Tiga Nikmat Yang Membuat Anda Menjadi Raja Dunia

Kenikmatan tersebut adalah:

1. Kesehatan
2. Rasa aman (ga ada pikiran dan stress pekerjaan atau studi /skripsi ^^, semua dilalui dengan optimis dan tawakkal
3. Ada makanan hari tersebut (nikmati dan hadapi dulu hari ini dan berusaha, seringnya kita stress dan mencemaskan masa depan, padahal belum tentu terjadi dan kita hanya bisa diam mencemaskan tanpa berusaha)

Hanya saja kita jarang mensyukuri nikmat Allah, seringnya membandingkan dengan yang di atas kita masalah dunia, padahal nikmat kita banyak, dan belum tentu yang kita lihat bahagia itu benar-benar bahagia.
Contoh nyata misalnya para artis: cantik, ganteng, kaya, terkenal tapi…. Bisa jadi narkoba, kawin cerai dll

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan
[1] sehat badannya
2] aman pada keluarganya,
[3] dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu,
maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.”
(HR. Ibnu majah, no: 4141, dihasankan oleh syaikh al-albani di dalam shahih al-jami’ush shaghir no. 5918)

Selalu lihat yang dibawah kita dalam urusan dunia

Inilah yang membuat kita senantiasa selalu qanaah dan menerima apa adanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) , maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Intinya adalah Qana’ah ialah surga dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/tiga-nikmat-yang-membuat-anda-menjadi-raja-dunia.html

Syirik, Penghapus Amalan-Amalan Shalih

Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti jalannya dengan ihsan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an yang mulia:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65).

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebab turunnya ayat ini: “para salaf menyebutkan sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu: bahwasanya kaum Musyrikin dengan kejahilan mereka, mengajak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk beribadah kepada sesembahan mereka bersama mereka” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/113).

Kesyirikan adalah penghapus amalan shalih. Hal ini berlaku sejak dahulu, yaitu para Nabi dan Rasul terdahulu. As Sa’di rahimahullah menjelaskan : “‘Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang yang sebelummu‘ maksudnya seluruh para Nabi terdahulu. ‘Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu‘ amaluka di sini merupakan mufrad mudhaf, sehingga maksudnya mencakup semua amalan dan seluruh para Nabi. Yaitu bahwa perbuatan syirik itu menghapus semua amalan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (QS. An An’am: 88)

dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi maksudnya rugi dunia dan akhirat. Maka, dengan kesyirikan, terhapuslah semua amalan. Dan pelakunya berhak mendapatkan hukuman dan adzab” (Taisir Karimirrahman, 729).

Imam Ath Thabari rahimahullah menafsirkan: “maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah” (Tafsir Ath Thabari, 21/322).

Ayat ini menjadi menarik karena yang teks ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Sehingga banyak sekali pelajaran penting yang bisa kita petik. Muhammad Ali Ash Shabuni rahimahullah menjelaskan: “ini merupakan bentuk pengasumsian dan perumpamaan. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam itu telah dijamin maksum oleh Allah. Tidak mungkin beliau berbuat kesyirikan terhadap Allah. Dan ayat ini juga datang untuk menegakkan penguatan iman dan tauhid. Abu Mas’ud berkata: ‘ayat ini dipaparkan dalam gaya bahasa asumsi untuk mengancam dan membuat takut para Rasul terhadap perbuatan kekufuran. Serta membawa pembaca untuk menyadari betapa fatalnya dan buruknya kesyirikan itu’” (Shafwatut Tafasir, 3/80).

Inilah faidah yang berharga untuk kita. Jika Rasulullah dan para Nabi saja diancam dari perbuatan syirik, maka kita lebih lagi terancam dan hendaknya lebih takut darinya. Jika amalan Rasulullah dan para Nabi terdahulu yang tidak terbayangkan besarnya, dalam mendakwahkan Islam, dalam bersabar mengadapi perlawanan dari orang-orang Musyrik, dalam menghadapi cobaan-cobaan dari Allah, tetap akan terhapus semua amalan itu jika mereka berbuat syirik. Apalagi kita? Yang sedikit amalannya, bahkan banyak berbuat dosa!?!

