Jagalah Dirimu Dan Keluargamu Dari Api Neraka

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

MUQADDIMAH
Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[at-Tahrîm/66:6]

Tafsir Ayat

Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

Hai orang-orang yang beriman

Tafsir :
Allâh Maha kasih sayang kepada para hamba-Nya. Jika Dia memberikan perintah, pasti itu merupakan kebaikan dan bermanfaat, dan jika Dia memberikan larangan, pasti itu merupakan keburukan dan berbahaya. Maka sepantasnya manusia memperhatikan perintah-perintah-Nya.

Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma dan para Ulama Salaf rahimahumullâh berkata, “Jika engkau mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’ân ‘Hai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karena itu merupakan kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya”. [Tafsir Ibnu Katsir, 1/80]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Tafsir :
Kebaikan yang Allâh perintahkan dalam ayat ini, adalah agar kaum Mukminin menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Bagaimana caranya?

Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allâh dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”.

Mujâhid rahimahullah berkata tentang firman Allâh ‘peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’, “Bertakwalah kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla ”.

Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu”. [Lihat semua riwayat di atas dalam Tafsir Ibnu Katsir, surat at-Tahrîm ayat ke-6]

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allâh Yang Maha Tinggi sebutannya berfirman, ‘Wahai orang-orang yang membenarkan Allâh dan RasulNya ‘Peliharalah dirimu!’, yaitu maksudnya, ‘Hendaklah sebagian kamu mengajarkan kepada sebagian yang lain perkara yang dengannya orang yang kamu ajari bisa menjaga diri dari neraka, menolak neraka darinya, jika diamalkan. Yaitu ketaatan kepada Allâh. Dan lakukanlah ketaatan kepada Allâh.

Firman Allâh ‘dan keluargamu dari api neraka!’, Maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allâh yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka. Para ahli tafsir mengatakan seperti yang kami katakan ini.’ [Tafsir ath-Thabari, 23/491]

Imam al-Alûsi rahimahullah berkata, “Menjaga diri dari neraka adalah dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan mendorong mereka untuk melakukan hal itu dengan nasehat dan ta’dîb (hukuman) … Yang dimaksukan dengan keluarga, berdasarkan sebagian pendapat mencakup: istri, anak, budak laki, dan budak perempuan. Ayat ini dijadikan dalil atas kewajiban seorang laki-laki mempelajari kewajiban-kewajiban dan mengajarkannya kepada mereka ini”. [Tafsir al-Alûsi, 21/101]

Semakna ayat ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

Dan termasuk juga semakna dengan ayat ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing. [HR. al-Hâkim, Ahmad dan Abu Dâwud; disahihkan al-Albâni dalam al-Irwâ`]

Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Para ahli fiqih berkata: ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allâh Yang Memberikan taufiq”. [Tafsir Ibnu Katsîr, surat at-Tahrîm ayat ke-6]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

Tafsir :
Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu api neraka yang sangat besar, dinyalakan dengan manusia dan batu, sebagaimana api yang lain dinyalakan dengan kayu bakar”. [Fat-hul Qadîr, 7/257]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Yaitu kayu api neraka yang dilemparkan ke dalamnya adalah anak-anak Adam, ‘dan batu’, ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘batu’ adalah patung-patung yang dahulu disembah (di dunia) berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ

Sesungguhnya kamu (orang-orang musyrik-pen) dan apa yang kamu sembah selain Allâh, adalah umpan Jahannam. [Al-Anbiya’/21: 98]

Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu, Mujâhid, Abu Ja’far al-Baqir, dan as-Suddi, mereka berkata, “Itu adalah batu-batu kibrit (batu bara)”, Mujâhid menambahkan, “lebih busuk daripada bangkai”.[Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ

penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras

Tafsir :
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Yaitu watak mereka kasar, rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir yang kepada Allâh Azza wa Jalla telah dicabut dari hati mereka. ‘Syidâd’, yaitu tubuh mereka sangat kuat, kokoh dan penampilan mereka menakutkan”.[Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167]

Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu para penjaga neraka adalah para malaikat, mereka mengurusi neraka dan menyiksa penghuninya, mereka kasar kepada penghuni neraka, keras terhadap mereka, tidak mengasihi mereka ketika mereka minta dikasihani, karena Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka dari kemurkaaan-Nya, menjadikan mereka berwatak suka menyiksa makhluk-Nya.

Ada yang berpendapat, mereka kasar hatinya, keras badannya. Atau kasar perkataannya, keras perbuatannya. Atau ghilâzh: besar badan mereka, syidâd: kuat”. [Tafsir Fat-hul Qadîr, 7/257]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

dan mereka tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Tafsir :
Imam asy-Syaukâni rahimahullah berkata, “Yaitu mereka melakukan pada waktunya, tidak terlambat, mereka tidak memundurkannya dan tidak memajukannya”. [Tafsir Fat-hul Qadîr, 7/257]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu apapun yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada mereka, mereka akan bergegas untuk melakukannya, tidak menundanya sekejap matapun, dan mereka mampu mengerjakannya, mereka tidak lemah dalam melakukannya. Mereka ini adalah malaikat Zabâniyah, kita mohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari mereka”.[Tafsir Ibnu Katsîr, 8/167]

PETUNJUK-PETUNJUK AYAT:
1. Mengetahui kasih-sayang Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya yang beriman, karena Allâh Azza wa Jalla telah memberikan perintah yang membawa kebaikan, dan melarang dari keburukan yang membawa kepada kecelakaan.

2. Kewajiban mempelajari bentuk-bentuk ketaatan untuk diamalkan serta mempelajari bentuk-bentuk kemaksiatan untuk ditinggalkan. Dengan ini seseorang bisa menjaga diri dari neraka.

3. Kewajiban memberikan perhatian kepada istri, anak-anak, dan orang-orang yang ditanggung, mendidik mereka, dan memerintahkan mereka untuk taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, serta melarang mereka dari kemaksiatan. Ini berarti menjaga mereka semua dari api neraka.

4. Meyakini bahwa bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Maka seharusnya manusia menjaga dirinya, untuk selalu beriman dan beramal shalih, sehingga tidak menjadi bahan bakar neraka.

