Ridho Dengan Ketentuan Allah

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

ุฅู†ู‘ ุงู„ุฑูู‘ุถุง ู…ู† ุฌูู…ู’ู„ุฉู ุซู…ุฑุงุชู ุงู„ู…ูŽุนู’ุฑููุฉุŒ ูุฅุฐุง
โ€ุนูŽุฑูŽูู’ุชูŽู‡ู ุฑุถููŠุชูŽ ุจูู‚ูŽุถุงุฆูู‡.

โ€œSesungguhnya ridho adalah termasuk buah dari pengetahuan. Bila kamu mengenal Allah, kamu pasti ridho dengan ketentuan-Nya..โ€

(Shoidul Khothir 1/109)

Karena Allah tak pernah menzholimi hamba hamba-Nya..
Ketentuan-Nya dipenuhi hikmah dan keadilan..
Ilmu dan kasih sayang-Nya meluasi segala sesuatu..

Dia memberi ujian bukan untuk menzholimi..
Tapi untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat..

Namunโ€ฆ
Semua itu membutuhkan keyakinan..
Lemahnya keyakinan seringkali menimbulkan su-uzhon kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/64009

Hukum Suara Bising Menurut Islam: Batas Etika dan Hak Tetangga

Suara tidak selalu berhenti di tempat ia berasal. Ia dapat melewati pagar, menembus dinding, dan menjangkau rumah-rumah yang tidak ikut dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Di balik dinding itu mungkin ada orang sakit, bayi yang baru terlelap, orang yang sedang belajar, pekerja yang membutuhkan istirahat, atau keluarga yang sedang beribadah.

Sering kali kita tidak bermaksud menyusahkan siapa pun. Kita hanya menjalankan kegiatan yang dianggap biasa atau menggunakan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika suara yang kita timbulkan telah menjangkau kehidupan orang lain, ada hak mereka yang perlu kita perhatikan. Di sinilah suara tidak lagi sekadar persoalan selera, melainkan juga persoalan adab dan tanggung jawab.

Gangguan tetap diperhitungkan

Seseorang mungkin tidak berniat mengganggu. Akan tetapi, tidak adanya niat buruk tidak selalu menghilangkan dampak dari perbuatannya. Ketika suatu tindakan ternyata menyulitkan, menyakiti, atau membahayakan orang lain, seorang muslim tidak selayaknya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูุคู’ุฐููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุงูƒู’ุชูŽุณูŽุจููˆุง ููŽู‚ูŽุฏู ุงุญู’ุชูŽู…ูŽู„ููˆุง ุจูู‡ู’ุชูŽุงู†ู‹ุง ูˆูŽุฅูุซู’ู…ู‹ุง ู…ูุจููŠู†ู‹ุง

โ€œDan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.โ€ (QS. Al-Ahzab: 58)

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam juga meletakkan sebuah prinsip yang ringkas, tetapi sangat luas penerapannya,

ู„ูŽุง ุถูŽุฑูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุถูุฑูŽุงุฑูŽ

โ€œTidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.โ€ (HR. Ibnu Majah)

Prinsip ini mengajarkan bahwa kita perlu menimbang akibat perbuatan, bukan hanya keinginan atau kenyamanan diri sendiri. Apabila sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa suara tersebut mengganggu, kemudian datang penjelasan atau keberatan, saat itulah kelapangan hati kita diuji. Kesalahan yang tidak disengaja dapat segera diperbaiki; tetapi gangguan akan menjadi lebih berat ketika telah diketahui lalu tetap dibiarkan.

Ketenangan termasuk hak tetangga

Hak tetangga tidak hanya berkaitan dengan batas tanah, keamanan harta, atau hubungan ketika berjumpa. Ketenangan di dalam rumah juga merupakan sesuatu yang perlu dijaga. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขุฎูุฑู ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐู ุฌูŽุงุฑูŽู‡ู

โ€œBarang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

Gangguan kepada tetangga tidak harus berupa pertengkaran atau tindakan yang langsung mengenai rumahnya. Suara yang terus terdengar dapat mengusik istirahat, mengganggu percakapan keluarga, memecah konsentrasi belajar, atau menyulitkan orang yang sedang beribadah. Semakin luas jangkauan suatu suara, semakin banyak pula keadaan orang yang perlu dipertimbangkan.

Di sinilah kita perlu berhati-hati menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kalimat, โ€œMenurut saya tidak terlalu keras,โ€ belum tentu menggambarkan keadaan orang lain. Kemampuan setiap orang dalam menerima suara tidak sama. Waktu, tempat, lamanya suara berlangsung, serta keadaan masyarakat di sekitarnya turut menentukan besarnya gangguan.

Bahkan suara kebaikan tetap diatur

Islam tidak hanya mengajarkan tujuan yang baik, tetapi juga cara yang baik. Bahkan dalam membaca Al-Qurโ€™an, seseorang tidak dibenarkan mengeraskan suara apabila mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda,

ุฃูŽู„ูŽุง ุฅูู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽุงุฌู ุฑูŽุจูŽู‘ู‡ูุŒ ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐููŠูŽู†ูŽู‘ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถู‹ุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฑู’ููŽุนู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู

โ€œKetahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya atas sebagian yang lain.โ€ (HR. Abu Dawud)

Membaca Al-Qurโ€™an adalah ibadah yang mulia. Namun, pelaksanaannya tetap memperhatikan ketenangan orang lain. Hadis ini mendidik kita agar tidak merasa cukup dengan melihat apa yang sedang kita lakukan. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita melakukannya dan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Peka sebelum ditegur

Adab yang tinggi tidak menunggu orang lain kehilangan kesabaran. Sebelum menimbulkan suara yang menjangkau lingkungan, kita dapat mempertimbangkan kebutuhannya, waktunya, tempatnya, tingkat suaranya, dan berapa lama ia akan berlangsung. Kita juga dapat memperhatikan keberadaan tempat ibadah, fasilitas kesehatan, rumah-rumah warga, serta jalan yang digunakan masyarakat.

