Hati Kuat, Andapun Selamat!

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,ama ba’du,

Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang pasti terjadi

Ingatlah saudaraku! Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang benar adanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal ini dalam sabdanya,

لِقَاؤُكَ حَقٌّ

“Perjumpaan dengan-Mu adalah sebuah kebenaran”. [HR. Muslim].

Hendaknya keyakinan ini terpatri dalam hati seorang hamba Allah, bahwa ia pasti akan menghadap Rabbnya dan berjumpa dengan-Nya untuk dihisab amalnya serta mempertanggungjawabkan perbuatannya sewaktu di dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى}

(31) Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (Surga).[An-Najm:31].

Sobat, menghadirkan keyakinan ini dengan sempurna pada diri seorang kita, akan melahirkan sikap berusaha senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hari perjumpaan tersebut.

Karena seorang muslim yang baik dan yakin akan berjumpa dengan Rabbnya, iapun yakin akan dihisab serta dibalas amalnya, tentulah berusaha mencari bekal untuk bisa menghadap kepada Allah dengan selamat.

Pangkat, jabatan, kekuasaan, harta benda dan keturunan, tidak bermanfaat sedikitpun, jika seseorang tidak membawa hati yang sehat, sebuah hati yang berisi keimanan yang benar sehingga membuahkan amal sholeh yang diterima oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat[QS. Asy-Syu’araa`:88-89].

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan dua ayat di atas di dalam kitab tafsir beliau:

Firman Allah :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

 Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

maksudnya : harta seseorang tidaklah bisa melindunginya dari adzab Allah, walaupun ditebus dengan sepenuh bumi emas. 

{وَلَا بَنُونَ}

dan anak-anak laki-laki ”,

maksudnya: meskipun ditebus dengan semua anak-anak laki-laki yang ada di muka bumi.

Pada hari itu, tidaklah bermanfaat kecuali keimanan kepada Allah, memurnikan ketaatan untuk-Nya semata (ikhlas) dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Oleh karena itu, Allah berfirman: 

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”,

maksudnya: selamat dari kotoran (dosa) dan kesyirikan”[1. Tafsir Ibnu Katsir: 4/94].

Tabi’in yang mulia, Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah menafsirkan qolbun salim dengan perkataan beliau:

القلب السليم : هو القلب الصحيح ، وهو قلب المؤمن; لأن قلب [ الكافر و ] المنافق مريض ، قال الله : { في قلوبهم مرض } [ البقرة : 10 ]

“Qolbun salim adalah hati yang sehat. Hati tersebut adalah hati seorang mukmin, karena hati [orang kafir dan] orang munafik adalah hati yang sakit, Allah Ta’ala berfirman:

{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا}

(10) Dalam hati mereka ada penyakit. [QS. Al-Baqarah:10]” [2. Tafsir Ibnu Katsir: 4/94].

Hati yang sehat adalah hati yang kuat!

Dari uraian sebelumnya, ketika Anda tahu bahwa orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehatlah yang bisa selamat berjumpa dengan Rabb mereka, maka muncul sebuah pertanyaan : “Bagaimana hati yang sehat itu?”. 

Jawabannya: “Hati yang sehat adalah hati yang memiliki kekuatan hati yang baik!”.

Lantas, “Apakah yang dimaksud dengan kekuatan hati itu?”.

Simaklah uraian sang dokter hati, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang indah: Ighatsatul Lahfan berikut ini:

الباب الخامس:  فى أن حياة القلب وصحته لا تحصل إلا بأن يكون مدركا للحق مريدا له، مؤثرا له على غيره

“Bab yang kelima: Tentang kehidupan hati dan kesehatannya tidak akan diperoleh kecuali dengan mengenal kebenaran lagi menginginkannya serta memilihnya, mengalahkan selainnya”.

لما كان فى القلب قوتان: قوة العلم والتمييز، وقوة الإرادة والحب. كان كماله وصلاحه باستعمال هاتين القوتين فيما ينفعه، ويعود عليه بصلاحه وسعادته.

