Update HijrahApp v6.5.2 (android)

catatan: update baru tersedia untuk android. silahkan update hijrahapp langsung dari google playstore, jika opsi update tidak tampil, bersihkan cache google playstore dengan cara; buka pengaturan aplikasi hp >> pilih kelola aplikasi >> pilih google playstore >> kemudian pilih opsi hapus cache. kemudian cari ulang aplikasi hijrahapp di playstore atau ketuk > link update

setelah update berhasil dilakukan. buka pengaturan aplikasi hijrahapp kemudian pilih opsi segarkan data. ini berfungsi untuk mengaktifkan ruang chat.


Alhamdulillah..

atas pertolongan dari Allah semata, tim dapat merilis update HijrahApp v6.5.2 untuk android..

kami berharap versi ini dapat menjawab kebutuhan pengguna, diantaranya:

-penambahan widget waktu shalat

-penambahan widget mesin pencari hijrahapp

-perbaikan fitur download audio kajian

-pembaharuan database, yakni perbaikan beberapa lafadz alquran yang tidak berharakat

-perbaikan alquran yang terpotong

-peningkatan fitur video di beranda

-perbaikan fitur notifikasi adzan

-perbaikan penulisan rasm ustmani alquran

-dll

kami tahu masih banyak yang harus dibenahi, dan tim hingga saat ini terus berusaha melakukan berbagai peningkatan baik itu minor atau major. mudah-mudahan Allah aza wa jalla meridhoi apa yang kami lakukan.

masukan dan saran dapat antum layangkan kepada kami melalui email yang telah kami sediakan di aplikasi. dan afwan, kami biasanya tidak dapat menanggapi semua masukan/saran yang masuk karena keterbatasan kami, namun insyaallah tim senantiasa menyempatkan membaca setiap pesan yang masuk kepada kami

terimakasih telah mendukung hijrahapp. mohon izinkan kami terus menemani antum semua dalam ketaatan kepada Allah๐Ÿ™

link update

-tim


catatan:

Cara Menambahkan widget

  1. Di layar utama, sentuh lama di bagian yang kosong.
  2. Ketuk Widget .
  3. Cari widget hijrahapp
  4. Sentuh lama sebuah widget. Antum akan melihat gambar Layar utama.
  5. Geser widget ke tempat yang diinginkan. Angkat jari Antum.

Membalas Kebaikan Orang Lain

Siapa yang Memperoleh Kebaikan Orang Lain Hendaklah Membalasnya

Hadits Pertama

Dari Jabir bin Abdillah Al Ansahary, ia berkata, โ€œNabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุตูู†ูุนูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูŽุนู’ุฑู’ูˆูููŒ ููŽู„ู’ูŠูุฌู’ุฒูุฆู’ู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฌู’ุฒูุฆู’ู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุซู’ู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุ› ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุซู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุดูŽูƒูŽุฑูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุชูŽู…ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽููŽุฑูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽุญูŽู„ูŽู‘ู‰ ุจูŽู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนู’ุทูŽุŒ ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽุจูุณูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ ุฒููˆู’ุฑู

โ€œSiapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.โ€

(Shahih) Takhrijut Targhib (2/55), Ash Shahihah (617): [Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 87-Bab Maa Jaa-a fii Man Tasyabbaโ€™a bimaa Lam Yuโ€™thihi].

Hadits Kedua

Dari Ibnu Umar, ia berkata, โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ู† ุงุณุชุนุงุฐ ุจุงู„ู„ู‡ ูุฃุนูŠุฐููˆู‡ู ูˆู…ู† ุณุฃู„ ุจุงู„ู„ู‡ ูุฃุนุทูˆู‡ุŒ ูˆู…ู† ุฃุชู‰ ุฅู„ูŠูƒู… ู…ุนุฑูˆูุงู‹ ููƒุงูุฆูˆู‡ุŒ ูุฅู† ู„ู… ุชุฌุฏูˆุงุŒ ูุงุฏุนูˆุง ู„ู‡ุŒ ุญุชู‰ ูŠุนู„ู… ุฃู† ู‚ุฏ ูƒุงูุฃุชู…ูˆู‡

โ€œSiapa yang memohon perlindungan dengan mengatasnamakan Allah , maka lindungilah dia. Dan siapa yang meminta dengan mengatasnamakan Allah, maka berilah ia. Dan siapa yang berbuat baik kepadamu, balaslah kebaikannya. Jika anda tidak mampu, maka doakanlah dia sampai dia tahu bahwa kalian telah memberinya yang setimpal.โ€

(Shahih) Ash Shahihah (254): [Abu Dawud: 9-Kitab Az Zakah, 38-Bab โ€˜Athiyatu Man Sa-ala billah].

