Penyakit ‘Ain Melalui Foto dan Video

Hendaknya kita berhati-hati men-share foto atau video kita, keluarga kita atau anak kita di sosial media, karena penyakit ‘ain bisa terjadi melalui foto ataupun video. Meskipun tidak pasti setiap foto yang di-share terkena ‘ain tetapi lebih baik kita berhati-hati, karena sosial media akan dilihat oleh banyak orang.

Penyakit ‘ain adalah penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh pandangan mata orang yang dengki ataupun takjub/kagum, sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang yang terkena.

Ibnul Atsir rahimahullah berkata,

ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ

“Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘ Ain , yaitu apa bila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit” [1. An-Nihayah 3/332].

Sekilas ini terkesan mengada-ada atau sulit diterima oleh akal, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ‘ain adalah nyata dan ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﻌﻴﻦ ﺣﻖُُّ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻲﺀ ﺳﺎﺑﻖ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻟﺴﺒﻘﺘﻪ ﺍﻟﻌﻴﻦ

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya” [2. HR. Muslim].

Contoh kasus penyakit ain:

  • Foto anak yang lucu dan imut diposting di sosial media, kemudian bisa saja terkena ‘ain. Anak tersebut tiba-tiba sakit, nangis terus dan tidak berhenti, padahal sudah diperiksakan ke dokter dan tidak ada penyakit.
  • Bisa juga gejalanya tiba-tiba tidak mau menyusui sehingga kurus kering tanpa ada sebab penyakit.

Hal ini terjadi karena ada pandangan hasad kepada gambar itu atau pandangan takjub dan PENTING diketahui bahwa penyakit ‘ain bisa muncul meskipun mata pelakunya tidak berniat membahayakannya (ia takjub dan kagum).

Penyakit ‘ain bisa melalui gambar atau video

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ

”Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab ‘ain yang bisa menjadi sebab terjadinya ‘ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung”[3. Zadul Ma’ad 4/149].

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,

ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

“Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab ‘ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena ‘ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.” [4. Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272].

Demikian semoga bermanfaat.

@Di antara langit dan bumi Allah, Pesawat Citilink Jakarta-Yogyakarta

***

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/28858-penyakit-ain-melalui-foto-dan-video.html

Hati-Hati !

Oleh 
Ustadz Shuhub Subhan

Hati-hati, sebuah ungkapan yang biasanya digunakan orang untuk memberikan peringatan dari bahaya atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Kata ini ringan di ucapkan tapi terkadang susah di laksanakan, baik oleh pengucapnya sendiri ataupun orang yang diajak bicara.

Dari ungkapan ini, penulis teringat dialog antara Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu dengan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu, dibawakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan makna takwa dalam surat al-Baqarah/2 ayat ke-2 .[1]

Di kisahkan bahwa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu menjawab, ”Pernahkan Anda melewati jalan yang penuh dengan duri ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang Anda lakukan ?” Umar menjawab, “Aku singsingkan lengan bajuku dan berhati-hati dalam melewatinya.”

Disini terlihat jelas, bahwa kata “hati-hati” bahkan dipakai sahabat untuk menerjemahkan apa itu takwa. Hati-hati bukan hanya dipesankan untuk sebuah perjalanan Solo-Jogja misalnya, tapi lebih luas dan lebih dalam dari itu yaitu perjalanan kehidupan seseorang menuju akhirat. Sebuah ungkapan dan permisalan yang sangat indah dan mengena dari seorang sahabat untuk mewakili makna takwa.

Kira-kira apa sebabnya orang-orang menggunakan kata hati-hati untuk memberikan peringatan dari bahaya atau hal-hal yang tidak menyenangkan ?

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memeringatkan ummatnya akan peran strategis hati yang ada pada jasad manusia, bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai sumber kebaikan seluruh jasad atau sebaliknya sebagai sumber kejelekan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada segumpal daging, jika ia baik, baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad, segumpal daging itu adalah hati( jantung/hati (nurani). [HR Muttafaq ‘alaih] [2].

Jadi memang demikianlah jika hati diperhatikan, di jaga dan di pedulikan maka kehidupan dunia dan akhirat kita akan selamat dan akan mendapat kebahagiaan. karena dengan hati yang sehat, orang bisa menahan diri dari syubhat, menahan diri dari syahwat. Sebaliknya, jika hati di abaikan maka penyakit, halangan dan duri berupa syubhat dan syahwat mudah hinggap dalam perjalanan kita menuju akhirat, dan niscaya kita akan sengsara, nelangsa.

