Hidup di Dunia yang Menipu

Allah Ta’ala menciptakan dunia bukan sebagai tempat tinggal yang kekal, melainkan sebagai ladang ujian bagi manusia. Allah Ta’ala berulang kali memperingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Namun, tidak sedikit dari kita yang terperangkap dalam kilau dunia yang fana ini. Kita berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, dan meraih popularitas, seakan dunia adalah tujuan akhir dari kehidupan ini.

Padahal, jika kita merenungkan, betapa singkatnya kehidupan ini dibandingkan kehidupan akhirat yang abadi. Setiap manusia pasti akan merasakan kematian, dan semua yang kita kumpulkan di dunia tidak akan menemani kita ke liang lahat kecuali amal saleh. Oleh karenanya, penting bagi seorang muslim untuk menata kembali cara pandangnya terhadap dunia, agar tidak tersesat dalam fatamorgana yang memperdaya.

Tulisan ini akan menguraikan beberapa kesalahan umum dalam memandang dunia, agar kita bisa berhati-hati dan kembali kepada pandangan yang benar sesuai petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk bisa menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebaliknya.

Mengira dunia adalah tujuan utama

Kesalahan terbesar dalam memandang dunia adalah menganggapnya sebagai tujuan hidup. Banyak orang yang bekerja siang dan malam, mengorbankan waktu, keluarga, bahkan agamanya demi dunia. Mereka mengukur kesuksesan dari banyaknya harta, tingginya jabatan, dan gemerlapnya kehidupan. Padahal, semua itu tidak akan berarti apa-apa di hadapan Allah jika tidak disertai keimanan dan amal saleh.

Allah Ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh (apa-apa) di akhirat kecuali neraka.” (QS. Hud: 15–16)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hanya menginginkan dunia tanpa mengharap akhirat, maka mereka akan merugi. Mereka mungkin mendapatkan bagian dunia sesuai dengan usahanya, tetapi mereka tidak akan mendapatkan bagian dari akhirat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi, ia senang; tetapi jika tidak diberi, ia marah.” (HR. Bukhari no. 2887)

Hadis ini menyebut orang yang menjadikan dunia sebagai sesembahan dengan istilah “hamba dinar”. Artinya, hati mereka telah terikat dengan dunia sehingga memperbudak dirinya untuk sesuatu yang hina dan sementara. Maka, hendaknya seorang muslim menjadikan dunia hanya sebagai sarana, bukan sebagai tujuan. Dunia hanyalah kendaraan untuk menuju akhirat, bukan kampung tempat tinggal yang abadi.

Melupakan akhirat karena sibuk dengan dunia

Kesalahan kedua yang banyak terjadi adalah melupakan akhirat karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. Ada yang meninggalkan salat karena bekerja, ada yang melalaikan kewajiban zakat karena takut hartanya berkurang, bahkan ada yang meninggalkan haji padahal mampu secara finansial, karena merasa belum saatnya. Dunia telah menyita waktu dan perhatian mereka, hingga hati menjadi keras dan lalai dari mengingat Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala mengingatkan,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Melupakan akhirat berarti lupa bahwa kehidupan sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian. Dunia ini hanya tempat singgah, tempat untuk menanam amal, dan buahnya akan dipetik di akhirat. Siapa saja yang melalaikan akhirat karena dunia, maka ia akan menyesal ketika ajal menjemput.

Maka penting bagi kita untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, bahkan menjadikan aktivitas dunia sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan niat yang benar dan cara yang halal.

Menganggap dunia adalah tempat istirahat

Sebagian orang hidup seakan-akan dunia adalah tempat istirahat, tempat bersenang-senang, dan bebas melakukan apa yang mereka sukai. Mereka menghabiskan waktu dalam hiburan, bermain-main, dan mencari kenikmatan duniawi semata. Padahal, dunia ini adalah tempat ujian, bukan tempat bersantai.

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Seorang pengembara tidak akan menetap lama di tempat persinggahannya. Ia hanya mengambil secukupnya untuk melanjutkan perjalanan. Begitulah semestinya sikap kita terhadap dunia: seperlunya, tidak berlebihan, dan selalu ingat bahwa tujuan akhir kita adalah akhirat.

Hidup yang penuh kenyamanan dan kesenangan bukanlah jaminan kebahagiaan. Justru banyak orang yang merasa kosong di tengah limpahan harta. Karena mereka keliru menempatkan dunia: yang seharusnya menjadi ladang amal, malah dijadikan sebagai taman bermain.

Para salafus shalih pun menjadikan dunia sebagai tempat perjuangan. Mereka bangun malam, berpuasa di siang hari, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan beramal saleh. Mereka tidak mencari kesenangan dunia, tetapi kebahagiaan akhirat.

Tertipu dengan hiasan dunia

Allah Ta’ala menciptakan dunia dengan berbagai hiasan untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalnya. Namun, banyak manusia yang tertipu dengan perhiasan dunia ini. Mereka terpesona dengan gemerlap harta, keelokan wanita, megahnya bangunan, dan indahnya kendaraan. Hati mereka terpaut dengan dunia dan lupa bahwa semua itu hanyalah sementara.

Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Sungguh, dunia itu indah dan menggoda. Tetapi seorang mukmin tidak boleh tertipu. Ia harus cerdas dalam menyikapi dunia: mengambil secukupnya, menggunakannya untuk kebaikan, dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama.

Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء

“Dunia ini manis dan hijau (menyenangkan), dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Seorang mukmin harus memiliki prinsip: dunia di tangan, bukan di hati. Ia bisa memiliki harta, jabatan, dan kenikmatan dunia lainnya, tetapi semua itu tidak menguasai hatinya. Hatinya hanya terpaut pada Allah Ta’ala dan negeri akhirat.

Oleh karenanya, marilah kita menata kembali cara pandang kita terhadap dunia. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat ujian. Dunia bukan tempat istirahat, melainkan medan perjuangan. Dunia bukan rumah kita yang kekal, melainkan tempat singgah sementara.

Jangan sampai kita termasuk orang yang tertipu oleh dunia dan melupakan akhirat. Jadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, bukan sebagai tujuan hidup. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk bersikap bijak terhadap dunia, menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat, dan menyelamatkan kita dari fitnah dunia yang menipu.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://muslimah.or.id/27563-hidup-di-dunia-yang-menipu.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Tercelanya Gaya Hidup Mewah dan Boros

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الخَلْقَ وَبَرَأَ، وَأَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ وَذَرَا، ﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى﴾ [طه: 6]، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، عَلَى نِعَمٍ تَتَكَاثَرَ، وَآلَاءٍ تَتْرَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ الْحَقِّ وَاليَقِيْنِ وَالإِخْلَاصِ، بِلَا شَكٍّ وَلَا امْتِرَاءٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، المَبْعُوْثُ مِنْ أمِّ القُرَىْ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الطَاهِرِيْنَ، وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ المَيَامِيْنَ، وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، خَيْرِ القُرُوْنِ وَسَادَةِ الوَرَى، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا مَا صَبحٌ أَقْبَلَ، وَلَيْلٌ سَرَى.

أَمَّا بَعْدُ:

فَأُوْصِيْكُمْ – أَيُّهَا النَّاسُ – وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوْا اللهَ – رَحِمَكُمُ اللهُ -، فَالمِيْزَانُ عِنْدَ اللهِ التَقْوَى، وَلَيْسَ الأَغْنَى وَلَيْسَ الأَقْوَى.