Tatkala dalam hati terdapat dua kekuatan hati, yaitu: 

  • Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz].
  • Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb], 

maka kesempurnaan dan kebaikan hati itu diperoleh dengan menggunakan dua kekuatan ini dalam perkara yang bermanfaat bagi hati dan dalam perkara yang kebaikan dan kebahagiaan hati tersebut kembali kepadanya”. 

Cara menggunakan kekuatan hati dan merawatnya

Kemudian sang dokter hati pun menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan dua kekuatan hati itu dengan benar, sehingga terjaga dengan baik?

Inilah penjelasan beliau tentang cara menggunakan kekuatan hati pertama, yaitu: Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz],

فكماله باستعمال قوة العلم فى إدراك الحق، ومعرفته، والتمييز بينه وبين الباطل

Kesempurnaan hati diperoleh dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk menemukan dan mengenal kebenaran (dengan baik) serta membedakan antara kebenaran dengan kebatilan (dengan baik).

Adapun tentang cara menggunakan kekuatan hati kedua: 

Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb],

وباستعمال قوة الإرادة والمحبة فى طلب الحق ومحبته وإيثاره على الباطل 

(Kesempurnaan hati diperoleh) dengan menggunakan kekuatan kehendak dan cinta dalam mencari kebenaran dan mencintainya serta memilihnya, mengalahkan selainnya.

Akibat buruk jika salah dalam  menggunakan kekuatan hati

Lalu beliaupun menjelaskan akibat buruk orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar serta menjelaskan pula akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar,

فمن لم يعرف الحق فهو ضال، ومن عرفه وآثر غيره عليه فهو مغضوب عليه. ومن عرفه واتبعه فهو مُنْعَمٌ عليه

  • Maka barangsiapa yang tidak mengenal kebenaran[3. Tidak menggunakan kekuatan ilmu dengan baik], berarti dia telah sesat,
  • barangsiapa yang tahu kebenaran, namun memilih kebatilan, maka dia menjadi orang yang dimurkai (oleh Allah),
  • dan barangsiapa yang mengenal kebenaran dan mengikutinya, maka dia lah orang yang diberi nikmat (oleh Allah).

Perbedaan antara umat Islam, yahudi dan nashara dalam menggunakan kekuatan hati

Setelah dijelaskan bahwa akibat buruk itu bagi orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar, 

dan sebaliknya, akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, maka pantaslah jika Allah memerintahkan kita ketika sholat, untuk senantiasa memohon petunjuk:

  1. Agar menjadi orang-orang yang mendapatkan nikmat-Nya, berupa: ilmu tentang agama-Nya dan amal shaleh. Mereka inilah yang  menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, yaitu: kekuatan ilmu dan kekuatan kehendak yang membuahkan amal sholeh.
  2. Serta memohon agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang dimurkai oleh Allah, karena tidak mengamalkan kebenaran yang telah diketahui oleh mereka (al-maghdhub ‘alaihim), seperti kaum yahudi yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan kehendak dan cinta.
  3. Serta dihindarkan dari jalan orang-orang yang sesat, karena tidak berilmu tentang kebenaran (adh-dhaalluun), seperti nashara yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan ilmu mereka.

Oleh karena itulah, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah berkata:

من فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى، ومن فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود؛ لأن النصارى عبدوا بغير علم، واليهود عرفوا الحق وعدلوا عنه. 

Barangsiapa yang rusak diantara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan nashara, Barangsiapa yang rusak diantara ulama kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan yahudi, karena nashara beribadah tanpa ilmu dan yahudi mengetahui kebenaran, namun berpaling darinya.

Hati kuat, Andapun selamat!

Allah Ta’ala mengkabarkan kepada kita tentang hamba-hamba-Nya yang selamat dari kerugian, dalam salah satu surat Alquran yang singkat namun padat makna. 

