Jagalah Kehormatan Saudaramu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُوْنَ مَا الغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Apakah kalian tahu apa itu gibah?” Para sahabat mengatakan: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah berkata: “(Gibah adalah) Menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Mereka berkata: “Bagaimana menurutmu jika (benar) ada pada saudaraku apa yang aku katakan?” Rasulullah berkata: “Jika (benar) ada pada dirinya maka itulah gibah, dan jika tidak ada pada dirinya maka engkau telah menfitnahnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Bir was Shilah wal Adab, bab Tahrimul Ghibah no. 2589).

Di antara kezaliman antara hamba dengan hamba lainnya adalah gibah. Dan ia merupakan kezaliman yang berkaitan dengan nama baik dan kehormatan orang lain. Sungguh Allah Ta’ala berfirman,

يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌصلى وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًاج أَيُحِبَّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُج وَاتَّقُوا اللهَج إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Wahai orang-orang beriman jauhilah oleh kalian banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Dan jangan bertajassus (mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain), dan janganlah sebagian kalian menggibahi sebagian yang lain. Apakah kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai, tentu kalian tidak akan menyukainya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).

Rasulullah menyebutkan tiga dosa sosial di masyarakat secara berurutan, yaitu buruk sangka, tajassus dan gibah. Berawal dari prasangka yang tidak pada tempatnya (buruk sangka), setelah itu biasanya dilanjutkan dengan tajassus untuk mencari informasi apakah prasangka tersebut benar atau salah. Setelah informasi didapatkan kemudian dibicarakan dengan orang lain maka jadilah gibah. Sebagaimana kalian tidak suka mamakan bangkai saudara kalian maka janganlah merusak kehormatannya dengan menggibahinya.

Gibah hukumya haram. Gibah yaitu membicarakan saudaranya seiman ketika dia tidak ada dengan sesuatu yang tidak dia sukai. Berdasarkan definisi ini maka boleh menggibahi orang kafir. Namun, tetap menimbang maslahat dan mafsadatnya. Jika ada maslahat maka boleh menggibahinya, begitupun sebaliknya.

Membicarakan saudaranya ketika dia tidak ada dengan sesuatu yang tidak ia sukai entah karena ada kekurangan pada fisiknya atau akhlaknya ataupun pelecehan-pelecehan yang lainnya merupakan perbuatan haram. Banyak orang yang tidak wara’ dari gibah, sebaliknya bahkan majelis gibah ramai, orang-orang bernikmat-nikmat dengan kehormatan saudaranya. La hawla wala quwwata illa billah.

Hadis ini menunjukkan haramnya gibah dan gibah termasuk salah satu dosa besar. Gibah haram berdasarkan Al-Qur`an, as-sunnah, dan ijmak karena termasuk kezaliman yang berkaitan dengan kehormatan manusia.

Para ulama memberikan pengecualian bolehnya gibah jika ada maslahat yang lebih besar, di ataranya;

1. Orang yang dizalimi mendatangi penguasa untuk mengadu, dia mengatakan fulan telah menzalimiku, dia telah memakan hartaku, atau semacamnya.
Sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيُّ الوَاجِدِ ظُلْمٌ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَ عُقُوْبَتَهُ

“Orang yang menunda pembayaran hutang padahal ia mampu melunasi adalah kezaliman, menghalalkan kehormatan serta hukuman untuknya.” (HR. Abu Dawud no. 3628, Ibnu Majah no. 2427, Ahmad (4/222), dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 1434)

Salah satu makna menghalalkan kehormatannya adalah boleh mengadukan pelakunya kepada penguasa. Orang yag dizalimi boleh mengadu dengan menyebutkan kezaliman yang menimpanya, meskipun dalam pengaduan tersebut terdapat gibah. Hal ini diperbolehkan dalam rangka mencegah bahaya.

2. Mustafti (orang yang meminta fatwa)
Apabila seorang mustafti meminta fatwa kepada seorang mufti (pemberi fatwa) dan dia menyebutkan aib orang tersebut dan menanyakan bagaimana seharusnya ia menyikapi orang yang menzaliminya tersebut. Sebagaimana datang Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha

, جَاءَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ –تَعْنِيْ زَوْجُهَا-
رَجُلٌ شَحِيْحٌ، لَا يُعْطِينِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَ وَلَدِيْ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ، قَالَ: خُذِيْ مَا يَكْفِيْكَ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ

“Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha pergi kepada Rasulullah, ia berkata, ‘Sesungguhnya Abu Sufyan (suaminya) adalah suami yang pelit, dia tidak memberikan kebutuhanku dan anakku kecuali apa yang aku ambil darinya tanpa sepengetahuannya.’ Rasulullah berkata, “Ambillah yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari no. 5364 dan Muslim no. 1714)

Di sini Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha menyebutkan aib suaminya, maka ini adalah gibah, namun ia tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan suaminya, tetapi ia menceritakan aib suaminya agar ia dapat memperoleh haknya.

Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis ini, apakah ini adalah fatwa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau al-qadha (keputusan hakim). Perbedaan dalam menyimpulkan akan menyebabkan terjadinya perbedaan hukum. Jika ini menunjukkan fatwa, maka apabila ada seorang istri memiliki kasus yang sama dengan Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha maka ia boleh mengambil uang suaminya diam-diam tanpa sepengetahuannya. Akan tetapi, jika ini adalah al-qadha, maka perempuan lain yang memiliki kasus yang sama harus melapor terlebih dahulu ke pengadilan, maka akan diputuskan hukum yang sesuai.

3. Gibah dalam rangka menghilangkan kemungkaran. Anda pergi kepada penguasa dan polisi syariat dan mengatakan, “Fulan tidak shalat, fulan mengganggu perempuan, menggoda perempuan di jalanan”, maka ini adalah gibah dengan tujuan ingkar mungkar, hal ini tidak mengapa karena maslahat yang lebih besar dari mafsadat. Demikian juga boleh mengingatkan seseorang tentang keburukan person tertentu dengan menyebutkan aib-aibnya agar orang lain waspada dengan keburukan orang tersebut.

4. Jarh wa ta’dhil
Jarh wa ta’dhil adalah memuji dan mencela rawi hadis dalam rangka menjaga hadis Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ulama hadis boleh mengatakan, “Rawi fulan lemah hafalannya, pembohong, punya riwayat yang aneh” atau sejenisnya. Hal ini bukan dalam rangka menjelekkan rawi tersebut, tetapi untuk menjaga hadis-hadis Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan sampai ada rawi yang tidak diterima riwayatnya.

Sebagian ulama menyebutkan kondisi-kondisi lain dibolehkannya gibah. Disebutkan dalam bait syair Muhammad bin Aujan:

القَدْحُ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِيْ سِتَّةٍ *** مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرٍ
وَمُجَاهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ *** وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِيْ إِزَالَةِ مُنْكَرٍ

“Menyebut keburukan orang bukan gibah dalam 6 keadaan:
1. mutazhallim (orang yang dizalimi)
2. mu’arrif (orang yang sedang menyebutkan identitas)
3. muhadzir (orang yang sedang men-tahdzir)
4. mujahir fisqan (bicara tentang orang yang menampakkan maksiat terang-terangan)
5. mustafti (orang yang sedang meminta fatwa)
6. man thalabal I’anah li izalati munkarin (orang yang sedang meminta pertolongan untuk menghilangkan kemungkaran).”