فَانْظُرْ – يَا عَبْدَ اللهِ – مَقَامَكَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا عِنْدَ البَشَرِ؛ فَكَمْ مِنْ مَشْهُوْرٍ فِي الأَرْضِ، مَجْهُوْلٍ فِي السَمَاءِ، وَكَمْ مِنْ مَجْهُوْلٍ فِي الأَرْضِ، مَعْرُوْفٍ فِي السَّمَاءِ!

Ibadallah,

Khotib berwasiat kepada diri khotib sendiri dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Bertakwalah kepada Allah. Semoga Allah merahmati Anda sekalian. Kadar kedudukan seseorang di sisi Allah dilihat dari takwanya. Bukan yang kaya atau yang kuat.

Perhatikanlah kedudukan Anda di sisi Allah, bukan kedudukan di tengah-tengah manusia. betapa banyak orang yang terkenal di dunia, tapi ia tidak dikenal di langit. Betapa banyak orang yang tidak dikenal di dunia, tapi ia begitu dikenal di langit.

Semoga Allah menerima agar hati tetap dalam keadaan mulia. Allah senantiasa membuka pintu taubat agar para hamba tetap memiliki harapan. Allah menjadikan penilaian-Nya pada amal penutup usia agar orang-orang tetap beramal kebajikan.

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ (54) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ﴾

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS:Az-Zumar | Ayat: 53-55).

Ma’asyiral muslimin,

Allah menjadikan kehidupan anak Adam dapat berlangsung dengan memiliki harta. Sebagai alat bantu untuk mereka agar memiliki eksistensi, kesempurnaan, kemuliaan, kebahagiaan, ilmu pengetahuan, kesehatan, kekuatan, kelancaran urusan, dan kepemilikan. Allah ﷻ menjadikan harta sebagai penopang kehidupan manusia. allah ﷻ berfirman,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 5).

Maksudnya mereka mampu hidup dengan harta itu. Memperoleh kemaslahatan secara umum maupun khusus.

Allah ﷻ menyifati harta sebagai perhiasan kehidupan dunia. Sebagaimana firman-Nya,

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 46).

Dan menjaga harta merupakan salah satu dari tujuan syariat Islam. Harta menjadi sarana dalam menjalankan syariat.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ketauhilah, Allah menjadikan harta untuk keperluan diri. Dia memerintahkan menjaganya. Melarang menjaganya orang-orang yang tidak sempurna akalnya dari kalangan laki-laki, perempuan, anak-anak, dan selain mereka”.

Para salaf mengatakan, “Tidak ada kemuliaan kecuali dengan perbuatan (tindak nyata). Dan tidak ada perbuatan kecuali dengan harta”.

Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan,

الخَرَقُ فِي الْمَعِيشَةِ أَخْوَفُ عِنْدِي عَلَيْكُم مِنَ العَوَزِ، وَلا يَقِلُّ شَيْءٌ مَعَ الصْلاحِ، ولا يَبْقَى شَيْءٌ مَعَ الْفَسَاد

“Gaya hidup boros lebih aku kawatirkan akan menimpa kalian dibanding kemiskinan. Ketahuilah bahwa harta yang sedikit tidak mungkin habis bila engkau pandai mengelolanya. Namun sebaliknya, sebanyak apapun harta kekayaanmu pasti akan segera habis bila engkau salah membelanjakannya.”

Syariat tidak melarang kita mencari harta, menginvestasikannya, dan menyimpannya. Bahkan syariat mendorong hal itu. Namun syariat melarang memperoleh dan mengelurkan harta pada jalan-jalan yang haram.

Ma’asyiral muslimin,

Seseorang menjadi mulia dan dikenal di langit yang tinggi karena beberapa alasan. Di antaranya adalah menjaga harta, membelanjakannya dalam kehidupan dengan baik, dan menafkahkannya pada tempat-tempat yang dianjurkan. Tidak ada keistimewaan yang dinilai dari materi, warna kulit, makanan, dan tempat makan. Keistimewaan itu dinilai dari apakah orang itu sehat secara fisik, kuat tekadnya, padangan-pandangannya cemerlang, tingginya cita-cita mereka, dan besarnya kemuliaan diri mereka.

Boros dalam makanan dan sibuknya dengan pernak-pernik dunia sekarang telah menjadi gaya hidup anak-anak masa kini.

Ma’asyiral muslimin,

Gaya hidup boros dapat membuat seseorang miskin dan melarat. Orang yang boros membuka tangannya, membelanjakan hartanya demi memperturutkan keinginannya. Menuruti nafsunya. Banyak rumah tangga yang kepala keluarganya adalah orang yang cukup. Mereka membelanjakan harta di jalan yang baik. Namun anak-anak mereka adalah orang-orang yang boros. Memperturutkan syahwat dan keinginan. Anak-anak seperti ini menghancurkan bangunan rumah tangga. Menimbulkan kerusakan. Inilah dampak dari boros dan berlebihan.

Mereka gandrung dengan kenikmatan hidup. Syahwat jiwa mereka cenderung kepada kehidupan dunia. Mereka mengurangi berada di tempat-tempat berderma. Tempat mulia dan keinginan yang kuat. Jiwa yang boros akan melemahkan ambisi dan cita-cita. Kelezatannya akan memalingkan seseorang dari kesungguh-sungguhan. Menghalangi mereka dari berkreasi dan berinovasi.

Telah diketahui bahwasanya kecerdasan dan ambisi yang tinggi tidak akan didapatkan kecuali dengan menempuh hal-hal yang berat dan sulit. Bahkan sampai berhadapan dengan bahaya. Sementara jiwa yang boros tidak memiliki kekuatan tekad. Jarang mengadakan kajian dan penilitian. Barangsiapa yang disibukkan dengan mengejar cita-cita yang tinggi, maka dia akan dipalingkan dari sifat bersantai-santai dan bernikmat-nikmat. Karena cita-cita tidak akan didapatkan kecuali dengan hijrah dari gaya hidup yang bernikmat-nikmat.

Seseorang yang berlebihan dalam memenuhi perutnya, sibuk dalam kuliner dan kelezatan makanan, maka mereka tidak akan melakukan sesuatu yang besar. Tidak pula memiliki ambisi besar untuk suatu kemuliaan.

Saudara-saudaraku karena Allah,

Sifat boros itu memicu jiwa untuk berlaku sombong dan zhalim. Karena orang yang boros di pikirannya hanya ingin memenuhi nafsunya. Dia tidak peduli mengambil apapun. Memperoleh harta dari jalan yang sesuai syariat atau dari jalan dosa. Ia ambil sesuatu yang menjadi hak orang lain dengan cara nekat atau mengandung dosa. Terbiasa memperturutkan gaya hidup mewah dan boros juga akan melemahkan sifat amanah. Memperturutkan hawa nafsu dalam kedua hal ini juga akan menyebabkan seseorang berbuat zalim. Yang ia tahu, yang penting dia senang.

Gaya hidup mewah dan boros membuat pelakunya sulit untuk berbuat kebajikan dan melakukan kedermawanan. Bermewah-mewah dan hura-hura memenuhi ruang hatinya. Mengisi pola pikirnya. Ia hanya berpikir bagaimana memenuhi keinginannya. Dalam hal makanan, pakaian, kendaraan, dan properti. Gaya  hidup mewah dan boros membuat seseorang menjadi pelit.