Hamba-hamba-Nya yang selamat di dalam surat itu adalah profile orang-orang yang memiliki dua kekuatan hati dan mampu menggunakan keduanya dengan benar!

Mereka adalah tipe orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, sehingga sempurna dirinya dengan ilmu agama Islam dan amal shaleh.

Tidak cukup itu, mereka juga berusaha menyempurnakan orang lain dengan mengajak dan mendakwahi mereka untuk berilmu, beramal dan bersabar di atas jalan ilmu, amal dan dakwah.

Sobat, mari kita renungkan surat Al-‘Ashr berikut ini,

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa -yang itu merupakan waktu untuk beramal, baik amal yang menguntungkan maupun amal yang merugikan- bahwa setiap orang dalam keadaan merugi kecuali :

  1. Orang yang menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan beriman kepada Allah dan kekuatan amaliahnya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Maka ini kesempurnaan dirinya sendiri.
  2. Kemudian menyempurnakan orang lain dengan nasehat dan perintahnya kepadanya agar orang lain tersebut sempurna kekuatan ilmiah dan amaliahnya (seperti dirinya,pent.).
  3. (Dan nasehatnya) berupa pilar utama itu semua, yaitu: kesabaran.

Jadi, ia menyempurnakan dirinya sendiri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh dan menyempurnakan orang lain dengan mengajarkan (kedua) hal itu kepadanya.

Serta nasehatnya kepada orang lain tersebut agar bersabar di atas jalan itu”.

Ucapan emas bagi orang yang menyayangi hatinya

Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur:

“Hendaknya (seorang hamba) ketahui bahwa kedua kekuatan (hati) ini, tidak pernah berhenti beraktifitas, bahkan (kemungkinan yang ada) yaitu :

  • Jika tidak ia gunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengenal kebenaran dan mencarinya, maka ia akan gunakan kekuatan tersebut untuk mengetahui sesuatu yang selaras dan cocok dengan kebatilan.
  • Begitu pula, jika tidak ia gunakan kekuatan kehendak amalnya untuk beramal shaleh, maka ia akan gunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan amal shaleh.

Jadi, (Kesimpulannya) bahwa manusia itu, secara tabiat, disifati dengan “Harits” dan “Hammam”, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wa alihi wa sallam,

“أَصْدَقُ الأَسْمَاءِ: حَارِثٌ وَهَمَّامٌ”.

“Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam” [4. Shahih, HR. Abu Dawud dan yang lainnya].

Harits adalah orang yang (suka) beraktifitas.

Sedangkan Hammam adalah orang yang banyak berkeinginan/selera (“ham”)[5. “Ham” itu permulaan dari sebuah kehendak dan cikal bakalnya].

Karena, sesungguhnya jiwa itu sifatnya dinamis dan gerakan kehendak jiwa itu (hakekatnya) adalah bagian dari konsekwensi dzatnya[6. Sehingga ada terus sepanjang hidupnya].

Sedangkan kehendak itu mengharuskan bahwa sesuatu yang dikehendaki akan tergambar pada jiwanya dan memiliki keistimewaan tersendiri menurut jiwanya.

Jadi, jika jiwa (manusia) tidak menggambarkan kebenaran, mencarinya dan menghendakinya,maka akan menggambarkan kebatilan, mencarinya dan menghendakinya. Dan itu pasti!”

***

Disusun dari : Ighatsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan,Ibnul Qoyyim, bab kelima

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Sumber: https://muslim.or.id/27123-hati-kuat-andapun-selamat.html

Sadarilah Dunia Itu Melenakan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul junjungan; Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Indah dan melenakan. Itulah dunia. Karena itu, tak sedikit yang sengsara dibuatnya. Ada yang celaka, ada juga yang terhina. Andaikata ada yang bahagia karena dunia, itu hanya sementara. Karenanya, kita harus senantiasa waspada. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan menjadi korban berikutnya. Waspadalah..waspadalah..! Berikut ini catatan penting tentang dunia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

