MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT

At Tauhid edisi VII/12

Oleh: Muhammad Rezki Hr.

Asyhadu alla ilaaha illallah

Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Setiap hari, dua kalimat ini selalu dikumandangkan dalam adzan, iqomah, khutbah, ceramah, dan pembicaraan-pembicaraan lainnya. Setiap hari pula, kita sebagai seorang muslim membacanya ketika sholat. Namun, sudahkah kita faham akan maknanya?

Dua Kalimat Syahadat Merupakan Syarat Sah Islam

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal, untuk meng-islam-kan sekelompok orang yang tinggal di negeri Yaman. Sebelum Sahabat Mu’adz bin Jabal berangkat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Mu’adz : “Ajaklah mereka agar mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut (bersyahadat) maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka solat lima waktu sehari semalam. Lalu apabila mereka telah melakukan hal tersebut, maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mensedekahkan harta mereka, yang sedekah tersebut diambil dari orang-orang kaya dari mereka, dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka” (HR. Bukhori)

Dari hadits di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya bersaksi dengan dua kalimat syahadat adalah syarat sah islam. Sholat dan zakat barulah diperintahkan setelah mereka mau bersaksi dengan dua kalimat syahadat. Jika mereka tidak mau bersaksi, maka sholat, zakat, dan amalan-amalan lainnya tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.

Makna Syahadat

Syahadat artinya adalah persaksian. Dalam hal ini, persaksian barulah dianggap sebagai sebuah persaksian ketika telah mencakup tiga hal : [1] Mengilmui dan meyakini kebenaran yang dipersaksikan. [2] Mengucapkan dengan lisannya. [3] Menyampaikan persaksian tersebut kepada yang lain (Mutiara Faedah Kitab Tauhid, Ustadz Abu Isa).

Persaksian tidaklah cukup di lisan saja, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang munafik yang diancam oleh Allah dengan adzab neraka. Orang-orang munafik mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan, namun hati mereka tidak membenarkannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami bersaksi bahwasanya engkau benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwasanya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al Munafiquun: 1)

Begitu juga sebaliknya, syahadat ini tidak cukup diyakini dalam hati tanpa diucapkan. Paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Abu Thalib) adalah orang yang dengan segenap kekuatan, harta benda dan jabatannya telah membantu dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa dia rela melakukan hal demikian? Suatu ketika dia pernah mengakui bahwa sebenarnya ajaran agama yang paling benar adalah agama yang dibawa keponakannya. Namun sayang seribu sayang, sampai nyawanya sudah di tenggorokan dia tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhirnya dia pun mati dalam keadaan kafir. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari keadaan seperti itu. 

Makna Asyhadu alla ilaaha illallah

Asyhadu alla ilaaha illallah artinya aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Dalam syahadat ini terdapat penafian (penolakan) sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa sesembahan yang benar hanya Allah. Adalah sebuah kenyataan bahwasanya di dunia ini terdapat banyak sesembahan selain Allah. Ada orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, jin, wali, dan lain-lain. Akan tetapi semua sesembahan tersebut tidak berhak untuk disembah, yang berhak disembah hanya Allah.

Allah berfirman (yang artinya): “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya segala sesuatu yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Hajj: 62). Allah juga berfirman (yang artinya): “Maka barangsiapa yang ingkar kepada sesembahan selain Allah dan beriman pada Allah, sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” (QS. Al Baqarah:256)

Makna Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah artinya aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul Allah. Rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah berupa syari’at dan ia diperintahkan untuk mendakwahkan syari’at tersebut (Syarah Arba’in an Nawawiyah, Syaikh Al ‘Utsaimin). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah mendengar kenabianku salah seorang dari umat ini, baik itu Yahudi atau pun Nasrani, lalu ia meninggal sementara ia tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali ia akan termasuk penduduk neraka” (HR. Muslim)

Perlu diingat, selain beliau adalah seorang Rasul Allah, beliau juga berstatus sebagai Hamba Allah. Di satu sisi kita harus mencintai dan mengagungkan beliau sebagai seorang Rasul, di sisi lain kita tidak boleh mengagungkan beliau secara berlebihan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah hamba, maka sebutlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak boleh kita anggap memiliki sifat-sifat yang berlebihan, atau memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, semisal: menganggap beliau mengetahui perkara yang ghaib, mampu mengabulkan do’a, mampu menghilangkan kesulitan kita, dan lain-lain.

Syahadat harus diterapkan

Ketahuilah, jika seseorang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat, ada hak dan kewajiban yang harus ia lakukan. Diantara hak yang didapatkannya adalah haramnya darah dan hartanya. Maksudnya, seseorang yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat tidak boleh untuk diperangi, ditumpahkan darahnya, dan dirampas hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan sholat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak islam. Adapun hisab mereka adalah urusan Allah Ta’ala” (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun kewajiban yang harus dilakukan adalah :

1. Kewajiban setelah bersaksi Asyahadu alla ilaaha illallah

Konsekuensi orang yang bersaksi Asyahadu alla ilaaha illallah adalah wajib meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Seluruh ibadah haruslah ia lakukan ikhlas kepada Allah semata. Dan juga, ia wajib mencintai orang yang bertauhid (menyembah Allah semata) dan membenci orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah).

2. Kewajiban setelah bersaksi Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah

Orang yang telah bersaksi Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah maka konsekuensinya ia wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh Rasulullah tanpa meragukannya, melakukan apa yang Beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, mendahulukan dan menghormati sabda beliau di atas perkataan selainnya, beribadah kepada Allah sesuai tuntunannya, tidak menambah-nambah ajarannya, serta melahirkan sikap cinta terhadap orang yang taat dengan sunnah beliau dan benci terhadap orang yang mengingkari sunnah beliau. Dan termasuk pula meyakini beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul, tidak ada lagi nabi setelah beliau.

Keduanya Harus Beriringan

Belumlah sah keislaman seseorang jika ia hanya bersaksi dengan salah satu dari dua kalimat syahadat saja. Didalam banyak ayat di dalam Al Qur’an Allah menggandengkan ketaatan kepada diri-Nya dengan ketaatan kepada Rasul-Nya. Diantaranya, Allah berfirman (yang artinya): “Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya’.” (QS. Ali Imran: 32). Juga didalam banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan ketaatan kepada Allah dengan ketaatan kepada Rasul-Nya yang menunjukkan bahwa dua kalimat syahadat haruslah digandengkan.

Dari sini, para Ulama’ menarik kesimpulan bahwasanya tidaklah sah amal ibadah seseorang kecuali memenuhi dua syarat, yaitu: Ikhlas dan Ittiba’. Ikhlas adalah konsekuensi dari syahadat Asyahadu alla ilaaha illallah. Maksudnya amal ibadah seseorang tidak akan diterima jika ia tujukan kepada selain Allah, atau jika ia campuri ibadah kepada Allah dengan ibadah kepada selain Allah. Amal ibadah seseorang akan diterima jika hanya kepada Allah semata. Adapun Ittiba’ adalah konsekuensi dari syahadat Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah. Maksudnya amal ibadah seseorang juga tidak akan diterima oleh Allah jika ia beramal ibadah dengan suatu cara yang tidak dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amal ibadah tersebut akan diterima Allah jika mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, keislaman seseorang akan sempurna dan amal ibadah seseorang akan diterima jika telah mengumpulkan kedua hal tersebut.