Jika suatu kegiatan memang perlu diketahui lingkungan sekitar, pemberitahuan dan koordinasi dapat membantu menjaga hubungan baik. Namun, pemberitahuan bukan berarti semua bentuk gangguan otomatis menjadi wajar. Ia merupakan langkah awal untuk saling memahami, bukan izin untuk mengabaikan keadaan orang lain.

Apabila kemudian ada orang yang menyampaikan keberatan, dengarkan terlebih dahulu. Tidak setiap keluhan merupakan tanda permusuhan. Boleh jadi ada keadaan yang tidak kita ketahui. Kesediaan mengecilkan suara, menyesuaikan waktu, atau mencari cara yang lebih aman bukanlah kekalahan. Itulah bentuk tanggung jawab dan penghormatan kepada sesama.

Jangan membalas gangguan dengan gangguan

Di sisi lain, orang yang merasa terganggu juga tidak dibenarkan membalas dengan cacian, perusakan, atau tindakan yang memperbesar persoalan. Gangguan tidak dihilangkan dengan menghadirkan gangguan baru. Keberatan dapat disampaikan secara langsung dengan bahasa yang baik atau melalui pihak yang dapat membantu menyelesaikannya.

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุฑูู‘ูู’ู‚ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ูููŠ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฒูŽุงู†ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ุฒูŽุนู ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุดูŽุงู†ูŽู‡ู

โ€œTidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu, kecuali akan membuatnya buruk.โ€ (HR. Muslim)

Kelembutan tidak berarti membenarkan gangguan atau meninggalkan ketegasan. Kelembutan menjaga agar nasihat dapat diterima dan perbaikan tidak berubah menjadi pertengkaran. Pihak yang menimbulkan suara bersedia mengevaluasi, sedangkan pihak yang merasa terganggu menyampaikan keberatan tanpa merendahkan. Tokoh masyarakat pun dapat membantu mempertemukan keduanya dengan adil.

Suara kita adalah tanggung jawab kita

Seorang muslim berusaha menghadirkan rasa aman melalui ucapan dan perbuatannya. Ia tidak hanya memikirkan apa yang berada di hadapannya, tetapi juga dampak yang mungkin menjangkau orang lain. Sebelum memperkeras suara, baiklah kita bertanya: seberapa jauh suara ini akan terdengar, siapa saja yang akan menerimanya, dan apakah mereka tetap dapat beristirahat, belajar, beribadah, serta menjalankan keperluannya dengan tenang?

Menjaga suara mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, darinya terlihat seberapa besar perhatian kita terhadap hak orang lain. Suara yang kita hasilkan berada dalam kendali kita; jangan sampai ketenangan orang lain justru menjadi harga yang harus mereka bayar.

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Muslim.or.id

Referensi

Al-Qurโ€™an, Surah Al-Ahzab ayat 58.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismaโ€˜il. Shahih Al-Bukhari, hadis no. 6018.

Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 47 dan 2594.

Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asyโ€˜ats. Sunan Abi Dawud, hadis no. 1332.

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah, hadis no. 2340. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 1909.

Ahmad bin Hanbal. Al-Musnad, hadis no. 11896.

Ibnu Rajab Al-Hanbali. Jamiโ€˜ Al-โ€˜Ulum wa Al-Hikam, penjelasan hadis ke-32.

Ibnu Rajab Al-Hanbali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, bab Rafโ€˜ Ash-Shaut fi Al-Masjid.

sumber: https://muslim.or.id/116313-hukum-suara-bising-menurut-islam-batas-etika-dan-hak-tetangga.html

[Kitabut Tauhid 10] 38 Mencintai Allah 26

Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari bahwa ;

Diantara rambu-rambu dalam mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasรปlullรขh -Shallallรขhu ‘Alaihi Wassalam- adalah :

  1. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariโ€™atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallรขhu ‘Alaihi Wassalam-.
  2. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat; terlebih-lebih pada hari Jumโ€™at, ketika disebut nama Nabi -Shallallรขhu ‘Alaihi Wassalam-, dan berbagai tempat serta kesempatan yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.
  3. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara tertentu, yang tidak ditentukan oleh Syariโ€™at. Seperti menentukan waktu sebelum adzan, saat khathib Jumโ€™at duduk diantara dua khutbah, dan lain-lain.
  4. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjamaโ€™ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi -Shallallรขhu ‘Alaihi Wassalam-.
  5. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, adalah dengan suara pelan.
  6. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi alat musik, tarian, nyanyian, api, drama, dan yang semisalnya; karena semua itu termasuk kebidโ€™ahan.

โ€œUstadz Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary adalah alumni Maโ€™had โ€˜Ilmi Al-Madinah Surakarta dan aktif dalam kegiatan dakwah serta kajian keislaman. Beliau turut terlibat sebagai pembina dan penasehat di beberapa lembaga. Sejak tahun 2020, beliau berkontribusi sebagai pemateri di aplikasi HijrahApp.โ€œ

Kalimat yang Ditakuti Penduduk Neraka

Kalimat tersebut menyatakan bahwa adzab penduduk neraka akan terus bertambah dan terus bertambah
Sampai kapan? Tidak ada ujung dan akhirnya
Terus-menerus di siksa selama-lamanya dan abadi

Allah berfirman,

๏ป“ูŽ๏บฌู๏ปญ๏ป—ู๏ปฎ๏บ ๏ป“ูŽ๏ป ูŽ๏ปฆู’ ๏ปงูŽ๏บฐู๏ปณ๏บชูŽ๏ป›ู๏ปขู’ ๏บ‡ู๏ปŸูŽู‘๏บŽ ๏ป‹ูŽ๏บฌูŽ๏บ๏บ‘ู‹๏บŽ

โ€œKarena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.โ€ (QS. An Naba : 30).

