Abdurrahman Bin Auf (Sahabat Yang Sangat Dermawan)

Salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat rekomendasi masuk surga adalah `Abdurrahmân bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdil Hârits Bin Zahrah bin Kilâb bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang ahli syura. Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya. Saat masih jahilillah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama `Abdurrahmân oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1] Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Hârits bin Zahrah.[2]

`Abdurrahmân bin `Auf adalah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya:

`Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahâtul Mukminin (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Al-Miswar berkata: “Aku mengantarkan sebagian dari dinar-dinar itu kepada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Aisyah Radhiyallahu anhuma dengan sebagian dinar-dinar itu.” Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: “Siapa yang telah mengirim ini?” Aku menjawab: “`Abdurrahmân bin Auf”. Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi minum kepada `Abdurrahmân bin Auf dengan minuman surge [3]””

Dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan (sesuatu) kepada sekelompok Sahabat Radhiyallahu anhum yang di sana terdapat `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu ; namun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa pun kepadanya. Kemudian `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu kepada sekelompok Sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keluhan `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: ‘Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.[4]”

Keutamaan-Keutamaan `Abdurrahmân bin Auf di antaranya: 
`Abdurrahmân bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah Azza wa Jalla , namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu pernah mengatakan : “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar, kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami pun tidak bisa sabar”[5]Baca Juga   Khaulah Binti Tsa’labah Radhiyallahu Anhuma (Wanita Yang Didengar Keluhannya Dari Langit Ketujuh)

Suatu hari `Abdurrahmân Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat). Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.[6]”

Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata, “ Dahulu `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya, “ Wahai Abu Muhammad (panggilan `Abdurrahmân), apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.[7]

`Abdullâh bin Abbâs Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Umar bin Kaththâb Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin (nama sebuah desa di batas Syam setelah Hijâz), ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu Abu Ubâdah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah berjangkit di Syam. Umar Radhiyallahu anhu berkata : ‘Panggilkan aku para Muhajirin yang awal (berhijrah)!’ Aku (`Abdullâh bin Abbâs-red) pun memanggil mereka. Umar Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah tersebut. Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan : “Engkau telah keluar untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur.” Sedangkan sebagian lain mengatakan : “Engkau bersama banyak orang dan bersama para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami berpendapat agar tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi : “Panggilkan para Anshar untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta pendapat kepada mereka dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah, yang berada di sini.” Akupun memanggil mereka dan tidak ada seorangpun yang berselisih. Mereka mengatakan, “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang dan tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Kemudian Umar Radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali.” Dan merekapun setuju dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrâh Radhiyallahu anhu mengatakan, “Apa kita berusaha berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kami berlari dari takdir Allah Azza wa Jalla menuju takdir Allah Azza wa Jalla yang lain. Kemudian datanglah `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu dan mengatakan: “Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Baca Juga   Mengenal Sosok Syaikul Islam Ibnu Taimiyah

فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ

Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. [HR. Bukhâri no. 5398] [8]

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , `Abdurrahmân bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan [9].

Ja`far bin Burqan mengatakan, “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa `Abdurrahmân bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang.[10]

Imam Bukhâri menyebutkan dalam kitab tarikhnya bahwa `Abdurrahmân pernah memberikan wasiat kepada semua Sahabat yang mengikuti perang badar dengan 400 dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.[11]

Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di pemakaman baqi` dan `Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu ikut menyalatkannya.[12]

Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua. Wallâhu a`lam

Referensi: 
1. Ash-Shahâbah, Syaikh Shâlih bin Thaha `Abdul Wâhid, Maktabah al-Ghurabâ`, Dâr al-Atsariyah, cet. Ke-1 tahun 1427H 
2. Al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah, Ibnu Hajar al-Asqalâni, tahqîq: Khalîl Makmûn Syîha, Dârul Makrifah, Beirut 
3. Fadhâilush Shahâbah Lil Imâm Ahmad, Dâr Ibnul Jauzi cet. ke-2 tahun 1420 M

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] 
_______ 
Footnote 
[1]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad hlm 908 
[2]. Ash-Shahîhul Musnad Min Fadhâilis Shahâbah hlm 173 
[3]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad, hlm 909 
[4]. Fadhâilus Shahâbah, Imam Ahmad, hlm 908 
[5]. ash-Shahâbah, hlm 252 
[6]. ash-Shahâbah, hlm 253 
[7]. al-Ishâbah 2/1183 
[8]. ash-Shahâbah, hlm 251 
[9]. al-Ishâbah, hlm 1182 
[10]. al-Ishâbah, hlm 1183 
[11]. al-Ishâbah, hlm 1184 
[12]. al-Ishâbah,hlm 1184

sumber: https://almanhaj.or.id/3801-abdurrahman-bin-auf-sahabat-yang-sangat-dermawan.html

