Kerusakan yang Disebabkan Hewan Ternak dan Adab dalam Bertetangga

Seringkali kita temui pertengkaran dan perselisihan antara masyarakat, dan terkhusus di antara tetangga. Permasalahan yang mengundang pertengkaran ini pun beragam. Dan sangat disayangkan, kebanyakan perselisihan ini dimulai dengan hal-hal sepele. Salah satu hal yang sering mengundang perselisihan adalah perkara hewan ternak. Pernahkah kita jumpai tetangga yang ribut karena ayam ternak tetangganya merusak kebun miliknya? Atau karena kucing milik tetangganya mencuri seekor ikannya? Atau kambing peliharaan tetangga memakan tanaman milik tetangganya? Lantas apakah Islam telah mengatur perkara ini? Dan bagaimanakah sikap seorang muslim jika mendapatkan hal seperti ini?

Adab bertetangga dalam Islam

Kehidupan bertetangga di dalam Islam mendapatkan perhatian yang besar. Bagaimana tidak, tetangga adalah orang yang paling dekat dan selalu kita temui setiap harinya. Memuliakan tetangga termasuk salah satu faktor penyempurna iman. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya.”

Tetangga memiliki hak atas kita. Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata,

“Adab bertetangga adalah hendaknya seseorang memulai mengucapkan salam, tidak memperpanjang pembicaraan dengannya, tidak terlalu banyak bertanya tentang dirinya dan keadaannya, menjenguknya ketika sakit, menghiburnya ketika tertimpa musibah, hadir bersamanya ketika ia berduka, mengucapkan selamat ketika ia bergembira, turut berbagi kegembiraan dengannya, bersikap lembut dalam berinteraksi dengan anak-anaknya, memaafkan kesalahannya, menegurnya dengan lembut ketika ia melakukan kekeliruan, menundukkan pandangan dari hal-hal yang menjadi kehormatan keluarganya, membantunya ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Juga tidak mengintip dari atas atap untuk melihat auratnya (apa yang ada di dalam rumah), tidak mengganggunya dengan suaranya, tidak menyakitinya dengan meletakkan batang kayu pada dindingnya, tidak mengalirkan air ke saluran airnya, tidak membuang tanah di halaman rumahnya, tidak mempersempit jalan menuju rumahnya, tidak mengikuti dengan pandangan apa yang dibawanya ke rumah, menutupi auratnya yang tersingkap, tidak lalai memperhatikan rumahnya ketika ia sedang tidak berada di tempat, tidak mendengarkan perkataan tentang dirinya yang disampaikan oleh musuhnya, serta membimbingnya kepada hal-hal yang tidak diketahuinya dalam urusan agama dan dunianya.”

Dari penuturan Imam Al-Ghazali, dapat kita lihat bagaimana besarnya hak tetangga atas kita. Hendaknya kita tidak menganggu tetangga, baik dengan perbuatan atau perkataan. Dan hendaknya tidak membuat anak kita membawa makanan atau mainan ke anak tetangga, jika kita tidak bisa memberinya; karena hal ini bisa jadi mengundang keinginan dari anak tersebut, dan orangtuanya belum tentu mampu memberikannya. Kehidupan bertetangga akan damai jika setiap tetangga mau menurunkan egonya serta menjaga hati satu sama lain, dan menunaikan kewajibannya serta memberikan hak tetangganya. Jika kesadaran ini tertanam, maka pertengkaran antara tetangga bisa diminimalisir.

Kerugian yang disebabkan oleh hewan ternak

Setelah mengetahui adab bertetangga, maka timbul pertanyaan, lantas bagaimanakah kerugian yang ditimbulkan oleh tetangga? Kerugian yang kita bicarakan adalah kerugian yang disebabkan oleh hewan ternak atau hewan peliharaan. Walaupun memuliakan tetangga adalah sebuah akhlak yang mulia bagi seorang muslim, tetapi Islam tetap mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab yang harus ditunaikan oleh tetangga jika perbuatannya merugikan tetangga. Di antara yang paling banyak kita temui di masyarakat adalah kerugian yang disebabkan oleh hewan peliharaan dan hewan ternak, baik itu kerugian di kebun, sawah, atau rumah.