Dalam tafsir At-Thabari dijelaskan,

ูู‡ู… ููŠ ู…ุฒูŠุฏ ู…ู† ุงู„ุนุฐุงุจ ุฃุจุฏุง.

โ€œMereka mendapatkan tambahan adzab yang abadiโ€

Saudaraku se-Islam
Selalu ingat dan saling mengingatkan
Kita di dunia ini hanya sementara dan sangat sebentar
Kematian adalah kepastian
Kita akan kembali kepada Allah
Mempertanggung jawabkan semuanya
Masihkah kita tidak peduli dengan akhirat kita?

Jika lalai dan tidak peduli sama sekali, ketauhilah
Kita tidak sanggup menahan siksa api neraka
Pernahkah melihat orang yang menyesal?
Menyesal sejadi-jadinya
Menyesal setelah nyata sakratul maut
Menyesal setelah bertemu Mungkar & Nakir
Menyesal karena harta dan jabatan
Yang ia cari mati-matian
Ternyata tidak ikut di bawa mati
Sampai melupakan akhiratnya

Kembalikan kepada Allah
Sebagaimanakembalinya anak durhaka pada ibunya
Ketahuilah, Allah sangat sayang kepada hamba-Nya
Melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya

Berbahagialah orang yang merantau jauh
Pulang ke kampung halamannya dan sukses
Semoga saya dan anda berbahagia saudaraku
Merantau di dunia ini
Lalu pulang ke kampung kita
Di mana kampung kita?
Kampung tempat ayah kita Nabi Adam sebelumnya
Surga Allah โ€ฆ

Saudaraku
Kita tidak akan sanggup
Menahan beratnya siksa api neraka

Karena pedihnya
Penghuni neraka meminta kematian
Tapi dijawab dengan kekekalan di neraka

Peghuni neraka berkata,

ูˆูŽู†ูŽุงุฏูŽูˆู’ุง ูŠูŽุง ู…ูŽุงู„ููƒู ู„ููŠูŽู‚ู’ุถู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ูƒูู… ู…ูŽู‘ุงูƒูุซููˆู†ูŽ

โ€œMereka berseru: โ€œHai Malik biarlah Rabbmu membunuh kami sajaโ€. Dia menjawab: โ€œKamu akan tetap tinggal (di neraka ini)โ€. (Az-Zukhruf: 77)

Semoga kita di selamatkan dari siksa neraka
Dan dimasukkan ke surga Allah tertinggi
Aamiin yaa mujiibas sa-iliin

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

sumber: https://muslimafiyah.com/kalimat-yang-ditakuti-penduduk-neraka.html

Akibat Dari Suka Mentertawakan Dan Mengejek Orang Lain

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

โ€œSiapa yang mentertawakan orang maka ia akan ditertawakan lagi dan siapa yang mengejek perbuatan saudaranya maka biasanya ia jatuh kepada perbuatan tersebut..โ€

(Al Furuusiyah hal 446)

Seorang mukmin tidak pernah mentertawakan siapapun..
Namun ia mendoโ€™akan hidayah dan kebaikan..

Tapi terkadang saat kita benci pada seseorang..
Kita suka menertawakan kesalahannya..

Akibatnya, Allah jerumuskan kita kepada kesalahan yang sama..
Sebagai balasan yang setimpa

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

sumber: https://bbg-alilmu.com/archives/75213

Mati Mendadak Adalah Istirahat & Kenikmatan Bagi Mukmin

Cukup sering kita mendengar kabar ada artis mati mendadak, pejabat mati mendadak dan mulai banyak kita jumpai kasus-kasus mati mendadak. Secara kedokteran pun muncul penyakit-penyakit yang menyebabkan mati mendadak seperti stroke dan serangan jantung. Demikian juga kasus tabrakan lalu mati mendadak di tempat, kasus tabrakan helikopeter dan lain-lainnya.

Mati Mendadak Sebagai Adzab dari Allah Taโ€™ala?

Muncul pertanyaan, apakah mati mendadak ini semacam adzab atau bencana? Apakah seorang Muslim yang mati mendadak itu terkait dengan dosanya sebelumnya atau bagaimana? Jawabnya adalah sebagaimana dalam hadits berikut

Dari โ€˜Aisyah bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda

ู…ูˆุช ุงู„ูุฌุฃุฉ ุฑุงุญุฉ ู„ู„ู…ุคู…ู† ูˆุฃุฎุฐุฉ ุฃุณู ู„ู„ูƒุงูุฑ

โ€œKematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafirโ€ [HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya]

Mati Mendadak Adalah Istirahat dan Kenikmatan?

 Maksudnya mati mendadak merupakan istirahat adalah ia bisa istirahat dari beban dunia, kelelahan dan  mungkin bisa selamat dari penderitaan sebelum meninggal (sakit-sakitan sebelum meninggal) dan sakratul maut. Tentunya dianggap โ€œistirahatโ€ apabila ia seorang mukmin yang shalih dan telah menyiapkan berbagai perbekalan yang banyak menuju kehidupan setelah kematian. Inilah maksud dari istirahat dan kenikmatan

Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata,

ุฌุงุก ููŠ ุจุนุถ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ู…ูˆุช ุงู„ูุฌุฃุฉ ูŠูƒุซุฑ ููŠ ุขุฎุฑ ุงู„ุฒู…ุงู†ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฃุฎุฐุฉ ุบุถุจ ู„ู„ูุงุฌุฑุŒ ูˆุฑุงุญุฉ ู„ู„ู…ุคู…ู†ุŒ ูู‚ุฏ ูŠุตุงุจ ุงู„ู…ุคู…ู† ุจู…ูˆุช ุงู„ูุฌุฃุฉ ุจุณูƒุชุฉ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ุง ูˆูŠูƒูˆู† ุฑุงุญุฉ ู„ู‡ ูˆู†ุนู…ุฉ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ุ› ู„ูƒูˆู†ู‡ ู‚ุฏ ุงุณุชุนุฏ ูˆุงุณุชู‚ุงู… ูˆุชู‡ูŠุฃ ู„ู„ู…ูˆุช ูˆุงุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุงู„ุฎูŠุฑ ููŠุคุฎุฐ ูุฌุฃุฉ ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุญุงู„ ุทูŠุจุฉ ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑ ูˆุนู…ู„ ุตุงู„ุญุŒ ููŠุณุชุฑูŠุญ ู…ู† ูƒุฑุจ ุงู„ู…ูˆุช ูˆุชุนุจ ุงู„ู…ูˆุช ูˆู…ุดุงู‚ ุงู„ู…ูˆุชุŒ ูˆู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ูุงุฌุฑ ู‚ุฏ ูŠู‚ุน ู‡ุฐุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ูุฌุงุฑ ูˆุชูƒูˆู† ุชู„ูƒ ุงู„ุฃุฎุฐุฉ ุฃุฎุฐุฉ ุบุถุจ ุนู„ูŠู‡ู…ุŒ ููˆุฌุคูˆุง ุนู„ู‰ ุดุฑ ุญุงู„.

 โ€œPada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin.Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika. Ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih, maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk.โ€ [Sumber:http://www.binbaz.org.sa/mat/18136%5D

Mempersiapkan Bekal Kematian

Yang terpenting bukanlah mati mendadak atau tidak, tetapi apa yang kita siapkan untuk kehidupan setelah kematian, apa bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan akhirat. Inilah ciri-ciri orang yang pintar dan cerdas yaitu mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda,

๏บ๏ปŸู’๏ปœูŽ๏ปดูู‘๏บฒู ๏ปฃูŽ๏ปฆู’ ๏บฉูŽ๏บ๏ปฅูŽ ๏ปงูŽ๏ป”ู’๏บดูŽ๏ปชู ๏ปญูŽ๏ป‹ูŽ๏ปคู๏ปžูŽ ๏ปŸู๏ปคูŽ๏บŽ ๏บ‘ูŽ๏ปŒู’๏บชูŽ ๏บ๏ปŸู’๏ปคูŽ๏ปฎู’๏บ•ู

โ€œOrang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan (kehidupan) setelah kematian.โ€ [HR.Tirmidzi]

Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan makna โ€œal-Kayyisโ€ yaitu orang yang pandai dan berakal, beliau berkata

ุฃูŠ ุงู„ุนุงู‚ู„ ุงู„ู…ุชุจุตุฑ ููŠ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ู†ุงุธุฑ ููŠ ุงู„ุนูˆุงู‚ุจ

โ€œAl-Kayyis yaitu yang berakal dan suka berpikir (merenungkan) pada suatu urusan dan suka memperhatikan akibat-akibat/hasil akhir.โ€ [Tuhfatul Ahwadzi, Darul Kutub Al-Ilmiyyah]

Semoga kita senantiasa mendapatkan taufik agar menjadi orang yang cerdas dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen
Sumber: https://muslim.or.id/54758-mati-mendadak-adalah-istirahat-kenikmatan-bagi-mukmin.html

Hartamu Habis di Mana? Nasihat Ibnul Qayyim tentang Harta

Harta bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi harta yang sama bisa berubah menjadi penghalang perjalanan menuju-Nya. Persoalan terbesarnya bukan sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari mana harta itu datang dan ke mana akhirnya pergi. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sejumlah kaidah yang membuat kita perlu bertanya kepada diri sendiri: selama ini, hartaku habis di mana?

Bahasan ini diambil dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftฤแธฅ Dฤr As-Saโ€˜ฤdah ketika beliau menguraikan wasiat โ€˜Ali bin Abi Thalib radhiyallahu โ€˜anhu kepada Kumail bin Ziyad tentang ilmu yang lebih utama daripada harta.

Ketika Mengumpulkan Harta Menjadi Tujuan Hidup

Bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan menyiapkan harta untuk masa depan bukan sesuatu yang tercela. Masalah muncul ketika mengumpulkan, mengembangkan, dan menyimpan harta berubah dari sarana menjadi pusat kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan satu golongan manusia:

ุงู„ุตูู‘ู†ู’ูู ุงู„ุฑูŽู‘ุงุจูุนู: ู…ูŽู†ู’ ุญูุฑู’ุตูู‡ู ูˆูŽู‡ูู…ูŽู‘ุชูู‡ู ูููŠ ุฌูŽู…ู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ู ูˆูŽุชูŽุซู’ู…ููŠุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุงุฏูู‘ุฎูŽุงุฑูู‡ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุตูŽุงุฑูŽุชู’ ู„ูŽุฐูŽู‘ุชูู‡ู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ูˆูŽููŽู†ููŠูŽ ุจูู‡ูŽุง ุนูŽู…ูŽู‘ุง ุณููˆูŽุงู‡ูŽุงุŒ ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฑูŽู‰ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฃูŽุทู’ูŠูŽุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ุง ู‡ููˆูŽ ูููŠู‡ูุŒ ููŽุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุฏูŽุฑูŽุฌูŽุฉู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูุŸ!

โ€œGolongan keempat adalah orang yang seluruh kerakusan dan ambisinya tertuju pada mengumpulkan harta, mengembangkannya, dan menyimpannya. Kenikmatannya telah berada pada semua itu sehingga ia tersita olehnya dari perkara-perkara lainnya. Ia tidak lagi memandang ada sesuatu yang lebih nikmat baginya daripada keadaan tersebut. Lalu, di manakah keadaan seperti ini dibandingkan dengan derajat ilmu?โ€

Di sinilah kaidah pertama yang perlu direnungkan:

Harta adalah alat untuk menjalani kehidupan; jangan sampai mengumpulkan harta berubah menjadi tujuan kehidupan.

Orang bisa sangat sibuk mengembangkan aset, menghitung laba, memperbesar usaha, dan menambah simpanan. Semua itu bisa menjadi baik. Namun perlu diperiksa: apakah bertambahnya harta juga membuat bekal akhirat bertambah?

