Penulis: Abu Uwais
Nikah di Bulan Syuro, Beneran Sial atau Cuma Mitos?
Jadi gini, ada yang bilang kalau nikah di bulan Syuro atau dalam kalender Islam disebut bulan Muharram itu bawa sial. Konon katanya, rumah tangga bakal penuh masalah, rezeki seret, atau malah bisa berujung perpisahan. Tapi, kita udah hidup di zaman digital nih, masih mau percaya sama mitos jadul? Ayo kita bahas lebih dalam biar nggak termakan hoax!
Pernah denger mitos kalau nikah di bulan Muharram bisa bawa sial? Katanya, rumah tangga bakal penuh masalah, rezeki seret, atau bahkan berakhir nggak baik. Tapi, kita udah hidup di zaman digital nih, masih mau percaya sama mitos jadul? Yuk, kita bahas lebih dalam biar nggak gampang termakan hoax!
Muharram itu bukan bulan biasa. Dalam Islam, bulan ini termasuk dalam empat bulan suci yang dimuliakan Allah. Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda bahwa di antara dua belas bulan dalam setahun, ada empat bulan yang dihormati, dan Muharram termasuk di dalamnya. Kalau bulan ini dimuliakan oleh Allah, kenapa justru ada anggapan bahwa ini bulan sial? Nggak make sense, kan?
Bahkan, Muharram itu satu-satunya bulan yang namanya langsung disandarkan kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim 1163)
Dari sini aja udah jelas kalau bulan ini spesial dan penuh berkah. So, mau percaya sama Allah atau sama mitos nggak jelas?
Kalau masih ragu dan berpikir kalau Muharram adalah bulan yang membawa kesialan, coba deh lihat dari sudut pandang lain. Menganggap bulan ini bawa sial sama aja kayak mencela waktu. Padahal, dalam Islam mencela waktu itu dilarang keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Jangan mencela dahr (waktu), karena Allah itu adalah dahr.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)
Mencela waktu sama aja dengan mencela ketetapan Allah. Jadi, kalau kita masih percaya kalau Muharram itu bulan buruk buat menikah, berarti kita nggak percaya bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah.
Sebenarnya, mitos tentang pernikahan di bulan tertentu bukan cuma ada di bulan Muharram. Dulu, sebelum Islam datang, orang-orang Jahiliyah juga punya kepercayaan aneh. Mereka mikir kalau nikah di bulan Syawal itu bawa sial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung membantah kepercayaan ini dengan menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di bulan Syawal:
تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال وبنى بي في شوال
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawal, dan mengadakan malam pertama denganku di bulan Syawal.” (HR. Muslim)
Jadi, kalau Rasulullah sendiri aja menolak mitos pernikahan di bulan tertentu, kenapa kita masih ragu buat ninggalin mitos yang nggak berdasar ini?
Yang lebih bahaya lagi, percaya bahwa Muharram adalah bulan sial itu bisa jatuh ke dalam syirik kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah)
Percaya kalau bulan tertentu bisa membawa sial berarti kita menyandarkan takdir bukan kepada Allah, tapi kepada sesuatu yang nggak punya kuasa sama sekali. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi karena izin Allah, bukan karena angka, tanggal, atau bulan tertentu.
Jadi, setelah kita bahas panjang lebar, udah jelas banget kalau anggapan bahwa menikah di bulan Muharram itu bawa sial cuma mitos belaka. Muharram itu bulan suci yang penuh keberkahan, bukan bulan sial. Nggak ada konsep hari atau bulan sial dalam Islam, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Kepercayaan soal bulan sial ini cuma warisan dari budaya Jahiliyah yang udah nggak relevan lagi. Pernikahan di bulan Muharram itu boleh dan sah-sah aja, nggak ada dalil yang melarangnya. Sebagai Muslim, kita harus bertawakal kepada Allah, bukan terpengaruh oleh mitos dan takhayul.
Kesimpulan, Nikah di Bulan Muharram? Gaskeun!