Oleh karena itu saudaraku, jauhi… jauhi… jauhi… perbuatan syirik terhadap Allah.

Terhapusnya amalan-amalan shalih yang mungkin dikerjakan dengan lelah, banyak pengorbanan dan waktu yang lama adalah sebuah kerugian yang sangat besar. Dan solusi agar terhindar dari ini adalah ayat selanjutnya:

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Maka beribadahlah hanya kepada Allah semata, dan jadilah orang yang bersyukur” (QS. Az Zumar: 66)

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: “maksudnya, ikhlaskanlah ibadah hanya kepada Allah semata, jangan berbuat syirik kepada-Nya. Ini berlaku untukmu (Muhammad) dan orang-orang yang bersamamu. Untukmu (Muhammad) dan orang-orang yang mengikuti jalanmu dan membenarkanmu” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/113).

Wabillahi At Taufiq Was Sadaad

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/22043-syirik-penghapus-amalan-amalan-shalih.html

Bersegera Kepada Perintah Allah dan RasulNya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Anfal ayat ke-24:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّـهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ﴿٢٤﴾

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Allah menyeru hamba-hambaNya yang beriman. Ini merupakan nama-nama yang paling dicintai oleh orang-orang yang beriman. Disini yang memanggil adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memanggil dengan sifat iman. Karena hanya orang-orang yang berimanlah yang akan memenuhi panggilan dan seruan Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syura’ ayat ke-26:

وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ﴿٢٦﴾

“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.” (QS. Asy-Syura’ [8]: 24)

Disini Allah mengatakan kepada kita bahwa orang yang akan memenuhi panggilan Allah hanya orang-orang beriman. Dan balasan memenuhi panggilan Allah adalah surga. Dalam surat Ar-Ra’d ayat ke-18 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ ۚ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٨﴾

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 18)

Dalam surat Asy-Syura’ ayat ke-47 Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّـهِ ۚ مَا لَكُم مِّن مَّلْجَإٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٍ ﴿٤٧﴾

“Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).” (QS. Asy-Syura’ [8]: 47)

Ketahuilah hamba-hamba Allah, bahwa kesempatan bisa jadi tidak akan berulang. Sesungguhnya jika Allah membukakan kepadamu pintu kebaikan, hendaknya bersegera untuk melakukan kebaikan itu. Karena pada hari ini ada kehidupan, bisa jadi besok kematian. Dan perlu diketahui jatah oksigen kita terbatas. Semakin hari, semakin mendekati habisnya hatah oksigen kita.

Ketika pintu kebaikan itu dibuka dan seorang hamba tidak bersegera untuk memenuhinnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sanksi dengan mengharamkan dari kebaikan tersebut. Dan Allah lah yang membatasi seseorang dari hatinya.

sumber: https://www.radiorodja.com/30401-bersegera-kepada-perintah-allah-dan-rasulnya-kitab-ahsanul-bayan-ustadz-kurnaedi-lc/

Jumlah Banyak Bukan Barometer Kebenaran

Oleh 
Ustadz Abu Minhal, Lc

Jika ada seseorang menyaksikan banyak manusia mengucapkan satu pendapat yang sama atau meyakini sesuatu yang serupa, kondisi demikian akan mudah mendorongnya untuk mengikuti ucapan dan keyakinan mereka. Sebab, seperti diungkapkan pepatah Arab, manusia itu bak gerombolan burung, sebagian akan mengikuti lainnya. Dan pada gilirannya, akan menanamkan kesan pada benak orang tersebut bahwa pendapat yang menyalahi mereka merupakan pendapat yang keliru dan salah, dan otomatis orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka pun ia anggap kumpulan orang yang salah jalan (baca: sesat). Ya, apapun pendapat, keyakinan dan kebiasaan mayoritas manusia, kendatipun salah, keliru dan menyimpang.

