Waktu Tidur Ideal Seorang Muslim

Waktu Tidur Setelah Shalat Isya

Waktu tidur ideal bagi seorang muslim adalah langsung tidur sebisa mungkin setelah shalat Isya, akan tetapi apabila ada kegiatan yang lebih mashlahat dan untuk kebaikan, ia boleh melakukan aktivitas yang bermanfaat setelah shalat isya seperti belajar, menerima tamu, berbincang-bincang dengan  keluarganya, tentu hendaknya tidak begadang sampai larut.

Dalil tidur setelah isya berdasarkan hadits makruhnya berbincang-bincang setelah shalat Isya, Dari Abu Barzah radhiallahu ‘anhu

أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – كان يكرهُ النَّومَ قَبْلَ العِشَاءِ والحَديثَ بَعْدَهَا

 “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum shalat ‘Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya.” [HR. Bukhatri & Muslim]

Syaikh Abdulah Al-Faqih menjelaskan,

فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم ينام أول الليل بعد العشاء، إذ كان يكره النوم قبل العشاء والحديث بعدها

“Adalah kebiasaan Nabis shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di awal malam setelah salat Isya, karena dimakruhkan tidur sebelum shalat Isya dan berbincang-bincang setelahnya.” [Fatawa As-Syabakiyyah no. 251950]

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur di awal malam bermanfaat bagi kesehatan, beliau berkata:

وأنفع النوم : ما كان عند شدة الحاجة إليه ، ونوم أول الليل أحمد وأنفع من آخره

“Tidur yang paling bermanfaat adalah tidur ketika sangat mengantuk, tidur di awal malam paling baik dan paling bermanfaat dari lainnya.” [Madarijus Salikin 1/459-460]

Berbincang-Bincang Setelah Isya

An-Nawawi menjelaskan bahwa hukum asal berbincang-bincang setelah isya adalah makruh, akan tetapi apabila ada mashlahat dengan berbincang-bincang maka tidak diperbolehkan. Beliau berkata:

قال العلماء : والمكروه من الحديث بعد العشاء هو ما كان في الأمور التي لا مصلحة فيها ، أما ما فيه مصلحة وخير فلا كراهة فيه ، وذلك كمدارسة العلم وحكايات الصالحين ومحادثة الضيف والعروس للتأنيس ومحادثة الرجل أهله وأولاده للملاطفة والحاجة ومحادثة المسافرين

“Para ulama berkata: makruh hukumnya berbincang-bincang setelah Isya, apabila pada perkara yang tidak ada mashlahatnya. Adapun apabila ada mashlahatnya maka baik dan bukan makruh. Misalnya seperti mempelajari ilmu, menceritakan kisah orang shlaih, berbincang-bincang dengan tamu, acara pernikahan, berbincang-bincang dan beramah-tamah dengan istri dan anak-anaknya dan perbincangan antar musafir.” [Syarah Muslim, 5/149]

Catatan Penting

  1. Hendaknya berbincang-bincang setelah Isya tidak sampai begadang, karena Allah menjadikan malam sebagai waktu istirahat utama.

Allah berfirman,

 وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً

“dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. [An Naba’ : 10]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكره النوم قبل صلاة العشاء والحديث بعدها وإذا أطال الإنسان السهر فإنه لا يعطي بدنه حظه من النوم، ولا يقوم لصلاة الصبح، إلا وهو كسلان تعبان، ثم ينام في أول نهاره عن مصالحة الدينية والدنيوية، والنوم الطويل في أول النهار يؤدي إلى فوات مصالح كثيرة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya dan berbincang-bincang (tidak bermanfaat) setelahnya. Jika seseorang begadang semalaman dan tidak memberikan hak tidur kepada badannya, bahkan tidak shalat subuh kecuali bangn dengan tubuh yang lelah dan malas, kemudian tidur di awal hari, maka ia telah kehilangan mashlahat yang banyak.”[ Liqaa’ Asy syahri 1/333] 

  1. Pola kehidupan kita di zaman ini menyebabkan tidak memungkinkan melakukan sunnah ini terus-menerus, yaitu langsung tidur setelah isya, akan tetapi hendaknya seorang muslim pernah sesekali melakukan sunnah tidur setelah isya agar lebih mudah bangun shalat malam

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/51745-waktu-tidur-ideal-seorang-muslim.html

Beri kesempatan anak menangis

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata
.
” إنَّ من جُملة الأدب والتَّربية بالنِّسبة للصِّبيان
أنَّهُ إذا أراد أنْ يبكي
أنْ يترك يبكي مدَّةً قصيرةً من أجل أنْ يرتاح؛
لأنَّه يُخرج ما في قلبه،
لكن لو أسكته صار عنده كبت وانقباض نفسي
.
Termasuk tata cara dan memberikan pendidikan kepada anak, ketika anak ingin menangis dibiarkan sementara waktu agar si anak merasa tenteram.
.
Sebab ketika anak menangis itu sedang mengeluarkan isi hatinya, tetapi ketika anak menangis dimarahi agar berhenti menangis, akan keluar rasa tidak nyaman dan mengganggu jiwa nya anak tersebut.

📚 Asy-Syarhul Mumti’ : 5/393.

repost: @parentingmuslimid

Memakai Behel Gigi

Pertanyaan:
Assalamualaikum. Ustadz, saya masih SMP mau bertanya, memakai behel gigi dalam agama Islam boleh atau tidak? Haram atau tidak? Terima kasih

Dari: Octorush

Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’du.
Hukum asalnya merubah sesuatu yang Allah ciptakan pada diri seseorang adalah dilarang, berdasarkan firman Allah,

وَلأَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللهِ

“Dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya.” (QS. An-Nisa: 119).
Ayat ini menjelaskan bahwa merubah ciptaan Allah termasuk sesuatu yang haram dan merupakan bujuk rayu setan kepada anak Adam yang melakukan kemaksiatan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud, ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang mencabut (alisnya), menata giginya agar terlihat lebih indah yang mereka itu merubah ciptaan Allah.

Hadis ini merupakan laknat (dari rasulullah .pen) kepada wanita-wanita yang mencabut alisnya dan menata giginya dikarenakan mereka telah merubah ciptaan Allah. Dalam riwayat yang lain dikatakan, orang-orang yang merubah ciptaan Allah.
Namun, dalam beberapa hal ada pengecualian yang dibolehkan oleh syariat. Seperti dalam keadaan darurat dan mendesaknya kebutuhan, maka tidak mengapa merapikan gigi karena suatu hal yang darurat dan kebutuhan. Darurat dalam kategori syariat yaitu gigi yang ompong atau gingsul, yang perlu diubah karena sulit mengunyah makanan atau agar berbicara dengan fasih dll. Dalil mengenai hal ini adalah ‘Arjafah bin As’ad radhiallahu’anhu, ia mengatakan, “Hidungku terpotong pada Perang Kullab di masa jahiliyah. Aku pun menggantikannya dengan daun, tetapi daun itu bau sehingga menggangguku. Lal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku menggantinya dengan emas.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, dan Abu Dawud).

Perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Arjafah untuk memperbaiki hidungnya dengan emas merupakan dalil bolehnya memperbaiki gigi. Adapun memperbaiki gigi yang cacat, maka tidak ada larangan untuk menatanya agar hilang cacatnya.
Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukumnya memperbaiki gigi?” Syaikh menjawab, “Memperbaiki gigi ini dibagi menjadi dua kategori:

Pertama, jika tujuannya supaya bertambah cantik atu indah, maka ini hukumnya haram. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menata giginya agar terlihat lebih indah yang merubah ciptaan Allah. Padahal seorang wanita membutuhkan hal yang demikian untuk estetika (keindahan), dengan demikian seorang laki-laki lebih layak dilarang daripada wanita.
Kedua, jika seseorang memperbaikinya karena ada cacat, tidak mengapa ia melakukannya. Sebagian orang ada suatu cacat pada giginya, mungkin pada gigi serinya atau gigi yang lain. Cacat tersebut membuat orang merasa jijik untuk melihatnya. Keadaan yang demikian ini dimaklumi untuk membenarkannya. Hal ini dikategorikan sebagai menghilangkan aib atau cacat bukan termasuk menambah kecantikan. Dasar argumentasinya (dalil), Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang laki-laki yang hidungnya terpotong agar menggantinya dengan hidung palsu dari emas, yang demikian ini termasuk menghilangkan cacat bukan dimaksudkan untuk mempercantik diri.”
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Tim Redaksi Konsultasi Syariah

sumber:  https://konsultasisyariah.com/8824-memakai-behel-gigi.html

Saudariku, Hiasilah Dirimu Dengan Sifat Malu!

Saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah…

Seperti yang sudah kita ketahui, Islam adalah agama yang sempurna dan tidak ada hal kecil pun yang tidak diatur oleh agama ini. Salah satu hal yang diatur dalam agama Islam adalah wanita. Allah menciptakan wanita sesuai dengan fitrahnya, yaitu menjadi perhiasan dunia dengan keshalihannya, dan malu adalah salah satu dari ciri keshalihan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sifat malu adalah sifat yang sangat agung dalam Islam. Berikut adalah poin-poin mengapa sifat malu adalah sifat yang sangat agung:

  1. Malu adalah bagian dari iman, dan setiap yang termasuk iman adalah sesuatu yang agung.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.”

Dalam hadits lain disebutkan bahwa iman dan malu tidak bisa dipisahkan. Satu hilang, maka yang lain akan hilang. Jika rasa malu hilang, maka iman akan hilang. Sebaliknya pun jika tidak ada iman, maka tidak akan ada rasa malu.

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.” (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)

  1. Rasa malu yang merupakan sebagian dari iman, merupakan kunci utama masuk surga. 

“Rasa malu adalah bagian dari iman. Dan iman tempatnya di dalam surga.”(HR. At tirmidzi, Al Hakim, Al Baihaqi).

Berdasarkan hadits tersebut dan penjelasan sebelumnya, maka iman tidak akan ada tanpa rasa malu, dan iman adalah kunci utama untuk masuk surga. Maka dapat disimpulkan bahwa rasa malu merupakan kunci utama untuk masuk surga.

  1. Rasa malu adalah akhlak khas dari ajaran agama Islam.

Setiap agama mempunyai ajaran-ajaran khas sendiri, dan rasa malu adalah khas dari ajaran agama Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

  1. Rasa malu dijadikan sebagai salah satu sifat yang dimiliki oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah mempunyai sifat yang tak terhitung dan seluruh sifat Allah itu mulia, agung, dan sangat tinggi. Jika rasa malu merupakan salah satu sifat Allah, maka rasa malu itu merupakan hal yang sangat agung.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Malu dan Maha Dermawan, Dia malu terhadap hambaNya yang mengangkat kedua tangan kepadaNya lalu tangan itu kembali turun hampa (tidak dikabulkan doanya)” (HR. Abu Dawud dinyatakan shahih oleh Al Albani).

  1. Allah mencintai sifat malu dan Allah mencintai orang yang mempunyai rasa malu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, dan mencintai rasa malu dan sikap suka menutup aib” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

Hadits ini menjelaskan Allah mencintai rasa malu dan mencintai pula orang yang memiliki rasa malu ini.

  1. Rasa malu termasuk di antara sifat yang pasti dimiliki oleh seluruh nabi.

Nabi shallallahu alaihi wasallam jika malu akan terlihat mukanya memerah. Sifat pemalu nabi ini melebihi sifat pemalunya gadis pingitan zaman dahulu.

Begitulah keagungan dari sifat malu. Saudariku, mari hiasi diri kita dengan sifat malu serta senantiasa terus mempelajari ilmu syar’i yang menyebabkan tumbuhnya rasa malu dalam diri kita dan agar kita menjadi wanita yang menghiasi diri dengan sifat malu baik dalam ucapan maupun perbuatan.
***

Diringkas dari rekaman Kajian Ust. Abu Haidar dengan judul “Agungnya Rasa Malu” dengan beberapa tambahan.

Penyusun: Nurul Wulandari

sumber: https://muslimah.or.id/9695-saudariku-hiasilah-dirimu-dengan-sifat-malu.html

Faktor – Faktor Yang Menguatkan Kesabaran dan Keteguhan Hati Nabi dan Sahabat – Sahabatnya

Orang yang masih memiliki perasaan tentu akan bertanya dan orang-orang yang berakal tentu tak habis pikir, apa sebab dan faktor yang dimiliki orang-orang Muslim sampai batasan ini serta mengapa mereka masih tabah? Bagaimana mungkin mereka bisa bersabar menghadapi berbagai macam tekanan yang bisa membuat kulit merinding dan hati bergetar hanya dengan mendengarkannya saja? Karena pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati inilah kami merasa perlu mengisyaratkan secara ringkas beberapa faktor dan sebab tersebut.

1. Iman kepada Allah

Sebab yang paling pokok adalah iman kepada Allah semata dan mengetahui-Nya dengan sebenar-benarnya pengetahuan. Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik. Orang yang memiliki iman yang kuat dan keyakinan yang mantap seperti ini, melihat kesulitan dunia, seperti apa pun beratnya dan banyaknya, tak ubahnya riak-riak buih di atas aliran sedikit air yang akan menjebol bendungan yang amat kokoh. Dia tak ambil peduli terhadap kesulitan itu, karena dia telah mendapatkan manisnya iman dan kegembiraan keyakinan. Firman Allah,

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.” (Ar-Ra’d: 17)

Dari satu faktor ini saja sudah meragamkan faktor-faktor lain yang sekaligus menguatkan kesabaran dan ketabahan tersebut.

2. Sosok Pemimpin yang Bisa Menyatukan Hati Manusia

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang pemimpin dan komandan tertinggi bagi umat Islam, bahkan bagi semua manusia. Beliau memiliki perawakan badan yang bagus, jiwa yang sempurna, akhlak yang mulia, ciri-ciri yang menawan, sifat-sifat yang terhormat, yang mampu menawan hati dan membuat jiwa manusia tunduk kepada beliau. Perawakan dan penampilan beliau benar-benar sempurna, tak seorang pun yang menyamainya, ditambah lagi dengan kemuliaan, kecerdasan, kebaikan, keutamaan, amanah, kejujuran dan segala hal yang baik ada pada diri beliau. Musuh pun mengakui hal ini, terlebih lagi rekan-rekan dan orang-orang yang mencintai beliau. Tidak ada satu kata pun yang dinyatakan seseorang kecuali pasti mengakui kebenaran semua ini.

Suatu kali ada tiga orang Quraisy (Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas bin Syariq), yang secara sembunyi-sembunyi mencuri dengar ayat-ayat Al Qur`an yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga yang satu tidak tahu apa yang dilakukan dua teman lainnya. Tetapi kemudian perbuatan mereka itu terbongkar. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada Abu Jahal, “Apa pendapatmu tentang apa yang engkau dengar dari Muhammad?”

“Apa yang kudengar? Kami dan Bani Abdi Manaf saling bersaing untuk merebut simpati. Mereka memberi makan dan kami pun berbuat hal yang sama. Mereka membawa barang dan kami pun berbuat hal yang sama. Mereka memberi orang lain dan kami pun berbuat hal yang sama. Sehingga tatkala kami saling membagi hasil dalam kafilah dagang, dan kami tak ubahnya kuda-kuda yang digadaikan, mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang Nabi yang mendapat wahyu dari langit. Lalu kapan kita bisa menyadari hal ini?’ Demi Allah, kami sama sekali tidak akan beriman kepadanya dan tidak pula membenarkannya.”

Abu Jahal pernah berkata, “Wahai Muhammad, kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.”

Lalu Allah menurunkan ayat,

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (An-An’am:33)

Suatu hari beliau disakiti orang-orang kafir sebanyak tiga kali. Pada kali ketiga beliau bersabda, “Wahai semua orang Quraisy, aku datang kepada kalian membawa korban.” Kata-kata beliau ini mengiang-ngiang di benak mereka, sehingga orang yang sangat terpengaruh sabda beliau ini benar-benar berupaya mencari cara yang paling baik untuk menghibur dirinya.

Tatkala mereka melontarkan isi perut binatang yang sudah disembelih kepada beliau selagi sujud, maka beliau mendoakan kecelakaan bagi mereka. Tawa mereka langsung berhenti dan dibayangi perasaan takut dan gelisah, dengan disertai keyakinan bahwa mereka pasti akan binasa.

Beliau juga pernah mendoakan kecelakaan bagi Utbah bin Abu Lahab. Dia tetap merasa yakin akan tertimpa kecelakaan seperti doa beliau. Maka tatkala dia melihat singa selagi pergi ke Syam, dia berkata, “Demi Allah, singa itu pasti akan mencaplokku, sementara Muhammad ada di Makkah.” Benar saja. Singa itu tidak memangsa orang lain, dan justru hanya memangsa dirinya.

Ubay bin Khalaf pernah mengancam akan membunuh beliau. Namun beliau bersabda, “Akulah yang akan membunuhmu insya Allah.” Tatkala beliau menggoreskan senjata di leher Ubay pada waktu Perang Uhud, dan hanya berupa goresan yang kecil saja, maka Ubay berkata, “Waktu di Makkah dulu dia pernah berkata padaku, ‘Akulah yang akan membunuhmu.’ Demi Allah, andaikan saja dia meludahiku, tentu ludahnya sudah bisa membunuhku.”