Dari semua dalil yang udah kita bahas, bisa disimpulkan:
✅ Muharram itu bulan suci penuh keberkahan, bukan bulan sial.
✅ Nggak ada hari atau bulan yang bawa sial dalam Islam.
✅ Anggapan nikah di bulan Muharram bawa sial itu cuma mitos, bukan ajaran Islam.
✅ Pernikahan di bulan Muharram itu halal dan sah-sah aja!
✅ Sebagai Muslim, kita harus bertawakal kepada Allah, bukan percaya sama mitos-mitos nggak jelas.
Kalau masih ada yang ragu buat nikah di bulan Muharram, coba tanyakan ke diri sendiri, lebih percaya sama Allah atau sama mitos? Jangan sampai kepercayaan lama bikin kita ragu untuk melakukan ibadah yang mulia ini. Jadi, kalau kamu udah siap nikah dan kepikiran buat menikah di bulan Muharram, gaskeun!
Wallahul muwaffiq.
Semoga bermanfaat.
Ditulis oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.
sumber : https://remajaislam.com/5458-nikah-di-bulan-syuro-beneran-sial-atau-cuma-mitos.html
[Kitabut Tauhid 8] 15 Shalawat Nabi 15
Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;
- Mengagungkan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah sebuah kewajiban. Dan pengagungan terhadap Beliau itu dengan hati, lisan dan anggota badan.
- Pengagungan yang hakiki terhadap Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- tersimpulkan dalam empat hal yaitu : mempercayai berita yang bersumber dari Beliau, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.
- Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- melarang Kita dari berlebihan dalam mengagungkan Beliau, dimana Kita menyandarkan kepada Beliau sebagian dari sifat-sifat rububiyyah (ketuhanan) dan atau memberikan kepada Beliau sebagian dari hak-hak uluhiyyah (periibadahan); karena keduanya hanya boleh disandarkan dan diberikan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-.
- Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- kecuali dengan sesuatu yang Allâh -‘Azza wa Jalla- izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak bagi seorang manusia. Sesungguhnya melampaui batas dalam hal ini akan menjerumuskan kepada kekafiran. Dan elampaui batas sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya Kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya. Dan siapa saja yang mengagungkan Beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allâh -‘Azza wa Jalla-, maka dia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah prinsip yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya.
Play Video
“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta. Saat ini beliau aktif dalam berbagai kegiatan dakwah. Selain rutin mengisi kajian di kota dan di daerah sekitar, beliau adalah Pimpinan Pondok Pondok Pesantren Khulafa’ Rasyidin Bagan Batu. Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ar-Raudhoh (YPIA) Bagan Batu. Kini beliau turut berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“
Dikencingi oleh Setan Karena Tidak Bangun Shubuh
Sebagian remaja dan yang mengaku muslim lainnya, ada yang sering melalaikan shalat Shubuh atau telat Shubuh. Bahkan ada yang secara sengaja melakukan shalat Shubuh di pagi hari saat matahari sudah menunggu. Alasannya ketiduran, namun saban hari seperti itu terus yang terjadi. Padahal Rasul telah menyinggung bahwa siapa yang tidur semalaman sampai waktu pagi, maka ia sebenarnya telah dikencingi setan. Wallahul musta’an.
Ini haditsnya para remaja, yaitu dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang pagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ
“Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 3270 dan Muslim no. 774). Al Qodhi ‘Iyadh memahami hadits ini secara tekstual. Demikianlah yang benar. Lalu dikhususkan kata telinga yang dikencingi karena telingalah pusat pendengaran untuk diingatkan. Lihat Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi, 6: 58.
Yang menjadi bahasan kita dari hadits di atas adalah tidurnya laki-laki tersebut hingga Shubuh. Ada ulama yang mengartikan bahwa yang dimaksud ia tidur hingga datang waktu shalat Shubuh dan tidak shalat malam. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ia tidur hingga pagi hari sampai-sampai luput dari shalat Shubuh. Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 194. Ini menunjukkan jeleknya orang yang tidak bangun Shubuh sampai-sampai dikencingi oleh setan. Setan saja sudah tidak sukai, apalagi jika sampai dikencingi oleh makhluk tersebut. Wallahul musta’an, kita berlindung pada Allah dari kejelekan semacam itu.