Dengan melihat fakta di atas, maka tidaklah adil dan ilmiah bila kuantitas dijadikan sebagai barometer al-haq (kebenaran). Bila mayoritas manusia memang berada di atas al-haq, dengan mengagungkan nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah serta berkomitmen tinggi untuk mengamalkannya secara keseluruhan dan mendakwahkannya, maka itulah kondisi yang ideal bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Komunitas sosial yang lurus tersebut akan menjadi media yang kondusif bagi perkembangan anak-anak dan generasi selanjutnya. Mereka akan memiliki teladan baik dan contoh luhur dalam aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah serta aspek-aspek keagamaan lainnya.

Namun, persoalan akan muncul bila mayoritas berada dalam kondisi sebaliknya; ideologi yang berkembang tidak pernah dikenal di masa Salafush-Shâlih, taklid buta menjadi dasar agama, tradisi lokal sangat diagungkan, hadits-hadits palsu diamalkan, kaifiyah ibadah baru lagi tak berdasar menjadi ‘sunnah’ yang mesti dipertahankan. Pengaruh mayoritas ini dalam masyarakat tersebut akan menyeret anak-anak, generasi muda Islam dan orang-orang jahil serta orang muallaf memahami Islam tidak sebagaimana mestinya. Mungkin saja, mereka menjadi pihak yang superior, tapi yang pasti, standar al-haq (kebenaran) bukanlah berdasarkan besarnya jumlah massa suatu kelompok dan kekuatan otot mereka.

MENURUT AL-QUR`ÂN, KEBANYAKAN MANUSIA TIDAK BERADA DI ATAS JALAN LURUS 
Melalui beberapa ayat, justru al-Qur`ân yang merupakan pedoman hidayah umat Islam mencela jumlah manusia yang mayoritas dan memberitahukan bahwa kebanyakan manusia berada dalam kesesatan dan kebatilan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ ﴿١١٦﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. [al-An’âm/6:116-117].

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan, “(Dalam ayat ini) AllâhTa’ala mengabarkan kondisi kebanyakan penduduk muka bumi dari anak keturunan Adam, sesungguhnya (mereka berada) dalam kesesatan”. [Tafsîru al-Qur`ânil-‘Azhîm, 3/322].

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikit lah mereka ini. [Shâd/38:24].

Bukankah jumlah kaum Muslimin lebih sedikit dibandingkan bilangan orang-orang yang kafir? Dan umat Islam yang taat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya lebih sedikit ketimbang orang-orang yang mengabaikannya? 
Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Kaum Mukminin berjumlah sedikit di tengah manusia. Dan ulama berjumlah sedikit di tengah kaum Mukminin”.[1]

Maka, untuk mengelabui orang, klaim jumlah yang banyak dijadikan oleh ahli batil untuk menegaskan kebenaran jalan dan keyakinan mereka. Karenanya, para pengusung kebatilan, penyeru kepada bid’ah, penjaja liberalisme dan orang-orang yang memusuhi kebenaran al-Qur`ân dan Sunnah shahîhah berusaha melariskan ‘dagangan’ mereka dengan menyebarluaskan klaim banyaknya para pengikut dan pendukung mereka. Misi-misi dan doktrin mereka suarakan melalui berbagai media massa agar terbentuk opini. Betapa banyak orang yang mengikuti mereka, kemauan merekalah yang diinginkan oleh publik dan selanjutnya klaim bahwa mereka berada di atas jalur yang benar dan lurus. Bukankah bila satu golongan menyimpang yang memiliki cabang di mana-mana, sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan miring orang terhadap golongan itu?

Dalam kitab Masâilu al-Jâhiliyyah, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb rahimahullah menyebutkan salah satu ciri jahiliyah, “Berhujjah dengan apa yang dipegangi kebanyakan orang tanpa menengok dasarnya”.