Syahadat Pun Bisa Batal

Dua kalimat syahadat yang telah dipersaksikan oleh seseorang bisa saja batal jika ia melakukan amalan-amalan yang bisa membatalkannya. Amal-amalan tersebut bisa berupa perkataan, perbuatan, keyakinan, atau keraguan. Banyak amalan yang bisa membatalkan dua kalimat syhadat sehingga perlu diketahui dan diwaspadai. Perlu pembahasan tersendiri untuk membahas tentang pembatal-pembatal syahadat.

Demikian pembahasan yang singkat ini. Semoga Allah menjaga kita dari kemunafikan dan kekafiran. Dan semoga kita bisa beribadah ikhlas karena Allah semata dan bisa mengikuti tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Muhammad Rezki Hr*]

sumber: https://buletin.muslim.or.id/makna-dua-kalimat-syahadat/

Cara Menghilangkan Dendam/Dengki

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cara Menghilangkan Dendam/Dengki

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Banyak diantara kita yang terjangkiti penyakit dendam dan dengki. Dari sekian banyak yang terjangkiti tak sedikit juga dari kita yang tanpa disadari membiarkan penyakit ini menggerogotinya, bahkan memeliharanya.

Berikut ada terapi agar penyakit ini tidak menggerogoti kita bagai benalu dan membunuh kita karena dipelihara terus.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

تَصَافَحُوْا يَذْهَبُ الغِلُّ ، وتَهَادَوْا تَحَابُّوا ، وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ

“Saling bersalamanlah (berjabat tanganlah) kalian (maka) akan hilanglah kedengkian/dendam. Saling memberi hadiahlah kalian maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang permusuhan”[1].

Pada hadits ini terdapat tips dan terapi menghilangkan rasa dendam, dengki dan permusuhan. Bersalaman (berjabat tangan) dengan orang yang kita dengki dan dendam kepadanya dapat menghilangkan perasaan tersebut. Demikian jugalah memberi hadiah maka akan menumbuhkan cinta kepada orang yang kita harapkan cintanya.

Demi Allah ini merupakan cara yang sangat mujarab terlebih lagi jika kita merupakan orang yang memulainya. Cara ini juga sangat efektif di dunia dakwah, Allahu a’lam.

Menjelang Subuh, 16 Dzul Hijjah 1436 H bertepatan dengan 30 September 2015

Aditya Budiman bin Usman.

[1] HR. Imam Malik dalam Al Muwatho’ no. 1413. Al Albani Rohimahullah mengatakan sanadnya mursal. Namun Ibnu ‘Abdil Barr Rohimahullah mengataka, ‘Hadits ini bersambung (sanadnya dari banyak jalur yang bagus semuanya’ ( At Tamhid 12/XXI.

sumber: https://alhijroh.com/fiqih-tazkiyatun-nafs/cara-menghilangkan-dendamdengki-2/

Sedekah yang Paling Utama

Sedekah

Sedekah semuanya baik, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung niat, kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran sedekah. Di antara sedekah yang utama menurut Islam adalah sbb:

1.  Sedekah Sirriyyah

Sedekah sirriyyah adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sedekah ini sangat utama karena lebih mendekati ikhlas dan selamat dari sifat riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Perlu diketahui, bahwa yang utama untuk disembunyikan adalah pada sedekah kepada fakir dan miskin. Hal ini, karena ada banyak jenis sedekah yang mau tidak mau harus ditampakkan, seperti membangun masjid, membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan sedekah kepada fakir miskin adalah untuk menutupi aib saudara kita yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah dan bahwa dia orang yang tidak punya. Hal ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam berbuat ihsan kepada fakir-miskin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji sedekah sirriyyah, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti pada hari kiamat.

2.  Sedekah Dalam Kondisi Sehat

Bersedekah dalam kondisi sehat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan sulit diharapkan kesembuhannya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab:

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.  Sedekah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al Baqarah: 219)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari)

4. Sedekah dengan Kemampuan Maksimal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah maksimal orang yang tidak punya, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Abu Dawud dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1112)

Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah berkata, “Hendaknya seorang memilih untuk bersedekah dengan kelebihan hartanya, dan menyisakan secukupnya untuk dirinya karena khawatir terhadap fitnah fakir (kemiskinan). Sebab, boleh jadi dia akan menyesal atas apa yang dia lakukan (dengan berinfak seluruh atau melebihi separuh harta) sehingga merusak pahala. Sedekah dan kecukupan hendaknya selalu eksis dalam diri manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari Abu Bakar yang keluar dengan seluruh hartanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu persis kuatnya keyakinan Abu Bakar dan kebenaran tawakkalnya, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak khawatir fitnah itu menimpanya sebagaimana Beliau khawatir terhadap selain Abu Bakar. Bersedekah dalam kondisi keluarga sangat butuh dan kekurangan, atau dalam keadaan menanggung banyak utang bukanlah sesuatu yang dikehendaki dari sedekah itu. Karena membayar utang dan memberi nafkah keluarga atau diri sendiri yang memang butuh adalah lebih utama. Kecuali jika memang dirinya sanggup untuk bersabar dan membiarkan dirinya mengalah meskipun sebenarnya membutuhkan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar dan itsar (mendahulukan orang lain) yang dilakukan kaum Anshar terhadap kaum muhajirin.”

Oleh karena itu, para ulama mensyaratkan bolehnya bersedekah dengan semua harta apabila orang yang bersedekah kuat, mampu berusaha, bersabar, tidak berutang dan tidak ada orang yang wajib dinafkahi di sisinya. Ketika syarat-syarat ini tidak ada, maka bersedekah ketika itu adalah makruh.

5. Menafkahi anak-istri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ » .

“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim)

6. Bersedekah Kepada Kerabat

Disebutkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha’. Ketika turun ayat:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan bahwa Bairuha’ diserahkan kepada Beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan agar ia membagikan bairuha’ kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membagikannya untuk kerabat dan keponakannya (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَ هِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ  :  صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ

“Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua (kebaikan); sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3858)

Secara lebih khusus, setelah menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan adalah memberikan nafkah kepada dua kelompok:

A. Anak yatim yang masih ada hubungan kerabat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tetapi Dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apa jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. (QS. Al Balad: 11-16)

B. Kerabat yang memendam permusuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-Kabir, Shahihul Jami’ no. 1110)

7. Bersedekah Kepada Tetangga

Dalam suratAn Nisaa’ ayat 36 disebutkan perintah berbuat baik kepada tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Abu Dzar:

« يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ » .

