Hati-Hatilah Dengan Ketenaran

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menjauhi ketenaran dan pujian-pujian karena pujian itu fitnah. Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ

Jauhilah sifat suka dipuji, karena dengan dipuji-puji itu seakan-akan engkau disembelih.” (HR. Ahmad no. 16460, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2674)

Abu Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan: “Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran.” (Ta’thiru al-Anfas, hlm. 276)

Dari al-Husain bin al-Hasan al-Marwazi diriwayatkan bahwa ia berkata: “Abdullah ibnu Mubarok pernah berkata: “Jadilah orang yang menyukai status khumul (status tersembunyi dan tidak dikenal) dan membenci popularitas. Namun, jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud justru mengeluarkan dirimu dari kezuhudan karena cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/325)

Islam memerintahkan umatnya agar tawaduk atau rendah hati dan menjauhi popularitas. Terkadang ketenaran bisa membuat orang sombong dan tidak ikhlas dalam beramal. Namun, ketika ia qodarullah menjadi figur terkenal karena keshalihannya, ilmu dinnya atau karena kebaikannya tanpa ia cari, niscaya tidak karena ini adalah karunia Allah. Ilmu dan prestasi bisa menggelincirkan manusia manakala ia mengabaikan faktor keikhlasan sehingga merasa lebih baik, lebih utama, dan tenar dari orang lain. Porosnya di hati, yakni niat, meskipun orang lain memandangnya memiliki kelebihan, namun hatinya rendah hati, dan hanya Allah lah yang mengetahui isi hati apakah ia sombong atau benar-benar niatnya ikhlas, ia tidak begitu peduli dengan pujian manusia. Karena sanjungan seringkali membuat orang terlena hingga benih-benih kesombongan dan bangga diri pelan-pelan mengusik hatinya dan akhirnya bisa menodai amalannya. Allah berfirman :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.”(QS. Ali-Imran : 29)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.” (HR. Muslim no. 2965)

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah:

هُوَ الَّذِي لَا يُظْهِرُ نَفْسَهُ ، وَلَا يَهْتَمُّ أَن يُظهِرَ عِندَ النَّاسِ أَوْ يُشَارُ إِلَيهِ بِالبَنَانِ أَوْ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ عَنْهُ

“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadish Shalihin, 629)

Terkadang kita lihat seseorang nampaknya biasa-biasa saja, tak terlihat beda dengan orang lain namun dia subhanallah dikaruniai Allah kefakihan dalam agama, keluasan rezeki atau kekayaan dan berbagai nikmat kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Namun, ia terkesan menghindari perhatian orang lain.
Ketenaran ibarat ular berbisa. Bisa membinasakan dunia dan akhiratnya ketika ia sengaja mengejarnya demi orientasi dunia semata, biar terkenal, biar dihormati orang lain, biar heboh atau tujuan-tujuan rendah semata. Ini sama sekali jauh dari akhlak Islam. Yakinlah ketenaran demi kebahagiaan dunia semata niscaya pelakunya akan menderita, karena faktanya betapa banyak orang yang tenar akhir hidupnya merana dan tragis.

Imam Ahmad berkata: “Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar”. Beliau juga pernah mengatakan: “Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa. “ (Ta’thiru al-anfas, hlm. 278)

Akhirnya siapapun kita dan dimanapun perlu mengingat lagi hadits tentang niat “sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah tergantung niat”. (Muttafaqun `alaih)

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :

1. Psikologi Islam yang sempurna, dr. Raehanul Bahraen, Muslimafiyah publishing, Yogyakarta, 2018.
2. Begini seharusnya menjadi guru (terjemah), Fu`ad bin ‘Abdul ‘Aziz asy-Syalhub, Darul Haq, Jakarta, 2019.


