Meninggalkan Shalat Karena Sibuk dengan Dunia

Biasanya yang meninggalkan shalat itu disebabkan sibuk dengan harta, kerajaan, kekuasaan dan sibuk berdagang. Jika keadaannya demikian, maka ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari di mana beliau bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad 2: 169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Disebutkan empat orang di atas karena mereka adalah para pembesar orang kafir.

Ada faedah yang mengagumkan dari hadits di atas. Orang yang meninggalkan shalat biasa sibuk dengan harta, kerajaan, kekuasaan, dan berdagang.

Siapa yang sibuk dengan harta sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qorun.

Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan shalatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun.

Siapa yang sibuk dengan kekuasaan sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun).

Siapa yang sibuk dengan berdagang sehingga melalaikan shalat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Kholaf[1].

Semoga Allah memperbaiki iman kita dan terus memudahkan kita menjaga shalat lima waktu.

Referensi:

Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1426 H, hal. 37-38.

Disusun saat Allah menurunkan nikmat hujan 13 Rabi’ul Awwal 1435 H @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Oleh -akhukum fillah- Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Ubay bin Kholaf adalah seorang tokoh atau pembesar Quraisy yang kaya raya, yang selalu aktif mengejek dan menghina Muhammad dengan kekayaannya.

Sampai-sampai surat Al Infithar yang membicarakan tentang orang yang mendustakan hari kiamat, yang dimaksud adalah Ubay bin Khalaf sebagaimana kata ‘Ikrimah. Lihat Zaadul Masiir, 9: 47.

Sumber https://rumaysho.com/5898-meninggalkan-shalat-karena-sibuk-dengan-dunia.html

[Kitabut Tauhid 2] 68. Dakwah kepada kalimat tauhid 54

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Diantara konsekuensi-konsekuensi mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Mendahulukan dan mengutamakan Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dari siapapun dan terhadap apapun.
  2. Membenarkan segala yang disampaikan oleh  Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dan menegakkan konsekuensi-konsekuensinya, karena kema’shuman Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- di dalam menyampaikan risalah dan mashlahat dibalik setiap konsekuensi yang disampaikannya.
  3. Mentaati apa yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- perintahkan. Karena taat kepada kepada Beliau bagian dari ketaatan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-. Dan merupakan sebab mashlahat bagi hamba dalam kehidupan dunianya dan akhiratnya nantinya.
  4. Menahan dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dilarang dan dicegah oleh Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam.

selanjutnya kita akan mempelajari Dakwah kepada kalimat tauhid 54. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Formulir Pertanyaan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Andai dosa memiliki aroma

Ibnu Mas’ud memiliki sahabat (murid-murid), dan demikianlah seorang alim yang berdakwah maka pasti manusia akan terpengaruh dengannya. Meskipun demikian beliau adalah suri tauladan hingga dalam kepemimpinannya dan persahabatannya. Suatu kali ia melihat para sahabatnya (murid-muridnya) mengikutinya dibelakangnya, ia melihat jumlah mereka yang banyak  maka beliaupun mengatakan kepada mereka wasiat beliau dan ia adalah wasiat yang pertama dari wasiat-wasiat beliau yang akan kita tadabburi.

Diantara wasiat-wasiat beliau adalah:

لو تعلمون ذنوبي ما وطئ عقبي اثنان، ولحثيتم التراب على رأسي، ولوددت أن الله غفر لي ذنبا من ذنوبي، وأني دعيت عبد الله بن روثة. أخرجه الحاكم وغيره.

((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, dan aku berangan-angan Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil Abdullah bin Kotoran)).Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya[16]

Ia berkata kepada para sahabatnya ((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang berjalan di belakangku)), dalam riwayat yang lain ((Jika kalian mengetahui dosa-dosaku –kemudian beliau bersumpah dan berkata- Demi Allah yang tidak ada sesembahan selainNya kalau kalian tahu maka sungguh kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku))

Wasiat ini tidak diragukan lagi merupakan pelajaran karena ketenaran dikalangan manusia sangat mungkin terjadi jika seseorang memiliki sesuatu yang membedakannya dikalangan manusia, bisa jadi mereka akan mengagungkannya, bisa jadi mereka akan memujinya, bisa jadi mereka berjalan di belakangnya. Dan seseorang jika bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan menggetahui bahwa dosanya sangatlah banyak[17]. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –dan ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[18]- yaitu As-Siddiq yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentangnya لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان الأمة لرجح إيمان أبي بكر  ((Kalau ditimbang imannya Abu Bakar dengan imannya umat maka akan lebih berat imannya Abu Bakar)) [19], Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya agar berdoa di akhir sholat dengan doa, maka ia berkata dalam doa tersebut

ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت

((Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai Eangkau))

Yang berwasiat adalah Nabi dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq

ربي إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك

((Ya Allah sesungguhnya aku telah mendzolimi diriki sendiri dengan kedzoliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuniku keculai Eangkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan dariMu)) [20]

Semakin bertambah ma’rifah seseorang kepada Robnya maka ia akan semakin takut kepada Allah dan akan semakin takut ada dua orang berjalan di belakangnya, takut ia akan diagungkan diantara manusia, takut ia diangkat-angkat dikalangan manusia karena ia mengetahui dari Allah dan dari hak-hak Allah apa yang membuatnya yakin bahwasanya ia tidak akan mencapai derajat bisa memenuhi hak-hak Allah. Ia akan kurang dalam bersyukur kepada Allah dan itu merupakan salah satu bentuk dari dosa-dosa

Ibnu Mas’ud berkata ((Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orang yang berjalan di belakangku))

Orang-orang tersohor, diantaranya orang yang pandai membaca Al-Qur’an, ia terkenal dengan indahnya bacaannya, indahnya suaranya maka orang-orangpun berkumpul kepadanya.

Diantara mereka adalah orang alim yang terkenal dengan ilmunya, tersohor dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, waro’nya. [21].

Diantaranya da’i yang tersohor dengan perjuangannya dalam berdakwah kepada manusia sehingga manusiapun berkumpul disekitarnya karena dengan sebabnya Allah telah memberi petunjuk kepada mereka kepada kebenaran.

Diantaranya ada yang terohor dengan sifat amanahnya

Dan tersohor orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan demikianlah….

Ketenaran merupakan hal yang sangat mudah menggelincirkan orang oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya dimana ia menjelaskan dalam wasiatnya tersebut tentang keadaan dirinya, ia menjelaskan bahwasanya apa yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang memiliki pengikut, maka ia berkata, “Jika kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku”

Maka orang yang memiliki popularitas atau termasuk orang-orang yang terpandang di masyarakat hendaknya ia selalu merendahkan dirinya dihadapan masyarakat, ia menampakan rendahnya dirinya di hadapan mereka bukan agar terangkat derajatnya di antara mereka akan tetapi agar terangkat derajatnya di sisi Allah, dan hal ini kembali pada permasalahan ikhlas. Karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia agar ia terkenal diantara mereka, dan ini merupakan perangkap syaitan. Di antara mereka ada yang merendahkan dirnya di hadapan manusia dan Allah mengetahui apa yang terdapat dalam hatinya bahwasanya ia benar dalam hal itu, ia takut pertemuan dengan Allah, takut hari dimana akan di balas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada pada hari dimana apa yang ada di hati akan nampak dan tidak ada sesuatupun yang bisa bersembunyi dari Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan dari Allah satu kejadianpun.

Ini merupakan pelajaran yang mesti diperhatikan oleh masing-masing dari yang diikuti dan mengikuti. Adapun yang mengikuti maka ia sadar bahwasanya orang yang ia ikuti wajib untuk tidak diagungkan akan tetapi diambil faedah darinya dari apa yang ia sampaikan dari Allah atau dari perkara-perkara yang bermanfaat bagi manusia. Adapun pengagungan maka hanyalah hak Allah kemudian hak Rasulullah, adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka mereka berhak untuk dicintai dalam diri.