Seseorang Akan Mendapatkan Ujian Sebanding Kualitas Imannya

Siapakah yang akan mendapatkan ujian terberat …

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ

“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”[2]

Syaikhul Islam juga mengatakan,

واللهُ تَعَالَى قَدْ جَعَلَ أَكْمَلَ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَعْظَمُهُمْ بَلاَءً

“Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.”[3]

Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.”[4]

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.”[5]

Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.”[6]

Kewajiban kita adalah bersabar dan bersabar. Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar pahala bagi mereka tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.[7]

Makna asal dari sabar adalah “menahan”. Secara syar’i, pengertian sabar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim,

فَالصَّبْرُ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الجَزْعِ وَاللَِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَالجَوَارِحِ عَنْ لَطْمِ الخُدُوْد وَشَقِّ الثِيَابِ وَنَحْوِهِمَا

“Sabar adalah menahan diri dari menggerutu, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar pipi, merobek-robek baju dan perbuatan tidak sabar selain keduanya.”[8] Jadi, sabar meliputi menahan hati, lisan dan anggota badan.

Semoga Allah memberi taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi setiap ujian.

Faedah Ilmu, Pangukan-Sleman, 6 Dzulqo’dah 1430 H

Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] Al Istiqomah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/260, Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, cetakan pertama, 1403 H.

[3] Qo’idah fil Mahabbah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 150, Maktabah At Turots Al Islamiy.

[4] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/73, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubro, cetakan pertama, tahun 1356 H.

[5] Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi, 1/158, Asy Syamilah

[6] HR. Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[8] ‘Iddatush Shobirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 7, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.



Sumber https://rumaysho.com/678-seseorang-akan-mendapat-ujian-sebanding-kualitas-imannya.html

ZIKIR ITU SEPERTI PERISAI BAJU BESI

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
أذكار الصباح والمساء بمثابة الدرع كلما زادت سماكته لم يتأثر صاحبه، بل تصل قوة الدرع أن يعود السهم فيصيب من أطلقه
 
“Zikir pagi dan petang seperti baju besi. Semakin bertambah ketebalannya, maka pemiliknya semakin tidak terkena (bahaya). Bahkan kekuatan baju besi itu bisa sampai memantulkan kembali anak panah sehingga berbalik mengenai pemanahnya sendiri.”
 
Ibnu ash-Shalah rahimahullah berkata:
 
من حافظ على أذكار الصباح والمساء، وأذكار بعد الصلوات، وأذكار النوم، عُدّ من الذاكرين الله كثيراً
 
“Barang siapa menjaga pengamalan Zikir Pagi dan Petang, Zikir Bada Salat, dan Zikir Tidur, maka dia dihitung termasuk orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah.”
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
البسوا معطف الأذكار ليقيكم شرور الإنس والجان ودثروا أرواحكم بالاستغفار لتمحي لكم ذنوب الليل والنهار ,وإن أصابكم ماتكرهونه فسترضون وتتيقنون بأنه خير قدره لكم ربكم لأنكم قد تحصنتم بالله
 
“Kenakanlah pakaian zikir agar menjaga kalian dari kejelekan-kejelekan manusia dan jin.
Selimutilah roh-roh kalian dengan istighfar, supaya menghapus dosa-dosa siang dan malam.
Apabila ada sesuatu yang kalian benci menimpa kalian, maka kalian akan rida dan kalian akan yakin, bahwa itu merupakan kebaikan yang ditakdirkan untuk kalian oleh Rabb kalian, karena kalian telah berlindung kepada Allah.”
 
[Al-Waabil ash-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib, 71]
 
 

[Kitabut Tauhid] 57. Keutamaan memurnikan tauhid 22

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Mengerjakan shalat malam merupakan kebiasaan Para Salaf sebagaimana juga menjadi kebiasaan orang-orang shalih dari zaman ke zaman.

Awalnya Allâh -‘Azza wa Jalla- mewajibkan shalat malam kepada Kaum Muslimin. Setahun kemudian ketika Kaum Muslimin merasa berat dengan kewajiban tersebut, Allâh -‘Azza wa Jalla- menggugurkan kewajiban tersebut dan hukumnya menjadi sunnah muakkadah.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 22. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Ghibah itu Apa?

