Menjadi Pemuda Mulia

Puncak kecerdasan, kekuatan dan kesempatan ada di usia muda. Mau ngerjain apa aja masih bebas, mau buat ini dan itu masih okeh, yap. Itulah masa muda yang buat semua usia iri kepadanya. Ketika masih kecil, mama sama papa sering bilang, makannya yang banyak ya biar adek cepet gede. Ketika udah tua, biasanya kakek nenek cerita ke kita tentang usia mereka ketika muda.

Mungkin itu salah satu indikasi kalo mereka rindu sama usia muda. Nggak tau nyambung apa nggak tu. Dan diakhir cerita, biasanya kakek nenek sering pesen sama kita, jadi anak yang rajin ya, jangan males, sering-sering bantu orang tua, kalo punya cita-cita itu yang tinggi, biar kamu jadi orang hebat, bla..bla..

Ada petuah yang lebih hebat dari itu semua. Dalam sabdanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, … (Sahih, HR Hakim)

Dari lima perkara, yang pertamanya Rasul pesen untuk manfaatin masa muda. Usia muda emang something banget pokoknya. Disitu puncak keemasan akal dan kekuatan. Disitu persiapan calon pemimpin masa depan dan bapak buat keturunan selanjutnya. Tugas pendidikan dan kepemimpinan ada ditangan para pemuda. Makin baik pemudanya, makin baik pula masa depan suatu bangsa. Insyaallah taala.

Tapi, usia muda juga punya tantangan yang sangat besar. Dirusak oleh pengaruh negatif. Bahaya hawa nafsu yang masih kenceng. Kedewasaan yang belum sempurna. Lebih-lebih arus listriknya masih poollll banget, sulit banget nahan syahwat. Dan yang lebih parah lagi, usia muda adalah sasaran utama musuh-musuh Islam. Dirusak, dijauhkan dari Islam, dan seterusnya.

Cara paling ampuh untuk menjaga kita dari keburukan itu semua adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan mencari teman yang baik-baik. Kita harus sadar bahwa kita punya potensi yang luar biasa. Jangen sampe terbuang sia-sia karena pengaruh negative dari temen ato lingkungan.

Kalo dulu tokoh kita pernah bilang, “beri saya sepuluh pemuda, ntar saya guncangkan dunia”. Beliau sadar dengan potensi yang dimiliki pemuda. Tapi kalo sekarang kata-katanya udah beda, “kasi saya satu pemuda, pusing bukan main saya jadinya.” Ya ampun, nggak gitu juga kale.

Selain punya potensi bagus, kita juga harus sadar bahwa ilmu yang kita punya masih sedikit. Semangat yang ngefull harus disupport dengan ilmu yang powerfull. Jangan sampe cuman modal semangat doang. Kan sayang tenaganya nggak efektif. Yuk terus belajar dan ngelakuin hal hal yang bermanfaat. Kita bisa minta arahan, bimbingan, pencerahan, dan bantuan dari para tokoh perubahan dalam segala bidang kebaikan.

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

sumber: https://www.muslimplus.or.id/2015/12/13/menjadi-pemuda-mulia/

Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?

Pertanyaan ini mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi banyak orang akan terasa aneh dan terkesan tidak penting. Padahal, mengenal Allah dengan benar (baca: ma’rifatullah) merupakan sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akherat. Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri, dan menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.

Berikut ini, sebagian ciri-ciri atau indikasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta keterangan para ulama salaf yang dapat kita jadikan sebagai pedoman dalam menjawab pertanyaan di atas:

Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (QS. Fathir: 28)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri

Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi’in- berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Suatu ketika, ada seseorang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Sebenarnya orang yang alim itu adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.” (dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98])

Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “..Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 31-32)

Keempat;  Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” (HR. Muslim)

Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)

Keenam; Orang Yang Mengenal Allah Akan Merasakan Manisnya Iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).

Ketujuh; Orang Yang Mengenal Allah Tulus Beribadah Kepada-Nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab).

Demikianlah, sebagian ciri-ciri orang yang benar-benar mengenal Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk termasuk dalam golongan mereka. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

sumber: https://muslim.or.id/5876-apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html

[Kitabut Tauhid 3] 15. Makna Kalimat Tauhid 15

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Orang-orang musyrik menjadikan Malaikat, Para Nabi dan orang-orang shalih sebagai wasilah (perantara) dalam beribadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan inilah hakikat kesyirikan.
  • Dan ini juga yang dilakukan oleh Ahlul Kitab. Uzair dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai anak Allâh -‘Azza wa Jalla-  sebagaimana Nabi ‘Isâ Putra Maryam -‘Alaihissalâm- dijadikan oleh orang-orang Nashrani sebagai anak Allâh -‘Azza wa Jalla-. Maha Suci Allâh dari apa yang mereka katakan. Perkataan mereka itu termasuk perkataan yang paling kotor yang pernah diucapkan oleh lisan-lisan manusia tentang Allâh -‘Azza wa Jalla- yang dengannya nyaris langit runtuh dan bumi terbelah.