“Wahai Abu Dzar! Jika kamu memasak sop, maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

8. Bersedekah Untuk Jihad fii Sabilillah

9. Bersedekah Kepada Kawannya yang Berada di Jalan Allah

Kedua hal di atas (no. 8 dan 9) berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dikeluarkan seseorang untuk menafkahi keluarganya, dinar yang dikeluarkan untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang dikeluarkan kepada kawannya di jalan Allah.” (HR. Muslim)

مَنْ جَهَّزَ غَازِياً فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا ، وَمَنْ خَلَفَ غَازِياً فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا

“Barang siapa mempersiapkan (membekali) orang yang berperang, maka sungguh ia telah berperang. Barang siapa yang menanggung keluarga orang yang berperang, maka sungguh ia telah berperang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah sedekah yang pahalanya terus mengalir meskipun ia sudah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila cucu Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan atau anak shalih yang mendo’akan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)

Termasuk sedekah jariyah adalah waqf, pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih, menggali sumur, menanam pohon agar buahnya dapat dimanfaatkan banyak orang dan proyek-proyek lain yang dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Imam as-Suyuthiy membuatkan sya’ir menyebutkan hal-hal yang bermanfaat bagi seorang sesudah meninggalnya:

اِذَا مَاتَ ابْنُ ادَمَ يَجْرِي  عَلَيْهِ مِنْ فِعَالٍ غَيْرِ عَشْرٍ

عُلُوْمٍ بَثَّهَا وَدُعَاءِ نَجْلٍ  وَغَرْسِ النَّخْلِ وَالصَّدَقَاتُ تَجْرِي

وَرَاثَةِ مُصْحَفٍ وَرِبَاطِ ثَغْرٍ   وَحَفْرِ الْبِئْرِ أَوْ إِجْرَاءِ نَهْرٍ

وَبَيْتٍ لْلْغَرِيْبِ بَنَاهُ يَأْوِى    إلِيْهِ أَوْ بِنَاءِ مَحَلِّ ذِكْرٍ

“Apabila cucu Adam Adam meninggal, maka mengalirlah kepadanya sepuluh perkara;,
Ilmu yang disebarkannya, doa anak saleh, pohon kurma yang ditanamnya serta sedekahnya yang mengalir,
Mushaf yang diwariskan dan menjaga perbatasan,
Menggali sumur, mengalirkan sungai, rumah untuk musafir yang dibangunnya atau membangun tempat ibadah.”

Ditulis oleh Ustadz Marwan bin Musa
Maraji’: Buletin An Nur (Th X No. 470 tentang srdekah yang utama) dan diberi tambahan dari kitab-kitab yang lain.

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

sumber: https://konsultasisyariah.com/15174-sedekah-yang-paling-utama.html

Ruwaibidhah: Fenomena Akhir Zaman

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.

قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Tahkrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah dalam as-Sunan no. 4042. Diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/465, 512), Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad (2/291).

Semuanya melalui jalan Abdul Malik bin Qudamah, dari Ishaq bin Abil Furat, dari al-Maqburi, dari sahabat Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini dha’if (lemah) karena di dalamnya ada Abdul Malik bin Qudamah, seorang yang dha’if (lemah). Demikian adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menukilkan perkataan sejumlah ulama yang mendha’ifkannya.

Dalam sanad ini ada illat (cacat) lain, yaitu Ishaq bin Bakr. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata tentangnya, “Majhul (tidak dikenal).”

Meskipun demikian, hadits ini bisa dikuatkan karena diriwayatkan melalui jalan lain.

Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/338) meriwayatkan hadits ini melalui jalan dua guru beliau, Yunus dan Suraih. Keduanya meriwayatkan dari Fulaih bin Sa’id, dari Ubaidillah bin Sabbaq, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum tegak kiamat, akan datang tahun-tahun yang sangat menipu. Pada zaman itu, orang yang jujur didustakan, orang yang pendusta dibenarkan, orang yang tepercaya dianggap berkhianat, dan orang yang berkhianat diberi kepercayaan. Pada masa itu, Ruwaibidhah berbicara.”

Semua perawi dalam sanad ini tsiqat, kecuali Fulaih. Dia adalah Fulaih bin Sulaiman al-Khuza’i, ada pembicaraan tentangnya dari sisi hafalannya. Al- Hafizh Ibnu Hajr berkata, “Shaduq yukhti’u katsiran.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diperkuat pula oleh adanya syahid (penguat) dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (3/220), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَاالرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya menjelang keluarnya Dajjal, ada tahun-tahun yang menipu. Di zaman itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dianggap benar, para pengkhianat dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab,

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan perkara publik (masyarakat umum).”

Hadits Anas ini diriwayatkan Ahmad melalui jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Munkadir. Para perawinya tsiqat, hanya saja dalam sanad ini ada ‘an’anah Ibnu Ishaq, dan ia seorang mudallis.

Makna Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya tahun-tahun yang disifati beliau dengan (سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ), tahun-tahun yang sangat menipu.

Masa itu disifati demikian karena kondisinya benar-benar terbalik, sebagaimana ditafsirkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, yang benar tampak batil/salah, sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Beliau bersabda,

“… Para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat di zaman itu dipercaya, orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat….”

Inilah empat hal yang akan terjadi pada zaman tersebut. Beliau juga menyebutkan yang kelima,

وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“… pada zaman itu Ruwaibidhah banyak berbicara….”

Para sahabat lalu menanyakan tentang siapa Ruwaibidhah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“… Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Pada sebagian riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang siapa

mereka.

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan urusan publik (umum).”

Menjelaskan makna Ruwaibidhah, al-Imam al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/12), “Ruwaibidhah secara bahasa adalah bentuk tashghir (pengecilan/perendahan) dari kata ar-Rabidhah. Maknanya adalah penggembala kambing. Rabidh sendiri bermakna kambing/domba.”

Tanda Kenabian

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita berita gaib, yaitu beberapa hal yang akan terjadi di akhir zaman. Kabar beliau ternyata benar-benar terjadi.

Berita-berita seperti ini termasuk tanda dan bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan betapa banyak yang serupa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak mengerti perkara gaib. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah. Kita meyakini hanya Allah ‘azza wa jalla lah yang mengetahui perkara gaib. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan sebagian perkara gaib kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ‘azza wa jallaberfirman,

          عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

        “(Dia adalah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

Perhatikan fenomena di zaman kita. Betapa sesuainya keadaan zaman ini dengan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang jujur lagi mulia yang didustakan. Banyak pula para pendusta yang ucapannya dianggap kebenaran. Sebagaimana sabda beliau,

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ

“… para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta….”

Mungkin contoh nyata yang bisa kita saksikan adalah perlakuan ahlul bid’ah kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, murid terkemuka al-Imam asy Syafi’i rahimahullah, diperlakukan demikian kasar. Beliau disiksa, dipenjara, bahkan hendak dibunuh.

Apa sebab beliau disiksa? Ternyata karena beliau sedemikian gigih mempertahankan kebenaran, mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Beliau mempertahankan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk.

Al-Qur’an adalah kalamullah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ ٦

        “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Kebenaran mana yang melebihi kebenaran al-Qur’an? Kejujuran mana yang melebihi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, pada zaman al-Imam Ahmad rahimahullah kebenaran ini didustakan dan ditolak.

Demikian pula keadaan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini, semisal asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan masyayikh Ahlus Sunnah lainnya. Ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah didustakan. Nasihat-nasihat mereka memperingatkan umat dari kesyirikan dan penyerunya, kebid’ahan dan pengusungnya dianggap sebagai kedunguan, ghibah, dan memecah belah umat. Padahal maksud mereka adalah memberi nasihat yang tulus bagi umat.

Mereka, ulama Ahlus Sunnah yang penuh kejujuran dan semangat justru dicela dan dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan. Mereka penuh kejujuran, namun didustakan oleh penyeru kesyirikan, pengusung kebid’ahan dan kesesatan.