Ghibah itu termasuk dosa besar. Namun perlu dipahami artinya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Ghibah kata Imam Nawawi adalah menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan. (Syarh Shahih Muslim, 16: 129).

Dalam Al Adzkar (hal. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.”

Bahkan dikatakan dalam Majma’ Al Anhar (2: 552), segala sesuatu yang ada maksud untuk mengghibah termasuk dalam ghibah dan hukumnya haram.

Hukum ghibah itu diharamkan berdasarkan kata sepakat ulama. Ghibah termasuk dosa besar. Sebagian ulama membolehkan ghibah pada non muslim seperti Yahudi dan Nashrani sebagaimana diisyaratkan dalam Subulus Salam (4: 333), sebagiannya lagi tetap melarang ghibah pada kafir dzimmi.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Al Adzkar An Nawawiyah, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

—

Selesai disusun di sore hari selepas Ashar di Darush Sholihin, 26 Dzulhijjah 1435 H

Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc

Sumber https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html

HARUSKAH MARAH…?

Orang bijak berkata : 

الغضب أوله جنون وآخره ندم

“Kemarahan awalnya adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan”


Orang bijak juga berkata : “Jika engkau dalam puncak kemarahan maka janganlah sekali-sekali mengambil keputusan. Dan jika dalam puncak kegembiraan maka janganlah engkau menjanjikan sesuatu”


Sungguh betapa sering penyesalan muncul setelah reda kemarahan..

Karena kemarahan… seseorang bisa mencerai wanita yg sangat dicintainya…
Karena marah seseorang bisa mencaci, atau memukul, atau bahkan membunuh sahabatnya sendiri…

sumber: https://firanda.com/668-haruskah-marah.html

Lalai dari Dzikir Mudah Didekati Setan

Ayat yang dikaji kali ini menerangkan orang yang lalai dari dzikir. Namun maksud bahasan adalah orang yang lalai dari Al-Qur’an atau peringatan Al-Qur’an. Hukuman baginya adalah akan mudah didekati setan. Apa maksud mudah didekati oleh setan?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)

Ayat di atas menerangkan tentang orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman yaitu Al-Qur’an Al-‘Azhim. Al-Qur’an adalah sebesar-besarnya rahmat yang Allah berikan pada hamba-Nya. Siapa yang menerima peringatan Al-Qur’an, berarti ia telah menerima anugerah yang besar. Sedangkan yang berpaling dan menolak peringatan Al-Qur’an, maka ia sangat-sangat merugi dan tidak akan bahagia selamanya. Akhirnya, setan pun akan menjadi teman dekatnya. Demikian keterangan dari Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya.

Ternyata, yang berpaling dari dzikir dalam ayat tersebut bukanlah dzikir biasa, namun berpaling dari Al-Qur’an. Kata Ibnu Katsir ayat di atas serupa dengan ayat-ayat berikut.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaf: 5)

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Fushshilat: 25)

Oleh karena itu, Allah katakan pada ayat selanjutnya,

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

“Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf: 37)

Ibnu Katsir mengatakan, “Inilah orang yang berpaling dari petunjuk, maka ia akan terus didekati oleh setan untuk menyesatkannya. Setan akan menunjuki dia pada jalan kesesatan.”

Wallahu waliyyut taufiq.

—

Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 23 Syawal 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/11554-lalai-dari-dzikir-mudah-didekati-setan.html

BERSABAR DALAM MUSIBAH

Setiap orang yang beriman pasti akan ditimpakan musibah di dalam hidupnya sebagai ujian dari Allah. Mereka yang berhasil atas ujian itu adalah mereka yang mampu bersabar.

Sabar memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam. Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Penyebutan kata sabar di dalam Al Qur’an ada di lebih dari 90 tempat. Sabar adalah bagian dari iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi tubuh. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak memiliki kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak memiliki kesabaran untuk menjauhi maksiat, dan tidak memiliki kesabaran tatkala tertimpa takdir Allah yang tidak menyenangkan, maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan” (At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid)

Definisi sabar dan musibah

Secara bahasa, sabar adalah menahan atau menghalangi. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang diajarkan oleh syariat Islam. Secara syariat, makna sabar adalah menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari rasa murka, dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu atau tindakan lain yang menyimpang dari syariat (Syaikh Solih Alu Syaikh dalam At Tamhid).

