Jangan Remehkan Sedekah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’du.

Menginfakkan harta yang thayyib (baik) dan penghasilan yang halal di jalan Allah termasuk ibadah yang paling agung. Sebagaimana ibadah itu bisa dilakukan dengan anggota badan, maka ibadah juga bisa dilakukan dengan harta. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan zakat sebagai salah satu rukun Islam. Zakat ialah menyerahkan sebagian harta yang merupakan hak bagi orang miskin yang meminta-minta maupun orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta. Allah memasukkan zakat sebagai bagian dari sedekah sekaligus bagian dari rukun Islam. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan sedekah dalam kafarat (denda atas pelanggaran larangan), seperti kafarat sumpah, kafarat zhihar (ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibu kandung atau mahramnya), dan kafarat membunuh hewan buruan di tanah haram atau bagi orang yang sedang ihram. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan beberapa kafarat dengan tebusan harta. Adapun sedekah selain itu, maka hukumnya sunnah, bahkan termasuk ibadah sunnah yang paling afdhal (utama).

Membelanjakan harta yang halal dalam rangka taat kepada Allah juga termasuk bentuk jihad yang termasuk amalan yang paling mulia. Bahkan, berdasarkan ayat Al-Qur’an, jihad di jalan Allah dengan harta lebih didahulukan dibandingkan jihad dengan jiwa. Hal ini karena jihad dengan harta dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Maka sepatutnya seorang muslim mengetahui hal ini sehingga ia dapat menunaikan kewajiban yang Allah bebankan atasnya berkenaan dengan sebagian hartanya yang merupakan jatah bagi orang miskin. Di samping itu, seyogyanya ia menyedekahkan kelebihan hartanya dan tidak menahannya. Terlebih di bulan yang diberkahi dan musim kebaikan ini. Hendaknya seseorang tidak meremehkan sedekah meskipun dengan jumlah yang sedikit. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak akan menyelamatkan seseorang dari neraka dengan sebab sedekah separuh kurma. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.” (HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016)

Allah Jalla wa ‘Ala menerima sedekah dari hamba-Nya yang beriman, lantas Dia mengembangkannya sebagaimana seseorang menumbuhkembangkan anak kudanya hingga sedekah tersebut menjadi seperti gunung yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik, sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang merawat anak kudanya hingga ia menjadi seperti gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1410 dan Muslim no. 1014)

Dengan demikian, hendaknya seseorang tidak meremehkan sedekah meskipun sedikit. Lantas bagaimana lagi jika sedekahnya banyak? Semisal sedekah untuk memakmurkan masjid dengan harta yang halal, membangun sekolah, menyebarkan kebaikan, dan berjihad di jalan Allah. Ruang sedekah dengan harta yang halal sangatlah luas. Dan yang paling baik adalah banyak bersedekah kepada keluarga jika dalam hal ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ  وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)

Sedekah kepada kerabat yang membutuhkan lebih afdhal (utama) dibandingkan sedekah kepada selain kerabat. Karena sedekah kepada kerabat itu terhitung sebagai sedekah sekaligus silaturahim (menyambung kekerabatan). Sehingga ia mengandung dua pahala, yakni pahala sedekah dan pahala silaturahim. Dari Salman bin ‘Amir adh-Dhabbi, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِيْ الْقَرَابَةِ اثْنَتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah kepada orang miskin hanyalah sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat akan mendapatkan dua ganjaran, yaitu ganjaran sedekah dan ganjaran silaturahim.” (HR. Tirmidzi no. 658, Ibnu Majah no. 1844, Ibnu Khuzaimah no. 2067, 2385, Ahmad no. 17, 18, dan Ad-Darimi no. 1687, 1688. Dinilai shahih oleh al-Albani di Shahih al-Jami’ no. 3858)

Di antara bentuk infak di jalan Allah adalah seseorang yang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Demikian pula seorang suami yang menafkahi istrinya, anak-anaknya, dan keluarganya. Maka orang tersebut mendapatkan pahala yang berlimpah. Jika seseorang berinfak dengan penghasilan yang halal dan disertai dengan niat yang benar, maka ia memperoleh ganjaran yang besar dan kebaikan yang banyak.

Seorang manusia hendaknya tidak dikuasai oleh cinta harta, rakus, dan pelit. Lantas ia tahan  harta tersebut untuk dirinya sendiri. Padahal, pada hakikatnya harta adalah titipan. Allah memberikan kesempatan baginya untuk bersedekah dan memenuhi kebutuhan pribadinya dengan harta tersebut. Apabila ia enggan bersedekah dan hanya mengumpulkan dan menyimpan hartanya, maka ketahuilah bahwa ia pasti akan mati dan meninggalkan semua hartanya. Lantas harta tersebut akan dimanfaatkan orang lain, padahal ia telah bersusah payah mengumpulkannya dan ia pun kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Bagaimanakah seseorang menghalangi dirinya untuk sedekah? Mengapa ia hanya semangat mengumpulkan harta? Padahal ia tahu bahwa ia pasti akan pergi meninggalkan dunia. Ia pun juga sadar bahwa harta tersebut tidaklah bermanfaat, kecuali sekedar apa yang ia manfaatkan untuk dirinya sebelum ia mati. Demikian pula sedekah jariyah yang mengalir pahalanya meskipun ia telah mati.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika anak keturunan Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Kemudian, hendaknya seseorang mengilmui bahwa Allah Jalla wa ‘Ala adalah Ath-Thayyib (Maha Baik) dan tidak menerima, kecuali perkara yang baik. Dengan demikian, seseorang tidak boleh bersedekah dengan harta yang haram atau penghasilan yang kotor. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerimanya. Demikian juga, seseorang tidak boleh bersedekah dengan harta yang jelek dan sedikit manfaatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِئَاخِذِيْهِ إِلاَّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيْهِ

“Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata.” (QS. Al-Baqarah : 267)

“Harta yang buruk” maksudnya adalah harta yang jelek, bukan maknanya harta yang haram. Misalnya, apabila seseorang tidak menginginkan suatu makanan karena tidak lezat, lantas ia menyedekahkannya. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarangnya, “Dan janganlah kalian memilih harta yang buruk untuk diinfakkan.” Seseorang tidak sepatutnya menyedekahkan pakaian jika ia lihat pakaian tersebut telah robek, tidak layak pakai, atau hanya bisa dikenakan dalam jangka waktu yang singkat. Demikian pula, tidak selayaknya menyedekahkan makanan yang tidak diminati oleh orang. Ini bukanlah sedekah, tetapi sekedar buang sampah. Sedekah semacam ini tidaklah bermanfaat di sisi Allah “Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

“Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS. Ali-‘Imran : 92)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيْنًا وَيَتِيْمًا وَأَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin,anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan : 8)

Yakni, mereka menyedekahkan makanan yang mereka inginkan dan sukai untuk dirinya. Akan tetapi, mereka lebih mendahulukan kecintaan Allah dibandingkan kecintaan dirinya sendiri, “Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan harta yang kalian nafkahkan, maka sungguh Allah Maha Mengetahuinya.”

Seyogyanya, seseorang berinfak dengan sesuatu yang berguna, terlebih jika jiwanya menyukainya. Ia menyedekahkannya meskipun dirinya mencintainya. Ini adalah bukti keimanannya bahwa ia mengedepankan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah Jalla wa ‘Ala berfirman mengenai sahabat Anshar,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan mereka mengutamakan sahabat Muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Barangsiapa yang dijauhkan dari sifat kikir dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada kita semua untuk mengerjakan amal yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

***

Diterjemahkan dari kitab Majalis Syahri Ramadhan al-Mubarak hlm. 21-24 (cetakan kedua), Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan,  1422 H, Darul ‘Ashimah:  Riyadh.

Penulis: Ummu Fathimah

sumber: https://muslimah.or.id/11216-jangan-remehkan-sedekah.html

Hasil Quis Pekan 17

Masyaallah walhamdulillah, apresiasi yang luar biasa kepada 411 perserta yang ambil bagian dari Quis pekan ketujuh-belas ini. masyaallah terimakasih. kami kira ini akan menjadi evaluasi yang bermanfaat bagi antum, dan tentunya feedback yang berharga bagi kami.

langsung aja, mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan ekspetasi yaa👍


Ringkasan

https://docs.google.com/forms/u/2/d/1bLmES4xD6rqPgidPWD-8igyAQdz_xBOFtJp0ZVDArY8/viewanalytics


Peringkat Pria/Ikhwan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/11tacw28Sh913UXkJPoUObjH1kc2kjIVNkcuXKn55l0k/edit?usp=sharing


Peringkat Wanita/Akhwat

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Cv1FGaMhq4mBvbLUk_q0M91cLo4j3Lyrb0fmk2eUhqI/edit?usp=sharing

Para Ulama Tidak Yakin Kalau Amalan Mereka Diterima

Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah, 

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al Mu’minun: 60)

‘Aisyah mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) أَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِى يَزْنِى وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ قَالَ « لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diterimanya suatu amalan berkaitan dengan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Setiap orang yang bertakwa pada Allah ketika ia beramal, maka ia akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan. Akan tetapi ia tidak bisa memastikan sendiri bahwa amalan yang ia lakukan diterima di sisi Allah karena ia tidak bisa memastikan bahwa amalan yang ia lakukan sudah sempurna.”[2] Itulah yang membuat para salaf begitu khawatir dengan tidak diterimanya amalan mereka karena mereka sendiri tidak bisa memastikan sempurnanya amalan mereka.

‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”

Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”

Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”

Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”

Oleh karena itu sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”[3]

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Faedah Ilmu 23 Dzulqo’dah 1430 H, di Panggang, Gunung Kidul

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi.

[2] Al Iman, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 348-349, Al Maktab Al Islamiy, cetakan kelima, tahun 1416 H.

[3] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 372-381, Daar Ibnu Katsir [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]

sumber: https://rumaysho.com/646-para-ulama-tidak-yakin-kalau-amalan-mereka-diterima.html

QUIS TAUHID PEKAN 17

Dear pengguna, sudah murajaah kan.? yuk saatnya kita uji kesungguhan belajar kita. kapanpun antum siap, ketuk link dibawah ini. 💪

https://forms.gle/RuK3uLuNxPb2fDDc7

catatan1: Jika antum tidak dapat membuka link tersebut, berarti antum masih menggunakan versi lawas HijrahApp. solusinya, mohon update hijrahapp antum ke versi terbaru

catatan2: hasil pemeringkatan akan kami umumkan hari Ahad pukul 20.00WIB di beranda HijrahApp

Perhatikan, Bagaimanakah Akhir dari Amalmu?

Tidak diragukan lagi, akhir (penutup) dari amal-amal kita adalah perkara yang sangat penting. Para salaf rahimahumullah senantiasa memperhatikan akhir dari suatu amal, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan juga untuk mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 60).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menggambarkan para hamba-Nya yang beriman bahwa mereka memberikan (melaksanakan) berbagai amal ibadah dan ketaatan secara sungguh-sungguh. Mereka juga sangat takut kepada Allah Ta’ala, karena mereka tidak tahu, apakah amal mereka akan diterima ataukah tidak. Oleh karena itu, seorang hamba tidak boleh bangga dengan amalnya, sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya. Jika amal tersebut tidak diterima oleh Allah Ta’ala, amal tersebut tidak ada faidahnya. Sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakannya, namun jika tidak diterima oleh Allah Ta’ala, maka hanya bagaikan debu yang berterbangan.