5. Meyakini bahwa para penjaga neraka adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, sehingga mereka tidak bisa dikalahkan oleh para penghuni neraka.

6. Meyakini bahwa di antara sifat-sifat malaikat adalah selalu taat. Mereka tidak pernah mendurhakai Allâh Azza wa Jalla dan mereka mampu melaksanakan perintah-Nya.

Wallahu a’lam bishawaab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVII/1435H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

sumber: https://almanhaj.or.id/4126-jagalah-dirimu-dan-keluargamu-dari-api-neraka.html

Doa-Doa Dari Al Qur’an

Berikut ini kumpulan doa-doa yang dahsyat karena doa-doa ini terdapat dalam Al Qur’anul Karim.

1. Doa mohon ampunan dan rahmat Allah

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Huud: 47).

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS. Al Mu’minun: 109).

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS. Al Mu’minun: 118).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Imran: 147).

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Imran: 16).

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 193-194).

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Qashash: 16).

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Baqarah: 286).

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 23).

2. Doa agar tergolong orang-orang beriman

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. an jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy Syu’ara: 83-85).

رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)” (QS. Al Maidah: 83).

3. Doa agar diberikan keturunan yang shalih

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al Anbiya: 89).

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaffat: 100).

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Al Imran: 38).

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

4. Doa mohon ampunan bagi kedua orang tua dan kaum mukminin

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41).

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10).

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan” (QS. Nuh: 28).

***

Dari buku “Doa & Wirid” karya Ust. Yazid bin Abdil Qadir Jawwaz, Pustaka Imam Asy Syafi’i

Artikel Muslim.or.id

sumber: https://muslim.or.id/26012-doa-doa-dari-al-quran-1.html

DZIKIR YANG KERAP TERLUPAKAN SAAT MELEPAS DAN MEMAKAI PAKAIAN…

ADALAH BENAR BAHWA JIN BISA MELIHAT KITA SEMENTARA KITA TIDAK BISA MELIHAT JIN.
.
Allah tegaskan dalam al-Quran,

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ …

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”(Qs. Al-A’raf:27)
.
Ayat ini berlaku umum. Artinya, jin bisa melihat kita dalam semua keadaan, baik ketika kita memakai pakaian atau melepas pakaian. Sehingga jika dibiarkan, jin bisa melihat aurat manusia ketika dirinya tidak mengenakan pakaian.
.
SOLUSI AGAR AURAT TIDAK DILIHAT JIN
.
Bagian dari kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, beliau ajarkan kepada mereka berbagai macam sunah yang akan menyelamatkan mereka dari bahaya dunia dan akhirat. Tak terkecuali bahaya jin yang berada di sekitarnya.
.
Cara yang beliau ajarkan, agar aurat kita tidak dilihat jin adalah dengan MEMBACA BASMALAH ketika :
1. membuka pakaian (foto di atas)
2. sebelum masuk kamar mandi/wc (foto di bawah)
.
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
.
“Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat bani adam (manusia) adalah apabila seseorang melepas pakaiannya, DIA MEMBACA: BISMILLAH.” (HR. Ibnu Adi, at-Thabrani dalam al Mu’jam al-Ausath).
.
Demikian pula, ketika seseorang hendak masuk kamar mandi, dia dianjurkan untuk membaca basmalah, sebagai tabir auratnya dari pandangan jin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :
.
“Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat bani adam (manusia) adalah apabila seseorang masuk kamar mandi, DIA MEMBACA: BISMILLAH.” (HR. at Tirmidzi 606, dan dishahihkan al-Albani).
.
.
Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/40679

Hati Kuat, Andapun Selamat!

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,ama ba’du,

Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang pasti terjadi

Ingatlah saudaraku! Perjumpaan dengan Allah Ta’ala adalah suatu yang benar adanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal ini dalam sabdanya,

لِقَاؤُكَ حَقٌّ

“Perjumpaan dengan-Mu adalah sebuah kebenaran”. [HR. Muslim].

Hendaknya keyakinan ini terpatri dalam hati seorang hamba Allah, bahwa ia pasti akan menghadap Rabbnya dan berjumpa dengan-Nya untuk dihisab amalnya serta mempertanggungjawabkan perbuatannya sewaktu di dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى}

(31) Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (Surga).[An-Najm:31].

Sobat, menghadirkan keyakinan ini dengan sempurna pada diri seorang kita, akan melahirkan sikap berusaha senantiasa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut hari perjumpaan tersebut.

Karena seorang muslim yang baik dan yakin akan berjumpa dengan Rabbnya, iapun yakin akan dihisab serta dibalas amalnya, tentulah berusaha mencari bekal untuk bisa menghadap kepada Allah dengan selamat.

Pangkat, jabatan, kekuasaan, harta benda dan keturunan, tidak bermanfaat sedikitpun, jika seseorang tidak membawa hati yang sehat, sebuah hati yang berisi keimanan yang benar sehingga membuahkan amal sholeh yang diterima oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

“Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna”,

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”. [QS. Asy-Syu’araa`:88-89].

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan dua ayat di atas di dalam kitab tafsir beliau:

“Firman Allah :

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ}

“ Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna”,

maksudnya : harta seseorang tidaklah bisa melindunginya dari adzab Allah, walaupun ditebus dengan sepenuh bumi emas. 

{وَلَا بَنُونَ}

“dan anak-anak laki-laki ”,

maksudnya: meskipun ditebus dengan semua anak-anak laki-laki yang ada di muka bumi.

Pada hari itu, tidaklah bermanfaat kecuali keimanan kepada Allah, memurnikan ketaatan untuk-Nya semata (ikhlas) dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Oleh karena itu, Allah berfirman: 

{إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehat”,

maksudnya: selamat dari kotoran (dosa) dan kesyirikan”1.

