Banyak Ilmu, Namun Lupa Belajar Adab dan Akhlak

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Kata Syaikh Sholeh Al Ushoimi, “Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.”

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Lihatlah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya dianugerahi akhlak yang mulia,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

—

Disusun di pagi hari, Jum’at, 11 Jumadats Tsaniyah 1435 H di Pesantren Darush Sholihin

Akhukum fillah: Ustadz. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/7199-banyak-ilmu-namun-lupa-belajar-adab-dan-akhlak.html

Seseorang Diberi Pahala Sesuai Kadar Niatnya…

ismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ibnul Mubarak rahimahullah pernah mengatakan,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al Ikhlas wan Niyyah).

Apakah Niat Itu?

Secara bahasa niat artinya القصدُ (keinginan atau tujuan), sedangkan makna secara istilah niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Niat letaknya ada di dalam hati dan tidak dilafadzkan.

Fungsi Niat

Fungsi niat dalam amalan seorang hamba adalah,

1. Membedakan antara ibadah dengan rutinitas (membedakan tujuan suatu perbuatan).
Misalnya, seseorang membasahi seluruh badannya dengan niat untuk menyegarkan badan, kemudian ada seorang yang lain membasahi seluruh badannya dengan niat mandi junub. Maka, mandinya orang yang kedua bernilai ibadah sedangkan mandinya orang yang pertama hanya bernilai rutinitas.

2. Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain.
Misalnya, seseorang melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat sunnah, kemudian seorang yang lain melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat wajib. Maka amal kedua orang tersebut terbedakan karena sebab niatnya.

Dengan demikian, fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan rutinitas dan membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Makna niat yang pertama yaitu membedakan tujuan suatu perbuatan, yang membedakan apakah suatu ibadah semata-mata ikhlas karena Allah atau karena yang lainnya.

Pahala Sesuai dengan Kadar Niatnya…

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Saudariku yang semoga dirahmati Allah, hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar niat yang ada dalam hati kita. Semakin tinggi tingkat ketulusan dan keikhlasan kita, semakin besar pula pula balasannya di akhirat dan semakin tinggi pula martabat kita di sisi Allah Ta’ala. Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh kepada kita, bahwa siapa saja yang berhijrah dengan tujuan mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang berhijrah dengan tujuan untuk memperoleh dunia atau karena ingin menikahi seorang wanita, maka dia pun akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.

Niat yang ikhlas, selain mendatangkan keridhaan dan pahala Allah Ta’ala, juga akan meneguhkan hati kita disaat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang, bagaimanapun hasil yang kita raih setelah usaha dan do’a.

Oleh karena itu saudariku, aku nasehatkan untuk diriku dan untukmu agar senantiasa memperbaiki niat dari setiap perbuatan kita, karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27).

Allah Ta’ala juga berfirman,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)

Lihatlah saudariku, Allah tidaklah menyebutkan amal yang paling banyak, akan tetapi Dia menyebutkan amal yang paling baik. Lalu, seperti apakah amal yang paling baik itu?

Seorang ulama salaf, Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan ayat di atas tentang apa itu amal yang paling baik. Beliau mengatakan,

أخلصه وأصوبه. إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل، وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل

“Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya suatu amal jika dia dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar maka amal tersebut tidak diterima. Dan suatu amal jika dia dikerjakan dengan cara yang benar namun tidak disertai dengan niat yang ikhlas maka amal tersebut juga tidak diterima.”

Suatu amal tidak akan diterima hingga ia dikerjakan dengan hati yang ikhlas dan dengan cara yang benar. Ikhlas adalah mengerjakan amal karena Allah. Adapun dikerjakan dengan cara yang benar adalah apabila ia sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saudariku, sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa memperbanyak doa kepada Allah agar Dia menjadikan setiap amal kita ikhlas karena-Nya. Karena Dia-lah Dzat yang memegang hati-hati kita, Dia-lah Dzat yang membolak-balikkan hati kita. Hanya dengan pertolangan-Nya saja kita mampu untuk ikhlas dalam setiap amal yang kita kerjakan.

Bahaya Jika Niat Tidak Tepat

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa amal ibadah yang dikerjakan semata-mata karena mengharapkan dunia, amal ibadah tersebut tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi pelakunya di akhirat, karena amal tersebut akan hilang disebabkan karena niat yang tidak benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“من كانت الدنيا همه فرق الله شمله”. و في لفظه, “أمره, و جعل فقره بين عينيه, و لم يأته من الدنيا إلا ما كتب له, و من كانت الأخرة نيته جمع الله له أمره و جعل غناه في قلبه و أتته الدنيا و هي راغمة”

“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran ada di hadapannya, padahal ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menghimpun urusannya dan akan menjadikan kekayaan (rasa cukup) di hatinya, dan dia akan melihat harta dunia dalam keadaan rendah.” (HR. Ibnu Majah dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Penutup

Saudariku yang semoga dirahmati Allah… Ingatlah, bahwa yang terpenting bukanlah banyaknya amalan, akan tetapi yang terpenting adalah amal manakah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah. Karena betapa banyak amalan yang terlihat kecil tetapi memiliki keberkahan yang besar karena sebab niat yang ikhlas. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi sedikit manfaat dan keberkahannya karena sebab niat yang salah. Sebagaimana perkataan Ibnul Mubarak rahimahullah, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan setiap amal perbuatan kita ikhlas mengharap pahala dan ridha-Nya.
——

Penulis: Wakhidatul Latifah

Muraja’ah : Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:
Asy Syarhul Kabir ‘ala Al Arba’in An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Al Maktabah Al Islamiyyah.
Al Ikhlas wan Niyyah, Ibnu Abid-Dunya, Dar Al Basyair.
Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhus Shalihin, Salim bin ‘Ied Al Hilaly, Dar Ibnul Jauzy.
Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Dar Al Aqidah.
http://www.saaid.net/Doat/dhafer/sb.htm

sumber: https://muslimah.or.id/7034-seseorang-diberi-pahala-sesuai-kadar-niatnya.html

Bila Hati Jatuh Cinta

Jatuh cinta, berjuta rasanya! Benarkah? Orang yang tengah dilanda asmara mungkin akan lihai bersyair “Cintaku padamu seluas angkasa yang biru padamu seluas angkasa yang biru padamu seluas angkasa yang biru rinduku padamu sedalam lautan Atlantik, kasih suci seputih melati, atau jangankan ke Ethopia ke kutub utara aku ikut kamu!!” Sebuah kata-kata yang hiperbol. Seorang penyair berkata, “Demi Allah tidaklah cinta menawan orang yang dimabuk cinta melainkan ia akan membelah jiwanya”.

Cinta, sebuah kata singkat yang sangat abstrak dalam kehidupan manusia. Banyak beredar kisah dan cerita yang populer seperti legendaris Romeo dan Juliet.

Cinta mengharukan antara Qais dengan Laila, yang konon katanya jadi lambang cinta yang suci. Semudah itukah kita percaya bahkan turut bersimpati dan memberi apresiasi pada mereka? Padahal mereka tak terikat dalam bingkai syari’at.

Bila hati terlanjur jatuh cinta sebagaimana hadits,

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

“Kecintaan kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli”[1]

Dalam sebuah syair diungkapkan:

Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat atau mungkin akalku yang tak lagi ditempat. 

Dalam Al Qur’an juga dijelaskan tentang cinta membara istri Al-Aziz terhadap Yusuf dan kaum Luth yang menyukai anak laki-laki yang tampan.

Pernikahan adalah solusi Islami dalam mengobati cinta membara bila memang memungkinkan dan membawa maslahat bagi keduanya. Namu ketika mereka tak mampu menikah maka tak ada alasan untuk mencintainya lagi. Biarlah si virus merah jambu itu pergi. Yakinlah barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hanya cinta yang menuntun pada kebaikan dan ketaqwaan itulah cinta hakiki.