Jika suatu amal diterima oleh Allah Ta’ala, meskipun amal itu hanya sedikit, Allah Ta’ala akan melipatgandakan pahalanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah. Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (QS. An-Nisa’ [4]: 40).

Allah Ta’ala lebih mengetahui keadaan niat dan keikhlasan seorang hamba dalam beramal. Oleh karena itu, seorang hamba harus mencurahkan segala usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalnya. Kita yakin bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala dari orang yang beramal sedikit pun. Wajib atas seorang hamba untuk memperbanyak amalnya, mengikhlaskan niatnya, mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala hanya akan menjadi penghalang antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Di sisi lain, seorang hamba tidak boleh bangga dan kagum dengan amalnya atau merasa telah banyak beramal. Akan tetapi, dia senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menerima amalnya dan mengiringi setiap amalnya dengan istighfar, memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Karena manusia adalah tempat salah dan lupa. Sebanyak apa pun amalnya, akan tetapi pasti di dalamnya terdapat berbagai cacat dan kekurangan. Sehingga dia berusaha menutup kekurangan tersebut dengan istighfar. Dengan kata lain, seorang muslim hendaknya menghitung kejelekan-kejelekannya, dan tidak menghitung amal kebaikannya. Hendaknya dia menghisab dirinya, menghitung-hitung kesalahan dan dosanya, kemudian beristighfar dan bertaubat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syuura [42]: 25).

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak istighfar di akhir setiap amal ibadah dan ketaatan. Dia tidak menganggap dirinya telah melaksanakan amal tersebut dengan sempurna sesuai tuntutan syariat. Akan tetapi dia tidak tahu, bisa jadi dalam amal tersebut ada banyak kekurangan. Sehingga dia pun memperbanyak istighfar dan taubat, serta menganggap bahwa amalnya tersebut sangat kecil di sisi Allah Ta’ala.

***

Diselesaikan ba’da ashar, Rotterdam NL 7 Dzulqa’dah 1438/30 Juli 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: Muhammad Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Disarikan dari kitab Majaalisu Syahri Ramadhan Al-Mubaarak, karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 113-116 (cet. Daar Al-‘Ashimah, tahun 1422)

sumber: https://muslim.or.id/32305-perhatikan-bagaimanakah-akhir-dari-amalmu.html

Benteng yang Dijaga Dzikrullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis riwayat Turmudzi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat permisalan tentang keutamaan berdzikir. Dari al-Harits al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِى أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللَّهِ

Aku perintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Perumpamaan dzikrullah seperti orang yang mendadak diserang musuhnya dari belakang, kemudian orang ini mencari benteng untuk melindungi dirinya dari serangan mereka. Seperti itulah seorang hamba, dia tidak bisa melindungi dirinya dari serangan setan kecuali dengan dzikrullah. (HR. Turmudzi 3102 dan dishahihkan al-Albani).

Ibnul Qoyim menjelaskan hadis ini dalam kitabnya al-Wabil as-Shayib. Beliau mengatakan,

فلو لم يكن في الذكر إلا هذه الخصلة الواحدة لكان حقيقا بالعبد أن لا يفتر لسانه من ذكر الله تعالى وأن لا يزال لهجا بذكره فإنه لا يحرز نفسه من عدوه إلا بالذكر ولا يدخل عليه العدو إلا من باب الغفلة فهو يرصده فإذا غفل وثب عليه وافترسه

Andai tidak ada manfaat dzikir selain satu hal ini, maka itu sudah cukup menjadi alasan bagi hamba untuk tidak menghentikan lisannya dari dzikrullah, dan agar selalu basah dengan dzikrullah. Karena hamba tidak bisa melindungi dirinya dari musuh kecuali dengan dzikir. Dan musuh tidak punya kesempatan menyerang selain dari pintu kelalaian. Sehingga musuh selalu mengintai, ketika orangnya lalai, musuh akan langsung menyerang.

(al-Wabil as-Shayib, hlm. 56)

Karena itu, Allah menyebut gangguan setan dalam hati sebagai was-was khannas. Allah berfirman,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Dari kejahatan was-was khannas. Yang membisikkan di dada manusia. (QS. an-Nas: 4-5)

Disebut khannas karena kata turunannya adalah inkhanasa [انخنس] yang artinya bersembunyi. Karena dia bersembunyi di balik hati manusia. Dia muncul ketika orangnya lalai, kemudian dia membisikkan kejahatan. Ketika sang hamba berdzikir, setan bersembunyi.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

الشيطان جاثم على قلب أبن آدم فإذا سها وغفل وسوس فإذا ذكر الله تعالى خنس

Setan itu menyelinap di hati manusia. Ketika dia lupa dan lalai, setan akan melakukan bisikan was-was. Ketika manusia mengingat Allah – Ta’ala – maka setan akan bersembunyi. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/540).

Hati Manusia dan Serangan Setan

Ibarat ada 3 jenis rumah.

Rumah sang raja, berisi milayaran kekayaan, berkilo-kilo emas dan aneka perhiasan. Namun rumah ini dijaga oleh pasukan yang sangat banyak, bersenjata lengkap, dan dijaga sangat ketat, jika ada yang mencurigakan, langsung sikat. Sehingga pencuri siapapun tidak berani mendekat.

Rumah si miskin, tidak ada barang berharga sama sekali. Bahkan berisi banyak kotoran yang tidak pernah dibersihkan. Meskipun tidak ada penjagaan di dalamnya, namun tidak ada pencuri yang berminat.

