Belajar Agama untuk Ketenangan

Saudaraku
Belajar agama itu agar kita
Merasa tenang, damai dan tentram

Belajar agama itu agar selalu ingat Allah
Mengingat Allah membuat hati tenang dan tentram

Allah Ta’ala berfirman,

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻻ ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (QS ar-Ra’du:28).

Akan tetapi apabila mayoritas
Pembahasan dan postingan tentang
Polimik, perdebatan,
Bantahan, tahzir membicaran Fulan dan Allan
Terlalu sering bahas yang menimbulkan perdebatan
Hati selalu keras, ingin debat, ingin membalas
Apakah hati tenang?

Bukan tidak boleh membahas hal ini
Tapi ada adab dan aturan juga
Tidak sembarang juga orang membahas

Setelah dilihat
Mayoritas dan bahkan hampir seluruhnya
Pembicaraan dan postingan
Isinya perdebatan, tahzir dan mengudang kekeruhan

Hendaknya kita sama-sama intropeksi
Jika bahasannya debat dan membicarakan Fulan
kita langsung semangat dan bergairah
Tidak lupa ikut komentar menyindir atau caci-maki

Tapi ketika ada bahasan tauhid dan aqidah
Fikh dasar dan indahnya beragama
Tiba-tiba tidak tertarik dan tidak bergairah
Untuk membahas dan mendakwahkannya

Semoga ini jadi intropeksi bersama

Silahkan baca tulisan kami terkait:

  1. APA TUJUANMU BELAJAR AGAMA
    https://muslimafiyah.com/apa-tujuanmu-belajar-agama.html
  2. HINDARI BERDEBAT
    https://muslim.or.id/37204-mengalah-dalam-debat-yang-tidak-bermanfaat.html
  3. BELAJAR DAN MEMBAHAS AGAMA DARI HAL DASAR
    https://muslimafiyah.com/belajar-mambahas-agama-dari-hal-yang-dasar.html
  4. HINDARI TERALU BANYAK MEMBAHAS FITNAH, PERDEBATAN DAN MENCELA KESALAHAN ORANG LAIN, APALAGI ORANG AWAM
    https://muslim.or.id/34324-penuntut-ilmu-dan-orang-awam-lebih-baik-tidak-ikut-ikutan-berkomentar-dalam-perselisihan-ulama.html

@ Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/belajar-agama-untuk-ketenangan.html

Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-Laki

Termasuk dari rahmat-Nya, Allah  menciptakan hamparan dunia begitu indah lengkap dengan keragaman muatannya. Menganugerahkan kepada manusia berbagai kekayaan penuh pesona. Anak, istri, harta, tahta, dan dunia seluruhnya begitu menyejukkan mata. Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak mennjerumuskan kepada maksiat. Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia?

Para ulama menjelaskan, tatkala Allah menjadikan dunia terlihat indah di mata manusia, ditambah dengan berbagai aksesorisnya yang memikat, mulailah jiwa dan hati condong kepadanya. Dari sini manusia terbagi menjadi dua kubu sesuai dengan pilihannya. Sebagian orang menjadikan seluruh anugerah tesebut sebagai tujuan hidupnya. Seluruh pikiran dan tenaga dikerahkan demi meraihnya, hal itu sampai memalingkan mereka dari ibadah. Akhirnya mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa kegunaannya. Ini adalah golongan orang-orang yang kelak menerima azab yang pedih. Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang sadar bahwa tujuan penciptaan dunia ini adalah untuk menguji manusia, sehingga mereka menjadikannya sarana untuk mencari bekal akhirat. Inilah golongan yang selamat dari fitnah, merekalah yang mendapat rahmat Allah[1].

Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-laki

Di antara pesan agung yang bisa kita petik dari ayat di atas bahwa wanita, dunia, dan seisinya adalah fitnah (ujian) bagi manusia. Akan tetapi di antara fitnah-fitnah tersebut yang paling besar dan paling dahsyat adalah fitnah wanita. Oleh karena itu Allah menyebut pada urutan yang pertama sebelum menyebut anak-anak, harta, dst. Oleh karena itu pula Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Allah menyebut wanita pada urutan yang pertama sebelum menyebut yang lainnya. Ini memberikan sinyal bahwa fitnah wanita adalah induk dari segala fitnah.”

Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Hadis ini tidak berlebihan. Karena fakta memang telah membuktikan. Meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, namun betapa banyak lelaki yang cerdas, kuat gagah perkasa, dibuat lemah tunduk di bawahnya. Meskipun para wanita diciptakan dengan keterbatasannya, namun betapa banyak para penguasa jatuh tersungkur dalam jeratnya. Meskipun wanita dicipta dengan keterbatasan agama, namun betapa banyak ahli ibadah yang dibuat lalai dari Tuhannya.

Tidak sedikit seorang miliader kaya raya nekad berbuat korupsi demi istri tercinta. Tidak jarang darah tertumpah, pedang terhunus, karena wanita. Betapa banyak orang waras dengan akal yang sempurna menjadi gila gara-gara wanita. Bahkan sering kita jumpai seorang laki-laki rela bunuh diri demi wanita. Atau yang lebih parah dari itu semua entah berapa orang mukmin yang mendadak berubah menjadi kafir gara-gara wanita. Pantaslah jika rasulullah mengatakan fitnah wanita adalah fitnah yang luar biasa.

Bahkan betapa umat terdahulu hancur binasa juga gara-gara wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengabarkan dalam sabdanya,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خضرة، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّــقُوا الدُّنْــيَا وَاتَقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِـي إِسْرَائِـيلَ كَانَتْ فِي النِسَاءِ

“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita” (H.R. Muslim: 2742)

Apa Kata Ahli Ilmu?

Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dari bahaya fitnah wanita, para ulama juga tidak henti-hentinya mengingatkan umat ini dari ancaman tersebut. Banyak untaian nasihat mereka yang telah diabadikan di dalam literatur-literatur mereka.

Yusuf Bin Asbath mengatakan, “Seandainya aku mendapat amanah untuk menjaga baitulmal, saya optimis bisa melaksanakannya. Namun jiwaku tidak akan merasa aman jika dipercaya untuk berduaan dengan seorang wanita sekalipun dari kalangan negro, meski sesaat saja.”[2]

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta melimpah, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam.”[3]

Said bin Musayyib mengatakan[4], “Tidak ada yang saya takutkan melebihi ketakutanku terhadap wanita”. Kita lihat betapa beliau sangat takut dengan fitnah wanita, padahal usia beliau saat itu sudah menginjak umur 84 tahun. Tidak hanya itu, penglihatan beliau juga sudah rabun, itu pun yang bisa dipergunakan hanya tinggal satu mata. Namun demikian beliau masih tidak merasa aman dari fitnah wanita.

Bertakwalah Wahai Kaum Pria..

Bahaya fitnah wanita bukan sekadar teori untuk diketahui, akan tetapi yang lebih urgen adalah mengambil langkah preventif untuk menghindar dan antisipasi. Cukuplah firman Allah dan sabda nabi serta perkataan ulama di atas menjadi bahan pertimbangan bagi kita untuk coba menantang fitnah tersebut, apa lagi mencicipi.

Sabar dan takwa kepada Allah serta menjaga hak-hak-Nya, itulah cara untuk membebaskan diri dari fitnah ini. Dengan bekal takwa, seorang laki-laki mampu menahan pandangannya, menahan hasrat jiwanya. Dengan bekal takwa pula Allah akan memberikan penjagaan kepada hamba-Nya.

Allah telah membuktikan penjagaan-Nya kepada nabi Yusuf  ‘alaihis salam dari fitnah Zulaikha lantaran beliau bertakwa, menjaga hak-hak Allah Ta’ala[5].

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Sadarlah Wahai Kaum Hawa..

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan para wanita yang begitu ringkih dan lemah. Apa lagi sampai menuduh mereka makhluk yang menjadi sumber petaka, jahat dan keji. Tidak sama sekali…

Akan tetapi penulis hanya ingin berkongsi ilmu serta mengingatkan, bahwa di balik kelemahan wanita tersimpan potensi yang sangat luar biasa untuk menggoda serta membinasakan laki-laki yang kuat perkasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada para wanita di zaman beliau,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرجل الحازم من إحداكن

“Aku tidak melihat ada manusia yang kurang akal dan agamanya, namun mampu meluluhkan nalar lelaki perkasa selain kalian”

Seandainya pun Anda tidak memiliki kecantikan, kedudukan, dan kesempatan seperti apa yang dimiliki Zulaikha, akan tetapi Anda harus tahu barangkali tidak ada lelaki saat ini yang mampu menahan fitnah wanita seperti Yusuf.

Jika demikian halnya, hendaklah setiap wanita berusaha menjaga diri. Jangan sampai ia menyebabkan para lelaki berpaling dari Allah atau menyebabkan mereka bermaksiat kepada Allah. Baik itu suaminya, orang tuanya, saudaranya, ataupun orang lain.