Sementara orang yang dermawan senantiasa memenuhi kebutuhan orang lain dari kalangan miskin, ditindas, dan pengungsi. Mereka berharap ridha Allah dengan melakukannya. Mereka merasa bertanggung jawab. Mengakui nikmat yang mereka dapat adalah karunia Allah. Menjaga kehormatan diri dan memperhatikan hak-hak persaudaraan.

Ayyuhal muslimun,

Boros dan gaya hidup mewah bertentangan dengan tujuan syariat Islam, menjaga harta. Ada yang mengatakan,

مَن حفِظَ المالَ حفِظَ الأكرَمَين: الدِّينَ والعِرض

“Siapa yang menjaga harta, maka ia telah menjaga kemuliaan: agama dan kehormatan.”

Sampai kabar kepada Bisyr bin al-Harits bahwa ada sebuah keluarga yang berlebih-lebihan dalam berinfak kepada selain ahli warisnya. Bisyr mengatakan,

عَلَيْكُمْ بِالرِّفْقِ وَالاِقْتِصَادِ فِي النَفَقَةِ؛ فَلِأَنْ تَبِيْتُوْا جِيَاعًا وَلَكُمْ مَالٌ، أَحَبُّ إِليَّ مِنْ أَنْ تَبِيْتُوْا شِبَاعًا لَا مَالَ لَكُمْ

“Hendaknya kalian bersikap bijak dan adil dalam memberikan mengeluarkan harta. Kalian melewati malam dalam keadaan lapar dengan memiliki uang, lebih aku sukai daripada melewati malam dalam keadaan kenyang tapi tidak punya uang.”

Abu Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan,

إِنَّ مِنْ فِقْهِ الرَجُلِ: رِفْقَهُ فِي مَعِيْشَتِهِ

“Merupakan tanda kefakihan seseorang adalah sikap bijaknya terhadap mata pencariannya.”

Manusia itu melampaui batas apabila mereka kaya.

﴿وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ  إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ﴾

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS:Asy-Syuura | Ayat: 27).

﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى (6) أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى﴾

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS:Al-‘Alaq | Ayat: 6-7).

Ma’asyiral muslimin,

Gaya hidup mewah dan boros ini tampak sekali di saat-saat sekrang. Orang-orang yang kaya, mereka boros. Orang-orang yang tidak punya berusaha hidup dengan gaya mewah. Inilah bentuk kehidupan matrealistis. Yang memperturunkan hawa nafsu dan penuh dengan kelalaian.

والإنسانُ يطغَى إذا استغنَى، ﴿وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ  إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ﴾ [الشورى: 27]، ﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى (6) أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى﴾ [العلق: 6، 7].

Saudara-saudara sekalian,

Gaya hidup yang boros tentu berpengaruh bagi kesehatan. Dalam sebuah hadits dari al-Miqdad bin Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ إِبْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.

“Tidak ada wadah yang paling buruk yang diisi manusia selain perutnya. Cukuplah seorang anak Adam menyantap beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya, hendaknya ia memberikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, at-Turmudzi, an-Nasai, Ibnu Majah, dan at-Turmudzi mengatakan hadits hasan).

Berlebih-lebih dalam makanan dan urusan perut, urusan makanan, dan memperturutkan keinginan, semuanya berdampak buruk bagi jiwa. Memiliki efek yang negatif terhadap kesehatan. Menyia-nyiakan harta. Dan melemahkan ambisi. Seorang mukmin makan dengan adab yang diajarkan syariat. Sedangkan orang yang tidak beriman makan dengan sekehendak nafsunya. Ia makan dengan sekenyang-kenyangnya. Menjaga pola makan sama saja dengan menjaga kesehatan.

Di antara bimbingan ulama-ulama Islam adalah “Sesungguhnya bentuk berlebihan adalah seseorang menghadap meja makan dengan roti yang banyak. Roti dengan porsi orang banyak. Bentuk pemborosan adalah seseorang meletakkan berbagai jenis makanan untuk dirinya.”

Imam Ahmad mengatakan, “Orang-orang yang beriman bergembira makan bersama saudara-saudaranya. Mereka mendahulukan orang-orang miskin. Menjaga kehormatan ketika bersama pecinta dunia. Meneladani dan beradab ketika bersama ulama.”

Saudara-saudara sekalian,

Zaman sekarang ini adalah zaman gaya hidup boros. Tentu saja ini jalan kebinasaan. Orang-orang tidak lagi memandangkah mata dan hatinya ke tanah. Mereka terus memperturutkan apa yang mereka inginkan tanpa dipikirkan lagi.

Bermewah-mewah dan boros dalam pakaian. Ditambahi pula pernak-pernik yang tidak perlu. Pakaian-pakaian yang aneh dan berbangga-bangga dengannya. Kemudian boros dalam pesta-persta rakyat. Mereka bergembira dan berfoya-foya. Bermegah-megahan dalam mahar dan pengeluaran. Dalam perayaan dan makanan. Kemudian apa yang mereka keluarkan berlebihan dan berakhir di tempat sampah. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan kufur nikmat demikian.

Ada lagi yang lain memiliki gaya hidup suka jalan-jalan, traveling. Mereka tidak peduli bersafar ke tempat yang haram. Terkumpullah musibah dan musibah. Musibah menghamburkan harta dan musibah pergi ke tempat yang haram. Boros dalam penggunaan air, AC, listrik, dll. bertakwalah kepada Allah dalam nikmat-nikmat ini.

Agama kita melarang sifat boros secara individu, demikian pula agama kita melarang boros dalam tataran masyarakat. Dalam kegiatan sosial dan yayasan. Dalam lembaga pemerintahan, daerah dan nasional. Karena yang demikian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Malah akan mengantarkan pada kerugian dan kegagalan. Karena akhir dari pemborosan dan gaya hidup berlebihan adalah penyesalan dan kerugian.

﴿وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا﴾

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS:Al-Israa’ | Ayat: 29).

Ibadallah,

Agama kita mengajarkan agar kita merasa kecukupan terhadap sesuatu. Bukan malah selalu merasa kekurangan. Sehingga umat Islam tidak menjadi seorang hamba dinar dan dirham. Jangan meremehkan sesuatu yang sedikit, karena hal ini akan menyeret kita pada kebiasaan meremehkan yang banyak. Dan barangsiapa meremehkan yang sedikit, lama-kelamaan mereka akan meremehkan yang banyak. Sehingga ia terus-menerus tidak pernah merasa cukup. Yang ia dapat hanya kehinaan di dunia dan akhirat.

أعوذُ بالله من الشيطان الرجيم: ﴿فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ﴾ [هود: 116، 117].

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS:Huud | Ayat: 116-117).

نَفَعَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِكِتَابِهِ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ طَاعَتُهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ، وَتَقْوَاهُ أَعْلَى نَسَبٍ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا سَلَبَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ، يَوْمَ الشَّدَائِدِ وَالكُرَبِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، النَّبِيُّ المُنْتَجَب، وَالرَّسُوْلُ المُنْتَخَبُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ حَازُوْا أَعْلَى المَقَامَاتِ وَعَالِيَ الرُتَبِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا مَزِيْدًا، مَا أَضَاءَ شِهَابِ وَنَجْمٌ غَرَبِ.