Sumber: https://muslimah.or.id/11652-hati-hatilah-dengan-ketenaran.html

Yatim Piatu karena Orang Tuanya Sangat Sibuk, Tidak Peduli Anaknya

Selama ini kita mengetahui bahwa anak yatim-piatu adalah anak yang tidak memiliki ayah dan ibu lagi karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Akan tetapi, ada juga anak yang menjadi yatim-piatu karena orang tuanya benar-benar tidak memperhatikan anak-anak mereka. Orang tua tidak terlalu peduli dan sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan dalam sebuah syair disebutkan bahwa anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Akan tetapi, anak yatim adalah anak yang kedua orang tuanya sibuk dan tidak mengurusi anak-anaknya.

Dalam sebuah syair Arab,

لَيْسَ الْيَتِيْمَ مَنِ انْتَهَى أَبَوَاهُ

مِنْ هَمِّ الْحَيَاةِ وَخَلَّفَاهُ ذَلِيلْاً

إِنّٓ الْيٓتِيْمٓ هُوٓ الَّذِي تَلْقٓى لٓهُ

أُمًّا تَخَلَّتْ أَوْ أَباً مَشْغُوْلاً

“Bukanlah anak yatim yang kedua orang tuanya telah tiada;

(Telah tiada) dari kehidupan dunia, lalu meninggalkan anak tersebut dalam keadaan hina;

Akan tetapi, anak yatim adalah anak yang kau dapati;

Ibunya tidak mempedulikannya atau ayahnya sibuk tidak mau mengurusnya” (Sya’ir Ahmad Syauqi).

Hendaknya orang tua tidak lalai mendidik dan memberikan perhatian kepada anak-anak mereka. Di zaman ini, kewajiban ini cukup banyak dilalaikan oleh orang tua. Karena di zaman ini, godaan sosial media, internet, dan gadget dapat melalaikan pendidikan orang tua terhadap anaknya. Misalnya, para ayah sibuk bermain gim, sedangkan para ibu sibuk nonton drama Korea, dan sibuk swafoto, serta belanja online. Semoga kita para orang tua dijauhkan dari hal semacam ini.

Anak adalah kewajiban dan amanah bagi orang tua. Orang tua, terutama ayah, memiliki tugas penting agar menjaga anak mereka dari api neraka; yaitu, dengan mengajarkan kebaikan, mendidik, dan memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ ﻧَﺎﺭًﺍ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Taahrim: 6).

Muqatil Rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah agar mendidik keluarga. Beliau Rahimahullah berkata,

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣُﻘَﺎﺗِﻞٌ : ﺃَﻥْ ﻳُﺆَﺩِّﺏَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻠَﻪُ، ﻓَﻴَﺄْﻣُﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻫُﻢْ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸَّﺮِّ

“Seorang muslim mendidik dirinya dan keluarganya, memerintahkan mereka kebaikan dan melarang dari keburukan” (Mafaatihul Ghaib Tafsir Ar-Raziy, 30: 527).

Jangan sampai anak kita menjadi seperti anak yatim, bahkan lebih parah dari anak yatim yang sesungguhnya. Hal ini karena mereka tidak mendapat perhatian dan pendidikan. Akibatnya, anak-anak menjadi rusak dan nakal. Kerusakan anak-anak disebabkan oleh kelalaian orang tuanya, yaitu tidak mengajarkan agama dan tidak memperhatikan dengan siapa anak-anak mereka bergaul. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah menjelaskan,

ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ، ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ، ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ، ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ

“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka. Mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka” (Tuhfatul Maulud, hal. 387).

Jangan sampai kita menyesal kelak. Ketika anak-anak sudah dewasa, mereka tidak pernah merasakan kasih sayang dan memiliki kenangan indah dengan orang tuanya ketika kecil. Ketika-anak-anak sudah dewasa dan orang tua sudah mulai pikun serta tua renta, maka anak-anak tidak mau berbakti kepada orang tua mereka di masa tua.

Perhatikanlah syair berikut ini,

ﻳﺎﺃﺑﺖ، ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ، ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ، ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil. Maka aku pun mendurhakaimu di kala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil, maka aku telantarkan Engkau di kala tua nanti” (Tuhfatul Maulud, hal. 387).