Adapun definisi musibah adalah segala sesuatu yang menyusahkan/menyakiti seseorang yang menimpa dirinya (Tafsir Al Qurthubi). Musibah pasti menimpa setiap orang, termasuk orang yang beriman. Namun tidak semua dari mereka mampu bersabar, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqoroh : 155)

Hukum sabar dalam musibah

Hukum bersabar ketika ditimpa musibah adalah wajib. Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan, “Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib, dan dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal tersebut dikarenakan di dalam sabar terdapat sikap meninggalkan marah dan sikap tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah” (At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid)

Sabar diwajibkan sejak awal ditimpa musibah, bukan belakangan setelah musibah selesai dan lisan telah mengeluh serta hati tidak terima dengan ketetapan Allah. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya sabar itu ketika awal tertimpa musibah” (HR. Bukhari)

Selain sebuah kewajiban, bersabar juga merupakan bagian dari kesempurnaan iman, sebagaimana Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anhu mengatakan, “Sabar dan iman bagaikan kepala pada tubuh manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran” (Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis)

Larangan murka terhadap musibah

Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk murka terhadap musibah yang menimpanya, baik kemurkaan itu diwujudkan pada hati, lisan, atau anggota badan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Diantara manusia ada yang menyembah Allah menurut seleranya. Apabila ia mendapatkan kebaikan, hatinya merasa tenang. Akan tetapi, apabila ia mendapat cobaan yang tidak dia senangi, ia memalingkan wajahnya. Rugilah dunia dan akhiratnya” (QS. Al Hajj : 11). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek kerah baju, dan melakukan amalan Jahiliyah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah sabar dalam musibah

  1. Bisa mendatangkan hidayah Allah

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allah-lah yang Maha mengetahui segala sesuatu” (QS. At Taghaabun : 11)

Alqamah menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridho dan bersikap pasrah kepada-Nya”

  1. Mendapat pahala yang tidak terbatas

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang sabar adalah pahala yang tidak terbatas” (QS. Az Zumar : 10)

Dan juga Allah berfirman (yang artinya), “Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya.’ Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan sholawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah” (QS. Al Baqoroh : 155-157)

  1. Allah akan membersamai orang-orang yang sabar

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqoroh : 153)

Kiat meningkatkan kesabaran dalam musibah

  1. Menyadari besarnya hikmah bersabar sebagaimana telah disampaikan di atas

  2. Menyadari hikmah yang tersimpan di balik musibah yang menimpa di dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat” (HR Tirmidzi, shahih)

  1. Menyadari bahwa ujian adalah keniscayaan

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqoroh : 155)

  1. Mengingat bahwa musibah yang kita hadapi belumlah seberapa

Musibah yang kita dapati tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan musibah yang didapati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia (musibahku) merupakan musibah yang paling besar” (HR. Ibnu Sa’ad dan Ad Darimi, shahih)

  1. Menyadari bahwa semakin kuat iman, maka cobaan akan semakin kuat pula

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, shahih)

  1. Berdoa dan berharap ganti yang lebih baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Allaahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan segala sesuatu akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah aku ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti untukku dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik” (HR. Muslim)

  1. Mengingat bahwa musibah yang menimpa kita adalah akibat perbuatan kita sendiri

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS. Asy Syura : 30)

Tetaplah memuji Allah ketika ditimpa musibah

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendapati sesuatu yang beliau sukai, maka beliau akan memuji Allah dengan mengucapkan, “Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat (segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sempurnalah segala kebaikan)”, dan apabila beliau mendapati sesuatu yang tidak disukai, beliau tetap memuji Allah dengan berkata, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal (segala puji bagi Allah atas setiap keadaan)” (HR. Ibnu Majah, hasan)

Penulis : Muhammad Rezki Hr, S.T., M.Eng (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Muroja’ah : Ustadz Abu Salman, BIS

sumber: https://buletin.muslim.or.id/bersabar-dalam-musibah/

[Kitabut Tauhid] 56. Keutamaan memurnikan tauhid 21

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- telah memberikan teladan terbaik dalam ketawadhu’an. Para Salaf dan Para Ulama juga telah memberikan bimbingan terbaik kepada ummat agar mereka berhias diri dengan ketawadhu’an. Dan sudah sepantasnya Para Penuntut Ilmu bisa menjadi contoh yang baik bagi ummat dalam merealisasikan akhlaq yang mulia ini.

selanjutnya kita akan mempelajari Keutamaan memurnikan tauhid 21. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Play Video (Link Utama)

Link alternatif

matan kitabut tauhid (PDF)

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

Sifat Kaum Munafik Dalam Akhlak

1.DUSTA 
Sifat kaum munafik yang paling dominan adalah dusta. Mereka mengklaim iman dan kebaikan, namun menyembunyikan kekufurandan kejahatan. Kedustaan mereka tidak hanya berkutat pada ucapan, namun juga dalam perbuatan dan interaksi, bahkan dusta dalam iman.