Selain gibah yang telah disebutkan di atas hukumnya haram dan termasuk dosa besar.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Jauhilah gibah, membicarakan kejelekan penguasa, baik itu ulama maupun umara. Jika kalian menginginkan kebaikan, maka pintu terbuka (untuk menasihati mereka). Jika kalian telah melakukan kewajiban, maka gugur bagi kalian selain itu. Menggibahi ulama dan penguasa tidak memperbaiki keadaan sedikitpun, tidak pula menghilangkan kezaliman, dan tidaklah menjadi baik sesuatu yang rusak dengan gibah”.

Wallahu a’lam.

**

Penulis: Atma Beauty M.

Referensi:

  1. Ithaful Kiram Syarah Kitabul Jami’ min Bulughul Maram hlm. 173-175, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan, 1436H/2015, Dar Kortoba, Beirut.
  2. Rekaman Ithaful Kiram Syarah Kitabul Jami’ min Bulughul Maram Pertemuan ke-11 menit ke 21:16-38:17. (https://archive.org/details/UstAris-IthafulKiram/Ithaful+Kiram+Syarah+Kitabul+Jami’+min+Bulughul+Maram+-+20190516+11.mp3)

sumber: https://muslimah.or.id/11872-jagalah-kehormatan-saudaramu.html

Keutamaan Membaca Hamdalah

Keutamaan Hamdalah

1. Allah seringkali menyandingkan nama-Nya Al-Hamiid (yang Maha Terpuji) dengan ucapan Tasbih. Seperti yang terkandung dalam Surat Al-Isra’ ayat 44, Ash-Shoffaat ayat 180-182, Al-Baqarah ayat 30. Begitupun juga dalam Hadits seringkali Nabi Menyandingkan Al-Hamdu dengan Tasbih. Hal ini menunjukkan bahwa selain Allah Maha Terpuji, Allah juga bersih dari aib dan kekurangan.

2. Al-Hamdu seringkali disandingkan dengan Tasbih, Istighfar, dan Taubat. Seperti dalam Surat Ghaafir ayat 7, An-Nasr ayat 3, atau dalam hadits-hadits Rasulullah.

3. Allah memulai dengan pujian di beberapa surat, diantaranya pada Surat Al-Fatihah, An-An’am, Al-Kahfi, Saba’, dan Fatir.

4. Allah mengakhiri surat dalam al-Qur’an dengan Pujian, seperti surat Al-Hijr, Al-Isra’, An-Naml, Ash-Shoffaat, Az-Zumar, Al-Jatsiyah, Ath-Thuur, dan An-Nasr.

5. Hamdalah adalah sebaik-baiknya perkataan dan Allah pilihkan untuk hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِهَا عِشْرُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ عِشْرُونَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ بِهَا ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih empat perkataan, yaitu subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar. Barangsiapa mengucapkan “Subhanallah” maka akan dituliskan untuknya dua puluh kebaikan dan dihapuskan darinya dua puluh kesalahan. Barangsiapa mengucapkan “Allahu Akbar” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” maka akan dituliskan untuknya seperti itu pula. Dan barangsiapa mengucapkan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” dari dalam hatinya, maka akan dituliskan untuknya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh kesalahan.” (HR. Ahmad no. 8032)

6. Hamdalah adalah kalimat pertama yang diucapkan Adam ‘Alahis Salam.Baca:  Berwudhu Untuk Mensucikan Diri dari Godaan Syetan 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Allah telah menciptakan Adam dan meniupkan di dalamnya ruh, ia bersin, lalu mengucapkan Alhamdulillah, lalu ia memuji Allah dengan izinNya” (HR. Tirmidzi)
7. Hamdalah adalah sebaik-baiknya doa.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, lihat Ash Shahihah no. 1497)

8. Sebaik-baiknya hamba adalah gemar membaca Alhamdulillah

أفضل عباد الله – تعالى – يوم القيامة الحمادون

Sebaik-baiknya hamba Allah pada hari kiamat adalah Al-Hammadun (orang-orang yang gemar memuji Allah). (Silsilah Ash-Shahihah no. 1584)

9. Besarnya pahala bagi yang gemar mengucapkan Hamdalah. (Silsilah Ash-Shahihah no. 3452).

10. Hamdalah ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai Allah Ar-Rahman.

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى  ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694).

11. Balasan di dalam surga bagi orang yang memperbanyak pujian kepada Allah.
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ وَهُوَ يَغْرِسُ غَرْسًافَ قَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا الَّذِي تَغْرِسُ؟ قُلْتُ غِرَاسًا لِي قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ هَذَا؟ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ يُغْرَسْ لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Bahwa Rasulullah melewatinya sedang bercocok tanam, seraya Rasulullah menegurnya dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, apa yang sedang kau tanam? Aku menjawab, “Menanam tanaman ya Rasulullah”. Beliau berkata, “Maukah engkau kuberitahukan tentang tanaman yang lebih baik dari ini?” Abu Hurairah menjawab, “Tentu ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Katakanlah : subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, dan allahu akbar, niscaya akan ditanamkan untukmu dengan setiap kalimat tersebut, sebuah pohon di surga. (HR. Ibnu Majah no. 3807 dan Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam kitab Shahih Targhib no. 1549)Baca:  Canda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam 

Dan masih banyak dalil yang menunjukkan keutamaan hamdalah yang memotivasi kita untuk senantiasa membasahi bibir kita dengan memuji Allah Ta’ala.
Buah membaca Hamdalah

1. Terkandung sebuah pilar ibadah yang sangat agung yaitu kecintaan. Para ulama menjelaskan bahwa ucapan Hamdalah bermakna pujian yang disertai dengan rasa cinta dan pengagungan. Tidaklah suatu pujian disebut sebagai hamdalah kecuali jika dilandasi rasa cinta.

2. Dalam Hamdalah telah terkandung penetapan kesempurnaan Allah dari segala sisi. Karena ucapan alhamdulillah bermakna segala puji atau pujian yang mutlak hanya layak diberikan untuk Allah. Allah terpuji dari segala sisi. Allah terpuji karena berbagai kesempurnaan yang ada pada-Nya, baik kesempurnaan Dzat, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan juga kesempurnaan nikmat yang Allah curahkan kepada hamba-hamba-Nya. Sebab tidak ada satu pun nikmat melainkan itu adalah bersumber dari-Nya. Di tangan-Nya lah segala kebaikan.

