[Kitabut Tauhid] 49. Keutamaan memurnikan tauhid 14

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Ain adalah : Seorang yang memandang, (kemudian pandangannya tersebut) menimbulkan gangguan pada yang dipandangnya. ‘Ain itu benar-benar ada dan terjadi dengan izin Allâh -‘Azza wa Jalla-.

Asalnya ‘ain itu dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut. ’Ain juga dapat terjadi bersama rasa takjub walau tanpa adanya sifat iri, walau dari orang yang mencintai dan dari seorang yang shalih (tanpa disengaja).

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 14. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Sifat Orang Munafik Dalam Urusan Ibadah

1.SENANG DENGAN KEMAKSIATAN 
Orang yang beriman bisa saja terjatuh dalam kemaksiatan karena mengikuti hawa nafsunya, akan tetapi dia akan segera bertaubat dan memperbaiki diri, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءُ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering berbuat kesalahan adalah orang yang mau bertaubat [1]

Dia akan menyesali dan merasa berat dengan dosa yang dia lakukan, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu :

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

Seorang Mukmin melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung dia takut gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir, dia melihat dosa-dosanya seperti melihat lalat hinggap dihidungnya dengan sekali kibasan maka lalat itu akan pergi.” [2]

Ini berbeda dengan orang munafik yang bersuka ria dan merasa nyaman dengan perbuatan dosa dan maksiatnya. Padahal menampakkan perbuatan maksiat dan merasa senang dengannya adalah bentuk kemaksiatan tersendiri yang akan ditambahkan dosanya dengan kemaksiatan pertama.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ

Jika perbuatan baikmu membuatmu gembira dan perbuatan burukmu membuatmu bersedih, berarti kamu seorang Mukmin” [3]

Allâh menyebutkan tentang orang-orang munafik:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasûlullâh , [At-Taubah/9:81]

Mereka senang dengan tidak ikut serta dalam jihad bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan bahkan itulah yang mereka inginkan. Ini menunjukkan lemahnya keimanan atau bahkan hilangnya keimanan dari dada mereka.

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa mengoreksi dan memperbaiki keimanan, agar jangan sampai terjatuh kepada sifat kemunafikan ini.

2. B ENCI DENGAN KETAATAN 
Dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla mengaitkan antara iman dan amal shalih, karena amal adalah bagian dari iman dan merupakan bukti serta buah dari keimanan yang benar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ  ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh , maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” [Al-Kahfi/18:88]

Mereka yang beriman melaksanakan amal shalih dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Mereka juga mencintai Allâh Azza wa Jalla dan mencintai apa-apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla dan mencintai setiap amalan yang akan mendekatkan mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Mereka mendapatkan ketenangan dari ibadah yang mereka lakukan.

Inilah keadaan orang yang beriman. Keimanan sudah tertanam di hatinya. Dia telah merasakan kelezatan ibadah dan keimanan tersebut telah berbuah amal shalih dan akhlak mulia.

Ini berbeda dengan orang munafik. Mereka tidak merasakan kelezatan iman dan tidak mencintai Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, mereka tidak mencintai amalan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Ketika melaksanakan ketaatan, bukan ketenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati melainkan kesempitan, kesusahan dan kesedihan. Hati mereka ingkar, akidah mereka rusak dan nurani mereka gelap.

Mereka membenci agama ini dan seluruh syiar-syiar dan syariat-syariat Islam. Kalaupun terlihat mengerjakan amal ibadah, maka mereka mengerjakannya sekedar terbebas dari beban ibadah itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ  ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا  ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasûlullâh, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allâh dan mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. [At-Taubah/9:8]Baca Juga   Pengaruh Ibadah Bagi Seorang Muslim

Sebagai contoh dalam masalah infak, mereka berinfak namun disertai rasa benci. Mereka benci infak, benci orang yang mereka beri bahkan mereka benci keadaan yang mengharuskan mereka berinfak. Mereka tidak menginfakkan harta kecuali dalam keadaan terpaksa, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah/9:54]

Bahkan, orang munafik berusaha menempuh berbagai cara agar bisa terlepas dari ibadah. Mereka berani bersumpah dusta, mengajukan udzur dan mencari-cari alasan atas ketidakikutsertaan mereka  dalam suatu amal ibadah, seperti dalam masalah jihad. Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang keadaan mereka, dalam firman-Nya, yang artinya, “ K alau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allâh: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri [644] dan Allâh mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. [At-Taubah/9:42]

Mereka enggan melakukan ketaatan kecuali dalam keadaan malas dan benci terhadap amal ketaatan dan kebaikan.