Punya Harta atau Justru Dipunyai Harta?

Harta awalnya berada di tangan manusia. Namun ketika hati sudah terikat dengannya, keadaan bisa berbalik: manusia justru menjadi hamba bagi hartanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุนู’ุจูุฏู ู…ูุญูุจูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุตูŽุงุญูุจูŽู‡ูุŒ ููŽูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ูู‡ู ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ู„ูŽู‡ูุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ๏ทบ: ยซุชูŽุนูุณูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ุฑู’ู‡ูŽู…ูโ€ฆยป ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽุณู’ุชูŽุนู’ุจูุฏูู‡ู ู„ูุฑูŽุจูู‘ู‡ู ูˆูŽุฎูŽุงู„ูู‚ูู‡ูุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุนููˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุนูุจููˆุฏููŠูŽู‘ุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู.

โ€œHarta dapat memperbudak orang yang mencintai dan memilikinya, hingga menjadikannya sebagai budak harta tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€˜Celakalah budak dinar dan dirhamโ€ฆ.โ€™ Adapun ilmu menjadikan seseorang sebagai hamba bagi Rabb dan Penciptanya. Ilmu tidak mengajaknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah semata.โ€

Ini merupakan poin ke-12, โ€œIlmu Menjadikan Hamba Allah, Harta Menjadikan Budak Duniaโ€.

Maka pertanyaannya bukan hanya, โ€œBerapa harta yang kita miliki?โ€ Namun juga, โ€œSiapa sebenarnya yang menjadi tuan: kita atau harta kita?โ€

Jika karena uang seseorang berani meninggalkan kewajiban, merusak hubungan keluarga, mengambil yang haram, mengorbankan agama, atau terus-menerus gelisah karena takut kehilangan, maka fungsi harta mulai terbalik.

Bukan lagi ia yang menggunakan harta. Harta mulai mengendalikan dirinya.

Ketika Cinta Harta Menjadi Pintu Keburukan

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan sebuah perbandingan yang sangat tajam:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุญูุจูŽู‘ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุทูŽู„ูŽุจูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ู ูƒูู„ูู‘ ุทูŽุงุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุญูุจูŽู‘ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุทูŽู„ูŽุจูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ู ูƒูู„ูู‘ ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุฉู.

โ€œCinta kepada ilmu dan mencarinya adalah pangkal setiap ketaatan. Adapun cinta kepada dunia dan harta serta mengejarnya adalah pangkal setiap keburukan.โ€

Ini terdapat pada poin ke-13, โ€œIlmu Menumbuhkan Ketaatan, Harta Menyulut Keburukanโ€.

Yang tercela di sini tentu bukan sekadar memiliki kekayaan. Banyak orang saleh memiliki harta dan justru menjadikannya sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah แธฅubbud-dunyฤ, ketika dunia dan harta menjadi cinta dominan dalam hati.

Maka kaidahnya:

Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.

Hati-hati pula ketika ukuran keberhasilan hidup berubah. Dahulu keberhasilan diukur dari iman, shalat, manfaat bagi orang lain, dan keselamatan akhirat. Kemudian semuanya perlahan diganti dengan saldo, omzet, rumah, kendaraan, aset, dan penampilan.

Harta Bisa Menjadi Kendaraan Maksiat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุง ุฃูŽุทูŽุงุนูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู‚ูŽุทูู‘ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูุŒ ูˆูŽุนูŽุงู…ูŽู‘ุฉู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุตููŠู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ุตููŠู‡ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู.

โ€œTidak ada seorang pun yang menaati Allah kecuali dengan ilmu. Sementara kebanyakan orang yang bermaksiat kepada-Nya melakukan maksiat dengan harta.โ€

Ini terdapat pada poin ke-17, โ€œIlmu Mengantarkan pada Ketaatan, Harta Menyeret kepada Maksiatโ€.

Renungkanlah. Dengan harta seseorang bisa bersedekah, membantu orang tua, menafkahi keluarga, menuntut ilmu, membangun masjid, membantu dakwah, dan menolong orang miskin. Namun dengan harta pula seseorang bisa membeli yang haram, membiayai kemaksiatan, memperturutkan syahwat, melakukan riba, berjudi, atau memamerkan gaya hidup yang menjauhkan hati dari akhirat.

Karena itu:

Jangan hanya tanyakan berapa banyak hartamu. Tanyakan pula: ke mana hartamu membawamu?

Harta tidak memiliki arah sendiri. Pemiliknyalah yang menentukan apakah ia menjadi kendaraan menuju surga atau kendaraan menuju dosa.

Hartamu Diam-Diam Berdakwah

Cara seseorang menggunakan harta tidak hanya berdampak kepada dirinya. Ia dapat mengirimkan pesan kepada orang lain tentang apa yang dianggap bernilai dalam kehidupan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูุนูู„ู’ู…ูู‡ู ูˆูŽุญูŽุงู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽุฌูŽุงู…ูุนูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูŠูŽุฏู’ุนููˆู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ุจูุญูŽุงู„ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ู.

โ€œSeorang alim mengajak manusia menuju Allah dengan ilmu dan keadaannya. Adapun pengumpul harta mengajak manusia kepada dunia melalui keadaan dan hartanya.โ€

Ini dibahas pada poin ke-18, โ€œIlmu Mengarahkan Hati ke Akhirat, Harta Mengalihkan Hati ke Duniaโ€.

Nasihat ini terasa semakin penting pada zaman media sosial. Rumah, kendaraan, pakaian, liburan, gadget, makanan, dan seluruh gaya hidup sekarang bukan sekadar dinikmati sendiri. Semuanya bisa dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, seseorang bisa membuat orang lain semakin kagum kepada dunia.

Karena itu:

Cara menggunakan dan menampilkan harta bisa menjadi dakwah kepada akhirat, tetapi bisa pula menjadi dakwah kepada dunia.