Jadi, dari sekarang marilah kita biasakan bangun Shubuh karena hal itu diawali dengan kebiasaan. Awalnya memang berat, namun jika terus bisa bangun Shubuh, maka akan jadi hal yang biasa dan tidak jadi telat atau bahkan meninggalkan shalat Shubuh. Semoga Allah memberi taufik pada para remaja untuk bisa memanfaatkan waktu pagi dan terus bisa menjaga amalan yang mulia yaitu amalan shalat Shuhuh.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Referensi:
Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan ketiga, tahun 1427 H.
—
Pesantren Darush Sholihin, 5 Muharram 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://remajaislam.com/429-dikencingi-oleh-setan-karena-tidak-bangun-shubuh.html
Sebelum Menyesal Karena Salah Pilih Suami
Urusan jodoh memang urusan Allah, jika sudah ditakdirkan maka kita tak kuasa untuk mengubahnya. Tetapi sebelum kita berjodoh dengan seseorang, kita sama sekali tak tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah ikhtiar dan berusaha mencari jodoh sebaik mungkin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ
“Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim no. 2648)
Tak sedikit kami mendengar curahan hati para wanita muslimah yang merasa menyesal telah berjodoh dengan suaminya sekarang. Ungkapannya mungkin tidak tegas, tetapi sikapnya mencerminkan hal tersebut. Lelaki yang dulu terlihat sempurna ternyata menyimpan banyak cacat. Lelaki yang dulu diharap menjadi pelindung ternyata menjadi perundung.
Sebelum menyesal, teliti terlebih dahulu sebelum menikah. Minta bantuan orang lain untuk menilai dan menyelidiki lelaki yang ingin dinikahi atau lelaki yang pantas dinikahi. Jangan merasa percaya diri semua cukup dengan penilaian sendiri.
Bagi seorang wanita muslimah, meminta restu dan penilaian ayahnya merupakan langkah yang sangat tepat. Dia adalah sosok lelaki yang paling menginginkan kebaikan untuk anaknya dan tidak mungkin menyandingkan anaknya dengan lelaki bejat. Mungkin inilah di antara hikmah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ
“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali.” (HR. Abu Daud no. 2085)
Status ayah bukan hanya sebagai wali yang mengucap kalimat ijab saat menikahkan anaknya. Lebih dari itu, dia adalah lelaki yang paling berhak dimintai pertimbangannya ketika seorang wanita hendak mencari lelaki pendamping hidup, sebab yang tahu bejatnya lelaki adalah sesama lelaki.
Para wanita ketika menimbang sesuatu kerap kali prematur, parsial, dan dipengaruhi oleh tendensi perasaan. Hal itulah yang membuat sebagian wanita menyesal telah menikah dengan suaminya sekarang. Berbeda dengan penilaian ayahnya, ayahnya lebih mengedepankan logika, analisis obyektif, dan pertimbangan jangka panjang. Dia akan memilih pemuda yang baik agamanya plus akhlaknya. Dia akan mencari pemuda yang bertanggung jawab, siap bekerja keras dan bermental tangguh. Dia akan pilihkan yang benar-benar pantas mendampingi serta membimbing anaknya.
Artikel www.muslimafiyah.com
Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK.
(Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta)
sumber : https://muslimafiyah.com/sebelum-menyesal-karena-salah-pilih-suami.html
Kontinu Beramal Setelah Ramadhan
Beramal bukan hanya di bulan Ramadhan. Seharusnya setelah Ramadhan, ibadah dijaga terus kontinu. Baik untu shalat malam, tilawah Al Quran, sedekah, rajin puasa sunnah, dsb.
Apa yang kita lakukan setelah Ramadhan?
Kebanyakan amalan yang ada jadi pudar.
Ibadah yang ada jadi sirna.