3. M ALAS MELAKSANAKAN SHALAT 
Shalat bagi orang beriman adalah penyejuk hati. Dengan shalat, mereka bermunajat memohon kepada Allâh, mendekatkan diri kepada-Nya, meminta segala hajat kebutuhan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ

Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat [4]

Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu menggambarkan bagaimana semangatnya para salaf dalam menunaikan shalat. Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Sungguh seorang laki-laki didatangkan dengan dipapah oleh dua orang dan diberdirikan di shaf.” [5]

Semua ini, karena mereka mengetahui arti shalat dan kemuliaannya serta derajatnya yang tinggi.

Ini berbanding terbalik dengan orang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah/9:54]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia . Dan tidaklah mereka menyebut Allâh Azza wa Jallaecuali sedikit sekali [An-Nisȃ’/4:142]

Dan shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ الْعِشَاءُ وَالْفَجْرُ

Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh [6]

Diantara bentuk peremehan mereka terhadap shalat:

  1. Tidak ikut shalat berjamaah bersama kaum Muslimin.
  2. Melaksanakan shalat dengan rasa malas dan rasa enggan.
  3. Riya’ dan menghiasi shalatnya agar dilihat manusia.
  4. Tidak menghadirkan hati dan tidak khusyu’.
  5. Mengakhirkan waktu shalat atau menunda-nunda pelaksanaan shalat.

Maka, hendaklah setiap Muslim mengetahui apa yang menyebabkan mereka lalai dari shalat, agar mereka bisa menghindarinya sehingga tidak terjerumus dalam kemunafikan. Diantara sebab-sebab itu adalah :

  1. Tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga menghalangi seseorang dari mengingat Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan shalat.
  2. Sibuk dengan urusan dunia, hingga lupa tujuan dia diciptakan di dunia ini yaitu untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla .
  3. Pendidikan yang buruk yang menyebabkan peserta didik kurang memperhatikan shalat.
  4. Bergadang malam, sehingga menyebabkan luput dari mengerjakan shalat Shubuh.
  5. Tidak mengetahui pentingnya shalat dan bahayanya meninggalkan shalat.
  6. Kurangnya nasehat dari orang-orang yang berkewajiban memberikan nasehat dan peringatan kepada orang-orang yang tidak shalat.

Baca Juga   Nikmat Berujung Bencana Pelajaran Dari Kehancuran Kaum Saba’

Semoga Allâh Azza wa Jalla membersihkan kaum Muslimin dari kesalahan dan kekeliruan yang besar ini.

4. M EMERINTAHKAN P ERKARA YANG MUNKAR DAN MELARANG PERKARA YANG MA’RUF 
Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah setiap perkara yang dianggap baik secara syariat dan diperintahkan untuk dilakukan seperti tauhid dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan al-munkar adalah setiap perkara yang diingkari syariat dan akal yang selamat, seperti kesyirikan dan seluruh kemaksiatan

Orang yang fitrahnya belum berubah dan belum tercemari sifat-sifat jahiliyah, mereka pasti mencintai kebaikan dan membenci kemungkaran. Karena perkara yang mar’uf termasuk perkara yang dikenal oleh jiwa yang suci dan lurus sedangkan  perkara yang mungkar diingkari oleh jiwa dan dijauhi. Karena jiwa itu tahu bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan melakukan perbuatan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran.