Sa’d bin Mu’adz pernah berkata kepada Umayyah bin Khalaf saat masih di Makkah, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang Muslim akan menyerangmu.” Dia langsung tercengang dan kaget mendengarnya dan bersumpah tidak akan keluar dari Makkah. Tatkala Abu Jahal mengajaknya pergi saat Perang Badr, dia membeli seekor onta paling bagus di Makkah yang memungkinkan dapat digunakan untuk melarikan diri jika diperlukan.

“Wahai Abu Sufyan,” kata istrinya, “Apakah engkau sudah lupa apa yang pernah dikatakan saudaramu dari Yastrib?”

“Tidak. Demi Allah, aku akan menjaga jarak dengan mereka,” katanya.

Begitulah keadaan musuh-musuh beliau, yang tidak mampu menguasai diri karena pengaruh sabda beliau. Sedangkan para sahabat dan rekan-rekan beliau, menempatkan beliau di dalam ruh dan jiwanya. Cinta tulus tercurah kepada beliau, layaknya air yang tercurah ke dataran rendah. Jiwa mereka tertarik kepada beliau, seperti besi yang ditarik magnit. Di antara pengaruh cinta yang tulus ini, mereka tidak ambil peduli sekalipun leher harus putus, kuku dicopot secara paksa atau pun kaki terkena duri.

Suatu hari saat masih di Makkah, Abu Bakar pernah diinjak-injak orang orang Quraisy. Belum cukup sampai di sini. Utbah bin Rabi’ah menghampirinya lalu memukulnya dengan terompah yang tebal di bagian wajahnya. Setelah itu dia melompat tepat ke arah perutnya, hingga dia tidak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Kemudian orang-orang dari Bani Taim menyembunyikannya dengan menyelubungi kain, lalu memasukkannya ke dalam rumah salah seorang di antara mereka. Mereka yakin, tak seberapa lama kemudian Abu Bakar akan meninggal.

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” tanya Abu Bakar setelah sore hari.

Mereka membicarakan keadaan Abu Bakar dan mencelanya. Akhirnya mereka beranjak pergi dan menemui ibunya, Ummul Khair, dan berkata kepadanya, “Periksalah dia, dan ada baiknya jika engkau memberinya makan atau minum.”

Tatkala Ummul Khair tinggal berdua dengan Abu Bakar, dia mendesaknya untuk makan. Namun Abu Bakar menolaknya dan bertanya, “Apa yang terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

“Kalau begitu ibu harus pergi menemui Ummu Jamil binti Al-Khaththab. Tanyakan kepadanya!”

Ummul Khair pergi menemui Ummu Jamil, lalu bertanya kepadanya, “Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdullah.”

Ummu Jamil menjawab,”Aku tidak tahu dimana Abu Bakar dan Muhammad bin Abdullah berada. Jika engkau mengizinkan aku pergi bersamamu menemui anakmu, maka aku siap untuk pergi.”

“Baiklah,” jawab Ummul Khair. Maka Ummu Jamil pergi bersamanya untuk menemui Abu Bakar yang tergeletak tak berdaya. Ummu Jamil mendekat dan tak kuasa untuk tidak menjerit karena kaget melihat keadaannya. Dia berkata, “Demi Allah, seperti inikah yang dilakukan orang-orang fasik dan kafir terhadap dirimu? Aku benar benar berharap agar Allah membalaskan terhadap mereka.”

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

“Apa yang terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

“Ini ada ibumu yang ikut mendengar.”

“Engkau tak perlu menyangsikannya,” kata Abu Bakar.

Lalu dia berkata lagi, “Beliau dalam keadaan selamat dan sehat.”

“Di mana beliau?” tanya Abu Bakar.

“Di rumah Ibnul Arqam,” jawab Ummu Jamil.

Abu Bakar berkata, ”Aku sudah bersumpah kepada Allah untuk tidak makan dan minum kecuali setelah bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Maka kedua wanita itu menunggui Abu Bakar, dan setelah keadaanya agak membaik dan orang-orang sudah sepi, mereka pergi memapah Abu Bakar, hingga tiba di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Benih-benih cinta dan kasih yang tumbuh seperti peristiwa ini akan kami sampaikan di bagian mendatang, terutama pada saat Perang Uhud.

3. Rasa Tanggung Jawab

Para sahabat menyadari betul tanggung jawab yang besar di pundak manusia, yang tidak mungkin dielakkan dan diselewengkan, seperti apa pun keadaannya. Akibatnya yang terjadi di kemudian hari jika mereka menghindari tanggung jawab ini jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada tekanan tekanan tersebut. Kerugian yang mereka alami dan yang dialami manusia jika menghindari tanggung jawab itu sulit dilukiskan daripada kesulitan yang mereka hadapi karena harus memikul tanggung jawab tersebut.

4. Iman kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir. Iman inilah yang menguatkan perasaan untuk memikul tanggung jawab tersebut. Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka akan bangkit kembali untuk menghadap Allah Rabbul ‘alamin, amal mereka akan dihisab secara mendetil, yang kecil maupun yang besar, dan setelah itu entah menuju surga yang penuh kenikmatan ataukah ke neraka yang penuh siksaan dan abadi di sana. Mereka menghabiskan waktu dalam hidupnya antara takut dan mengharap, takut adzab Allah dan mengharap rahmat-Nya. Mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (Al-Mukminun: 60)

Mereka tahu, dunia dengan kenikmatan dan penderitaannya tak mampu menyamai sebelah sayap nyamuk di akhirat. Pengetahuan ini membuat mereka mengabaikan penderitaan hidup dan kepahitannya, sehingga mereka tidak mempedulikannya.

5. Al-Qur`an

Pada saat-saat kritis, rawan, dan menakutkan, turun surat dan ayat-ayat Al-Qur`an yang memberikan hujjah dan bukti penjelasan tentang prinsip prinsip Islam yang menjadi inti dakwah, dengan redaksi yang jelas dan akurat, memberi petunjuk kepada orang-orang Muslim tentang dasar-dasar kekuasaan Allah, agar mereka menjadi masyarakat manusia yang paling ideal di dunia, yaitu masyarakat Islam. Ayat-ayat itu juga membangkitkan perasaan mereka untuk sabar dan tabah. Ayat-ayat itu bisa berupa contoh-contoh perumpamaan dan pasti menjelaskan hukum kepada mereka, Firman Allah,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (An-Ankabut: 1-3)

Ayat-ayat itu juga ada yang memberikan sanggahan terhadap orang-orang kafir dan pembangkang dengan sanggahan yang telak, sehingga sama sekali tidak memberi angin kepada mereka, kemudian memperingatkan mereka tentang akibat yang sangat mengerikan jika mereka tetap bertahan dengan pembangkangan dan pengingkarannya, yang dikuatkan dengan berbagai peristiwa sejarah, agar mereka mau berpaling dari kesesatannya.

Al-Qur`an membawa orang-orang Muslim berjalan di alam lain, membuat mereka tahu berbagai kejadian alam, keindahan rububiyah, kesempurnaan uluhiyah, pengaruh rahmat dan keridhaan Allah, lalu menyusupkan perasaan kasih ke dalam dirinya.

Di dalam ayat-ayat itu terkandung seruan bagi orang-orang Muslim, yang memberikan kabar gembira kepada mereka tentang rahmat, keridhaan dan surga yang penuh kenikmatan bagi mereka, melukiskan gambaran musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir dan zhalim.

6. Kabar Gembira tentang Datangnya Keberhasilan

Sejak semula orang-orang Muslim sudah menyadari bahwa mereka akan mendapat kesulitan dan tekanan. Sekalipun begitu, dengan masuk Islam bukan berarti mereka hendak menantang bahaya dan maut. Tetapi dakwah Islam sejak semula dimaksudkan untuk mengenyahkan kehidupan Jahiliyah yang bodoh dan aturan-aturan yang semena-mena. Tujuan lain yang fundamental dari dakwah Islam ialah menyebarkan pengaruh di bumi dan menguasai sektor politik dalam kehidupan dunia, untuk menuntun manusia dan masyarakat kepada keridhaan Allah dan mengeluarkan mereka dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Allah.

Al-Qur`an turun dengan membawa kabar gembira ini, kadang diungkapkan secara gamblang dan kadang diungkapkan menggunakan kiasan. Pada saat-saat yang genting dan krisis, sehingga bumi ini terasa sempit bagi orang-orang Muslim, membuat leher mereka terasa tercekik dan hidup mereka seperti tak akan berlanjut lagi, turun ayat-ayat yang menjelaskan perjalanan hidup para nabi terdahulu di tengah kaumnya, yang diingkari dan didustakan. Kandungan ayat-ayat itu berisi berbagai keadaan yang tak berbeda jauh dengan keadaan orang orang Muslim di Makkah dan orang-orang kafir. Kemudian ayat-ayat itu juga menyebutkan kesudahannya, berupa kehancuran orang-orang kafir dan zhalim. Sedangkan hamba-hamba Allah berhak mewarisi dunia dan seisinya. Kisah kisah ini merupakan isyarat yang sangat jelas tentang kegagalan penduduk Makkah yang kafir di kemudian hari, keberhasilan orang-orang Muslim dan kesuksesan dakwah Islam.