PARAMETER KEBENARAN 
Dengan demikian, parameter kebenaran bukanlah berdasarkan kuantitas, banyak atau sedikit. Akan tetapi, “kebenaran itu (disebut kebenaran) tatkala sesuai dengan dalil tanpa perlu menengok banyaknya orang yang menerima atau minimnya penolakan orang. Antipati manusia atau respon positif mereka tidak otomatis menunjukkan kebenaran atau penyimpangan satu pendapat. Tiap pendapat dan perbuatan haruslah berdasarkan dalil (yang shahîh) kecuali pendapat (ucapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena ucapan beliau sudah menjadi hujjah (dasar, dalil)”[2].

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang umat terdahulu bahwa kaum minoritas bisa saja berada di atas al-haq. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. [Hûd/11:40].

Maka, siapa saja berada di atas al-haq yang berlandaskan dalil yang shahîh dan lurus, berkomitmen kuat dengannya dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, meskipun ia sendirian, dialah orang yang benar dan lurus, dan selanjutnya pantas diikuti oleh orang lain.

Bahkan, seandainya pun tidak ada seorang pun yang berpegang teguh dengan al-haq, selama itu merupakan kebenaran, tetaplah merupakan kebenaran dan menjadi sumber keselamatan.

Apabila kebanyakan orang hanyut dalam kebatilan dengan melanggar syariat, tidak konsisten dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus untuk menyampaikan ilmu dan hidayah kepada semua manusia, mengadakan hal-hal baru dalam agama Islam yang tidak ada dasarnya yang jelas dan tidak pernah dikenal oleh generasi terbaik umat Islam; dalam kondisi demikian, pendapat mereka harus ditolak dan tidak boleh terpedaya dengan jumlah mereka yang ada di mana-mana.

Sahabat ‘Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu pernah berkata:

لاَ يَكُنْ أَحُدُكُمْ إِمَّعَةً يَقُوْلُ: “أَنَا مَعَ النَّاسِ”. لِيُوَطِّنَ أَحَدُكُمْ عَلَى أَنْ يُؤْمِنَ وَلَوْ كَفَرَ النَّاسُ

[Janganlah seseorang dari kalian menjadi latah (dengan) mengatakan, ‘Aku bergabung dengan (arus) manusia (saja)’. Hendaknya ia melatih diri untuk beriman walaupun orang-orang telah kafir].

Atas dasar nasihat berharga di atas, mari kita tanamkan pada diri kita, “Hendaklah kita melatih diri (dan berusaha keras) untuk berkomitmen dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , walaupun banyak orang telah mengabaikan petunjuk beliau dan mengadakan hal-hal baru dalam Islam”. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah, rasyâd dan taufik-Nya kepada kita semua.

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah juga telah menggariskan pesan pentingnya, “Janganlah engkau (mudah) tertipu dengan apa yang mengelabui orang-orang jahil. Mereka itu mengatakan, ‘Jika orang-orang itu (yang berada di atas al-haq) betul-betul di atas kebenaran, mestinya jumlah mereka tidak akan sedikit. Sementara manusia lebih banyak yang tidak sejalan dengan mereka’. Ingatlah bahwa sesungguhnya orang-orang (yang berada di atas al-haq) itulah manusia (sebenarnya). Sedangkan orang-orang yang bertentangan dengan mereka hanyalah serupa dengan manusia, bukan manusia. Manusia (sebenarnya) hanyalah orang-orang yang mengikuti al-haq meskipun mereka berjumlah paling sedikit”.[4]

Syaikh Shâlih al-Fauzân hafizhahullâh mengatakan, “Memang betul, bila mayoritas (manusia) di atas kebenaran dan al-haq, maka itu bagus sekali. Akan tetapi, sunnatullâh (ketetapan Allâh Azza wa Jalla ) yang berjalan bahwa kuantitas yang besar berada di atas kebatilan. (Ketetapan Ilahi ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla.

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya [Yûsuf/12 : 103]

Dan firman-Nya:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh). [al-An’âm/6 ayat 116][5].