3. Dalam alhamdulillah juga tersimpan penetapan tauhid uluhiyah, yaitu kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah. Sebab kata ‘Allah’ dalam ungkapan alhamdulillah menunjukkan makna bahwa Allah ialah Al-Ilah Al-Haq yaitu sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang batil.Baca:  Empat Dampak Maksiat yang Sering Diremehkan 

4. Dalam Rabbil ‘alamin terkandung penetapan tauhid rububiyah, bahwa Allah merupakan Rabb yaitu yang mencipta, mengatur, dan menguasai alam semesta ini. Pengakuan terhadap hal ini telah menjadi fitrah dan naluri yang tertanam dalam hati manusia. Bahkan kaum musyrikin sekali pun telah meyakininya. Konsekuensi dari pengakuan ini adalah ketundukan secara penuh kepada Allah akan hukum dan perintah-Nya. Dan perintah yang paling agung adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah 2: 21)

5. Dalam Rabbil ‘alamin terdapat penegasan bahwa seluruh alam adalah makhluk ciptaan Allah yang butuh kepada Allah. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan dan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu wajib beriman kepada takdir dan iradah (kehendak)Nya yang meliputi seluruh makhluk. Segala yang Allah kehendaki -secara kauni- pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki juga tidak akan terjadi. Inilah yang disebut dengan istilah iradah kauniyah. Dan semua yang Allah kehendaki terjadi ini pasti mengandung hikmah. Tidak mungkin Allah menghendaki sesuatu terjadi tanpa hikmah, Maha suci Allah dari kesia-siaan.

6. Dalam Rabbil ‘alamin juga terdapat pelajaran bahwa setiap muslim bahkan setiap manusia harus tunduk kepada hukum dan syari’at Allah. Sebab Allah lah yang telah menciptakan alam ini, yang memeliharanya dan menguasainya. Tidak ada yang lebih mengetahui kemaslahatan hamba kecuali Allah semata. Oleh sebab itu, Allah lah sebaik-baik hakim, tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum-Nya, dan tidak ada aturan yang lebih adil daripada aturan-aturan-Nya.
Semoga Allah mudahkan kita untuk senantiasa memujiNya. Walhamdulillah

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

sumber: https://bimbinganislam.com/keutamaan-membaca-hamdalah/

28 Amalan Penghapus Dosa

Istighfar adalah permohonan ampunan Allah. Permohonan tersebut bisa dalam bentuk doa langsung dengan lafadz istighfar, atau dengan mengerjakan amalan-amalan yang mendatangkan ampunan Allah dan menghapus dosa.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhan kalian, dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa (Q.S Ali Imran:133)

Berikut ini adalah beberapa amal sholeh atau dzikir yang bisa mendatangkan ampunan Allah atau menghapuskan dosa-dosa:

1. Tauhid.
Seseorang yang mentauhidkan Allah, sekalipun datang dengan membawa sepenuh bumi dosa, akan dibawakan sepenuh bumi pula ampunan (sebagaimana hadits riwayat atTirmidzi)

2. Taqwa
Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Allah akan jadikan untuk kalian pembeda (antara alhaq dengan kebatilan), dan Allah akan menghapus keburukan kalian serta mengampuni kalian. Dan Allah adalah Yang memiliki Keutamaan yang Agung (Q.S al-Anfaal:29).

3. Menjalankan Sunnah Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Wahai Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Ali Imran:31)

4. Sabar ketika menghadapi perasaan capek, sakit, dan musibah

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah menimpa seorang muslim: rasa capek, sakit, cemas, sedih, ataupun suatu gangguan, maupun gundah gulana, sekalipun duri, kecuali Allah akan hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu (H.R alBukhari)

5. Berwudhu’

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

Jika seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa penglihatan dengan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air. Jika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaa dengan air atau akhir tetesan air. Jika mencuci kedua kakinya, keluarlah seluruh dosa akibat langkah kakinya bersamaan dengan air atau tetesan akhir air. Sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa (kecil)(H.R Muslim).

6. Sholat

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim ketika datang sholat wajib, ia sempurnakan wudhu’, khusyu’, dan ruku’nya, kecuali hal itu akan menjadi penghapus dosa sebelumnya, selama ia tidak melakukan dosa besar. Demikian itu berlangsung sepanjang masa (H.R Muslim)

7. Sholat berjamaah di masjid

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فَصَلاَهَا مَعَ اْلإِمَامِ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Barangsiapa yang berwudhu’, menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berjalan menuju sholat wajib (masjid) sehingga sholat bersama Imam, akan diampuni dosanya (H.R Ibnu Khuzaimah)

Barangsiapa yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah, akan diampuni dosanya meski ia datang terlambat dan sebagian atau seluruh jamaah sudah bubar (selesai sholat). Jika keterlambatan tersebut karena udzur.

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ حَسَنَةً وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ سَيِّئَةً فَلْيُقَرِّبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِي جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَبَقِيَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ وَأَتَمَّ مَا بَقِيَ كَانَ كَذَلِكَ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلَاةَ كَانَ كَذَلِكَ

Jika seseorang berwudhu’, menyempurnakan wudhu’nya, kemudian keluar menuju sholat (di masjid), tidaklah mengangkat kaki kanannya kecuali Allah akan catat baginya satu kebaikan dan tidaklah meletakkan kakinya yang kiri kecuali Allah akan hapus baginya satu kesalahan. Maka silakan menempuh jarak yang dekat atau jauh. Jika ia mendatangi masjid kemudian sholat berjamaah, akan diampuni dosanya. Jika ia mendatangi masjid sedangkan jamaah telah sholat sebagian dan tersisa sebagian, ia sholat apa yang didapati dan menyempurnakan sebagian, ia akan mendapat demikian juga (diampuni dosanya). Jika ia mendatangi masjid dan para jamaah telah selesai sholat (semua), kemudian ia sempurnakan sholat, maka ia akan mendapat yang demikian juga (diampuni dosanya)(H.R Abu Dawud dan Abu Ya’la, alBushiri menyatakan bahwa para perawi dalam sanadnya tsiqoh semua)

8. Langkah kaki menuju sholat

Setiap satu langkah kaki kanan menyebabkan tercatat satu kebaikan, dan satu kaki kiri yang diletakkan menyebabkan 1 dosa diampuni (sebagaimana hadits pada poin 6 sebelum ini).

9. Zakat dan shodaqoh

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا…

Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka… (Q.S atTaubah:103)

10. Sholat Jumat

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa yang berwudhu’ menyempurnakan wudhu’nya, kemudian mendatangi sholat Jumat, menyimak dengan baik dan diam, akan diampuni dosa di antara Jumat lalu dengan Jumat yang sedang dikerjakan dengan tambahan 3 hari. Barangsiapa yang menyentuh (memain-mainkan) kerikil maka sungguh ia telah sia-sia (H.R Muslim)

11. Bacaan Amiinnya dalam sholat berjamaah bersamaan dengan bacaan Malaikat

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Jika Imam sampai pada bacaan yang memerlukan amiin (akhir alFatihah), maka ucapkanlah amiin. Barangsiapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin Malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari dan Muslim)

12. Bacaan Allahumma Robbanaa wa lakal hamdu dalam sholat berjamaah bertepatan dengan bacaan Malaikat

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Jika Imam mengucapkan: Sami’allaahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Allahumma Robbanaa walakal hamdu. Barangsiapa yang ucapan tersebut bertepatan dengan ucapannya Malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari)
Intinya adalah bacaan yang dibaca setelah Imam mengucapkan : Sami’allaahu liman hamidah. Bisa mengucapkan:
a) Allahumma robbanaa wa lakal hamdu
b) Allahumma robbanaa lakal hamdu
c) Robbanaa walakal hamdu
d) Robbanaa lakal hamdu

13. Amalan di bulan Ramadhan (puasa dan qiyaamul lail)
Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari)
Barangsiapa yang qiyaamul lail pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari)
Barangsiapa yang qiyaamul lail bertepatan dengan Lailatul Qodar dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari)

14. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan Asyura’ (10 Muharram)
Puasa ‘Asyura menghapus dosa tahun lalu, sedangkan puasa Arafah menghapus dosa 2 tahun (tahun lalu dan tahun yang akan datang).