Pada saat-saat itulah turun ayat-ayat yang menegaskan kabar gembira kemenangan orang-orang Muslim. Firman-Nya,

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ * وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ * فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ * وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ * أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ * فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu masa. Dan, terangkanlah kepada mereka, maka kelak mereka akan melihat (adzab itu). Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan? Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.” (Ash Shaffat: 171-177)

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Al-Qamar: 45)

“Suatu tentara yang besar berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan.” (Shad: 11)

Turun pula ayat-ayat tentang orang-orang Muslim yang hijrah ke Habasyah.

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (An-Nahl: 41)

Mereka bertanya tentang kisah Yusuf. Maka Allah menurunkan intinya,

“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Dengan kata lain, penduduk Makkah yang bertanya itu akan memperoleh kegagalan seperti kegagalan yang diperoleh saudara-saudara Yusuf dan akan menyerah seperti yang mereka lakukan. Begitu pula yang terjadi saat mengisahkan para rasul,

“Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami sungguh sungguh akan mengusir kamu dari negeri Kami atau kamu kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu. Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.” (Ibrahim:13-14)

Tatkala meletus peperangan yang sengit antara bangsa Persi dan Romawi, maka orang-orang kafir berharap agar bangsa Persilah yang menang, karena mereka adalah orang-orang musyrik. Sedangkan kaum Muslimin berharap agar bangsa Romawilah yang menang, karena mereka orang-orang yang percaya kepada Allah, para rasul, wahyu, kitab-kitab, dan Hari Akhirat. Namun akhirnya kemenangan jatuh ke tangan bangsa Persi. Lalu Allah menurunkan kabar gembira tentang kemenangan bangsa Romawi tak seberapa lama kemudian. Tetapi tidak cukup hanya satu kabar gembira saja, Allah menegaskan kabar gembira lain, yaitu pertolongan yang diberikan Allah kepada orang-orang Mukmin,

“Dan, pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang orang yang beriman, karena pertolongan Allah.” (Ar-Rum: 4-5)

Dari waktu ke waktu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira seperti ini. Jika musim haji dan beliau berdiri di hadapan orang-orang di pasar Ukazh, Majannah, dan Dzil-Majaz untuk menyampaikan risalah, maka beliau tidak menyampaikan kabar gembira kepada mereka berupa surga semata, tetapi beliau menyatakan kepada mereka secara gamblang, ”Wahai sekalian manusia, ucapkalah la ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung, dapat menguasai bangsa Arab dan orang-orang non-Arab pun akan tunduk kepada kalian. Jika kalian mati, maka kalian akan menjadi raja di surga.”

Di bagian terdahulu sudah kami sampaikan tentang penolakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap tawaran Utbah bin Rabi’ah, yang hendak mengadakan tukar menukar agama yang beliau sebarkan dengan segala kesenangan dan kekayaan dunia. Beliau juga tidak mengabulkan permintaan utusan terakhir yang datang kepada Abu Thalib. Beliau menegaskan kepada mereka bahwa dengan satu kata saja yang mereka ucapkan tentu semua bangsa Arab akan tunduk kepada mereka dan orang-orang non-Arab dapat mereka tundukkan.

Khabbab bin Al-Aratt berkata, “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang bergayut pada kainnya, berlindung di samping Ka’bah. Saat-saat itu kami mendapat siksaan dari orang-orang musyrik. Aku bertanya, “Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah?”

Lalu beliau duduk dengan wajah yang bersemu merah, lalu bersabda, “Orang-orang sebelum kalian pernah ada yang disisir (disiksa) dengan sisir dari besi, ditusuk hingga ke tulang merusak daging dan urat-uratnya, namun hal itu tidak membuatnya beralih dari agamanya. Tetapi berharaplah benar benar kepada Allah untuk kemenangan agama ini, hingga rombongan kafilah bisa berlalu dari Shan’a hingga Hadhramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah.” Rawi hadits ini menambahi penjelasan, “Dan serigala tidak memangsa domba-dombanya.” Dalam riwayat lain disebutkan, ”Tetapi kalian terburu buru.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Kabar gembira ini tidak hanya samar-samar dan tersembunyi, tetapi jelas dan nyata, juga diketahui orang-orang kafir sebagaimana orang-orang Muslim yang mengetahuinya secara jelas. Sehingga Al-Aswad bin Al-Muththalib dan teman-temannya mengobrol suka menyindir para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berjalan di dekat mereka, dengan berkata, “Raja-raja dunia sedang menghampiri kalian. Mereka akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar.” Setelah itu mereka bersiul-siul dan bertepuk tangan mengejek.

Dengan adanya kabar gembira tentang hari esok yang gemilang di dunia, disertai harapan untuk mendapatkan keberuntungan di surga pada akhirnya, maka para sahabat memandang berbagai macam tekanan yang menimpa mereka dari segala penjuru dan cobaan yang mengepung mereka dari segala sisi, hanya sekedar sebagai riak-riak awan pada musim kemarau, yang terlalu cepat sirnanya.

Di samping itu semua, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menyuapi ruh mereka dengan santapan-santapan iman, membersihkan jiwa mereka dengan pengajaran hikmah dan Al-Qur`an, mendidik mereka dengan pendidikan yang mendetil dan mendalam, membawa jiwa mereka ke tingkatan ruh yang tertinggi, kesucian hati, kebersihan akhlak, pembebasan dari kekuasaan materi, penentangan nafsu dan tunduk kepada Allah semata. Beliau mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, menuntun mereka untuk bersabar menghadapi siksaan, tabah dan lapang dada. Sehingga mereka semakin mantap berpegang teguh kepada agama, menjauhkan diri dari nafsu, mengharapkan surga, haus ilmu, menghisab diri sendiri, menundukkan kesenangan jiwa, mengikat diri dengan kesabaran, ketabahan dan ketenangan jiwa.

Rujukan:
Sirah Nabawiyah/Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri; Penerjemah: Kathur Suhardi; Penyunting: Yasir Maqosid; cet. 1–Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997.

sumber: https://alqolam.web.id/faktor-faktor-yang-menguatkan-kesabaran-dan-keteguhan-hati-nabi-dan-sahabat-sahabatnya/

Awas Hoaks: Bersikap Hati-Hati dalam Menyebarkan (Share) Berita

Sebagian kaum muslimin mungkin akan bersikap sangat hati-hati terhadap makanan dan minuman, jangan sampai makan dan minum yang diharamkan oleh syariat. Atau sebagian kaum muslimin yang sangat hati-hati menjaga diri dari benda atau bahan najis, jangan sampai badan atau pakaiannya terkena najis. Ini adalah di antara sikap dan perbuatan yang baik. Namun sayangnya, untuk urusan menyebarkan (men-share) berita, banyak di antara kita yang tidak bersikap hati-hati, atau bertindak ceroboh, tidak (mau) memilah dan memilih, manakah berita yang valid dan manakah yang bukan sebelum menyebarkannya.

Baik yang membuat berita dusta atau “sekedar” menyebarkannya, sama-sama disebut sebagai pendusta

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْكَذِبِ أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu termasuk dalam pendusta, ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim 1: 8)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga atsar dari sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di atas menunjukkan bahwa hukum orang yang membuat berita dusta dan orang yang “sekedar” menyebarkan berita dusta tersebut adalah sama, yaitu sama-sama disebut sebagai pendusta.

Sehingga seseorang tidak boleh meremehkan masalah ini, dengan mengatakan bahwa dia hanya menyebarkan (men-share) berita, bukan orang yang pertama kali membuatnya. Sehingga kaidah Islam dalam masalah ini adalah “Menyebarkan berita bohong adalah pembohong.”

Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut orang tersebut pembagai pembohong? Karena tentu saja tidak semua berita yang sampai kepadanya adalah berita yang benar, sebagiannya adalah berita palsu. Sehingga ketika dia menyebarkan semua berita yang dia dengar, bisa dipatikan dia adalah pembohong.

