[Belajar Tauhid] 80. Dasar Dasar Keimanan 10

catatan: insyaallah, sabtu pukul 17.00WIB quis pekanan akan aktif. harap muraja’ah 5 materi yang telah dipelajari sepekan ini ya. terimakasih


Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Dampak Maksiat Terhadap Iman sbb:

  1. Maksiat adalah lawan dari ketaatan. Wujudnya bisa berupa meninggalkan perintah atau melanggar larangan.
  2. Maksiat itu sebagiannya tergolong dosa besar, dan sebagiaannya lagi tergolong dosa kecil. Yang tergolong dosa besar ada yang membatalkan keimanan dan ada yang tidak membatalkan keimanan tetapi mengurangi dan merusak keimanan.
  3. Menghalalkan perbuatan dosa besar termasuk kekufuran yang membatalkan keimanan.
  4. Maksiat itu akan menjadi noda hitam pada hati manusia yang menghalanginya dari kebaikan-kebaikan dan melemahkannya dalam ketaatan. Noda hitam ini bisa dibersihkan dengan taubat dan memperbanyak amal shalih.

selanjutnya kita akan mempelajari Beriman Kepada Yang Ghaib, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Memisahkan Tempat Tidur Anak

Diantara hal yang bisa dipraktekkan oleh para orang tua dalam rangka memberikan pendidikan seksual kepada anaknya adalah memisahkan tempat tidur anak. Kapan? Bagaimana teknisnya? Dan kenapa harus dipisahkan? Akan kita bahas insyaAllah.

Tapi sebelumnya kalau kita membaca berita yang disajikan dimedia. Entah itu media cetak ataupun media elektronik tentang tingkah-polah manusia, maka kita akan geleng-geleng kepala, kita akan prihatin, kita akan sedih dan kita takut dengan banyaknya kerusakan yang tersebar di muka bumi. Salah satunya adalah adanya hubungan seksual antara saudara dengan saudari kandung, kakak dengan adik, adik dengan kakak, bahkan ibu dengan anak, dan bapak dengan anak.

Kenapa perilaku menjijikkan tersebut bisa terjadi? Antara saudara sekandung bahkan antara ibu dengan anak. Bisa jadi kejadian-kejadian tersebut adalah karena tidak dipraktekkannya adab dan etika yang sudah dijelaskan didalam agama kita. Salah satunya adalah adab tidur.

Jadi dalam agama kita, sampai tidur pun juga diajarkan adabnya. Inilah yang sulit ditemukan didalam ajaran-ajaran agama yang lainnya. Didalam agama kita, sampai mau tidur pun dijelaskan adabnya. Mulai dari apa yang dibaca sebelum tidur, apa yang dibaca setelah bangun tidur? Kemudian bagaimana posisi yang dianjurkan ketika tidur? Lantas apa yang seyogyanya dilakukan sebelum tidur selain apa yang dibaca? Bahkan ketika bangun tiba-tiba dimalam hari apa yang seharusnya dan sebaiknya dibaca? Itu semua sudah dijelaskan didalam agama kita. Termasuk etika yang dijelaskan didalam agama kita adalah memisahkan tempat tidur anak.

Memisahkan tempat tidur anak ini salah satu etika yang amat disayangkan kurang diperhatikan oleh para orang tua termasuk juga anak-anak. Sehingga terjadilah perilaku-perilaku menyimpang yang kemudian pemicunya ternyata adalah kurang diperhatikannya etika ini.

Kapan anak itu dipisahkan tempat tidurnya? Anak dipisahkan tempat tidurnya ketika usia sudah 7 tahun. Kira-kira kelas 1 atau kelas 2 SD. Jadi, ketika anak sudah usia 7 tahun sudah dianjurkan untuk dipisah. Apalagi kalau misalnya usianya sudah 10 tahun. Apalagi kalau sudah kuliah.

Jadi sejak usia 7 tahun, itu sudah dilatih untuk dipisah. Ketika masuk usia 10 tahun, itu sudah tegas harus dipisah. Mirip seperti masalah shalat.

DIPISAH DARI SIAPA?

Pertama, dipisah antara saudara laki-laki dengan saudara laki-laki. Termasuk dipisah antara saudari perempuan saudari perempuan kandungnya. Contoh, misalnya punya anak kakak adik, dua-duanya laki-laki. Ketika sudah usia 7 tahun, harus dipisah. Atau punya anak kakak adik, kakaknya perempuan adiknya perempuan, ini juga harus dipisah. Apalagi kalau misalnya kakaknya perempuan adiknya laki-laki atau sebaliknya, juga harus dipisah .

