Mustajabnya doa orang yang berpuasa ketika ia berbuka

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/

(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)

selengkapnya: https://muslim.or.id/3853-waktu-waktu-terkabulnya-doa.html

Diantara Tipu Daya Setan: Merasa Diri Suci

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat manusia merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa.

Larangan Menganggap Diri Suci

Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan bahwa terlarangnya orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri. (Taisir Karimir Rahman).

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas-jelas dicela oleh Allah ta’ala,

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً

Dan mereka berkata, ‘kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah: 80).

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى

Dan mereka berkata,’Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah: 111).

Sehingga Allah ta’ala cela kebiasaan mereka ini,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. An-Nisa: 49).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim).

Rasulullah dan para Salaf pun tidak menganggap diri suci

Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Belum sampaikah ke telinga kita, cerita tentang Hasan al Bashri rahimahullah yang tiba-tiba bangun dari tidur malam dan menangis sejadi-jadinya. Setelah ditanya apa sebab ia menangis, ia menjawab, “Aku menangis karena tiba-tiba aku teringat akan satu dosa.” (Al-Buka’ min Khasyatillah, Asbabuhu wa Mawani’uhu wa Thuruq Tahshilih).

Masya Allah, seorang Hasan al Bashri rahimahullah yang begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat beliau merasa dirinya suci. Justru beliau menangis karena teringat akan satu dosa. Begitulah sejatinya seorang mu’min, menganggap kerdil dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Hasan al Bashri rahimahullah yang menangis karena teringat akan satu dosa. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.” (Al-Akhlaq wa as-Siyar fii Mudawah an-Nufus, dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Thalab al-Ilmi)

Semoga Allah ta’ala menghindarkan kita dari sikap merasa suci dan memudahkan kita dalam menggapai surga-Nya. Aamiin.

Penulis: Erlan Iskandar

Sumber: https://muslim.or.id/22354-diantara-tipu-daya-setan-merasa-diri-suci.html

Dzikir-Dzikir di Bulan Ramadhan

Dzikir Ketika Melihat Hilal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca,

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan  bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)

Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]”, sebanyak dua kali atau lebih. (Al Adzkar, 183)

Do’a Ketika Berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)

Do’a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)

Do’a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a Setelah Shalat Witir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ  تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/1270-dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html

Tidur Saat Puasa

pertanyaan:
Bagaimana hukum seorang ketika bulan puasa tidur sepanjang hari? Dan bagaimana pula kalau dia bangun untuk melakukan kewajiban lalu tidur lagi?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab,
Pertanyaan ini mengandung dua permasalahan:

Pertama,
Seorang yang tidur seharian dan tidak bangun sama sekali, tidak ragu lagi bahwa dia telah bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan sholat. Maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan menjalankan sholat tepat pada waktunya.

Kedua,
Seorang yang tidur tetapi bangun untuk menjalankan sholat secara berjama’ah kemudian tidur lagi dan seterusnya, hukum orang ini tidak berdosa (dan tidak batal puasanya-pen). Hanya saja, ia terluput dari kebaikan yang banyak, sebab orang yang berpuasa hendaklah menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, doa, membaca al-qur’an  dan sebagainya sehingga mengumpulkan beraneka macam ibadah pada dirinya.

Maka nasihatku kepada orang ini, hendaklah ia tidak menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur. Akan tetapi, hendaklah ia bersemangat dalam ibadah.

(Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu Utsaimin: 19/170-171)

Adapun hadits yang berbunyi:

صَمْتُ الصًّائِمِ تَسْبِيْحٌ وَ نَوْمُهُ عِبَادَةٌ

“Diamnya orang yang puasa adalah tasbih tidurnya adalah ibadah”

Hadits ini derajatnya lemah sekali dan berdampak negatif yaitu menjadikan sebagian orang malas dan banyak tidur di bulan puasa dengan beralasan hadits ini.

sumber: https://muslimah.or.id/316-tidur-saat-puasa.html

Menjaga Waktu Dibulan Ramadhan

Sejatinya, waktu bagi manusia adalah umur mereka. Waktu merupakan modal bagi manusia untuk kehidupannya yang abadi kelak di akhirat, apakah dia akan berada surga yang penuh kenikmatan ataukah dalam neraka yang penuh siksa yang teramat pedih?