Dan hendaknya orang yang tersohor agar senantiasa takut kepada Allah, merasa rendah dihadapan Allah dan selalu mengingat dosa-dosanya, selalu mengingat ia akan berdiri dihadapan Allah, selalu mengingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak untuk diikuti oleh dua orang yang berjalan di belakangnya. Oleh karena itu tatkala Abu Bakar As-Shiddiq dipuji dihadapan manusia lalu ia berkhutbah setelah itu, telah shahih darinya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata, “Ya Allah jadikanlah aku” –ia mengucapkannya dengan keras- ia berkata,

اللهم اجعلني خيرا مما يظنون، واغفر لي ما لا يعلمون

“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan dan ampunilah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui” [22]

Beliau mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa-dosa hingga manusia tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah ini sebagaimana yang kita lihat kondisi sekarang ini dimana orang yang diagungkan semakin bertambah pengagungan terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang mengikutinyapun semakin mengagungkannya, ini bukanlah petunjuk para sahabat. Umar terkadang ia ta’jub dengan dirinya sendiri dan ia –tatkala- itu adalah seorang kholifah dan ia adalah orang kedua yang dikabarkan masuk surga setelah Abu Bakar, maka iapun memikul sesuatu di pasar maka diapun merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa besar (dan ujub) dengan dirinya.

Dan diantara pintu-pintu dosa adalah perasaan ujub dan merasa besar yaitu seseorang melihat dirinya hebat. Diantara salafus soleh ada yang jika dia hendak menyampaikan muhadhoroh dan ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan mereka. Kenapa??, karena kebaikan dirinya lebih wajib ia selamatkan daripada kebaikan orang-orang. Tatkala ia melihat kumpulan yang banyak dan ia melihat dirinya mulai senang jika mereka berkumpul banyak, mereka diam memperhatikan, mereka melakukan demikian dan demikian, mereka menyambutnya maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun mengatakan tentangnya apa yang mereka katakana. Namun yang paling penting adalah keselamatan hatinya antara ia dan Robnya, dan keselamatan (kebaikan) hatimu lebih penting daripada keselamatan hati orang lain, maka hendaknya tatkala itu perjuangan melawan nafsu dalam keadaan seperti ini.

Jika demikian maka ini adalah wasiat dari Ibnu Mas’ud dimana ia berkata, “Demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Ia  seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku”

Dan kami berharap wasiat ini selalu diingat oleh setiap yang memiliki suatu ketenaran di antara manusia, baik ia seorang pengajar , atau seorang alim, atau seorang pembaca Al-Qur’an, atau pemegang tanggung jawab dalam suatu urusan tertentu, atau seorang amir (pemimpin/penguasa), atau seorang raja, dan seterusnya dari golongan-golongan manusia, hedaknya ia merasa rendah dengan dirinya hingga ia tidak besar hatinya maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Ini adalah wasiat dan ia merupakan wasiat yang sangat dalam yang mengandung makna yang banyak, dan pada apa yang kami sebutkan di sini hanyalah isyarat-isyarat, dan dibalik isyarat-isyarat ini ada ungkapan-ungkapan, dan perhatikanlah maka engkau akan mendapatkan hal itu.

Diterjemahkan dan diberi catatan kaki oleh Firanda Andirja dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh

Catatan Kaki

—————

[16] Al-Mustadrok 3/357 no 5382. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (Mushonnaf 7/103 no 34522) Ibnu Mas’ud berkata, لوددت أن روثة انفلتت عني فنسبت إليها فسميت عبد الله بن روثة وأن الله غفر لي ذنبا واحدا ((Aku berangan-angan ada sebuah tai yang terlepas dariku  maka akupun dinisbatkan kepada tai tersebut maka aku dinamakan Abdullah bin Routsah (tai/kotoran) dan Allah mengampuni bagiku satu dosaku))

Dalam riwayat Al-Baihaqi (Syu’abul Iman 1/504 no 848) Ibnu Mas’ud berkata, والذي لا إله غيره لوددت أني انقلبت روثة وأني دعيت عبد الله بن روثة وأن الله غفر لي ذنبا واحدا ((Demi Yang tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) selainNa sesungguhnya aku berangan-angan aku berubah menjadi tai dan aku dipanggil Abdullah bin tai dan Allah mengampuni satu dosaku)) dan beliau juga berkata (Syu’abul Iman 1/504 no 846) وددت أني نسبت إلى روثة وان الله تعالى تقبل مني حسنة واحدة من عملي ((Aku berangan-angan agar aku dinisbatkan kepada tai dan Allah menerima satu amalan kebaikanku))

[17] Maka sungguh benarlah perkataan Ahmad bin ‘Ashim Al-Anthoki (beliau meninggal tahun 239 H), من كان بالله أعرف كان منه أخوف  “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka ia akan lebih takut kepada Allah” (Al-Bidayah wan Nihayah 10/318, Bugyatut Tolab fi tarikh Al-Halab 2/750)

[18] Ar-Robi’ bin Anas berkata, نظرنا في صحابة الأنبياء فما وجدنا نبيا كان له صاحب مثل أبي بكر الصديق “Kami memperhatikan sahabat-sahabat para nabi maka kami tidak mendapatkan seorang nabipun yang memiliki seorang sahabat seperti Abu Bakar” (Tarikh Dimasyq 30/127)

[19] Yang masyhur ini adalah perkataan Umar bin Al-Khotthob sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi (Syu’abul Iman 1/69 no 36), Ibnu ‘Asakir (Tarikh Dimasyq 30/126,127), Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya (sebagaimana di nukil oleh Az-Zaila’i dalam kitabnya takhrij Al-Ahadiits wal Atsaar 1/248).

Adapun riwayat yang marfu’ dari Nabi r adalah riwayat yang lemah karena merupakan riwayat Abdullah bin Abdilaziz bin Abi Rowad dari ayahnya. Berkata Abu Hatim dan yang lainnya tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar”. Berkata Ibnul Junaid, “Ia meriwayatkan hadits-hadits yang dusta” (Lisanul Mizan 3/310). Berkata Ibnu ‘Adi, “Ia meriwayatkan hadits-hadits dari ayahnya yang  tidak ada perawi lain yang memutaba’ahinya” (Al-Kamil fi du’afa’irrijal 4/201). Ibnu Hibban menyebutnya di kitabnya Ats-Tsiqoot dan berkata, “Haditnya bisa jadi mu’atabar jika ia meriwayatkan dari selain ayahnya” (Ats-Tsiqoot 8/347 no 13809)

[20] HR Al-Bukhari 1/286 no 799, 5/2331 no 5967.

[21] Ibnu Mas’ud berkata, بحسب المرء من العلم أن يخاف الله وبحسبه من الجهل أن يعجب بعمله atau dalam riwayat yang lain dengan makna yang sama كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار به جهلا “Cukuplah ilmu bagi seseorang jika ia takut kepada Allah dan cukuplah kebodohan pada dirinya jika ia ujub dengan amalannya” (Musonnaf Ibni Abi Syaibah 7/103, 104)

[22]Berkata An-Nawawi, “Abu Bakar jika dipuji maka beliau berdoa….” (Tahdzibul Asma’ 2/479-480)

sumber: https://firanda.com/35-wasiat-ibnu-masud-1-qkalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangkuq.html

Pengaruh Ilmu

Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan dan pelita bagi orang yang sedang berjalan. Ia merupakan poros kemajuan dan perkembangan juga merupakan jalan kebangkitan bagi dunia Islam untuk membangun peradaban yang indah, perekonomian yang kuat dan pribadi yang seimbang.