Rumah ketiga, berisi beberapa barang berharga, ada uang, ada emas, ada perhiasan. Rumah ini kadang ada penjaganya, kadang ditinggal, bahkan kadang lupa ditutup pagarnya. Rumah jenis inilah yang menjadi sasaran pencuri.

Rumah pertama, ibarat hati orang-orang soleh yang penuh dengan pengagungan dan rasa cinta kepada Allah. Dia selalu membasahi lisannya dan batinnya dengan dzikrullah. Sehingga setan tidak berani mendekat, bahkan sampaipun dalam mimpi. Seperti yang diamalami para nabi, mimpi mereka tidak terganggu setan.

Rumah kedua, seperti hati orang kafir. Tidak ada barang berharga di dalamnya, karena kosong dari ketaatan dan ibadah. Bahkan banyak kotoran maksiat, noda kesyirikan, kekufuran, menipu, dst. Setan sama sekali tidak memiliki daya tarik dengannya.

Ada orang yang menyampaikan informasi kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa yahudi ketika ibadah sangat khusyu, tidak ada was-was dalam hatinya.

Mendengar ini, Ibnu Abbas berkomentar,

وما يصنع الشيطان بالقلب الخراب ؟

Apa yang akan dilakukan setan dengan hati yang rusak? (Alam Jin dan Syaithan, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, hlm. 135)

Yang tersisa tinggal rumah yang ketiga. Itulah hati umumnya muslim, dan diantaranya adalah kita. Terkadang dijaga, terkadang lupa tanpa penjagaan. Bagi orang yang memiliki perhatian akan pentingnya menjaga hati, sudah saatnya menjadikan diri kita rajin untuk melakukan dzikrullah dan banyak mendekat kepada Allah.

Demikian, Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber: https://konsultasisyariah.com/33778-benteng-yang-dijaga-dzikrullah.html

Siapa Ulama yang Membolehkan Ucapan Selamat Natal?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Untuk kesekian kalinya, kelompok liberal mempertanyakan, mana dalil yang melarang ucapan selamat natal? Mengucapkan selamat natal termasuk bentuk bersikap baik kepada penganut agama lain yang Allah perintahkan, mengapa mesti dilarang?

Di tempat kita selalu terjadi polemik tentang hukum ucapan selamat natal. Ratusan tokoh dengan latar belakang yang beraneka ragam, masing-masing urun pendapatnya. Dan secara umum dapat kita kelompokkan menjadi 2 pendapat, antara membolehkan dan melarang sama sekali.

Pendapat yang membolehkan, diwakili para tokoh JIL (apapun organisasinya) dan beberapa ustad yang kecipratan pemikiran liberal.

Sementara pendapat melarang, menjadi konsensus tokoh agama ahlus sunah, yang komitmen dengan dengan kebenaran, sekalipun dianggap anti-toleransi. Sekalipun tuduhan ini bermula dari ketidak-pahaman penuduh tentang makna toleransi.

JIL itu Munafiq

JIL selalu memposisikan diri tampil beda dengan umumnya ajaran islam. Semakin menyimpang dari ajaran islam, semakin dibela oleh JIL dengan berbagai interpretasinya. Bagi anda yang sering online dengan berita pemikiran, akan merasa capek dengan berbagai pemikiran aneh si Ulil bersama komplotannya.

Ingatan kita belum lapuk dengan peristiwa pelecehan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari mulai gambar karikatur, hingga film innocent. Di saat semua muslim marah dengan semua tindakan penistaan nabi itu, JIL tampil memukau dengan mengaburkan kaum muslimin bahwa sejatinya semua itu bukan termasuk bentuk penistaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Disaat semua kaum muslimin menolak konser lady gaga di indonesia, JIL tampil terdepan mendukung terselenggaranya konser dewi wts itu.

Di saat semua muslim menolak pagelaran miss universe, JIL menjadi garda depan yang mendukung berlangsungnya acara pameran aurat ini.

Prinsip mereka sama persis dengan karakter orang munafiq. Semua kebenaran yang diajarkan islam, mari kita tolak, atau minimal dikritik. Sebaliknya, setiap kesesatan yang dilawan islam, mari kita bela, atau minimal mengurangi peran kaum muslimin dalam menolaknya. Namun jangan terang-terangan memusuhi Nabi dan kaum muslimin.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka saling menyuruh membuat yang munkar dan saling melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (sangat pelit). (QS. At-Taubah: 67).

Prinsip ini 100% sama dengan prinsip JIL yang berkembang di negara kita. Apapun yang sesuai ajaran islam, mari kita buat samar-samar. Dan apapun yang menyimpang dari ajaran islam, mari kita bela dan kita dukung. Tapi KTP harus tetap islam. Merekalah orang munafik…

Keberadaan JIL Menjadi Standar

Jika naluri sehat manusia masih jalan, kita bisa dengan mudah menjadikan keberadaan JIL sebagai standar dalam setiap kasus dan polemik. Dengan karakter dasar mereka, yaitu amar munkar nahi ma’ruf (membela kemungkaran dan mencegah yang makruf), kita bisa jadikan posisi mereka sebagai tolak ukur pendapat yang benar.

Di saat tokoh liberal berpendapat, boleh mengucapkan selamat natal, bukankah ini bagian dari prinsip membela kemungkaran dan mencegah yang makruf?

Ketika tokoh liberal menganjurkan ucapan selamat natal akankah anda berpihak kepada mereka?

Ketika tokoh liberal membolehkan ikut natalan, sudikah anda mengikuti pedapat mereka?

Cukup dengan latar belakang karakter mereka, amar munkar nahi ma’ruf, kita bisa menilai bahwa umumnya yang mereka teriakkan bisa dipastikan bertentangan dengan islam.

