Perbaiki Kehidupanmu dengan Memperbaiki Shalatmu

Setiap muslim pasti mengetahui kedudukan shalat di dalam agama dan syariat Allah. Karena shalat adalah tiang agama Islam dan garis pemisah antara kufur dan iman. Posisi shalat dalam Islam seperti posisi kepala bagi tubuh. Bila manusia tidak bisa hidup tanpa kepala, begitu pula agama tidak bisa wujud tanpa shalat. Nash-nash syariat yang menerangkan hal itu sangat banyak. Jika masalahnya sedemikian penting dan krusial maka satu hal yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan hati ialah bahwa di antara orang-orang yang mengaku Islam masih ada orang-orang yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin, tetapi meremehkan dan menyepelekan shalat. Bahkan terkadang lebih parah dari itu. Laa haula wala quata illa billah!

Akankah mereka berhenti bersikap seperti itu sebelum mereka ditimpa murka Allah, dikepung azab Allah, atau dijemput maut?

Saudara-saudaraku yang rajin shalat! Berbahagialah dengan shalat. Bergembiralah bila Allah melapangkan dada Anda untuk melaksanakan kewajiban yang agung ini. Selamat buat Anda yang akan menerima balasan dan anugerah dari Allah, baik di dunia maupun di Akhirat. Karena Anda telah melaksanakan kewajiban agama yang agung ini.

Wahai orang-orang yang rajin shalat, ketahuilah bahwa shalat yang diterima oleh Allah harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, dan adab-adab tertentu. Di samping itu, banyak masalah penting dan kesalahan yang berkembang luas seputar kewajiban ini yang harus diketahui dan dipraktikkan oleh orang-orang yang shalat. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan,

“Orang yang paling buruk pencuriannya ialah orang yang mencuri sebagian dari shalatnya.” (Al-Musnad, 5/310)

Yang dimaksud dengan mencuri di dalam shalat ialah tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya dan khusyuknya.

Dan ada pula riwayat yang menyebutkan, bahwa orang yang selesai shalat akan dicatat dari shalatnya sebesar 25 persen, atau 20 persen, hingga 10 persen saja. (HR. Ahmad, 4/321 dan Abu Daud, 796)

Ini mengajak setiap muslim yang melaksanakan shalat agar memperhatikan urusan shalatnya, supaya ia tidak kehilangan pahala dan mendapatkan siksa.

Berikut ini adalah hal-hal singkat yang perlu mendapat perhatian dalam masalah ini:

1. Bersuci secara lahir dan batin. Karena bersuci adalah syarat besar bagi sahnya shalat. Dan shalat tidak sah tanpa bersuci. Maka setiap orang yang menunaikan shalat harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh urusan bersuci dan wudlunya. Ia tidak boleh meremehkan hal itu. Juga tidak boleh berlebihan dalam menyikapinya hingga sampai ke tingkat waswas. Salah satu hal yang sangat disesalkan dalam soal ini yaitu sebagian orang awam tidak memberikan perhatian secukupnya terhadap masalah wudlu dan bersuci. Bahkan ada yang melakukan tayammum di dekat air atau sebenarnya bisa mencari air. Ini adalah kecerobohan yang nyata.

2. Menghadap kiblat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Orang yang berada di Masjidil Haram harus menghadap ke arah Ka’bah secara tepat. Sebagian orang ternyata tidak memahami masalah ini atau meremehkannya.

3. Menutup aurat. Ini juga termasuk syarat sah shalat yang penting. Apa yang dilakukan sebagian orang yang teledor dalam masalah ini seperti memakai pakaian yang transparan, atau celana ketat yang bisa memperlihatkan warna kulitnya atau membedakan sifatnya adalah hal yang perlu diperhatikan. Wanita di dalam shalat harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, jika berada di antara lelaki yang bukan mahramnya atau berada di masjid yang berpotensi dilihat oleh kaum lelaki, maka kondisi semacam ini ia wajib menutupi wajahnya. Dan ia harus datang ke masjid dengan pakaian yang sederhana, tertutup rapat, tidak bersolek dan tidak memakai parfum, agar ia bisa pulang ke rumahnya dengan membawa pahala, bukan dosa.