Harta Menjadi Mulia Justru Ketika Dilepas

Ada satu kaidah Ibnul Qayyim yang sangat indah:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูŠูู…ู’ุฏูŽุญู ุตูŽุงุญูุจูู‡ู ุจูุชูŽุฎูŽู„ูู‘ูŠู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽุฅูุฎู’ุฑูŽุงุฌูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูŠูู…ู’ุฏูŽุญู ุจูุชูŽุญูŽู„ูู‘ูŠู‡ู ุจูู‡ู ูˆูŽุงุชูู‘ุตูŽุงููู‡ู ุจูู‡ู.

โ€œPemilik harta dipuji justru ketika ia mampu melepaskan dan mengeluarkan hartanya. Adapun ilmu dipuji ketika seseorang menghiasi dirinya dengannya dan memiliki sifat ilmu tersebut.โ€

Ini adalah poin ke-23, โ€œIlmu Mulia Saat Melekat, Harta Mulia Saat Dilepasโ€.

Kalimat ini dapat diringkas menjadi sebuah kaidah kehidupan:

Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.

Orang tidak dipuji hanya karena mempunyai banyak uang. Ia dipuji karena apa yang diperbuat dengan uang tersebut: nafkahnya, sedekahnya, bantuan kepada orang tua, pertolongan kepada orang kesusahan, dan berbagai manfaat yang lahir darinya.

Maka, jangan hanya bangga ketika harta bertambah. Tanyakan pula:

Berapa banyak manfaat yang keluar bersama bertambahnya harta itu?

Semakin Banyak Harta, Jangan Sampai Semakin Banyak Ketakutan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุบูู†ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ู…ูŽู‚ู’ุฑููˆู†ูŒ ุจูุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ูˆูŽุงู„ู’ุญูุฒู’ู†ูุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุฒููŠู†ูŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุญูุตููˆู„ูู‡ูุŒ ุฎูŽุงุฆูููŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุญูุตููˆู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽุบูู†ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู…ูŽู‚ู’ุฑููˆู†ูŒ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู’ููŽุฑูŽุญู ูˆูŽุงู„ุณูู‘ุฑููˆุฑู.

โ€œKekayaan harta disertai rasa takut dan sedih. Seseorang bersedih sebelum mendapatkannya dan takut setelah memperolehnya. Semakin banyak hartanya, semakin kuat pula rasa takutnya. Sedangkan kekayaan ilmu disertai rasa aman, kegembiraan, dan kebahagiaan.โ€

Ini terdapat pada poin ke-24, โ€œIlmu Membawa Ketenangan, Harta Mengundang Ketakutanโ€.

Ini bukan berarti setiap orang kaya pasti gelisah. Yang sedang dijelaskan adalah bahayanya ketika hati begitu melekat kepada harta: belum punya, ia sedih karena mengejarnya; sudah punya, ia takut kehilangan.

Maka:

Harta yang hanya berada di tangan bisa kita manfaatkan. Harta yang sudah menguasai hati akan menuntut kita untuk terus menjaganya.

Harta Punya Tiga Ujian: Sebelum, Ketika, dan Setelah Dimiliki

Inilah salah satu penjelasan Ibnul Qayyim yang paling cocok dengan tema โ€œHartamu Habis di Mana?โ€

Beliau berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฌูŽู…ู’ุนูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ู…ูŽู‚ู’ุฑููˆู†ูŒ ุจูุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ูˆูŽุงุนู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุขููŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญูŽู†ู: ู†ูŽูˆู’ุนูŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽูˆู’ุนูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุญูุตููˆู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽูˆู’ุนูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูููŽุงุฑูŽู‚ูŽุชูู‡ู.

ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู†ูŽู‘ูˆู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู: ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุดูŽุงู‚ูู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ูƒูŽุงุฏู ูˆูŽุงู„ู’ุขู„ูŽุงู…ู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽุญู’ุตูู„ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูู‡ูŽุง.

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู†ูŽู‘ูˆู’ุนู ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ: ููŽู…ูŽุดูŽู‚ูŽู‘ุฉู ุญููู’ุธูู‡ู ูˆูŽุญูุฑูŽุงุณูŽุชูู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽู„ูู‘ู‚ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ุจูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽุง ูŠูุตู’ุจูุญู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽู‡ู’ู…ููˆู…ู‹ุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู…ู’ุณููŠ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุบู’ู…ููˆู…ู‹ุง.

โ€œMengumpulkan harta disertai tiga macam ujian: ujian sebelum memperolehnya, ketika telah mendapatkannya, dan setelah berpisah dengannya.

Adapun ujian pertama adalah berbagai kepayahan, kesusahan, dan rasa sakit yang harus dilalui untuk memperolehnya.

Adapun ujian kedua adalah kesulitan menjaga dan mengamankannya serta keterikatan hati kepadanya. Ia memasuki pagi dalam keadaan memikirkan hartanya dan memasuki sore dalam keadaan disibukkan olehnya.โ€

Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan ujian setelah harta itu pergi:

ูˆูŽุงู„ู†ูŽู‘ูˆู’ุนู ุงู„ุซูŽู‘ุงู„ูุซู ู…ูู†ู’ ุขููŽุงุชู ุงู„ู’ุบูู†ูŽู‰: ู…ูŽุง ูŠูŽุญู’ุตูู„ู ู„ูู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูููŽุงุฑูŽู‚ูŽุชูู‡ูุŒ ู…ูู†ู’ ุชูŽุนูŽู„ูู‘ู‚ู ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽูƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุญููŠู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุทูŽุงู„ูŽุจูŽุฉู ุจูุญูู‚ููˆู‚ูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุญูŽุงุณูŽุจูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู‚ู’ุจููˆุถูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุตู’ุฑููˆููู‡ู: ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุงูƒู’ุชูŽุณูŽุจูŽู‡ู ูˆูŽูููŠ ู…ูŽุงุฐูŽุง ุฃูŽู†ู’ููŽู‚ูŽู‡ูุŸ

โ€œAdapun jenis ketiga dari ujian kekayaan adalah apa yang menimpa seorang hamba setelah ia berpisah dari hartanya: hatinya masih terpaut kepadanya padahal ia telah terhalang darinya. Kemudian ia akan dituntut mengenai hak-hak hartanya serta dihisab atas apa yang ia terima dan apa yang ia keluarkan:

Dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya?โ€

Bahasan ini terdapat pada poin ke-33, โ€œIlmu Membahagiakan, Harta Melelahkan: Sebelum, Saat, dan Setelahnyaโ€.