Ini tidak sama dengan orang-orang munafik. Jiwa mereka terbiasa dengan kebatilan yang melekat dalam setiap keadaan, sehingga fithrah mereka terbalik. Mereka memandang  perkara yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan kemungkaran sebagai sesuatu yang ma’ruf . Mereka bahu membahu dalam memerintahkan kepada kekufuran, kesyirikan, perbuatan maksiat dan mencegah perbuatan baik dan bahkan jika mampu, mereka akan memerangi kebaikan dan menyakiti orang-orang yang melakukan kebaikan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ  ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ  ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ  ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya . Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik [At-Taubah/9:67]

Adapun orang-orang yang beriman, mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ  ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ  ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ  ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allâh dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allâh; sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At-Taubah/9:81]

Kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita dijadikan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan dijauhkan dari sifat kemunafikan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] 
_______ 
Footnote 
[1] HR. At-Tirmidzȋ, no. 2499; Ibnu Mȃjah, no. 4251; Al-Hȃkim, 4/244. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh al-Albani. Lihat Misykatul Mashȃbȋh 
[2] HR. At-Tirmidzȋ, no. 2497 
[3] HR. Ahmad, 5/252; Ibnu Mȃjah, 1/200; Al-Hȃkim, 1/14. Imam adz-Dzahabi menilai hadits ini shahih . Syaikh al-Albani juga menilai hadits ini shahih dalam as-Silsilah ash-Shahîhah , no. 550 
[4] HR. Ahmad, no. 2293; An-Nasȃ’i, no. 8887; Abu Ya’lȃ, no. 3482; Ad-Dhiya’, no. 1608 dan al-Albȃni menilai hadits ini shahih dalam Shahȋhul Jȃmi’ ash-Shaghȋr no. 3119 
[5] HR. Muslim, Kitabul Imȃm , 5/156 
[6] HR. Al-Bukhâri, 2/165 dan  Muslim, 5/154

sumber: https://almanhaj.or.id/6851-sifat-orang-munafik-dalam-urusan-ibadah.html

Suami Memperlakukan Istri Semena-Mena

Pertanyaan:

Syaikh Shalih Fauzan ditanya:

Seorang suami telah berbuat semena-mena dan membiarkan istrinya selama dua tahun dalam keadaan tanpa ditalak dan dipisahkan dari anak-anaknya serta tidak diberi nafkah. Sementara kondisi kehidupannya sangat memprihatinkan karena tidak ada yang memberi nafkah sama sekali kecuali hanya berharap kepada Allah Ta’ala. Bagaimana sikap suami seperti ini yang berbuat semena-mena dan menelantarkan keluarganya?

Jawaban:

Tidak diragukan lagi bahwa istri mempunyai hak atas suaminya yang harus ditunaikan, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”(QS. An-Nisa: 19).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atasmu.”

Dan firman Allah Ta’ala

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228).

Dan Allah juga berfirman,

فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحُ بِإِحْسَانٍ

“Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229).

Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan kepada suami agar bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam memenuhi hak istri dan tidak boleh mengurangi hak-haknya kecuali yang dibenarkan menurut syariat seperti pada waktu nusyuz.

Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 2, Darul Haq, Cetakan VI 2010

Referensi:  https://konsultasisyariah.com/10481-suami-memperlakukan-istri-semena-mena.html

Diam itu Lebih Baik dari Pada Kita Melampiaskan Kemarahan

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Pada materi tersebut salah satu cara untuk memenej marah adalah dengan tidak melampiaskan dengan perkataan dan perbuatan. Kadang meskipun tidak mengatakan hal yang menyakitkan orang lain, tapi hati sering bergejolak karena marah bahkan terkadang memikirkan hal yang tidak baik terhadap orang lain tersebut. Apakah hal tersebut lebih baik dari pada tidak bisa menahan lisan dan perbuatan?

Terima kasih..

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam T04-3936)

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terimakasih kami haturkan kepada penanya dan kami berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa menganugrahkan kepada kita semua sobron jamila/kesabaran yang indah.

Jawaban dari pertanyaan antum ialah ; Diam itu lebih baik dari pada kita melampiaskan kemarahan kita. Dalilnya ialah sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam”. (HR Muslim : 47).