Bahkan sampai yang wajib pun ditinggalkan.
Karena ketaatan dikira musiman cuma di bulan Ramadhan saja.
Ibadah-ibadah di bulan Ramadhan sebisa mungkin dijaga, dibuatlah tetap kontinu dan ajeg. Walau memang kita tidak mempersusah diri.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ « مَنْ هَذِهِ » . قَالَتْ فُلاَنَةُ . تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا . قَالَ « مَهْ ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا » . وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui ‘Aisyah dan di sisinya ada seorang wanita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Siapa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Si fulanah yang terkenal luar biasa shalatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jangan seperti itu. Hendaklah engkau beramal sesuai kemampuanmu. Demi Allah, Allah itu tidak bosan untuk menerima amalanmu hingga engkau sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang dikerjakan secara kontinu.” (HR. Bukhari no. 43 dan Muslim no. 485).
Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:
1- Dilarang memperbanyak ibadah sehingga membuat seseorang susah dan futur.
2- Hendaknya beribadah yang bersifat pertengahan, tidak memaksa dan tidak terlalu meremehkan.
3- Sebaik-baik amalan adalah yang kontinu walau jumlahnya sedikit.
4- Ibadah yang sedikit namun kontinu lebih baik daripada ibadah yang banyak namun terputus-putus.
5- Jika seseorang beristirahat atau memilih rehat atau melakukan hal lainnya yang sifatnya mubah namun dengan maksud agar kuat kembali dalam ibadah, maka itu dinilai baik.
Jadi tetaplah kontinu beramal setelah Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik.
—
Disusun di sore hari menjelang Maghrib, 10 Syawal 1435 H di Pesantren DS
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
sumber : https://rumaysho.com/8427-kontinu-beramal-setelah-ramadhan.html
Bulughul Maram – Shalat: Jika Sudah Rutin, Jangan Tinggalkan Shalat Malam
Siapa saja yang sudah rutin shalat malam, shalat tahajud, shalat witir, jangan sampai meninggalkannya. Amalan yang kontinu, rutin, ajeg, itu lebih baik. Semoga Allah mudahkan.
Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani
Kitab Shalat
بَابُ صَلاَةُ التَّطَّوُّع
Bab Shalat Tathawwu’ (Shalat Sunnah)
Yang Sudah Rutin, Jangan Tinggalkan Shalat Malam
Hadits 31/380
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عَبْدَ اللهِ! لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Wahai ‘Abdullah, janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, tetapi sekarang ia meninggalkannya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 1159, 185]
Faedah hadits
- Hadits ini berisi dorongan melakukan shalat malam.
- Jangan sampai kita meniru orang yang malas yang meninggalkan amal saleh. Hendaklah yang ditiru adalah orang yang semangat dan rajin beramal saleh. Walaupun shalat malam itu sunnah, tetapi shalat tersebut adalah amalan ketaatan yang paling afdal.
- ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ketika mendengar nasihat ini, ia akhirnya semangat ibadah, ia rajin shalat, dan semangat shalat tahajud, sampai-sampai ia tak sempat tidur malam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kepada ‘Abdullah agar bersikap pertengahan.
- Dianjurkan untuk menjaga amalan kebaikan dan ketaaatan, jangan sampai menganggap remeh, jangan sampai pula berlebihan. Jika seseorang bersikap pertengahan dalam beramal, amalnya akan terus terjaga dan langgeng.
- Hendaklah seseorang menjalankan ibadah pada malam hari sesuai kemampuannya. Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Para ulama kaum muslimin tidaklah berbeda pendapat bahwa shalat malam itu tidak ada batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam itu sunnah, termasuk kebaikan dan ketaatan. Yang ingin mengerjakan sedikit, silakan. Yang ingin mengerjakan banyak, silakan.”
- Dimakruhkan memutus ibadah, walaupun amalan itu tidak wajib.
- Shalat malam adalah bukan sunnah rawatib. Shalat malam adalah shalat sunnah mutlak yang paling afdal karena shalat tersebut dilakukan saat manusia lalai dan banyak yang meninggalkannya.