4. Memperhatikan kerapian shaf (barisan). Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merapikan sendiri barisan-barisan yang ada. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau bersikap keras kepada orang yang tidak memperhatikan hal itu. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kalian benar-benar merapikan barisan kalian, atau Allah benar-benar akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” (HR. Al-Bukhari, 717 dan Muslim, 436)

5. Inti shalat dan ruhnya adalah khusyuk. Allah berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Di mana letak khusyuknya orang-orang yang melaksanakan shalat dengan perasaan malas, berat, tertekan, kesal, dan ingin bebas dari kewajiban shalat? Di mana letak kekhusyukan orang-orang yang tidak fokus di dalam shalatnya? Shalat mereka hanyalah main-main, gerak-gerik, tengak-tengok, miring kesana kemari, cepat-cepat dan tergesa-gesa. Hati mereka berkeliaran di lembah, sementara akalnya merumput di tempat lain. Shalat semacam ini adalah shalat yang bunting, tidak sempurna.

Maka setiap orang yang melaksanakan shalat, harus menjaga kekhusyukan dan kehadiran hatinya secara terus-menerus. Dan ia harus melakukan upaya-upaya yang bisa membantunya untuk itu, dan mewaspadai hal-hal yang merusak kekhusyukannya.

Ayyuhal mushallun! Thumakninah adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Kini banyak orang yang meremehkannya akibat lemahnya iman, dan tamaknya perasaan duniawi di dalam jiwa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang melaksanakan shalat secara buruk, karena tergesa-gesa dan tidak thuma’ninah.

“Kembalilah lalu shalatlah. Karena sesungguhnya kamu belum shalat.” (HR. Al-Bukhari, 793 dan Muslim, 397)

6. Yang juga perlu diperhatikan ialah kewajiban mengikuti imam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya imam itu diadakan untuk diikuti.” (HR.Al-Bukhari, 688 dan Muslim, 412)

Jadi, makmum tidak boleh lebih maju dari imam atau mendahului gerakan imam. Bahkan hal itu bisa menjadi penyebab tertolak atau batalnya shalat. Ada riwayat yang berisi ancaman keras terhadap orang yang berbuat seperti itu. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu yang disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim dinyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah salah seorang di antara kamu merasa takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam bahwa Allah akan menjadikan kepalanya sebagai kepala keledai atau menjadikan wujudnya sebagai wujud keledai?!” (HR. Al-Bukhari, 691,dan Muslim, 427)

Imam Ahmad Rahimahullah berkata, “Tidak sah shalat orang yang mendahului imamnya.”

Perkara yang demikian gawat dan sangsinya seperti itu seharusnya mendapat perhatian yang serius dari setiap orang yang melaksanakan shalat. Jangan sampai ia dijerumuskan oleh setan yang ingin merusak shalatnya. Dan kondisi rill para makmum dalam kaitan ini sangat memperhatinkan dan menyedihkan. Allahul Musta’an .

Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kita pada umumnya dan shalat kita pada khususnya. Karena bagian yang diperoleh seseorang dari Islam setara dengan kadar bagiannya dan dari shalat. Kini, marilah kita berfikir tentang kondisi kita sendiri. Apa yang akan kita peroleh bila kita meremehkan seluruh syiar Islam, terutama shalat? Sesungguhnya umat yang orang-orangnya tidak mau berdiri di hadapan Allah dalam shalat untuk meminta anugerah dan kebaikan dari-Nya, benar-benar pantas untuk tidak mampu berdiri kokoh pada momen-momen kebaikan, persatuan, kemenangan dan kekuatan. Karena semua itu hanya bisa datang dari Allah semata. Maka, apabila kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia.

Sesungguhnya kehancuran dan kemunduran peradaban yang terjadi di berbagai belahan bumi, berpangkal pada kejatuhan anak-anaknya di lembah-lembah pelanggaran hukum dan keengganan melaksanakan kewajiban yang paling wajib, yaitu shalat.

Hanya Allahlah yang pantas kita minta untuk memperbaiki kondisi umat Islam di mana saja, memberi mereka pemahaman yang benar tentang agamanya. Dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang teguh menjaga syiar-syiar agamanya, menghormatinya, dan menegakkan tiangnya dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Mahamulia.

sumber: https://indonesiabertauhid.com/perbaiki-kehidupanmu-dengan-memperbaiki-shalatmu/

Diantara Tipu Daya Setan: Merasa Diri Suci

Setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat manusia merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa.

Larangan Menganggap Diri Suci

Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan bahwa terlarangnya orang-orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri. (Taisir Karimir Rahman).

Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan yahudi dan nasrani yang jelas-jelas dicela oleh Allah ta’ala,

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً

“Dan mereka berkata, ‘kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah: 80).

Bahkan, saking merasa sucinya, mereka merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak masuk surga.

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى

“Dan mereka berkata,’Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah: 111).

Sehingga Allah ta’ala cela kebiasaan mereka ini,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. An-Nisa: 49).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim).

Rasulullah dan para Salaf pun tidak menganggap diri suci

Adakah keraguan pada diri kita, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna keimanannya? Sekali-kali tidak. Kita amat meyakini kesempurnaan iman beliau. Akan tetapi, kesempurnaan iman beliau tidak membuat beliau merasa dirinya suci dan bosan dalam beribadah. Meski telah dijamin surga, akan tetapi beliau tetap shalat malam hingga bengkak kakinya. Lalu bagaimana dengan kita..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Belum sampaikah ke telinga kita, cerita tentang Hasan al Bashri rahimahullah yang tiba-tiba bangun dari tidur malam dan menangis sejadi-jadinya. Setelah ditanya apa sebab ia menangis, ia menjawab, “Aku menangis karena tiba-tiba aku teringat akan satu dosa.” (Al-Buka’ min Khasyatillah, Asbabuhu wa Mawani’uhu wa Thuruq Tahshilih).

Masya Allah, seorang Hasan al Bashri rahimahullah yang begitu banyak ilmu dan amalnya, ternyata tidak membuat beliau merasa dirinya suci. Justru beliau menangis karena teringat akan satu dosa. Begitulah sejatinya seorang mu’min, menganggap kerdil dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Hasan al Bashri rahimahullah yang menangis karena teringat akan satu dosa. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki..?! Masih layakkah menganggap diri kita suci..?!

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.” (Al-Akhlaq wa as-Siyar fii Mudawah an-Nufus, dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Thalab al-Ilmi)

Semoga Allah ta’ala menghindarkan kita dari sikap merasa suci dan memudahkan kita dalam menggapai surga-Nya. Aamiin.

—

Penulis: Erlan Iskandar

Artikel Muslim.Or.Id

sumber: https://muslim.or.id/22354-diantara-tipu-daya-setan-merasa-diri-suci.html

Dosa Selalu Menggelisahkan Jiwa

Kebaikan selalu menentramkan jiwa dan kejelekan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada umumnya manusia.

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”[1]

Dalam lafazh lain disebutkan,

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

“Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.”[2]

Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.”[3]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.”[4]

Sampai-sampai jika seseorang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan tersebut termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi tatkala hati dalam keadaan gundah gulana dan belum menemukan bagaimanakah hukum suatu masalah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan pada Wabishoh,

اسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ – ثَلاَثاً – الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.”[5]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman.”[6] Ingatlah bahwasanya hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Demikianlah yang namanya dosa, selalu menggelisahkan jiwa, membuat hidup tidak tenang. Jika seseorang mencuri, menipu, berbuat kecurangan, korupsi, melakukan dosa besar bahkan melakukan suatu kesyirikan, jiwanya sungguh sulit untuk tenang.

Lantas bagaimana jika ada yang melakukan dosa malah hatinya begitu tentram-tentram saja? 

Jawabannya, bukan perbuatan dosa atau maksiat dibenarkan. Yang benar adalah itulah keadaan hati yang penuh kekotoran, yang telah tertutupi dengan noda hitam karena tidak kunjung berhenti dari maksiat. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14). Jika hati terus tertutupi karena maksiat, maka sungguh sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.[8]

Diselesaikan di siang hari di Panggang-Gunung Kidul, 15 Syawal 1431 H (23/09/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://www.rumaysho.com


[1] HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR. Al Hakim 2/51 dalam Mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih. Adz Dzahabi menegaskan bahwa hadits ini shahih.

[3] HR. Muslim no. 2553.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 16/111.

[5] HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Al Irwa’ no. 1734.

[6] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, hal. 304.

[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1424 H, hal. 107.

[8] HR. Tirmidzi no. 3233, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Sumber https://rumaysho.com/1269-dosa-selalu-menggelisahkan-jiwa.html

3 TANDA ORANG BODOH

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata: “Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

1. Bangga diri.

2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.

3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).