BENARKAH MAYORITAS KAUM MUSLIMIN PADA MASA SEKARANG BERAQIDAH ASY’ARIYAH? 
Kaum Asya’irah (yang beraqidah Asy’ariyah) adalah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) kepada Abul-Hasan al-Asy’ari, yaitu ‘Ali bin Ismâ’îl yang wafat pada tahun 330H. Sebenarnya, melalui aspek historis, dapat diketahui bahwa sosok yang terkenal ini mengarungi tiga fase dalam aqidahnya: bermadzhab Mu’tazilah, kemudian berada dalam fase antara pengaruh aqidah Mu’tazilah dan mengikuti Sunnah dengan menetapkan sebagian sifat Allâh, namun masih menakwilkan sebagian besarnya. Fase ini yang kemudian dikenal dengan aqidah Asy’ariyah. Lalu keyakinannya yang terakhir, meyakini aqidah yang dipegangi dan diyakini oleh generasi Salaf umat Islam. Sebab, ia telah menegaskan dan memaparkannya dalam kitabnya al-Ibânah yang termasuk karya terakhir beliau. Di dalamnya, beliau menjelaskan bahwa dirinya mengikuti aqidah yang dipegangi oleh Imam Ahli Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Ulama Ahli Sunnah lainnya. Yaitu, menetapkan semua nama dan sifat yang ditetapkan Allâh Azza wa Jalla bagi Dzat-Nya dan ditetapkan oleh Rasûlullâh bagi-Nya, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allâh Azza wa Jalla , tanpa takyîf, tamtsîl, tahrîf dan takwîl. Berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [asy-Syûrâ/42:11].

Dikala panutan dan tokoh utama Asy’ariyah, Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah telah meninggalkan aqidah 20 sifatnya, para penganut aqidah Asy’ariyah masih bertahan dengan pemikiran Abul-Hasan al-Asy’ari rahimahullah sebelum meninggalkan aqidah yang digagasnya menuju aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Belakangan, ada ungkapan populer di tengah sebagian masyarakat bahwa golongan Asy’ariyah di masa ini merepresentasikan 95% dari jumlah kaum muslimin. Artinya, yang memegangi aqidah Asy’ariyah di dunia Islam merupakan kaum mayoritas.

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menyanggah pendapat tersebut, melalui, dengan beberapa tinjauan, sebagai berikut:[6]

1. Bahwa penetapan prosentase di atas haruslah berdasarkan penghitungan detail yang menghasilkan data empiris yang valid. Dan ternyata tidak ada sensus untuk menghitung jumlah penganutnya, hanya sekedar klaim kosong belaka.

2. Anggap saja prosentasi itu benar, namun tidak otomatis jumlah yang banyak mengindikasikan lurus dan benarnya aqidah tersebut. Sebab, aqidah yang benar dan lurus hanya dapat digapai dengan mengikuti aqidah yang diyakini oleh generasi Salaf dari kalangan Sahabat Nabi dan insan-insan yang berjalan di atas manhaj mereka dengan baik. Bukan dengan mengikuti aqidah yang penggagasnya baru wafat pada abad empat hijriyah, apalagi yang bersangkutan telah meninggalkan aqidah (yang salah) itu. Selain itu, secara logika, tidak mungkin ada kebenaran yang tertutup dan tersembunyi bagi para Sahabat Nabi, generasi Tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik, dan kemudian kebenaran itu baru diketahui oleh orang yang kelahirannya setelah masa generasi terbaik umat Islam.

3. Selain itu, aqidah Asy’ariyah hanyalah diyakini oleh orang-orang yang mendalaminya di lembaga pendidikan Asy’ariyah atau mereka mempelajarinya dari tangan guru-guru berkeyakinan Asy’ariyah. Sedangkan orang-orang awam yang jumlahnya sangat banyak itu tidaklah mengenal Asy’ariyah. Aqidah mereka masih di atas fitrah.

4. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam at-Ta’âlum menambahkan bahwa aqidah orang-orang dari tiga generasi terbaik; dari generasi Sahabat dan dua generasi selanjutnya sejalan dengan Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam perjalanan sejarah dikenal dengan Aqidah Salaf.

MAKA, BERSABARLAH DAN TETAPLAH KOMITMEN DENGAN AL-HAQ 
Dengan melihat fakta lapangan, orang yang tidak dan belum komitmen dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam jumlahnya lebih banyak bahkan dominan di tengah masyarakat, maka seorang Muslim yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu merasa cemas, resah dan terasing lantaran tidak “memiliki” teman banyak atau bahkan tidak punya teman sama sekali. Sebab, hatinya ingin bersama dengan “orang-orang orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.[8]

Apabila kesabaran dan keyakinannya menipis, maka ia akan meninggalkan kebenaran itu, tidak sanggup menanggung beban (untuk menjalankan)nya, apalagi bila ia tidak memiliki teman dan merasa resah dengan kesendiriannya. Akhirnya, ia akan berkata, “Kemana manusia pergi, maka aku mengikuti mereka”.[9]

MARI SEBARKAN AJARAN AHLI SUNNAH WAL-JAMAAH! 
Tersebarnya ajaran dan petunjuk yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah yang shahîhah di tengah satu masyarakat, dari masyarakat terkecil seperti keluarga, hingga masyarakat berskala besar seperti negara, akan mendatangkan kebaikan demi kebaikan bagi mereka semua. Oleh karena itu, sepatutnya penyeru kepada perbaikan berusaha keras untuk memperbanyak jumlah ahlul-haq. Sebab, para nabi pun memperoleh kedudukan yang berbeda-beda juga berdasarkan sedikit banyaknya pengikut mereka. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ تَكُونُوْا أَكْثَرَ أَهْلَ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya aku benar-benar berharap kalian menjadi penghuni terbanyak di dalam surga. [HR al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu][10].

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] 
_______ 
Footnote 
[1]. Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147. 
[2]. Lihat Manhajul-Istidlâl, 2/695. 
[3]. Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, hlm. 61. 
[4]. Miftâhu Dâris-Sa’âdah, 1/147. 
[5]. Syarhu Masâili al-Jâhiliyyah, Shâlih al-Fauzân, hlm. 62. 
[6]. Lihat Qathfu Jana ad-Dânî, Darul-Fadhîlah, Cet. I Th. 1423H-2002M, hlm35-36 
[7]. At-Ta’âlum, hlm. 121-122. 
[8]. an-Nisâ/4 ayat 69. Lihat keterangan ini dalam ash-Shawâriwu ‘anil-Haqq, hlm. 109. 
[9]. Syarhu al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, 2/361. 
[10]. Ash-Shawâriwu ‘anil-Haqq, hlm. 106-112.

sumber: https://almanhaj.or.id/4303-jumlah-banyak-bukan-barometer-kebenaran.html

[Kitabut Tauhid 3] 09. Makna Kalimat Tauhid 09

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa;

  • Diantara kesalahan-kesalahan dalam menafsirkan Kalimat Tauhid : [1] Memaknai Kalimat Tauhid dengan لآمعبود إِلاَّ اللهُ  (tidak ada sesembahan kecuali Allâh -‘Azza wa Jalla-), [2] Memaknai Kalimat Tauhid dengan لآخالق إِلاَّ اللهُ  (tidak ada pencipta selain Allâh -’Azza wa Jalla-), [3] Memaknai Kalimat Tauhid dengan لآحاكميةَ إِلاَّ اللهُ  (tidak ada yang menetapkan hukum selain Allâh -’Azza wa Jalla-).
  • Kesalahan pertama yang paling fatal, karena : [1] bertentangan dengan realita yang ada, dimana manusia memiliki sedemikian banyak sesembahan selaian Allâh -‘Azza wa Jalla-, atau yang lebih bathil [2] segala sesuatu yang disembah oleh manusia, apapun wujudnya, hakikatnya adalah Allâh -‘Azza wa Jalla- atau setidaknya merupakan bentuk penyembahan juga kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
  • Yang kedua dan ketiga hanya merupakan sebagian saja dari makna kalimat لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ  karena makna ini hanya menetapkan Tauhid Rububiyyah saja. Dan bukan ini yang dimaksud, bukan untuk tujuan ini Allâh -‘Azza wa Jalla- menurunkan Kitab-Kitab-Nya dan mengutus Rasul-rasul-Nya. Karena orang-orang musyrik dari zaman ke zaman mengakui Tauhid Rububiyyah, mereka meyakini dan tidak menolak ketika dikatakan “tidak ada pencipta selain Allâh -’Azza wa Jalla-“. Bahkan pertentangan yang terjadi antara Para Rasul dan orang-orang musyrik sepanjang zaman adalah untuk urusan Tauhid Uluhiyyah.