  1. Dunia dengan segala kemegahan dan keindahannya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan akhirat. Camkanlah firman Allah berikut ini (Q.s. at-Taubah [9]: 38), yang artinya: “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” Berapa banyak yang mampu manusia peroleh dari kepuasan itu? Padahal umurnya hanya sebentar. Jika ia memilih kenikmatan yang sedikit itu, maka di akhirat kelak tidak ada tempat yang pantas baginya, melainkan neraka.مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.s. Hûd [11]: 15-16).
  1. Apa yang menjadi bagian manusia di dunia ini pasti akan diberikan kepadanya, tanpa dikurangi sedikitpun dari haknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berikut ini.فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا“Sesungguhnya tiap jiwa tidak akan dicabut nyawanya hingga disempurnakan rezekinya, meskipun itu terlambat” (HR. Ibnu Majah. Menurut Syaikh Albani, hadis ini sahih).
    Jika demikian, lantas apa sebenarnya yang membuat manusia menjadi tamak terhadap dunia? Bukankah masing-masing sudah ada jatahnya. Tidak berlebih dan tidak berkurang?
  2. Siapa pun yang tamak terhadap dunia, hingga membuatnya mengambil hak orang lain, atau membuat perhatiannya hanya tertuju pada dunia semata melebihi batas kewajaran, maka secara otomatis ia akan menyia-nyiakan akhiratnya. Yang mengakibatkan ia dilempar ke dalam api neraka. Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Pada hari kiamat kelak akan didatangkan seorang penduduk neraka; dulu ketika di dunia ia adalah orang yang paling enak hidupnya. Lantas dicelupkan ke dalam neraka sekali celup. Kemudian ditanyai, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?” Ia pun menjawab, “Belum pernah, wahai Tuhan, sedikitpun” (H.r. Muslim dan Ahmad).
    Hanya sekali celupan dalam siksaan, ia telah melupakan kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang dulu pernah dirasakannya di dunia. Itu pun cuma satu celupan. Nah, bagaimana kalau azab akhirat itu adalah sesuatu yang akan ia rasakan untuk selama-lamanya? Bukankah ia akan hidup dalam kesengsaraan yang abadi?
  3. Orang yang orientasinya akhirat tidak akan merugi di dunia. Bahkan, ia justru akan mendapatkan bagian dunia dan akhirat sekaligus. Maka adalah suatu kebodohan jika kita hanya memfokuskan amalan kita untuk mengejar dunia. Seperti firman Allah berikut ini (Q.s. al-Baqarah [2]: 200): Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Sedangkan orang yang berakal pasti akan memanjatkan doa dengan redaksi berikut.وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.s. al-Baqarah [2]: 201). Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.
  4. Amalan yang berorientasi akhirat adalah sebab seseorang memperoleh kebahagiaan di dunia. Lalu kenapa banyak orang yang menyia-nyiakan dua kebahagiaan ini? Itu tidak lain karena mereka berpaling dari tuntunan Allah ‘Azza wa Jalla. Renungilah firman-Nya berikut (Q.s. Thâhâ [20]: 123-127), yang artinya: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka; Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”; Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan,” Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
    Maka siapa saja yang beramal hanya untuk dunia, baginya penghidupan yang sempit, dan di akhirat kelak ia akan disiksa dalam azab yang pedih. Adapun jika ia beramal untuk akhirat, baginya sebenar-benar penghidupan di dunia dan akhirat sekaligus.
  5. Orang yang “matian-matian” mengejar dunia, pada hakikatnya hanyalah mewujudkan hasil yang sudah ditentukan. Atau, dengan kata lain mengejar sesuatu yang pasti akan sampai ke pemiliknya, tanpa dikurangi sedikit pun. Oleh karena itu, apa pun yang ia lakukan tidak akan memengaruhi bagian yang telah ditentukan untuknya. Layaknya seorang yang masuk ke sebuah kebun, lalu merasa takjub dengan apa yang ada di dalamnya. Namun, ia justru sibuk melobi pegawai dan pemilik kebun; meminta dispensasi perpanjangan jam berkunjung. Ketika bel berbunyi tanda jam berkunjung telah habis, ia baru tersentak kaget, sebab ia belum berhasil dengan usaha lobinya. Dan Ia pun diminta keluar dengan perasaan terhina. Bahkan sekadar mencicipi buah yang ada di kebun itu pun ia belum sempat.
    Begitu juga keadaan orang yang masuk ke dalam kebun yang bernama dunia. Ia akan tersibukkan oleh keindahan dan kemegahan yang ada. Lalu berusaha memperpanjang masa kontraknya dengan mencari ‘obat ampuh’ ke sana-ke mari demi memperpanjang umur. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil. Justru, ia dikegetkan oleh kedatangan malaikat maut yang akan mencabut nyawanya, telah berdiri di depan matanya seraya membisikkan sebuah kata di telinganya, “Waktumu sudah habis. Kesempatanmu di dunia ini sudah habis. Ajalmu telah tiba. Keluarlah engkau secara suka rela. Atau kalau tidak, engkau akan dipaksa”.وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.) Lalu ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Kemudian datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (Q.s. Qâf [50]: 19-22).

