Penulis: Abu Adam
Dzikir-Dzikir di Bulan Ramadhan
Dzikir Ketika Melihat Hilal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca,
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)
Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]”, sebanyak dua kali atau lebih. (Al Adzkar, 183)
Do’a Ketika Berbuka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)
Do’a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)
Do’a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Do’a Setelah Shalat Witir
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Do’a di Malam Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://muslim.or.id/1270-dzikir-dzikir-di-bulan-ramadhan.html
Tidur Saat Puasa
pertanyaan:
Bagaimana hukum seorang ketika bulan puasa tidur sepanjang hari? Dan bagaimana pula kalau dia bangun untuk melakukan kewajiban lalu tidur lagi?
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjawab,
Pertanyaan ini mengandung dua permasalahan:
Pertama,
Seorang yang tidur seharian dan tidak bangun sama sekali, tidak ragu lagi bahwa dia telah bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan sholat. Maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan menjalankan sholat tepat pada waktunya.
Kedua,
Seorang yang tidur tetapi bangun untuk menjalankan sholat secara berjama’ah kemudian tidur lagi dan seterusnya, hukum orang ini tidak berdosa (dan tidak batal puasanya-pen). Hanya saja, ia terluput dari kebaikan yang banyak, sebab orang yang berpuasa hendaklah menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, doa, membaca al-qur’an dan sebagainya sehingga mengumpulkan beraneka macam ibadah pada dirinya.
Maka nasihatku kepada orang ini, hendaklah ia tidak menghabiskan waktu puasanya dengan banyak tidur. Akan tetapi, hendaklah ia bersemangat dalam ibadah.
(Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu Utsaimin: 19/170-171)
Adapun hadits yang berbunyi:
صَمْتُ الصًّائِمِ تَسْبِيْحٌ وَ نَوْمُهُ عِبَادَةٌ
“Diamnya orang yang puasa adalah tasbih tidurnya adalah ibadah”
Hadits ini derajatnya lemah sekali dan berdampak negatif yaitu menjadikan sebagian orang malas dan banyak tidur di bulan puasa dengan beralasan hadits ini.
Rintihan Doa Orang yang Tidak Bisa Shalat Khusyu’ #video ~7
Menjaga Waktu Dibulan Ramadhan
Sejatinya, waktu bagi manusia adalah umur mereka. Waktu merupakan modal bagi manusia untuk kehidupannya yang abadi kelak di akhirat, apakah dia akan berada surga yang penuh kenikmatan ataukah dalam neraka yang penuh siksa yang teramat pedih?
Waktu terus berjalan tak pernah terhenti. Siang dan malam datang silih berganti, berlalu dengan cepat mengurangi jatah usia dan semakin mendekatkan kepada waktu kematian. Dahulu siang dan malam menyertai kaum Nabi Nûh Alaihissallam , kaum ‘Âd, Tsamûd, dan beberapa generasi setelah mereka. Mereka telah menghadap Rabb mereka (meninggal) dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka, sementara siang dan malam terus saja berlalu dan tetap baru menemani ummat dan generasi berikutnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur . [al-Furqân/25:62]
Maka selayaknya seorang Mu’min mengambil dan memetik ibrah (pelajaran) dari perjalanan siang dan malam terutama pada bulan Ramadhan, bulan yang sangat berharga dan momen yang teramat agung. Berapa banyak Ramadhan yang telah kita lalui, datang lalu pergi begitu cepat. Siang dan malam terus berlalu membuat segala hal yang baru menjadi usang, yang tadinya jauh menjadi semakin dekat, jatah usia menjadi semakin berkurang. Perjalanan siang dan malam telah membuat anak kecil menjelma menjadi orang dewasa yang beruban, dan memusnahkan yang tua. Semua peristiwa ini mengingatkan kita akan perjalanan dunia yang semakin jauh sementara hari kiamat semakin mendekat.