Jadi pemisahan itu antara kakak adik laki-laki dengan laki-laki atau kakak adik perempuan dengan perempuan. Apalagi kakak adik laki-laki dengan perempuan. Termasuk juga para ulama kita menjelaskan bahwa tempat tidurnya dipisahkan dari bapak dan ibunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah bila enggan mendirikan shalat ketika telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Pada tahun 7 tahun ini awal-awal yang sifatnya anjuran, sebelumnya juga sudah boleh sebagaimana yang pernah kita sampaikan dahulu. Maka dari itu Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah beliau menjelaskan dengan hadits ini para Imam kita menjelaskan wajib memisahkan antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak dibolehkan anak laki-laki dan anak perempuan berkumpul disatu tempat tidur.

Dan terjadinya perbuatan zina antara saudara kandung dengan saudari kandung, salah satu pemicunya adalah karena dibiarkan tidur bersama. Ketika anak sudah sampai usia 10 tahun, walaupun belum baligh, kecenderungan dia kepada lawan jenisnya itu sudah semakin kuat. Apalagi kalau sudah baligh, akan semakin kuat lagi. Terlebih lagi dizaman kita ini, zaman tontonan jelek mudah diakses oleh anak kecil sekalipun. Zaman sekarang, hanya bermodalkan handphone dengan dilengkapi fasilitas internet, hal-hal jelek, tayangan-tayangan yang membangkitkan birahi seksual, itu mudah sekali didapatkan oleh anak-anak kita, naudzubillahimindzalik.

Kalau misalnya dia mendapatkan tontonan seperti itu, kemudian ternyata dia tidur dengan saudarinya, dengan kakak perempuannya atau adik perempuannya. Dan biasanya orang tidur itu bajunya tidak rapat. Ketika anak laki-laki dibiarkan tidur satu tempat bahkan satu kasur dengan kakaknya yang perempuan atau adiknya yang perempuan, maka terjadilah apa yang terjadi. Berupa bangkitnya syahwat saat melihat aurat kakaknya sendiri atau adiknya sendiri terbuka. Maka waspadalah!

Apa yang diajarkan didalam agama kita ini bukan dalam rangka untuk mempersulit atau merepotkan orang tua, bukan. Tapi dalam rangka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan supaya tidak terjadi. Kapan hubungan seksual bebas itu terjadi? Yaitu ketika tidak dipraktekkan ajaran Islam didalam kehidupan kita. Maka kita sebagai orang tua, tidak boleh membiarkan hal tersebut terjadi. Nanti kalau sudah terjadi baru dicari kambing hitamnya. Kenapa kita tidak melihat diri kita? Ini gara-gara saya yang kurang mengetahui etika Islam dalam tidur dan saya yang kurang memperhatikan dan mempraktekkan itu didalam diri saya dan diri anak-anak saya. Termasuk juga antara anak dengan ibunya sendiri.

Ketika Ibu tidur, mungkin biasa pakai baju daster atau mungkin baju tidur biasa. Lalu mungkin ketika tidur tersingkap dan tidak sadar kalau itu tersingkap. Sedangkan anaknya yang usianya sudah 7 tahun atau bahkan 10 tahun dibiarkan tidur bersama, ini berbahaya. Kalau masih usia dia minum ASI tidak masalah boleh tidur sama ibunya tidak mengapa.

Kenapa usia 7 atau 10 tahun?

Karena usia itu sudah mulai paham tentang bagian-bagian tubuh lawan jenisnya yang mengundang syahwat. Bayi umur 1 tahun ketika melihat payudara ibunya, akan berbeda dengan anak 10 tahun yang melihat payudara ibunya. Karena semakin tinggi usia seorang anak, kecenderungan seksual dia semakin besar.

Teknis memisahkan anak

Teknisnya bagaimana Ustadz? Apakah harus dipisah kamar atau cukup pisah ranjang atau boleh satu kasur tapi tidak dempetan?

Kalau bisa, yang paling baik dan yang paling aman adalah pisah kamar. Jadi betul-betul berbeda kamar. Apalagi kalau anak laki-laki dengan anak perempuan. Ini kalau mampu, karena kondisi ekonomi satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda. Tapi sebenarnya bisa disiasati karena sekalipun satu kamar bisa diberi sekat.

