Surat At Takwir
reciter: Hasbuna Abu Syauqi
@HijrahApp
Pertanyaan:
Apa hukum berpegangan tangan dengan istri di tempat umum?
Jawaban:
Saling menggenggam tangan bersama istri di tempat umum, jika tujuannya untuk bermesraan maka tidak selayaknya dilakukan, karena telah menghilangkan rasa malu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu itu salah satu cabang iman.” (Muttafaq ‘alaihi), dalam riwayat Bukhari, “Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan“, dalam riwayat Muslim disebutkan, “Rasa malu itu semuanya baik.” Keadaan ini jika perbuatan semacam ini (bergandengan tangan) tidak termasuk kebiasaan masyarakat setempat. Namun jika sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, maka dibolehkan. Meskipun berusaha menghindari hal ini termasuk citra orang yang terhormat. Para ulama menegaskan bahwa mencium istri di depan umum merupakan sebab penghilang kewibawaan. Al-Bajirami mengatakan, “Mencium wanita, meskipun itu mahramnya di malam kebahagiannya, dengan dilihat banyak orang atau wanita lain telah menggugurkan sifat keadilan (kehormatan status dalam agama), karena ini menunjukkan sikapnya yang rendah, meskipun al-Bulqini mendiamkannya”.
Sumber: Diterjemahkan dari Fatawa Syabakah Islamiyah, dibawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 65794
sumber: https://konsultasisyariah.com/3596-suami-istri-bergandengan-tangan-di-tempat-umum.html
Bagaimana hukum tidur pagi, yaitu setelah shalat Shubuh lanjut tidur kembali?
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,
وَمِنَ المكْرُوْهِ عِنْدَهُمْ : النَّوْمُ بَيْنَ صَلاَةِ الصُّبْحِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ فَإِنَّهُ وَقْتٌ غَنِيْمَةٌ
“Di antara hal yang makruh menurut para ulama adalah tidur setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit karena waktu tersebut adalah waktu memanen ghonimah (waktu meraih kebaikan yang banyak.” (Madarijus Salikin, 1: 369)
Dari ‘Urwah bin Zubair, beliau mengatakan,
كان الزبير ينهى بنيه عن التصبح ( وهو النّوم في الصّباح )
“Dulu Zubair melarang anak-anaknya untuk tidur di waktu pagi.”
Urwah mengatakan,
إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه
“Sungguh jika aku mendengar bahwa seorang itu tidur di waktu pagi maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang shahih).
Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah setelah melaksanakan shalat subuh, mereka duduk di masjid hingga matahari terbit.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Berdasarkan hal di atas, sebagian ulama salaf tidak menyukai tidur setelah shalat subuh.
Kesimpulannya, yang paling afdhol adalah menggunakan waktu pagi untuk aktivitas yang bermanfaat untuk dunia ataupun untuk urusan akhirat.
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam Fatawanya berkata, “Namun jika ada seorang yang memilih untuk tidur di setelah shalat Shubuh agar bisa bekerja dengan penuh vitalitas maka hukumnya adalah tidak mengapa, terutama jika tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk tidur siang dan hanya mungkin tidur di waktu pagi.” (Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 2063)
Baca artikel lainnya “Keberkahan Waktu Pagi” yang berisi bahasan keutamaan waktu pagi dan kebiasaan salaf dalam memanfaatkan waktu pagi dalam kebaikan.
Semoga bermanfaat.
Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq: ‘Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits, cetakan tahun 1424 H.
Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 2063.
—
Selesai disusun di pagi hari penuh berkah, 12 Jumadal Ula 1436 H, di Darush Sholihin
Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber https://rumaysho.com/10435-hukum-tidur-pagi-setelah-shubuh.html
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam, penghulu orang-orang dahulu dan orang-orang yang datang kemudian, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Menikah adalah angan-angan dan mimpi setiap muda mudi, dan bila ia telah terwujud bagi mereka bedua, maka harapan mereka selanjutnya mahligai kebahagian sebagai suami istri. Hal itu karena dasar setiap rumah tangga adalah agar ia dibangun diatas cinta dan kasih sayang, dan anda benar-benar akan prihatin manakala melihat sebuah rumah tangga yang kehilangan sesuatu dari dua pilar ini atau salah satu dari keduanya dan anda berharap seandainya kebahagiaan itu bisa dibeli, niscaya anda akan membelinya dengan apa yang anda miliki dan menghadiahkannya kepada rumah tangga itu.
Seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala:
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum:21)
Banyak yang beranggapan bahwa kebahagiaan hanya digapai oleh orang-orang yang hidup makmur, bergelimbang kemewahan dan memiliki rumah dan real etalase megah. Tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa orang-orang yang bersahaja dan orang-orang yang hidup sederhana dan cukup adalah orang-orang yang paling berbahagia. Karena itu, dan karena alasan lain yaitu harapan dan optimisme akan rumah surga, negeri kebahagiaan sejati nan abadi.
Setiap orang yang akan memasuki gerbang pernikahan harus menyadari bahwa merupakan suatu yang alamiah dan lumrah yaitu adanya perselisihan diantara suamiistri dalam batas-batas yang logis. Tidak ada rumah tangga yang bebas dari yang seperti ini., bahkan rumah Nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam pernah marah kepada para istri beliau bahkan memisahkan diri dari mereka selama satu bulan, termasuk diantara mereka ada Aisyah Rhadiyallahu Anha istri beliau yang paling dicintai.
Perselisihan dalam rumah tangga adalah garam bagi hubungan suami istri, sehingga bila tidak ada, maka kehidupan suami istri kehilangan rasa dan hambar, sebagaimana bila ia terlalu banyak akan merusak rumah tangga. Bangunan kehidupan suami istri itu harus dibangun atas dasar menjaga hak dan kewajiban. Kebahagiaan akan tergerus manakala masing-masing dari suami-istri hanya menuntut hak-hak semata tetapi manakala keduanya memandang hidup berumah tangga itu bahwa ia juga merupakan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan kemudian dia menantikan pihak lain menunaikan hak-hak baginya, maka suami istri telah menempuh jalan pintas untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Hendaknya suami istri mencari kewajiban kepada pasangan kita dan menunaikannya sesuai kadar kemampuan, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al-Baqarah:286)
Hidup yang hanya terbangun di atas dasar hak dan kewajiban saja, adalah kehidupan yang gersang, didalamnya tidak ada nuansa keindahan hidup dan tidak ada pancaran kesejukan. Siapa yang menginginkan kebahagiaan, maka hendaklah memegang kendali untuk segera memulai, tanpa harus menunggu dari pihak lain, karena setan kadang berbisik kepada salah seorang dari kita bahwa dirinyalah yang siap melakukan perbaikan, tetapi pihak lain tidak siap, sehingga dengan perasaan seperti itu setan menghalanginya untuk bersegera melakukan perbaikan, sehingga setan akan menari di atas penderitannya.
Suami istri harus menerima kodrat pasangan masing-masing maksudnya adalah suami harus memperlakukan istrinya sebagai seorang wanita, dan seorang istri harus memperlakukan suaminya sebagai seorang laki-laki, dengan memperhatikan sisi-sisi perbedaan kebutuhan, baik jasmani maupun rohani diantara kedua belah pihak. Hal itu dikarenakan banyak problem rumah tangga muncul karena kelalaian terhadap perkara ini. Seorang istri memperlakukan suaminya seolah-olah dia adalah salah seorang teman wanitanya, lalu suami juga demikian.
Suami seharusnya menerima istrinya tetap sebagai seorang wanita dengan tetap memperhatikan tabiat dan kecendrungannya begitu pula istri harus menerima tetap sebagai seorang lai-laki yang menyukai dan cenderung kepada hal-hal yang disukai laki-laki pada umumnya.