Dalam Surat at-Taubah banyak dibicarakan tentang kedustaan kaum munafik, seperti dusta dalam berinteraksi dengan Allâh dan Rasûl-Nya. Ini bisa dilihat dalam Surat at-Taubah ayat ke-90, juga ayat ke-77. Juga kedustaan terhadap para hamba Allâh di berbagai ayat, seperti dalam ayat 42-43; 62, 74, juga 93-96.

Sifat tersebut telah mendarah daging. Apabila kedustaan semata menurut hemat mereka tidak bisa merealisasikan tujuan, dan dikhawatirkan bisa menyingkap kedok mereka, maka tidak segan-segan mereka akan bersumpah palsu dan sarat dosa. Seperti yang Allâh Azza wa Jalla firmankan:

سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ  ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ  ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ  ۖ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allâh, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [At-Taubah /9: 95]

وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ  ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allâh menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya ). [At-Taubah /9: 107]

Mereka tidak segan-segan untuk bersumpah palsu, dan tidak mau bertaubat darinya. Dan itu terus berlangsung pada mereka. Bahkan mereka bungkus sumpah mereka dengan bentuk sumpah yang berat, untuk menepis keraguan dan kecurigaan terhadap jati diri mereka. Allâh berfirman.

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ  ۖ قُلْ لَا تُقْسِمُوا  ۖ طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ  ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan mereka bersumpah dengan nama Allâh sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah: “Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal. Sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [An-Nûr /24: 53]

Surat At-Taubah –yang juga disebut juga Surat al-Fâdhihah (Yang menyingkap kebusukan mereka)- memaparkan kedustaan mereka dalam empat lini:

  • Mengaku beriman namun menyembunyikan kekufuran. Ini seperti firman Allâh

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allâh, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam… [At-Taubah/9:74]

Islam mereka di atas, baik itu Islam dalam arti sebenarnya lalu mereka murtad, ataupun Islam secara lahiriyah belaka karena takut terbunuh, namun yang jelas mereka telah menjadi kafir.

  • Mengaku mencintai dan loyal kepada kaum Mukminin, serta mengaku mereka bagian dari Mukminin, padahal mereka bukan termasuk kaum Mukminin, tidak dalam akidah, loyalitas, amalan, tidak pula dalam perangai.
  • Merekayasa alasan dan udzur. Ketika mereka diseru untuk berjihad dan berinfak, mereka berpangku tangan dan kikir. [1]  Karena kaum munafik menganggap jihad adalah kerugian semata, maka menurut mereka tidak ada gunanya mempertaruhkan nyawa dan harta untuk hal yang tidak mereka yakini. Surat at-Taubah yang turun beriringan dengan Ghazwah Tabuk, membeberkan detail tentang sikap kaum munafik mengenai jihad, ketidakikutsertaan mereka dan dusta mereka dalam memberikan alas an mengapa mereka tidak ikut serta atau tidak menginfakkan harta (lihat  At-Taubah ayat ke-42, 94-96).
  • Melegalkan kemaksiatan dan perbuatan busuk mereka. (lihat At-Taubah ayat ke-61-62).

Qatadah rahimahullah berkata, “Disebutkan kepada kami bahwa seorang munafik berkata (yaitu mengenai munafikin yang tidak turut serta pada Ghazwah Tabuk), “Demi Allâh! Sungguh mereka ini benar-benar orang pilihan dan terhormat dari kami. Kalaulah yang dikatakan Muhammad memang benar, pastilah mereka ini lebih jahat dari keledai.” Ucapan ini pun didengar seseorang dari Muslimin lalu ia berujar, “Demi Allâh! Sesungguhnya apa yang dikatakan Muhammad n benar-benar hak, dan engkau ini benar-benar lebih jahat dari keledai!” Iapun menyampaikan hal ini kepada Nabi Allâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus untuk memanggil orang tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (kepada orang tersebut), “Apa yang memicumu untuk mengatakan apa yang kau ucapkan?” Orang tersebut justru mengumbar serapah [2] dan bersumpah atas nama Allâh bahwa ia tidak mengucapkannya. Lelaki Muslim itu berujar, “Ya Allâh! Tunjukkan kebenaran orang yang jujur dan dustakanlah si pendusta!” Maka Allâh pun menurunkan firman-Nya: Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allâh untuk mencari keridhaanmu, [At-Taubah /9: 61-62]

2. PENGECUT 
Seseorang yang ksatria, apalagi kaum Mukminin, mereka sangat antipati terhadap sifat pengecut. Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ , وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ , وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ , وَظَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dari kesusahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, sifat bakhil, pengecut, tekanan lilitan hutang dan keadaan ditindas orang-orang . [3]

Sifat ini termasuk kriteria mereka yang paling kentara. Sebab pada asalnya, yang menggiring mereka berlaku nifak adalah rasa takut dan sifat pengecut; di mana itu mencegah munafik untuk menampakkan agama dan niat busuknya.