Inilah dua pertanyaan besar tentang harta:

Dari mana datangnya? Ke mana perginya?

Kita sering sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran untuk kepentingan laporan keuangan dunia. Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa ada laporan yang jauh lebih penting: laporan harta di hadapan Allah.

Mungkin hartanya habis. Namun persoalannya belum selesai.

Habis untuk apa?

Harta yang Hanya Ditumpuk Bisa Berubah Menjadi Beban

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan kaidah lain:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ ู…ูŽู„ููƒู ุงู„ู’ุจูŽุฏูŽู†ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุนูุฏูŽู‘ุชูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽุจูู‡ู ู‚ููˆูŽุงู…ู ู…ูู„ู’ูƒูู‡ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู„ููƒู ู„ูŽุง ุจูุฏูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุนูŽุฏูŽุฏู ูˆูŽุนูุฏูŽู‘ุฉู ูˆูŽู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุฒููŠู†ูŽุฉูุ› ููŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู‡ููˆูŽ ู…ูŽุฑู’ูƒูŽุจูู‡ู ูˆูŽุนูุฏูŽู‘ุชูู‡ู ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงู„ูู‡ู.

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูุŒ ููŽุบูŽุงูŠูŽุชูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฌูŽู…ูŽุงู„ู‹ุง ู„ูู„ู’ุจูŽุฏูŽู†ู ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู†ู’ููŽู‚ูŽู‡ู ูููŠ ุฐูฐู„ููƒูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุฒูŽู†ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูู†ู’ููู‚ู’ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุฒููŠู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ุฌูŽู…ูŽุงู„ู‹ุงุŒ ุจูŽู„ู’ ู†ูŽู‚ู’ุตู‹ุง ูˆูŽูˆูŽุจูŽุงู„ู‹ุง.

โ€œHati adalah raja bagi tubuh. Ilmu merupakan perhiasan, perlengkapan, dan kekayaannya; dengannya kerajaan hati dapat tegak. Seorang raja pasti membutuhkan pasukan, perlengkapan, kekayaan, dan perhiasan. Maka ilmu adalah kendaraan, perlengkapan, sekaligus keindahannya.

Adapun harta, puncak manfaatnya hanyalah menjadi perhiasan dan keindahan bagi badan apabila digunakan untuk itu. Jika ia hanya menyimpannya dan tidak menggunakannya, harta tersebut tidak lagi menjadi perhiasan dan keindahan, bahkan dapat berubah menjadi kekurangan dan beban.โ€

Ini terdapat pada poin ke-39, โ€œIlmu adalah Bekal Hati, Harta Hanya Perhiasan Jika Dibelanjakanโ€.

Tentu ini bukan celaan terhadap tabungan, dana darurat, investasi, atau perencanaan keuangan yang benar. Yang dicela adalah ketika fungsi harta berhenti pada menimbun demi menimbun, sementara berbagai hak dan kemanfaatannya tidak ditunaikan.

Maka kaidahnya:

Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.

Harta Seharusnya Membantu Kita Pulang

Puncak nasihat Ibnul Qayyim tentang masalah ini terdapat di akhir pembahasan. Beliau berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุตููˆุฏูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ู‡ููˆูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽูƒู’ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏูŽ ูˆูŽูŠูู‚ููŠู…ูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฏู’ููŽุนู ุถูŽุฑููˆุฑูŽุชูŽู‡ู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุชูŽู…ูŽูƒูŽู‘ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุถูŽุงุกู ุฌูู‡ูŽุงุฒูู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุฒูŽูˆูู‘ุฏู ู„ูุณูŽููŽุฑูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงุฏูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูฐู„ููƒูŽ ุดูŽุบูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุทูŽุนูŽู‡ู ุนูŽู†ู ุงู„ุณูŽู‘ููŽุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ูˆูŽุนูŽู†ู’ ู‚ูŽุถูŽุงุกู ุฌูู‡ูŽุงุฒูู‡ู ูˆูŽุชูŽุนู’ุจููŠูŽุฉู ุฒูŽุงุฏูู‡ูุ› ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุถูŽุฑูŽุฑูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุตู’ู„ูŽุญูŽุชูู‡ูุŒ ูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุงุฒู’ุฏูŽุงุฏูŽ ุบูู†ูŽุงู‡ู ุจูู‡ู ุงุฒู’ุฏูŽุงุฏูŽ ุชูŽุซูŽุจูู‘ุทู‹ุง ูˆูŽุชูŽุฎูŽู„ูู‘ูู‹ุง ุนูŽู†ู ุงู„ุชูŽู‘ุฌูŽู‡ูู‘ุฒู ู„ูู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุงู…ูŽู‡ู.

ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงููุนูุŒ ููŽูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุงุฒู’ุฏูŽุงุฏูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุงุฒู’ุฏูŽุงุฏูŽ ูููŠ ุชูŽุนู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ุฒูŽู‘ุงุฏูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุถูŽุงุกู ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฒูุŒ ูˆูŽุฅูุนู’ุฏูŽุงุฏู ุนูุฏูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุณููŠุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ู…ููˆูŽููู‘ู‚ู ูˆูŽุจูู‡ู ุงู„ูุงุณู’ุชูุนูŽุงู†ูŽุฉูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูู‡ู.