Ali bin Abi Thâlib Radhyallahu anhu pernah mengatakan:
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menghadap. Keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya hari ini (maksudnya dunia) tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) tempat hisab (perhitungan) tanpa ada kesempatan untuk beramal[1]
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, “ Sesungguhnya dunia bukanlah tempat menetap bagi kalian. Dunia adalah tempat yang Allâh tetapkan sebagai tempat yang fana’ (dia akan sirna-red), dan Allâh Azza wa Jalla menetapkan bahwa penduduknya akan meninggalkan dunia. Betapa banyak penghuni yang terikat (betah) tiba-tiba dia meninggal dunia, dan betapa banyak makmur hidupnya tiba-tiba meninggal dunia. Oleh karena itu, wahai para hamba Allâh, semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati kalian, perbaguslah kepergian kalian darinya dengan membawa bekal terbagus yang kalian punya! Carilah perbekalan, sesungguhnya perbekalan yang paling baik adalah ketakwaan. “[2]
Sesungguhnya manusia sejak terlahir ke dunia ini terus-menerus menghabiskan umur mereka, – bahkan sebagaimana dikatakan oleh imam Hasan al-Basyri rahimahullah ,”Manusia merupakan kumpulan hari-hari, setiap ada satu hari berlalu maka sebagian dari manusia itu pergi. Satu hari dari (umur) manusia menghancurkan satu bulan, satu bulan menghancurkan tahun, satu tahun menghancurkan umur. Setiap waktu yang berlalu dari seorang hamba, maka itu semakin mendekatkannya kepada ajal.”
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan, “ Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku atas satu hari yang telah berlalu, pada hari itu umurku berkurang, sementara amalanku tidak bertambah. ”
Ini menunjukkan keseriusan beliau Radhiyallahu anhu dalam menjaga waktu.
Imam al-Hasan rahimahullah mengatakan, “ Saya pernah bertemu beberapa kaum, perhatian mereka terhadap waktu-waktu mereka melebihi perhatian kalian terhadap dirham dan dinar-dinar kalian .”
Oleh karena itu, barangsiapa melewati harinya bukan untuk menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, atau bukan untuk mencapai hal-hal yang terpuji, atau tidak pula untuk mendapatkan ilmu, maka sungguh dia telah mendurhakai harinya, menzhalimi diri dan harinya.
Sesungguhnya siang dan malam dia merupakan modal manusia dalam hidupnya, sedangkan keuntungan (yang hendak driraihnya) adalah surga, kerugian (yang ingin dihindari)nya adalah neraka. Waktu satu tahun bagaikan sebuah pohon, bulan-bulan bagaikan dahannya, hari-hari bagaikan rantingnya, sementara jam bagaikan dedaunannya, dan nafas yang dihembuskan bagaikan buahnya. Barangsiapa nafasnya digunakan dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka buah yang dihasilkan bagus, penuh berkah, dan manis rasanya. Sebaliknya orang yang nafasnya digunakan untuk bermaksiat pada Allâh Azza wa Jalla , maka buah yang dihasilkan pahit.
Banyak nash dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan pentingnya waktu dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar umatnya memanfaatkannya serta tidak menyia-nyiakannya. Banyak juga nash yang menjelaskan bahwa seorang hamba akan ditanya tentang waktunya kelak pada hari kiamat. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Manfaatkanlah yang lima sebelum datangnya yang lima: usia muda sebelum datang usia tua, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematian .[3]
Dari Abi Barzah al-Aslami Radhiyallahu anhu, beliau Radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ ؟ وَعَنْ عِلمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفيمَ أنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ جِسمِهِ فِيمَ أبلاهُ ؟
Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya, “Untuk apa dihabiskan?” Tentang ilmunya, “Dalam hal apa ilmunya diamalkan?” Tentang hartanya, “Dari mana dia mendapatkannya dan diinfakkan dimana?” Tentang jasadnya, “Dipergunakan untuk apa? [4]
Dalam sebuah hadits shahih lainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang banyak sekali orang tertipu dengannya, nikmat sehat dan waktu luang .[5]
Maka hendaknya pada bulan yang mulia, penuh berkah serta momen agung ini, kita memanfaatkan segala yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla.
Hendaknya kita memanfaatkan masa hidup ini sebelum kematian datang menjemput secara tiba-tiba.
Orang-orang yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kesehatan, hendaknya mereka memanfaakan kesehatan mereka sebelum Allâh Azza wa Jalla menguji mereka dengan penyakit yang akan menghalangi dan melemahkan mereka.
Orang-orang yang Allâh Azza wa Jalla berikan kelonggaran waktu, hendaknya mereka memanfaatkan waktu luang tersebut sebelum mereka tersibukkan oleh berbagai kesibukan yang menghalangi mereka dari beribadah.
Para pemuda hendaknya memanfaatkan waktu muda mereka sebelum datang masa tua yang identik dengan kerapuhan, kelemahan dan berbagai macam penyakit.