Semoga kita bisa menjadi orang tua saleh yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk mendidik anak-anak kita agar sukses di dunia dan di akhirat. Aamiin.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/59829-yatim-piatu-karena-orang-tuanya-sangat-sibuk.html

Amal Kita Masih Sedikit

Berbuatlah ikhlas untuk amal yang sedikit.

Abul Qosim Al-Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Maimun bin Mihran rahimahullah (seorang tabiin) berkata:

‏إِنَّ أَعْمَالَكُمْ قَلِيلَةٌ

‏فَأَخْلِصُوا هَذَا الْقَلِيلَ …

Sungguh amal kalian itu amatlah sedikit.

Berbuat ikhlaslah untuk yang sedikit ini.

(Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, 4:29)

Pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan Maimun bin Mihran:

1. Kita jangan merasa telah beramal banyak.
2. Selalulah merasa kurang dalam beramal, jangan pernah puas dengan yang sedikit.
3. Ibadah itu harus ikhlas, cari ridha Allah.
4. Amalan yang kecil saja harus ikhlas, apalagi amalan yang besar.

Semoga semua amal kita diterima oleh Allah dan selalu ikhlas meraih rida-Nya.

Catatan 29 Syawal 1442 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY

Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/28566-amal-kita-masih-sedikit.html

Jangan Mengeluh kepada Manusia tentang Ketetapan Allah

Janganlah mengeluh kepada manusia tentang ketetapan Allah. Coba renungkan perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini.

SEANDAINYA ENGKAU MENGENAL DENGAN BENAR MANUSIA, TENTU ENGKAU TAK AKAN MENGELUH KESUSAHAN PADA MEREKA

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab beliau Al-Fawaid:

“Orang yang bodoh adalah orang yang mengeluhkan tentang Allah pada manusia. Ini dikatakan bodoh karena dua kesalahan: (1) yang dikeluhkan adalah tentang ketetapan Allah dan (2) siapa yang dituju saat mengeluh yaitu manusia yang lemah. Karena seandainya seseorang benar dalam mengenal Rabbnya, tentu ia tidak akan mengeluhkan apa yang Allah tetapkan. Kalau ia juga tahu lemahnya manusia, ia tentu tidak akan mengeluhkan hal tadi pada manusia. 

Sebagian ulama salaf melihat seseorang yang mengeluhkan keadaan dirinya yang miskin melarat, ia berkata, “Demi Allah, kesengsaraanmu tak akan lepas jika engkau malah mengeluhkan tentang Allah yang sejatinya Maha Menyayangimu lalu kau keluhkan pada manusia yang sejatinya tidak menyayangimu.

Ada ungkapan yang menyebutkan:

“Jika engkau mengeluh pada manusia, yang terjadi adalah engkau sedang mengadukan Allah Yang Maha Penyayang kepada manusia yang belum tentu penyayang.”

Orang arif atau cerdas adalah ia mengeluhkan kekurangan dirinya sendiri kepada Allah. Ia mengadukan keadaan dirinya yang jelek kepada Allah, ia bukan mengeluhkan keadaan orang lain yang telah menyakitinya. Ia hanya menilai bahwa perlakuan jelek orang lain padanya adalah lantaran kesalahan dirinya sendiri. Hal ini sama dengan kandungan firman Allah,

‎وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ 

Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisaa: 79)

Juga firman Allah,

‎أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ 

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Ali Imran: 165)

Dengan demikian, terdapat tiga tingkatan perbuatan manusia terkait dengan keluhan:

  1. Yang paling buruk: mengadukan tentang Allah pada makhluk.
  2. Yang paling tinggi: mengadukan tentang kekurangan diri kepada Allah.
  3. Yang tengah-tengah: mengadukan tentang orang lain kepada Allah.