Didalam rumah tangga harus ada komunikasi yang baik dan saling berterus terang, tetapi pasti ada perselisihan dan terjadinya problem diantara suami-istri adalah sesuatu yang alamiah, yang kadang muncul sebagai konsekuensi logis dari hidup berbaur satu sama lain, dan ketergantungan masing-masing dari keduanya kepada pasangan hidupnya dalam banyak urusan hidup. Oleh karena itu komunikasi yang baik adalah patokannya. Bila suami-istri menyadari saling berterus terang yang seimbang bisa menghilangkan amarah dalam dada dan menghapus celaan dalam jiwa serta menguatkan ikatan hubungan diantara keduanya sehingga mereka menjadi siap menerimanya, bahkan berbahagia karenanya dan menjadikannya sebagai anak tangga untuk mendaki, mencapai puncak kebahagiaan.
Salah bisa terjadi pada siapapun, namun masalahnya adalah saat suami atau istri tahu dirinya salah tetapi ngotot mempertahankan kesalahannya dan menolak mengakuinya dengan alasan bahwa mengaku bersalah dihadapan pasangan akan membuat pasangan lancang terhadapnya dan membuat kehormatannya jatuh, inilah asumsi yang keliru yang dihiasi oleh setan. Maka dari itu Suami-istri harus membiasakan untuk mengatakan “Maaf”, Aku yang salah. Dan suami istri harus memaafkan tujuannya untuk mencapai rumah tangga yang bahagia dengan saling memaafkan.
Hubungan yang akrab diantara suami-istri dan hidup dalam satu atap dalam waktu yang panjang akan mengungkap rahasia-rahasia dan keistimewaan yang ada diantara mereka berdua yang tidak terjadi terhadap orang lain. Karena itu mereka berdua wajib menjaganya dan tidak menyebarkannya dan bila kepercayaan diantara suami-istri sudah runtuh maka itu memberitahukan akan kehancuran rumah tangga. Yang paling banyak harus diwaspadai oleh suami-istri adalah membuka rahasia saat keduanya menghadapi masalah tertentu harus benar-benar waspada dan hati-hati. Diantara rahasia kehidupan suami-istri adalah keadaan ekonomi suami tidak rela dibuka kepada siapapun dalam keadaan kaya atau miskin.
Suami mempunyai prioritas dan keinginan yang privat begitu juga istri. Dan bisa jadi memang ada perhatian dan keinginan masing-masing, yang tidak menyentuh atau tidak berkaitan dengan yang lain secara langsung. Akan tetapi seharusnya adalah masing-masing suami-istri ikut menceburkan diri bersama pasangannya maksudnya disini yaitu segala permasalahan keluarga, dimana masing-masing mengikutsertakan pasangannya dan bergandengan bersama menghadapinya dan tentu selama itu tidak membuatnya sempit atau menjerumuskannya kedalam suatu dosa. Itu karena pekerjaan atau keinginan pasangan adalah bagian dari dirinya. Keterlibatan kita didalamnya akan semakin menambah kedekatan kita kepadanya dan akan membuatnya merasa adanya perhatian kita terhadap segala sesuatu yang dia inginkan dan usaha kita dalam melakukan apa yang menyenangkan dan membahagiakannya.
Apa yang menghalangimu wahai suami untuk melibatkan diri dalam membantu istri menata isi ruangan? Atau membagi urusan pekerjaan dengannya? Demikian juga engkau wahai istri, itu adalah suatu hal yang indah bila engkau ikut serta memikirkan pekerjaan suami dan membantu menyelesaikannya. Seandainya suamimu seorang guru, misalnya, kamu bisa membantunya mengetik soal-soal latihan (untuk siswa) di perangkat komputer sebagai pengganti suamimu yang melakukannya sendiri.
Pentingnya hubungan yang baik suami dengan keluarganya dan juga istri dengan keluarganya merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak perlu diingatkan dan diserukan. Syariat sendiri menetapkannya dan seorang muslim patut membantu orang lain dalam hal ini. Dia akan berdosa bila mengajak sebaliknya lalu bagaimana bila dia adalah suami atau istri. Dorongannya kepada silaturahim termasuk dari cinta dan perhatiannya.