Cinta dalam koridor pernikahan adalah cinta yang romantis, dewasa lagi berkualitas. Thawus berkata dari Ibnu Abbas, “ Tidak ada yang bisa dilihat ( lebih indah oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan”. Cinta karena-Nya jauh lebih indah dari cerita orang-orang tentang manisnya cinta ala Romy dan Yuli. Karena itu, jagalah hatimu hanya untuk kekasih sejatimu. Cinta bukan sekedar keindahan yang nampak di mata, namun cinta adalah yang menyatukan hati dan jiwa.

Anda belum pernah terpanah cinta yang penuh racun berbisa? Tak perlu risau, bersyukurlah! Karena Anda terbebas dari derita lantaran cinta. Dia akan datang menyapa ketika telah tiba saatnya. Lima puluh ribu tahun sebelum semesta ini ada, telah ditaqdirkannya. Dialah pendamping hati, teman seperjalanan dalam menjemput diri meniti jejak cinta Adam dan Hawa.

Wahai Rabbi izinkan hamba-Mu untuk selalu mencintai-Mu.

***

Catatan kaki

[1] hadits ini dhaif marfu’ tapi shahih mauquf dari Abu Ad Darda radhiallahu’anhu, yang berarti ini merupakan perkataan Abu Ad Darda

—

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

sumber: https://muslimah.or.id/7759-bila-hati-jatuh-cinta.html

Muamalah Allah Terhadapmu Sesuai Dengan Muamalahmu Terhadap Hamba-Nya

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه, وبعد:

Di dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih.” (HR. Bukhari)

Bukankah perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan? Barang siapa yang mengasihi makhluk, maka ia akan dikasihi al-Kholiq (pencipta), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu.” (HR. Tirmidzi)

Balasan suatu perbuatan sesuai dengan perbuatan tersebut. Allah ta’ala bermuamalah dengan hamba sesuai muamalah hamba terhadap sesamanya, maka bermuamalah-lah dengan hamba Allah ta’ala dengan muamalah yang mana engkau mengharapkan Allah ta’ala bermuamalah seperti itu terhadapmu.

Allah ta’ala berfirman: “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghobun: 14). firman Allah ta’ala: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin jika Allah ta’ala mengampunimu.” (QS. an-Nuur: 22)

Hendaklah engkau senantiasa meringankan beban orang lain supaya Allah ta’ala meringankan bebanmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta’ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan, maka kamu akan ditolong Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta’ala akan menolongnya.” (HR. Muslim)

Jadilah engkau orang yang mempermudah kesulitan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Terdapat pada umat sebelum mu seorang pedagang yang sering memberi pinjaman kepada orang lain, jika dia melihat si peminjam dalam kesulitan dia berkata kepada anak-anaknya: ‘Maafkan dia (jangan ditagih hutangnya) mudah-mudahan Allah ta’ala mengampuni kita’, maka Allah ta’ala pun mengampuninya.” (HR. Bukhari)

Berlemah-lembutlah terhadap hamba Allah ta’ala maka kamu akan termasuk orang yang didoakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang berlemah-lembut terhadap umatku maka berlemah-lembutlah terhadapnya, dan barang siapa yang mempersulit umatku maka persulitlah ia.” (HR. Ahmad)

Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala adalah Dzat yang maha lemah lembut mencintai kelembutan dan memberi pada kelembutan suatu kebaikan yang tidak pernah diberikan pada kekerasan.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka ia kehilangan suatu kebaikan.” (HR. Muslim)

Tutupilah kejelekan (aib) orang lain maka Allah ta’ala akan menutupi kejelekan (aib) mu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menutupi kejelekan (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi kejelekan (aib) nya.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menutupi aurat (aib) saudaranya (muslim) maka Allah ta’ala akan menutupi aurat (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah)

Pandanglah sedikit kesalahan saudaramu, maka Allah ta’ala akan memandang sedikit pula kesalahan mu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang memandang sedikit kesalahan seorang muslim maka Allah ta’ala akan memandang sedikit kesalahannya.” (HR. Abu Dawud)

Berilah makan faqir miskin, maka Allah ta’ala akan memberimu makan pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan mukmin yang lapar, maka Allah ta’ala akan memberinya makan dari buah-buahan Surga.” (HR. Tirmidzi)

Berilah minum orang yang kehausan, maka Allah ta’ala akan memberimu minum pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum mukmin lainnya yang kehausan, maka Allah ta’ala akan memberinya minum pada hari kiamat dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (HR. Tirmidzi)

Berilah pakaian kepada kaum muslimin maka Allah ta’ala akan memberimu pakaian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi pakaian orang yang telanjang maka Allah ta’ala akan memberinya pakaian hijau dari surga.” (HR. Tirmidzi)

Muamalah (hubungan) Allah ta’ala terhadapmu sebagaimana hubunganmu terhadap hamba-Nya, maka pilihlah muamalah yang kau sukai yang mana Allah ta’ala akan me-muamalahimu dengannya, dan pergaulilah hamba-hamba-Nya dengan (pilihanmu) itu maka kamu akan mendapat ganjarannya.

Jauhilah menyakiti sesama (Jika kamu melakukannya) maka Allah ta’ala akan menyiksamu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala akan menyiksa orang-orang yang menyakiti manusia.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya mereka menimpa kepadamu siksaan yang seberat-beratnya.” (QS. al-Baqarah: 49)

“Dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan kepada malaikat, ‘masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat pedih.” (QS. Ghofir: 46)

Jauhilah menyusahkan hamba-hamba Allah ta’ala (Jika kamu melakukannya), maka engkau akan terkena doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang mengurus perkara umatku lalu mempersulit mereka maka persulitlah dia dan barang siapa yang mempermudah mereka maka permudahkanlah dia.” (HR. Muslim)

Janganlah engkau mencari-cari kesalahan kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta’ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan) nya.” (HR. Tirmidzi)

Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka Allah ta’ala akan membuka aibnya sampai diperlihatkan kepada keluarganya.” (HR. Ibnu Majah)

Janganlah engkau berhati batu (tidak punya belas kasihan).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta’ala tidak akan mengasihinya.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Tidaklah dicabut rasa belas kasihan itu kecuali dari hati orang-orang yang celaka.” (HR. Tirmidzi)

Apapun muamalah yang engkau suguhkan terhadap manusia, maka kamu akan mendapatkan balasan yang sama di sisi Allah ta’ala.

Ibnul Qoyyim berkata: “Sesungguhnya Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha mulia, mencintai yang mulia dari hamba-hamba-Nya. Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui, mencintai orang-orang yang berilmu. Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa, mencintai yang gagah berani. Dia adalah Dzat yang Maha Indah, mencintai keindahan. Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, mencintai orang yang pengasih. Dia adalah Dzat yang Maha Menutupi, mencintai orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Maha Pemaaf, mencintai yang memaafkan hamba-hamba-Nya. Maha Pengampun, mencintai yang suka mengampuni hamba-Nya. Maha lemah lembut, mencintai yang lemah lembut dari hamba-hamba-Nya serta membenci yang keras perangainya. Dia adalah Dzat yang Maha Penyantun, mencintai sifat penyantun. Dzat yang Melimpahkan kebaikan, mencintai perbuatan baik serta pelakunya. Dzat yang Maha Adil, mencintai keadilan. Dzat yang Menerima uzur, mencintai orang yang menerima uzur hamba-hamba-Nya. membalas hamba sesuai dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat tersebut pada diri seorang hamba… maka (sesungguhnya) muamalah Allah ta’ala terhadap hambanya sesuai dengan muamalah hamba terhadap sesamanya… berbuatlah semaumu maka Allah ta’ala akan membalasmu sesuai dengan perbuatanmu terhadap-Nya dan terhadap hamba-hamba-Nya.