Referensi:

Fawaid Al-Fawaid yang ditahqiq oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari, hlm 378, Penerbit Daar Ibn Al-Jauzi

Ditulis saat safar dari Salatiga – YIA – Gunungkidul | Sabtu pagi, 19 Ramadhan 1445 H

Oleh al-faqir ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/38362-jangan-mengeluh-kepada-manusia-tentang-ketetapan-allah.html

Syahwat Perut

Syahwat perut yang tidak terkendali bisa menjadi sumber malapetaka. Syahwat kemaluan, ambisi kekuasaan dan hasrat yang tinggi terhadap harta benda bisa bermula dari dorongan keinginan perut yang selalu ditumpangi hawa nafsu. Dan dari memperturut hawa nafsu, kerusakan demi kerusakan akan menyusul bermunculan. Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturut hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS Maryam [19]: 59)

Karena itu, baginda Rasulullah mengajarkan umatnya agar selalu memperhatikan kondisi perutnya, bagaimana seharusnya seorang muslim makan dan untuk tujuan apa. Ia bersabda, “Tidaklah seorang anak adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak adam makanan untuk menegakkan tulang rusuknya. Jika tidak demikian, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi)

Ibnu Rajab al Hambali dalam Jami’u al Ulum wa al Hikam berkata tentang hadits diatas, “Hadits ini adalah inti dari pokok-pokok teori kedokteran”. Dari sisi kesehatan tubuh, banyak makan akan menimbulkan macam-macam penyakit. Demikian pula dari sisi kestabilan rohani, banyak makan akan menimbulkan masalah. Menurut para ahli zuhud, sedikit makan akan menumbuhkan kelembutan hati, merangsang kekuatan intelegensi, menenangkan jiwa serta melemahkan syahwat dan emosi negatif.

Rasulullah adalah tauladan yang biasa menyedikitkan makan, mencukupkan sebagian jatah makanan untuk dirinya dan memberikan sebagiannya lagi untuk orang lain. Sabdanya, “Jatah makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang. Jatah makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang dan jatah makan untuk tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga bersabda, “Seorang muslim biasa makan dalam satu lambung sedangkan orang kafir kerap makan dalam tujuh lambung.” (HR Bukhari dan Muslim). Para pensyarah hadits menyatakan, maksud hadits ini adalah bahwa salah satu ciri seorang muslim ialah senantiasa makan dengan memperhatikan adab-adab syar’i dan salah satu ciri orang kafir ialah selalu makan untuk tujuan memperturut syahwat perutnya.

Selain berdampak pada kesehatan tubuh dan lemahnya semangat beribadah, perut yang terlalu kenyang bisa mengakibatkan seseorang menjadi manusia yang memiliki rasa solidaritas rendah. Perutnya yang selalu terisi penuh membuat ia tidak pernah bisa berempati kepada saudaranya yang kekurangan. Kecerdasan sosialnya terancam mati karena semakin lama perasaannya kian dikuasai oleh racun individualisme.***Wallahu A’lam bi sh-Shawab.

sumber : https://sabilulilmi.wordpress.com/2008/12/06/syahwat-perut-2/

Merasa Aman dari Murka Allah

Sifat seorang mukmin adalah selalu merasa takut akan siksa Allah. Sedangkan sifat ahli maksiat adalah selalu merasa aman dari murka Allah sehingga begitu entengnya ia bermaksiat. Bahkan ia pun enggan bertaubat karena merasa Allah itu Maha Pengampun. Padahal ini sifat yang keliru. Seharusnya yang dikedepankan dalam hal maksiat adalah sifat takut, bukan sifat harap.

Gemar Maksiat

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).

Yang dimaksud dengan makar Allah di sini adalah bencana atau azab. Yaitu apakah mereka merasa aman dari azab Allah di saat mereka lalai? Tiada yang merasa aman kecuali orang-orang yang merugi.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مُشْفِق وَجِل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

“Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).” Dinukil dari tafsir Ibnu Katsir pada tafsir surat Al A’raf ayat 99.