Ijma’ (Konsensus) Ulama

Lain dengan tokoh liberal, para ulama berprinsip bahwa sebatas ucapan selamat natal hukumnya haram. Dan bahkan ini menjadi kesepakatan mereka. Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah menyatakan,

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

Memberi ucapan selamat terhadap syiar orang kafir yang menjadi ciri khas mereka, hukumnya haram dengan sepakat ulama. Misalnya, memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka atau ibadah puasa mereka, misalnya dengan kita mengatakan, ‘merry christmas’ atau selamat natal atau ucapan lainnya. Kalimat semacam ini, meskipun orang yang mengucapkannya tidak dihukumi kafir, namun ini termasuk melanggar yan haram. Sama halnya memberi ucapan selamat bagi orang yang sujud kepada salib. Bahkan dosanya lebih besar dan lebih dimurkai Allah, dari pada anda memberi ucapan selamat kepada  peminum khamr, atau pembunuh, atau zina dan dosa lainnya. (Ahkam ahli ad-Dzimmah, 1/441)

Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah hidup tahun 700an hijriyah, dan beliau wafat tahun 751 H. Itu artinya, kesepakatan ulama yang beliau sampaikan adalah kesepakatan ulama generasi sebelum beliau.

Baik, kita bisa membandingkan, ketika para ulama bersikap TIDAK untuk ucapan selamat natal, akankah anda meninggalkannya dan lebih berpihak kepada tokoh liberal?

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Ya Allah tampakkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kepada kami kesesatan sebagai kesesatan, dan berilah kami taufiq untuk menjauhinya.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/24051-siapa-ulama-yang-membolehkan-ucapan-selamat-natal.html

Menggunakan Harta untuk Selain Ketaatan kepada Allah

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ibnul Qoyim menyebutkan, berinfak untuk selain ketaatan kepada Allah, bentuknya ada 2:

  • [1] Berinfaq untuk kebanggaan, berharap mendapatkan pujian dimasyarakat.
  • [2] Menggunakan harta untuk maksiat atau menghalangi seseorang untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Allah membuat permisalan untuk manusia yang menginfakkan hartanya untuk selain ketaatan kepada Allah melalui firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang mendzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Ali Imran: 116-117)

Ibnul Qoyim menjelaskan ayat ini,

هذا مثل ضربه الله تعالى لمن أنفق ماله في غير طاعته ومرضاته فشبه سبحانه ما ينفقه هؤلاء من أموالهم في المكارم والمفاخر وكسب الثناء وحسن الذكر لا يبتغون به وجه الله وما ينفقونه ليصدوا به عن سبيل الله واتباع رسله بالزرع الذي زرعه صاحبه يرجو نفعه وخيره فأصابته ريح شديدة البرد جدا يحرق بردها ما يمر عليه من الزرع والثمار فأهلكت ذلك الزرع وأيبسته

Ini merupakan permisalan yang diberikan oleh Allah untuk orang yang menginfakkan hartanya untuk selain ketaatan kepada-Nya dan tidak mengharap ridha-Nya. Harta yang mereka infakkan untuk kebanggaan, atau mencari pujian, tidak untuk mengharap wajah Allah, dan harta yang diinfakkan untuk menghalangi masyarakat dari jalan Allah dan mengikuti rasul-rasul-Nya, Allah misalkan seperti tanaman, yang sudah ditanam oleh petaninya dengan harapan akan mendapat manfaat dan hasilnya, namun tanaman itu diterpa angin yang sangat dingin, sehingga merusak pohon dan buahnya. Tanaman itu rusak menjadi kering.

Kemudian Ibnul Qoyyim melanjutkan,

وفي قوله أصابت حرث قوم ظلموا أنفسهم تنبيه على أن سبب إصابتها لحرثهم هو ظلمهم فهو الذي سلط عليهم الريح المذكورة حتى أهلكت زرعهم وأيبسته فظلمهم هو الريح التي أهلكت أعمالهم ونفقاتهم وأتلفتها

Dalam firman Allah, (yang artinya) “yang menimpa tanaman kaum yang mendzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya.” Merupakan peringatan bahwa penyebab terpaan angin pada tanaman itu adalah kedzaliman mereka, sehingga tanaman itu menjadi rusak dan kering. Kedzaliman mereka itulah angin yang merusak amal mereka, infak mereka, dan menghancurkannya. (I’lamul Muwaqqi’in, 1/186-187)

Allah misalkan seperti seperti orang yang menanam tanaman, karena si petani telah mengeluarkan modal, mengeluarkan tenaga, waktu, dst. Bisa jadi, dia juga mengeluarkan dana untuk merawatnya… dengan harapan bisa mendapatkan hasilnya. Namun ternyata semuanya gagal, dan dia tidak mendapatkan apapun. Pelakunya mengalami kegagalan berkali-kali…

Demikian, Allahu a’lam.

sumber: https://pengusahamuslim.com/5959-menggunakan-harta-untuk-selain-ketaatan-kepada-allah.html

Faidah Hadits Tentang Keutamaan Ilmu

Mari sejenak kita merenungi beberapa faidah dari sebuah hadits yang agung tentang keutamaan ilmu. Diriwayatkan dalam shahihain, dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini hendaknya kita renungkan baik-baik karena ini merupakan hadits yang penting dan agung. Dalam hadits ini terdapat motivasi untuk mempelajari ilmu agama dan penyebutan keutamaan bagi orang yang Allah beri taufik untuk menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu. Beberapa faidah penting dari hadits ini di antaranya : 

Faidah Pertama 

Bahwasanya segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada satu kejadian pun kecuali pasti dikehendaki oleh Allah. Setiap karunia, nikmat, dan pemberian yang diperoleh hamba semuanya berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“ Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. “ (Huud:88)

Ini adalah landasan pokok akidah yang penting yang wajib diimani, bahwasanya segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Tidaklah engkau mendapat ilmu dan amal kecuali karena Allah memberikan taufik kepadamu dan memberi anugerah nikmat kepadamu dengannya. Dialah yang mengajarkan hamba tentang ilmu yang tidak diketahui sebelumnya. Dialah yang memberikan taufik kepada hamba untuk beramal dengan ilmu yang telah dipelajari. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

الرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ

“ Allah Yang Maha Penyayang, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. “ (Ar Rahman : 1-2)

Ilmu dan setiap nikmat adalah merupakan anugerah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk menghadirkan keyakinan yang benar dalam masalah ini dan dalam setiap masalah dalam agama ini, bahkan juga dalam setiap kemaslahatan yang didapat oleh hamba baik berupa perkara dunia maupun akhirat.