Siapa yang Tidak Mampu Membalas Kebaikan Orang Lain Hendaklah Dia Mendoโ€™akan Kebaikan Bagi Orang Tersebut

Dari Anas, ia berkata, โ€œKaum Muhajirin berkata, โ€œWahai rasulullah! Apakah kaum Anshar telah memborong seluruh pahala [atas kebaikan yang mereka berikan kepada kami]?โ€

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œTidak. Selama kalian mendoโ€™akan kebaikan kepada mereka dan kalian memuji atas kebaikan yang mereka berikan.โ€

(Shahih) At Taโ€™liq Ar Raghib: (2/56): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 11-Bab Fii Syukril Maโ€™ruf. Tirmidzi: 35-Kitab Al Qiyamah, 44-Bab Haddatsana Al Husain ibnul Hasan].

Seorang yang Tidak Mensyukuri (Berterima Kasih pada) Manusia Belum Merealisasikan Syukur pada Allah

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, beliau bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุดู’ูƒูุฑู ุงู„ู„ู‡ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุดู’ูƒูุฑู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ

โ€Seorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah selama ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya.โ€

(Shahih) Ash Shahihah (416)

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/284-membalas-kebaikan-orang-lain.html

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽู†ููˆู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุงู‚ููŠูŽุงุชู ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญูŽุงุชู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุซูŽูˆูŽุงุจุงู‹ ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ุฃูŽู…ูŽู„ุงู‹

โ€œHarta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.โ€ (Qs.al-Kahfi: 46)

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏููƒูู…ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ุงู‹ ู„ูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุญู’ุฐูŽุฑููˆู‡ูู…ู’

โ€œHai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap merekaโ€ฆโ€ (Qs. At-Taghaabun:14)

Makna โ€œmenjadi musuh bagimuโ€ adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala.

Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Saโ€™di berkata, โ€œโ€ฆKarena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Taโ€™ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nyaโ€ฆโ€ .

Kewajiban Mendidik Anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Taโ€™ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Taโ€™ala. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู‚ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููŠูƒูู…ู’ ู†ูŽุงุฑุงู‹ ูˆูŽู‚ููˆุฏูู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุฑูŽุฉู

โ€œHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.โ€  (Qs. at-Tahriim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu โ€˜anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, โ€œ(Maknanya):  Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.โ€

Syaikh Abdurrahman as-Saโ€™di berkata, โ€œMemelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnyaโ€ .

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin โ€˜Ali radhiallahu โ€˜anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu โ€˜anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œHekh hekhโ€ agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallambersabda, โ€œApakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?โ€

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut .

Metode Pendidikan Anak yang Benar

Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia untuk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman, โ€œSesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).โ€

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œTangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.โ€

Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras untuk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?

Maka di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak.

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa,

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงูŽู„ู„ู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฌูŽู†ูู‘ุจู’ู†ูŽุง ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุฌูŽู†ูู‘ุจู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู†ูŽุงz

โ€œDengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.โ€

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œJika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.โ€ 

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-โ€˜Utsaimin berkata, โ€œYang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,
โ€œBarangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.โ€ (Qs. ath-Thalaaq: 4)

Pembinaan Rohani dan Jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Taโ€™ala memuji Nabi-Nya Yaโ€™qub โ€˜alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

ุฃูŽู…ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูŽ ุฅูุฐู’ ุญูŽุถูŽุฑูŽ ูŠูŽุนู’ู‚ููˆุจูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุจูŽู†ููŠู‡ู ู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู†ูŽุนู’ุจูุฏู ุฅูู„ูŽู‡ูŽูƒูŽ ูˆูŽุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุขุจูŽุงุฆููƒูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ูŽ ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุฅูู„ูŽู‡ุงู‹ ูˆูŽุงุญูุฏุงู‹ ูˆูŽู†ูŽุญู’ู†ู ู„ูŽู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ

โ€œAdakah kamu hadir ketika Yaโ€™qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, โ€˜Apa yang kamu sembah sepeninggalku?โ€™ Mereka menjawab, โ€˜Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismaโ€™il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’โ€ (Qs. al-Baqarah: 133)

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah , yang landasannya adalah ibadah kepada Allah ๏• semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?