Saudara kami yang dirahmati oleh Allah, marah adalah musuhnya akal, ketika seseorang marah maka akal tidak akan memaksimalkan fungsinya. Gelap dan bahkan buta dan tidak mampu melihat kebenaran.
Al Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah mengatakan :

وعين الرضا عن كل عيب كليلة : ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Mata yang ridha itu melihat seluruh aib sebagai sebuah keindahan.
Namun mata kemarahan akan menampakkan semua keburukan”.
(Al-Aghani : 12/250, Ushul Fiqh ‘Ala Manhaji Ahlil Hadits : 54/397).

Marah ini merusak akal seperti serigala merusak domba yang menjadi mangsanya. Dalam kondisi marah seseorang tidak akan mampu membedakan kebenaran dari kebatilan. Sifat mudah marah adalah sifat buruk yang sangat sedikit manusia bisa selamat darinya. Namun demikian manusia yang sama sekali tidak bisa marah juga tidak baik. Dan ketika kita marah maka yang terbaik ketika itu adalah diam agar kita tidak mengucapkan kata-kata yang itu di luar kendali kita hingga kita akan menyesal kelak.

وهل نؤاخذ بما تكلمت به ألسنتنا ؟ قال : فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم فخذ معاذ ثم قال : ” يا معاذ ثكلتك أمك وهل يكب الناس على مناخرهم في جهنم إلا ما نطقت به ألسنتهم فمن كان يؤمن بالله واليوم والآخر فليقل خيراً أو يسكت عن شر. قولوا خيراً تغنموا واسكتوا عن شر تسلموا

“Apakah kita akan disiksa atas apa yang dikatakan oleh lisan kita ?
Maka rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memukulnya sembari berkata : Wahai Muadz celaka engkau bukankah manusia itu tidaklah diseret terbalik di neraka jahannam melainkan disebabkan aatas apa yang diucapkan oleh lisannya. Maka barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau ia diam dari keburukan. Berkatalah yang baik engkau akan beruntung dan diamlah dari keburukan engkau akan selamat”. (HR Muslim dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 412).

Berbicara dalam keadaan tidak marah saja seperti ini akibatnya, apalagi ketika kita berbicara dalam keadaan marah, apalagi tujuannya hanya untuk melampiaskan kemarahan. Tentu yang keluar adalah hal-hal buruk yang akan kita sesali kelak. Kelak di akhirat tidak ada orang menyesal karena diam, namun banyak sekali manusia menyesalkarena berbicara. Oleh karena itulah nabi bersabda dalam hadits tersebut di atas ; “Diamlah dari mengucapkan keburukan engkau akan selamat”.

Dan di sana ada amarah yang terpuji yaitu amarah yang muncul karena Allah, atas nama Allah, atas nama agama. Adapun marah karena ego, karena musrni emosi semata maka ia adalah marah yang tercela dan lebih baik kita diam pada saat itulah diam akan menjadi emas bagi kita.

Wallahu a’lam.

Referensi ;

Shahih Muslim oleh Al Imam Muslim
Ushul Fiqh ‘Ala Manhaji Ahli Hadits oleh Syaikh Zakariya bin Ghulam Al Bakistani.
Silsilah Ahadits Ash-Shahihah Oleh Al Imam Al-Albani.

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati

sumber: https://bimbinganislam.com/seni-bermuamalah-dengan-marah-2/

Orang Paling Lemah Menurut Rasulullah

Allâh Ta’âla telah memerintahkan hamba-Nya untuk memanjatkan doa kepadaNya, karena memuat kemaslahatan bagii mereka. Allâh Ta’âla berfirman: 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghâfir/40:60).