Sungguh maha adil Allah, ketika Allah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada para wanita untuk menjadi fitnah terbesar di dunia, Allah juga memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada mereka untuk menjadi perhiasan termahal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim: 1467)

Kisah Fitnah Dalam Sejarah..

Sebagai penutup, berikut kita simak beberapa kisah klasik yang sempat mengubah sejarah akibat fitnah wanita.Di antaranya adalah kisah nabi Adam dan Hawa yang sudah tidak asing bagi kita. Ketika Iblis merasa putus asa lantaran tidak bisa menggoda Adam

Kisah Shalih sang muazin[6]. Dikisahkan ada seorang pemuda bernama Shalih sang Muazin. Suatu ketika saat  ia menaiki menara untuk mengumandangkan azan, ia melihat seorang gadis nasrani yang  rumahnya berada di sisi masjid.

Ternyata peristiwa itu membuat sang pemuda jatuh hati dan terfitnah. Ia pun mendatangi rumahnya dan mengetuk pintunya.

“Siapa?” Tanya sang gadis.

“Saya Shalih tukang adzan.”

Sang gadis pun membukakan pintu untuknya. Tatkala sudah masuk ke dalam rumah, sang pemuda berusaha memeluknya.

“Apa-apaan ini..! Kalian ini orang yang diberi amanat..!” teriak sang gadis mengingatkan.

“Kau ingin saya bunuh atau melayani keinginanku?” jawab pemuda.

“Saya tidak sudi. Saya tidak mau melayanimu kecuali jika kamu meninggalkan agamamu..!”

Pemuda tersebut mengatakan, “Aku telah berlepas diri dari agamaku dan dari ajaran Muhammad.”

Sang pemuda semakin mendekat. Sang pemuda mulai tersungkur bertekuk lutut dalam pelukan  jerat-jerat asmara. Saat itulah sang gadis menyuruhnya untuk memakan daging babi dan menengguk minuman keras. Sang pemuda menurut bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Ketika sang pemuda sedang dalam keadaan mabuk berat, ia disuruh untuk naik loteng. Akhirnya sang pemuda jatuh dan mati dalam keadaan kafir. Wal’iyyadzubillah.

Ibnul Jauzi mengatakan, “Waspadalah..! –semoga Allah merahmatimu- jangan sampai engkau berani menantang sumber fitnah, sebab orang yang mendekatinya akan jauh dari keselamatan. Jika waspada darinya identik dengan keselamatan, sebaliknya menantangnya identik kebinasaan. Sangat jarang orang yang mendekati fitnah mampu selamat dari jeratnya.”[7]

Daftar Pustaka:

  1. Ibnul Jauzi, Abdur Rahman. (2002). Dzammul Hawa. Libanon: Darul kutub Al ‘Arabiy
  2. Al Bukhari, Muhammad. (1998). Shahih Al Bukhari. Riyadh, KSA: Baitul Afkar Ad Dauliyah
  3. Muslim. (2001). Shahih Muslim. Riyadh, KSA: Maktabatur Rusyd
  4. Ibnu Rajab, Abdur Rahman. (2008). Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam. Beirut; Dar Ibnu Katsir
  5. As Sa’di, Abdurrahman. (2007). Taisir Karimir Rahman. Riyadh, KSA: Maktabatur Rusyd

[1] Lihat penjelasan selengkapnya dalam tafsir As Sa’di, hal. 123-124

[2] Dzammul Hawa, hal. 180

[3] ibid

[4] ibid, hal. 179

[5] Lihat penjelasan ini dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 440

[6] Dzammul Hawa, hal. 409

[7] Dzammul Hawa, hal. 168

—

Penulis: Agus Pranowo

Sumber: https://muslim.or.id/19526-wanita-ujian-terbesar-kaum-laki-laki.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Anjuran Menjilati Jari Sesudah Makan

Anjuran Menjilati Jari Sesudah Makan

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Hadis dari Ibnu ‘Abbas RA beliau berkata: Rasulullah ﷺbersabda, “Jika salah seorang dari kalian memakan makanan, janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatnya, atau menjilatkan tangannya tersebut (kepada orang lain).”([1])

Hadis ini mengajarkan kepada kita salah satu adab makan yang penting. Hendaknya setiap kita berusaha menghabiskannya makanannya hingga bersih tak tersisa, serta berusaha semaksimal mungkin meminimalkan kemubaziran, sehingga dengannya kita semakin jauh dari sikap kufur nikmat, dan semakin mudah untuk menjadi hamba Allah ﷻ yang bersyukur.