Di dalam hadis disebutkan,

عن البراء بن عازب –رضي الله عنه- قال: ((قضى رسول الله –صلى الله عليه وسلم- أن حفظ الحوائط بالنهار على أهلها، وأن حفظ الماشية بالليل على اهلها، وأن على أهل الماشية ما اصابت ماشيتهم بالليل))

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,  “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam  menetapkan bahwa menjaga kebun-kebun pada siang hari menjadi tanggung jawab pemiliknya, sedangkan menjaga hewan ternak pada malam hari menjadi tanggung jawab pemiliknya. Dan pemilik hewan ternak bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan ternaknya pada malam hari.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa`i, dan Ibnu Maajah)

Di dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa pemilik sawah atau kebun wajib menjaga tanaman mereka di siang hari. Hal ini karena siang adalah waktu untuk hewan ternak mencari makanan, dan kemungkinan hewan ternak masuk ke dalam perkebunan dan sawah juga besar. Namun, bukan berarti pemilik hewan ternak tidak berkewajiban menjaga hewannya. Dia tetap menjaga hewannya dengan baik agar tidak masuk ke perkebunan tetangganya. Namun jika tetap masuk dan merusak tanaman tanpa sepengetahuannya, maka tidak wajib baginya untuk ganti rugi.

Sedangkan di malam hari adalah waktu untuk istirahat, dan pemilik kebun pun tidak menjaga kebunnya. Di malam hari juga, hewan ternak biasanya dimasukkan ke kandang. Maka di waktu ini, pemilik hewan ternak memiliki kewajiban sepenuhnya untuk menjaga hewannya agar tidak keluar kandang dan tidak merusak kebun tetangganya. Dan jika hewan ternak tetap keluar dan merusak perkebunan orang lain, maka wajib bagi pemilik hewan untuk ganti rugi kerusakan yang ditimbulkan. Sedangkan jika kerugian yang disebabkan oleh hewan ternak di siang hari, dan pemiliknya ada bersama hewan tersebut, maka wajib bagi pemiliknya untuk membayar ganti rugi atas kerusakan yang telah ditimbulkan.

Hewan ternak yang melintas di jalan

Di zaman sekarang, semakin banyak kendaraan di jalan raya, dan tidak sedikit juga hewan ternak yang melintas di jalan raya, yang bisa menyebabkan kecelakaan dan kerugian, bahkan terkadang juga berbentuk kerugian jiwa. Hendaknya pemilik hewan menjaga hewannya agar tidak membahayakan pengendara yang lewat. Lalu, jika peristiwa seperti ini terjadi, siapakah yang wajib bertanggung jawab?

Keputusan Hai`atu Kibaaril Ulama tentang tanggung jawab hewan ternak yang melintas di jalan, menyatakan bahwa tidak wajib ganti rugi jika kerugian itu disebabkan oleh hewan ternak melintas ke jalan raya, dengan catatan jalan itu bukan jalan yang diaspal. Namun, pemiliknya berdosa jika membiarkan hewannya lepas dan tidak menjaganya, sehingga menyebabkan kerugian harta dan jiwa.

Dengan mengetahui hal ini, hendaknya seorang muslim bisa menyadari apa yang wajib atas dirinya. Janganlah perbuatan kita dan kelalaian kita menjadi pemberat hisab kita di akhirat kelak. Dan hendaknya kita bisa menurunkan ego serta bersabar dan menahan diri ketika ada tetangga atau orang lain yang melanggar hak kita. Wallahu a`lam bis showwab.

***

Penulis: Norma Melani Khaira

Referensi:

Kitab Taudhihu Al-Ahkam min Buluughi Al-Maraam, karya Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam.

https://www.islamweb.net/ar/article/212590

Sumber: https://muslimah.or.id/34702-kerusakan-yang-disebabkan-hewan-ternak-dan-adab-dalam-bertetangga.html
Copyright © 2026 muslimah.or.id

Hartaku Untuk Surgaku

Allah ta’ala memberi tahu mengenai orang yang paling baiknya bicara. Dia berfirman:

(لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا)

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (QS. An-Nisa’ 114).

Inilah yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala memberi kita nikmat diantaranya adalah harta kita, yang mana tidak ada makhluk yang mendapatkan dan merasakan nikmat sebagaimana manusia, seperti; gajah dia tidak mampu untuk memproduksi sesuatu sebagaimana layaknya manusia. Hal itu dikarenakan Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَق َلَكُم ماَ فِي الأَرضِ جَمِيعا ً

Artinya: “Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini untuk kalian (manusia)“. (QS. Al Baqarah: 29).