Orang-orang kaya yang telah Allâh anugerahi rezeki melimpah, hendaknya memanfaatkan kekayaan yang mereka miliki sebelum didera kemiskinan dan dikejar berbagai kebutuhan.
Hendaknya mereka semua memanfaatkan momen yang agung ini supaya mereka bertambah dekat dengan Allâh Azza wa Jalla , dan supaya lebih terbuka peluang untuk mendapatkan berkah dan rahmat Allâh dengan cara bertaubat kepada-Nya seraya memperbanyak perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang.
Ibnu Rajab rahimahulllah berkata, “ Tidak ada satu momen pun diantara momen-momen yang memiliki keutamaan kecuali ada padanya tugas ketaatan yang bisa digunakan oleh para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla ; dan pada musim-musim tersebut Allâh Azza wa Jalla juga memiliki tiupan-tiupan yang dengan keutamaan dan kasih sayang Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang bisa memanfaatkan momen-momen bulanan, harian dan jam-jaman untuk mendekatkan diri kepada Allâh dengan melakukan ketaatan yang ada pada momen-momen tersebut. Semoga dia mendapatkan salah satu dari tiupan-tiupan yang Allâh miliki sehingga dengan tiupan tersebut dia akan mendapatkan kebahagian, dan aman dari jilatan api neraka)“[6]
Barangsiapa menyia-nyiakan waktu luang yang dia miliki pada momen-momen seperti ini dan dia tidak memanfaatkan kesehatannya pada bulan yang mulia ini, maka kapan lagi dia akan bisa mengambil manfaat dan beristiqamah?!
Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “ Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luang yang dimilikinya untuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang patut ikuti. Dan barangsiapa menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh saat sibuk, dan sehat akan berganti sakit akan salah satu tanda kemurkaan (Allâh) .” Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “ Menyianyiakan waktu lebih dahsyat dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutus hubungan antara kamu dengan Allâh Azza wa Jalla dan akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan (hubungan) antara kamu dengan dunia dan penduduknya. “[7]
Seorang Muslim seharusnya tidak tergoda dengan dunia karena sesungguhnya yang sehat di dunia pasti akan sakit, yang baru akan menjadi usang, kenikmitan dunia akan sirna, dan yang muda akan menjadi tua. Seorang Muslim di dunia berjalan menuju akhirat. Usianya yang dimiliki terus berkurang, sementara amalan-amalannya terus dicatat dan kematian akan datang tiba-tiba.
Barangsiapa menanam kebaikan maka dia akan memetik pahala dan kebaikan, sebaliknya orang yang menyemai keburukan maka dia pasti akan merasakan getirnya kerugian dan pasti akan ditimpa penyesalan. Semua orang pasti akan memetik buah dari tanaman yang dia tanam.
Wahai Allâh! Limpahkahlah berkah-Mu kepada kami! Berkahilah usia-usia kami dan amal ibadah kami! Berilah petunjuk kepada kami dan berikanlah taufiq kami agar kami bisa memanfaatkan waktu-waktu yang ada untuk melakukan amal-amal shalih!
Ya Allâh! Tuangkanlah ke dalam hati-hati kami rasa cinta terhadap perbuatan-perbuatan baik dan benci terhadap semua bentuk kemungkaran!
Ya Allâh! Jadikanlah ibadah puasa yang kami lakukan sebagai wasilah untuk meraih ridha-Mu dan meraih surga-Mu
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri secara mu’allaq dalam kitab Riqâq
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Nuaim di dalam Hilyatul Auliya ( 5/292 )
[3]. Riwayat Imam Hâkim dalam al-Mustadrak, no. 7846
[4]. Riwayat Imam Tirmizi, no. 2602
[5]. Riwayat al-Bukhâri ( 6412 )
[6]. Kitab Lathâ’if al-Ma’ârif, Ibnu Rajab, hlm. 6
[7]. Kitab Al-fawaid Milik Ibnu Qoyyim ( hal:44 )
sumber: https://almanhaj.or.id/4166-menjaga-waktu-dibulan-ramadhan.html
Setiap Malam Ramadhan Ada Pembebasan dari Api Neraka
Saudaraku
Berdoalah dan berharaplah dengan sungguh-sungguh
Di bulan Ramadhan ini
Agar kita termasuk orang-orang
Yang setiap malam ditulis dan ditetapkan
Terbebas dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
ﻭَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ
“Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi, Hasan, lihat Al-Misykat no. 1960)
Manfaatkan bulan mulia ini
Ikhlas kembali kepada Allah
Memperbaiki diri dan memperbaiki niat
Sangat berharap di Ramadhan ini
Nama kita yang Allah tetapkan
terbebas dari api neraka
dan masuk surga Allah tertinggi
Perbanyak doa ini
Karena mustajabnya doa
Kapan pun siang dan malam
Diriwayatkan Bazzar (Kasyf, no. 962), dari hadits Abu Said, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda,
ﺇﻥ ﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﺘﻘﺎﺀ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ _ ﻳﻌﻨﻲ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ _ , ﻭﺇﻥ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﻣﺴﺘﺠﺎﺑﺔ
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan kebebasan dari siksa neraka pada setiap malam –yakni di bulan Ramadan- dan sesungguhnya setiap muslim pada waktu siang dan malam memiliki doa yang terkabul ( mustajabah)”.