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa Arafah aku mengharapkan kepada Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Puasa ‘Asyura’ aku mengharapkan kepada Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya (H.R Muslim)

15. Memandikan mayit muslim dengan ikhlas serta menutup aurat dan menyembunyikan aibnya

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ لَهُ اللهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً

Barangsiapa yang memandikan (mayit) seorang muslim kemudian menyembunyikan aibnya, Allah akan ampuni sebanyak 40 kali (H.R alHakim dan Ibnu Hajar menyatakan sanadnya kuat)
dalam riwayat atThobarony dinyatakan: diampuni dosanya sebanyak 40 dosa besar.

16. Membaca doa setelah makan: Alhamdulillaah alladzi ath-amanii haadza wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii walaa quwwah

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang memakan makanan kemudian ia mengucapkan (yang artinya): segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku makanan ini dan memberikan rezeki dengan ini tanpa daya dan kekuatan dariku’, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh alAlbany)

17. Membaca doa ketika memakai baju: Alhamdulillah alladzi kasaani haadzats tsauba wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii walaa quwwah

وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا ، فَقَالَ : الْحَمْدُ ِللهِ الذِّي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ ، وَرَزَقَنِيهِ ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dan barangsiapa yang memakai baju, kemudian mengucapkan (yang artinya): ‘segala puji bagi Allah yang telah memakaikan aku baju ini dan memberikan aku rezeki dengannya, tanpa daya dan kekuatan dariku’, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

18. Membaca doa setelah selesai adzan : Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah wa anna muhammadan abduhu wa rosuuluhu rodhiitu billaahi robban wa bi muhammadin rosuulaa wa bil islaami diina

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Barangsiapa yang setelah mendengar adzan mengucapkan (yang artinya): ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Aku ridla Allah Tuhanku Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama’ niscaya akan diampuni dosanya (H.R Muslim)

19. Umrah dan Haji

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

Umrah yang satu dengan umrah berikutnya adalah sebagai penghapus dosa di antara keduanya (H.R alBukhari)

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Barangsiapa yang berhaji untuk Allah, kemudian tidak rofats (ucapan kotor) dan tidak berbuat kefasikan (dosa atau permusuhan), ia akan kembali seperti hari dilahirkan ibunya (bersih dari dosa)(H.R alBukhari dan Muslim)

20. Sujud dalam sholat atau sujud karena sebab syukur atau tilawah (membaca ayat sajdah)

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Hendaknya engkau memperbanyak sujud untuk Allah, karena tidaklah engkau bersujud sekali karena Allah, niscaya Allah akan angkat satu derajat dan dihapus satu kesalahan (H.R Muslim)

21. Membaca, meyakini dan mengamalkan surat alMulk

إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Sesungguhnya terdapat suatu surat dalam alQur’an, berjumlah 30 ayat. Ia akan memberikan syafaat kepada seseorang hingga diampuni. Surat itu adalah Tabaarokalladzii bi yadihil mulk (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah)

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :

مَنْ قَرَأَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُلَّ لَيْلَةٍ مَنَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Barangsiapa yang membaca (surat) Tabarokalladzii bi yadihil mulku (Al Mulk) setiap malam, Allah akan menghalanginya dari adzab kubur (riwayat anNasaai, dihasankan oleh Syaikh alAlbany)

22. Membaca : Subhaanallah wa bihamdihi sebanyak 100 kali

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa yang mengucapkan : Subhaanallaah wa bihamdihi sebanyak seratus kali, akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan (H.R alBukhari)
Bacaan tersebut hendaknya dibaca seratus kali di waktu pagi, dan seratus kali di waktu sore

مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ مِائَةَ مَرَّةٍ وَإِذَا أَمْسَى مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa yang membaca 100 kali ketika pagi dan 100 kali ketika sore: Subhaanallah wa bihamdihi, akan diampuni dosanya meski lebih banyak dari buih di lautan (H.R Ibnu Hibban dan alHakim)

23. Membaca Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar

إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Sesungguhnya: Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar bisa merontokkan dosa-dosa sebagaimana pohon merontokkan daunnya (H.R Ahmad, dihasankan Syaikh alAlbany)

24. Membaca: Laa Ilaaha Illallah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illaa billaah

مَا عَلَى الْأَرْضِ أَحَدٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Tidaklah ada seseorang di muka bumi yang mengucapkan: Laa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar wa laa haula walaa quwwata illaa billaah kecuali akan dihapuskan dosa-dosanya meski sebanyak buih di lautan (H.R atTirmidzi, dihasankan oleh Syaikh alAlbany)

25. Membaca doa sebelum tidur: Laa Ilaaha Illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim. Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu akbar.

مَنْ قالَ حين يأوي إلى فراشِه:”لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ”.غُفِرت له ذنوبُه- أو قالَ: خطاياهُ، شكّ مِسعَر- وإن كانَت مثلَ زَبَدِ البحرِ

Barangsiapa yang mengucapkan ketika akan tidur: Laa Ilaaha Illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim. Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu akbar, akan diampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih di lautan (H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya, juga dishahihkan oleh Syaikh alAlbany)

26. Bertawassul dengan Nama dan Sifat Allah untuk memohon ampunan setelah tasyahhud sebelum salam dalam sholat

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَدْ قَضَى صَلَاتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ قَالَ فَقَالَ قَدْ غُفِرَ لَهُ قَدْ غُفِرَ لَهُ ثَلَاثًا

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah masuk masjid kemudian mendengar seseorang yang akan menyelesaikan sholat berdoa setelah tasyahhudnya (sebelum salam) (yang artinya): Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu Wahai Allah Yang Tunggal, as-Shomad, yang tidak beranak tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengannya, agar Engkau mengampuni dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rasul berkata: telah diampuni dosanya ( 3 kali)(H.R Abu Dawud, Ahmad, alHakim)

27. Mengucapkan: Astaghfirullahal Adzhiim alladzii Laa Ilaaha Illaa huwal Hayyul Qoyyum wa Atuubu Ilaih

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

Barangsiapa yang berkata (artinya): “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung Yang Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup lagi Qoyyum (segala makhluk bergantung kepadaNya) dan aku bertaubat kepadaNya”, akan diampuni dosanya meski lari dari medan pertempuran (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh alAlbany)
Jika seseorang melakukan dosa besar, dia harus bertaubat dengan taubat nashuha agar dosanya diampuni: menyesal atas perbuatan dosa itu, meninggalkan perbuatan kemaksiatan tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya.