selanjutnya silahkan ketuk link berikut untuk memulai materi berikutnya;

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“

*jika tampilan quis diatas terpotong silahkan update hijrahapp ke v6.4.2 langsung dari playstore atau appstore

Saat Hujan Turun, Kesempatan Emas untuk Berdo’a

Saat turun hujan, itu waktu emas untuk berdoa.

Sebagian orang tatkala memperhatikan hujan, ada yang sampai gelisah. Apalagi jika turunnya hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, mungkin ada meeting, janji atau yang lainnya. Sehingga yang terjadi adalah mengeluh dan mengeluh. Padahal jika kita merenung dan memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu hujan turun adalah saat mustajabnya do’a, artinya do’a semakin mudah terkabulkan.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni[1]mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”[2]

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”[3]

Do’a yang amat baik dibaca kala itu adalah memohon diturunkannya hujan yang bermanfaat. Do’a yang dipanjatkan adalah,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an”[Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[4]

Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”

Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia.”[5]

Semoga dengan turunnya hujan semakin membuat kita bersyukur, bukan malah mengeluh. Manfaatkanlah momenttersebut untuk banyak memohon segala hajat pada Allah Ta’ala menyangkut urusan dunia dan akhirat. Jangan sia-siakan kesempatan untuk mendoakan kebaikan diri, istri, anak, kerabat serta kaum muslimin lainnya.

Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang-Gunung Kidul, 18 Jumadal Ula 1432 H (21/04/2011)


[1] Al Mughni, 2/294.

[2] Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026.

[3] HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.

[4] HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523.

[5] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5/18.


Sumber https://rumaysho.com/1695-turun-hujan-berdoa.html

Sesuatu yang Dilakukan Karena Allah Pasti Langgeng

Karena tidak ikhlas, membuat amalan kita tidak langgeng. Kadang jadi malas di tengah jalan gara-gara ketika beramal hanya ingin raih pujian. Kadang karena tidak ikhlas, kita pun sulit istiqomah. Bahkan kita pun mudah dilupakan ketika jasad kita telah berada di alam barzakh karena kurang ikhlas dalam karya dan usaha kita. Ikhlas itu begitu penting bagi kita. Sesuatu yang dilakukan ikhlas karena Allah, pasti akan terus langgeng. 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Para ulama juga memiliki istilah lain,

ما كان لله يبقى

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Ada juga perkataan dari Imam Malik,

وذكر العلماء أن الإمام ابن أبي ذئب معاصر الإمام مالك وبلديه – قد صنف موطأ أكبر من موطأ مالك حتى قيل لمالك : ما الفائدة في تصنيفك ؟ فقال : ما كان لله بقي ( من ” الرسالة المستطرفة ” ص 9 )

Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521).