أَمَّا بَعْدُ .. مَعَاشِرَ المُسْلِمِيْنَ:

Setelah pada khotbah pertama khotib menjelaskan tentang gaya hidup boros dan mewah dalam makanan, pakaian, kendaraan, dll. jangan diartikan bahwa khotib mengajak pada hidup susah. Berhias itu diperintahkan yang dilarang adalah berlebihan. Membelanjakan harta untuk menikmati hidup itu hendaknya dalam tataran normal. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا  إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 31).

﴿قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ  قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS:Al-A’raf | Ayat: 32).

Gaya hidup yang pertengahan adalah ciri dari Ibadurrahman. Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ,

﴿وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا﴾

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS:Al-Furqaan | Ayat: 67).

Yang tercela adalah yang didapatkan dari sesuatu yang haram. Kemudian dikeluarkan di jalan yang haram. Seseorang menjadi budak harta. Harta itu menguasai hatinya. Menyibukkannya dari Allah dan negeri akhirat. Dan dari hak-hak keluarga dan saudaranya.

Maksud boros di sini bukanlah boros dalam kebaikan. Sufyan bin Uyainah mengatakan,

مَا أنْفَقْتَ فِي غَيْر ِطَاعَةِ اللهِ إِسْرَافٌ، وَإِنْ كَانْ قَلِيْلاً

“Apa yang engkau keluarkan pada selain ketaatan kepada Allah adalah boros. Walaupun itu sedikit.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

“Boros dalam perkara mubah adalah sesuatu yang melampaui batas. Ini adalah sesuatu yang diharamkan. Meninggalkan sifat berlebih-lebihan ini adalah zuhud, mubah.”

Alangkah rugi dan celakanya seseorang yang mendapat nikmat yang banyak dan hidup yang lapang, akan tetapi ia sombong dan tenggelam dalam urusan keinginan syahwat dan nafsunya.

هَذَا، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى الرَحْمَةِ المُهْدَاةِ، وَالنِّعْمَةِ المُسَدَاةِ: نَبِيِّكُمْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ؛ فَقَدْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ رَبُّكُمْ، فَقَالَ – عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا -: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56].

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، النَبِيِّ الأُمِّيِّ الحَبِيْبِ المُصْطَفَى، وَالنَّبِيِّ المُجْتَبَى، وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الطَاهِرِيْنَ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ الرَاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَاخْذُلِ الطُغَاةَ وَالمُلَاحِدَةَ وَسَائِرَ أَعْدَاءَ المِلَّةِ وَالدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا وَوَلِيَّ أَمْرِنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَعِزَّهُ بِطَاعَتِكَ، وَأَعْلِ بِهِ كَلِمَتَكَ، وَاجْعَلْهُ نُصْرَةً لِلْإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَوَفِّقْهُ وَنَائِبَيْهِ وَإِخْوَانَهُ وَأَعْوَانَهُ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ -، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِعِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالهُدَى يَارَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَاجْمَعْ عَلَى الْحَقِّ وَالهُدَى وَالسُنَّةِ كَلِمَتَهُمْ، وَوَلِّ عَلَيْهِمْ خِيَارَهُمْ، وَاكْفِهِمْ أَشْرَارَهُمْ، وَابْسُطِ الْأَمْنَ وَالعَدْلَ وَالرَخَاءَ فِي دِيَارِهِمْ، وَأَعِذْهُمْ مِنَ الشُّرُوْرِ وَالفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ دِيْنَنَا وَدِيَارَنَا وَأُمَّتَنَا وَأَمْنَنَا وَوُلَاةَ أَمْرِنَا وَعُلَمَاءَنَا وَأَهْلَ الفَضْلِ وَالصَّلَاحِ وَالاِحْتِسَابِ مِنَّا وَرِجَالَ أَمْنِنَا وَقُوَّاتَنَا وَوِحْدَتَنَا وَاجْتِمَاعَ كَلِمَتِنَا بِسُوْءٍ، اَللَّهُمَّ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، اَللَّهُمَّ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرًا عَلَيْهِ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ جُنُوْدَنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْ جُنُوْدَناَ المُرَابِطِيْنَ عَلَى الحُدُوْدِ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ، وَسَدِّدْ رَأْيَهُمْ، وَصَوِّبْ رَمْيَهُمْ، وَاشْدُدْ أَزْرَهُمْ، وَقَوِّ عَزَائِمَهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ أَيِّدْهُمْ بِتَأيِيْدِكَ، وَانْصُرْهُمْ بِنَصْرِكَ، اَللَّهُمَّ وَاحْفَظْهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ، وَمِنْ خَلْفِهِمْ، وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ، وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ، وَمِنْ فَوْقِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ اَللَّهُمَّ أَنْ يُغْتَالُوْا مِنْ تَحْتِهِمْ، اَللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ فِي أَهْلِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ، إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُعَاءِ.

اَللَّهُمَّ يَا وَلِيَّ المُؤْمِنِيْنَ، وَيَا نَاصِرَ المُسْتَضْعَفِيْنَ، وَيَا غِيَاثَ المُسْتَغِيْثِيْنَ، يَا عَظِيْمَ الرَجَاءِ، وَيَا مُجِيْرَ الضُعَفَاءِ، اَللَّهُمَّ إِنَّ لَنَا إِخْوَانًا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ، وَفِي سُوْرِيَا، وَفِي بُورْمَا، وَفِي أَفْرِيْقِيَا الوُسْطَى، وَفِي لِيْبِيَا، وَفِي العِرَاقِ، وَفِي اليَمَنِ، اَللَّهُمَّ قَدْ مَسَّهُمْ الضُّرُّ، وَحَلَّ بِهِمْ الكُرَبُ، وَاشْتَدَّ عَلَيْهِمْ الأَمْرُ، تَعَرَّضُوْا لِلْظُلْمِ وَالطُغْيَانِ، وَالتَشْرِيْدِ وَالحِصَارِ، سُفِكَتْ دِمَاؤُهُمْ، وَقُتِّلَ أَبْرِيَاؤُهُمْ، وَرُمِّلَتْ نِسَاؤُهُمْ، وَيُتِّمَ أَطْفَالُهُمْ، وَهُدِّمَتْ مَسَاكِنُهُمْ وَمُرَافِقُهُمْ.

اَللَّهُمَّ يَا نَاصِرَ المُسْتَضْعَفِيْنَ، وَيَا مُنْجِيَ المُؤْمِنِيْنَ، اِنْتَصِرْ لَهُمْ، وَتَوَلَّ أَمْرَهُمْ، وَاكْشِفْ كُرَبَهُمْ، وَارْفَعْ ضُرَّهُمْ، وَعَجِّلْ فَرَجَهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ، اَللَّهُمَّ مُدَّهُمْ بِمَدَدِكَ، وَأَيِّدْهُمْ بِجُنْدِكَ، وَانْصُرْهُمْ بِنَصْرِكَ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَهُمْ نَصْرًا مُؤْزَّرًا، وَفَرَجًا وَرَحْمَةً وَثَبَاتًا، اَللَّهُمَّ سَدِّدْ رَأْيَهُمْ، وَصَوِّبْ رَمْيَهُمْ، وَقَوِّ عَزَائِمَهُمْ.

اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالطُّغَاةِ الظَالِمِيْنَ وَمَنْ شَايَعَهُمْ، وَمَنْ أَعَانَهُمْ، اَللَّهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، اَللَّهُمَّ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِي تَدْبِيْرِهِمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِاليَهُوْدَ، اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ باِليَهُوْد الغَاصِبِيْنَ المُحْتَلِّيْنَ، فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لَا يُرَدُّ عَنِ القَوْمِ المُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَدْرَأُ بِكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوْبَنَا، وَعَافِ مُبْتَلَانَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا.

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [الأعراف: 23].

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Oleh tim KhotbahJumat.com

sumber : https://khotbahjumat.com/4135-tercelanya-gaya-hidup-mewah-dan-boros.html

Sumpah Itu Bukan untuk Main-Main

Sumpah demi apa pun!”, “Sumpah demi semesta!”, “Sumpah demi kamu!” Kita bukan bicara tentang puisi remaja-remaja senja yang sedang ngetrend sekarang. Tapi, apakah boleh bersumpah seperti itu?

Menjadikan sesuatu sebagai saingan (tandingan) bagi Allah termasuk perbuatan syirik, dalam hal ini termasuk sumpah. Allah Ta’ala berfirman,

فلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدادًا

“Dan janganlah kalian jadikan tandingan untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Di dalam Islam, sumpah bukan suatu hal yang bisa kita gunakan untuk main-main. Sumpah merupakan perkara serius. Sumpah adalah menekankan pentingnya sesuatu dengan menyebutkan hal yang dia agungkan secara khusus. Dan keagungan hanya boleh kita sematkan hanya kepada Allah Ta’ala. Adapun selain Allah, maka semua adalah makhluk, yang tidak boleh kita jadikan sebagai objek sumpah. Bersumpah hanya diperbolehkan dengan menggunakan nama Allah atau sifat-Nya. Adapun Allah Ta’ala, Ia boleh bersumpah dengan menyebut nama makhluk-Nya; sedangkan makhluk tidak boleh bersumpah selain dengan menyebutkan nama Allah, bagaimanapun keadaannya. Makhluk tidak boleh bersumpah dengan menyebutkan nama Nabi, malaikat, orang-orang saleh, tidak boleh pula menyebutkan nama Kakbah, wali-wali, atau apa pun itu, kecuali hanya Allah Ta’ala saja. (I’anatul Mustafid, 2: 161)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من حلف بغير الله فقد أشرك

“Barang siapa yang bersumpah kepada selain Allah, sungguh dia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Abu Dawud)

من كان حالفا فليحلف بالله أو ليصمت

“Barang siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah, atau diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Khudz Aqidatak, hal. 19)

Bersumpah dengan menyebutkan nama selain Allah termasuk kesyirikan, yaitu syirik kecil, dan disebut juga syirik lafadz (syirik ucapan), meskipun dia tidak memaksudkan (meniatkan) dengan hatinya. Karena bersumpah dengan selain Allah termasuk dalam perbuatan menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala. Syirik kecil dapat mengantarkan dan menjerumuskan seseorang kepada syirik besar. Sehingga larangan ini juga bertujuan untuk menjauhkan perbuatan syirik dari sisi manapun, baik dari sisi lafaz, niat, dan perbuatan. (I’anatul Mustafid, 2: 161)

Tauhid adalah ketaatan terbesar. Sedangkan maksiat (yang bukan syirik), sebesar apapun dosanya, maka ini lebih ringan daripada dosa syirik. Sampai-sampai Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

 لأن أحلف بالله كاذبا أحب إلي من أن أحلف بغيره صادقا

“Seandainya aku bersumpah kepada Allah namun isinya kedustaan, itu lebih aku sukai daripada aku bersumpah kepada selain Allah meskipun isinya benar.”

Karena sumpah kepada selain Allah termasuk kesyirikan; sedangkan bersumpah dengan nama Allah, jika isinya dusta, maka ia terhitung maksiat, yang dosanya lebih ringan dibanding dosa syirik. (Al-Qaulul Mufidhal. 261)

Ketika menjelaskan maksud perkataan Ibnu Mas’ud di atas, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Karena bersumpah dengan menyebut nama Allah mengandung tauhid, meskipun ada kedustaan di dalamnya. Adapun bersumpah dengan selain Allah, meskipun isi sumpahnya jujur, maka mengandung kesyirikan. Kebaikan yang ada pada tauhid itu lebih agung daripada kebaikan yang ada pada kejujuran.” Keburukan syirik itu lebih parah daripada keburukan dusta. (I’anatul Mustafid, 2: 162)

Allahu a’lam.

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Muslimah.or.id

Catatan kaki:

  • Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bin Abdillah. 1423 H. I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid. Muassasah Ar-Risalah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 1438 H. Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid. Darul Ibn Jauzi. Riyadh.
  • Zainu, Muhammad bin Jamil. Khudz Aqidatak min Al-Kitabi wa As-Sunah Ash-Shahihah

Sumber: https://muslimah.or.id/31059-sumpah-itu-bukan-untuk-main-main.html
Copyright © 2025 muslimah.or.id

Beratnya Menjauhi Dua Maksiat Ini

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

الصبر عن معاصي اللسان والفرج من أصعب أنواع الصبر ؛ لشدة الداعي إليهما وسهولتهما

“Sabar terhadap maksiat lisan dan kemaluan termasuk jenis sabar yang terberat. Karena pendorongnya amat kuat dan mudah untuk dilakukan.” (Uddatushobirin)

Oleh karena itu Nabi mengabarkan bahwa perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam api neraka adalah lisan dan kemaluan.. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

sumber: https://nasehat.net/beratnya-menjauhi-dua-maksiat-ini/

Pertolongan Allah di Ujung Harapan dan di Persimpangan Terakhir

Sungguh, masa-masa tertimpa musibah adalah masa-masa yang berat. Masa-masa yang membutuhkan mental baja dan kesabaran yang luar biasa. Apalagi jika kita sudah berusaha, namun belum ada hasil sesuai dengan keinginan kita, sampai detik ini. Kita pun mulai lelah, lalu mulai muncul keputusasaan. Namun, hendaknya kita belajar dari kisah-kisah para Rasul terdahulu, bahwa seringkali pertolongan itu Allah datangkan saat di penghujung harapan dan di persimpangan terakhir.

Pertolongan Allah seringkali datang di ujung harapan dan di persimpangan terakhir

Saudaraku, seringkali pertolongan Allah itu datang di ujung harapan, di persimpangan terahir. Lihatlah bagaimana dulu Allah Ta’ala selamatkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah baru datangkan pertolongan ketika kondisi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dilemparkan ke dalam api, pada saat tidak ada lagi usaha yang bisa dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْداً وَسَلَاماً عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman, “Wahai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 69)

Lihat pula bagaimana Allah Ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika sudah di ujung kesulitan, sudah “mentok” karena di depannya adalah Laut Merah dan tidak bisa lagi mundur ke belakang karena ada Fir’aun dan pasukannya, barulah laut dibelah,

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, sedangkan kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)

Begitu pula ketika Allah Ta’ala memberikan pertolongan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Tsur. Allah tolong ketika beliau di tempat paling atas, di puncak gunung, yang ketika itu beliau sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan atau membunuh, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Inilah di antara sebab mengapa orang-orang yang sabar itu minoritas, karena memang sulit bertahan hingga di ujung harapan dan di persimpangan terahir. Perjuangan kesabaran itu sangat sulit, beratnya luar biasa. Perjuangannya sungguh melelahkan, namun tetap tawakal kepada Allah Ta’ala. Ini berat dan merupakan ujian keimanan.