Seseorang itu tidak layak menjadi contoh teladan (panutan), sampai dia mampu memilah dan memilih berita mana yang akan disebarkan

Ibnu Wahab berkata,

قَالَ لِي مَالِكٌ: اعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ يَسْلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Imam Malik berkata kepadaku, “Ketahuilah, tidak akan selamat (dari dusta) seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar. Dan tidaklah layak menjadi panutan (menjadi tokoh) ketika dia menceritakan semua berita yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim 1: 8)

‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullahu Ta’ala berkata,

لَا يَكُونُ الرَّجُلُ إِمَامًا يُقْتَدَى بِهِ حَتَّى يُمْسِكَ عَنْ بَعْضِ مَا سَمِعَ

“Seorang itu tidaklah menjadi imam (teladan atau panutan) yang diteladani sampai dia menahan diri dari menceritakan sebagian berita yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim 1: 8)

Perkataan Imam Malik di atas menunjukkan bahwa jika seseorang bermudah-mudah menyebarkan semua berita yang dia dengar atau dia baca, dia tidak akan selamat dari dusta. Selain itu, dua atsar di atas menunjukkan bahwa di antara sikap orang yang layak dijadikan sebagai tokoh, teladan, atau pemimpin adalah ketika dia tidak menyebarkan semua berita yang dia dengar. Namun dia mampu memilah dan memilih, manakah berita yang valid dan layak untuk disebarluaskan, dan manakah berita bohong yang tidak boleh disebarluaskan.

Tidak semua berita yang benar itu harus disebarluaskan

Ketika suatu berita itu terbukti valid, tidak selalu berarti bahwa berita tersebut layak untuk disebarluaskan. Karena bisa jadi berita valid tersebut akan menimbulkan kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat, lalu timbullah keresahan, kekacauan, dan keributan di tengah-tengah mereka. Hal ini sebagaimana perkataan sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

“Tidaklah Engkau menceritakan (suatu berita) kepada sekelompok orang, berupa berita yang tidak bisa mereka pahami, kecuali akan menjadi sumber kerusakan (keributan atau kekacauan) bagi mereka.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim 1: 9)

Untuk berita-berita semacam itu, kita serahkan kepada mereka yang memiliki wewenang. Bisa jadi informasi itu bermanfaat, namun untuk kalangan terbatas, bukan kepada semua orang dengan tingkat pemahaman mencerna berita yang berbeda-beda. 

Berita kekejaman syiah, bisa jadi menimbulkan keresahan dan ketakutan di sebagian kalangan, misalnya di kalangan muslimah ibu-ibu. Apalagi jika disertai gambar ilustrasi yang menakutkan. Padahal, peristiwa itu sendiri terjadi di negara lain, misalnya. Sehingga hendaknya kita senantiasa memikirkan dampak luas penyebaran berita valid yang kita sampaikan. Sehingga dakwah tentang agama Syi’ah, bisa disampaikan dengan cara-cara lain yang lebih tepat dan lebih bijak.

Sebagaimana dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan suatu hadits, karena kekhawatiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau hadits tersebut bisa disalahpahami oleh para sahabatnya.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,

فَقَالَ: يَا مُعَاذُ، تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ، قَالَ: لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Mu’adz, apakah kamu tahu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba dan apa hak hamba yang wajib dipenuhi oleh Allah?” 

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-nya yang lebih mengetahui.” 

Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya. Adapun hak hamba yang wajib dipenuhi oleh Allah adalah Allah tidak akan mengazab mereka yang tidak berbuat syirik kepada-Nya.” 

Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau aku mengabarkan berita gembira ini kepada banyak orang?”

Rasulullah menjawab, “Jangan, nanti mereka bisa bersandar.” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 154)

Sikap seorang muslim yang benar

Seorang muslim yang menjadikan hadits dan atsar-atsar di atas sebagai pegangan dan dia letakkan di depan kedua matanya, tentu akan bersikap sangat hati-hati dalam memilah dan memilih berita yang berasal dari berita online, surat kabar cetak, atau dari grup whatsapp, atau dari sumber-sumber berita yang lainnya. 

Namun perlu kita pahami bahwa bisa jadi cara (metode) untuk memastikan dan menyaring berita itu berbeda-beda tergantung pada topik berita masing-masing. Berita-berita terkait masalah kesehatan, tentu memiliki indikator untuk menilai apakah berita tersebut valid ataukah tidak. Betapa banyak keresahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sebagai akibat penyebaran berita kesehatan yang tidak benar, alias informasi dusta, atau dengan bahasa kekinian: informasi hoaks. Demikian pula, berita terkait dengan masalah ekonomi dan politik, tentu memiliki indikator tertentu untuk menilai apakah suatu berita itu valid ataukah tidak. 

Kemampuan untuk “menyaring” berita semacam ini, tentu tidak dimiliki oleh semua orang, termasuk ustadz sekalipun. Sehingga sikap yang terbaik adalah tawaqquf, atau kita serahkan kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut untuk menilai. 

Oleh karena itu, hendaknya kita mawas diri dan berkaca terhadap diri sendiri, apakah kita sudah cukup memiliki kelayakan dan kapasitas untuk menyaring sebuah berita? Atau kita akan termasuk dalam golongan orang-orang pembohong dan pendusta sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas?

Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan bagi kaum muslimin.

[Selesai]

***

@FK UGM tercinta, 16 Ramadhan 1440/21 Mei 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

sumber: https://muslim.or.id/46935-awas-hoaks-bersikap-hati-hati-dalam-menyebarkan-share-berita.html

Kebatilan Pasti Akan Tersingkir

Oleh 
Ustadz Arief B. bin Usman Rozali

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. [Ar Ra’d/13:17]

Para ulama berselisih pendapat tentang tempat diturunkannya surat Ar Ra’d yang mulia ini. Di antara mereka ada yang mengatakan makkiyah, ada yang mengatakan madaniyah, ada yang mengatakan sebagian besarnya makkiyah kecuali beberapa ayat, dan ada pula yang mengatakan sebagian besarnya madaniyah kecuali beberapa ayat [1].

PENJELASAN BEBERAPA ULAMA TENTANG AYAT DI ATAS 
A. Penjelasan al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah 
Beliau berkata:[2] 
Ayat yang mulia ini mengandung dua perumpamaan, satu untuk menggambarkan kekokohan dan keabadian al haq, dan satu untuk menggambarkan kebinasaan dan kefanaan al bathil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ

“Allah telah menurunkan air dari langit …”.

Maksudnya adalah air hujan.

Dan firman-Nya:

فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا

“…maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya…”.

Maksudnya, setiap lembah menampung air hujan tersebut sesuai dengan ukurannya. Jika lembah tersebut besar (luas), maka bisa mampu menampung air dalam jumlah yang banyak. Dan jika lembah tersebut kecil (sempit), maka akan menampung air hujan tersebut sesuai ukurannya. Semua ini, merupakan isyarat terhadap hati manusia dan perbedaannya. Diantara hati manusia, ada yang dapat menampung ilmu yang banyak, dan di antara hati manusia, ada pula yang tidak dapat menampung ilmu dalam kapasitas yang banyak. Bahkan ia sempit untuk menampungnya.

Adapun firman-Nya:

فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا

“…maka arus (air) itu membawa buih yang mengambang…”.

Maksudnya; arus air yang mengalir di lembah-lembah tersebut membawa buih-buih yang mengambang di atasnya. Inilah perumpamaan pertama.

Dan firman-Nya:

وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ

“…Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api…”.

Inilah perumpamaan kedua. Yaitu, dari apa-apa yang mereka lebur di dalam api seperti emas atau perak.

Firman-Nya:

ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ

“… untuk membuat perhiasan…”.

Maksudnya, tatkala mereka melebur logam-logam untuk membuat perhiasan dari perunggu atau besi, maka akan mengambanglah sisa-sisa (karat) dari logam tersebut sebagaimana buih-buih tadi mengambang di atas aliran air.

Firman-Nya:

كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ

“…Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil…”.

Maksudnya. apabila keduanya berkumpul, maka sesuatu yang bathil tidak akan bertahan dan abadi. Sebagaimana buih-buih itu tidak akan pernah menetap berada di atas air. Dan sebagaimana sisa-sisa (karat) tidak akan pernah bercampur bersama logam yang asli ketika dilebur dalam api, bahkan akan hilang dan habis.

Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً

“…Adapun buih itu, maka dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya…”.

Maksudnya, tidak dapat dimanfaatkan lagi. Buih tersebut akan berpencar-pencar dan berada di tepi-tepi lembah, atau menyangkut pada pepohonan, atau dihembus oleh angin. Demikian pula sisa-sisa (karat) logam, baik berasal dari emas, perak, perunggu, atau pun besi, maka ia akan hilang dan binasa. Tidak tersisa suatu apapun juga. Yang tersisa hanyalah aliran air atau logam-logam yang dapat dimanfaatkan.

Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

“…adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.

Juga sebagaimana firman-Nya :

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. [al-‘Ankabût/29:43].