Sebaliknya, banyak para pendusta, tokoh-tokoh penyesat, pembawa panji-panji kesyirikan, kebid’ahan dan pemikiran-pemikiran sesat, ucapan mereka justru dibenarkan.

Melalui berbagai media cetak dan elektronik, tokoh-tokoh pendusta diorbitkan. Dengan seenaknya mereka melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok agama Islam. Ucapan mereka yang sedemikian keji dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dia menyandang gelar profesor doktor. Sejatinya, dia hanyalah pendusta, dajjal yang penuh dengan kehinaan.

Ucapan mereka seakan-akan kebenaran. Sesungguhnya mereka memutarbalikkan fakta. Tersebarlah kedustaan di tengah umat ini dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima secara mutlak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Penyayang

Siapa pun yang merenungi hadits ini akan melihat betapa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamkepada umatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

Bukti kasih sayang beliau sangat banyak. Demi Allah, semua perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti kasih sayang beliau.

Mungkin Anda masih ingat, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Sedianya beliau ingin memperlama bacaan, tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallampun menyegerakan shalatnya. Beliau mengurungkan niat untuk memperlama bacaan sebagaimana kebiasaan beliau.

Beliau sangat khawatir ibu sang bocah ikut shalat bersama beliau, sehingga kegelisahan menimpanya di tengah shalat. Beliau tidak ingin kegelisahan menimpa ibu dan sang bocah.

Di antara bentuk kasih sayang beliau adalah semangat beliau memperingatkan umat dari segala kejelekan yang beliau ketahui, seperti hadits yang sedang kita telaah.

Beliau mengabarkan keadaan zaman sepeninggal beliau. Beliau menyebutkan suatu zaman yang demikian besar fitnahnya. Semua itu adalah kasih sayang beliau agar umat bersiap menghadapi kejelekan.

Hikmah Peringatan Kejelekan Akhir Zaman

Hadits ini bukan satu-satunya hadits yang berbicara tentang kejelekan di akhir zaman.

Alhamdulillah, semua hadits yang dibutuhkan umat untuk mengenal kejelekan akhir zaman terjaga dalam kitab-kitab ahlul hadits, kitab-kitab shahih, sunan, musnad, dan kitab hadits lainnya yang semestinya kita buka dan telaah.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai kejelekan di akhir zaman memiliki faedah-faedah besar, di antaranya:

  1. Menambah keimanan.

Orang yang membaca berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah akhir zaman, kemudian mendapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kebenaran berita tersebut akan menambah keimanannya.

  1. Seorang mukmin akan lebih waspada dari berbagai kejelekan, kemudian segera menyiapkan berbagai upaya untuk menghadapi kejelekan tersebut sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Seorang mukmin semakin meyakini akan datangnya Hari Kiamat ketika menyaksikan tanda-tandanya bermunculan sebagaimana dikabarkan.
  3. Tanda-tanda hari kiamat akan mengingatkan orang-orang yang lalai untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya.

Petaka Ruwaibidhah

Ruwaibidhah adalah orang yang fasik lagi hina, pendosa, dan jahil. Namun, dengan lancang mereka memosisikan diri untuk membicarakan masalah umat.

Allahu Akbar! Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits ini benar-benar terjadi. Ruwaibidhah bermunculan berbicara tentang urusan umat.

Betapa banyak manusia dungu dan jahil dalam urusan agama dengan lancang berbicara dan berfatwa di tengah halayak. Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang menimpa umat manusia ketika orang seperti mereka membicarakan urusan yang bukan kapasitasnya.

Dengan entengnya Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu, Dengan seenaknya mereka bicara urusan darah kaum muslimin. Dengan serampangan mereka berbicara jihad. Muncullah berbagai kerusakan yang kita saksikan saat ini seperti fenomena: takfirul hukkam wal muslimin (pengkafiran terhadap penguasa dan kaum muslimin) dan pemikiran lainnya.

Dengan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab, Ruwaibidhah mengafirkan para penguasa dan masyarakatnya. Dengan dalih jihad mereka membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, bahkan orang muslim pun tidak luput menjadi korban kejahatan mereka.

Jangan menengok terlalu jauh, saksikanlah apa yang terjadi di negeri ini. Saat kampanye reformasi digelar. Kekacauan terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tokoh-tokoh pengusung reformasi bukanlah ulama, bukan pula orang-orang yang mengerti maslahat dan mafsadah sebagaimana diajarkan dalam agama ini. Mereka tidak lain adalah para pendusta, politikus, dan orang-orang yang gila kekuasaan. Bukan agama yang diperjuangkan, melainkan dunia. Mereka adalah Ruwaibidhah.

Akibatnya, kejelekan terbuka sedemikian lebar. Saat ini, semua kesesatan bisa berkembang bebas meracuni anak-anak bangsa: liberalisme, komunisme, radikalisme, dan terorisme. Pemberontakan, hujatan kepada penguasa, sesuatu yang sudah sangat akrab di telinga kita. Demikian tragis nasib negeri ini, ketika Ruwaibidhah berbicara.

Tidak diragukan—wallahu a’lam—bahwa Ruwaibidhah termasuk golongan ashaghir yang disebutkan dalam hadits Abu Umayyah al-Jumahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari ashaghir (orang-orang kecil/muda).” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’)

Para ulama menerangkan, di antara makna ashagir adalah ahlul bid’ah. Ya, ahlul bid’ah, dijadikan sebagai rujukan ilmu.

Jika urusan umat dipegang oleh para ulama, orang-orang yang mumpuni dalam ilmu dan berumur, harapkanlah kebaikan. Sebaliknya, jika yang berbicara dan dijadikan rujukan adalah orang-orang fasik lagi jahil, kejelekan akan menimpa umat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوافَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama yang menjadi ulama (panutan) mereka adalah masyayikh (orang-orang yang tua, baik dalam hal ilmu maupun usia), bukan orang-orang yang masih muda. Sebab, orang yang telah berumur, telah hilang darinya sifat kekasaran, main-main, dan ketergesa-gesaan (yang biasa ada) pada anak muda.

Orang yang tua juga penuh dengan pengalaman dalam urusannya. Karena itu, ilmunya tidak tercampur dengan kerancuan (syubhat), tidak pula hawa nafsu menyimpangkannya, tidak pula mudah dijerumuskan setan.

Adapun kaum muda, seringkali hal-hal tersebut menimpanya—yang kaum tua selamat darinya. Apabila hal itu terjadi, kemudian ia berfatwa, sungguh dia akan binasa dan membinasakan.”

Dahulu, salaf kita bersedih ketika melihat orang jahil berbicara memberi fatwa. Lantas apa pendapat Anda jika mereka menyaksikan rusaknya zaman kita ini? Semua orang bebas berbicara, bahkan berfatwa. Sebebas-bebasnya, tanpa batas.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi rahimahullah meriwayatkan dalam Jami Bayani Ilmi fa Fadhluhi melalui jalan Abdullah bin Wahb, dari al-Imam Malik, beliau berkata,

Seorang mengabarkan kepadaku: Suatu saat aku masuk menemui Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ketika itu beliau sedang menangis. Aku pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Rabi’ah bertambah tangisnya. Aku bertanya kembali, “Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, (bukan karena itu aku menangis). Akan tetapi, saat ini orang yang tidak berilmu dimintai fatwa, dan muncullah perkara besar dalam Islam. Sungguh, sebagian dari mereka yang berfatwa (tanpa ilmu itu) lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri!”