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata, “Ini di antara bukti kelembutan Allah Ta’âla terhadap para hamba dan nikmat-nikmat-Nya yang agung, yaitu Allâh Ta’âla menyeru mereka untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bagi agama dan dunia mereka. Dia Ta’âla memerintahkan mereka untuk berdoa kepada-Nya, doa ibadah dan doa permintaan, dan memberikan janji kepada mereka akan mengabulkan permohonan mereka”. (Taisîru al-Karîmi ar-Rahmân hlm.810)

Sementara Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh bertutur, “Pada ayat yang mulia ini, terdapat perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan janji-Nya untuk mengabulkannya, serta ancaman-Nya terhadap orang-orang sombong yang enggan beribadah kepada-Nya dengan memasukkan mereka ke dalam Neraka dalam keadaan hina lagi nista”.

Beliau melanjutkan, “Doa secara mutlak bermakna permohonan hamba kepada Rabbnya untuk berkenan mendatangkan kebaikan (bagi dirinya dan menyingkirkan keburukan (dari dirinya). Inilah yang dimaksud dengan doa mas`alah (doa permintaan). Dan bisa juga bermakna ibadah itu sendiri, dengan mengingat dan memuji-Nya. Inilah yang dinamakan doa ibadah. Berdasarkan riwayat Imam at-Tirmidzi dalam kitab Jâmi’nya (no.3247) dan mengatakan, ‘(Ini) hadits hasan shahih’ dari an-Nu’mân bin Basyîr radhyallâhu ‘anhu , ia berkata, ”Aku mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Doa adalah ibadah’. Kemudian beliau membaca ayat { “Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina.” }” .( Min Kunâzi al-Qur`ân dalam Himpunan Kutub wa Rasaa`il ‘Abdil Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr 1/390).

Orang yang senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Ta’âla untuk memohon sesuatu, memuji dan menyanjung-Nya, sebenarnya ia sedang berada dalam kebaikan dan ibadah yang besar. Di antara dalil yang menguak aspek kebaikan doa, hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan: Doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad no. 10709 dengan sanad hasan).

Atas dasar itu, rugilah orang yang enggan dan bermalas-malasan dalam berdoa kepada Allah Ta’âla , padahal Allah Ta’âla Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dzat Yang Mengatur alam semesta, segala perkara ada di Tangan-Nya. Sementara itu, disadari atau tidak, seorang manusia adalah makhluk yang lemah; lemah fisik, jiwa dan hati, penuh kekurangan, memiliki permasalahan di dunia, dan harapan selamat di dunia dan akhirat. Dan yang tak boleh dilupakan juga, syaithan selalu mengintai untuk menjerumuskannya ke lembah kenistaan, memalingkannya dari setiap kebaikan dan dzikrullah. Maka, sangatlah mengherankan, mengapa makhluk yang lemah seperti ini (kita semua) tidak memohon kekuatan, kemudahan dan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Kuat?!.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

“Manusia paling lemah adalah orang yang paling malas berdoa (kepada Allâh). Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil memberi salam” (HR. Abu Ya’lâ, ath-Thabrâni, Ibnu Hibbân dan ‘Abdul Ghani al-Maqdisi. Syaikh al-Albaani rahimahullah menilainya berderajat shahih. Lihat ash-Shahihah no.601 dan Shahiihul Jaami no.1044).

Untuk itu, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengungkap rasa keprihatinannya, “Kasihan, kasihan, orang yang malas untuk berdoa. Sungguh orang itu sudah menutup banyak akses menuju kebaikan dan karunia (dari Allah) bagi dirinya” (Tash-hihu ad-Du’a hlm. 61).

Wallahu a’lam.

—

Penulis: Ustadz Muhammad Ashim Musthafa

Sumber: https://muslim.or.id/21317-orang-paling-lemah-menurut-rasulullah.html

Menolak Pinangan Lelaki Soleh, Apakah Berdosa?

pertanyaan:

Ada lelaki soleh meminang seorang akhwat. Tp akhwat ini kurang respon dgnya. Mungkin krn prtimbangan fisik. Dia sama sekali tdk menilai buruk akhlak dan agama lelaki ini. Orangnya rajin bekerja dan tanggung jawab. Krakternya lugu. Tapi kurang sreg saja. Apakah akhwat ini berdosa?