Keutamaan ilmu dan urgensinya telah dijelaskan dalam kitab-kitab para Ulama dan saat ini kita tidak membicarakan itu. Kali ini, kita akan fokus pembicaraan tentang hakekat nilai ilmu, dampak dan buahnya.

Majunya suatu umat bukan diukur dengan banyaknya wawasan yang telah terisikan dalam kepala, tidak juga dengan banyaknya hafalan yang diucapkan oleh mulut, akan tetapi diukur dengan efek dari ilmu tersebut dalam prilakunya dan hatinya. Jika jujur melihat kondisi kaum Muslimin saat ini, kita dapati mereka sangat membutuhkan pengembangan efek ilmu itu dalam  segala bidang dan lini kehidupan.

Diantara yang melemahkan efek ilmu bahkan menghilangkan sebagian nilainya adalah adanya sebagian orang yang menjadikan ilmu sebagai perhiasan yang berbangga diri dengannya. Mereka ini menjadikan ilmu sebagai tangga untuk meraih popularitas, menumpuk harta, atau mendulang pujian manusia. Na’udzubillah

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَالنَّارَ النَّارَ

Janganlah kalian menuntut ilmu demi membanggakannya dihadapan Ulama, jangan juga untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan juga agar unggul di forum-forum. Barangsiapa yang melakukan demikian maka neraka-neraka” [HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Hadits ini dinilai shahih Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Dahulu tidaklah seseorang belajar ilmu, kecuali tidak lama kemudian terlihat efek ilmu dalam kakhusyu’annya, dalam pandangannya, lisannya, tangannya, shalatnya, pembicaraannya dan zuhudnya”

Efek ilmu dalam jiwa itu bertingkat-tingkat dan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan jiwa masing-masing. Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الذي أُرسلتُ به

Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allâh utus aku untuk membawanya adalah seperti hujan deras yang mengguyur tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang lebat. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib, tanah yang bisa menampung air (namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka Allâh menjadikannya bermanfaat bagi manusia, mereka dapat mengambil air minum dari tanah ini, lalu memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an yaitu tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menumbuhkan tetumbuhan. Inilah permisalan orang yang memahami agama Allâh, sehingga bermanfaat baginya ajaran yang Allâh utus aku untuk membawanya, maka iapun mengilmuinya dan mengajarkan ilmu. Dan perumpamaan orang yang tidak memperdulikan ilmu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allâh mengutusku dengannya.” [HR. Al-Bukhâri].

Iman merupakan pengendali dan pengarah jalan bagi ilmu agar efek baik terwujud. Jika ilmu tidak disertai dengan iman, maka kebaikan ilmu akan berubah menjadi keburukan, manfaatnya menjadi kemudorotan, dan efek buruknya akan terlihat pada individu dan umat.

Mereka yang memiliki ilmu, namun berlaku sombong dan mengingkari karunia Allâh Azza wa Jalla , mengingkari Rabb yang telah menciptakan mereka, sampai akhirnya terjerumus dalam kekufuran dan atheisme, penyebabnya adalah ilmu dan hati mereka tidak tersucikan dengan keimanan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allâh yang selalu mereka perolok-olokkan itu [Ghâfir/40:83]

Ilmu akan memberikan buahnya dalam budaya, pemikiran dan adab tatkala terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Tidak mungkin bagi umat ini bisa membuktikan eksistensinya sehingga bisa mengendalikan kepemimpinan dan berada pada posisi terdepan tanpa al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al-Qur’an memiliki pengaruh yang tidak akan berakhir. Al-Qur’an mengangkat derajat individu dan masyarakat di dunia dan akhirat. Siapapun yang mendekatinya ia akan naik derajatnya dan meningkat, sebaliknya siapapun yang meninggalkannya pasti ia akan celaka dan terpuruk. Al-Qur’an membentuk kepribadian yang sempurna, mengharumkan nama suatu umat dan membimbingnya agar memiliki peradaban tinggi dan menjadi yang terdepan.

Umat yang mengerti akan arti dan urgensi al-Qur’an, mereka pasti akan memberikan porsi perhatian yang besar kepada al-Qur’an. Mereka akan membacanya,  memahaminya, mentadabburinya lalu mengamalkannya.

Ilmu juga berpengaruh pada akhlak yang merupakan barometer suatu umat. Ilmu sendiri tanpa tarbiyah tidak akan membuahkan generasi yang sukses. Jika ilmu telah bisa membenahi akhlak, meluruskan etika dan membersihkan hati, maka itulah ilmu yang diharapkan.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Jika siang hariku sama dengan siang hari orang pandir, dan malamku seperti malam orang jahil, lalu apa yang telah aku lakukan terhadap ilmu yang telah aku catat?”

Apalah artinya ilmu, jika hasad dan dendam tetap bercokol di hati? Forum-forumnya penuh dengan ghibah, namimah dan berbagai keburukan lainnya?

Apalah artinya ilmu, jika pemiliknya ternyata menentang Robnya dengan melanggar syari’at-Nya, mengkhianati agama, negeri dan masyarakatnya?! Serta berdusta dalam perbuatan dan interaksinya dengan orang lain?!

Sungguh ia telah merobek tirai kemuliaan ilmu dan memadamkan cahayanya dengan tingkah dan akhlak buruknya.

Alangkah besar dosanya, jika dengan sebab itu masyarakat menjauhi dan membenci syari’at Allâh yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dampak baik dari ilmu juga tampak pada perkembangan akal, pemikiran yang lurus, logika yang mapan dan argumen yang kuat.

Demi mewujudkan itu semua, al-Qur’an al-Karim mendidik kaum Muslimin yang membacanya agar merenungkan ayat-ayat Allâh, dan mentadaburi keajaiban-keajaiban kekuasaan Allâh yang tersebar di penjuru alam semesta dan kehidupan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar.  [Fusshilat/41:53]

Lalu Allâh Azza wa Jalla menutup banyak ayat-Nya dengan firman-Nya, yang artinya, “Apakah kalian tidak berakal?”… Apakah kalian tidak berfikir?”… “Apakah kalian tidak mengambil pelajaran?”

Ini semua untuk mengaktifkan dan mengembangkan akal serta melatihnya menempuh metode-metode berfikir yang tersetruktur.

Manfaat ilmu itu seharusnya juga tampak dalam kemampuan seseorang menjaga diri dari syubhat-syubhat dan pemikiran-pemikiran menyimpang dan batil. Ini tidak mungkin diperoleh kecuali dengan belajar ilmu syar’i dan mengikat para pemuda dengan aturan-aturan syari’at, terutama pengaruh kelompok-kelompok sesat yang menyusup ke tengah kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas [Al-An’âm/6:119]

Dan masih banyak lagi pengaruh baik lainnya yang merupakan buah dari ilmu.

Akhirnya kita berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar terus berkenan menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita dengan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diadaptasi dari khutbah Jum’ah yang disampaikan oleh Syaikh DR. Abdul Bâri ats-Tsubaiti di Masjid Nabawi pada tanggal 13 Dzulqa’dah 1436 H dengan judul Atsarul ilmi fi Nufûs

sumber: https://almanhaj.or.id/6503-pengaruh-ilmu.html

Memilih Teman Membentengi Keyakinan

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memuliakan hamba-hamba-Nya dengan menganugerahi mereka sifat ulfah (kedekatan sesama mereka) di dalam agama. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan taufik kepada akhlak yang paling mulia. Segala puji bagi-Nya yang telah menganugerahi mereka sifat sayang kepada kaum mukminin dan menghiasi mereka dengan akhlak yang mulia dan perangai yang diridhai.