Surat At-Taubah menampakkan sifat pengecut ini yang paling kentara dalam dua hal:

  1. Menampakkan iman dengan merahasiakan kekufuran. Juga berpura-pura loyal kepada kaum Mukminin namun memendam kecintaan kepada kaum kafir serta mengharapkan kekalahan Mukminin di tangan kaum kafir. Penipuan mereka inilah bentuk kepengecutan. Mereka tidak punya keberanian yang menjadikannya seperti orang kafir yang terang-terangan memusuhi kaum Muslimin. Sifat ini pasang surut sesuai dengan kondisi kaum Muslimin, guna menjamin eksisnya kepentingan mereka. Dan panggung sejarah membuktikan hakikat ini dengan jelas. Pada awalnya,  para pengikut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum yang lemah; sedangkan kekufuran begitu kuat, dan mereka punya kuasa. Ketika itu tidak didapat kaum munafik. Bahkan terkadang kaum Muslim merahasiakan keislamannya karena takut akan kejamnya kaum kafir.  Juga ketika hijrah ke Madinah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya belum punya kekuatan. Barulah ketika Islam dan Muslimin menjadi kuat setelah perang Badr, kemunafikan mulai muncul. Yaitu ketika Abdullah bin Ubay berkata, “Ini adalah hal yang sudah jelas arahnya (yaitu kuatnya Rasûl dan muslimin), karena itu bai’atlah Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” Padahal sejatinya mereka tetap kafir. Dari situlah muncul kemunafikan di kalangan Madinah dan sekitarnya dari kalangan arab badui.
  2. Mereka berpangku tangan dari jihad dan perang. Ini mendapat porsi yang cukup besar dalam Surat at-Taubah. Surat ini menerangkan keadaan final hubungan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir, di mana terdapat di dalamnya perintah untuk memerangi kaum musyrikin semuanya. Dan ini membutuhkan mobilisasi massal untuk jihad. Di sinilah muncul tipe manusia yang ada di masyarakat muslimin, yang enggan berjihad.

Di antara bentuk kepengecutan yang dipaparkan dalam surat ini, bahwa untuk tidak ikut berjihad, mereka merekayasa alasan-alasan dusta. Mereka datang kepada Rasûl dengan pucat pasi, merenda kedustaan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” [At-Taubah /9: 49]

Ada pula orang-orang yang tak punya malu, karena saking takutnya, mereka tidak turut berperang dengan tidak datang dan tidak mengemukakan udzur (lihat At-Taubah ayat ke-90). Bentuk kepengecutan lain, bahwa bila khawatir kalau kaum Mukminin meragukan mereka, maka mereka tidak segan-segan bersumpah dusta. Dan kalaupun mereka terpaksa keluar bersama kaum muslimin, mereka dikuasai perasaan takut nan mencekam, seolah nyawa mereka telah sampai di tenggorokan!

3. KIKIR 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan bagi umatnya meminta perlindungan dari sifat kikir. Bakhil dan kikir salah satu sebab dari timbul dan berkembangnya sifat nifak dalam hati. [4]

Dalam hadits, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Bani Salimah, “Siapakah pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Jadd bin Qais, meski kami memandangnya orang bakhil.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Adakah penyakit yang lebih parah dari bakhil? Akan tetapi pemimpin kalian adalah seorang pemuda dermawan lagi bersinar Bisyr bin al-Bara’ bin Ma’rûr. [5]

Ini karena ia salah seorang yang tertuduh sebagai munafik, yang dikenal di antara kaumnya sebagai orang bakhil yang senang menggenggam tangannya (kikir). [6]

Jiwa manusia memang lemah lagi kikir, kecuali yang dijaga oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan penyakit ini tidak bisa dientaskan kecuali bila hati dipenuhi iman, yang terbebas dari belenggu ketamakan terhadap kemanfaatan semu. Karena hati yang penuh iman mengharapkan ganti yang lebih besar yaitu ridha Allâh, sehingga ia tidak takut jatuh melarat. Adapun bila hati lengang dari iman, maka sifat kikirnya akan bergejolak, enggan untuk menginfakkan hartanya. Terlebih lagi dalam urusan infak di jalan Allâh, kebakhilan mereka akan semakin menjadi-jadi, disebabkan mereka tidak beriman kepada hari akhirat, dan tidak percaya dengan ganti dari Allâh.