Waktu terus berjalan tak pernah terhenti. Siang dan malam datang silih berganti, berlalu dengan cepat mengurangi jatah usia dan semakin mendekatkan kepada waktu kematian. Dahulu siang dan malam menyertai kaum Nabi Nûh Alaihissallam , kaum ‘Âd, Tsamûd, dan beberapa generasi setelah mereka. Mereka telah menghadap Rabb mereka (meninggal) dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka, sementara siang dan malam terus saja berlalu dan tetap baru menemani ummat dan generasi berikutnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur . [al-Furqân/25:62]

Maka selayaknya seorang Mu’min mengambil dan memetik ibrah (pelajaran) dari perjalanan siang dan malam terutama pada bulan Ramadhan, bulan yang sangat berharga dan momen yang teramat agung. Berapa banyak Ramadhan yang telah kita lalui, datang lalu pergi begitu cepat. Siang dan malam terus berlalu membuat segala hal yang baru menjadi usang, yang tadinya jauh menjadi semakin dekat, jatah usia menjadi semakin berkurang. Perjalanan siang dan malam telah membuat anak kecil menjelma menjadi orang dewasa yang beruban, dan memusnahkan yang tua. Semua peristiwa ini mengingatkan kita akan perjalanan dunia yang semakin jauh sementara hari kiamat semakin mendekat.

Ali bin Abi Thâlib Radhyallahu anhu pernah mengatakan:

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini (maksudnya dunia) tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) tempat hisab (perhitungan) tanpa ada kesempatan untuk beramal[1]

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, “ Sesungguhnya dunia bukanlah tempat menetap bagi kalian. Dunia adalah tempat yang Allâh tetapkan sebagai tempat yang fana’ (dia akan sirna-red), dan Allâh Azza wa Jalla menetapkan bahwa penduduknya akan meninggalkan dunia. Betapa banyak penghuni yang terikat (betah) tiba-tiba dia meninggal dunia, dan betapa banyak makmur hidupnya tiba-tiba meninggal dunia. Oleh karena itu, wahai para hamba Allâh, semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati kalian, perbaguslah kepergian kalian darinya dengan membawa bekal terbagus yang kalian punya! Carilah perbekalan, sesungguhnya perbekalan yang paling baik adalah ketakwaan. “[2]

Sesungguhnya manusia sejak terlahir ke dunia ini terus-menerus menghabiskan umur mereka, – bahkan sebagaimana dikatakan oleh imam Hasan al-Basyri rahimahullah ,”Manusia merupakan kumpulan hari-hari, setiap ada satu hari berlalu maka sebagian dari manusia itu pergi. Satu hari dari (umur) manusia menghancurkan satu bulan, satu bulan menghancurkan tahun, satu tahun menghancurkan umur. Setiap waktu yang berlalu dari seorang hamba, maka itu semakin mendekatkannya kepada ajal.”

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan, “ Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari yang telah berlalu, pada hari itu umurku berkurang, sementara amalanku tidak bertambah. ”

Ini menunjukkan keseriusan beliau Radhiyallahu anhu dalam menjaga waktu.

Imam al-Hasan rahimahullah mengatakan, “ Saya pernah bertemu beberapa kaum, perhatian mereka terhadap waktu-waktu mereka melebihi perhatian kalian terhadap dirham dan dinar-dinar kalian .”

Oleh karena itu, barangsiapa melewati harinya bukan untuk menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, atau bukan untuk mencapai hal-hal yang terpuji, atau tidak pula untuk mendapatkan ilmu, maka sungguh dia telah mendurhakai harinya, menzhalimi diri dan harinya.