Dalam ayat lain Allah berfirman,

ูˆูŽุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู‚ู’ู…ูŽุงู†ู ู„ุงูุจู’ู†ูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽุนูุธูู‡ู ูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ ู„ุง ุชูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูู‘ุฑู’ูƒูŽ ู„ูŽุธูู„ู’ู…ูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒ

โ€œDan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, โ€˜Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’โ€ (Qs. Luqmaan: 13)

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shaleh ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik .

Manfaat dan Pentingnya Pendidikan Anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah โ€“ semoga Allah Subhanahu wa Taโ€™ala merahmatinya โ€“ berkata, โ€œSalah seorang ulama berkata, โ€˜Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Taโ€™ala pada hari kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka sebagaimana Allah berfirman,

ูˆูŽูˆูŽุตูŽู‘ูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ุฃูู†ู’ุณูŽุงู†ูŽ ุจููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู‡ู ุญูุณู’ู†ุงู‹

โ€œDan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.โ€ (Qs. al-โ€˜Ankabuut: 8)

(Demikian juga) Allah berfirman,

ู‚ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููŠูƒูู…ู’ ู†ูŽุงุฑุงู‹ ูˆูŽู‚ููˆุฏูู‡ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุฑูŽุฉู

โ€œPeliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.โ€ (Qs. at-Tahriim: 6)

Maka barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab: โ€œWahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.โ€

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak,

ุฅู† ุงู„ุฑุฌู„ ู„ุชุฑูุน ุฏุฑุฌุชู‡ ููŠ ุงู„ุฌู†ุฉ ููŠู‚ูˆู„: ุฃู†ู‰ ู‡ุฐุง ุŸ ููŠู‚ุงู„: ุจุงุณุชุบูุงุฑ ูˆู„ุฏูƒ ู„ูƒ

โ€œSungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, โ€˜Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’โ€

Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œJika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.โ€ 

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya . Adapun penyebutan โ€œdoaโ€ dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya , tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shaleh agar orang tuanya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani โ€“ semoga Allah Subhanahu wa Taโ€™ala merahmatinya โ€“ berkata, โ€œ(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุณูŽุนูŽู‰

โ€œDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.โ€ (Qs. an-Najm: 39)

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.โ€ 

Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya.โ€

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†ุŒ ูˆุขุฎุฑ ุฏุนูˆุงู†ุง ุฃู† ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

Kota Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

sumber:ย https://muslimah.or.id/382-agar-buah-hati-menjadi-penyejuk-hati.html

Beribadah Bukan Musiman

Amal seorang mukmin seharusnya barulah berakhir ketika ajal datang menjemput. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, โ€Sesungguhnya Allah Taโ€™ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.โ€ Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

ูˆูŽุงุนู’ุจูุฏู’ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู

โ€œDan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).โ€ (QS. Al Hijr: 99).[1]ย Ibnu โ€™Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa maksud โ€al yaqinโ€ dalam ayat tersebut adalah kematian. Kematian disebutย al yaqinย karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi.

Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ulama lainnya mengatakan, ย โ€œSembahlah Allah bukan pada waktu tertentu sajaโ€. Jika memang maksudnya adalah demikian tentu orang yang melakukan ibadah sekali saja, maka ia sudah disebut orang yang taat. Namun Allahย Taโ€™alaย berfirman (yang artinya), โ€œSembahlah Allah sampai datang ajalโ€. Ini menunjukkan bahwa ibadah itu diperintahkan selamanya sepanjang hayat.[2]

Ibnu Katsirย rahimahullahย mengatakan, โ€œDari ayat ini menunjukkan bahwa ibadah seperti shalat dan semacamnya wajib dilakukan selamanya selama akalnya masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu.โ€[3]