Kalaupun berinfak, itu karena terpaksa, takut kalau iman palsu mereka tersingkap.

4. M ELANGGAR PERJANJIAN 
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra berkata, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كنَّ فِيهِ كَانَ مُنافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتّى يَدَعَهَا: إِذا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذا عاهَدَ غَدَرَ، وَإِذا خَاصَمَ فَجَرَ

Empat perkara yang bila ada pada diri seseorang, ia adalah munafik tulen. Dan bila salah satu dari perangai ini ada padanya, maka ada satu perangai nifak pada dirinya sampai ia meninggalkannya: bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia dusta, bila berjanji ia melanggar, dan bila berseteru ia berlaku fujûr (melenceng dari yang hak dan berbuat yang batil).”

Fenomena melanggar janji ( al-ghadr ) yang paling kentara pada orang munafik adalah bahwa ia hidup di tengah masyarakat Mukminin, di mana mereka menampakkan iman dan kebaikan padahal hati mereka penuh dengan kejahatan dan makar. Mereka ingin sekali mencelakakan kaum Mukminin.

Surat At-Taubah memaparkan tentang sikap kaum munafik yang suka melanggar perjanjian. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا  ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ  ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ  ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ  ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allâh, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allâh dan Rasûl-Nya), kecuali karena Allâh dan Rasûl-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allâh akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. [At-Taubah /9: 54]

[ dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya ] Ibnu Katsir berkata: “telah datang keterangan bahwa sekelompok kaum munafik hendak mencelakakan (membunuh) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Beliau ada dalam perang Tabuk; yaitu di suatu malam kala dalam perjalanan. Mereka berjumlah belasan orang. Adh-Dhahhak berkata: Mengenai merekalah ayat ini turun.

Mereka telah berlaku khianat dan melanggar janji, padahal  Allâh telah melimpahkan karunia kepada mereka dengan mengutus Nabi-Nya yang membawa berkah dan sebab-sebab kebahagiaan dan keselamatan. Namun disebabkan nifak, karunia ini tidak berbekas sama sekali pada hati mereka.

5. TIDAK BERILMU 
Bisa memahami sesuatu dan berilmu adalah nikmat agung dari Allâh, sehingga derajat orang berilmu terangkat tinggi di dunia dan akhirat. Ilmu dan faham ( al-fiqh ) dalam arti hakiki adalah mengerti dan memahami tentang firman Allâh, dan mengamalkan apa yang menjadi konsekuensi pemahamannya ini.

Allâh menafikan ilmu dan pemahaman dari kaum munafik, karena pemahaman dan ilmu yang sempurna menuntut pengamalan. Kalau itu tidak ada pada mereka, maka ketika itu bisa diartikan ilmu dinafikan dari mereka. Mereka tidak bisa memahami bagaimana memanfaatkannya, meski paham akan arti lafaz-lafaznya. [7] Seperti halnya Allâh Azza wa Jalla menafikan akal dari mereka, padahal mereka punya akal yang bisa mereka gunakan untuk mengatur jalan hidup mereka. Namun karena mereka justru mengamalkan hal yang membahayakan mereka, padahal mereka mengetahuinya, maka jadilah mereka orang yang tidak berakal. Seperti inilah yang Allâh kisahkan tentang para penghuni neraka yang mengatakan: Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”  [Al-Mulk /67: 10]

Mereka tidak mengerti keagungan Allâh Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Karena itu mereka menyangka bisa menipu Allâh Azza wa Jalla , padahal tidak lain mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri. Mereka juga juga tidak mengerti sunah kauniyyah , bahwa pendusta dan penipu pasti akan tersingkap kebusukannya. Mereka juga tidak mengerti hakikat agama ini sebagai pembawa kebaikan dunia dan akhirat. Karena itu mereka selalu menghalangi setiap usaha untuk menegakkan agama ini dalam realita kehidupan. Mereka juga tidak mengerti kesudahan perbuatan mereka. Mereka tidak merasa tengah meniti jalan menuju kebinasaan. Seperti dalam ucapan mereka: dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. [At-Taubah /9: 81]