Maka hendaklah engkau senantiasa memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah ta’ala sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang mampu memberikan kemanfaatan kepada saudaranya hendaklah ia lakukan.” (HR. Muslim)

berbuat baiklah terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah ta’ala mencintai hamba yang berbuat baik.

jadilah engkau orang yang senantiasa mempermudah urusan hamba Allah ta’ala serta berlemah-lembut terhadap mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Diharamkan masuk Neraka setiap orang yang pemudah, lemah lembut, dekat dengan manusia.” (HR. Ahmad)

Maafkanlah mereka, mudah-mudahan Allah ta’ala mengampuni dosa-dosamu, sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين, وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

***

Oleh: Syaikh Abdul Qoyyim As-Suhaibani
Alih Bahasa: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.

sumber: https://muslim.or.id/610-muamalah-allah-terhadapmu-sesuai-dengan-muamalahmu-terhadap-hamba-nya.html

Dear orang tua, apresiasilah si kecil..

artikel berikut mungkin tidak secara gamblang menjelaskan keutamaan mengapresiasi anak, namun artikel berikut masih terkait dan insyaallah akan menambah wawasan kita. jadi, semangat yaa buat para orang tua..!


Tentang Larangan Berlebihan dalam Memuji

Tidak boleh memuji secara berlebihan

Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” 

Kalimat ini diucapkan oleh beliau berulang kali, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” (HR. Bukhari no. 2662 dan Muslim no. 3000)

Dengan kata lain, ketika kita memuji seseorang kita bisa menggunakan kalimat semacam, “Sebatas yang saya tahu … “; atau “Kalau berdasarkan lahiriyahnya, dan Allah-lah yang lebih tahu, bahwa si fulan itu orang yang baik … “; atau ungkapan-ungkapan semacam itu.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ

“Engkau membinasakan atau Engkau memotong punggung kawanmu itu.” (HR. Bukhari no. 2663 dan Muslim no. 3001)

Berlebihan dalam memuji ini bisa terjadi karena beberapa hal, di antaranya:

Pertama, pujian berlebihan dalam arti tidak ada pujian tersebut dalam diri seseorang yang dipuji (asal memuji saja, serampangan). Yaitu pujian dengan bumbu-bumbu kebohongan atau pujian dengan rekayasa. Misalnya, memuji orang lain sebagai orang dermawan, padahal tidak demikian faktanya.

Ke dua, pujian berlebihan karena orang yang dipuji tidak selamat dari sikap ujub (bangga terhadap diri sendiri) atau dia menjadi terlalu ge-er dengan pujian tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya memiliki sifat atau kedudukan sebagaimana dalam isi pujian tersebut, sehingga pada akhirnya dia tidak mau lagi beramal dan tidak mau berbuat kebaikan karena merasa puas dengan pujian yang dia terima. (Lihat Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Bathal)

Pujian yang mengada-ada inilah yang menurut penjelasan ulama merupakan maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ

“Jika Engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya.” (HR. Muslim no. 3002)

Dalam riwayat lain dari sahabat Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah di muka orang yang memuji-muji.” (HR. Muslim no. 3002)

‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

المدح هو الذبح

“Pujian adaah sembelihan.” (Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Hajar)

Jika tidak mengandung unsur terlarang di atas, tidak masalah jika memuji orang lain di hadapannya

Adapun jika pujian tersebut tidak mengandung unsur-unsur terlarang di atas, maka tidak mengapa. Sebagaimana perbuatan atau ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memuji sebagian sahabatnya.

Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ يَمْشِي، إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ

“Aku mendengar ayahku berkata, “Aku belum pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini bahwa dia adalah calon penghuni surga kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam.” (HR. Bukhari no. 3812 dan Muslim no. 2483)

Dalam hadits di atas, terdapat pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau adalah penghuni surga.

Juga sebagaimana pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Bakr bukanlah orang yang sombong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ لَسْتَ مِنْهُمْ

“Engkau bukan termasuk mereka (orang-orang yang sombong).” (HR. Bukhari no. 6062)

Sehingga hadits-hadits pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian sahabatnya adalah pengeculian dari hadits-hadits beliau yang merang untuk memuji orang lain. 

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan kompromi dua jenis hadits di atas,

وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيث كَثِيرَة فِي الصَّحِيحَيْنِ بِالْمَدْحِ فِي الْوَجْه . قَالَ الْعُلَمَاء : وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى الْمُجَازَفَة فِي الْمَدْح ، وَالزِّيَادَة فِي الْأَوْصَاف ، أَوْ عَلَى مَنْ يُخَاف عَلَيْهِ فِتْنَة مِنْ إِعْجَاب وَنَحْوه إِذَا سَمِعَ الْمَدْح . وَأَمَّا مَنْ لَا يُخَاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ ، وَرُسُوخ عَقْله وَمَعْرِفَته ، فَلَا نَهْي فِي مَدْحه فِي وَجْهه إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَة ، بَلْ إِنْ كَانَ يَحْصُل بِذَلِكَ مَصْلَحَة كَنَشَطِهِ لِلْخَيْرِ ، وَالِازْدِيَاد مِنْهُ ، أَوْ الدَّوَام عَلَيْهِ ، أَوْ الِاقْتِدَاء بِهِ ، كَانَ مُسْتَحَبًّا . وَاللَّهُ أَعْلَم .

“Terdapat banyak hadits dalam shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) tentang (bolehnya) memuji orang lain di hadapannya. Para ulama mengatakan, metode untuk mengkompromikan hadits-hadits di atas adalah bahwa hadits yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang berlebihan (serampangan) dalam memuji, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian kepada dirinya. 

Adapun orang yang dikhawatirkan tidak tertimpa fitnah tersebut, baik karena bagusnya ketakwaannya dan kokohnya akal dan ilmunya, maka tidak ada larangan memuji di hadapannya, itu pun jika pujian tersebut tidak pujian yang serampangan. Bahkan jika pujian tersebut menimbulkan adanya maslahat, misalnya semakin semangatnya dia untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan kebaikan, atau kontinyu dalam berbuat baik (misalnya pujian yang ditujukan kepada anak-anak, pent.), supaya orang lain pun meneladani orang yang dipuji tersebut, maka (jika ada maslahat semacam ini) hukumnya dianjurkan.” (Syarh Shahih Muslim, 9: 382)

Berdasarkan penjelasan An-Nawawi di atas, maka pujian kepada anak-anak kecil (anak TK) yang pujian ini bisa membangkitkan motivasi mereka untuk terus belajar dan berbuat baik, hukumnya dianjurkan. 

[Selesai]

***

@Puri Gardenia i10, 11 Syawwal 1440/15 Juni 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

sumber: https://muslim.or.id/47721-larangan-berlebihan-dalam-memuji.html

Hukum Mandi Jumat itu Sunnah

Apa keutamaan dan hukum mandi Jumat?

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

بَابُ فَضْلِ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَوُجُوْبِهَا وَالاِغْتِسَالِ لَهَا وَالطِّيْبِ وَالتَّبْكِيْرِ إِلَيْهَا وَالدُّعَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَفِيهِ بَيَانُ سَاعَةِ الِإجَابَةِ وَاسْتِحْبَابُ إِكْثَارِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى بَعْدَ الجُمُعَةِ

  1. Bab Keutamaan Hari Jumat, Kewajiban Shalat Jumat, Mandi untuk Shalat Jumat, Mengenakan Wewangian, Datang Lebih Dulu untuk Shalat Jumat, Berdoa pada Hari Jumat, Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penjelasan tentang Waktu Dikabulkannya Doa (pada Hari Jumat), dan Sunnahnya Memperbanyak Dzikir kepada Allah Setelah Shalat Jumat

Hadits #1151

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 877 dan Muslim, no. 844]

Hadits #1152

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

المُرَاد بِالمُحْتَلِمِ : البَالِغُ . وَالمُرادُ بِالوَاجِبِ : وُجُوبُ اخْتِيارٍ ، كَقولِ الرَّجُلِ لِصَاحِبهِ : حَقُّكَ وَاجِبٌ عَلَيَّ . وَاللهُ أَعْلَمُ.