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun memerintahkan kita beribadah bukan hanya sesaat, bukan hanya musiman, bukan hanya di bulan Ramadhan. Dari โ€™Aisyah โ€“radhiyallahu โ€™anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu โ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽุญูŽุจูู‘ ุงู„ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุฏู’ูˆูŽู…ูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ู‚ูŽู„ูŽู‘

โ€Amalan yang paling dicintai oleh Allah Taโ€™ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.โ€ โ€™Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.ย [4]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, โ€Yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah agar kita bisa pertengahan dalam melakukan amalan dan berusaha melakukan suatu amalan sesuai dengan kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun itu sedikit.โ€

Beliau pun menjelaskan, โ€Amalan yang dilakukan oleh Nabiย shallallahu โ€™alaihi wa sallamย adalah amalan yang terus menerus dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat โ€™Abdullah bin โ€™Umar.โ€[5]ย Yaitu Ibnu โ€™Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam.

Al Hasan Al Bashri  mengatakan, โ€Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.โ€

Beliau rahimahullah juga mengatakan, โ€Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.โ€[6]

Asy Syibliy pernah ditanya, โ€Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Syaโ€™ban?โ€ Beliau pun menjawab, โ€Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Syaโ€™baniyyin.โ€ Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Syaโ€™ban saja. Kami (penulis) juga dapat mengatakan, โ€Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.โ€[7]ย Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.

[2]ย Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 4/423.

[3]ย Tafsir Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/287.

[4]ย HR. Muslim no. 783.

[5]ย Fathul Baari lii Ibni Rajab, Asy Syamilah, 1/84.

[6]ย Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71. Dinukil dari Tajriidul Ittibaโ€™ fii Bayaani Asbaabi Tafadhulil Aโ€™mal, Ibrahim bin โ€˜Amir Ar Ruhailiy, Daar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1428 H, hal. 86.

[7]ย Lihat Lathoif Al Maโ€™arif, 390.

selengkapnya:ย https://rumaysho.com/1233-setelah-ramadhan-beribadah-sampai-mati.html

Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita

Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu โ€˜ala nabiyyinaa Muhammad, wa โ€˜ala aalihi wa shahbihi wa man tabiโ€™ahum bi ihsaan, wa baโ€™d.

Pada zaman Nabi Musa โ€˜alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, โ€œYa Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.โ€ Maka berangkatlah Musa โ€˜alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, โ€œIlaahi! Asqinaa ghaitsakโ€ฆ. Wansyur โ€˜alaina rahmatakโ€ฆ warhamnaa bil athfaal ar rudhdhaโ€™โ€ฆ wal bahaaim ar ruttaโ€™โ€ฆ wal masyaayikh ar rukkaโ€™โ€ฆ..โ€

Setelah itu langit tetap saja terang benderangโ€ฆ matahari pun bersinar makin kemilauโ€ฆ (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, โ€œIlaahi โ€ฆ asqinaaโ€ฆ.โ€

Allah pun berfirman kepada Musa, โ€œBagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalianโ€ฆโ€

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, โ€œWahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahunโ€ฆ keluarlah ke hadapan kamiโ€ฆ. karena engkaulah hujan tak kunjung turunโ€ฆโ€

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiriโ€ฆ maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusiaโ€ฆ saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksudโ€ฆ..

Ia berkata dalam hatinya, โ€œKalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiakuโ€ฆ Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.โ€

Maka hatinya pun gundah gulanaโ€ฆ air matanya pun menetesโ€ฆ.. menyesali perbuatan maksiatnyaโ€ฆ sambil berkata lirih, โ€œYa Allahโ€ฆ Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahunโ€ฆ selama itu pula Engkau menutupi โ€˜aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatkuโ€ฆโ€

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculanโ€ฆ semakin lama semakin tebal menghitamโ€ฆ dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, โ€œYa Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.โ€ Allah berfirman, โ€œAku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.โ€

Musa berkata, โ€œYa Allahโ€ฆ Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.โ€

Allah berfirman, โ€œYa Musa, Aku tidak membuka โ€˜aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka โ€˜aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!โ€

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul โ€œFii Bathni al-Huutโ€ oleh Syaikh DR. Muhammad Al โ€˜Ariifi, hal. 42)