Tabi’in yang mulia, Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah menafsirkan qolbun salim dengan perkataan beliau:

القلب السليم : هو القلب الصحيح ، وهو قلب المؤمن; لأن قلب [ الكافر و ] المنافق مريض ، قال الله : { في قلوبهم مرض } [ البقرة : 10 ]

“Qolbun salim adalah hati yang sehat. Hati tersebut adalah hati seorang mukmin, karena hati [orang kafir dan] orang munafik adalah hati yang sakit, Allah Ta’ala berfirman:

{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا}

(10) Dalam hati mereka ada penyakit. [QS. Al-Baqarah:10]” 2.

Hati yang sehat adalah hati yang kuat!

Dari uraian sebelumnya, ketika Anda tahu bahwa orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang sehatlah yang bisa selamat berjumpa dengan Rabb mereka, maka muncul sebuah pertanyaan : “Bagaimana hati yang sehat itu?”. 

Jawabannya: “Hati yang sehat adalah hati yang memiliki kekuatan hati yang baik!”.

Lantas, “Apakah yang dimaksud dengan kekuatan hati itu?”.

Simaklah uraian sang dokter hati, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang indah: Ighatsatul Lahfan berikut ini:

الباب الخامس:  فى أن حياة القلب وصحته لا تحصل إلا بأن يكون مدركا للحق مريدا له، مؤثرا له على غيره

“Bab yang kelima: Tentang kehidupan hati dan kesehatannya tidak akan diperoleh kecuali dengan mengenal kebenaran lagi menginginkannya serta memilihnya, mengalahkan selainnya”.

لما كان فى القلب قوتان: قوة العلم والتمييز، وقوة الإرادة والحب. كان كماله وصلاحه باستعمال هاتين القوتين فيما ينفعه، ويعود عليه بصلاحه وسعادته.

Tatkala dalam hati terdapat dua kekuatan hati, yaitu: 

  • Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz].
  • Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb], 

maka kesempurnaan dan kebaikan hati itu diperoleh dengan menggunakan dua kekuatan ini dalam perkara yang bermanfaat bagi hati dan dalam perkara yang kebaikan dan kebahagiaan hati tersebut kembali kepadanya”. 

Cara menggunakan kekuatan hati dan merawatnya

Kemudian sang dokter hati pun menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan dua kekuatan hati itu dengan benar, sehingga terjaga dengan baik?

Inilah penjelasan beliau tentang cara menggunakan kekuatan hati pertama, yaitu: Kekuatan mengetahui dan membedakan [Quwwatul ‘Ilmi wat Tamyiz],

فكماله باستعمال قوة العلم فى إدراك الحق، ومعرفته، والتمييز بينه وبين الباطل

Kesempurnaan hati diperoleh dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk menemukan dan mengenal kebenaran (dengan baik) serta membedakan antara kebenaran dengan kebatilan (dengan baik).

Adapun tentang cara menggunakan kekuatan hati kedua: 

Kekuatan kehendak dan cinta [Quwwatul Iradah wal Hubb],

وباستعمال قوة الإرادة والمحبة فى طلب الحق ومحبته وإيثاره على الباطل 

(Kesempurnaan hati diperoleh) dengan menggunakan kekuatan kehendak dan cinta dalam mencari kebenaran dan mencintainya serta memilihnya, mengalahkan selainnya.

Akibat buruk jika salah dalam  menggunakan kekuatan hati

Lalu beliaupun menjelaskan akibat buruk orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar serta menjelaskan pula akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar,

فمن لم يعرف الحق فهو ضال، ومن عرفه وآثر غيره عليه فهو مغضوب عليه. ومن عرفه واتبعه فهو مُنْعَمٌ عليه

  • Maka barangsiapa yang tidak mengenal kebenaran3, berarti dia telah sesat,
  • barangsiapa yang tahu kebenaran, namun memilih kebatilan, maka dia menjadi orang yang dimurkai (oleh Allah),
  • dan barangsiapa yang mengenal kebenaran dan mengikutinya, maka dia lah orang yang diberi nikmat (oleh Allah).

Perbedaan antara umat Islam, yahudi dan nashara dalam menggunakan kekuatan hati

Setelah dijelaskan bahwa akibat buruk itu bagi orang yang tidak menggunakan dua kekuatan hati dengan benar, 

dan sebaliknya, akibat baik bagi orang yang sehat hatinya, karena menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, maka pantaslah jika Allah memerintahkan kita ketika sholat, untuk senantiasa memohon petunjuk:

  1. Agar menjadi orang-orang yang mendapatkan nikmat-Nya, berupa: ilmu tentang agama-Nya dan amal shaleh. Mereka inilah yang  menggunakan kekuatan hatinya dengan benar, yaitu: kekuatan ilmu dan kekuatan kehendak yang membuahkan amal sholeh.
  2. Serta memohon agar dihindarkan dari jalan orang-orang yang dimurkai oleh Allah, karena tidak mengamalkan kebenaran yang telah diketahui oleh mereka (al-maghdhub ‘alaihim), seperti kaum yahudi yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan kehendak dan cinta.
  3. Serta dihindarkan dari jalan orang-orang yang sesat, karena tidak berilmu tentang kebenaran (adh-dhaalluun), seperti nashara yang rusak kekuatan hati mereka, berupa rusaknya kekuatan ilmu mereka.

Oleh karena itulah, Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah berkata:

من فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى، ومن فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود؛ لأن النصارى عبدوا بغير علم، واليهود عرفوا الحق وعدلوا عنه. 

Barangsiapa yang rusak diantara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan nashara, Barangsiapa yang rusak diantara ulama kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan yahudi, karena nashara beribadah tanpa ilmu dan yahudi mengetahui kebenaran, namun berpaling darinya.

Hati kuat, Andapun selamat!

Allah Ta’ala mengkabarkan kepada kita tentang hamba-hamba-Nya yang selamat dari kerugian, dalam salah satu surat Alquran yang singkat namun padat makna. 

Hamba-hamba-Nya yang selamat di dalam surat itu adalah profile orang-orang yang memiliki dua kekuatan hati dan mampu menggunakan keduanya dengan benar!

Mereka adalah tipe orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, sehingga sempurna dirinya dengan ilmu agama Islam dan amal shaleh.

