Penyebab Utama Gagal Hijrah adalah Tidak Menjauhi Kawan Lama yang Buruk

Ingin istiqamah setelah hijrah?
Segara cari teman dan lingkungan yang baik
Teman buruk yang lama segera jauhi
Bukan berarti memutuskan pertemanan
Tetapi berteman secukupnya
Karena teman buruk akan mempengaruhi

Tanda taubat adalah menjauhi teman lama yang buruk dan mengganti dengan teman yang baik.

Syaqiq Al-Balkhiy mengatakan,

ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﺍﻟﺒﻜﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺳﻠﻒ ، ﻭﺍﻟﺨﻮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺬﻧﺐ ، ﻭﻫﺠﺮﺍﻥ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﺴﻮﺀ ، ﻭﻣﻼﺯﻣﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ

“Tanda Taubat asalah bersedih dengan maksiat yang telah dilakulan, khawatie terjerumus dalam dosa yang sama lagi, MENJAUHI TEMAN YANG BURUK dan bergaul dengan teman yang baik.” (Siyarul A’lam An-Nubala 9/315)

Kita mendengar dan bahagia
Ada kawan yang sudah hijrah
Tetapi berlalu lah zaman yang sebentar saja
Kita lihat ia kembali ke maksiat yang dulu
Kembali tenggelam dalam lumpur maksiat
Kembali tenggelam dalam hiruk-pikuk 
Tipu daya dunia yang melalaikan akhirat

Usut punya usut
Ternyata ia TIDAK TEGA
meninggalkan kawan buruk yang lama
Masih bergaul dengan mereka
Memang, sering berkumpul dengan ikhwan pengajian
Tapi masih sering berkumpul juga dengan kawan buruk

Akhirnya firnah dunia yang mendominasi
Karena dunia itu menipu
Dunia itu manis dan hijau
Padahal hati lemah
Syahwat dan syubhat menyambar-nyambar

Keimanan dilepas pelan-pelan
Bagai tikar dilepas anyaman-nya

Dalam hadits,

ﺗُﻌْﺮَﺽُ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﻛَﺎﻟْﺤَﺼِﻴﺮِ ﻋُﻮﺩًﺍ ﻋُﻮﺩًﺍ

“Fitnah-fitnah akan mendatangi hati bagaikan anyaman tikar yang tersusun seutas demi seutas”. [HR. Muslim no 144]

Tidakkah kita takut
Allah telah memberi hidayah sunnah
Kemudian kita berpaling setelahnya
Lalu Allah palingkan hati kita selama-lamanya
dan Allah sudah tidak peduli lagi

Allah berfirman,

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺯَﺍﻏُﻮﺍ ﺃَﺯَﺍﻍَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻗُﻠُﻮﺑَﻬُﻢْ

“Maka ketika mereka melenceng (dari jalan yang lurus) niscaya Allah lencengkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaff/61:5)

Semoga kita semya istiqamah setelah berhijrah

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Ustadz. Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/penyebab-utama-gagal-hijrah-adalah-tidak-menjauhi-kawan-lama-yang-buruk.html

Kesombongan Penghalang Masuk Surga

Oleh 
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

HAKEKAT KESOMBONGAN 
Kesombongan ( al-kibr ) adalah melihat diri sendiri melebihi al-haq (kebenaran) dan al-khalq (makhluk; orang lain). Jadi, orang yang sombong melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat kesempurnaan.

Kesombongan ada dua yaitu kesombongan terhadap al-haq (kebenaran), dan kesombongan terhadap al-khalq(makhluk/manusia).

Seorang manusia, tatkala melihat dan menganggap dirinya besar atau mulia, dia akan menganggap orang lain kecil dan merendahkannya. Dia akan memandang al-haq (kebenaran) akan menghancurkan kedudukannya dan mengecilkan posisinya. Dan dia melihat manusia lainnya seolah-olah binatang, karena dianggap bodoh dan hina. [Lihat at-Taw â dhu’ fî Dhauil Qur’ â nil Kar î m was Sunnah ash-Sha h î h ah , hlm. 35, karya syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli]

Dalam hadits, Rasûlullâh n telah menjelaskan makna kesombongan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Dari Abdullah bin Mas’ û d, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  [HR. Muslim, no. 2749]

BAHAYA KESOMBONGAN 
Sesungguhnya bahaya kesombongan itu sangat besar, banyak orang binasa karenanya. Diantara bahaya kesombongan adalah kesombongan merupakan dosa pertama yang dilakukan makhluk. Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis. Allâh Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. [Al-Baqarah/2: 34]

Diantara bahaya kesombongan juga adalah neraka menjadi tempat kembali mereka, sebagaimana ketika Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sifat sombong orang-orang kafir dalam firman-Nya:

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. [Az-Zumar/39:72]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ

Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong  saat berjalan, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk surga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan . [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, 2/114; al-Hâkim, 2/499]

Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di neraka Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai sisi, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:Baca Juga   Mengganggu Hak Orang, Hukuman Segera Datang

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ 

Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka  akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan). [Hadits Hasan. Riwayat al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad , no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad dalam Zaw â ‘id Az-Zuhd , no. 151]

BENTUK-BENTUK KESOMBONGAN 
Sebagian orang menyangka bahwa kesombongan itu letaknya dalam hati saja, sehingga dengan perbuatannya semata-mata seseorang itu tidak bisa dikatakan  sombong. Benarkah demikian? Ternyata tidak. Karena walaupun pada asalnya kesombongan itu di dalam hati, akan tetapi bisa memunculkan bentuk-bentuk kesombongan yang dapat diketahui oleh panca indra. Inilah di antara bentuk kesombongan-kesombongan yang harus ditinggalkan:

Takabbur Terhadap A l-Haq 
Di antara bentuk kesombongan terburuk adalah menolak kebenaran. Kesombongan ini menyebabkan dia tidak bisa mengambil faedah ilmu dan tidak bisa menerima al-haq serta tidak tunduk kepada al-haq . Terkadang ia meraih pengetahuan, namun jiwanya tidak mau tunduk terhadap al-haq , sehingga ia tidak bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang berhasil dia raih, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla memberitakan tentang kaum Fir’aun:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. [An-Naml/27: 14]

Orang yang takabbur terhadap al-haq –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat perantara anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sebenarnya dia takabbur kepada Allâh Azza wa Jalla , karena Allâh Azza wa Jalla adalah al-Haq , perkataan-Nya adalah haq, agama-Nya haq, al-haq merupakan sifat-Nya, dan al-haq itu berasal dari-Nya dan untuk-Nya. Jika seseorang menolak al-haq , enggan menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allâh Azza wa Jalla dan takabbur terhadap-Nya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menghinakannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Menolak al-haq yaitu seseorang menolak kebenaran berdasarkan penilaian dirinya dan fikirannya. Dia melihat bahwa dirinya lebih besar dari kebenaran. Tandanya adalah seseorang yang didatangkan kepadanya dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, tetapi dia tidak menerima, bahkan dia terus mengikuti pendapatnya, maka ini adalah sebentuk penolakan terhadap kebenaran. Banyak orang hanya membela dirinya, jika dia telah berpendapat dengan satu pendapat, tidak mungkin dia meninggalkannya, walaupun dia tahu pendapatnya itu menyelisihi kebenaran. Sikap ini sesungguhnya menyelisihi agama dan akal. Yang wajib adalah seseorang itu kembali mengikuti kebenaran, di manapun ia dapati, walaupun kebenaran itu menyelisihi pendapatnya. Sesungguhnya sikap ini lebih mulia baginya di sisi Allâh dan di sisi manusia, serta lebih menyelamatkannya. Janganlah engkau menyangka, jika engkau meninggalkan pendapatmu menuju kebenaran, itu akan merendahkan kedudukanmu di kalangan manusia, namun justru itu akan meninggikan kedudukanmu, dan mansuia akan mengetahui bahwa engkau hanya mengikuti kebenaran. Adapun orang yang menentang, dan terus mengikuti pendapatnya, serta menolak kebenaran, maka ini adalah orang yang sombong. Kita berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla.” [Diringkas dari Syarah Riy â dhus Sh â lihî n , bab: Keharaman Kesombongan dan ujub ]

Takabbur Terhadap Manusia. 
Yaitu seseorang memandang dirinya di atas manusia lainnya, sehingga dia menganggap dirinya besar dan meremehkan yang lain. Kesombongan ini akan mendorong kepada kesombongan terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana kesombongan Iblis terhadap nabi Adam Alaihissallam mendorongnya untuk enggan melaksanakan perintah Allâh untuk sujud kepada Adam Alaihissallam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:Baca Juga   Jauhilah Riya’

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ﴿٧٣﴾ إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴿٧٤﴾ قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allâh berfirman, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. [Shaad/38: 73-76]

Kesombongan Dengan Pakaian. 
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

Barangsiapa menyeret pakaiannya dengan sebab sombong, All â h tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Lalu Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya terkadang salah satu sisi sarungku turun, kecuali jika aku menjaganya”. Maka Nabi bersabda, “Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya dengan sebab sombong”. [HR . Al – Bukhâri dan lainnya dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma]

Kesombongan Dengan Perbuatan. 
Kesombongan dengan perbuatan bisa berupa memalingkan wajahnya dari manusia, berjalan dengan berlagak, dan lainnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. [Luqmân/31: 18]

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjauhkan kita dan menjaga kita dari kesombongan dengan segala bentuknya. Hanya Allâh Azza wa Jalla tempat memohon pertolongan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/5557-kesombongan-penghalang-masuk-sorga.html