Orang berakal berusaha menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya demi sebuah kebahagiaan yang hakiki. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang berakal adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, menurut adz-Dzahabi hadis ini sahih, sedangkan menurut Syeikh al-Albani dha’if).

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

***

Penulis: Abu Hasan Abdillah, BA., MA.

Sumber: https://muslim.or.id/24899-agar-dunia-tak-memenjara-6-sadarilah-dunia-itu-melenakan.html

WANITA yang Cantik

WANITA yang Cantik Kulitnya, akan Takut Terbakar Panas Matahari,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Akhlaknya akan Takut Terbakar Api Neraka..

WANITA yang Cantik Wajahnya akan Berseri- seri Menikmati Duniawi,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Hatinya akan Tunduk, Patuh dan Takut pada Illahi.

WANITA yang Cantik Dirinya, akan Menangis jika Dunia pergi Darinya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Jiwanya akan tercukupi Hidupnya dengan Aqidahnya..

WANITA yang Cantik Hidupnya akan Bangga dengan Kemewahaannya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik akhiratnya akan Berpuasa dan Bersedekah dengan Hartanya..

Dan WANITA yang Cantik Zamannya, akan mengikuti Akal, Nafsu dan Segala kehendaknya,,
Sedangkan,,
WANITA yang Cantik Waktunya, akan menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Soleh untuknya.. 

sumber: https://firanda.com/1034-wanita-yang-cantik.html

INILAH ORANG CERDAS YANG SEBENARNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, pent).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya HASAN dengan semua jalan periwayatannya). 

2. Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

“Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya.” (Hadits ini sanadnya dinyatakan DHO’IF oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani dan syaikh Al-Albani rahimahumallah).

3. Oleh karenanya, beliau memerintahkan para sahabat dan umat Islam agar senantiasa mengingat kematian, sebagaimana sabda beliau:

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (dunia). Yakni kematian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Ibnu Hibban).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yg dapat kami sampaikan pd hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

sumber: https://abufawaz.wordpress.com/2013/12/19/inilah-orang-cerdas-yang-sebenarnya/

Berikan Harapan Besar untuk Mendapatkan Firdaus

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi agar umatnya meminta kepada Allah surga firdaus. Mungkin ada orang berkomentar, “Surga, surga, tapi ngaca diri dong.. masak minta surga yang paling tinggi?”

Ini kesalah pahaman. Dalam masalah akhirat, kita diminta untuk mencari yang terbaik. Bukan pesimis. Agar manusia terpacu untuk selalu berlomba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat paham, ketaqwaan umatnya tidak sama. Sehingga balasan yang mereka terima akan berbeda. Namun beliau memotivasi mereka untuk minta Firdaus, menumbuhkan optimis mereka untuk mendapatkan yang terbaik di akhirat.