Namun dibalik itu semua apabila tidak mampu menginfaqkan harta kita yang itu merupakan nikmat Allah maka bahayanya melebihi bahaya hewan / bahaya makhluk lain. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إِن َّلِكُل ِّأُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَ فِتٔنةُ أمَّتِي المَالُ

Artinya: “sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah ( ujian ) dan fitnah ummatku adalah harta“.

Banyak sekali orang yang hancur dikarenakan hartanya. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُم لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: “Dan orang-orang kafir mereka menginfaqkan harta mereka untuk menghalang – halangi dan jalan Allah“.

Allah berfirman:

إِنَّمـَا أَمْوَالَكُم وَأَولَادُكُم فِتْنَةٌ

Artinya: “Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian“.

Perlu diketahui bahwasannya apabila Allah memberi harta yang banyak kepada seseorang bukan berarti Allah telah memuliakannya dan bukan berarti dengan Allah menyempitkan rizqi seseorang berarti Allah telah menghinakannya. Namun sesungguhnya seseorang yang memiliki harta yang banyak dan sedikit dia mampu menjadi mulia apabila kita gunakan untuk infaq dijalan Allah.

Allah berfirman:

الذين ينفقون أموالهم با لليل والنهار سرا وعلانية فلهم أجرهم عند ربهم

Artinya: “Orang – orang yang menginfaqkan harta mereka pada malam hari dan siang hati dalam keadaan sembunyi – sembunyi dan terang – terangan maka baginyalah pahala disisi Rabb mereka” (QS. Al Baqoroh: 274).

Pada ayat diatas adalah isim maushul yang itu menunjukkan umum, yang berarti bukan hanya orang kaya saja. Inilah janjinya bagi orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, dan inilah makna “hartaku untuk surgaku” .

Sesungguhnya harta yang Allah berikan kepada kita baik sedikit maupun banyak maka akan ditanya oleh Allah ta’ala, oleh karena itu mari kita siapkan jawaban kita. Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Artinya : “Dan kamu benar -benar akan ditanya tentang nikmat yang diberikan kepadamu” (QS. At-Takathur 8).

Harta adalah amanah yang dititipkan Allah kita oleh karena itu jangan sampai kita abaikan karena itu semuanya akan ditanya. Kenapa kita harus menginfaqkan harta kita di jalan Allah yang menuju ke Surga? Banyak sekali jawabannya, diantaranya:

Pertama: Karena perintah Allah ta’ala, Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ

Artinya: “Dan carilah dengan apa -apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat” (QS. Al-Qasas 77).

Kedua: Harta yang kita nikmati di dunia ini sedikit sekali sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya : Berkata Bani adam “Ini hartaku, ini hartaku“. Lalu Rosululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kamu tidak memiliki harta apapun kecuali shodaqoh yang telah engkau keluarkan atau makanan yang telah engkau makan, atau pakaian yang telah engkau pakai yang telah usang, maka itulah milikmu”.

Ketiga: Orang yang meninggal tidak akan dikubur bersama hartanya, semuanya harus ditinggal. Namun yang dibawanya adalah amalnya.

Keempat: Surga itu dibeli dengan infaq. Allah ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan itulah surga yang engkau warisi dengan sebab aoa yang telah engkau amalkan” (QS. Az-Zukhruf 72).

Yaitu amal sholih, termasuk kedalamnya adalah kedermawanan orang yang berinfaq. Lihatlah Abu Tholhah, saat beliau mendengar nabi membacakan ayat :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya : “Kalian tidak akan mendapatkan surga sampai kalian menginfaqkan apa-apa yang kalian cintai” (Surat Ali-Imran 92).

Datanglah Abu Tholhah dan berkata: ” Wahai Nabi, aku mempunyai tanah di Buwairuhah, tanah yang paling bagus, berapun harganya dia takkan dijual, silahkan gunakan lebun ini untuk di jalan Allah”. Lalu apa yang dikatakan Nabi kepadanya? Beliau berkata: “Bagikanlah kepada keluargamu yang terdekat yang miskin“.