Saudaraku, mari kita kuatkan semangat mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Tuntutlah ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sebelum ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama.

Bekali generasi kita untuk menghadapi tahun-tahun yang memilukan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf umat ini. Tidak ada benteng yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya.

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

sumber: https://asysyariah.com/ruwaibidhah-fenomena-akhir-zaman/

Ternyata Dapat Dua Pahala, Puasa Syawal Digabungkan dengan Puasa Senin Kamis

Ternyata dapat dua pahala puasa jika kita mengerjakan puasa Syawal bertepatan dengan Senin – Kamis, yaitu mendapatkan pahala puasa Syawal enam hari dan puasa Senin – Kamis.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah ditanya, “Apakah puasa enam hari di bulan Syawal boleh dilakukan pada hari Senin dan Kamis lantas mendapatkan pahala puasa Senin dan Kamis?”

Jawab beliau, “Boleh seperti itu dan tidaklah masalah. Pahala yang diperoleh adalah pahala puasa Syawal enam hari dan puasa Senin Kamis.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

” إِذَا اتَّفَقَ أَنْ يَكُوْنَ صِيَامُ هَذِهِ الأَيَّامِ السِّتَّةِ فِي يَوْمِ الاِثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيْسِ فَإِنَّهُ يَحْصُلُ عَلَى أَجْرِ الاِثْنَيْنِ بِنِيَّةِ أَجْرِ الأَيَّامِ السِّتَّةِ ، وَبِنِيَّةِ أَجْرِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ أَوِ الخَمِيْسِ ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى)” انتهى.

“Jika puasa enam hari Syawal bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis, maka puasa Syawal juga akan mendapatkan pahala puasa Senin, begitu pula puasa Senin atau Kamis akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala yang ia niatkan.” Demikian fatwa dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fatawa Islamiyyah, 2:154.”

Referensi:

Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid.

https://islamqa.info/ar/answers/106468/


Disusun bada Isya @ DarushSholihin, 9 Syawal 1440 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/20662-ternyata-dapat-dua-pahala-puasa-syawal-digabungkan-dengan-puasa-senin-kamis.html

Jangan Terlena dengan Pujian

Berhati-hatilah dengan pujian. Seringkali pujian membuat orang melupakan dengan hakikat dirinya yang sebenarnya. Banyak orang memuji, bukan berarti apa yang ada pada diri kita adalah sama persis seperti apa yang dipuji oleh banyak orang.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ – يَقُولُهُ مِرَارًا – إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَحَسِيبُهُ اللَّهُ، وَلاَ يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا”

“Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya: Ada seseorang berada di dekat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Lalu ada orang lain yang memuji-muji orang tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka engkau! Engkau telah menebas leher kawanmu.” – Nabi mengulang kata tersebut berulang kali – Jika kamu mau memuji, dan itu harus memuji, maka katakan, “Aku sangka (aku kira) dia demikian dan demikian”  jika dia menyangka kawannya memang seperti itu, “dan yang mengetahui pasti adalah Allah, dan aku tidak mau memastikan (keadaan) seseorang di sisi Allah.” (HR. Bukhari no. 6061 dan Muslim no. 3000)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan bahwasannya ujub dapat disebabkan karena pujian yang berlebihan. Jika pada saat seseorang memuji kawannya atau orang lain di hadapannya, dan dapat menyebabkan orang yang dipuji tersebut merasa besar diri dan bangga dengan amalannya, maka hal ini dimakruhkan. Adapun pujian kepada seseorang yang orangnya tidak ada di tempat itu, maka hal tersebut adalah sanjungan yang baik. 

Dalam hadis ini juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari orang yang memuji orang lain itu dengan mengatakan “Celaka kamu, kamu telah menebas leher kawanmu”. Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai perilaku semacam ini.

Diriwayatkan  dari Abdullah bin Syakir,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” السَّيِّدُ اللهُ “، فَقَالَ: أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا، وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لِيَقُلْ أَحَدُكُمْ بِقَوْلِهِ وَلَا يَسْتَجِرَّنَّهُ الشَّيْطَانُ أَوِ الشَّيَاطِينُ”

“Suatu hari seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan, “Apakah anda sayyidul Quraisy?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “As Sayyid adalah Allah.” Maka sahabat mengatakan, “Engkau adalah orang yang paling mulia di antara kita, paling besar jasanya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Katakanlah perkataan yang biasa kalian ucapkan, dan jangan jadikan perkataan kalian menjadi tunggangan setan-setan.”  (HR. Ahmad no. 16316, Abu Daud no. 4706) 

Dari hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja melarang seseorang memuji di hadapan beliau, lalu bagaimanakah dengan orang yang levelnya pasti di bawah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berhati-hatilah dengan hati manusia yang lemah. Jika dipuji, maka dapat menyebabkan masuknya ujub dalam hatinya, yang dapat mempengaruhi perilaku dan tindakannya. Dalam redaksi hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ

“Rasulullah memerintahkan kami untuk melemparkan debu di wajah orang-orang yang suka memuji.” (HR. Muslim no. 3002)

Berhati-hati juga dengan diri kita, jika kita merasa bangga dan senang jika dipuji secara langsung, karena hal tersebut merupakan salah satu ciri dari kemunafikan. Allah Ta’ala berfirman

إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ١

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 1)

Kemudian Allah Ta’ala melanjutkan firmannya,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢

“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-Munafiqun [63]: 2)

Maksud (ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ) adalah mereka menjadikan itu penghalang atau tameng, kemudian “Mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini adalah sifat orang munafik dan orang yang suka cari muka. Maka kita harus waspada terhadap mereka. Jangan biarkan mereka berlebihan dalam perilaku yang terlarang ini. Inilah alasan pertama mengapa pujian langsung di hadapan seseorang itu dilarang.

Alasan lainnya kenapa pujian langsung itu dilarang adalah karena pujian yang dia tujukan kepada manusia sejatinya Allah Ta’ala juga ikut menyaksikannya. Allah Ta’ala mengetahui keadaan sejati seseorang yang tidak diketahui oleh orang lain satu pun. Maka tidak ada yang mengetahui batin manusia kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada yang mengetahui hakikat ketulusan amal manusia kecuali hanya Allah Ta’ala saja. Dan tidak pula ada yang mengetahui apakah amalannya diterima ataukah tidak kecuali Allah Ta’ala saja. 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkoreksi orang tersebut, dan beliau mengganti perkatannya dengan redaksi

أَحَسِبُحُ كَذَلِكَ، وَاللهُ حَسِيْبُهُ

“Aku menyangka dia demikian, dan Allah lah yang akan menghisabnya.”

Karena Allah Ta’ala yang memperhitungkan dan mengetahui amalan seseorang. Allah Ta’ala mengetahui niat dan maksudnya. Inilah adab kepada Allah Ta’ala. Tidak selayaknya seseorang memuji dirinya sendiri di hadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” (QS. An-Najm [52]: 32)

Kesimpulan yang bisa kita pelajari dari hadis ini adalah larangan berlebihan dalam memuji orang lain. Karena tidaklah ada jaminan terhindarnya ujub pada dirinya. Ujub yang membuat dia berkeyakinan kalau dia berhak mendapatkan pujian tersebut. Hal ini menyebabkan dia menelantarkan amal dan tidak punya perhatian kepada ketaatan, karena mengandalkan pujian yang ada pada dirinya. 