Cobalah direnungkan wahai saudaraku, betapa banyak yang belajar Islam, namun hasilnya kosong blong. Karena semuanya tidak didasari ikhlas. Padahal ikhlas dalam belajar harus memenuhi empat hal berikut:

1-      Belajarnya untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri

2-      Belajarnya untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain

3-      Belajarnya untuk menghidupkan dan menjaga ilmu

4-      Belajarnya untuk mengamalkan ilmu

Demikian keterangan dari guru kami, Syaikh Sholih Al ‘Ushoimi dalam Ta’zhimul ‘Ilmi. Bagaimana dikatakan ikhlas, jika sebagian orang hanya sibuk belajar Islam untuk saling berbantah-bantahan atau ingin menjatuhkan lainnya. Belajar seperti ini bukanlah maksud dari belajar yang ikhlas. Belajar yang ikhlas tentu saja akan berbuah nasehat yang ikhlas. Nasehat yang ikhlas adalah menginginkan orang lain jadi baik.

Betapa banyak da’i yang dakwahnya tidak ikhlas, sehingga dakwahnya pun sulit langgeng dan bekasnya pun tidak ada pada hati umat. Coba lihat Imam Nawawi, meskipun umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng. Karya beliau yang begitu masyhur seperti Hadits Arba’in An Nawawiyah, Riyadhus Sholihin dan Syarh Shahih Muslim. Bahkan kita dapati beliau punya karya dalam berbagai bidang ilmu. Itu semua dilakukan beliau karena hanya ingin meraih ridho Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, bukan ingin pula meraih gelar mentereng atau ingin mendapat balasan dunia semata. Jadi, ikhlas itu begitu penting bagi setiap muslim yang bisa membuat ia terus istiqomah dalam berkarya dan beramal. Begitu pula karena ikhlas, meskipun kita sudah di liang lahat, karya-karya kita akan terus dikenang. Apalagi jika yang kita tinggalkan adalah warisan ilmu agama.

Semoga Allah memberi taufik pada kita agar setiap langkah kita bertujuan untuk menggapai ridho-Nya. 

—

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 25 Jumadal Akhiroh 1434 H

Sumber https://rumaysho.com/3337-sesuatu-yang-dilakukan-karena-allah-pasti-langgeng.html

6 Amalan Pembuka Pintu Rezeki

Coba amalkan 6 amalan berikut ini, moga Allah bukakan pintu rezeki yang banyak bagi kita.

Pertama: Istighfar

Allah Ta’ala berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Terdapat sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, 11: 98)

Kedua: Menjalin silaturahim

Silaturahim adalah menjalin hubungan dengan kerabat yang pernah putus atau terus menjalin yang telah selama ini ada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Kata Imam Nawawi dilapangkan rezeki adalah diluaskan atau diperbanyak rezekinya. Juga bisa maksudnya adalah Allah berkahi rezekinya. (Syarh Shahih Muslim, 16: 104)

Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

Ketiga: Memperbanyak sedekah

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:

  • Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Secara inderawi dan realita bisa dirasakan.
  • Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128)

Keempat: Bertakwa pada Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan kita penjelasan menarik mengenai pengertian takwa. Beliau rahimahullah berkata,

“Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 433)

Kelima: Melakukan haji dan umrah

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR. An-Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1: 387. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Keenam: Memperbanyak doa minta rezeki

Doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan:

Setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Shubuh, setelah salam, beliau membaca do’a berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

Artinya:

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga do’a lainnya dari hadits ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa berikut,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.

Artinya:

“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Yang Jelas: Jangan Sampai Tempuh Cara yang Haram

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).

Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya?

  • Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?”
  • Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki.

Intinya karena tidak sabar. Seandainya mau bersabar mencari rezeki, tetap Allah beri karena jatah rezeki yang halal sudah ada. Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

ما من مؤمن ولا فاجر إلا وقد كتب الله تعالى له رزقه من الحلال فان صبر حتى يأتيه آتاه الله تعالى وإن جزع فتناول شيئا من الحرام نقصه الله من رزقه الحلال

“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyah Al-Auliya’, 1: 326)

Semoga bermanfaat.

—

Naskah Khutbah Jumat di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, 9 Jumadats Tsaniyah 1437 H

Selesai disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Jumadats Tsaniyah 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/13115-6-amalan-pembuka-pintu-rezeki.html