[Belajar Tauhid] 87. Iman Kepada Kitab Kitab Allah 03

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Iman Kepada Kitab Kitab Allah 02 sbb:

Kitab-kitab yang sekarang ada pada Ahlul Kitab tidak boleh dikatakan sebagai Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla-. Karena kitab-kitab telah mengalami perubahan-perubahan dan keluar statusnya sebagai Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla-.

selanjutnya kita akan mempelajari Iman Kepada Kitab Kitab Allah 03, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Pertemanan dengan Lawan Jenis


س4: ما حكم الشرع في الصداقة مع الجنس الآخر، بمعنى: أن تتخذ الفتاة صديقا أو العكس؟ مع العلم أن هده الصداقة شريفة عفيفة، يعلم بها الجميع، وليست في الخفاء.

Pertanyaan, “Apa hukum persahabatan atau perkawanan dengan lawan jenis menurut hukum syariat dengan pengertian ada seorang gadis yang memiliki sahabat laki-laki atau sebaliknya? Perlu diketahui bahwa jalinan persahabatan yang dibangun keduanya adalah persahabatan yang “sehat”. Semua orang mengetahui, bukan persahabatan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

ج 4: هذا من أعظم المحرمات، وأشد المنكرات، فلا يجوز للمرأة أن تصادق الرجال الذين ليسوا من محارمها أو العكس؛ لأن ذلك وسيلة إلى الفتنة والوقوع في الفاحشة. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Jawaban Lajnah Daimah, “Persahabatan dengan lawan jenis adalah termasuk perbuatan yang sangat haram dan kemungkaran yang sangat-sangat mengerikan. Tidak boleh bagi seorang perempuan untuk berkawan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Demikian pula sebaliknya. Hal tersebut terlarang karena hal itu adalah sarana menuju pelanggaran terhadap berbagai aturan Allah yang mengatur etika hubungan dengan lawan jenis dan awal langkah menuju zina”.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … عضو … الرئيس
بكر أبو زيد … عبد العزيز آل الشيخ … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdullah bin Ghadayan, Shalih al Fauzan, Abdul Aziz Alu Syaikh dan Bakr Abu Zaid.

Sumber: Fatawa Lajnah Daimah juz 17 hal 67-68.

repost: https://ustadzaris.com/pertemanan-dengan-lawan-jenis

Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda

Kebanyakan kita tentu menghendaki agar kita bisa hidup mapan dan berkecukupan. Kita ingin dapat menghidupi diri sendiri beserta keluarga besok dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan lebih dari itu, mungkin kita menghendaki agar bisa hidup dengan harta yang melimpah ruah dan tidak sempit rizkinya. 

Sebagian orang menjadikan harta dan kekayaan yang dimiliki sebagai standar kebahagiaan hidup. Kita baru merasa tenang dan bahagia ketika bisa hidup dengan serba berkecukupan dengan harta yang melimpah. Hidup terjamin dengan rizki berupa harta yang senantiasa mengalir tiada henti. Mendapatkan gaji yang mengalir setiap bulannya.

Pada hakikatnya, ilmu itulah kekayaan yang sesungguhnya, bahkan ilmu itu lebih baik, lebih berharga, dan lebih mahal daripada harta.

Tanpa ragu lagi, ilmu agama (ilmu syar’i) itu lebih mulia dan lebih mahal daripada harta jika ditinjau dari beberapa sisi berikut ini.

Pertama, ilmu agama adalah warisan para Nabi. Sedangkan harta adalah warisan orang-orang jahat, orang-orang yang melampaui batas, pelaku dosa besar dan kefasikan (misalnya, Qarun).

Ke dua, ilmu agama itu akan menjaga dan melindungi pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sedangkan harta tidaklah bisa melindungi pemiliknya. Bahkan sebaliknya, pemiliknya-lah yang harus repot dan tersibukkan menjaga dan memelihara harta tersebut dalam bank atau gudang-gudang penyimpanan.

Ke tiga, ilmu agama yang bermanfaat (al-‘ilmu an-naafi’) tidaklah Allah berikan kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan bertakwa. Adapun harta, maka Allah memberikannya baik kepada hamba-Nya yang muslim ataupun kafir, yang berbuat baik maupun buruk dan yang shalih ataupun yang jahat.

Ke empat, ilmu agama tidaklah berkurang ketika diinfakkan, diamalkan, atau diajarkan kepada orang lain. Adapun harta, dia akan berkurang dengan diberikan kepada orang lain. [1]

Ke lima, ilmu agama akan memberikan manfaat kepada pemiliknya meskipun sudah meninggal dunia. Adapun harta, maka hartanya tidak ikut masuk ke dalam kubur pemiliknya ketika meninggal dunia. [1]

Ke enam, pemilik ilmu agama tetap diingat-ingat dan disebut-sebut di antara manusia meskipun telah meninggal. Adapun pemilik harta, apabila telah meninggal, dia tidak lagi disebut-sebut namanya. Hal ini jika dia selamat dari cacian, celaan dan makian orang-orang karena kebakhilannya.