Subhaanallahโ€ฆ Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kitaโ€ฆ

***

Penulis: Abu Yazid T. Muhammad Nurdin

Sumber: https://muslim.or.id/472-allah-menutup-aib-kita.html

Angan-Angan Mereka Yang Telah Tiada

Angan-angan mereka yang telah mati ialah kembali ke dunia meski sejenak untuk menjadi orang shalih. Mereka ingin taat kepada Allah, dan memperbaiki segala kerusakan yang dahulu mereka perbuat. Mereka ingin berdzikir kepada Allah, bertasbih, atau bertahlil walau sekali saja. Namun mereka tidak lagi diijinkan untuk itu. Kematian serta-merta memupuskan segala angan-angan tersebut. Allah taโ€™ala berfirman mengenai mereka

>ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุจูู‘ ุงุฑู’ุฌูุนููˆู†ู (ูฉูฉ)ู„ูŽุนูŽู„ูู‘ูŠ ุฃูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูููŠู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒู’ุชู ูƒูŽู„ุง ุฅูู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉูŒ ู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูู„ูู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ ุจูŽุฑู’ุฒูŽุฎูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ูŠูุจู’ุนูŽุซููˆู†ูŽ (ูกู ู )

โ€œHingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, โ€œYa Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.โ€ (Qs Al Mukminun: 99-100)

Begitulah kondisi orang mati, mereka telah melihat akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka tahu pasti apa yang telah mereka perbuat dan apa yang mereka terima. Dahulu mereka demikian mudah menyia-nyiakan waktu yang amat berharga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat mereka. Kini mereka sadar bahwa detik-detik dan menit-menit yang hilang tersebut sungguh tidak ternilai harganya.

Dahulu, kesempatan itu ada di depan mata, namun tidak mereka manfaatkan. Sekarang, mereka siap menebus kesempatan itu berapapun harganya! Sungguh tak terbayang alangkah ruginya dan alangkah besarnya penyesalan mereka..

Memang, saat manusia paling lalai terhadap nikmat Allah ialah ketika ia bergelimang di dalamnya. Ia tidak menyadari betapa besarnya kenikmatan tersebut, kecuali setelah kenikmatan itu tercabut darinya. Sebab itu, kita yang masih hidup sungguh berada dalam kenikmatan yang besar. Karenanya, jangan kita biarkan semenit pun berlalu tanpa ibadah walau sekedar mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Abdullah bin Busr radhiyallahu โ€˜anhu mengatakan, โ€œAda dua orang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Salah satunya bertanya kepada beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€˜Hai Muhammad, siapakah lelaki yang terbaik?โ€™ โ€˜Yang panjang umurnya dan baik amalnya.โ€™ jawab Rasulullah. Kemudian yang satu lagi bertanya, โ€˜Sesungguhnya ajaran Islam terlampau banyak bagi kami, lalu adakah amalan yang mencakup banyak kebaikan yang dapat kami tekuni?โ€™ โ€˜Usahakan agar lisanmu selalu basah dengan dzikrullahโ€™, jawab Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.โ€ (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Tidakkah pembaca tahu bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memuji Allah saat bangun tidur, karena Dia telah menghidupkan kita setelah mati, dan mengijinkan kita untuk kembali mengingat-Nya? Benar, tidur memang identik dengan kematian. Saat tidur, manusia berhenti dari segala aktivitasnya dan acuh akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Alangkah miripnya ia dengan orang mati, andai saja Allah tidak mengembalikan ruhnya.

Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ููŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽูŠู’ู‚ูŽุธูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุนูŽุงููŽุงู†ููŠ ูููŠ ุฌูŽุณูŽุฏููŠ ูˆูŽุฑูŽุฏูŽู‘ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ุฑููˆุญููŠ ูˆูŽุฃูŽุฐูู†ูŽ ู„ููŠ ุจูุฐููƒู’ุฑูู‡ู

โ€œJika seorang terbangun hendaklah mengucapkan AL HAMDULILLAAHILLADZII โ€˜AAFAANII FII JASADII WA RADDA โ€˜ALAYYA RUUHII WA ADZINA LII BIDZIKRIHI. (Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku tubuhku, dan mengembalikan nyawa kepadaku, serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya).โ€ (HR. Tirmidzi)

Sekarang kita masih mengenyam nikmatnya hidup, kita masih bisa menambah pahala dan menghapus dosa. Ingatlah bahwa suatu saat Anda akan tutup usia, dan semuanya menjadi angan-angan. Oleh karena itu, marilah kita wujudkan angan-angan itu mulai sekarang!