Dari Abu Sa’di Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mandi pada hari Jumat hukumnya wajib bagi setiap yang sudah berusia baligh.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 770 dan Muslim, no. 846)

Maksud dari kalimat yang sudah bermimpi adalah orang yang sudah baligh. Dan yang dimaksud dengan wajib adalah wajib secara ikhtiar, seperti seseorang berkata kepada rekannya, “Hakmu adalah kewajibanku.” Wallahu a’lam.

Hadits #1153

وَعَنْ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ  وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالغُسْلُ أفْضَلُ )) رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) .

Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa yang berwudhu pada hari Jumat, maka itu baik. Dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih utama.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan) [HR. Abu Daud, no. 354; Tirmidzi, no. 497. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Faedah Hadits

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (4:533) menyatakan, “Mandi Jumat adalah sunnah dan bukanlah wajib yang menyebabkan seseorang jika meninggalkannya menjadi berdosa. Hal ini tidak ada beda pendapat di antara kami ulama Syafi’iyah. … Mayoritas ulama menyatakan bahwa siapa saja yang menghadiri shalat Jumat baik itu pria, wanita, anak-anak, musafir, budak, dan selainnya tetap disunnahkan untuk mandi Jumat. Hal inilah yang jelas nampak pada hadits Ibnu ‘Umar. Karena memang maksud mandi Jumat adalah untuk membersihkan diri. Mereka yang disebutkan tadi sama dalam hal ini. Sedangkan orang-orang yang tidak menghadiri shalat Jumat, tidak disunnahkan untuk mandi Jumat–meskipun ia terkena kewajiban shalat Jumat (namun ia meninggalkannya karena uzur, pen.)–. Hal ini disebabkan ketika itu maksud untuk mandi Jumat telah hilang. Dalam hadits Ibnu ‘Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menghadiri shala Jumat baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah ia mandi. Sedangkan yang tidak menghadirinya –baik laki-laki maupun perempuan-, maka ia tidak punya keharusan untuk mandi.” (HR. Al-Baihaqi, Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini sahih).” Demikian nukilan dari Imam Nawawi.

Ulama yang menganggap mandi Jumat tidaklah wajib adalah Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, An-Nu’man, dan pengikutnya.

Ibnu Daqiq Al-‘Ied menjelaskan tidak wajibnya yang dianut kebanyakan ulama, mereka mentakwil (memahami) dalil-dalil yang menyebutkan kalimat perintah dengan makna ta’kid (penegasan). Juga karena beralasan dengan hadits, “Barangsiapa yang berwudhu pada hari Jumat, maka itu baik. Dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih utama”. Demikian sebagian nukilan dari Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, 17:31-33.

Referensi:

  1. Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin ‘Ali Al-Itiyubia. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

@DarushSholihin, 7 Dzulqa’dah 1440 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/20838-hukum-mandi-jumat-itu-sunnah.html

Shalat Lima Waktu Menggugurkan Dosa

Shalat lima waktu ternyata bisa menggugurkan dosa. Ini di antara keutamaannya. Sungguh sangat disayangkan walau ada keutamaan ini, banyak di antara yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu dengan mudah dan menyepelekannya.

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,

أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً ، فَأَتَى النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ) . فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِى هَذَا قَالَ  لِجَمِيعِ أُمَّتِى كُلِّهِمْ 

Ada seseorang yang sengaja mencium seorang wanita (non mahram yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan tentang yang ia lakukan. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.[1]” (QS. Hud: 114). Laki-laki tersebut lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pengampunan dosa seperti itu hanya khusus untuk aku?” Beliau bersabda, “Untuk seluruh umatku.” (HR. Bukhari no. 526 dan Muslim no. 2763).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).

Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228).

Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, “Shalat yang menghapuskan dosa adalah yang ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan khusyu’ dan mengharapkan wajah Allah.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 234)

Adapun mengenai dosa yang dimaafkan dengan amalan shalat, apakah dosa besar atau dosa kecil? Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Jumhur (mayoritas ulama) menganggap bahwa hadits tersebut dipahami yang dihapuskan hanyalah dosa kecil. Sedangkan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa dosa besar pun bisa dimaafkan, jadi bukan hanya dosa kecil.[2]  

—

Akhukum fillah,

Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

Diselesaikan saat hujan mengguyur Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 18 Muharram 1435 H, 11: 00 PM.

Ikuti status kami dengan memfollow Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, FB Muhammad Abduh Tuasikal, atau Twitter @RumayshoCom

—


[1] Yang dimaksud tepi siang adalah shalat Shubuh, Zhuhur dan ‘Ashar. Sedangkan shalat pada bagian permulaan malam adalah shalat Maghrib dan ‘Isya. Lihat Tafsir Al Jalalain, hal. 234.

[2] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501.

sumber: https://rumaysho.com/3776-shalat-lima-waktu-menggugurkan-dosa.html

Perselisihan Antara Orang Tua Dan Anak

Setiap orang tua muslim sangat berharap agar anak-anaknya menjadi anak yang shalih, anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

Kenyataannya tidak sedikit orang tua yang dibuat pusing oleh anaknya.

Ada seorang ayah mengadukan kepada penulis sambil menangis karena anaknya pecandu narkoba. Si anak ditangkap polisi dan masuk penjara. Si ayah malu kepada masyarakat.

Ada seorang ibu menelpon penulis mengadukan sikap anak remajanya yang malas shalat dan selalu melawan dan menyakiti hati ibunya dengan kata-kata kasar yang menusuk hati. Si ibu bercerita sambil menangis sesenggukan.

Dan masih banyak lagi pengaduan dari para orang tua kepada penulis tentang kekurang ajaran dan sikap-sikap durhaka anak terhadap mereka sebagai orang tua.

Bagi orang tua ini adalah ujian yang sangat berat. Ingatlah Jannah (Surga) itu mahal. Hendaknya orang tua jangan berputus asa, sikapilah dengan positif. Ada seorang ayah karena tertekan jiwanya sampai mengatakan sambil menangis lebih baik saya mati saja daripada mendapat godaan dari anak. AstaghfiruLLAH, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang keras seorang mengharapkan kematian karena musibah dunia. Kita harus selalu berhusnudzan kepada Allah, banyaklah beristighfar dan ucapkan jika kita mendapatkan musibah.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya .

Seharusnya kita sebagai orang tua terus mengintrospeksi, bisa jadi ini merupakan teguran dari Allah atas dosa-dosa kita. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ingin agar kita merengek dan kembali ke jalan Nya. Mungkin sebelum ini kita lalai dalam kewajiban mendidik anak dan memberi perhatian kepadanya. Mungkin selama ini orang tua bermuamalah dengan riba, meminjam uang dengan bunga /riba. Mungkin sebelum ini orang tua bersikap keras bahkan kasar ke anak yang membuat anak tertekan jiwanya, kurang mendapatkan bimbingan keimanan dari orang tuanya lalu si anak “memberontak” dan durhaka kepada orang tua.