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.2 langsung dari playstore atau appstore

Adab dalam Islam dan Perhatian Islam Terhadapnya

Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Adab justru menjadi salah satu inti ajaran Islam. Sedemikian penting perkara ini hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab dalam Islam.

Di tengah padang sahara yang membakar, bergolak kehidupan masyarakat jahiliah yang tidak mengenal kebaikan kecuali apa yang diwariskan oleh nenek moyang. Penyimpangan dari agama Nabi Ibrahim alaihis salam (mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ibadah) tercermin pada banyaknya berhala yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Setiap kabilah memiliki berhala yang mereka yakini mampu mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya. Bahkan, kesucian Ka’bah pun telah tercemari dengan berdirinya sekian ratus berhala yang diagung-agungkan di sekitarnya.

Dari sisi tatanan kehidupan bermasyarakat, mereka telah mencapai titik terparah. Tidak ada pemimpin yang menyatukan mereka sehingga masing-masing ingin berkuasa dan menindas yang lainnya. Berlaku bagi mereka undang-undang jahiliah, “Siapa yang kuat dia yang menang.” Kejahatan moral dan penyimpangan kesusilaan merupakan pemandangan yang mewarnai kehidupan sehari-hari.

Demikian gambaran kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala dengan rahmat-Nya mengutus Muhammad shallallahu alaihi wa sallamuntuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran dan kebodohan kepada cahaya iman dan ilmu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولًا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam dengan syariat yang sempurna. Syariat tersebut menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak bagi orang yang berpegang teguh dengannya. Syariat yang beliau shallallahu alaihi wa sallam bawa bersifat universal. Segala aspek kehidupan manusia telah diatur dalam Islam dengan begitu rapinya.

Di antara yang terpenting yang dibawa oleh Islam adalah memperbaiki kondisi batin manusia dan membimbing mereka kepada keteguhan hati di atas agama. Demikian pula memunculkan kontrol keimanan yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan.

Sebagai misal adalah diwajibkannya shalat, zakat, puasa, dan haji. Selain dikerjakan sebagai bentuk ketundukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala demi meraih surga-Nya, amal-amal tersebut juga mengandung manfaat yang banyak. Shalat misalnya. Apabila dikerjakan dengan ikhlas dan benar, shalat akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)

Zakat sebagai bentuk memerangi hawa nafsu dari sikap bakhil dan menyantuni orang fakir serta yang membutuhkan. Puasa akan melatih kesabaran dan menumbuhkan kepekaan sosial serta jiwa suka berderma. Haji sebagai bentuk pengorbanan dengan harta dan tenaga.

Jadi, jelas bahwa perintah-perintah agama dilakukan bukan sekadar rutinitas yang hampa dari makna. Bahkan, di dalamnya terkandung berbagai maksud dan tujuan. Di antaranya adalah membentuk kepribadian yang memiliki adab yang mulia dan budi pekerti yang luhur.

Kedudukan Adab dalam Islam

Adab adalah menggunakan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah adab dan akhlak mendapat perhatian serius yang tidak didapatkan pada tatanan mana pun. Sebab, syariat Islam adalah kumpulan dari akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan.

Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara tersebut, misalnya akhlak, akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya. Satu sama lainnya ada keterkaitan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِفَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik terhadap tetangganya.” (HR. Muslim, “Bab Al-Hatstsu ‘ala Ikramil Jar wadh Dhaif”)

Di sini terlihat jelas bagaimana kaitan antara akidah dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menafikan keimanan orang yang tidak menjaga amanah dan janjinya. Beliau bersabda,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dinilai sahih oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ no. 7179)

Bahkan, suatu ibadah menjadi tidak ada nilainya manakala adab dan akhlak tidak dijaga. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, Allah tidak butuh dengan (amalan) meninggalkan makan dan minumnya (puasa, -red.).” (HR. al-Bukhari no. 1903)

Maknanya, puasanya tidak dianggap.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa adab memiliki pengaruh yang besar untuk mendatangkan kecintaan dari manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحۡمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan,

“Akhlak yang baik dari seorang pemuka (tokoh) agama menjadikan manusia tertarik masuk ke dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikan mereka senang dengan agama-Nya. Di samping itu, pelakunya akan mendapat pujian dan pahala yang khusus. (Sebaliknya) akhlak yang jelek dari seorang tokoh agama menyebabkan orang lari dari agama dan membencinya. Di samping itu, pelakunya mendapat celaan dan hukuman yang khusus.