28. Bersholawat kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَ صَلَوَاتٍ ، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ ، وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ

Barangsiapa yang bersholawat kepadaku dengan jujur dan ikhlas dari hatinya, maka Allah akan bersholawat 10 sholawat untuknya, menghapus 10 keburukan, dan mengangkat sepuluh derajat (H.R alBazzar, dan alHaitsamy menyatakan bahwa perawi-perawi dalam hadits ini seluruhnya terpercaya)

=====================
Dinukil dari Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat.”
Karya: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

sumber: https://alquran-sunnah.com/artikel/buku-islam/resensi/tazkiyatun-nafs/919-28-amalan-penghapus-dosa.html

Ayo Semangat Berdoa !!

Umar bin al-khottob berkata:

(أنا لا أحمل همَّ الإجابة ولكن أحمل همَّ الدعاء، فإذا ألهمت الدعاء فإن معه الإجابة)

“Aku tidaklah memikul urusan dikabulkannya doa, akan tetapi aku memikul keinginan untuk berdoa. Jika aku diilhamkan untuk berdoa maka pengkabulan akan menyertainya”.

Yang jadi masalah adalah malasnya seseorang untuk berdoa….
Sungguh berbahagia seorang yg sering mengangkat kedua tangannya dengan penuh kerendahan dan kehinaan, mengakui kelemahannya, berharap dan menangis meminta kepada Robnya, seraya berbaik sangka kepada Robnya bahwa Robnya adalah Maha mendengar dan mengabulkan permohonan hambaNya.

sumber: https://firanda.com/682-ayo-semangat-berdoa.html

[Belajar Tauhid] 77. Dasar Dasar Keimanan 07

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Pembatal Keimanan _ Bagian Pertama sbb:

  1. Pembatal keimanan adalah sesuatu yang dapat menghapuskan keimanan secara total dan mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam.
  2. Pembatal-pembatal keislaman itu banyak, diantaranya :
  • Mengingkari rububiyyah Allâh  -‘Azza wa Jalla-.
  • Menjadikan perantara antara dirinya dengan Allâh  -‘Azza wa Jalla- dalam beribadah kepada-Nya.
  • Menolak apa yang Allâh  -‘Azza wa Jalla- untuk dirinya atau apa yang Rasûlullâh –Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- bagi-Nya.
  • Mendustakan apa yang dibawa oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam.

selanjutnya kita akan mempelajari Pembatal Keimanan Bagian Kedua, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bahaya Lisan

Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.

Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, “Barangsiapa membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari). Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.

***

Penulis: Abu Ibrahim R. Indra Pratomo P.

sumber: https://muslim.or.id/131-bahaya-lisan.html

Makna Difaqihkan Di Dalam Agama Islam

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Ahsanallāhu ilaikum Ustadz, ingin penjabaran makna difaqihkan (fahamkan) dalam agama yang ada dalam hadist, tanda-tandanya apa saja?

جَزَاك الله خَيْرًا

(Disampaikan Oleh Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بسم الله, الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hadits yang dimaksud adalah tentang orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Alloh, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا *يُفَقِّهْهُ* فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang diinginkan kebaikan oleh Alloh, maka Alloh akan faqihkan ia dalam agama”. [HR Bukhori 71 dan Muslim 1037]

Yang dimaksud faqih dalam hadits adalah pemahaman tentang Tauhid yang benar, serta hal-hal yang berkaitan dengan Syari’at Alloh secara umum. Itu semua berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits yang shohih sesuai dengan pemahaman Salaf, bukan Hawa Nafsu semata.

Jika dikaitkan dengan hadits lain yang senada, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله

“Apabila seseorang diinginkan kebaikan oleh Alloh, Maka Alloh akan jadikan ia beramal”.

قيل : ما يستعمله ؟

Lalu para Sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan ia beramal?”

قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Maka Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dibukakan baginya amalan sholih sebelum ia meninggal, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya pun ridho kepadanya”. [HR Ahmad 20943]

Maka diinginkan kebaikan juga bermakna dijadikan beramal sholih, dan tidaklah seseorang bisa beramal sholih kecuali ia membekali diri dengan Ilmu.

Maka hadits-hadits di atas menunjukkan pentingnya kita menuntut ilmu, karena ilmu lah gerbang ke faqih’an kita dalam beragama.

Wallohu A’lam, wabillahittaufiq.

sumber: https://bimbinganislam.com/makna-difaqihkan-di-dalam-agama-islam/

Dzikir Pelepas Lelah

Dzikir Pelepas Lelah

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa Siti Fatimah meminta kepada Rasulullah seorang pembantu dari tawanan perang, namun Rasulullah menolak untuk memberinya pembantu. Beliau malah mengajarkan Siti Fatimah untuk membaca sebelum tidur tasbih 33x, tahmid 33x, dan takbir 34x.

1. Apa makna perintah dzikrullah tersebut?

2. Apakah dzikir-dzikir tersebut adalah penghilang rasa lelah?

2. Apakah Islam melarang kita untuk memakai jasa pembantu rumah tangga?

Jazakumullahu khairan katsira

Dari: Herbono

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Mengurusi rumah tangga memang cukup melelahkan. Memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan mengasuh anak-anak adalah rutinitas tiap hari ibu rumah tangga. Pantas saja jika akhirnya banyak keluarga yang memilih solusi praktis dengan menyewa pembantu.

Pun begitu, keberadaan seorang wanita yang bukan mahram di tengah-tengah keluarga tentu menimbulkan masalah baru. Apalagi jika si pembantu adalah gadis belia yang masih lugu dan tidak faham agama. Biasanya ia akan berpakaian seadanya di rumah majikan, tanpa peduli bahwa majikan lelaki adalah orang ajnabi (asing) yang bukan mahramnya.

Bila keluarga yang bersangkutan juga minim iman dan takwa, maka keberadaan si pembantu semakin mengundang fitnah. Tidak mustahil bila suatu saat terjadi perselingkuhan antara majikan lelaki dengan pembantunya sendiri.

Namun, tahukah Anda bahwa segala masalah tadi ada solusinya?

Tahukah Anda bahwa solusi ini cukup mudah, murah, dan juga bebas fitnah?

Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita simak penuturan Ali bin Abi Thalib tentang beratnya tugas seorang ibu rumah tangga. Tahukah Anda siapa ibu rumah tangga yang dimaksud? Dia adalah wanita mulia puteri lelaki paling mulia. Dialah wanita penghuni surga yang demikian sabar dalam mengurus rumah tangga.

Benar, dialah Fatimah puteri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sekarang, marilah kita simak kisahnya. Ali menuturkan bahwa Fatimah pernah mengeluh kepadanya. Ia merasa bahwa pekerjaan menggiling gandum dengan batu demikian berat baginya. Suatu ketika, Fatimah mendengar bahwa Rasulullah mendapat seorang budak. Fatimah pun mendatangi rumah ayahnya dalam rangka meminta budak tadi sebagai pembantu baginya. Akan tetapi Rasulullah sedang tidak ada di rumah. Fatimah lantas mendatangi ummul mukminin Aisyah dan menyampaikan hajatnya.