Apa hikmah ketika Allah Ta’ala tidak menurunkan pertolongan-Nya di awal usaha?

Teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sedikitpun benar-benar kehilangan harapan dan putus asa. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan dakwah para Rasul,

حَتَّىٰٓ إِذَا ٱسْتَيْـَٔسَ ٱلرُّسُلُ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا۟ جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّىَ مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ ٱلْقَوْمِ ٱلْمُجْرِمِينَ

Sehingga apabila para Rasul itu mulai putus asa (tentang berimannya umat mereka) dan telah meyakini bahwa (dakwah) mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari orang-orang yang berdosa.” (QS. Yusuf: 110)

Allah kisahkan ketika dakwah para Rasul itu belum berhasil. Sudah berdakwah kesana dan kemari, namun belum ada respon positif, sehingga ketika itu para Rasul pun mulai putus asa (artinya, belum benar-benar putus asa, namun merasa bahwa perjuangan mereka sudah maksimal). Namun Allah terangkan bahwa justru pada “titik” itu, Allah datangkan pertolongan-Nya.

Pertanyaan berikutnya, apa hikmah ketika Allah Ta’ala tidak menurunkan pertolongan-Nya di awal usaha? Ada beberapa penjelasan mengapa Allah datangkan pertolongan-Nya di titik akhir ketika mereka mulai putus asa.

Pertama, kalau datang di awal, maka sangat rentan menimbulkan kesombongan. Bisa jadi dia menyandarkan keberhasilan itu pada dirinya sendiri, “Ini karena usaha saya sendiri.” Padahal, syiar orang-orang yang beriman adalah,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

“Laa haula wala quwwata illa billah.” (Artinya: Tidak ada daya dan tidak pula kekuatan kecuali karena Allah.)

Allah tidak ingin muncul kesombongan dari diri kita, ketika kita melakukan suatu usaha yang kecil, lalu muncul pencapaian yang luar biasa.

Kedua, supaya kita mengerti bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Meskipun para Nabi dan Rasul, mereka harus capek terlebih dahulu, mendekati keputusasaan, barulah pertolongan Allah itu datang. Dengan kata lain, supaya kita berjuang semaksimal mungkin, mengeluarkan semua potensi terbaik yang kita miliki, sampai di titik darah penghabisan.

Ketiga, supaya kita tidak pernah berhenti berjuang. Ketika pertolongan Allah belum datang, maka kita tidak boleh berhenti berjuang. Sehingga kita tidak boleh kehilangan harapan, alias tetap optimis.

Kemudian di antara syarat agar Allah Ta’ala menjaga kita dan memberikan pertolongan kepada kita adalah kita senantiasa “menjaga” Allah Ta’ala. Yaitu kita berusaha bertakwa, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam kondisi lapang maupun saat terkena musibah. Sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1: 307)

Itulah syarat agar harapan kita kepada Allah tidak pernah membuat kita kecewa.

Tetap berjuang sampai di titik darah penghabisan dengan tetap bertawakal kepada-Nya

Oleh karena itu, saat terkena musibah, kita tetap berjuang dan berikhtiar sampai di titik darah penghabisan, selama itu adalah jalan atau sarana yang halal menurut syariat. Kita berusaha lakukan apa yang kita bisa lakukan. Walaupun secara hitung-hitungan duniawi atau prediksi manusia tidak akan mengubah hasil (outcome) apapun. Karena yang menentukan semua itu bukan manusia, tapi Allah Ta’ala. Dan lihatlah bagaimana nanti Allah Ta’ala menolong kita, membantu kita, dan memberikan keberkahan kepada kita. Syaratnya, saat kita berjuang dan berusaha, harus tawakal kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung (diberi rezeki). Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, 2447, Ibnu Majah no. 4216, dan lain-lain. Dinilai sahih oleh Al-Albani.)

Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan-urusan kita seluruhnya. Aamiin.

***

@DN, 4 Muharam 1446/ 11 Juli 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

Disarikan dari ceramah Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah dan ceramah Ustadz Rifky Ja’far Thalib hafizhahullah

Sumber: https://muslimah.or.id/18558-pertolongan-allah-di-ujung-harapan-dan-di-persimpangan-terakhir.html

Sungguh Allah Mengampuni Seluruh Dosa

إن الله يغفر الذنوب جميعا

Oleh:

Syaikh Nasyat Kamal

الشيخ نشأت كمال

قال تعالى: ﴿ قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53].

هذه الآية تدل على كمال رحمة الله، وفضله وإحسانه في حق العبيد،وقد سبق هذه الآية آياتُ الوعيد الشديدة حتى بلغت من نفوس سامعيها أي مبلغ من الرعب والخوف، وقد يبلغ بهم وقعها مبلغ اليأس من سعي يُنْجيهم من وعيدها، فأعقبها الله ببعث الرجاء في نفوسهم للخروج إلى ساحل النجاة إذا أرادوها على عادة هذا الكتاب المجيد من مداواة النفوس بمزيج الترغيب والترهيب.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini menunjukkan sempurnanya rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta karunia dan kebaikan-Nya yang dilimpahkan kepada para hamba-Nya. Sebelum ayat ini, disebutkan ayat-ayat yang berisi ancaman keras, hingga setiap jiwa yang mendengarnya dapat merasakan kengerian dan ketakutan yang luar biasa, dan bisa jadi akan menimbulkan keputusasaan dalam berusaha menyelamatkan diri dari ancamannya.

Oleh sebab itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan setelahnya ayat ini untuk menumbuhkan kembali harapan dalam diri mereka agar dapat keluar menuju tepi keselamatan apabila mereka menghendakinya. Inilah metode yang biasa dipakai dalam kitab yang mulia ini dalam mengobati jiwa dengan mengombinasikan antara pemberian ancaman dan harapan.

قال ابن كثير رحمه الله: هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العُصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة، وإخبار بأن الله يغفر الذنوب جميعًا لمن تاب منها ورجع عنها، وإن كانت مهما كانت، وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر.

ثم ذكر ابن كثير رحمه الله أنه يُستثنى من عموم المغفرة طائفة من الناس وهم المشركون، فلا يصحُّ حمل هذه الآية عليهم حال كفرهم وشركهم؛ لأن الشرك لا يُغفَر لمن لم يَتُبْ منه، وهذا كلامٌ صحيح.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan seruan bagi seluruh pelaku maksiat —baik itu dari golongan orang-orang kafir maupun selain mereka— untuk bertobat dan insaf, juga sebagai pesan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengampuni seluruh dosa bagi orang yang bertobat dan insaf darinya, dosa apa pun itu dan bagaimanapun itu, meskipun sebanyak buih di lautan.”

Kemudian Ibnu Katsir rahimahullah kemudian menyebutkan bahwa keluasan ampunan ini tidak berlaku bagi sebagian golongan manusia, yaitu orang-orang musyrik. Tidak benar jika ayat ini ditujukan kepada mereka saat mereka dalam keadaan kafir dan musyrik, karena kesyirikan tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertobat darinya, dan inilah pendapat yang benar.