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau seorang yang maksum (terjaga dari kesalahan). Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan kepadanya apa yang Dia firmankan (pada ayat ini).

Bagaimana halnya dengan yang selain beliau? Bukankah hal yang paling harus dan perkara terpenting adalah seseorang meniru akhlak beliau yang mulia, bergaul dengan manusia sesuai dengan contoh yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam lakukan, berupa sifat lemah lembut, akhlak yang baik dan menjadikan hati manusia suka? Ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menarik para hamba ke dalam agama-Nya.” (Taisir al-Karimir ar-Rahman hlm. 154)

Pembagian Adab

Pembahasan adab sangat luas cakupannya. Adab tidak terbatas pada masalah pergaulan terhadap manusia. Bahkan, pembahasan adab mencakup:

  1. Adab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Adab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala diwujudkan dengan seseorang memercayai berita-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, serta bersabar atas takdir-Nya. Di dalam dirinya tertanam sikap cinta, berharap, dan takut hanya kepada-Nya. Segala ucapan dan perbuatannya mencerminkan pengagungan dan penghormatan kepada-Nya.

Namun, adab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan terealisasi dengan baik kecuali dengan mengenal nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Demikian pula dengan mengenal syariat-Nya, hal-hal yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan yang dibenci-Nya. Yang tak kalah penting, adanya kesiapan jiwa untuk menerima kebenaran secara total. Ini adalah pokok dari adab. Manakala hal ini tidak ada pada diri seseorang, tidak ada kebaikan pada dirinya.

  1. Adab terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adab terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam direalisasikan dengan berserah diri terhadap keputusannya, tunduk kepada perintahnya, dan memercayai beritanya tanpa mempertentangkannya dengan apa pun—baik pendapat manusia, keragu-raguan, kias (analogi) yang batil, maupun dengan menyimpangkan ucapannya dari maksud yang sesungguhnya.

Termasuk adab terhadap beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah tidak mendahului keputusannya dan tidak mengangkat suara di sisinya lebih dari suaranya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ كَجَهۡرِ بَعۡضِكُمۡ لِبَعۡضٍ أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadari.” (al-Hujurat: 2)

Jika mengangkat suara lebih tinggi dari suara Nabi shallallahu alaihi wa sallam bisa menjadikan batal amal kebaikan seseorang, bagaimana kiranya orang yang menentang sabda beliau dengan akal semata atau dengan pendapat manusia?!

  1. Adab terhadap orang lain.

Hal ini diwujudkan dengan bermuamalah (bergaul) bersama manusia dengan perbedaan status mereka sesuai kedudukannya. Terhadap orang tua, ada adab yang khusus. Bersama orang alim dan penguasa, ada adab yang patut untuk mereka. Dengan tamu, ada adab yang tidak sama dengan keluarga sendiri. Demikian seterusnya.

  1. Adab yang umum sesuai keadaan.

Misalnya, adab ketika safar, bermajelis, makan dan minum.

Walhasil, beradabnya seorang adalah pertanda kebahagiaan dan kesuksesannya. Lihatlah, bagaimana seseorang dilepaskan dari marabahaya karena baik adabnya terhadap orang tua, setelah sebelumnya terkurung dalam gua yang tertutup pintunya oleh batu besar. (lihat Shahih al-Bukhari no. 5974)

Namun, sebaliknya, seorang ahli ibadah dari bani Israil yang bernama Juraij tatkala kurang adab terhadap ibunya, dia mendapat doa kejelekan dari ibunya. Juraij mendapat musibah dengan dituduh berbuat zina sehingga dia ditangkap dan diarak dengan tangan terikat. Bahkan, tempat ibadahnya pun dihancurkan. (Lihat pembagian adab dan penjelasannya dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim rahimahullah, 2/375-392 cet. Maktabah As-Sunnah)

Adab Menurut Pandangan Salaf

Salafush shalih umat ini, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat radhiallahu anhum, tabiin, dan yang mengikuti mereka, sangat memperhatikan adab. Sebab, adab adalah bagian dari syariat yang dengannya terwujud kemaslahatan dunia dan akhirat. Orang yang mencermati kehidupan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu anhum akan mendapatkan para sosok yang sempurna akhlak dan adabnya.