Segala puji pula bagi-Nya yang telah menjadikan mereka meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam perbuatan, akhlak, pergaulan, dan amalan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah memuji beliau dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ 

“Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.” (al-Qalam: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyeru beliau kepada akhlak yang agung,

فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ

“Berilah maaf kepada mereka, mintakanlah ampun buat mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam banyak hal. Jika kamu memiliki tekad kuat (untuk melakukan sesuatu), bertawakkallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)

Di antara kebagusan pergaulan beliau dan keindahannya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Jika kamu keras hati, niscaya mereka akan lari darimu.” (Ali Imran: 159)

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 

“Berikanlah maaf, serulah kepada yang baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf: 199)

Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan hamba-Nya memiliki akhlak yang agung dan mulia. Dialah yang telah membimbing mereka pada akhlak dan adab yang terpuji, serta menyelamatkan mereka dari akhlak yang tercela. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعًا مَّآ أَلَّفۡتَ بَيۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيۡنَهُمۡۚ

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka.” (al-Anfal: 63)

Ulfah (kedekatan hati) akan melahirkan ukhuwah. Ukhuwah akan melahirkan kebagusan dalam bergaul dan berteman. Allah subhanahu wa ta’ala-lah yang memberikan taufik kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan membantu mereka dengan karunia serta keluasan rahmat-Nya.

Adab berteman dan bergaul banyak bentuknya. Setiap golongan manusia berhak mendapatkan adab-adab berteman dan bergaul. Oleh karena itu, wajib atas setiap mukmin untuk menjaga hak saudaranya dan memperbagus pergaulannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa mukmin itu adalah bersaudara, bagaikan satu jasad (tubuh). Jadi, mereka semestinya tolong-menolong dalam kebaikan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوْادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى

“Permisalan orang yang beriman dalam cinta kasih dan sayang mereka bagaikan satu jasad. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya dengan begadang dan merasa panas.” (HR. Muslim, no. 4685)

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari, no. 2266)

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik untuk berteman dengan Ahlus Sunnah, dengan orang yang selalu menjaga diri, orang yang baik, dan baik agamanya. Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkannya dari berteman dengan pengekor hawa nafsu, ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaklah setiap kalian melihat siapa temannya.” (HR. AhmadAbu Dawudat-Tirmidzi, dll.)

Seorang penyair berkata,

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ

فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ مُقْتَدِي

Janganlah engkau bertanya tentang jati diri seseorang, tetapi tanyakanlah siapa temannya

karena setiap orang akan mengikuti temannya

(lihat Muqaddimah Adab ash-Shuhbah karya Imam Abdurrahman as-Sulami)

Ruh-Ruh Ibarat Pasukan yang Kukuh

Watak dan karakter yang berbeda sangat memengaruhi pergaulan sehari-hari. Perbedaan watak dan karakter menyebabkan setiap individu akan mencari yang serupa dan menolak jika tidak sama. Yang baik akan bergabung dengan yang baik dan yang jelek akan bergabung dengan yang jelek.

Hal ini telah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam dalam sabdanya,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu ibarat sebuah pasukan yang kokoh. Bila dia saling kenal, akan bertemu dan bila saling tidak kenal, akan berpisah.”

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan,

“Hadits ini disepakati ulama kesahihannya, diriwayatkan oleh Muhammad (al-Bukhari rahimahullah, pen.) dari Aisyah radhiyallahu anha, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Yazid bin al-Asham, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhum.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, ‘Ruh itu seorang tentara yang dipersiapkan akan bertemu dengan yang sepadan. Sebagaimana kuda, jika dia cocok, akan menyatu dengannya. Apabila tidak, akan berpisah.’

Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa ruh-ruh diciptakan sebelum jasad dan bahwa ruh merupakan makhluk. Ketika bersatu atau berpisah, ia bagaikan sebuah pasukan yang bertemu atau berhadapan. Hal ini karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikannya ada yang beruntung dan ada pula yang celaka.

Setelah itu, di dunia, jasad yang menjadi tempat ruh akan bertemu atau berpisah sesuai dengan keserupaan atau tidaknya, yang telah diciptakan baginya di awal penciptaannya. Karena itu, engkau melihat seseorang yang baik akan mencintai yang baik, dan orang yang jahat akan senang kepada yang serupa. Masing-masing dari keduanya akan lari dari lawannya.” (Syarhus Sunnah 13/57)

An-Nawawi rahimahullah dalam syarah beliau menjelaskan, “Orang yang baik akan condong kepada orang yang baik dan orang yang jahat akan condong kepada yang jahat.”

Figur Pergaulan dan Persahabatan yang Baik pada Generasi Terbaik

Sesungguhnya kehidupan ini adalah bagian kecil dari karunia Allah subhanahu wa ta’ala bagi manusia. Dia-lah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian agar Allah subhanahu wa ta’ala menguji siapa yang paling baik amalnya di antara mereka. Dia pula yang telah memilih siapa di antara para hamba-Nya yang paling dekat dengan-Nya dan siapa yang dijauhkan. Dia pula yang telah mengangkat dan merendahkan siapa yang dikehendaki-Nya.

Dengan beramal, seseorang akan menjadi mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi generasi terbaik dalam kurun kehidupan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. al-Bukhari, no. 2457)

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٍۚ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al-Mujadalah: 11)

Generasi siapakah yang mendapatkan karunia pengangkatan derajat pertama kali dari umat ini dengan ilmu dan amal? Itulah generasi sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Imran bin Hushain radhiyallahu anhu di atas.

Bagaimanakah mereka berteman, bergaul, dan bersahabat? Apakah mereka mendahulukan kesukuan dan ras? Atau mendahulukan karakteristik dan perasaan? Atau mendahulukan kekeluargaan?

Untuk menjawab semua pertanyaan ini, mari kita lihat bagaimana sifat-sifat mereka yang telah diabadikan Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat-Nya. Di antaranya,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبۡتَغُونَ فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنًاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةً وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Kemudian tunas itu menjadikan tanamannya kuat, besar, dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

“Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Adakah sifat pergaulan dan persahabatan dalam bermuamalah yang paling tinggi dari apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat-ayat di atas? Mereka adalah orang yang keras terhadap orang kafir dan penyayang sesama mereka. Mereka adalah orang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’aladalam melaksanakan segala kewajiban. Mereka adalah orang yang tulus ikhlas dalam mencari karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan kukuh. Mereka adalah orang yang ditakuti oleh musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah orang yang mencintai saudaranya lebih dari diri mereka sendiri. Mereka adalah orang yang tidak kikir dan bakhil. Mereka mengutamakan saudaranya daripada kepentingan mereka sendiri.

Dengan semua sifat ini, adakah kecurigaan dalam berteman dan persahabatan di antara mereka, buruk sangka, saling benci, saling hasad, saling mencela, saling menjatuhkan, saling menjauhi, mencari-cari kesalahan, dan saling berpaling?

Cukuplah pujian dan sanjungan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka sebagai generasi terbaik umat ini yang patut untuk diteladani.

Memilih Teman Adalah Bagian dari Agama

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطًا 

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi: 28)

فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا  

“Berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (an-Najm: 29)

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ  

“Jika kamu menuruti kebanyakan orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

Rasulullah shallallahi alaihi wa sallam memerintahkan kepada kaum lelaki ketika mencari pasangan“Pilihlah yang beragama. Jika tidak, akan celaka kedua tanganmu.”