Sebagian orang tua beralasan cara keras dalam mendidik anak, ia dapatkan dari orang tuanya tapi dia tetap hormat dan patuh kepada kedua orang tua. “Mengapa ketika saya terapkan cara yang sama, kok anak saya jadi kurang ajar kepada saya?” Berarti kalau hasilnya tidak sama, lebih baik kita mengubah pola asuhan ketimbang memaksakan anak untuk berubah dengan cara-cara yang keras dan hasilnya anak tidak berubah, malah semakin buruk.Baca Juga   Membersihkan Hati dari Cinta Dunia (1)

Kita sebagai orang tua harus menjadi teladan dan terus menguatkan dan memperbaiki hubungan dengan Allah agar Allah memperbaiki hubungan kita dengan anak-anak kita.

Kalau ada orang yang mengatakan Nabi Nuh Alaihissalam saja mempunyai anak yang kafir. Ia, Nabi Nuh Alaihissalam telah berdakwah kepada kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Beliau telah maksimal dalam mendidik, lalu diuji oleh Allah dengan anak yang kafir, sehingga beliau tidaklah berdosa. Sedangkan kita tidak luput dari dosa atau bahkan berlumuran dosa ditambah usaha kita belum maksimal, doa kita belum maksimal. Maka janganlah mudah untuk menyalahkan anak sepenuhnya atas kebandelan anak. Lebih baik menyalahkan diri sendiri ketimbang mencari kambing hitam menyalahkan anak atau orang lain.

Para orang tua juga harus berkomunikasi dengan cara yang baik kepada anak-anak kita. Mereka membutuhkan kasih sayang, butuh didengar ucapan mereka, butuh dihargai. Bermusyawarah lah dan mintalah pendapat mereka Jagalah perasaan mereka, jangan melukai hati anak-anak.

Seringkali orang tua mempermalukan anak-anaknya dan menceritakan aib-aib anak kepada orang lain. Kalaupun orang tua bermaksud hendak konsultasi dengan orang yang dianggap bisa membantu memberikan nasihat kepada anaknya tapi janganlah menceritakan aib anak di depan si anak.

Orang tua harus super sabar, tidak mudah marah, tidak cepat menyalahkan anak dan harus pandai menggembirakan anak dengan memberi pujian, apresiasi dan motivasi.

Jangan lupa agar kita terus berdoa kepada Allah di setiap saat dan dimana pun kita berada agar Allah memberi hidayah kepada anak-anak kita.

Orang tua janganlah gengsi untuk meminta maaf kepada anak karena kesalahan cara kita dalam mendidik anak sebelum ini.

Dalam suatu seminar parenting ada seorang peserta yang menangis saat mendengarkan pemaparan dari seorang nara sumber. Saat seminar hari pertama selesai, peserta tadi dengan wajah sedih menghampiri nara sumber tersebut dan mengadukan permasalahan rumah tangganya. Dia seorang ayah yang memiliki anak yang bandel dan suka melawan ibunya. Si ayah marah dan mengusir anaknya dari rumah induk. Sekarang si anak tinggal di paviliun rumah, ia tidak mendapatkan uang jajan dan tidak diajak bicara oleh ayahnya selama lima tahun.Baca Juga   Belajar Bersikap Bijak

Nara sumber tersebut yang bergelar Doktor dan pakar parenting menasihati ayah peserta seminar untuk minta maaf kepada anaknya.

“Apa? Seorang ayah minta maaf kepada anaknya!? Mustahil saya lakukan. Dia yang bersalah, dia seharusnya yang minta maaf kepada saya!” Tegas sang ayah.

Nara sumber tersebut menjelaskan bahwa anak bapak jelas bersalah, tapi bapak mendiamkan anak selama lima tahun, ini merupakan kesalahan juga. Dengan bapak meminta maaf kepada anak bapak, semoga Allah memberikan hidayah kepada anak bapak. Akhirnya mereka berpisah untuk berkumpul lagi besok pagi di acara yang sama.

Keesokan paginya, peserta tersebut datang ke acara seminar dengan wajah ceria dan gembira. Ia langsung menemui pa Doktor sebelum acara dimulai. Ia mengucapkan terimakasih atas nasihat yang diterimanya kemarin. Semalam ia mendatangi anaknya, mengetuk pintu paviliun, mengucapkan salam dengan ramah. Si anak membuka pintu paviliun dan tertegun melihat ayahnya. Si ayah langsung meminta maaf kepada anaknya atas sikap kerasnya selama ini. Si anak terharu, ia langsung memeluk ayahnya dan meminta maaf kepada ayahnya. Keduanya menangis, si anak berjanji akan menjadi anak yang patuh dan taat kepada kedua orang tua.

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

“ Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, kabulkanlah doaku. ”

رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةًۭ طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

“ Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa .”

Cirebon, 1 Muharram 1442H/20 Agustus 2020M 
Fariq Gasim Anuz

Sumber: https://almanhaj.or.id/3375-perselisihan-antara-orang-tua-dan-anak.html

HUKUM MEMAKAI SANGGUL ATAU WIG

PERTANYAAN :

Bolehkah wanita menggunakan sanggul (rambut palsu atau wig)?

JAWABAN :

Sanggul (ataupun wig) tidak diperbolehkan (haram) dipakai karena termasuk menyambung rambut. Meskipun tidak tidak tersambung langsung, akan tetapi sanggul atau wig tersebut membuat kepala wanita terlihat lebih tinggi dari sebenarnya, sehingga serupa dengan menyambung rambut. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda bahwa Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang minta disambungkan rambutnya.

🔹Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ 

“Allah melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang meminta agar rambutnya disambung, perempuan yang mentato dan perempuan yang meminta agar ditato.” (HR. Bukhari 5589)

📌 Namun apabila dikepala wanita tidak ada rambut sama sekali, karena botak atau suatu penyakit misalnya, maka diperbolehkan baginya menggunakan wig untuk menutupi aibnya, karena menutupi aib hukumnya boleh. Yang tidak diperbolehkan adalah menggunakan wig untuk berhias, karena berhias adalah untuk membuang aib.

_____________________________

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

sumber: https://shahihfiqih.com/fatwa/600/

Akibat Perbuatan Maksiat

Khutbah Jum’at Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin

Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah yang di tanganNya perbendaharaan langit dan bumi, bagiNyalah kepemilikan dan bagiNyalah segala pujian dan Dia menyaksikan segala sesuatu. Dia memiliki hikmah dalam segala keputusannya baik dalam syari’atNya maupun dalam taqdir yang ditetapkanNya. Dia melakukan apa saja yang dikehendakiNya dan menghukum dengan yang Dia inginkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada syarikat bagiNya, Dzat yang Maha melindungi dan Maha terpuji. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, penutup para nabi dan merupakan pimpinan para nabi dan merupakan hamba yang paling mulia. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi dan kepada keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia dengan baik hingga hari kiamat.
Kemudian dari pada itu,

Sesungguhnya Allah telah berfirman seraya menjelaskan kesempurnaan kekuasaanNya  dan kesempurnaan hikmahNya  dan bahwasanya segala perkara adalah di bawah kekuasaan-Nya dan Dialah yang mengatur bagi hamba-hamba-Nya apa yang  dikehendakiNya- berupa keamanan dan ketenangan, ketakutan, kemakmuran, kesulitan, kemudahan, kesempitan, sedikit, banyak….dan seterusnya, Allah berfirman

(يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (الرحمن:29

Semua yang ada di langit dan di bumi selalu minta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. 55:29)

Allah memutuskan perkara-perkara yang berlaku pada makhluknya, hukum-hukum-Nya berlaku pada hamba-hambaNya terkadang seseuai dengan kebijaksanaan-Nya dan karunianya, dan terkadang sesuai dengan kebijaksanaan-Nya dan keadilan-Nya, Dan Tuhanmu tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun

(وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ) (الزخرف:76)

Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. 43:76) 