Sesungguhnya lembaran sejarah keemasan kita yang masih terlipat semestinya kita buka dan kita pahami untuk diambil petunjuk darinya. Umat Islam seyogianya bersyukur bahwa para pendahulu mereka telah melewati kehidupan dunia ini dengan menyuguhkan yang terbaik bagi umat manusia.

Orang-orang yang terbimbing dengan wahyu Ilahi tidaklah mengambil adab dan akhlak kecuali yang paling mulia. Mereka pun tidak mengambil dari akidah dan ibadah kecuali yang terbersih. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sosok teladan yang berbuat baik dan adil tidak hanya kepada para sahabatnya. Bahkan, terhadap musuh sekalipun, beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak mengesampingkan adab.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak berhijrah ke Madinah, beliau memerintah sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu untuk tidur di rumah beliau dan mengembalikan amanat/titipan orang-orang Quraisy. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah mengambil sedikit pun harta titipan orang-orang kafir tersebut walaupun sekadar sebagai bekal untuk sampai di Madinah. Padahal beliau sangat membutuhkannya. Apalagi merekalah yang menyebabkan beliau terusir dari Makkah.

Mahabenar Allah ketika berfirman memuji Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Karena pentingnya masalah adab, para ulama yang membukukan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam memuat dalam kitab-kitab mereka riwayat-riwayat yang berkaitan dengan adab dan akhlak.

Imam al-Bukhari rahimahullah, misalnya, di dalam Shahih-nya memuat lebih dari 250 hadits tentang adab. Bahkan, beliau menulis kitab khusus tentang adab yang diberi judul al-Adab al-Mufrad. Hanya saja, kitab ini tidak disyaratkan semua haditsnya sahih sehingga ada yang dhaif (lemah).

Imam Abu Dawud rahimahullah, murid al-Bukhari rahimahullah, juga memuat sekitar 500 hadits tentang adab dalam Sunan-nya.

Demikian pula Ibnu Hibban rahimahullah memuat lebih dari 670 hadits adab dalam Shahih-nya.

Kitab-kitab adab secara khusus sendiri banyak sekali. Kita dapatkan kitab:

  • al-Adab an-Nabawi karya al-Baihaqi rahimahullah,
  • al-Adab asy-Syar’iyah karya Ibnu Muflih Al-Hanbali rahimahullah,
  • Akhlaqul ‘Ulama karya al-Ajurri rahimahullah,
  • ash-Shamt karya Ibnu Abid Dunya rahimahullah,
  • Makarimul Akhlaq karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, dll.

Ulama memiliki andil yang besar dalam menjaga hadits-hadits tentang adab dan menyebarkannya. Di tengah-tengah keterpurukan moralitas umat, sudah semestinya kita kenalkan kepada mereka kitab-kitab tersebut. Semoga mereka mau kembali ke jalan yang benar dan krisis moral bisa dihindarkan.

Ciri dan Keistimewaan Adab Islami 

Adab-adab Islami memiliki keistimewaan yang besar, di antaranya:

  1. Bersifat menyeluruh

Syariat Islam telah mengatur segala sisi kehidupan kaum muslimin, dari yang terkecil hingga yang terbesar; baik sebagai pribadi, di dalam keluarga, ataupun di tengah masyarakat. Selain itu, kewajiban untuk berhias diri dengan adab Islam juga meliputi seluruh muslimin, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan.

  1. Kokoh bersamaan dengan kokohnya nilai-nilai Islam.

Misalnya, mengucapkan salam, berjabat tangan, jujur, dan yang lainnya, termasuk adab-adab Islam yang tidak berubah dengan pergeseran waktu dan tempat.

  1. Peduli terhadap orang lain.

Adab-adab Islam mendidik seorang muslim untuk memiliki kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat sekitarnya dan manusia secara umum. Di dalam pergaulan seseorang dilarang untuk bersikap egois dan tak acuh.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukan seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 82)

Tidak cukup seseorang hanya menahan dirinya tidak mengganggu orang, sampai ia berbuat baik kepada orang lain. Bahkan, dia berbuat baik kepada yang berbuat jelek kepadanya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan) denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek kepadamu, dan ucapkanlah yang hak (benar) walau mengenai dirimu.” (HR. Ibnu an-Najjar, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 3769)

  1. Adab-adab Islam dijalankan dengan sepenuh ketaatan.

Seorang muslim konsisten dan memegang teguh adab-adab tersebut semata-mata ingin mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam rangka menyambut perintah-Nya.