Merasa Aman dari Murka Allah Termasuk Dosa Besar

Merasa aman sehingga begitu senangnya ketika bermaksiat adalah termasuk dosa besar. Dalam hadits yang disebutkan oleh ‘Abdur Razaq dalam Mushonnafnya,

عن بن مسعود قال أكبر الكبائر الإشراك بالله والأمن من مكر الله والقنوط من رحمة الله واليأس من روح الله

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR. Abdurrozaq, 10: 460, dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni. Lihat Kitab Tauhid dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al Arnauth, hal. 128). Dalam hadits ini ditunjukkan dua sifat yang termasuk dosa besar yaitu merasa aman dari siksa Allah dan putus asa dari rahmat Allah. Dan inilah akibat buruk bagi yang punya sifat demikian.

Sikap Pertengahan

Sikap yang lebih baik adalah sikap pertengahan, yaitu tidak begitu mendominankan rasa harap (roja’), begitu pula tidak mengunggulkan rasa takut (khouf). Seharusnya pertengahan di antara keduanya. Jadi jika ia memiliki rasa takut, janganlah membuatnya sampai berputus asa. Jika ia memiliki rasa harap, janganlah sampai ia menganggap remeh murka Allah. (Lihat Mulakkhos fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 276)

Jangan Merasa Aman dengan Iman yang Dimiliki

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas (yang kita kaji saat ini) menunjukkan bahwa seorang hamba hendaknya tidak merasa aman dengan iman yang ia miliki. Bahkan seharusnya ia selalu merasa takut akan kecacatan imannya nanti. Sehingga itu membuatnya selalu berdo’a pada Allah,

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbiy ‘alaa diinik” (Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu), yaitu supaya ia dikokohkan dan tidak terjerumus dalam kerusakan. Karena siapa pun hamba bagaimana pun keadaanya, maka ia tidak bisa yakin bisa selamat. Demikian disebutkan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman ketika menjelaskan ayat yang sedang kita kaji.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk memiliki rasa takut akan siksa-Nya sehingga terjauhkan dari maksiat. Wallahul muwaffiq.

Diselesaikan menjelang Maghrib, 3 Rabi’ul Awwal 1434 H di Mabna 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh KSA

Oleh hamba dho’if yang senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Allah

sumber : https://rumaysho.com/3102-merasa-aman-dari-murka-allah.html

Cara Menghadapi Ujian Hidup dengan Sabar dan Shalat

Menghadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah adalah tuntunan penting dalam Islam. Shalat dan sabar menjadi dua penolong utama bagi setiap muslim dalam menjalani setiap tantangan hidup, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 45.

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Arab-Latin: Wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn

Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan penjelasan ayat ini dalam delapan pelajaran:

Pelajaran pertama:

Firman Allah: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.

Kata “sabar” dalam bahasa memiliki makna menahan diri. Saya menahan diri terhadap sesuatu berarti saya mengekang diri. Istilah “mashbūrah” yang dilarang dalam hadits merujuk pada hewan yang ditahan untuk dibunuh.

Pelajaran kedua:

Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari pelanggaran, sebagaimana firman-Nya, “Bersabarlah.” Dikatakan bahwa seseorang sabar terhadap maksiat, maka dia akan sabar dalam ketaatan.

Pelajaran ketiga:

Firman Allah: “Dan shalat.” Allah menyebutkan shalat secara khusus di antara berbagai ibadah untuk mengutamakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa segera mengerjakan shalat saat menghadapi kesulitan. Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Abbas mendengar berita tentang kematian saudaranya, ia segera mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan shalat. Dengan demikian, shalat dimaknai sebagai doa dan ketenangan jiwa, sebagaimana Allah menyuruh keteguhan hati dan doa.