Tidak cukup itu, mereka juga berusaha menyempurnakan orang lain dengan mengajak dan mendakwahi mereka untuk berilmu, beramal dan bersabar di atas jalan ilmu, amal dan dakwah.

Sobat, mari kita renungkan surat Al-‘Ashr berikut ini,

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

{وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa -yang itu merupakan waktu untuk beramal, baik amal yang menguntungkan maupun amal yang merugikan- bahwa setiap orang dalam keadaan merugi kecuali :

  1. Orang yang menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan beriman kepada Allah dan kekuatan amaliahnya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Maka ini kesempurnaan dirinya sendiri.
  2. Kemudian menyempurnakan orang lain dengan nasehat dan perintahnya kepadanya agar orang lain tersebut sempurna kekuatan ilmiah dan amaliahnya (seperti dirinya,pent.).
  3. (Dan nasehatnya) berupa pilar utama itu semua, yaitu: kesabaran.

Jadi, ia menyempurnakan dirinya sendiri dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh dan menyempurnakan orang lain dengan mengajarkan (kedua) hal itu kepadanya.

Serta nasehatnya kepada orang lain tersebut agar bersabar di atas jalan itu”.

Ucapan emas bagi orang yang menyayangi hatinya

Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur:

“Hendaknya (seorang hamba) ketahui bahwa kedua kekuatan (hati) ini, tidak pernah berhenti beraktifitas, bahkan (kemungkinan yang ada) yaitu :

  • Jika tidak ia gunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengenal kebenaran dan mencarinya, maka ia akan gunakan kekuatan tersebut untuk mengetahui sesuatu yang selaras dan cocok dengan kebatilan.
  • Begitu pula, jika tidak ia gunakan kekuatan kehendak amalnya untuk beramal shaleh, maka ia akan gunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan amal shaleh.

Jadi, (Kesimpulannya) bahwa manusia itu, secara tabiat, disifati dengan “Harits” dan “Hammam”, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ta’ala ‘alaihi wa alihi wa sallam,

“أَصْدَقُ الأَسْمَاءِ: حَارِثٌ وَهَمَّامٌ”.

“Nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam” 4.

Harits adalah orang yang (suka) beraktifitas.

Sedangkan Hammam adalah orang yang banyak berkeinginan/selera (“ham”)5.

Karena, sesungguhnya jiwa itu sifatnya dinamis dan gerakan kehendak jiwa itu (hakekatnya) adalah bagian dari konsekwensi dzatnya6.

Sedangkan kehendak itu mengharuskan bahwa sesuatu yang dikehendaki akan tergambar pada jiwanya dan memiliki keistimewaan tersendiri menurut jiwanya.

Jadi, jika jiwa (manusia) tidak menggambarkan kebenaran, mencarinya dan menghendakinya,maka akan menggambarkan kebatilan, mencarinya dan menghendakinya. Dan itu pasti!”

***

Disusun dari : Ighatsatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan,Ibnul Qoyyim, bab kelima

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

  1. Tafsir Ibnu Katsir: 4/94 ↩
  2.  Tafsir Ibnu Katsir: 4/94 ↩
  3. Tidak menggunakan kekuatan ilmu dengan baik ↩
  4. Shahih, HR. Abu Dawud dan yang lainnya ↩
  5. “Ham” itu permulaan dari sebuah kehendak dan cikal bakalnya ↩
  6. Sehingga ada terus sepanjang hidupnya ↩

sumber: https://muslim.or.id/27123-hati-kuat-andapun-selamat.html

Merasakan Kenikmatan Ibadah kepada Allah

Yang namanya nikmat itu, menurut presepsi kita, adalah sesuatu yang lezat, sesuatu yang memiliki rasa, seperti makanan dan minuman.

Lalu mungkinkah rasa nikmat juga terdapat di dalam ibadah yang kita kerjakan.

Saudaraku seiman..

Tentu saja jawabanya sangat mungkin sekali. Karena sejatinya rasa nikmat atau kelezatan itu muaranya adalah di hati dan perasaan kita, dan bukan di indera kita yang lima. Bagi kebanyakan manusia, mungkin duren adalah buah yang lezat dan nikmat dikarenakan aromanya yang harum dan rasanya yang sangat memanjakan lidah. Tapi bayangkan bagi sebagian orang yang benci terhadap si duren ini, jangankan memakannya, menciumnya saja sudah serasa ingin muntah.

Mungkin ada baiknya kita simak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini;

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah,  ia membenci untuk kembali kepada kekafiran  setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 67)

Rasulullah juga bersabda,

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.” (HR. Muslim no. 56)

Pada dua hadits tersebut di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwasanya iman itu rasanya manis dan bisa dirasakan oleh kita. Rasa manis ini tentu saja hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang jujur kecintaannya terhadap Allah dan RasulNya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits. Orang-orang fasiq, ahli maksiat, terlebih orang kafir, tentu saja tidak dapat menikmati lezatnya iman tersebut.

Saudaraku seiman..

Kalau memang iman itu manis, lezat dan bisa dirasakan kenimatanya oleh kita. Maka begitu pula ibadah-ibadah yang kita kerjakan. Karena ibadah, baik ibadah lahiriyah dan batiniah, adalah bagian dari iman.

Sebagai contoh, dalam masalah shalat. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita suri tauladan dalam meraih nikmatnya ibadah shalat.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumallah membawakan suatu hadits di kitab Shahih mereka, dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan banyaknya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat malam, sampai-sampai telapak kaki beliau bengkak. Maka beliaupun ditanya apa motivasi beliau melakukan itu, padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni oleh Allah, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab;

أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا؟

“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur.” (HR. Al-Bukhari no. 4836 dan Muslim no. 2819)

Lalu muncul pertanyaan di benak kita, bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasakan nikmatnya shalat malam jika kaki beliau saja bengkak-bengkak. Maka jawabanya seperti yang kami sampaikan di atas. Bahwasanya kenikmatan itu bermuara di hati, sekalipun anggota tubuh yang lain merasakan penderitaan tapi jiwa ini merasakan kenikmatan.