Ke tujuh, pemilik ilmu syar’i akan diberi pahala dan diberi balasan karena setiap masalah yang dia pelajari karena Allah, yang dia ajarkan kepada manusia, atau yang dia amalkan. Adapun pemilik harta, maka dia akan ditanya: (1) dari mana hartanya diperoleh? (2) Dan ke mana hartanya diinfakkan?

Ke delapan, ilmu itu sebagai hakim bagi harta, dan harta itu diadili oleh ilmu sebagaimana dalam zakat, warisan, dan nafkah. Namun tidak sebaliknya. 

Ke sembilan, pemilik ilmu itu akan bertambah rasa takutnya kepada Allah dan akan diangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala setiap kali bertambah ilmu agama pada dirinya. Adapun pemilik harta, setiap kali bertambah hartanya, maka akan semakin bertambahlah pula kejahatan dan kesesatannya, serta semakin menjauh dari Allah, kecuali sedikit di antara mereka yang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. (Lihat Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 229-230)

Nikmat harta bukanlah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita

Selain itu, perlu kita ketahui bahwa nikmat harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita bukanlah tanda bahwa Allah mencintai kita. Karena nikmat berupa harta tersebut juga Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang musyrik dan kafir. Bahkan bisa jadi, orang-orang kafir itu lebih banyak hartanya daripada kita. 

Oleh karena itu, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebut nikmat harta ini sebagai suatu kenikmatan yang sifatnya nisbi (relatif) semata, tidak mutlak. Karena nikmat ini hanya terbatas di dunia, tidak di akhirat. Demikian pula nikmat-nikmat lain seperti badan yang sehat, kedudukan yang tinggi di dunia, banyaknya anak, dan istri yang cantik. (Lihat Ijtima’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 6)

Bahkan sebaliknya, bisa jadi kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (hukuman dari sisi yang tidak kita sadari) dari Allah Ta’ala sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah Ta’ala kepada manusia. 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

“Ketika nikmat yang sifatnya nisbi merupakan suatu bentuk istidroj bagi orang kafir yang dapat menjerumuskannya ke dalam hukuman dan adzab, maka nikmat itu seolah-olah bukanlah suatu kenikmatan. Nikmat itu justru merupakan ujian sebagaimana istilah yang Allah Ta’ala berikan di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ؛ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ؛ كَلَّا

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr [89]: 15-17)

Maksudnya, tidaklah setiap orang yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia berarti Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang Allah sempitkan rizkinya, dengan memberinya rizki sekadar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinakannya. Akan tetapi, Allah menguji hamba-Nya dengan kenikmatan sebagaimana Allah juga menguji hamba-Nya dengan kesulitan (kesempitan).” (Lihat Ijtima’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 6)

Oleh karena itu, para salaf dahulu, mereka tidak mau kalau ilmu agamanya itu ditukar dengan harta benda. Mereka tidak mau kalau ilmu yang dia miliki itu ditukar dengan sesuatu yang lebih rendah nilainya. 

Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata,

“Aku bersama Ahmad bin Abu Imran ketika ada seorang yang kaya raya lewat. Aku memandangnya dengan serius. Padahal aku sedang belajar bersamanya. 

Dia bertanya kepadaku, “Seolah-olah Engkau berpikir tentang harta yang dimilki oleh orang itu?” 

Aku menjawab, “Ya.” 

Dia berkata, “Apakah Engkau mau kalau Allah mengganti ilmu yang Engkau miliki dengan harta yang dia punya? Sehingga Engkau hidup sebagai orang kaya yang bodoh dan dia hidup sebagai orang miskin yang berilmu?” 

Maka aku menjawab, “Aku tidak mau mengganti ilmu yang aku miliki dengan harta yang dia punya. Karena ilmu itu kekayaan meski tanpa harta, kemuliaan meski tanpa pendukung, dan kekuasaan meski tanpa pasukan.” (Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 225-226)

Itulah kekayaan dan harta yang seharusnya kita cari dalam kehidupan ini. Itu pula harta yang seharusnya kita inginkan. Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk bersemangat mencari kekayaan itu.

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 19 Dzulqa’dah 1440/16 Juli 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Kecuali jika harta tersebut diinfakkan dalam bentuk sedekah jariyah.

sumber: https://muslim.or.id/50749-ilmu-agama-itu-lebih-berharga-daripada-harta-benda.html

Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Syukur, Kegembiraan, Rendah Hati, Kemurahan Dan Kedermawanan

Oleh 
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

11. Syukur. 
Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur.

Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia ber-syukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.