Sesungguhnya siang dan malam dia merupakan modal manusia dalam hidupnya, sedangkan keuntungan (yang hendak driraihnya) adalah surga, kerugian (yang ingin dihindari)nya adalah neraka. Waktu satu tahun bagaikan sebuah pohon, bulan-bulan bagaikan dahannya, hari-hari bagaikan rantingnya, sementara jam bagaikan dedaunannya, dan nafas yang dihembuskan bagaikan buahnya. Barangsiapa nafasnya digunakan dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka buah yang dihasilkan bagus, penuh berkah, dan manis rasanya. Sebaliknya orang yang nafasnya digunakan untuk bermaksiat pada Allâh Azza wa Jalla , maka buah yang dihasilkan pahit.

Banyak nash dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan pentingnya waktu dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar umatnya memanfaatkannya serta tidak menyia-nyiakannya. Banyak juga nash yang menjelaskan bahwa seorang hamba akan ditanya tentang waktunya kelak pada hari kiamat. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah yang lima sebelum datangnya yang lima: usia muda sebelum datang usia tua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematian .[3]

Dari Abi Barzah al-Aslami Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ ؟

Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya, “Untuk apa dihabiskan?” Tentang ilmunya, “Dalam hal apa ilmunya diamalkan?” Tentang hartanya, “Dari mana dia mendapatkannya dan diinfakkan dimana?” Tentang jasadnya, “Dipergunakan untuk apa? [4]

Dalam sebuah hadits shahih lainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang banyak sekali orang tertipu dengannya, nikmat sehat dan waktu luang .[5]

Maka hendaknya pada bulan yang mulia, penuh berkah serta momen agung ini, kita memanfaatkan segala yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla.

Hendaknya kita memanfaatkan masa hidup ini sebelum kematian datang menjemput secara tiba-tiba.

Orang-orang yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kesehatan, hendaknya mereka memanfaakan kesehatan mereka sebelum Allâh Azza wa Jalla menguji mereka dengan penyakit yang akan menghalangi dan melemahkan mereka.

Orang-orang yang Allâh Azza wa Jalla berikan kelonggaran waktu, hendaknya mereka memanfaatkan waktu luang tersebut sebelum mereka tersibukkan oleh berbagai kesibukan yang menghalangi mereka dari beribadah.

Para pemuda hendaknya memanfaatkan waktu muda mereka sebelum datang masa tua yang identik dengan kerapuhan, kelemahan dan berbagai macam penyakit.

Orang-orang kaya yang telah Allâh anugerahi rezeki melimpah, hendaknya memanfaatkan kekayaan yang mereka miliki sebelum didera kemiskinan dan dikejar berbagai kebutuhan.

Hendaknya mereka semua memanfaatkan momen yang agung ini supaya mereka bertambah dekat dengan Allâh Azza wa Jalla , dan supaya lebih terbuka peluang untuk mendapatkan berkah dan rahmat Allâh dengan cara bertaubat kepada-Nya seraya memperbanyak perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang.

Ibnu Rajab rahimahulllah berkata, “ Tidak ada satu momen pun diantara momen-momen yang memiliki keutamaan kecuali ada padanya tugas ketaatan yang bisa digunakan oleh para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla ; dan pada musim-musim tersebut Allâh Azza wa Jalla juga memiliki tiupan-tiupan yang dengan keutamaan dan kasih sayang Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan momen-momen bulanan, harian dan jam-jaman untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengan melakukan ketaatan yang ada pada momen-momen tersebut. Semoga dia mendapatkan salah satu dari tiupan-tiupan yang Allâh miliki sehingga dengan tiupan tersebut dia akan mendapatkan kebahagian, dan aman dari jilatan api neraka)“[6]

Barangsiapa menyia-nyiakan waktu luang yang dia miliki pada momen-momen seperti ini dan dia tidak memanfaatkan kesehatannya pada bulan yang mulia ini, maka kapan lagi dia akan bisa mengambil manfaat dan beristiqamah?!

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “ Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luang yang dimilikinya untuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang patut ikuti. Dan barangsiapa menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh saat sibuk, dan sehat akan berganti sakit akan salah satu tanda kemurkaan (Allâh) .” Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “ Menyianyiakan waktu lebih dahsyat dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutus hubungan antara kamu dengan Allâh Azza wa Jalla dan akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan (hubungan) antara kamu dengan dunia dan penduduknya. “[7]

Seorang Muslim seharusnya tidak tergoda dengan dunia karena sesungguhnya yang sehat di dunia pasti akan sakit, yang baru akan menjadi usang, kenikmitan dunia akan sirna, dan yang muda akan menjadi tua. Seorang Muslim di dunia berjalan menuju akhirat. Usianya yang dimiliki terus berkurang, sementara amalan-amalannya terus dicatat dan kematian akan datang tiba-tiba.