Terutama doa ketika akan berbuka puasa
Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺇِﻥَّ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋِﻨْﺪَ ﻛُﻞِّ ﻓِﻄْﺮٍ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀَ ﻭَﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ
“Sesungguhnya Allah memiliki pada setiap berbuka orang-orang yang dimerdekakan (dari api neraka) dan itu di setiap malam.” (HR. Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah, 2/59)
Catatan:
Doa ketika sebelum atau setelah berbuka puasa itu mustajab, yang lebih utama adalah doa sebelum berbuka puasa, oleh karena itu hendaknya kita tidak ngobrol-ngobrol terus sampai adzan menjelang berbuka sehingga lupa berdoa sebelum berbuka
Silahkan baca pembahasannya:
https://muslim.or.id/29990-doa-mustajab-setelah-atau-sebelum-berbuka-puasa.html
@ Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
sumber: https://muslimafiyah.com/setiap-malam-ramadhan-ada-pembebasan-dari-api-neraka.html
Ribut-ribut, eh taunya HOAX.. waspada buzzer !
Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
selengkapnya: https://rumaysho.com/1916-semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html
Pulang Lah Nak, Berbakti pada Ibu-mu
Semua orang tua pasti ingin dekat dengan anak-anaknya, terutama di masa tua dan masa sepuh mereka. Setiap orang tua, terutama ibu pasti sangat ingin berada bersama anak-anak yang sangat ia cintai. Tidak jarang sang ibu meminta anaknya agar tidak tinggal jauh darinya atau agar tidak tinggal di luar kota, atau sang ibu meminta anaknya agar segera pulang ke kampung masa kecilnya untuk menemani orang tua dan ibunya.
Kasih Sayang Ibu Tidak Lekang Oleh Jarak dan Waktu
Sekiranya sang ibu mengatakan:
“Ibu sih terserah kamu nak, jika di kota A kamu lebih sukses, ibu hanya bisa mendoakan kamu dari kampung masa kecilmu ini”
Ketauhilah, ketika engkau memilih bertahan di kota A, hati ibumu sangat kecewa sekali tetapi ia berusaha menguatkan diri dan tersenyum di depan mu dan tentunya selalu mendoakanmu, buah hati tercinta.
Saudaraku, meskipun kita sukses di kota A atau merasa sangat senang dan nyaman tinggal di kota A, jika engkau ada kesempatan tinggal bersama orang tua khususnya ibumu, maka pulang lah, temani ibumu dan berbaktilah. Mereka lah yang menjadikan engkau suskes dan berhasil dengan izin Allah
Catatan: berbakti pada ibu adalah prioritas utama anak laki-laki, adapun anak perempuan yang sudah menikah, maka ia mengikuti suaminya.
Jangan Sia-Siakan Kesempatan Berbakti Kepada Ibu
Berbaktilah kepada kedua orang tua kita, terutama ibu, karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang paling mudah memasukkan seseorang ke surga.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪُ ﺃَﻭْﺳَﻂُ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺈِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺄَﺿِﻊْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺒَﺎﺏَ ﺃَﻭِ ﺍﺣْﻔَﻈْﻪُ
Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad, hasan)
Maksud pintu yang paling tengah adalah pintu yang palong mudah dimasuki. Perhatikan jika ada tembok di depan kita, lalu ada pintu di tengah, di samping pinggir kanan dan kiri, tentu secara psikologi kita akan pilih yang tengah karena mudah untuk memasukinya.