Jika manusia senantiasa bersyukur, maka kenikmatannya men-jadi langgeng dan melimpah, karena syukur adalah pengikat kenikmatan-kenikmatan yang masih ada dan pemburu kenikmatan-kenikmatan yang hilang. Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu… . ” [Ibrahim/14 : 7]

Apabila engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka hadapilah ia dengan syukur. [1]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:

يَجْرِي الْقَضَاءُ وَفِيْهِ الْخَيْرُ نَافِلَةٌ لِمُؤْمِِنٍ وَاثِـقٍ بِاللهِ لاَ لاَهِيْ 
إِنْ جَاءَهُ فَرَحٌ أَوْ نَابَهُ تَرَحٌ فِي الْحَالَتَيْنِ يَقُوْلُ: الْحَمْدُ ِللهِ

Qadha’ berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan 
untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah, bukan untuk orang yang lalai 
Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan 
pada dua keadaan tersebut dia mengucapkan: “Alhamdulillaah” [2]

12. Kegembiraan. 
Orang yang beriman kepada qadar akan bergembira dengan keimanan ini, yang kebanyakan manusia tidak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’” [ Yunus : 58]

Kemudian orang yang beriman kepada qadar memungkinkan keadaannya untuk meningkat dari ridha kepada ketentuan Allah dan bersyukur kepadanya, kepada derajat kegembiraan. Di mana ia bergembira dengan segala yang ditakdirkan dan ditentukan Allah kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.

Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. Setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tapi tidak semua orang yang ridha adalah orang yang bergembira. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas. Wallaahu a’lam.” [3]Baca Juga   Segala Sesuatu Telah Ditentukan Dan Manusia Diberi Pilihan

13. Tawadhu’ (Rendah Hati). 
Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada ketawadhu’an, meskipun dia diberi harta, kedudukan, ilmu, popularitas, atau selainnya, karena dia mengetahui bahwa segala yang diberikan kepadanya hanyalah dengan takdir Allah. Sekiranya Allah menghendaki, Dia dapat mencabut semua itu darinya.

Karena itulah, dia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada sesamanya, serta mengenyahkan kesombongan dan kecongkakan dari dirinya.

Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepadanya. Karena barangsiapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya? 
Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna 
ialah ketawadhu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi [4]

14. Kemurahan Dan Kedermawanan. 
Sebab, orang yang beriman kepada qadar mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah Yang memberi rizki dan menentukan penghidupan di antara para makhluk, sehingga masing-masing mendapatkan bagiannya. Tidaklah mati suatu jiwa pun sehingga sempurna rizki dan ajalnya, dan tidaklah seseorang menjadi fakir, kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla

Iman ini akan melapangkan dada pelakunya untuk berinfak dalam berbagai aspek kebaikan, sehingga dia pun lebih mendahulu-kannya dengan hartanya walaupun dia sangat membutuhkannya, disebabkan percaya kepada Allah dan memenuhi perintah-Nya untuk berinfak, serta merasa bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang mulia itu terdapat tuntutan untuk mengorbankan harta di jalan kebaikan tersebut tanpa berpikir panjang, dan karena dia tahu bahwa harta itu adalah harta Allah. Akhirnya, dia memilih untuk meletakkan harta tersebut di tempat di mana Allah memerintahkan untuk meletakkannya.

Kemudian iman kepada qadar pun akan memadamkan kerakusan dari hati orang yang beriman, sehingga dia tidak rakus terhadap dunia dan tidak mengejarnya kecuali sekedar kebutuhan. Ia tidak membuang rasa malunya untuk mencarinya, bahkan dia menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia, karena di antara jenis kedermawanan ialah menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia. Hal ini akan membuahkan kemuliaan jiwa dan keberanian baginya.

Hal yang menyebabkan manusia tidak memiliki keberanian dan kemuliaan jiwa ialah karena kerakusannya yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia.Baca Juga   (Bolehkah) Beralasan Dengan Takdir Atas Perbuatan Maksiat Atau Dari Meninggalkan Kewajiban

15. Keberanian Dan Mengenyahkan Kelemahan Serta Sifat Pengecut. 
Iman kepada qadar akan memenuhi hati pelakunya dengan keberanian serta mengosongkannya dari segala kelemahan dan sifat pengecut. Karena orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum hari kematiannya dan tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah dituliskan untuknya. Seandainya umat berkumpul untuk memberi kemudharatan kepadanya, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadanya kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah untuknya.