Seorang muslim selaiknya mengambil makanan sesuai porsi kebutuhannya, kemudian menghabiskannya, dan jangan sampai ada sedikit pun dari makanannya yang terbuang secara sia-sia. Kemudian, dalam etika memakan makanan, agama Islam mengajarkan agar sisa-sisa makanan terkecil yang tertinggal atau menempel di jari-jemari dan peralatan makan juga dibersihkan, dengan cara dijilat, sehingga makanan yang telah kita ambil benar-benar habis.

Bahkan jika ada makanan telah jatuh ke tanah dan masih mungkin untuk dibersihkan, maka janganlah dibuang. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ

“Jika makanan kalian terjatuh, maka ambilah. Hendaknya dibersihkan makanan tersebut dari kotoran yang menempel padanya, lalu makanlah. Jangan sekali-kali ia tinggalkan makanan tersebut untuk setan. Dan juga, janganlah ia membersihkan tangannya (setelah makan) dengan sapu tangan hingga ia menjilatnya, karena ia tidak tahu di bagian mana dari makanannya yang terdapat keberkahan.” ([2])

Di zaman para sahabat Nabi ﷺ, jika ada makanan yang terjatuh, kemungkinan ia jatuhnya di pasir atau di tanah. Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan mereka untuk memungutnya, membersihkannya, lalu memakannya, selama masih memungkinkan untuk itu. Lalu, bagaimana lagi jika makanan tersebut hanya terjatuh di karpet dan lantai yang bersih, seperti di zaman kita saat ini?! Bukankah lebih mudah bagi kita untuk melaksanakan arahan Rasulullah ﷺ ini?!

Adab yang mulia ini merupakan salah satu bentuk syukur dan penghargaan kita terahimahullahadap nikmat makanan yang telah Allah ﷻ karuniakan. Dengan memakannya hingga habis seluruhnya, bahkan hingga menjilati bagian-bagian yang tersisa darinya, berarti kita tidak membiarkan makanan yang telah dikaruniakan Allah ﷻ itu terbuang percuma. Betapa tidak bersyukurnya kita, jika kita membiarkan sisa-sisa nikmat yang menempel pada jari-jemari, sendok, atau piring kita, hingga ia tercuci dan terbuang bersama  sampah dan kotoran.

Ingatlah selalu saudaraku, bahwa nikmat makanan yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita, yang mungkin terasa mudah untuk diraih oleh sebagian kita, sejatinya merupakan karunia besar yang sangat diharapkan oleh saudara-saudara kita di belahan bumi lain yang sedang dilanda kelaparan dan kemiskinan. Satu suapan yang kita sia-siakan, bisa jadi adalah sesuap makanan yang selalu diharapkan oleh saudara-saudara kita dalam doa-doa mereka. Bersyukurlah saudaraku, agar nikmat itu selalu Allah ﷻ tambahkan. Amalkanlah tuntunan Rasulullah ﷺ pada hadis Beliau yang mulia ini.

Selain itu pula, kita tidak pernah tahu di bagian manakah Allah ﷻ meletakkan keberkahan di antara makanan-makanan yang kita makan.  Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ

“Kalian tidak tahu di bagian mana dari makanan tersebut keberkahannya.” ([3])

Bisa jadi Allah ﷻ meletakkan keberkahan itu pada suapan-suapan awal yang kita makan, bisa jadi di tengah-tengahnya, dan bisa jadi pula Allah ﷻ meletakkan berkah makanan itu di bekas-bekas dan remah-remah yang tersisa dari makanan kita, yang melekat di piring, sendok, atau bahkan jari-jemari kita. Karenanya, untuk memburu keberkahan itu, kita berusaha menghabiskan makanan kita sampai bagian-bagian terakhirnya, dan salah satu cara terbaiknya adalah dengan menjilati sisa-sisa makanan tersebut hingga bersih.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

أَوْ يُلْعِقَهَا

“Atau dia jilatkan kepada orang lain.” ([4])

Sunah ini dapat dilakukan antara suami dan istri, atau antara orang tua dengan anak-anaknya. Bahkan para ulama menyatakan bahwa perbuatan ini dapat terus menyuburkan benih-benih cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Demikianlah adab-adab mulia yang diajarkan oleh Islam. Adab yang penuh akan hikmah dan keberkahan ini seringkali terlupakan oleh kita. Ia tampak sepele, namun kebaikan dan kemaslahatan yang terkandung di dalamnya sangatlah berahimahullaharga.