An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran dan dorongan untuk berteman dengan orang yang memiliki agama dalam segala permasalahan. Sebab, berteman dengan mereka akan mendapatkan kebagusan akhlak mereka, keberkahan, dan kebagusan jalan mereka. Selain itu, akan terpelihara dari kerusakan yang akan timbul dari mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 10/52)

Teman yang Baik Akan Membantu dalam Kebaikan

Sesungguhnya, syariat telah menganjurkan kita untuk berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauhkan diri dari teman yang jelek. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ

“Seseorang berada di atas agama temannya.” (HR. Ahmad)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga menjelaskan,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti (berteman) dengan pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun (berteman) dengan pembawa minyak wangi kemungkinan dia akan memberimu, kemungkinan engkau membelinya, atau kemungkinan engkau mencium bau yang harum. Dan (berteman) dengan tukang pandai besi kemungkinan dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak enak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

“Di dalam hadits ini terdapat larangan berteman dengan seseorang yang akan merusak agama dan dunia. Hadits ini juga mengandung anjuran agar seseorang berteman dengan orang yang akan bermanfaat bagi agama dan dunianya.” (Fathul Bari 4/324)

Di dalam hadits ini terdapat bimbingan dan dorongan agar berteman dengan orang-orang yang saleh dan berilmu. Sebab, berteman dengan mereka akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Di samping itu, terdapat peringatan agar tidak berteman dengan orang yang jelek dan fasik karena akan membahayakan agama dan dunia.

Berteman dengan orang baik akan mewariskan kebaikan, sedangkan berteman dengan orang yang jahat akan mewariskan kejelekan. Tak ubahnya seperti angin, jika dia bertiup pada sesuatu yang wangi, ia akan membawa bau yang harum. Jika bertiup pada sesuatu yang busuk, ia akan membawa bau yang busuk. Walhasil, pertemanan akan berpengaruh.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

Sebagian orang bijak berkata, “Hendaklah kalian selalu bersama Allah. Jika kalian tidak sanggup, bertemanlah kalian dengan orang yang (selalu) bersama Allah.” (Lihat Mirqatul Mafatih Syarah Misykatu al-Mashabih, 14/306)

Apabila Teman Anda Orang yang Jelek

Saudaraku, Anda pasti tidak akan sudi dan tidak ingin apabila api itu membakar pakaian Anda atau mendapatkan bau yang busuk. Jika Anda tidak sudi hal itu menimpa urusan dunia Anda, apakah Anda akan senang jika hal itu menimpa agama Anda?

Tentu, jawabannya lebih tidak senang. Mari kita simak sabda Rasul kita shallallahu alaihi wa sallam,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ

“Seseorang berada di atas agama temannya.” (HR. Ahmad)

Bagaimanakah pendapat Anda apabila:

  1. Teman Anda adalah orang yang rusak agama, manhaj (pemahaman), akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan semua sendi agamanya?
  2. Teman Anda adalah orang yang curang, pendusta, suka menipu, dan pengkhianat?

Sudikah Anda berteman dengan mereka?

Jika Anda mengatakan ya, berarti Anda harus bersiap menuju kehancuran dan kehinaan hidup. Sebab, Anda telah melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Jika Anda mengatakan tidak, tahukah Anda, teman baik yang harus Anda cari?

Teman yang baik adalah teman yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • orang yang taat,
  • selalu menepati janji,
  • amanah,
  • jujur,
  • senang berkorban,
  • berperilaku terpuji,
  • menjauhi lawan dari semua sifat tersebut.

Oleh karena itu, jika pertemanan tidak dibangun di atas ketaatan, kelak di hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (az-Zukhruf: 67)

Beberapa Contoh Pengaruh Teman dalam Beragama

  1. Kematian Abu Thalib

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Musayab radhiyallahu anhu, yang menyaksikan kematian Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Bagi kita, tidaklah tersembunyi perihal pembelaan beliau terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamdalam mendakwahkan agama Allah subhanahu wa ta’ala ini. Dengarkan berita ketika matinya,

“Tatkala Abu Thalib di atas ranjang kematiannya, datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamkepadanya dengan menawarkan Islam, ‘Wahai pamanku, ucapkan kalimat laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku bisa membelamu kelak di sisi Allah.’

Dua saudara Abu Thalib, yaitu Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahl, yang lebih dahulu hadir mendiktekan sesuatu yang bertolak belakang dengan ajakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka membujuk Abu Thalib tetap mempertahankan agama kufurnya. Takdir telah mendahului dia bahwa dia mati dalam kondisi kafir di atas agama nenek moyangnya.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah mengambil faedah dari hadits ini dalam Kitab at-Tauhid, Bab firman Allah, “Innaka Laa Tahdi Man Ahbabta” faedah yang kedelapan, bahaya teman yang jahat terhadap seseorang.

  1. Imran bin Hiththan bin Zhabyan as-Sadusi al-Bashri

Dia termasuk salah seorang berilmu pada masa tabiin. Dia meriwayatkan dari Aisyah, Abu Musa, dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhum. Di antara ulama yang meriwayatkan darinya ialah Ibnu Sirin, Qatadah, dan Yahya bin Abi Katsir. Akan tetapi, dia termasuk tokoh Khawarij. Sebab awalnya adalah dia ingin menikahi anak pamannya yang berpemahaman Khawarij. Kata Ibnu Sirin, dia menikahinya dalam rangka membantahnya. Namun, istrinya yang justru menyeretnya ke dalam mazhab Khawarij.

Disebutkan oleh al-Madaini bahwa wanita itu memiliki kecantikan, sementara dia memiliki rupa yang jelek. Pada suatu hari, wanita tersebut berkata kepadanya, “Saya dan kamu di dalam surga karena kamu diberi lantas kamu bersyukur, sedangkan aku diuji lantas aku bersabar.”

  1. Abu Bakr Abdurrazzaq bin Hammam bin Nafi bin Sa’dan al-Himyari al-Yamani (lebih dikenal dengan ash-Shan’ani, penulis al-Mushannaf)

Beliau adalah hafizh besar, alim negeri Yaman pada masanya. Beliau berangkat mendulang ilmu ke negeri Hijaz, Syam, dan Irak. Beliau tertipu dengan pemikiran gurunya, Ja’far bin Sulaiman adh-Dhaba’i, sehingga terpengaruh paham Syiah.

  1. Abu Bakr Ahmad bin Husain bin Ali bin Musa, al-Hafizhal-Allamahats-Tsabtal-FaqihSyaikhul Islam, yang masyhur dengan nama al-Baihaqi.

Beliau adalah salah satu dari sederetan ulama ahli hadits, bahkan ulama mereka. Beliau terpengaruh paham Asy’ariyah dari Ibnu Faurak dan semisalnya.

  1. Abu Dzar al-Harawi, Abd bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ufair bin Muhammad, al-HafizhImamal-Mujawwidal-’Allamah, syaikh negeri Haram.

Beliau termasuk salah seorang periwayat Shahih al-Bukhari. Beliau juga menulis ilzamat atas ash-Shahihain. Beliau termasuk murid Imam ad-Daraquthni. Beliau mendengar Imam ad-Daraquthni memuji al-Baqillani, lalu beliau terpengaruh dan mencintainya sehingga beliau terjatuh ke dalam mazhab Asy’ariyah serta menyebarkannya di negeri Maghrib (Afrika Utara bagian barat).

(Lihat Siyar A’lamin Nubala’ karya Imam adz-Dzahabi dalam biografi para ulama di atas. Lihat pula tulisan asy-Syaikh Rabi, Syarah ‘Aqidatus Salaf Ashabil Hadits, hlm. 302)

Ini adalah beberapa contoh orang yang terpengaruh dengan paham kesesatan karena salah memilih teman.