Jadi, Orang Pintar itu selalu berupaya membebaskan diri dari 3 Tanda Orang Bodoh di atas, dan juga dari tanda-tanda yg lainnya, seperti bermalas-malasan dalam beramal ibadah dan tidak peduli dengan menuntut ilmu agama, mengharapkan keselamatan n kebahagian di dunia n akhirat tetapi ia berjalan di atas jalan kesesatan, kesengsaraan.

» Di dlm sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yg artinya): “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kpd Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman n amal, pent).” 

» Seorang ahli hikmah berkata: “Engkau berharap keselamatan (di dunia n akhirat), tetapi engkau tidak mengikuti jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidaklah berlayar di tempat yg kering.”

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/592

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Ia wanita tua yang telah kehilangan suami. Setelah suaminya wafat, puteranya yang telah berkeluarga, menitipkannya ke panti jompo. Ia tak mampu mengurusi sang ibu dengan banyaknya kesibukan mencari nafkah dan mengurusi kebutuhan anak dan istrinya.

Sejak ia menitipkan sang ibu di panti itu, atas dasar sibuk, ia tak pernah sempat mengunjungi sang ibu hingga akhirnya pengurus panti menghubunginya dan memberitahukan bahwa ibunya dalam kondisi sekarat.

Bergegas ia memacu kendaraannya untuk dapat segera menemui sang ibu sebelum ia wafat. Setibanya di sana ia memperhatikan tubuh ringkih berbalut tulang itu, benar-benar sekarat sedang merenggang nyawa.

Betapa gembira sang ibu menyambut kedatangan putera yang lama dirindukannya. Kemudian ia berpesan:” duhai puteraku, kumohon padamu kelak untuk membelikan untuk panti jompo ini beberapa kipas angin, kulkas dan carikan pula seorang tukang masak”.

Sang anak anak heran dan bertanya:” duhai bunda, dalam kondisi seperti ini pun bunda masih sibuk memikirkan penghuni panti jompo ini, betapa mulianya hati bunda”.

Ia menjawab:” puteraku..berhari-hari diriku di sini dengan para penghuni panti kepanasan tak dapat tidur karena tidak ada kipas, berhari- hari pula kami di panti ini kelaparan karena tidak ada yang memasak. Daku khawatir jika kelak engkau tua sepertiku, dan diungsikan putera-puteramu ke tempat ini sebagaimana engkau mengungsikanku, engkau kepanasan dan kelaparan bermalam-malam seperti apa yang kurasakan”.

* * *

Dalam hidup ini, kita selalu lalai memberikan hak orang tua. Kita tidak memperhatikan kebutuhan mereka bahkan menyakiti hati mereka dengan perkataan dan perbuatan kita yang kasar. Namun lihatlah betapa kasih tulus mereka abadi sepanjang hayat menyertai kita.

Bagi anda yang masih memiliki orang tua,kasihi mereka dengan tulus, jangam kecewakan mereka di hari tua. Sesungguhnya apa yang kau lakukan terhadap orang tuamu sekarang, itu pula yang dilakukan anakmu padamu kelak.

——————-
Mekkah 28 Rabiul Akhir 1437H/ 07 Feb 2016

Abu fairuz

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/3302-kasih-ibu-sepanjang-masa

Berusaha Untuk Senantiasa Berdzikir

Dzikir merupakan amalan yang agung dan bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa banyak berdzikir kepada-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah dengan  dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Manusia Sangat Butuh Terhadap Dzikir

Manusia memiliki kebutuhan yang sangat besar terhadap dzikir, kapan pun dan di mana pun. Apabila seorang hamba lalai dari berdzikir kepada Allah, maka waktu itu akan menjadi bencana baginya. Dia akan menyesal dengan penyesalan yang besar, baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada suatu waktu yang dilalui oleh seorang hamba sedang ia tidak berdzikir kepada Allah, melainkan akan menjadi penyesalan baginya di hari kiamat.” (Shahih Al-Jami’)

Tercelanya Melalaikan Dzikir kepada Allah

Selayaknya kita berusaha agar kita tidak menjadi orang yang mudah melalaikan dzikir, karena Allah sudah memperingatkan kita tentang bahayanya jika seorang hamba jatuh dalam kelalaian dari berdzikir. Allah ta’ala berfirman, “Dan sebutlah nama Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk  orang-orang yang lalai.” (QS. A-A’raaf: 205)

Begitulah Allah memperingatkan hamba-Nya, Allah mengingatkan kita dengan kasih sayang-Nya, “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Di sini kita harus menyadari bahwa kelalaian dalam mengingat Allah adalah suatu bahaya. Jika kita menjadi orang yang melupakan Allah, maka Allah akan menjadikannya lupa terhadap diri sendiri. Apakah ada seorang hamba yang bisa berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah? Tentu tidak ada.