- Shalat malam pada akhir malam lebih afdal daripada pada awal malam karena shalat setelah bangun tidur malam lebih berat dan yang melakukannya itu sedikit.
- Imam Al-Mawardi rahimahullah mengatakan bahwa sebagian ulama menyatakan, shalat tahajud itu lebih afdal daripada dua rakaat shalat sunnah Fajar.
- Dimakruhkan mengerjakan shalat malam pada seluruh waktu malam.
Referensi:
- Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:320-321.
- Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:624-625.
—
Diselesaikan pada Kamis sore, 26 Jumadal Akhirah 1444 H, 19 Januari 2023
@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul
Muhammad Abduh Tuasikal
Buruknya Hasad #shorts
Aib Sebelum Pernikahan, Wajibkah Diberitahu Kepada Calon?
Setiap lelaki tentu mendambakan dan akan berusaha memiliki pasangan yang cantik enak dipandang dan pasangan yang kelak bisa menaatinya khas wanita shalihah. Bahkan seandainya bisa sempurna tanpa cela, maka tetap akan diusahakannya. Sebaliknya wanita pun demikian, dia juga menginginkan lelaki yang sempurna, yang bisa menjaganya dan membimbingnya mengarungi kehidupan dunia.
Namun tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Semua manusia memiliki aib, bahkan terkadang ada aib yang sangat memalukan sehingga ingin ditutup rapat-rapat dari semua orang apalagi pada pasangannya kelak.
Lantas, benarkah sikap seseorang yang hendak menikah untuk menyembunyikan aibnya dari calon pasangannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diketahui bahwa aib dalam pernikahan ada dua model:
1) Aib yang terkait dengan tujuan pernikahan
Para ulama menyebutkan bahwa diantara tujuan utama pernikahan adalah terwujudnya pelayanan dan kenikmatan pada kedua belah pihak pasangan.
Aib-aib yang bisa berpengaruh pada tujuan ini hendaknya diberi tahu kepada calon pasangan dan dia berhak memilih apakah ingin melanjutkan atau tidak.
Semisal laki-laki tersebut lemah syahwat, atau perempuan tersebut punya penyakit kulit yang parah, atau salah satunya buta, dan lain sebagainya.
2) Aib yang tidak terkait dengan tujuan pernikahan
Adapun aib-aib yang tidak menghilangkan tujuan utama pernikahan maka tidak perlu diberi tahu.
Misalnya dulu lelaki tersebut pernah mencuri atau membunuh, perempuan tersebut dulu suka minum khamr dan punya pergaulan yang bebas. Aib-aib semacam ini hendaknya ditutup rapat dan tidak perlu diceritakan.
Dalam syariat Islam pun, pada dasarnya kemaksiatan yang pernah dilakukan itu sebisa mungkin dirahasiakan dan tidak dibongkar padahal Allah telah menutupinya. Hal ini karena dengan dia membongkar aib masa lalunya justru bisa menjadi sebab dia tidak diampuni. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita, ‘Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..’ Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 7676)
Bahkan para ulama menyebutkan bahwa di antara aib masa lalu yang tidak perlu diceritakan adalah hilangnya keperawanan karena berzina atau selainnya. Sebab aib ini sebenarnya tidak mempengaruhi tujuan utama pernikahan, sang suami tetap bisa mendapatkan pelayanan dan kenikmatan dari istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ
“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)
Selama wanita tersebut telah bertaubat dengan benar dari dosanya, maka Allah akan ampuni dan dia akan kembali menjadi wanita baik-baik. Masa silam sudah berlalu dan jangan lagi diungkit, fokuslah untuk menatap masa depan, Allah telah menutup aibnya maka hendaknya dia juga berusaha menutupnya.
Artikel http://www.muslimafiyah.com
(Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
sumber : https://muslimafiyah.com/aib-sebelum-pernikahan-wajibkah-diberitahu-kepada-calon.html