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Kita beriman kepada Allah dan taqdirNya. Beriman kepada taqdir Allah merupakan salah satu rukun iman. Kita beriman bahwasanya apa saja yang kita rasakan berupa kebaikan dan kelapangan semua itu merupakan nikmat Allah yang Allah karuniakan kepada kita yang mewajibkan kita untuk bersyukur kepada Dzat sumber karunia dan pemilik karunia tersebut dengan taat kepadaNya, yaitu dengan menjauhi laranganNya dan menjalankan perintahNya. Karena jika kita taat kepada Allah maka kita telah bersyukur atas karunia Allah dan jika demikian maka kita berhak untuk meraih apa yang dijanjikan Allah kepada kita, yaitu karunia Allah kepada kita dengan memberi tambahan kenikmatan. Allah berfirman

(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ) (النحل:53)

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), (QS. 16:53)

(وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ) (ابراهيم:7)

“Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema’lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7)

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Kita di Negara Saudi Arabia ini, alhamdulillah kita berada di atas kehidupan yang aman, nyaman dan tentram, namun ingatlah bahwa keamanan dan ketentraman ini tidak akan berkesinambungan selamanya kecuali dengan ketaatan kepada Allah…tidak akan berkesinambungan selamanya hingga kita taat kepada Allah…hingga kita menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari melakukan perkara-perkara kemungkaran…hingga kita menolong mereka para penegak amar ma’ruf nahi mungkar di tengah umat Islam karena merekalah yang mencegah umat ditimpa dengan sebab-sebab hukuman dan adzab, oleh karena itu wajib bagi kita untuk menolong mereka. Wajib bagi kita agar masuk dalam barisan mereka.

Jika mereka bersalah maka wajib bagi kita untuk mengetahui kesalahan mereka dan hendaknya kita mengingatkan mereka dari kesalahan tersebut dan membimbing mereka kepada petunjuk yang benar, bukan malah kita menjadikan kesalahan-kesalahan mereka alasan untuk menjatuhkan dan menjauhkan mereka dari tugas yang mulia ini, ini adalah metode yang tidak baik.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…

Sesungguhnya musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin berupa penderitaan, kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamanan, baik yang menyangkut pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang mereka lakukan dan sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah serta meninggalkan penegakkan syari’at Allah, bahkan mereka mencari-cari hukum di antara masyarakat dengan hukum selain dari syari’at Allah Yang telah menciptakan seluruh makhluk dan Yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan bapak-bapak mereka dan Yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka daripada diri mereka sendiri

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…

Seungguhnya saya mengulangi kalimat saya ini karena urgensinya dan karena banyak orang yang berpaling darinya. Sesungguhnya saya katakan bahwa musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin berupa penderitaan, kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamanan, baik yang menyangkut pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang mereka lakukan dan sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah serta meninggalkan penegakkan syari’at Allah, bahkan mereka mencari-cari hukum di antara masyarakat dengan hukum selain dari syari’at Allah Yang telah menciptakan seluruh makhluk dan Yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih saying ibu-ibu dan bapak-bapak mereka dan Yang paling mengetahui kemaslahatan dan kabaikan bagi mereka daripada diri mereka sendiri

Allah berfirman

(وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ) (الشورى:30)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. 42:30)

(مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً) (النساء:79)

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. 4:79)

Kebaikan apa saja yang kita rasakan baik berupa kenikmatan ataupun keamanan sesungguhnya Allah-lah yang telah mengaruniakannya kepada kita permulaan dan di penghujung. Dialah yang telah memberikan kita karunia kepada kita (berupa kemudahan untuk bisa beribadah kepadaNya-pen) maka kitapun bisa melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya kebaikan-kebaikan. Dialah yang telah menyempurnakan kenikmatan bagi kita.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang menyandarkan musibah-musibah yang mereka alami, apakah musibah yang menyangkut harta dan perekonomian atau yang menyangkut keamanan dan politik, mereka menyandarkan musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.

Tidak diragukan lagi hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya dibalik semua sebab-sebab material, alami  tersebut adalah sebab syar’i, yang merupakan sebab timbulnya seluruh musibah dan malapetaka, yang lebih kuat, lebih besar, dan lebih berpengaruh daripada sebab-sebab materi di atas. Namun terkadang sebab-sebab materi merupakan sarana timbulnya musibah dan bencana sesuai dengan konsekwensi dari sebab-sebab syar’iyah berupa bencana dan hukuman. Allah berfirman;

(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) (الروم:41)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41)

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…, wahai ummat Nabi Muhammad…
Bersyukurlah atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kalian, yang kalian telah rasakan dan bersenang-senang dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut. Kalian wahai umat pengikut nabi Muhammad adalah umat yang paling baik daripada umat-umat nabi yang lain, kalian telah dimuliakan oleh Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan hukuman kepada ummat ini akibat kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh mereka dan dosa-dosa mereka sebagaimana hukuman yang telah Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu. Allah tidak menimpakan kebinasaan yang menyeluruh yang menghancurkan seluruh umat sekaligus sebagaimana yang telah Allah timpakan kepada kaum ‘Aad tatkala mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).[2] Allah tidak menimpakan hukuman kepada umat ini sebagaimana hukuman yang Allah timpakan kepada kaum Tsamud, yang ditimpa suara yang sangat keras dan mengguntur dan gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka[3], tidak juga sebagaimana hukuman yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Luth yang Allah kirimkan kepada mereka hujan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi batu dari langit dan Allah menjadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (dibalik).[4]

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya Allah dengan kebijaksanaan-Nya dan rahmat-Nya kepada ummat ini, Allah menjadikan hukuman kepada mereka akibat dosa-dosa dan kemaksiatan yang dikerjakan mereka berupa penguasaan sebagian mereka terhadap yang lain sesama kaum muslimin. Allah berfirman:

(قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ) (الأنعام:67)

“Katakanlah:”Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian) kamu kepada keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah:”Aku ini bukan orang yang diserahi mengurus urusanmu”. Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. 6:65-67)

Ibnu Katsir menyabutkan dalam buku tafsir beliau hadits-hadits yang banyak yang berkaitan dengan ayat yang pertama. Diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhori dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhoinya-, beliau berkata, “Tatkala turun firman Allah“Katakanlah:”Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu”, Nabi berkata, أَعُوْذُ بِوَجْهِكَ “Aku berlindung dengan wajah-Mu ya Allah darinya adzab ini” “atau dari bawah kaki kalian”, Nabi berkata, Nabi berkata, أَعُوْذُ بِوَجْهِكَ “Aku berlindung dengan wajah-Mu ya Allah darinya adzab ini” atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian) kamu kepada keganasan sebagian yang lain”, Nabi berkata هَذِه أَهْوَنُ أَوْ أَيْسَر “Yang ini lebih ringan atau lebih mudah”.

Dan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqos, beliau berkata,

أَقْبَلْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله حَتَّى مَرَرْنَا عَلَى مَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَة فَدَخَلَ رَسُوْلُ الله فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ فَنَجَى رَبَّهُ طَوِيْلاً ثُمَّ قَالَ: “سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا سَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرْقِ  فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ بِالْغَرْقِ  فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُهُ أَلاَّ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا

“Kami pergi bersama Rasulullah hingga kami melewati sebuah mesjid bani Mu’awiyah maka Rasulullahpun masuk dalam mesjid tersebut kemudian beliau sholat dua rakaat, maka kamipun sholat bersama beliau. Beliaupun lama bermunajat kepada Allah, setelah itu beliau berkata (kepada kami), “Aku meminta kepada Robku tiga perkara. Aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan menenggelamkan mereka maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim kemarau yang berkepanjangan (yaitu sebagaimana yang menimpa kaum Fir’aun) maka Dia mengabulkan permintaanku. Dan aku meminta kepadaNya agar tidak menjadikan mereka saling betentangan (berperang satu dengan yang lainnya) maka Dia tidak mengabulkan permintaanku”