Penulis: Azka Hariz

sumber https://muslim.or.id/54736-jangan-terlena-dengan-pujian.html

Siapa Yang Menanam, Pasti Dia Akan Menuai

Kita pasti pernah mendengar peribahasa, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai kejelekan pula. Berikut beberapa contoh dalam Al Qur’an dan hadits yang menceritakan maksud dari peribahasa tersebut.


Menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas sebuah kalimat, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya. Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan,yaitu :

Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.
Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”
Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya.”

Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari syubhat dan syahwat.

Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari Muslim)

Bahkan beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.”
Berlaku jujur akan menuai berbagai keberkahan. Keberkahan yang dimaksud adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.”


Mudah Memaafkan dan Tawadhu’, Menuai Kemuliaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. “
Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat. Begitu pula orang yang tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu’annya di dunia.


Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang membuat kejelekan, dan memaafkan ketika ada yang membuat kesalahan. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Bahkan yang awalnya musuh bisa menjadi teman akrab dengan sebab perilaku semacam ini.”

Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah

Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (H.R. Bukhari)
Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah berfirman, yang artinya, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al Baqarah: 280). Cara kedua, dengan menginfakkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280) .

Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (H.R. Bukhari)


Berbuat Curang, Menuai Berbagai Musibah

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbangm melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kelaliman para penguasa.”
Dan sebab curang dalam perniagaaan inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan, umat Nabi Syu’aib ‘alaihis salam. Allah Ta’ala memerintahkan pada kaum Madyan, “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy Syu’ara: 181-183)

Jadi ingatlah, setiap yang kita tanam -baik kebaikan maupun kejelekan-, pasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.

Para ulama seringkali mengutarakan, “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Sedangkan balasan dari kejelekan adalah kejelekan setelahnya.”

Oleh : Mohamad Toriqul Huda

Buletin An-Anasihah

sumber: https://konsultasiislam.com/artikel/siapa-yang-menanam-pasti-dia-akan-menuai

Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa Bermaksiat

Terkadang setan membisikkan kepada kita agar meremehkan dosa walaupun kecil. Kita merasa tidak apa-apa melakukan dosa ini, karena itu “hanya” dosa kecil dan bukan merupakan dosa besar. Hendaknya kita perhatikan nasehat ulama bahwa bukan besar-kecilnya dosa yang menjadi masalah, akan tetapi kita bermaksiat kepada Allah pencipta kita. Kita buat permisalan, kepada atasan/bos saja, kita hati-hati sekali, jangan sampai melakukan kesalahan walaupun kecil. Kita sangat hati-hati ketika melakukan tugas dari atasan/bos. Tentu kita harus sangat-sangat hati-hati jika bermaksiat kepada Allah, Rabb Penguasa semesta alam yang telah menciptakan alam semesta ini.

Bilal bin Sa’ad berkata,

لا تنظر إلي صغر المعصية, و لكن انظر من عصيت

“Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” [Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal. 82]

Dosa kecil sangat berbahaya jika diremehkan. Dosa yang kecil yang terus-menerus dilakukan akan menjadi dosa besar yang berbahaya, terlebih hatinya meremehkan dosa tersebut. Terdapat ungkapan dari sebagian ulama kita:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِمْرَارَ وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ

“Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan istighfar.”

Bagaimanapun juga, dosa yang kita lakukan besar atau kecil tetap akan membuat hati kita menjadi sakit bahkan mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺫْﻧَﺐَ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﻧُﻜِﺖَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻧُﻜْﺘَﺔٌ ﺳَﻮْﺩَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﻧَﺰَﻉَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﺻُﻘِﻞَ ﻗَﻠْﺒُﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺯَﺍﺩَ ﺯَﺍﺩَﺕْ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻌْﻠُﻮَ ﻗَﻠْﺒَﻪُ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﺮَّﺍﻥُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ : ﻛَﻠَّﺎ ﺑَﻞْ ﺭَﺍﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ

”Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Jika semakin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya. Itulah ‘raan‘ yang disebutkan Allah ta’ala, sekali-kali tidak akan tetapi itulah ‘raan‘ yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an”. (HR. Ahmad, hasan)

Terkait dengan melakukan dosa juga, ada hal penting yang kita ketahui agar kita semua benar-benar takut ketika akan melakukan sebuah maksiat yang tentu merugikan diri sendiri dan bisa jadi orang lain, yaitu bahwa maksiat ini akan mendatangkan maksiat selanjutnya, akan menyebabkan kita cenderung melakukan maksiat selanjutnya.

Inilah yang dimaksudkan bahwa suatu keburukan akan membawa keburukan selanjutnya. Allah berfirman,

ﻭَﺟَﺰَﺍﺀُ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻣِﺜْﻠُﻬَﺎ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. Asy-Syura: 40)

Demikian juga Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jangan pernah merasa aman ketika telah melakukan maksiat karena bisa jadi akan melakukan maksiat selanjutnya yang lebih besar. Beliau berkata,

ﻳﺎ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ، ﻻ ﺗﺄﻣﻦ ﻣﻦ ﺳﻮﺀ ﻋﺎﻗﺒﺘﻪ، ﻭﻟﻤﺎ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﺇﺫﺍ ﻋﻤﻠﺘﻪ

“Wahai pelaku dosa, janganlah merasa aman dari jeleknya akibat dosa, karena dosa yang lebih besar bisa jadi mengiringinya/mengikutinya, lebih besar dari dosa yang telah engkau lakukan (sekarang).” (Hilyatul Auliya’ no. 1180)

Semoga kita dijauhkan dari berbagai dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, karena maksiat yang kita lakukan ini menjadi sebab kesusahan, musibah dan bencana yang turun kepada kita.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuraa :30)

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslim.or.id/42219-bukan-besarnya-dosa-tetapi-kepada-siapa-bermaksiat.html

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (15) dan al-Imam Muslim rahimahullah (44) meriwayatkannya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Adapun lafadz di atas adalah lafadz hadits riwayat al-Imam Muslim rahimahullah.

Untuk hadits ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberikan judul Bab “Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda beriman”.

Adapun al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat judul untuk hadits riwayat Muslim, Bab “Kewajiban untuk Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Melebihi Keluarga, Anak, Orang Tua, dan Seluruh Manusia”.

Siapakah yang disebutkan sebagai objek pembanding di dalam hadits? Anak, orang tua, harta, ataukah seluruh manusia? Seluruhnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81) menerangkan seluruh lafadz dari hadits di atas dari berbagai riwayat. Ksimpulannya, ketika seluruh lafadz hadits dikumpulkan, ternyata yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah harta benda, diri sendiri, anak, orang tua, dan siapa pun orangnya.

Mengapa beliau mengatakan “dan seluruh manusia” setelah menyebutkan “anak dan orang tua”?

Hal ini disebut dengan ‘athful ‘am ‘alal khas, menyebutkan yang umum setelah yang khusus. Cara mengartikan hadits di atas adalah ‘seorang hamba belum dikatakan sempurna imannya sampai ia lebih mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan siapa pun dan apa pun, termasuk ayah ibunya, anak, kerabat, harta benda, pangkat, dan segala hal yang ia cintai’.