Saat menjelaskan makna haditd diatas, Ibnu Rajab mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa baiknya gerakan anggota badan seorang hamba, jauhnya dari yang haram dan terhindarnya dari syubhat sangat tergantung dari baik atau buruknya hatinya. Jika hatinya selamat, penuh dengan mahabbah (rasa cinta) kepada Allâh dan cinta kepada apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla, kemudian dipenuhi rasa takut kepada Allâh dan takut melakukan apa yang Allâh Azza wa Jalla benci maka baiklah seluruh gerkan anggota badannya, dan dari sini berbuah menjadi jauhnya ia dari hal-hal yang haram dan terhindar dari syubhat-syubhat. (Sebaliknya), jika hati itu rusak maka akan dikuasai untuk mengikuti hawa nafsu, dan selalu mencari sesuatu yang dicintai hawa nafsunya meskipun dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla , dan menggiring kepada maksiat dan syubhat-syubhat sesuai apa yang di inginkan hawa nafsunya.[3]

Manusia yang mempunyai hati nurani tidak akan pernah lepas dari ujian. Hati manusia akan selalu menemui fitnah dan cobaan, imtihan,dan ibtila. Hati yang buruk akan mudah menerima keburukan sedang hati yang sehat akan berusaha kuat untuk menolaknya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Fitnah-fitnah itu akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, satu serat satu serat. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka satu noda hitam tertempel dalam hatinya. Dan hati mana saja yang tidak menerimanya, akan tertitiklah pada hati itu satu titik putih, sehingga, jadilah hati itu dua macam; putih seperti batu pualam, sehingga fitnah apapun tidak akan membahayakannya selama ada langit dan bumi, sementara hati lainnya berwarna hitam legam, seperti teko atau ceret terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran selain hawa nafsu yang diserapnya. [HR Muslim] [4]

Maka perhatikanlah hati kita, karena ialah sumber keimanan dan cahaya yang menerangi jalan kehidupan kita sehingga tidak mudah terperosok dan terantuk. Menjadi hati yang selamat, qolbun salim, yang tidak ada manfaat disisi Allâh Azza wa Jalla pada kiamat kecuali datang menghadap Allâh Azza wa Jalla dengan hati yang selamat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih,hati yang selamat. [As-Syu’ara’/26:88-89]

Qolbun salim artinya selamat dari kejelekan dan keburukan. Yaitu hati yang di dalamnya penuh cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan cinta segala yang dicintai Allâh Azza wa Jalla, takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan takut dari segala yang menjauhkannya dari Allâh Azza wa Jalla [5]

Bagaimana jika hati terlanjur menerimanya dan menyerap keburukan tersebut ? apakah ia bisa dibersihkan lagi seperti membersihkan pualam dari noda ? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإْنَ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوْ قَلْبَهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan di ampuni, maka hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kelasahan lagi, maka bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya. [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi [6] . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.]

Jika bintik, noda dan noktah hitam itu sudah penuh dan menutupi hatinya, maka noktah hitam yang datang berikutnya ke dalam hati akibat dari perbuatan dossa dan kemaksiatan, maka hati itu akan merasa tidak terpengaruh dengan noda yang mengotorinya, sebagaimana tidak terlihatnya noda hitam yang menempel pada kain hitam. Saat perbuatan dosa sudah tidak terasa lagi sebagai sebuah dosa, maka yang ada adalah rasa nyaman –’iyadzan billah. Semoga Allah menjaga hati kita dari keburukan seperti ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dan (efek negatif dosa) yang paling berbahaya (paling mengkhawatirkan) bagi seorang hamba adalah dosa dan kemaksiatan bisa melemahkan keinginan hati sehingga keinginannya untuk melakukan perbuatan maksiat semakin kuat. Dosa melemahkan keinginan hati untuk bertaubat sedikit demi sedikit sampai akhirnya semua keinginan untuk taubat tercabut dari hati (tanpa meninggalkan sisasedikitpun). (Padahal) seandainya separuh dari hati seseorang itu sudah mati, maka itu sudah susah untuk bertaubat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala [7].

Para Ulama banyak memperhatikan masalah ini, membahasnya panjang lebar, dan mencari formula yang tepat untuk menjaga dan mengobati hati, kemudian mendakwahkannya menuju hati yang selamat. Berikut beberapa kiat untuk mengobati hati dan menjaganya tetap sehat.

1. Membaca al-Qur’an dan mentaddaburi maknanya 
Al-Qur’ân adalah penyejuk hati, obat bagi jiwa, dan cahaya bagi mata hati kita yang menerangi kita dari kegelapan syahwat dan syubhat. Al-Qur’an adalah kalamullâh Azza wa Jalla. Allâh Berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Yunus/10:57]

2. Melaksanakan shalat malam 
3. Selalu berteman dan bergaul dengan orang-orang shaleh 
4. Puasa 
5. Dzikir

Dzikir adalah makanan hati, penenang jiwa dan pelembutnya, serta penerangnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allâh . Ingatlah, hanya dengan mengingati Allâh -lah hati menjadi tenteram” [Ar-Rad/13 : 28]

Dan diatas semua itu tentunya menuntut ilmu syar’i, ikuti kajian, ta’lim juga merupakan makanan hati yang paling utama karean illmu adalah cahaya, menerangi hati kita, menerangi jalan kita,menerangi tempat kita berpijak.Tentunya Ilmu yang disertai dengan amal.

Karena ketahuilah bahwa semua penyakit yang menimpa hati sebab utamanya adalah kebodohan atas ilmu Din dan obatnya adalah ilmu.

