس أحد منكم يطلبني بمظلمة في دم أو مال
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).
Anda bisa perhatikan, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan tentang kenaikan harga, yang beliau lakukan bukan menekan harga barang, namun beliau ingatkan para sahabat tentang takdir Allah, dan Allah yang menetapkan harga. Dengan demikian, mereka akan menerima kenyataan dengan yakin dan tidak terlalu bingung dalam menghadapi kenaikan harga, apalagi harus stres atau bahkan bunuh diri.
Kedua, Kenaikan harga barang, tidak mempengaruhi rezeki seseorang
Bagian penting yang patut kita yakini bahwa rezeki kita telah ditentukan oleh Allah. Jatah rezeki yang Allah tetapkan tidak akan bertambah maupun berkurang. Meskipun, masyarakat Indonesia diguncang dengan kenaikan harga barang, itu sama sekali tidak akan menggeser jatah rezeki mereka.
Allah menyatakan,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Andaikan Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 27)
Ibnu Katsir mengatakan,
أي: ولكن يرزقهم من الرزق ما يختاره مما فيه صلاحهم، وهو أعلم بذلك فيغني من يستحق الغنى، ويفقر من يستحق الفقر.
“Maksud ayat, Allah memberi rezeki mereka sesuai dengan apa yang Allah pilihkan, yang mengandung maslahat bagi mereka. Dan Allah Maha Tahu hal itu, sehingga Allah memberikan kekayaan kepada orang yang layak untuk kaya, dan Allah menjadikan miskin sebagian orang yang layak untuk miskin.” (Tafsir Alquran al-Adzim, 7/206)
Terkait dengan hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai mereka merasa rezekinya terlambat atau jatah rezekinya serat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)
Satu catatan yang penting dipahami, hadis ini bukan untuk memotivasi agar anda tidak bekerja atau meninggalkan aktivitas mencari rezeki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan demikian, tujuannya agar manusia tidak terlalu ambisius dengan dunia, sampai harus melanggar yang dilarang syariat. Kemudian ketika terjadi musibah, manusia tidak sedih yang berlebihan, apalagi harus stres.
Mereka tidak Peduli dengan Kenaikan Harga
Jaga shalat, semahal apapun harga pangan, Allah menjamin rizki anda,
Allah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)
Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,
والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني
“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”
Allahu a’lam
oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
sumber: https://konsultasisyariah.com/21488-nasehat-ketika-terjadi-kenaikan-harga-barang.html