Bagaimana halnya dengan kecintaan terhadap diri sendiri? Bahkan, terhadap diri sendiri sekalipun!

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Belum cukup! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai meski dibandingkan dengan dirimu sendiri!”

Sabda itu diucapkan karena Umar radhiallahu ‘anhu menyatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih aku cintai dibandingkan semua hal, kecuali diriku sendiri.”

Lantas Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sungguh, sekarang demi Allah, sungguh Anda lebih aku cintai meski dibandingkan diriku sendiri.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْآ ن يَا عُمَرُ

“Sekarang ini (barulah benar), wahai Umar!” (HR . al-Bukhari no. 6632) 

Lukisan Cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat adalah orang-orang yang telah membuktikan iman dengan selalu mendahulukan, mengutamakan, dan mengedepankan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segalanya.

Lihatlah bagaimana mereka rela mengorbankan harta benda dan jiwa raga untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah seperti apa mereka telah mencurahkan waktu dan tenaga demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sendirian menghadapi sejumlah orang Quraisy yang mengganggu Rasulullah radhiallahu ‘anhu. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dengan mantap selalu membenarkan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun dianggap tidak masuk akal oleh kaum Quraisy. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu yang dengan setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi apa pun. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu adalah contoh pembuktian cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pun demikian. Beliau yang beberapa kali mengatakan, “Izinkan aku memenggal leher orang itu, wahai Rasulullah!”, karena rasa cemburunya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula sikap Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqsah, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat lainnya radhiallahu ‘anhum. Setiap kali membaca kehidupan mereka, kita pasti menemukan besarnya cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul Bari, 1/81—82) berkata, “Termasuk dalam hal ini adalah menolong sunnahnya, membela syariatnya, dan menghadapi para penentangnya. Amar ma’ruf nahi mungkar juga termasuk di dalam hadits ini.”

Artinya, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bagian dari bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka meninggalkan kampung halaman, berkeliling dari satu negeri ke negeri lainnya, berpisah dengan keluarga bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun lamanya, menembus panasnya siang, melewati dinginnya malam, bahkan sakit pun seakan tidak terasa. Apalagi hanya lapar dan haus dahaga.

Sebut saja nama Syu’bah bin al-Hajjaj rahimahullah. Beliau berkeliling dari Kufah menuju Makkah, dari Makkah berlanjut ke Madinah, lalu berangkat ke Basrah dan kembali ke Kufah. Perjalanan itu ditempuh hanya untuk memastikan kebenaran sebuah hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ringkas kata, apa yang telah dilakukan oleh ulama ahli hadits menjadi bukti nyata pengamalan mereka terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Selalu dan siap berkorban apa pun demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan memperjuangkan kemurnian ajaran-ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dan Cintanya kepada Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di masa kita, nama asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah haruslah dimasukkan dalam contoh dan teladan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau buktikan dengan kegemaran dan kesenangannya membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang melebihi manisnya membaca kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, menurut beliau.

“Sungguh, dengan segala puji untuk Allah, saya sangat mencintai kitabullah dan Sunnah al-Gharra’. Apalagi dua kitab Shahih. Membaca dua kitab Shahih bagi saya adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini,” tulis asy-Syaikh Muqbil dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad.

Beliau melanjutkan, “Sungguh, ketika membuka Shahih al-Bukhari dan saya membaca, Qaalal Imamul Bukhaari rahimahullah, haddatsana Abdullah bin Yusuf, qaala haddatsana Maalik; Atau saya membuka Shahih Muslim lalu membaca, Qaalal Imam Muslim rahimahullah, haddatsanaa Yahya bin Yahya, qaalaqara’tu ‘ala Maalik.”

Ketika membaca demikian dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, apa yang beliau rasakan?

“Saya langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia,” lanjutnya.

Inilah puncak cinta! Saat semua kepenatan, kesulitan, dan kesusahan hidup menjadi hilang, pergi dan terhapus dengan membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap nama perawi yang disebut akan mengingatkan kita tentang sosok manusia-manusia penyabar, zuhud, qana’ah, bertakwa, dan bersyukur.

Setiap hadits yang dibaca pasti menjadi tuntunan dan pegangan hidup.

Setiap hadits yang ditelaah akan menjadi pelita penerang.

Hal ini ditanamkan betul kepada murid-murid beliau, yakni kegemaran untuk membaca kitab-kitab hadits. Hal ini terbukti dengan waktu pelajaran kitab hadits yang beliau berikan. Sejumlah kitab hadits beliau bacakan, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ at-Tirmidzi, Mustadrak al-Hakim, dan lainnya.

Barangkali, inilah salah satu rahasia cinta beliau kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjaga cinta itu dengan selalu membaca dan menggali dalam-dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat sempurna.

 

Karya asy-Syaikh Muqbil dalam Bidang Hadits

Dengan membaca, melihat, dan meneliti karya-karya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, kita akan menyimpulkan betapa mendalamnya cinta beliau kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya adalah karya beliau yang diberi judul ash-Shahihul Musnad. Ini adalah sebuah karya yang menyuguhkan dengan apik hadits-hadits sahih yang berada di luar Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadits yang dimuat dipilih melalui syarat dan ketentuan yang sangat ketat. Sebuah karya monumental di bidang hadits dengan susunan musnad (diurutkan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadits).

Lihatlah pula karya beliau yang lain, al-Jami’us Shahih. Inilah satu warisan di bidang hadits dengan mengurutkan bab demi bab berdasarkan judul pembahasan bab-bab fikih. Sebuah bukti kedalaman fikih beliau yang didasari oleh hadits-hadits sahih.

Ada pula al-Jami’us Shahih fil Qadar, karya beliau dalam pembahasan qadha dan takdir dengan menyebutkan riwayat sahih.

Kitab asy-Syafa’ah juga tidak boleh terlewatkan untuk disebut sebagai bukti kecintaan beliau kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab asy-Syafa’ah adalah karya beliau dalam pembahasan syafaat dengan menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang sahih maupun yang dhaif, disertai dengan keterangannya.

Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul adalah karya beliau dalam bidang tafsir dengan menyebutkan hadits-hadits sabab nuzul (sebab turunnya ayat al-Qur’an). Kitab ini merupakan komitmen beliau untuk memurnikan pembahasan sabab nuzul hanya pada hadits sahih. Kitab ini menjadi bahan skripsi beliau di Universitas Islam Madinah.

Terkait bukti-bukti kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan dan pesuruh Allah subhanahu wa ta’ala, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengumpulkan hadits sahih yang menerangkan mukjizat dan tanda kerasulan. Kumpulan hadits ini dituangkan dalam sebuah kitab dan diberi judul ash-Shahihul Musnad min Dalail an-Nubuwwah.

Ringkasnya, karya beliau sangat menekankan pada penyebutan hadits sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syarat ketat dan seleksi yang cermat. Sebut saja sebagai contoh tambahan dalam hal ini adalah Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah, Dzammul Mas’alah, Syar’iyyatus Shalat fin Ni’al, dan Hukmul Jam’i baina ash-Shalatain fis Safar.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Sanad Hadits

Cinta asy-Syaikh Muqbil kepada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatanya benar-benar istimewa. Hal ini dibuktikan dengan semangat dan tekad beliau untuk selalu menyebutkan lafadz hadits secara lengkap. Tidak semata menyebutkan lafadz hadits, beliau pun selalu berusaha mengiringkannya dengan sanad hadits. Sanad hadits artinya mata rantai para perawi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada ulama yang menyampaikan hadits tersebut.