Jadi bisa kita beri pengertian lebih dalam jika orang tua kita berpesan kepada anaknya :” hati- hati nak!”, maka artinya adalah jagalah hatimu nak, jagalah dari yang membuat hatimu rusak, jauhilah fitnah syubhat, jauhilah fitnah syahwat, laksanakanlah perintah Allâh nak!, jauhilah segala larangannya! Hati-hati.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] 
_______ 
Footnote 
[1]. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Adhim, juz 1 hlm.39 
[2]. Bukhari no. 52, Muslim no.1599 
[3]. Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ulum wal hikam, (Dar Ibnu Jauzi, 1429) hlm.144 
[4]. HR.Muslim no.144 
[5]. Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ulum wal hikam,(Dar Ibnu Jauzi,1429), hlm.144 
[6]. Tirmidzi no,3334 , Ibnu Majjah no.4244 
[7]. Ibnu Qayim Al-Jauziyah,Adda’ wa Dawa’, (Dar Ibnu Jauzi,1427) hlm. 91

sumber: https://almanhaj.or.id/3733-hati-hati.html

Do’a Para Malaikat Bagi Orang Yang Berinfak Agar Mereka Mendapatkan Pengganti Apa Yang Diinfakkannya

Oleh 
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Di antara orang-orang yang mendapatkan do’a dari para Malaikat adalah orang-orang yang selalu berinfak di jalan kebaikan, dan di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:

1. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti [1] bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah [2] (harta) orang yang kikir.’” [3]

Di antara hal yang bisa kita fahami dari hadits di atas bahwa ash-Shaadiqul Mashduuq, yaitu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa sesungguhnya para Malaikat berdo’a agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan harta orang yang berinfak.

Al-‘Allamah al-‘Aini ketika menjelaskan hadits tersebut berkata: “Makna khalaf adalah pengganti, sebagaimana dalam sebuah ungkapan: ‘Akhlafallaahu khalfan’ maknanya adalah semoga Allah menggantikannya.” [4]

Al-Mulla ‘Ali al-Qari ketika menjelaskan hadits ini berkata: “Khalaf maknanya adalah pengganti yang sangat besar, sebuah pengganti yang baik di dunia dan berupa balasan di akhirat, dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” [Saba’: 39] [5]

Al-‘Allamah al-‘Aini menjelaskan faidah-faidah yang dapat diambil dari hadits tersebut dengan perkataan: “Dan di dalamnya ada do’a Malaikat, sedangkan do’a Malaikat adalah sebuah do’a yang akan selalu dikabulkan dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang ucapan aminnya itu tepat dengan ucapan amin para Malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” [6]

Dan yang dengan dimaksud dengan infak, sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama, adalah infak dalam ketaatan, infak dalam akhlak yang mulia, infak kepada keluarga, jamuan tamu, shadaqah dan lain-lain yang tidak dicela dan tidak termasuk kategori pemborosan.[7]

2. Para Imam, yaitu Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ، يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى. وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidaklah matahari terbit melainkan diutus di dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata: ‘Wahai manusia menghadaplah kalian kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi digunakan untuk foya-foya. Dan tidaklah matahari terbenam melainkan diutus di antara dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, dan hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’”[8]

3. Dua Imam, yaitu Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا وَمَلَكًا بِبَابٍ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ لِمُنْفِقٍ خَلَفًا وَعَجِّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

“Sesungguhnya satu Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit berkata: ‘Barangsiapa meminjamkan pada satu hari ini, maka akan dibalas pada esok hari, dan satu Malaikat lainnya yang ada di pintu lain berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan segera hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’” [9]

Imam Ibnu Hibban memberikan bab bagi hadits ini dengan judul: “Do’a Malaikat bagi Orang yang Berinfak dengan Pengganti dan Bagi Orang yang Kikir agar Hartanya Dihancurkan.” [10]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang selalu berinfak, yang dido’akan dengan pengganti oleh para Malaikat.

Aamiin, yaa Dzal Jalaali wal Ikraam.