Coba perhatikan orang terlanjur hobi dengan sepak bola. Ketika kakinya bengkak karena beradu dengan kaki musuh, keesokan harinya pun ia masih nekat merumput walaupun jalannya masih terseok-seok. Coba tanyakan kepadanya apa yang ia rasakan dengan keadaannya tersebut, senangkah atau menderita?

Maka wajar saja jika Nabi pernah mengatakan bahwasanya shalat itu adalah penyejuk pandangan beliau dan menggembirakan hati beliau. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan kecintaan bagiku dari dunia pada wanita dan parfum. Dan dijadikan penyejuk dalam pandanganku adalah shalat.” (HR. An-Nasai no. 3939 dinilai hasan oleh Al Albany)

Dalam masalah puasa pun begitu juga

Bagaimana caranya kita mendapatkan kenikmatan berpuasa, padahal perut lapar, dan kerongkongan terasa kering. Maka caranya adalah dengan mengingat serta senantiasa mengharap besarnya pahala yang Allah sediakan bagi kita, yaitu berjumpa dengan Allah dalam keadaan penuh kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda;

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagian ketika berbuka dan kebahagian ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Saudaraku seiman..

Pernahkah anda melihat seseorang yang melakukan program diet. Dia harus rela tidak makan selama berjam-jam. Untuk apa? Untuk mendapatkan bobot tubuh yang ideal, dan mendapatkan pujian dari orang-orang yang bertemu dan melihat dirinya.

Ketika ia harus menderita dengan program dietnya tersebut, dan mendapatkan hasil yang memuasakan sehingga pujian yang dinantikan pun ia dapatkan, maka segala penderitaan akan berbuah kebahagiaan. Ia pun rela untuk melanjutkan lagi program dietnya yang sekarang ia tidak lagi rasakan penderitaan.

Begitu juga dengan seseorang yang berpuasa dengan meluruskan niat dan mengharapkan balasan hanya dari Allah ‘Azza wa jalla. Niscaya seluruh penderitaan lapar dan dahaga akan berubah menjadi kenikmatan.

Saudaraku seiman..

Kita bisa merasakan kenikmatan makanan dan minuman karena keadaan kita sebelum makan dan minum berbeda dengan keadaan setelah kita makan dan minum. Yang tadinya lapar dan haus, wajah pun pucat, maka setelah makan dan minum, perut menjadi kenyang dan wajah pun menjadi ceria. Ini adalah gambaran seseorang yang bisa menikmati kelezatan makanan.

Begitu pula seseorang yang bisa menikmati lezatnya ibadah.

Keadaan ia sebelum melaksanakan ibadah tersebut berbeda dengan keadaan setelah ia selesai dari melakukan ibadah tersebut. Seseorang yang keadaannya sebelum dan sesudah ia mengerjakan ibadah adalah sama saja, maka ia patut curiga dengan kualitas ibadah yang ia kerjakan. Semisal, sebelum shalat ia adalah anak yang durhaka, setelah durhaka ia masih tetap seorang anak yang durhaka. Lalu apa bedanya?

Padahal Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut : 45)

Oleh karena itu, saudarku seiman…

Marilah kita sama-sama mengoreksi ibadah yang telah kita kerjakan. Sudahkah kita merasakan kenikmatan dalam mengerjakannya, atau malah sebaliknya, penderitaan yang kita alami? Sudah luruskan niat kita? Sudah sesuai tuntunankah ibadah kita?

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan

إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا، فَاتَّهِمُهُ، فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ.

“Jika engkau tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang engkau kerjakan maka engkau harus curiga (pent- dengan amalanmu tersebut), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri. 

يَعْنِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةِ انْشِرَاحٍ وَقُرَّةِ عَيْنٍ. فَحَيْثُ لَمْ يَجِدْ ذَلِكَ فَعَمَلُهُ مَدْخُولٌ.

Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya. (Madarijus Saalikin, hal. 68 juz 2)

Wallahu a’lam

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله

sumber: https://bimbinganislam.com/merasakan-kenikmatan-ibadah-kepada-allah/

[H-1] Ujian Akhir Rukun-Rukun Iman


KETENTUAN UJIAN AKHIR QOWAAIDUL ARBA’AH

  1. akan ada 20 soal pilihan ganda & 5 soal benar/salah. total 25 soal yang diambil acak dari materi yang telah dipelajari (pertemuan 71 s.d pertemuan 122) dari serial belajar tauhid
  2. Dilarang menggunakan bantuan dalam bentuk apapun
  3. Ujian kami buka mulai Hari Ahad (21 Februari 2021) pukul 17.00WIB nanti s.d Hari Ahad (28 Februari 2021) pukul 17.00WIB. karena waktunya panjang, pilihlah waktu yang paling sesuai untuk antum
  4. Hasil Ujian Akhir akan kami umumkan Hari Senin tanggal 1 Maret 2021 pukul 17.00WIB. kami akan mulai membagikan sertifikat kepada peserta yang lulus pada hari tersebut, diperkirakan kami akan membutuhkan waktu sepekan setelah pengumuman untuk membagikan seluruh sertifikat.
  5. Pilihlah jawaban yang PALING tepat dan sesuai dengan konteks pertanyaan.
  6. ujian akhir ini membutuhkan alamat email, antum akan diminta login dengan email dan kemudian menuliskan alamat email antum yang valid. sebaiknya antum menggunakan gmail sebagai alamat email. kemudian pastikan alamat email yang antum inputkan benar. karena kami membutuhkan alamat email antum tersebut untuk mengirim rekapan jawaban antum dan e-sertifikat jika antum lulus
  7. Tulislah Nama Lengkap antum, nama lengkap tersebut akan digunakan untuk e-sertifikat. usahakan tidak lebih dari 20 karakter. pastikan menggunakan huruf kapital hanya di awal kata, contoh: Fulan Bin Abdullah.
  8. E-sertifikat hanya kami berikan kepada peserta yang mencapai target kelulusan, 60% jawaban benar
  9. Untuk menghindari kelalaian/lupa telah mengisi jawaban, maka kami mengharuskan peserta untuk tetap memberi jawaban pada setiap pertanyaan
  10. Dilarang mempublikasikan / membagikan soal ujian
  11. Kami berhak menolak komplain yang tidak sesuai dengan ketentuan kami

Demikianlah ketentuan ujian akhir rukun-rukun iman. yuk manfaatkan waktu untuk muraja’ah. Sampai jumpa pada ujian akhir di 21 Februari mendatang

Jauhi Maksiat, Solusi Cepat Lupa

Pada suatu kesempatan Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam pernah di tanya oleh seseorang, “saya orangnya cepat lupa dalam menghafal, apa solusinya untuk hal ini?”.