Kelima: Hidup kita di dunia ini sangatlah sebentar , sedangkan akherat adalah kekal. Allah berfirman :

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ

Artinya: “Katakanlah, kenikmatan dunia adalah sedikit dan akherat adalah lebih baik bagi orang yang bertaqwa” (Surat An-Nisa’ 77).

Dan solusi agar kita dapat berinfaq adalah, dengan hidup sederhana. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انظر إلى من هو أسفل منكم ولا تنظر إلى من هو فوقكم

Artinya: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan jangan lihat kepada yang di atas kalian (dalam urusan dunia)”

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda, pada hadits yang diriwayatkan oleh muslim dari sahabat Abu Hurairah:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به وولد صالح يدعو له

Artinya: “Apabila anak Adam telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu *shodaqoh jariyah*, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya“.

Syaikh Bin Baz mengatakan yang dimaksud shodaqoh jariyah adalah : Yang terus menerus bermanfaat seperti waqaf masjid, atau bangunan yang disewakan lalu hasilnya dishodaqohkan atau kebun / sawah yang disedekahkan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصدقة لاتنقص المال

Artinya: “Shodaqoh itu tidak mengurangi harta“.

Dan sebaliknya apabila ada orang kaya atau pengusaha yang bangkrut maka sesungguhnya itu adalah karena akibat dosanya sendiri, sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: “Dan tidaklah musibah itu menimpamu kecuali karena perbuatan yang telah kalian perbuat, dan Allah telah banyak mengampuni kalian” (QS. Ash-Shura 30).

***

Penulis: Ust. Aunur Rofiq Ghufron, Lc.
Sumber: https://muslim.or.id/29468-hartaku-untuk-surgaku.html

Jika Diberi Hadiah, Apakah Wajib Membalasnya?

Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang telah dikenal sejak dahulu dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap masyarakat, hadiah menjadi simbol penghormatan, kasih sayang, persahabatan, atau rasa terima kasih. Dalam Islam, praktik memberi hadiah bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga termasuk bagian dari akhlak yang dianjurkan oleh syariat.

Hadiah dapat mempererat hubungan antarindividu, menumbuhkan rasa cinta, menghilangkan permusuhan, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai sarana memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.

Namun sering muncul pertanyaan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari: jika seseorang memberi kita hadiah, apakah kita wajib membalasnya? Apakah tidak membalas hadiah termasuk dosa? Ataukah sekadar masalah adab dan kesempurnaan akhlak?

Melalui pembahasan ini, akan tampak bahwa Islam tidak hanya mengatur hukum secara kaku, tetapi juga membimbing manusia menuju akhlak yang luhur.

Kedudukan hadiah dalam Islam

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah. Hal ini karena hadiah memiliki pengaruh besar dalam melembutkan hati manusia dan mempererat hubungan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh para ulama.)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan seorang muslim untuk memberi hadiah kepada saudaranya sesama muslim, baik hadiah yang besar maupun yang sederhana. Sebab, saling memberi hadiah dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, mempererat hubungan, dan menyatukan hati di antara sesama. Selain itu, menerima hadiah juga termasuk sunah. Dari hadis ini dapat diambil faidah bahwa memberi hadiah merupakan amalan yang dianjurkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan hadiah menjadi salah satu sebab tumbuhnya cinta serta kedekatan antarsesama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha melakukan segala hal yang dapat mendatangkan kasih sayang dan keharmonisan dengan orang lain, baik melalui pemberian hadiah, sikap yang lembut, perkataan yang baik, maupun wajah yang ceria sesuai dengan kemampuannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal sering menerima hadiah dan juga membalasnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari para sahabat maupun dari pemimpin negeri lain, kemudian beliau membalasnya dengan hadiah pula. Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أن النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، كان يقبلُ الهديةَ ، ويُثيبُ عليها

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dan membalasnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lafaz ini miliknya, serta diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sedikit perbedaan lafaz.)

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarganya. Hal ini menunjukkan perbedaan antara hadiah dan sedekah dalam syariat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أخَذَ الحَسَنُ بنُ عَليٍّ رَضيَ اللهُ عنهما تَمرةً مِن تَمرِ الصَّدَقةِ، فجَعَلَها في فيه، فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كِخْ كِخْ. ليَطرَحَها، ثُمَّ قال: أما شَعَرتَ أنَّا لا نَأكُلُ الصَّدَقةَ

“Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma mengambil satu butir kurma dari kurma sedekah, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kikh, kikh’ (ungkapan agar membuang sesuatu), supaya ia membuangnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu bahwa kami tidak memakan sedekah?’” (HR. Bukhari)

Hadiah adalah pemberian yang bertujuan untuk menghormati atau mempererat hubungan, sedangkan sedekah diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.