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do’aka Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir] 
_______ 
Footnote 
[1]. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Pengganti itu lebih baik disamarkan agar mencakup pengganti dalam bentuk harta dan pahala, karena berapa banyak orang yang berinfak, dia wafat sebelum mendapatkan balasan berupa harta di dunia, maka penggantinya adalah berupa pahala di akhirat, atau dia dihalangi dari kejelekan.” (Fat-hul Baari III/305) 
[2]. Redaksi dengan ungkapan pemberian hanya merupakan gaya bahasa saja, karena jika harta itu dihancurkan, maka sesungguhnya hal tersbut bukanlah sebuah pemberian. (Ibid) 
[3]. Muttafaq ‘alaih. Shahiih al-Bukhari kitab az-Zakaah bab Qau-luhu Ta’ala: Fa Amma Man A’thaa wat Taqaa wa Shaddaqa bil Husnaa (III/304 no. 1442) dan Shahiih Muslim kitab az-Zakaah bab Fil Munfiq wal Mumsik (II/700 no: 1010 (57)). 
[4]. ‘Umdatul Qaarii (VIII/307). 
[5]. Mirqaatul Mafaatiih (IV/366). 
[6]. ‘Umdatul Qaari’ (VIII/307). 
[7]. Lihat Syarh an-Nawawi (VII/95). 
[8]. Al-Musnad (V/197 cet. Al-Maktab al-Islami), al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban kitab az-Zakaah bab Shadaqatut Tathawwu’, Dzikrul Akhbaar ‘ammaa Yajibu ‘alal Mar-i min Tawaqqu’il Khilaaf fiimaa Qaddama li Nafsihi, wa Tawaqqu’ Dhiddahu idzaa Amsaka (VIII/121-122 no. 3329) dan al-Mus-tadrak ‘alash Shahiihain kitab at-Tafsiir (II/445). 
Al-Imam al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang sanad-nya shahih, tetapi tidak diriwayatkan oleh keduanya (al-Bukhari dan Muslim).” (Ibid) Ungkapan tersebut disepakati oleh adz-Dzahabi (lihat kitab at-Takhliish II/445). Al-Hafizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya adalah perawi yang shahih.” (Majma’uz Zawaa-id III/122). Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani. (Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihhah no. 444 dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib I/456) 
[9]. Al-Musnad (II/305-306 cet. Al-Maktab al-Islami) dan al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban kitab az-Zakaah bab Shadaqatut Tathawwu’ (VIII/124 no. 3333), dengan lafazh darinya. Syaikh Ahmad Syakir mengomentari sanad hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau berkata: “Sa-nadnya shahih.” (Catatan pinggir kitab al-Musnad XV/196) Syaikh Syu’aib al-Arna-uth mengomentari sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, beliau berkata: “Isnad-nya shahih berdasarkan syarat perawi Muslim.” (Catatan pinggir kitab al-Ihsaan VIII/124) 
[10]. Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban (VIII/124).

sumber: https://almanhaj.or.id/3300-doa-para-malaikat-bagi-orang-yang-berinfak-agar-mereka-mendapatkan-pengganti-apa-yang-diinfakkannya.html

Streaming kajian ? di Hijrahapp bisa kok..

belakangan youtube sebagai raksasa penyedia layanan streaming mewajibkan pengguna platformnya untuk mengizinkan pihak ketiga untuk menayangkan iklan di video-video youtuber mereka. kebijakan ini tanpa pengecualian, termasuk juga channel-channel kajian pun dibanjiri iklan…

sayangnya iklan tersebut seringkali tanpa sensor/filter hingga menerobos batasan-batasan syariat. mengatasinya, antum dapat berlangganan youtube premium yang katanya sebagian hasil penjualannya akan dibagi secara proporsional ke channel-channel yang sering antum tonton. itu artinya antum turut membantu channel kajian jika channel tersebut memang sering antum buka, sekalipun persentase terbesar tetap mengalir ke youtube sebagai penyedia layanan, dan yaa.. antum juga harus menganggarkan nominal yang lumayan setiap bulannya..

atau antum bisa memanfaatkan solusi berikutnya, yakni dengan memanfaatkan menu channel kajian yang ada di hijrahapp (khusus android), puluhan channel kajian bisa antum tonton gratis & tanpa gangguan iklan. jadi, apapun pilihannya jangan lewatkan video-video kajian terbaru dari ustadz kita yaa.🙏

Hasil Quis Pekan 11 – kitabut Tauhid

Masyaallah walhamdulillah, apresiasi yang luar biasa kepada 333 perserta yang ambil bagian dari Quis pekan kesebelas kitabut tauhid ini. masyaallah terimakasih. kami kira ini akan menjadi evaluasi yang bermanfaat bagi antum, dan tentunya feedback yang berharga bagi kami.

langsung aja, mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan ekspetasi yaa👍


Ringkasan

https://docs.google.com/forms/d/1m6jLlh5aeS3UOUSC9qLaM061135dzDNYNU9LpdglYMY/viewanalytics


Peringkat Pria/Ikhwan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1xu9xUxDCkIcAQE411LAHPhOVLxSkw5Td0YIhh7Qzf_Q/edit?usp=sharing


Peringkat Wanita/Akhwat

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1A8jrPRfTchkR2Kv123O6Ideir7pm_q9P_r5hYR2FXg4/edit?usp=sharing

Akibat Berbuat Maksiat

Barangsiapa yang menaati perintah Allah maka akan meraih kemenangan di dunia dan akhirat. Akan tetapi apabila melanggar perintah Allah maka akan masuk ke kelompok orang yang merugi di dunia akhirat. Maka diri manusia itu sendirilah yang menyebabkan dia sengasara ataupun bahagia. Allah berfirman :

{إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ}

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” (QS.Al-Ra’d :11).