Beliau menjawab: 

Kita semua pernah lupa, tidak ada seorang manusia pun kecuali pernah lupa. Dan lupa ini memberi manfaat dan hal-hal yang berguna bagi seorang hamba. Namun dalam sebagian hal, lupa itu tidak memiliki manfaat. Namun manfaat dari adanya lupa ini lebih besar daripada keburukan yang ditimbulkannya bagi manusia.

Tapi bagaimana pun, seseorang hendaknya berdoa kepada Allah untuk menguatkan hafalannya, karena segala karunia itu datangnya dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Dan kemurahan Rabb-mu tidak dapat dihalangi” (QS. Al Isra: 20)

maka karunia (berupa hafalan yang bagus) itu tidak terbatas pada orang-orang tertentu saja, bahkan karunia Allah itu luas. Maka berdoalah kepada Allah, sungguh Allah itu Maha Pemurah.

Kemudian juga, seseorang hendaknya mengambil sebab-sebab yang bisa menjadikan kuatnya hafalan. Karena cahaya itu ada pada hati dan akal. Inilah yang merupakan sebab terbesar untuk kuatnya hafalan. Semakin jauh seseorang dari maksiat, semakin kuat hafalannya. Ini tidak diragukan lagi berlaku bagi orang yang masih muda. Adapun orang yang sudah berusia lanjut, maka hafalan itu menjadi suatu hal yang sulit sekali. Dan akan sering sekali lupa. Tentu ini karena usianya yang sudah tua. Karena ketika usia mulai tua, semua anggota tubuh mengalami perubahan, semuanya mengalami kelemahan dan kekurangan lainnya. Dan kelemahan juga terjadi pada ingatan. 

Jad intinya, seseorang hendaknya mengambil sebab-sebab yang bisa menjadikan kuatnya hafalan. Wallahul Musta’an.

**

Sumber: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=585

—

Penerjemah: Yulian Purnama

sumber: https://muslim.or.id/21877-jauhi-maksiat-solusi-cepat-lupa.html

PINTASAN MATERI UJIAN AKHIR

Sebelum ujian akhir Rukun-Rukun Iman diselenggarakan pada hari Ahad (21 Februari) mendatang, yuk maksimalkan waktu yang tersisa untuk mengulang pelajaran.!

untuk mempermudah pengguna, kami telah merangkum seluruh link video materi belajar tauhid yang akan di ujikan sebagai berikut:

MATERI PDF: KLIK DISINI

PINTASAN MATERI VIDEO:

  1. https://youtu.be/Z6DmBTZuw3s
  2. https://youtu.be/WbwOJtASnug
  3. https://youtu.be/SaFw4yM36aA
  4. https://youtu.be/HexlPiGyPx4
  5. https://youtu.be/KbxwfZtjI4c
  6. https://youtu.be/TIIWw3u0Wgo
  7. https://youtu.be/GHyFygNHNEs
  8. https://youtu.be/7k7Z7hADRL8
  9. https://youtu.be/J1tfZ5BeZLw
  10. https://youtu.be/BpY2IZvnrfI
  11. https://youtu.be/loJ8lkvD7_w
  12. https://youtu.be/pl2WSoPE670
  13. https://youtu.be/UlWDyS-r_pQ
  14. https://youtu.be/KvQ3vFEBUh8
  15. https://youtu.be/e-pi8-OwFxs
  16. https://youtu.be/0Sm-A86Z7GY
  17. https://youtu.be/Y0Dy8ignb9s
  18. https://youtu.be/dj_7ZOpd1PE
  19. https://youtu.be/ehOht7CZPvc
  20. https://youtu.be/TXl5ApVYr1I
  21. https://youtu.be/EhDtjCBwLOY
  22. https://youtu.be/Xo1XgpGOhQY
  23. https://youtu.be/RDflcsr-W9o
  24. https://youtu.be/QNy3t–9Cjw
  25. https://youtu.be/ot3fUe62ai4
  26. https://youtu.be/mB0NhYdL0dY
  27. https://youtu.be/_A6qx5xfhuU
  28. https://youtu.be/eP0JcsZHKt4
  29. https://youtu.be/j2HW3vwWVfA
  30. https://youtu.be/ImbGeFlV4jY
  31. https://youtu.be/O_0IIVy9gfY
  32. https://youtu.be/SiGI1tIRUf8
  33. https://youtu.be/2a7QLEB8LZk
  34. https://youtu.be/qEll5qNxMKE
  35. https://youtu.be/kUHZ1z7uGfY
  36. https://youtu.be/nnM8d0x2kVw
  37. https://youtu.be/aYa52zQnqrg
  38. https://youtu.be/7JjQjCn3l3Q
  39. https://youtu.be/Cb38Xsl8Cq8
  40. https://youtu.be/fFtJMut2xhg
  41. https://youtu.be/v4mUcjha1dE
  42. https://youtu.be/CY3frHwsYfc
  43. https://youtu.be/Uz_uYAuKPYY
  44. https://youtu.be/EjuPdZls0MI
  45. https://youtu.be/OzWeLuv5rHA
  46. https://youtu.be/Gb7ACLW8Zic
  47. https://youtu.be/6x3nCu8xTyo
  48. https://youtu.be/u6irbKUEgBY
  49. https://youtu.be/9b9l3m37-uI
  50. https://youtu.be/dHts4v1iHe4
  51. https://youtu.be/1RFbZH_oAc0
  52. https://youtu.be/hachndZbSW8

Mengapa Perlu Menghafal Al Qur’an?