Sebagian ulama salaf mengatakan : “Jika aku membaca (ayat yang berisi) perumpamaan dalam Al Qur’an, lalu aku tidak memahaminya, aku menangisi diriku sendiri. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

…dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu [al-‘Ankabût/29:43]

Kemudian, beliau (Imam Ibnu Katsîr rahimahullah ) menjelaskan penafsiran ayat di atas dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu , dan menjelaskan pula bahwa tafsir serupa diriwayatkan dari Mujâhid, al-Hasan al-Bashri, ‘Athâ’, Qatâdah, dan para ulama Salaf lainnya. Sebagaimana yang juga telah dibawakan sebelum beliau dengan sanad-sanadnya oleh Imam ath-Thabari t di dalam tafsirnya.[3]

B. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah 
Setelah membawakan ayat di atas, beliau mengatakan :[4] 
(Dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperumpamakan ilmu dengan air yang turun dari langit. Karena dengan ilmu, hati akan hidup, sebagaimana badan akan hidup dengan air. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperumpamakan hati dengan lembah. Karena hati merupakan tempat ilmu, sebagaimana lembah merupakan tempat air. Maka, di antara hati (manusia), ada yang mampu menampung ilmu yang banyak, sebagaimana di antara lembah-lembah ada yang dapat menampung air yang banyak. Dan di antara hati (manusia), ada yang hanya mampu menampung sedikit ilmu, sebagaimana di antara lembah-lembah ada yang hanya dapat menampung sedikit air.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menjelaskan bahwa pada air tersebut terdapat buih yang mengambang setelah bercampur-baur dengannya. Namun, lama-kelamaan menipis dan menghilang. Dan hal-hal yang masih bermanfaat bagi manusia, ia tetap eksis di bumi. Maka, demikianlah keadaan hati, ia pun dapat tercampuri oleh syahwat dan syubhat. Akan tetapi, tatkala yang tumbuh berkembang dalam hati tersebut adalah al-Haq (kebenaran), maka syahwat dan syubhat pun akan sirna. Dan yang tersisa di dalam hati hanyalah keimanan dan al-Qur’ân yang bermanfaat bagi pemilik hati tersebut dan juga orang lain.

Firman-Nya:

ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ

…Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil…

Penggalan ayat ini, merupakan perumpamaan yang kedua -setelah perumpamaan yang pertama di atas-. Dan ini merupakan perumpamaan dengan api. Perumpamaan pertama menunjukkan kehidupan, dan perumpamaan yang kedua menunjukkan cahaya yang menerangi. Terdapat perumpamaan yang semisal dengan dua perumpaan di atas, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan dalam surat Al Baqarah/2, ayat 17-19:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. .

Maka, adapun orang kafir, sesungguhnya ia berada di dalam kegelapan kekufuran dan kesyirikan. Ia tidak hidup. Seandainya pun ia hidup, kehidupannya bagaikan kehidupan hewan ternak. Sungguh, ia kehilangan kehidupan ruh yang hakiki dan tinggi, yang sebabnya adalah keimanan. Dengan keimanan itulah seseorang dapat merasakan kebahagiaan di dunia dan akherat.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul sebagai perantara antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hamba-Nya, dalam menerangkan kepada mereka apa-apa yang bermanfaat dan berbahaya bagi mereka. Para Rasul telah menyempurnakan kehidupan umat mereka masing-masing, baik yang berkaitan dengan kehidupan mereka di dunia, maupun di akherat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus mereka semua agar mereka mengajak umat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , menerangkan jalan yang dapat menyampaikan umat mereka kepada-Nya, dan menjelaskan keadaan umat mereka setelah sampai kepada-Nya.

C. Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah 
Beliau -setelah menjelaskan ayat di atas, dengan keterangan yang sangat mirip dan serupa dengan penjelasan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,- berkata:[5]

Maksud -dari semua penjelasan di atas-, bahwa kebaikan sebuah hati (seseorang), kebahagiaan, dan keberuntungannya bergantung pada dua pokok perumpamaan di atas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya, Al Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azdab) terhadap orang-orang kafir. [Yâsîn/36:69-70].

Melalui ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa mengambil manfaat dan peringatan dari al- Qur’ân, hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang hidup hatinya. Hal ini seperti (yang ditunjukkan) firman-Nya pada ayat yang lain:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. [Qâf/50:37].

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”. [al-Anfâl, 8:24].

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kehidupan kita hanyalah tergantung pada apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya serukan kepada kita, berupa ilmu dan iman. Sehingga dari sini, dapat diketahui bahwa kematian sebuah hati dan kebinasaan adalah dengan sebab hilangnya ilmu dan iman itu (dari hatinya).

BEBERAPA HADITS SHAHIH YANG BERKAITAN DENGAN TAFSIR AYAT DI ATAS DAN PENJELASAN ULAMA TERHADAPNYA 
A. Hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ، كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ، قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانُ، لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْساً وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ

Sesungguhnya perumpamaan apa-apa yang Allah mengutusku dengannya berupa petunjuk dan ilmu, bagaikan hujan deras yang menimpa bumi. Maka, di antara bumi ada yang baik, menyerap air dan menumbuhkan pepohonan kecil dan rerumputan yang banyak. Dan di antara bagian bumi, ada yang keras (gersang), ia menyerap air. Allah pun memberikan manfaat kepada orang-orang dengannya. Mereka dapat minum darinya, mengambil air darinya, dan menggembalakan (hewan ternak mereka). Dan di antara bumi, ada pula yang bebatuan keras, tidak menyerap air dan tidak pula menumbuhkan pepohonan kecil. Itulah perumpamaan orang yang pandai dalam agama Allah, Allah memberikan manfaat kepadanya dengan apa-apa yang Allah mengutusku dengannya. Maka ia pun mengetahui (petunjuk dan ilmu tersebut) dan mengajarkannya. Dan itulah pula perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali (terhadap petunjuk dan ilmu tersebut), dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.[6]

Setelah Imam Ibnul Qayyim t menjelaskan hadits di atas dan membagi manusia menjadi tiga golongan, beliau berkata:[7]

“Hadits yang mulia ini mengandung peringatan bahwa ilmu sangatlah mulia, demikian pula mengajarkannya. Ilmu begitu agung pengaruhnya. Sekaligus mengandung peringatan bahwa orang yang bukan ahlinya akan celaka dan sengsara. Hadits yang mulia ini pun menyebutkan golongan-golongan manusia. Di antara mereka ada yang celaka, dan di antara mereka ada pula yang bahagia. Dan yang bahagia di antara mereka, ada yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, dan ada pula yang pertengahan (dalam kebaikan).[8]

Pada hadits ini juga terdapat dalil bahwa kebutuhan hamba akan ilmu seperti kebutuhan mereka kepada hujan, bahkan lebih besar lagi. Dan mereka, jika kehilangan ilmu ini, maka mereka bagaikan bumi yang kehilangan hujan. Imam Ahmad t berkata: “Kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari hanya sekali atau dua kali saja, sedangkan ilmu dibutuhkan sejumlah nafas”.

Kemudian Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan ayat ke-17 dari surat Ar Ra’d di atas.

B. Hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلِيْ وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَاراً، فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيْهَا، وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُوْنَ مِنْ يَدِيْ

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seorang yang menyalakan api, lalu mulailah belalang-belalang dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku[9]

BEBERAPA PELAJARAN DAN FAIDAH AYAT-AYAT [10] 
1. Dianjurkan menyampaikan perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman. 
2. Kokohan dan kelanggengan al-Haq (kebenaran), dan kehancuran kebatilan merupakan ketetapan dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala 
3. Penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan surga bagi orang-orang yang tunduk patuh untuk beriman dan melakukan ketaatan. 
4. Penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang tidak mau tunduk patuh

Demikian, mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menambah ilmu, iman, dan amal shalih kita. Wallâhu A’lamu bish Shawâb .