Makna firman di atas adalah Allah tidak akan mengubah dan mengganti keadaan seseorang, masyarakat atau umat yang diberi cobaan, musibah, dan kesulitan, sehingga mereka mencoba mengubah keadaan diri mereka sendiri, yang diliputi kemaksiatan, penyimpangan, dan dosa. Dengan kata lain, perubahan dari Allah hanya terjadi setelah adanya perubahan dari manusia itu sendiri dengan meninggalkan kemaksiatan.

Dosa, kedzaliman, keberpalingan kita dari perintah Allah, kesibukan dengan dunia dan kenikmatan yang fana, serta kelalaian akan kematian dan dahsyatnya alam kubur; semua itu dapat membuat hati kita mengeras seperti batu, tidak bisa tersentuh dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekitar berupa ayat-ayat, peristiwa, dan peringatan. Ia telah menjelma menjadi jiwa yang mati dan tak memiliki ruh.

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham pernah ditanya : “Mengapa kita selalu berdoa, namun doa itu tidak pernah dikabulkan? Padahal Allah telah berfirman:

{ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}

“Berdo’alah kalian kepadaKu, Aku akan mengabulkannya untuk kalian.” (QS.Ghafir:60).

Dan inilah beberapa jawaban beliau,

  1. Kalian telah mengetahui hak Allah, tapi tidak menunaikannya.
  2. Kalian membaca Al-Qur’an, namun tidak mengamalkan batasan-batasannya.
  3. Kalian mengatakan mencintai Rasulullah, namun kalian tidak mengamalkan Sunnah beliau.
  4. Kalian mengatakan takut kematian, namun kalian tidak menyiapkan diri untuk itu.
  5. Allah berfirman,

 {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا}

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS.Fathir:6), namun kalian justru menyepakati untuk berbuat maksiat.

  1. Kalian mengatakan takut neraka, namun kalian justru memasukkan diri kalian sendiri ke dalamnya.
  2. Kalian mengatakan bahwa mencintai surga, namun kalian tidak bekerja meraihnya.
  3. Dan jika kalian bangun dari pembaringan kalian, kalian melemparkan aib-aib kalian ke belakang punggung kalian, untuk kemudian menunggangi aib-aib orang lain, sehingga kalian membuat Rabb kalian murka.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah perkara yang menyebabkan kematian hati dan penyebab yang mengantarkan seseorang ke dalam keterpurukan, akibat jauhnya ia dari Islam dan tuntunannya serta dampak maksiat yang dilakukannya.

Berikut ini, beberapa dampak perbuatan maksiat dan dosa sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Al-Jawab Al-Kafy:

  1. Pelaku maksiat akan terhalang dari ilmu, karena ilmu adalah cahaya dan kemaksiatan akan memadamkannya.
  2. Pelaku maksiat akan menemukan rasa takut dan cemas saat berinteraksi dengan sesama manusia.
  3. Tercabutnya pandangan buruk terhadap maksiat dari hatinya, hingga menganggapnya sebagai suatu yang biasa, bahkan terang-terangan.
  4. Maksiat akan mewariskan kehinaan dan kerendahan.
  5. Tidak akan menemukan manisnya iman, ketaatan dan ibadah kepada Allah.
  6. Maksiat akan menyemaikan maksiat yang lain.
  7. Allah akan meninggalkannya berkubang dengan hawa nafsu dan setannya. Ia pun terhalangi untuk “bersahabat” dengan malaikat serta mendapatkan doa mereka.
  8. Kemaksiatan akan mematikan mata hati.
  9. Kemaksiatan akan membakar keberkahan usia.
  10. Kemaksiatan akan mengelamkan wajah, menggelapkan hati, dan mengurangi rezeki.

Betapa butuhnya kita untuk bertaubat dengan jujur dan didasari aqidah yang bersih. Maka demi Allah, tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan merasakan pengawasaan Allah, baik dalam kesendirian maupun tidak.

Tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan kembali kepada-Nya, karena hanya Dialah yang memiliki rahmat yang sangat luas, menerima taubat hamba-Nya, serta mengajak mereka untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung.” (QS.An-Nur:31)

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum kematian menjemput kalian. Bersegerahlah untuk melakukan amalan-amalan shalih sebelum kalian tersibukkan. Sambunglah hubungan antara kalian dengan Tuhan kalian dengan banyak mengingat-Nya dan banyak bersedekah dalam kesendirian dan keramaian, niscaya kalian akan dikaruniai rezeki, akan ditolong dan dikuatkan.”

Semoga kita selalu tersadarkan dan merasa takut kepada Allah, agar hati kita tenang dan senantiasa merasakan manisnya iman, hingga meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

——

[Sumber: Buku Betapa Singkatnya Dunia Ini!, Penulis Zainuddin, ‘Amir Al-Zaibary Muhammad Ihsan, Penerbit Sukses Publishing, Bekasi, 2011, Cetakan ke-1, dengan beberapa perubahan redaksi seperlunya]

Penulis: Ima Erwindi

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

sumber: https://muslimah.or.id/8619-akibat-berbuat-maksiat.html

Mari Bertaubat!