Barangsiapa menanam kebaikan maka dia akan memetik pahala dan kebaikan, sebaliknya orang yang menyemai keburukan maka dia pasti akan merasakan getirnya kerugian dan pasti akan ditimpa penyesalan. Semua orang pasti akan memetik buah dari tanaman yang dia tanam.

Wahai Allâh! Limpahkahlah berkah-Mu kepada kami! Berkahilah usia-usia kami dan amal ibadah kami! Berilah petunjuk kepada kami dan berikanlah taufiq kami agar kami bisa memanfaatkan waktu-waktu yang ada untuk melakukan amal-amal shalih!

Ya Allâh! Tuangkanlah ke dalam hati-hati kami rasa cinta terhadap perbuatan-perbuatan baik dan benci terhadap semua bentuk kemungkaran!

Ya Allâh! Jadikanlah ibadah puasa yang kami lakukan sebagai wasilah untuk meraih ridha-Mu dan meraih surga-Mu

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] 
_______ 
Footnote 
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri secara mu’allaq dalam kitab Riqâq 
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Nuaim di dalam Hilyatul Auliya ( 5/292 ) 
[3]. Riwayat Imam Hâkim dalam al-Mustadrak, no. 7846 
[4]. Riwayat Imam Tirmizi, no. 2602 
[5]. Riwayat al-Bukhâri ( 6412 ) 
[6]. Kitab Lathâ’if al-Ma’ârif, Ibnu Rajab, hlm. 6 
[7]. Kitab Al-fawaid Milik Ibnu Qoyyim ( hal:44 )

sumber: https://almanhaj.or.id/4166-menjaga-waktu-dibulan-ramadhan.html

Setiap Malam Ramadhan Ada Pembebasan dari Api Neraka

Saudaraku
Berdoalah dan berharaplah dengan sungguh-sungguh 
Di bulan Ramadhan ini 
Agar kita termasuk orang-orang
Yang setiap malam ditulis dan ditetapkan
Terbebas dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

ﻭَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ

“Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi, Hasan, lihat Al-Misykat no. 1960)

Manfaatkan bulan mulia ini
Ikhlas kembali kepada Allah
Memperbaiki diri dan memperbaiki niat
Sangat berharap di Ramadhan ini
Nama kita yang Allah tetapkan
terbebas dari api neraka
dan masuk surga Allah tertinggi

Perbanyak doa ini
Karena mustajabnya doa
Kapan pun siang dan malam

Diriwayatkan Bazzar (Kasyf, no. 962), dari hadits Abu Said, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﺇﻥ ﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﺘﻘﺎﺀ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ _ ﻳﻌﻨﻲ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ _ , ﻭﺇﻥ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﻣﺴﺘﺠﺎﺑﺔ 

“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan kebebasan dari siksa neraka pada setiap malam –yakni di bulan Ramadan- dan sesungguhnya setiap muslim pada waktu siang dan malam memiliki doa yang terkabul ( mustajabah)”.

Terutama doa ketika akan berbuka puasa

Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﻓِﻄْﺮٍ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀَ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ

“Sesungguhnya Allah memiliki pada setiap berbuka orang-orang yang dimerdekakan (dari api neraka) dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah, 2/59)

Catatan:
Doa ketika sebelum atau setelah berbuka puasa itu mustajab, yang lebih utama adalah doa sebelum berbuka puasa, oleh karena itu hendaknya kita tidak ngobrol-ngobrol terus sampai adzan menjelang berbuka sehingga lupa berdoa sebelum berbuka
Silahkan baca pembahasannya:
https://muslim.or.id/29990-doa-mustajab-setelah-atau-sebelum-berbuka-puasa.html

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/setiap-malam-ramadhan-ada-pembebasan-dari-api-neraka.html