Al-Mubarokfury mengatakan,

يدل هذا على أن الفردوس فوق جميع الجنان ولذا قال صلى الله عليه وسلم تعليما للأمة وتعظيما للهمة ” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ”

Ini menunjukkan bahwa firdaus berada di atas semua tingkatan surga. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengajarkan umatnya dan memperbesar harapan untuk mereka, “jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus”. (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, 7/201)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

selengkapnya:  https://konsultasisyariah.com/26628-firdaus-surga-paling-tinggi.html

Keutamaan Meredam Amarah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ عَذَابَهُ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa  yang meredam amarahnya maka Allah akan menahan dia dari siksaan-Nya.”([1])

Status Hadits

Hadits ini secara sanad adalah hadits yang lemah karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Khalid Ibnu Burd. Perawi ini adalah perawi yang lemah, Imam Bukhari ketika menyebutkan biografi Khalid Ibnu Burd dalam At-tarikh Al-Kabir, beliau berkata, “Dia tidak bisa diikuti”, artinya tidak bisa dikuatkan (lemah). Adz-Dzahabi juga mengomentari Khalid Ibnu Burd dengan mengatakan bahwa dia perawi yang majhul sehingga hadits ini adalah hadits yang lemah. Demikian juga syahid yang didatangkan oleh Ibnu Hajar berharap, sanadnya lemah sehingga kita tidak bisa menjadikan dua hadits ini sebagai dalil.([2])

Namun hadits ini dikuatkan dengan hadits yang lain dari jalur sahabat Ibnu ‘Umar i. Rasulullahﷺ  bersabda,

مَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ

“Barang siapa  yang meredam amarahnya Allah akan menutup auratnya.”([3])

Selain itu, kita ketahui bahwasanya berusaha meredam amarah akan mendatangkan pahala yang besar dari Allah ﷻ. Dan di antaranya orang yang meredam amarah adalah termasuk dari ciri-ciri penghuni surga, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”([4])

Hadits tersebut juga apabila ditinjau dari sisi makna adalah benar karena kembali kepada kaidah umum, al-jazaa’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan perbuatan). Anda ingin memukul orang lain lantas tidak jadi karena Anda meredamnya, maka Anda pun tatkala ingin diazab oleh Allah ﷻ lantas tidak jadi diazab. Inilah faedah yang sangat mulia dari menahan amarah. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الخَلاَئِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الحُورِ شَاءَ

“Barang siapa  yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan memanggil dia pada hari kiamat di hadapan khalayak, sampai Allāh mempersilahkan dia memilih bidadari mana yang dia sukai.”([5])

Makna Hadits

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan meredam amarah yang memiliki berbagai keutamaan. Bahkan Allah ﷻ mengkhususkan penyebutannya di dalam Al-Quran tatkala menyebutkan beberapa ciri penghuni surga,

…… وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”([6])

Disebutkan oleh para ahli bahasa كَظْمُ الْغَيْظِ maknanya mengikat (menutup) tempat air (al-kirbah) ketika air sudah penuh. Al-Kirbah adalah tempat air orang-orang zaman dahulu yang terbuat dari kulit. Sehingga maksud dari ayat ini adalah orang yang berusaha menahan amarahnya ketika amarahnya mulai memuncak. Perkara ini adalah perkara yang menakjubkan karena dia menahan amarahnya tersebut ketika sudah mulai memuncak, bukan menahan di awal kali munculnya. Dan telah berlalu pembahasan tentang orang-orang yang meredam amarah yang mana dia akan mendapatkan keutamaan dan pahala yang sangat banyak. Kita tidak akan mengulangi pembahasan tersebut. Di dalam hadits ini dikatakan bahwa Barang siapa  yang meredam amarahnya maka Allah akan menahan azab-Nya.