Sudah menjadi ketetapan Allâh Azza wa Jalla , bahwa kita pasti dan sering berbuat kesalahan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. [HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah]

Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertaubat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

H ai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allâh dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. [At-Tahrîm/66: 8]

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahîhnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَى اللهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai sekalian manusia! Bertaubatlah kalian kepada Allâh karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali

Tidakkah kita merasa malu? Para nabi dan Rasul saja senantiasa bertaubat kepada Allâh, padahal mereka manusia pilihan yang mengemban misi suci serta dijamin akan dimasukkan surga oleh Allâh Azza wa Jalla . Bagaimana dengan kita? Dosa kita menggunung dan tidak ada jaminan masuk surga. Lalu mengapa enggan bertaubat? Apakah kerena putus asa?

Dosa kita memang banyak, bahkan menggunung, tapi Allâh Azza wa Jalla mengingatkan agar jangan ada putus asa, karena kasih sayang Allâh Azza wa Jalla itu begitu luas dan melimpah.Baca Juga   Segeralah Bertaubat Kepada Allah Azza Wa Jalla Dan Perbanyaklah Istighfar

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ  ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا  ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allâh. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Az-zumar/39:53]

Diantara bentuk kasih sayang itu, Allâh Azza wa Jalla memberikan kesempatan untuk bertaubat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ  حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Sesungguhnya Allâh membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk mengampuni orang yang berbuat dosa di waktu siang, dan Allâh membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk mengampuni orang yang berbuat dosa di waktu malam, sampai terbitnya matahari dari tempat terbenamnya. [HR. Muslim, no. 2702]

Tidak ada alasan putus asa dan tidak ada kata terlambat dalam bertaubat. Kehadiran bulan Ramadhan dengan berbagai kelebihannya ditengah kita adalah kesempatan emas yang mungkin tidak terulang di masa yang akan datang. Suasana lingkungan dan kejiwaan setiap insan yang beriman sangat mendukung seseorang untuk melakukan kebaikan dan perbaikan. Alangkah ruginya, orang yang mendapati momen ini namun ia membiarkannya berlalu tanpa usaha memperbaiki diri dengan bertaubat. Jika saat suasana sangat mendukung seseorang untuk bertaubat, namun dia bertaubat, lalu kapankah bertaubat?

Kasih sayang dan rahmat yang Allâh Azza wa Jalla  janjikan jangan membuat kita terbuai dalam angan-angan dan menunda-nunda taubat. Jika kesempatan yang Allâh sediakan tidak  dimanfaatkan dengan baik, maka siksa Allâh Azza wa Jalla yang sangat pedih bakal menjadi bagian yang tidak terlepaskan.Baca Juga   Agar Allâh Subhanahu Wa Ta’ala Menyempurnakan Cahaya Kita

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar senantiasa segera bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang kita perbuat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

sumber: https://almanhaj.or.id/7169-mari-bertaubat.html

Di Antara Sebab Wabah & Musibah Adalah Dosa & Maksiat

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa di antara sebab musibah dan bencana adalah dosa-dosa dan maksiat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ 

“Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu).” (asy-Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Allah subhanahu wa ta’alamengabarkan bahwa musibah apa pun yang menerpa seorang hamba, baik menimpa badan, harta, anak-anaknya, atau musibah yang menimpa segala yang dia cintai dan berharga; semua itu disebabkan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Bahkan, dosa-dosa yang Allah subhanahu wa ta’alaampuni lebih banyak (daripada yang dibalas/dihukum). Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya, tetapi merekalah yang menzalimi diri merkea sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan 1/759)

Bahkan, secara spesifik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mengingatkan tentang akan terjadinya wabah penyakit berikut sebabnya. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhumamenyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majahno. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262)

Perhatikan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas. Beliau telah memperingatkan para sahabat dan umatnya bahwa apabila perbuatan fahisyah (perbuatan keji) telah menyebar dan dilakukan secara terang-terangan, wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi akan menyebar di tengah-tengah mereka. Penyakit dan virus yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui dalam ilmu kesehatan, tiba-tiba muncul dan menyebar dengan sangat cepat.

Penting untuk kita ketahui, apa saja yang termasuk perbuatan fahisyah? Di antara perbuatan fahisyah adalah zina. Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu “fahisyah” dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

Perhatikan ayat di atas. Dengan jelas Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan zina sebagai perbuatan fahisyah (perbuatan keji).

Demikian pula, termasuk perbuatan yang digolongkan dalam kategori fahisyah adalah pebuatan lelaki mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan syahwatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (al-A’raf: 80)

Mari kita cermati ayat di atas. Dengan gamblang, Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan pula perbuatan kaum Nabi Luth sebagai fahisyah.

Renungan Tentang Fahisyah

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Sekali lagi, kami mengajak untuk mencermati dan merenungi sabda Nabi di atas.

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan; kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.”

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Apakah kita tidak takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Belum tibakah saatnya kita bertobat? Sampai kapan kita bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa?