Termasuk perhatian suami atau istri adalah perhatian keluarganya. Perasaan suami bahwa istrinya memperhatikan keluarganya, menanyakan keadaan mereka, melakukan kunjungan kepada mereka dan berusaha untuk dekat dengan mereka menunjukkan secara tidak langsung kepada cinta yang ada dalam hatinya yang menjadikannya menyambung kerabatannya. Ini meningkatkan posisi istri disisi suami dan cinta kepadanya. Istripun akan demikian manakala dia melihat suaminya melakukannya.
Suami-istri kadang melewati saat-saat dan hari-hari yang penuh kegembiraan dan kemesraan dan kadang juga ada waktu yang dilalui dengan kesedihan dan kepedihan. Yang sedang berbahagia menanti orang yang mengucapkan selamat kepadanya, sementara yang bersedih menunggu siapa yang menghiburnya. Dan orang yang pertama yang dinantikan ikut serta (dalam suka duka) adalah suami atau istri, karena hal itu merupakan bukti nyata adanya kesetiaan dan cinta yang jujur. Dan secara otomatis tidak hanya reaksi seperti berpura-pura tidak tahu atau tidak peduli, yang dapat menyebabkan saling menjauhinya dan timbul hati dan perasaan bosan.
Disini ada perkara penting yang patut dicermati yaitu bahwa salah satu dari suami-istri terkadang mengalami sesuatu bahwa satu dari suami-istri terkadang mengalami sesuatu yang dia lihat merupakan kebahagiaan dan kegembiraan atau sebaliknya musibah yang menyedihkan, tetapi pasangannya tidak memiliki pandangan yang sama. Sebagai contoh, istri menangis manakala mendengar ucapan seorang temannya yang dianggap penghinaan baginya, sementara suami melihat bahwa ucapan tersebut tidak perlu ditangisi. Dalam kondisi seperti ini suami hendaknya berempati terhadap perasaan istri dalam batas yang bisa diterima akal, sehingga bisa mengurai kemelut masalah bukan malah membesar-besarkan dan memperuncingnya, karena empati suami merupakan hiburan kepada istri dan membantunya untuk melewati masalah yang dihadapinya.
Demikian artikel ini ditulis, semoga bisa bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca secara umum, serta menambah wawasan kita dalam membangun berumah tangga yang bahagia walapun dalam hidup penuh kesederhaan. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala jadikan tulisan singkat ini dapat menjadi penolong di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
REFERENSI:
Diringkas dari :Suami Istri dalam Rumah Mungil penuh Bahagia, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi April 2018
sumber: https://kuncikebaikan.com/suami-istri-dalam-rumah-mungil-penuh-bahagia-bagian-1/
Mengunjungi dan menjenguk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, terutama orang yang memiliki hubungan dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara yang senasab, sahabat dan lain sebagainya. Menjenguk orang sakit termasuk amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, kepada ampunan, rahmat dan Surga-Nya.
Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung, serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ
“Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Terakhir, hendaknya orang yang membesuk mendoakan orang yang sakit:
لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ
“Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh.” (HR. al-Bukhari).
Atau doa:
أَسْأَلُ اللَّهَ العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkan penyakitmu.” (HR. at-Tirmidzi, dan Abu Daud)
—
Penulis: Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/23380-keutamaan-menjenguk-orang-sakit.html
catatan: besok, Sabtu pukul 17.00WIB, quis pekanan akan aktif. yuk muraja’ah 5 materi terakhir serial belajar tauhidnya 🙏
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:
Ain bisa menimpa benda mati dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan ‘ain menimbulkan mudharat kepada yang objeknya dalam bentuk yang berbeda-beda.
Diantara sarana yang bermanfaat untuk mencegah ‘ain adalah :
Dan agar tidak menimpakan ‘ain kepada orang lain adalah dengan mendoakan keberkahan untuk sesuatu yang Kita ta’jub kepadanya dan menghindari hasad (iri, dengki) kepada orang lain.
selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 15. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Banyak yang bertanya mengapa sudah berusaha bekerja dengan keras dan pintar, mencoba berbagai strategi bisnis terbaru, namun tetap saja hasilnya tidak memuaskan, apakah saya sudah ditakdirkan untuk mempunyai rezeki yang sedikit atau ada sebab – sebab lainnya ?