Ibrahim bin Yazid al-Abdi mengatakan, โ€œSuatu ketika Riyah al Qaisy mendatangiku seraya berkata, โ€˜Hai Abu Ishaq โ€“julukan Ibrahim-, ayo ikut bersamaku menemui penghuni akhirat dan marilah kita mengikat janji setia di samping mereka.โ€ Lalu aku pun pergi bersamanya ke sebuah pemakaman. Kami duduk di samping salah satu kuburan di sama, kemudian Riyah berkata,

โ€œHai Abu Ishaq, kira-kira apakah yang diangankan oleh mayit ini jika ia diminta berangan-angan?โ€

โ€œDemi Allah, ia pasti ingin dikembalikan ke dunia agar bisa taat kepada Allah dan memperbaiki amalnya,โ€ jawabku.

โ€œNah, kita sekarang berada di dunia. Karenanya, marilah kita taat kepada Allah dan memperbaiki amal kita,โ€ sahut Riyah.

Maka Riyah bangkit meninggalkan kuburan tersebut dan mulai bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ternyata tak lama berselang, ia dipanggil menghadap Allah, semoga Allah merahmatinya.

Saudaraku, jika Anda menziarahi pemakaman, carilah kuburan kosong dan duduklah di sampingnya. Perhatikan liang kubur yang sempit itu, dan bayangkan kalau Anda berada di sana ketika papan-papan kayu menutup tubuh Anda, lalu bongkahan tanah menimbun, kemudian sanak keluarga dan handai taulan pergi satu persatu. Anda terbaring sendirian dalam keheningan dan kegelapannya, tak ada teman di sana, dan tak ada yang Anda lihat selain amal Anda. Kiranya apa yang Anda damba-dambakan di saat menegangkan tersebut??

Bukankan Anda ingin kembali ke dunia supaya beramal shalih? Supaya shalat walau satu rakaat? Atau bertasbih dan berdzikir meski sekali?

Nah, sekaranglah waktunyaโ€ฆ!!

Ibrahin At Taimi mengatakan, โ€œAku membayangkan tatkala diriku dicampakkan ke neraka, Lalu kumakan buah Zaqqum dan kuminum nanah, sedang tubuhku terkait dengan rantai dan belenggu. Saat itu kutanya diriku, โ€œApa yang kamu dambakan sekarang?โ€ maka jawabnya, โ€œAku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih,โ€ maka aku berkata, โ€œEngkau sedang berada dalam angan-anganmu sekarang, maka beramallah!โ€ (Lihat Umniyat al Mauta)

Saudaraku, tatkala Anda ziarah kubur atau mengiring jenazah, janganlah menjadi orang yang lalai. Jangan sibukkan diri Anda dengan mengobrol, namun ingatlah angan-angan mereka yang terkubur di sekeliling Anda, merekalah orang-orang yang kini tertawan oleh amal perbuatan mereka.

Jika hawa nafsu mengajak Anda bermaksiat, ingatlah angan-angan mereka yang tiada. Mereka ingin dihidupkan lagi untuk taat kepada Allah, lalu mengapa Anda justru bermaksiat?

Jika Anda merasa lesu untuk beramal, ingatlah angan-angan mereka yang tiadaโ€ฆ

Konon ar Rabiโ€™ bin Khutsaim menggali kuburan di halaman rumahnya. Jika dia merasa hatinya mulai keras, ia letakkan belenggu di lehernya lalu berbaring dalam kuburan tersebut selama beberapa waktu, kemudian berteriak, โ€œYa Rabbi, kembalikan aku ke dunia agar aku beramal shalih!!โ€ sembari mengulang-ulangnya. Setelah itu ia bangun dan berkata kepada dirinya, โ€œHai Rabiโ€™, kini permintaanmu telah terkabul, maka beramallah sebelum tiba saat engkau meminta namun tak dijawab.โ€ (Lihat Ihyaโ€™ Ulumuddin)

***

Disalin dari buku Andai Si Mati Bisa Bicara karangan Sufyan bin Fuad Baswedan dengan sedikit pengeditan.