فعن ابن عباس رضي الله عنهما، أنَّ ناسًا من أهل الشرك كانوا قد قتلوا فأكثروا، وزنوا فأكثروا، فأتوا محمدًا صلى الله عليه وسلم، فقالوا: إن الذي تقول وتدعو إليه لحسن لو تخبرنا أن لما عملنا كفَّارة، فنزل: ﴿ وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ﴾ [الفرقان: 68]، ونزل قوله: ﴿ قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 53]؛ رواه البخاري ومسلم.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa dulu orang-orang musyrik telah banyak membunuh dan berzina, lalu mereka datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata, “Sungguh yang kamu ucapkan dan serukan ini adalah hal yang bagus, kalaulah kamu sampaikan kepada kami bahwa apa yang telah kami lakukan ini ada penggugurnya?” Kemudian turunlah ayat:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqan: 68). Juga turun ayat:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ 

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53). (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله: ﴿ قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ﴾ إلى آخر الآية، قال: قد دعا الله إلى مغفرته من زعم أن المسيح هو الله، ومن زعم أن المسيح هو ابن الله، ومن زعم أن عزيرًا ابن الله، ومن زعم أن الله فقير، ومن زعم أن يد الله مغلولة، ومن زعم أن الله ثالث ثلاثة، يقول الله تعالى لهؤلاء: ﴿ أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾ [المائدة: 74].

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkaitan dengan firman Allah: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).

Bahwa ia berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyerukan ampunan-Nya bagi orang yang telah mengklaim bahwa Isa adalah Allah, mengklaim Isa adalah anak Allah, mengklaim Uzair adalah anak Allah, mengklaim Allah itu miskin, mengklaim bahwa tangan Allah terbelenggu, dan mengklaim bahwa Allah merupakan tiga oknum tuhan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada mereka:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74).

وعن ابن مسعود أنه قال: إن أعظم آية في كتاب الله: ﴿ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴾ [البقرة: 255]، وإن أجمع آية في القرآن بخيرٍ وشرٍّ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ ﴾ [النحل: 90]، وإن أكثر آية في القرآن فرجًا في سورة الغرف: ﴿ قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ﴾ [الزمر: 53]، وإن أشد آية في كتاب الله تصريفًا ﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 2، 3].

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Ayat yang paling agung dalam Kitabullah adalah:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

‘Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).’ (QS. Al-Baqarah: 255).

Dan ayat yang paling lengkap menyebutkan kebaikan dan keburukan dalam Al-Qur’an adalah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

‘Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan.’ (QS. An-Nahl: 90).

Sedangkan ayat dalam Al-Qur’an yang paling banyak menghadirkan jalan keluar adalah yang ada dalam surat Al-Ghuraf (Az-Zumar):

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ 

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53).

Adapun ayat dalam Kitabullah yang paling mengubah keadaan adalah:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.” (QS. At-Talaq: 2-3).

و(الإسراف): الإكثار، والمراد به هنا الإسراف في الذنوب والمعاصي.

و(القنوط): اليأس، وقد نهى الله عنه في كتابه كما في قوله تعالى: ﴿ قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ ﴾ [الحجر: 56]، وقال: ﴿ يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ﴾ [يوسف: 87].

Yang dimaksud dengan “الإسراف” (melampaui batas) —dalam surat Az-Zumar ayat 53)— adalah melampaui batas dalam melakukan dosa dan kemaksiatan. Sedangkan maksud dari “اليأس” (putus asa) adalah putus harapan dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang putus asa dalam Kitab-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Dia (Ibrahim) berkata, “Adakah orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya selain orang yang sesat?” (QS. Al-Hijr: 56).

يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

(Yakub berkata), “Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

ومادة الغفر ترجع إلى الستر، وهو يقتضي وجود المستور واحتياجه للستر، فدلَّ يغفر الذنوب على أن الذنوب ثابتة؛ أي: المؤاخذة بها ثابتة والله يغفرها؛ أي: يزيل المؤاخذة بها، وهذه المغفرة تقتضي أسبابًا، منها: قوله تعالى: ﴿ وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى ﴾ [طه: 82] فكأن قوله: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ ﴾ [الزمر: 53] دعوة إلى تطلُّب أسباب هذه المغفرة، فإذا طلبها المذنب حصلت له المغفرة.

Akar kata “الغفر” memiliki kandungan makna menutupi, sehingga kata ini mengharuskan ada hal yang ditutupi dan membutuhkan penutup. Sehingga kata “يغفر الذنوب” (menutup dosa-dosa) mengandung artian bahwa dosa-dosa itu tetap ada dan layak mendapatkan balasannya.

Sedangkan maksud dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala menutup dosa-dosa itu yakni menghilangkan balasan atas dosa itu. Penutupan atau ampunan atas dosa-dosa ini ada sebab-sebabnya, di antaranya adalah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Thaha: 82).

Jadi, seakan-akan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).

Merupakan seruan untuk menjalankan sebab-sebab ampunan, sehingga apabila orang yang berdosa menjalankannya, maka ampunan pasti didapatkan.

وقيل: لو صارت الذنوب بأسْرِها مغفورةً لما أمر بالتوبة، فالجواب: أن عندنا التوبة واجبة وخوف العقاب قائم، فإنا لا نقطع بإزالة العقاب بالكلية؛ بل نقول: لعله يعفو مطلقًا، ولعله يعذب بالنار مدة ثم يعفو بعد ذلك.

Jika ada yang mengatakan, “Seandainya semua dosa itu diampuni, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak perlu memerintahkan bertobat!” Maka jawabannya adalah menurut kami tobat itu wajib dan rasa takut terhadap siksaan harus tetap ada, karena kami tidak dapat memastikan siksaan akan dihilangkan sepenuhnya, tapi kita hanya bisa berkata, “Bisa jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni sepenuhnya, dan bisa jadi juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengazab pelaku dosa di neraka beberapa saat, lalu memberi ampunan setelah itu.”

وهذا الخطاب يشمل المشركين والمؤمنين، فيأخذ كل فريق منه بنصيب، فنصيب المشركين الإنابة إلى التوحيد واتِّباع دين الإسلام، ونصيب المؤمنين منه التوبة إذا أسرفوا على أنفسهم والإكثار من الحسنات، وأمَّا الإسلام فهو حاصل لهم.

Seruan ini mencakup orang-orang musyrik dan beriman, setiap golongan itu mengamalkan sesuai kadarnya masing-masing. Kadar bagi orang-orang musyrik dalam seruan ini adalah kembali kepada tauhid dan menganut agama Islam. Sedangkan kadar bagi orang-orang beriman adalah bertobat jika telah melebihi batas terhadap diri mereka dengan dosa-dosa dan memperbanyak amal kebaikan, adapun agama Islam, maka telah mereka dapatkan.

ومن الفوائد في الآية:

1- أنه سبحانه سمَّى المذنب بالعبد، وهذا يعني أنه لم يطرد، وأنه أهل للرحمة.

2- أنه تعالى أضافهم إلى نفسه بياء الإضافة.

3- أنه تعالى قال: ﴿ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ ﴾ ومعناه: أن ضرر تلك الذنوب ما عاد إليه؛ بل هو عائد إليهم.

4- أنه قال: ﴿ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ﴾ نهاهم عن القنوط، فيكون هذا أمرًا بالرجاء، والكريم إذا أمر بالرجاء فلا يليق به إلا الكرم، ولم يقل: (لا تقنطوا من رحمتي) لكنه قال: ﴿ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ﴾؛ لأن قولنا الله أعظم أسماء الله وأجلها، فالرحمة المضافة إليه يجب أن تكون أعظم أنواع الرحمة والفضل، وكان من الممكن أن يقول: (إنه يغفر الذنوب جميعًا)؛ ولكنه أعاد اسم الله؛ ليدل على المبالغة في الوعد بالرحمة، وقال: ﴿ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ لفظ الغفور يُفيد المبالغة في المغفرة، والرحمة تفيد فائدة زائدة على المغفرة، فـ(الغفور) إشارة إلى إزالة موجبات العقاب، و(الرحيم) إشارة إلى تحصيل موجبات الرحمة.