Bismillah. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Sebagian kaum Muslimin ternyata masih banyak yang belum memahami mengapa mereka perlu untuk menghafal Al Qur’an. Bahkan ada yang mengatakan, “mengapa kita bangga dengan anak-anak yang hafal Qur’an yang notabene bukan bahasa kita? bukankah lebih baik mengajarkan mereka membaca terjemahannya agar bisa menerapkan nilai luhur di dalamnya?”

Perkataan ini keluar tentu karena ketidak-pahaman mengenai keutamaan dan urgensi menghafal Al Qur’an. Orang tersebut juga tidak memahami keutamaan Al Qur’an serta bagaimana cara mempelajari Al Qur’an, sehingga ia merasa cukup dengan terjemahan Al Qur’an saja dalam mempelajari Al Qur’an. Oleh karena itu mari kita simak pembahasan berikut..

Hukum menghafal Al Qur’an

Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “menghafal Al Qur’an adalah mustahab (sunnah)” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 89906). Namun yang rajih insya Allah, menghafal Al Qur’an adalah fardhu kifayah, wajib diantara kaum Muslimin ada yang menghafalkan Al Qur’an, jika tidak ada sama sekali maka mereka berdosa (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 17/325).

Keutamaan menghafal Al Qur’an

1. Penghafal Qur’an adalah Shahibul Qur’an

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan, “ketahuilah, makna dari shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkannya di hati. berdasarkan sabda nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ terhadap kitabullah”

maksudnya yang paling hafal. Maka derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

2. Al Qur’an akan menjadi syafa’at bagi shahibul Qur’an

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

“bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim  804)

3. Derajat di surga tergantung pada hafalan Qur’an

Semakin banyak hafalannya, akan semakin tinggi kedudukan yang didapatkan di surga kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يقال لصاحب القرآن اقرأ وارتقِ، ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلك عند آخر آية تقرؤها

“akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

4. Termasuk sebaik-baik manusia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلَّمه

“sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 4639).

5. Allah mengangkat derajat shahibul Qur’an di dunia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين

“sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini dan menghinakan yang lain dengannya” (HR. Muslim 817)

6. Penghafal Al Qur’an lebih diutamakan untuk menjadi imam

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

“hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ terhadap kitabullah” (HR. Abu Daud 582, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Urgensi menghafal Al Qur’an

Selain keutamaan-keutamaan di atas, ada beberapa hal juga yang menjadi pendorong untuk kita semua agar menghafalkan Al Qur’an:

1. Meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Panutan kita, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menghafalkan Al Qur’an, dan setiap bulan Ramadhan Jibril datang kepada beliau untuk mengecek hafalan beliau. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari, no.6)

2. Membaca Al Qur’an adalah ibadah yang agung

Membaca Al Qur’an adalah ibadah, setiap satu huruf diganjar satu pahala.

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“barangsiapa yang membaca 1 huruf dari Al Qur’an, maka baginya 1 kebaikan. dan 1 kebaikan dilipat-gandakan 10x lipat. aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi 2910, ia berkata: “hasan shahih gharib dari jalan ini”)

Dan banyak lagi keutamaan dari membaca Al Qur’an. Maka seorang Muslim yang hafal Al Qur’an dapat dengan mudahnya membaca kapan saja dimana saja, langsung dari hafalannya tanpa harus membacanya dari mushaf. Dan ini merupakan ibadah yang agung. Ibnu Mas’ud berkata:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ

“Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al Quran maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid berkata: “semua rijalnya shahih”).

3. Modal utama dalam mempelajari agama

Al Qur’an adalah sumber hukum dalam Islam. Dengan menghafalkan Al Qur’an, seseorang lebih mudah dalam mempelajari ilmu agama. Ia mempelajari suatu permasalahan ia dapat mengeluarkan ayat-ayat yang menjadi dalil terhadap masalah tersebut langsung dari hafalannya. Yang kemudian ia perjelas lagi dengan penjelasan para ulama mengenai ayat tersebut. Ibnu ‘Abdl Barr mengatakan:

طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه

“Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barangsiapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla dan memahaminya” (dinukil dari Limaadza Nahfadzul Qur’an, Syaikh Shalih Al Munajjid).

4. Modal utama dalam berdakwah

Kata para ulama, hidayah ada 2 macam: hidayah taufiq yang ada di tangan Allah dan hidayah al irsyad wal bayan yaitu dakwah yang menjadi tugas para Nabi dan Rasul dan juga kita. Dan Al Qur’an adalah sumber dari hidayah ini, Allah Ta’ala berfirman:

(إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ) (الإسراء: من الآية9)

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan hidayah kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al Isra: 9)

5. Menjaga keotentikan Al Qur’an

Salah satu keistimewaan Al Qur’an adalah keotentikannya terjaga, tidak sebagaimana kitab-kitab samawi yang lain. Dan salah satu sebab terjaganya hal tersebut adalah banyak kaum Muslimin yang menghafalkan Al Qur’an di dalam dada-dada mereka. Sehingga tidak mudah bagi para penyeru kesesatan dan musuh-musuh Islam untuk menyelipkan pemikiran mereka lewat Al Qur’an atau mengubahnya untuk menyesatkan umat Islam.

6. Tadabbur dan Tafakkur

Dengan menghafal Al Qur’an, seseorang bisa lebih mudah dan lebih sering ber-tadabbur dan ber-tafakkur. Yaitu merenungkan isi Al Qur’an untuk mengoreksi keadaan dirinya apakah sudah sesuai dengannya ataukan belum dan juga memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah. Allah Ta’ala berfirman

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) (محمد:24)

“Maka apakah mereka tidak men-tadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

7. Mengobati

Al Qur’an adalah obat bagi penyakit hati dan penyakit jasmani. Allah Ta’ala berfirman

(وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ) (الإسراء: من الآية82)

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar” (QS. Al Isra: 82).

Penulis: Yulian Purnama

sumber: https://muslimah.or.id/6222-mengapa-perlu-menghafal-al-quran-1.html

Mendahulukan Makan dari Shalat

Ketika dikumandangkan adzan, perut sudah keroncongan sejak beberapa jam lalu. Ketika itu pula, makanan telah tersaji. Apa yang harus kita dahulukan? Shalat terlebih dahulu ataukah menyantap makanan agar kita shalatnya akan lebih khusyu’?