Ya Allah, ya Ghafur, ya Rahim. Wahai Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kami memohon ampun kepada-Mu. Ya Allah, bantulah kami untuk meninggalkan maksiat dan hal-hal yang tidak Engkau ridhai.

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Sungguh, kita sendiri menyaksikan dan mengetahui, bagaimana perzinaan merajalela pada zaman ini. Media-media pornografi menyebar luas dan mudah diakses oleh semua kalangan; baik orang tua, dewasa, maupun anak-anak. Bahkan, pernah sampai ada ungkapan yang tersebar di tengah-tengah masyarakat bahwa “pornografi adalah pemersatu bangsa”, seolah “pengakuan” bahwa salah satu sarana fahisyah ini memang sudah maklum.

Nastaghfirullah wa natubu ilaih (Kami beristigfar dan memohon ampun kepada-Mu, ya Allah).

Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan,

إِذَا رَأَيْتَ الْوَبَاءَ قَدْ فَشَا فَاعْلَمْ أَنَّ الزِّنَا قَدْ فَشَا

“Apabila engkau menyaksikan wabah penyakit telah menyebar, ketahuilah bahwa (di antara sebabnya adalah) perzinaan telah merebak.” (Hilyatul Auliya 6/379)

Di sisi lain, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang perzinaan, perselingkuhan, pemerkosaan, tindak asusila, pelecehan seksual, transgender, dll. Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang senang apabila (berita) perbuatan fahisyah (perbuatan keji) tersiar di tengah-tengah orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Lebih dari itu, perkembangan LGBT dengan segala macamnya juga terus meningkat. Penyuka sesama jenis sudah semakin berani mempertontonkan eksistensi mereka alias terang-terangan. Media pun berlomba-lomba meliput dan gencar menyebarkan hal-hal yang terkait salah satu perbuatan fahisyah ini. Bahkan, para transgender justru bangga dan tidak malu lagi untuk tampil. Tak mengherankan apabila salah seorang transgender menjadi trending karena tayangannya ditonton berjuta orang.

Yang lebih mengherankan lagi, ada pihak-pihak tertentu yang terus mempropagandakan LGBT dari berbagai sisi. Banyak dalih mereka kemukakan demi membela suatu perbuatan yang jelas-jelas mungkar. Mereka berjuang supaya kaum muslimin mendiamkan kemungkaran yang sangat besar ini, dengan dalih HAM atau alasan lainnya.

Sebenarnya, kami yakin bahwa masih banyak kaum muslimin yang hati nuraninya peduli tentang hal ini. Semoga tulisan ini bisa membuat kita kembali sadar tentang bahaya LGBT yang terus berkembang dan semakin memprihatinkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللهُ بِعِقَابِهِ

“Sungguh, jika manusia melihat kemungkaran, tetapi mereka tidak mencegahnya, niscaya tidak lama lagi Allah subhanahu wa ta’ala akan meliputi mereka semua dengan azab-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 4005 dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu)

Ajakan untuk Bertobat dan Memperbanyak Istigfar

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita merenung sejenak. Luangkan waktu untuk muhasabah dan introspeksi diri. Tidak perlu mengarahkan jari telunjuk kepada orang lain. Arahkanlah semua nasihat ini kepada diri kita sendiri terlebih dahulu.

Adakah kewajiban agama yang belum kita kerjakan? Adakah perbuatan dosa yang kita belum bertobat darinya? Masihkah kita menzalimi saudara kita dan belum meminta maaf seraya mengembalikan haknya? Sudahkah kita menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, baik ketika sendiri maupun di keramaian?

Atau jangan-jangan, kita masih terus dalam suatu kemaksiatan padahal kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak ridha dengan perbuatan kita? Adakah andil kita dalam perbuatan fahisyah, walau hanya sekadar ikut terlibat atau melihat media penyebar fahisyah? Sudahkah kita menjaga pandangan kita dari tayangan yang mengandung fahisyah?

Ya Allah, ya Ghafur, ya Rahim. Wahai Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kami memohon ampun kepada-Mu. Ya Allah, bantulah kami untuk meninggalkan maksiat dan hal-hal yang tidak Engkau ridhai.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةً نَّصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nasuhah(tobat yang terpenuhi syarat-syaratnya).” (at-Tahrim: 8)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita bergegas menuju ampunan Allah. Belumkah datang saatnya untuk kalbu kita tunduk dan khusyuk bertobat dari segala kemaksiatan yang kita lakukan?

Sudahi… Hentikan…

Jangan tunda tobatmu… Jangan sampai terlambat.

Apakah kita harus menunggu nyawa sampai di tenggorokan, baru kita sadar dan mau bertobat?