Saya ingat sekali dulu, masyaAllah saya baru faham sekarang-sekarang ini. Bagaimana dahulu bapak kami, Allahu Yarham, Ustadz Zaini Muhayat rahimahullahu ta’ala. Saya lupa saat SD kelas berapa, kok tahu-tahu ada tukang datang kerumah kemudian disuruh oleh bapak untuk membuat apa sekat dikamar kami yang sempit untuk memisahkan antara saya dengan kakak perempuan saya.

Khusus untuk kakak perempuan saya, kamarnya ada pintunya dan bisa dikunci dari dalam. Sedangkan saya yang penting sudah disekat. Satu kamar tapi sudah disekat. Itu untuk menyiasati kekurang ruangan didalam rumah. Sekarang saya lagi bicara tentang orang yang mampu dan rumahnya luas. Maka dari itu salah satu poin yang akan mendatangkan kebahagiaan kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rumah yang luas.

Jadi kalau misalnya memang mempunyai biaya atau kemampuan, yang penting rumah itu bukan mewahnya. Kalau memang ada dana dan tanahnya ada, buat rumah yang luas, yang lapang. Karena kelapangan rumah itu mempengaruhi juga kelapangan hati. Tentunya bukan hanya itu faktornya. Faktor utamanya adalah bagaimana keimanan penghuni penduduk rumah itu. Itu sangat menentukan.

Jadi kalau memang tanahnya ada, buat yang luas. Kalau bisa dibuat beberapa kamar.

sumber: https://www.radiorodja.com/45490-memisahkan-tempat-tidur-anak/

Rahasiakan Kebaikanmu Sebagaimana Engkau Rahasiakan Aibmu..

Untuk merahasiakan suatu perbuatan baik terkadang lebih sulit daripada membeberkan perbuatan buruk diri ini kepada manusia.. 

Walaupun dua hal tersebut diatas adalah perbuatan yang tidak terpuji..

Namun efek yang pertama lebih merugikan, karena akan menghilangkan keikhlasan, dan membuat amal kita menjadi debu yang berterbangan.. 

Maka wahai saudaraku, 

“Rahasiakan kebaikanmu sebagaimana engkau rahasiakan aibmu.. ini sulit.. tapi cobalah engkau usahakan.. semua hal yang rahasia seharusnya engkau tutup rapat..

Berkata Umar ibn Khottob :

“Siapa yang menyembunyikan rahasianya, maka kebaikan akan selalu berada di tangannya.”

Semoga bibir kita tidak menjadi ember bocor.. aminn 

بَارَكَ اللَّهُ فِيْك 

29 Rajab 1435H / 29 Mei 2014

sumber: http://www.salamdakwah.com/artikel/1168-rahasiakan-kebaikanmu-sebagaimana-engkau-rahasiakan-aibmu

APA YANG MAU KAU BANGGAKAN ?

oleh Ustadz Firanda Andirja, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Apa yang mau kau banggakan sementara engkau akan menjadi bangkai yang dipendam dalam kuburan…

Abul ‘Atahiyah berkata :

يَاعَجَباً لِلنَّاسِ لَوْ فَكَّرُوا .. وَحَاسَبُوا أَنْفَسَهُمْ أَبْصَرُوا
“Duhai sungguh mengherankan kondisi para manusia, jika mereka merenungkan dan menghisab diri mereka, tentulah mereka akan mengetahui…

عَجِبْتُ لِلإنْسَانِ فِي فَخْرِِهِ .. وَهُوَ غَداً فِي قَبْرِهِ يُقْبَرُ
Sungguh menakjubkan seorang manusia tatkala sedang berbangga/sombong…
Padahal dia esok hari dikuburkan dalam kuburannya…

مَا بَالُ مَنْ أَوَّلُهُ نُطْفَةٌ .. وَجِيْفَةٌ آخِرُهُ، يَفْجُرُ
Kenapa orang yang awalnya adalah mani dan akhirnya adalah bangkai berani berbuat kemaksiatan (dengan kesombongannya, dll) ?..”

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/9465

Jangan Sampai Ada Riya’ Dan Ujub Di Hatiku

Kemajuan teknologi serta perkembangan media sosial sudah menjadi hal yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia, tak jarang setiap moment atau kesempatan diabadikan kemudian diunggah di sosial media. Tak hanya itu, terkadang ibadah yang sedang dilakukan pun tak luput menjadi bahan unggahan, meskipun kita tidak tahu apa motivasi di balik unggahan-unggahan tersebut. Sehingga privasi antar individu saat ini sudah semakin memudar karena setiap saat –ada masalah atau tidak- dapat diketahui banyak orang melalui unggahan-unggahan yang dilakukan.

Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Terlebih bagi seorang wanita, saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, dan senang seakan-akan memenuhi relung hatinya. Itu manusiawi, namun jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niat pun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Di lain sisi terkadang tanpa sadar kita merasa telah banyak berbuat baik untuk Islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasul-Nya dan Al Qur’an, lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti diri kita, bersikap ujub tanpa sadar bahwa kita bukan apa-apa dibandingkan dengan kuasa-Nya.

Sebelum membahas lebih lanjut, apa sih perbedaan antara riya’ dengan ujub?

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan pelajaran berharga mengenai perbedaan antara riya’ dan ujub (takjub akan diri sendiri).

Beliau rahimahullah menjelaskan, bahwa betapa seringnya riya’ dan ujub saling bergandengan. Perlu diketahui bahwa riya’ berarti menyekutukan atau menyandingkan dengan makhluk. Sedangkan ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong.

Orang yang berbuat riya’ tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah.” (QS. Al Fatihah: 4)

Sedangkan orang yang merasa ujub pada diri sendiri tidak merealisasikan firman Allah Ta’ala,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 4)

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

إيَّاكَ نَعْبُدُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah”, maka ia akan terlepas dari riya’ (karena ia akan beribadah pada Allah semata).

Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah,

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan”, ia akan terlepas dari sifat ujub (takjub pada diri sendiri).

Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) sifat pelit yang ditaati (2) hawa nafsu yang diikuti, kekaguman seseorang pada dirinya sendiri” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 5/328. Dihasankan Al Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 3045 ).

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya“ (H.R Ahmad dalam Musnad-nya. Dihasankan oleh Al Albani Shahiihul Jami’ no.2604)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa riya’ termasuk syirik khafi yang samar dan tersembunyi. Hal ini karena riya’ terkait dengan niat dan termasuk amalan hati, yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Tidak ada seseorang pun yang mengetahui niat dan maksud seseorang kecuali Allah semata. Hadist di atas menunjukkan tentang bahaya riya’, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir riya’ menimpa para sahabat yang merupakan umat terbaik, apalagi terhadap selain mereka. Kekhawatiran beliau lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ancaman fitnah Dajjal karena hanya sedikit yang dapat selamat dari bahaya riya’ ini. Fitnah Dajjal yang begitu berbahaya, hanya menimpa pada orang yag hidup pada zaman tertentu, sedangkan bahaya riya’ menimpa seluruh manusia di setiap zaman dan setiap saat (I’aanatul Mustafiid, II/90).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid dalam At-taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303).

Bila kita merasa telah menjadi orang yang baik saja dianggap ujub, sebagaimana ditanyakan kepada Aisyah radliyallahu anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau menjawab: “Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik” (Syarah Jami As Shaghir). Bagaimana bila disertai dengan menganggap remeh orang lain? Inilah kesombongan.

Belajar dari Para Salaf

Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).

Dari Wahab bin Munabbih diriwayatkan bahwa ia berkata, “Camkan tiga hal yang kusampaikan: Waspadalah tehadap hawa nafsu yang dituhankan, teman yang jahad, dan ujub dengan diri sendiri.” (Siyar A’laamin Nubalaa, 4/549)

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Kalau kamu mengkhawatirkan sikap ujub atas amal perbuatanmu, ingatlah keridhaan Allah yang menjadi tujuan amalmu, di alam kenikmatan mana engkau hendak berlabuh dan dari siksa mana engkau hindarkan dirimu. Karena barangsiapa yang mengingat semua itu, semua amalannya akan tampak kecil di matanya.” (Siyar A’laamin Nubalaa, 10/42)

Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’dan melindungi kita dari ujub serta kesombongan. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan.  Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.