ููŽุนูุฏูŽู‘ุฉู ู‡ูฐุฐูŽุง ุงู„ุณูŽู‘ููŽุฑู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ูุŒ ูˆูŽุนูุฏูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุฌูŽู…ู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ูุงุฏูู‘ุฎูŽุงุฑูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู‡ูŽูŠูŽู‘ุฃูŽ ู„ูŽู‡ู ุนูุฏูŽู‘ุชูŽู‡ู.

โ€œKadar harta yang menjadi tujuan adalah harta yang mencukupi seorang hamba, menopang kehidupannya, dan memenuhi kebutuhannya sehingga ia mampu mempersiapkan perlengkapan serta bekal perjalanan menuju Rabb-nya โ€˜Azza wa Jalla.

Apabila tambahan harta justru menyibukkannya, memutusnya dari perjalanan menuju Rabb-nya, serta menghalanginya mempersiapkan bekal perjalanan tersebut, mudarat harta itu baginya menjadi lebih besar daripada manfaatnya. Semakin bertambah kekayaannya, semakin ia tertahan dan terlambat dalam menyiapkan apa yang ada di hadapannya.

Adapun ilmu yang bermanfaat, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula persiapan bekalnya, perlengkapannya, dan kesiapan untuk perjalanan. Allah-lah yang memberi taufik. Kepada-Nya kita meminta pertolongan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Maka bekal perjalanan ini adalah ilmu dan amal. Adapun bekal orang yang hendak menetap adalah mengumpulkan serta menyimpan harta. Siapa yang menginginkan sesuatu, ia akan menyiapkan bekal untuk mendapatkannya.โ€

Ini merupakan poin ke-40, โ€œIlmu adalah Bekal Pulang, Harta Bisa Jadi Penghalangโ€, sekaligus penutup dari 40 perbandingan ilmu dan harta dalam buku tersebut. 

Kalimat ini sangat dalam:

Harta seharusnya membantu kita pulang kepada Allah. Kalau harta justru membuat kita lupa bahwa kita akan pulang, fungsi harta telah terbalik.

Jadi, Hartamu Habis di Mana?

Pertanyaan ini tidak hanya penting ketika uang hampir habis di akhir bulan. Pertanyaan ini jauh lebih besar karena semua harta memang pada akhirnya akan meninggalkan kita.

Ada harta yang habis untuk makan. Ada yang habis untuk rumah, kendaraan, pendidikan, dan keluarga. Ada yang habis untuk kesenangan. Ada pula yang berubah menjadi sedekah, nafkah, ilmu, dakwah, bantuan kepada orang lain, dan amal yang kelak ditemukan kembali di akhirat.

Maka bukan semata โ€œberapa banyak yang habis?โ€, tetapi:

โ€œUntuk apa ia habis?โ€

Harta yang dikeluarkan tidak selalu berarti hilang. Ada harta yang keluar dari rekening, tetapi justru sedang dipindahkan menjadi bekal menuju Allah.

Sebaliknya, ada harta yang terus tersimpan dan bertambah secara angka, tetapi membuat pemiliknya semakin jauh dari tujuan kehidupannya.

Sepuluh Kaidah Penting tentang Harta

Dari seluruh penjelasan Ibnul Qayyim di atas, kita dapat merangkum sepuluh kaidah untuk kehidupan:

  1. Harta adalah alat kehidupan; jangan menjadikan mengumpulkan harta sebagai tujuan kehidupan.
  2. Masalahnya bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi apakah kita memiliki harta atau harta yang memiliki kita.
  3. Harta di tangan bisa menjadi nikmat; harta yang menguasai hati bisa menjadi pintu keburukan.
  4. Jangan hanya tanyakan berapa hartamu; tanyakan ke mana hartamu membawamu.
  5. Cara menggunakan dan menampilkan harta dapat menjadi dakwah kepada akhirat atau dakwah kepada dunia.
  6. Ilmu menjadi mulia ketika masuk ke dalam diri; harta menjadi mulia ketika keluar dari diri untuk kebaikan.
  7. Harta yang berada di tangan dapat dimanfaatkan; harta yang menguasai hati akan menuntut untuk terus dijaga.
  8. Harta mempunyai dua pertanyaan besar: dari mana datangnya dan ke mana perginya.
  9. Harta yang tidak menjalankan fungsi kebaikannya dapat berubah dari nikmat menjadi beban.
  10. Harta yang benar adalah harta yang membantu perjalanan menuju Allah, bukan yang membuat kita lupa bahwa kita akan pulang kepada-Nya.

Nasihat Terakhir

Hari ini kita dimudahkan melihat saldo, aset, omzet, investasi, dan pertumbuhan kekayaan hanya dari layar ponsel, tetapi jangan sampai kita lupa melihat ke mana semua itu sedang membawa hati kita. Jangan menunggu harta benar-benar habis untuk bertanya ke mana ia pergi, karena yang lebih penting adalah memastikan ia pergi ke tempat yang Allah ridhai. Harta terbaik bukan sekadar yang banyak ditinggalkan kepada ahli waris, tetapi yang telah lebih dahulu dikirim menjadi bekal akhirat. Gunakan dunia untuk perjalanan pulang, jangan sampai perjalanan pulang terhenti karena terlalu sibuk mengumpulkan dunia.

Semoga Allah memberi kita harta yang halal, cukup, diberkahi, dan membantu kita taat kepada-Nya. Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฏูŽู‰ุŒ ูˆูŽุงู„ุชูู‘ู‚ูŽู‰ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽููŽุงููŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุบูู†ูŽู‰.

Allฤhumma innฤซ asโ€™alukal-hudฤ, wat-tuqฤ, wal-โ€˜afฤfa, wal-ghinฤ.

โ€œYa Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dari perkara yang haram, dan kecukupan.โ€

โ€”โ€“

Jumat Pagi, 18 September 2026 @ Palembang

Penulis:ย Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

sumber: https://rumaysho.com/42857-hartamu-habis-di-mana-nasihat-ibnul-qayyim-tentang-harta.html