Seorang hamba juga dapat terhalang dari kebaikan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat karena ia lalai dari berdzikir dan beribadah kepada Allah ta’ala. Oleh karena itu, agar di hati kita tertanam betapa sebenarnya manusia itu sangat butuh terhadap dzikir kepada Allah, kenalilah beberapa keutamaan yang diperuntukkan bagi orang yang berdzikir.

Keutamaan Bagi Orang yang Berdzikir

  1. Mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman di dalam hatinya.

Di tengah kehidupan dunia yang penuh kesibukan dan kesusahan, siapakah yang hatinya tidak ingin merasa bahagia dan tentram? Semua pasti ingin merasakannya. Berdzikirlah,ingatlah Allah dalam setiap keadaan. Baik dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk, maupun berbaring. Orang yang berdzikir kepada Allah hatinya akan merasakan ketenangan dan ketentraman, pikiran juga akan tenang dan nyaman. Semua rasa gelisah dan kegoncangan dalam hati akan hilang karena ia mengingat Rabb-nya dengan lisan yang senantiasa berdzikir. Allah ta’ala berfirman, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

  1. Diselamatkan dari adzab Allah.

Saudariku, kita tahu bahwa adzab Allah adalah suatu penderitaan yang sangat menyakitkan, orang yang berakal tentu ingin dijauhkan darinya. Maka berdzikirlah, Allah akan menyelamatkan kita dari adzab-Nya. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Tiadalah suatu amalan yang dilakukan oleh seorang hamba yang lebih menyelamatnya dari adzab Allah dari pada berdzikir kepada Allah.” (Musnad Ahmad, Shahih)

  1. Allah akan membukakan pintu maaf dan ampunan.

Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-ahzaab: 35).

Seseorang yang senantiasa berdzikir, akan Allah bukakan pintu maaf dan ampunan-Nya atas kesalahan dan dosa-dosanya, menyediakan pahala yang besar dan derajat yang tinggi di dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan:‘Subhaanallahi Wa bihamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya)’ dalam sehari seratus kali, maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih lautan.” (Shahih Bukhari dan Muslim)

  1. Dzikir dapat mengusir setan dan menundukkannya.

Saudariku, dzikir itu dapat membentengi kita dari setan. Sebaliknya,  barangsiapa yang tidak pernah berdzikir, maka setan akan senantiasa mengikutinya sebagaimana seseorang diikuti oleh bayangannya sendiri. “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Rabb yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan yang menyesatkan, maka setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhrab: 36).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Setan itu mendekam di dalam hati manusia, bila ia lupa dan lalai  dari berdzikir kepada Allah. Maka setan akan membisikan kejahatan. Tapi jika berdzikir kepada Allah, setan akan tertahan dan bersembunyi.” Seorang hamba tidak akan bisa melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berdzikir kepada Allah ta’ala.

  1. Seseorang yang banyak berdzikir kepada Allah, akan dijauhkan dari kemunafikan.

Orang-orang munafik itu sangat sedikit berdzikir kepada Allah,“Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit’” (QS. An-Nisa: 142).

  1. Dzikir adalah amalan yang ringan di lisan, tapi berat di timbangan.

Orang yang berdzikir akan mendapatkan pahala dan karunia dari Allah yang tidak pernah didatangkan dari amalan lainnya. Padahal, berdzikir merupakan ibadah yang paling ringan di lisan, yang gerakannya lebih ringan daripada anggota tubuh lainnya. Jika anggota badan melakukan ibadah sehari semalam seperti geraknya lisan, niscaya akan sangat berat baginya.

Macam-macam Ucapan Dzikir

  1. Dalam Shahihnya Bukhari dan Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kalimat yang ringan di lidah tetapi berat di timbangan, dan amat dicintai oleh Allah: ‘Subhaanallahi Wa Bihamdihi, Subhaanallahil Adziim.” Dalam riwayat yang sama juga disebutkan bahwa ucapan ini akan ditanamkan baginya sebuah tanaman pohon kurma di surga.
  1. “Barangsiapa mengucapkan, ‘subhaanallahi wa bihamdihi’ dalam sehari seratus kali, maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun seperti buih lautan.” (Shahih Bukhari dan Muslim)
  1. “Barangsiapa mengucapkan: ‘laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadhir’, seperti orang yang membebaskan empat orang budak dari keturunan Ismail.” (Shahih Bukhari dan Muslim)
  1. Istighfar, memohon ampun kepada Allah ta’ala dan senantiasa bertaubat atas dosa-dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam satu hari seratus kali.” (HR. Muslim)

Serta masih ada ucapan dzikir yang lainnya yang telah shahih diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana Tata Cara Rasulullah dalam Berdzikir?