Hukum membalas hadiah

Dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga memberikan balasan kepada orang yang memberinya hadiah sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan.

Yang dimaksud dengan membalas hadiah adalah memberikan pengganti, balasan, atau penghormatan kepada orang yang telah memberikan hadiah. Dalam hadis disebutkan,

وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

Kata “الثواب” dalam hadis bermakna الجزاء والمكافأة, yaitu balasan dan penghargaan atas kebaikan seseorang.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa membalas hadiah hukumnya sunah dan dianjurkan. Hal ini termasuk akhlak mulia dan bentuk menjaga hubungan baik antarsesama.

Konsep syukur kepada manusia

Membalas hadiah juga berkaitan erat dengan konsep syukur dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa menghargai kebaikan manusia termasuk bagian dari syukur kepada Allah. Bentuk syukur kepada manusia dapat dilakukan dengan beberapa cara:

1) Mengucapkan terima kasih.

2) Mendoakan kebaikan bagi mereka.

3) Membalas kebaikan mereka.

4) Tidak melupakan jasa mereka.

Dengan demikian, membalas hadiah termasuk bentuk syukur kepada manusia.

Jika tidak mampu membalas dengan hadiah

Tidak semua orang mampu membalas hadiah dengan hadiah lain. Kadang seseorang menerima hadiah dari orang lain yang lebih kaya atau lebih mampu. Tidak perlu bersedih, Islam memberikan solusi yang sangat indah dalam situasi seperti ini, yaitu dengan mendoakan orang yang memberikan hadiah.

Doa yang paling dianjurkan ketika menerima kebaikan adalah:

جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من صُنعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلهِ جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ

“Barang siapa diberi suatu kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang melakukannya, ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan),’ maka sungguh ia telah memberikan pujian yang paling sempurna.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Dengan demikian, walaupun seseorang tidak mampu membalas hadiah secara materi, ia tetap dapat membalasnya dengan doa yang tulus.

Membalas dengan yang lebih baik

Islam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Allah Azza wa Jalla berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)

Oleh karena itu, jika seseorang memberi hadiah kepada kita, dianjurkan untuk membalas dengan hadiah yang setara atau lebih baik, sesuai kemampuan. Hal ini bukan untuk menunjukkan persaingan atau pamer, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain.

Bahaya tidak membalas karena kesombongan

Tidak membalas hadiah karena tidak mampu bukanlah dosa. Namun, jika seseorang tidak membalas karena sombong atau meremehkan pemberi hadiah, maka hal itu termasuk sikap tercela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يدخلُ الجنةَ مَنْ كان في قلبِهِ مِثقالُ ذرَّةٍ من كِبرٍ ، قِيلَ : إنَّ الرجُلَ يُحبُّ أنْ يكونَ ثوبُهُ حسنًا ، ونعلُهُ حسنةً ، قال : إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ ، الكِبرُ بطَرُ الحقِّ ، و غمْطُ الناسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.”

Lalu ada yang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Sering kali nilai hadiah tidak terletak pada harganya, tetapi pada perhatian dan kasih sayang yang menyertainya. Meremehkan hadiah berarti meremehkan perasaan pemberinya.

Memberi hadiah dengan harapan balasan

Bagaimana jika seseorang memberi hadiah dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih besar? Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatstsir: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memberi tanpa mengharapkan balasan,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Kami memberi makan kepada kalian hanya karena mengharap wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Perbedaan antara hadiah dan suap

Perlu dibedakan antara hadiah yang murni dengan hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan atau memperoleh keuntungan yang tidak sah. Jika hadiah diberikan untuk mempengaruhi keputusan hakim, pejabat, atau seseorang yang memiliki kekuasaan, maka ia termasuk suap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Oleh karena itu, hadiah yang bertujuan mempengaruhi keputusan tidak termasuk hadiah yang dianjurkan dalam Islam.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting:

1) Memberi hadiah merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam karena dapat mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.