Coba baca dan teliti karya beliau yang tersebut di atas! Hampir semua hadits yang disebutkan selalu disertakan sanadnya. Apa alasan beliau?

Di dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, asy-Syaikh Muqbil rahimahullahmenerangkan, “Adapun alasan menyebutkan lafadz hadits secara lengkap, karena banyaknya faedah di sana. Adapun sebab mengiringkannya dengan sanad, karena para ulama kita tidak akan menerima sebuah hadits kecuali disertai oleh sanadnya.”

Setelah itu, beliau menukilkan pernyataan demi pernyataan ulama yang menekankan pentingnya sanad sebuah hadits. Di antara yang beliau nukilkan adalah pernyataan Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah, “Bagiku, sanad merupakan bagian dari beragama. Kalau sanad tidak ada, pasti semua orang bisa berbicara semaunya.”

Nah, di sinilah rahasia semangat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah untuk selalu menyebutkan sanad hadits. Beliau mendidik dan menggembleng murid-muridnya— juga kita semua—agar tidak sembarangan dan tidak sesuka hati untuk berbicara atas nama agama, kecuali dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menyebutkan sanad hadits, seseorang telah bertindak ilmiah.

Sikap keras asy-Syaikh Muqbil ditujukan kepada mereka yang secara sengaja dan yang mendasarkan sikap bermudah-mudahan untuk menghilangkan sanad hadits. Marilah membaca ucapan beliau dalam Muqaddimah ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul!

“Dengan demikian, mereka yang menghilangkan sanad dari karya tulisnya, menyebutkan hadits-hadits tanpa sanad, bisa dinilai telah berbuat buruk terhadap ilmu dan terhadap pendahulu kita yang saleh, yang telah berjuang keras untuk meneliti sanad dan rela melakukan rihlah (perjalanan panjang) demi mencari sanad hadits,” tulis asy-Syaikh Muqbil.

 

Asy-Syaikh Muqbil, Ilmu ‘Ilal dan Jarh wat Ta’dil

Siapa pun yang pernah berguru kepada asy-Syaikh Muqbil, walau sekali waktu; atau barangkali mendengar suara beliau melalui rekaman atau membaca tulisannya, pasti mampu menilai dan merasakan luasnya ilmu beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah salah satu keajaiban dalam menghafal nama perawi sekaligus biografinya. Seakan-akan ribuan perawi beliau kuasai. Beliau mempunyai keahlian mumpuni, ketajaman, dan kecermatan dalam hal menilai serta kepiawaian untuk menghukumi sahih atau dhaifnya sebuah hadits.

Bagaimana cara membuktikannya? Karya-karya beliau dalam bidang ‘ilalul hadits dan al-jarh wat ta’dil adalah bukti konkret. Contohnya adalah kitab beliau, Ahaditsu Mu’allah Zhahiruha ash-Shihhah. Kitab ini menghimpun hadits yang secara zahir dinilai sahih, tetapi ternyata menyimpan cacat yang memengaruhi kesahihan. Cacat yang dimaksud sifatnya khafiyyah (tersembunyi, samar, dan tidak terlihat). Akan tetapi, para ulama ahli hadits, kemudian asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, mampu menemukannya.

Contoh lain adalah Auhamul Hakim fil Mustadrak. Karya beliau ini sebenarnya berbentuk catatan kaki atau keterangan ringkas tentang kesalahan al-Imam al-Hakim rahimahullah dalam kitab al-Mustadrak yang terlewatkan oleh al-Imam adz- Dzahabi rahimahullah. Adz-Dzahabi sendiri telah berupaya menemukan kesalahan-kesalahan tersebut.

Secara khusus tentang ilmu rijalul hadits, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menyusun nama perawi al-Mustadrak karya al-Imam al-Hakim rahimahullah lengkap dengan biografi ringkasnya yang belum disebutkan dalam kitab Tahdzibut Tahdzib. Karya beliau ini diberi judul Tarajim Rijalul Hakim fi Mustadrakihi alladzina laisu fi Tahdzib at-Tahdzib.

Terdapat pula kitab Tarajim Rijal ad-Daruquthni, karya beliau mengenai biografi ringkas para perawi dalam Sunan ad-Daruqthni.

Karya beliau yang bisa disebut monumental adalah Tahqiq al-Ilzamat wat Tatabbu’, hasil penelitian beliau tentang hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang dikritik oleh ad-Daruquthni. Karya ini disebut monumental karena tidak semua orang dapat berbicara tentang kritikan terhadap hadits Shahihal-Bukhari dan Shahih Muslim.

 

Asy-Syaikh Muqbil dan Pujian Ulama

Selain karya yang membuktikan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah memang sangat pantas untuk menyandang gelar Muhadditsul Jazirah (ahli hadits dari Jazirah Arab), pujian dan pengakuan para ulama ahli hadits zaman ini pun menguatkan lagi.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah, ulama hadits paling terkemuka abad ini yang merupakan guru asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, menukil pendapat asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam bukunya, as-Silsilah adh-Dhai’ifah (5/95), ketika mendhaifkan sebuah hadits.

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Para pakar dalam bidang hadits tidak akan ragu tentang dhaifnya hadits seperti ini. Lihatlah syaikh yang mulia, Muqbil bin Hadi al-Yamani, menyatakan dalam Takhrij ‘ala Ibni Katsir (1/513)—setelah berbicara tentang perawi sanadnya satu per satu, ‘Hadits ini dhaif karena sanadnya terputus, dan Ubaidullah bin al-Walid al-Wushafi yang dhaif’.”

Bukankah pernyataan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di atas adalah bentuk pengakuan akan keilmuan asy-Syaikh Muqbil? Pasti.

Berikutnya adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali yang menyatakan dalam takziyahnya sesaat setelah wafatnya asy-Syaikh Muqbil rahimahullah. Di dalam takziyahnya, asy-Syaikh Rabi’ menyebut asy-Syaikh Muqbil dengan, “… Ahli zuhud, ahli wara’ yang saleh, juga seorang ahli hadits yang telah menginjak kehinaan dunia beserta seluruh keindahannya di bawah kedua telapak kakinya.”

Cukuplah bukti-bukti di atas untuk meyakini asy-Syaikh Muqbil rahimahullah sebagai seorang pakar hadits di abad ini.

Beliau rahimahullah adalah orang yang telah menghabiskan umur dan hidupnya berkhidmat untuk hadits-hadits sebagai tanda cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau rahimahullah adalah seorang hamba yang meyakini, “Membaca dua kitab Shahih—bagiku—adalah kenikmatan yang paling manis di dunia ini.”

Beliau rahimahullah pun seorang teladan yang saat membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku langsung lupa dengan seluruh kesibukan dan persoalan dunia.”

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Apa bukti cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Iben Rifai

sumber: https://asysyariah.com/belajar-mencintai-ilmu-hadits-dari-asy-syaikh-muqbil/