Mengapa mudah berbakti pada orang tua, terurama ketika mereka sudah tua? Karena orang yang sudah tua sudak tidak menginginkan “gemerlapnya dunia” lagi.
Ibu Merindukan Kehadiranmu, Nak!
Mereka sudah tidak minta pada anaknya makanan-makanan lezat karena lidah mereka mungkin sudah kaku
Mereka sudah tidak minta pada anaknya jalan-jalan yang jauh karena kaki sudah mulai rapuh
Mereka sudah tidak minta kepada anaknya perhiasan dunia karena mata mulai merabun
Yang mereka inginkan hanyalah engkau menemani mereka, mengajak ngobrol, membawa cucu-cucu mereka untuk bermain dengan mereka. Suatu perkara yang cukup mudah dengan balasan yang surga Allah
Saudaraku, karenanya sangat celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua dan sepuh tetapi tidak masuk surga, karena tidak memanfaatkan amalan yang cukup mudah yaitu berbakti kepada mereka kemudian masuk surga.
Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [HR. Muslim 2551]
Baktimu untuk Ibu adalah Kewajiban
Perintah berbakti kepada orang tua terutama ibu
Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Quran agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bagaimana pengorbanan dan perjuangan ibu untuk anaknya. Beliau menafsirkan,
وقال هاهنا {ووصينا الإنسان بوالديه حملته أمه وهنا على وهن} . قال جاهد: مشقة وهن الولد. وقال قتادة: جهدا على جهد. وقال عطاء الخراساني: ضعفا على ضعف
“Mujahid berkata bahwa yang dimaksud [“وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ”] adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atha’ Al Kharasani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 6/336,]
Demikian juga firman Allah,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Al-Ahqaaf : 15)
Pengorbanan Ibu Tidak Akan Terbalas
Diriwayatkan Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,
إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ
Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.
Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”[Adabul Mufrad no. 11, shahih]
Az-Dzahabi rahimahullah menyusun sebuah tulisan yang sangat menyentuh mengenai jasa dan pengorbanan ibu dan motivasi agar kita berbakti pada ibu. Beliau berkata,
حملتك في بطنها تسعة أشهر كأنها تسع حجج و كابدت عند الوضع ما يذيب المهج و أرضعتك من ثديها لبنا و أطارت لأجلك وسنا و غسلت بيمينها عنك الأذى و آثرتك على نفسها بالغذاء و صيرت حجرها لك مهدا و أنالتك إحسانا و رفدا فإن أصابك مرض أو شكاية أظهرت من الأسف فوق النهاية و أطالت الحزن و النحيب و بذلت مالها للطبيب و لو خيرت بين حياتك و موتها لطلبت حياتك بأعلى صوتها هذا و كم عاملتها بسوء الخلق مرارا فدعت لك بالتوفيق سرا و جهارا فلما احتاجت عند الكبر إليك جعلتها من أهون الأشياء عليك فشبعت و هي جائعة و رويت و هي قانعة و قدمت عليها أهلك و أولادك بالإحسان و قابلت أياديها بالنسيان و صعب لديك أمرها و هو يسير و طال عليك عمرها و هو قصير هجرتها و مالها سواك نصير هذا و مولاك قد نهاك عن التأفف و عاتبك في حقها بعتاب لطيف ستعاقب في دنياك بعقوق البنين و في أخراك بالبعد من رب العالمين يناديك بلسان التوبيخ و التهديد ( ذلك بما قدمت يداك و أن الله ليس بظلام للعبيد )
Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
(Akan dikatakan kepadanya),
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (Al-Hajj : 10) [Al-Kaba’ir hal. 39, Darun Nadwah]
Semoga Allah Ta’ala Memudahkan Kita untuk Berbakti pada Ibu
Semoga kita termasuk orang yang bisa berbakti kepada orang tua khususnya ibu. Semoga kita termasuk orang yang tidak melupakan jasa-jasa ibu kita. Semoga anak-istri dan pekerjaan kita tidak menyibukkan kita dan melalaikan kita untuk berbakti dan memberikan perhatian kepada ibu kita. Ingatlah di masa kecil kita sangat sering membuat susah orang tua terutama ibu kita, bersabarlah ketika berbakti kepada keduanya
Demikian semoga bermanfaat
@ Antara Langit dan Bumi Allah, Pesawat Garuda Yogyakarta – Jakarta – Banjarmasin
Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/44335-pulang-lah-nak-berbakti-pada-ibu-mu.html