2) Membalas hadiah tidak wajib secara hukum fikih, tetapi sangat dianjurkan.

3) Dianjurkan membalas dengan yang setara atau lebih baik sesuai kemampuan.

4) Jika tidak mampu membalas secara materi, maka doa yang tulus sudah mencukupi.

5) Tidak membalas karena kesombongan atau meremehkan pemberi hadiah termasuk akhlak tercela.

6) Memberi hadiah hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan demi balasan dunia.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan akhlak. Banyak perkara yang tidak diwajibkan secara hukum, tetapi sangat dianjurkan sebagai bentuk kesempurnaan iman. Membalas hadiah adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain dan bagian dari syukur kepada manusia. Kadang hadiah tidak bernilai besar secara materi, tetapi memiliki makna besar dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menjadi orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain dan selalu membalasnya dengan kebaikan pula.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, menghargai kebaikan sesama, dan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.

Wallahu Ta‘ala a‘lam.

***

Diselesaikan di Jember, 12 Zulhijah 1447

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

sumber: https://muslim.or.id/116188-jika-diberi-hadiah-apakah-wajib-membalasnya.html

Doa Agar Istiqomah

Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, doa yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)”.

Cerita lengkapnya bisa dilihat dalam hadits berikut.

Syahr bin Hawsyab berkata bahwa ia berkata pada istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah,

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ

“Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ « يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ »

“Yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, ’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”.

Ummu Salamah pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdoa dengan doa, ‘Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’.”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”

Setelah itu Mu‘adz bin Mu‘adz (yang meriwayatkan hadits ini) membacakan ayat,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami”. (QS. Ali Imran [3]: 8 )

(HR. Tirmidzi No. 3522 dan Ahmad [6/315]. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

sumber : Doa Agar Istiqomah – Indonesia Bertauhid

Kuat Olahraga, Sayangnya Tidak Kuat Shalat Shubuh

Aneh bukan? Kuat mengayuh sepeda pagi hari, namun bangun shubuh untuk shalat Shubuh, malasnya bukan main.

Ingat … Meninggalkan satu shalat saja seperti shalat shubuh, sangat bahaya. Karena meninggalkan shalat saja dihukumi kufur.

Seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” (HR. Tirmidzi, no. 2622. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Lihatlah orang yang berat shalat Shubuh disebut munafik.

—

@ DS, Panggang, Gunungkidul, 28 Safar 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/14910-kuat-olahraga-sayangnya-tidak-kuat-shalat-shubuh.html

Jangan Sibuk Mencari Rezeki, Lupa Shalat

Banyak orang tua sangat serius memikirkan masa depan dan rezeki anak-anaknya, tetapi sudahkah kita seserius itu menjaga shalat mereka? Allah justru menggandengkan perintah menjaga shalat keluarga dengan penegasan bahwa Dialah yang memberikan rezeki. Dari sini kita belajar bahwa keluarga bukan hanya perlu dididik agar pandai mencari rezeki, tetapi juga mengenal dan taat kepada Sang Pemberi rezeki.

KHUTBAH PERTAMA — MUKADIMAH

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Allah Ta‘ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini mempertemukan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: shalat dan rezeki. Kita sering begitu serius memikirkan bagaimana keluarga kita mendapatkan rezeki, tetapi pertanyaannya, sudahkah kita seserius itu memikirkan bagaimana keluarga kita menjaga shalat?

Kita khawatir ketika penghasilan berkurang. Kita cemas ketika pekerjaan sulit. Kita memikirkan sekolah anak, masa depan mereka, pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka kelak hidup berkecukupan. Namun Allah mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: jangan sampai kesibukan memikirkan rezeki membuat keluarga melupakan Sang Pemberi rezeki.

Mengapa Shalat Dikaitkan dengan Rezeki?

Perhatikan susunan ayat ke-132 dari Surah Thaha. Allah memerintahkan agar keluarga menjaga shalat, lalu mengingatkan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”

Artinya, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat sebuah keluarga justru meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang tua tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mencari nafkah yang halal, tetapi hati tidak boleh bergantung pada pekerjaan, jabatan, pelanggan, atau manusia. Yang memberi rezeki pada hakikatnya tetap Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan ayat ini mengatakan,

يَعْنِي إِذَا أَقَمْتَ الصَّلَاةَ أَتَاكَ الرِّزْقُ مِنْ حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ

“Maknanya, apabila engkau menegakkan shalat, rezeki akan datang kepadamu dari arah yang tidak engkau sangka-sangka.”