Dia tidaklah menunaikan adab-adab itu karena peraturan manusia atau undang-undang yang dibuat oleh mereka yang menyelisihi Al-Qur’an dan hadits.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan tentang orang-orang yang baik,

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينًا وَيَتِيمَا وَأَسِيرًا ٨ إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا ٩

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan AllahKami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (al-Insan: 8—9)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

sumber: https://asysyariah.com/adab-dalam-islam/

Jujur, Pintu Semua Kebaikan

Jujur adalah sifat orang mukmin, sedangkan dusta adalah sifat orang munafik. Kejujuran adalah fondasi keimanan, sedangkan kebohongan adalah benih kemunafikan.

Apabila kebohongan dan keimanan bertemu, salah satu dari keduanya pasti tumbang. Karena Allah Ta’ala memberi gambaran berlawanan antara orang munafik dengan orang jujur.

Allah Ta’ala berfirman:

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاء أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]: 24)

Kejujuran adalah kunci untuk meraih kebaikan. Sifat ini yang akan menunjuki kita kepada kebaikan, dan itu adalah jalan menuju surga. Yang demikian tidak mungkin dapat dicapai seorang pendusta, karena kebohongannya pasti akan menggiring kepada keburukan, dan itu adalah jalan menuju nereka.

sumber: https://www.radiorodja.com/26085-jujur-pintu-semua-kebaikan-aktualisasi-akhlak-muslim-ustadz-abu-ihsan-al-atsary-ma/

Allah Ingin Mengangkat Derajatmu Di Surga


عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ السَّلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى

Diriwayatkan dari Muhammad ibn Khalid As-Salamiy dari bapaknya dari kakeknya yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (radhiyallahu ’anhu) berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga -pent) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga -pent) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2686 dengan sanad yang shahih)

Faedah Hadits:

  1. Penjelasan tentang adanya ketetapan takdir yang telah Allah tuliskan untuk semua hamba hamba-Nya;
  2. Keterangan bahwa amalan yang dilakukan hamba merupakan sebab dia mendapatkan Surga dari Allah dengan karunia dan kasih sayang-Nya;
  3. Salah satu hikmah Allah memberikan musibah kepada hamba-Nya adalah meningkatkan derajatnya di Surga yang mana derajat itu tidak bisa diraih oleh hamba tadi hanya dengan amal ibadahnya;
  4. Musibah dan cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu bermacam-macam. Terkadang berkaitan dengan dirinya, harta ataupun anaknya;
  5. Kewajiban bersabar atas musibah dan cobaan yang Allah berikan karena semua itu merupakan tanda kebaikan yang Allah berikan kepadanya;
  6. Penegasan bahwa seseorang tidak akan mampu bersabar dalam menghadapi musibah kecuali dengan pertolongan dan kemudahan dari Allah;
  7. Adanya perbedaan derajat dan tingkatan antara penduduk Surga sesuai dengan amalan mereka ketika di dunia;
  8. Hadits ini juga merupakan dalil bahwa Surga itu bertingkat-tingkat;
  9. Isyarat agar kita memohon kepada Allah tingkatan Surga yang paling tinggi sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّة وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّة

Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdillah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di Surga itu ada seratus tingkatan yang telah Allah sediakan bagi mereka yang berjihad di jalan Allah. Dan jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya itu bagaikan jarak antara langit dan bumi. Dan apabila kalian berdoa memohon kepada Allah maka mintalah kepada-Nya Surga Firdaus. Karena Surga Firdaus adalah Surga yang paling tengah dan paling atas, di atasnya terdapat ‘Arsy Allah Dzat Yang Maha Pengasih. Dan dari Surga Firdaus itulah seluruh mata air sungai sungai Surga mengalir” (HR. Al-Bukhari, no. 2581 dan 6873)

Wallahu a’lam.

Oleh Ustadz Mahful Safarudin, Lc.

sumber: https://pesantrenalirsyad.org/allah-ingin-mengangkat-derajatmu-di-surga-seri-40-hadits-tentang-musibah-dan-cobaan-7-40/

Keutamaan Membaca Hamdalah

Keutamaan Hamdalah

1. Allah seringkali menyandingkan nama-Nya Al-Hamiid (yang Maha Terpuji) dengan ucapan Tasbih. Seperti yang terkandung dalam Surat Al-Isra’ ayat 44, Ash-Shoffaat ayat 180-182, Al-Baqarah ayat 30. Begitupun juga dalam Hadits seringkali Nabi Menyandingkan Al-Hamdu dengan Tasbih. Hal ini menunjukkan bahwa selain Allah Maha Terpuji, Allah juga bersih dari aib dan kekurangan.