Perhatian

Saudaraku pembaca, jangan dengarkan suara-suara sumbang yang mengatakan, “Apa itu Islam, kok adabnya aneh, sampai menjilat-jilat jari segala?! Menjijikkan sekali!”

Jangan sampai pikiran-pikiran semacam itu terbersit dalam benak kita. Ketahuilah saudaraku, hal pertama yang harus kita lakukan ketika mengetahui suatu ajaran yang valid dari Rasulullah ﷺ, adalah mengatakan “sami’na wa atha’na (saya dengar dan saya laksanakan)”. Terlebih lagi, para ulama telah menjelaskan kepada kita hikmah yang luar biasa di balik sunah yang agung ini, sebagaimana diuraikan sebelumnya. Perintah dan anjuran dari Rasulullah ﷺ seharusnya sudah cukup untuk menjadi motivasi dan semangat kita, sebagai seorang muslim, dalam menjalankan sunah ini. Semoga Allah ﷻ memudahkan langkah kita semua untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan bertakwa, hingga kita menggapai rida-Nya. Amin.

Footnote:
________

([1]) HR. Bukhari No. 5456 dan Muslim No. 2020

([2]) HR. Muslim no 2033 dari hadis ـJabir bin Abdillah RA.

([3]) HR. Muslim No. 2033

([4]) HR. Bukhari No. 5456 dan Muslim No. 2031

sumber : https://bekalislam.firanda.com/?p=6288

Hanya Sekali Celupan ke Neraka dan Surga

Saudaraku seiman dan se-Islam

Ada di antara kita yang sangat senang dan menikmati dunia sampai lupa akhirat

Ada juga yang sedang merasakan beratnya dunia akan tetapi hatinya terhibur dengan surga

Renungkan benar-benar dan sadarlah …

Manusia yang paling merasakan nikmat di dunia kemudian dicelupkan sekali saja ke neraka

Ia berkata: TIDAK PERNAH merasakan nikmat sedikitpun

Manusia yang paling sengsara di dunia kemudian dimasukkan surga sekali celupan

Ia berkata: TIDAK PERNAH merasakan sengsara sedikitpun

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُؤتَى بأنْعَم أهل الدنيا مِنْ أهل النار فيُصْبَغُ في النارِ صَبْغَةً ثم يُقَال: يا ابنَ آدمَ هل رأيتَ خيراً قطُّ هل مَرَّ بكَ نعيمٌ قط؟ فيقولُ لا والله يا ربِّ، ويؤْتَى بأشَدِّ الناسِ بؤساً في الدنيا مِنْ أهل الجنة فيصبغُ صبغةً في الجنة فيقال: يا ابن آدمَ هل رأيتَ بؤساً قط؟ هل مَرَّ بك من شدة قط؟ فيقولُ: لا والله يا ربِّ ما رأيتُ بؤساً ولا مرّ بِي مِنْ شدةٍ قَطُّ

“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya” (HR. Muslim no. 2807).

Saudaraku

Mari kembali ke agama kita

Pelajari agama di majelis ilmu

Ingatlah kampung halaman kita yaitu akhirat

Janganlah dunia ini membuat kita lalai, lupa bahkan pura-pura lupa

Padahal kematian itu adalah kepastian

Apakah kita akan menukarkan suatu yang tinggi (akhirat) dengan suatu yang rendah (dunia)?

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?.” (Al-Baqarah: 61)

Semoga kita semua mendapatkan hidayah, taufik dan kasih sayang Allah

Aamiin yaa Mujiibas Saa-iliin

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/hanya-sekali-celupan-ke-neraka-dan-surga.html

Fatwa Ulama: Membuang Sampah Sembarangan

Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih (IslamWeb.Net)

Soal:

Apakah diharamkan membuang sampah-sampah ringan di jalan? Maksud saya, jika salah seorang dari kita minum jus di jalan, apakah boleh membuang botol kosongnya di jalan? Atau selain minuman, misalnya biskuit atau es krim.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Seorang muslim dituntut oleh syariat untuk bersungguh-sungguh menjaga kebersihan jalan. Hendaknya tidak membuang sampah-sampah kecuali pada tempat untuk membuang sampah. Karena syariat Islam itu mengajak umat untuk berlaku bersih. Dalam hadits dikatakan:

الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأعلاها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق

“Iman itu 70 dan sekian cabang, yang paling tinggi adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun saya tidak mengetahui faktor yang menghasilkan hukum haram dari perbuatan yang anda sebutkan, yaitu membuang sampah di jalan, selama itu tidak menimbulkan bahaya. Semisal membuang sampah gelas atau semisalnya. Yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya untuk orang lain. Jika kasusnya demikian, maka terdapat sisi larangannya yaitu membuat gangguan bagi orang lain. Dalil atas hal ini adalah keumuman sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لا ضرر ولا ضرار

“Janganlah memulai memberikan bahaya pada orang lain, jangan pula membalas memberi bahaya” (HR. Malik secara mursal).

Wallahu a’am

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=158583

—

Soal:

Saya dengar dari teman saya bahwa tidak boleh membuang sampah pada malam hari, namun ia tidak punya dalil atas pernyataan tersebut. Apakah ini sekedar ikut-ikut adat kebiasaan saja (di Qatar)? Perlu diketahui teman saya tadi bermadzhab Hanafi.

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

Islam mengajak untuk berperilaku bersih dan mengajak untuk menyingkirkan kotoran dan sampah. Syariat tidak membatasi waktu untuk hal itu, sebatas yang saya tahu. At Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan  dari Sa’id bin Musayyab, Nabi bersabda:

إن الله طيب يحب الطيب، نظيف يحب النظافة، كريم يحب الكرم، جواد يحب الجود، فنظفوا أفنيتكم وساحاتكم ولا تشبهوا باليهود

“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai yang baik, Allah itu bersih dan mencintai kebersihan, Allah itu Maha Pemberi dan mencintai sifat suka memberi, Allah itu Maha Pemurah dan menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan terasmu, janganlah meniru orang Yahudi”

Juga diriwayatkan secara marfu’ dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

طهروا أفنيتكم، فإن اليهود لا تطهر أفنيتها

“Bersihkanlah halaman rumahmu karena sesungguhnya orang Yahudi itu biasanya tidak membersihkan halaman rumahnya”

Simak kembali fatwa nomor 32475.

Dan kami tidak setuju atas apa yang telah kami telaah, yaitu pembatasan waktu tertentu untuk membuang sampah. Dalam hal ini tidak ada larangan secara syar’i untuk membuang sampah di tempat khusus pembuangan sampah kapan saja. Wallahu’alam.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=115683

—

Memang benar bahwa dalam syariat tidak ada larangan khusus membuang sampah sembarangan, namun hukumnya akan menjadi haram jika menimbulkan bahaya sebagaimana diterangkan oleh Syaikh di atas. Kalau di negara kita, membuang sampah bisa menimbulkan bahaya apalagi jika dibuang di tempat-tempat umum yang mengganggu orang banyak atau di tempat yang menyebabkan tergenangnya air. Dalam keadaan seperti itu dapat dihukumi bahwa membuang sampah itu terlarang karena dapat menimbulkan banjir, penyakit, dll. Simak paparan ketua MUI, KH Amidhan, pada video berikut ini.

—

Penyusun: Yulian Purnama
Sumber: https://muslim.or.id/20043-fatwa-ulama-membuang-sampah-sembarangan.html

Hindari Menggunakan Kata “Anjay” dan Turunan Semisalnya

Banyak sumber mengatakan bahwa kata “anjay” itu merupakan umpatan baik digunakan secara halus untuk teman yang sudah akrab maupun untuk mengumpat secara umum, karena kaya “anjay” berasal dari (mohon maaf) kata “anjing” yang memang sudah terkenal secara bahasa dan adat adalah kata yang digunakan untuk mengumpat.

Apabila ini benar, tidak layak bagi muslim ikut-ikutan mengumpat seperti ini.

Allah berfirman,

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al Humazah: 1)

Apabila ada versi lain yang mengatakan bahwa “Anjay” ini bukan untuk mengumpat atau telah mengalami pergeseran makna menjadi ungkapan kagum, maka tidak selayaknya seorang muslim ikut-ikutan, meninggalkan hal yang diperselisihkan lebih baik. Lebih baik lagi apabila kita membiasakan doa dan dzikir dalam perkataannya. Jika kagum kita mendoakan “barakallahu fik”, “masyaallah”, atau dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang lebih menunujukkan kesopanan dan kedekatan

Semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber : https://muslimafiyah.com/hindari-menggunakan-kata-anjay-dan-turunan-semisalnya.html