Ketika Rasulullah berada di rumah Aisyah, ia menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah lantas mendatangi kami (Ali dan Fatimah) saat kami telah berbaring di tempat tidur. Mulanya, kami hendak bangun untuk menghampiri beliau, namun beliau menyuruh kami tetap berada di tempat.

“Maukah kutunjukkan kalian kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?” tanya beliau. “Jika kalian berbaring di atas tempat tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian daripada pembantu yang kalian minta.” lanjut Nabi (HR. Bukhari dan Muslim).

Semenjak mendengar petuah Rasulullah tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin; sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Bukhari.

Tahukah Anda, apa yang sebenarnya dikeluhkan oleh Fatimah? Beliau mengeluh karena kedua tangannya bengkak akibat terlalu sering memutar batu penggiling gandum yang demikian berat.

Subhanallah, ternyata puteri tercinta Rasulullah demikian berat ujiannya. Pun begitu, beliau tak segera memenuhi keinginan puterinya tadi. Namun beliau mengajarkan sesuatu yang lebih bermanfaat baginya dari seorang pembantu. Sesuatu yang menjadikannya semakin dekat dan bertawakkal kepada Allah. Itulah wirid pelepas lelah.

Mengapa wirid tadi lebih baik dari pembantu? Menurut al-Hafizh Badruddien al-‘Aini, alasannya ialah karena wirid berkaitan dengan akhirat, sedangkan pembantu berkaitan dengan dunia. Dan tentunya, akhirat lebih kekal dan lebih afdhal dari dunia. Atau, boleh jadi maksudnya ialah bahwa dengan merutinkan bacaan wirid tadi, keduanya akan mendapat kekuatan lebih besar untuk melakukan berbagai pekerjaan; melebihi kekuatan seorang pembantu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berpendapat senada. Menurut beliau, siapa yang rajin membaca wirid tadi di waktu malam, niscaya tidak akan kelelahan. Alasannya karena Fatimah mengeluh kecapaian kepada Rasulullah, lalu Rasulullah mengarahkannya agar membaca wirid tadi. Akan tetapi, menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, penafsirannya tidak harus seperti itu. Hadis ini tidak berarti bahwa rasa lelah pasti hilang bila seseorang rutin membacanya. Namun boleh jadi maksudnya ialah bila seseorang rutin mengamalkannya, maka ia tidak akan terkena madharat walaupun banyak bekerja. Pekerjaan itu juga takkan terasa berat walaupun ia merasa lelah karenanya.

Hadis ini juga bisa berarti bahwa orang yang membaca wirid tadi, kelak akan bangun pagi dalam keadaan segar-bugar dan penuh semangat. Tentunya, ini lebih baik daripada menyewa pembantu yang meringankan pekerjaan, namun tidak menjadikan badan segar-bugar. Lagi pula, bila seseorang mampu melakukan pekerjaannya secara mandiri, tentu lebih baik daripada menyuruh orang lain, walaupun yang disuruh pasti menurut. Alasannya karena merasa butuh kepada orang lain adalah sikap yang merendahkan harga diri. Masih ingatkah kita dengan sejumlah orang Anshar yang berbaiat kepada Rasulullah untuk tidak meminta apa-apa kepada manusia? Nah,  demikian pula dalam kasus ini.

Oleh karenanya, marilah kita teladani sunah Nabi yang satu ini. Mari kita amalkan setiap hari, niscaya akan banyak faidah yang kita dapatkan. Cukup satu menit yang kita butuhkan setiap malam dan rasakan pengaruhnya!

Catatan:

Keterangan di atas adalah artikel Ustadz Sufyan Basweidan yang diterbitkan di majalah pengusaha muslim edisi 30. Sejak edisi 24, majalah Pengusaha muslim dilengkapi dengan artikel suplemen tentang doa dan dzikir. Beberapa kumpulan artikel ini juga telah dibundel menjadi sebuah ebook yang berjudul: Misteri Kedahsyatan Doa dan Dzikir.

sumber:  https://konsultasisyariah.com/15007-dzikir-pelepas-lelah.html

[Belajar Tauhid] 76. Dasar Dasar Keimanan 06

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Rukun-Rukun Dan Cabang-Cabang Keimanan sbb:

  1. Rukun Iman itu ada enam, yaitu : yaitu : keimanan kepada Allâh  -‘Azza wa Jalla-, Para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan keimanan kepada taqdir.
  2. Iman itu lebih dari 73 atau 63 bagian. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
  3. Cabang-cabang keimanan itu ada yang merupakan ushulul iman (pokok keimanan), yang apabila ia hilang, maka hilangnya seluruh cabang-cabang keimanan yang lainnya, dan pelakunya keluar dari Agama Islam, seperti mengingkari Hari Akhir. Dan sebagianya adalah furu’ul iman yang apabila dia hilang tidak membatalkan keimanan keseluruhan, tetapi dia mengurangi kesempurnaan keimanan, seperti tidak memuliakan tetangga.
  4. Terkadang pada diri seseorang terhimpun antara cabang-cabang keimanan dan cabang-cabang kemunafikan sekaligus. Maka dia tetap tergolong bagian orang-orang yang beriman (sesuai dengan kadar keimanannya) yang kurang atau lemah keimanannya (sesuai kadar kemunafikannya) selama kemunafikannya tidak mengeluarkannya dari Agama Islam.

selanjutnya kita akan mempelajari Pembatal Keimanan Bagian Pertama, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Cinta Dunia Merupakan Sumber Dari Kesalahan Dan Kerusakan Agama

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Tujuan hidup seorang Muslim adalah akhirat, bukan dunia. Akhirat (surga) merupakan puncak cita-cita seorang Muslim. Orang yang beriman dan berakal memandang dunia dan akhirat dengan sudut pandang yang benar.

Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan bersikap zuhud terhadap dunia. Sementara, zuhud terhadap dunia tidak akan terealisasi melainkan setelah ia memandang kedua hal ini dengan sudut pandang yang benar.

Pertama , memandang dunia sebagai sesuatu yang mudah hilang, lenyap, dan musnah. Dunia adalah sesautu yang kurang, tidak sempurna dan hina. Persaingan dan ambisi dalam mendapatkan hal-hal duniawi sangat menyakitkan. Dunia adalah tempat kesedihan, kesusahan dan kesengsaraan. Akhir dari semua masalah duniawi adalah kefanaan yang diikuti dengan penyesalan dan kesedihan. Orang yang mengejar kenikmatan dunia tidak lepas dari tiga keadaan yaitu kecemasan sebelum meraihnya, keresahan pada saat meraihnya, dan kesedihan setelah meraihnya.

Kedua , memandang akhirat sebagai sesuatu yang pasti datang, kekal dan abadi. Karunia dan kebahagiaan yang terdapat di akhirat begitu mulia, dan apa yang ada di akhirat sangat berbeda dengan apa yang ada di dunia. Akhirat adalah sebagaimana yang difirmankan Allâh Azza wa Jalla :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. [Al-A’la/87: 17]

Apabila seseorang lebih mengutamakan sesuatu yang fana dan tidak sempurna, maka itu merupakan indikasi ketidaktahuannya terhadap mana yang lebih utama atau jika dia tahu maka itu merupakan indikasi dia tidak menginginkan sesuatu yang lebih utama tersebut.