2. Al-Hamdu seringkali disandingkan dengan Tasbih, Istighfar, dan Taubat. Seperti dalam Surat Ghaafir ayat 7, An-Nasr ayat 3, atau dalam hadits-hadits Rasulullah.

3. Allah memulai dengan pujian di beberapa surat, diantaranya pada Surat Al-Fatihah, An-An’am, Al-Kahfi, Saba’, dan Fatir.

4. Allah mengakhiri surat dalam al-Qur’an dengan Pujian, seperti surat Al-Hijr, Al-Isra’, An-Naml, Ash-Shoffaat, Az-Zumar, Al-Jatsiyah, Ath-Thuur, dan An-Nasr.

5. Hamdalah adalah sebaik-baiknya perkataan dan Allah pilihkan untuk hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِهَا عِشْرُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ عِشْرُونَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ بِهَا ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih empat perkataan, yaitu subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar. Barangsiapa mengucapkan “Subhanallah” maka akan dituliskan untuknya dua puluh kebaikan dan dihapuskan darinya dua puluh kesalahan. Barangsiapa mengucapkan “Allahu Akbar” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Dan barangsiapa mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” dari dalam hatinya, maka akan dituliskan untuknya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh kesalahan.” (HR. Ahmad no. 8032)

6. Hamdalah adalah kalimat pertama yang diucapkan Adam ‘Alahis Salam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Allah telah menciptakan Adam dan meniupkan di dalamnya ruh, ia bersin, lalu mengucapkan Alhamdulillah, lalu ia memuji Allah dengan izinNya” (HR. Tirmidzi)
7. Hamdalah adalah sebaik-baiknya doa.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, lihat Ash Shahihah no. 1497)

8. Sebaik-baiknya hamba adalah gemar membaca Alhamdulillah

أفضل عباد الله – تعالى – يوم القيامة الحمادون

Sebaik-baiknya hamba Allah pada hari kiamat adalah Al-Hammadun (orang-orang yang gemar memuji Allah). (Silsilah Ash-Shahihah no. 1584)

9. Besarnya pahala bagi yang gemar mengucapkan Hamdalah. (Silsilah Ash-Shahihah no. 3452).

10. Hamdalah ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai Allah Ar-Rahman.

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى  ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694).

11. Balasan di dalam surga bagi orang yang memperbanyak pujian kepada Allah.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ وَهُوَ يَغْرِسُ غَرْسًافَ قَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا الَّذِي تَغْرِسُ؟ قُلْتُ غِرَاسًا لِي قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ هَذَا؟ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ يُغْرَسْ لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Bahwa Rasulullah melewatinya sedang bercocok tanam, seraya Rasulullah menegurnya dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, apa yang sedang kau tanam? Aku menjawab, “Menanam tanaman ya Rasulullah”. Beliau berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang tanaman yang lebih baik dari ini?” Abu Hurairah menjawab, “Tentu ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Katakanlah : subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar, niscaya akan ditanamkan untukmu dengan setiap kalimat tersebut, sebuah pohon di surga. (HR. Ibnu Majah no. 3807 dan Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam kitab Shahih Targhib no. 1549)

Dan masih banyak dalil yang menunjukkan keutamaan hamdalah yang memotivasi kita untuk senantiasa membasahi bibir kita dengan memuji Allah Ta’ala.
Buah membaca Hamdalah

1. Terkandung sebuah pilar ibadah yang sangat agung yaitu kecintaan. Para ulama menjelaskan bahwa ucapan Hamdalah bermakna pujian yang disertai dengan rasa cinta dan pengagungan. Tidaklah suatu pujian disebut sebagai hamdalah kecuali jika dilandasi rasa cinta.

2. Dalam Hamdalah telah terkandung penetapan kesempurnaan Allah dari segala sisi. Karena ucapan alhamdulillah bermakna segala puji atau pujian yang mutlak hanya layak diberikan untuk Allah. Allah terpuji dari segala sisi. Allah terpuji karena berbagai kesempurnaan yang ada pada-Nya, baik kesempurnaan Dzat, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan juga kesempurnaan nikmat yang Allah curahkan kepada hamba-hamba-Nya. Sebab tidak ada satu pun nikmat melainkan itu adalah bersumber dari-Nya. Di tangan-Nya lah segala kebaikan.