Jika hal itu terjadi pada diri para ulama besar, akankah kita akan merasa aman?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

sumber: https://asysyariah.com/memilih-teman-membentengi-keyakinan/

Setan Menakut-Nakuti dengan Kemiskinan

alah satu cara setan menggoda manusia adalah selalu menakut-nakuti dengan kemiskinan. Setan membuat manusia merasa selalu kekurangan padahal karunia Allah itu sangat banyak. Allah berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia ditakut-takuti kemiskinan sehinga menjadi pelit terhadap hartanya. Beliau berkata,

يخوفكم الفقر ، لتمسكوا ما بأيديكم فلا تنفقوه في مرضاة الله

“Setan menakut-nakuti kalian akan kemiskinan, agar kalian menahan harta ditangan kalian dan tidak kalian infakkan untuk mencari ridha Allah.” [Tafsir Ibnu Katsir]

Manusia semakin takut dengan kemiskinan karena sifat dasar manusia sangat cinta terhadap harta dan harta adalah godaan (fitnah) terbesar manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta” [HR. Bukhari]

Kunci agar bisa lepas dari godaan setan ini adalah tetap merasa qana’ah dan giat bekerja. Seseorang akan  terus merasa kurang dan miskin apabila tidak merasa qana’ah dan selalu melihat orang lain yang berada di atasnya dalam urusan dunia. Mayoritas pergaulannya adalah orang-orang yang lebih kaya sehingga ia tidak merasa qanaah, karenanya kita diperintahkan untuk selalu melihat yang berada di bawah kita dalam urusan dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”[HR. Bukhari dan Muslim]

Kunci lainnya adalah agar kita giat bekerja, kreatif dan tidak gengsi dalam mencari harta. Apapun pekerjaaannya yang penting halal, maka laksanakan saja tanpa harus gengsi. Inilah bentuk tawakkalnya burung, sebagaimana dalam hadits:

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

 “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ [HR.Tirmidzi, hasan shahih]

Kemudian godaan setan akan kemiskinan akan berdampak munculnya rasa pelit pada manusia, tidak mau berinfak atau membantu sesama. Rasulullah bersabda bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang:

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena shadaqah.” [HR. Tirmidzi]

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” [Lihat Tuhfatul Ahwadzi]

Semoga Allah melindungi kita dari godaan setan berupa rasa takut akan kemiskinan dan semoga Allah memudahkan kita untuk berinfak.

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/50745-setan-menakut-nakuti-dengan-kemiskinan.html

Pengaruh Kejujuran Dalam Kehidupan Pribadi Dan Bermasyarakat

Setiap perbuatan ataupun sikap yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalladan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mendatangkan akan mendatangkan manfaat bagi orang yang melakukannya dan juga akan dirasakan pengaruh positifnya oleh orang lain. Diantara sikap yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalladan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap atau prilaku jujur. Berikut ini, penulis mencoba menjelaskan sebagian manfaat dari prilaku jujur, baik manfaat bagi pribadi orang yang berprilaku jujur ataupun bagi masyarakat.-red

PENGARUH KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN PRIBADI 
1. Kejujuran Itu Melahirkan Ketakwaan Di Dalam Hati, Mendatangkan M aghfirah (Ampunan) Juga Membuahkan Pahala Yang Besar. 
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa berprilaku jujur dan Allâh juga memuji kaum Muslimin yang konsisten dengan kejujuran. Allâh Azza wa Jalla berfriman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur [At-Taubah/9:119]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar , laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-A h zâb/33:35]

Allâh Azza wa Jallajuga berfirman:

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka[Muhammad/47:21]

Dalam ayat pertama di atas, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman  agar selalu berteman dengan orang-orang yang jujur. Sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan perintah agar mereka senantiasa bertakwa. Dari sini bisa difahami bahwa kejujuran  itu bisa melahirkan ketakwaan dalam diri seseorang. Ini juga dikuatkan dengan firman Allah Azza wa Jalla:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.   [Az-Zumar/39:33]

Pada ayat yang kedua di atas, Allâh Azza wa Jalla menjanjikan maghfirah (ampunan) dan pahala besar bagi orang-orang yang jujur. Jika ini janji dari Allâh Azza wa Jalla , lalu apa lagi yang diharapkan oleh seorang Mu’min selain ini? Sebenarnya, pengampunan dosa saja bagi seorang Mukmin itu sudah cukup, akan tetapi karunia Allâh Azza wa Jalla tidak cukup sampai disitu, Allâh Azza wa Jalla telah menyiapkan bagi kaum Mukminin yang jujur suatu kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dibenak seorang hamba. Terlebih jika pembicaraan ini kita sandingkan dengan pembicaraan tentang hadits yang menjelaskan bahwa kejujuran itu mendatangkan keselamatkan, sebaliknya kedustaan itu menyebabkan kebinasaan, maka akan tampak jelas bagi kita bahwa dusta merupakan perbuatan yang bisa membinasakan manusia di dunia dan di akhirat.

2. Indikasi Kejujuran Akan Tampak Jelas Di Wajah Orang-Orang Yang Jujur. 
Orang yang senantiasa jujur akan tampak pada wajah dan suaranya kejujurannya. Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan orang yang belum Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenal dan orang itu belum mengenal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang itu mengatakan, “Demi Allâh! Wajah orang ini bukan wajah pendusta dan suaranya bukan suara pendusta.”

Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya kejujuran itu, sebagaimana ia bisa memberikan dampak positif kepada orang yang melakukannya (orang yang berbicara jujur-red), dia bisa memberikan kesan positif kepada orang yang menjadi lawan berbicara. Kesan inilah yang menuntunnya untuk menerima dan menghormati perkataan orang yang berbicata jujur.

3. Kejujuran Mendatangkan Keselamatan. 
Kisah tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut perang Tabûk adalah diantara kisah masyhur yang memberikan inspirasi tentang kejujuran. Kisah itu merupakan perumpamaan yang sangat menggugah dan menyentuh perasaan orang yang membacanya. Sebuah kisah yang menggambarkan kejujuran para Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Para pelaku dalam kisah nyata itu adalah Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu , dan yang ketiga Hilâl bin Umayyah Radhiyallahu anhu . Berikut ini adalah kisah nyata tersebut secara ringkas.

Ada tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut serta dalam perang Tabûk. Penyebabnya, bukan karena ada keraguan dalam hati mereka, bukan pula karena kemunafikan. Mereka adalah tiga Shahabat yang telah disebutkan di atas. Setelah pertempuran usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke kota Madinah. Setibanya di Madinah, semua orang yang tidak ikut berperang mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskan alasan ketidak ikut sertaan mereka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima semua alasan mereka dan menyerahkan urusan apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Tatkala Ka’ab Radhiyallahu anhu datang dan mengucapkan salam kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan senyuman orang marah. Ka’ab Radhiyallahu anhu menceritakan, ‘Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kemarilah!’  Lalu saya mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan duduk tepat dihadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam?’

Saya menjawab, ‘Wahai Rasûlullâh! Demi Allâh! Seandainya aku duduk didekat orang selain engkau, niscaya saya yakin akan bisa bebas dari murkanya dengan alasan dan argumentasi yang saya kemukakan. Karena saya diberi kemampuan untuk berdebat. Namun, demi Allâh! Saya tahu, jika sekarang saya bisa menyampaikan kepada engkau alasan yang penuh dusta sehingga membuatmu tidak marah, tentu Allâh Azza wa Jalla akan membuatmu marah kepada saya. Namun jika saya mengemukakan kepada engkau alasan saya yang benar dan jujur, engkau pasti marah kepada saya. Dan sungguh saya berharap Allâh yang memberikan hukuman kepada saya. Demi Allâh! Tidak ada satu udzur pun yang menghalangiku untuk ikut serta dalam berperang. Demi Allâh! Kondisi saya saat tidak ikut berperang itu sangat kuat dan longgar.’

Mendengar pengakuan yang tulus itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini telah berkata jujur dan benar, oleh karena itu berdirilah (dan pulanglah) sampai Allâh Azza wa Jalla memberikan keputusan.’

Kemudian Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu  dan Hilâl bin Umayyah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu .

Sebagai sanksi, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memboikot mereka dan melarang para Shahabat yang lain untuk berbicara dengan tiga orang Shahabat tersebut. Kejadian ini berlangsung selama lima puluh malam, tidak ada seorang Shahabat pun yang mau berbicara dengan mereka, hingga dunia ini terasa menjadi sempit bagi mereka. Namun di akhirnya kisah ini, apakah balasan bagi kejujuran mereka? Allâh Azza wa Jalla menurunkan wahyu-Nya yang menjelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla  menerima taubat mereka. Kisah mereka pun diabadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân. Para Shahabat yang mendengar taubat saudara mereka diterima oleh Allâh Azza wa Jalla sangat bergembira lalu mereka berlomba-lomba mencari ketiga Shahabat tersebut untuk memberikan kabar gembira ini.  Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu yang menerima kabar gembira ini langsung menghadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Ka’ab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ketika saya mengucapkan salam kepada Beliau dan wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memancarkan cahaya kebahagian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ

Bergembiralah dengan sebaik-baik hari dalam hidupmu semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu

Saya bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Apakah ini datang darimu ataukah datang dari Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bukan (dariku), akan tetapi Allâh Azza wa Jalla ‘

Lalu saya mengatakan, ‘Waha Rasûlullâh! Allâh Azza wa Jalla telah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran, maka sungguh diantara bentuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur selama aku masih hidup. Demi Allâh! Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum Muslimin  yang diuji dengan sebab kejujurannya dalam berbicara semenjak kejadian tersebut, dengan ujian yang lebih baik daripada ujian yang saya alami dengan sebab kejujuran. Demi Allâh! Semaenjak saat itu, aku tidak pernah mengatakan kedustaan kepada seorang pun, dan aku berharap Allâh menjagaku disisa umurku.”

Saat itu, Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴿١١٦﴾ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١١٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Sesungguhnya Allâh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allâh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allâh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allâh, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allâh menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allâh-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar atau jujur. [At-Taubah/9:117-119]. [1]

Diantara kisah menakjubkan lainnya tentang kejujuran, bisa didapatkan dalam kisah para tabi’in. Diantara tentang seorang tabi’in yang bernama Rib’i bin Harrâsy al-Kûfi:

Dikisahkan, Rib’i bin Harrâsy al-Absyi al-Kûfi rahimahullah adalah orang yang sangat jujur dan terpercaya. Sebagian ahli sejarah menyebut beliau rahimahullah termasuk diantara sebaik-baiknya manusia. Beliau tidak pernah berdusta. Beliau rahimahullah termasuk para perawi hadits. Beliau rahimahullah memiliki sikap yang menakjubkan dengan al-Hajjâj yang selalu berhukum dengan prasangka. Kejujuran beliau rahimahullah telah menyelamatkan beliau dan dua anak beliau dari perbutan kasar dan bengis al-Hajjâj.

Abu Nu’aim rahimahullah berkata dalam al-Hilyah , ‘Kami dikabari oleh Sufyân. Dia mengatakan, ‘Aku mengingat seorang yang bernama  Rib’i. Tahukah kalian siapa Rib’i itu? Beliau adalah Rib’i dari kabilah Asyja’. Kaumnya berkeyakinan beliau rahimahullah tidak pernah berdusta. Kemudian ada seseorang datang kepada al-Hajjâj bin Yûsuf, dan berkata, “Ada seseseorang dari kabilah Asyja’ yang diyakini kaumnya sebagai pribadi yang tidak pernah berbohong, dan dia akan berdusta padamu hari ini. Sesungguhnya anda telah mengutus pasukan untuk menangkap kedua anaknya. Dan kedua anaknya itu sekarang berada di rumah. Mendengar ini, al-Hajjâj murka. Lantas ia mengutus seseorang untuk memanggil Rib’i al-Asja’i rahimahullah, dan ternyata beliau rahimahullah seorang lelaki tua yang sudah bungkuk. Al-Hajjâj berkata padanya, ‘Apa yang dilakukan oleh kedua anakmu? ‘ Beliau menjawab,  ‘Mereka ada di rumah.’ Mendengar jawabannya yang jujur, al-Hajjâj memberikannya hadiah pakaian dan berwasiat kepadanya agar melakukan kebaikan.

Lebih jelasnya tentang kisah di atas, Ibnu Khalikan berkata, “Dikisahkan bahwa Rib’i bin Kharrâs al-Absy al-Kûfi tidak pernah berdusta. Beliau memiliki dua anak yang melakukan pembangkaan pada masa al-Hajjâj. Lalu disampaikan kepada al-Hajjâj bahwa bapak mereka adalah orang yang belum pernah berdusta. Anda bisa mengirim utusan untuk memanggilnya dan bertanya kepadanya tentang kedua anaknya. Mendengar ini, al-Hajjâj memanggilnya dan bertanya kepadanya, ‘Dimana kedua anakmu?’ Beliau rahimahullah menjawab, ‘Mereka ada di rumah.’ Melihat kejujuran orang tua ini, al-Hajjâj luluh hatinya dan berkata, ‘Kami memaafkan kedua anakmu dengan sebab kejujuranmu.’

4. Kejujuran Menghantarkan Pelakunya Kepada Kebaikan. 
Allâh Azza wa Jalla berfriman:

فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka [Muhammad/47: 21]

5. Kejujuran Bisa Menyelamatkan Pelakunya Dari Pedihnya Siksa Hari Kiamat. 
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ

Ini adalah suatu hari dimana kejujuran itu bermanfaat bagi orang-orang yang jujur [Al-Mâidah/5:119]

6. Dengan Kejujuran, Seseorang Bisa Meraih Kedudukan Para Syuhada’ (Orang Yang Mati Syahid). 
Diriwayatkan dari Sahl bin Hanîf Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

barangsiapa memmohon kepada Allâh syah â dah (mati syahid) dengan tulus (jujur), niscaya Allâh akan memberikannya kedudukan para syuh â da’ walaupun dia mati di atas tempat tidurnya. [2]

7. Kejujuran Membuahkan Ketenangan Jiwa. 
Dari Hasan bin Ali Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Saya menghafal dari Rasûlullâh perkataan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu! Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan itu keraguan. [3]

PENGARUH POSITIF KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT 
1. Dalam Kejujuran Terkandung Keberkahan . 
Sesungguhnya kejujuran memiliki pengaruh yang baik dalam berbagai aktifitas ataupun transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, baik dalam jual beli, sewa menyewa dan lain sebagainya. Pengaruh yang baik ini memberikan hasilnya di dunia dalam bentuk perkembangan dan keberkahan, dan juga manfaat lainnya bisa dinikmati di akhirat dalam bentuk pahala dan ganjaran. Sebaliknya, kedustaan akan menghapus keberkahan dan mendatangkan adzab.

Diriwayatkan dari H akîm bin H izâm Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذِبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Penjual dan pembeli diberikan hak khiy â r (hak boleh membatalkan atau melanjutkan akad jual beli) selama mereka belum berpisah (belum bubar dari tempat transaksi). Apabila mereka berlaku jujur, jual beli mereka akan diberkahi, namun apabila mereka menyembunyikan (sesuatu) dan berdusta maka keberkahan transaksi jual beli mereka akan dihapuskan. [4]

2. Dalam Prilaku Jujur Tersimpan Kebahagian Masyarakat Dan Akan Menimbulkan Rasa Saling Cinta-Mencintai Dan Rasa Saling Percaya. 
Kejujuran bukan hanya sebagai bagian dari mental berani, akan tetapi lebih dari itu, kejujuran termasuk sesuatu yang sangat urgen dan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat tidak akan benar dan tidak akan tertata dengan baik kecuali dengan prilaku kejujuran.

Diantara hal positif yang merupakan buah dari kejujuran dalam masyarakat adalah kejujuran bisa menumbuhkan rasa saling mencintai diantara manusia dan rasa saling mempercayai diantara individu masyarakat. Kejujuran juga menghidupkan sikap saling tolong-menolong serta membantu penyebaran akhlak-akhlak mulia serta pemuliaan terhadap orang-orang yang berakhlak mulia.