Pelajaran keempat:

Bersabar atas gangguan dan dalam melaksanakan ketaatan merupakan bagian dari jihad an-nafs (berjuang melawan hawa nafsu), yaitu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi serta menahan diri dari perbuatan yang melampaui batas. Kesabaran ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Yahya bin al-Yaman berkata bahwa kesabaran berarti tidak menginginkan kondisi apa pun selain apa yang telah Allah karuniakan, serta menerima dengan rida atas segala ketetapan-Nya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Asy-Sya’bi menukil perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa kesabaran dalam iman ibarat kepala dalam tubuh. At-Thabari berkomentar, “Ali radhiyallahu ‘anhu benar dalam ucapannya itu.” Ini karena iman mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Maka, barang siapa tidak mampu bersabar dalam melaksanakan perbuatan dengan anggota badannya, ia tidak akan layak disebut sebagai orang yang beriman secara sempurna. Kesabaran dalam menjalankan perintah syariat sama seperti kepala bagi tubuh manusia yang tidak akan sempurna tanpanya.

Pelajaran kelima:

Allah Ta’ala telah menetapkan ganjaran bagi setiap amal perbuatan dan menetapkan batasannya. Dia berfirman:

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Barang siapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160). Allah juga menetapkan ganjaran sedekah di jalan-Nya lebih tinggi dari itu, sebagaimana firman-Nya:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Namun, untuk orang-orang yang bersabar, Allah menetapkan ganjaran yang tidak terbatas, serta memuji mereka dengan firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Allah juga berfirman,

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43).

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bersabar” dalam firman-Nya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” adalah orang-orang yang berpuasa. Ini didasarkan pada hadits sahih dari Nabi ﷺ yang mengatakan:

وأنا أجزي به

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.” Dalam hadits ini, pahala puasa tidak disebutkan secara spesifik, sebagaimana pahala untuk kesabaran juga tidak disebutkan secara khusus. Hanya Allah yang lebih mengetahui.

Pelajaran keenam:

Di antara keutamaan kesabaran, Allah Ta’ala telah menyifatkan diri-Nya dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:

لا أحَدَ أصْبَرُ علَى أذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عزَّ وجلَّ، إنَّه يُشْرَكُ به، ويُجْعَلُ له الوَلَدُ، ثُمَّ هو يُعافيهم ويَرْزُقُهُمْ.

Tidak ada satu pun yang lebih sabar dalam menghadapi gangguan yang didengar-Nya daripada Allah Ta’ala. Mereka menuduh-Nya memiliki anak, namun Dia tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.” (HR. Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 2804)

Para ulama kami mengatakan bahwa penyifatan Allah dengan kesabaran bermakna “hilm” (kesantunan yang tinggi). Makna “hilm” ini adalah menunda hukuman bagi mereka yang pantas mendapatkannya.

Penyifatan Allah dengan kesabaran tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, melainkan dalam hadits Abu Musa. Para ulama Ahlus Sunnah menafsirkannya sebagai bentuk “hilm,” sebagaimana disampaikan oleh Ibn Fawrak dan yang lainnya. Salah satu nama Allah adalah “Ash-Shabur” (Maha Penyabar), yang menunjukkan keutamaan dalam kesantunan terhadap mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya.

Pelajaran ketujuh:

Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kembalinya kata ganti “hal itu” dalam ayat ini.