Kedua hal ini menunjukkan lemahnya iman, akal, dan hatinya. Sebab, orang yang mengejar dunia, berambisi terhadapnya, dan lebih memprioritaskannya daripada akhirat, tidak luput dari kondisi apakah ia percaya bahwa apa yang di akhirat itu lebih mulia, lebih utama, dan lebih kekal daripada apa yang ada di dunia, ataukah ia tidak percaya akan hal tersebut? Jika ia tidak percaya, berarti ia tidak mempunyai keimanan. Tapi jika ia percaya namun tidak lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, maka ia adalah orang yang akalnya rusak dan tidak pandai memilih yang terbaik bagi diri sendiri.

Pembagian ini penting untuk diketahui, mengingat bahwa setiap hamba tidak dapat terlepas dari salah satunya. Dengan kata lain, orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat disebabkan oleh dua faktor; pertama adalah rusaknya iman, dan yang kedua adalah rusaknya akal . Sungguh, alangkah banyak orang yang mengalami kedua hal tersebut.

Oleh sebab itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Beliau mencampakkan dunia di belakang punggung mereka. Mereka memalingkan hati mereka dari dunia. Mereka mengabaikannya dan tidak merasa nyaman dengannya. Mereka meninggalkannya dan tidak mengejarnya. Bagi mereka, dunia adalah penjara, bukan surga, sehingga mereka selalu bersikap zuhud dalam arti yang sebenarnya. Seandainya menginginkan dunia, niscaya mereka akan mendapatkan apa yang disenangi dan mencapai apa yang diinginkan.

Sungguh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditawarkan kunci-kunci perbendaharaan dunia, tetapi Beliau menolaknya. Dunia juga ditawarkan kepada para Sahabat Beliau n , namun mereka tidak terpengaruh dan tidak menukar akhirat mereka dengannya. Mereka tahu bahwa dunia hanya tempat melintas dan persinggahan, bukan tempat untuk tinggal dan menetap.

Dunia adalah tempat kesedihan, bukan tempat kebahagiaan. Dunia tak ubahnya seperti awan pada musim kemarau yang membumbung di langit namun hanya sebentar lalu menghilang. Dunia seperti khayalan (mimpi) sesaat yang belum juga kita puas menikmatinya, tiba-tiba diumumkan untuk berangkat (menuju tempat tujuan).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya [1]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ ؟

Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian me letakkan jarinya -Yahya (perawi hadits) ber isyarat dengan jari telunjuknya- ke laut, lalu lihatlah apa yang dibawa jarinya itu? [2]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ  ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya adzab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir. [Yûnus/10:24]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ  ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا ﴿٤٥﴾ الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا  ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allâh Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan. [Al-Kahfi/18:45-46] [3]

Ada kabar mutawatir dari ulama Salaf mengatakan, “Cinta dunia merupakan induk dari segala kesalahan (dosa) dan merusak agama. Hal ini ditinjau dari beberapa segi:

Pertama: Mencintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh Azza wa Jalla . Termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Kedua: Allâh Azza wa Jalla mengutuk, memurkai, dan membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-Nya. Karena itu, barangsiapa mencintai apa yang dikutuk, dimurkai, dan dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla maka ia akan berhadapan dengan kutukan, murka dan kebencian-Nya.

Ketiga: Mencintai dunia berarti menjadikan dunia sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allâh Azza wa Jalla yang seharusnya menjadi sarana menuju kepada Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat berubah menjadi kepentingan dunia. Sehingga ia membalik persoalan dan memutar kebijaksanaan.

Di sini ada dua persoalan:

  1. Menjadikan wasilah (sarana) sebagai tujuan.
  2. Menjadikan amal akhirat sebagai alat untuk menggapai dunia.

Ini adalah keburukan yang terbalik dari semua sisi. Juga berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman Allâh Azza wa Jalla :Baca Juga   Nafkah Seorang Suami Untuk Istrinya Yang Bekerja Sebagai Karyawan

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami  berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh  balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]

Keempat: Mencintai dunia membuat manusia tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya di akhirat akibat kesibukannya dengan dunia.

Kelima: Cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar manusia.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ

 Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. [4]

Keenam: Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak disiksa karena dunia, ia disiksa pada tiga keadaan. Ia disiksa di dunia dalam bentuk usaha, kerja keras untuk mendapatkannya, dan perebutan dengan sesama pecinta dunia. Dia disiksa di alam barzakh (kubur) dan disiksa pada hari kiamat.

Ketujuh: Penggila harta dan pecinta dunia yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan paling idiot. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan tidur daripada terjaga, lebih mengutamakan bayang-bayang yang segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi yang nyaman dengan kehidupan yang tidak lebih dari sekedar mimpi atau bayang-bayang yang segera hilang. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan hal-hal semacam itu. [5]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.

 Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang tidak pernah berhenti. [6]

Manusia diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk beribadah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. ” [Adz-Dzâriyât/51:56]

Oleh karena itu wajib dia habiskan waktunya untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Janganlah seorang Muslim tertipu dengan dunia, sehingga dia lalai dan meninggalkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Rezeki dan ajal sudah ditentukan oleh Allâh Azza wa Jalla , meskipun demikian seorang Muslim wajib mencari nafkah sekedarnya untuk kehidupan dia di dunia. Akan tetapi janganlah kesibukan dia dengan usaha, dagang, kerja, dan lainnya itu membuat ia lalai dari mengingat Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman!Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh.Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [Al-Munaafiquun/63: 9]

Wajib diingat, bahwa kesibukan kita dengan ibadah kepada Allâh dengan ikhlas dan itiiba’ serta senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla akan mendatangkan rezeki dan menutup kefakiran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi-nya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya [Ath-Thalâq/65 : 2-3]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Ta’ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِـيْ أَمْلَأُ صَدْرَكَ غِنًـى وَأَسُدُّ فَقْرَكَ ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

‘Wahai anak Adam! Curahkanlah (gunakanlah) waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.’” [7]

Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan dunia. Dan hendaklah ia mencurahkan waktunya untuk beribadah kepada Allâh.

Banyak manusia yang terlalaikan sehingga banyakwaktu yang terbuang sia-sia untuk mengejar dunia, waktu yang digunakan mulai dari pagi hingga malamhanya untuk mengurusi dunia, seperti mencari nafkah,dagang, kerja, lembur, mengerjakan tugas kantor. Sedangkan rizki itu datangnya dengan pasti, setiap anak yang lahir itu sudah membawa rizki. Akan tetapiyang belum pasti adalah keadaan kita dihadapan Allâhpada hari Kiamat, apakah amal kita diterima atau tidak,apakah kita akan masuk surga atau neraka. Oleh karena itu, jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan.