Faidah Kedua

Hadits ini menunjukkan tentang tentang pentingnya tawakal kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Rasul shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda :

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah kepada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim)

Orang yang menuntut ilmu membutuhkan pertolongan dari Allah dalam keberhasilannya menuntut ilmu. Demikian pula dia butuh pertolongan Allah untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari. Dia juga butuh pertolongan untuk tetap teguh dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Rasul shallalllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu :

إِنِّي لأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ، لاَ تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“ Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

[Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)

Maka seorang penuntut ilmu senantiasa butuh pertolongan Allah untuk bisa menuntut ilmu, mengamalkan apa yang sudah diilmui, dan agar tetap tegar di atas jalan ilmu adan amal. Dia juga butuh pertolongan Allah agar selamat dari berbagai pemikiran menyimpang yang banyak terjadi ketika seseorang meniti jalan ilmu dalam rangka menuju Allah. 

Faidah Ketiga 

Pentingnya doa dalam kehidupan penuntut ilmu dan pentingnya senantiasa meminta pertolongan Allah Ta’ala karena seluruh urusan berada di tangan-Nya. Kebutuhan hamba terhadap doa adalah kebutuhan yang sangat penting. Seorang tabi’in pernah berkata :

 تأملت الخير فرأيت الخير كثير -الصلاة خير ، والصيام خير ، والبر خير- الخير كثير،  ووجدت أن ذلك كله بيد الله ، فأيقنت أن الدعاء مفتاح كل خير

“ Aku merenungkan tentang kebaikan dan aku berpandangan bahwa kebaikan itu sangatlah banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, berbakti kepada orangtua juga adalah kebaikan. Kebaikan sangat banyak jumlahnya. Aku mendapati bahwasanya seluruhnya berada di tangan Allah, sehingga aku yakin bahwasanya doa adalah kunci dari setiap kebaikan. “

Oleh karena itu selayaknya bagi hamba untuk memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala, di antaranya doa agar Allah memberi ilmu yang bermanfaat baginya. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwasnya Nabi berdoa setiap pagi setelah selesai shalat subuh dengan ucapan : 

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“ Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezekiyang thayyib, dan aman yang diterima.“ (H.R Ibnu Majah, shahih)

Tiga perkara yang terkumpul dalam doa ini di awal setiap pagi merupakan tujuan yang diharapkan oleh setiap muslim di sepanjang harinya. Nabi mengawali dengan ilmu sebelum perkara lainnya dalam doa ini memberi faidah bahwa ilmu adalah merupakan perkara awal yang dibutuhkan setiap muslim. Maka termasuk kerugian yang besar adalah seorang yang melewati harinya tanpa mendapatkan ilmu syar’i sedikitpun. 

Doa dalam hadits ini juga memberi faidah bahwa menuntut ilmu adalah tujuan harian bagi seseorang. Ini adalah faidah yang agung. Dalam mencari ilmu sejatinya tidak ada istilah liburan musim panas, liburan musim semi, maupun libur lainnya. Menuntut ilmu adalah tujuan harian yang menemani setiap hari-hari seorang muslim.

Faidah keempat 

Kemudahan langkah seorang dalam menuntut ilmu dan kelapangan dadanya dalam menempuhnya serta penerimaan jiwanya dalam mempelajari dan memahami agama Allah merupakan tanda-tanda kebaikan baginya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda 

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika seorang hamba merasakan lapang jiwanya untuk mencintai ilmu maka itu adalah tanda kebaikan. Jika dia senang ketika mendengar ada majelis ilmu maka itu adalah tanda kebaikan. Jika disebutkan kepadanya ada majelis ilmu dia bergembira serta bersegera menghampirinya maka itu adalah tanda kebaikan. Jika diinformasikan kepadanya kitab bermanfaat yang ditulis oleh para ulama dan dia segera mencarinya maka itu adalah tanda kebaikan. Jika seseorang lapang jiwanya untuk mencintai ilmu dan bersemangat untuk mempelajarinya maka itu semua merupakan tanda-tanda kebaikan baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (Muttafaqun ‘alaihi)

Faidah Kelima

Berlaku pula kebalikan dari hal-hal di atas. Berpalingnya seorang hmaba –wal’iyadzu billah– dari ilmu dan kebenciannya terhadap majelis ilmu serta sempit dadanya dari majelis ilmu maka ini ini bukanlah merupakan tanda kebaikan dan tanda taufik dari Allah kepada dirinya. Jika seorang hamba melihat dirinya asing dari majelis ilmu dan berusaha meninggalkannya serta tidak memiliki keinginan untuk mendapatkannya maka ini bukanlah tanda-tanda taufik dan bukan pula ciri Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, karena Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (Muttafaqun ‘alaihi)

Faidah Keenam

Sabda Nabi (يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ) mencakup kefaqihan terhadap seluruh ilmu syar’i yang meliputi pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. Yang banyak dipahami manusia bahwa seorang fakih hanyalah yang paham perkara hukum saja seperti hukum shalat, puasa, dan haji, sehingga jika dikatakan kitab fiqih maka yang dimaksudkan adalah kitab tentang hukum-hukum. Adapun yang dimaksud dalam hadits ini maka faqih yang dimaksud mencakup seluruh perkara agama. Yang termasuk dalam ucapan (يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ) pertama kali adalah perkara akidah, karena akidah adalah bagian dari pemahamam fikih yang paling agung dalam agama ini. Aqidah adalah perkara agama yang paling agung dan mulia sehingga disebut juga sebagai fiqih akbar. Kesimpulannya dalam sabda nabi (يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ) tidak hanya khusus dalam hukum-hukum fiqih ibadah saja, bahkan yang tercakup di dalamnya pertama kali adalah masalah akidah. 