Penulis: Ratna Dwi Ariyani

Muraji’: Ustadz Yulian Purnama

Artikel Muslimah.or.id

Sumber:

  • Ujub Tak Terasa Bisa Membatalkan Amalan. Ust. Badrusalam, Lc. Halaman web: https://muslim.or.id/28973-ujub-tak-terasa-bisa-membatalkan-amalan.html
  • Beda Riya dan Ujub. Ust. Muhammad Abduh Tuasikal. Halaman web: https://rumaysho.com/1542-beda-riya-dan-ujub.html
  • Ketika Kita Ingin Dilihat. Ummu Aiman. Halaman web: https://muslimah.or.id/75-ketika-kita-ingin-dilihat.html
  • Kitab Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf

sumber: https://muslimah.or.id/10049-jangan-sampai-ada-riya-dan-ujub-di-hatiku.html

[Belajar Tauhid] 79. Dasar Dasar Keimanan 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Hukum Pelaku Dosa Besar sbb:

  1. Dosa besar adalah setiap dosa yang pelakunya harus mendapatkan HAD (sangsi hukum yang sudah ditetapkan jenis dan kadarnya dalam Syari’at) di dunia atau diancam oleh Allâh -‘Azza wa Jalla- dengan laknat-Nya atau adzab neraka-Nya.
  2. Dosa kecil adalah setiap dosa yang tidak mempunyai HAD (sangsi hukum yang sudah ditetapkan jenis dan kadarnya dalam Syari’at) di dunia, juga tidak terkena ancaman khusus di akhirat.
  3. Dosa kecil dinamakan dosa kecil semata-mata karena dibandingkan dengan dosa besar. Bukan berarti dosa kecil adalah sesuatu yang kecil. Bahkan setiap dosa merupakan sesuatu yang besar dalam pandangan Syari’at. Karena Allâh -‘Azza wa Jalla- tidak pantas untuk dimaksiati dengan dosa apapun, baik yang “kecil” maupun yang besar.
  4. Pelaku dosa besar asalnya tetaplah seorang Mukmin dan tidak dikafirkan jika ia termasuk Ahlu Tauhid dan dosa besarnya tidak termasuk pembatal keimanan. Dia adalah Mukmin dengan keimanannya, dan fasik dengan sebab dosa besarnya.
  5. Ada tiga kelompok sesat dalam menyikapi pelaku dosa besar dari kalangan orang-orang beriman, yaitu : Murji’ah, Mu’tazilah, dan Khawarij.
  6. Murji’ah mengatakan bahwa dosa sama sekali tidak membahayakan keimanan orang-orang beriman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir. Karena bagi mereka keimanan hanya pembenaran hati saja, tidak ada kaitannya dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota badan.
  7. Mu’tazilah mengatakan bahwa pelaku dosa besar tidak Mukmin juga tidak kafir, akan tetapi berada pada manzilah (kedudukan) diantara keduanya (keimanan dan kekafiran). Dan apabila dia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat dari dosa besarnya maka ia kekal di dalam neraka.
  8. Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar kafir, keluar dari Agama Islam dan kekal di neraka.

selanjutnya kita akan mempelajari Dampak Maksiat Terhadap Iman, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bagaimana Mengatasi Kedengkian Dan Bagaimana Berlindung Darinya Secara Syar’i

Oleh 
Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan 
Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Bagaimana mengatasi kedengkian dan bagaimana cara berlindung darinya secara syar’i?

Jawaban 
Dengki adalah penyakit yang berbahaya dan aib yang besar, yaitu menginginkan hilangnya nikmat Allah dari siapa yang diberi nikmat olehNya dari makhlukNya. Ini adalah permusuhan terhadap Allah, dan ini adalah salah satu sifat kaum Yahudi dan kaum kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu” [Al-Baqarah/2 : 105]

Dia berfirman.وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” [Al-Baqarah/2 : 109]

Dia berfirman tentang Yahudi yang dengki kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” [An-Nisa/4 : 54]

Mengatasi hasad agar lenyap dari manusia ialah dengan meminta perlindungan kepada Allah darinya dan memintaNya agar menyembuhkannya darinya serta memperbanyak berdzikir kepada Allah, ketika melihat sesuatu yang dikaguminya.

Adapun cara mengatasinya dalam hubungannya dengan orang yang didengki ialah memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan orang yang dengki, membaca Mu’awwidzatain, berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawakal kepadaNya.Baca Juga   Hukum Mengkonsumsi Obat Kuat

MENGHILANGKAN HASAD BERIKUT NODANYA DARI DIRINYA DAN KELUARGANYA

Pertanyaan 
Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Bagaimana seseorang dapat mengenyahkan kedengkian dari dirinya dan keluarganya ?