Pembahasan kali ini adalah di antara kiat agar seseorang bisa khusyu’ dalam shalat. Simak selengkapnya.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

“Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557)[Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 14-Bab Apabila Makanan Telah Dihidangkan dan Shalat Hendak Ditegakkan. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 17-Bab Terlarangnya Mendahulukan Shalat Sedangkan Makan Malam Telah Tersaji dan Ingin Dimakan Pada Saat Itu Juga]

Pelajaran Berharga

Pertama; apabila waktu shalat maghrib telah tiba, sedangkan makanan telah tersaji, maka hendaklah seseorang mendahulukan santap makan -jika pada saat itu dalam kondisi sangat lapar-. Yang lebih utama ketika itu adalah mendahulukan makanan sebelum menunaikan shalat. Hal ini berlaku untuk shalat Maghrib dan juga shalat yang lainnya.

Kedua; apa hikmah di balik ini?

Hikmahnya: Di dalam shalat, seseorang perlu menghadirkan hati yang khusyu’. Sedangkan jika seseorang sangat lapar dan butuh pada makanan, kondisi semacam ini akan membuat ia tidak konsentrasi saat shalat, hatinya tidak tenang, dan pikiran akan melayang ke sana-sini. Kondisi semacam ini berakibat seseorang tidak khusyu’ dalam shalat. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyantap makanan sebelum menunaikan shalat sehingga hati bisa hadir ketika itu.

Ketiga; hendaklah seseorang ketika shalat selalu menghadirkan hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ketika shalat. Hendaklah pula dia menghayati shalat, bacaan dan dzikir-dzikir di dalamnya.

Keempat; mayoritas ulama berpendapat bahwa mendahulukan makanan di sini adalah anjuran (sunnah, bukan wajib) dan inilah pendapat yang rojih (yang lebih kuat). Berbeda dengan pendapat Zhohiriyah (Ibnu Hazm, dkk) yang menganggap bahwa hukum mendahulukan makanan dari shalat di sini adalah wajib.

Kelima; jika waktu shalat wajib sangat sempit, sebentar lagi waktu shalat akan berakhir dan seandainya seseorang mendahulukan makan, waktu shalat akan habis, untuk kondisi semacam ini, ia harus mendahulukan shalat agar shalat tetap dilakukan di waktunya. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Adapun para ulama yang mewajibkan khusyu’ dalam shalat, maka mereka berpendapat dalam kondisi semacam ini, santap makan lebih didahulukan daripada shalat (walaupun shalatnya telat hingga keluar waktu). Namun pendapat yang lebih tepat, khusyu’ dalam shalat tidak sampai dihukumi wajib.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa hukum khusyu’ dalam shalat adalah sunnah mu’akkad (sangat ditekankan).

Keenam; santap makan lebih utama dari shalat dilakukan ketika seseorang sangat butuh pada makan (yaitu ketika sangat lapar). Namun jika kondisi tidak membutuhkan makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji, maka shalat wajib atau shalat jama’ah di masjid tetap harus lebih didahulukan.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang mengatur waktu makan atau waktu tidurnya bertepatan dengan waktu shalat. Hal ini dapat membuat seseorang luput dari shalat di waktu utama yaitu di awal waktu.

Ketujuh; hukum mendahulukan shalat dari santap makan di saat kondisi sangat membutuhkan di sini adalah makruh. Namun jika seseorang dalam kondisi tidak butuh makan (kondisi kenyang) dan makanan telah tersaji lalu lebih memilih shalat, maka pada saat ini tidak dihukumi makruh.

Kedelapan; makanan yang telah tersajikan dan kita sangat ingin untuk menyantapnya, kondisi semacam ini adalah salah satu udzur (alasan) bagi seseorang untuk meninggalkan shalat jama’ah.

Ibnu ‘Umar yang sangat getol (sangat semangat) dalam mengikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyantap makan malamnya dan pada saat itu dia mendengar suara imam yang sedang membaca surat pada shalat jama’ah.

Kalau seseorang meninggalkan shalat jama’ah karena ada udzur untuk menyantap makanan, jika ini bukan kebiasaan, maka dia akan mendapatkan ganjaran shalat jama’ah. Namun jika dijadikan kebiasaan, maka semacam ini tidak dianggap udzur sehingga dia tidak mendapatkan pahala shalat jama’ah. Alasannya berdasarkan hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seseorang dalam keadaan sakit atau bersafar (melakukan perjalanan jauh), maka dia akan dicatat semisal apa yang dia lakukan tatkala mukim (tidak bersafar) atau dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari no. 2996) [Bukhari: 60-Kitab Al Jihad was Sayr, 132-Bab akan dicatat bagi musafir semisal apa yang dia amalkan dalam keadaan dia tidak bersafar (mukim)]. Di sini ada udzur sakit, maka ia dicatat seperti melakukan shalat ketika sehat sebagaimana ia rutin lakukan. Maka begitu pula orang yang ada udzur telat shalat jama’ah karena alasan di atas, maka ia dihitung pula mendapatkan pahala shalat berjama’ah.

Kesembilan; apakah boleh menyantap makanan berat ketika berbuka puasa di bulan Ramadhan atau yang lainnya?

Jawab: sebenarnya tidak mengapa jika seseorang mendahulukan makan. Namun alangkah lebih baik jika dia memakan makanan ringan seperti satu atau beberapa buah kurma, kemudian shalat maghrib, lalu dia menghabiskan makanan lainnya setelah shalat maghrib.

(Pelajaran berharga ini disarikan dari Tawdhihul Ahkam, 1/578-579 dan Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, 2/480-483)

Alhamdulillahilladzi bi ni’amtihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

*****

Tulisan lawas, Yogyakarta, 15 Rabi’ul Awwal 1430 H

Direvisi ulang di Riyadh-KSA, 27 Rabi’uts Tsani 1432 H (01/04/2011)

Sumber https://rumaysho.com/1649-mendahulukan-makan-dari-shalat.html