Hal ini sebagaimana dijelaskan juga dalam hadits Jibril yang terkenal, di mana Nabi pernah ditanya tentang makna iman, islam, dan ihsan. Nabi kemudian menjelaskan secara lengkap makna iman, islam, dan ihsan. Kemudian di akhir hadits Nabi bersabda :

(فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ)

“ Itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. “

Sabda Nabi di akhir hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud agama Islam adalah mencakup bagian islam dengan berbagai amalnya, bagian iman dengan berbagai keyakinannya, dan juga ihsan dengan kebagusan dalam ibadah dan ketaatannya keapada Allah dengan melakukan hal-hal yang diridhoi-Nya berupa amal shalih dan ucapan yang baik.

Faidah Ketujuh 

Pentingnya memiliki kefaqihan (pemahaman) dalam agama. Ilmu tidak hanya sekadar menghafal ayat atau hadits, akan tetapi butuh pemahaman yang benar terhadapnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad : 24)

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءهُمُ الْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu? “ (Al Mukminun : 68)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya

mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. “  (Shad : 29)

Kepahaman terhadap agama adalah pujian bagi hamba apabila dia diberi taufik oleh Allah untuk mendapatkannya. Manusia berbeda-beda dalam memiliki pemahaman terhadap agama Allah. Oleh karena itu bisa jadi seseorang memiliki ilmu akan tetapi kurang pemahamannnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْه

“ Betapa banyak orang yang memiliki ilmu agama namun tidak memahami apa yang dimilikinya. Dan betapa banyak orang yang memiliki ilmu agama menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya “

Terkadang seorang penuntut ilmu bisa menyebutkan kepada seorang alim sebuah hadits yang tidak diketahui oleh sang alim, namun sang alim bisa mengambil faidah-faidah yang tidak ada di benak orang yang telah menghafal hadits tersebut. Maka hadits ini menunjukkan pentingnya memiliki pemahaman makna yang benar terhadap hadits-hadits Rasul. Bahkan kefaqihan terhadap ilmu seharusnya membuahkan amal dan taat, bukan pula hanya sekedar mengetahui dan memahami namun tanpa amal.

Hendaknya seseorang memahami agama dengan pemahaman yang benar sehingga membuahkan amal. Bahkan semestinya juga berbuah dakwah dan memberikan peringatan kepada orang lain, sebagaimana terdapat dalam firman-Nya :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“ Tidak sepatutnya bagi seluruh kaum mukminin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. “ (At Taubah : 22)

Maka dalam hal ini ada kaitan antara pemahaman dan pemberian peringatan atau berdakwah. Berdakwah adalah bagian dari tingkatan beramal seseorang, di mana sebelumnya dia telah memahami terlebih dahulu. Dia belajar sehingga memahami, kemudian mengamalkan, dan kemudian mendakwahkan. Ini adalah tahapan dalam ilmu dan cara dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Penutup

Kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang agung tentang permasalahan ilmu, khususnya bab tentang pemahaman terhadap agama Allah. Di antara kandungan yang terpenting dari hadits ini adalah bahwa ilmu merupakan sarana untuk mecapai tujuan mendekatkan diri kepada Allah, karena seseorang tidak akan bisa mendapat kebaikan kecuali dengan memahami ilmu dengan makna yang sudah dijelaskan di atas. Seseorang mempelajari ilmu untuk memahami agama Allah dan berbagai syariat-Nya, kemudian mengamalkan apa yang sudah diilmui, dan kemudian berdakwah kepada yang lain denga ilmu yang sudah dia dapatkan. 

Segala taufik di tangan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita semua di atas jalan kebaikan, dan meganugerahi kita rezeki berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, serta senantiasa mengumpulkan kita di atas jalan kebenaran dan petunjuk.

وصلى الله وسلَّم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .

Penyusun : Adika Mianoki

Referensi : Fawaaid min Hadiits Man Yuridillahu bihi Khairan Yufaqqihu fiddiin karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr hafidzahumallah

Link referensi : https://www.al-badr.net/detail/HBj9SRIENsTr 

Penulis: Adika Mianoki

sumber: https://muslim.or.id/58413-faidah-hadits-tentang-keutamaan-ilmu.html

Sifat Jahiliyah yang Masih Ada di Tengah-Tengah Kita

Kali ini kita akan membahas beberapa sifat jahiliyah, ada empat sifat yang berasal dari ayat Al-Qur’an dan ada sifat yang berasal dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Empat Sifat Jahiliyah dalam Al-Qur’an

Kata jahiliyah dalam Al-Qur’an dapat ditemukan pada empat tempat.

Pertama, pada firman Allah tentang zhan jahiliyah,

وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ

“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154)

Ayat ini bercerita tentang perang Uhud (yang terjadi pada Syawal tahun ketiga Hijriyah), ketika pasukan kaum muslimin mulai terdesak karena harus menerima tekanan dari depan dan belakang. Meskipun demikian, Allah berikan ketenangan bagi para sahabat, sampai mereka dibuat ngantuk. Namun berbeda dengan orang munafik yang terlibat dalam pertempuran itu. Mereka sangat cemas, sangat takut, hingga muncul anggapan tidak benar tentang Allah, Rasul-Nya, dan agama islam.