Jawaban 
Dengki adalah menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang yang didengki. Ini adalah sifat tercela karena termasuk sifat Iblis, sifat Yahudi dan sifat makhluk terburuk, baik dahulu maupun sekarang. Dan, karena ini merupakan penentangan terhadap ketentuan Allah dan tidak ridha dengan pembagianNya.

Setiap muslim harus berusaha membuang dari dirinya sifat dengki tersebut dengan cara ridha terhadap qadha dan qadarNya serta mencintai kebaikan yang dimiliki saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 13 Kitab Al-Iman]

Ia mengenyahkan sifat dengki dari dirinya juga dengan sarana-sarana yang mendatangkan kebaikan baginya, serta menolak keburukan darinya dengan berbaik sangka kepada Allah dan mengharapkan apa yang terdapat di sisiNya.

Ia menolak dari dirinya dan keluarganya buruknya kedengkian orang-orang yang dengki, dengan meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan mereka. Allah telah memerintahkan NabiNya dalam surah Al-Falaq supaya meminta perlindungan dari keburukan pedengki ketika dengki. Demikian pula menolak keburukan para pedengki dengan sedekah, kebaktian, dan berbuat kebajikan kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Terutama ketika mendapatkan harta, sedangkan di sisinya terdapat seseorang dari kalangan yang membutuhkan yang memandangnya, maka hendaknya ia bersedekah kepada mereka dan menghentikan pandangan mereka kepada apa yang ada di tangannya. Wallahu ‘alamBaca Juga   Adakah Penyakit Menular?

[Kitab Ad-Da’wah, Fatwa-fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan, jilid I, hal. 68-69]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]

sumber: https://almanhaj.or.id/1818-bagaimana-mengatasi-kedengkian-dan-bagaimana-berlindung-darinya-secara-syari.html

Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena Taubat

Sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab berbunyi,

ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة

“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”

Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap muslim, agar ia tidak terlalu mencari “kambing hitam” atas apa yang terjadi di dunia ini, akan tetapi hendaknya langsung introspeksi terhadap dirinya sendiri kemudian memperbaik dosa kesalahan tersebut serta mengiringi keburukan tersebut dengan segera melakukan kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺃَﺗْﺒِﻊِ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺗَﻤْﺤُﻬَﺎ

“Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan kebaikan  akan menghapuskannya.”[1]

Semua musibah dan kesesahan yang menimpa kita adalah karena dosa dan maksiat yang kita lakukan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy Syura: 30).

Oleh karena itu kita dianjurkan agar memperbanyak bertaubat dan beristighfar agar dosa dihapus oleh Allah dan tidak Allah turunkan kepada kita dalam bentuk bala’ dan musibah.

Istighfar adalah sumber kemudahaan hidup dengan izin Allah, karenanya kita sangat dianjurkan memperbanyak istigfar di manapun dan kapan pun. Istigfar adalah amalan yang sangat mudah karena hanya menggerakkan lidah dan menghadirkan hati.

Al-Hasan Al-Bashri berkata,

أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ، فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, meja-meja makan, jalan-jalan, pasar-pasar dan majelis-majelis kalian di manapun kalian berada, karena kalian tidak tahu kapan turunnya pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[2]

Luqman bepesan kepada anaknya,

يَا بُنِيَّ عَوِّدْ لِسَانَكَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، فَإِنَّ لِلَّهِ سَاعَاتٍ لَا يَرُدَّ فِيهَا سَائِلًا

“Wahai anakku biasakan lisanmu dengan ucapan: [اللهم اغفر لي] ‘Allhummafirli’  karena Allah memiliki waktu-waktu yang tidak ditolak permintaan hamba-Nya di waktu itu.”[3]

Dengan taubat kepada Allah maka bala’ dan musibah akan diangkat.

Imam Al-Qurthubi menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya, bahwasanya ia berkata,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”

“Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

yang lain lagi berkata kepadanya, “Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya, “beristighfarlah kepada Allah!”

Dan kami pun menganjurkan demikian kepada orang tersebut.