Sebelum menyatakan ini adalah takdir saya, sebaiknya lakukan introspeksi diri jangan-jangan kita terjatuh kedalam kesalahan yang disinggung oleh hadits berikut ini :
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim
Silahkan baca artikel berikut ini untuk mendapatkan penjelasan tentang hadist ini. Semoga bermanfaat.
BERIBADAH KEPADA ALLAH SEPENUHNYA
Oleh
Syaikh Dr Fadhli llahi
Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Saya akan membahas masalah ini –dengan memohan pertolongan kepada Allah- dari dua hal.
Pertama: Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya
Kedua : Dalil Syar’I Bahwa Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya Adalah Di Antara Kunci-Kunci Rizki.
Pertama : Makna Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya
Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimaksud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud –wallahu a’lam- adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahaesa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits.
“Artinya : Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu” [Lihat, Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Bayanul Iman wal Islam wa Ihsan…., penggalan dari hadits no.5 (9), 1/39]
Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.
Menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Beribadahlah sepenuhnya kepadaKu”.
Al-Mulla Ali Al-Qari berkata ; ‘Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkosentrasi) untuk beribadah kepada Tuhamnu” [Murqatul Mafatih, 9/26. Lihat pula, Tuhfatul Ahwadzi, di dalamnya disebutkan : Kosongkanlah (hatimu) dari urusan-urusanmu untuk menta’atiKu” 7/140]
Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki.
Ada beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki. Beberapa nash tersebut di antaranya adalah.
[1] Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan [1] dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” [2]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut menjelaskan, bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua hadiah sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya dengan sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedang dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.
[2] Hadits riwayat Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan” [3]
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berapa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar beribadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.
Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan akan ancaman Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.
Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan Mahaperkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya, siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Mahakuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorangpun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Mahaperkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang mampu memberinya waktu luang.
[Disalin dari buku Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah hal 36-40, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Darul Haq]
_________
Foote Note.
[1] “Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan”. Dikhususkan penyebutan kata ‘tangan’ karena pekerjaan itu dilakukan dengan keduanya. [Lihat, Faidhul Qadir, 2/308]
[2] Al-Musnad, no 8681, 16/284 ; Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Shifatil Qiyamah, Bab no. 2584, 7/140 dan lafazh ini miliknya ; Sunan Ibni Majah, Abwabuz Zuhd, Al-Hammu bid Dunya, no. 4159, 2/408 ; Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabut Tafsir, 2/443. Imam At-Tirmidzi berkata, Hadits ini hasan gharib (Jami’ut Tirmidzi, 7/141). Imam Al-Hakim berkata, Ini adalah hadits yang sanadnya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. (Al-Mustadrak 2/443). Dan in disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, At-Talkhish, 2/443). Syaikh Al-Albani berkata, Shahih [Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/300 ; Shahih Sunan Ibni Majah, 2/393]
[3] Al-Mustadrak ‘Alash Shahihaian, Kitabur Riqaq, 4/326. Imam Al-Hakim berkata, ‘Sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya’. (Op.cit, 4/326). Dan hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. Lihat, At-Talkhish, 4/326. Syaikh Al-Albani berkata, Tentang hadits ini, memang seperti yang dikatakan oleh keduanya [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah,no. 1359, 3/47]
sumber: https://pengusahamuslim.com/410-sibuk-bekerja-namun-rezeki-tak-kunjung-datang.html
Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan beberapa keistimewaan hari Jum’at,
الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا، وسمعته يقول: إذا كان الله قد أمرنا بالصدقة بين يدي مناجاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالصدقة بين يدي مناجاته تعالى أفضل وأولى بالفضيلة
Keutamaan yang keduapuluh lima,
“Bahwa sedekah di hari Jum’at memiliki keistimewaan khusus dibandingkan hari yang lain. Sedekah di hari Jum’at, dibandingkan dengan sedekah di hari yang lain, seperti perbandingan antara sedekah di bulan ramadhan dengan sedekah di selain ramadhan.