Muncul anggapan di benak mereka, jangan-jangan Allah dusta, jangan-jangan yang dijanjikan Muhammad itu palsu? Mana, katanya ada pertolongan Alllah? Bisa jadi agama islam akan habis, dan seterusnya. Lihat bahasan dalam Tafsir As-Sa’di dan Tafsir Al-Muyassar.

Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud, ngantuk (dibuat tertidur) ketika perang itu dari Allah, sedangkan ngantuk ketika shalat itu dari setan.

 

Kedua, pada firman Allah tentang hukum jahiliyah,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumya bagi orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Allah mengkritik manusia yang meninggalkan aturan Allah yang penuh kebaikan dan yang menjauhkan dari berbagai keburukan. Sedangkan selain hukum Allah yang dibuat manusia tidak seperti itu. Sebagaimana orang jahiliyah menjadikan orang-orang sesat dan bodoh untuk diambil pendapatnya. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan “man hakama bi ghairi hukmillah, fahakamal jahiliyyah (siapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, itulah berhukum dengan hukum jahiliyah).” Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.

 

Ketiga, pada firman Allah tentang tabarruj ala jahiliyah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ

“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan tegakkanlah shalat.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Disebutkan dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 433), wanita yang disebut berdandan ala jahiliyah yang pertama adalah berdandan yang dilakukan oleh wanita dengan berpenampilan cantik di hadapan para pria dan ini terjadi sebelum Islam. Sedangkan dalam Islam, yang boleh ditampakkan disebutkan dalam ayat,

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur: 31).

Maqatil bin Hayan mengatakan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang memakai khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya. Inilah yang disebut tabarruj (berhias diri) ala jahiliyyah.

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan. Dan di antara kebutuhan adalah mengerjakan shalat.

Silakan kaji dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6:183 (terbitan Dar Ibnul Jauzi).

 

Keempat, firman Allah tentang kesombongan jahiliyah (fanatisme golongan),

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” (QS. Al-Fath: 26)

Surah Al-Fath, berbicara tentang perjanjian Hudaibiyah, yang itu sebenarnya merupakan awal kemenangan kaum muslimin. Meskipun ada banyak hal ganjil yang dilakukan orang-orang musyrik ketika perjanjian Hudaibiyah. Seperti, tidak mau menuliskan bismillahir rahmanir rahiimdi klausul perjanjian. Mereka juga menolak kalimat, “Muhammad Rasulullah”. Padahal itu semuanya kebenaran. Mereka tolak itu, karena fanatik jahiliyah, yang membuat mereka benci kebenaran.

Karena itu, makna Hamiyyah Al-Jahiliyah, fanatisme jahiliyah, menyebabkan mereka bersikap sombong dan menolak setiap kebenaran yang bertentangan dengan prinsip suku dan golongannya.

Berarti empat perkara jahiliyah yang disebutkan di atas adalah:

  1. prasangka jahiliyah, itulah suudzan kepada Allah yang merupakan lambang kerusakan hati dan akidah.
  2. hukum jahiliyah, itulah setiap aturan yang melanggar syariat.
  3. tabarruj jahiliyah, pamer keindahan tubuh di tengah masyarakat. Yang merupakan lambang kerusakan wanita.
  4. fanatisme jahiliyah, yaitu cinta dan benci karena golongan, memberikan pembelaan karena kepentingan golongan, sehingga rela menolak kebenaran demi golongan.

 

Orang Jahiliyah Tidak Punya Pemimpin

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.”(HR. Muslim no. 1851).

Mati jahiliyah yang dimaksud adalah mati dalam keadaan sesat dan salah jalan sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah karena dahulu mereka tidak mau taat pada pemimpin bahkan mereka menilai ‘aib jika mesti taat seperti itu. Namun bukanlah yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati kafir sebagaimana sangkaan sebagian golongan yang keliru dan salah paham.

 

Orang Jahiliyah Punya Sifat Bangga pada Leluhur, Mencela Keturunan, Mengaitkan Turunnya Hujan Bukan pada Allah, dan Meratapi Mayit

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal.” (HR. Muslim, no. 934)

 

Siapa yang Disebut Orang Jahiliyah?

Coba perhatikan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut.

Seseorang itu tumbuh dari agama bapak atau agama tuannya atau agama masyarakat yang ada di negerinya. Sebagaimana seorang bocah itu tumbuh dari agama kedua orang tuanya atau orang yang merawatnya atau dari masyarakat sekitarnya. Ketika anak tersebut baligh (dewasa), maka barulah ia dikenai kewajiban untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya. Janganlah seperti yang mengatakan,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (QS. Al-Baqarah: 170).

Setiap orang yang tidak mengikuti dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, enggan mentaati Allah dan Rasul-Nya lalu berpaling pada adat dan tradisi nenek moyang dan masyarakat yang ada. Itulah yang disebut orang Jahiliyah dan layak mendapat celaan.

Begitu pula orang yang sudah jelas baginya kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya lantas ia berpaling pada adat istiadat, itulah orang-orang yang berhak mendapatkan celaan dan hukuman. (Majmu’ah Al-Fatawa, 20:225).

Semoga kita dibebaskan dan dapat merdeka dari sifat kejahiliyahan.

 


 

Disusun di Darush Sholihin, 23 Dzulhijjah 1440 H (24 Agustus 2019)

Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/21257-sifat-jahiliyah-yang-masih-ada-di-tengah-tengah-kita.html