Jazakumullah khoiran..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Tidak menyukai orang sholeh, latar belakangnya ada 2,

Pertama, tidak suka yang sifatnya manusiawi. Misalnya, tidak suka dengan wajahnya yang kurang indah dipandang, atau karakternya yang pelit atau kasar.

Kedua, tidak suka karena agamanya. Dia tidak ada yang bermasalah secara fisik. Tapi dia benci setiap lelaki berjenggot, atau lelaki yang rajin shalat jamaah di masjid, atau lelaki yang suka puasa sunah, dst.

Sehingga rasa tidak sukanya muncul karena orang ini mengamalkan sunah atau karena dia dai yang mengajarkan tauhid.

Ada beberapa orang yang mereka tidak menyukai Umar bin Khatab karena karakter beliau yang sangat tegas. Meskipun mereka mencintai Umar karena keshalehannya.

Dulu ada sahabat sangat soleh, dijamin masuk surga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namanya Tsabit bin Qais bin Syammas. Beliau menikah dengan Jamilah bintu Abdillah. Suatu ketika Jamilah pernah melihat suaminya berjalan bersama deretan para sahabat. Dia terheran, tidak ada lelaki yang lebih jelek dari pada suaminya. Hingga dia merasa tidak tahan untuk bersama Tsabit, karena takut tidak bisa menunaikan hak suaminya.

Beliau lapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَمَا إِنِّى مَا أَعِيبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ

Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, saya sama sekali tidak keindahan akhlak dan agamanya yang bagus. Namun saya khawatir kkufur dalam islam. (HR. Bukhari 5273, Nasai 3476, dan yang lainnya).

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh istrinya untuk mengembalikan maharnya. Lalu Tsabit diminta menjatuhkan talak untuknya.

Rasa tidak suka semacam itu, sifatnya manusiawi. Semua orang tentu mengharapkan pasangan yang menyejukkan pandangannya. Baik lelaki maupun wanita. Sehingga jika ini ada dalam diri seseorang, dia tidak berdosa.

Berbeda dengan tidak suka kepada seseorang karena agama. Dia membenci orang itu, bukan karena bawaan sifat manusiawi. Namun karena dia komitmen dengan agama. Dia lebihi suka  dengan pasangan, yang sama-sama jauh dari agama.

Beberapa lelaki, serasa sepet jika melihat wanita berhijab. Yang bikin sepet, jilbabnya bukan wajahnya.

Beberapa wanita, serasa sepet ketika melihat lelaki berjenggot. Yang bikin sepet jenggotnya bukan wajahnya.

Anda bisa bayangkan, andaikan manusia semacam ini hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. mereka setiap hari akan merasa sepet ketika melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Mereka memelihara jenggot, pakaiannya di atas mata kaki. Sementara semua wanitanya berhijab.

Jika manusia semacam ini hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin mereka akan bergabung dengan komunitas yahudi di luar kota Madinah, agar tidak sepet melihat wanita berjilbab atau lelaki berjenggot.

Kebencian semacam ini berbahaya. Bisa menghapus amal, dan menggiring pelakunya kepada kekufuran. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ . ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad: 8 – 9)

Fatwa Dr. Soleh al-Fauzan.

Beliau pernah ditanya, bolehkah menolak pinangan lelaki soleh, karena tidak cinta

Jawaban beliau,

إذا كنت لا ترغبين الزواج من شخص؛ فلا إثم عليك، ولو كان صالحًا؛ لأن الزواج مبناه على اختيار الزوج الصالح مع الارتياح النفسي إليه ؛ إلا إذا كنت تكرهينه من أجل دينه؛ فإنك تأثمين في ذلك من ناحية كراهة المؤمن، والمؤمن تجب محبته لله ، ولكن لا يلزمك مع محبتك له دينًا أن تتزوجي منه مادمت لا تميلين إليه نفسيًا . والله أعلم