6. SENANG DENGAN MUSIBAH YANG MENIMPA KAUM MUKMININ 
Karena mereka mempunyai keyakinan, pemikiran dan visi yang berbeda dengan kaum Mukminin, maka tak heran lagi bahwa setiap kali musibah menimpa muslimin, mereka akan girang dan bersuka cita. Bahkan dengan segenap daya mereka akan berusaha menimpakan derita terhadap kaum Mukminin.  Dan begitu sebaliknya, mereka akan berduka cita bila Muslimin berhasil menorehkan kemenangan dan kemajuan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ  ۖ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira. [At-Taubah /9: 50]

Musibah kaum Mukminin menurut kaum munafik akan mempercepat lenyapnya agama ini, agama yang menghambat laju kelezatan dan syahwat mereka, sehingga mereka pun bersuka cita. Sedangkan bila kaum Muslimin memperoleh kejayaan, maka ini menambah kuat agama ini, yang berarti mengekang luapan ketamakan dan syahwat mereka.

Allâh Azza wa Jalla mengajarkan kepada kaum Mukminin bagaimana menghadapi musibah ataupun kebaikan yang ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا  ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allâh untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allâh orang-orang yang beriman harus bertawakal . [At-Taubah /9: 51]

Semua yang terjadi, baik menang atau kalah, kebaikan atau keburukan, itu semua adalah takdir dan ketetapan Allâh. Kaum Mukminin menyerahkan itu semua kepada-Nya, dan mengharapkan kebaikan semata dari-Nya, tidak pada selain-Nya.

Sebenarnya apa yang dinantikan kaum munafik terhadap Mukminin tidak lain adalah satu dari dua kebaikan ( ihdal husnayain ); apapun yang menimpa, keduanya sama-sama baik dan dicinta:

  1. Menang atas musuh, dan di situ terdapat pahala, ghanimah dan keselamatan.
  2. Terbunuh di jalan Allâh, dan itu artinya syahid di jalan Allâh, menggapai surga dan selamat dari nereka. Keduanya hal yang disuka. [8]

Sedangkan munafikin, sebenarnya yang dinanti mereka adalah turunnya adzab Allâh yang tanpa melalui tangan mukminin, atau Allâh akan membuat mukminin mampu menguasai munafikin, sehingga Allâh akan menyiksa mereka melalui tangan mukminin.

7. MENYELISIHI JANJI 
Menepati janji merupakan kriteria seorang perwira, sedangkan ingkar janji adalah ciri para pengecut nan lemah jiwa. Sifat ini mencabut rasa percaya di antara personil masyarakat, dan membuat ragu dan was-was, serta melemahkan relasi antara sesama. Karena itu, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk memenuhi janji secara mutlak seperti dalam firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu (perjanjian). [Al-Mâ’idah /5: 1]

Dan di antara yang disebutkan Rasûl mengenai sifat munafik adalah bila berjanji dia akan ingkar. Akad dan perjanjian yang paling agung adalah hak dan perjanjian Allâh. Maka karena kaum munafik adalah orang yang paling ingkar janji, merekapun ingkar terhadap janji Allâh dan apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya.

Semoga Allâh menghindarkan kita dari perilaku dan perangai kaum munafik.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] 
_______ 
Footnote 
[1] QS. At-Taubah ayat 1-2; 5; juga 41 
[2] Yaitu melaknat dirinya sendiri, lihat An-Nihâyah 4/255. 
[3] HR. al-Bukhâri no 6369, Muslim meriwayatkan yang serupa pada kitab dzikir no 6873 dari Sahabat Anas bin Malik z 
[4] QS. At-Taubah /9: 75-77 
[5] HR. al-Hakim dan berkata: shahih sesuai syarat Musli, ini disepakati Adz-Dzahabi 3/219; Ibnu Sa’d dalam Thabaqât3/571; Ibnu Adi dalam Al-Kâmil 3/403. Disebutkan Ibnu Hajar dalam Al-Ishâbah 1/155 dengan menyebutkan syawahidnya. Al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul ‘Ummâl menisbatkannya pada Abu Nu’aim. 
[6] Lihat Tafsîrul Qur’ân oleh Abdur Razzâq 2/277, Al-Ishâbah 1/239, Al-Munâfiqûn wa Syu’ab An-Nifâq hlm. 208. 
[7] Untuk lebih mendalam, lihat Al-Fatâwâ 7/20-27. 
[8] Lihat At-Taubah ayat 52, dan lihat di Tafsîr Ath-Thabari 11/496.

sumber: https://almanhaj.or.id/6855-sifat-kaum-munafik-dalam-akhlak.html