Saya pernah melihat Syaikhul Islam – rohimahullah – apabila beliau berangkat Jum’atan, beliau membawa apa yang ada di rumah, baik roti atau yang lainnya, dan beliau sedekahkan kepada orang di jalan diam-diam. Saya pernah mendengar beliau mengatakan,
“Apabila Allah memerintahkan kita untuk bersedekah sebelum menghadap Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka bersedekah sebelum menghadap Allah lebih afdhol dan lebih besar keutamaannya..”
[ Zaadul Ma’ad – 1/407 ]
Apa manfaat ingat mati atau mengingat kematian?
Berikut beberapa faedah atau manfaatnya yang sengaja penulis sarikan dari penjelasan ulama sebagai nasehat untuk kita semua.
1- Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2- Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه
“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)
3- Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.
4- Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه
“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).
5- Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.
Imam Qurthubi menyebutkan dalam At Tadzkiroh mengenai perkataan Ad Daqoq mengenai keutamaan seseorang yang banyak mengingat mati:
1- menyegerakan taubat
2- hati yang qona’ah (selalu merasa cukup)
3- semangat dalam ibadah
Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman:
1- menunda-nunda taubat
2- tidak mau ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah beri
3- bermalas-malasan dalam ibadah.
Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit cinta dunia dan takut mati.
Referensi:
Ahkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, Kholid Hannuw, terbitan Dar Al ‘Alamiyah, cetakan pertama, 1432 H, hal. 9-13.
—
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN TAJASSUS & AGUNGNYA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM
Allah ta‘ala berfirman,
وَلَا تَجَسَّسُوا
“Dan janganlah kalian ber-tajassus (mencari-cari kejelekan orang lain).” [Al-Hujurat: 12]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
أي لا تسألوا عن السر
“Maknanya: Janganlah bertanya (untuk mencari-cari aib) yang tersembunyi.” [Fathul Baari, 1/96]
Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,
أي: لا تفتشوا عن عورات المسلمين ولا تتبعوها واتركوا المسلم على حاله، واستعملوا التغافل عن أحواله التي إذا فتشت ظهر منها ما لا ينبغي
“Maknanya: Janganlah kalian memeriksa dan mencari-cari aib-aib kaum muslimin, biarkanlah seorang muslim sesuai kondisinya, dan hendaklah menutup mata dari kondisi-kondisinya yang apabila engkau memeriksanya akan nampak darinya apa yang tidak sepatutnya.” [Tafsir As-Sa’di: 801]
AGUNGNYA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Janganlah kalian saling dengki, janganlah saling melakukan najasy (menawar suatu barang dengan harga yang tinggi padahal tidak niat membelinya tetapi hanya untuk memancing orang lain agar menawar dengan harga yang lebih tinggi), janganlah saling membenci, janganlah saling mencari-cari kejelekan, janganlah saling membelakangi, janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka janganlah menzaliminya, janganlah menghinanya, (dalam riwayat At-Tirmidzi: janganlah mengkhianatinya dan janganlah berdusta kepadanya) dan janganlah merendahkannya.
Ketakwaan itu di sini, seraya beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek apabila dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
BAHAYA MEMBONGKAR AIB SEORANG MUSLIM
Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
.
“Wahai orang yang baru masuk Islam dengan lisannya, sedang iman belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah merendahkan mereka, dan janganlah mencari-cari aib-aib mereka, karena sesungguhnya, barangsiapa yang mencari-cari aib saudara muslimnya maka Allah akan mencari-cari aibnya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari aibnya niscaya Allah akan menyingkap kejelekannya walaupun terdapat di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi, Shahihut Targhib: 2339]
KEUTAMAAN MENUTUPI AIB SEORANG MUSLIM
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
sumber: https://taawundakwah.com/mutiara-sunnah/jangan-tajassus-agungnya-kehormatan-seorang-muslim/