Menolak menikah dengan seseorang, tidak berdosa. Meskipun dia orang soleh. Karena menikah prinsipnya adalah memilih pasangan yang soleh dan adanya rasa cinta dari hati. Kecuali jika anda tidak suka dengannnya karena agamanya. Maka anda berdosa dalam hal ini, karena anda membenci orang mukmin. Sementara orang mukmin wajib dicintai karena Allah. Akan tetapi, anda tidak harus menikah dengannya, selama anda tidak ada rasa cinta. Allahu a’lam

(al-Muntaqa min Fatawa Dr. Sholeh al-Fauzan, 3/226)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/25340-menolak-pinangan-lelaki-soleh-apakah-berdosa.html

[Kitabut Tauhid] 48. Keutamaan memurnikan tauhid 13

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Tawakkal kepada Allâh –‘Azza wa Jalla- memiliki banyak keutamaan, baik berupa mashlahat dunia maupun mashlahat akhirat. Diantaranya :

  1. Salah satu sifat utama orang-orang beriman.
  2. Salah satu debab utama mendapatkan kecukupan.
  3. Diantara sebab kebaikan dunia dan akhirat.
  4. Salah satu sebab mendapat pertolongan Allâh –‘Azza wa Jalla- atas musuh-musuh-Nya.
  5. Salah satu sebab bisa masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.                                                                  
  6. Benteng dari kesyirikan dan kafarah dari taththayyur.
  7. Diantara sebab yang memasukkan ke Surga.
  8. Mendatangkan ketenangan dalam hati.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 13. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Menghadap Allah dengan Hati yang Bersih

Hati biasa disifati dengan hidup dan mati, artinya ada hati yang hidup dan ada hati yang mati. Di antara tiga macam hati, ada hati yang sehat itulah hati yang bersih (selamat). Seseorang akan selamat di hari kiamat kelak jika menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’aro’: 88).

Hati yang bersih (selamat) merupakan lawan dari hati yang sakit.

Para ulama berselisih dalam mengungkapkan makna hati yang bersih (selamat). Definisi yang menyeluruh dalam memahami hal ini, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari segala macam bentuk syahwat yang menyalahi perintah Allah atau menerjang larangan-Nya, hati itu pun selamat dari berbagai syubhat yang menyimpang di mana hati yang selamat akan berpaling dari peribadahan kepada selain Allah, selamat dari berhakim dengan selain ajaran Rasul-Nya, selamat dengan mencintai Allah dengan disertai berhakim dengan ajaran Rasul, lalu memiliki rasa takut, harap, tawakkal, inabah (taubat/ kembali) kepada Allah; hati yang bersih akan selalu mengharap ridho Allah dalam segala keadaan dan menjauhi murka-Nya dengan segala cara. Inilah hakekat peribahan kepada Allah yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.

Intinya, hati yang bersih adalah hati yang selamat dari berbuat syirik kepada selain Allah dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, yaitu irodah (keinginan), cinta, tawakkal, inabah (kembali), tunduk, takut dan rasa harap hanya ditujukan pada Allah semata.

Demikian ungkapan Ibnul Qayyim yang amat berharga yang beliau sampaikan dalam kitab beliau Ighotsatul Lahfaan (1: 7). Berarti orang-orang musyrik yang sukanya melestarikan tradisi syirik, memuja kubur, senang ruwatan atau sesajenan, dan melakukan tumbal, inilah yang memiliki hati yang sakit, bahkan bisa dikata “mati”.

Ya Allah, moga kami bisa berjumpa engkau dalam keadaan hati yang bersih nan selamat, yang selamat dari penyimpangan akidah dan kesyirikan.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 11 Dzulqo’dah 1433 H

Sumber https://rumaysho.com/2833-menghadap-allah-dengan-hati-yang-bersih.html

Tiga Catatan Tentang Mimpi Buruk

Pertanyaan:

Apa yang mesti kita lakukan dengan mimpi buruk yang akhir-akhir ini hadir di mimpi saya. Dan kenapa selalu ada yg meninggal di dalam mimpi saya??