3. Kejujuran Juga Akan Menyebabkan Al-Haq (Kebenaran) Memiliki Wibawa Di Tengah Masyarakat, Terhindar Dari Sikap Pura-Pura Orang-Orang Yang Menyimpang Dan Kaum Munafik. 
Kehidupan bermasyarakat akan tertata dengan baik dan mereka akan merasakan kebahagiaan dan ketenteraman, selama masing-masing individu menghiasi diri-siri mereka dengan sifat jujur. Semua transaksi seperti jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang dan perusahaan tidak akan bisa berjalan dengan baik kecuali jika dikendalikan dengan prilaku jujur.

Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bertutur, maka pasti perekonimian mereka akan mengalami kemajuan. Selama mereka terus berpegang dengan kejujuran tersebut, maka para musuh Islam tidak akan menemukan cara dan peluang untuk menghentikan laju pertumbuhan perekonomian tersebut.

4. Kejujuran Memperkokoh Tali Persaudaraan. 
Islam telah mengikat semua pemeluknya yang sangat banyak dalam sebuah ikatan persaudaraan. Persaudaraan Islam ini telah menjadi mereka seperti satu raga, sebagaimana tergambar dalam sebuah hadits:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Permisalan kaum Mukminin dalam rasa cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka seperti satu jasad. Jika salah satu dari anggota badan itu merasa sakit, maka semua anggota badan akan ikut merasakan panas dan tidak bisa tidur [HR. Muslim]

Itulah persaudaraan Islam, namun kekokohan dan kekuatan persaudaraan ini sangat tergantung pada kemampuan masing-masing individu kaum Muslimin dalam menjaga sikap jujur dalam bertutur dan bergaul.

Terkadang seorang pendusta bisa memiliki teman akan tetapi teman yang materialistis, dan dia tidak akan bisa menjadikan orang baik sebagai teman setia.

Itulah arti dan makna kejujuran serta manfaat yang dirasakan oleh orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Adapun orang yang menganggap remeh sebuah kedustaan dan membiarkan lisannya terus berkata dusta, itu artinya dia telah menyakiti diri sendiri dan menyebabkan ketimpangan serta kerusakan dalam kehidupan masyarakat. Seorang pendusta tidak hanya pantas dianggap sebagai anggota masyarakat yang menyimpang, akan tetapi dia merupakan anggota yang membawa virus berbahaya yang akan segera menular dan menjangkiti semua orang yang menjalin hubungan dengannya.

(Diangkat dari as-Shidqu al-Fadhilatul Jami’ah , karya  DR. Sulaiman bin Muhammad bin Falih as-Shugaiyir)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ] 
_______ 
Footnote 
[1] Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab hadits, sejarah. Lihat Sirah Ibni Hisyam dan Sha h î h al-Bukhâri dalam kitab al-Maghâzi 
[2]   Diriwayatkan oleh Imam Muslim 
[3]   Diriwayatkan oleh at-Tirmizi. Beliau rahimahullah berkata, “ Hadits ini hadits hasan shahîh.” 
[4]   Riwayat Imam al-Bukhâri dan yang lainnya

sumber: https://almanhaj.or.id/5704-pengaruh-kejujuran-dalam-kehidupan-pribadi-dan-bermasyarakat.html

[Kitabut Tauhid 2] 67. Dakwah kepada kalimat tauhid 53

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa:

Bukti utama mencintai Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah dengan ittiba’ kepada Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang juga merupakan konsekuensi dari mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla- sekaligus salah sayarat diterimanya amal ibadah.

selanjutnya kita akan mempelajari Dakwah kepada kalimat tauhid 53. ketuk link dibawah ini untuk memulai pelajaran;

Formulir Pertanyaan

Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.

Haruskah Bertanya Masa Silam Calon?

pertanyaan:

Assalamualaikum

pak ustadz. mohon ijin untuk bertanya. Saya adalah laki-laki yang ingin segera menikahi calon saya setelah dia lulus kuliah. dan saya sudah bertunangan. Saya adalah orang yang sangat setia, tetapi saya pernah diselingkuhi oleh pasangan saya, dia mempunyai hubungan dengan pria lain dan saya sering dibohongi. Kemudian saya memberikan ketegasan kepada calon saya tersebut sampai akhirnya dia minta maaf kepada saya dan dihadapan orang tua saya. Karena rasa sayang saya yang besar dan keinginan untuk menjadi imamnya yang bisa membimbingnya, saya masih mempertahankan hubungan ini. Tetapi saya tidak melihat perubahan sikapnya dan hati saya belum lega. Masih saja terbersit curiga. Ketika saya nanti menikah dengan dia, saya ingin membuatnya jujur apa yg telah dia perbuat selama dia berhubungan dengan pria lain. Apakah sampai berbuat mendekati zina atau tidak. Saya sangat ingin kejujuran walaupun itu pahit. Saya ingin nanti menanyainya dan saya juga akan sampaikan jika dia ternyata pernah berbuat mendekati zina dan tidak dia katakan jujur kepada saya sebagai suaminya, saya tidak akan ridho dunia akhirat. Pertanyaan saya pak ustadz, bagaimana rencana langkah saya tersebut ditinjau dari segi agama? Terimakasih. Wassalamualaikum. 

 Dari Ant

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam menganjurkan agar masing-masing individu merahasiakan setiap dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras, menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dia lakukan dalam kondisi sendirian. Menceritakan maksiat bisa menjadi sebab, Allah tidak memaafkan kesalahannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita,

‘Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..’

Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya. (HR. Bukhari 6069 & Muslim 7676)

Karena itulah, islam menganjurkan agar setiap muslim berusaha menutupi dan merahasiakan aib saudarannya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Bukhari 2442, Muslim 7028, dan yang lainnya).

Islam juga memberikan ancaman keras, bagi orang yang suka mencari-cari aib orang lain. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar dan bersabda,

مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Allah cari aibnya, akan Allah permalukan meskipun dia berada di dalam rumahnya. (HR. Turmudzi 2164 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Islam tidak pernah mengajarkan tradisi buka-bukaan. Islam juga tidak menganjurkan agar calon pasangan suami istri untuk saling menceritakan masa lalunya. Yang akan menghisab amal istri bukan suami, demikian pula istri tidak bisa menghisab amal yang pernah dikerjakan suaminya.

Tidak Manfaat!

Apa manfaatnya masing-masing harus menceritakan dengan jujur masa silamnya setelah menikah?

Jika suami tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan istrinya di masa silam, akankah suami akan memberikan pahala bagi amal baik istrinya di masa silam?. Jika orang mau adil, seharusnya ini seimbang.

Sebaliknya, jika istri tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan suaminya, akankah dia akan memberikan pahala untuk amal soleh yang dilakuka suaminya?

Masa silam sudah berlalu. Baik suami istri jujur maupun bungkam tidak menceritakan, kejadian itu takkan bisa dihapus. Justru cerita yang anda dengar, akan menyayat hati anda sebagai pasangannya.

Masa Silam, Pertimbangan Sebelum Menikah

Benar, masa silam bisa dijadikan pertimbangan sebelum para calon ini naik ke pelaminan. Dengan ini, masing-masing bisa menentukan langkah, lanjutkan atau lupakan.

Pertama, Jika calon suami bersedia menerima calon istri dengan semua latar belakangnya, dan masing-masing menunjukkan perubahan untuk menjadi baik, bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tugas dia selanjutnya, lupakan masa silam masing-masing, dan jangan lagi diungkit.

Kedua, Jika calon suami masih keberatan menerima latar belakang calon istrinya, atau selalu dibayang-bayangi kesedihan, atau kepercayaan kepada calon istri belum bisa tertanam, sangat disarankan agar tidak dilanjutkan, dari pada kebahagiaan keluarga harus tersandra dengan kecurigaan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

sumber:  https://konsultasisyariah.com/24325-haruskah-bertanya-masa-silam-calon.html