Selain diucapkan dengan lisan, hati juga tidak boleh lalai dalam memahami maknanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menghitung jumlah dzikir dengan tangan kanannya. Dari Abdullah bin ‘Amru radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Aku pernah melihat Nabi menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

[Lina Lusiana]

Referensi:

  1. Syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, 1431 H/2010, Fiqih Do’a dan Dzikir Jilid 1, Pustaka Darul Ilmi.
  2. Said bin Ali bin Wahf Al- Qahthani, 2015, Hisnul Muslim, At Tibyan.

sumber: https://muslimah.or.id/10189-berusaha-untuk-senantiasa-berdzikir.html

Ilmu Dulu, Baru Amal

Oleh 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan. 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kita sering menemukan sebagian da’i memiliki perhatian terhadap dakwah ke jalan Allah dan ukhuwah di jalan Allah serta saling mencintai di dalamnya, namun tidak memperhatikan persoalan ilmu dan tafaqquh dalam perkara-perkara Ad-Dien dan aqidah serta dalam menghadiri majlis-majlis ilmu, maka apakah komentar Syaikh terhadap hal ini ?

Jawaban 
Komentar saya terhadap hal itu adalah : Saya mengatakan bahwa bekal paling pertama yang wajib dipegangi oleh seorang da’i adalah hendaknya menjadi seorang yang ‘alim (berilmu). Karena meremehkan urgensi ilmu artinya seseorang akan tetap dalam kondisi bodoh, dan dakwahnya menjadi buta tanpa mengetahui apa yang benar di dalamnya.

Jika dakwah itu berdiri di atas kebodohan maka setiap orang akan memberikan hukum sesuai dengan apa yang didiktekan oleh akalnya, yang ia sangka benar padahal salah. Maka saya berpendapat bahwa pandangan ini adalah salah ! Wajib ditinggalkan, dan hendaknya seseorang tidak berdakwah kecuali setelah mempelajaari (apa yang ia akan dakwahkan). Oleh karena itu Imam Al-Bukhari Rahimahullah telah membuat bab yang semakna dengan ini dalam kitab Shahihnya dengan menuliskan : Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal, lalu beliau menjadikan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) meliankan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” [Muhammad/47 : 19]

Maka seseorang haruslah mengetahui terlebih dahulu lalu kemudian mendakwahkannya.

Adapun dakwah tanpa landasan ilmu tidak akan istiqomah (konsisten) selamanya. Tidakkah anda melihat jika kita keluar dari Jeddah dan berangkat menuju Riyadh, lalu kita menunjuk seseorang yang kita ketahui sebagai orang yang memiliki prilaku dan niat yang baik, lalu kita katakan padanya : “Kami ingin anda menunjukkan pada kami jalan ke Riyadh”. Namun ia sebenarnya tidak mengetahui jalannya. Maka iapun membawa kita ke perjalanan yang jauh dan panjang, hingga kita letih dan lelah, dan hasilnya adalah bahwa kita tidak sampai ke kota Riyadh. Kenapa ? Karena orang itu tidak mengetahui jalannya.Baca Juga   Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga

Maka bagaimana mungkin dapat menjadi petunjuk jalan untuk (mengetahui) syari’at seseorang yang tidak mengetahui syari’at tersebut ? Ini tidak mungkin selama-lamanya.

[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

sumber: https://almanhaj.or.id/1413-dakwah-tanpa-ilmu-tidak-akan-istiqomah-selamanya.html

[Kitabut Tauhid 3] 28. Makna Kalimat Tauhid 28

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu : al-hubbu (cinta), al-khauf (takut), dan ar-rajâ’ (harapan).
  • Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- menuntut ittiba’ (mengikuti) kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Sedangkan ittiba’ kepada Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- menyebabkan kecintaan Allâh -‘Azza wa Jalla- kepada hamba.                                                                                                                              

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“