Maka Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh [ayat 10-12].”[4]

Dan dengan istigfar kita akan mendapatkan berbagai kemudahan, hati yang lapang dan rezeki

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

“dan hendaklah kamu meminta ampun [istigfar] kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian),niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (Hud: 3)

Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithi berkata menafsirkan ayat ini,

وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَتَاعِ الْحَسَنِ: سَعَةُ الرِّزْقِ، وَرَغَدُ الْعَيْشِ، وَالْعَافِيَةُ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَجَلِ الْمُسَمَّى: الْمَوْتُ

“Pendapat terkuat tentang yang dimaksud dengan kenikmatan adalah rezeki yang melimpah, kehidupan yang lapang, dan keselamatan di dunia dan yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah kematian.”[5]

Hendaknya kita renungkan sabda  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”[6]

Demikian semoga bermanfaat

@ Di antara Langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink, Perjalanan Yogyakarta – Medan

Penyusun: Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

[1] HR. Tirmidzi

[2] Jami’ Al-ulum wal hikam hal. 535, Darul Aqidah, Kairo, cet.1, 1422 H

[3] Kalamul Layaali wal Ayyaami libni Abid Dunya

[4]Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah

[5] Adhwa’ul Bayan 2/170, Darul Fikr, Libanon, 1415 H, Asy-Syamilah

[6] HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani

sumber: https://muslim.or.id/38223-bala-dan-musibah-turun-karena-dosa-dan-terangkat-karena-taubat.html

[Belajar Tauhid] 78. Dasar Dasar Keimanan 08

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Pembatal Keimanan _ Bagian Kedua sbb:

  1. Pembatal keimanan adalah sesuatu yang dapat menghapuskan keimanan secara total dan mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam.
  2. Pembatal-pembatal keislaman itu banyak, diantaranya :
  • Berkeyakinan bahwa petunjuk Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-  Itu tidak sempurna dan bahwa ada hukum yang lebih sempurna dari hukum Allâh  -‘Azza wa Jalla-.
  • Membantu orang-orang kafir dalam memerangi Islam dan Kaum Muslimin.
  • Meyakini bahwa ada orang-orang yang boleh keluar dari ketentuan ajaran Rasulullah.
  • Berpaling dari Agama Allâh -‘Azza wa Jalla-, tidak mau memperlajari dan mengamalkannya.

selanjutnya kita akan mempelajari Hukum Pelaku Dosa Besar, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Bantulah sang Suami untuk Mencari Nafkah yang Halal

Menyadari keselamatan nafkah keluarga ada di tangan suami, selayaknya setiap wanita berusaha memotivasi suaminya untuk mencari rezeki yang halal. Tunjukkan sikap qanaah (merasa cukup dengan apa yang halal) dan bukan menjadi tipe penuntut.

Bisakah Anda memahami, salah satu faktor suami Anda rela untuk bergulat dengan kerasnya hidup adalah dalam rangka membahagiakan Anda dan keluarga. Bila perlu, dia akan berikan seisi dunia ini kepada Anda, agar Anda bisa merasa bahagia bersamanya. Tak heran, sebagian lelaki pecundang, yang merasa tertuntut untuk membahagiakan keluarga, harus tega-tegaan merenggut harta haram, demi mendapatkan target kebahagiaan yang diharapkan. Dari pada pulang dengan disambut wajah cemberut sang istri, lebih pulang dengan harta haram.

Qanaah, itulah kata kuncinya. Merasa cukup dengan yang halal, itulah intinya. Letakkan arti kebahagiaan itu di hati Anda, bukan di mulut dan perut Anda. Karena kesenangan dengan stAndar mulut dan perut adalah ciri khas binatang.

Dulu para wanita, melepas kepergian suaminya yang hendak berangkat mencari nafkah dengan nasehat yang indah. Kalimat menyejukkan yang memberikan semangat luar biasa bagi sang suami untuk mencari nafkah dengan cara yang tidak melanggar syariat. Ketika sang suami hendak berangkat, mereka berpesan,

يا أبا فلان! أطعمنا حلالا، فإنا نصبر على الجوع ولا نصبر على النار وغضب الجبار

Wahai fulan (suamiku), berilah makanan yang halal bagi kami. Kami sanggup untuk menahan diri dengan bersabar dalam kondisi lapar. Namun kami tidak sanggup untuk bersabar dari neraka dan murka al-Jabbar (Dzat Yang Maha Mutlak Ketetapan-Nya).

Sikap semacam inilah yang selayaknya Anda tiru… mereka wanita-wanita sholihah, calon-calon bidadari surga. Menghiasai kecantikan dirinya denagn kecantikan akhlaknya. Betapa bahagianya sebuah keluaga dengan kehadiran mereka di tengah-tengah mereka. Tidakkah Anda ingin menjadi seperti dari mereka…?

Referensi:  https://konsultasisyariah.com/15715-ketika-suami-berpenghasilan-haram.html