Maraji’ & Mashadir: 
1. Al Quran dan terjemahnya, cet Mujamma’ Mâlik Fahd, Saudi Arabia. 
2. Shahîh al-Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismâil bin al Mughîrah al Bukhâri (194-256 H), tahqîq Musthafa Dîb al Bugha, Dâr Ibni Katsir, al Yamâmah, Beirut, Cet III, Th 1407 H/ 1987 M. 
3. Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Hajjâj al-Qusyairi an-Naisaburi (204-261 H), tahqîq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut. 
4. Tafsir ath-Thabari (Jâmi’ul Bayân ‘an Ta’wîli Ayil Qur’ân), Abu Ja’far Muhammad bin Jarîr ath Thabari (224-310 H), tahqîq Mahmud Syâkir, Daar Ihyâ at Turâts, Beirut, Cet. I, Th. 1421 H/ 2001 M. 
5. Zâdul Masîr, Abu al Faraj Jamâluddin ‘Abdurrahmân bin ‘Ali bin Muhammad al-Jauzi al Baghdâdi (508-597 H), al Maktab al Islami, Beirut, Cet. III, Th. 1404 H/ 1984 M. 
6. Tafsir Ibnu Katsîr (Tafsir Al Qur’aan Al ‘Azhîm), Abu al Fida’ Ismâil bin Umar bin Katsîr (700-774 H), tahqiq Sami bin Muhammad as Salamah, Dâr ath Thayibah, Riyâdh, Cet I, Th 1422 H/2002 M. 
7. Aisarut Tafâsir li Kalâmil ‘Aliyyil Kabîr, Abu Bakar Jabir al Jazâiri, Maktabah al-Ulum wal Hikam, Madinah Munawwarah, KSA, Cet VI, Th 1423 H/ 2003 M. 
8. An Nihâyah Fi Gharîbil Hadîtsi wal Atsar, Imam Majdud Dîn Abi as Sa’âdat al-Mubârak bin Muhammad al-Jazari Ibnu al-Atsîr (544-606 H), tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Dârul Ma’rifah, Beirut-Libanon, cet I, th 1422 H/ 2001 M. 
9. Majmû’ul Fatâwa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H), takhrij ‘Aamir Al Jazzâr dan Anwar Al Bâz, Maktabah Al Ubaikan, Riyâdh-KSA, Cet I, Th 1419 H/ 1998 M. 
10. Ighâtsatul Lahfân fî Mashâyidisy Syaithân, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), takhrîj Muhammad Nâshiruddîn al Albâni (1332-1420 H), tahqiq Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Dâr Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H. 
11. Miftâhu Dâris Sa’âdah, Wa Mansyûru Walâyati Ahlil ‘Ilmi wal Irâdah, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), muraaja’ah Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid (1429 H), tahqiq ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi, Dâr Ibn al Qayyim, Riyâdh-KSA, & Dâr Ibn ‘Affân, Kairo-Mesir, Cet. I, Th. 1425 H/ 2004 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] 
_______ 
Footnote 
[1]. Di antara ulama yang mengatakan makkiyah adalah al-Hasan, Sa’îd bin Jubair, Qatâdah, ‘Athâ`. Sementara di antara ulama yang mengatakan madaniyah adalah al-Kalbi, Jâbir bin Zaid. Lihat Zâdul Masîr (4/299). 
Adapun ath-Thabari t dalam Jâmi’ul Bayân ‘an Ta’wîli Ayil Qur’ân (13/110) berpendapat madaniyah. Dan Ibnu Katsîr t dalam tafsirnya (4/428) berpendapat makkiyah. Wallahu A’lam. 
[2]. Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm (4/447). 
[3]. Lihat Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm (4/447-448) dan Jâmi’ul Bayân ‘an Ta’wîli Ayil Qur’ân (13/161-165). 
[4]. Majmu’ul Fatâwa (19/94-95). Lihat pula Majmu’ul Fatâwa (10/766-767), dan Dar`u Ta’ârudhil ‘Aqli Wan Naqli (7/427-428) dan (3/186). 
[5]. Ighâtsatul Lahfân fî Mashâyidisy Syaithân (1/65). 
[6]. HR al-Bukhâri (1/42 no. 79), Muslim (4/1787 no. 2282), dan lain-lain. 
[7]. Miftahu Dâris Sa’âdah, Wa Mansyûru Walâyati Ahlil ‘Ilmi wal Irâdah (1/248-249). 
[8]. Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi -hafizhahullah- berkata: “(Hal ini) seperti yang ditunjukkan pada ayat ke-32, dalam surat Fâthir”. Lihat ta’lîq beliau dalam Miftâhu Dâris Sa’âdah, Wa Mansyûru Walâyati Ahlil ‘Ilmi wal Irâdah (1/248). 
[9]. HR Muslim (4/1790 no. 2285), dan lain-lain. Dan hadits yang semakna dengannya diriwayatkan dari Abu Hurairah z, juga dalam Shahîh Muslim (4/1789 no. 2284). 
Lihat penjelasan kosa kata yang asing pada hadits ini dalam An Nihayah fii Gharîbil Hadîtsi Wal Atsar (1/299 dan 337, 2/388). 
[10]. Di sadur dari Aisarut Tafâsîr li Kalâmil ‘Aliyyil Kabîr (1/601).

sumber: https://almanhaj.or.id/3459-kebatilan-pasti-akan-tersingkir.html

Jangan Suka Teriak-Teriak!

Mukmin yang sejati adalah yang perkataannya baik, lembut dan hikmah. Sebaliknya, perkataan yang tidak baik, kasar dan jauh dari hikmah ini jauh dari sifat-sifat orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Diantara adab yang buruk dalam berbicara adalah suka berteriak-teriak dan meninggikan suara. Kita lihat nasehat Luqman Al Hakim kepada anaknya yang diabadikan dalam Al Qur’an:

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19).

Maksudnya janganlah berlebihan dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suara tanpa kebutuhan. Oleh karena itu setelahnya Allah berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.

Mujahid rahimahullah berkata: “suara yang paling buruk adalah suara keledai. Maksudnya orang yang meninggikan suaranya diserupakan seperti keledai karena keledai itu suaranya keras dan melengking. Ini menunjukkan haramnya perbuatan tersebut dan sangat tercela. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ليس لنا مثل السوء, العائدَ في هبتِه كالكلبِ يعودُ في قَيْئِه

“Tidak ada permisalan orang yang paling buruk, kecuali orang yang meminta kembali apa yang ia berikan, seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya” (HR. Bukhari no. 1490, Muslim no. 1620).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ، فإنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وإذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا باللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فإنَّه رَأَى شيطَانًا

“Kalau kalian mendengar ayam berteriak (berkokok) maka berdoalah meminta nikmat kepada Allah. Namun jika kalian mendengar suara keledai berteriak (meringkik) maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena keledai tersebut sedang melihat setan” (Muttafaqun ‘alaihi)” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/711).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dipuji oleh Allah bahwa beliau tidak suka berteriak-teriak. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

أنْتَ عَبْدِي ورَسولِي، سَمَّيْتُكَ المُتَوَكِّلَ، ليسَ بفَظٍّ ولَا غَلِيظٍ، ولَا سَخَّابٍ بالأسْوَاقِ، ولَا يَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بالسَّيِّئَةِ، ولَكِنْ يَعْفُو ويَصْفَحُ

“Engkau (Muhammad) adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, aku namai engkau Al Mutawakkil, engkau bukan orang yang keras dan kasar, bukan orang yang suka berteriak-teriak di pasar, engkau tidak membalas keburukan dengan keburukan, bahkan engkau pemaaf dan lapang dada” (HR. Bukhari no. 6622).

Juga diriwayatkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu:

إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاطٍ، سَخَّابٍ فِي اْلأَسْوَاقِ، جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرٍ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang keras lagi kasar, suka berteriak-teriak di pasar, seperti bangkai di malam hari, seperti keledai di siang hari, mengerti urusan dunia tapi bodoh dengan urusan akhirat” (HR. Ibnu Hibban no. 72, didha’ifkan oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dha’ifah no. 2304).

Terutama jika berada di masjid, lebih tercela lagi berteriak-teriak dan meninggikan suara. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضاً، ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة

“Ketahuilah sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabb-nya, maka jangan saling mengganggu satu sama lain, dan jangan meninggikan suara satu sama lain dalam membaca (Al Qur’an)” (HR. Abu Daud no. 1332, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Jika meninggikan suara untuk membaca Al Qur’an saja dilarang oleh Rasulullah, maka bagaimana lagi meninggikan suara untuk shalawatan, pujian-pujian, demikian juga tertawa terbahak-bahak dan meninggikan suara ketika berbicara dengan orang lain.

Sikap yang baik dalam berbicara adalah pelan dan penuh kelembutan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله

“Allah itu lembut dan mencintai kelembutan dalam semua perkara” (HR. Bukhari no. 6927, Muslim no. 2165).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ، ومن كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليصل رحمه ، ومن كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturahmi. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam” (HR. Bukhari no. 60).

Al Musawwir bin Makhramah radhiallahu’anhu mengatakan:

وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له

“jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731).

Namun tentu saja bukan berarti berteriak itu terlarang, dibolehkan berteriak dan meninggikan suara pada hal-hal yang disyariatkan untuk meninggikan suara seperti adzan, mengimami shalat, bertakbir di hari-hari id, berkhutbah, dll. dan juga jika ada kebutuhan, seperti memanggil orang yang jauh dan sulit didekati, memperingatkan bahaya, dll.

Semoga Allah memberi taufik.