Di antara yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ialah sya’irnya:

Pada hariku yang manakah 
aku dapat lari dari kematian 
Apakah pada hari yang belum ditakdirkan 
ataukah pada hari yang telah ditakdirkan 
Apabila pada hari yang tidak ditakdirkan 
maka aku tidak akan takut darinya 
Tapi apabila kematian telah ditakdirkan 
maka hati-hati dan menghindar darinya tidaklah menyelamatkanku

Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu memiliki juga sya’ir yang semisal dengannya:

Orang penakut itu merasa dirinya akan terbunuh 
sebelum kematian datang menghabisinya 
Terkadang beberapa bahaya menimpa orang penakut 
sedang orang yang berani selamat darinya

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu “Hal yang dapat memutuskan rasa takut adalah berserah diri kepada Allah. Maka, barangsiapa yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Allah, mengetahui bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan luput darinya, sedangkan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya, dan juga mengetahui bahwa tidak akan menimpanya, kecuali apa yang telah dituliskan baginya, maka tidak akan tersisa tempat pada hatinya untuk takut kepada para makhluk. Sesungguhnya, jiwanya yang ia khawatirkan keselamatanya, sebenarnya telah berserah diri kepada Pelindungnya, dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa jiwa itu, kecuali yang telah dituliskan, dan bahwa apa pun yang telah dituliskan baginya pasti menimpanya. Jadi pada hakikatnya, tidak pantas ada rasa takut kepada selain Allah itu.”

“Selain itu, di dalam ketundukkan kepada Allah itu terdapat manfaat yang tersembunyi, yaitu apabila ia menyerahkan jiwanya kepada Allah, pada hakikatnya ia telah menitipkannya pada-Nya dan melindunginya (dengan menjadikannya) dalam lindungan-Nya. Sehingga tidak akan bisa menyentuhnya tangan musuh dan kezhaliman orang yang zhalim.”

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir] 
_______ 
Footnote 
[1]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/199, 235, 243). 
[2]. Bardul Akbaad, hal. 9. 
[3]. Madaarijus Saalikiin, (III/150). 
[4]. Ghadzaa-ul Albaab, as-Safarini, (II/223).

sumber: https://almanhaj.or.id/2211-buah-keimanan-kepada-qadha-dan-qadar-syukur-kegembiraan-rendah-hati-kemurahan-dan-kedermawanan.html

Do’a Memohon Kemudahan


قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

(Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’)

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Al Khabir, Maha Mengetahui Perkara Yang Tersembunyi

Bismillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Tak kenal, maka tak sayang. Tak sayang, tanda tak cinta

Begitulah ungkapan yang cukup populer sebagai pengukur kecintaan seseorang terhadap sesuatu. Dan ungkapan ini memang benar. Karena nyatanya rasa sayang kita tidak pernah tumbuh terhadap sesuatu yang tidak kita kenal.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa tidak ada sesuatu yang boleh kita cintai melebihi cinta kita kepada Allah Ta’ala. Untuk itu, sudah sepantasnya kita berusaha mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama-Nya sebagai langkah awal dalam memupuk rasa cinta kita kepada-Nya. Dan kali ini, kita akan mengenal salah satu dari nama-nama Allah, yaitu “Al-Khabir”.

Definisi “Al-Khabir”

Secara bahasa, Al-Khabir diambil dari mashdar al-khibru, al-khubru, al-khibrah, al-khubroh, al-makhbarah, dan al-mukhbarah, yang semuanya berarti pengetahuan terhadap sesuatu. Sedangkan al-khabir adalah yang mengetahui sesuatu itu.1

Sedangkan definisi yang disebutkan oleh para ulama adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang mendetail pada segala sesuatu, Dzat yang ilmu-Nya sampai pada tingkatan meliputi perkara-perkara batin dan yang tersembunyi, sebagaimana ilmu-Nya juga meliputi perkara-perkara yang tampak. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Sejatinya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Al-Khabir Yang mengetahui mata-mata yang khianat dan juga perkara-perkara yang disembunyikan dalam dada. Dan Dia Maha Mengetahui terhadap jiwa yang memiliki dada.2

Ketika menafsirkan nama Allah Al-Khabir pada surah Al-An’am ayat 18, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahberkata, “Ia adalah yang menyingkap pengetahuan terhadap hal-hal yang bersifat rahasia, apa-apa yang ada dalam hati, dan perkara-perkara yang tersembunyi.”3

Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata dalam kitab tafsir beliau, “Al-Khabir adalah Yang Mengetahui maslahat dan mafsadat segala sesuatu, tidak tersembunyi darinya akibat dari segala urusan.”4

Dalil-dalil yang menunjukkan Al-Khabir sebagai nama Allah Ta’ala

Dalam menetapkan suatu nama sebagai nama Allah Ta’ala, para ulama mensyaratkan adanya penyebutan nama tersebut dalam Al-Qur’an atau hadis-hadis yang sahih. Karena perkara-perkara yang berkaitan dengan Allah Ta’ala seperti ini bersifat tauqifiyyah atau baku dari pembuat syariat, dan akal manusia sama sekali tidak memiliki peran untuk berijtihad.5