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita memperbanyak istghfar. Luangkan waktu kita dalam sehari untuk khusyuk melafazkan istghfar disertai hadirnya kalbu. Semoga dengan kita memperbanyak istigfar, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat wabah dan bencana ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala akan mengazab mereka, sedangkan mereka beristigfar.” (al-Anfal: 33)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Allah mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang beristigfar. Sebab, istigfar adalah penghapus dosa, sedangkan dosa adalah penyebab turunnya azab. Oleh karena itu, istigfar adalah penghilang azab.” (Majmu’ al-Fatawa, 8/163)

Nikmat Sehat Bisa Berubah Menjadi Sakit

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Hukuman) yang demikian itu karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah kenikmatan yang telah Dia karuniakan kepada suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfal: 53)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkan ayat di atas, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak akan mencabut lalu mengganti suatu nikmat yang telah Dia karuniakan kepada suatu kaum, baik nikmat yang bersifat agama atau duniawi. Lebih dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa melanggengkan nikmat tersebut, bahkan menambahnya. Hal itu akan terjadi apabila mereka mau menambah rasa syukurnya (kepada Allah). (Keadaan akan terus demikian) sampai ‘mereka sendiri yang mengubahnya’, yakni dengan sebab mereka sendiri meninggalkan ketaatan dan menggantinya dengan kemaksiatan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan 1/324)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Apabila engkau ingin nikmat yang ada padamu tetap langgeng, jagalah nikmat tersebut dengan mensyukurinya dan menggunakannya hanya untuk ketaatan kepada Allah. Jangan engkau gunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya, sehingga engkau akan menyesal ketika nikmat tersebut nantinya dicabut.

Manfaatkan nikmat sehat untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya, supaya Allah subhanahu wa ta’alamelanggengkan nikmat sehat tersebut kepadamu. Sebaliknya, jangan gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada-Nya, yang berakibat tercabutnya nikmat sehat tersebut.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang pandai bersyukur atas setiap nikmat-Mu.

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Mari kita mendengar dengan saksama nasihat berikut. Syaikh Ubaid al-Jabiri mengatakan,

إأَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، دَلَّ كِتَابُ رَبِّنَا وَسُنَّةُ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنَّهُ مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ، وَمَا رُفِعَ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ، فَاسْتَعِينُوا بِاللهِ عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ، وَسَارِعُوا إِلَى الطَّاعَاتِ مِنْ فَرَائِضَ وَمُسْتَحَبَّاتٍ، وَجَانِبُوا -أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ- الْمُحَرَّمَاتِ؛ فَإِنَّهَا مُجْلِبَةٌ لِلْمَسَاخِطِ وَعَظِيمِ الْعُقُوبَاتِ

“Wahai kaum muslimin, Al-Quran dan Sunnah Nabi menjelaskan bahwa tidaklah bencana/wabah penyakit/musibah itu terjadi, kecuali disebabkan oleh dosa; sedangkan (musibah tersebut) tidak akan diangkat kecuali dengan tobat. Oleh karena itu, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya dibantu untuk selalu berzikir mengingat-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya, dan senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada-Nya.

(Wahai kaum muslimin), bersegeralah menunaikan ketaatan kepada Allah, baik yang wajib maupun yang mustahab (sunnah). Demikan pula (wahai kaum muslimin), jauhilah semua hal yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Sungguh, kemaksiatan dan hal-hal yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan adalah penyebab kemurkaan (Allah) dan pedihnya hukuman. (Khutbah Jumat berjudul Ma Nazala Bala` illa bi Dzanbin wa Ma Rufi’a illa bi Taubah, oleh Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya, supaya kita bisa menjadi hamba-Nya yang bertobat dan memperbanyak istigfar.

Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif

sumber: https://asysyariah.com/di-antara-sebab-wabah-musibah-adalah-dosa-maksiat/

Jagalah Sholat Witir

Pertanyaan:

Ada seseorang yang tidak mengerjakan shalat witir, apakah boleh baginya meninggalkannya?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Sebagaimana kesepakatan para ulama kaum muslimin, shalat witir adalah shalat yang sangat dianjurkan. Barangsiapa yang terus menerus meninggalkan shalat witir, maka persaksiannya tertolak. Lalu para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya shalat witir. Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama Hambali berpendapat bahwa shalat witir itu wajib. Sedangkan mayoritas ulama (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa shalat witir itu tidak wajib.

Alasan mereka adalah riwayat yang menyatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat witir di atas tunggangannya.” Sedangkan untuk shalat wajib beliau tidak mengerjakannya di atas tunggangannya (sehingga ini menunjukkan bahwa shalat witir itu tidak wajib karena dikerjakan oleh beliau di atas tungganggannya, -pen).

Namun intinya, para ulama sepakat bahwa shalat witir sangatlah dianjurkan untuk dikerjakan sehingga jangan sampai ditinggalkan. Shalat witir itu lebih ditekankan daripada shalat rawatib Zhuhur, Maghrib dan Isya. Shalat witir pun lebih afdhol (lebih utama) dari seluruh shalat sunnah yang dikerjakan di siang hari seperti shalat Dhuha. Bahkan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah qiyamul lail (shalat malam). Oleh karenanya, shalat witir dan shalat qobliyah shubuh adalah dua shalat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Diarsipkan di: Majalah Fatawa

Sumber: Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 23/88

repost:  https://konsultasisyariah.com/2126-menjaga-shalat-witir.html