Dan dari Khobab bin Al-Arth, beliau berkata,

وَافَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ فِيْ لَيْلَةٍ صَلاَّهَا كُلَّهَا حَتَّى كَانَ مَعَ الْفَجْرِ فَسَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ صَلاَتِهِ فَقُلْتُ “يَا رَسُوْلَ اللهِ لَقَدْ صَلَّيْتَ اللَّيْلَةَ صَلاَةً مَا رَأَيْتُكَ صَلَّيْتَ مِثْلَهَا”، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ:”أَجَل، إِنَّهَا صَلاَةُ رَغَبٍ وَرَهَبٍ سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا ثَلاَثَ خِصَالٍ فَأَعْطَانِيْ اثْنَتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلاَّ يُهْلِكَنَا بِمَا أَهْلَكَ بِهِ الأُمَمَ قَبْلَنَا. سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلاَّ يُظْهِرَ عَلَيْنَا عَدُوًّا مِنْ غَيْرِنَا فَأَعْطَانِيْهَا. سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلاَّ شِيَعًا وَيُذِيْقَ بَعْضَنَا بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيْهَا”

“Aku mendapati Rasulullah pada suatu malam dimana Rasulullah sholat semalam penuh hingga menjelang terbit fajar, Rasulullahpun salam (selesai) dari sholat malamnya. Akupun berkata, “Ya Rasulullah malam ini engkau sholat yang tidak pernah sebelumnya aku melihat engkau sholat seperti ini”. Rasulullah berkata, “Benar, ini adalah sholat yang berisi harapan dan ketakutan. Aku telah meminta Robbku dalam sholatku tiga perkara, lalu Dia mengabulkan dua permintaanku dan tidak mengabulkan yang satu. Aku meminta kepada Robbku agar Ia tidak membinasakan kita sebagaimana Dia telah membinasakan umat-umat sebelum kita maka Allah-pun mengabulkannya. Dan aku meminta kepada Robbku agar tidak menjadikan musuh dari selain golongan kita (selain dari kaum muslimin) menguasai kita maka Diapun mengabulkannya. Dan aku memohon kepada Robku agar tidak Dia menjadikan kita dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu kepada keganasan sebagian yang lain maka Dia tidak mengabulkannya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasai, dan At-Thirmidzi

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin…
Sesungguhnya kalian beriman dan mempercayai kebenaran ayat-ayat ini dan kalian beriman dan membenarkan hadits-hadits yang sohih (benar datangnya) dari Rasulullah namun kenapakah kalian tidak merenungkannya…??, kenapa kalian tidak merenungkan kandungannya….??, kenapa kalian tidak menyandarkan musibah dan malapetaka yang menimpa kalian kepada kekurangan dan kelemahan agama kalian hingga kalian kembali kepada Robb kalian dan kalianpun menyelamatkan jiwa kalian dari sebab-sebab kebinasaan dan kehancuran??

Bertakwalah kepada Allah, takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, lihatlah kepada kondisi kalian, bertaubatlah kepada Allah dan luruskanlah jalan kalian menuju kepadaNya. Ketahuilah bahwasanya seluruh musibah yang menimpa kalian wahai umat Muhammad dan seluruh fitnah dan bencana yang kalian alami sesungguhnya berasal dari diri kalian sendiri, berasal karena sebab dosa-dosa kalian. Maka hendaklah kalian bertaubat dari setiap dosa yang kalian lakukan, kembalilah kepada jalan Allah dan berlindunglah kalian kepada Allah dari fitnah, ujian, dan bencana. Bencana dunia yang menyangkut jiwa berupa pembunuhan dan luka serta terpecah-pecahnya kalian, atau berupa bencana yang mengenai harta benda seperti kurangnya harta dan porak-prandanya harta benda. Demikian juga bencana yang berkaitan dengan agama yang menimpa hati berupa syubhat-syubhat dan syahwat (hawa nafsu) yang telah merintangi umat ini dari agama Allah dan  menjauhkan umat dari jalan salaf mereka sehingga menjerumuskan umat ini kedalam jurang api neraka. Sesungguhnya fitnah (bencana) yang menimpa hati lebih besar dan lebih bahaya dan lebih buruk akibatnya daripada bencana yang berkaitan dengan dunia yang jika terjadi maka akibatnya hanyalah kerugian materi dunia….dan dunia bagaimanapun juga akan musnah cepat atau lambat. Adapun cobaan yang menimpa agama maka akibatnya adalah kerugian di dunia dan akhirat. Allah berfirman

“Katakanlah:”Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”.Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (QS. 39:15)

Ya Allah kami memohon kepadaMu dan kami sedang menunggu pelaksanaan kewajiban kami (yaitu sholat jum’at) agar Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Engkau dan termasuk orang-orang yang sadar dan mengambil ibroh tatkala turun hukuman-Mu (berupa bencana dan musibah).

Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sebenar-benarnya yang mereka menyandarkan musibah yang melanda mereka kepada sebab yang hakiki yaitu sebab syar’i yang telah Engkau jelaskan dalam Kitab-Mu dan melalui lisan Rasul-Mu Muhammad.

Ya Allah karuniakanlah bagi umat ini dan bagi para pemimpin-pemimpin mereka agar kembali taubat kepada Engkau dengan taubat yang sebenar-benarnya baik lahir maupun batin, baik dalam perkataan maupun perbuatan hingga kembali umat ini menjadi baik, karna kebaikan para pemimpin merupakan kebaikan bagi umat yaitu kebaikan mereka merupakan sebab kebaikan bagi umat.

Ya Allah kami memohon kepadaMu agar Engkau meluruskan pemerintah dan para penguasa kaum muslimin dan menganugerahkan kepada mereka kesadaran dengan apa yang telah menimpa ummat serta memberikan taufik dan petunjuk kepada mereka menuju kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai.

Ya Allah kami memohon kepadaMu agar Engkau menjauhkan mereka dari penasehat-penasehat yang buruk, sesungguh Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah anugrahkan kepada mereka penasehat-penasehat yang terbaik yang menunjukkan kepada mereka jalan kebaikan serta mendorong dan menganjurkan mereka untuk melekukannya.

Ya Allah siapa saja yang tidak menasehati mereka dan tidak berbuat baik terhadap rakyat mereka maka jauhkanlah ia dari para penguasa dan gantikanlah bagi mereka penasehat yang lebih baik. Wahai penguasa alam semesta, wahai Dzat Yang memiliki kemuliaan dan keagungan.

Khutbah yang kedua

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan baik yang penuh barokah sebagaimana yang dicintai Rob kami dan diridhaiNya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, tidak ada syarikat bagiNya. Hanya baginyalah segala pujian di dunia dan di akhirat.

Kemudian daripada itu,

Wahai hamba-hamba Allah bertakwalah dan takutlah kalian kepada Allah, waspadalah kalian dari sikap melalaikan syari’at Allah….hati-hatilah kalian dari sikap lalai terhadap ayat-ayat Allah….hati-hatilah kalian dari sikap lalai dari mentadabburi kitabullah (Al-Qur’an)…hati-hatilah kalian terhadap sikap lalai dari mengenal sunnah-sunnah Rasuluullah. Sesungguhnya pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Nabi terdapat sumber kebahagiaan kalian di dunia dan di akhirat jika kalian memegang teguh kepada sunnah-sunnah Nabi dengan membenarkan segala berita dari Rasulullah dan melaksanakan perintah-perintah Rasulullah.