Penjelasan ini selaras dengan firman Allah tentang orang yang bertakwa,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Shalat Bukan Cara Instan untuk Menjadi Kaya

Ayat ini jangan dipahami dengan cara yang terlalu sederhana: “Kalau rajin shalat, pasti banyak uang.”

Shalat bukan transaksi dengan Allah untuk mengejar kekayaan dunia. Allah memerintahkan shalat karena shalat adalah ibadah dan hak Allah atas hamba-Nya. Adapun rezeki berada di tangan Allah; Dia memberikannya sesuai hikmah-Nya.

Bahkan kekayaan yang sangat berharga tidak selalu berbentuk saldo rekening. Ketenangan hati, rasa cukup, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, kesehatan, kemudahan menjalankan ketaatan, dan keberkahan pada harta merupakan nikmat besar yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.

Dalam hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman,

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, pusatkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan rasa kaya dan Aku cukupkan kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2466; Ibnu Majah, no. 4107. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu kekayaan terbesar adalah kaya hati: merasa cukup dengan pemberian Allah dan tidak terus-menerus diperbudak oleh dunia.

Inilah pelajaran yang perlu ditanamkan kepada anak. Jangan sampai anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ukuran keberhasilan hidup hanyalah rumah besar, kendaraan mahal, sekolah bergengsi, atau banyaknya harta.

Ketika Keluarga Sedang Susah, Kembalilah kepada Shalat

Az-Zamakhsyari rahimahullah menukil tentang seorang tabi‘in saleh, Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani. Ketika keluarganya mengalami kesempitan hidup, ia berkata,

قُومُوا فَصَلُّوا، بِهَذَا أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ

“Bangkitlah kalian, lalu shalatlah. Dengan inilah Allah memerintahkan Rasul-Nya.”

Kemudian ia membaca QS. Thaha ayat 132.

Perhatikan pendidikan yang diberikan kepada keluarganya. Ketika keadaan sedang sulit, ia tidak hanya mengajarkan anak dan keluarganya untuk mengeluh tentang keadaan. Ia mengajak mereka kembali kepada Allah.

Tentu saja shalat tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Orang yang kehilangan pekerjaan tetap mencari pekerjaan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap menyusun kembali keuangannya. Orang yang memiliki utang tetap berusaha melunasinya.

Namun, sebelum hati tenggelam dalam kepanikan, seorang mukmin tahu kepada siapa ia harus kembali.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud, no. 1319; dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ini adalah pendidikan iman yang sangat penting bagi anak: ketika masalah datang, jangan hanya panik; ingat Allah, shalatlah, berdoalah, kemudian lakukan ikhtiar terbaik.

‘Urwah Mengajari Keluarganya agar Tidak Silau dengan Dunia

Ada sisi lain yang menarik dari QS. Thaha ayat 132.

Imam Ath-Tabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya meriwayatkan bahwa ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah apabila melihat kemewahan yang dimiliki para penguasa, ia pulang menemui keluarganya dan membaca firman Allah,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا…

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia….” (QS. Thaha: 131)

Ia melanjutkan hingga membaca,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ… نَحْنُ نَرْزُقُكَ

Kemudian ia menyeru keluarganya,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

“Shalat, shalat. Semoga Allah merahmati kalian.”

Betapa relevannya pendidikan ini untuk anak-anak zaman sekarang. Mereka setiap hari dapat melihat rumah orang lain, liburan orang lain, pakaian orang lain, gawai orang lain, dan berbagai kemewahan melalui media sosial.

Jika tidak dibekali iman, anak mudah merasa, “Mengapa kita tidak seperti mereka?”

Di sinilah orang tua perlu mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan memamerkan apa yang dimiliki. Jangan terus menengok nikmat yang berada di tangan orang lain hingga lupa mensyukuri apa yang Allah berikan kepada keluarga kita.

‘Umar Membangunkan Keluarganya untuk Shalat

Pendidikan shalat juga tampak dalam kehidupan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar biasa mengerjakan shalat malam. Menjelang akhir malam, beliau membangunkan keluarganya sambil mengatakan,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ

“Shalat, shalat.”