Dari: Uche

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah

Bagian dari kesempurnaan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengajarkan semua hal penting dalam kehidupan manusia. Hanya saja, ada orang yang berusaha memahaminya dan ada yang melupakannya. Seseorang akan bisa merasakan dan meyakini betapa sempurnanya Islam, ketika dia memahami aturan syariat yang demikian luas. Di saat itulah, seorang muslim akan semakin yakin dengan agamanya. Anda bisa buktikan dan mencobanya.

Diantaranya petunjuk tentang mimpi. Meskipun Islam tidak mengajarkan umatnya tentang takwil mimpi yang mereka alami, namun rambu-rambu yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat memadai untuk menjadi panduan dalam mensikapi mimpi. Tak terkecuali, mimpi buruk.

Ada beberapa hal yang dijelaskan dalam Islam, terkait mimpi buruk.

Pertama, mimpi tidak semuanya benar

Sumber mimpi tidak selamanya datang dari Allah. Bisa juga karena bawaan perasaan atau permainan setan.

Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.”

Makna Hadis:

– “Bisikan hati”: terkadang seseorang memikirkan sesuatu ketika sadar. Karena terlalu serius memikirkan, sampai terbawa mimpi.

– “Ditakuti setan”: mimpi yang datang dari setan. Bentuknya bisa berupa mimpi basah atau mimpi yang menakutkan.

Jenis mimpi yang ketiga adalah kabar gembira dari Allah. Mimpi ini adalah mimpi yang berisi sesuatu yang baik dan menggembirakan kaum muslimin. (Keterangan Dr. Musthafa Dhib al-Bugha, salah seorang ulama bermazhab Syafi’i, dalam ta’liq untuk Shahih Bukhari)

Kedua, mimpi buruk berasal dari setan

Dari jenis mimpi di atas, mimpi buruk termasuk salah satu permainan setan kepada bani Adam. Mereka ingin menakut-nakuti manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ .

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim)

Ketiga, Yang harus dilakukan ketika mimpi buruk

Ada beberapa hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seseorang mimpi buruk:

1. Meludah kekiri 3 kali.

2. Memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari setan 3 kali, dengan membaca

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

“A’udzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan ta’awudz lainnya).

3. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.

4. Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat.

5. Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis.

6. Tidak boleh menafsir mimpi tersebut baik menafsir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.

Keterangan tentang hal ini terdapat dalam beberapa  hadis berikut :

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأى أحدكم الرؤيا يكرهها، فليبصق عن يساره ثلاثا وليستعذ بالله من الشيطان ثلاثا، وليتحول عن جنبه الذي كان عليه

“Jika kalian mengalami mimpi yang dibenci (mimpi buruk) hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإن رأى ما يكره فليتفل عن يساره ثلاثا وليتعوذ بالله من شر الشيطان وشرها، ولا يحدث بها أحدا فإنها لن تضره

“Ketika kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Muslim)

Abu Qatadah (perawi hadis) mengatakan,

إن كنت لأرى الرؤيا أثقل علي من جبل، فما هو إلا أن سمعت بهذا الحديث، فما أباليها

“Sesungguhnya saya pernah bermimpi yang saya rasa lebih berat dari pada gunung, setalah aku mendengar hadis ini aku tidak peduli mimpi tersebut.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرُّؤْيَا ثَلَاثٌ، فَرُؤْيَا حَقٌّ، وَرُؤْيَا يُحَدِّثُ بِهَا الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi bisikan perasaan, dan mimpi ditakut-takuti setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak disukainya (mimpi buruk), hendaklah dia melaksanakan shalat.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Allahu a’lam

sumber: https://konsultasisyariah.com/13594-tiga-catatan-tentang-mimpi-buruk.html

Ini Ceritanya, Kenapa Nabi Terus Berdoa Meminta Istiqamah

Ini ceritanya, kenapa sampai Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terus berdoa agar diteguhkan hati dalam ketaatan.

Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut ini.

Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa do’a yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ ».

“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”

Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Setelah itu Mu’adz bin Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8) (HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk terus berada di atas ketaatan.

—

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Rajab 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13301-ini-ceritanya-kenapa-nabi-terus-berdoa-meminta-istiqamah.html