Akhlak Mulia Sebab Masuk Surga

Hendaknya selalu diingat bahwasanya masuk surga itu bukan cuma karena bersedekah, shalat malam, banyak puasa sunah dan shalat sunah, tetapi akhlak yang mulia adalah di antara perkara yang paling cepat memasukkan ke dalam surga. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia.”([7])

Dan di antara akhlak mulia adalah meredam amarah. Meredam amarah bukanlah perkara sepele. Terkadang sebagian orang sering muncul pada dirinya hal-hal yang bisa membuatnya marah dan jengkel. Apabila dia selalu berusaha untuk menahan maka dia akan mendapatkan pahala. Semakin banyak kemarahan yang dia redam semakin banyak pula pahala yang dia dapatkan. Di antara bukti bahwasanya meredam amarah bukanlah perkara yang remeh, yaitu Allah ﷻ menyebutkannya di dalam Al-Quran ketika menyebutkan sifat-sifat penghuni surga. Allah ﷻ berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“..yaitu orang-orang yang meredam amarah dan orang yang memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia.”([8])

Hal ini menunjukkan bahwasanya Islam sangat menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Semakin ada sebab yang bisa menimbulkan amarah kemudian kita selalu meredamnya maka semakin besar pahala yang menanti. Yang tadinya Allah ﷻ seharusnya mengazab kita, namun tidak jadi karena kita berusaha meredam dan tidak melampiaskan amarah kita.

Footnote:

([1]) HR. Ad-Daulaby no. 1071.

([2]) Lihat Minhatul Alam 10/276.

([3]) HR. Thabarani no. 13646.

([4]) QS. Al-Imran: 133-134.

([5]) HR. Tirmidzi no. 2493.

([6]) QS. Al-Imran : 134.

([7]) HR. Tirmidzi no. 2002, hadits ini hasan sahih.

([8]) QS. Al-Imran: 134.

sumber: https://bekalislam.firanda.com/6498-keutamaan-meredam-amarah-hadis-26.html

Jangan Menunggu Imam Berdiri

Oleh : Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, MHI

📘 JANGAN MENUNGGU IMAM BERDIRI 📗

Ketika seorang makmum tertinggal takbiratul ihram bersama imam (masbuk), lalu tidaklah ia mendapati imam melainkan dalam keadaan sedang rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud atau posisi shalat lainnya, ketika dalam keadaan demikian, hendaklah ia mengerjakan apa yang sedang dikerjakan imam. Apabila imam sedang rukuk, hendaklah ia rukuk. Ketika imam ia sedang duduk, hendaklah ia duduk. Begitu pula apabila dia sedang sujud, maka hendaklah ia sujud. Namun, jangan lupa untuk mengawali shalat dengan takbiratul ihram sebelum berpindah ke posisi yang sedang dikerjakan imam. Sebab takbiratul Ihram termasuk rukun shalat, dimana apabila ditinggalkan maka tidak akan sah shalat seseorang.

Berikut ini beberapa keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar permasalahan tersebut: 

🔸 PERTAMA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوْا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila kalian mendengar Iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang, santai dan tidak tergesa-gesa. Apa yang sedang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang terlewatkan maka sempurnakanlah”. 

(HR. Bukhari, Muslim dll.)

🔸 KEDUA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوْهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوْهَا تَمْشُوْنَ عَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا.

“Jika Iqamah dikumandangkan, maka janganlah kalian mendatangi shalat dengan tergesa-gesa, tetapi berjalanlah dengan tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah, dan apa yang terlewatkan maka sempurnakanlah”. 

(HR. Bukhari, Muslim dll.)

🔸 KETIGA

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَالإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ.

“Apabila salah seorang dari kalian datang untuk shalat sementara imam berada dalam suatu posisi, maka lakukanlah sebagaimana yang sedang dilakukan imam”. (Hadis Sahih riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga dimudahkan meneladani sifat shalat sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

✅ Bagian Indonesia 

🏠 DAMMAM KSA

📅 [ 08/06/1437 H ]

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/3498-jangan-menunggu-imam-berdiri