Kemudian beliau membaca,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”

Riwayat ini juga dibawakan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman, 4/466, no. 2822 dengan sanad: Malik → Zaid bin Aslam → Aslam → ‘Umar.

Ada pelajaran parenting yang sangat indah di sini: ‘Umar mengerjakannya terlebih dahulu, kemudian mengajak keluarganya.

Anak membutuhkan perintah, tetapi anak juga membutuhkan contoh.

Sulit meminta anak bersegera shalat jika ia melihat ayah dan ibunya sendiri terus menunda shalat. Sulit meminta anak meninggalkan gawainya ketika azan berkumandang jika orang tuanya masih asyik dengan ponsel.

Teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada nasihat.

Latih Anak Menjaga Shalat Sejak Kecil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pendidikan yang lebih tegas ketika anak telah berusia sepuluh tahun dan masih meninggalkannya. (HR. Abu Dawud, no. 495; hadits ini dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).

Hadits ini menunjukkan bahwa pembiasaan shalat membutuhkan proses. Anak tidak tiba-tiba menjadi penjaga shalat ketika baligh. Ada masa bertahun-tahun untuk mengenalkan, mengajak, memberi contoh, mengingatkan, dan membentuk kebiasaan. Pembinaan ibadah sejak dini juga merupakan bagian penting dari pendidikan agama di rumah.

Apa yang Bisa Diajarkan kepada Anak?

Orang tua dapat menanamkan beberapa kebiasaan sederhana berikut.

  1. Ketika azan terdengar, dahulukan shalat. Anak akan memahami bahwa sesibuk apa pun hidup ini, panggilan Allah lebih utama.
  2. Ketika keluarga mengalami masalah, ajak anak kembali kepada Allah. Berwudulah, shalatlah, lalu berdoa bersama tanpa meninggalkan usaha nyata untuk menyelesaikan masalah.
  3. Ketika mendapatkan nikmat, ajarkan anak bersyukur. Jangan hanya mengatakan, “Ayah bekerja keras,” tetapi biasakan pula mengatakan, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki kepada kita.”
  4. Ketika anak melihat kemewahan orang lain, ajarkan qana‘ah. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki, dan tidak semua yang terlihat indah di dunia merupakan ukuran kebahagiaan.
  5. Jadilah contoh sebelum banyak memerintah. Anak yang setiap hari melihat orang tuanya menjaga shalat akan mendapatkan pelajaran yang tidak diberikan oleh ceramah panjang.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita ajarkan kepada keluarga bahwa ketika kesulitan datang, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Kembalilah kepada Allah. Tegakkan shalat, panjatkan doa, lalu sempurnakan ikhtiar.

Ketika Allah memberikan kelapangan, jangan sampai kelapangan itu justru menjauhkan kita dari-Nya. Gunakan nikmat untuk semakin taat dan ajarkan kepada anak-anak bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah.

Jangan hanya menyiapkan anak agar kelak pandai mencari rezeki. Lebih penting dari itu, ajarkan mereka mengenal dan menaati Sang Pemberi rezeki.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ، وَأْمُرُوا أَهْلَكُمْ بِهَا، وَاصْبِرُوا عَلَى تَعْلِيمِ أَوْلَادِكُمْ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنَا مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لَنَا، وَتَوَفَّنَا إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لَنَا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَنَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ، وَنَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَنَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ.

رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَنَا.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَارْزُقِ الْمُحْتَاجِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْكَوَارِثَ وَسُوءَ الْمِحَنِ، وَارْحَمْ مَنْ أُصِيبَ مِنَّا بِالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ مُصَابَنَا، وَاخْلُفْ عَلَيْنَا خَيْرًا.

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَغَزَّةَ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَنَفِّسْ هَمَّهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَارْدُدْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

—-

Materi Khutbah Jumat @ Pesantren Darush Sholihin Masjid Jami’ Al-Adha Panggang Gunungkidul |  Jumat, 28 Rabiul Awal 1448 H, 11 September 2026

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42811-khutbah-jumat-jangan-sibuk-mencari-rezeki-lupa-shalat.html

[Kitabut Tauhid 10] 36 Mencintai Allah 24

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jum’at, ketika disebut nama Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syari’at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jum’at duduk diantara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebid’ahan.

“Ustadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.“