3. Dalam alhamdulillah juga tersimpan penetapan tauhid uluhiyah, yaitu kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah. Sebab kata ‘Allah’ dalam ungkapan alhamdulillah menunjukkan makna bahwa Allah ialah Al-Ilah Al-Haq yaitu sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang batil.

4. Dalam Rabbil ‘alamin terkandung penetapan tauhid rububiyah, bahwa Allah merupakan Rabb yaitu yang mencipta, mengatur, dan menguasai alam semesta ini. Pengakuan terhadap hal ini telah menjadi fitrah dan naluri yang tertanam dalam hati manusia. Bahkan kaum musyrikin sekali pun telah meyakininya. Konsekuensi dari pengakuan ini adalah ketundukan secara penuh kepada Allah akan hukum dan perintah-Nya. Dan perintah yang paling agung adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah 2: 21)

5. Dalam Rabbil ‘alamin terdapat penegasan bahwa seluruh alam adalah makhluk ciptaan Allah yang butuh kepada Allah. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan dan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu wajib beriman kepada takdir dan iradah (kehendak)Nya yang meliputi seluruh makhluk. Segala yang Allah kehendaki -secara kauni- pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki juga tidak akan terjadi. Inilah yang disebut dengan istilah iradah kauniyah. Dan semua yang Allah kehendaki terjadi ini pasti mengandung hikmah. Tidak mungkin Allah menghendaki sesuatu terjadi tanpa hikmah, Maha suci Allah dari kesia-siaan.

6. Dalam Rabbil ‘alamin juga terdapat pelajaran bahwa setiap muslim bahkan setiap manusia harus tunduk kepada hukum dan syari’at Allah. Sebab Allah lah yang telah menciptakan alam ini, yang memeliharanya dan menguasainya. Tidak ada yang lebih mengetahui kemaslahatan hamba kecuali Allah semata. Oleh sebab itu, Allah lah sebaik-baik hakim, tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum-Nya, dan tidak ada aturan yang lebih adil daripada aturan-aturan-Nya.
Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa memujiNya. Walhamdulillah

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

sumber: https://bimbinganislam.com/keutamaan-membaca-hamdalah/

Malas Melakukan Ketaatan Tanda Penyakit Nifaq

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan tentang orang-orang munafik, dimana orang-orang munafik ingin keluar berperang bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka di medan perang. Maka Allah pun jadikan mereka berat hati untuk berangkat ke medan perang. Lalu dikatakan kepada mereka: “duduklah bersama orang-orang yang duduk”. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu”” (QS. At Taubah: 46). Tentu ini menjadi sebuah renungan buat kita. Kenapa demikian? Karena ketika seseorang dijadikan hatinya berat untuk melakukan sebuah ketaatan, berarti di dalam hatinya ada kemunafikan. Orang-orang munafik berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan. Seperti yang Allah sebutkan dalam ayat ini, Allah jadikan orang-orang munafik berat untuk melakukan suatu ketaatan yaitu jihad fi sabilillah.

Orang munafik juga berat untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat berjamaah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat isya dan shalat fajar” (HR. Ibnu Majah no.656, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah). Bahkan orang munafik menganggap bahwa semua shalat berjamaah itu berat, akan tetapi yang paling berat adalah shalat isya dan shalat fajar. Dijadikan hati mereka berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan.

Sekali lagi ini menjadi renungan buat kita, apakah selama ini kita dijadikan berat untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Apakah kita ini dijadikan malas untuk mengamalkan ketaatan demi ketaatan? Inilah tentunya yang kita khawatirkan wahai saudaraku…

Kita tentu tidak ingin kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan Allah untuk berbuat kebaikan, lalu Allah jadikan hati kita berat untuk mengamalkan kebaikan, akhirnya kita pun menjadi orang-orang yang terhempas oleh penyakit kemunafikan. Subhaanallah

Oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali kita terus berusaha menjadikan hati kita bersemangat untuk melakukan ketaatan. Bagaimana caranya?

Pertama, kita berdoa kepada Allah agar memberikan kepada kita semangat dalam keataatan. Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam : /allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal mungkaroot wa hubbal masaakin wa an taghfiro lii wa tarhama nii wa tatuuba ‘alaiyya/ (Ya Allah aku minta kepada engkau, agar aku bisa melakukan kebaikan, dan agar aku bisa meninggalkan kemaksiatan, dan berikan aku rasa cinta kepada orang-orang miskin, dan semoga Engkau mengampuni aku, merahmati aku dan menerima taubatku). (HR. At Tirmidzi no. 3235, ia berkata: “hasan shahih”).