Wahai hamba-hamba Allah…

Sebagian orang ragu dan meragukan orang lain tentang perkara bahwa maksiat-maksiat merupakan sebab timbulnya musibah dan bencana, hal ini dikarenakan kelemahan iman mereka dan kurangnya mereka merenungkan kandungan isi Al-Qur’an. Saya akan bacakan kepada mereka dan yang sejenis mereka firman Allah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَائِمُونَ َأوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحىً وَهُمْ يَلْعَبُونَ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (لأعراف:99-96

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS.Al A’raaf 96-99)

Sebagian salaf mengatakan, “Jika engkau melihat Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang sedangkan engkau melihat orang ini terus melakukan kemaksiatan maka ketahuilah bahwa ini adalah tipuan Allah kepadanya, dan orang tersebut masuk dalam kategori firman Allah

(سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ) (القلم:44)

Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh. (QS. 68:44)

Wahai kaum muslimin…, wahai hamba-hamba Allah…

Demi Allah sesungguhnya kemaksiatan sangat mempengaruhi keamanan Negara, sangat berpengaruh terhadap ketentaraman bangsa dan perekonomiannya, serta mempengaruhi hati-hati rakyat.

Sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan benar-benar menyebabkan tercerai-berainya kaum muslimin antara satu dengan yang lain…

Sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan menyebabkan seorang muslim memandang saudaranya sesama  muslim seakan-akan saudaranya tersebut berada di atas agama yang lain selain agama Islam.

Namun jika kita benar-benar membenahi dan meluruskan diri kita masing-masing demikian juga membenahi keluarga kita, tetangga kita, penduduk bangsa yang mampu kita benahi diantara mereka, kemudian kita saling seru-menyeru kepada kebaikan dan saling mencegah dari melakukan kemungkaran, kita membantu dan memperkuat siapa saja yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan bijaksana dan nasehat yang baik, maka dengan demikian barulah timbul persatuan dan keselarasan. Allah berfirman

(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ) (آل عمران:105)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. 3:105)

Saya mengajak diri saya sendiri dan kalian wahai saudara-saudaraku untuk bersatu di jalan Allah dan saling bergandengan tangan dalam menegakkan syari’at Allah, saling menasehati satu dengan yang lainnya diantara kita, berdialog dengan siapa saja yang memang butuh untuk diajak dialog namun dengan metode yang terbaik dan dengan hujjah (argumentasi) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta dengan argumentasi akal, tidak membiarkan para pelaku kebatilan tetap dalam kebatilan mereka karena mereka berhak untuk kita jelaskan kepada mereka kebenaran yang hakiki kemudian kita memotivasi mereka untuk melaksanakannya serta kita jelaskan juga kepada mereka kebatilan mereka dan kita memperingatkan mereka dari kebatilan tersebut.

Adapun kita adalah umat yang tercerai berai, tidak menengok antara satu kepada yang lain, tidak memperhatikan antara satu dengan yang lainnya….maka seseungguhnya barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka sesungguhnya ia bukan termasuk mereka.

Wahai kaum muslimin….
Sungguh saya ulang sekali lagi, saya katakan sesungguhnya wajib bagi kita –yang alhamdulillah adalah orang-orang muslim yang beriman kepada Allah- , wajib bagi kita untuk melihat musibah-musibah dan bencana dengan kacamata syari’at yang seiring Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena sesungguhnya kita kalau kita melihat bencana dan musibah dengan kacamata materi maka selain kita yaitu orang-orang kafir mereka lebih kuat dari kita jika ditinjau dari kekuatan materi, mereka lebih besar. Dengan kekuatan materi tersebutlah mereka menguasai kita dan memperbudak kita. Namun jika memandang dengan kacamata syari’at dari sudut pandang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi maka kita akan meninggalkan sebab yang menimbulkan segala bencana dan musibah ini (yaitu kemaksiatan dan dosa). Dan jika kita kembali keapada Allah, bertaubat kepadaNya dan kita menolong agama Allah maka sesungguhnya Allah telah berkata dalam Al-Qur’an dan Dialah yang paling benar perkataannya dan yang paling mampu;

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(Demi Allah) seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al Hajj 40-41)

Allah tidak berkata, “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi maka mereka mendirikan tempat-tempat dilaksanakannya kefasikan dan hal-hal yang melalaikan dan sia-sia”, tetapi Allah berfirman “(yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Amatilah wahai saudaraku sesama muslim…bagaimana Allah berfirman

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “(Demi Allah) seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. Allah menta’kid (yaitu memperkuat dan menekankan makna) pertolongan dalam ayat ini dengan penguat tekstual yaitu sumpah yang dita’dirkan, huruf  lam yang menunjukan akan penekanan dan huruf nun untuk penekanan. Dan Allah juga menekankan kebenaran pertolongan Allah juga dengan penguat-penguat secara maknawi, yaitu firman Allah إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. Maka dengan kekuatan-Nya dan keperkasaan-Nya Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Perhatikanlah bagaimana Allah menutup dua ayat di atas dengan firmanNya وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ “dan kepada Allah-lah kembali segala urusan ”. Sesungguhnya manusia terkadang berfikir dengan cara fakir yang keliru dengan berkata “Bagaimana kita bisa menang menghadapi kaum kafir, padahal mereka lebih kuat dari kita dan lebih sombong?”, maka Allah menjelasakan bahwasanya seluruh perkara adalah hak prerogative-Nya semata, tidak ada yang turut campur, dan bahwasanya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Kita semua mengetahui akibat yang ditimbulkan gempa bumi dahsyat yang gempa tersebut terjadi hanya dengan perkataan Allah كُنْ فَيَكُوْنُ “Jadilah! maka terjadilah”. Kemudian timbullah kerusakan dan porak-pranda yang sangat besar yang merata, yang semua itu terjadi hanya dalam waktu sekejap yang tidak bisa dilakukan oleh kekuatan kaum kafir manapun.

Demi Allah, kalau kita benar-benar menolong agama Allah maka kita akan selalu menang dan mengalahkan musuh-musuh kita di dunia ini. Namun sungguh sangat disayangkan sesungguhnya banyak diantara kita yang menjadi antek-antek dan pembantu-pembantu musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Rasulullah (baik sadar maupun tidak disadari, secara langsung maupun tidak-pen). Mereka memperhatikan apa yang dilakukan oleh kaum kafir tersebut dari perkara-perkara yang menyelisihi dan menentang Allah dan RasulNya lalu merekapun mengikuti perlakuan orang-orang kafir tersebut. Bahkan terkadang mereka pergi ke negeri-negeri kaum kafir  lalu mereka membawa buah hati mereka yaitu putra putri mereka dan keluarga mereka ke negeri-negeri kaum kafir tersebut yang tidak terdengar di situ kecuali gaung dan gema lonceng-lonceng gereja…tidak terdengar di situ kumandang adzan…tidak terdengar di situ dzikir kepada Allah…dan tidak nampak di situ kecuali tempat-tempat dilakukannya hal-hal yang sia-sia dan melalaikan…

Maka kita mohon kepada Allah agar mengembalikan orang yang sesat dari umat ini kepada jalan yang benar, agar menjadikan kita saling bergandengan tangan dalam melaksanakan kebenaran, saling tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan hingga kita mengembalikan apa-apa yang telah sirna berupa kemuliaan dan ketinggiannya, sesungguhnya Allah yang Menguasai hal itu dan Maha mampu mewujudkannya.

Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Ya Allah terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

Ya Allah berilah rahmat kepada Nabi dan kepada keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat-Mu kepada nabi Ibrahim dan kepada keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha agung. Ya Allah berilah barokah kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya sebagaimana Engkau memberikan barokah kepada Nabi Ibrahim dan kepada keluarganya sesungguhnya Engkau Maha terpuji dan Maha agung.

Penerjemah: Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja, Lc

[1] Diterjemahkan dari khutbah jum’at yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin pada tanggal 12 Muharram 1411 Hijriah.

[2] lihat QS. 69:6-7

[3] lihat QS 54:31 dan QS 7: 78

[4] lihat QS 11: 82

sumber: https://muslim.or.id/5032-akibat-perbuatan-maksiat.html