Di antara faedah yang terkandung dalam ayat ini adalah:

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut pelaku dosa sebagai “hamba”. Ini menunjukkan bahwa orang itu tidak Dia jauhi, dan bahkan masih berhak mendapat rahmat-Nya.
  2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menisbatkan pelaku dosa itu kepada diri-Nya dengan berfirman, “hamba-Ku.”
  3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri (dengan berbuat dosa).” Maknanya mudharat dosa-dosa itu tidak menimpa Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi justru menimpa para pelakunya sendiri.
  4. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang para hamba-Nya dari keputusasaan, sehingga ini menjadi perintah untuk terus berharap. Apabila Dzat Yang Maha Pemurah sudah memerintahkan untuk berharap, maka tidak layak bagi-Nya kecuali melimpahkan kemurahan-Nya.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak berfirman dengan redaksi, “Jangan berputus asa dari rahmat-Ku” tapi dengan redaksi, “Jangan berputus asa dari rahmat Allah”, karena “Allah” merupakan nama-Nya yang paling agung dan mulia, sehingga rahmat yang disandingkan dengan nama ini pasti menjadi rahmat yang paling agung.

    Selain itu, bisa saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dengan redaksi, “Sesungguhnya Dia mengampuni dosa-dosa semuanya”, tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru mengulangi penyebutan nama-Nya dengan berfirman, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” untuk memberi penekanan lebih akan janji-Nya untuk melimpahkan rahmat. Kemudian Dia berfirman, “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun Maha Penyayang.”

    Dan kata “الغفور” (Maha Pengampun) mengandung makna lebih dalam ampunan. Adapun rahmat mengandung makna yang lebih atas ampunan, sehingga kata “Maha Pengampun” memberi makna penghapusan faktor-faktor yang mendatangkan siksaan, sedangkan kata “Maha Penyayang” memberi makna pemberian faktor-faktor yang mendatangkan rahmat.

ولما فتح لهم باب الرجاء أعْقَبَه بالإرشاد إلى وسيلة المغفرة، فقال: ﴿ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ ﴾ [الزمر: 54]، وهذا أمر بالتوبة، وقد ذكر الزمخشري في الكشاف أن المعنى: (وتوبوا إليه وأسلموا له؛ أي: وأخلصوا له العمل؛ وإنما ذكر الإنابة على أثر المغفرة؛ لئلا يطمع طامع في حصولها بغير توبة).

Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala membukakan pintu harapan bagi para hamba-Nya, Dia menyebutkan setelahnya petunjuk tentang jalan untuk meraih ampunan, dengan berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ

“Dan kembalilah kepada Tuhan kalian.” (QS. Az-Zumar: 54). Ini merupakan perintah untuk bertobat. Az-Zamakhsyari menyebutkan dalam kitab Al-Kasysyaf bahwa maknanya, “(Maksudnya): ‘Dan bertobatlah kepada-Nya dan tuluskanlah amalan untuk-Nya.’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan tobat setelah menyebutkan ampunan untuk mencegah agar tidak ada orang yang menginginkan ampunan tanpa tobat.”

وذكر الرازي في تفسيره أن هذا على مذهبه المعتزلي في الوعيد، وهو غلط؛ لأن المغفرة قد تقع ابتداءً؛ يعني: في حق الموحِّدين، وتارة يُعذَّب المذنب مدة في النار، ثم يخرجه الله من النار ويعفو عنه.

Sedangkan Ar-Razi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa itu (penafsiran az-Zamakhsyari) merupakan penafsiran sesuai dengan mazhab mu’tazilah yang beliau anut berkaitan dengan ancaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan ini keyakinan yang salah, karena terkadang ampunan diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala begitu saja tanpa didahului dengan tobatnya hamba, yakni bagi orang-orang yang bertauhid (tidak menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Namun, terkadang orang yang berdosa juga disiksa dulu di neraka, lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengeluarkannya dari neraka dan mengampuninya.

واعلم أنه تعالى لما خوَّف المشركين والكافرين بالعذاب بيَّن تعالى أن بتقدير نزول العذاب بهم ماذا يقولون، فحكى الله تعالى عنهم ثلاثة أنواع من الاعتذارات الواهية الباطلة:

•الحسرة على التفريط في طاعة الله تعالى، ولم يكفه أن ضيَّع طاعة الله حتى سخر من أهلها، فقال تعالى: ﴿ أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ﴾ [الزمر: 56].

•تمنِّي الهداية والتقوى، قال: ﴿ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴾ [الزمر: 57].

•تمني الرجوع والإحسان، قال: ﴿ أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ﴾ [الزمر: 58].

Ketahuilah bahwa ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam orang-orang musyrik dan kafir dengan azab, Dia juga menjelaskan seandainya azab turun kepada mereka, apa yang akan mereka katakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan gambaran tentang mereka dengan tiga jenis alasan batil yang akan mereka ajukan, yaitu:

  • Merasakan penyesalan atas kelalaian mereka dalam menaati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak hanya melalaikan ketaatan itu, tapi juga menghina orang-orang yang taat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

(Tujuannya) supaya (tidak) ada orang yang berkata, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala).” (QS. Az-Zumar: 56).

  • Berandai-andai dapat meraih hidayah dan ketakwaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengisahkan ucapan mereka:

لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Seandainya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 57).

  • Berangan-angan dapat kembali ke dunia dan berbuat baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Atau supaya (tidak) ada (pula) yang berkata ketika melihat azab, ‘Seandainya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.’” (QS. Az-Zumar: 58).

وحاصل الكلام أن هذا المقصر أتى بثلاثة أشياء:

أولها: الحسرة على التفريط في الطاعة.

وثانيها: التعلُّل بفقد الهداية.

وثالثها: تمنِّي الرجعة والإحسان.

Kesimpulannya, pembagian ini terangkum dalam tiga hal:

  1. Penyesalan atas kelalaian dalam melakukan ketaatan.
  2. Beralasan tidak mendapatkan hidayah.
  3. Berangan-angan dapat kembali ke dunia untuk berbuat baik.

وقد أجاب الله تعالى عن كلامهم بأن قال التعلُّل بفقد الهداية باطل؛ لأن الهداية كانت حاضرة، والأعذار زائلة، وهو المراد بقوله: ﴿ بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴾ [الزمر: 59]، فبيَّن تعالى أن الحجة عليهم لله؛ لا أن الحجة لهم على الله.

Kemudian AllahSubhanahu Wa Ta’ala menjawab ucapan mereka ini bahwa alasan tidak mendapatkan hidayah adalah alasan yang batil, karena hidayah telah diturunkan, dan alasan-alasan itu sudah tidak punya dalil lagi. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ 

“Tidak begitu! Sebenarnya ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, menyombongkan diri, dan termasuk orang-orang kafir.” (QS. Az-Zumar: 59).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa hujahnya justru memberatkan mereka, alih-alih meringankan mereka.

Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/159956/-إن-الله-يغفر-الذنوب-جميعا/