Dalil dari Al-Qur’an

Syaikh Muhammad Al-Hamud dalam kitabnya An-Nahjul Asma mengatakan bahwa nama “Al-Khabir” telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 45 kali. Di antaranya,

وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)

قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Beliau berkata,“Saya diberitahu oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha teliti’.” (QS. At-Tahrim: 3)

إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ

“Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu benar-benar mengetahui tentang diri mereka.” (QS. Al-‘Adiyat: 11)

Dalil dari Hadis

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tatkala beliau menyembunyikan sesuatu dari Rasulullah,

لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Engkau harus memberitahukanku atau Allah Yang Mahalembut dan Maha Mengetahui yang akan memberitahukanku.” (HR. Muslim, no. 1625)

Perbedaan antara Al-‘Alim dengan Al-Khabir

Al-‘Alim dan Al-Khabir sama-sama berarti yang mengetahui. Akan tetapi dari sisi objek, keduanya memiliki perbedaan. Al-‘Alim berasal dari kata al-‘ilmu, sedangkan Al-Khabir berasal dari kata al-khibrah.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan al-‘ilmu itu zhahir (bagian luar dari pengetahuan), sedangkan al-khibrah merupakan batin (bagian dalam yang tersembunyi). Dan merupakan kesempurnaan ilmu adalah ketika mampu menyingkap al-khibrah tersebut. Dengan begitu al-khibrah merupakan bagian dalam dari ilmu serta kesempurnaannya.”6

Dan diantara kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla adalah memiliki dua nama ini sekaligus, Al-‘Alim dan Al-Khabir.

Kandungan nama Allah “Al-Khabir”

Para ulama telah membuat kaidah bahwa pada setiap nama Allah yang menunjukkan sifat muta’addi (membutuhkan objek) atau yang berkaitan dengan sesuatu yang ada atau berwujud, memiliki tiga kandungan.7Dan nama Allah “Al-Khabir” termasuk nama yang menunjukkan sifat muta’addi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal yang terkandung di dalamnya.

Pertama, penetapan “Al-Khabir” sebagai salah satu asmaul husna atau nama-nama Allah yang maha indah.

Kedua, penetapan al-khibrah sebagai sifat bagi Allah, yaitu mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi.

Ketiga, konsekuensi dari nama Allah “Al-Khabir” ini adalah Allah mengetahui segala sesuatu, baik itu yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah mengetahui segala perbuatan makhluk dan segala yang tebersit dalam lubuk hati mereka. Dan tidak ada sesuatupun baik di langit ataupun bumi yang tersembunyi serta luput dari pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Letak keindahan nama Allah “Al-Khabir”

Telah disebutkan diatas, bahwa “Al-Khabir” merupakan salah satu nama Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa nama-nama yang dimiliki-Nya adalah nama-nama yang memiliki keindahan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah itu memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kalian dengan nama-nama itu.” (QS. Al-A’raf: 180)

Sedangkan diantara letak keindahan pada nama Allah “Al-Khabir” adalah pada dua segi, kandungan dan lafal.

Secara lafal, Allah Ta’ala tidak memilih Al-‘Arif sebagai nama-Nya walaupun artinya sama, yaitu mengetahui. Namun, Dia memilih Al-Khabir dan Al-‘Alim sebagai nama-Nya karena lebih mudah diucapkan dan lebih nyaman didengar.

Letak keindahan lain dari Al-Khabir adalah dari segi kandungannya. Padanya terkandung sifat pengetahuan yang sangat sempurna. Dan kesempurnaan sifat tersebut bersifat mutlak dari berbagai sisi. Pengetahuan-Nya tidak didahului dengan kebodohan, tidak ternodai dengan kelupaan, dan tidak pernah berkurang ataupun hilang.

Pada nama Al-Khabir, terdapat kelaziman penetapan sifat-sifat lain (selain al-khibrah) bagi Allah. Diantaranya adalah:

  1. Al-‘ilmu (mengetahui)
  2. Al-hayah (hidup)
  3. As-sam’u (mendengar)
  4. Al-bashar (melihat)

Pengaruh nama Allah “Al-Khabir” dalam ibadah

Ketika seorang muslim telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu Al-Khabir dan memahami maknanya dengan benar, maka ini akan memberikan efek positif dalam ibadahnya. Diantara efek positif tersebut adalah:

  1. Menumbuhkan rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah) yang sempurna dalam jiwa seorang hamba. Karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui segala perbuatan dan dosa-dosanya.8
  2. Menumbuhkan pada jiwa seorang hamba keinginan untuk menyucikan hati dari berbagai penyakit hati berupa hasad/iri, riya’ (ingin amalannya dilihat orang lain), kemunafikan, dan yang lainnya.9
  3. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala melihat dan mengetahui segala sesuatu yang ada pada batinnya, sehingga ia menjaga lisannya dari berbuat bohong, ghibah, adu domba, dan yang lainnya. Dan ia juga akan menjaga anggota tubuhnya dari berbuat jahat kepada orang lain.10

Demikianlah ulasan singkat tentang makna nama Allah “Al-Khabir”. Semoga dengan memahami nama Allah ini dapat membawa dampak positif bagi ibadah dan keseharian kita.

Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka:

  • Syarhun Mujaz li Asma-illah Al-Husna. Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A
  • An-Nahj Al-Asma. Muhammad Al-Hamud An-Najdi.
  • Al-Qawaid al-Mutsla. Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Darul Aqidah.
  • Taisir Karim ar-Rahman. Abdurrahman As-Sa’di. Maktabah Syamilah.
  • Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Ibnu Jarir ath-Thabari. Maktabah Syamilah.
  • Badai’ al-Fawaid. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Maktabah Syamilah.

Catatan Kaki

1An-Nahjul Asma, Muhammad al-Hamud an-Najdi, 1/267.

2Syarhun Mujaz li Asmaillah al-Husna, Dr. Ali Musri Semjan Putra, 22. Asalnya dari Ta’liq Syaikh ‘Ali Nashir al-Faqihi ‘ala Kitab At-tauhid li Ibni Mandah, 2/117.

3 Taisir Karim ar-Rahman, Abdurrahman As-Sa’di, 251, Maktabah Syamilah

4 Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran, Ibnu Jarir ath-Thabari, 11/288, Maktabah Syamilah

5 Al-Qawaid al-Mutsla, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 12

6 Badai’ al-Fawaid, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, 2/131, Maktabah Syamilah

7 Al-Qawaid al-Mutsla, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 10

8 Syarhun Mujaz li Asmaillah al-Husna, Dr. Ali Musri Semjan Putra, 22

9 Ibid

10 Ibid

Penulis: Muhammad Nurul Fahmi

Pemurajaah: Ust. Sanusin Muhammad, M.A

sumber: https://muslim.or.id/20969-al-khabir-maha-mengetahui-perkara-yang-tersembunyi.html

[Belajar Tauhid] 86. Iman Kepada Kitab Kitab Allah 02

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari Iman Kepada Kitab Kitab Allah 01 sbb:

  1. Beriman kepada Kitab-Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla- maksudnya adalah membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- mempunyai Kitab-Kitab yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas.
  2. Seorang Mukmin wajib mengimani seluruh Kitab-Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla-, baik Kitab yang diturunkan kepada nabinya maupun Kitab-Kitab yang diturunkan kepada Nabi-Nabi yang lainnya. Juga meyakini bahwa Allâh -‘Azza wa Jalla- memiliki Kitab-Kitab lainnya yang tidak Ia sebutkan nama-namanya.
  3. Seorang Mukmin wajib mengimani secara rinci Kitab-Kitab Allâh -‘Azza wa Jalla- yang Ia sebutkan namanya, yaitu : Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an Al-Kariim.

selanjutnya kita akan mempelajari Iman Kepada Kitab Kitab Allah 02, ketuk gambar dibawah untuk memulai pelajaran.

Link alternatif

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

SUDAH SHOLAT 60 TAHUN, TAPI…

Sudah sholat 60 tahun, tapi tidak ada sholat yang diterima sama sekali..

=====

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menyabdakan (yang artinya):

“Sungguh ada orang yang telah sholat 60 tahun, tapi tidak ada satupun sholatnya yang diterima, (karena) kadang dia menyempurnakan ruku’nya tapi tidak menyempurnakan sujudnya, kadang pula dia menyempurnakan sujudnya tapi tidak menyempurkan ruku’nya..”

[Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam Assilsilah Ash-shohihah 6/81].

——-

Sungguh kita perlu melihat diri kita masing-masing, sudahkah sholat kita sesuai dengan tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam..? Sudahkah sholat kita memenuhi syarat dan rukunnya..?

Mungkin juga kita perlu bertanya kepada orang lain yang mumpuni agamanya; sudahkan sholat kita baik menurut pandangan dia… karena bisa jadi kita merasa sholat kita sudah baik dan benar, tapi ternyata masih belum lurus sesuai aturannya.

Ingatlah bahwa sholat adalah amalan ibadah yang sangat urgen dalam hisab di hari kiamat nanti, hal ini telah ditegaskan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau (yang artinya):

“Amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti adalah shalat; apabila baik shalatnya, akan baik pula amal-amal dia yang lainnya, tapi apabila rusak shalatnya, akan rusak pula amal-amal dia yang lainnya..”[Assilsilah Ash-Shahihah 3/343].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/23534