Orang yang tujuannya dunia akan dicerai beraikanurusannya dan dijadikan kefakiran di depan pelupukmatanya. Sehingga ia selalu merasa kurang, tidakcukup, dan fakir, padahal Allâh telah memberikan nikmat yang banyak. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْيَا وَهِـيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatangi nya dalam keadaan hina. [8]

Akan tetapi dunia tidak akan datang melainkan hanya seukuran apa yang telah Allâh Azza wa Jalla tentukan, meskipun ia telah kerja dari pagi sampai larut malam. Adapun orang yang tujuannya adalah akhirat, maka Allâh Azza wa Jalla kumpulkan seluruh urusannya, Allâh Azza wa Jalla jadikan hatinya itu merasa cukup dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jalla berikan dan dunia akan datang dalam keadaan hina. Orang yang bahagia adalah orang cukup dan puas dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jalla berikan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allâh berikan kepadanya [9]

Orang yang beriman dengan iman yang benar, maka dia tidak suka dengan kedudukan dan jabatan, karena kecintaan manusia kepada jabatan atau kepemimpinan akan membawa kepada kerusakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Y ang demikian karena cinta kepada kepemimpinan (kedudukan/jabatan) merupakan sumber kejahatan dan kezhaliman .” [10]Baca Juga   Diantara Sebab Meraih Harta Adalah Tawakkal Kepada Allâh

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya. [11]

Di dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ketamakan manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusia kepada harta dan kepemimpinan akan membawa kepada kezhaliman, kebohongan dan perbuatankeji. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Na’uudzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allâh dari sifat dan perbuatan demikian).

Orang-orang yang gila kepada harta, kedudukan, jabatan, dan cinta kepada dunia mereka akan menyesal pada hari kiamat, ketika mereka diberikan catatan amalnya dari sebelah kirinya. Semua kekuasaan, jabatan, dan hartanya tidak bermanfaat di akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ ﴿٢٥﴾ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ ﴿٢٦﴾ يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ ﴿٢٧﴾ مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ﴿٢٨﴾ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku(ini) tidak diberikan kepadaku.Sehingga aku tidak menge tahui bagaimana perhitunganku,Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku samasekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” [Al-Haqqah/69:25-29]

Oleh karena itu, seorang Muslim harus zuhud terhadap dunia dan qan â ’ah (merasa puas dengan rezeki yang Allâh karuniakan kepadanya). Setiap Muslim dan Muslimah harus ingat, bahwa kita diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Kita wajib meluangkanwaktu kita untuk ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Kalau kita sibukkan diri kita dengan ibadah, melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allâh Azza wa Jalla akan menutupi kefakiran kita. Janganlah kita disibukkan dengan dunia, dengan angan-angan, cita-cita, main-main, senda gurau, dan menumpuk-numpuk harta yang membuat kita tertipu dengan dunia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bentuk penyia-nyiaan terbesar (yang banyak dilakukan oleh manusia –pent ) yaitu ada dua dan keduanya merupakan pokok segala penyia-nyiaan; pertama menyia-nyiakan hati, kedua menyia-nyiakan waktu.“ [12]

Banyak orang yang menyia-nyiakan hatinya dengan lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Padahal dunia ini lebih jelek dari bangkai kambing, bahkan di sisi Allâh Azza wa Jalla dunia itu tidak sebanding dengan sehelai sayap nyamuk. Dan hendaknya kita ingat bahwa dunia adalah kehidupan yang menipu dan memperdaya hati manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ  ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ  ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia orang yang sukses (menang). Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”[Ali ‘Imrân/3:185]

Hendaknya seorang Muslim zuhud terhadap dunia dan pendek angan-angannya. Semua umur ini akan ditanya oleh Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu jangan sampai disibukkan dengan dunia dan jangan disibukan dengan angan-angan kosong. Orang-orang kafir disibukan dengan dunia dan disibukan dengan angan-angan yang kosong. Kita disuruh untuk meninggalkan mereka, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menyuruh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meninggalkan orang kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ  ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya) [Al-Hijr/15:3]

Panjang angan-angan, merasa masih berusia panjang adalah penyakit berbahaya dan kronis bagi manusia. Jika penyakit ini menjangkiti seorang Muslim, maka itu akan membawa kepada indikasi yang lebih serius. Misalnya ia mulai menjauhi perintah Allâh Azza wa Jalla , enggan bertaubat, cinta kepada dunia, lupa akan kehidupan akhirat yang abadi, dan membuat hati menjadi keras. Allâhul Musta` â n.

Mudah-mudahan Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk zuhud terhadap dunia, tidak tamak kepada dunia, tidak panjang angan-angan, tidak mengharapkan sesuatu pada apa yang ada di tangan manusia. Mudah-mudahan Allâh memberikan kepada kita sifat qanâ’ah, merasa cukup dan puas dengan apa yang Allâh Azza wa Jalla berikan, yang dapat kita gunakan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allâh dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Mudah-mudahan Allâh memberikan keistiqamahan kepada kita dalam menghadapi fitnah dunia, fitnah syahwat dan syubhat. Mudah-mudahan Allâh memasukkan kita ke dalam Surga dan menjauhkan kita dari api Neraka.

Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk kita semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ] 
_______ 
Footnote 
[1] Hasan shahih: HR. Ahmad, I/391, 441; at-Tirmidzi, no. 2377; Ibnu Mâjah, no. 4109; dan al- H âkim, IV/310 dari Sahabat Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu. Imam at-Tidmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Lihat Silsilah al-A h âdîts ash-Sha h î h ah , no. 438.

[2] Shahih: HR. Muslim, no. 2858 dan Ibnu H ibbân, no. 4315- at- Ta’lîqâtul H isân dari al-Mustaurid al-Fihri Radhiyallahu anhu

[3] Fawâ`idul Fawâ`id , hlm. 311-313, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, tartib,ta’liq, dan takhrij Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hafizhahullah .

[4] Shahih: HR. Ahmad, V/183; Ibnu Mâjah, no. 4105; Ibnu H ibbân, no. 72 -Mawâriduzh Zham-ân ; dan al-Baihaqi, VII/288 dari Sahabat Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik Ibnu Mâjah. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-A h âdîts ash-Sha h î h ah , no. 950

[5]   Diringkas dari ‘Idatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn , hlm. 350-356, Ibnul Qayyim, tahqiq dan takhrij Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah

[6] Ighâtsatul Lahafân , I/87-88 dan lihat Mawâridul Amân al-Muntaqa min Ighâtsatil Lahafân , hlm. 83-84

[7] Shahih: HR. Ahmad, II/358; at-Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Mâjah, no. 4107 dan al- H âkim, II/443 dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat Silsilah al-A h âdîts ash- Sha h î h ah , no. 1359 dan Sha h î h at-Targhîb wat Tarhîb , no. 3166

[8] Shahih: HR. Ahmad, V/183; Ibnu Mâjah, no. 4105; Ibnu H ibbân, no. 72 – Mawâriduzh Zham’ân , dan Al-Baihaqi, VII/288 dari Sahabat Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-A h âdîts ash-Sha h î h ah , no. 950.

[9] Shahih: HR. Muslim, no. 1054 dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu

[10] Majmû’ Fatâwaa , XVIII/162

[11] Shahih: HR. at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; ad-Darimi, II/304; Ibnu H ibban, no. 3218– At-Ta’lîqâtul Hisân ; ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr , XIX/96, no. 189; dan lainnya. Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan lainnya.

[12] Fawâ`idul Fawaa`id , hlm. 385

sumber: https://almanhaj.or.id/5858-cinta-dunia-merupakan-sumber-dari-kesalahan-dan-kerusakan-agama.html