sumber: https://muslimah.or.id/2790-angan-angan-mereka-yang-telah-tiada.html

Mustajabnya doa orang yang berpuasa ketika ia berbuka

Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam:

ุซู„ุงุซ ู„ุง ุชุฑุฏ ุฏุนูˆุชู‡ู… ุงู„ุตุงุฆู… ุญุชู‰ ูŠูุทุฑ ูˆุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุนุงุฏู„ ูˆ ุงู„ู…ุธู„ูˆู…

โ€˜โ€Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimiโ€ (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits

ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ุฃูุทุฑ ู‚ุงู„ ุฐู‡ุจ ุงู„ุธู…ุฃ ูˆุงุจุชู„ุช ุงู„ุนุฑูˆู‚ ูˆุซุจุช ุงู„ุฃุฌุฑ ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡

โ€œBiasanya Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

ุฐู‡ุจ ุงู„ุธู…ุฃ ูˆุงุจุชู„ุช ุงู„ุนุฑูˆู‚ ูˆุซุจุช ุงู„ุฃุฌุฑ ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡

/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil โ€˜uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/

(โ€˜Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allahโ€™)โ€ (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)

selengkapnya:ย https://muslim.or.id/3853-waktu-waktu-terkabulnya-doa.html

Diantara Tipu Daya Setan: Merasa Diri Suci

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat manusia merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa.

Larangan Menganggap Diri Suci

Allah taโ€™ala berfirman,

ููŽู„ูŽุง ุชูุฒูŽูƒูู‘ูˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู ุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰

โ€œMaka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwaโ€ (QS. An Najm:32)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Siโ€™di menerangkan bahwa terlarangnya orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri. (Taisir Karimir Rahman).

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas-jelas dicela oleh Allah taโ€™ala,

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู…ูŽุณูŽู‘ู†ูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู‹ุง ู…ูŽุนู’ุฏููˆุฏูŽุฉู‹

โ€œDan mereka berkata, โ€˜kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari sajaโ€ (QS. Al Baqarah: 80).

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู‡ููˆุฏู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰

โ€œDan mereka berkata,โ€™Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasraniโ€ (QS. Al Baqarah: 111).

Sehingga Allah taโ€™ala cela kebiasaan mereka ini,

ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูุฒูŽูƒูู‘ูˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽู‡ูู…ู’ ุจูŽู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูŠูุฒูŽูƒูู‘ูŠ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุธู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ ููŽุชููŠู„ู‹ุง

โ€œApakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit punโ€ (QS. An-Nisa: 49).

Rasulullah shalallahu โ€˜alaihi wasallam pernah bersabda,

ู„ุงูŽ ุชูุฒูŽูƒูู‘ูˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุจูุฑูู‘ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’

โ€œJanganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalianโ€ (HR. Muslim).

Rasulullah dan para Salaf pun tidak menganggap diri suci

Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi shalallahu โ€˜alaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Belum sampaikah ke telinga kita, cerita tentang Hasan al Bashri rahimahullah yang tiba-tiba bangun dari tidur malam dan menangis sejadi-jadinya. Setelah ditanya apa sebab ia menangis, ia menjawab, โ€œAku menangis karena tiba-tiba aku teringat akan satu dosa.โ€ (Al-Bukaโ€™ min Khasyatillah, Asbabuhu wa Mawaniโ€™uhu wa Thuruq Tahshilih).

Masya Allah, seorang Hasan al Bashri rahimahullah yang begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat beliau merasa dirinya suci. Justru beliau menangis karena teringat akan satu dosa. Begitulah sejatinya seorang muโ€™min, menganggap kerdil dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Hasan al Bashri rahimahullah yang menangis karena teringat akan satu dosa. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, โ€œBarangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.โ€ (Al-Akhlaq wa as-Siyar fii Mudawah an-Nufus, dinukil dari Maโ€™alim fii Thoriq Thalab al-Ilmi)

Semoga Allah taโ€™ala menghindarkan kita dari sikap merasa suci dan memudahkan kita dalam menggapai surga-Nya. Aamiin.

โ€”

Penulis: Erlan Iskandar

Sumber: https://muslim.or.id/22354-diantara-tipu-daya-setan-merasa-diri-suci.html