Penulis: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/50522-jangan-suka-teriak-teriak.html

Apa Yang Boleh Dibuka Bagi Wanita Di Depan Wanita Dan Laki-laki Mahram

Pertanyaan

Apa pendapat anda terkait apa yang dilakukan kebanyakan wanita sekarang. Mereka memakai baju pendek sekali jika bersama dengan para wanita tanpa ada laki-laki. Sebagian dari baju ini terbuka bagian besar dari punggung dan perut. Atau memakai baju pendek di depan anak-anaknya di rumah?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Lajnah Daimah Lil Bukhuts Ilmiyah Wal Ifta’ mengeluarkan penjelasan terkait tentang hal ini, dan ini teksnya:

Segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para shahabat semuanya wa ba’du:

Dahulu para wanita mukmin di awal Islam, telah sampai di puncak kesucian, menjaga diri, rasa malu dan kesopanan berkat keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti Qur’an dan Sunah. Dahulu para wanita zaman itu memakai pakaian yang tertutup. Tidak dikenal dikalangan mereka terbuka dan rendah ketika berkumpul dengan sebagain mereka atau dengan mahramnya. Prilaku sunah yang lurus seperti ini terjadi pada para wanita umat ini –alhamdulillah – satu kurun ke kurun lainnya sampai pada masa terdekat. Kemudian kebanyakan para wanita mengalami kerusakan pada pakaian dan akhlak karena banyak sebab. Bukan disini tempatnya untuk menguraikannya.

Karena banyaknya permintaan fatwa yang ada ke Lajnah Daimah Lil Bukhuts Ilmiyah Wal Ifta’ tentang pandangan wanita terhadap wanita dan kelaziman dari pakaian. Maka Lajnah akan menjelaskan keumuman wanita Muslimah bahwa bagi wanita muslimah harus berakhlak dengan akhlak penuh rasa malu. Dimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam menjadikan termasuk bagian dari keimanan dan cabangnya. Diantara rasa malu yang dianjurkan oleh agama dan adat adalah wanita yang menutupi dan kesopanannya serta berakhlak dengan akhlak yang menjauhikan diri dari tempat fitnah dan yang meragukan.

Zahir ayat menunjukkan bahwa wanita tidak menampakkan kepada wanita kecuali apa yang biasa tampak bagi mahramnya. Yang biasa nampak di rumah dan waktu kerja (maksudnya membantu di rumah) sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ (سورة النور: 31)

“Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam.” (QS. An-Nur: 31)

Kalau ini adalah nash Al-Qur’an dan yang ditunjukkan oleh sunah, maka itu yang terjadi dan diamalkan para istri Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan istri para shahabat. Dan orang yang mengikuti dengan baik dari kalangan wanita umat ini sampai waktu sekarang. Dan apa yang terjadi kebiasaan dengan membuka seperti yang disebutkan dalam ayat yaitu apa yang tampak bagi wanita secara umum dalam rumah. Dan waktu kerja, dan sulit menjaga darinya seperti membuka kepala, dua tangan, leher dan dua kaki.

Adapun jika berlebihan dalam membuka bagian tubuh, disamping tidak ada dalil yang menunjukkan dibolehkan akan hal itu, baik dari Kitab atau Sunah, ia juga termasuk jalan fitnah bagi para wanita dan menjadi fitnah bagi sesama jenis wanita dan ini ada di antara mereka. Perkara ini juga menjadi contoh buruk bagi wanita lainnya. Sebagaimana hal itu juga menyerupai wanita kafir  dan wanita jalanan dalam berpakaian. Terdapat ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (أخرجه الإمام أحمد وأبو داود)

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian darinya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

Dalam Shahih Muslim (2077) dari Abdullah bin Amr sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam melihat dua baju berwarna kuning, maka beliau mengatakan, “Sesungguhnya baju ini termasuk pakaian orang kafir, maka jangan dipakai.”

Dalam Shahih Muslim juga, (2128) sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاتٌ مَائِلاتٌ ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ ، لا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلا يَجِدْنَ رِيحَهَا ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukul orang. Dan wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak lenggok. Kepalanya bersanggul seperti unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya. Sesungguhnya harum surga  dapat dirasakan sejauh ini dan ini.”

Arti dari ‘Kasiyat Ariyat’ adalah wanita berpakaian yang tidak menutupinya maka ia (seakan berpakaian). Padahal hakekatnya ia telanjang. Seperti orang berpakaian dengan baju tipis yang terlihat kulitnya. Atau baju yang nampak lekukan tubuhnya atau baju pendeknya yang tidak menutupi sebagian anggota tubuhnya.

Maka seharusnya bagi wanita muslimah, komitmen dengan petunjuk sebagaimana para ummahat mukminin dan para wanita shahabat radhiallahu anhunna dan orang yang mengikuti dengan baik dari kalangan wanita umat ini yang menjaga dan menutup aurat dan sopan. Hal itu lebih jauh dari sebab fitnah dan menjaga diri dari gangguan sarana hawa nafsu yang dapat menjerumuskan kepada zina.

Sebagaimana seharusnya bagi para wanita muslimah berhati-hati terjerumus dari apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari pakaian yang menyerupai wanita kafir yang tidak sopan. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya seraya mengharap pahala Allah dan takut akan siksa-Nya.

Sebagaimana wajib bagi setiap muslim bertakwa kepada Allah terhadap orang yang dibawah kekuasaannya dari kalangan para wanita. Jangan biarkan mereka memakai apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya seperti pakaian seksi, transparan dan mengundang fitnah. Hendaknya diketahui bahwa dia adalah penanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya pada hari kiamat.

Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi umat Islam, dan menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Dekat dan Maha Mengabulkan (doa). Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.” (Fatawa Lajnah Daimah, 17/290).

Terdapat dalam fatwa Lajnah Daimah juga, (17/297), “Yang boleh ditampakkan kepada anak-anak adalah yang terbiasa terlihat. Seperti wajah, dua telapak tangan, dua lengan, dua kaki dan semisal itu.”

wallahu a’lam .

sumber: https://islamqa.info/id/answers/34745/apa-yang-boleh-dibuka-bagi-wanita-di-depan-wanita-dan-laki-laki-mahram

Mengapa Harus Berhias?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Berhias, bagian dari nikmat Allah yang diberikan kepada para hamba-Nya. Fitrah sehat manusia, menuntut mereka agar selalu merawat dirinya, berpenampilan menarik di hadapan orang lain, sehingga dia lebih dihargai. Karena itulah, Allah mencela orang musyrik yang tidak mau memakai baju ketika thawaf, dengan alasan ibadah,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS Al A’raf: 32)

Allah memuliakan perhiasan di tangan manusia, dengan Allah sebut ’zinatullah’ perhiasan dari Allah. Untuk menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan perhiasan ini dan menghalalkannya untuk para hamba-Nya. Yang sekaligus menjelaskan kepada manusia bahwa hukum masalah perhiasan kembali kepada Allah bukan kepada selainnya. (Zinatul Mar’ah Muslimah, hlm. 9)

Berhias Untuk Suami, Itu Ibadah

Terlebih bagi para wanita, yang Allah ciptakan sebagai pasangan lelaki bani Adam, fitrah berhias berperan penting dalam hidupnya. Bahkan fitrah ini bisa mengendalikan kebahagiaan kehidupan rumah tangganya. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan predikat sebagai wanita terbaik, ketika sang istri bisa menyenangkan hati suaminya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ’Ya Rasulullah, wanita seperti apakah yang paling baik?’

Beliau bersabda,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Wanita yang menyenangkan suaminya apabila dilihat, mentaati suaminya ketika diperintah, tidak melakukan perbuatan yang membuat suaminya marah, dan tidak membelanjakan harta yang membuat suaminya benci.” (HR. Ahmad 7421, Nasai 3231, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Imam as-Sindi menjelaskan,

إِذَا نَظَرَ ؛ أَيْ لِحُسْنِهَا ظَاهِرًا أَوْ لِحُسْنِ أَخْلَاقهَا بَاطِنًا وَدَوَام اِشْتِغَالهَا بِطَاعَةِ اللَّه وَالتَّقْوَى

”Menyenangkan suaminya apabila dilihat” karena dia indah dari luar, baik akhlaknya dari dalam, sibuk melakukan ketaatan kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya.” (Hasyiyah as-Sindi, 6/68).

Berhias Lahir Batin

Batin jelas lebih penting dari pada lahir. Semua orang sepakat itu. Apalah artinya orang hanya memperhatikan lahir, tapi tidak peduli dengan batinnya.

Karena itulah, ketika Allah menyebutkan tentang nikmat pakaian sebagai perhiasan, Allah juga mengingatkan akan pentingnya menghiasi hati dengan taqwa,

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik“. (QS. Al-A’raf: 26)

Taqwa merupakan pakaian batin, yang itu lebih indah dibandingkan pakaian lahir. Karena orang yang bertaqwa kepada Allah dan berusaha untuk selalu istiqamah, dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 286)

Dan kita bisa menjamin, orang yang memiliki pakaian taqwa, hatinya dihiasi dengan taqwa, dia akan memperhatikan pakaian luar, agar tidak mengundang murka Tuhannya.

Allahu a’lam

—

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

sumber: https://muslimah.or.id/7220-mengapa-harus-berhias.html