  • Ada yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada shalat secara khusus, karena shalat lebih berat bagi jiwa daripada puasa. Kesabaran di sini diartikan sebagai puasa, sebab shalat menahan seluruh diri manusia, sedangkan puasa hanya menahan sebagian hasrat. Berbeda dengan orang yang berpuasa, ia hanya menahan keinginan terhadap makanan, minuman, dan hubungan dengan wanita, sementara dalam hal lain seperti berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain ia bebas, yang dapat mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ditahan. Namun, orang yang shalat menahan semua itu, sebab seluruh anggota tubuhnya terikat dalam shalat, dan ini lebih sulit bagi jiwa. Karena itulah Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat.”
  • Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut mencakup keduanya (shalat dan kesabaran), tetapi yang dimaksud lebih banyak adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34) yang menunjukkan bahwa menimbun emas adalah kebiasaan umum meski juga mencakup perak. Dalam kasus ini, kata ganti kembali pada unsur dominan.
  • Pendapat lain menyebutkan bahwa kesabaran (sabar) mencakup shalat, sebagaimana firman Allah: “Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka ridhai.” (QS. At-Taubah: 62). Di sini, kata ganti hanya digunakan untuk satu pihak, sebab rida terhadap Rasul masuk dalam rida terhadap Allah.
  • Menurut pendapat lainnya, kata ganti dalam ayat tersebut kembali pada keduanya dengan maksud ringkas. Firman Allah Ta’ala: “Kami jadikan anak Maryam dan ibunya sebagai tanda (yang besar).” (QS. Al-Mu’minun: 50) menunjukkan hal serupa.
  • Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada makna umum dari ibadah, yakni kesabaran dan shalat. Sebagian lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut merujuk pada istilah yang ditunjukkan oleh kata “mintalah pertolongan”, sehingga ini mengacu pada bentuk pertolongan secara keseluruhan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ganti itu merujuk pada ajakan untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena kesabaran dan shalat adalah sesuatu yang beliau dakwahkan.
  • Ada pula yang menyatakan bahwa kata ganti tersebut merujuk pada Ka’bah karena perintah shalat mengarah ke sana, dan “berat” berarti sukar dan menyulitkan, seperti yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya hal itu berat.” Dalam bahasa Arab di luar Al-Qur’an, kata ganti bisa berbentuk “Dan sesungguhnya ia berat.” Kecuali bagi mereka yang khusyuk, maka perintah tersebut menjadi ringan bagi mereka. Menurut para ahli makna, ini berlaku bagi mereka yang telah dikaruniai sifat terpilih sejak azali dan diberi petunjuk khusus.

Pelajaran kedelapan:

Firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang khusyuk.” Orang-orang yang khusyuk berarti seseorang yang rendah hati. Khusyuk adalah kondisi dalam jiwa yang muncul sebagai ketenangan dan kerendahan diri yang tampak pada anggota tubuh. Menurut Qatadah, khusyuk adalah rasa takut yang menetap dalam hati dan menahan pandangan saat shalat. Az-Zajjaj menjelaskan bahwa orang yang khusyuk menunjukkan tanda ketundukan dan kerendahan pada dirinya, seperti rumah yang hancur tanpa penghuni.

Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di disebutkan:

  • Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya.
  • Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar.
  • Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan.
  • “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyukan, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan.
  • Khusyuk adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya.

Dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan:

Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka.

Kesimpulan

    1. Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan, menjauh dari maksiat, dan menghadapi takdir dengan shalat sebagai penolong utama.
    2. Shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk doa dan ketenangan hati yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesulitan. Ketika menghadapi masalah atau problem, segera laksanakan shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para salaf.
    3. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari keinginan duniawi adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu, sifat para nabi dan orang saleh.
    4. Allah memberikan ganjaran berlipat untuk amal kebaikan, sedekah, dan khususnya kesabaran, yang dijanjikan tanpa batas.
    5. Kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya mencerminkan kesantunan-Nya, meskipun manusia sering berbuat maksiat, Allah tetap memberikan rezeki dan kesehatan.
    6. Shalat dan kesabaran adalah ibadah yang menuntut ketahanan jiwa, lebih berat daripada puasa, kecuali bagi orang yang khusyuk.
    7. Khusyuk adalah sikap rendah hati yang mencerminkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan kesadaran akan pertemuan dengan-Nya.
    8. Orang khusyuk merasa tenang, rendah hati, dan ikhlas, menjadikan shalat sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

Referensi: Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Muyassar

Semoga bermanfaat. Semoga semakin semangat merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Ditulis pada 28 Rabiuts Tsani 1446 H, 31 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : https://rumaysho.com/39231-renungan-ayat-33-cara-menghadapi-ujian-hidup-dengan-sabar-dan-shalat.html