Seorang mukmin dia tidak ingin mendapati dirinya malas melakukan ketaatan. Maka ia pun minta kepada Allah agar ditolong dalam melakukan ketaatan.

Kedua, kemudian seorang mukmin juga berusaha mengambil sebab-sebab yang membuatnya bersemangat dalam ketaatan. Misalnya dengan membaca mengenai keutamaan amalan-amalan, yaitu bagaimana Allah akan memberikan pahala yang besar yang berupa kebahagiaan di akhirat, bagaimana Allah menyediakan pahala yang besar berupa surga, sehingga ketika membaca hal itu seorang mukmin menjadi bersemangat untuk beramal shalih.

Ketiga, seorang mukmin juga berusaha agar ia tetap bersemangat ketika sedang melaksanakan ketaatan tersebut. Ia berusaha untuk berteman dengan orang-orang shalih. Ia berusaha untuk senantiasa menjadi orang yang kuat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan bertemankan orang-orang shalih. Ketika ia melihat teman-teman shalihnya tersebut berlomba-lomba dalam kebaikan, maka akan ada dorongan dalam hati kita untuk juga ikut berlomba-lomba bersama mereka dalam kebaikan. Itulah teman yang shalih, teman yang shalih memberikan kita kekuatan dalam Islam wahai akhol Islaam.

Allah menjadikan hati seseorang berat melakukan ketaatan bisa dikarena maksiat yang ada di dalam hatinya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menyebutkan beberapa akibat buruk dari dosa beliau menyebutkan di antaranya adalah dosa menjadikan hamba berat melakukan ketaatan. Sehingga dosa itu menjadikan dia malas beramal shalih, menjadikan hatinya hitam kelam, akhirnya cahaya iman yang memberikan semangat berbuat ketaatan akan redup sedikit-demi-sedikit.

Demikian pula orang munafik, akibat dosa-dosa yang ada dalam hati mereka, berupa keraguan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhirnya Allah jadikan mereka berat melakukan ketaatan demi ketaatan. Allah jadikan mereka berat hatinya untuk mengamalkan kebaikan. Karena itu wahai saudaraku, mari kita tinggalkan maksiat, segera kita tinggalkan maksiat. Karena maksiat menjadikan hati kita berat untuk mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, seringkali membuat ia tidak mampu untuk shalat tahajud, berat hatinya untuk bangun di waktu malam. Seseorang akibat perbuatan maksiatnya, lisannya kelu untuk berdzikir kepada Allah. Bahkan hatinya tak merasakan lagi kenikmatan di saat ia mengucapkan “Subhaanallah, walhamdulillah, laailaaha illallah, allahu akbar”. Hatinya tak bergetar ketika disebutkan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal ciri seorang mukmin disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al Anfal: 2). Tapi akibat maksiat, ketika kita menyebut nama Allah, hati kita tidak merasakan takut kepada Allah. Akibat maksiat, ketika mendengar ayat-ayat Allah bertambahlah keimanan kita. Bahkan terkadang kita merasa gersang ketika mendengarkan ayat-ayatnya. Kita khawatir termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan.

Wallahi ayat ini membuat kita merinding dan takut sekali. Maka jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tidak diinginkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan. Padahal diantara tanda bahwa seseorang itu diinginkan oleh Allah kebaikan padanya adalah dijadikan ia semangat berbuat ketaatan. Ia pun semangat untuk menuntut ilmu Allah sebagai sumber dari amalan shalih. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah jadikan ia faqih dalam agama” (HR. Bukhari – Muslim). Kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, berarti orang yang tidak diinginkan kebaikan oleh Allah dalam agama tandanya adalah ia malas untuk menuntut ilmu agama, dijadikan hatinya berat. Sehingga untuk berjalan kaki menuju ke majelis-majelis ilmu, ia merasa berat hatinya.

Maka akhol Islam, kita mohon kepada Allah agar Allah memberikan kita kekuatan untuk senantiasa berbuat ketaatan, kita memohon kepada Allah agar termasuk orang-orang yang semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

***

Ust. Badrusalam Lc. dari ceramah berjudul “Bagaimanakah Ketaatan Kita Kepada Allah?” di Yufid.tv

sumber: https://muslim.or.id/27774-malas-melakukan-ketaatan-tanda-penyakit-nifaq.html